EtIndonesia.com Banjir besar dan bencana longsor lumpur serta batu yang terjadi di perbatasan Tiongkok–Nepal telah menyebabkan korban jiwa dan kerusakan yang sangat besar. Baru-baru ini, sebuah video memperlihatkan seorang perempuan Nepal menarik dua anak dan berlari menuju tempat yang lebih tinggi. Mereka berhasil menyelamatkan diri hanya beberapa saat sebelum jalan tersebut ditelan longsoran.
Menurut CNN, video tersebut direkam di Betrawati, Nepal. Dalam video terlihat bahwa ketika longsoran datang, seorang perempuan menggenggam erat dua anak yang mengenakan seragam sekolah dan berlari sekuat tenaga menuju tempat yang lebih tinggi.
Di tengah pelarian, perempuan tersebut sempat terjatuh, tetapi segera bangkit kembali. Ia tidak pernah melepaskan tangan kedua anak itu.
Hanya sekitar dua atau tiga detik setelah ketiganya berhasil menjauh, jalan di belakang mereka sepenuhnya ditelan aliran lumpur yang deras. Di belakang mereka, banjir yang bergulung-gulung bahkan menyeret sebuah rumah. Pemandangan tersebut sangat menegangkan.
Banyak warganet berkomentar bahwa jika mereka terlambat dua detik saja, ketiganya kemungkinan besar sudah terseret banjir yang sangat deras.
Pada 2 September, seorang pengguna platform X bernama Aviator Anil Chopra juga membagikan sebuah foto yang mengharukan. Dalam unggahannya ia menulis:
“Kata-kata tidak akan pernah cukup untuk menggambarkan foto dari Nepal ini. Dalam foto tersebut, seorang adik perempuan berusia dua setengah tahun dilindungi oleh kakaknya yang berusia empat tahun. Ini mungkin salah satu foto paling mengharukan di abad ini!”
In Nepal, a mother saved her children's lives by just five seconds. Truly an astonishing video… 😳 pic.twitter.com/Xdy08WSzJx
— Ajit Doval ᴾᵃʳᵒᵈʸ🇮🇳 (@IAjitDoval_IND) August 30, 2026
Pada pagi 26 Agustus, banjir bandang dan longsor lumpur terjadi di perbatasan Tiongkok–Nepal.
Menurut data terbaru dari Badan Pengurangan Bencana dan Manajemen Risiko Nasional Nepal hingga 3 September, jumlah korban meninggal akibat bencana tersebut telah meningkat menjadi 1.252 orang, sementara 4.216 orang masih dinyatakan hilang dan 11.993 orang telah berhasil diselamatkan.
Media resmi Partai Komunis Tiongkok (PKT) melaporkan bahwa di wilayah Tibet terdapat 16 orang meninggal dan 546 orang hilang, termasuk 261 warga negara asing dan 285 warga negara Tiongkok.
Karena PKT selama ini sering dituduh menutupi atau mengecilkan skala bencana, jumlah korban sebenarnya dikhawatirkan jauh lebih tinggi daripada angka resmi yang diumumkan pemerintah. (***)


