Pengusaha AS : Artikel Master Li Hongzhi Menjawab Uneg-Uneg Banyak Orang, Baik untuk Dibaca Anggota Keluarga

 oleh Wu Ruirui

Peter Larson, seorang pengusaha Amerika Serikat terinspirasi setelah membaca artikel Master Li Hongzhi yang berjudul “Mengapa Ada Umat Manusia” yang diterbitkan dalam bahasa Inggris di media “Epoch Times”. Kepada Epoch Times ia mengatakan : “Satu-satunya harapan saya adalah bahwa artikel yang kalian terbitkan ini dapat menuntun lebih banyak orang menuju jalan kebenaran.”

“Saya ingin mengucapkan terima kasih khusus kepada kalian yang telah membagikan artikel yang sangat mencerahkan ini dan menegaskan beberapa keyakinan yang telah saya pegang selama bertahun-tahun. Saya bahkan tidak yakin bagaimana saya bisa mempercayai hal-hal ini, tetapi entah bagaimana saya merasa bahwa mereka itu nyata,” katanya.

Setelah Membaca Artikel Master Li Uneg-uneg Terpecahkan

Peter Larson, 63 tahun yang tinggal di Georgia tengah, memiliki dua perusahaan yang berkecimpung di bidang perkayuan dan renovasi bangunan.

Ketika reporter Epoch Times mewawancarai Peter Larson, pengusaha yang terus mengejar kebenaran dalam hidup mengatakan : “Hidup kita harus bermakna”.

Dia mengatakan bahwa dirinya sangat menyukai konsep tentang karma dan pembersihan karma yang diuraikan dalam artikel Master Li. “Jika kehidupan Anda saat ini tidak mulus, itu mungkin disebabkan oleh perbuatan tidak baik Anda pada kehidupan sebelumnya”.

Ketika membaca artikel, Larson mulai memikirkan beberapa kerabatnya dan mengatakan : “Tidak peduli bagaimana kita membantu mereka, kehidupan mereka masih saja kurang mulus, sepertinya ada awan hitam yang menggantung di atas kepala mereka. Kami tidak dapat mengerti mengapa mereka tidak bisa keluar dari situasi tidak menyenangkan itu”. Larson mengaku bahwa sebelum membaca artikel, dirinya hanya memiliki pemahaman yang samar-samar tentang karma, dan tidak menghubungkan karma antara kehidupan lampau dengan sekarang. Tetapi saat ini uneg-unegnya sudah terpecahkan.

Dia juga mengatakan : “Saya sekarang percaya pada reinkarnasi. Saya percaya bahwa ketika kita ingin menyingkirkan karma, membersihkannya, dan menjadi orang yang lebih baik, jiwa yang lebih baik, kita harus bersedia diuji”.

Larson sebelumnya hanya percaya, bahwa jalan untuk naik ke alam yang lebih tinggi hanya melalui berbuat baik, memiliki hati yang bersih, Ia juga percaya bahwa jiwa manusia akan dimusnahkan jika sudah menjadi sangat rusak yang tidak tertolong.

Ketika dia membaca artikel Master Li yang menyebutkan bahwa bumi adalah tempat pembuangan sampah alam semesta, dia terkejut dan berkata kepada dirinya sendiri : “Saya juga berpikir demikian !”

Larson langsung merekomendasikan artikel itu kepada keluarganya

Larson mengatakan bahwa dirinya membaca artikel Master Li pertama kali adalah lewat ponselnya. Kemudian edisi cetak “Epoch Times” berbahasa Inggris yang selalu dibaca tiba. “Saat itu saya memutuskan untuk menggunting artikel (Master Li) dari edisi cetak dan menyimpannya”.

Setelah membaca “Mengapa Ada Umat Manusia” untuk pertama kalinya, ia pun langsung membagikan artikel tersebut kepada istri, putra dan putrinya. “Kalian semua akan membutuhkan artikel ini. Beri tahu saya jika Anda memiliki pertanyaan”, katanya kepada keluarga.

Selama bertahun-tahun, Peter Larson tidak hanya menjadi pencari nafkah keluarga, tetapi juga pemimpin dalam mengejar keyakinan spiritual. Dia mengatakan bahwa dalam mengejar keyakinan spiritual, anak-anak memiliki pengalaman yang sama dengannya.

Mengejar kebenaran yang “tidak dibingungkan oleh orang lain”

Berbicara tentang pengalamannya sendiri, Larson mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang sangat diberkati : “Saya telah mengalami banyak kesusahan hidup. Saya kehilangan ayah  ketika berusia 9 tahun. Saya tumbuh tanpa bimbingan spiritual. Kemudian, ketika di usia 46 tahun saya mengalami radang tenggorokan yang nyaris merenggut nyawa. Tetapi saya sehat kembali hingga saat ini. Hal ini membuat saya tidak menikmati begitu saja dan lebih mensyukuri hidup. Saya berusaha untuk tidak terlalu egois, melakukan perbuatan baik, aneh tetapi nyata, hidup saya menjadi lebih baik dan lebih baik.

Larson lahir di Amerika tengah dan ikut ibunya pindah ke Georgia. Pada awalnya, karena ayah tirinya belum menyelesaikan prosedur perceraian, sang ibu melakukan dua pekerjaan dan membesarkan dia dan anak lainnya sebagai ibu tunggal. Oleh karena itu, ketika dia masih remaja, dia tidak menerima bimbingan iman. Belakangan, saat kuliah, ia mulai membaca berbagai buku agama. Seseorang memberinya sebuah Alkitab. Dia selalu membawa buku ini bersamanya dan membacanya dari waktu ke waktu. Kemudian ia bertemu dengan istrinya yang beragama Katolik, maka ia melangsungkan akad nikah di gereja Katolik, setelah menikah ia juga setuju bahwa putra dan putrinya dibesarkan secara Katolik.

Setelah menikah pada tahun 1982, ia mengenal umat Katolik dari dekat. Selama setahun, dia menghabiskan satu jam setiap hari Jumat bertemu dengan seorang pendeta setempat untuk membahas pembelajaran ajaran Katolik.

Larson mengatakan bahwa dirinya pernah bertanya kepada pendeta mengenai mengapa ada begitu banyak simbol, ritual, dan aturan dalam agama Katolik. Jawaban yang didapatnya adalah sebagian orang memiliki keyakinan yang lemah dan perlu mengandalkan hal-hal tersebut untuk mempertahankan keyakinannya agar tidak tersesat. Di akhir tahun, dia tidak menjadi Katolik karena dia masih belum bisa mengidentifikasi dengan semua ajaran, meskipun ia terus membaca Alkitab di waktu senggangnya, dan mencoba untuk menjajaki beberapa kepercayaan Timur.

Larson mengatakan bahwa dirinya mulai menemukan bahwa terdapat kebenaran dalam dogma setiap agama, tetapi generasi selanjutnya menambahkan hal-hal mereka sendiri ke dalamnya, sehingga membuat kebenaran tidak lagi murni. “Saya merasa bahwa Sang Pencipta Alam mulai mengutus para nabi-Nya pada waktu yang berbeda untuk membantu manusia dari ras yang berbeda, untuk mengajari mereka kebenaran, dan membiarkan mereka menyiarkan kebenaran itu dengan caranya sendiri. Beberapa kebenaran bertahan, beberapa tidak. Rupanya hal demikian terus berlanjut hingga hari ini”.

“Saya percaya bahwa ada lebih banyak hal dalam hidup ini daripada apa yang dapat kita lihat”. Larson mengatakan bahwa dia sangat menerima pendapat tentang berbagai tingkat kehidupan sebagaimana yang diungkapkan dalam artikel Master Li, “Saya percaya bahwa jiwa terus berlanjut, dan ia harus terus berusaha meningkatkan diri, belajar bagaimana menjadi setingkat dewa”.

Namun, pengalaman pribadinya membuatnya berpikir bahwa Katolik sudah dalam kurang murni. Baik istri maupun anak-anaknya sudah tidak lagi pergi ke gereja. Mereka bersama-sama mencari kebenaran mereka sendiri. “Saya berharap suatu hari nanti dapat menemukan kepercayaan yang sesuai bagi kita”.

Larson mengungkapkan keyakinannya bahwa alam semesta memiliki Sang Pencipta, dan dirinya bersedia untuk mengidentifikasi jalan yang telah diatur Sang Pencipta baginya, dan berharap dia masih memiliki kekuatan yang cukup untuk mencarinya. Larson juga mengungkapkan bahwa ia sangat minat dengan artikel lain Master LiHongzhi, dan telah memperoleh tautan web dari karya utama Master Li, yakni buku utama Falun Gong —“Zhuan Falun.” (sin)