Konferensi Tingkat Tinggi Kebebasan Beragama Internasional Membongkar Penganiayaan Partai Komunis Tiongkok Terhadap Falun Gong

EtIndonesia. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kebebasan Beragama Internasional 2026 atau The International Religious Freedom (IRF) Summit pada Selasa (3/2/2026) kembali digelar di Washington DC, Amerika Serikat. KTT ini membahas bagaimana melindungi kebebasan beragama para pengungsi serta isu represi lintas negara.

Dalam sebuah seminar khusus tentang penganiayaan agama yang diadakan pada Senin (2/2/2026), para pakar secara khusus menyoroti penganiayaan brutal rezim Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap kelompok kepercayaan Falun Gong.

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah disiplin spiritual yang berpusat pada prinsip Sejati, Baik, dan Sabar. Pertama kali diperkenalkan kepada publik di Tiongkok pada tahun 1992, latihan ini dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut hingga mencapai sekitar 70 juta hingga 100 juta praktisi di negara tersebut pada tahun 1999, menurut perkiraan resmi saat itu.

Karena khawatir popularitas Falun Gong mengancam kekuasaan rezim, Partai Komunis Tiongkok memulai kampanye brutal untuk memberantas latihan tersebut pada Juli 1999. Selama 26 tahun terakhir, banyak praktisi telah dikirim ke penjara, kamp kerja paksa, dan pusat pencucian otak—di mana mereka mengalami kerja paksa, penyiksaan, dan bahkan kematian akibat pengambilan organ secara paksa.

Reporter New Tang Dynasty Television Bo Lei melaporkan : “KTT Kebebasan Beragama Internasional sedang berlangsung di Washington DC. Sebuah seminar khusus yang digelar pada hari Senin mengungkap bagaimana penganiayaan agama secara bertahap berubah menjadi sesuatu yang dianggap normal.”

Para pakar yang hadir secara mendalam menganalisis pola penindasan, serta bagaimana pola tersebut meresap ke dalam sistem hukum, perilaku aparat, dan kehidupan sehari-hari. Mereka secara khusus menyinggung rezim PKT.

“Awalnya selalu menggunakan pola yang sama: propaganda terlebih dahulu, lalu masuk ke sistem peradilan, di mana polisi diberi insentif untuk menangkap penganut agama. Selanjutnya, penganiayaan meluas ke sistem penjara, bahkan hingga ke rumah sakit dengan praktik pengambilan organ,” ujar peneliti senior Falun Dafa Information Center, Cynthia Sun. 

“Saya pikir, menjatuhkan sanksi terhadap pejabat tingkat bawah sejauh mungkin adalah langkah yang penting. Selama mereka adalah pejabat lokal, misalnya tingkat kabupaten, hal itu lebih memiliki efek jera dibanding langsung menjatuhkan sanksi kepada Xi Jinping,” katanya. 

“Jika sebelum praktisi Falun Gong ditangkap dan dipenjara, penganiayaan dapat dihentikan berkat perhatian media internasional dan publik, maka ibu Simon Zhang (Ji Yunzhi) tidak akan meninggal dunia, dan Pang Xun juga tidak akan kehilangan nyawanya,” tambahnya. 

(Dari kiri ke kanan) Jan Jekielek, Editor Senior The Epoch Times dan host “American Thought Leaders”; Sam Brownback, mantan Duta Besar AS untuk Kebebasan Beragama Internasional; dan Katrina Lantos Swett, anggota dewan pengawas Yayasan Korban Komunisme dan presiden Yayasan Lantos untuk Hak Asasi Manusia dan Keadilan, pada KTT Kebebasan Beragama Internasional di Washington pada 2 Februari 2026. Madalina Kilroy/The Epoch Times

Para ketua bersama KTT Kebebasan Beragama Internasional memperingatkan bahwa jika PKT dan rezim komunis lainnya menjadikan penganiayaan semacam ini sebagai hal yang lumrah, maka kelompok-kelompok beriman akan menghadapi kerusakan yang serius dan berkepanjangan.

“Tanda-tanda bahaya sebenarnya sudah muncul sejak awal. Anda akan melihat pemerintah mengeluarkan pernyataan yang menyebut kelompok tertentu bermasalah, atau mulai mengubah sikap media, seolah-olah sedang mempersiapkan penganiayaan terhadap kelompok tersebut,” kata Ketua bersama KTT dan mantan Duta Besar AS untuk Kebebasan Beragama Internasional, Sam Brownback. 

Ketua bersama lainnya, Katrina Lantos Swett, menyatakan: “Di negara seperti Tiongkok (di bawah PKT), penganiayaan terhadap Falun Gong, Muslim Uighur, atau umat Buddha Tibet telah menjadi hal yang biasa. Ketika mayoritas masyarakat tidak lagi merasa terkejut, marah, atau muak terhadap tindakan semacam ini, dan tidak lagi membencinya, maka rezim tersebut dapat dengan leluasa menganiaya dan menyakiti kelompok-kelompok yang rentan.”

Peserta mendengarkan selama sesi panel di KTT Kebebasan Beragama Internasional di Washington pada 2 Februari 2026. (Madalina Kilroy/The Epoch Times)

Reporter Bo Lei menambahkan: “Mereka juga membagikan cara-cara Amerika Serikat dalam menanggapi situasi tersebut.”

Brownback mengatakan: “Kita dapat menggunakan Global Magnitsky Act untuk menjatuhkan sanksi terhadap individu maupun para pemimpin. Kita juga dapat memberlakukan sanksi luas terhadap seluruh pemerintahan, bahkan bisa melakukan tindakan militer, seperti yang dilakukan Presiden Trump terhadap Nigeria.”

Pada hari Selasa, rangkaian kegiatan KTT masih berlanjut. Penyelenggara juga telah mulai mempersiapkan hari pelobian ke Kongres yang akan digelar pada Rabu (4 Februari). Pada kesempatan tersebut, para pakar akan menyampaikan tuntutan mereka secara langsung kepada anggota Kongres AS.

Reporter Bo Lei menyampaikan: “Mereka berencana menggunakan berbagai cara, termasuk sesi pengarahan, konferensi pers, serta pertemuan langsung dengan para legislator, dengan fokus utama pada bagaimana melindungi para korban penganiayaan agama.”

Berbicara Terus Terang Tentang Hak Asasi Manusia di Tiongkok

Berbagi tokoh yang membicarakan HAM adalah mantan pemain NBA, Enes Kanter Freedom. Ia selama ini sangat vokal mengkritik catatan hak asasi manusia Tiongkok.

“Ketika saya mulai berbicara tentang masalah yang terjadi di Turki, semua orang benar-benar mendukung saya. Mereka membela saya. Itu luar biasa,” katanya dalam panel tersebut. “Tetapi ketika saya mulai bersuara tentang Tiongkok, dukungan itu hampir tidak ada.”

Enes Kanter Freedom, aktivis hak asasi manusia dan mantan pemain NBA, pada KTT Kebebasan Beragama Internasional di Washington pada 3 Februari 2026. Eva Fu/The Epoch Times

Perubahan sikap itu, katanya, berasal dari ketakutan—ketakutan kehilangan uang dari Tiongkok. Setelah musim 2021–2022, ia tidak menerima satu pun tawaran bermain dari tim NBA, yang menurutnya disebabkan oleh kritiknya terhadap Partai Komunis Tiongkok.

Freedom, advokat hak asasi manusia dan mantan pemain NBA, berbicara dalam International Religious Freedom Summit di Washington pada 3 Februari 2026.

“Meyedihkan sekali bagaimana mereka bisa mengendalikan organisasi yang lahir di Amerika,” katanya kepada The Epoch Times.

Ia mengatakan sedih melihat ketakutan yang sama di Hollywood, di Wall Street, dan di kalangan para pemimpin dunia.

“Tetapi sementara mereka mengkhawatirkan ekonomi mereka, di sisi lain dunia, orang-orang sedang menderita,” katanya. “Begitu banyak orang tak bersalah di daratan Tiongkok sedang dianiaya saat ini—Anda melihat warga Hong Kong, praktisi Falun Gong, orang Mongolia, Uyghur, dan Tibet.”

Grace Jin Drexel, putri pendeta pendiri Ezra Jin dari Gereja Zion di Tiongkok, berbicara selama KTT Kebebasan Beragama Internasional di Washington pada 2 Februari 2026. Madalina Kilroy/The Epoch Times

Grace Jin Drexel adalah salah satu saksi atas pelanggaran di Tiongkok, yang secara konsisten dinilai sebagai negara paling represif di dunia dalam hal kebebasan beragama.

Pada akhir 2025, otoritas Tiongkok menangkap ayahnya, Ezra Jin, pemimpin terkemuka Gereja Zion Beijing, di tengah penangkapan besar-besaran terhadap umat Kristen bawah tanah.

Pihak berwenang melarang ayahnya meninggalkan negara itu pada 2018 karena ia menolak memasang kamera pengenal wajah di dalam tempat ibadah gerejanya.

Ia belum melihat ayahnya selama tujuh tahun, dan di Washington, keluarganya menerima panggilan telepon ancaman, serta diikuti oleh orang-orang mencurigakan, katanya.

“Saya terkadang merasa takut. Bagaimanapun, saya berusaha mengungkap dan meminta pertanggungjawaban negara paling kuat kedua di dunia,” katanya. “Namun, sebagai seorang Kristen, saya percaya kita dipanggil untuk berani dan mengatakan kebenaran, dan bahwa Tuhan yang menciptakan Langit dan Bumi akan berdiri di pihak kita.”


‘Ancaman Terbesar bagi Dunia Bebas’

Aktivis Uyghur Rushan Abbas juga mengalami pembalasan setelah, dalam sebuah diskusi panel di Hudson Institute, ia mengecam penahanan massal dan penyiksaan Muslim Uyghur oleh Beijing di Xinjiang.

Ia mengatakan dirinya hanya menggunakan kebebasan berbicara. Namun beberapa hari setelah ia bersuara, pihak berwenang menculik saudara perempuannya, yang kini telah dipenjara selama tujuh tahun.

Baru-baru ini, ketika Abbas menerbitkan memoarnya berjudul Unbroken, dua versi palsu muncul secara online dengan nama yang sama. Ia yakin itu adalah taktik pembunuhan karakter oleh rezim Tiongkok.

“Sejauh inilah sebuah negara bertindak untuk membungkam orang yang bersuara,” katanya. “Keheningan adalah oksigen bagi tirani, dan saya menolak untuk diam.”

“Ini bukan hanya kisah nyata,” katanya. “Ini adalah kisah setiap orang Tibet, praktisi Falun Gong, dan warga Hong Kong. Taiwan adalah target berikutnya. Jika kita tidak bersuara, maka itu akan menimpa kita semua.”

Freedom, mantan pemain NBA, menyatakan perasaan yang sama dengan Abbas.

“Tiongkok adalah ancaman terbesar bagi dunia bebas, dan kita harus melakukan apa pun yang kita bisa untuk menyampaikan pesan itu,” katanya.

Ia mengatakan bahwa karena bersuara, ia kehilangan kariernya, yang diperkirakan bernilai sekitar 40 juta hingga 50 juta dolar AS dalam bentuk gaji dan potensi kontrak dukungan.

Namun, ia tidak menyesal.

“Ini lebih besar dari diri saya sendiri, lebih besar dari NBA, lebih besar dari bola basket,” katanya. “Orang-orang kehilangan orang yang mereka cintai, kehilangan nyawa mereka, dan kehilangan rumah mereka.”

Untuk mencegah pelanggaran lebih lanjut, sanksi diperlukan, kata Freedom.

“Para pemimpin Barat kita tidak memberikan tekanan yang cukup pada Partai Komunis Tiongkok, dan mereka memanfaatkan hal itu,” katanya. “Kecaman saja tidak akan berhasil ketika Anda melawan kediktatoran terbesar di dunia.”

The Epoch Times telah menghubungi NBA untuk meminta komentar, tetapi tidak menerima tanggapan.

Reporter New Tang Dynasty Television, Bo Lei, melaporkan dari Washington DC, Amerika Serikat.

【Wawancara Terkini】Pendapatan Fiskal Tiongkok  Mengalami Pertumbuhan Negatif, Langka dalam Lebih dari 40 Tahun

Kementerian Keuangan Partai Komunis Tiongkok (PKT) pada 30 Januari merilis data statistik terbaru yang menunjukkan bahwa pendapatan fiskal sepanjang tahun 2025 turun 1,7% secara tahunan. Kondisi ini dinilai sebagai kejadian yang jarang terjadi dalam lebih dari 40 tahun terakhir. Sejumlah pengamat menilai, penurunan pendapatan fiskal PKT ini berpotensi memberikan dampak lanjutan yang serius terhadap perekonomian Tiongkok.

EtIndonesia. Pada 30 Januari 2026, Kementerian Keuangan PKT mengumumkan kondisi penerimaan dan belanja fiskal tahun 2025. Data menunjukkan bahwa pendapatan anggaran umum nasional mencapai 21,6 triliun yuan, turun 1,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini bukan hanya gagal mencapai target pertumbuhan anggaran awal sebesar 0,1%, tetapi juga merupakan penurunan pertama sejak tahun 2020.

Situasi ini tergolong sangat jarang terjadi sejak lebih dari 40 tahun pasca kebijakan “reformasi dan keterbukaan” PKT.

Terakhir kali pendapatan fiskal PKT mengalami pertumbuhan negatif sepanjang satu tahun penuh adalah pada tahun 2020, yang saat itu disebabkan oleh dampak pandemi COVID-19.

“Namun pada tahun 2025 tidak ada bencana alam besar maupun musibah besar lainnya, tetapi perekonomian Tiongkok justru mengalami pertumbuhan negatif. Ini menunjukkan bahwa operasi keseluruhan ekonomi Tiongkok telah berada pada kondisi yang sangat berbahaya,” kata Kolumnis Epoch Times, Wang He. 

“PKT membanggakan bahwa PDB tahun ini masih tumbuh 5%, tetapi pendapatan fiskal tidak ikut meningkat, malah mengalami penurunan. Ini menunjukkan adanya konflik antar data resmi PKT sendiri, dan masalah pemalsuan data sangat serius,” tambahnya. 

Pakar keuangan Taiwan, Huang Shicong, menyatakan: “Tentu saja, menurut saya, penurunan pendapatan fiskal juga berarti bahwa kemampuan pemerintah pusat Tiongkok untuk melakukan apa yang disebut kebijakan stimulus sebenarnya juga sedang melemah.”

Dalam beberapa tahun terakhir, defisit fiskal pemerintah daerah di Tiongkok terus memburuk. Dunia luar juga lama meragukan keabsahan data PKT, dan menilai bahwa masalah fiskal yang sebenarnya bisa jauh lebih serius.

Wang He menambahkan: “Awalnya mereka berpikir bahwa kebijakan moneter sudah tidak efektif, sehingga harus mengandalkan kebijakan fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Namun sekarang kebijakan fiskal pun sudah tidak mampu dijalankan. Seluruh perekonomian menjadi kacau, sehingga tekanan fiskal menjadi sangat besar.”

Pengamat menilai bahwa pertumbuhan negatif pendapatan fiskal PKT berkaitan dengan perlambatan ekonomi, lesunya pasar properti, dan faktor-faktor lainnya.

Huang Shicong mengatakan: “Sektor properti adalah lokomotif yang sangat penting bagi perekonomian Tiongkok. Begitu perdagangan luar negeri Tiongkok melambat atau kehilangan momentum, hal itu bisa menyebabkan kehancuran total ekonomi Tiongkok, karena hingga saat ini sektor properti masih belum bisa bangkit.”

Pendapatan fiskal PKT secara resmi dibukukan dalam “empat buku anggaran”, yaitu:

  1. Anggaran Umum Pendapatan dan Belanja Nasional
  2. Anggaran Dana Pemerintah Nasional
  3. Anggaran Operasional Modal Negara
  4. Anggaran Jaminan Sosial

Di antaranya, Anggaran Umum Pendapatan dan Belanja Nasional terdiri dari pendapatan pajak dan non-pajak. Pada tahun 2025, pendapatan pajak naik 0,8%, sementara pendapatan non-pajak turun 11,3%. Namun, pajak terkait sektor properti terus mengalami penurunan.

Wang He menambahkan: “Setelah pendapatan fiskal menurun, PKT pasti akan memprioritaskan apa? Mereka akan menjaga anggaran pertahanan, menjaga stabilitas (keamanan dalam negeri), dan mempertahankan aparat kepolisian, kejaksaan, serta pengadilan. Ketika uang menjadi sedikit, lalu dari mana kekurangannya diambil? Dari rakyat, dari anggaran kesejahteraan masyarakat.”

Pendapatan anggaran dana pemerintah juga merupakan sumber pendapatan penting bagi PKT, yang terutama bergantung pada penjualan lahan. Namun data Kementerian Keuangan PKT menunjukkan bahwa pendapatan dari penjualan hak penggunaan tanah milik negara pada tahun 2025 turun 14,7%, dan ini merupakan penurunan tahun keempat berturut-turut.

Wang He mengatakan: “Tiongkok sejak awal mengalami kekurangan konsumsi, khususnya konsumsi rumah tangga. Dengan menurunnya pendapatan fiskal yang mempengaruhi pendapatan banyak orang, seluruh perekonomian Tiongkok memancarkan mentalitas spiral penurunan.”

Seperti diketahui, modal perusahaan milik negara (BUMN Tiongkok) sangat besar. Menurut laporan terbaru Dewan Negara PKT kepada Kongres Rakyat Nasional, pada tahun 2024, total ekuitas modal negara mencapai 109,4 triliun yuan, dengan total aset mencapai 401,7 triliun yuan.

Namun, modal BUMN yang sangat besar tersebut tidak mampu meringankan tekanan fiskal pemerintah.

Huang Shicong mengatakan: “Dalam kondisi pendapatan fiskal Tiongkok yang menurun, pemerintah tetap akan memprioritaskan investasi di sektor seperti pertahanan. Dana yang dapat digunakan untuk kesejahteraan rakyat tentu akan sangat terbatas. Ini menunjukkan bahwa investasi di sektor kesejahteraan masyarakat kemungkinan masih akan terus menurun.”

Pada tahun 2025, pendapatan Anggaran Operasional Modal Negara secara nasional mencapai 854,7 miliar yuan, meningkat 25,8% dibanding tahun sebelumnya; sementara pengeluarannya sebesar 264,7 miliar yuan, turun 15,1% secara tahunan.

Artinya, meskipun modal BUMN sangat besar, bagian yang benar-benar dimasukkan ke dalam anggaran operasional modal negara hanyalah sebagian kecil.

Para pengamat menilai bahwa penurunan pendapatan fiskal PKT akan memberikan dampak besar terhadap prospek ekonomi Tiongkok, prospek ketenagakerjaan, serta tingkat stabilitas sosial secara keseluruhan.

Editor: Meng Xinqi  Wawancara: Chang Chun

Setengah Potong Steak

EtIndonesia. Suatu hari pada tahun 1975, Konosuke Matsushita—Presiden Matsushita Electric (kini Panasonic)—bersama seorang rekan kerjanya, Tuan Ogawa, menjamu tamu di sebuah restoran di Osaka. Enam orang sepakat bertemu tepat tengah hari. Setelah saling berkenalan dan berbincang ringan, semua memesan steak.

Konosuke Matsushita minum dua gelas bir sambil bercerita tentang perjalanan usaha dan sejarah perusahaan.

Setelah keenam orang selesai menyantap hidangan utama, Matsushita mendekat ke Ogawa dan berbisik pelan, memintanya memanggil koki yang memasak steak—dengan penekanan khusus :  “Jangan manajer. Panggil kokinya.”

Ogawa segera menyadari bahwa steak Matsushita baru dimakan setengahnya. Dia pun bersiap, membayangkan suasana yang mungkin akan menjadi canggung.

Ketika koki datang ke meja, dia tampak tegang—dia tahu tamu yang memanggilnya adalah sosok penting.

“Apakah ada masalah?” tanya sang koki dengan gugup.

Matsushita berkata dengan tenang : “Bagi Anda, memasak steak tentu bukan masalah. Namun saya hanya mampu memakan setengahnya. Alasannya bukan karena masakan Anda—steaknya sangat lezat. Hanya saja usia saya sudah delapan puluh tahun, selera makan saya tidak seperti dulu.”

Sang koki dan lima tamu lainnya saling berpandangan, bingung. Butuh beberapa saat bagi mereka untuk memahami maksudnya.

Matsushita melanjutkan : “Saya ingin berbicara dengan Anda karena saya khawatir—ketika melihat steak yang hanya dimakan setengah kembali ke dapur—Anda akan merasa sedih.”

Jika Anda berada di posisi sang koki, apa yang akan Anda rasakan setelah mendengar penjelasan seperti itu?
– Merasa dihormati?
– Dihargai dan didukung?
– Atau dipahami dengan penuh empati dan perhatian?

Bayangkan jika hubungan Matsushita dan sang koki itu adalah hubungan atasan–bawahan. Sosok atasan seperti ini akan dikenang sebagai pemimpin yang punya empati, tulus peduli pada orang lain, serta pandai mengakui dan membangkitkan semangat.

Sebaliknya, sejauh mana Anda memahami orang lain? Faktor apa yang membuat karyawan atau rekan kerja bersedia mengikuti Anda?

Apakah semata demi penghidupan? Demi gaji? Atau karena ada kegembiraan dan rasa pencapaian dalam bekerja?

Lewat kisah ini, kita belajar bagaimana memenangkan hati lebih banyak orang.

Hikmah Cerita

“Setengah potong steak” dengan sederhana menegaskan satu makna penting: memimpin orang, harus dengan hati. Kita juga diajak belajar untuk tidak menghakimi atau berasumsi lebih dulu, karena kenyataan sering kali jauh dari dugaan.

Kesuksesan Konosuke Matsushita sangat mungkin berakar pada kemampuannya menyentuh hati karyawan, sehingga mereka bekerja dengan sukarela dan sepenuh hati. Kita pun diingatkan bahwa dorongan dan pengakuan sering kali lebih ampuh daripada kritik—bahkan mampu memunculkan kemampuan yang melampaui kebiasaan.

Karena pada akhirnya, manusia adalah makhluk yang tumbuh dengan pengakuan dan dorongan. (jhn/yn)

Peraih Nobel Mogok Makan di Balik Jeruji Besi di Iran: Kejahatan terhadap Kemanusiaan

EtIndonesia. Peraih Nobel Perdamaian Narges Mohammadi memulai mogok makan di penjara Iran, lapor CNN.

Salah satu wanita paling berani di zaman kita, peraih Nobel Perdamaian Narges Mohammadi, telah memulai perjuangan putus asa untuk hidupnya di balik tembok penjara Iran. Kondisinya kritis, dan semua kontak dengannya telah diputus sepenuhnya.

Protes Putus Asa di Balik Jeruji Besi

Pada hari Senin, Narges Mohammadi secara resmi mengumumkan mogok makan. Hal ini dilaporkan oleh yayasannya di Paris dalam pernyataan eksklusif kepada CNN. Langkah ini merupakan protes terhadap penahanan ilegal dan kondisi tidak manusiawi yang dihadapi oleh ratusan tahanan politik di Iran.

Putra aktivis hak asasi manusia tersebut, Ali Rahmani, menyebut apa yang terjadi pada ibunya sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Menurutnya, rezim tersebut mencoba menghancurkan seorang wanita yang telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk perdamaian dan hak asasi manusia.

Kondisi Kritis dan Isolasi

Situasi seputar Mohammadi menyerupai film thriller dengan akhir yang tragis:

– Bencana medis: Narges menderita masalah jantung serius (dia telah selamat dari beberapa serangan jantung), masalah tulang belakang, dan tekanan darah tinggi yang kritis. Dia baru-baru ini menjalani operasi karena dugaan diagnosis kanker.

– Keheningan total: Sejak penangkapannya pada bulan Desember, aktivis hak asasi manusia ini hanya diizinkan satu kali menelepon saudara laki-lakinya. Pihak berwenang menuntut agar dia berbohong kepada keluarganya tentang kondisinya, tetapi Narges memilih kebenaran — dan tetap diam dan terisolasi.

– Kembali ke neraka: Mohammadi ditangkap selama upacara peringatan. Ia sekarang menghadapi hukuman total 36 tahun penjara karena propaganda.

Mengapa rezim takut padanya

Suami penerima penghargaan, Taghi Rahmani, percaya bahwa pihak berwenang lebih takut pada suara Narges daripada sanksi apa pun. Bahkan dari penjara, dia tetap menjadi simbol perjuangan untuk hak-hak perempuan dan demokrasi di Iran.

Komunitas internasional dan organisasi hak asasi manusia menyerukan intervensi segera. Setiap jam mogok makan bagi seorang wanita dengan riwayat medisnya dapat berakibat fatal.

Hubungan AS-Iran

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat meningkat tajam setelah Teheran secara brutal menindas protes anti-pemerintah pada awal Januari. Menurut organisasi hak asasi manusia, ribuan orang tewas selama demonstrasi tersebut.

Presiden AS, Donald Trump menginstruksikan timnya untuk menyiapkan skenario serangan cepat dan menentukan terhadap Iran, yang bertujuan untuk menunjukkan kekuatan tanpa menyeret AS ke dalam perang berkepanjangan di Timur Tengah.

Selain itu, AS baru-baru ini mengerahkan kapal perang tambahan ke Timur Tengah sebagai respons terhadap meningkatnya ketegangan dengan Iran.(yn)

Kesempatan Selalu Ada di Sekitar Kita

EtIndonesia. Ada seorang pria yang suatu malam bertemu dengan seorang malaikat. Malaikat itu berkata kepadanya bahwa hal besar akan terjadi dalam hidupnya: dia akan memiliki kesempatan untuk memperoleh kekayaan besar, meraih kedudukan terhormat di masyarakat, dan menikahi seorang wanita cantik.

Pria itu pun menghabiskan seluruh hidupnya menunggu janji keajaiban tersebut. Namun, tak satu pun hal itu benar-benar terjadi. Dia menjalani hidup dalam kemiskinan, dan akhirnya meninggal dunia dalam kesepian.

Ketika tiba di surga, dia kembali bertemu dengan malaikat itu. 

Dengan nada penuh keluhan dia berkata :  “Kamu pernah mengatakan aku akan mendapatkan kekayaan, kedudukan tinggi, dan seorang istri cantik. Aku menunggu seumur hidup, tetapi aku tidak mendapatkan apa-apa.”

Malaikat itu menjawab dengan tenang :  “Aku tidak pernah mengatakan akan memberimu semua itu secara langsung. Aku hanya berjanji akan memberimu kesempatan untuk memperoleh kekayaan, kedudukan yang terhormat, dan seorang istri cantik. Namun, kamu membiarkan semua kesempatan itu berlalu begitu saja.”

Pria itu kebingungan: “Aku tidak mengerti maksudmu.”

Malaikat pun menjelaskan :  “Apakah kamu ingat, suatu ketika kamu pernah mendapatkan sebuah ide yang sangat bagus, tetapi kamu tidak berani melaksanakannya karena takut gagal?”

Pria itu mengangguk.

Malaikat melanjutkan:  “Karena kamu tidak bertindak, beberapa tahun kemudian ide itu diberikan kepada orang lain. Orang itu tidak takut mencoba, dan akhirnya berhasil. Kamu pasti ingat dia—dialah yang kemudian menjadi orang terkaya di negeri itu.”

Malaikat lalu berkata lagi : “Masih ingatkah kamu, saat kota tempat tinggalmu dilanda gempa besar? Sebagian besar rumah runtuh, dan ribuan orang terjebak di bawah puing-puing. Kamu sebenarnya memiliki kesempatan untuk membantu menyelamatkan mereka yang masih hidup. Namun kamu takut rumahmu akan dijarah pencuri saat kamu pergi, lalu menjadikan ketakutan itu sebagai alasan untuk tidak menolong siapa pun, dan hanya menjaga rumahmu sendiri.”

Pria itu kembali mengangguk, kali ini dengan rasa malu.

Malaikat berkata :  “Padahal itu adalah kesempatan emas bagimu untuk menyelamatkan ratusan nyawa. Dari sana, kamu bisa memperoleh kehormatan dan penghargaan besar di kota itu.”

Kemudian malaikat bertanya lagi :  “Apakah kamu ingat seorang wanita cantik berambut hitam legam, yang begitu menarik hatimu? Kamu belum pernah mencintai seorang wanita sedalam itu, dan setelahnya pun tidak pernah bertemu wanita sebaik dia.”

Pria itu mengangguk.

Malaikat melanjutkan :  “Namun kamu berpikir dia tidak mungkin menyukaimu, apalagi mau menikah denganmu. Karena takut ditolak, kamu membiarkannya berlalu dari hidupmu.”

Kali ini pria itu mengangguk sambil menangis.

Malaikat berkata lembut :  “Sahabatku, dialah wanita yang seharusnya menjadi istrimu. Kalian akan memiliki beberapa anak yang cantik, dan bersamanya hidupmu akan dipenuhi kebahagiaan.”

Sesungguhnya, setiap hari kita dikelilingi oleh banyak kesempatan, termasuk kesempatan untuk mencintai dan dicintai. Namun sering kali, seperti pria dalam cerita ini, kita berhenti melangkah hanya karena rasa takut—dan akhirnya kesempatan itu pun menghilang.

Kita takut ditolak, sehingga tidak berani mendekati orang lain.
Kita takut ditertawakan, sehingga enggan mengungkapkan perasaan.
Kita takut terluka, sehingga tidak berani berkomitmen.

Namun kita memiliki satu kelebihan dibandingkan pria dalam cerita tersebut:  kita masih hidup. Dan selama kita masih hidup, kita masih bisa mulai dari sekarang—mengulurkan tangan dan meraih kesempatan yang ada di hadapan kita.

Hikmah Cerita

Percayalah, takdir tidak ditentukan oleh kata-kata orang lain, melainkan diperjuangkan oleh tangan kita sendiri. Orang lain boleh memberi saran, tetapi yang menanggung akibat dari setiap keputusan tetaplah diri kita sendiri.

Dalam hidup, setiap orang memiliki peluang untuk berhasil. Namun dunia ini penuh dengan peluang yang bercampur aduk—ada kesempatan yang tampak seperti jebakan, dan ada jebakan yang tampak seperti kesempatan. Karena terlalu ragu dan bimbang, seseorang bisa kehilangan peluang. Namun di sisi lain, kehati-hatian juga kadang menyelamatkan kita dari bahaya.

Saat seseorang masih berada dalam kekurangan, kesempatan harus direbut dengan usaha sendiri. Saat seseorang telah sukses, ribuan kesempatan justru akan datang menghampiri.

Di titik itulah, kebijaksanaan diperlukan—untuk membedakan mana peluang sejati, dan mana jebakan yang menyamar sebagai peluang. (jhn/yn)

Batal di Menit Terakhir! Perundingan AS–Iran Ambruk, Perang Jadi Opsi Nyata

EtIndonesia. Perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang direncanakan akan digelar hari Jumat, 6 Februari 2026, kembali mengalami perubahan signifikan setelah Teheran menolak sejumlah syarat yang diajukan oleh Washington, mengancam runtuhnya diskusi diplomatik yang penting bagi stabilitas kawasan.

Penolakan Syarat dari Teheran: Fokus Nuklir Jadi Titik Konflik

Perundingan awalnya direncanakan berlangsung di Oman, tetapi pembicaraan itu dibatalkan saat Iran bersikeras hanya ingin membahas isu program nuklirnya saja. Tehran menolak untuk memperluas agenda pembicaraan ke topik lain seperti program rudal balistik dan hubungan jaringan kelompok proksi di wilayah.

Sumber diplomatik menyatakan pihak AS meminta Teheran menerima pembicaraan yang mencakup:

  • penghentian pengayaan uranium sepenuhnya,
  • pembatasan program rudal balistik Iran,
  • penghentian dukungan bagi kelompok militan proksi di kawasan.

Pejabat Iran menilai tuntutan tersebut sebagai prasyarat yang tidak dapat diterima, terutama terkait pembahasan isu non-nuklir. Teheran menegaskan pihaknya hanya akan membahas program nuklir dan menolak pembicaraan yang mencakup topik lain.

Kondisi Negosiasi & Sikap AS Setelah Pembatalan

Pejabat AS mengatakan kepada delegasi Iran bahwa mereka harus menyetujui semua tuntutan AS atau perundingan tidak akan berlangsung. Iran memilih “tidak ada apa-apa”, sehingga dialog diplomatik tersebut batal.

Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dan penasihat Gedung Putih Jared Kushner, semula dijadwalkan terbang menuju Qatar untuk mencari solusi alternatif, kemudian kembali ke Miami tanpa melakukan pertemuan di Oman.

Meskipun demikian, sejumlah pejabat AS menyatakan bahwa pintu diplomasi belum tertutup. Jika Iran bersedia kembali ke format semula — memperluas pembicaraan atau setidaknya merespons kerangka yang diajukan Washington — perundingan masih bisa digelar pekan ini atau pekan depan.

Desakan Negara Arab & Dunia Islam

Sejumlah negara Arab dan Islam, termasuk Qatar dan Turkiye, mendesak AS agar tidak membatalkan pertemuan di Oman sehingga proses diplomasi tetap berjalan. Tekanan ini mendorong negosiasi kembali dihidupkan dan memperluas upaya diplomatik di kawasan.

Sikap Pemimpin AS: Rubio Belum Yakin Kesepakatan Tercapai

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio menyatakan dirinya belum yakin bahwa kesepakatan dapat dicapai, mengingat perbedaan tajam antara posisi kedua pihak. AS menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium, melumpuhkan program rudal balistik, serta menghentikan dukungan terhadap kelompok ekstremis, sekaligus memperbaiki hak asasi dalam negeri.

Rubio juga menegaskan bahwa Washington tidak akan menerima kesepakatan apa pun jika rudal Iran masih dianggap sebagai ancaman terhadap sekutu wilayah seperti Israel.

Ancaman Militer dan Ketidakpastian Diplomasi

Sumber intelijen menyatakan pejabat Israel memperingatkan jika diplomasi gagal, potensi serangan militer terhadap fasilitas militer atau infrastruktur Iran akan meningkat tajam — sebuah skenario yang dapat menimbulkan eskalasi cepat dalam konflik regional.

Ancaman Serius dari AS dan Situasi Regional

Selain dinamika diplomasi, ketegangan militer di kawasan juga meningkat, dipicu oleh pernyataan keras dari kalangan Washington.

Pernyataan Trump di Ruang Oval

Pada 3 Februari 2026, Presiden AS, Donald Trump mengejutkan publik internasional saat menyatakan dalam pertemuan di Ruang Oval bahwa AS mungkin harus melakukan operasi militer “pemenggalan kepala” ala Venezuela terhadap Iran — yang berarti menggulingkan kepemimpinan rezim di Teheran — diikuti dengan serangkaian serangan udara besar layaknya kampanye udara di Libya. Pernyataan itu mencakup ancaman menghancurkan unit Garda Revolusi Iran yang diperkirakan berjumlah puluhan ribu personel.

Pengerahan Kekuatan Militer AS

AS juga dilaporkan sedang mengerahkan tambahan kekuatan militer ke Timur Tengah. Salah satu kelompok kapal induk, USS George H. W. Bush, dilaporkan menuju kawasan Teluk Persia sebagai sinyal kesiapan militer AS terhadap berbagai kemungkinan eskalasi.

Respons Negara Arab: Yordania & Arab Saudi

Menanggapi kemungkinan operasi militer anti-Iran:

  • Yordania (4 Februari 2026) menyatakan tegas bahwa wilayahnya tidak akan digunakan sebagai basis untuk melancarkan serangan terhadap Iran, meskipun AS memiliki pangkalan udara dengan ribuan personel di negaranya.
  • Arab Saudi juga menegaskan sikap tidak memberikan izin bagi operasi militer dari wilayahnya, namun Riyadh menyatakan akan menanggapi jika serangan besar terjadi terhadap negara Teluk atau pangkalan AS yang berada di kawasan.

Kesimpulan: Diplomasi di Titik Genting

Perundingan nuklir AS–Iran yang seharusnya berlangsung Jumat ini berada dalam ketidakpastian besar. Ketegangan antara kebutuhan diplomasi dan tekanan militer memperlihatkan lingkungan geopolitik yang sangat rentan:

  • Iran bersikeras hanya akan membahas isu nuklir, menolak pembicaraan tentang rudal balistik dan agresinya di kawasan.
  • AS menuntut cakupan negosiasi yang lebih luas, sementara para pemimpin AS sendiri menyuarakan sikap keras terhadap rezim Teheran.
  • Negara kawasan mendorong diplomasi tetap berjalan untuk mencegah konflik yang lebih besar.

Dengan berbagai tekanan diplomatik dan ancaman militer yang terus meningkat, perkembangan selanjutnya di Muscat dan Washington akan menjadi penentu kritis bagi masa depan hubungan AS–Iran dan stabilitas di Timur Tengah.

Mengembangkan Diri dengan Cara Berlawanan Arah

EtIndonesia. Pada masa Romawi, ada sebuah legenda yang menceritakan tentang seorang pembantu rumah tangga. Suatu hari, dia tidak sengaja memecahkan sebotol minyak di dapur. Karena panik, dia berusaha mengumpulkan kembali minyak tersebut dengan tangannya.

Pada masa itu, orang memasak menggunakan kayu bakar atau jerami gandum. Di lantai dapur terdapat banyak abu sisa pembakaran, yang ikut tercampur dan terangkat bersama minyak di tangannya. Setelah itu, sang pembantu pergi ke sumur untuk mencuci tangan, dan dia terkejut karena kotoran di tangannya hilang dengan sangat cepat.

Kesalahan kecil itu justru secara tak terduga melahirkan sabun.

Ternyata, minyak yang bercampur dengan zat alkali dari abu kayu memiliki daya pembersih. Biasanya orang tidak menyukai tangan yang licin karena minyak, dan akan berusaha keras untuk menghilangkannya. Namun jika ke dalam minyak justru ditambahkan unsur alkali, minyak itu malah berubah menjadi sesuatu yang mampu menghilangkan minyak.

Dari kisah ini lahirlah sebuah pencerahan: Terkadang, bukan dengan mengurangi atau menghilangkan, melainkan dengan menambahkan secara berlawanan arah, sebuah persoalan justru memperoleh ruang perkembangan yang jauh lebih luas.

Jika kita menengok dunia kerja saat ini, kasus atasan yang bersikeras menyingkirkan bawahan yang dianggap tidak menyenangkan jumlahnya sangat banyak.

Di Amerika Serikat, pernah ada sebuah perusahaan otomotif ternama yang mengalami kerugian 10 juta dolar AS akibat kesalahan penilaian seorang eksekutif senior. Sang eksekutif mengajukan pengunduran diri sebagai bentuk tanggung jawab. 

Namun sang CEO berkata: “Saya baru saja menghabiskan 10 juta dolar untuk melatih Anda. Bagaimana mungkin saya membiarkan Anda pergi begitu saja?”

Dari sudut pandang kemanusiaan dan harga diri, dapat dibayangkan bahwa setelah itu, sang eksekutif justru akan bekerja lebih keras dan lebih loyal demi perusahaan.

Ada pula kisah lain yang juga terjadi di Amerika.

Seorang presiden direktur sedang berkeliling perusahaan dan melihat seorang karyawan duduk termenung lama di depan jendela. 

Dia pun bertanya kepada manajer umum tentang hal tersebut. Sang manajer menjawab: “Delapan hingga sembilan puluh persen ide kreatif perusahaan ini lahir saat karyawan itu sedang duduk melamun di depan jendela.”

Apakah kesalahan di tempat kerja selalu tak bisa dimaafkan?

Apakah melamun saat bekerja pasti berarti tidak produktif?

Apakah orang yang sulit diajak bekerja sama harus disingkirkan atau dipinggirkan?

Apakah bawahan yang tidak disukai atasan pasti tidak memiliki kontribusi bagi perusahaan?

Bagi manusia, standar nilai apa yang seharusnya digunakan untuk menilai kinerja seseorang pada tahap tertentu?

  • Apakah selera pribadi atasan?- 
  • Apakah angka dan data semata?
  • Ataukah kontribusi dari dimensi lain yang sering tak terlihat?

Tahukah kamu mengapa anjing dan kucing sulit menjadi sahabat?

Karena saat anjing senang, dia membuka matanya lebar-lebar, dan saat marah, dia menyipitkan mata. Sebaliknya, bagi kucing, mata yang menyipit justru menandakan kebahagiaan, sedangkan mata yang terbuka lebar berarti ketidaksenangan.

Anjing dan kucing selalu menafsirkan perilaku satu sama lain dari sudut pandang diri sendiri, sehingga keduanya saling menganggap lawan.

Sebagai manusia, kita seharusnya belajar sedikit berubah— mencoba menghilangkan permusuhan dan menambahkan niat baik, agar jendela orang lain bisa menjadi cermin bagi diri kita sendiri.

Hikmah Cerita

Pesawat dapat terbang tinggi justru karena melawan arah angin. Manusia bertumbuh karena hambatan dan rintangan.

Saat menghadapi kesulitan, bangkitkan semangat dan hadapi tantangan dengan berani. Percayalah, Anda dan saya akan melangkah menuju tingkatan hidup yang lebih matang dan lebih luas.(jhn/yn)

Telepon Darurat Xi Jinping: Janjikan Hadiah ke Trump, Militer Tiongkok Bergolak

EtIndonesia. Di tengah tekanan politik dan militer yang kian menyesakkan, Xi Jinping secara mendadak melakukan manuver diplomatik tingkat tinggi. Pada akhir Januari 2026, pemimpin Tiongkok itu lebih dahulu melakukan panggilan video dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, lalu disusul panggilan telepon langsung dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Rangkaian komunikasi ini langsung memicu perhatian internasional. Waktunya dinilai sangat sensitif, karena berlangsung ketika Xi sedang menghadapi dua krisis besar sekaligus: tekanan geopolitik eksternal dan gejolak kekuasaan internal yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Xinhua Membuka Tabir: Taiwan Jadi Pokok Utama

Kantor berita resmi Tiongkok, Xinhua, menjadi media pertama yang mengungkap detail percakapan Xi–Trump. Dalam laporannya, Xinhua menegaskan bahwa Xi secara khusus menyampaikan satu pesan utama: isu Taiwan adalah kepentingan paling sensitif dan paling penting dalam hubungan Tiongkok–Amerika Serikat.

Xi menuntut agar Washington menangani penjualan senjata ke Taiwan dengan “sangat hati-hati”, sebuah peringatan yang muncul di tengah spekulasi luas tentang kondisi militer Tiongkok pasca-gejolak internal.

Versi Trump: Telepon Panjang, Daftar Panjang, Nada Sangat Positif

Tak lama berselang, Trump menuliskan pernyataannya di media sosial. Dia menyebut percakapan dengan Xi sebagai “sangat baik dan berlangsung lama”, mencakup beragam topik strategis:

  • perdagangan bilateral
  • kerja sama militer
  • isu Taiwan
  • perang Rusia–Ukraina
  • situasi Iran dan Timur Tengah

Trump juga mengungkap rencana kunjungannya ke Tiongkok pada April 2026, serta menyatakan antusiasmenya secara terbuka.

Lebih jauh, Trump membeberkan komitmen ekonomi yang disebut berasal dari pihak Xi, antara lain:

  • pembelian minyak dan gas alam AS oleh Tiongkok
  • peningkatan impor produk pertanian Amerika
  • rencana menaikkan impor kedelai hingga sekitar 20–25 juta ton
  • pembahasan pengiriman mesin inti pesawat dan kerja sama teknologi lainnya

Trump menutup pernyataannya dengan kesimpulan optimistis: hubungan AS–Tiongkok, termasuk hubungan pribadinya dengan Xi, berada dalam kondisi “sangat baik”, dan diyakini akan menghasilkan banyak capaian positif dalam tiga tahun ke depan.

“Daftar Hadiah” Xi dan Kecurigaan Dunia

Bagi banyak pengamat, pola ini sangat tidak lazim. Xi tampak menyodorkan “daftar hadiah” ekonomi yang menggiurkan—dari kedelai, energi, hingga teknologi inti—untuk menyenangkan Trump.

Pertanyaan pun mengemuka: apakah Xi, seorang politisi yang dikenal sangat kalkulatif, sedang memanfaatkan obsesi Trump pada perdagangan demi mengamankan tujuan strategis yang jauh lebih mendesak?

Tiga Fokus Utama Perhatian Dunia

Panggilan telepon Xi–Trump segera memusatkan perhatian global pada tiga isu besar:

  1. Perundingan nuklir AS–Iran yang diperkirakan segera dimulai. Dunia menunggu langkah Trump berikutnya—apakah perang besar di Timur Tengah sudah di ambang pintu.
  2. Krisis kendali militer Xi Jinping, terutama setelah penanganan terhadap Zhang Youxia, yang justru memicu perlawanan lunak di tubuh militer. Dengan Sidang Parlemen Nasional (Lianghui) dijadwalkan berlangsung Maret 2026, risiko politik Xi semakin besar.
  3. Motif di balik “hadiah besar” kepada Trump—apakah ini sekadar diplomasi dagang, atau sinyal darurat dari seorang pemimpin yang posisinya sedang goyah?

Putin Juga Diundang: Panggung Internasional untuk Xi

Tak hanya Trump. Setelah panggilan video Xi–Putin, Kremlin mengonfirmasi bahwa Putin menerima undangan resmi Xi dan dijadwalkan berkunjung ke Tiongkok pada paruh pertama 2026.

Artinya, dalam waktu relatif berdekatan, Xi berupaya menghadirkan dua pemimpin dunia paling berpengaruh ke Beijing.

Pakar isu Tiongkok, Tang Jingyuan, menilai langkah ini sebagai upaya Xi “melampaui permintaan Trump”. Menurutnya, tujuan inti Xi adalah memberi panggung internasional bagi dirinya sendiri, untuk menunjukkan bahwa ia masih memiliki dukungan global—sebuah kebutuhan mendesak di tengah tekanan internal yang semakin berat.

Isu Taiwan dan Militer yang Lumpuh

Xinhua menekankan bahwa Taiwan menjadi fokus utama Xi dalam pembicaraan dengan Trump. Namun, analisis internal menunjukkan paradoks besar: Xi justru tidak berada dalam posisi yang memungkinkan untuk berperang.

Zhang Youxia dan Liu Zhengli merupakan figur kunci perencanaan isu Taiwan. Setelah keduanya jatuh, yang terdampak bukan hanya individu, tetapi seluruh jaringan loyalis dan perwira inti di bawah mereka.

Dalam kondisi ini:

  • Komisi Militer Pusat dinilai nyaris lumpuh
  • banyak perwira senior tidak lagi sepenuhnya dipercaya
  • risiko bahwa senjata dapat “berbalik arah” justru menjadi kekhawatiran terbesar Xi

Kesimpulannya, perang di Selat Taiwan pada tahap ini hampir mustahil, bukan karena kurangnya niat, melainkan karena hilangnya kendali efektif atas militer.

Sidang Parlemen 4 Februari: Petir Menggelegar, Hujan Setetes

Pada 4 Februari 2026, Komite Tetap Parlemen Nasional Tiongkok ke-14 menggelar sidang darurat di Beijing, dipimpin Zhao Leji dan dihadiri sekitar 150 anggota.

Publik semula menduga sidang ini akan:

  • mencabut status parlemen Zhang Youxia dan Liu Zhengli
  • sekaligus mencopot jabatan mereka di Komisi Militer Negara

Namun hasilnya mengejutkan: nama Zhang dan Liu sama sekali tidak disentuh. Yang dicabut justru status beberapa anggota lain dari Shanghai, Shandong, dan Sichuan.

Banyak analis menilai, pada detik-detik terakhir muncul perlawanan besar yang tidak bisa ditekan, sehingga agenda sidang terpaksa “diturunkan levelnya”. Ini menjadi sinyal kuat bahwa upaya Xi membersihkan arena kekuasaan mengalami kegagalan serius.

Lebih mencolok lagi, selama lebih dari sepuluh hari setelah penangkapan Zhang, tidak ada satu pun sistem partai, pemerintahan, atau komando militer regional yang secara terbuka menyatakan dukungan penuh terhadap keputusan Xi.

Surat 25 Jenderal dan Titik Didih Militer

Di tengah ketidakpastian ini, beredar luas di internet sebuah surat terbuka yang diklaim ditandatangani 25 jenderal Tiongkok, menyebut 24 Januari 2026 sebagai “hari gelap”.

Surat tersebut:

  • menuduh penindakan terhadap Zhang dan Liu sebagai kudeta istana, bukan antikorupsi
  • menyebut Xi menggunakan slogan antikorupsi dan kemakmuran bersama untuk membangun kediktatoran pribadi
  • menyerukan pembangkangan bersenjata demi “menyelamatkan diri, negara, dan rakyat”

Keaslian surat ini memang belum terverifikasi. Namun banyak pengamat menilai, benar atau palsunya surat itu bukan lagi inti persoalan. Yang jauh lebih penting adalah fakta bahwa narasi semacam ini bisa beredar luas, menandakan kemarahan internal telah melampaui rasa takut terhadap kekuasaan.

Kesimpulan: Telepon sebagai Sinyal Darurat

Rangkaian panggilan Xi kepada Trump dan Putin bukan sekadar diplomasi biasa. Ia mencerminkan seorang pemimpin yang sedang berpacu dengan waktu, berusaha mengamankan dukungan eksternal di saat fondasi internalnya retak.

Dalam konteks ini, telepon Xi bukan tanda kekuatan—melainkan sinyal darurat. Dan dunia kini menunggu:
apakah panggung internasional cukup untuk menutupi krisis di dalam Beijing, atau justru akan mempercepat babak baru dari gejolak kekuasaan Tiongkok.

Nekat atau Keterlaluan? : Pria Daratan Tiongkok Menembaki Kamera Keamanan Sepanjang Jalan dengan Ketapel 

EtIndonesia. Kediktatoran brutal PKT (Partai Komunis Tiongkok) semakin kehilangan dukungan rakyat. Sebuah video yang beredar di media sosial  daratan Tiongkok memperlihatkan seorang pria menggunakan ketapel untuk menembaki kamera pengawas di sepanjang jalan. 

Aksi ini dipahami oleh para warganet sebagai bentuk perlawanan terhadap pengawasan PKT, dan banyak yang menyambutnya dengan sorakan dukungan.

Video pengawasan yang beredar itu menampilkan tulisan beraksara sederhana “Wenquan Road (Perusahaan Bahan Peledak Sipil)”. 

Dalam video terlihat seorang pria memegang ketapel dan berjalan di tengah jalan. Ia terlebih dahulu mengarahkan ketapelnya ke sebuah bangunan di sisi kiri jalan dan melepaskan satu peluru. 

Setelah itu, ia berlari beberapa langkah ke depan dan menghancurkan kamera pengawas yang merekam video tersebut. Sebagian besar gambar kamera langsung menjadi buram, hanya terlihat retakan pada kaca lensa.

Banyak warganet di  daratan Tiongkok memberikan komentar dukungan, seperti dengan meninggalkan tulisan :

 “Orang berbakat”,
“Tembakannya sangat tepat”,
“Aku ingin menyumbang uang untuknya”,
“Para sopir berterima kasih padamu, kali ini tidak akan (ditilang) karena pelanggaran.”

Di kota-kota daratan Tiongkok, kamera pengawas yang dipasang pemerintah tersebar di hampir setiap sudut jalan. Kamera-kamera ini dituding digunakan untuk mengawasi warga, atau untuk merekam “pelanggaran lalu lintas” demi mengenakan denda.

Sebelumnya, dari berbagai daerah di daratan juga beredar video yang memperlihatkan sekelompok anak berdiri di persimpangan jalan sambil memperingatkan kendaraan yang melintas bahwa “ada polisi lalu lintas di depan”. 

Video-video tersebut juga menuai banyak tanda suka dari warganet. Sejumlah netizen berkomentar bahwa hal ini menunjukkan betapa tidak populernya pemerintah PKT di mata rakyat.

Editor penanggung jawab: Chen Zhenjin)

Trump : Meksiko Akan Hentikan Pasokan Minyak ke Kuba, Kuba Terancam Pemadaman Listrik Total

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru-baru ini mengatakan kepada media bahwa Meksiko akan menghentikan pasokan minyak ke Kuba, negara yang saat ini mengalami kekurangan energi parah. Ia juga menyebutkan bahwa Amerika Serikat sedang melakukan kontak dengan pimpinan Kuba. 

Menanggapi hal ini, Wakil Menteri Luar Negeri Kuba menyatakan bahwa meskipun kedua negara masih menjaga komunikasi, belum ada dialog resmi yang dimulai. Seiring Washington terus memperketat sanksi ekonomi terhadap Kuba, negara tersebut kini menghadapi krisis energi dan ekonomi yang sangat serius.

“Kuba sekarang adalah negara yang gagal. Mereka tidak bisa lagi mendapatkan uang dari Venezuela, dan juga tidak bisa mendapatkan uang dari tempat lain mana pun. Itu adalah negara yang gagal. Meksiko akan berhenti mengirimkan minyak kepada mereka,” kata Trump. 

Meksiko merupakan pemasok minyak tunggal terbesar bagi Kuba. Diperkirakan pada tahun 2025, Meksiko menyalurkan rata-rata 12.284 barel minyak per hari ke Kuba, yang mencakup 44% dari total impor minyak mentah Kuba.

Kuba sangat bergantung pada bahan bakar impor dan produk minyak jadi untuk pembangkit listrik, bensin, serta bahan bakar penerbangan. Selama bertahun-tahun, sanksi Amerika Serikat yang dikombinasikan dengan krisis ekonomi yang parah telah membuat rezim komunis Kuba tidak mampu membeli energi dalam jumlah cukup. Negara itu pun terpaksa bergantung pada segelintir sekutu, sehingga dalam jangka panjang terus mengalami kekurangan energi dan pemadaman listrik berskala besar.

 Januari lalu, setelah diktator Venezuela Nicolás Maduro ditangkap oleh militer Amerika Serikat, Washington menguasai ekspor minyak Venezuela. Langkah ini secara efektif memutus dukungan dari sekutu terpenting Kuba, dan semakin memperburuk kondisi energi negara tersebut.

Trump menambahkan: “Saya berharap bisa memperhatikan rakyat Kuba yang sekarang berada di sini. Kami memiliki banyak orang Kuba; mereka diusir dari Kuba atau melarikan diri dari sana. Mereka datang dengan rakit, menyeberangi lautan yang penuh hiu. Banyak dari mereka ingin kembali, setidaknya ingin mengunjungi keluarga mereka. Saya rasa kita sudah cukup dekat. Saat ini kami sedang berhubungan dengan para pemimpin Kuba.”

Menanggapi hal tersebut, Wakil Menteri Luar Negeri Kuba, Carlos Fernández de Cossío, pada 2 Februari mengatakan bahwa Kuba dan Amerika Serikat memang masih menjaga komunikasi, namun belum memasuki tahap dialog resmi.

“Kami juga yakin bahwa ada banyak isu yang dapat dibahas oleh kedua pihak, termasuk banyak perbedaan pendapat. Dan di antaranya, mungkin cukup banyak yang dapat ditemukan solusinya melalui dialog,” katanya. 

Saat ini, Kuba tengah terjerumus dalam krisis ekonomi terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Dengan pasokan listrik dan bahan bakar yang berada di ambang kehancuran, sistem kesehatan dan pasokan pangan juga ikut terancam. Jika Meksiko secara resmi menghentikan pengiriman minyak, Kuba dikhawatirkan akan menghadapi pemadaman listrik total di seluruh negeri.

Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum pada Selasa (3 Februari) menyatakan bahwa Meksiko minggu ini akan memberikan bantuan kemanusiaan kepada Kuba. Bantuan tersebut terutama berupa barang-barang non-minyak. Ia sebelumnya menegaskan bahwa langkah ini akan dilakukan dengan harapan “tidak berkonfrontasi dengan Amerika Serikat.” (Hui)

Reporter New Tang Dynasty Television, Liu Jiajia, laporan dari Amerika Serikat.

Menjelang Dimulainya Putaran Terbaru Pembicaraan Trilateral, Rusia Serang Ukraina dengan 71 Rudal dan 450 Drone

Etindonesia. Sehari sebelum Amerika Serikat, Rusia, dan Ukraina dijadwalkan menggelar putaran kedua perundingan tiga pihak, Rusia melancarkan serangan rudal dan drone terbesar tahun ini terhadap Ukraina. Hanya dalam semalam, ribuan warga Kyiv kehilangan pemanas di tengah suhu ekstrem di bawah minus 20 derajat Celsius. 

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menuduh Presiden Rusia Vladimir Putin kembali mengingkari janji. Sebelumnya, Putin dikatakan telah berjanji kepada Presiden AS Donald Trump untuk menghentikan serangan terhadap Ukraina sementara waktu karena gelombang udara dingin yang melanda kawasan tersebut.

Menjelang Perundingan Damai Baru

Rusia Luncurkan 71 Rudal dan 450 Drone, Menggempur Ukraina

Dari Senin (2 Februari) malam hingga Selasa (3 Februari) dini hari, ketenangan singkat di Kyiv mendadak pecah. Rusia melancarkan serangan udara terbesar musim dingin ini terhadap Ukraina, dengan menembakkan 71 rudal, termasuk 32 rudal balistik (jumlah tertinggi yang pernah tercatat), 28 rudal jelajah, serta mengerahkan 450 drone tempur.

Serangan tersebut memicu kebakaran di gedung-gedung tinggi dan menyebabkan puluhan korban tewas dan luka-luka di seluruh negeri. 

Selain Kyiv, infrastruktur energi di berbagai wilayah Ukraina juga menjadi sasaran, termasuk Sumy di utara, Kharkiv di timur laut, Dnipro di wilayah tengah, serta Odesa di selatan. Kondisi ini membuat pekerjaan perbaikan fasilitas yang sudah sulit menjadi semakin berat.

Serangan ini menyebabkan 1.170 gedung apartemen di Kyiv lumpuh sistem pemanasnya, sementara di Odesa sekitar 50.000 orang mengalami pemadaman listrik, di saat suhu udara di Ukraina telah turun hingga minus 20 derajat Celsius.

Warga Ukraina, Hlobenko, mengatakan: “Menurut kalian, di mana sebenarnya perundingan itu? Mereka (Rusia) mengklaim setuju untuk berunding, bahkan setuju pada suatu bentuk gencatan senjata. Lalu, di mana gencatan senjatanya? Di mana?”

Serangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Rusia dan Ukraina akan menerapkan gencatan senjata selama seminggu. Moskow sebelumnya menyatakan bahwa gencatan senjata berakhir pada hari Minggu lalu, sementara Kyiv menuduh Rusia telah melanggar komitmennya.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan: “Faktanya, keputusan gencatan senjata mulai berlaku sejak Jumat malam lalu. Namun malam ini (serangan udara terjadi), kami menilai Rusia telah mengingkari janji mereka.”

Zelensky mengecam Rusia karena menyetujui usulan gencatan senjata sementara dari Amerika Serikat bukan untuk mendukung upaya diplomasi, melainkan untuk memanfaatkan periode paling dingin dalam setahun guna menimbun rudal, dengan tujuan tetap melanjutkan perang.

Juru bicara Gedung Putih Leavitt mengatakan: “Saya berbicara dengan Presiden (Trump) pagi ini mengenai serangan tersebut. Reaksinya adalah sangat menyesalkan, namun tidak merasa terkejut.”

Serangan besar Rusia ini terjadi tepat sehari sebelum putaran kedua perundingan tiga pihak antara Amerika Serikat, Rusia, dan Ukraina. Para analis menilai, langkah ini merupakan sinyal politik dari Moskow untuk menunjukkan sikap keras menjelang meja perundingan.

Sekjen NATO Kunjungi Kyiv di Tengah Dentuman Senjata

Meragukan Ketulusan Gencatan Senjata Moskow

Pada hari Selasa, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengunjungi Kyiv dan bersama Zelensky mengheningkan cipta bagi para prajurit yang gugur, di tengah bunyi sirene serangan udara. Ia juga meninjau langsung pembangkit listrik Kyiv yang diserang pasukan Rusia.

Rutte menyatakan bahwa pencapaian kesepakatan damai berarti harus membuat pilihan-pilihan yang sulit.

Sekjen NATO Mark Rutte mengatakan: “Kesepakatan ini harus dapat diterima oleh semua pihak, terutama oleh Ukraina — ini tidak diragukan lagi. Namun tentu saja, hal ini menimbulkan pertanyaan apakah Rusia benar-benar memiliki ketulusan untuk mencari perdamaian. Semoga mereka memang serius.”

Rutte juga menyebutkan bahwa ia yakin negara-negara anggota NATO pada tahun 2026 dapat menyediakan 15 miliar dolar AS bagi Ukraina, melalui mekanisme Daftar Kebutuhan Prioritas Ukraina (PURL), untuk membeli senjata buatan Amerika Serikat.

Selain itu, kedua pihak juga membahas isu yang sangat krusial, yaitu jaminan keamanan Ukraina pascaperang.

Zelensky menegaskan: “Yang paling penting adalah, jika Rusia kembali menyerang kami, apa yang siap dilakukan oleh Eropa, apa yang dapat dilakukan Amerika Serikat, dan bagaimana kesiapan mereka untuk bertindak.”

Harian Inggris Financial Times pada hari Selasa mengutip sumber yang mengetahui situasi tersebut, menyebutkan bahwa Ukraina telah mencapai kesepahaman dengan negara-negara Barat. Jika Rusia melanggar aturan dalam perjanjian gencatan senjata apa pun di masa depan, hal itu dapat memicu respons militer bertingkat dan terkoordinasi antara Ukraina, Eropa, dan Amerika Serikat.

Reporter New Tang Dynasty Television, Yi Jing, laporan gabungan.

Luar Biasa! Seorang Bocah Australia Berusia 13 Tahun Berenang Selama 4 Jam Demi Menyelamatkan Keluarganya yang Terjebak

EtIndonesia. Seorang remaja laki-laki berusia 13 tahun di Australia menunjukkan naluri bertahan hidup yang “melampaui orang kebanyakan”. Di tengah laut lepas Australia yang bergelombang besar, ia bahkan melepaskan jaket pelampungnya dan berenang dengan sekuat tenaga selama 4 jam untuk mencari pertolongan. Berkat aksinya, anggota keluarganya yang terjebak di laut akhirnya berhasil diselamatkan, dan ia pun mendapat pujian dari tim penyelamat.

Menurut laporan Agence France-Presse (AFP), pada 30 Januari remaja tersebut sedang berlibur bersama keluarganya di kota wisata Quindalup, Australia Barat. Saat itu, ibu serta dua adik kandungnya yang masih kecil bermain kayak dan paddle board di perairan sekitar, namun terseret arus hingga ke tengah laut. Melihat kejadian tersebut, sang remaja berenang sejauh sekitar 4 kilometer kembali ke daratan untuk melapor dan meminta bantuan.

“Anak itu memperkirakan bahwa selama dua jam pertama ia berenang sambil mengenakan jaket pelampung. Kemudian, pemuda pemberani ini merasa bahwa dengan memakai jaket pelampung ia tidak akan bisa berenang kembali ke darat, sehingga ia melepasnya dan melanjutkan berenang tanpa jaket pelampung selama dua jam berikutnya,” kata relawan penyelamat laut Paul Bresland mengatakan kepada ABC News Australia. 

Menurut BBC, Kepolisian Australia Barat dalam pernyataannya pada 2 Februari menyebutkan bahwa remaja tersebut berhasil menghubungi polisi sekitar pukul 18.00 sore pada 30 Januari. Polisi kemudian melancarkan operasi pencarian dan penyelamatan besar-besaran di sekitar Pantai Quindalup, wilayah Busselton. Akhirnya, sekitar pukul 20:30 malam hari yang sama, helikopter penyelamat menemukan anggota keluarganya tengah mengapung di laut, berpegangan erat pada sebuah papan dayung, sekitar 14 kilometer dari garis pantai.

Inspektur Polisi James Bradley mengatakan bahwa tindakan remaja tersebut “layak mendapat pujian setinggi-tingginya”. Ia mengatakan kepada ABC:

“Tekad dan keberaniannya pada akhirnya menyelamatkan ibu serta adik-adiknya.”

Paul Bresland menggambarkan aksi remaja itu sebagai sesuatu yang “melampaui kemampuan orang biasa”. Ia berkata:

“Saya langsung berpikir, ini benar-benar tidak dapat dipercaya.”

Editor : Cheng Yiren

Pasukan Pakistan Melancarkan Serangan Mendadak, 177 Militan Baloch Tewas dalam 2 Hari

EtIndonesia. Baru-baru ini, wilayah barat daya Pakistan diguncang oleh serangkaian serangan terkoordinasi yang menyebabkan sedikitnya 33 orang—termasuk warga sipil dan personel keamanan—tewas. Menanggapi hal tersebut, pasukan keamanan Pakistan melancarkan beberapa gelombang serangan mendadak sepanjang malam, dan menewaskan sekitar 24 militan bersenjata.

Para analis menyatakan bahwa dalam dua hari terakhir, jumlah militan yang tewas telah mencapai total 177 orang, mencatat rekor tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. 

Menurut laporan Associated Press (AP), sejak 31 Januari dini hari, polisi Pakistan dengan dukungan militer melancarkan operasi terhadap Tentara Pembebasan Balochistan (Baloch Liberation Army/BLA). 

Sebelumnya, hampir 200 militan terbagi dalam beberapa kelompok dan melancarkan serangan “terkoordinasi” berupa bom bunuh diri dan penembakan, yang menargetkan kantor polisi, rumah warga, serta fasilitas keamanan di provinsi tersebut.

Serangan akhir pekan yang diklaim dilakukan oleh Tentara Pembebasan Balochistan itu menewaskan sedikitnya 18 warga sipil dan 15 personel keamanan, memicu kecaman keras dari berbagai kalangan di Pakistan.

 Para pemimpin politik lintas partai—termasuk partai yang dipimpin oleh mantan Perdana Menteri Imran Khan yang kini dipenjara—secara serempak mengecam terjadinya tindakan kekerasan. (Hui).