Kecelakaan Menyelam Aneh Menyebabkan Tubuh Pria Membengkak dan Dokter Tidak Tahu Cara Memperbaikinya

EtIndonesia. Selama lebih dari satu dekade, seorang penyelam asal Peru telah berusaha menghilangkan kantong nitrogen yang terbentuk di bawah kulitnya ketika dia naik ke permukaan terlalu cepat.

Alejandro “Willy” Ramos Martínez menderita kondisi yang dikenal sebagai penyakit dekompresi, juga disebut “penyakit ruang”, yang terjadi ketika seseorang mengalami penurunan tekanan udara secara tiba-tiba. Jenis penyakit ini umum terjadi pada penyelam yang melakukan penyelaman dalam dan tidak mengikuti protokol dekompresi yang tepat.

Pada tahun 2013, Willy sedang menyelam hingga kedalaman lebih dari 30 meter di lepas pantai Pisco, Peru, untuk mencari makanan laut, ketika sebuah perahu yang lewat merobek selang oksigennya, memaksanya untuk segera muncul ke permukaan. Kenaikan mendadak tersebut menyebabkan gelembung nitrogen terbentuk di dada dan lengannya, mengakibatkan masalah medis yang menyebabkan dia kehilangan kendali atas tubuh bagian atas dan lengannya.

Pada tahun 2017 dokter hanya bisa membantunya dengan memberikan oksigen di ruang bertekanan untuk menghilangkan gelembung nitrogen. Saat itu, mereka berhasil menghilangkan sekitar 30% gelembung nitrogen raksasa di tubuhnya dan optimis bahwa, pada waktunya, dia akan pulih, tetapi delapan tahun kemudian, pria Peru itu masih mencari pengobatan.

Kasus Martinez dianggap unik di dunia, karena penyakit dekompresi biasanya memiliki gejala yang sangat berbeda. Penyakit ini dapat menyebabkan nyeri, kerusakan tulang dan sendi, dan bahkan memengaruhi sistem saraf. Dalam kasus yang jarang terjadi, penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan atau kematian, tetapi belum pernah ada orang yang menderita kelainan bentuk seperti yang dialami Willy. Bisepnya telah tumbuh hingga lingkar masing-masing sekitar 62 cm dan 72 cm.

Karena gelembung nitrogen telah menempel di otot dan organnya, operasi bukanlah solusi yang tepat, sehingga dia harus berjalan seperti balon tiup dan berharap ada yang bisa menemukan pilihan yang lebih aman.

“Saya diselamatkan oleh mukjizat. Saya bersyukur kepada Tuhan, yah, saya memang cacat, tetapi saya masih hidup,” ujar Willy kepada BBC dalam sebuah wawancara, menambahkan bahwa ada masa ketika dia mengalami depresi dan tidak tahan orang-orang memandangnya dengan iba, tetapi dia berhasil melewati masa-masa itu.

“Saya ingin kembali menyelam jika memungkinkan. Saya rindu menyelam. Selain pekerjaan saya, saya menyukainya; itu hobi saya,” tambah pria Peru itu. “Mungkin itu sebabnya saya menyelam terlalu dalam. Saya tidak takut; bagi saya, itu seperti sebuah petualangan, tetapi sayangnya, laut harus dihormati.” (yn)

Mendiang Paus Fransiskus Memasukkan Ukraina dalam Surat Wasiatnya: Untuk Apa Dia Mengalokasikan Dana

EtIndonesia. Mendiang Paus Fransiskus mewariskan sebagian harta warisannya kepada Ukraina, menurut Bild.

Warisan dari Paus Fransiskus, yang wafat pada bulan April tahun ini, dibahas oleh biarawati Lucia Caram dalam sebuah program radio berbahasa Spanyol.

Menurutnya, surat wasiat Paus Fransiskus menetapkan bahwa sebagian dananya akan digunakan untuk membeli ambulans bagi Ukraina, khususnya untuk zona perang.

Seperti yang ditulis BILD, Lucía (Luisia) Caram telah beberapa kali mengunjungi Ukraina dalam misi kemanusiaan sejak Februari 2022. Menurut biarawati itu, dia sangat tersentuh oleh tindakan Paus, yang selama hidupnya berulang kali menjanjikan dukungannya.

“Tetapi saya tidak pernah menyangka akan datang dalam bentuk seperti ini,” demikian kutipan pernyataannya dari media tersebut.

Paus Fransiskus dan dukungan untuk Ukraina

Paus Fransiskus wafat pada 21 April 2025, setelah menderita sakit parah.

Paus Fransiskus berulang kali menyatakan dukungannya terhadap Ukraina dan menyerukan perdamaian, meskipun beberapa pernyataannya cukup kontroversial.

Beliau menyatakan solidaritasnya dengan warga Ukraina yang menderita akibat perang dan mendesak penyediaan bantuan kemanusiaan.

Beliau juga menyerukan dialog antara pihak-pihak yang berkonflik, menekankan bahwa inilah satu-satunya jalan untuk mencapai perdamaian.

Beliau secara rutin mendesak umat beriman untuk berdoa bagi perdamaian di Ukraina dan bagi rakyat Ukraina.

Paus Fransiskus bertemu beberapa kali dengan para politisi dan pemimpin agama Ukraina untuk membahas situasi di Ukraina, serta dengan para pengungsi Ukraina.

Beliau menerima undangan untuk mengunjungi Ukraina pada tahun 2025. (yn)

Trump Teken Undang-Undang Baru tentang Penguatan Hubungan dengan Taiwan

Presiden Taiwan Lai Ching-te mengatakan Taiwan akan “bekerja sama lebih erat lagi” dengan Amerika Serikat di semua bidang demi menjamin perdamaian dan stabilitas kawasan.

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani undang-undang bipartisan baru terkait Taiwan menjadi Undang-Undang pada 2 Desember 2025, yang segera memicu protes keras dari rezim komunis Tiongkok,  menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya.

Trump mengesahkan Taiwan Assurance Implementation Act, yang mewajibkan Departemen Luar Negeri AS untuk meninjau dan memperbarui pedoman keterlibatan AS dengan Taiwan setidaknya sekali setiap lima tahun. Undang-undang ini dirancang untuk memperdalam hubungan AS–Taiwan meskipun kedua pihak tidak memiliki hubungan diplomatik formal.

Pada 3 Desember, Presiden Taiwan Lai Ching-te menulis di platform X bahwa ia “sangat” menghargai keputusan Trump, dan menyebut langkah itu menegaskan “pentingnya” keterlibatan AS dengan Taiwan.

“Ke depan, kami akan bekerja sama lebih erat lagi dengan AS di semua sektor untuk memastikan perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran kawasan,” tulis Lai.

Juru bicara Kantor Kepresidenan Taiwan, Karen Kuo, mengatakan dalam sebuah pernyataan:
“[Undang-undang ini] memiliki arti penting yang besar karena menegaskan nilai interaksi AS dengan Taiwan, mendukung hubungan Taiwan–AS yang lebih erat, dan menjadi simbol kuat dari nilai bersama kita, yakni demokrasi, kebebasan, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia.”

“Hubungan Taiwan–AS yang kuat adalah pilar utama dalam menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik,” tambah Kuo.

Pada Januari 2021, sesaat sebelum berakhirnya pemerintahan pertama Trump, Menteri Luar Negeri AS saat itu, Mike Pompeo, mencabut “pembatasan yang diberlakukan sendiri” terhadap kontak antara pejabat AS dan Taiwan. Pembatasan tersebut diberlakukan sejak Washington mengalihkan pengakuan diplomatik dari Taipei ke Beijing pada 1979.

Menteri Luar Negeri Taiwan Lin Chia-lung mengatakan kepada wartawan pada 3 Desember bahwa undang-undang baru ini akan memungkinkan para pejabat Taiwan memasuki lembaga federal AS untuk mengadakan pertemuan, meskipun bahasa dalam undang-undang tersebut tidak secara eksplisit menyebutkan hal itu.

“Undang-undang ini memperkuat keamanan nasional kami sendiri dan akan membantu kami mencegah Tiongkok memperluas pijakan berbahayanya di kawasan ini dan secara global.”

Kantor Senator Roger Wicker mengatakan bahwa peninjauan dan pembaruan berkala yang diwajibkan oleh undang-undang baru ini akan membahas bagaimana pedoman tersebut semakin memperdalam kerja sama AS–Taiwan serta bagaimana seluruh interaksi dengan Taiwan dapat mendukung penyelesaian damai atas masalah lintas Selat.

RUU ini diajukan pada Maret oleh Senator John Cornyn (Republik–Texas) dan Chris Coons (Demokrat–Delaware), dan disahkan oleh Senat pada November.

“Kerja sama yang erat dengan Taiwan sangat penting untuk menahan agresi Tiongkok dan menjaga perdamaian melalui kekuatan di kawasan Pasifik,” tulis Senator Todd Young (Republik–Indiana) dalam unggahan di X pada 3 Desember sebagai tanggapan atas undang-undang baru ini.

Pekan lalu, Lai mengumumkan rencana cadangan belanja militer baru sebesar US$40 miliar untuk menghadapi potensi serangan militer PKT terhadap Taiwan pada 2027. Rencana belanja baru itu mendapat dukungan bipartisan yang signifikan di Kongres.

Trump, yang bertemu dengan pemimpin Tiongkok Xi Jinping di sela-sela KTT Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) di Korea Selatan pada Oktober, dijadwalkan akan mengunjungi Tiongkok pada April tahun depan.

Reuters turut berkontribusi dalam laporan ini.

Diplomasi Bar-bar ala Partai Komunis Tiongkok: Sejak Kapan Pemenggalan Kepala Jadi Bahasa Diplomasi?”

Oleh : Stu Cvrk

Ucapan dan tindakan korps diplomatik Partai Komunis Tiongkok (PKT) sepenuhnya sejalan dengan semakin agresifnya sikap Beijing dalam mengejar kepentingan strategis dan ekonominya—tanpa mengindahkan hukum internasional.

“Leher kotor yang menerobos masuk itu—saya tak punya pilihan selain memenggalnya tanpa ragu sesaat pun. Apakah kamu siap untuk itu?” tulis Konsul Jenderal Tiongkok di Osaka, Jepang, Xue Jian, dalam unggahan di X pada 9 November yang kemudian dihapus.

Pernyataan Xue yang terang-terangan melanggar etika diplomasi itu merupakan respons atas pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di hadapan sebuah komite parlemen Jepang pada 7 November. 

Dalam pertemuan tersebut, Takaichi menyatakan bahwa blokade Tiongkok atas Taiwan sangat mungkin akan menciptakan “situasi yang mengancam kelangsungan hidup” bagi Jepang—sebuah kondisi yang bisa memaksa Tokyo mengerahkan Pasukan Bela Diri Jepang sebagai respons.

Ucapan Xue lebih menyerupai ocehan seorang barbar, bukan pernyataan seorang diplomat senior yang matang dan berpengalaman.

Mari kita cermati lebih dekat.


Xue Jian

Xue, 57 tahun, dibesarkan di Huai’an, sebuah kota tingkat prefektur di Provinsi Jiangsu bagian tengah, Tiongkok timur. Kota tingkat prefektur merupakan bentuk pembagian administratif tingkat kedua yang paling umum di Tiongkok daratan, berada tepat di bawah tingkat provinsi.

Ia lulus dari Beijing Foreign Studies University pada 1992 dengan gelar Sarjana dalam bahasa dan budaya Jepang. Berbekal latar belakang tersebut, ia kemudian ditempatkan dalam berbagai posisi di Kementerian Luar Negeri yang hampir sepenuhnya berkutat pada diplomasi terkait Jepang.

Berikut rekam jejak penugasannya dalam satu dekade terakhir—semuanya posisi senior:

  • 2014–2018: Menteri-Konselor, Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok di Jepang
  • 2018–2019: Konselor, Departemen Urusan Asia, Kementerian Luar Negeri
  • 2019–2021: Wakil Direktur Jenderal, Departemen Urusan Asia, Kementerian Luar Negeri
  • 2021–sekarang: Konsul Jenderal setingkat duta besar, Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Osaka, Jepang

Singkatnya, Xue bukan orang asing bagi budaya Jepang, politik Jepang, maupun pemerintahan Jepang. Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun sebagai diplomat—setidaknya delapan tahun di Jepang—ia hampir pasti sangat memahami standar protokol diplomatik yang berlaku di seluruh dunia.


Protokol Diplomatik Standar

Aturan nomor satu dalam dunia diplomasi adalah menghindari pernyataan negatif secara terbuka terhadap negara lain, terlebih lagi terhadap negara tuan rumah tempat seorang diplomat bertugas. Prinsip ini merupakan fondasi diplomasi modern yang berakar pada Konvensi Wina tentang Hubungan Diplomatik (1961), hukum kebiasaan internasional, serta kebutuhan praktis dalam hubungan antarnegara.

Pasal 41 Konvensi Wina menegaskan:  “Tanpa mengurangi hak istimewa dan kekebalan mereka, setiap orang yang menikmati hak tersebut wajib menghormati hukum dan peraturan negara penerima. Mereka juga berkewajiban untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri negara tersebut.”

Alasan praktisnya sangat jelas: seorang diplomat asing tidak mungkin efektif—dan mustahil mempertahankan kepercayaan negara tuan rumah—setelah melancarkan serangan pribadi secara terbuka, apalagi terhadap kepala pemerintahan. Jalan yang benar adalah tetap menjaga “hubungan konstruktif”, sekalipun terdapat perbedaan kebijakan yang tajam antarnegara, dengan berpegang pada prinsip klasik: memuji di depan umum, mengkritik di balik layar.

Dalam praktiknya, hampir semua diplomat di dunia tidak pernah menyerang negara tuan rumah melalui pernyataan publik atau media, termasuk media sosial.

Pernyataan Xue yang secara implisit menyerukan pemenggalan kepala terhadap Takaichi merupakan pelanggaran protokol yang teramat kasar dan biadab—jika bukan ancaman pribadi secara langsung. Bila kalimat seperti itu dilontarkan oleh staf junior yang ceroboh, mungkin masih bisa dimaklumi. Namun dalam kasus ini, sulit menghindari dugaan bahwa pernyataan Xue setidaknya mendapatkan restu diam-diam dari para atasannya di Zhongnanhai. Hingga kini, ia tidak tampak ditarik pulang, apalagi dijatuhi sanksi.


Pelanggaran Protokol Diplomatik PKT Lainnya

Agar tidak muncul kesan bahwa ucapan Xue hanyalah insiden tunggal, berikut sejumlah contoh lain pelanggaran standar protokol diplomatik oleh para diplomat PKT dalam beberapa tahun terakhir—mulai dari prinsip non-intervensi, penghormatan terhadap hukum negara tuan rumah, hingga larangan ancaman dan intimidasi:

  • 2010: Seorang diplomat Tiongkok dipaksa hengkang dari Kanada karena melanggar prinsip non-intervensi, menyusul dugaan spionase yang terungkap melalui penyelidikan dinas intelijen keamanan Kanada.
  • 2019: Dua pejabat Kedutaan Besar Tiongkok diam-diam diusir dari Amerika Serikat setelah memasuki pangkalan militer sensitif di Virginia.
  • November 2019: Duta Besar Tiongkok untuk Swedia Gui Congyou secara terbuka mengancam jurnalis dengan “senapan” dan menuduh media Swedia mencampuri urusan dalam negeri Tiongkok. Ucapannya dinilai “tak dapat diterima” dan menunjukkan “agresivitas yang mencengangkan.”
  • Maret 2021: Duta Besar Tiongkok untuk Prancis Lu Shaye menghina akademisi Antoine Bondaz sebagai “bocah nakal” di Twitter/X karena mengkritik disinformasi Tiongkok.
  • Oktober 2022: Staf Konsulat Tiongkok di Manchester, Inggris, secara fisik memukuli seorang demonstran Hong Kong di lingkungan konsulat.
  • Maret 2024: Diplomat dan agen intelijen Tiongkok di Praha membuntuti Wakil Presiden Taiwan Hsiao Bi-khim dan bahkan merancang “aksi kinetik” berupa rekayasa tabrakan mobil.
  • Mei 2024: Diplomat Tiongkok di Filipina dituduh menyadap serta membocorkan percakapan pribadi seorang laksamana Filipina dalam rangka memaksa konsesi dalam sengketa Laut Tiongkok Selatan.

Singkatnya, komentar publik Xue merupakan bagian dari pola perilaku kasar dan agresif yang berulang kali ditunjukkan oleh pejabat Kementerian Luar Negeri Tiongkok saat bertugas di luar negeri.


Penutup

Meningkatnya pengabaian rezim Tiongkok terhadap protokol diplomatik dalam beberapa tahun terakhir sejalan dengan intimidasi militer yang terus dilakukan Tentara Pembebasan Rakyat terhadap negara-negara tetangga di Selat Taiwan, Laut Tiongkok Selatan, Kepulauan Senkaku, Laut Kuning, Laut Filipina Timur, dan kawasan lainnya.

Soal pernyataan mengerikan Xue Jian, Duta Besar Amerika Serikat untuk Jepang, George Glass, mungkin merangkumnya dengan paling tepat dalam unggahan di X pada 9 November:

“Topeng itu kembali terlepas. Beberapa bulan lalu, [Xue Jian] membandingkan Israel dengan Nazi Jerman. Kini ia mengancam Perdana Menteri [Sanae Takaichi] dan rakyat Jepang. Sudah saatnya Beijing benar-benar bersikap seperti ‘tetangga baik’ yang terus mereka gembar-gemborkan—namun berulang kali gagal mereka wujudkan.”

Inilah contoh bagaimana “belati” bisa diselipkan dengan tajam dalam kerangka protokol diplomatik untuk menusuk kebrutalan berkarakter PKT. Lebih banyak lagi, silakan.


Pandangan dalam artikel ini sepenuhnya merupakan opini penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan The Epoch Times.

Stu Cvrk adalah pensiunan kapten Angkatan Laut Amerika Serikat yang mengabdi selama 30 tahun dalam berbagai penugasan aktif dan cadangan, dengan pengalaman operasional luas di Timur Tengah dan Pasifik Barat. Ia merupakan lulusan Akademi Angkatan Laut AS, serta memiliki latar belakang sebagai oseanografer dan analis sistem.

Obesitas pada Anak: Lebih dari Sekadar Kalori Masuk vs Kalori Keluar 

Obesitas pada anak bukanlah cacat karakter—kondisi ini dibentuk oleh faktor biologi, lingkungan, dan kebiasaan keluarga—dan semua itu sebenarnya dapat diubah oleh para orangtua

Joel Warsh

Seorang anak perempuan berusia delapan tahun, sebut saja “Lily”, datang ke ruang praktik penulis bersama orang tuanya yang merasa frustrasi. Dari segala sisi, mereka merasa telah melakukan “semua hal yang benar.” Lily jarang minum soda, menghindari makanan cepat saji, dan setiap hari menikmati buah serta yogurt. Namun, meskipun sudah berusaha demikian, berat badannya terus bertambah.

Orang tuanya mengajukan pertanyaan yang sering saya dengar: “Jika kami sudah membuat pilihan yang sehat, mengapa dia masih mengalami masalah?”

Kisah seperti Lily bukan hal yang langka. Obesitas anak di Amerika Serikat telah meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak tahun 1970-an. Selama bertahun-tahun, pesan yang umum disampaikan sangat sederhana: anak-anak bertambah berat badan karena terlalu banyak makan dan kurang bergerak. Namun bagi banyak keluarga, penjelasan ini terasa tidak memadai.

Kenyataannya, tubuh bukanlah kalkulator—melainkan sebuah laboratorium kimia. Kalori memang penting, tetapi itu jauh dari keseluruhan cerita.


Keterbatasan Konsep “Kalori Masuk, Kalori Keluar”

Model lama berasumsi bahwa jika seorang anak mengonsumsi lebih sedikit kalori daripada yang dibakar, maka berat badannya akan turun. Di atas kertas, itu memang benar. Namun dalam praktiknya, dua anak yang makan makanan yang sama bisa memperoleh hasil yang sangat berbeda. Hal ini karena metabolisme dipengaruhi oleh hormon, peradangan, kesehatan usus, kualitas tidur, bahkan paparan bahan kimia.

Memahami faktor-faktor tersembunyi ini adalah langkah pertama menuju solusi yang nyata.


1. Peradangan

Anggap peradangan seperti alarm kebakaran di dalam tubuh. Dalam jumlah kecil, ia bersifat melindungi—tetapi jika terus menyala, maka masalah pun muncul. Peradangan kronis tingkat rendah, yang sering dipicu oleh makanan olahan, kurang tidur, atau stres, dapat mengganggu hormon seperti insulin dan leptin—hormon yang memberi sinyal rasa kenyang.

Penelitian menunjukkan bahwa peradangan kronis berkontribusi terhadap obesitas dengan mengacaukan keseimbangan energi dan mendorong penyimpanan lemak.

Solusi Keluarga:

  • Fokus pada makanan utuh yang bersifat anti-inflamasi seperti buah-buahan, sayuran, dan ikan kaya omega-3.
  • Utamakan tidur—cahaya biru dari layar mengganggu melatonin dan memperparah peradangan.
  • Dorong aktivitas fisik harian, karena gerak tubuh sendiri dapat menurunkan peradangan.

2. Resistensi Insulin

Tugas insulin adalah memindahkan gula dari darah ke dalam sel untuk dijadikan energi. Ketika sel berhenti merespons—kondisi yang disebut resistensi insulin—tubuh mengompensasikannya dengan memproduksi lebih banyak insulin. Kelebihan insulin akan mendorong tubuh menyimpan lemak.

Yang penting, resistensi insulin dapat terjadi pada anak-anak bahkan sebelum diagnosis diabetes tipe 2 ditegakkan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa resistensi insulin semakin umum terjadi pada anak dan sangat berkaitan dengan obesitas.

Solusi Keluarga:

  • Padukan karbohidrat dengan protein dan lemak sehat untuk meredam lonjakan gula darah.
  • Hindari minuman manis—bahkan “jus 100 persen” sekalipun dapat memicu lonjakan gula darah.
  • Dorong aktivitas ringan setelah makan, seperti berjalan sebentar, yang dapat meningkatkan sensitivitas insulin.

3. Pengganggu Endokrin

Beberapa bahan kimia dalam plastik, pestisida, dan makanan olahan dapat meniru atau menghambat kerja hormon. Sebagai contoh, Bisphenol A (BPA)—yang terdapat pada beberapa jenis plastik dan lapisan kaleng—telah terbukti memengaruhi pengaturan nafsu makan dan penyimpanan lemak. Anak-anak sangat rentan karena tubuh dan sistem hormon mereka masih berkembang.

Solusi Keluarga:

  • Simpan makanan dalam wadah kaca atau stainless steel, bukan plastik—terutama saat memanaskan makanan.
  • Cuci buah dan sayur dengan bersih untuk mengurangi residu pestisida.
  • Pilih botol dan wadah bertanda bebas BPA jika memungkinkan.

4. Mikrobioma Usus

Triliunan bakteri di dalam usus membantu mengatur pencernaan, metabolisme, bahkan keinginan makan. Mikrobioma yang sehat dan beragam menghasilkan asam lemak rantai pendek yang meningkatkan sensitivitas insulin dan mengurangi peradangan. Sebaliknya, ketidakseimbangan dapat meningkatkan lipopolisakarida, yang mendorong penyimpanan lemak dan peradangan kronis.

Solusi Keluarga:

  • Beri makan usus dengan serat prebiotik seperti pisang, bawang, gandum oat, dan kacang-kacangan.
  • Tambahkan probiotik dari yogurt, kefir, atau makanan fermentasi.
  • Batasi makanan ultra-olahan yang merusak keragaman bakteri usus.

Mulai Hari Ini

Keluarga tidak memerlukan kesempurnaan—yang dibutuhkan adalah kemajuan. Berikut langkah-langkah berbasis riset yang langsung menyasar akar masalah obesitas anak:

Gerak sebagai Permainan:
Aktivitas berbasis permainan meningkatkan sensitivitas insulin dan menurunkan peradangan. Sebuah meta-analisis jaringan menemukan bahwa aktivitas seperti menari, bersepeda, dan permainan aktif dapat secara signifikan menurunkan risiko obesitas pada anak.

Utamakan Makanan Asli:
Makanan utuh mengatur gula darah lebih baik dibandingkan camilan ultra-olahan. Susun menu berdasarkan bahan makanan satu komposisi.

Kebiasaan Keluarga Itu Penting:
Makan bersama keluarga terbukti berhubungan dengan pola makan yang lebih sehat dan hasil berat badan yang lebih baik pada anak.


Tanpa Rasa Malu, Penuh Harapan

Obesitas bukanlah cacat karakter. Ini adalah tantangan kesehatan yang dibentuk oleh faktor biologi, lingkungan, dan kebiasaan keluarga. Namun, keluarga tidaklah tak berdaya.

Ketika orang tua dan anak bekerja sama, hasilnya bukan hanya soal angka di timbangan—melainkan juga tentang energi, terbebas dari “crash” gula darah, dan ketahanan untuk hidup sepanjang hayat.

Keluarga Lily akhirnya menemukan bahwa perubahan kecil yang dilakukan bersama—beralih ke makanan utuh, memprioritaskan tidur, dan menambah lebih banyak gerak yang menyenangkan—membantu Lily merasa lebih baik jauh melampaui sekadar angka timbangan. Walaupun penurunan berat badan bukan satu-satunya—atau bahkan tujuan utama—energi, suasana hatinya, dan kesehatannya membaik. Ia menjadi pengingat bahwa anak-anak dapat tumbuh dengan baik bahkan tanpa perubahan drastis pada angka timbangan, dan bahwa tujuan sejati adalah membesarkan anak-anak yang merasa kuat, sehat, dan percaya diri dengan tubuh mereka.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini merupakan opini penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan The Epoch Times. Epoch Health menyambut diskusi profesional dan debat yang bersahabat. Untuk mengirimkan artikel opini, silakan mengikuti pedoman dan mengirimkannya melalui formulir yang tersedia.

Sebuah Kartu Ucapan

EtIndonesia. Beberapa hari terakhir, Liu Sanfu terus-menerus mengkhawatirkan soal upahnya. Sudah hampir setahun dia bekerja di Tim Konstruksi Wanlixing—tetapi selain uang makan, dia belum menerima sepeser pun dari gaji yang seharusnya dia terima. Yang membuatnya lebih gelisah lagi: Tahun Baru sebentar lagi tiba, dan dia sudah berjanji kepada kekasihnya, Xiaomei, bahwa di hari ulang tahunnya nanti dia akan memberinya sebuah jam tangan.

Mereka sudah berpacaran lebih dari dua tahun, namun Sanfu belum pernah memberi Xiaomei hadiah yang layak. Dia sudah bertekad: apa pun yang terjadi, kali ini dia harus menepati janji itu. Tapi sekarang… semuanya buntu.

Sanfu benar-benar kesal. Bersama beberapa rekan kerja, dia kembali mendatangi mandor untuk menuntut upah. Namun, seperti sebelumnya, tetap tidak ada hasil.

“Kurang ajar! Dana proyek sudah lama dicairkan. Jelas-jelas mereka sengaja nahan gaji kita!” maki seorang rekan, Lai Xiaoqiang. “Kalau kita nggak kasih pelajaran, mereka bakal pikir kita orang kampung gampang diinjak!”

Xiaoqiang mengatakan dia ingin mengancam dengan cara melompat dari gedung agar mandor mau membayar. 

Mendengar itu, Sanfu yang sedang penuh amarah ikut-ikutan berkata :  “Itu ide bagus! Besok kita lompat bareng. Nggak mungkin mandor benar-benar berani anggap nyawa orang nggak berharga!”

Namun Sanfu sama sekali tak menyangka Xiaoqiang akan nekat pergi sendirian, dan lebih parah lagi—dia pergi setelah minum minuman keras. Dalam keadaan mabuk, dia naik ke atap tanpa diketahui siapa pun. Belum sempat ada yang melihat, tubuhnya langsung terjungkal jatuh ke bawah.

Dia tewas di tempat. Karena mabuk, insiden itu dianggap kecelakaan, dan kematiannya sia-sia.

Kematian rekan kerjanya membuat Sanfu sadar: cara “melompat” seperti itu jelas bukan jalan keluar. Salah langkah sedikit saja, nyawa sendiri bisa menjadi taruhan.

Hari itu, Sanfu berjalan tanpa tujuan di kota. Ketika melewati sebuah toko jam tangan, dia kembali teringat janjinya kepada Xiaomei. Dia tak sadar langkahnya membawa masuk ke dalam toko.

Lewat kaca etalase, dia menatap deretan jam tangan yang berkilau indah. Tangannya meraba kantong, memegang uang yang tersisa—hanya satu yuan lima puluh sen. Dia berdiri lama sekali, tak mampu beranjak.

Menjelang siang, dia keluar dari toko itu dengan hati dongkol dan langkah gontai. Ketika berbelok di sebuah sudut jalan, matanya tiba-tiba berbinar.

Di depan sana ada sebuah kantor pos. Di pintunya, banyak orang sedang memasukkan kartu-kartu ucapan ke dalam kotak surat. 

Sanfu langsung sadar—itu pasti kartu ucapan Tahun Baru : “Kalau aku tak bisa membelikan jam tangan… paling tidak aku bisa mengirimkan kartu ucapan untuk Xiaomei.”

Pikirannya kembali hidup.

Dia masuk ke kantor pos dan bertanya harga kartu ucapan.

 “Satu kartu, satu yuan dua puluh sen,” jawab petugas.

Sanfu memilih dengan teliti dan akhirnya mengambil satu kartu bergambar hati berwarna merah. Dia membayar, lalu meminjam pena dari konter. 

Dengan hati-hati ia menuliskan:

“Untuk Chen Xiaomei.”
Di sisi kosong, ia menambahkan:
“Selamat ulang tahun. Selamat Tahun Baru.”

Tapi dia merasa masih kurang sesuatu.

Sudah beberapa bulan dia tak menghubungi Xiaomei, jadi dia ingin menulis beberapa kalimat ungkapan rindu.

Karena itu surat untuk kekasihnya, dia mencari sudut yang tenang dan mulai menulis perlahan, huruf demi huruf : “Xiaomei, apa kabar? Abaogemu minta maaf… Aku sudah janji membelikanmu jam tangan, tapi gajiku belum dibayar mandor. Begitu aku terima uangku, aku pasti membelikannya untukmu. Jangan marah ya…?”

Kolom kosong pada kartu tidak banyak. Dia hanya cukup menulis beberapa kalimat pendek. Dia membaca ulang dua-tiga kali. Baru akan menandatangani namanya ketika…

Tok!
Seseorang mengetuk meja dan membentak: “Hei! Berapa lama kamu mau pakai pena itu? Orang lain juga butuh, tahu!”

Sanfu terkejut. Benar juga—karena terlalu serius, dia tak sadar memonopoli pena kantor pos. Mukanya memerah. Sambil menunduk, dia cepat-cepat menuliskan namanya sambil mengucapkan maaf, lalu menyerahkan pena itu.

Setelah orang itu pergi, Sanfu kembali memandangi kartu ucapan itu. Tiba-tiba dia menyesal.

Tulisan itu begitu langsung, begitu pribadi… Siapa pun yang melihat kartu itu bisa membaca isi hatinya. Bagaimana kalau Xiaomei merasa malu atau marah?

Dia tak punya uang untuk membeli kartu baru. Setelah berpikir sejenak, dia mencari selembar kertas kecil, menempelkannya tepat di atas tulisan itu, menutupi semuanya.

Kini ia merasa lebih tenang.

Dengan sangat hati-hati, dia memasukkan kartu ucapan itu ke dalam kotak surat. Mengembuskan napas panjang, dia akhirnya melangkah keluar dari kantor pos.

Di jalan, dia menggunakan sisa uang—tiga puluh sen—untuk membeli sepotong roti kukus sebagai makan siangnya.

Beberapa kali menagih upah tanpa hasil—ditambah kematian tragis rekan mereka, Lai Xiaoqiang—kemarahan Liu Sanfu dan para pekerja akhirnya memuncak. Mereka diam-diam berkumpul dan berunding; jika terus menunggu, mereka hanya makin merana. Maka muncullah rencana nekat: menggunakan “cara khusus”.

Mereka mengumpulkan sedikit uang untuk membeli sebilah pisau kecil bagi tiap orang. Rencananya sederhana dan berbahaya: menunggu kesempatan tepat, kemudian menyandera mandor, memaksanya membayarkan gaji mereka. Jika mandor tetap tidak mau membayar, mereka akan menusuknya lalu melarikan diri—bagaimanapun, upah sudah tak mungkin mereka dapatkan, dan sekaligus “membalas” kematian Xiaoqiang.

Hari itu, salah satu pekerja mendengar kabar bahwa sang mandor malam ini akan pulang untuk merayakan ulang tahun anaknya. Mereka pun sepakat—malam itu mereka akan bertindak. Untuk menyimpan tenaga, siang hari mereka semua tidur di barak proyek, menunggu waktu menyerang.

Namun, saat Liu Sanfu sedang terlelap, tiba-tiba seorang polisi datang ke lokasi proyek. Dia mengatakan sedang mencari seseorang bernama Liu Sanfu.

Sanfu dan para pekerja saling pandang. Mereka sangat terkejut—aksi mereka bahkan belum dimulai, bagaimana polisi bisa tahu? Dengan cemas, Sanfu menurut saat polisi membawanya pergi. Rekan-rekannya ketakutan, dan rencana kekerasan itu pun buyar seketika.

Sanfu digiring menuju sebuah gedung perkantoran. Jantungnya berdebar kencang—dia sama sekali tak tahu apa yang menunggunya.

Pertemuan Tak Terduga

Di sebuah kantor, seorang wanita berkacamata yang tampak berwibawa memandangnya dari balik meja.

“Kamu Liu Sanfu?” tanyanya.

Sanfu mengangguk.

Wanita itu mengangkat sebuah kartu.

“Kartupos ini kamu yang kirim?”

Sanfu melihat kartu itu. Dia langsung tertegun—itu kartu ucapan yang dia kirim untuk pacarnya beberapa hari lalu. Bagaimana bisa berada di tangan wanita ini? Apa dia menulis sesuatu yang melanggar hukum?

Melihat kebingungan wajahnya, wanita itu berdiri, tersenyum halus sambil mengangkat kartu itu.

“Kalau kirim kartu tapi tidak menulis alamat, bagaimana petugas bisa mengirimkan?”

Baru saat itu Sanfu sadar… wajahnya seketika memerah. Benar saja—karena terburu-buru, dia lupa menulis alamat tujuan.

Namun dia tak pernah membayangkan: karena kelalaiannya itu, dia justru bertemu seorang penolong besar.

Wanita itu adalah pengacara ternama di kota itu, bernama Chen Xiaomei—nama yang sama persis dengan nama pacar Sanfu.

Karena kartu itu tak memiliki alamat, petugas pos mengirimkannya ke Kantor Firma Hukum Yuanda, kepada satu-satunya orang di daftar mereka yang bernama Chen Xiaomei. Ketika kartu itu sampai di tangan sang pengacara, kertas yang ditempel Sanfu untuk menutupi pesan pribadi rupanya sudah sedikit terkelupas. Setelah membaca isinya, Chen Xiaomei langsung memahami situasinya.

Dia pun menghubungi kepolisian dan meminta mereka menemukan Liu Sanfu—bukan untuk memarahinya, melainkan untuk membantu para pekerja mendapatkan upah mereka secara hukum.

Keadilan Akhirnya Datang

Tak lama kemudian, berkat bantuan Pengacara Chen, Sanfu dan para pekerja akhirnya mendapatkan seluruh gaji mereka. Begitu menerima uang, hal pertama yang dilakukan Sanfu adalah pergi ke toko jam tangan dan membeli sebuah jam untuk Xiaomei. Meskipun ulang tahun kekasihnya sudah lewat beberapa hari, dia tetap ingin menepati janji.

Dengan penuh semangat, Sanfu naik bus pulang ke desa. Dia sudah membayangkan betapa gembiranya Xiaomei menerima jam itu. Namun begitu ia melihatnya…

Di pergelangan tangan Xiaomei sudah terpasang sebuah jam tangan baru—jauh lebih halus dan mahal daripada jam yang dia beli. Seketika hati Sanfu terasa masam. 

Dia menggenggam tangan pacarnya dan berkata lirih: “Xiaomei… maafkan aku. Gajiku ditahan mandor, jadi aku terlambat membeli hadiah. Jam ini… kamu beli sendiri?”

Xiaomei menatapnya bingung:  “Aboge, kamu kenapa? Jam ini kan hadiah ulang tahun yang kamu kirimkan untukku. Aku menerimanya sehari sebelum ulang tahunku. Masa kamu sudah lupa?”

Sanfu tertegun. Dia mengeluarkan jam yang baru dia beli itu:  “Tidak… ini yang baru saja kubeli. Aku belum kirim apa pun.”

Xiaomei pun sama terkejutnya.

Sanfu tiba-tiba teringat kejadian “kartu salah alamat” itu. Dia langsung berpikir: apa jam itu juga salah kirim? Haruskah dia mengembalikannya?

Dia pun mulai mencari tahu.

Jawaban yang Mengharukan

Tak lama kemudian, sebuah surat datang—dari Chen Xiaomei, sang pengacara.

Sanfu membacanya, dan semuanya menjadi jelas.

Jam tangan itu adalah hadiah darinya, sebagai ucapan selamat untuk ulang tahun Xiaomei sekaligus tanda terima kasih karena Sanfu telah mempercayai hukum, bukannya kekerasan.

Di akhir surat, Chen Xiaomei menulis: “Terimalah ini sebagai hadiah kecil dariku. Semoga kalian berdua bahagia selamanya.”

Malam itu, Liu Sanfu memeluk jam pemberian sang pengacara, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, dia merasa dunia masih memiliki banyak kebaikan—hanya saja, kadang dia datang lewat jalan yang tak terduga.

Trump “Bekerja” Sambil Menggendong Cucunya yang Berusia 6 Bulan, Adegan Mengharukan yang Dipuji

EtIndonesia. Pada perayaan Hari Thanksgiving baru-baru ini, putri bungsu Donald Trump, Tiffany Ariana Trump, mengunggah foto ayahnya sedang menggendong cucunya yang berusia 6 bulan sambil bekerja melalui platform X. Momen tersebut terlihat hangat dan langsung mendapat banyak pujian dari netizen.

Dalam foto tersebut, Trump tampak memegang cucu kecilnya dengan satu tangan sambil melihat sesuatu di ponselnya. Topi yang ia kenakan bertuliskan “Everything Trump Says Is Right” (Semua yang dikatakan Trump adalah benar). Bayi kecil bernama Alexander, yang duduk di pangkuan kakeknya, menarik kerah baju sang kakek dengan tangan mungilnya — ekspresinya sangat menggemaskan. Tiffany menulis:  “Kakek dan Alexander sedang bekerja keras.”

Unggahan tersebut telah ditonton 2,7 juta kali dan mendapat lebih dari 3.200 komentar. Netizen ramai memuji:

 “Lucu sekali”, “Alexander benar-benar menggemaskan”, “Trump adalah kakek yang baik”, “Luar biasa, saya suka bahwa Presiden selalu meluangkan waktu untuk anak-anak.”

Ada pula komentar bercanda:  “Ini adalah manfaat tambahan bagi Presiden Trump — mengurus bayi di sela-sela bermain golf.”

Seorang netizen menulis penuh kesan:  “Saat Presiden Trump memposting beberapa unggahan terbaiknya, dia sedang menggendong seorang anak kecil yang mengingatkan kita mengapa kita berjuang. Foto yang luar biasa!”

Alexander adalah cucu ke-11 Trump. Putra sulung Trump, Donald Trump Jr., memiliki 5 anak; putrinya Ivanka memiliki 3 anak; putra keduanya Eric memiliki 2 anak. Alexander adalah anak pertama Tiffany dan suaminya Michael Boulos.

Tiffany adalah lulusan Fakultas Hukum Universitas Georgetown, pernah hadir di Konvensi Nasional Partai Republik, tetapi ia dikenal lebih rendah profil dibanding saudara-saudaranya dan jarang terlibat langsung dalam kegiatan politik ayahnya. Karena itu, ia sering disebut sebagai “putri Trump yang terlupakan”.

Trump sendiri kerap terlihat berkumpul dengan cucu-cucunya meskipun jadwalnya padat. Pada bulan Juli, setelah menyelesaikan kunjungan ke Skotlandia dan kembali ke Amerika Serikat, sebuah momen hangat terekam saat Trump memegang tangan dua cucunya.

Akun resmi Gedung Putih di X mengunggah video “perjalanan kakek bersama dua cucu”. Dalam video itu, Trump memegang tangan cucunya yang berusia 12 tahun, Spencer, dengan satu tangan, dan cucunya yang berusia 11 tahun, Chloe, dengan tangan lainnya. Sang cucu perempuan tampak tersenyum cerah sambil berbincang dengan kakeknya. Unggahan tersebut menulis:
“Sebanyak apa pun perjanjian dagang atau perdamaian yang diraih, pada akhirnya dia tetaplah seorang kakek.” (Hui)

Inggris dan Norwegia Bentuk Armada Gabungan untuk Memantau Operasi Kapal Selam Rusia di Atlantik Utara

EtIndonesia. Inggris dan Norwegia sedang bersiap untuk menandatangani perjanjian pertahanan yang akan membentuk armada angkatan laut gabungan untuk memantau operasi kapal selam Rusia di Atlantik Utara, lapor The Independent.

Detail Perjanjian

Tujuan pakta ini adalah untuk melindungi kabel dan pipa internet bawah laut yang semakin rentan akibat meningkatnya aktivitas Rusia.

Menurut Kementerian Pertahanan Inggris, jumlah kapal Rusia di dekat Inggris telah meningkat sebesar 30% selama dua tahun terakhir.

Dokumen tersebut diperkirakan akan ditandatangani dalam pertemuan antara Perdana Menteri Keir Starmer dan Perdana Menteri Norwegia, Jonas Gahr Støre di sebuah pangkalan militer di Skotlandia.

Perjanjian ini dinamai Perjanjian Lunna House, diambil dari nama sebuah pangkalan bersejarah di Kepulauan Shetland. Dasar pakta ini adalah kontrak pembangunan kapal militer senilai 13,3 miliar dolar.

Armada baru dan tugasnya

Sebagaimana dinyatakan dalam artikel, kapal-kapal baru ini dimaksudkan untuk memastikan kendali atas pergerakan armada Rusia di perairan antara Greenland, Islandia, dan Britania Raya.

Kapal-kapal ini akan melindungi kabel dan pipa bawah laut yang penting bagi sistem komunikasi, pasokan energi, dan pengiriman gas.

Berdasarkan perjanjian tersebut, Britania Raya juga akan bergabung dengan program Norwegia untuk mengembangkan kapal pangkalan bagi sistem nirawak yang digunakan dalam penanggulangan ranjau dan peperangan bawah laut.

Signifikansi strategis

Selain itu, marinir Britania Raya akan menjalani pelatihan di Norwegia untuk beroperasi dalam kondisi musim dingin yang sulit, dan kedua negara akan memperluas kerja sama dalam penggunaan torpedo Sting Ray dan latihan gabungan.

Aspek lain yang akan dikaji adalah pengembangan sistem otonom NATO di High North.

Perdana Menteri Keir Starmer menekankan pentingnya kemitraan baru ini.

“Di tengah ketidakstabilan global yang mendalam ini, dengan semakin banyaknya kapal Rusia yang terdeteksi di perairan kita, kita harus bekerja sama dengan mitra internasional untuk melindungi keamanan nasional kita. Perjanjian bersejarah dengan Norwegia ini memperkuat kemampuan kita untuk melindungi perbatasan dan infrastruktur penting yang diandalkan negara kita,” tegasnya.

Dilaporkan juga bahwa Angkatan Laut Kerajaan akan menerima rudal serang angkatan laut Norwegia canggih yang mampu mencapai target pada jarak lebih dari 100 mil.

Apa yang terjadi sebelumnya

Pada bulan Oktober tahun lalu, sebuah kapal Rusia yang membawa kargo berbahaya memasuki Selat Inggris dan kemudian digambarkan sebagai “bom terapung”.

Pada bulan Januari 2025, Inggris kembali mendeteksi aktivitas Rusia di selat tersebut, termasuk sebuah kapal intelijen Rusia. Dan pada bulan November, Menteri Pertahanan John Healey menyatakan bahwa kapal Rusia lainnya berada di lepas pantai Skotlandia, kemungkinan sedang mengumpulkan data tentang infrastruktur bawah laut, dan sedang dipantau. (yn)

Istri yang Cerdas

EtIndonesia. Dahulu kala, ada seorang buruh tani yang bekerja di rumah seorang tuan tanah kaya. Menjelang akhir tahun, buruh itu pun datang meminta upah setahun kerjanya. 

Tuan tanah berkata: “Uang bisa saja kuberikan, tapi ada tiga hal yang harus kamu lakukan dulu. Jika kamu berhasil, aku akan membayar dua kali lipat upahmu. Tapi kalau tidak bisa, sehari pun aku tidak akan membayarmu.”

Buruh itu bertanya: “Tiga hal apa itu?”

Tuan tanah menjawab : “Pertama, kamu harus membelikan aku seekor sapi yang beratnya sebesar gunung. Kedua, kamu harus membelikan kain yang bisa menutupi seluruh langit. Ketiga, kamu harus membawakan arak sebanyak air di sungai.”

Mendengar itu, si buruh hanya bisa menghela napas panjang dan pulang dengan lesu.

Istri Mulai Curiga

Sampai di rumah, sepanjang hari buruh itu tak berkata apa-apa. Dipanggil makan istrinya pun dia tak mau.

Istrinya heran dan bertanya lembut :  “Kamu seharian diam saja, bahkan tidak mau makan. Ada apa? Katakan, biar kita pikirkan bersama.”

Buruh itu pun menceritakan semuanya: tiga syarat mustahil yang diminta tuan tanah.

Istrinya mendengarkan dengan tenang, lalu tersenyum tipis:  “Itu sebetulnya mudah. Sekarang makan dulu. Besok, kamu bawa tiga benda ini: satu timbangan, satu penggaris, dan satu kendi arak.”

Dia melanjutkan: “Kau bilang pada tuan tanah: sebelum kamu membeli sapi seberat gunung, minta dia menimbang dulu berapa berat gunung itu.  Kalau dia ingin kain selebar langit, minta dia ukur dulu dengan penggarismu seberapa luas langit itu. Dan kalau dia ingin arak sebanyak air di sungai, minta dia tuangkan dulu air sungai dengan kendi itu untuk tahu berapa banyak yang harus dibeli.”

Buruh itu langsung cerah wajahnya. Benarlah, istrinya jauh lebih cerdik daripada dirinya.

Tuan Tanah Tak Berkutik

Keesokan harinya, si buruh membawa timbangan, penggaris, dan kendi arak ke rumah tuan tanah.

Dia berkata: “Soal sapi seberat gunung, saya bisa belikan. Tapi tolong, tuan timbang dulu gunung itu menggunakan timbangan ini, supaya saya tahu berapa berat sapi yang harus saya beli.”

Tuan tanah langsung melongo, matanya membesar. Lama dia terdiam, lalu akhirnya menyerah: “Baik… yang satu itu tak usah.”

Buruh itu kemudian mengeluarkan penggaris dan kendi.

Dia berkata: “Tuan ingin kain selebar langit, maka tolong ukur dulu besar langit dengan penggaris ini.  Dan kalau tuan ingin arak sebanyak air sungai, tolong ukur dulu berapa kendi air di sungai dengan kendi ini, supaya saya tahu harus membeli sebanyak apa.”

Tuan tanah terdiam. Wajahnya merah padam, mulutnya terbuka tapi tak ada kata keluar.

Akhirnya, dia pun menyerah total. Dia mengambil dua tahun upah dan memberikannya kepada si buruh, sambil menahan malu yang amat sangat.

Akhir Cerita

Orang-orang pun berkata:  “Buruh itu tidak kaya, tapi ia memiliki istri yang sangat cerdik. Dan itu lebih berharga daripada harta.”

Banjir-Longsor di Asia Selatan dan Asia Tenggara Tewaskan Lebih dari 1.300 Orang — Operasi Penyelamatan Terus Dipercepat

Serangkaian badai mematikan melanda Asia Tenggara dalam beberapa hari terakhir. Hingga Selasa (2 Desember), Sri Lanka mencatat sedikitnya 410 korban tewas, sementara banjir dan tanah longsor di Indonesia, Malaysia, dan Thailand menewaskan lebih dari 900 orang. Ratusan ribu warga harus mengungsi

EtIndonesia. Pada Jumat lalu, siklon mematikan “Ditwah”  menghantam Sri Lanka, memicu tanah longsor dan menyebabkan banjir terburuk dalam sepuluh tahun terakhir. Hingga Selasa (2 Desember), tercatat sedikitnya 410 orang tewas, 336 orang hilang, dan sekitar 1,2 juta orang terdampak.

Pemerintah mengerahkan buldoser dan ekskavator untuk membersihkan jalan demi memastikan makanan dan bahan bakar bisa mencapai wilayah bencana. Pejabat juga mengatakan bahwa pemulihan jaringan komunikasi dan listrik sedang berlangsung, setelah angin kencang memutus kabel listrik yang menyebabkan pemadaman di sejumlah wilayah.

Indonesia juga terdampak parah. Di Pulau Sumatera, banjir dan tanah longsor akibat siklon tropis dan hujan monsun menyebabkan 776 orang meninggal dunia dan  564 orang masih hilang per Kamis (4/12/2025). Banjir-longsor  di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat menyebabkan 10.400 rumah rusak dengan 50 Kabupaten/Kota yang terdampak. 

Seorang warga berusia 57 tahun, Abdul Ghani, selamat karena sedang bekerja ketika banjir datang. Namun saat pulang, ia mendapati rumahnya tersapu banjir dan istrinya hilang. Anak tunggal mereka meninggal tujuh tahun lalu. Selama beberapa hari, ia terus membawa foto istrinya untuk mencari keberadaannya.

Warga terdampak di Sumatera, Abdul Ghani, berkata:  “Saya hanya berharap bisa menemukan istri saya, meskipun hanya sepotong tulang tangannya, asalkan saya bisa mengenalinya, itu sudah cukup.”

 “Sekarang saya sendirian. Tidak ada anak, tidak ada istri. Apa yang harus saya lakukan?”

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan lebih dari 10.400 rumah rusak, dan sekitar 3,2 juta jiwa terdampak. Pemerintah sedang memperbaiki jalan, jembatan, dan fasilitas komunikasi yang terputus .Catatan BNPB, 378 fasilitas umum rusak, 144 tempat ibadah rusak, 105 gedung/kantor rusak, 225 fasiltias pendidikan rusak dan 225 jembatan rusak. 

Badai ini juga melanda Malaysia, menyebabkan setidaknya 3 orang tewas, sementara Thailand mencatat 181 korban jiwa. Badan bencana Malaysia memperingatkan bahwa gelombang banjir kedua dan ketiga masih mungkin terjadi dan perlu diwaspadai.

Semua bencana ini terjadi setelah Asia Tenggara mengalami cuaca ekstrem selama beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, Filipina dan Vietnam juga dihantam topan, dan sejumlah wilayah lain mengalami banjir berkepanjangan. (Hui)

Laporan dari Liu Jiajia, NTD Television, Amerika Serikat

“Jembatan Merah” yang Mencolok Terlihat di Langit Hong Kong, Menunjuk ke Arah Api dan Memicu Spekulasi 

Pada 26 November 2025, terjadi kebakaran besar tingkat lima di kompleks perumahan Wang Fuk Court, Tai Po, Hong Kong, yang menimbulkan ratusan korban luka dan hilang. Pada hari yang sama, langit Hong Kong muncul fenomena langka: sebuah garis awan panjang berwarna jingga kemerahan yang melintang di langit dan tampak mengarah ke lokasi kebakaran, memicu banyak pembahasan dan berbagai interpretasi.

EtIndonesia. Pada 26 November 2025 sore, warga di daerah Sha Tin, Tai Wai, Kowloon Tong, Kwun Tong, Tuen Mun, Central, Nathan Road, Kai Tak, Kwai Hing, Yuen Long, Tai Po, Shek Kip Mei, Causeway Bay, dan Hong Kong Disneyland, memotret awan panjang tersebut yang tampak seperti “jembatan pelangi”, lalu mengunggahnya ke media sosial “Threads”, hingga menjadi topik diskusi hangat.

“Awan oranye-merah” di sepanjang Nathan Road. (Sumber: pengguna Threads)

Dari video dan foto yang diunggah, awan itu tampak sangat tipis, garisnya rapi, tepinya tajam, dan ketebalannya merata — sangat berbeda dari awan kumulonimbus biasa. Netizen berkomentar:

  • “Mirip naga api…”
  • “Dari Tuen Mun sampai Kwun Tong juga terlihat.”
  • “Melihat komentar semua orang, cahaya ini sepertinya membentang melintasi seluruh Hong Kong. Semoga Hong Kong dilindungi dan aman.”

Ada pula yang berkomentar:

  • “Jika bisa melayang sejauh ini, pasti terjadi bencana besar.”
  • “Ada banyak arwah tak tenang.”
  • “Indah dilihat, tapi penyebabnya sangat menyedihkan.”
  • “Di sekitar Tai Po saat itu belum tahu ada kebakaran, tidak ada yang memperhatikan asap hitam.”

Warga lainnya menuliskan harapan:

  • “Semoga turun hujan lebat untuk membantu memadamkan api, semoga semua orang bisa dievakuasi dengan selamat.”
  • “Diambil gambar dari Kwai Hing, baru sekarang tahu itu karena kebakaran di Tai Po. Semoga yang meninggal dapat menyeberang ke sisi lain ‘jembatan pelangi’ tanpa rasa sakit, dan yang hidup bisa segera pulih.”

Ada pula yang menuliskan:

  • “Saya melihatnya saat menonton konser orkestra di Central. Waktu itu pikir hanya fenomena langit yang cantik, saya banyak mengambil foto (belum baca berita). Setelah tahu itu karena Tai Po, rasanya benar-benar sedih.”
  • “Benar-benar membuat seseorang menangis memikirkan kota ini.”

Beberapa netizen menjelaskan bahwa pada sore hari, bangunan yang terbakar menghasilkan asap pekat dalam jumlah besar. Dengan pengaruh angin permukaan dan angin di ketinggian, asap itu tertarik menjadi pita panjang, kemudian terkena cahaya matahari senja sehingga tampak berwarna merah muda hingga jingga kemerahan.

“Awan oranye-merah” di sepanjang Nathan Road. (Sumber: pengguna Threads)

Namun ada juga netizen yang mengaitkannya dengan makna spiritual: “jembatan jiwa”, “jembatan bagi arwah yang telah pergi”. Sebagian lainnya mengutip teks kuno seperti “Huainanzi · Tianwenxun” tentang fenomena “cahaya merah melintasi bulan”, yang dianggap sebagai pertanda buruk.

Pada 26 November malam, pengguna “lifeandstars64” memposting bahwa “cahaya merah menembus bulan adalah pertanda bencana”. Ia mengutip catatan kuno:

 “Pelangi atau cahaya merah di langit adalah pantangan bagi langit.”
Dalam tradisi kuno, kekuatan tidak harmonis seperti “pelangi merah” dianggap sebagai tanda datangnya perang, kebakaran besar, atau keresahan rakyat.

“Awan oranye-merah” di sepanjang Nathan Road. (Sumber: pengguna Threads)

Catatan kuno lainnya, seperti Jingshi Dui Zaiyi, menyebutkan:
“Jika pelangi merah muncul dekat matahari, ada menteri yang berkhianat; jika menembus matahari, tamu mengalahkan tuan.”
Jika cahaya merah melintasi bulan, diartikan sebagai pertanda bencana besar bagi dunia manusia.

Kebakaran di  Wang Fuk Court terjadi pada 26 November pukul 14.51. Asap tebal membubung tinggi, dan api terus membara selama lebih dari 43 jam. Api baru benar-benar padam sekitar pukul 10 pagi pada 28 November. Hingga 2 Desember, kebakaran telah menyebabkan setidaknya 156 orang tewas, termasuk seorang petugas pemadam kebakaran, dan sekitar 30 orang masih hilang. (Hui-

Sumber : NTDTV.com

Video: Jet F-16 Angkatan Udara AS Jatuh dan Terbakar Saat Latihan di California

EtIndonesia. Sebuah pesawat tempur F-16C Fighting Falcon milik Angkatan Udara AS, Thunderbird, jatuh saat menjalani misi latihan di gurun California Selatan. Pilotnya selamat dari kecelakaan tersebut setelah berhasil melontarkan diri dengan selamat, menurut pernyataan Angkatan Udara AS.

Pernyataan singkat dari Angkatan Udara tidak memberikan detail mengenai penyebab kecelakaan tersebut, tetapi menyatakan bahwa insiden tersebut sedang diselidiki, dan informasi lebih lanjut akan dirilis oleh Kantor Hubungan Masyarakat Wing ke-57.

Sebuah video kecelakaan tersebut dibagikan secara luas di media sosial, menunjukkan pilot melakukan ejeksi tepat waktu sementara jet tempur tersebut perlahan-lahan melayang ke tanah. Pesawat tersebut terbakar setelah menyentuh tanah.

Menurut Angkatan Udara AS, kecelakaan itu terjadi sekitar pukul 10.45 pagi pada hari Rabu (3/12) saat menjalani misi latihan “di atas wilayah udara terkendali di California”.

Jet tersebut ditugaskan ke tim demonstrasi elit Angkatan Udara yang berbasis di Pangkalan Angkatan Udara Nellis, menurut laporan Los Angeles Times.

Pilot tersebut mengalami cedera “yang tidak mengancam jiwa” saat terlempar keluar dan sedang dirawat di rumah sakit, menurut Dinas Pemadam Kebakaran Wilayah San Bernardino.

Dalam sebuah pernyataan, Dinas Pemadam Kebakaran Wilayah San Bernardino mengatakan pihaknya menanggapi “keadaan darurat pesawat” di dekat Trona, sebuah komunitas terpencil di Gurun Mojave, sekitar 290 kilometer di utara Los Angeles.

Dibentuk pada tahun 1953, Thunderbirds berlatih secara musiman di Pangkalan Angkatan Udara Nellis dekat Las Vegas. Mereka menampilkan formasi rapat mereka yang terkenal di pertunjukan udara dan berlatih untuk terbang dalam jarak beberapa inci dari satu sama lain. (yn)

Kasus Kekerasan Fatal Terjadi di Songyuan, Jilin, Tiongkok — Tersiar Kabar Pelaku Berkeliaran dan Menghabisi 9 Orang

Pada 2 Desember 2025, beredar kabar di internet bahwa di Kota Songyuan dan Kota Baicheng, Provinsi Jilin, Tiongkok, terdapat seorang pelaku yang berkeliaran dan membunuh banyak orang. Menurut laporan pihak berwenang setempat, Songyuan mengalami sebuah “kasus kekerasan serius”. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa pelaku melakukan perampokan dan melukai orang, kemudian mulai berkeliaran dan melakukan pembunuhan acak, membuat warga Songyuan dan daerah sekitar Baicheng hidup dalam ketakutan.

EtIndonesia. Pada 2 Desember 2025, sebuah “pemberitahuan pencarian” dari Biro Keamanan Publik Kabupaten Tongyu, Baicheng, Tiongkok tersebar luas di internet. Pemberitahuan itu menyatakan bahwa baru-baru ini terjadi kasus kekerasan di Kabupaten Changling, Songyuan, dan tersangka bernama Yao (laki-laki, 34 tahun) sedang dalam pelarian.

Warga Songyuan mengungkapkan bahwa pada hari yang sama, pelaku telah membunuh sembilan orang secara beruntun.

Berdasarkan video dan laporan yang beredar, daerah Tongyu di Baicheng serta Kabupaten Qian’an di Songyuan telah melakukan operasi besar-besaran untuk mendirikan pos pemeriksaan dan memburu pelaku. Pihak komunitas mengingatkan warga untuk tetap waspada dan tidak membuka pintu kepada orang asing.

Kepolisian setempat mengeluarkan surat pemberitahuan yang meminta bantuan dalam penyelidikan. (Gambar dari internet)

Beberapa sumber menyebutkan bahwa pada 2 Desember pukul 07.00 pagi, pelaku membunuh satu orang di kawasan permukiman Longhai Xincheng di Tongyu. Ada juga kabar lain yang mengatakan bahwa pelaku “sudah melarikan diri ke Kabupaten Qian’an”.

Menurut rumor yang disebarkan warga, pada 1 Desember pelaku melakukan “perampokan dan pembunuhan di dalam rumah” di Kabupaten Changling, kemudian mulai “melampiaskan dendam kepada masyarakat”. 

Ada pula laporan yang menyebutkan bahwa pelaku tertangkap saat sedang mencuri, tetapi karena polisi tidak kompeten, pelaku berhasil melarikan diri dan melukai pemilik rumah dengan pisau. Setelah itu, pelaku mulai berkeliaran dan membunuh orang secara acak.

Komunitas di beberapa lokasi telah mengeluarkan imbauan kepada warga untuk selalu waspada. (Tangkapan layar)

Selain itu, pada 2 Desember, sebuah video berdurasi sekitar 10 menit juga beredar di internet, menampilkan pelaku sedang melakukan panggilan video dengan temannya saat melarikan diri.

Dalam video tersebut, ia mengatakan bahwa dirinya membawa “dua sampai tiga pisau”, bahwa ini adalah kontak terakhirnya dengan luar, dan setelah itu ia akan mematikan ponselnya. Ia mengklaim, “Polisi tidak akan bisa menemukan saya dalam lima hari”, dan “Kalau saya mau bersembunyi, satu atau dua bulan pun mereka tidak akan menemukan saya.”

Namun, ada kabar lain yang menyebutkan bahwa pelaku sudah ditangkap di area pertanian Desa Daozi, Kabupaten Qian’an. Tetapi kebenaran kabar ini belum dapat dipastikan, bahkan beberapa netizen mencurigai bahwa ini mungkin kabar palsu yang dibuat oleh pihak berwenang demi menjaga stabilitas.

Hingga kini, pihak resmi Tiongkok belum mengeluarkan pengumuman publik terkait insiden ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, ketika ekonomi Tiongkok terus menurun, peristiwa bunuh diri, kekerasan ekstrem, teror, dan pembunuhan acak semakin sering terjadi. Namun pihak berwenang berupaya keras menutup-nutupi informasi terkait kejadian-kejadian tersebut. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Menjadi Orang yang Mau Berusaha

EtIndonesia. Banyak orang menetapkan target hidup yang terlalu tinggi dan terlalu berorientasi pada hasil. Ketika gagal mencapainya, mereka pun merasa terpuruk, kehilangan semangat, lalu akhirnya menyerah. Penyebabnya sederhana: mereka terlalu fokus pada memiliki, dan mengabaikan satu hal yang jauh lebih penting — menjadi seorang yang mau berusaha.

Untuk anak-anak zaman sekarang, jika orang dewasa hanya menekankan “kelak kamu harus menjadi orang hebat,” tetapi tidak menanamkan pentingnya karakter dan keteguhan hati, maka akhirnya kita hanya akan membesarkan pribadi yang sempit, egois, rapuh, dan berhenti berkembang. Sayangnya, hal ini masih sangat kurang diperhatikan dalam pendidikan modern.

Saya Pernah Melihatnya Sendiri

Suatu kali, dalam sebuah acara, pembawa acara bertanya kepada seorang anak laki-laki kecil: “Kalau sudah besar, kamu mau jadi apa?”

Anak itu melirik kami — para pengusaha — lalu menjawab lantang: “Mau jadi pengusaha!”

Semua orang langsung tertawa senang dan bertepuk tangan. Saya ikut tersenyum, tapi hati saya justru merasa tidak nyaman.

Anak itu sebenarnya tahu apa tentang “pengusaha”?  Atau dia hanya mengatakan itu karena kami ada di depan matanya? Atau karena dia terpengaruh orang dewasa yang mengagungkan nama besar dan kekayaan? Tidak ada yang tahu. Tapi satu hal pasti: dalam menentukan arah hidup, yang terpenting bukan mau jadi apa — melainkan mau menjadi orang yang mau berusaha.

Ketika Saya Masih Kecil

Dulu saya juga pernah ditanya hal yang sama. Jawaban saya berkisar antara: guru, tentara, atau ilmuwan.

Tetapi setelah lebih dari dua puluh tahun berlalu, tidak satu pun dari cita-cita masa kecil itu yang menjadi kenyataan. Begitu pula dengan banyak orang di sekitar saya.

Ada yang dulu bercita-cita menjadi guru, tetapi akhirnya membuka usaha sendiri. Ada yang ingin jadi tentara, tetapi malah menjadi tahanan.

Dua sahabat kuliah saya — kini keduanya adalah tokoh besar di industri elektronik Tiongkok: satu menjadi pimpinan Konka Group, satu lagi menjadi pemimpin TCL Group.

Kami bertiga tak pernah membayangkan bahwa nasib akan membawa kami ke posisi seperti sekarang. Semua itu bukan karena kami punya impian besar sejak awal, melainkan karena satu hal — kami selalu berusaha keras di setiap langkah.

Dengan kata lain, mungkin kami bukan orang yang “penuh mimpi,” tetapi kami adalah orang-orang yang tidak pernah berhenti berusaha.

Impian Itu Mudah, Usaha Itu Sulit

Bukan berarti impian tidak penting. Tapi sejak zaman dahulu, semua orang tahu: bermimpi itu mudah, berusaha itu sulit.

Siapa yang menyangka, sepuluh tahun sebelum hari ini, saya pernah menjadi seorang pengangguran yang kebingungan di jalanan?  Saat itu saya tidak punya apa-apa. Masa depan terasa sangat gelap.

Namun satu hal menyelamatkan saya: kemauan untuk bangkit setiap kali jatuh.

Ketika banyak orang mengira saya sudah selesai, saya terus mencoba berdiri lagi. Saya percaya hidup itu seperti permainan bola oleh Maradona: sering kali gol tercipta justru ketika seseorang sudah hampir jatuh.

Dan benar saja — ketika saya merasa jalan sudah benar-benar buntu, sebuah perusahaan di Hong Kong bangkrut dan membuka peluang bagi saya untuk bangkit kembali. Dari situlah saya bisa bekerja sama dengan para ahli teknologi Inggris dan mengembangkan televisi berwarna yang canggih. Sejak saat itu, hidup saya berubah.

Usaha & Kepemilikan — Dua Pemandangan Hidup

Ada yang mengatakan, “berusaha” dan “memiliki” adalah dua pemandangan hidup yang tak bisa dipisahkan.

Namun menurut saya, pemandangan terbaik dalam hidup bukanlah “memiliki,” melainkan berusaha.

  • Berusaha adalah kondisi jiwa yang indah.
  • Berusaha adalah penghormatan kita pada hidup.
  • Berusaha adalah ibu dari semua kepemilikan.

Jika seseorang hanya ingin mendapatkan, hidupnya akan sempit. Tetapi jika seseorang memilih untuk berusaha, jalan hidupnya akan terbuka lebar.

Daripada memaksakan diri harus jadi “orang besar”, atau harus mendapatkan sesuatu, lebih baik melatih diri menjadi seseorang yang tidak pernah berhenti berusaha.

Sebab:

  • Cita-cita setinggi apa pun tak akan bertahan tanpa usaha.
  • Tanpa tujuan besar pun, usaha akan membimbing kita menemukan arah.
  • Menjadi seseorang yang mau berusaha adalah tujuan hidup yang paling realistis sekaligus yang paling bermakna. (jhn/yn)