Hasil Uji Coba Norwegia Mengejutkan Eropa: Bus Buatan Tiongkok Ternyata Bisa Dikendalikan dari Jarak Jauh

EtIndonesia. Semakin banyaknya peralatan buatan perusahaan Tiongkok yang digunakan dalam infrastruktur publik Eropa mulai menimbulkan kekhawatiran serius.

Temuan terbaru dari Ruter, operator transportasi publik terbesar di Norwegia membuat seluruh benua tercengang: bus buatan produsen Tiongkok, Yutong Group, ternyata dapat dikendalikan dari jarak jauh.

Uji Coba dilakukan di Tambang Bawah Tanah — Seharusnya Tidak Ada Sinyal Masuk

Tes ini dilakukan di dalam sebuah terowongan tambang bawah tanah, dengan tujuan memutus seluruh sinyal eksternal. Dua kendaraan diuji:

  • Bus terbaru buatan Yutong Group
  • Bus buatan perusahaan Belanda VDL, diproduksi tiga tahun lalu

Hasilnya mencolok:

Bus VDL tidak memiliki fitur koneksi jarak jauh.

Bus Yutong terbukti dapat terhubung dan dikendalikan dari jarak jauh, memungkinkan pembaruan perangkat lunak maupun kontrol sistem secara remote.

Secara teori, ini berarti operasional bus dapat diambil alih kapan saja melalui kendali eksternal.

Ruter: Fokus Beralih dari Kekhawatiran ke Penguatan Sistem Keamanan

CEO Ruter, Bernt Reitan Jenssen, mengatakan: “Setelah tes ini, perhatian kami bergeser dari kekhawatiran awal menjadi bagaimana menerapkan sistem keamanan yang konkret, agar kami terlindungi dari kendali jarak jauh yang tidak diperlukan atau potensi peretasan.”

Ruter mengumumkan bahwa mereka akan:

  • Menerapkan prosedur keamanan yang lebih ketat
  • Mengembangkan firewall khusus untuk memastikan semua fungsi tetap berada dalam kontrol lokal. 
  • Mencegah akses siber dari pihak luar. 

Denmark dan Inggris Mulai Menyelidiki Bus Buatan Tiongkok

Setelah hasil pengujian dipublikasikan, Denmark dan Inggris segera menindaklanjuti dengan menyelidiki kendaraan buatan perusahaan Tiongkok.

Di Inggris, anggota parlemen Kearns memperingatkan dalam debat tentang “Ancaman Keamanan Nasional dari Tiongkok”:

“Norwegia dan Denmark mengingatkan kita bahwa bus listrik buatan Tiongkok dilengkapi sakelar pemutus ganda. Pemerintah Tiongkok bisa mengaktifkan sakelar ini untuk menghentikan bus dan menciptakan kekacauan dalam sistem transportasi.”

Kekhawatiran Eropa Meluas ke Sektor Energi dan Telekomunikasi

Temuan ini semakin memperkuat kecemasan Eropa terhadap meningkatnya penggunaan perangkat buatan perusahaan Tiongkok dalam infrastruktur vital seperti energi dan telekomunikasi.

Bulan lalu, sekitar 30 anggota Parlemen Eropa menulis surat kepada pejabat tinggi keamanan siber dan energi Uni Eropa, mendesak pengurangan ketergantungan pada inverter buatan Tiongkok.

Mereka memperingatkan bahwa inverter—alat yang menghubungkan panel surya ke jaringan listrik—dapat dimanfaatkan untuk mengacaukan sistem tenaga listrik dan mengancam keselamatan publik. (jhon)

Fokus pada Masa Depan New York: Pertemuan “Mencairkan Suasana” antara Trump dan Mamdani di Gedung Putih

EtIndonesia. Jumat siang, 21 November, Wali Kota terpilih New York, Zohran Mamdani, mengadakan pertemuan tertutup dengan Presiden Donald Trump di Oval Office, Gedung Putih. Dalam wawancara sebelumnya, Trump menegaskan bahwa meski keduanya memiliki pandangan berbeda, mereka tetap berbagi tujuan yang sama: membuat New York menjadi kota yang lebih baik.

Menariknya, sesaat sebelum pertemuan berlangsung, DPR AS meloloskan sebuah resolusi bertajuk “Mengutuk Terorisme Sosialisme”. Di luar itu, dua kalkun yang akan mendapat pengampunan presiden pada pekan depan sudah resmi diberi nama melalui pemungutan suara publik.

Berikut laporan koresponden New Tang Dynasty Television di Washington, Zhang Liang dan Ren Hao.


Trump–Mamdani Bahas Kerja Sama Urusan Publik New York

Zhang Liang, Reporter NTD di Washington melaporkan : “Siang ini, Presiden Trump menerima Wali Kota terpilih New York, Mamdani, di Gedung Putih. Sebelumnya, Trump pernah mengkritik Mamdani sebagai seorang ‘komunis’, sehingga keduanya dikenal memiliki perbedaan pandangan politik yang sangat tajam. Namun Trump mengaku sangat mencintai New York—kota tempat ia lahir dan dibesarkan—sementara Mamdani dalam kampanyenya menekankan peningkatan kualitas hidup warga. Karena itu, fokus pertemuan hari ini adalah isu-isu kesejahteraan publik, seperti perumahan, infrastruktur, dan keamanan.”

Trump: “Kami memiliki tujuan yang sama: membuat New York lebih baik”

Trump menyebut pertemuan itu berjalan sangat produktif.

Donald Trump, Presiden AS:  “Kami baru saja mengadakan pertemuan yang sangat baik—sungguh positif dan produktif. Kami memiliki tujuan bersama: kami ingin kota yang kami cintai ini berkembang lebih baik.”

Trump mengaku terkejut dengan isi diskusi tersebut.

Trump mengatakan Mamdani ingin menekan angka kejahatan, memperbanyak pembangunan rumah, dan menurunkan harga sewa—tujuan-tujuan yang Trump nilai baik. Meskipun metode pencapaiannya mungkin berbeda, Trump mengaku percaya Mamdani “akan melakukan tugasnya dengan sangat baik”.

Sebelumnya, dalam wawancara telepon dengan Fox News pagi hari, Trump telah mengisyaratkan arah pertemuan ini.

Trump:  “Terus terang saja, sulit bagi saya untuk sepenuhnya bersikap ramah kepada lawan politik. Mereka memenangkan pemilihan ini—kita tahu itu bukan kontestasi yang mudah. Namun pada akhirnya, kita mengejar tujuan yang sama: membuat New York kuat kembali.”

Trump menambahkan bahwa meskipun Mamdani memiliki ideologi yang “berbeda jauh” darinya, ia tetap ingin membahas isu-isu besar yang memengaruhi kehidupan warga New York, terutama soal keamanan kota.

Ia juga menyinggung masalah kejahatan oleh imigran ilegal yang menurutnya perlu ditindak tegas.

Trump:  “Jika di sekitar Anda ada pembunuh, pemerkosa, dan pelaku kriminal lainnya; jika para pengedar narkoba berkeliaran di mana-mana—siapa yang ingin hidup seperti itu? Saya pasti akan membicarakan hal ini (penangkapan imigran ilegal kriminal) dalam pertemuan hari ini.”

Mamdani Melunak Menjelang Pertemuan

Selama kampanye, Mamdani menegaskan bahwa ia tidak akan mengizinkan polisi New York bekerja sama dengan lembaga federal untuk menangkap imigran ilegal.

Mamdani:  “New York akan tetap menjadi kota imigran—dibangun oleh imigran, digerakkan oleh imigran. Mulai malam ini, kota ini dipimpin oleh seorang imigran.”

Namun sehari sebelum bertemu Trump, nadanya mulai lebih moderat.

Mamdani:  “Meski saya memiliki banyak perbedaan pandangan dengan Presiden, kita tetap harus mencari cara terbaik—melalui berbagai forum dan diskusi—agar setiap warga New York mampu tinggal di kota ini.”


DPR AS Sahkan Resolusi Mengutuk “Terorisme Sosialisme”

Sebelum pertemuan Trump–Mamdani, DPR AS mengesahkan resolusi 285–98 suara yang mengecam “kengerian sosialisme”.

Sebelumnya, pada 7 November, Gedung Putih mengumumkan pekan anti-komunisme, menuduh ideologi komunis telah menyebabkan “bencana besar bagi umat manusia” di seluruh dunia.


Menjelang Thanksgiving: Dua Kalkun Akan Diampuni Trump, Nama Dipilih Lewat Voting Publik

Zhang Liang:  “Sesuai tradisi Gedung Putih, Presiden Trump pekan depan akan memberikan grasi pada dua kalkun besar menjelang Hari Thanksgiving. Ibu Negara telah meminta para siswa dari North Carolina mengusulkan empat pasang nama, lalu membuka voting publik untuk menentukan nama kedua kalkun keberuntungan itu.”

Keempat pasang nama tersebut adalah:

Sugar & Spice

Pumpkin & Pie

Gobbles & Wobbles

Acorn & Pumpkin

Pemenangnya adalah Gobbles & Wobbles, dengan 40,6% suara.

Tradisi pengampunan kalkun ini sudah berlangsung sejak lama. Setiap tahun, dua kalkun dipilih untuk “diselamatkan” dari penyembelihan dan diizinkan hidup damai hingga akhir hayat. (jhon)

Sumber : NTDTV.com

Beijing Membidik Jepang untuk Melemahkan Keteguhan Taiwan

Perdana menteri konservatif baru Jepang mengguncang strategi Tiongkok di kawasan Pasifik.

James Gorrie

Seperti sosok yang ia kagumi, mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher, Perdana Menteri Jepang yang baru dan juga perempuan pertama yang memimpin negeri itu, Sanae Takaichi, tidak gentar mengguncang dinamika di kawasan Asia-Pasifik. Sejumlah kebijakan luar negeri barunya membuat Beijing gelisah—dan ada alasan kuat di balik itu.

Akhir dari Pacifisme Jepang

Dengan meningkatnya agresi rezim Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik dalam beberapa tahun terakhir, Tokyo meninjau ulang kebutuhan pertahanan regionalnya dan kini mengambil peran yang jauh lebih aktif dalam mempertahankan diri.

Di bawah kepemimpinan Takaichi, Jepang mulai meninggalkan sikap pasifisme pasca perang dan beralih pada pendekatan yang lebih tegas, menyebut Tiongkok komunis sebagai “tantangan strategis terbesar” bagi Jepang. Ini adalah perubahan besar setelah 80 tahun Jepang bergantung pada jaminan keamanan dari Amerika Serikat.

Situasi itu, menurut pemerintah Jepang, kini sudah tidak lagi memadai.

Peran yang Lebih Aktif dalam Keamanan Regional

Takaichi secara terbuka menyatakan komitmen Jepang untuk mendukung militer Amerika Serikat, termasuk jika terjadi krisis Taiwan apabila Beijing mengambil tindakan terhadap pulau tersebut. Dukungan itu mencakup penyediaan pangkalan militer hingga kemungkinan pengerahan pasukan laut dan darat.

Komitmen itu selaras dengan dorongannya untuk memperkuat militer, meningkatkan belanja fiskal untuk mendorong pertumbuhan, memajukan teknologi fusi nuklir dan keamanan siber, serta memperketat kebijakan imigrasi.

Pendekatan kebijakan luar negeri Jepang kini jauh lebih lugas dan tajam. Pesannya jelas: keamanan Taiwan adalah kebutuhan eksistensial bagi keamanan Jepang.

Pandangan tersebut juga didukung berbagai analis pertahanan di dalam aliansi AS–Jepang, termasuk para peneliti militer Jepang dan lembaga seperti The Heritage Foundation.

Secara keseluruhan, dinamika geopolitik Asia Timur bergerak cepat, dengan Tokyo mengambil peran keamanan regional yang lebih besar sebagai penyeimbang ambisi Beijing terhadap Taiwan dan kawasan sekitarnya.

Reaksi Keras Partai Komunis Tiongkok

Reaksi Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap perubahan kebijakan Jepang yang lebih tegas ini muncul cepat dan keras. Bahkan, Konsul Jenderal Tiongkok di Osaka sempat mengancam akan “memenggal kepala kotor Takaichi”. Unggahan itu kemudian dihapus, namun beberapa hari setelahnya, Kementerian Luar Negeri Tiongkok memposting peringatan agar Jepang “berhenti bermain api dalam isu Taiwan”.

Mengapa Beijing bereaksi seagresif ini? Ada beberapa alasan politik, strategis, dan diplomatik.

Pertama, kebijakan pertahanan Jepang yang baru menghancurkan asumsi strategis Beijing selama ini bahwa Jepang akan tetap diam dan tidak akan ikut campur jika terjadi konflik di Taiwan. Perubahan kebijakan Tokyo meningkatkan risiko besar bagi rencana “penyatuan kembali” Taiwan dengan daratan.

Akibatnya, Taiwan kini merasa lebih percaya diri, dan itu meruntuhkan upaya PKT selama bertahun-tahun untuk melemahkan semangat perlawanan Taipei.

Kedua, Beijing tahu bahwa pulau-pulau di barat daya Jepang dapat menjadi lokasi penting bagi penempatan kekuatan militer AS–Jepang jika terjadi perang Taiwan. Selain itu, pengembangan rudal hipersonik Jepang membuat penempatan pasukan Tiongkok menjadi lebih rentan.

Namun yang paling dikhawatirkan PKT adalah bagaimana Jepang kini secara terbuka mengaitkan keselamatan nasionalnya dengan nasib Taiwan—sebuah strategi yang dapat memperkuat kesatuan politik negara-negara demokratis di kawasan.

Selain faktor strategis, ada juga faktor sejarah dan emosional. PKT kerap menggunakan kenangan kekejaman Jepang di Tiongkok saat Perang Dunia II sebagai alat politik dan propaganda. Karena itu, ketika Jepang mengumumkan peningkatan belanja pertahanan, reorganisasi komando militer, dan pembelian misil jarak jauh, Beijing langsung menuduh Jepang “kembali ke militerisme.”

Jepang Masuk dalam Bidikan Beijing

Kepemimpinan baru di Tokyo kini mengubah keseimbangan kekuatan di Pasifik, dan PKT menyadarinya. Jepang juga melihat Amerika Serikat sebagai mitra yang tak tergantikan, seiring Washington memperkuat strategi Indo-Pasifik dengan peningkatan koordinasi komando, kerja sama industri pertahanan, dan perluasan sistem pertahanan misil bersama.

Kemurkaan Beijing telah meluas ke media dan ancaman ekonomi yang ditujukan langsung ke Jepang. Baru-baru ini, Beijing mengecam pemerintah Jepang karena komentarnya tentang Taiwan, menyebutnya “sangat keliru” dan menuntut agar komentar itu ditarik. PKT juga menggunakan strategi hukuman ekonomi dan politik terhadap Jepang setiap kali Tokyo mengambil posisi yang dianggap “menyimpang” dalam isu Taiwan dan keamanan regional.

Dengan sikap pertahanan yang semakin tegas dalam mendukung Taiwan dan menahan pengaruh PKT di kawasan, Jepang kini resmi menjadi sasaran utama Beijing.

Partai Komunis Tiongkok Gunakan Pusat Online Scam di Myanamar untuk Perluas Pengaruh dan Mencuri Data Warga AS

Antonio Graceffo

Laporan terbaru Komisi AS–Tiongkok menemukan bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) memanfaatkan Pusat Online Scam di Myanmar untuk memperluas pengaruh diplomatik dan keamanan, sekaligus memperoleh data warga Amerika.

Menurut laporan Komisi Tinjauan Ekonomi dan Keamanan AS–Tiongkok 2025 yang dirilis bulan ini, sindikat kriminal Tiongkok telah membangun jaringan pusat penipuan yang sangat luas di Asia Tenggara, dengan Burma sebagai pusat utama saat ini. Kawasan-kawasan tersebut berfungsi sebagai lokasi perbudakan modern, tempat para pekerja yang diperdagangkan paksa menjalankan penipuan asmara, investasi, skema kripto, dan berbagai operasi daring yang menargetkan korban di seluruh dunia.

Industri ini berkembang pesat setelah kudeta militer 2021, terutama di Negara Bagian Karen, Negara Bagian Shan, serta wilayah perbatasan yang lemah kendali pemerintah. Sindikat Tiongkok mengoperasikan sebagian besar pusat ini dari kompleks kasino atau area komersial baru yang dilengkapi jaringan komputer besar dan perangkat Starlink.

Korban dari Tiongkok, Asia Tenggara, Asia Selatan, hingga Afrika direkrut dengan iming-iming pekerjaan, lalu dipenjara, dipaksa bekerja berjam-jam, dan dipukuli atau disiksa bila melawan. Pusat-pusat ini juga menargetkan warga Amerika dan Tiongkok, mencuri puluhan miliar dolar setiap tahun.

Kelompok-kelompok perlawanan bersenjata setempat sangat penting bagi akses Tiongkok terhadap infrastruktur dan bahan mentah dalam proyek-proyek Belt and Road Initiative (BRI). Karena itu, Beijing selama bertahun-tahun menoleransi keberadaan pusat-pusat penipuan ini. Namun, besarnya kerugian finansial yang dialami warga Tiongkok akhirnya menjadi ancaman ekonomi, mendorong Beijing menekan junta Burma—kliennya—untuk menutup operasi tersebut.

Sindikat kriminal kemudian beralih dari menargetkan warga Tiongkok ke warga Amerika, karena lebih menguntungkan dan memicu lebih sedikit tekanan dari Beijing. Pada 2024, Tiongkok melaporkan penurunan kerugian akibat penipuan hingga 30 persen, sementara kerugian di AS melonjak 40 persen. Setelah operasi penindakan yang dipimpin Tiongkok, sindikat di Shwe Kokko mulai merekrut pekerja yang mahir berbahasa Inggris untuk menargetkan warga Amerika dan Eropa.

Pelaku kriminal Tiongkok yang mengendalikan pusat-pusat ini menjalin hubungan—sebagian terbuka, sebagian disangkal—dengan PKT. Dengan mendukung proyek BRI di Burma dan menyebarkan propaganda PKT ke luar negeri, para bos sindikat menjadikan operasi penipuan ini sebagai alat ekspansi diplomatik dan ekonomi Beijing.

Salah satu contoh adalah bos kejahatan Tiongkok Wan Kuok-koi atau “Broken Tooth”. Setelah memimpin triad 14K dan menjalani hukuman 14 tahun penjara, ia membangun kembali jaringannya. Pada 2019, ia bekerja sama dengan Tentara Nasional Karen, kelompok etnis bersenjata yang sejalan dengan junta, untuk membangun Zona Dongmei—yang awalnya dipromosikan sebagai tujuan wisata tetapi kemudian berubah menjadi pusat penipuan.

Ketika Wan memperluas jaringan kriminalnya, ia memoles citranya sebagai pendukung PKT. Pada 2017, ia mendirikan World Hongmen History and Culture Association di Kamboja, yang menyebarkan narasi PKT terkait isu Hong Kong dan Taiwan. Wan bahkan mengatakan, “Dulu saya berjuang untuk kartel, sekarang saya berjuang untuk PKT,” sambil mengalirkan keuntungan penipuan ke bisnis di Tiongkok, termasuk real estat dan konstruksi, menurut laporan Komisi AS–Tiongkok. Beijing tidak mengambil tindakan apa pun terhadapnya—tanda bahwa PKT siap menoleransi kelompok kriminal yang mendukung agenda besarnya.

PKT juga memanfaatkan isu pusat penipuan sebagai alasan untuk menempatkan aparat keamanan mereka di kawasan. Strategi “dari dalam ke luar” ini memberi Beijing pijakan di aparat keamanan dalam negeri negara-negara tetangga. Laporan Komisi AS–Tiongkok menyebut Asia Tenggara sebagai zona percobaan bagi taktik yang akan direplikasi di Afrika, Amerika Latin, dan Asia Tengah.

Beijing menggunakan keberadaan kelompok kriminal transnasional Tiongkok untuk menekan pemerintah agar menerima peran keamanan Tiongkok yang lebih besar. Pada 25 Mei 2023, Tiongkok dan Laos sepakat memperdalam kerja sama penegakan hukum. Pada September 2024, Menteri Dalam Negeri Kamboja Sar Sokha berkunjung ke Beijing dan berkomitmen memperluas operasi gabungan, terutama menindak jaringan kriminal. Pada September tahun ini, Tiongkok menjadi tuan rumah pertemuan mekanisme Kerja Sama Penegakan Hukum Lancang–Mekong bersama Kamboja, Laos, Burma, Thailand, dan Vietnam untuk meningkatkan berbagi intelijen serta operasi bersama menargetkan pusat penipuan.

Tiongkok juga menekan Thailand—sekutu perjanjian AS yang biasanya menolak kehadiran polisi Tiongkok—untuk mengizinkan aparat keamanan Tiongkok beroperasi di dalam negeri. Setelah aktor Tiongkok Wang Xing diculik di Thailand dan diperdagangkan ke pusat penipuan di Myanmar  pada Januari, jumlah wisatawan Tiongkok ke Thailand dilaporkan turun 33 persen, memukul ekonomi negara itu.

Untuk menenangkan wisatawan Tiongkok, Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra bertemu Xi Jinping pada 6 Februari dan berjanji memperkuat kerja sama penegakan hukum. Pada akhir Februari, Thailand mengizinkan pejabat senior dan aparat keamanan Tiongkok ikut serta dalam penggerebekan lintas batas terhadap pusat penipuan.

Dokumen pemerintah Tiongkok menunjukkan bahwa ketika aparat keamanan Tiongkok mengikuti penggerebekan, mereka rutin menyita perangkat yang digunakan untuk operasi penipuan. Pada Agustus 2024, Kementerian Keamanan Publik Tiongkok mengumumkan bahwa mereka ikut serta dalam operasi di Burma dan membawa kembali sejumlah besar komputer dan telepon ke Tiongkok.

Perangkat-perangkat ini kemungkinan berisi informasi penting tentang jaringan kriminal Tiongkok dan data pribadi yang sangat sensitif milik korban, termasuk warga Amerika. Institut Perdamaian AS menyampaikan kepada Komisi AS–Tiongkok bahwa Tiongkok enggan berbagi informasi apa pun yang diekstraksi dari perangkat-perangkat tersebut dengan negara lain.

Pada 12 November, Kejaksaan AS untuk Distrik Columbia meluncurkan Satuan Tugas Anti-Pusat Penipuan untuk memberantas pusat-pusat penipuan di Asia Tenggara. Operasi ini melibatkan Kejaksaan AS, Divisi Kriminal Departemen Kehakiman, FBI, Secret Service, Departemen Luar Negeri, OFAC Departemen Keuangan, dan Departemen Perdagangan. Satuan tugas ini mendesak perusahaan AS memutus akses sindikat ke infrastruktur digital Amerika dan menutup situs serta akun berbasis AS yang digunakan untuk menargetkan korban.

Tim khusus untuk Burma telah bergerak terhadap sejumlah kompleks, menyita situs penipuan dan mengajukan surat perintah untuk menyita terminal satelit, sementara FBI menempatkan agen di Bangkok untuk bekerja sama dengan Kepolisian Thailand dalam menindak pusat-pusat seperti KK Park.

Pejabat federal AS mengatakan inisiatif ini akan menggunakan semua instrumen yang tersedia untuk mengganggu jaringan kriminal asing, memulihkan dana yang dicuri, dan mencegah sistem AS dipersenjatai untuk melawan warganya sendiri. Mudah-mudahan, upaya ini juga dapat menahan pengaruh PKT dan menghentikan Beijing dari mencuri lebih banyak data dan uang warga Amerika.

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan sikap The Epoch Times.

Kelompok Bersenjata Culik Lebih dari 200 Siswa dan 12 Guru dalam Serangan di Sekolah Katolik Nigeria

EtIndonesia— Kelompok bersenjata menyerang sebuah sekolah asrama Katolik di wilayah barat Nigeria dan menculik lebih dari 200 siswa pada Jumat, demikian disampaikan Asosiasi Kristen Nigeria (CAN). Insiden ini menjadi yang terbaru dalam rangkaian penculikan yang terus meningkat di negara berpenduduk terbesar di Afrika tersebut.

Serangan dan penculikan terjadi di St. Mary’s School, sebuah sekolah Katolik di komunitas Papiri, wilayah pemerintahan lokal Agwara. Para penyerang membawa kabur 215 murid serta 12 guru, ujar Daniel Atori, juru bicara CAN untuk negara bagian Niger.

“Saya baru kembali ke desa malam ini setelah mengunjungi sekolah dan bertemu para orang tua,” kata Atori dalam sebuah pernyataan, mengutip pernyataan Uskup Agung Bulus Dauwa, Ketua CAN di Niger. CAN menegaskan pihaknya bekerja “untuk memastikan anak-anak dapat kembali dengan selamat.”

Chekula, seorang warga, mengatakan: “Kami tidak tahu apa yang terjadi sekarang, karena tidak ada informasi sejak pagi. Anak-anak yang berhasil melarikan diri terpencar, beberapa pulang ke rumah masing-masing, dan informasi yang kami dengar hanya bahwa para pelaku masih bergerak membawa sisa anak-anak ke dalam hutan.”

Pemerintah negara bagian Niger menyatakan penculikan terjadi meski sebelumnya ada laporan intelijen mengenai peningkatan ancaman.

“Disesalkan, St. Mary’s School tetap membuka kembali sekolah dan melanjutkan kegiatan belajar tanpa memberi tahu atau meminta izin Pemerintah Negara Bagian, sehingga menempatkan siswa dan staf pada risiko yang seharusnya bisa dihindari,” demikian bunyi pernyataan itu.

Menurut Umar Yunus, warga Papiri, sekolah tersebut hanya mengandalkan pengamanan lokal dan tidak dijaga polisi ataupun aparat pemerintah saat serangan terjadi.

Keuskupan Katolik Kontagora mengatakan dalam pernyataan bahwa seorang petugas keamanan sekolah “ditembak parah” dalam serangan itu.

Sementara itu, pemerintah menutup 47 sekolah federal yang sebagian besar berada di negara bagian utara yang rawan konflik. Sekolah-sekolah elite yang dikenal sebagai unity colleges tersebut diperintahkan tutup segera menurut surat edaran dari Kementerian Pendidikan Nigeria.

Penculikan ini terjadi beberapa hari setelah kelompok bersenjata pada Senin menyerang sebuah sekolah menengah dan menculik 25 siswi di negara bagian Kebbi, sekitar 170 kilometer dari Papiri. Seorang siswi berhasil melarikan diri dan kini dalam kondisi aman, menurut kepala sekolah.

Di hari yang sama, dalam insiden terpisah di negara bagian Kwara—yang berbatasan dengan Niger—kelompok bersenjata menyerang sebuah gereja dan menewaskan dua orang. Sebanyak 38 jemaat juga diculik, kata Femi Agbabiaka, sekretaris Gereja Christ Apostolic. Para penculik menuntut tebusan 100 juta naira (sekitar Rp1,1 miliar) untuk setiap korban.

Presiden Nigeria Bola Tinubu membatalkan keberangkatannya ke KTT G20 di Afrika Selatan akhir pekan ini akibat rentetan kejadian tersebut. Wakil Presiden Kashim Shettima akan mewakili Nigeria.

“Kami akan menggunakan semua instrumen negara untuk membawa anak-anak ini pulang dan memastikan para pelaku kejahatan keji ini mendapat hukuman setimpal,” ujar Shettima saat berkunjung ke negara bagian Kebbi, Rabu lalu.

Belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan di negara bagian Niger dan Kebbi. Namun analis dan warga setempat mengatakan geng-geng kriminal sering menargetkan sekolah, pelancong, dan desa terpencil untuk meminta tebusan. Menurut otoritas, para pelaku kebanyakan adalah mantan penggembala yang bersenjata setelah konflik berkepanjangan dengan komunitas petani.

Penculikan telah menjadi ciri utama situasi keamanan buruk di Nigeria. Sedikitnya 1.500 siswa telah diculik di kawasan ini sejak kelompok ekstremis Boko Haram menculik 276 siswi Chibok lebih dari satu dekade lalu. Namun selain kelompok teroris, geng kriminal juga aktif dan kerap menargetkan sekolah demi menarik perhatian.

Nigeria kembali menjadi sorotan setelah Presiden AS Donald Trump menuding bahwa umat Kristen di negara itu tengah dianiaya—klaim yang dibantah pemerintah Nigeria.

Analis menyebut bahwa meski umat Kristen menjadi sasaran, sebagian besar korban kelompok bersenjata justru adalah Muslim di kawasan mayoritas Muslim di utara, tempat serangan paling banyak terjadi.

Para analis dan warga menyalahkan situasi keamanan yang memburuk pada kegagalan pemerintah menindak pelaku yang sudah dikenal, serta korupsi yang merajalela sehingga senjata tidak sampai ke aparat keamanan, tetapi justru mengalir ke kelompok kriminal.

Eze Gloria Chidinma, 27, influencer asal Lagos yang dikenal sebagai “Riaz Kitchen,” mengatakan kepada Associated Press bahwa adiknya berhasil melarikan diri dari sekolah dengan melompati pagar.

Chidinma menyebut keluarganya bukan pertama kalinya menjadi korban penculikan. “Ibu dan kakak saya diculik tahun lalu. Kami menghubungi aparat keamanan, polisi, tapi mereka hanya berkata tidak bisa berbuat apa-apa,” katanya. Keluarganya akhirnya harus membayar “sejumlah besar uang” untuk membebaskan mereka.

“Pesan saya kepada pemerintah adalah: pikirkan rakyat. Tugas Anda melindungi nyawa dan harta benda. Kehidupan warga harus menjadi prioritas,” ujarnya.

Yohanna Buru, pendeta sekaligus pimpinan Peace Revival and Reconciliation Foundation—organisasi yang bergerak dalam dialog antaragama—mendesak pemerintah memperketat keamanan di sekolah-sekolah di wilayah rawan.

“Jika pemerintah bekerja dengan baik, penculikan merajalela seperti ini tidak akan terjadi,” katanya. “Seolah-olah mereka tidak peduli pada masa depan anak-anak kita.”

Sumber : Theepochtimes.com 

Mengapa Amerika Serikat Memboikot KTT G20 di Afrika Selatan?  

Langkah ini diambil setelah berbulan-bulan ketegangan terkait penyitaan lahan, dugaan pelanggaran HAM, dan kedekatan Pretoria dengan Tiongkok serta Rusia.

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pada 7 November bahwa tidak ada pejabat pemerintah federal Amerika Serikat yang akan menghadiri Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Afrika Selatan pada 22–23 November 2025. Ia menuduh Pretoria melakukan pelanggaran HAM terhadap warga Afrikaner berkulit putih dan melakukan penyitaan lahan secara ilegal.

“Ini benar-benar memalukan bahwa G20 akan digelar di Afrika Selatan,” tulis Trump di Truth Social.

“Afrikaner (keturunan pemukim Belanda, serta imigran Prancis dan Jerman) sedang dibunuh dan disembelih, dan tanah serta pertanian mereka disita secara ilegal. Tidak ada pejabat Pemerintah AS yang akan hadir selama pelanggaran HAM ini terus terjadi. Saya menantikan untuk menjadi tuan rumah G20 2026 di Miami, Florida!”

Kementerian Luar Negeri Afrika Selatan menyebut pernyataan Trump itu “disayangkan” dan menegaskan bahwa klaim tersebut tidak akurat secara fakta maupun sejarah.

“Penggambaran Afrikaner sebagai kelompok yang sepenuhnya kulit putih itu tidak sesuai sejarah,” kata kementerian tersebut dalam pernyataan 8 November. “Selain itu, klaim bahwa komunitas ini menghadapi penganiayaan tidak didukung oleh fakta.”

Kementerian tersebut menambahkan bahwa fokus Afrika Selatan adalah memanfaatkan platform G20 untuk memperkuat kerja sama global serta membagikan pengalaman rekonsiliasi pasca-apartheid.

Mereka menekankan bahwa pengalaman negara itu dalam mengatasi perpecahan ras dan etnis menjadikannya “berada pada posisi yang unik untuk mendorong solidaritas sejati di dalam G20.”


Perselisihan Lebih Luas soal Kebijakan dan HAM

Keputusan Trump untuk tidak mengirim delegasi ke G20 melanjutkan pernyataannya pada 29 Juli bahwa ia mungkin tidak hadir dan akan “mengirim orang lain.”

“Saya punya banyak masalah dengan Afrika Selatan,” kata Trump saat itu. “Mereka punya banyak kebijakan yang buruk.”

Trump berkali-kali mengkritik kebijakan dalam negeri dan luar negeri Afrika Selatan, termasuk undang-undang ekspropriasi lahan serta tuduhan negara itu bahwa Israel melakukan genosida di Gaza—klaim yang dibantah Israel.

Sejak berakhirnya apartheid, Afrika Selatan menerapkan program aksi afirmatif dan Black Economic Empowerment untuk mengurangi ketimpangan sejarah. Namun pemerintah menolak tuduhan bahwa mereka menyita lahan milik warga kulit putih atau menargetkan kelompok ras tertentu.

Keputusan Trump untuk memboikot G20 semakin memperdalam ketegangan yang berlangsung sejak ia kembali menjabat pada Januari. Beberapa hari setelah pelantikannya, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menandatangani undang-undang yang mengizinkan penyitaan lahan pertanian tanpa kompensasi untuk didistribusikan kepada kelompok yang termarjinalkan. Lebih dari 70 persen lahan pertanian di negara itu dimiliki oleh petani kulit putih.

Pada Februari, Trump mengeluarkan perintah eksekutif sebagai respons atas apa yang ia sebut genosida terhadap Afrikaner, menyatakan bahwa undang-undang tersebut mengikuti “banyak kebijakan pemerintah yang dirancang untuk menghapus kesempatan yang setara dalam pekerjaan, pendidikan, dan bisnis, serta retorika kebencian dan tindakan pemerintah yang memicu kekerasan tidak proporsional terhadap pemilik lahan yang dirugikan secara rasial.”

Pemerintah Afrika Selatan secara konsisten membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya tidak berdasar serta bermotif politik.


Ketegangan Diplomatik Menjelang Serah Terima G20

Afrika Selatan memegang presidensi bergilir G20 sejak Desember 2024 hingga November, sebelum Amerika Serikat mengambil alih. Ramaphosa mengatakan pada Mei bahwa ia berharap Trump hadir untuk memastikan transisi berjalan lancar.

“Saya ingin menyerahkan presidensi G20 kepada Presiden Trump pada November,” kata Ramaphosa.

“Dia harus ada di sana. Saya tidak ingin menyerahkannya kepada kursi kosong. Saya berharap dia datang ke Afrika Selatan.”

Awal tahun ini, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengumumkan boikot AS terhadap pertemuan para menlu G20 di Cape Town. Dalam unggahan di X pada 5 Februari, Rubio mengkritik Afrika Selatan karena “menyita properti pribadi” dan menggunakan G20 untuk mempromosikan “solidaritas, kesetaraan, dan keberlanjutan.”

“Dengan kata lain: DEI dan perubahan iklim,” tulis Rubio, menyatakan bahwa AS tidak berkepentingan menghabiskan uang pembayar pajak atau “memanjakan sikap anti-Amerika.”

Hubungan dekat Afrika Selatan dengan Tiongkok serta keanggotaannya dalam blok BRICS—bersama Brasil, Rusia, India, dan Tiongkok—semakin memperumit hubungan dengan Washington.

Pretoria mengatakan pihaknya menjalankan kebijakan nonblok strategis, namun makin sering menyelaraskan retorikanya dengan Beijing dan Moskwa dalam berbagai isu, mulai dari Israel hingga perdagangan.

Pada Februari 2023, Afrika Selatan menggelar latihan militer selama 10 hari dengan Tiongkok dan Rusia, yang waktunya bertepatan dengan satu tahun perang Rusia di Ukraina.

Amerika Serikat dijadwalkan menjadi tuan rumah G20 pada 2026.

Wakilkan Presiden Prabowo, Wapres Gibran Berpidato di KTT G20 Afrika Selatan

EtIndonesia. Presiden Prabowo Subianto menugaskan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming untuk mewakilkannya dalam perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 tahun 2025 di Johannesburg, Afrika Selatan. Gibran juga menyampaikan pidatonya di KTT G20 pertama yang digelar di Afrika. 

Sebelumnya, Wapres Gibran di Bandar Udara Internasional O.R. Tambo, Johannesburg, Afrika Selatan, Jumat (21/11/2025).

Dikutip dari situs wapresri.go.id yang ditulis Biro Pers, Media, dan Informasi
Sekretariat Wakil Presiden, Gibran menyampaikan salam hormat Presiden Prabowo kepada Presiden Cyril Ramaphosa serta mengapresiasi penyelenggaraan KTT G20 pertama di benua Afrika.

“Izinkan saya menyampaikan salam dari Presiden Prabowo kepada Presiden Ramaphosa dan seluruh pemimpin G20. Kami menghargai sambutan hangat serta penyelenggaraan yang sangat baik oleh Pemerintah Afrika Selatan,” ujarnya.

Mantan Walikota Solo itu menilai penyelenggaraan G20 di Afrika sebagai simbol perubahan geopolitik yang semakin menempatkan negara-negara Selatan Global sebagai kekuatan strategis dalam arsitektur ekonomi dunia.

“KTT ini bersejarah karena pertama kali berlangsung di tanah Afrika. Hal ini menandai perubahan besar, di mana negara-negara Selatan Global semakin menjadi bagian penting dalam tata kelola global,” tegasnya.

Pada Sesi Pertama bertema Inclusive and Sustainable Economic Growth Leaving No One Behind, Wapres menekankan bahwa Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo konsisten memperjuangkan pertumbuhan yang adil dan inklusif.

“Indonesia percaya bahwa pertumbuhan global harus kuat sekaligus adil dan inklusif agar semua negara dapat merasakan manfaatnya,” ungkapnya.

Wapres juga mengajak negara anggota G20 memperluas akses pembiayaan, terutama bagi negara-negara berkembang yang menghadapi tantangan perubahan iklim.

“Pembiayaan harus semakin mudah diakses, lebih pasti, dan lebih setara. Transisi energi, adaptasi, dan mitigasi memerlukan dukungan pembiayaan inovatif yang terjangkau,” jelasnya.

Lebih jauh, Wapres memaparkan langkah Indonesia dalam penguatan pendanaan iklim, digitalisasi, dan inklusi keuangan.

“Indonesia mengalokasikan lebih dari setengah anggaran iklim nasional, sekitar 2,5 miliar dolar per tahun, untuk mendukung UMKM hijau, asuransi pertanian, dan infrastruktur yang tangguh,” ungkap Wapres.

“Sistem pembayaran digital seperti KRIS menunjukkan bagaimana teknologi sederhana dapat memperluas akses keuangan dan mengurangi kesenjangan,” tambahnya.  Ia juga menyoroti perlunya dialog G20 terkait aset digital dan kecerdasan buatan.

“Aset digital menghadirkan peluang sekaligus risiko. Karena itu, Indonesia mendorong G20 

membuka dialog mengenai ekonomi digital dan kecerdasan buatan,” ucapnya. Menutup pernyataannya, Wapres menegaskan kembali prinsip kesetaraan dalam pembangunan.

“Tidak ada satu model pembangunan yang cocok untuk semua. Kerja sama internasional seharusnya memberdayakan, bukan menciptakan ketergantungan,” katanya.

KTT G20 Afrika Selatan berlangsung selama dua hari, pada 22–23 November 2025, di Johannesburg Expo Centre. (***)

Lowongan di Toko Buah: Tak Disangka Seorang Remaja Justru Jadi Miliarder dalam 10 Tahun

EtIndonesia. Sebuah toko buah kecil memasang pengumuman lowongan. Karena gajinya terlalu rendah, tidak ada yang berminat—kecuali seorang remaja. Tak ada yang menyangka, setelah mulai bekerja, remaja itu menggunakan berbagai strategi kreatif yang membuat sang pemilik gerai kebanjiran uang. Dan 10 tahun kemudian, bocah itu berubah menjadi seorang miliarder!

Pemilik Toko Buah Membuka Lowongan — Sang Bocah Tak Sengaja Mendapatkan Kesempatan

Sekitar belasan tahun lalu di sebuah kota di Taiwan, ada sebuah lapak buah kecil. Pemiliknya sudah lanjut usia dan tidak lagi kuat berdiri lama untuk melayani pembeli, sehingga dia memasang pengumuman mencari pekerja.

Beberapa hari kemudian, seorang pria muda datang dan bertanya berapa upah yang bisa dia dapatkan. 

Si pemilik tertawa dan menjawab: “Toko sekecil ini mana sanggup bayar gaji bulanan. Semua tergantung usahamu. Berapa banyak buah yang bisa kamu jual dalam sehari—kamu dapat sepersepuluhnya. Dibayar harian.”

Pemuda itu mendengar penjelasan tersebut, memandang pemilik toko yang sudah tua itu dari atas sampai bawah, lalu mengerutkan kening : “Tidak bisa. Ini sama sekali tidak ada kepastian.”

Dia pun pergi tanpa berpikir dua kali.

Beberapa hari kemudian datang lagi seorang anak muda lain yang mengajukan pertanyaan serupa. 

Setelah mendengar sistem upah yang sama, dia balik bertanya: “Kalau begitu, berapa omzet kedai ini dalam sebulan?”

Sang pemilik menjawab bahwa pendapatan sangat bergantung pada musim buah: bulan bagus bisa tembus 50 ribu dolar Taiwan, bulan buruk bahkan hanya 10 ribu.

Pemuda itu langsung menggeleng: “Dengan pendapatan seperti ini, seumur hidup pun tak mungkin meraih kekayaan. Hanya orang bodoh yang mau jualan buah!”

Dia pun pergi, sama seperti pendahulunya.

Seorang Remaja Muncul — Meminta Kenaikan Komisi Hanya di Hari Besar

Beberapa hari berlalu, datanglah seorang bocah laki-laki.

Dia menanyakan sistem gaji, dan sang pemilik kembali menjelaskan bahwa upah dibayar harian dan berdasarkan komisi.

Anak itu mendengar penjelasan tersebut, tersenyum, lalu bertanya: “Kalau hari libur atau akhir pekan, boleh tidak komisinya dinaikkan? Misalnya dua puluh persen?  Jika penjualan tembus 100 ribu sehari, saya dapat 30 persen?”

Sang pemilik tertawa besar dan menepuk kepala bocah itu : “Pintar sekali! Kamu tahu hari libur ramai pembeli. Baiklah, kita pakai perhitunganmu— Tapi omzet lebih dari 10 ribu sehari pun tidak gampang, apalagi 100 ribu!”

Dan demikianlah remaja itu resmi bekerja.

Trik-trik Aneh Sang Bocah — Pemilik Hidup Enak

Sejak hari pertama, bocah itu mulai mengubah banyak hal:

  • Dia mencuci semua buah dengan air bersih sebelum dipajang.
  • Dia selalu mengubah-ubah posisi tampilan buah agar terlihat segar setiap saat.
  • Pada hari libur atau akhir pekan, dia memasang poster promosi: “Belanja 1.000—gratis buah 100 dolar, pilih sendiri!”

Hasilnya mencengangkan. Di bulan pertama saja, bocah itu menerima lebih dari 30 ribu—setara rata-rata seribu dolar sehari.

Pemilik toko memang membayar komisi besar, tetapi dia sangat puas: Sambil duduk santai di kursi goyang, dia melihat bocah itu lari ke sana ke mari dan menghasilkan lebih banyak uang dibandingkan sebelumnya.

Beberapa tahun kemudian, bocah itu menabung cukup banyak untuk membeli seluruh kedai. Dengan kreativitasnya, dia menciptakan berbagai strategi pemasaran baru, membuka toko kedua, lalu toko ketiga.

Saat dewasa, dia sudah menjadi seorang pengusaha kaya raya—belum genap usia 30 tetapi telah hidup dalam kemakmuran.

“Bos hanya bisa memberimu kesempatan—bukan kekayaan.”

Studi menunjukkan bahwa lebih dari 70% pekerja di dunia tidak puas dengan gaji mereka. Bahkan ketika tahu bisnis perusahaan sedang menurun, mereka tetap menuntut kenaikan gaji.

Kelompok ini mirip dengan pelamar pertama:  mereka hanya ingin jaminan, terlepas dari kontribusi mereka pada perusahaan.

Kelompok lainnya seperti pemuda kedua— begitu merasa bos tidak dermawan atau industri tidak menjanjikan, mereka langsung “lompat kapal,” terus-menerus mengganti pekerjaan, dan seumur hidup menyalahkan bos lama.

Pada kenyataannya, tidak ada satu pun bos yang bisa “menganugerahkan” kekayaan. Bos hanya bisa memberi kesempatan.

Jika kamu memanfaatkan kesempatan itu dengan baik, menghasilkan uang bagi perusahaan, barulah kamu bisa ikut naik bersama pertumbuhan perusahaan.

Tidak peduli apakah kamu menjual buah atau komputer, bekerja di industri panas atau industri sepi— selama kamu memahami prinsip ini, kamu bisa menjadi seperti bocah itu yang akhirnya mewarisi kekayaan yang sebelumnya ada di tangan bosnya. (jhn/yn)

Pertemuan Dilarang di Nepal Saat Protes Generasi Z Kembali Meletus

EtIndonesia. Jam malam telah diberlakukan di beberapa wilayah Nepal setelah bentrokan baru meletus antara demonstran muda dan loyalis partai berkuasa sebelumnya yang digulingkan dalam pemberontakan mematikan ‘Gen Z’ pada bulan September.

Pertemuan telah dilarang di distrik Bara, tempat anggota Gen Z bentrok dengan pendukung Partai Komunis Nepal – Marxis Leninis Bersatu (CPN-UML) pimpinan mantan perdana menteri KP Sharma Oli yang digulingkan.

Pemerintah distrik mengatakan jam malam akan tetap berlaku dengan alasan perlunya memulihkan ketertiban.

Situasi memburuk pada hari Rabu ketika demonstran muda dan pekerja CPN-UML menggelar unjuk rasa di daerah Simara, distrik Bara. Tak lama kemudian, bentrokan pecah antara kedua kelompok, beberapa bahkan di dekat bandara, yang mendorong pihak berwenang untuk memberlakukan jam malam.

“Situasinya normal… Tidak ada yang terluka parah,” kata juru bicara kepolisian Nepal, Abi Narayan Kafle, kepada kantor berita AFP.

Sementara itu, Perdana Menteri Nepal, Sushila Karki, mengimbau agar tetap tenang dan meminta semua pihak untuk “menahan diri dari provokasi politik yang tidak diinginkan” serta mempercayai proses demokrasi menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan pada 5 Maret 2026.

“Saya telah menginstruksikan Kementerian Dalam Negeri dan badan-badan keamanan untuk bekerja dengan penuh pengendalian diri dan persiapan yang matang guna menjaga perdamaian dan ketertiban,” kata Karki dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan Rabu malam.

Dia mengatakan ingin “memastikan pergerakan yang aman bagi para pemimpin semua partai politik dan menciptakan lingkungan yang adil dan bebas rasa takut untuk pemilu”.

Karki juga mengadakan pertemuan pada hari Rabu dengan perwakilan lebih dari 110 partai.

“Kami ingin negara ini berada di tangan generasi baru dan dikelola oleh orang-orang yang berwawasan,” ujarnya dalam pertemuan tersebut.

Protes Generasi Z Nepal

Setidaknya 76 orang tewas dalam demonstrasi pada 8 dan 9 September yang dipicu oleh kemarahan atas larangan media sosial yang sempat diberlakukan pemerintah dan dipimpin oleh para pengunjuk rasa yang disebut dengan nama “Gen Z”.

Demonstrasi bulan September dipicu oleh larangan media sosial oleh pemerintah sebelumnya, tetapi kemarahan semakin mendalam setelah bertahun-tahun stagnasi ekonomi dan korupsi yang merajalela, yang membuat negara berpenduduk 30 juta jiwa itu siap menghadapi pergolakan.

Parlemen, pengadilan, dan kantor-kantor pemerintah dibakar sebelum Oli, 73 tahun, yang pernah menjabat sebagai perdana menteri empat periode, digulingkan. Mantan Ketua Mahkamah Agung Karki, yang juga berusia 73 tahun, ditunjuk sebagai perdana menteri sementara untuk memimpin negara Himalaya itu menuju pemilu.(yn)

Upaya Hari Ini, Adalah Panen Hari Esok

EtIndonesia. Kadang hidup seperti mempermainkan kita— sekejap memberi harapan, sekejap menjatuhkan hingga ke dasar.

Namun dalam setiap langkah yang tampak membosankan, selalu tersembunyi jawaban yang akan kembali padamu di masa depan— hanya saja waktunya belum tiba.

Upayamu hari ini mungkin terlihat kecil, sepele, tak terlihat siapa pun, bahkan terasa tidak berarti. Namun yang paling penting adalah: kamu sedang melangkah maju.

Meski pelan, selama kamu tidak berhenti, setiap langkah tetap akan membawamu ke tempat berikutnya.

Hidup tidak akan memberikan hasil lebih cepat hanya karena kamu terburu-buru, juga tidak akan berhenti hanya karena kamu lelah. Namun hidup selalu memberi hadiah bagi mereka yang tekun, dan sering kali hadiah itu datang di saat yang tidak terduga.

1. Kamu sedang berkembang tanpa sadar — hanya saja kamu belum melihatnya

Banyak orang beranggapan bahwa hasil harus terlihat segera, kalau tidak, itu dianggap sia-sia.

Padahal, pertumbuhan manusia kebanyakan terjadi secara diam-diam. Tertulis dalam hal-hal kecil:

  • cara berpikirmu yang kini lebih jernih,
  • wajahmu yang tidak lagi panik saat menghadapi masalah,
  • kekuatanmu menghadapi badai hidup seorang diri.

Kamu pikir dirimu tidak bergerak, padahal kamu sudah berbeda dari kemarin.

Kamu pikir tidak ada kemajuan, padahal kamu sudah melewati banyak momen yang dulu hampir membuatmu menyerah.

Semua ini belum menjadi bunga— tapi sudah tumbuh menjadi akar.

Dan akar yang dalam, akan membuatmu berdiri lebih kokoh di masa depan.

2. Kelelahanmu hari ini sedang membangun jalan untuk masa depanmu

Dalam hidup setiap orang, ada yang disebut “pekerjaan tak terlihat.”

Ada yang bekerja keras demi hidup yang lebih layak, ada yang berjuang dalam hubungan agar bisa mencintai dan dicintai, ada yang memperbaiki diri karena tidak ingin terjebak di titik yang sama.

Semua ini belum menunjukkan hasil. Namun semuanya sedang membersihkan jalan menuju masa depanmu.

Seperti seseorang yang sedang membangun jalan di tengah gelap: dia tidak tahu sudah sejauh apa, tidak tahu berapa lama lagi, tapi selama ia tidak berhenti, dia sedang membangun jalur terang bagi dirinya di masa depan.

Rasa sakitmu hari ini, kesibukanmu hari ini, setiap langkah berat yang kamu paksakan hari ini— tidak satupun yang sia-sia.

Akan tiba masanya kamu berdiri di suatu titik, menoleh ke belakang, dan tersenyum pelan sambil berkata: “Ternyata semua itu benar-benar layak diperjuangkan.”

3. Percayalah, kamu jauh lebih kuat daripada yang kamu bayangkan

Hidup bukan jalan lurus. Dia lebih mirip jalan pegunungan—naik turun, berkelok, kadang gelap.

Ada hari ketika kamu mendaki dan napasmu tersengal, ada hari ketika kamu menurun dan merasa tak terkendali, dan ada hari ketika kamu berhenti karena bingung hendak ke mana.

Namun ingat: kamu bisa sampai sejauh ini bukan karena kebetulan, tetapi karena kamu terus berusaha.

Yang paling patut kamu banggakan bukanlah hari-hari yang mudah, melainkan setiap detik ketika kamu hampir menyerah tapi tidak jadi menyerah.

Kamu jauh lebih kuat daripada yang kamu sadari.

4. Buah esok hari memang belum matang — tapi pasti sedang dalam perjalanan

Setiap orang yang berusaha adalah seperti benih yang setia. Dia membutuhkan matahari, air, waktu, dan kesabaran.

Tidak ada satu pohon pun di dunia yang bisa berbuah hanya karena tergesa-gesa. Kamu menanam hari ini, menyiram besok, merawat lusa.

Sekilas terlihat biasa— tapi sebenarnya kamu sedang bersiap untuk panen yang besar.

Di suatu hari nanti, dirimu yang telah berkembang akan berterima kasih pada dirimu yang hari ini:

  • Terima kasih karena tidak menyerah saat lelah.
  • Terima kasih karena tetap mengumpulkan hati yang hancur.
  • Terima kasih karena tetap melangkah walau sendirian.

 “Upaya hari ini adalah hasil panen hari esok.”  Ini bukan sekadar pepatah, tetapi harapan lembut tentang bagaimana kita memperlakukan hidup.

Kamu tidak perlu melihat hasilnya sekarang. Kamu tidak perlu membandingkan langkahmu dengan orang lain.

Yang kamu perlu ingat hanya satu hal: Kamu sedang bergerak maju—dan di depan sana memang ada cahaya.

Semoga setiap malam yang melelahkan, kamu dapat berkata pada dirimu sendiri: “Aku sudah melakukan yang terbaik. Besok, aku akan lebih kuat lagi.”

Kamu pantas mendapatkan hari esok yang indah. Dan usaha kecilmu hari ini— adalah langkah paling nyata menuju hari itu. (jhn/yn)

Buatan Tiongkok dan Turki, Dipasok ke India Melalui Pakistan: Jaringan Senjata Besar Terbongkar

EtIndonesia. Polisi di Delhi, India, telah membongkar jaringan penyelundupan senjata ilegal internasional besar yang memasok senjata buatan Tiongkok dan Turki ke India.

Sindikat tersebut, yang terkait dengan Intelijen Antar-Layanan Pakistan (ISI), memasok pistol kelas atas buatan Tiongkok dan Turki ke India melalui Pakistan, kata para pejabat.

Polisi menangkap empat anggota kunci geng tersebut dan menyita 10 pistol asing mahal dan 92 peluru tajam.

Senjata-senjata ini dipasok kepada para penjahat di Delhi dan negara bagian sekitarnya, kata para pejabat.

Polisi saat ini sedang berupaya untuk menentukan jumlah senjata yang mereka jual di India dan geng atau individu yang terlibat dalam jaringan ilegal tersebut.

Badan keamanan juga sedang menyelidiki anggota geng lainnya dan hubungan mereka menggunakan ponsel, detail bank, dan media sosial.

Keamanan di Delhi dan wilayah lain di negara itu telah ditingkatkan menyusul ledakan di ibu kota negara Senin lalu.

15 orang tewas dan banyak lainnya luka-luka ketika sebuah mobil Hyundai i20 yang dikendarai oleh seorang pelaku bom bunuh diri, Umar un Nabi, meledak di dekat Benteng Merah, yang dikenal sebagai Lal Qila, pada 10 November.

Beberapa jam sebelum ledakan, Kepolisian Jammu dan Kashmir mengumumkan telah membongkar modul teror “kerah putih” lintas negara dan transnasional, yang terkait dengan Jaish-e-Mohammed yang berbasis di Pakistan dan Ansar Ghazwat-ul-Hind, sebuah kelompok teror yang berafiliasi dengan al-Qaeda.

Kepolisian tersebut juga menyatakan telah menyita 2.900 kilogram bahan peledak, termasuk amonium nitrat, yang dilaporkan digunakan dalam ledakan di Delhi. (yn)

Tidak Pernah Percaya pada “Nasib”

EtIndonesia. Penulis Amerika Albert Hubbard pernah menceritakan sebuah kisah seperti ini:

Setelah bertahun-tahun bekerja keras, Tuan Wilson akhirnya menjadi seorang pengusaha terhormat.

Suatu hari, ketika dia keluar dari gedung kantornya, dia mendengar suara tok tok tok di belakangnya — suara tongkat seorang tunanetra yang mengetuk lantai. Wilson pun berhenti.

Orang buta itu menyadari ada seseorang di depannya dan segera berkata: “Pak, saya seorang tunanetra yang malang. Tolong bantu saya membeli pemantik api ini. Harganya 1 dolar. Saya mengandalkannya untuk mencari nafkah.”

Wilson menghela napas, mengambil pemantik itu, dan berkata : “Aku tidak membutuhkannya, tapi aku bersedia membantumu.”

Dia mengeluarkan selembar uang dan menyerahkannya.

Orang buta itu meraba uangnya — ternyata itu uang 100 dolar. Dia hampir menangis karena bahagia:  “Terima kasih… Tuhan memberkati Anda!”

Wilson hendak pergi, tetapi orang buta itu terus bergumam: “Saya tidak terlahir buta. Delapan belas tahun lalu, saat kecelakaan di pabrik Bolton… semuanya berubah. Itu sangat mengerikan.”

Mendengar itu, Wilson seperti disambar petir

Dia berbalik dan berkata terkejut: “Ledakan pabrik kimia itu?!”

“Ya,” jawab si buta.

 Melihat minat Wilson, dia semakin bersemangat menceritakan kisahnya untuk mendapat iba.

“Banyak orang mati waktu itu. Saya juga jatuh ke hidup miskin ini. Anda tidak tahu betapa mengerikannya waktu itu. Ledakan keras seperti halilintar, lalu api menyala di mana-mana. Semua orang berebut keluar. Saya sudah sampai pintu, tapi ada seorang pria besar berteriak:
‘Saya masih muda, biarkan saya keluar dulu!’ Lalu dia mendorong saya sampai jatuh. Dia menginjak tubuh saya dan lari. Saat sadar, mata saya sudah tak bisa melihat apa pun…”

Orang buta itu masih ingin melanjutkan ceritanya, tetapi Wilson memotongnya dengan suara dingin: “Kamu berbohong. Kejadiannya tidak seperti itu.”

Orang buta itu terkejut.

Wilson berkata lagi: “Saya juga ada di dalam pabrik itu. Kamulah yang menginjak tubuh saya untuk melarikan diri. Kata-kata yang kamu ucapkan waktu itu… saya tidak akan pernah melupakannya seumur hidup.”

Orang buta itu terpaku, lalu tiba-tiba menarik kerah Wilson dan berteriak: “Tidak adil! Aku keluar hidup-hidup tapi menjadi buta, sementara kamu tertinggal di dalam tapi sekarang hidupmu sukses!”

Wilson melepaskan pegangan itu dengan keras. Dia mengangkat tongkatnya — tongkat khusus untuk tunanetra — dan berkata dengan nada meremehkan: “Aku juga buta.  Tapi aku… tidak pernah percaya pada nasib.”

Makna dari Kisah Ini

Hidup penuh ketidakpastian. Setiap orang akan mengalami kesulitan — besar atau kecil. Tetapi cara menghadapi kesulitan itulah yang membedakan satu orang dari yang lain.

Menjadi penyandang disabilitas, terutama kehilangan penglihatan, adalah pukulan besar bagi siapa pun. Tidak mudah mencari jalan hidup baru. Kita tidak tahu bagaimana Wilson melewati masa-masa tergelapnya — bagaimana dia bertahan, bekerja, jatuh bangun, hingga akhirnya sukses.

Yang pasti, keberhasilannya membawa satu kenyataan:

Dia mampu memaafkan pria yang dulu menginjak tubuhnya demi menyelamatkan diri. Tapi dia tidak mampu memaafkan sikap pasrah dan menyerah pada nasib.

Selama seseorang menganggap dirinya korban takdir, selama dia meyakini bahwa hidupnya sudah ditentukan untuk gagal, maka selamanya dia tidak akan bangkit.

Namun jika hati seseorang menolak menyerah, jika dia terus berjuang meski berkali-kali terjatuh, maka akan muncul kekuatan yang mendorongnya terus maju — kekuatan yang membuatnya berhenti menyalahkan dunia.

Dan meski perjuangan itu tidak selalu berakhir seperti yang kita harapkan, prosesnya sendiri sudah merupakan kemenangan.

Sebab dalam setiap langkah penuh perjuangan itu, ada cahaya keindahan hidup yang tidak bisa dipadamkan oleh siapa pun.(jhn/yn)

“Bisa Jadi Dasar Penyelesaian Akhir”: Putin Sambut Baik Rencana Perdamaian AS

EtIndonesia. Presiden Rusia, Vladimir Putin pada hari Jumat (20/11) dengan hati-hati menyambut baik usulan AS untuk mengakhiri perang Moskow yang telah berlangsung hampir empat tahun di Ukraina, dengan mengatakan bahwa usulan tersebut “bisa menjadi dasar penyelesaian damai akhir.”

Putin mengatakan Moskow telah menerima rencana tersebut, yang disebutnya “versi baru” dan “rencana yang dimodernisasi,” yang menurutnya “bisa menjadi dasar penyelesaian damai akhir.”

“Namun, naskah ini belum dibahas secara substantif dengan kami, dan saya bisa menebak alasannya,” kata Putin di Moskow. “Pemerintah AS sejauh ini belum berhasil mendapatkan persetujuan dari pihak Ukraina. Ukraina menentangnya. Tampaknya, Ukraina dan sekutu-sekutunya di Eropa masih berada di bawah ilusi dan impian untuk mengalahkan Rusia secara strategis di medan perang.”

Sebelumnya pada hari Jumat, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mengatakan dalam sebuah pidato bahwa negaranya berada di titik krusial dalam perjuangan empat tahun untuk mengalahkan invasi Rusia. Rakyat Ukraina berpotensi menghadapi pilihan antara mempertahankan hak kedaulatan mereka atau kehilangan dukungan Amerika Serikat di tengah negosiasi proposal perdamaian AS.

Rencana AS tersebut memuat banyak tuntutan lama Putin, sekaligus menawarkan jaminan keamanan terbatas bagi Ukraina. Rencana tersebut memperkirakan Ukraina akan menyerahkan wilayahnya kepada Rusia, sesuatu yang telah berulang kali dikesampingkan oleh Zelenskyy, mengurangi jumlah tentaranya, dan menghalangi jalannya yang didambakan untuk menjadi anggota NATO.

Zelenskyy berjanji untuk mengadakan diskusi konstruktif dengan Washington pada apa yang disebutnya sebagai “salah satu momen tersulit dalam sejarah kita.” Zelenskyy mengatakan dia berbicara selama hampir satu jam pada hari Jumat dengan Wakil Presiden AS, JD Vance dan Sekretaris Angkatan Darat, Dan Driscoll mengenai proposal perdamaian tersebut.

Presiden AS, Donald Trump dalam sebuah wawancara radio pada hari Jumat mengatakan bahwa dia menginginkan jawaban dari Zelenskyy mengenai rencana 28 poinnya pada hari Kamis, tetapi mengatakan perpanjangan mungkin dilakukan untuk menyelesaikan persyaratan.

“Saya memiliki banyak tenggat waktu, tetapi jika semuanya berjalan dengan baik, Anda cenderung memperpanjang tenggat waktu,” kata Trump dalam sebuah wawancara di Brian Kilmeade Show di Fox News Radio. “Tetapi hari Kamis adalah waktunya — kami pikir waktu yang tepat.”

Meskipun Zelenskyy telah menawarkan untuk bernegosiasi dengan AS dan Rusia, dia mengisyaratkan Ukraina mungkin tidak mendapatkan semua yang diinginkannya dan harus menghadapi kemungkinan kehilangan dukungan Amerika jika mengambil sikap.

“Saat ini, tekanan terhadap Ukraina adalah salah satu yang terberat,” kata Zelenskyy dalam sebuah rekaman pidato. “Ukraina sekarang mungkin menghadapi pilihan yang sangat sulit, antara kehilangan martabatnya atau risiko kehilangan mitra kunci.”

“Kami akan bekerja dengan tenang dengan Amerika dan semua mitra,” katanya, tetapi bersikeras pada perlakuan yang adil.

Dia mendesak warga Ukraina untuk “berhenti berperang” satu sama lain, yang kemungkinan merujuk pada skandal korupsi besar yang telah memicu kritik pedas terhadap pemerintah, dan mengatakan perundingan damai minggu depan “akan sangat sulit.”

Zelenskyy sebelumnya telah berbicara melalui telepon dengan para pemimpin Jerman, Prancis, dan Inggris, yang meyakinkannya akan dukungan berkelanjutan mereka, sementara para pejabat Eropa bergegas menanggapi proposal AS yang tampaknya mengejutkan mereka.

Waspada untuk membuat Trump marah, tanggapan Eropa dan Ukraina disampaikan dengan hati-hati dan secara tegas memuji upaya perdamaian Amerika.

Kanselir Jerman, Friedrich Merz, Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer meyakinkan Zelenskyy tentang “dukungan penuh dan tak tergoyahkan mereka dalam upaya menuju perdamaian yang langgeng dan adil” di Ukraina, kata kantor Merz.

Keempat pemimpin tersebut menyambut baik upaya AS untuk mengakhiri perang. “Secara khusus, mereka menyambut baik komitmen terhadap kedaulatan Ukraina dan kesiapan untuk memberikan jaminan keamanan yang solid kepada Ukraina,” tambah pernyataan itu.

Garis kontak harus menjadi titik awal untuk mencapai kesepakatan, kata mereka, dan “angkatan bersenjata Ukraina harus tetap berada dalam posisi untuk mempertahankan kedaulatan Ukraina secara efektif.”

Starmer mengatakan hak Ukraina untuk “menentukan masa depannya di bawah kedaulatannya merupakan prinsip fundamental.”

Negara-negara Eropa memandang masa depan mereka sendiri dipertaruhkan dalam perjuangan Ukraina melawan invasi Rusia dan bersikeras untuk diajak berkonsultasi dalam upaya perdamaian.

“Perang Rusia melawan Ukraina merupakan ancaman eksistensial bagi Eropa. Kita semua ingin perang ini berakhir. Namun, bagaimana cara mengakhirinya itu penting,” kata kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, di Brussels. “Rusia tidak memiliki hak hukum apa pun atas konsesi apa pun dari negara yang diinvasinya. Pada akhirnya, ketentuan perjanjian apa pun harus diputuskan oleh Ukraina.”

Trump dalam wawancara radionya menepis anggapan bahwa penyelesaian tersebut, yang menawarkan banyak konsesi kepada Rusia, akan mendorong Putin untuk melakukan tindakan jahat lebih lanjut terhadap negara-negara tetangganya di Eropa.

“Dia tidak memikirkan perang lagi,” kata Trump tentang Putin. “Dia memikirkan hukuman. Katakan apa pun yang kamu mau. Maksud saya, ini seharusnya menjadi perang satu hari yang telah berlangsung selama empat tahun.”

Seorang pejabat pemerintah Eropa mengatakan bahwa rencana AS tidak secara resmi disampaikan kepada para pendukung Ukraina di Eropa.

Banyak proposal yang “cukup mengkhawatirkan,” kata pejabat tersebut, seraya menambahkan bahwa kesepakatan yang buruk bagi Ukraina juga akan menjadi ancaman bagi keamanan Eropa yang lebih luas.

Pejabat tersebut berbicara kepada The Associated Press dengan syarat anonim karena mereka tidak berwenang untuk membahas rencana tersebut secara publik.

Presiden Dewan Eropa, Antonio Costa di Johannesburg mengatakan tentang proposal AS: “Uni Eropa belum dikomunikasikan (tentang) rencana apa pun secara (resmi).”

Para pejabat Ukraina mengatakan mereka sedang mempertimbangkan proposal AS, dan Zelenskyy mengatakan dia berharap untuk membicarakannya dengan Trump dalam beberapa hari mendatang.

Sebuah tim AS mulai menyusun rencana tersebut segera setelah utusan khusus AS, Steve Witkoff mengadakan pembicaraan dengan Rustem Umerov, seorang penasihat utama Zelenskyy, menurut seorang pejabat senior pemerintahan Trump yang tidak berwenang berkomentar secara publik dan berbicara dengan syarat anonim.

Pejabat tersebut menambahkan bahwa Umerov menyetujui sebagian besar rencana tersebut, setelah melakukan beberapa modifikasi, dan kemudian mempresentasikannya kepada Zelenskyy.

Namun, Umerov pada hari Jumat membantah versi kejadian tersebut. Dia mengatakan dia hanya mengorganisir pertemuan dan mempersiapkan pembicaraan.

Dia mengatakan pembicaraan teknis antara AS dan Ukraina masih berlanjut di Kyiv.

“Kami sedang mempertimbangkan proposal para mitra dengan saksama dalam kerangka prinsip-prinsip Ukraina yang tidak berubah — kedaulatan, keamanan rakyat, dan perdamaian yang adil,” ujarnya.(yn)

Seruan Dukung Partisipasi Taiwan di INTERPOL untuk Perkuat Penanggulangan Kejahatan Lintas Negara

oleh Chou Yew-woei, Komisioner Biro Investigasi Kriminal Taiwan

Taiwan kembali menyerukan dukungan internasional agar dapat berpartisipasi secara substantif dalam INTERPOL. Seruan ini disampaikan untuk memperkuat kerja sama global dalam memerangi kejahatan lintas negara yang kian kompleks, terutama melalui pertukaran intelijen secara real-time.

Didirikan pada 1923, INTERPOL kini memiliki 196 negara anggota dan menjadi lembaga kerja sama kepolisian terbesar di dunia setelah PBB. Organisasi ini menjadi pusat koordinasi penanganan terorisme, kejahatan siber, hingga kejahatan terorganisasi melalui jaringan National Central Bureau (NCB). Namun, Taiwan telah dikecualikan selama lebih dari empat dekade karena alasan politik, sehingga tidak memiliki akses terhadap basis data, mekanisme komunikasi, maupun kegiatan resmi INTERPOL.

Kapabilitas Taiwan dalam Memerangi Kejahatan

Meski tidak menjadi anggota, kemampuan penegakan hukum Taiwan diakui luas. Berdasarkan data Numbeo, Taiwan berada di peringkat keempat negara teraman dari 147 negara. Tingkat kejahatan yang rendah, penegakan hukum efektif, serta kerja sama erat antara warga dan polisi menjadi faktor utama.

Taiwan juga mencatat keberhasilan dalam penanganan kasus narkoba, kejahatan siber, dan penipuan lintas negara. Namun tanpa akses ke sistem komunikasi global INTERPOL I-24/7, informasi penting sering tidak dapat dibagi secara cepat. Keterlambatan ini berpotensi menyebabkan lolosnya pelaku, hilangnya barang bukti, dan meningkatnya risiko bagi korban.

Chou Yew-woei, Komisioner Biro Investigasi Kriminal Taiwan

Taiwan Merupakan Mitra  Penegakan Hukum yang Andal bagi Negara-negara di Seluruh Dunia

Perkembangan kejahatan lintas negara semakin pesat. Sindikat penipuan, perdagangan manusia, hingga kejahatan berbasis aset digital memanfaatkan pergerakan global untuk menghindari deteksi. Absennya Taiwan dalam INTERPOL menciptakan celah keamanan yang dinilai membahayakan kawasan Indo-Pasifik dan dunia.

Dalam beberapa tahun terakhir, sindikat penipuan bermodus pusat kejahatan online banyak berpindah ke Kamboja, Thailand, Myanmar, dan Laos. Ribuan korban dari puluhan negara terjerat jaringan ini melalui bujuk rayu pekerjaan palsu. INTERPOL dalam laporan 30 Juni menyebut kejahatan ini sebagai fenomena global, dengan korban mencapai ratusan ribu orang.

Taiwan memiliki rekam jejak kuat dalam menangani kasus seperti ini. Pada 2024, polisi Taiwan mengungkap forum Creative Private Room, platform besar untuk distribusi materi eksploitasi seksual anak berbasis mata uang kripto. Kasus yang melibatkan lintas negara dan teknologi canggih ini menegaskan kesiapan Taiwan berkontribusi dalam penanganan kejahatan siber global.

Dukungan Internasional Menguat

Para pengamat internasional juga menyoroti perlunya keterlibatan Taiwan dalam INTERPOL. Dalam artikel yang berjudul ” Taiwan INTERPOL Exclusion Undermines Global Policing Efforts” dari Australian Strategic Policy Institute, Dr. John Coyne menyebut Taiwan adalah mitra penting di kawasan Indo-Pacific.

Pengecualian Taiwan justru menghambat koordinasi penegakan hukum global. Ia menilai infrastruktur Taiwan—termasuk pelabuhan, penerbangan, dan sistem keuangan—merupakan titik strategis yang rawan dimanfaatkan jaringan kriminal.

Taiwan menegaskan komitmennya untuk terus bekerja sama dengan mitra internasional, berbagi keahlian, dan berpartisipasi dalam upaya global memerangi kejahatan lintas negara. Karena itu, negara-negara dunia didorong untuk mendukung Taiwan hadir sebagai pengamat dalam Sidang Umum INTERPOL serta dilibatkan dalam pertemuan dan mekanisme kerja sama organisasi tersebut. (***)