Banjir Bandang di Tibet Seperti Tsunami : Permukaan Air Naik 9 Meter dalam 30 Menit, Pilot Menceritakan Pemandangan Mengerikan

EtIndonesia.com Banjir mematikan melanda perbatasan Tibet, Tiongkok, dan Nepal pada 26 Agustus. Banjir bandang yang membawa material longsoran lumpur dan batu dalam jumlah besar dengan cepat menerjang wilayah hilir. 

Dalam waktu hanya 30 menit, permukaan air Sungai Trishuli naik hingga 9 meter, menyerupai “tsunami di daratan”. Seorang pilot helikopter menyaksikan langsung pemandangan mengerikan sebelum banjir menerjang.

Pilot Menyaksikan Pemandangan Mengerikan dari Udara

Pilot helikopter Aman Budathoki menyaksikan langsung banjir bandang mematikan tersebut dari udara. Ia memperkirakan ketinggian gelombang air mencapai 5 hingga 6 meter.

“Sekitar lima menit sebelum banjir terjadi, kami melihat sejumlah besar debu tiba-tiba membumbung dari permukaan sungai,” kata Budathoki kepada CNN. “Awalnya kami mengira itu hanya longsoran tanah dan batu. Kami bahkan menduga mungkin militer sedang menggunakan bahan peledak untuk memperbaiki jalan.”

Namun, hanya dalam hitungan detik, Budathoki melihat air banjir berwarna gelap yang membawa banyak puing mengalir deras ke hilir dan bercampur dengan air sungai yang sebelumnya jernih. Aliran tersebut bahkan membentuk gelombang raksasa setinggi 5 hingga 6 meter.

Ia melihat pohon-pohon besar, kendaraan, dan bangunan tersapu oleh derasnya arus.

“Itu adalah pemandangan yang sangat mengerikan. Kami bahkan sempat mencoba mengikuti arah aliran banjir untuk sementara waktu, hanya untuk menilai bencana yang sedang terjadi.”

Ia mengatakan belum pernah melihat kekuatan alam ditunjukkan dengan cara yang sedemikian dahsyat.

Banjir Bandang Seperti Tsunami di Daratan, Air Naik 9 Meter dalam 30 Menit

International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) yang berbasis di Nepal menyatakan bahwa permukaan air di bagian hilir Sungai Trishuli naik hingga 9 meter hanya dalam waktu 30 menit.

Banjir datang begitu cepat dan dahsyat sehingga bencana tersebut digambarkan seperti “tsunami di daratan” yang terjadi di lembah pegunungan. Bagi penduduk yang tinggal di dekat sungai, ketika mereka menyadari banjir sudah mendekat, waktu yang tersedia untuk menyelamatkan diri sudah sangat terbatas.

Yang membuat situasi semakin berbahaya adalah arus deras membawa lumpur dalam jumlah besar serta batu-batu raksasa ke arah hilir. Rumah, jalan, dan jembatan terkena hantaman langsung.

Penyintas berusia 24 tahun, Bibek Kumal, mengatakan kepada Reuters bahwa setelah terseret arus, ia berhasil bertahan hidup dengan memeluk erat sebuah pohon mangga. Ia bahkan menyaksikan langsung rumah tempatnya bekerja tersapu banjir.

Bencana ini telah menyebabkan sedikitnya lebih dari 160 orang tewas dan lebih dari 900 orang hilang. Wisatawan yang masih dinyatakan hilang antara lain warga India, Nepal, Amerika Serikat, Inggris, Korea Selatan, Malaysia, Afrika Selatan, Australia, Ukraina, dan Belanda, serta sejumlah negara lainnya.

Menurut kantor berita resmi Tiongkok, Xinhua, hingga pukul 08.00 pada 27 Agustus, tercatat 3 orang tewas dan 558 orang hilang di Tibet, termasuk 260 warga negara asing. Peningkatan jumlah orang yang dinyatakan hilang disebut terjadi setelah komunikasi pulih dan cakupan pemeriksaan diperluas.

Sementara itu, di wilayah Nepal, bencana yang sama telah menyebabkan 157 orang tewas dan 403 wisatawan dinyatakan hilang.

Diperkirakan jumlah korban tewas dan hilang masih akan terus bertambah. (***)

Menyaksikan Banjir Menelan Rumah, Kisah Pria Nepal Tersangkut di Pohon Mangga dan Beruntung Diselamatkan

EtIndonesia.com  New Tang Dynasty (NTD) melaporkan bahwa padai 26 Agustus pagi, wilayah perbatasan Nepal–Tibet dilanda banjir dan longsor lumpur yang menyebabkan banyak korban tewas, terluka, dan hilang.

Saat kejadian, seorang pria Nepal sedang bekerja ketika tiba-tiba terseret banjir. Dalam situasi yang sangat berbahaya, ia berhasil tersangkut di sebuah pohon mangga, sehingga lolos dari maut.

Menurut laporan resmi pemerintah Nepal pada 27 Agustus, jumlah korban meninggal akibat banjir telah meningkat menjadi 165 orang, sementara 826 orang lainnya masih hilang. Sementara itu, pemerintah Tiongkok melaporkan bahwa bencana tersebut telah menyebabkan 3 orang meninggal dan 558 orang kehilangan kontak.

Menurut laporan Reuters pada 26 Agustus, seorang pekerja Nepal berusia 24 tahun bernama Bibek Kumal berada di kota hilir Bidur, dekat perbatasan Nepal–Tibet, ketika bencana terjadi. Ia sedang menggali lubang untuk toilet di luar sebuah rumah yang baru dibangun.

Tanpa diduga, air banjir bercampur lumpur dan batu-batu besar tiba-tiba datang menerjang dari arah hulu, menyeret Kumal dan segala sesuatu di sekitarnya.

Kumal mengatakan bahwa ia tiba-tiba mendengar suara gemuruh. Empat rekan kerjanya yang berada di atas lubang sedalam sekitar 1,5 meter berteriak agar ia segera keluar dan menyelamatkan diri. Ketika ia berusaha memanjat keluar, keempat rekannya sudah melarikan diri.

Kumal mengenang bahwa ia mulai berlari ke depan. Tak lama kemudian, dinding air seperti gempa bumi datang menerjang dengan suara gemuruh. Arus deras yang membawa lumpur dan puing-puing menyeretnya ke arah hilir.

“Untungnya, saya tersangkut di sebuah pohon mangga. Kalau tidak ada pohon mangga itu, saya pasti sudah terseret dan tenggelam sampai mati,” katanya.

Kumal mengatakan bahwa ia berpegangan erat pada pohon mangga sambil menunggu pertolongan di tengah banjir. Dari sana, ia bahkan menyaksikan dengan mata kepala sendiri rumah yang baru saja dikerjakannya ditelan banjir.

Tak lama kemudian, polisi tiba dan menyelamatkan Kumal. Namun, kaki kanannya sebelumnya telah dihantam arus banjir dan kemudian terkena batu besar sehingga mengalami cedera. Saat ini ia masih menjalani perawatan di rumah sakit setempat.

Ia mengatakan rumah keluarganya yang berada di lokasi lain beruntung tidak terkena dampak dan tidak mengalami kerusakan.

Tiga orang lainnya yang terluka dalam banjir juga dirawat bersama Kumal. Sementara itu, lebih banyak korban luka telah dibawa ke ibu kota Kathmandu untuk mendapatkan perawatan.

Di tempat tidur rumah sakit yang berseberangan dengan Kumal, seorang gadis berusia 11 tahun bernama Rihana Lamichhane juga berhasil lolos dari maut.

Ia mengatakan sekolahnya diliburkan akibat bencana. Ketika sedang menyeberangi sungai dalam perjalanan pulang, banjir bandang tiba-tiba terjadi, menyebabkan cedera pada bagian dada dan kakinya.

Sementara itu, Kalpana Malla, seorang penyintas dari Distrik Nuwakot, Nepal, mengatakan kepada BBC:

“Keluarga saya terseret banjir tepat di depan mata saya… Mereka sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri. Banjir ini membawa semuanya pergi. Saya dan anak saya baru bisa bertahan hidup setelah memanjat ke atas atap rumah.”

Banjir Bandang Mematikan di Tibet dan Nepal, Lebih dari 1.000 Orang Hilang, Termasuk Wisatawan dari 28 Negara

EtIndonesia.com New Tang Dynasty (NTD) melaporkan bahwa pada 26 Agustus terjadi banjir bandang dan longsor lumpur dahsyat di wilayah Nepal utara yang berbatasan dengan Tibet. Berdasarkan data terbaru, bencana ini telah menyebabkan lebih dari 1.000 orang dari kedua negara, Tiongkok dan Nepal, kehilangan kontak.

Di sisi Kabupaten Gyirong, Tibet, sedikitnya 558 orang dilaporkan hilang kontak, sementara di sisi Nepal ratusan wisatawan juga belum diketahui keberadaannya. Para wisatawan tersebut berasal dari 28 negara, termasuk Inggris, Amerika Serikat, dan India.

Banjir diduga dipicu longsoran salju

Bencana terjadi pada 26 Agustus pagi.

Pemerintah Nepal mengatakan mereka menduga longsoran salju di sisi lain perbatasan Tibet telah menyumbat sebuah sungai. Setelah itu, air sungai berhasil menerobos sumbatan tersebut dan mengalir deras menuruni lembah.

Banjir kemudian menghancurkan seluruh desa, jalan, jembatan, serta pembangkit listrik yang berada di sepanjang jalurnya.

Video yang beredar di media sosial menunjukkan bahwa Pos Perbatasan Gyirong di sisi Kabupaten Gyirong, Kota Shigatse, Tibet, Tiongkok, telah diterjang dan ditenggelamkan oleh banjir.

Lebih dari 1.000 orang hilang

Hingga pagi 27 Agustus, media resmi Tiongkok menyebut bahwa disisi Kabupaten Gyirong, Tibet, terdapat 558 orang yang kehilangan kontak, termasuk 260 warga negara asing.

Sementara itu, pemerintah Nepal menyatakan 579 wisatawan hilang, dengan 466 di antaranya merupakan warga negara asing.

Wisatawan yang telah dikonfirmasi hilang berasal dari 28 negara, termasuk:

  • Amerika Serikat
  • India
  • Malaysia
  • Inggris
  • serta sejumlah negara lainnya.

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan juga mengkonfirmasi bahwa sejumlah warga negaranya hilang di Nepal.

BBC memperoleh informasi dari Kementerian Luar Negeri Ukraina bahwa lebih dari 50 warga negara Ukraina juga dilaporkan hilang di kawasan perbatasan Nepal–Tibet. (***)

Pemerintah Memblokir Video Lumpur Bandang yang Menelan Gedung Pos Perbatasan Tibet-Nepal ; Netizen Menyindir : “Takut Apa?”

EtIndonesia.com Pada 26 Agustus 2026, terjadi longsor lumpur di perbatasan Tiongkok–Nepal. Gedung pemeriksaan bersama di Pos Perbatasan Gyirong, Kabupaten Gyirong, Kota Shigatse, Tibet, yang dikelola oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT), seketika diterjang banjir. Banyak orang di lokasi tidak sempat menyelamatkan diri dan tersapu lumpur bersama sejumlah kendaraan. Setelah bencana terjadi, otoritas PKT segera memblokir informasi terkait di internet domestik.

Video yang beredar di internet menunjukkan area parkir di sekitar gedung pos pemeriksaan dipenuhi kendaraan. Ketika gelombang lumpur tiba-tiba menerjang, gedung utama pos perbatasan serta bangunan-bangunan di sekitarnya langsung dihancurkan. Banyak orang berusaha melarikan diri, tetapi dalam sekejap tertutup air bercampur lumpur.

Sejumlah warganet berkomentar:

“Energi hantamannya benar-benar seperti menghancurkan langit dan bumi. Bahkan tembok beton bertulang pun tidak akan berguna.”

“Daya hantamnya seperti kiamat.”

“Terlalu tragis!”

“Sangat mengerikan. Manusia terlihat begitu kecil di tengah bencana seperti ini, benar-benar tidak berdaya.”

Seorang warganet juga menulis bahwa video tersebut sudah tidak dapat dipublikasikan. Ia mengatakan bahwa berdasarkan video dan rekaman orang-orang yang terlihat berlari menyelamatkan diri di jalan, mereka kemungkinan semuanya tersapu banjir lumpur.

 Ia juga memperkirakan terdapat banyak korban, dengan menyebut bahwa satu bus dapat mengangkut sekitar 40 orang dan dalam video terlihat sekitar 10 bus.

Menurut laporan warganet dari daratan Tiongkok, video-video terkait telah diblokir di berbagai platform media sosial utama seperti WeChat, Douyin, Xiaohongshu, Zhihu, dan Weibo. Foto-foto yang berkaitan dengan bencana tersebut juga disebut telah dihapus.

Banyak warganet mempertanyakan tindakan tersebut:

“Saya benar-benar tidak mengerti. Apa gunanya melarang video seperti ini?”

“WeChat lebih keterlaluan. Bahkan video di lembah yang tidak ada orangnya juga diblokir.”

“Ini jelas bencana yang terjadi di dalam negeri. Apa yang perlu ditutup-tutupi?”

“Seluruh internet menghapus video. Benar-benar tidak masuk akal.”

“Ini bencana alam, bukan kecelakaan akibat ulah manusia. Mengapa videonya harus dihapus?”

“Cepat sekali dihapus. Mengapa ini tidak boleh dilihat? Melanggar aturan apa?”

“Yang dihapus hanya video dari dalam Tiongkok, sementara video dari wilayah Nepal tidak dihapus.”

Warganet lainnya menyindir:“Videonya hilang, apakah karena takut orang menghitung jumlah korban?”

Ada pula yang bertanya:“Mengapa video bencana pun tidak boleh dilihat? Apakah supaya orang-orang yang bosan justru membuat rumor? Bahkan satu video pun tidak berani dipublikasikan. Aneh.”

Yang lain menyindir singkat:“Takut apa?”

Di Weibo, seorang pengguna yang membagikan informasi terkait bencana beserta foto disebut mendapat sanksi. Unggahannya kemudian hanya dapat dilihat oleh dirinya sendiri.

Seorang pengguna lain mengatakan bahwa karena video tidak dapat dipublikasikan, ia mencoba membagikan foto sebagai gantinya. Namun, foto tersebut juga segera dihapus.

Ada warganet yang menyindir:“Videonya hilang lebih cepat daripada orangnya.”

Menurut pemeriksaan reporter New Tang Dynasty, saat ini internet di daratan Tiongkok hanya mengizinkan penyebaran ulang video yang berasal dari CCTV milik pemerintahan partai komunis Tiongkok.

Menurut informasi resmi pemerintah Tiongkok, Pos Perbatasan Gyirong merupakan salah satu pelabuhan darat terbesar di Tibet yang dibuka sepanjang tahun. Pos ini menjadi jalur penting bagi perdagangan serta lalu lintas orang antara Tiongkok dan Nepal. Volume perdagangannya disebut menempati posisi teratas di antara seluruh pos perbatasan Tibet dan menjadi titik penting dalam jalur darat Inisiatif Sabuk dan Jalan menuju Asia Selatan.

Di sekitar pos perbatasan tersebut saat ini terdapat banyak proyek pembangunan, dengan banyak pekerja serta personel penjaga perbatasan, termasuk pasukan perbatasan PKT.

Menurut media resmi PKT, hingga pukul 20.00 pada 26 Agustus, berdasarkan verifikasi awal, bencana tersebut telah menyebabkan 3 orang meninggal dunia dan 265 orang masih hilang.

Sejumlah analis mengatakan bencana tersebut datang secara tiba-tiba tanpa peringatan. Berdasarkan video dari lokasi, tampaknya orang-orang di sana hampir tidak memiliki waktu untuk menerima peringatan dan melarikan diri. Karena itu, jumlah korban dikhawatirkan dapat mencapai angka yang sangat menyedihkan.

Laporan reporter Li Li, dirangkum dan dilaporkan/Editor: Lin Qing

Pemerintahan Trump Perketat Kebijakan Imigrasi, Wawancara Visa Imigran di Seluruh Dunia Dihentikan

EtIndonesia.com  Pemerintahan Donald Trump terus memperketat kebijakan imigrasi. Kini muncul penyesuaian baru. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengumumkan bahwa wawancara visa imigran di berbagai negara di seluruh dunia akan dihentikan sementara atau dijadwalkan ulang, karena para pejabat konsuler harus mengikuti pelatihan baru mengenai pemeriksaan visa. Pemohon yang sebelumnya sudah memiliki jadwal wawancara juga mulai menerima pemberitahuan penundaan.

Departemen Luar Negeri AS baru-baru ini menyatakan bahwa program pelatihan telah dimulai di berbagai kedutaan dan konsulat AS di seluruh dunia. Para pejabat konsuler akan mendapatkan pelatihan pemeriksaan visa yang lebih mendalam.

Sederhananya, pemeriksaan terhadap pemohon akan dilakukan dengan lebih ketat untuk memastikan bahwa setelah datang ke AS, mereka tidak terlalu bergantung pada tunjangan pemerintah dan menjadi apa yang disebut sebagai “beban publik” (public charge).

Pengacara dari California Selatan, Liu Longzhu, mengatakan: “Yang datang semuanya malah menjadi beban, bukan? Banyak anak yang merawat orang tua, tetapi orang tua masih bisa menerima uang dari pemerintah AS. Orang tua menikmati fasilitas Amerika, anak-anak juga menikmati fasilitas Amerika, tetapi uang yang digunakan adalah uang orang lain. Bukankah begitu?”

Tokoh media senior Fang Wei menjelaskan bahwa jika keberadaan seorang warga asing di AS dianggap merugikan kepentingan Amerika, pemerintah dapat menolak masuknya orang tersebut.

Menurutnya, istilah “merugikan kepentingan Amerika” pada dasarnya dapat diterjemahkan menjadi persoalan “beban publik”. Jika seseorang datang ke AS tetapi tidak mampu menghidupi dirinya sendiri, sementara pihak yang mensponsori kedatangannya juga tidak mampu memberikan dukungan finansial, orang tersebut kemungkinan akan bergantung pada bantuan sosial dan akhirnya dianggap merugikan kepentingan AS.

Jadwal wawancara yang sudah ada juga terdampak

Penyesuaian ini secara langsung berdampak pada pemohon yang sebelumnya sudah mendapatkan jadwal wawancara.

Menurut laporan, sebagian pemohon telah menerima pemberitahuan dari kedutaan atau konsulat bahwa wawancara visa imigran mereka dibatalkan atau ditunda. Jadwal baru akan diberikan kemudian, sementara Departemen Luar Negeri AS belum menjelaskan berapa lama penyesuaian ini akan berlangsung.

Lalu, siapa saja yang paling terdampak oleh penghentian sementara wawancara visa imigran di seluruh dunia ini?

Menurut analisis, salah satu kelompok utama adalah imigran berbasis keluarga dan imigran melalui program lotere visa.

Fang Wei mengatakan: “Jadi, yang pada dasarnya terkena dampak kali ini adalah imigrasi berbasis keluarga ditambah imigrasi melalui lotere. Imigrasi berbasis keluarga mencapai 65%, sedangkan lotere 6%. Artinya sekitar 71% dari jumlah imigran menjadi bagian dari penghentian sementara global yang diberlakukan Trump kali ini.”

Ia menekankan bahwa kebijakan tersebut bukan larangan permanen, melainkan penghentian sementara proses visa imigran. Tujuannya adalah memperlambat arus imigran legal ke AS, khususnya imigran berbasis keluarga dan imigran melalui lotere.

Pada saat yang sama, kebijakan tersebut juga dimaksudkan untuk mengirimkan pesan kepada orang-orang di seluruh dunia yang ingin berimigrasi ke AS bahwa orang yang miskin, tidak memiliki cukup uang, atau tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan akan menghadapi hambatan lebih besar.

Menurut Fang Wei, hal ini memiliki makna yang serupa dengan kebijakan pembatasan terhadap 75 negara.

Kebijakan imigrasi Trump menghadapi tantangan hukum

Sebelum penyesuaian terhadap wawancara visa imigran secara global ini diumumkan, kebijakan imigrasi pemerintahan Trump juga menghadapi tantangan hukum.

Pekan lalu, pengadilan federal AS memblokir salah satu kebijakan yang diluncurkan pemerintahan Trump pada Januari tahun ini.

Pada 21 Agustus, seorang hakim memutuskan bahwa kebijakan menangguhkan permohonan visa imigran dari 75 negara telah melampaui kewenangan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Hakim juga memerintahkan agar keputusan penolakan visa yang dibuat berdasarkan kebijakan tersebut dibatalkan.

Namun, putusan itu hanya berkaitan dengan visa imigran dan tidak mencakup visa non-imigran, seperti visa turis dan visa pelajar.

Laporan: Yi Xin dan Qiu Yue, NTD Television

Berapa Sebenarnya Korban Tewas Akibat Banjir Bandang di Perlintasan Gyirong Tibet? Lebih dari 10 Bangunan di Lokasi Diduga Hancur Total

EtIndonesia.com Banjir lumpur dan tanah longsor dahsyat melanda perbatasan Tibet–Nepal dan menghancurkan Pelabuhan Perlintasan Gyirong (Jilong) di Tibet. Pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT) hanya sekali mengumumkan data korban, dengan perkiraan awal 3 orang tewas dan 265 orang dinyatakan hilang. Video yang beredar di internet menunjukkan seluruh area perlintasan tersebut ditelan material longsor.

Sekitar pukul 11.00 waktu setempat pada 26 Agustus, tanah longsor terjadi di sekitar Pelabuhan Gyirong, Kabupaten Gyirong, Kota Shigatse, Tibet.

Video yang beredar menunjukkan gedung-gedung dan tempat parkir di pelabuhan tersebut dalam sekejap ditelan gelombang lumpur dan air yang diperkirakan mencapai puluhan meter. Seluruh kompleks perlintasan tampak dihantam dan tersapu material longsor, sehingga diperkirakan hampir tidak ada yang tersisa setelah bencana.

Menurut perkiraan visual dari video, lebih dari 100 orang terlihat berusaha melarikan diri, tetapi diduga banyak yang akhirnya tertimbun material longsor.

Jumlah korban diperkirakan dapat sangat besar karena di lokasi tersebut terdapat pegawai pelabuhan dan keluarga mereka, sopir truk yang sedang menunggu pemeriksaan, serta wisatawan.

Foto lama Pelabuhan Gyirong. (Gambar dari internet)
Foto lama Pelabuhan Gyirong dan arah dampak tanah longsor lumpur tahun ini. (Gambar dari internet)

Lokasi pelabuhan sangat sempit dan dikelilingi pegunungan

Foto-foto sebelum bencana menunjukkan bahwa Pelabuhan Gyirong berada di lembah sempit, di sekitar pertemuan Sungai Gyirong Tsangpo (Gyirong Tsangpo) dan Sungai Donglin Tsangpo (Lhende Khola). Kawasan tersebut dikelilingi pegunungan tinggi dan aliran sungai.

Dengan kondisi geografis seperti itu, ketika longsoran lumpur dalam skala besar menerjang, ruang untuk melarikan diri sangat terbatas.

Foto-foto lama menunjukkan bahwa meskipun area pelabuhan relatif sempit, telah dibangun sekitar 10 gedung, termasuk gedung perkantoran serta bangunan yang diduga merupakan asrama pegawai pelabuhan dan personel yang ditempatkan di sana. Pembangunan gedung-gedung baru juga masih berlangsung.

Bukan sekadar pos perbatasan, tetapi kawasan permukiman

Video yang dibuat oleh seorang blogger perjalanan dari daratan Tiongkok menunjukkan bahwa bagian dalam pelabuhan telah berkembang menjadi semacam kawasan kehidupan sehari-hari, dengan supermarket dan berbagai toko.

Hal ini menunjukkan bahwa cukup banyak orang tinggal di kawasan tersebut secara permanen. Video juga memperlihatkan banyak orang mengantri di pos pemeriksaan untuk melewati perbatasan.

Ketika tanah longsor terjadi, rekaman kamera pengawas menunjukkan puluhan truk besar sedang menunggu pemeriksaan di jalan depan pelabuhan.

Di area parkir juga terdapat lebih dari 10 bus wisata dan sejumlah kendaraan pribadi, yang diduga membawa wisatawan menuju Nepal.

Tampilan bagian dalam pos pemeriksaan masuk yang direkam oleh seorang blogger perjalanan. (Tangkapan layar video)
Tampilan bagian dalam pos pemeriksaan masuk yang direkam oleh seorang blogger perjalanan. (Tangkapan layar video)
Tampilan bagian dalam pos pemeriksaan masuk yang direkam oleh seorang blogger perjalanan. (Tangkapan layar video)

Berapa sebenarnya jumlah korban?

Hingga laporan ini dibuat, pemerintah Tiongkok hanya mengumumkan satu kali data mengenai korban di sisi Tibet, yakni 3 orang tewas dan 265 orang hilang.

Namun, laporan NTD mempertanyakan angka tersebut. Besarnya kompleks pelabuhan, banyaknya bangunan, jumlah pegawai dan penghuni, serta banyaknya kendaraan yang sedang menunggu saat bencana terjadi menimbulkan dugaan bahwa jumlah korban sebenarnya dapat jauh lebih tinggi.

Setelah bencana, CCTV milik pemerintah Tiongkok menayangkan apa yang disebut sebagai rekaman udara kondisi pascabencana di Pelabuhan Gyirong. Namun, menurut laporan ini, kamera tidak benar-benar memperlihatkan lokasi utama pelabuhan dan hanya berputar di sekitar kawasan bencana.

Pada saat yang sama, sejumlah video mengenai bencana tersebut dilaporkan dihapus dari media sosial Tiongkok. NTD menilai hal itu menimbulkan dugaan adanya upaya untuk membatasi informasi mengenai jumlah korban.

Pelabuhan penting bagi perdagangan Tiongkok–Nepal

Pelabuhan Gyirong merupakan salah satu pusat perdagangan antara Tiongkok dan Nepal. Pemerintah Tiongkok menjadikan perlintasan tersebut sebagai salah satu titik penting dalam proyek “Belt and Road Initiative” (BRI).

Pada 2024, arus barang melalui pelabuhan tersebut disebut mencapai hampir sepertiga dari total perdagangan Tiongkok–Nepal.

Pemerintah Tiongkok juga telah membangun berbagai infrastruktur penting di kawasan tersebut, termasuk kawasan kerja sama ekonomi, dengan tujuan mengubah perlintasan itu menjadi pusat logistik modern.

Sejak 2017, wisatawan individu juga sudah dapat menggunakan pelabuhan tersebut untuk melintasi perbatasan.

Lumpur kemudian menerjang Nepal hingga India

Setelah menghancurkan Pelabuhan Gyirong, material longsor kemudian bergerak ke arah selatan mengikuti Sungai Donglin Tsangpo, menyebabkan banjir besar di wilayah Nepal.

Aliran tersebut kemudian terus bergerak ke selatan hingga berdampak ke wilayah India.

Pemerintah Nepal terus memperbarui data korban. Hingga saat laporan ini ditulis, jumlah korban tewas dan hilang yang telah diumumkan telah mencapai lebih dari 700 orang, dan angka tersebut diperkirakan masih akan terus meningkat seiring berlangsungnya operasi pencarian dan penyelamatan. (***)

【UPDATE】Banjir Bandang dan Longsor di Nepal-Tibet : 180 Orang Tewas, 1.384 Hilang

EtIndonesia.com Pada 26 Agustus 2026, banjir bandang dan tanah longsor melanda wilayah perbatasan Nepal–Tibet. Video yang beredar di internet memperlihatkan derasnya banjir yang menghancurkan desa, jembatan, jalan, serta berbagai infrastruktur.

Menurut laporan terbaru, jumlah korban tewas di Nepal terus bertambah. Polisi Nepal menyebut 177 orang telah ditemukan tewas, sementara 826 orang masih hilang. Selain itu, 644 wisatawan juga masih belum diketahui keberadaannya. Di sisi lain, media Tiongkok melaporkan bahwa di wilayah Tibet terdapat 3 orang tewas dan 558 orang hilang.

Polisi Nepal: Korban tewas meningkat menjadi 177 orang

Menurut keterangan terbaru Kepolisian Nepal, sebanyak 177 jenazah telah ditemukan dari wilayah yang dilanda banjir dan tanah longsor. Sebanyak 33 orang sedang menjalani perawatan, sementara 3.318 personel kepolisian telah dikerahkan untuk operasi penyelamatan.

Dewan Pariwisata Nepal mengatakan 644 wisatawan masih hilang. Di antaranya sekitar:

  • 178 warga India
  • 127 warga Nepal
  • 53 warga Ukraina
  • 51 warga Malaysia
  • 65 warga Amerika Serikat
  • 35 warga Australia
  • 33 warga Inggris

Gajah Membantu Menyelamatkan Manusia dari Banjir

Sebuah video yang dibagikan pengguna di platform X memperlihatkan seekor gajah membantu menyelamatkan seseorang di tengah banjir di Nepal.

Badan Manajemen Risiko Bencana Nepal: 165 jenazah ditemukan

Pada 27 Agustus 2026, banjir bandang melanda kawasan Devighat di Kotamadya Bidur, Distrik Nuwakot, Nepal, dan menenggelamkan rumah-rumah dalam endapan lumpur. (Prabin RANABHAT / AFP via Getty Images/ NTDTV.com




Pada 27 Agustus 2026, banjir bandang melanda kawasan Devighat di Kotamadya Bidur, Distrik Nuwakot, Nepal, dan menenggelamkan rumah-rumah dalam endapan lumpur. (Prabin RANABHAT / AFP via Getty Images/NTDTV.com
Pada 27 Agustus 2026, banjir bandang melanda kawasan Devighat di Kotamadya Bidur, Distrik Nuwakot, Nepal, dan menenggelamkan rumah-rumah dalam endapan lumpur. (Prabin RANABHAT / AFP via Getty Images/NDTV.com
Pada 27 Agustus 2026, banjir bandang melanda kota Devighat di Kotamadya Bidur, Distrik Nuwakot, Nepal; warga setempat menyaksikan sebuah helikopter terbang di atas mereka. (Prabin RANABHAT / AFP via Getty Images/NTDTV.com

Menurut BBC, Badan Nasional Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Nepal (NDRRMA) mengatakan telah menemukan 165 jenazah dari wilayah yang terdampak banjir. Proses identifikasi korban masih berlangsung.

Beberapa jam sebelumnya, polisi Nepal menyebut jumlah korban tewas mencapai 162 orang.

USGS: Tidak terjadi gempa bumi

Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyatakan bahwa bencana tersebut bukan disebabkan oleh gempa bumi.

Setelah menganalisis lebih lanjut data dari stasiun pemantauan gempa, gelombang seismik berperiode panjang, serta citra satelit, USGS menyimpulkan bahwa peristiwa tersebut sebenarnya berkaitan dengan runtuhan gletser dan tanah longsor, bukan gempa.

Para ilmuwan masih menyelidiki secara tepat urutan kejadian yang menyebabkan bencana tersebut.

Amerika Serikat memberikan bantuan US$500 ribu

Amerika Serikat berkomitmen memberikan US$ 500.000 (Rp8,86 miliar)  untuk membantu masyarakat yang terdampak banjir, termasuk penyediaan tempat penampungan darurat, air minum, fasilitas sanitasi, dan kebutuhan bantuan lainnya.

Departemen Luar Negeri AS menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serta masyarakat Nepal yang terdampak.

Dilaporkan, sedikitnya 54 warga Amerika Serikat hilang, sebagian besar merupakan wisatawan.

Korban tewas 165 orang, total orang hilang mencapai 1.384

Media pemerintah Tiongkok pada 27 Agustus melaporkan bahwa tanah longsor di Kabupaten Gyirong, Tibet, telah menyebabkan 3 orang tewas dan 558 orang hilang, termasuk 260 warga negara asing.

Sementara itu, NDRRMA Nepal mengatakan 826 orang masih hilang setelah banjir. Mereka terdiri dari personel keamanan, wisatawan, dan warga biasa.

Jumlah wisatawan yang hilang dilaporkan mencapai lebih dari 529 orang. Sebelumnya Nepal menyebut sekitar 579 wisatawan hilang, termasuk 466 warga negara asing.

Polisi Nepal: Korban tewas mencapai 162 orang

Menurut polisi Nepal, jumlah korban tewas telah mencapai 162 orang. Sebanyak 64 jenazah ditemukan di wilayah hilir Kabupaten Chitwan. Ratusan orang masih belum ditemukan, termasuk 28 polisi.

Chitwan merupakan kawasan wisata terkenal yang populer untuk kegiatan safari dan petualangan di hutan. Seiring naiknya permukaan air, Chitwan dan sejumlah wilayah lainnya dinyatakan berada dalam kondisi siaga tinggi.

Rubio: Kami berdoa bersama rakyat Nepal

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan dukungan kepada masyarakat Nepal yang terdampak banjir besar. Ia mengatakan Departemen Luar Negeri AS siap memberikan bantuan kemanusiaan yang diperlukan kepada pemerintah Nepal.

Menurut data Dewan Pariwisata Nepal yang telah dikonfirmasi polisi, 54 wisatawan Amerika diketahui hilang.

Amerika Serikat juga mengeluarkan peringatan terkait kondisi cuaca di wilayah Nepal yang terdampak.

India mengirim 10 ton bantuan ke Nepal

Seorang pejabat pemerintah India mengatakan bahwa India telah mengirim 10 ton bantuan ke Nepal untuk membantu penanganan keadaan darurat.

Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan masyarakat yang terdampak, serta menyatakan bahwa India berdiri bersama Nepal dalam menghadapi bencana tersebut.

Operasi pencarian dan penyelamatan berlanjut sepanjang malam

Kantor Perdana Menteri Nepal mengatakan operasi pencarian dan penyelamatan oleh militer akan terus dilakukan sepanjang malam.

Sebanyak 1.697 personel telah dikerahkan, sementara 656 lainnya dalam status siaga. Pada hari itu, enam helikopter militer menyelamatkan 94 orang, lima helikopter sipil menyelamatkan 12 orang, dan tim penyelamat di darat menyelamatkan 27 orang.

Sekitar 800 kilogram tenda dan 200 kilogram perlengkapan medis juga telah dikirim ke daerah terdampak.

Apakah gempa menyebabkan longsor? USGS: Justru longsoran menghasilkan getaran

Menurut BBC, laporan awal dari Nepal menyebut kemungkinan gempa memicu runtuhan es dan longsor yang kemudian menyebabkan banjir besar.

Namun, analisis lebih lanjut USGS menunjukkan bahwa energi seismik tersebut kemungkinan justru dihasilkan oleh longsoran itu sendiri.

Hujan atau pencairan gletser dapat membuat tanah maupun lapisan es menjadi tidak stabil. Namun para ilmuwan mengatakan masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa perubahan iklim secara langsung menyebabkan pencairan gletser di kawasan Hindu Kush–Himalaya yang kemudian memicu bencana ini.

Peneliti hidrologi Imperial College, Martha Day, mengatakan bahwa di wilayah Nepal yang curam, bergunung-gunung, dan banyak tertutup gletser, berbagai jenis bencana dapat terjadi secara berantai. Satu bencana dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya bencana lainnya.

Para ilmuwan kini memeriksa citra satelit untuk mengetahui lokasi pasti longsor, kemungkinan adanya danau gletser yang tiba-tiba mengering, titik-titik sungai yang mungkin tersumbat, serta data curah hujan terbaru.

54 Warga AS Hilang

Departemen Luar Negeri AS mengatakan pihaknya mengetahui adanya warga Amerika yang terdampak banjir dan terus memantau perkembangan situasi.

Kedutaan Besar AS di Nepal bekerja sama dengan agen perjalanan dan pemerintah daerah untuk membantu warga Amerika yang berada di wilayah terdampak.

Menurut data Dewan Pariwisata Nepal yang telah dikonfirmasi polisi, 54 wisatawan Amerika masih hilang.

Polisi Nepal: 157 orang tewas

Menurut unggahan Kepolisian Nepal di platform X, banjir dan longsor mendadak tersebut telah menyebabkan sedikitnya 157 orang tewas, sementara sedikitnya 41 orang dirawat di rumah sakit. Ratusan orang lainnya masih belum ditemukan.

579 wisatawan hilang, 466 berasal dari 28 negara

Data terbaru polisi Nepal menunjukkan 579 wisatawan hilang.

Dari jumlah tersebut, 466 merupakan warga negara asing dari 28 negara, termasuk:

  • 54 warga Amerika Serikat
  • 33 warga Inggris

Tiongkok: 3 tewas dan 265 hilang di Tibet

Media pemerintah Tiongkok melaporkan bahwa hingga pukul 20.00 waktu setempat, tanah longsor di Kabupaten Gyirong, Tibet, menyebabkan 3 orang tewas dan 265 orang hilang. Operasi penyelamatan masih berlangsung.

Perdana Menteri Nepal: Terkejut dan berduka

Perdana Menteri Nepal Balendra Shah mengatakan dirinya sangat terpukul oleh banjir bandang yang terjadi secara tiba-tiba.

Ia menyatakan bahwa bencana tersebut datang tanpa diduga dan memiliki skala yang sangat besar. Pemerintah Nepal telah mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia untuk operasi penyelamatan.

Ia juga menyampaikan belasungkawa mendalam kepada para korban dan keluarga mereka.

Jalur banjir dibagikan oleh warganet

Sebuah akun X bernama Weather Monitor membagikan ilustrasi yang menjelaskan jalur banjir di wilayah perbatasan Nepal–Tibet.

Laporan awal menyebut bahwa gempa berkekuatan 4,4 magnitudo di sisi Tibet memicu runtuhan es dalam skala besar, yang kemudian menyebabkan banjir di Sungai Bhote Koshi di Nepal.

Dewan Pariwisata Nepal: 403 orang hilang

Dewan Pariwisata Nepal sebelumnya melaporkan 403 orang masih hilang, terdiri dari:

  • 61 warga Nepal
  • 341 warga asing dari 26 negara

Di antara warga asing tersebut terdapat 133 warga India, 47 warga Amerika, dan 33 warga Inggris.

Menurut informasi dari perusahaan perjalanan, sebagian besar penumpang sedang menuju Danau Manasarovar, yang berada di dekat perbatasan Nepal–India/Tibet dan merupakan tujuan ziarah penting.

Bencana terjadi saat musim ziarah

Nepal merupakan tujuan populer bagi pendaki, wisatawan trekking, serta umat Hindu dan Buddha yang melakukan ziarah. Setiap tahun ribuan orang datang ke berbagai tempat suci di Nepal.

Di sisi Tibet, Gunung Kailash (Gang Rinpoche) juga merupakan tujuan ziarah yang sangat populer. Saat ini merupakan musim ramai perjalanan ziarah. Dari Kathmandu, perjalanan menuju Gunung Kailash dapat memakan waktu sekitar 10 hari.

Ribuan orang melintasi perbatasan Nepal menuju Tibet untuk melakukan ziarah. Pos perbatasan Gyirong merupakan salah satu jalur yang biasa digunakan para peziarah.

Polisi Nepal awalnya melaporkan 95 orang tewas

Menurut laporan AFP dan Reuters, polisi Nepal sebelumnya menyebut jumlah korban tewas akibat banjir mencapai 95 orang, meningkat tajam dari angka sebelumnya, yaitu 31 orang.

Kedutaan negara-negara Eropa dan Australia keluarkan imbauan

Kedutaan Inggris, Australia, Finlandia, Prancis, Norwegia, Swiss, serta delegasi Uni Eropa di Nepal meminta warga mereka untuk mengikuti arahan pemerintah setempat dan informasi keselamatan resmi di wilayah terdampak.

Mereka menyatakan keprihatinan mendalam atas banjir dahsyat yang melanda wilayah Rasuwa, Nuwakot, dan sekitarnya.

Pada 26 Agustus 2026, kawasan Trisuli Bazaar di Distrik Nuwakot, Nepal, dilanda banjir bandang, menyebabkan rumah-rumah di sepanjang tepi sungai sebagian terendam air berlumpur. (Prabin RANABHAT / AFP via Getty Images/NTDTV.com
26 Agustus 2026: Banjir bandang melanda kawasan Trisuli Bazaar di Distrik Nuwakot, Nepal, menyebabkan rumah-rumah di tepi sungai sebagian terendam air berlumpur. (Prabin RANABHAT / AFP via Getty Images/NTDTV.com
26 Agustus 2026: Warga memeriksa rumah-rumah yang sebagian terendam banjir di Trisuli Bazaar, Distrik Nuwakot, Nepal. (Prakash MATHEMA / AFP via Getty Images/NTDTV.com
26 Agustus 2026: Petugas penyelamat menggunakan ekskavator untuk mengevakuasi seseorang yang terdampak banjir bandang di Devghat, Distrik Nuwakot, Nepal. (Prakash MATHEMA / AFP via Getty Images/NTDTV.com

Sebanyak 114 orang telah diselamatkan

Menurut media lokal, polisi Nepal mengatakan 114 orang telah berhasil diselamatkan dari kawasan Sungai Bhote Koshi di Rasuwa.

Militer Nepal menggunakan berbagai penerbangan untuk menyelamatkan lebih dari 80 orang, sementara 29 orang lainnya diselamatkan oleh sejumlah perusahaan helikopter swasta.

Kedutaan AS berupaya mencari warga yang hilang

Kedutaan Besar AS di Nepal mengatakan sedang berusaha menemukan warga AS yang mungkin terdampak bencana.

Pada tahap awal, sedikitnya tiga warga Amerika dilaporkan hilang akibat banjir bandang tersebut.

Kedutaan AS menyebut komunikasi di wilayah Rasuwa yang terdampak masih terputus dan meminta warga Amerika menghindari daerah bencana.

Banjir bandang Nepal: 384 wisatawan hilang

Banjir melanda Rasuwa, wilayah di utara Kathmandu, pada Rabu pagi, 26 Agustus. Pada awalnya dilaporkan bahwa banjir terjadi akibat sejumlah besar salju yang mencair dan mengalir ke Sungai Bhote Koshi.

BBC melaporkan operasi pencarian dan penyelamatan dilakukan di kedua sisi perbatasan Tibet–Nepal. Sebanyak 12 orang telah berhasil diselamatkan.

Dewan Pariwisata Nepal mengatakan hampir 400 wisatawan hilang, termasuk warga negara India, Australia, Belanda, Afrika Selatan, Inggris, dan Malaysia.

Menurut catatan awal dari perusahaan perjalanan, 384 wisatawan hilang, terdiri dari:

  • 291 warga negara asing
  • 93 warga Nepal

Selain itu, 13 personel polisi bersenjata dari dua pos di wilayah Rasuwa dilaporkan hilang, sementara puluhan polisi lainnya tidak dapat dihubungi.

Jalan, jembatan, jaringan komunikasi, dan fasilitas pembangkit listrik tenaga air mengalami kerusakan parah. Jalan utama menuju Kathmandu juga ditutup.

Tiongkok juga mengalami kerugian besar

Media pemerintah Tiongkok melaporkan bahwa sekitar pukul 10.30 pada 26 Agustus, tanah longsor di sisi Nepal menyebabkan korban jiwa dan orang hilang di Pos Perbatasan Gyirong, Kota Shigatse, Tibet.

Pengamatan menggunakan drone menunjukkan beberapa bangunan di pos perbatasan tersebut tertimbun material longsor.

Menurut laporan BBC, Menteri Luar Negeri Nepal Shishir Khanal mengatakan di parlemen bahwa berdasarkan informasi awal, gempa terjadi sekitar pukul 08.37 waktu setempat. Gempa tersebut diduga memicu longsoran salju dan kemudian banjir bandang. Namun, tim penyelamat masih memverifikasi informasi tersebut.

Ia mengatakan Nepal bukan satu-satunya pihak yang mengalami kerugian besar; Tiongkok juga terdampak parah. Nepal sedang berkoordinasi dengan pihak Tiongkok untuk menangani bencana.

Saat itu dilaporkan 26 polisi, 9 polisi bersenjata, dan 44 tentara Nepal hilang. Pejabat bea cukai dan imigrasi juga dilaporkan hilang.

Tahun lalu, wilayah Rasuwa juga mengalami banjir mematikan yang menewaskan 18 orang. Banjir tersebut disebabkan oleh runtuhnya gletser di sisi Tiongkok.

Para pejabat mengatakan bahwa skala bencana kali ini jauh lebih besar dibandingkan banjir tahun lalu.

Dilaporkan dan diterjemahkan oleh Jin Hong / Editor Li Quan

Mengerikan! Gelombang Lumpur Raksasa Sapu Daerah di Tibet–Nepal

EtIndonesia.com Bencana besar melanda kawasan Pegunungan Himalaya di perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu, 26 Agustus 2026. Banjir bandang yang membawa lumpur, bebatuan, dan material longsoran menerjang kawasan perbatasan dengan kekuatan luar biasa, menghancurkan permukiman, jalan, jembatan, serta berbagai fasilitas penting di kedua sisi perbatasan.

Salah satu kawasan yang mengalami kerusakan paling parah adalah Pelabuhan Gyirong atau Jilong, di Kabupaten Gyirong, Kota Shigatse, Daerah Otonom Tibet, Tiongkok. Kawasan ini merupakan salah satu jalur penting yang menghubungkan Tibet dengan Nepal.

Berdasarkan perkembangan terbaru hingga Kamis dini hari, 27 Agustus 2026, jumlah korban meningkat tajam. Pihak berwenang Nepal melaporkan sedikitnya 157 orang meninggal dunia, sedangkan Tiongkok mengonfirmasi tiga korban tewas dan 265 orang hilang di Kabupaten Gyirong. Dengan demikian, sedikitnya 160 orang telah dipastikan meninggal dunia di kedua sisi perbatasan, sementara ratusan lainnya masih belum diketahui keberadaannya.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan laporan awal pada 26 Agustus yang menyebut 17 jenazah telah ditemukan. Data korban terus berubah seiring berlangsungnya operasi pencarian dan semakin terbukanya akses menuju daerah yang sebelumnya terisolasi.

Di Nepal, sedikitnya 403 orang masih dilaporkan hilang, termasuk 341 warga negara asing. Banyak di antara mereka merupakan wisatawan, pendaki, serta peziarah yang sedang melakukan perjalanan di kawasan Himalaya.

Bencana Datang dengan Sangat Cepat

Bencana dilaporkan mulai terjadi pada pagi hari 26 Agustus 2026. Menurut laporan media Tiongkok, sekitar pukul 10.30 waktu Beijing, longsoran besar dari sisi Nepal telah memicu bencana yang kemudian menghantam kawasan Pelabuhan Gyirong.

Penyebab pasti bencana masih terus diselidiki. Laporan awal sempat mengaitkannya dengan gempa bumi dan longsoran yang menyumbat aliran sungai hingga membentuk bendungan alami.

Namun, perkembangan berikutnya menunjukkan para ahli juga mempertimbangkan kemungkinan runtuhan gletser atau longsoran es dan batu dalam skala besar sebagai pemicu utama. Material tersebut diduga jatuh ke sistem sungai di pegunungan, menghasilkan gelombang air, lumpur, dan puing yang kemudian bergerak dengan sangat cepat menuju kawasan di bawahnya.

Besarnya volume material membuat aliran tersebut berubah menjadi banjir bandang yang sangat destruktif.

Rekaman yang beredar dari kawasan perbatasan memperlihatkan bagaimana arus berwarna cokelat pekat menerjang bangunan dan kendaraan dalam hitungan detik. Di kawasan Pelabuhan Gyirong, derasnya aliran lumpur bahkan digambarkan menyerupai gelombang besar yang menyapu hampir semua benda di jalurnya.

Rekaman kamera pengawas yang beredar di media sosial juga memperlihatkan sejumlah bus dan kendaraan berada di kawasan pelabuhan sebelum bencana menerjang. Orang-orang terlihat berusaha meninggalkan lokasi ketika aliran besar mulai mendekat.

Namun, kecepatan datangnya bencana membuat waktu untuk menyelamatkan diri sangat terbatas.

Bangunan, area parkir, kendaraan, serta fasilitas di kawasan perbatasan dilaporkan mengalami kerusakan berat. Besarnya jumlah orang yang berada di lokasi ketika bencana terjadi kemudian menimbulkan kekhawatiran bahwa angka korban masih dapat bertambah.

Gyirong Terisolasi, 265 Orang Hilang

Di wilayah Tibet, situasi tidak kalah serius.

Hingga pukul 20.00 pada 26 Agustus 2026, otoritas Tiongkok mencatat tiga orang meninggal dan 265 orang masih hilang akibat bencana di Kabupaten Gyirong. Jumlah korban masih dalam proses verifikasi.

Tim penyelamat bahkan sempat kesulitan melakukan kontak dengan kawasan Pelabuhan Gyirong.

Pemantauan menggunakan pesawat nirawak menunjukkan jalan menuju kawasan tersebut mengalami kerusakan sangat parah. Lumpur di beberapa titik dilaporkan mencapai kedalaman sekitar 1,5 hingga 2 meter, sehingga alat berat harus membuka kembali akses secara perlahan.

Ancaman belum berakhir.

Hujan masih turun di sekitar lokasi dan kondisi lereng pegunungan dinilai tidak stabil. Petugas memperingatkan adanya risiko longsor susulan, kenaikan permukaan air, dan aliran lumpur berikutnya, sehingga operasi penyelamatan harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

Di sisi Nepal, operasi pencarian juga menghadapi kendala besar. Jalan dan jembatan rusak, sementara tingginya permukaan air dan kondisi medan membuat helikopter tidak selalu dapat mendarat di daerah yang paling membutuhkan bantuan.

Ratusan Wisatawan Belum Ditemukan

Skala internasional bencana ini mulai terlihat setelah otoritas Nepal mengumumkan bahwa ratusan warga asing termasuk di antara mereka yang belum ditemukan.

Kawasan perbatasan Nepal–Tibet merupakan jalur penting bagi wisatawan dan peziarah yang menuju sejumlah destinasi Himalaya, termasuk perjalanan menuju kawasan Gunung Kailash di Tibet.

Karena itu, ketika banjir bandang datang, terdapat banyak kelompok wisatawan yang sedang melakukan perjalanan melalui kawasan tersebut.

Laporan terbaru menyebut warga dari berbagai negara, termasuk India, Amerika Serikat, Inggris, Australia dan Kanada, termasuk di antara orang-orang yang belum diketahui keberadaannya.

Pemerintah Nepal kini mengerahkan pasukan keamanan, tim penyelamat dan helikopter untuk mencari korban serta mengevakuasi penduduk dari kawasan yang masih berisiko terkena banjir susulan.

Xi Jinping Perintahkan Operasi Penyelamatan

Di Tiongkok, Presiden Xi Jinping memerintahkan upaya maksimal untuk menyelamatkan korban, memastikan jumlah orang hilang, serta mencegah jatuhnya korban tambahan.

Perdana Menteri Li Qiang juga mengeluarkan instruksi penanganan darurat. Wakil Perdana Menteri Zhang Guoqing kemudian dikirim bersama pejabat terkait menuju kawasan terdampak untuk mengarahkan operasi penyelamatan.

Besarnya jumlah orang yang hilang dan terputusnya jalur komunikasi membuat gambaran lengkap mengenai kehancuran di Pelabuhan Gyirong belum sepenuhnya diketahui.

Bencana 26 Agustus 2026 ini kini menjadi salah satu bencana alam paling mematikan yang melanda kawasan Himalaya sepanjang tahun ini.

Dengan ratusan orang masih hilang, jalan menuju sejumlah daerah terdampak belum sepenuhnya terbuka, dan risiko longsor susulan masih mengancam, operasi pencarian diperkirakan akan berlangsung dalam kondisi yang sangat sulit.

Untuk saat ini, perhatian utama tim penyelamat adalah berpacu dengan waktu—mencari mereka yang masih mungkin bertahan hidup di tengah lumpur, reruntuhan dan kawasan pegunungan yang terisolasi.

Sementara penyebab pasti bencana masih terus dianalisis, satu hal telah terlihat jelas: dalam hitungan menit, aliran air, lumpur dan bebatuan dari Himalaya mampu mengubah kawasan perbatasan yang ramai menjadi zona bencana besar, meninggalkan korban dalam jumlah sangat besar di Nepal maupun Tibet. (***)

Misteri 4 Jam di Moskow! Kepala CIA Datang Diam-Diam, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

EtIndonesia.com  — Perang Rusia-Ukraina kembali memasuki fase penuh tekanan setelah rangkaian perkembangan militer, ekonomi, dan diplomatik terjadi hampir bersamaan pada 24–26 Agustus 2026. Mulai dari kritik Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy terhadap Tiongkok, pertempuran di Ukraina timur, kebakaran besar di kompleks petrokimia Rusia-Tiongkok, hingga kunjungan langka Direktur CIA John Ratcliffe ke Moskow, semuanya memperlihatkan bahwa konflik kini semakin berkaitan dengan persaingan geopolitik yang lebih luas.

Dalam pidato memperingati Hari Kemerdekaan Ukraina pada 24 Agustus 2026, Zelenskyy mengambil sikap lebih keras terhadap Beijing. Ia mempertanyakan posisi Tiongkok yang selama ini menyebut dirinya sebagai pihak ketiga yang netral dalam perang Rusia-Ukraina. Dalam naskah sumber, Zelenskyy menilai Beijing tidak seharusnya berdiam diri ketika muncul ancaman mengenai kemungkinan penggunaan senjata nuklir dari Rusia.

Kritik tersebut muncul di tengah hubungan Rusia-Tiongkok yang semakin erat. Kyiv dalam beberapa waktu terakhir memang memperkeras pendekatannya terhadap Beijing, terutama karena menilai hubungan ekonomi dan teknologi Tiongkok dengan Rusia turut membantu Moskow mempertahankan kemampuan industrinya selama perang. Analisis independen juga mencatat perubahan sikap Ukraina terhadap Tiongkok seiring semakin dalamnya hubungan Beijing-Moskow.

Pada kesempatan yang sama, Zelenskyy menonjolkan perkembangan industri pertahanan Ukraina. Menurut naskah sumber, fasilitas produksi senjata Ukraina kini beroperasi selama 24 jam, sementara puluhan ribu sistem robot darat tanpa awak telah dikerahkan untuk mendukung pasukan di medan perang. Rudal jelajah Flamingo buatan Ukraina juga disebut memasuki produksi massal.

Logo CIA

Pertempuran Ukraina Timur Tetap Sengit

Situasi di garis depan juga terus berkembang. Di sektor Lyman, Ukraina dalam naskah sumber diklaim berusaha menghindari serangan frontal terhadap posisi Rusia yang kuat dan memilih melakukan manuver memutar untuk mengancam jalur logistik lawan.

Drone Ukraina disebut terus memburu kendaraan pasokan dan kelompok serbu Rusia. Apabila jalur logistik utama berhasil ditempatkan secara konsisten dalam jangkauan serangan Ukraina, kemampuan Rusia mengirim bahan bakar, amunisi, dan mengevakuasi pasukan terluka dapat semakin terganggu.

Pertempuran juga berlangsung di sekitar Kupiansk. Naskah menyebut sejumlah sukarelawan asing, termasuk personel asal Kolombia yang bertempur bersama Ukraina, terlibat dalam operasi di kawasan berhutan dengan dukungan pengintaian drone.

Namun, klaim-klaim taktis mengenai perubahan posisi di Lyman dan Kupiansk tersebut perlu diperlakukan sebagai laporan medan perang yang masih memerlukan verifikasi independen.

Kebakaran Besar Menghantam Proyek Rusia-Tiongkok

Perhatian kemudian beralih jauh ke timur Rusia. Pada 25 Agustus 2026, kebakaran dan ledakan besar terjadi di Amur Gas Chemical Complex (AGCC) dekat Svobodny, Oblast Amur, sekitar 6.000 kilometer dari Ukraina.

Kompleks senilai sekitar 10 miliar dolar AS itu merupakan proyek bersama perusahaan Rusia Sibur dan perusahaan Tiongkok Sinopec. Fasilitas tersebut dirancang menjadi salah satu kompleks produksi polimer terbesar di dunia.

Informasi awal pada 25 Agustus menyebut satu pekerja Tiongkok meninggal dan lebih dari 100 orang mengalami cedera. Namun, perkembangan pada 26 Agustus 2026 menunjukkan jumlah korban ternyata lebih besar: sedikitnya tujuh orang tewas, terdiri atas enam warga Tiongkok dan seorang warga Rusia. Reuters melaporkan sembilan orang masih dinyatakan hilang dan 152 orang terluka.

Pihak pengelola mengatakan kebakaran terjadi pada bagian pendukung unit pirolisis dan menyatakan peralatan utama tidak mengalami kerusakan. Penyebab insiden masih diselidiki, sehingga klaim bahwa ledakan disebabkan akumulasi gas ataupun berkaitan dengan perang belum dapat dipastikan.

Insiden tersebut tetap menjadi pukulan simbolis karena proyek AGCC menggambarkan semakin eratnya kerja sama ekonomi Rusia-Tiongkok ketika Moskow berusaha mengalihkan orientasi perdagangannya ke Asia.

Kepala CIA Diam-Diam Datang ke Moskow

Di tengah seluruh perkembangan tersebut, peristiwa diplomatik yang tidak kalah mengejutkan terjadi pada Selasa, 25 Agustus 2026.

Sebuah pesawat angkut militer C-17 Globemaster III Angkatan Udara Amerika Serikat terdeteksi terbang dari Riga, Latvia, menuju Bandara Internasional Vnukovo di Moskow. Data penerbangan menunjukkan perjalanan pesawat itu sebelumnya berasal dari Joint Base Andrews, Maryland.

Belakangan diketahui bahwa Direktur CIA John Ratcliffe berada di Moskow untuk melakukan pertemuan dengan pejabat Rusia. Kunjungan tersebut sangat tidak biasa dan menjadi perjalanan pertama yang diketahui dilakukan seorang direktur CIA ke Rusia sejak William Burns berkunjung pada 2021.

Pada awalnya, tujuan pertemuan tersebut tidak diumumkan secara terbuka. Namun pada 26 Agustus, Kremlin mengonfirmasi bahwa Ratcliffe mengadakan pembicaraan dengan pejabat intelijen Rusia dan tidak bertemu langsung dengan Presiden Vladimir Putin. Putin disebut tetap mendapat laporan mengenai pembicaraan tersebut.

Presiden AS Donald Trump kemudian menggambarkan kunjungan itu sebagai pertemuan yang bersifat “semi-rutin”. Meski demikian, perjalanan kepala CIA ke ibu kota Rusia ketika perang Ukraina masih berlangsung tetap menunjukkan bahwa Washington dan Moskow mempertahankan jalur komunikasi intelijen tingkat tinggi di balik hubungan resmi yang sangat tegang.

Dengan demikian, rangkaian peristiwa 24 hingga 26 Agustus 2026 memperlihatkan bagaimana perang Ukraina kini bergerak di beberapa lapisan sekaligus. Pertempuran masih berlangsung di garis depan, Ukraina terus meningkatkan kemampuan serangan dan produksi senjatanya, hubungan Rusia-Tiongkok semakin menjadi perhatian Kyiv, sementara Washington dan Moskow diam-diam mempertahankan komunikasi langsung melalui jalur intelijen.

Di tengah kebuntuan perang yang telah berlangsung bertahun-tahun, kunjungan mendadak kepala CIA ke Moskow menjadi bagian yang paling menarik perhatian. Sebab ketika komunikasi resmi tampak membeku, justru percakapan yang berlangsung jauh dari sorotan publik bisa menjadi petunjuk bahwa di balik medan perang, perundingan dan peringatan strategis tetap berjalan. (***)

Kanker Laring Stadium 4 Akibat Asap Rokok, Korban Minta Pemerintah Perketat Kawasan Tanpa Rokok

SURABAYA — Di tengah hiruk-pikuk Kota Surabaya, ada kisah pilu yang tak boleh diabaikan. Ike Wijaya (52), warga Surabaya, harus kehilangan suaranya secara permanen setelah didiagnosis menderita Kanker Laring Stadium 4. Penyebabnya: paparan asap rokok di lingkungan kerjanya selama bertahun-tahun.

Kisah Ike menjadi pengingat getir bahwa asap rokok tidak hanya membahayakan perokok aktif, tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Kini, pita suaranya terpaksa dioperasi dan ia tak lagi bisa berbicara dengan normal.

“Asap rokok membahayakan tidak saja bagi perokok aktif tapi juga masyarakat sekitar seperti saya. Oleh karena itu, saya ingin mengimbau masyarakat dan pemerintah untuk lebih menindak tegas masyarakat yang melanggar perda dengan merokok sembarangan. Serta, tegas mendukung penerapan KTR,” ujar Ike dalam sebuah seminar di Surabaya, Rabu (6/8).

Kesaksian Ike disampaikan dalam Seminar Diseminasi yang digelar oleh Research Group on Tobacco Control (RGTC) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (FKM UNAIR) . Mengusung tema “Evidence to Practice: Penguatan Pengendalian Tembakau untuk Kebijakan Kesehatan Berbasis Bukti” , seminar yang diadakan di Gedung Kuliah Bersama Kampus C UNAIR ini dihadiri 250 peserta dari berbagai elemen masyarakat.

Riset Ungkap Kesenjangan Implementasi KTR

RGTC FKM UNAIR memaparkan sejumlah hasil kajian penting, antara lain:

  • Evaluasi kepatuhan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di 12 kabupaten/kota Jawa Timur
  • Riset iklan, promosi, sponsorship, dan penjualan produk tembakau
  • Pengukuran kualitas udara sebagai indikator kepatuhan KTR
  • Kajian beban penyakit akibat konsumsi tembakau

Ketua RGTC, Prof. Santi Martini, dr., M.Kes, menyampaikan bahwa rangkaian temuan riset menunjukkan pengendalian tembakau memerlukan pendekatan yang terintegrasi, mulai dari penguatan implementasi KTR, pengawasan kualitas udara, pengendalian iklan dan promosi, pembatasan akses anak terhadap produk rokok, hingga kebijakan harga dan cukai.

“Bukti yang dihasilkan dari tingkat lokal dan regional menjadi penting sebagai dasar bagi pemerintah daerah dalam mengevaluasi efektivitas kebijakan, mengidentifikasi kesenjangan implementasi, serta merumuskan intervensi yang lebih tepat sasaran,” ucap Prof. Santi.

Menurutnya, hasil penelitian tidak boleh berhenti pada tahap diseminasi, tetapi harus diterjemahkan menjadi penguatan kebijakan, sistem pengawasan, dan mekanisme penegakan yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Perlindungan Generasi Muda

Seminar ini mendorong penguatan kolaborasi antara akademisi, pemerintah, institusi pendidikan, fasilitas kesehatan, dan penanggung jawab KTR di tujuh sarana serta seluruh lapisan masyarakat dalam mendukung penurunan prevalensi merokok.

Perwakilan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya menegaskan bahwa Pemerintah Kota Surabaya telah melakukan berbagai upaya pengendalian tembakau, termasuk sosialisasi kepada generasi muda. Seluruh puskesmas di Surabaya juga menyediakan layanan Upaya Berhenti Merokok (UBM) dan konseling. Upaya tersebut juga diarahkan melalui konsep Smart City dengan indikator kampung bebas asap rokok, sejalan dengan visi Surabaya sebagai kota layak anak dan kota masyarakat paripurna.

Sementara itu, BNN Kota Surabaya menyoroti perlunya pencegahan sejak fase awal seseorang mulai menggunakan produk tembakau atau nikotin. Beberapa produk vape saat ini terbukti mengandung zat adiktif jenis narkotika, sehingga menjadi perhatian BNN untuk melakukan upaya pencegahan pada fase awal seseorang memulai merokok.

“Pembahasan ini menjadi semakin relevan dalam konteks perlindungan generasi muda dari risiko adiksi nikotin dan penggunaan produk rokok elektronik,” tandas perwakilan BNN.

Komitmen Bersama untuk Surabaya Bebas Asap Rokok

Di akhir kegiatan, dilaksanakan penandatanganan dukungan terhadap Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Surabaya sebagai bentuk komitmen bersama untuk memperkuat implementasi kebijakan dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat.

Seminar yang dihadiri oleh perwakilan OPD Jawa Timur dan Kota Surabaya, unsur POLRI dan TNI, organisasi masyarakat, komunitas, sekolah (guru dan siswa), hingga kader dan Bunda PAUD ini menjadi bukti bahwa pengendalian tembakau adalah tanggung jawab bersama.

Melalui semangat “Evidence to Practice” , Prof. Santi berharap hasil penelitian dapat menjadi pijakan bagi penguatan kebijakan pengendalian tembakau yang berbasis bukti serta mendukung upaya perlindungan masyarakat, khususnya anak dan generasi muda, di Kota Surabaya.

Kisah Ike Wijaya adalah satu dari jutaan korban asap rokok. Namun, dengan kebijakan berbasis bukti dan kolaborasi lintas sektor, harapan untuk menciptakan lingkungan bebas asap rokok—dan melindungi generasi mendatang dari nasib serupa—bukanlah mimpi di siang bolong.

Iran Mendadak Siaga Tinggi! Selat Hormuz Terancam Ditutup, Misteri Mojtaba Guncang Teheran

EtIndonesia.com Ketegangan di sekitar Selat Hormuz kembali memasuki fase penuh ketidakpastian. Setelah pada 25 Agustus 2026 muncul kabar bahwa pembicaraan Iran dan Oman mengenai pengaturan Selat Hormuz pada dasarnya telah mencapai tahap akhir, perkembangan terbaru pada 26 Agustus 2026 justru menunjukkan bahwa kesepakatan tersebut masih menghadapi hambatan serius.

Pernyataan terbaru dari pihak Iran mengindikasikan bahwa Teheran belum bersedia membuka kembali jalur strategis tersebut tanpa adanya konsesi dari Amerika Serikat.

Seorang juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka apabila Washington menolak persyaratan yang diajukan Teheran.

Menurut pernyataan tersebut, Iran mengklaim masih memegang kendali atas kawasan selat dan menyebut kapal-kapal perang yang dianggap sebagai kekuatan musuh telah mundur hingga sedikitnya 400 kilometer dari kawasan tersebut.

Iran menyatakan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz hanya dapat dilakukan apabila Amerika Serikat berhenti menghalangi proses yang sedang berlangsung dan kembali mengikuti nota kesepahaman serta kerangka yang sebelumnya telah dibicarakan.

Pernyataan tersebut memperlihatkan betapa rapuhnya proses negosiasi yang sedang berlangsung. Oman selama ini memainkan peran penting sebagai mediator antara Washington dan Teheran. Namun, apabila masing-masing pihak tetap mempertahankan persyaratan yang sulit dipertemukan, setiap kemajuan diplomatik dapat berubah dengan cepat.

Selat Hormuz sendiri mempunyai arti strategis yang sangat besar karena menjadi salah satu jalur utama perdagangan energi dunia. Karena itu, setiap gangguan keamanan maupun ancaman penutupan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pasar energi dan meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran internasional.

Di tengah ketegangan tersebut, Iran juga diguncang kabar mengenai kondisi Mojtaba Khamenei, putra Ali Khamenei yang selama bertahun-tahun dipandang sebagai salah satu figur berpengaruh di lingkaran kekuasaan Iran.

Sejumlah laporan yang beredar pada 26 Agustus 2026 mengklaim Mojtaba telah meninggal dunia atau berada dalam kondisi neurologis yang sangat kritis. Laporan lain bahkan menggunakan istilah keagamaan mengenai keberadaannya dalam “keadaan tersembunyi”.

Namun, informasi tersebut masih dipenuhi ketidakpastian dan belum dapat diperlakukan sebagai konfirmasi resmi mengenai kematiannya.

Sehari sebelumnya, 25 Agustus 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam wawancara dengan Glenn Beck juga menyinggung kondisi Mojtaba. Trump mengatakan dirinya tidak percaya Mojtaba telah meninggal. Menurut Trump, Mojtaba mengalami luka sangat serius, termasuk cedera berat pada bagian kiri tubuh, lengan, dan kaki.

Dengan adanya berbagai versi yang saling bertentangan, kondisi sebenarnya dari Mojtaba masih menjadi tanda tanya.

Pada saat yang hampir bersamaan, muncul pula laporan mengenai peningkatan kesiagaan aparat keamanan Iran. Pasukan khusus dilaporkan dikerahkan di sekitar Lapangan Hossein di Provinsi Yazd, Iran tengah.

Sejumlah unit militer di berbagai wilayah, termasuk unsur pasukan khusus IRGC dan unit Fatehin, juga disebut ditempatkan dalam status siaga tinggi.

Belum terdapat penjelasan resmi mengenai alasan pengerahan tersebut. Karena waktunya berdekatan dengan munculnya rumor mengenai kondisi Mojtaba, berkembang spekulasi bahwa pemerintah Iran sedang mempersiapkan langkah pengamanan untuk mengantisipasi kemungkinan gejolak domestik. Namun hubungan antara kedua perkembangan tersebut belum dapat dipastikan.

Di Washington, strategi terhadap Iran juga tampaknya sedang mengalami penyesuaian.

Menurut laporan Axios pada 25 Agustus 2026, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio disebut telah menyampaikan kepada sejumlah menteri luar negeri bahwa Washington saat ini tidak memperkirakan akan melancarkan serangan militer baru terhadap Iran dalam waktu dekat.

Sebaliknya, Amerika Serikat disebut akan memusatkan tekanan melalui blokade maritim dan sanksi ekonomi baru.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa Washington untuk sementara berusaha meningkatkan tekanan terhadap Teheran tanpa langsung membuka babak baru operasi militer.

Namun opsi penggunaan kekuatan belum sepenuhnya dikesampingkan.

Pejabat Amerika Serikat dilaporkan menegaskan bahwa apabila Iran terlebih dahulu melakukan serangan terhadap kepentingan atau pasukan Amerika, Washington tetap mempertahankan kemungkinan melakukan tindakan militer sebagai respons.

Berdasarkan rencana yang beredar saat ini, penghentian sementara operasi ofensif tersebut dapat dipertahankan setidaknya hingga melewati pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November 2026. Setelah itu, kebijakan Washington terhadap Iran dapat kembali dievaluasi berdasarkan perkembangan keamanan, diplomasi, dan efektivitas tekanan ekonomi.

Artinya, beberapa bulan mendatang akan menjadi periode yang sangat menentukan.

Apabila tekanan ekonomi dan blokade maritim berhasil mendorong Iran menuju kompromi, peluang penyelesaian melalui diplomasi masih terbuka. Sebaliknya, apabila perundingan mengenai Selat Hormuz kembali menemui jalan buntu atau terjadi serangan baru, risiko eskalasi militer dapat meningkat dengan cepat.

Untuk saat ini, setidaknya ada tiga persoalan besar yang perlu diperhatikan secara bersamaan: masa depan kesepakatan mengenai Selat Hormuz, kondisi internal pemerintahan Iran di tengah kabar mengenai Mojtaba Khamenei, serta perubahan strategi Amerika Serikat dari tekanan militer langsung menuju kombinasi blokade maritim dan sanksi ekonomi.

Karena itu, meskipun serangan militer baru belum menjadi pilihan utama Washington, krisis Iran masih jauh dari selesai.

Situasinya justru memasuki fase yang lebih rumit, ketika diplomasi, tekanan ekonomi, keamanan maritim, dan ketidakstabilan internal Iran saling berkaitan. Satu perubahan kecil—baik di Selat Hormuz, di dalam kepemimpinan Iran, maupun dalam perhitungan Washington—dapat kembali mengubah arah krisis secara drastis. (***)

Iran Dikepung dari Segala Arah! AS Bersihkan Selat Hormuz, 71 Kapal Dicegat & 5 Bos IRGC Diburu

EtIndonesia.com — Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui kombinasi kekuatan militer, sanksi ekonomi, pengawasan intelijen, dan kampanye pencarian informasi terhadap sejumlah pejabat senior Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC.

Perkembangan terbaru terjadi pada Selasa, 25 Agustus 2026, ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Angkatan Laut AS telah menyelesaikan operasi pembersihan ranjau di jalur pelayaran internasional Selat Hormuz. Pernyataan tersebut menandai babak baru dalam perebutan kendali atas salah satu jalur energi paling strategis di dunia.

Trump mengatakan dirinya baru menerima laporan dari Angkatan Laut AS bahwa seluruh ranjau di perairan internasional Selat Hormuz telah disingkirkan atau diledakkan. Dua pejabat AS yang mengetahui operasi tersebut juga mengatakan jalur utama pemisahan lalu lintas kapal atau Traffic Separation Scheme telah dibersihkan.

Washington kemudian mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran. Menurut Trump, setiap kapal atau perahu yang mencoba memasang ranjau baru akan menjadi sasaran penghancuran secara sistematis.

Menariknya, pengawasan Amerika tidak hanya mengandalkan kapal perang dan pesawat militer. Trump menyebut Angkatan Antariksa Amerika Serikat atau U.S. Space Force digunakan untuk mengawasi setiap bagian Selat Hormuz. Ia menegaskan kebijakan “nol toleransi” diberlakukan terhadap setiap upaya pemasangan ranjau baru.

Pentingnya Selat Hormuz sulit dilepaskan dari persoalan energi global. Sebelum konflik, lebih dari 20 juta barel minyak per hari melintasi jalur tersebut. Namun, menurut data sementara Vortexa yang dikutip Reuters, volume transit minyak pada 24 Agustus 2026 hanya sekitar 5 juta barel per hari.

Blokade Laut Semakin Ketat

Operasi pembersihan ranjau berlangsung bersamaan dengan blokade terhadap pelabuhan Iran.

Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM mengumumkan bahwa hingga 24 Agustus 2026, pasukannya telah mengalihkan 71 kapal komersial, melumpuhkan tiga kapal, serta menaiki dan memeriksa dua kapal lainnya untuk memastikan kepatuhan terhadap blokade.

Pada saat yang sama, lebih dari 40 kapal yang mendukung pengiriman bantuan kemanusiaan telah diizinkan melintas. CENTCOM juga mempublikasikan rekaman yang memperlihatkan personel Amerika di atas kapal induk USS George H.W. Bush (CVN-77) tetap bersiaga siang dan malam dalam menjalankan operasi tersebut.

Data ini memperlihatkan bahwa strategi Washington tidak sepenuhnya ditujukan untuk menghentikan lalu lintas laut di kawasan tersebut. Fokus blokade adalah membatasi perdagangan yang melibatkan pelabuhan Iran, sementara jalur kemanusiaan tetap diberikan pengecualian.

Dari Tekanan Militer ke “Operasi Economic Outcast”

Tekanan terhadap Teheran tidak berhenti di laut.

Sehari sebelumnya, pada Senin, 24 Agustus 2026, Menteri Keuangan AS Scott Bessent secara resmi mengumumkan Operation Economic Outcast, sebuah kampanye baru yang dirancang untuk memperketat isolasi ekonomi Iran dan menutup berbagai celah yang selama ini diduga memungkinkan Teheran mempertahankan jaringan perdagangan serta keuangannya.

Tahap awal operasi tersebut mencakup tindakan terhadap sekitar 60 individu, perusahaan, kapal, dan jaringan yang dikaitkan dengan Iran. Sasaran Washington meluas dari sektor minyak dan petrokimia hingga pelayaran, teknologi, emas, penerbangan dan aset digital.

Namun, salah satu persoalan terbesar bagi Amerika adalah hubungan ekonomi Iran dengan negara-negara lain, khususnya Tiongkok.

Bessent menegaskan tidak ada entitas yang secara otomatis dikecualikan dari risiko sanksi. Meski demikian, Washington sejauh ini terlihat berhati-hati dalam menerapkan tindakan paling keras terhadap institusi besar Tiongkok karena konsekuensinya dapat merembet ke sistem perdagangan dan keuangan global.

Dengan demikian, strategi Amerika tampaknya dilakukan secara bertahap: memperingatkan pemerintah dan lembaga keuangan asing terlebih dahulu, sebelum meningkatkan tekanan apabila mereka tetap membantu Iran menghindari sanksi.

Hadiah US$10 Juta untuk Informasi Pejabat Tinggi IRGC

Pada saat tekanan ekonomi diperluas, Washington membuka front lain melalui program Rewards for Justice milik Departemen Luar Negeri AS.

Amerika menawarkan hadiah hingga US$10 juta bagi informasi yang dapat membantu mengidentifikasi atau menemukan keberadaan lima pejabat senior IRGC.

Lima nama tersebut adalah Ahmad Vahidi, Ali Abdollahi, Sa’id Aghajani, Hamidreza Zolasgharian/Lashgarian, serta Majid Khademi. Mereka dikaitkan dengan kepemimpinan IRGC, komando militer, operasi drone, kemampuan siber-elektronik dan intelijen.

Menurut Rewards for Justice, para pejabat tersebut memimpin berbagai unsur IRGC yang oleh Washington dituduh merencanakan, mengorganisasi dan melaksanakan aktivitas terorisme di berbagai negara. IRGC sendiri telah ditetapkan Amerika Serikat sebagai Organisasi Teroris Asing sejak 2019.

Ada satu bagian penting dalam tawaran tersebut. Orang yang memberikan informasi yang dapat ditindaklanjuti bukan hanya berpeluang memperoleh imbalan finansial, tetapi juga dapat memenuhi persyaratan untuk menerima bantuan relokasi.

Ketentuan tersebut membuat program ini memiliki dimensi psikologis yang kuat. Washington pada dasarnya berusaha mendorong orang-orang yang mempunyai akses terhadap lingkaran kekuasaan Iran untuk memberikan informasi dengan menawarkan uang sekaligus kemungkinan perlindungan.

Iran Menghadapi Tekanan dari Tiga Arah

Rangkaian perkembangan pada 24–25 Agustus 2026 memperlihatkan bahwa strategi Amerika terhadap Iran kini bergerak melalui sedikitnya tiga jalur sekaligus.

Pertama adalah tekanan militer dan maritim, melalui blokade pelabuhan Iran, pengawasan Selat Hormuz dan operasi pembersihan ranjau.

Kedua adalah tekanan ekonomi, melalui Operation Economic Outcast yang berusaha mempersempit akses Iran terhadap perdagangan internasional, sistem keuangan, ekspor energi dan jaringan pembayaran alternatif.

Ketiga adalah tekanan intelijen dan psikologis, salah satunya melalui hadiah jutaan dolar untuk mendapatkan informasi mengenai tokoh-tokoh penting IRGC.

Meski Washington menggambarkan strategi tersebut sebagai cara untuk memperbesar tekanan tanpa harus segera kembali pada serangan militer berskala besar, hasil akhirnya masih belum dapat dipastikan. Iran masih memiliki jaringan perdagangan alternatif dan berbagai mekanisme untuk menghindari sanksi, termasuk transaksi berbasis yuan, perusahaan perantara, transfer antarkapal serta jaringan keuangan bayangan.

Karena itu, pertanyaan terbesar kini bukan hanya seberapa keras Amerika Serikat dapat meningkatkan tekanan, tetapi berapa lama Iran mampu mempertahankan perekonomian, kekuatan militernya, dan stabilitas internal ketika tekanan militer, finansial serta intelijen berlangsung secara bersamaan.

Timur Tengah Memanas! Israel Gempur Lebanon, 3 Pemimpin Hizbullah Tumbang, SDF Tiba-Tiba Bubar

EtIndonesia.com  Ketegangan keamanan di Timur Tengah kembali memasuki fase penting. Israel terus meningkatkan operasi militernya terhadap Hizbullah di Lebanon, sementara pada saat hampir bersamaan terjadi perubahan besar di Suriah setelah Pasukan Demokratik Suriah atau Syrian Democratic Forces (SDF) secara resmi mengakhiri keberadaannya sebagai kekuatan militer independen.

Dua perkembangan tersebut berpotensi mengubah peta keamanan regional, khususnya di kawasan yang selama bertahun-tahun menjadi arena persaingan antara Israel, Iran, Amerika Serikat, Hizbullah, serta berbagai kelompok bersenjata di Suriah.

Pada 25–26 Agustus 2026, laporan dari kawasan Lebanon selatan menunjukkan bahwa militer Israel kembali melakukan operasi terhadap sejumlah posisi yang dikaitkan dengan Hizbullah. Serangan dan aktivitas militer dilaporkan berlangsung di beberapa kawasan strategis di Lebanon selatan.

Ledakan keras bahkan dilaporkan dapat terdengar hingga wilayah Israel utara. Sebelumnya, warga di kawasan Galilea Atas telah diberi tahu oleh otoritas lokal bahwa suara ledakan kemungkinan akan terdengar akibat aktivitas militer Israel di wilayah Lebanon.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa konfrontasi Israel-Hizbullah belum benar-benar mereda.

Komandan Hizbullah Menjadi Sasaran

Dalam beberapa pekan terakhir, Israel meningkatkan tekanan terhadap struktur komando Hizbullah.

Pada 15 Agustus 2026, serangan udara Israel di Lebanon selatan menewaskan sedikitnya 11 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, menurut otoritas Lebanon. Israel mengatakan operasi tersebut ditujukan terhadap sejumlah komandan Hizbullah setelah sebuah serangan drone bermuatan bahan peledak melukai tiga tentara Israel.

Salah satu tokoh yang diklaim Israel tewas adalah Ali Samir al-Haj Hassan, seorang komandan batalion dari Pasukan Radwan, unit elite Hizbullah.

Israel juga menyatakan telah menewaskan Ali Mohammad Fakhreddine, yang juga dikenal sebagai Abu Hassan Alaa, seorang komandan senior dalam Divisi Badr Hizbullah. Unit tersebut beroperasi terutama di kawasan sebelah utara Sungai Litani.

Dengan demikian, klaim bahwa Israel sedang memburu lapisan kepemimpinan baru Hizbullah memang memiliki dasar dalam rangkaian operasi terbaru. Namun, laporan yang tersedia belum cukup untuk memastikan secara independen klaim bahwa tepat tiga pemimpin Hizbullah yang baru naik jabatan telah dieliminasi hanya dalam satu pekan.

Situasi di Lebanon selatan sendiri masih sangat sensitif. Operasi Israel sebelumnya mencakup kawasan Ansar, Deir al-Zahrani, Nabatieh, hingga perbukitan Ali Taher, sebuah kawasan yang dinilai memiliki arti strategis bagi operasi Hizbullah.

Israel berulang kali menyatakan bahwa serangannya bertujuan menghilangkan ancaman terhadap pasukannya dan mencegah Hizbullah membangun kembali kemampuan militernya. Sebaliknya, pemerintah Lebanon mengecam serangan-serangan tersebut dan menilai operasi Israel telah menimbulkan korban sipil serta memperbesar risiko eskalasi.

Perubahan Besar Terjadi di Suriah

Di tengah meningkatnya ketegangan di Lebanon, perubahan yang tidak kalah besar justru terjadi di negara tetangganya, Suriah.

Pada Selasa, 25 Agustus 2026, komandan SDF Mazloum Abdi secara resmi mengumumkan pembubaran Pasukan Demokratik Suriah sebagai kekuatan militer independen.

Pengumuman dilakukan dari istana kepresidenan di Damaskus.

Abdi menyatakan bahwa misi SDF sebagai organisasi militer independen telah berakhir setelah proses pengintegrasian pasukannya ke dalam brigade-brigade Angkatan Bersenjata Suriah diselesaikan.

Keputusan tersebut menjadi salah satu perubahan paling penting dalam struktur keamanan Suriah sejak jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada akhir 2024.

SDF dibentuk pada 2015 dan selama bertahun-tahun menjadi mitra lokal utama Amerika Serikat dalam operasi melawan ISIS di Suriah.

Dengan dominasi pasukan Kurdi tetapi juga melibatkan unsur Arab dan kelompok lainnya, SDF berkembang menjadi salah satu kekuatan bersenjata paling terorganisasi di Suriah. Pada puncak kekuatannya, kelompok tersebut diperkirakan memiliki sekitar 100.000 personel dan mengendalikan wilayah luas di utara serta timur laut Suriah. Namun, perkiraan pada awal 2026 menunjukkan kekuatannya kemungkinan telah berkurang menjadi sekitar 50.000 hingga 80.000 personel.

Selama bertahun-tahun, wilayah yang dikuasai SDF memiliki nilai strategis sangat besar karena mencakup sebagian kawasan penghasil minyak Suriah, jalur perbatasan, serta sejumlah fasilitas yang digunakan untuk menahan anggota ISIS.

Dari Mitra Amerika Menjadi Bagian Militer Suriah

Pembubaran SDF sekaligus menandai berakhirnya satu babak panjang keterlibatan langsung kelompok tersebut sebagai mitra militer independen Washington.

Integrasi sebenarnya telah dipersiapkan cukup lama. Pada 10 Maret 2025, pemerintah transisi Suriah dan kepemimpinan SDF telah mencapai kesepakatan mengenai integrasi lembaga sipil dan militer di wilayah yang dikuasai kelompok tersebut ke dalam struktur negara Suriah. Proses itu kemudian mengalami berbagai perundingan dan hambatan sebelum akhirnya mencapai tahap akhir pada 2026.

Pada Januari 2026, kesepakatan baru kembali dicapai setelah operasi pasukan pemerintah mengubah keseimbangan kekuatan di timur laut Suriah. Amerika Serikat turut mendukung proses tersebut dan menggambarkannya sebagai langkah penting menuju stabilisasi Suriah.

Namun, pembubaran formal SDF tidak berarti seluruh persoalan telah selesai.

Sejumlah pertanyaan masih muncul mengenai bagaimana rantai komando baru akan diterapkan, di mana mantan personel SDF akan ditempatkan, bagaimana struktur keamanan lokal dikelola, serta sejauh mana masyarakat Kurdi akan mempertahankan hak politik, budaya, dan administratifnya di Suriah yang baru.

Peta Kekuatan Regional Mulai Berubah

Perkembangan di Lebanon dan Suriah menunjukkan bahwa peta militer Timur Tengah sedang bergerak dengan cepat.

Israel terus berupaya menekan kemampuan Hizbullah dan memburu struktur komandonya di Lebanon. Pada saat yang sama, hilangnya SDF sebagai kekuatan bersenjata independen berarti Amerika Serikat tidak lagi memiliki mitra lokal yang sama seperti sebelumnya di Suriah timur laut.

Meski demikian, terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa pembubaran SDF secara otomatis berarti Washington sebelumnya berencana menggunakan kelompok itu untuk menyerang Iran atau bahwa rencana semacam itu kini dibatalkan. Belum terdapat bukti publik yang cukup kuat untuk memastikan klaim tersebut.

Yang dapat dipastikan adalah bahwa pada 25 Agustus 2026, salah satu kekuatan bersenjata paling penting di Suriah secara resmi mengakhiri eksistensi independennya dan masuk ke dalam struktur negara.

Sementara itu, operasi Israel terhadap Hizbullah terus berlangsung di Lebanon selatan.

Dua perkembangan ini terjadi hampir bersamaan dan memperlihatkan satu kenyataan penting: arsitektur keamanan Timur Tengah sedang mengalami perubahan besar, sementara persaingan Israel-Iran dan masa depan kelompok-kelompok bersenjata yang selama bertahun-tahun membentuk keseimbangan kawasan masih jauh dari selesai. (***)

Menkeu AS Scott Bessent: Jika Beijing dan Negara Lain Tidak Memutus Hubungan dengan Iran, Mereka Akan Menghadapi Konsekuensi

EtIndonesia.com  Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent pada Senin (24 Agustus), saat mengumumkan sanksi bersejarah AS terhadap Iran, mengatakan bahwa jika Beijing dan negara-negara lain tidak memutuskan hubungan dengan Iran, mereka akan menghadapi konsekuensi.

 “Setiap negara dan setiap entitas harus memahami bahwa mereka harus bersiap menghadapi sanksi Amerika Serikat. Tidak seorang pun berada di atas sanksi. Kami akan meminta pertanggungjawaban semua pihak. Ini akan menjadi pencekikan ekonomi terhadap rezim tersebut,” katanya. 

Ketika wartawan secara khusus menanyakan apakah Bank of China termasuk dalam sasaran sanksi kali ini, Bessent memberikan jawaban tegas.

Bessent:  “Jika mereka memfasilitasi transaksi atau berada dalam sistem yang mengubah minyak Iran menjadi uang, yang pada akhirnya digunakan untuk melakukan penindasan, mereka akan menjadi sasaran sanksi.”

Bessent juga mengatakan bahwa pada akhir pekan ini kemungkinan akan diumumkan sanksi besar terhadap lembaga-lembaga keuangan.

Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat akan menggunakan jalur diplomatik untuk mengidentifikasi satu per satu negara yang selama ini memberikan dukungan finansial kepada Iran.

 “Kami tahu siapa mereka, dan mereka sendiri juga tahu. Jadi, ketika palu sanksi Departemen Keuangan AS jatuh kepada mereka, mereka hanya bisa menyalahkan diri sendiri,” ujarnya. 

Menghadapi sanksi Amerika Serikat, para pejabat tinggi Iran menunjukkan sikap yang sangat berbeda.

Menteri Ekonomi dan Keuangan Iran Ali Madanizadeh pada Senin mengatakan bahwa Iran telah menyusun rencana selama dua tahun dan telah melakukan persiapan yang memadai untuk menghadapi sanksi baru yang diumumkan AS. Namun, ia tidak menjelaskan secara rinci apa saja rencana tersebut.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian baru-baru ini menyatakan dukungannya terhadap nota kesepahaman gencatan senjata yang ditandatangani Iran dan Amerika Serikat dua bulan lalu, meskipun nota tersebut kini telah berakhir masa berlakunya.

Menurut perkembangan terbaru, Menteri Dalam Negeri Pakistan pada Selasa (25 Agustus), setelah mengakhiri kunjungannya ke Teheran, mengatakan bahwa pembicaraan tersebut menghasilkan “kemajuan signifikan.” Kedua pihak masih menilai bahwa menghidupkan kembali nota kesepahaman tersebut dapat membantu membuka jalan menuju perdamaian jangka panjang di kawasan.

Terlepas dari perbedaan sikap para pemimpin Iran, tingkat inflasi tahunan Iran pada Juli mencapai 88%. Mata uang Iran, rial, juga baru-baru ini merosot ke titik terendah sepanjang sejarah, dengan 2 juta rial hanya setara dengan 1 dolar AS.

Presiden Donald Trump pada Senin menulis bahwa “Iran berada di ambang keruntuhan ekonomi dan militer secara bersamaan.”

Laporan gabungan wartawan NTDTV Li Mei dan Chen Qian.

AS Serukan Rusia dan Ukraina Kembali ke Meja Perundingan, Lebih dari 50 Negara Desak Rusia Hentikan Perang Tanpa Syarat

EtIndonesia.com  Lebih dari 50 negara dan Uni Eropa pada Senin (24 Agustus) mengeluarkan pernyataan bersama yang mendesak Rusia melakukan gencatan senjata tanpa syarat dalam perang Rusia-Ukraina. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan, hingga saat ini perang tersebut telah menyebabkan sekitar 68.000 warga sipil Ukraina menjadi korban, termasuk sekitar 4.000 anak-anak. Perwakilan AS untuk PBB pada Senin juga mendesak Rusia dan Ukraina kembali ke meja perundingan.

Menteri Luar Negeri Denmark Lars Løkke Rasmussen:  “Rusia hanya perlu menerima gencatan senjata tanpa syarat yang telah diserukan oleh Ukraina dan masyarakat internasional selama satu setengah tahun.”

Rasmussen mengumumkan pernyataan bersama tersebut pada Hari Kemerdekaan Ukraina, 24 Agustus. Pernyataan itu mengecam invasi Rusia serta menegaskan kembali dukungan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina.

Para penandatangan pernyataan tersebut mencakup Uni Eropa, Inggris, Australia, Kanada, Jepang, serta lebih dari 50 negara dan organisasi lainnya.

PBB mengatakan jumlah korban sipil di Ukraina telah mencapai tingkat tertinggi sejak tahap awal perang, dengan jumlah kematian dalam satu bulan meningkat hingga hampir 450 orang.

Tom Fletcher, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan: “Saya bertemu dengan seorang pria yang sedang berjualan buah ketika dia diserang oleh drone FPV. Orang lainnya kehilangan kedua anggota tubuhnya, menjalani tiga kali operasi dan menerima 17 kali transfusi darah.”

Tom Fletcher mengunjungi Kherson, Ukraina, pekan lalu dan menyaksikan langsung kehancuran akibat perang. Ia mengungkapkan bahwa sekitar 70% cedera yang dialami warga sipil berasal dari ledakan drone.

Perwakilan AS untuk Dewan Ekonomi dan Sosial PBB, Dan Negrea :  “Kami, bersama Presiden Trump, terus menyerukan gencatan senjata segera dan perundingan yang sungguh-sungguh untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina, sehingga kedua negara dapat kembali mencapai perdamaian dan stabilitas.”

Amerika Serikat masih aktif menjadi mediator dalam perundingan Rusia-Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebelumnya mengatakan bahwa peluang tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina terbuka pada akhir tahun ini hingga musim panas tahun depan.

Laporan gabungan wartawan NTDTV An Qi dan Liu Fang.