Senjakala Kekaisaran Minyak: Mengapa Uni Emirat Arab Memilih Keluar dari OPEC?

Pada 28 April 2026 pagi, sebuah pernyataan singkat namun tajam mengguncang fondasi pasar energi global. Uni Emirat Arab (UEA), produsen minyak terbesar ketiga dalam Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), mengumumkan pengunduran dirinya secara resmi yang berlaku mulai 1 Mei 2026. 

Keputusan ini bukan sekadar urusan administratif; ini adalah proklamasi berakhirnya kesetiaan satu blok ekonomi yang telah mendominasi dunia selama lebih dari enam dekade.

Sikap UEA sangat terus terang. Pemerintah Abu Dhabi menyatakan bahwa langkah ini diambil setelah peninjauan mendalam terhadap strategi energi nasional mereka. “Sudah waktunya bagi kami untuk memusatkan energi pada kepentingan nasional,” demikian bunyi pernyataan tersebut, yang menyiratkan bahwa selama ini kepentingan kolektif OPEC justru telah menghambat ambisi domestik mereka.

Kanal YouTube 新聞最嘲點 Mr.姜光宇 (News Taunt Mr. Jiang Guangyu) dalam ulasannya menyebutkan bahwa retaknya hubungan ini sebenarnya adalah rahasia umum di kalangan diplomat energi. Namun, yang mengejutkan adalah pelakunya: UEA, yang selama ini dikenal sebagai “sahabat karib” atau buddy-buddy dari pemimpin de facto OPEC, Arab Saudi.

Jejak Perlawanan Terhadap “Seven Sisters”

Untuk memahami mengapa keputusan ini begitu dramatis, kita harus memutar jarum jam kembali ke tahun 1960-an. Kala itu, pasar minyak dunia berada di bawah cengkeraman tujuh perusahaan minyak multinasional raksasa yang dijuluki “Seven Sisters” (Tujuh Saudari), termasuk Exxon (sekarang ExxonMobil), Mobil, Chevron, hingga Shell.

Tujuh perusahaan ini mengendalikan lebih dari 80% cadangan minyak di Timur Tengah dan Amerika Selatan. Mereka memiliki segalanya: sumur minyak, pipa penyalur, hingga kilang pemurnian. Yang paling menyakitkan bagi negara produsen adalah mereka memiliki “hak penentuan harga”. 

Pada akhir 1950-an, para produsen minyak hanya menerima remah-remah. Kuwait hanya mendapat 8 sen per barel, sementara Arab Saudi sedikit lebih baik dengan 14 sen per barel.

Titik ledaknya terjadi pada Februari 1959. Tanpa konsultasi apa pun dengan negara-negara Timur Tengah, perusahaan minyak Barat secara sepihak memangkas harga minyak sebesar 10 sen. 

Angka ini mungkin terdengar kecil hari ini, namun bagi negara-negara yang seluruh anggarannya bergantung pada minyak, itu adalah kerugian raksasa. Inilah yang memicu pertemuan di Kairo dan puncaknya di Baghdad pada September 1960, di mana Irak, Arab Saudi, Kuwait, Venezuela, dan Iran sepakat mendirikan OPEC untuk merebut kembali kedaulatan atas sumber daya mereka.

Era Emas dan “Senjata Minyak” 1973

OPEC tumbuh menjadi raksasa yang menakutkan bagi Barat dalam waktu singkat. Transformasi ini mencapai puncaknya pada tahun 1973, saat minyak berubah dari sekadar komoditas menjadi senjata politik. 

Menanggapi Perang Yom Kippur antara Israel dan koalisi negara Arab, negara-negara Teluk di bawah OPEC memutuskan untuk menaikkan harga minyak ringan dari 3,01 dolar AS menjadi 5,12 dolar AS—sebuah kenaikan 70% yang mendadak.

Tak berhenti di sana, mereka memangkas produksi sebesar 5% setiap bulan dan memberlakukan embargo terhadap Amerika Serikat yang mendukung Israel. Dampaknya mengerikan bagi ekonomi Barat. Di Amerika, antrean kendaraan di pom bensin memanjang berkilo-kilometer. Di Jerman Barat, lebih dari separuh pasokan minyak terputus, memaksa pemerintah mereka berbalik arah mendukung posisi negara-negara Arab.

Pada Desember 1973, OPEC melakukan langkah berani di Teheran: menaikkan harga menjadi 11,65 dolar AS per barel dan secara resmi mengambil alih hak penentuan harga dari tangan perusahaan Barat. 

“Hanya dalam satu tahun itu, biaya pengeluaran minyak negara-negara Barat melonjak 40 miliar dolar AS, setara dengan sekitar 4 triliun dolar AS hari ini,” tulis analisis dalam kanal YouTube 新聞最嘲點 Mr.姜光宇. Sejak saat itu, para pria berkaus kepala yang menunggangi unta telah berubah menjadi taipan yang mampu mengguncang ekonomi dunia.

Retaknya Kesetiakawanan: Dilema Kuota 1982

Namun, kejayaan itu membawa benih-benih kehancuran internal. Sejak tahun 1982, OPEC memperkenalkan sistem kuota untuk menstabilkan harga yang mulai turun akibat penemuan ladang baru di Laut Utara, Alaska, hingga Meksiko. Sistem kuota ini mewajibkan setiap anggota membatasi jumlah produksi mereka.

“Sejak hari pertama, sistem kuota ini sudah menanamkan benih perpecahan,” ungkap Jiang Guangyu dalam kanal YouTube-nya. “Setiap anggota ingin orang lain mengurangi lebih banyak, sementara mereka sendiri ingin mengurangi lebih sedikit. Mencuri-curi produksi di atas kuota akhirnya menjadi kebiasaan”.

Kekecewaan UEA terhadap sistem ini sebenarnya sudah dimulai sejak dekade 1980-an. Selama sepuluh tahun terakhir, perusahaan minyak nasional UEA telah menginvestasikan puluhan miliar dolar AS untuk infrastruktur. Ambisi mereka jelas: pada tahun 2027, mereka ingin meningkatkan kapasitas produksi dari 3,4 juta barel menjadi 5 juta barel per hari. Namun, di bawah aturan OPEC saat ini, UEA dibatasi hanya boleh memproduksi maksimal sekitar 3,5 juta barel per hari.

Bagi Abu Dhabi, ini adalah kerugian peluang yang masif. Membiarkan kekayaan tetap tertanam di bawah tanah saat mereka memiliki kemampuan untuk mengekstraksinya dianggap sebagai kebijakan yang tidak masuk akal.

Perbedaan Strategi: Saudi vs Uni Emirat Arab

Ada perbedaan filosofis yang sangat tajam antara Arab Saudi dan UEA saat ini. Arab Saudi, di bawah kepemimpinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, membutuhkan harga minyak yang stabil dan tinggi untuk mendanai Visi 2030—sebuah rencana transformasi ekonomi raksasa yang membutuhkan modal triliunan dolar. Arab Saudi bersedia memangkas produksi asalkan harga tetap terjaga di level tertentu.

Di sisi lain, UEA menerapkan logika yang lebih pragmatis dan terburu-buru. Mereka melihat tren global menuju transisi energi hijau—tenaga nuklir, angin, dan surya—mulai mengancam masa depan minyak.

“Logika UEA adalah: mumpung minyak masih laku dan berharga, ambil semuanya sekarang juga. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan? Jika suatu hari nanti orang tidak lagi butuh minyak, maka kekayaan di bawah kaki mereka hanya akan menjadi cairan hitam tak berguna,” tulis laporan analisis tersebut.

Kesenjangan visi ini membuat UEA merasa bahwa bertahan di OPEC hanya akan membuat mereka “disandera” oleh kepentingan Saudi yang ingin menjaga harga tinggi melalui pembatasan volume produksi.

Momentum di Tengah Konflik Iran

Momentum keluarnya UEA juga dianggap sangat jenius secara taktis. Saat ini, konflik yang melibatkan Iran telah menyebabkan gangguan di Selat Hormuz, meningkatkan biaya asuransi pengapalan dan mengganggu ekspor minyak mentah harian.

Dengan keluar sekarang, dampak jangka pendek terhadap pasar global tidak akan terlalu terasa karena pasar memang sedang kekurangan pasokan akibat gangguan logistik tersebut. “UEA menghitung bahwa ini adalah waktu terbaik untuk keluar. Saat konflik selesai dan lalu lintas laut normal kembali, mereka sudah menjadi produsen independen yang bebas dari kungkungan kuota OPEC,” jelas laporan YouTube 新聞最嘲點 Mr.姜光宇.

Senjakala OPEC dan Munculnya OPEC+

Keluarnya UEA mengikuti jejak Qatar, Ekuador, Indonesia, dan Angola yang telah lebih dulu meninggalkan organisasi ini dalam sepuluh tahun terakhir. Meskipun ada aliansi baru yang disebut OPEC+ (OPEC ditambah 10 negara non-anggota termasuk Rusia), aliansi ini juga sangat rapuh.

Rusia, sebagai pemain kunci di OPEC+, sering kali dianggap tidak disiplin. Moskow kerap berjanji mematuhi pemangkasan produksi di depan publik, namun secara sembunyi-sembunyi tetap memompa minyak untuk mendanai kebutuhan domestik mereka. Dengan keanggotaan yang semakin banyak di OPEC+, koordinasi kepentingan menjadi semakin sulit karena setiap negara memiliki “kalkulator” masing-masing.

Para ahli ekonomi sepakat bahwa meskipun OPEC tidak akan bubar dalam semalam—karena mereka masih mengontrol cadangan energi yang signifikan—masa keemasan mereka sebagai kartel minyak tunggal yang mampu mendikte dunia telah berakhir.

Langkah UEA adalah pengingat keras bahwa dalam dunia geopolitik energi yang baru, kepentingan nasional akan selalu mengalahkan kesetiaan pada aliansi lama. Minyak mungkin masih mengalir dari bawah pasir gurun, namun pengaruh politik OPEC kini tampaknya mulai menguap bersama perubahan zaman.

Front Rusia Telah Runtuh! Kanibalisme Tentara Rusia di Medan Perang Ukraina Menjadi Bukti

NTD

Mungkin sulit dipercaya bahwa tragedi tidak manusiawi benar-benar terjadi di front pertempuran Rusia-Ukraina pada tahun 2025-2026. Sebagaimana dilaporkan oleh surat kabar Inggris “The Times” bahwa intelijen Ukraina telah memperoleh banyak bukti brutal lewat rekaman audio, foto, dan bukti yang dihasilkan AI tentang kekejaman tentara Rusia yang tak terbayangkan. 

Musim dingin yang keras, kekurangan pasokan, gangguan psikologis… telah mengubah front pertempuran Rusia menjadi neraka! Mesin perang Rusia dari Myrnohrad di bagian timur Ukraina hingga Pokrovsk di Donetsk Oblast, yang dinamakan Desa Tentara Merah, semuanya sedang runtuh! Beginilah fenomena yang terjadi: Pengangkutan pasukan Rusia di medan perang hanya mengandalkan sepeda motor, drone militer Ukraina terus memburu dan menyerang mereka. Tentara bayaran asal Afrika melarikan diri….

Bisakah Anda percaya bahwa kanibalisme masih terjadi di masyarakat modern? Tentara Rusia di front pertempuran Ukraina menembak rekan-rekan mereka dan memakan daging paha mereka. Ketika pertama kali membaca berita ini, saya benar-benar tidak bisa mempercayainya.

Namun, informasi yang bersumber dari pejabat intelijen militer Ukraina dengan dukungan bukti ini dilaporkan oleh surat kabar Inggris yang paling berwibawa, “The Times.” 

Seorang sumber intelijen Ukraina mengatakan bahwa mereka memiliki bukti setidaknya lima insiden di mana komandan Rusia menuduh tentara mereka melakukan kanibalisme.

Insiden-insiden ini tampaknya terjadi selama musim dingin yang keras baru-baru ini, ketika pasokan untuk tentara Rusia di garis depan terganggu oleh militer Ukraina, apalagi kesehatan mental para tentara di garis depan sedang menurun. Jadi mungkin trauma serius itu yang memicu mereka mengambil tindakan ekstrem tersebut.

Lebih lanjut, intelijen Ukraina, melalui para ahli keamanan siber, memperoleh sejumlah besar bukti audio dan visual dari platform Telegram.

Insiden terbaru yang diungkapkan oleh “The Times” menunjukkan bahwa seorang prajurit infanteri yang dijuluki “Pozi” yang saat itu ditempatkan di dekat Myrnohrad, Donetsk, membunuh 2 orang rekannya pada bulan November 2025 dan mencoba memakan daging paha salah satu korban, meskipun akhirnya ia ditangkap. Prajurit ini berasal dari Brigade Senapan Motorisasi Pengawal Independen ke-5 dari Angkatan Darat Gabungan Pengawal ke-51 Rusia.

Dalam percakapan telegram, seorang perwira dengan melampirkan beberapa foto, termasuk foto close-up paha korban, satu foto prajurit yang kekurangan gizi, melaporkan insiden tersebut kepada Letnan Vladislav, wakil komandan batalion pengintai Brigade ke-5. “The Times” kemudian menggunakan perangkat lunak analisis gambar AI khusus untuk menganalisis foto-foto tersebut, yang hasilnya membuktikan bahwa foto-foto tersebut bukan hasil rekayasa.

Seorang ahli bedah independen memeriksa foto kaki tersebut dan menyatakan bahwa luka di bagian paha prajurit itu kecil kemungkinannya disebabkan oleh ledakan, melainkan luka sayatan pisau tajam.

Dalam klip audio lain yang diambil dari saluran telekomunikasi, seorang letnan menyatakan bahwa seorang tentara Rusia membunuh 2 orang rekannya, kemudian memenggal satu bagian kaki salah satu dari mereka, dengan maksud untuk dimakan. Ketika beberapa orang tentara lain datang untuk menyelidiki, ia menembaki mereka, yang akhirnya menyebabkan dia yang tewas tertembak.

Letnan itu mengatakan bahwa dirinya tidak mengerti, apakah para prajurit ini sangat kelaparan?

Perwira lain mengatakan: “Tidak lama lagi prajurit kita juga akan saling membunuh. Semua orang kurus kering, nyaris tidak bisa bertahan hidup dengan persediaan makanan yang sangat minim.”

Perlu kita jelaskan di sini bahwa insiden tersebut terjadi di Myrnohrad, yang terletak di dekat Desa Tentara Merah, kota ini sebenarnya merupakan kota satelit dari Desa Tentara Merah. Dari peta terlihat, Myrnohrad adalah kota yang relatif panjang, membentang dari utara ke selatan, dengan tambang batu bara besar di bagian selatan.

Situasi di front Rusia ini terkait erat dengan upaya militer Ukraina untuk memutus jalur logistik tentara Rusia. Video yang kita lihat sekarang adalah rekaman pada September 2025, menunjukkan jalan yang mengarah dari Myrnohrad ke daerah pertahanan. Tentara Rusia terlihat mendekati kota tersebut dengan mengendarai sepeda motor, banyak bangkai mobil dan sepeda motor di sepanjang jalan. Nyaris ada 1 bangkai mobil setiap 5 meter, kendaraan perang ini hancur total akibat serangan artileri dan drone militer Ukraina. Setidaknya ada 30 bangkai kendaraan dan sepeda motor yang muncul dalam video tersebut, menggambarkan ganasnya perang. Di bawah blokade militer Ukraina, memasok baik senjata maupun makanan dari Rusia ke Desa Tentara Merah sangat sulit.

Dari video rekaman Januari 2026 terlihat, selama musim dingin Ukraina, dengan salju tebal menutupi tanah di mana-man, target pergerakan tentara Rusia sangat jelas terlihat di tengah latar belakang salju. Unit drone Angkatan Darat ke-7 Ukraina terus-menerus mencari, memburu dan membunuh tentara Rusia di Desa Tentara Merah dan daerah Myrnohrad.

Ini bukan satu-satunya insiden kanibalisme di kalangan prajurit Rusia. Percakapan yang direkam oleh intelijen militer Ukraina juga mendokumentasikan berbagai insiden kanibalisme lainnya. Salah satu percakapan, yang ditemukan pada 3 April 2025, melibatkan seorang prajurit bernama Most, yang bergabung dalam Resimen Senapan Motor ke-54, mengeluh kepada komandannya bahwa ia harus berbagi bunker di Bakhmut dengan prajurit lain, dan bahwa ia pernah memakan daging mayat demi bertahan hidup.

Pada Agustus 2025, seorang komandan dari Resimen Senapan Motor ke-1437, yang ditempatkan di dekat Desa Tentara Merah menuduh seorang bawahannya melakukan kanibalisme, menanyainya, “Kenapa sih kamu memakan manusia hidup? Hentikan perbuatan memakan daging manusia!”

Kepala staf Brigade Senapan Motor ke-55, dalam perintahnya kepada bawahan pada 11 Desember 2025 tertulis: Alkohol Dilarang, Narkoba Dilarang, Kanibalisme Dilarang.

Rekaman telepon lain yang dirilis oleh intelijen militer Ukraina menunjukkan, seorang prajurit Rusia menuduh rekannya membunuh dan memakan daging prajurit lain. 

“Dia memukulinya sampai mati kemudian memakan dagingnya selama dua minggu penuh,” katanya.

Kanibalisme juga terjadi selama periode kelaparan ekstrem dan perang. Terutama, selama Perang Dunia II, ketika Jerman memblokade Leningrad selama hampir 900 hari, Pihak berwenang Uni Soviet menangkap sebanyak 2.000 orang tentaranya yang melakukan kanibalisme.

Menurut laporan bahwa pasukan Rusia mengeluh dengan ransum yang sudah kedaluwarsa, atau pendistribusiannya yang tidak teratur, sehingga kekurangan kebutuhan pokok selama berminggu-minggu. Kekurangan pasokan makanan inilah yang tak tertahankan oleh para prajurit di garis depan, apalagi selama musim dingin yang keras.

Insiden kanibalisme ini juga menyoroti penderitaan Rusia di garis depan Perang Rusia-Ukraina. Selama tahun 2026 ini, Rusia selain gagal maju di garis depan, malahan menderita kerugian karena wilayah Zaporizhzhia berhasil direbut kembali oleh militer Ukraina.

Kita semua tahu bahwa Pertempuran di Desa Tentara Merah telah berlangsung selama lebih dari 2 tahun, dan Rusia belum sepenuhnya menguasai desa tersebut. Menurut peta dan laporan terbaru dari Institut Studi Perang AS pada 29 April, bagian selatan kota, di selatan jalur kereta api, telah direbut oleh Rusia tahun lalu, sementara bagian utara kota masih berada di bawah pertempuran sengit.

Taktik perang militer Ukraina adalah mempertahankan kebuntuan dengan Rusia di garis depan untuk mengurangi kekuatan militer Rusia, kemudian menggunakan drone untuk menyerang jalur pasokan Rusia. Dari video yang dirilis oleh pasukan khusus Ukraina pada 22 April tahun ini terlihat bahwa di Desa Tentara Merah, pasukan darat Ukraina menyergap 4 orang prajurit Rusia. Militer Ukraina pertama-tama menggunakan drone untuk mengintai medan perang dan menjaga komunikasi konstan dengan pasukan darat, memungkinkan mereka untuk sepenuhnya memahami pergerakan tentara Rusia untuk dikepung dan dilenyapkan. Kendati musim dingin telah berlalu, tampaknya Rusia tidak juga memperoleh keuntungan apa pun di Desa Tentara Merah.

Video berikutnya menunjukkan, sebuah drone Ukraina sedang mencegat helikopter serang Ka-52 Rusia. Helikopter yang terkena serangan drone itu terbakar dan jatuh. Awaknya kemudian mati tertembak oleh drone Ukraina.

Senjata berat Rusia tidak efektif, begitu pula senjata ringan mereka. Mari kita lihat video yang dirilis oleh militer Ukraina pada 23 April tahun ini, yang menunjukkan drone berulang kali menyerang sepeda motor beroda tiga, prajurit infanteri, dan sepeda motor Rusia di jalan. Rekaman ini menunjukkan bahwa moda transportasi utama militer Rusia di garis depan telah berubah menjadi sepeda motor, baik yang beroda dua maupun tiga, namun ini masih tidak dapat menghentikan gerak maju militer Ukraina.

Rusia, yang menghadapi kekurangan pasukan di garis depan, bahkan sampai menggunakan tentara bayaran asal Afrika. Sebuah video rekaman 25 April menunjukkan bahwa tentara bayaran Afrika ini merangkak dalam keadaan terburu-buru dan panik untuk melarikan diri setelah mereka terpantau oleh drone Ukraina, yang tanpa henti mengejar mereka. Lantaran kelewat panik, tentara bayaran ini bahkan tidak sempat berbalik dan mengambil senjata sebelum mereka dilumpuhkan semua oleh drone Ukraina. Di akhir video, Anda dapat dengan jelas melihat wajah-wajah gelap asli mereka yang asal Afrika.

Perang Rusia-Ukraina telah memasuki tahun keempatnya. Pada tahun 2026, Rusia praktis tidak memiliki kemampuan operasional di medan perang. Senjata beratnya sebagian besar telah dihancurkan di medan perang, pasukan darat tidak mampu maju, dan tentara hanya akan bergantung pada sepeda motor dan kendaraan beroda tiga untuk transportasi. Menyediakan pasokan bagi prajuritnya di garis depan bukan hal yang mudah, oleh karena itu kanibalisme dapat terjadi lagi di era modern. (***)

[Fakta Sebenarnya Dalam Satu Abad] Catatan Rahasia Yang Shangkun: 10 Juta Orang Lenyap di Sichuan

New Tang Dynasty Television

Sichuan, yang dikenal sebagai “Daerah Berkelimpahan,” adalah bertanah subur yang konon “bebas dari kekeringan dan banjir, dan tidak pernah mengalami kelaparan.” Ini adalah tempat yang tidak pernah kekurangan makanan. Namun, setelah Partai Komunis Tiongkok (PKT) merebut kekuasaan, kelaparan mengerikan terjadi di sini, menewaskan puluhan juta orang. 

Pada tahun 1958, pemimpin Partai Komunis Tiongkok, Mao Zedong, meluncurkan “Lompatan Jauh ke Depan” untuk “mengejar dan melampaui Inggris dan Amerika Serikat” serta “bergegas menuju komunisme.” Namun, hasilnya adalah kelaparan terburuk dalam sejarah Tiongkok, yang telah menewaskan 36 juta hingga 45 juta orang di seluruh negeri.

Sedangkan Sichuan adalah tempat dengan jumlah kematian akibat kelaparan tertinggi! Perkiraan konservatif menunjukkan bahwa 10 juta orang telah meninggal karena kelaparan di Sichuan, dan jumlahnya bahkan mungkin mencapai 12,5 juta!

Bagaimana Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengubah “Daerah yang Berkelimpahan” menjadi neraka dunia?

Asal usul klaim bahwa 10 juta orang meninggal karena kelaparan

Pada musim panas tahun 1962, di sebuah ruang konferensi kecil di Zhongnanhai, Beijing, Yang Shangkun, seorang sekretaris pengganti dari Sekretariat Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok, dan Liao Bokang, sekretaris Komite Kota Chongqing dari Liga Pemuda Komunis, sedang berbincang-bincang.

Yang Shangkun berasal dari Sichuan. Ia telah mendengar tentang kematian akibat kelaparan di Sichuan, tetapi tidak mengetahui detailnya karena para eksekutif Sichuan kalau tidak mengatakan mereka “tidak mengetahui situasinya,” akan mengatakan memiliki “kekhawatiran,” atau “menghindari pertanyaan.”

Ia mengatakan Kementerian Urusan Sipil memperkirakan jumlah korban tewas mencapai 4 juta, dan Kementerian Keamanan Publik memperkirakannya mencapai 8 juta, tetapi ia percaya angka-angka ini tidak masuk akal.

Namun, Liao Bokang memberikan angka yang mengejutkan: menurut dokumen dari Komite Partai Provinsi Sichuan, jumlah korban tewas adalah 10 juta. Tetapi jumlah sebenarnya kemungkinan lebih tinggi, karena orang-orang terus mati kelaparan di Sichuan selama dua tahun setelah tahun 1960. Ia memberikan contoh: pada akhir tahun 1961, orang-orang masih mati kelaparan di Kabupaten Jiangbei; 3,5 juta orang mati kelaparan di Prefektur Fuling; dan sekretaris partai kabupaten Yingjing di Ya’an bahkan mengatakan bahwa setengah dari penduduk setempat telah mati kelaparan. Oleh karena itu, ia memperkirakan bahwa jumlah korban tewas sebenarnya mungkin mencapai 12,5 juta.

Setelah mendengar itu, Yang Shangkun menepuk pahanya dan berseru dengan tergetar, “Itu dia angkanya!” Dia memerintahkan sekretarisnya untuk membuka brankas rahasia, mengambil buku besar, dan setelah memeriksanya, mengulangi, “Itu dia angkanya!”

Angka ini telah mengungkap sekelumit kondisi mengerikan kelaparan di Sichuan

Kondisi mengerikan kelaparan di Sichuan

Jika berbicara tentang kesuburan Sichuan, Pixian dan Wenjiang adalah permata dari “Tanah Kelimpahan”. Bahkan ada pepatah di kalangan masyarakat yang mengatakan “Wenjiang adalah emas dan Pixian adalah perak”. Secara historis, hampir tidak pernah terjadi kelaparan. Namun, selama “Lompatan Jauh ke Depan”, tempat-tempat ini berubah menjadi neraka dunia.

Menurut data yang dapat diverifikasi, populasi Kabupaten Pixian anjlok dari 280.000 jiwa pada tahun 1958 menjadi 230.000 jiwa pada tahun 1961, penurunan bersih sebesar 50.000 jiwa. Angkatan kerja menurun hampir 20%, dan di beberapa komune, bahkan menurun hingga 30%. Populasi Distrik Wenjiang turun dari 4,94 juta menjadi 4,33 juta, dengan 900.000 orang meninggal dunia dalam empat tahun.

Situasi di Kabupaten Yingjing jauh lebih buruk, di mana hampir 50.000 dari 90.000 penduduk meninggal karena kelaparan—lebih dari setengahnya. Menurut “Catatan Fakta Kelaparan Besar di Yingjing, Sichuan,” kelaparan dan kematian massal mulai terjadi di daerah tersebut pada Oktober 1959. Orang-orang pergi ke pegunungan untuk mengupas kulit pohon, menggali akar pohon, mencari sayuran liar, dan bahkan memakan tanah liat putih. Ketika semua harapan hilang, beberapa orang mencuri pakan dan benih milik bersama, dan insiden ekstrem pun terjadi. Kelaparan menyebabkan beberapa orang melakukan tindakan mengejutkan, termasuk kanibalisme terhadap orang yang telah meninggal. Yang paling tragis, beberapa keluarga kehilangan orang yang mereka cintai, dan jenazah mereka dibawa pergi oleh orang-orang yang kelaparan.

Ada sebuah kisah yang memilukan: keluarga Yang Liurong yang berjumlah tujuh orang di Desa Xingxing, Kecamatan Liuhe, Kabupaten Yingjing, kehilangan tiga anggota keluarga karena kelaparan. Pada Desember 1959, ia, ibunya, neneknya, dan adik laki-lakinya pergi ke kantin komunal untuk menunggu jatah makanan mereka. Ibunya pingsan karena kelaparan, dan jatahnya dimakan oleh orang lain. Setelah menerima makanannya, neneknya mengabaikan menantunya dan berkata kepada cucunya, “Cepatlah, atau ibumu akan hidup kembali dan memakan jatah kita!” Yang Liurong mengikuti neneknya pulang dan tidak pernah melihat ibunya lagi. Keesokan harinya, ia mengetahui bahwa ibunya telah meninggal karena kelaparan, dan jenazahnya telah dibawa pergi oleh orang lain.

Pada saat itu, Kabupaten Yingjing dipenuhi dengan tangisan keputusasaan ketika para pengungsi berbondong-bondong menuju ibu kota kabupaten, meninggalkan mayat-mayat berserakan di mana-mana di jalanan. Di dalam ibu kota kabupaten, mayat-mayat yang kering, bengkak, dan membusuk berserakan di mana-mana, dan seluruh desa telah musnah!

Dalam memoarnya, Liao Bokang menulis tentang kelaparan hebat di Yingjing: “Di beberapa desa, tidak ada seorang pun yang selamat, dan tidak ada seorang pun yang tersisa untuk menguburkan orang. Orang-orang dari desa lain harus dikirim untuk menguburkan orang-orang di desa-desa tersebut. Orang-orang yang menguburkan orang-orang ini tidak memiliki makanan dan harus menggali lubang, yang merupakan pekerjaan fisik yang berat. Akibatnya, orang-orang yang menguburkan orang-orang itu juga meninggal. Jadi orang-orang harus dikirim lagi dari desa lain untuk menguburkan orang-orang mati yang telah menguburkan orang-orang tersebut.”

Penyebab Kelaparan Besar di Sichuan

Mengapa kelaparan yang begitu dahsyat terjadi di Tiongkok? Mengapa kelaparan di Provinsi Sichuan lebih parah daripada di provinsi lain? Kemungkinan ada tiga alasan utama:

Pertama. “Lompatan Jauh ke Depan” Mao Zedong

Salah satu ciri menonjol dari “Lompatan Jauh ke Depan” adalah target yang tinggi, perkiraan produksi yang tinggi, dan pembelian oleh pemerintah dalam jumlah tinggi. Tren “tiga hal tinggi” ini berasal dari tingkat tertinggi Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Pada tahun 1958, PKT awalnya menetapkan target produksi pangan sebesar 392 miliar jin (196 miliar kg), yang kemudian dinaikkan menjadi 600 (300) hingga 700 miliar jin (350 miliar kg).

Dipandu oleh “target tinggi” ini, gelombang pembualan melanda negara, dengan berbagai daerah secara palsu melaporkan produksi biji-bijian, dan PKT kemudian membeli biji-bijian berdasarkan angka-angka yang dilaporkan secara pembualan tersebut.

Pada saat yang sama, penerapan komune rakyat secara besar-besaran oleh Mao Zedong merampas tanah para petani, memusatkan mereka pada kerja kolektif, dan memaksa mereka untuk makan bersama, yang mengurangi motivasi mereka untuk berproduksi. Kemudian, ketika sistem makan bersama dihentikan, para petani sama sekali tidak memiliki stock makanan.

Kelebihan hasil panen pangan yang dibeli oleh PKT dari para petani tidak digunakan untuk cadangan, melainkan untuk pengembangan industri berat dan militer, termasuk industri pengolahan besi dan baja, sehingga mempercepat kekurangan pangan.

Di sisi lain, untuk memenuhi target produksi biji-bijian yang dilaporkan secara membual, PKT menggeledah rumah-rumah petani untuk melihat apakah ada biji-bijian yang disembunyikan. Jika mereka tidak dapat memperoleh biji-bijian tersebut, mereka akan mengadakan sesi kritik dan penghajaran publik terhadap para petani ybs.

Di bawah tekanan politik yang sangat besar, benih, pakan ternak, dan ransum terakhir yang tersisa diserahkan. Para petani tidak memiliki makanan dan hanya bisa memakan kulit pohon dan menggerogoti akar rumput, tetapi ada begitu banyak orang yang kelaparan sehingga bahkan kulit pohon dan akar rumput pun habis. Beberapa orang terdorong ke dalam keputusasaan dan tidak punya pilihan selain melarikan diri dari kelaparan. Para pengungsi ini diperlakukan sebagai “musuh kelas” dan “pelarian,” dengan penghalang jalan didirikan di mana-mana untuk mencegat mereka. Banyak yang dipukuli hingga mati atau mati kelaparan di tempat penampungan.

Kedua. Ideologi sayap kiri ekstrem dari Li Jingquan, Sekretaris Komite Partai Provinsi Sichuan.

Pada tahun 1952, Mao Zedong mempromosikan Deng Xiaoping, Sekretaris Pertama Biro Barat Daya, untuk bekerja di pemerintahan pusat. Deng kemudian menunjuk Li Jingquan sebagai Sekretaris Komite Partai Provinsi Sichuan dan Ketua Pemerintahan Provinsi Sichuan. Sejak saat itu, Deng menjadi “pendukung” Li di pemerintahan pusat, dan Li menjadi “agen” Deng di Sichuan. Menurut seorang pemimpin provinsi Sichuan pada waktu itu, “Setiap kali Li Jingquan pergi ke Beijing untuk rapat, hal pertama yang dilakukannya setelah turun dari pesawat adalah pergi ke rumah Deng Xiaoping.”

Dari tahun 1958 hingga 1962, Mao Zedong secara bertahap bergerak menuju sayap kiri ekstrem, dan Deng Xiaoping mengikutinya dengan cermat. Ekstremisme sayap kiri Mao dan Deng ditransmisikan kepada Li Jingquan, menghasilkan ekstremisme sayap kiri yang lebih ekstrem lagi.

Sebagai contoh, pada tahun 1958, produksi biji-bijian Sichuan adalah 22,45 juta ton, tetapi angka pembualan yang dilaporkan di setiap tingkat adalah 40 juta ton. Mao sangat gembira ketika melihat angka ini dan mengusulkan agar produksi biji-bijian Sichuan mencapai 75 juta ton pada tahun 1959.

Untuk melaksanakan instruksi Mao, Li Jingquan mengusulkan agar Sichuan membangun lahan pertanian seluas 10 juta mu (667 ribu hektar) dengan hasil panen 10.000 jin per mu (74,9 ton per hektar), dan secara paksa mewajibkan para kader di semua tingkatan untuk menandatangani janji untuk mencapai target tinggi sebesar 10.000 jin per mu (74,9 ton per hektar).

Setelah para kader di semua tingkatan menandatangani janji, satu-satunya jalan keluar adalah meningkatkan tindakan tekanan tinggi di setiap tingkatan, menggunakan segala macam taktik paksaan, dan menyerang siapa pun yang menentangnya.

Li Jingquan tidak menunjukkan belas kasihan dalam menindak para kader yang melaporkan kelaparan di Sichuan kepada pemerintah pusat. Liao Bokang, Sekretaris Komite Kota Chongqing dari Liga Pemuda Komunis yang disebutkan sebelumnya, dituduh “menyerang Partai dan Tiga Panji Merah dengan kejam” karena melaporkan situasi tersebut kepada Yang Shangkun. Ia dihukum dengan “masa percobaan dua tahun di dalam Partai dan pemecatan dari semua jabatan Partai dan pemerintah,” dan “dikirim” untuk bekerja di lokasi konstruksi. Ia sangat menderita selama 20 tahun berikutnya.

Li Jingquan mengikuti perkembangan Mao dan Deng di Sichuan dengan saksama dan menerima banyak penghargaan. Pada Sidang Pleno Kelima Komite Sentral Kedelapan pada Mei 1958, ia dipromosikan menjadi anggota Politbiro Partai Komunis Tiongkok, satu-satunya di antara semua sekretaris Partai provinsi di seluruh negeri yang mencapai hal ini. Pada awal tahun 1960, Li Jingquan dipromosikan dari Sekretaris Pertama Komite Partai Provinsi Sichuan menjadi Sekretaris Pertama Biro Barat Daya.

Sejak saat itu hingga pecahnya Revolusi Kebudayaan pada tahun 1966, Li Jingquan adalah “Raja Barat Daya” yang tak tertandingi di wilayah tersebut.

Ketiga. Sichuan menempati peringkat pertama di negara ini dalam ekspor biji-bijian.

Sejak Partai Komunis Tiongkok (PKT) merebut kekuasaan pada tahun 1949 hingga Gerakan Lompatan Jauh ke Depan, Sichuan memiliki volume pengumpulan dan pengiriman biji-bijian tertinggi di negara tersebut.

Selama Gerakan Lompatan Jauh ke Depan, pengalihan pasokan biji-bijian dari pemerintah pusat ke Sichuan disetujui oleh Deng Xiaoping,  Jenderal Sekretariat Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok, dan Zhou Enlai, Perdana Menteri Dewan Negara.

Ketika Deng Xiaoping mengunjungi Sichuan, ia pernah mengatakan bahwa Sichuan masih perlu mengeluarkan pasokan biji-bijian, dan bahwa orang-orang seharusnya meninggal hanya di Sichuan, bukan di Beijing atau Shanghai, jika tidak, dampak internasionalnya akan terlalu besar. Kata-kata ini beredar di kalangan beberapa kader di Sichuan, dan diringkas oleh seorang kader di Wanxian sebagai: “Lebih baik seseorang meninggal di lembah pegunungan (di Sichuan) daripada meninggal di Jalan Wangfujing (di Beijing).”

Dari tahun 1958 hingga 1960, Sichuan mengirimkan 15,7 miliar jin (7,85 juta ton) biji-bijian ke provinsi lain, hampir setara dengan jumlah total biji-bijian yang dikirimkan dalam lima tahun sebelumnya. Pada tahun 1960, ketika produksi sangat berkurang, lebih dari 6,8 miliar jin (3,4 juta ton) biji-bijian dikirimkan, yang merupakan lebih dari seperempat dari hasil produksi tahun itu.

Tepat ketika Li Jingquan dengan bangga menyatakan bahwa ekspor biji-bijian Sichuan “menduduki peringkat pertama di negara ini,” sejumlah besar orang di pedesaan Sichuan, yang dikenal sebagai “Tanah Kelimpahan,” menderita mati kelaparan, dan orang-orang di kota-kota juga umumnya kelaparan, yang menyebabkan ketidakpuasan yang meluas di kalangan masyarakat.

Kesimpulan

Ada sebuah pepatah Tiongkok kuno: “Rakyat adalah fondasi negara, dan makanan adalah hal terpenting bagi rakyat.” Tetapi di bawah pemerintahan PKT, nyawa rakyat biasa tidak berharga.

Mao Zedong dan banyak pejabat tinggi Partai Komunis Tiongkok berasal dari latar belakang petani. Bagaimana mungkin mereka tidak tahu berapa banyak hasil panen gandum yang dapat dihasilkan dari satu mu (0.0667 hectar) lahan?

Menurut Li Yinqiao, kepala pengawal Mao Zedong pada saat itu, pada Oktober 1959, telegram rahasia yang melaporkan kematian akibat kelaparan di seluruh negeri telah sampai ke kantor anggota Komite Tetap Politbiro di Zhongnanhai, tetapi PKT tidak membuka lumbung untuk memberikan bantuan.

Pada tahun 1961, investigasi yang dilakukan oleh Kementerian Pangan dan Kementerian Statistik menyimpulkan bahwa populasi nasional telah berkurang hingga puluhan juta jiwa!

Dokumen ini hanya dilaporkan kepada Zhou Enlai dan Mao Zedong. Setelah melihatnya, Zhou Enlai memerintahkan Zhou Boping, direktur Kantor Umum Kementerian Pangan, untuk segera menghancurkannya dan tidak menyebarkannya. Zhou Boping dan dua orang lainnya bersama-sama mengawasi penghancuran dokumen dan pelat cetaknya. Setelah itu, Zhou Enlai bahkan menelepon Zhou Boping untuk menanyakan apakah dokumen tersebut telah dihancurkan. Baru setelah Zhou Boping memastikan bahwa dokumen tersebut telah dihancurkan, Zhou Enlai merasa lega.

Setelah membaca cerita hari ini, apakah Kelaparan Besar tahun 1959-1961 merupakan bencana alam atau malapetaka buatan manusia, saya yakin Anda, para pemirsa, sudah memiliki jawabannya sendiri. (***)

Para Anggota Parlemen Kanada Rayakan Hari Falun Dafa Sedunia dan 34 Tahun Diperkenalkannya Falun Dafa ke Publik 

Sebanyak 19 anggota Parlemen Kanada dari berbagai partai berkumpul di Parliament Hill di Ottawa untuk merayakan Hari Falun Dafa Sedunia, memuji prinsip “Sejati, Baik, Sabar,” sambil mengecam meningkatnya penindasan lintas negara yang terkait dengan Partai Komunis Tiongkok

EtIndonesia. Ratusan praktisi Falun Gong berkumpul di Parliament Hill di Ottawa pada Selasa (5/5/2026) untuk merayakan Hari Falun Dafa Sedunia dan peringatan 34 tahun diperkenalkannya Falun Dafa kepada publik.

Dikutip dari visiontimes.com, acara tersebut mendapat dukungan dari 19 anggota Parlemen yang mewakili berbagai partai politik, serta sejumlah pernyataan tertulis dari para pemimpin politik Kanada. Mereka memuji prinsip inti dari latihan spiritual tersebut sambil menyuarakan keprihatinan atas apa yang mereka sebut sebagai “penindasan lintas negara yang semakin meningkat” dan ancaman intimidasi yang terkait dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Falun Dafa, yang juga dikenal sebagai Falun Gong, adalah latihan meditasi kuno yang berakar pada prinsip Sejati, Baik, dan Sabar. Latihan ini pertama kali diperkenalkan ke publik oleh Master Li Hongzhi pada Mei 1992.  Meskipun bersifat damai, PKT meluncurkan kampanye brutal untuk memberantas latihan ini pada Juli 1999. Sejak saat itu, ribuan orang  tewas di tangan polisi Tiongkok, sementara banyak praktisi hingga kini masih mengalami pengawasan rutin, larangan bepergian secara sewenang-wenang, dan penangkapan karena menolak melepaskan keyakinan mereka.

Perwakilan Himpunan Falun Dafa, Pixing Zhang (kiri) dan Joel Chipkar (kanan), bersama anggota Parlemen Konservatif Sandra Cobena dan James Bezan merayakan Hari Falun Dafa Sedunia di Parliament Hill, Ottawa, pada 5 Mei 2026. Jonathan Ren/The Epoch Times

Nilai-Nilai Universal

Anggota Parlemen dari Partai Liberal, Judy Sgro, yang juga menjabat sebagai salah satu ketua Parliamentary Friends of Falun Gong, mengatakan bahwa prinsip Falun Dafa sangat selaras dengan masyarakat Kanada.

“‘Sejati, Baik, Sabar’ bukan hanya ajaran Falun Dafa, tetapi juga nilai universal yang perlu dimiliki kita semua,” kata Sgro. “Prinsip-prinsip ini sangat beresonansi di Kanada dan mencerminkan jenis masyarakat yang ingin kita bangun.”

Anggota Parlemen dari Partai Liberal, Judy Sgro, berbicara dalam perayaan Hari Falun Dafa Sedunia di Parliament Hill, Ottawa, pada 5 Mei 2026. Jonathan Ren/The Epoch Times

Anggota Parlemen dari Partai Konservatif, Scott Reid, memuji para praktisi karena tetap teguh pada keyakinan mereka meskipun telah mengalami penganiayaan selama puluhan tahun di Tiongkok.

Anggota Parlemen Konservatif, Scott Reid, merayakan Hari Falun Dafa Sedunia di Parliament Hill, Ottawa, pada 5 Mei 2026. Jonathan Ren/The Epoch Times

“Keteguhan menghadapi kekerasan seperti ini sungguh luar biasa,” kata Reid. “Melalui pertunjukan artistik seperti Shen Yun Performing Arts, Anda telah mempromosikan nilai-nilai fundamental peradaban Tiongkok ke seluruh dunia.”

Ia menambahkan, “Dalam situasi ketika PKT tidak menghormati budayanya sendiri, justru Anda yang telah melestarikan tradisi ini dan memperoleh penghormatan atasnya. Prinsip-prinsip yang Anda junjung adalah fondasi dari seluruh peradaban.”

Wakil pemimpin Partai Konservatif, Melissa Lantsman, mengatakan bahwa acara tersebut mewakili “nilai-nilai Kanada yang murni” dan berjanji akan terus mendukung praktisi Falun Gong di Parlemen terlepas dari tekanan Beijing.

Anggota Parlemen Kecam Penindasan Lintas Negara

Beberapa anggota parlemen juga menyinggung ancaman bom baru-baru ini yang menargetkan pertunjukan Shen Yun Performing Arts, termasuk insiden yang terkait dengan Four Seasons Centre for the Performing Arts di Toronto awal tahun ini.

Didirikan pada tahun 2006, Shen Yun Performing Arts adalah perusahaan tari dan musik klasik Tiongkok terkemuka di dunia, yang menampilkan keindahan dan kemegahan budaya serta seni tradisional Tiongkok sebelum dihancurkan oleh komunisme. Perusahaan yang berbasis di New York itu kini memiliki delapan rombongan dengan ukuran setara yang melakukan tur dan pertunjukan secara bersamaan di seluruh dunia, serta menampilkan produksi baru setiap tahun.

Anggota Parlemen Konservatif, Roman Baber, mengenang ketika ia tiba di lokasi pertunjukan pada 30 Maret saat evakuasi dipicu oleh email ancaman. Membandingkan situasi itu dengan pengalamannya tumbuh di bawah komunisme Soviet, Baber mempertanyakan mengapa rezim otoriter takut terhadap kelompok seperti Falun Gong.

Anggota Parlemen Konservatif, Roman Baber, merayakan Hari Falun Dafa Sedunia di Parliament Hill, Ottawa, pada 5 Mei 2026. Jonathan Ren/The Epoch Times

“Apa yang ditakuti rezim Beijing?” kata Baber. “Apakah mereka takut pada orang-orang yang bermeditasi dengan tenang? Takut pada belas kasih dan kedamaian? Yang sebenarnya mereka takuti adalah kejelasan moral kita dan kemampuan kita menyatukan orang-orang.”

Anggota Parlemen Konservatif, James Bezan, menggambarkan upaya intimidasi tersebut sebagai “penindasan lintas negara” dan mendesak para legislator untuk meloloskan RUU C-219, undang-undang yang dimaksudkan untuk memperkuat respons Kanada terhadap campur tangan asing dan kampanye intimidasi.

“Memastikan bahwa masyarakat tidak lagi menjadi sasaran serangan seperti ini adalah tanggung jawab setiap anggota Parlemen dan setiap tingkat pemerintahan,” kata Bezan.

Anggota Parlemen Liberal, Yvan Baker, menekankan bahwa ancaman terhadap para penampil dan penonton merupakan tindak kriminal serius yang harus diproses melalui jalur hukum.

Dukungan Lintas Partai di Parliament Hill

Para anggota parlemen dari berbagai partai menyatakan solidaritas mereka sepanjang acara berlangsung. Anggota Parlemen Konservatif, Garnett Genuis, berterima kasih kepada praktisi Falun Gong atas apa yang ia sebut sebagai kepemimpinan mereka dalam mengungkap upaya campur tangan asing di Kanada.

“Masyarakat harus memiliki kebebasan untuk mengekspresikan diri, berbagi gagasan, menciptakan dan menampilkan seni yang indah tanpa campur tangan pemerintah asing,” kata Genuis. “Kita harus memperjuangkan kebebasan yang penting bagi seluruh warga Kanada.”

Pemimpin Partai Hijau, Elizabeth May, merayakan Hari Falun Dafa Sedunia di Parliament Hill, Ottawa, pada 5 Mei 2026. Jonathan Ren/The Epoch Times

Pemimpin Partai Hijau, Elizabeth May, memberikan penghormatan kepada mendiang mantan anggota parlemen Kanada, David Kilgour, yang menghabiskan bertahun-tahun menyelidiki dugaan pengambilan organ paksa di Tiongkok.

“Hak asasi manusia, semangat kemanusiaan, serta kedamaian dan cinta kasih yang dibawa Falun Dafa tidak akan dipadamkan oleh Beijing,” kata May.

Anggota Parlemen Liberal, Sameer Zuberi, memuji ketangguhan para praktisi di tengah tekanan dan menekankan bahwa semua orang berhak atas martabat dan kebebasan berkeyakinan tanpa memandang latar belakang atau agama.

Mengecam Penindasan Lintas Negara oleh PKT

Anggota Parlemen Konservatif, Sandra Cobena, mengatakan bahwa perayaan ulang tahun ke-34 Falun Dafa mengirimkan “pesan kuat bahwa martabat tidak dapat ditekan, bahwa ekspresi damai tidak dapat dihapuskan, dan bahwa pencarian kebebasan spiritual adalah hak yang dimiliki setiap manusia.”

Anggota Parlemen Konservatif, Sandra Cobena, merayakan Hari Falun Dafa Sedunia di Parliament Hill, Ottawa, pada 5 Mei 2026. Jonathan Ren/The Epoch Times

Ia mencatat bahwa banyak praktisi memiliki kisah ketangguhan dan pengalaman melarikan diri dari penganiayaan di Tiongkok untuk mencari perlindungan di negara-negara seperti Kanada yang menjunjung kebebasan.

“Kebebasan berkeyakinan, kebebasan berekspresi, dan kebebasan hati nurani adalah di antara hak paling mendasar yang kita miliki, dan itu menjadi fondasi masyarakat yang terbuka dan demokratis,” kata Cobena.

“Namun, kita tahu bahwa di banyak bagian dunia, individu masih dianiaya hanya karena keyakinan mereka atau karena menjalankan iman mereka secara damai. Bahkan di negara kita sendiri, kita telah melihat bagaimana rezim otoriter berusaha memperluas pengaruh mereka melampaui batas negaranya.”

Perwakilan Himpunan Falun Dafa Kanada berdiri bersama seorang asisten anggota Parlemen Liberal Amandeep Sodhi yang memegang sebuah proklamasi dari anggota parlemen tersebut untuk memperingati Hari Falun Dafa Sedunia, di Parliament Hill, Ottawa, pada 5 Mei 2026. Evan Ning/The Epoch Times

Anggota Parlemen Konservatif, John Brassard, juga menyatakan dukungannya terhadap Falun Dafa, dengan mengatakan bahwa ia mengagumi keberanian para praktisi dalam menghadapi tekanan langsung dari PKT, seperti yang terlihat dalam pembatalan pertunjukan Shen Yun Performing Arts di Toronto.

“Saya mengagumi keteguhan Anda, saya mengagumi keyakinan Anda, dan saya mengagumi ketahanan Anda dalam memastikan bahwa gerakan Falun Dafa terus berkembang, bukan hanya di Kanada, tetapi juga di seluruh dunia,” kata Brassard kepada para praktisi di Parliament Hill.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih karena Anda hadir di Parliament Hill hari ini, dan terima kasih karena Anda mempraktikkan keyakinan Anda tanpa rasa takut.”

Anggota Parlemen Konservatif, Fred Davies, mengatakan bahwa ia baru недавно mengetahui tentang penganiayaan yang dihadapi praktisi Falun Dafa dan merasa senang dapat bergabung dalam acara tersebut untuk merayakan hari diperkenalkannya latihan spiritual itu kepada publik.

“Ini adalah hari yang indah, … Anda telah datang ke Ottawa, Anda telah menghiasi halaman rumput di depan Peace Tower, yang merupakan simbol demokrasi kami di Kanada—kebebasan yang kami nikmati, kebebasan yang Anda nikmati,” kata Davies.

“Harapan saya bagi Anda adalah agar kebebasan-kebebasan ini terus berlanjut untuk waktu yang sangat, sangat lama, dan agar latihan Anda diterima oleh seluruh dunia serta didukung oleh kita semua.”

Pesan Dukungan

Sejumlah politisi yang tidak dapat hadir secara langsung mengirimkan pesan dukungan tertulis. Pemimpin House dari Partai Konservatif, Andrew Scheer, menulis:

“Selama tiga dekade, bahkan di tengah kebencian dan kebrutalan, Anda memilih kedamaian dan belas kasih. Ini bukan hanya latihan spiritual, tetapi juga teladan bagi seluruh umat manusia.”

Anggota Parlemen Konservatif, Michael Cooper, menambahkan: “Saya bangga berdiri bersama Anda. Keadilan dan kebaikan pada akhirnya akan mengalahkan penindasan. Ketangguhan Falun Dafa adalah bukti kekuatan kebenaran.”

Acara tersebut menampilkan latihan meditasi bersama, pertunjukan musik, dan penampilan oleh Tian Guo Marching Band. Banyak anggota parlemen juga menyambut pengumuman bahwa Shen Yun dijadwalkan kembali tampil di Four Seasons Centre Toronto pada 26–28 Juni untuk empat pertunjukan setelah gangguan sebelumnya. Beberapa anggota parlemen menggambarkan kembalinya pertunjukan tersebut sebagai “kemenangan bagi demokrasi” dan “kembalinya keadilan.”

Grup Marching Band Tian Guo tampil sebagai bagian dari kegiatan perayaan Hari Falun Dafa Sedunia di Parliament Hill, Ottawa, pada 5 Mei 2026. Jonathan Ren/The Epoch Times
Para praktisi Falun Dafa mengadakan acara untuk merayakan Hari Falun Dafa Sedunia di Parliament Hill di Ottawa pada 5 Mei 2026. Jonathan Ren/The Epoch Times
Para praktisi Falun Dafa muda berpartisipasi dalam pertunjukan tari sebagai bagian dari kegiatan untuk merayakan Hari Falun Dafa Sedunia di Parliament Hill di Ottawa pada 5 Mei 2026. Jonathan Ren/The Epoch Times
Para praktisi Falun Dafa muda berpartisipasi dalam pertunjukan tari sebagai bagian dari kegiatan untuk merayakan Hari Falun Dafa Sedunia di Parliament Hill di Ottawa pada 5 Mei 2026. Jonathan Ren/The Epoch Times
Para praktisi Falun Dafa muda berpartisipasi dalam pertunjukan tari sebagai bagian dari kegiatan untuk merayakan Hari Falun Dafa Sedunia di Parliament Hill di Ottawa pada 5 Mei 2026. Evan Ning/The Epoch Times
Para praktisi Falun Dafa menampilkan tarian gendang pinggang sebagai bagian dari kegiatan untuk merayakan Hari Falun Dafa Sedunia di Parliament Hill di Ottawa pada 5 Mei 2026. Evan Ning/The Epoch Times
Grup Marching Band Tian Guo tampil sebagai bagian dari kegiatan perayaan Hari Falun Dafa Sedunia di Parliament Hill, Ottawa, pada 5 Mei 2026. Jonathan Ren/The Epoch Times

“Dari Sepuluh Toko, Sembilan Tutup” — Warga Lama di Shanghai : Belum Pernah Melihat Kota Sesuram Ini

EtIndonesia. Ekonomi Tiongkok terus melemah, bahkan kota tingkat pertama seperti Shanghai pun tidak luput dari dampaknya. Pusat perbelanjaan kosong, jumlah pengunjung menurun, pengangguran meningkat, dan harga properti terus merosot. Banyak warga mengeluh bahwa mereka belum pernah melihat Shanghai sesepi dan sesuram ini. Seorang warga Shanghai membagikan perubahan kota yang ia saksikan sendiri.

Zhang Hong (nama samaran), yang telah tinggal di Shanghai selama lebih dari 60 tahun, mengatakan bahwa pemandangan suram seperti sekarang belum pernah ia lihat selama puluhan tahun terakhir.

 “Keadaannya sangat menyedihkan. Di tempat kami ada bangunan ikonik bernama ‘Aegean Sea’, sebuah pusat perdagangan besar. Semua toko di dalamnya sudah tutup dan berhenti beroperasi. Padahal dulu kawasan itu sangat ramai. Sekarang tidak ada orang sama sekali. Dari luar, malam hari masih terlihat gemerlap, tetapi di dalam semua toko sudah tutup,” katanya. 

Bukan hanya kawasan bisnis yang sepi, beberapa pusat transportasi yang biasanya dipadati orang kini juga terasa jauh lebih lengang.

Stasiun Kereta Shanghai (Shanghai Railway Station), salah satu pusat transportasi kereta api terpenting di Shanghai dan juga salah satu kawasan tersibuk di seluruh Tiongkok, kini mengalami penurunan jumlah pengunjung yang sangat jelas.

Zhang Hong mengatakan:  “Dulu di stasiun baru Shanghai ada lorong bawah tanah dengan toko-toko yang semuanya penuh buka. Sekarang dari sepuluh kios, hanya satu yang masih buka. Sepuluh toko, sembilan tutup. Tidak ada lagi orang yang datang.”

Seorang netizen Shanghai berkomentar:  “Sepuluh tahun lalu saya pergi ke Jalan Nanjing di Shanghai. Jumlah orang saat itu setidaknya sepuluh kali lebih banyak dibanding sekarang!”

Sun Xiao (nama samaran), setelah lulus universitas bekerja di industri IT di Shanghai. Menurutnya, sejak pandemi COVID-19, harga rumah di Shanghai terus turun, angka pengangguran melonjak, bahkan industri IT dan perusahaan teknologi besar pun mulai melakukan PHK.

 “Di seluruh Tiongkok harga rumah turun sangat parah. Apartemen lama di Shanghai sebagian besar turun sekitar 40%, bahkan ada yang sampai 50%. Shanghai adalah kota metropolitan internasional dengan ekonomi yang sangat maju, tetapi kenyataannya banyak hal di Shanghai sangat mengecewakan,” ujarnya. 

Sun Xiao kehilangan pekerjaannya pada tahun 2025 dan menganggur selama delapan bulan di rumah. Teman dan kerabatnya yang bekerja di perusahaan teknologi besar juga mengalami PHK, sesuatu yang sebelumnya jarang terjadi.

 “Banyak orang menganggur dalam waktu lama dan terus tidak bisa mendapatkan pekerjaan, termasuk di bidang IT. Saya melihat cukup banyak kasus seperti itu. Beberapa rekan kerja menganggur sangat lama dan tidak bisa menemukan pekerjaan baru. Dulu situasi seperti ini tidak pernah terjadi,” katanya. 

Seorang netizen Shanghai lainnya menulis:  “Sebagai warga daratan Tiongkok, yang membuat kami putus asa adalah masalah pekerjaan. Banyak usaha kecil dan menengah tutup, PHK terjadi di mana-mana. Ini menunjukkan bahwa uang di dalam negeri semakin terkonsentrasi pada kelompok orang terkaya. Kesenjangan kaya dan miskin hanya akan semakin besar. Orang kaya membawa uang mereka kabur dari lubang tanpa masa depan ini.”

Laporan wawancara NTD oleh Hong Ning dan Chen Jianming.

Trump: Kapal Perang AS Tidak Rusak Sedikit Pun, Iran Bukan Negara Normal

EtIndonesia. Pada 7 Mei, di tengah perundingan gencatan senjata AS-Iran, Iran memanfaatkan situasi untuk menyerang kapal perang Amerika Serikat yang sedang menjalankan blokade laut. Militer AS segera melakukan serangan balasan terhadap fasilitas militer Iran dan menembak jatuh kapal serang serta drone Iran. Presiden Trump mengatakan bahwa Iran dipimpin oleh “sekelompok orang gila” dan bukan negara normal. Ia juga menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan pernah membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.

Departemen Keuangan AS: Menjatuhkan Sanksi terhadap Wakil Menteri Perminyakan Irak

Departemen Keuangan AS pada 7 Mei mengumumkan bahwa sebagai bagian dari “Operation Economic Pury”, Kantor Pengawasan Aset Asing AS meningkatkan tekanan terhadap Iran dan milisi proksi Iran di Irak. Sejumlah individu dan perusahaan yang memanfaatkan sektor minyak Irak demi keuntungan pribadi dan mengganggu keamanan negara dimasukkan ke dalam daftar sanksi.

Dalam pengumuman tersebut disebutkan bahwa sasaran sanksi termasuk Wakil Menteri Perminyakan Irak, Ali Maarij Al-Bahadly, yang dituduh menyalahgunakan wewenang untuk membantu pengalihan penjualan minyak kepada rezim Iran, serta tiga pemimpin senior kelompok milisi teroris yang bersekutu dengan Iran.

NetBlocks: Pemutusan Internet Iran Sudah Berlangsung 70 Hari

Organisasi pemantau internet NetBlocks pada 8 Mei memperbarui data yang menunjukkan bahwa pemblokiran internet di Iran masih terus berlangsung dan telah mencapai 70 hari, atau lebih dari 1.656 jam. Jutaan warga Iran terisolasi dari dunia luar.

UEA Mengonfirmasi Sedang Menghadapi Serangan dari Iran

Kementerian Pertahanan United Arab Emirates mengumumkan melalui platform X resminya bahwa sistem pertahanan udara UEA saat ini sedang menghadapi serangan rudal dan drone dari Iran.

Kementerian tersebut mengonfirmasi bahwa suara ledakan yang terdengar di berbagai wilayah negara merupakan hasil intersepsi terhadap rudal balistik, rudal jelajah, dan drone oleh sistem pertahanan udara UEA.

Apakah Gencatan Senjata Masih Berlaku? Trump: Lihat Saja Apakah Langit Iran Penuh Api

Sebelumnya, Presiden Trump menjawab pertanyaan wartawan mengenai “gencatan senjata” saat berada di Reflection Pool Memorial Lincoln terkait serangan balasan AS terhadap Iran.

Ketika ditanya apakah perjanjian gencatan senjata dengan Iran masih berlaku, Trump menjawab:

“Mereka hari ini bermain api dan membakar diri sendiri. Kami menghajar mereka habis-habisan. Mereka menyebut ini ‘hal kecil’. Jika gencatan senjata berakhir, saya akan memberitahu kalian. Tapi sebenarnya kalian tidak perlu diberitahu. Kalau gencatan senjata sudah tidak ada, kalian cukup melihat apakah langit Iran penuh kobaran api. Mereka sebaiknya segera menandatangani perjanjian.”

Trump: Kapal Perang AS Tidak Tersentuh, Iran Negara Tidak Normal

Pada malam 7 Mei, Presiden Trump menulis di platform Truth Social:

“Tiga kapal perusak kelas dunia Amerika Serikat baru saja berhasil melewati Selat Hormuz di bawah hujan tembakan. Ketiga kapal perusak itu sama sekali tidak mengalami kerusakan, sementara para penyerang Iran menderita kerugian besar. Mereka bersama banyak kapal kecil dihancurkan sepenuhnya. Kapal-kapal kecil itu digunakan untuk menggantikan angkatan laut mereka yang sudah dihancurkan total. Kapal-kapal itu tenggelam ke dasar laut dengan cepat dan efektif. Mereka juga menembakkan rudal ke kapal perusak kami, tetapi semuanya dengan mudah ditembak jatuh.”

Selain kapal kecil, Iran juga menggunakan drone. Trump menggambarkan puing-puing drone Iran “jatuh ke laut dengan anggun”. Ia menulis:

“Drone-drone itu juga menyerang, tetapi dihancurkan di udara. Abunya jatuh ke laut dengan anggun, seperti kupu-kupu yang jatuh ke makam.”

Trump kembali menegaskan bahwa Iran adalah negara pendukung terorisme, dan dunia akan menghadapi bencana jika Iran memiliki senjata nuklir. Namun, AS tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

Ia melanjutkan:“Negara normal akan membiarkan kapal perusak itu lewat, tetapi Iran bukan negara normal. Mereka dipimpin oleh sekelompok orang gila. Jika mereka punya kesempatan menggunakan senjata nuklir, mereka pasti tidak akan ragu menggunakannya—tetapi mereka tidak akan pernah memiliki kesempatan itu.”

Trump juga mengatakan bahwa Amerika masih memberi kesempatan kepada rezim Iran untuk berubah pikiran:

“Seperti hari ini ketika kami kembali mengalahkan mereka, jika mereka tidak segera menandatangani kesepakatan, maka di masa depan kami akan mengalahkan mereka dengan cara yang jauh lebih keras dan lebih brutal! Tiga kapal perusak kami dan awaknya yang luar biasa akan kembali bergabung dalam garis blokade laut kami. Ini benar-benar sebuah ‘tembok baja’.”

Sebelumnya, United States Central Command juga mengumumkan di platform X bahwa pada 7 Mei, saat kapal perusak rudal USS Truxtun (DDG 103), USS Rafael Peralta (DDG 115), dan USS Mason (DDG 87) melewati Selat Hormuz menuju Teluk Oman, Iran meluncurkan sejumlah rudal, drone, dan kapal kecil.

Militer AS berhasil menetralkan ancaman tersebut dan melakukan serangan terhadap fasilitas militer Iran yang digunakan untuk menyerang pasukan AS, termasuk lokasi peluncuran rudal dan drone, pusat komando dan kendali, serta fasilitas intelijen, pengawasan, dan pengintaian.

CENTCOM menegaskan bahwa ketiga kapal AS tidak mengalami kerusakan sama sekali. Meski tidak menginginkan eskalasi konflik, pasukan AS tetap dalam posisi siaga dan siap melindungi kekuatan militer Amerika kapan saja. 

Sumber : NTDTV.com

Lima Penumpang Kapal Pesiar Dinyatakan Positif Terinfeksi Hantavirus, Warga di Pulau Khawatir akan Terulangnya Mimpi Buruk COVID-19

Kapal pesiar mewah Belanda “Hondius” dilaporkan mengalami wabah Hantavirus. Pada Kamis (7 Mei), jumlah kasus terkonfirmasi meningkat menjadi lima orang. Di tengah upaya otoritas kesehatan global mengendalikan wabah hantavirus, semakin banyak rincian mengenai situasi ini mulai terungkap.

EtIndonesia. Pada Kamis 7 Mei, tiga pasien pertama yang diduga terinfeksi hantavirus dan dievakuasi dari kapal pesiar telah tiba di Amsterdam untuk menjalani perawatan lebih lanjut.

Sementara itu, sebuah rumah sakit di Spain dijadwalkan menerima 14 penumpang warga Spanyol yang dievakuasi dari kapal pesiar mewah tersebut.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat juga sedang memantau secara ketat 17 warga AS yang sempat berada di kapal itu.

Pada hari yang sama, terungkap pula bahwa setelah kematian pertama terjadi di atas kapal, kapten kapal memberitahu para penumpang bahwa korban tidak menular dan menyatakan pria tersebut meninggal karena sebab alami.

Saat ini, wabah hantavirus tersebut telah menyebabkan tiga kematian, termasuk sepasang suami istri asal Belanda dan seorang warga negara Jerman. Selain itu, sedikitnya lima orang telah dipastikan positif terinfeksi.

European Centre for Disease Prevention and Control menyatakan bahwa kapal pesiar tersebut diperkirakan akan berlabuh di Kepulauan Canary, Spanyol, pada hari Minggu. Namun, warga pulau setempat merasa sangat khawatir terhadap kedatangan kapal itu karena takut mimpi buruk pandemi COVID-19 akan terulang kembali.

Hantavirus sendiri jarang menular dari manusia ke manusia. Penyakit ini umumnya menyebar melalui kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi.

Laporan gabungan reporter NTDTV, Li Mei dan Ying Xiang.

Didanai Departemen Front Persatuan PKT! Dalang Utama Laboratorium Tiongkok di California Dinyatakan Bersalah atas 12 Dakwaan

Perkembangan terbaru kembali muncul dalam kasus “laboratorium biologis ilegal” di California. Departemen Kehakiman AS mengumumkan bahwa warga negara Tiongkok berusia 64 tahun, Jia Bei Zhu, diduga melakukan penjualan alat tes COVID-19 secara curang, memalsukan label peralatan medis, serta menipu FDA. Juri federal memutuskan seluruh 12 dakwaan terhadapnya terbukti bersalah. Zhu kini menghadapi ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

EtIndonesia. Kasus mengejutkan laboratorium biologis ilegal di California ternyata berkaitan dengan produksi alat tes COVID-19 yang cacat. Jia Bei Zhu diketahui telah menjual secara curang lebih dari satu juta perangkat tes COVID-19 kepada pelanggan di seluruh Amerika Serikat dan memperoleh keuntungan ilegal hampir 4 juta dolar AS. 

Departemen Kehakiman AS pada 6 Mei mengumumkan putusan bersalah terhadap Zhu atas seluruh 12 dakwaan, termasuk penipuan telekomunikasi, penjualan alat medis palsu atau cacat, serta memberikan pernyataan palsu kepada FDA AS.

Jia Bei Zhu sendiri merupakan buronan yang dicari Kanada. Pada tahun 2023, ia ditemukan mendirikan laboratorium ilegal di sebuah gudang di Reedley. Di lokasi tersebut ditemukan ribuan botol berisi patogen virus seperti HIV/AIDS, malaria, demam berdarah dengue, dan COVID-19. 

Selain itu, laboratorium tersebut juga memelihara secara ilegal sekitar 1.000 tikus percobaan hasil rekayasa genetika. Laboratorium ini diduga mendapat dukungan dana yang terkait dengan “Departemen Front Persatuan” PKT.

Rekan bisnis sekaligus pasangan Zhu, Zhaoyan Wang, juga didakwa dalam kasus ini. Namun, sebelum Zhu ditangkap, Wang telah melarikan diri dari Amerika Serikat dan saat ini diyakini bersembunyi di Tiongkok.

Bukti yang diajukan dalam persidangan menunjukkan bahwa Zhu dan Wang bersama-sama mendirikan perusahaan Universal Meditech Inc. (UMI). Mereka juga sengaja mempekerjakan pegawai yang kurang berpengalaman sehingga tidak akan mempertanyakan perintah atasan.

Dari tahun 2020 hingga 2023, Zhu dan para pegawai UMI mengimpor sejumlah besar alat tes COVID-19 cacat dari Tiongkok, lalu melakukan pengemasan ulang palsu dan mendistribusikan produk-produk bermasalah tersebut. Perusahaan itu mengklaim produknya telah disetujui FDA dan dibuat di Amerika Serikat, padahal seluruh klaim tersebut palsu.

Beberapa pegawai yang terlibat memberikan kesaksian di persidangan bahwa mereka mengetahui tindakan tersebut salah. Namun, karena takut mengalami ancaman atau bahaya fisik jika menolak perintah Zhu, mereka akhirnya tetap melakukannya.

Jia Bei Zhu kemungkinan menghadapi hukuman lebih dari 20 tahun penjara. Putusan akhir nantinya akan ditentukan pengadilan berdasarkan faktor hukum terkait dan pedoman hukuman federal dengan mempertimbangkan berbagai variabel.

Laporan disusun oleh NTD Asia Pasifik, Zhang Kexin dan Chen Lingzhi.

Beijing Memasok Barang-barang Militer dan Sipil ke Rusia dan Iran, AS Memperingatkan akan Memperluas Sanksi

EtIndonesia. Partai Komunis Tiongkok (PKT) terus memasok komponen drone dan material dwiguna militer-sipil kepada Iran dan Rusia. Para ahli menilai bahwa tindakan PKT kini telah berubah dari yang sebelumnya dilakukan secara diam-diam menjadi semakin terbuka. Pada saat yang sama, Departemen Keuangan AS mengumumkan putaran baru sanksi terhadap Iran, yang menargetkan jaringan penyelundupan minyak, lembaga keuangan asing, perusahaan pelayaran, dan perantara pihak ketiga.

Sejumlah perusahaan Tiongkok terus memasok komponen terkait drone serta material dwiguna militer-sipil kepada Iran dan Rusia, meskipun ada kontrol ekspor dan sanksi AS terhadap kedua negara tersebut.

Menurut laporan The Wall Street Journal, perusahaan Tiongkok, Xiamen Victory Technology, mengirim email kepada Iran untuk memasarkan mesin “Limbach L550”. Mesin tersebut merupakan komponen penting dari drone Iran “Shahed-136”. Laporan itu menyebutkan bahwa perusahaan tersebut bahkan menyatakan dukungan politik kepada Iran dalam surat elektroniknya.

Wakil Rektor Universitas Kainan, Taiwan, Chen Wenjia, mengatakan bahwa PKT kini bergerak dari pola pengiriman sumber daya yang sebelumnya relatif tertutup menuju keterbukaan terbatas.

 “Alasannya adalah karena PKT telah menilai bahwa konfrontasi AS-Tiongkok akan berlangsung jangka panjang, dan arah pembatasan AS terhadap Tiongkok tidak akan berubah. Karena itu, kekhawatiran terhadap sanksi kini telah menurun,” katanya. 

Laporan tersebut mengutip data bea cukai Tiongkok yang menunjukkan bahwa ratusan kontainer berisi material dwiguna militer-sipil telah diekspor ke Rusia dan Iran. Di antaranya, ekspor kabel serat optik dan baterai lithium-ion ke Rusia meningkat secara signifikan.

Chen Wenjia menambahkan:  “Narasi netralitas PKT kini semakin diragukan. Masalahnya bukan lagi sekadar perdagangan biasa, melainkan sudah menyangkut perangkat navigasi, mesin, serat optik, dan chip yang memiliki fungsi teknologi dwiguna untuk kepentingan militer.”

Mengenai celah dalam sanksi AS, laporan itu menyebutkan bahwa banyak komponen berasal dari perusahaan kecil atau pabrik kecil di Tiongkok yang hampir tidak memiliki hubungan dengan sistem keuangan AS, sehingga tidak terlalu takut terhadap sanksi Amerika. Selain itu, komponen-komponen tersebut juga mudah disamarkan sebagai produk industri biasa dalam jalur perdagangan normal.

Direktur Institut Penelitian Strategi dan Sumber Daya Pertahanan Taiwan, Su Ziyun, berpendapat bahwa apa yang terungkap saat ini kemungkinan hanya puncak gunung es, dan PKT kini telah berubah dari pendukung ekonomi menjadi pihak yang memberikan bantuan semi-militer.

Su Ziyun mengatakan:  “PKT memperoleh energi dari Rusia, lalu mengekspor material dwiguna militer-sipil. Bahkan kini semakin terang-terangan dengan menjual komponen drone kepada Rusia. Ini jelas menunjukkan bahwa mereka bergerak menuju peran sebagai pemberi bantuan semi-militer.”

Para ahli menyatakan bahwa PKT memanfaatkan perusahaan swasta, perusahaan di Hong Kong, dan jalur transit negara ketiga untuk mempertahankan operasi di wilayah abu-abu, sehingga dapat mengurangi tanggung jawab langsung pemerintah pusat.

Chen Wenjia mengatakan:  “Jika AS menilai PKT telah menjadi celah utama dalam sanksi terhadap industri perang Rusia dan Iran, maka kemungkinan perluasan sanksi sekunder di masa depan akan meningkat tajam. Selain perusahaan Tiongkok, bank yang membantu proses pembayaran, perusahaan pelayaran, dan jaringan keuangan Hong Kong juga dapat menjadi target sanksi berikutnya.”

Selain itu, Departemen Keuangan AS pada Kamis (7 Mei) mengumumkan putaran baru sanksi terhadap Iran, yang menargetkan jaringan penyelundupan minyak, lembaga keuangan asing, perusahaan pelayaran, dan perantara pihak ketiga. Pihak AS menuduh Wakil Menteri Perminyakan Irak, Ali Maarij, membantu Iran dan kelompok bersenjata Irak yang didukung Iran memperoleh dana melalui penyelundupan minyak.

Laporan reporter NTDTV, Zheng Shengxun, dari Amerika Serikat.

Tigal Kapal Perusak AS Tembus Selat Hormuz, Militer AS Membalas dengan Menyerang Pelabuhan Iran Hingga UEA Dikabarkan Ikut Operasi Militer

Pada Kamis (7 Mei), situasi Timur Tengah kembali memanas dengan kabar mengejutkan. Menurut laporan sejumlah media, Uni Emirat Arab (UEA) diduga ikut terlibat dalam operasi serangan militer Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran. Sejumlah pesawat tanker pengisian bahan bakar udara milik AS terlihat berputar di kawasan tersebut. 

Pada saat yang sama, ledakan besar juga dilaporkan terdengar di wilayah Iran, sementara Garda Revolusi Iran segera memasuki status siaga tempur. Selain itu, muncul kabar bahwa pemerintahan Trump sedang bersiap mengaktifkan kembali operasi pengawalan “Project Freedom ”.

EtIndonesia. Baru saja, Presiden Trump memberikan tanggapan atas serangan militer AS terhadap Iran pada Kamis 7 Mei. Ia mengatakan bahwa tiga kapal perusak kelas dunia milik AS USS Truxtun, USS Rafael Peralta, dan USS Mason berhasil melewati Selat Hormuz di tengah hujan tembakan tanpa mengalami kerusakan apa pun, sementara Iran justru mengalami kerugian besar. Trump memperingatkan bahwa jika Iran tidak segera menandatangani kesepakatan, maka Amerika Serikat di masa mendatang akan menghancurkan Teheran dengan cara yang jauh lebih keras dan agresif.

Menurut laporan media Timur Tengah, UEA turut ambil bagian dalam serangan AS terhadap Iran pada Kamis. Disebutkan bahwa ini merupakan operasi militer gabungan antara AS dan UEA. Sedikitnya lima pesawat tanker KC-135 milik AS lepas landas dari UEA, sementara sedikitnya empat pesawat tanker lainnya terlihat terbang di atas wilayah Israel dan Yordania.

Namun hingga saat ini, kabar tersebut belum dikonfirmasi secara resmi.

Pada saat yang sama, ledakan besar mendadak terdengar di Iran pada Kamis. Setelah itu, Garda Revolusi Iran mengumumkan status siaga tempur.

Selain itu, seorang pejabat AS mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa pemerintahan Trump saat ini sedang mempersiapkan kembali pelaksanaan “Project Freedom”, sebuah misi yang sebelumnya dihentikan sementara setelah berjalan selama 36 jam. Pejabat Pentagon mengungkapkan bahwa operasi pengawalan kemungkinan akan kembali dimulai paling cepat pekan ini.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa upaya AS untuk membuka kembali Selat Hormuz secara paksa bergantung pada kekuatan besar angkatan laut dan udara guna melindungi kapal dagang dari serangan rudal dan drone Iran. Oleh karena itu, pangkalan militer dan wilayah udara Arab Saudi serta Kuwait menjadi sangat penting bagi operasi militer AS.

Namun, pejabat Arab Saudi mengungkapkan bahwa karena khawatir konflik akan semakin meningkat, Arab Saudi dan Kuwait pada awalnya tidak setuju memberikan akses pangkalan maupun izin melintas bagi AS. Hal ini juga dianggap sebagai salah satu alasan mengapa Presiden Trump tiba-tiba mengumumkan penghentian sementara operasi pengawalan pada Selasa malam.

Meski demikian, setelah Presiden Trump kembali berbicara dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Arab Saudi akhirnya memutuskan memulihkan izin penggunaan pangkalan dan hak melintas udara bagi AS.

Mengenai perundingan damai, Amerika Serikat telah mengajukan sebuah “memorandum 14 poin” dalam satu halaman untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz, dengan harapan dapat melanjutkan negosiasi. Saat ini, AS masih menunggu tanggapan dari pihak Iran.

Selain itu, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, pada Kamis mengatakan bahwa dirinya baru-baru ini bertemu dengan pemimpin tertinggi Mujtaba.  “Kami berbicara dengannya selama dua setengah jam,” katanya. 

Ini merupakan pertama kalinya sejak perang Iran pecah pada 28 Februari lalu Presiden Iran secara terbuka membahas pertemuannya dengan Mujtaba. Namun hingga kini Mujtaba belum pernah muncul di hadapan publik, sehingga dunia luar mempertanyakan kondisi kesehatannya maupun sejauh mana kekuasaan sebenarnya yang ia miliki.

Sebelumnya beredar kabar bahwa Pezeshkian mengecam Garda Revolusi karena memperburuk ketegangan regional dan meminta bertemu dengan Mujtaba, yang menunjukkan adanya perebutan kekuasaan antar faksi di internal Iran.

Pejabat senior Iran, Mohsen Rezaei, menyatakan bahwa Teheran tidak akan membiarkan Amerika Serikat membuka kembali Selat Hormuz melalui “rencana yang tidak realistis”.

Menurut laporan, Iran juga menuntut agar sebelum menyetujui kesepakatan apa pun, Amerika Serikat harus membayar kompensasi perang dan memberikan “keuntungan nyata”.

Laporan gabungan reporter NTD, Yi Jing.

Menjawab Keterasingan serta Dialog Lintas Budaya Antar Pulau dalam Pertunjukan Tari Islands

EtIndonesia. Dua sahabat yang berbeda bahasa dan bangsa berkolaborasi dalam pertunjukan tari yang bernama Islands. Keduanya membangun percakapan artistik tentang tubuh, ingatan, dan pulau sebagai ruang hidup sekaligus metafora identitas.

Kedua sahabat ini adalah koreografer/penari, Wang Yeu-kwn dari Shimmering Production–grup seni pertunjukan asal Taiwan dan  koreografer/penari Indonesia, Danang Pamungkas.  

Untuk diketahui, Islands juga telah terpilih sebagai finalis Bloom Prize, bagian dari The Rose International Dance Prize 2027 yang diselenggarakan oleh Sadler’s Wells; salah satu institusi tari terkemuka di London, Inggris. 

Karya Islands–sebagai bagian dari finalis Bloom Prize–akan dipentaskan mulai Januari – Februari 2027 di London. Wang Yeu-kwn menjadi finalis Bloom Prize untuk kategori emerging choreographers.

Kehadiran karya ini di Indonesia, dipentaskan di Teater Salihara, Jakarta Selatan pada Sabtu, 9 Mei 2026 pukul 20.00 WIB dan Minggu, 10 Mei 2026 pukul 16.00 WIB. 

Dok. Shimmering Production/LEE Chia-Yeh

Wang Yeu-kwn menceritakan ide tarian ini bermula saat ia tiba di Indonesia pada 2019 lalu. Selama perjalanannya, muncul beragam pertanyaan dalam dirinya. Ini terjadi setelah mereka tak bersua setelah 10 tahun berlalu. 

“Idenya sebenarnya berasal dari Indonesia, dan muncul banyak pertanyaan,” kata Wang dalam media preview di Teater Salihara, Jumat (8/5/2026).

Pertanyaan apakah yang mucul dibenak Yeu-kwn? identitas, budaya, dan tradisi yang berbeda menjadi jembatan yang perlu dijelajahi. 

“Jadi, saya berbicara dengan Danang, mungkin kita bisa membuat sebuah karya tentang pertanyaan-pertanyaan saya. Maka lahirlah karya Islands ini,” lanjutnya. 

Wang juga bercerita tentang kepulauan yang dimiliki Taiwan maupun Indonesia. Walaupun, pulau-pulau itu selalu tidak stabil dan berguncang. Apalagi, misalnya pulau di Taiwan menghadapi banyak hal, seperti topan dan gempa bumi, dan gunung. 

“Jadi, saya berharap para penonton yang datang menyaksikan pertunjukan kami dapat menikmatinya, dan saya berharap kami bisa menciptakan ruang di atas panggung sehingga setiap penonton dapat membawa pengalaman mereka sendiri dan ikut dalam perjalanan kami,” tambahnya. 

Bagi Danang, dalam produksi ini, ia harus menghadapi berbagai tantangan. Meski mereka bersahabat, bagaimanapun juga tak berlangsung dengan mudah.  

“Jadi kami harus menjadi profesional, menempatkan sisi kegilaan dan sifat kekanak-kanakan kami agar bisa menjadi profesional,” katanya. 

Danang mengungkapkan bagaimana ia bekerja dengan Yeu-kwn di dalam pikiran dirinya serta di dalam tubuhnya. Lalu juga dengan medium plastik. Danang juga bercerita tentang dirinya yang tak terbiasa dengan tubuhnya sebagai penari tradisional dan harus kembali ke tari kontemporer. 

“Ada banyak teknik yang harus saya pelajari. Saya harus kembali dari nol untuk belajar tentang keseimbangan, melayang, dan bagaimana menghadapi plastik itu. Ya, jadi itu adalah tantangan yang besar,” katanya. 

Sementara itu, kurator tari Komunitas Salihara, Tony Prabowo, menyampaikan bahwa kolaborasi ini memiliki kedalaman artistik karena berangkat dari relasi panjang dua seniman yang pernah berada dalam lingkungan pembelajaran yang sama. 

“Kerja sama seniman seni pertunjukan ini bermula dari pertemuan dua koreografer dan penari Indonesia-Taiwan, Danang Pamungkas dan Wang Yeu-kwn, yang pernah belajar bersama di bawah bimbingan Lin Hwai-Min dari Cloud Gate Dance Theater. Melalui berbagai sudut pandang yang berbeda tentang identitas, rasa keterasingan, serta pertanyaan yang selalu berlanjut akan makna kepenariannya, pertemuan ini seperti mengenal tubuh baru,” ujar Tony. (asr)

Dok. Shimmering Production/LEE Chia-Yeh
Dok. Shimmering Production/LEE Chia-Yeh

Nongkrong Sambil Investasi? Program “NGOPI SORE” di Surabaya Ajak Anak Muda Melek Saham, Bukan Judol!

Surabaya – Generasi muda sekarang doyan banget nongkrong di coffee shop. Tapi daripada cuma scroll medsos atau terjebak bujukan “cepat kaya” dari judi online (judol) dan investasi bodong, mending ngopi sambil belajar investasi saham, kan?

Nah, program NGOPI SORE —singkatan dari Ngobrol Seputar Investasi Saham, Obligasi, dan Reksadana—hadir untuk mengubah kebiasaan nongkrong jadi lebih produktif. Berlokasi di The Gade Coffee & Gold, galeri investor cafe pertama di Surabaya, acara ini digagas oleh BRI Danareksa Sekuritas Surabaya, Bursa Efek Indonesia (BEI) Jatim, dan Pegadaian.

Kenapa Anak Muda Perlu Tahu? Karena Banyak yang Masih Terperdaya

Branch Manager BRI Danareksa Sekuritas Surabaya, Taufan Febiola, menyoroti fakta memprihatinkan: meski pasar modal Indonesia didominasi investor usia di bawah 30 tahun, masih banyak anak muda yang lebih tertarik ke kripto, aset digital berisiko tinggi, atau bahkan terjebak investasi bodong dan judol.

“Banyak anak muda sekarang tertarik ke aset digital dan kripto yang risikonya tinggi. Padahal, investasi aman seperti reksa dana, tabungan emas, atau cicilan logam mulia juga bisa jadi pilihan menarik. Kami ingin mengenalkan bahwa investasi itu nggak harus spekulatif dan berbahaya,” tegas Taufan.

Judi Online vs Investasi Saham: Bedanya Jauh!

Program NGOPI SORE hadir untuk memberikan pemahaman mendasar yang seringkali dilewatkan:

  • Judi online = untungnya nggak pasti, tergantung keberuntungan, dan modal bisa raib dalam sekejap. Bahkan, sudah banyak korban bangkrut dan terlilit pinjol.
  • Investasi bodong = iming-iming return tinggi tanpa risiko, padahal sistemnya ponzi dan uangmu dipakai bayar investor lama.
  • Investasi saham & reksa dana = instrumen legal diawasi OJK, berbasis kinerja perusahaan riil, risikonya terukur, dan untuk pemula bisa mulai dengan reksa dana yang relatif lebih aman.

Ngopi Gratis, Konsultasi Portofolio, Sampai Buka Rekening Saham

Yang seru, acara ini benar-benar santai kayak ngobrol biasa. Kamu bisa:

  • Dapat market update terkini
  • Konsultasi portofolio investasi
  • Belajar produk pasar modal: saham, obligasi, reksa dana, hingga gadai efek
  • Bahkan buka Rekening Dana Nasabah (RDN) BRI dengan saldo awal minimal — langsung bisa mulai investasi!

Bahkan Taufan selaku Branch Manager akan ngantor langsung di coffee shop secara rutin, supaya masyarakat punya tempat belajar investasi yang konsisten dan mudah diakses.

Target Investor Udah Tembus, Tapi Literasi Masih Kunci

Kepala BEI Jatim, Cita Mellisa, mengungkapkan bahwa pertumbuhan investor pasar modal Indonesia sangat pesat. Target 5 juta investor baru tahun ini bahkan sudah terlampaui hanya dalam 4 bulan — dan Jatim menyumbang sekitar 10 persennya.

“Harapannya, Galeri Investor Cafe ini bisa terus meningkatkan literasi dan jumlah investor di Jatim. Anak muda jangan sampai salah pilih instrumen,” ujarnya.

Judol dan Investasi Bodong: Jangan Sekali-sekali Dicoba!

Program NGOPI SORE ingin menekankan: investasi yang sehat adalah investasi yang dipahami risikonya, diawasi regulator, dan tidak menjanjikan keuntungan instan. Jangan tergiur iklan “dapet duit jutaan sehari” atau “trading auto profit”. Itu 99% modus penipuan.

Kombinasi antara coffee shop sebagai ruang publik favorit anak muda + edukasi keuangan yang aplikatif diharapkan bisa menciptakan generasi yang melek finansial, anti-gambling, dan pilih investasi cerdas.

Info Praktis:

  • Kapan? Acara rutin. Cek jadwal terbaru di media sosial BEI Jatim atau BRI Danareksa Sekuritas.
  • Di mana? The Gade Coffee & Gold, Surabaya.
  • Gratis? Ya, sambil ngopi gratis! Kamu cuma perlu datang dan bertanya.

Pesan buat anak muda:

Jangan sampai dompetmu ludes karena judol, jangan sampai masa depanmu hancur karena investasi bodong. Yuk, mulai dari hal kecil: nongkrong di NGOPI SORE, belajar saham, investasi aman untuk masa depan.

Selat Hormuz Meledak Lagi! AS Serang Iran, Negara-Negara Teluk Ikut Terseret

EtIndonesia — Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki fase yang sangat menegangkan setelah Amerika Serikat dilaporkan mengajukan proposal negosiasi nuklir baru kepada Iran di tengah meningkatnya bentrokan militer di kawasan Selat Hormuz. Di saat jalur diplomasi masih dibuka, serangan udara, baku tembak, serta ancaman perang besar kembali mengguncang kawasan Teluk Persia.

Laporan terbaru dari media internasional menunjukkan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump kini menerapkan strategi “tekanan maksimum” terhadap Teheran: membuka peluang perundingan damai, namun tetap mempertahankan ancaman militer penuh jika Iran menolak syarat-syarat yang diajukan Washington.

Amerika Ajukan Proposal Nuklir Baru kepada Iran

Menurut laporan The Wall Street Journal yang terbit pada 7 Mei 2026, pemerintah Amerika Serikat telah menyerahkan sebuah kerangka perjanjian baru kepada Iran terkait program nuklirnya.

Proposal tersebut disebut memuat sejumlah syarat yang sangat ketat dan menjadi dasar bagi kemungkinan tercapainya kesepakatan baru antara Washington dan Teheran.

Isi utama proposal itu mencakup beberapa poin penting:

  1. Iran harus berkomitmen tidak mengembangkan senjata nuklir.
  2. Iran diwajibkan membongkar fasilitas nuklir utama di Fordow, Natanz, dan Isfahan.
  3. Seluruh fasilitas nuklir bawah tanah dilarang dan harus terbuka untuk inspeksi internasional kapan saja.
  4. Iran dilarang melakukan pengayaan uranium dalam bentuk apa pun selama 20 tahun.
  5. Seluruh stok uranium yang telah diperkaya wajib diserahkan.
  6. Iran harus membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
  7. Amerika Serikat akan melonggarkan sanksi secara bertahap sesuai perkembangan situasi dan kepatuhan Iran.

Washington menegaskan bahwa apabila Iran menerima kerangka tersebut, maka kedua negara akan memasuki tahap negosiasi intensif selama 30 hari. Namun apabila Teheran menolak, maka opsi militer disebut akan kembali dipertimbangkan secara serius.

Kesepakatan Akan Dibagi Dua Tahap

Reporter The Wall Street Journal, Laurence Norman, melalui unggahannya di platform X pada 7 Mei, mengutip sumber diplomatik yang menyebutkan bahwa nota kesepahaman sementara antara Amerika Serikat dan Iran kemungkinan akan dibagi ke dalam dua tahap utama.

Tahap pertama akan berfokus pada implementasi kesepakatan terkait blokade laut di Selat Hormuz, termasuk kemungkinan dimulainya pelonggaran sebagian sanksi ekonomi.

Sementara tahap kedua akan menjadi periode negosiasi lanjutan selama 30 hari yang secara khusus membahas isu nuklir Iran dan rincian pencabutan sanksi. Periode tersebut bahkan disebut masih dapat diperpanjang apabila pembicaraan mengalami kemajuan.

Menurut sumber tersebut, Gedung Putih memperkirakan Iran akan memberikan jawaban resmi terhadap proposal terbaru Amerika Serikat pada Jumat, 8 Mei 2026.

Utusan khusus AS, Steve Witkoff, disebut akan terus memimpin jalur negosiasi dengan Teheran dalam beberapa hari mendatang.

Gedung Putih Tetapkan Tenggat Waktu

Sumber diplomatik juga menyebut bahwa Gedung Putih memberikan batas waktu hingga akhir pekan depan sebelum Presiden Donald Trump kembali dari kunjungannya ke Tiongkok.

Apabila hingga tenggat tersebut tidak tercapai kesepakatan, maka opsi operasi militer kembali akan diletakkan di atas meja.

Peringatan keras juga datang dari pihak Israel. Seorang pejabat Israel menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran tidak boleh menggunakan bahasa yang ambigu atau multitafsir.

Menurutnya, seluruh isi perjanjian harus dirancang dengan sangat rinci, termasuk jadwal pelaksanaan, mekanisme pengawasan, proses verifikasi, hingga sanksi jika terjadi pelanggaran.

Israel khawatir Iran dapat kembali mengubah sikap dalam isu nuklir apabila terdapat celah dalam kesepakatan tersebut.

Situasi Militer Memanas di Selat Hormuz

Di tengah proses negosiasi yang masih berlangsung, situasi militer di kawasan Teluk justru semakin memanas.

Pada sore hari 7 Mei 2026, kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan Iran melaporkan bahwa Uni Emirat Arab diduga terlibat dalam serangan terhadap wilayah Iran.

Anggota Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Hedrian, bahkan secara terbuka menyebut Uni Emirat Arab sebagai “negara musuh”.

Ia menuduh UEA telah menyamarkan pesawat militer dan melancarkan serangan langsung ke wilayah Iran.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa ketegangan kini tidak lagi hanya melibatkan Amerika Serikat dan Iran, tetapi mulai menyeret negara-negara Teluk lainnya.

Hedrian bahkan memperingatkan bahwa Iran sewaktu-waktu dapat melancarkan serangan terhadap Uni Emirat Arab.

Fox News: AS Serang Wilayah Iran

Menurut laporan Fox News, militer Amerika Serikat pada 7 Mei melancarkan serangan udara terhadap sejumlah wilayah strategis Iran di sekitar Selat Hormuz.

Target serangan dilaporkan mencakup:

  • wilayah sekitar Bandar Abbas,
  • Pelabuhan Qeshm,
  • pos pemeriksaan angkatan laut Iran di Pelabuhan Kargan,
  • serta beberapa fasilitas militer di kawasan pesisir selatan Iran.

Ledakan besar dilaporkan terdengar di beberapa lokasi tersebut.

Di wilayah selatan Iran, termasuk Bandar Abbas, juga terjadi baku tembak yang berlangsung cukup intens.

Laporan intelijen bahkan menyebutkan bahwa sedikitnya enam pesawat tanker pengisian bahan bakar udara milik Amerika Serikat lepas landas dari Uni Emirat Arab untuk mendukung operasi militer tersebut.

Iran Klaim Kapal Perang AS Kena Rudal

Militer Iran kemudian mengeluarkan pernyataan resmi yang menuduh Amerika Serikat menyerang dua kapal Iran di dekat Jask dan Fujairah, serta menghantam fasilitas di Sirik dan Pulau Qeshm.

Teheran juga menuduh negara-negara Teluk turut membantu operasi militer Amerika.

Iran kemudian mengklaim telah melancarkan serangan balasan terhadap aset-aset militer Amerika Serikat di Selat Hormuz dan wilayah sekitarnya.

Menurut klaim Iran, beberapa kapal perang Amerika terkena rudal dan mengalami kerusakan sehingga terpaksa mundur dari area konflik.

Namun klaim tersebut langsung dibantah oleh Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM.

CENTCOM Bantah Kapal AS Rusak

Dalam pernyataan resminya pada 7 Mei 2026, CENTCOM menyebut bahwa ketika kapal perusak Amerika melintasi Selat Hormuz menuju Teluk Oman, Iran menembakkan sejumlah rudal, drone, dan mengerahkan kapal-kapal kecil untuk melakukan gangguan.

Namun pihak Amerika menegaskan bahwa tidak ada kapal perang AS yang mengalami kerusakan.

Sebagai balasan, militer Amerika kemudian menyerang fasilitas-fasilitas Iran yang digunakan untuk melancarkan serangan tersebut.

Target operasi meliputi:

  • lokasi peluncuran rudal,
  • pusat peluncuran drone,
  • pusat komando dan kendali,
  • serta jaringan intelijen, pengawasan, dan pengintaian milik Iran.

Pemerintahan Trump menegaskan bahwa operasi tersebut bukan dimulainya kembali perang penuh, melainkan “serangan balasan presisi” dalam kerangka menjaga gencatan senjata yang masih berlaku.

Washington juga meminta Iran segera menghentikan provokasi dan kembali ke meja perundingan.

Trump Sebut Serangan Itu “Tepukan Kecil Penuh Kasih”

Dalam percakapan telepon dengan reporter ABC pada malam 7 Mei, Presiden Donald Trump memberikan komentar yang cukup mengejutkan terkait serangan terhadap Iran.

Trump menyebut serangan balasan Amerika itu hanyalah sebuah “tepukan kecil penuh kasih”.

Ia juga menegaskan bahwa jalur negosiasi dan kesepakatan gencatan senjata masih terus berjalan.

Pernyataan tersebut dinilai banyak analis sebagai bagian dari strategi tekanan psikologis Trump terhadap Teheran: menunjukkan kekuatan militer, namun tetap membuka pintu diplomasi.

AS Setujui Penjualan Senjata Darurat Rp400 Triliun Lebih

Sementara itu, laporan terbaru Bloomberg mengungkap bahwa Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, telah menyetujui paket penjualan senjata darurat senilai 25,8 miliar dolar AS kepada Bahrain, Israel, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Nilai tersebut jauh lebih besar dibanding angka awal sebesar 8,6 miliar dolar AS yang sebelumnya beredar.

Paket bantuan militer itu mencakup berbagai sistem pertahanan, termasuk pencegat rudal Patriot dalam jumlah besar.

Langkah ini menunjukkan bahwa Washington kini tengah memperkuat pertahanan negara-negara sekutunya di kawasan Teluk sebagai antisipasi jika konflik dengan Iran kembali meluas.

Arab Saudi Sempat Tekan Trump

Di sisi lain, terungkap pula alasan sebenarnya mengapa Trump pada 5 Mei 2026 sempat menghentikan operasi militer “Project Freedom” yang baru berjalan satu hari.

Pejabat Amerika membocorkan bahwa Arab Saudi sempat mengancam akan melarang militer AS menggunakan pangkalan dan wilayah udaranya.

Tekanan tersebut memaksa Washington menunda sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz.

Arab Saudi dan beberapa negara Teluk disebut khawatir akan menjadi sasaran balasan Iran apabila konflik berubah menjadi perang terbuka.

Mereka menilai bahwa meskipun Iran dapat dilemahkan secara militer, rezim Teheran kemungkinan masih tetap bertahan setelah perang selesai.

Karena itu, negara-negara Teluk tidak ingin terlibat terlalu dalam tanpa adanya jaminan keamanan penuh dari Amerika Serikat.

Operasi Pengawalan Kapal Bisa Dimulai Lagi

Namun perkembangan terbaru pada 7 Mei menunjukkan perubahan sikap.

Arab Saudi dan Kuwait dilaporkan kembali mengizinkan militer Amerika menggunakan pangkalan dan wilayah udara mereka.

Keputusan tersebut membuka jalan bagi Washington untuk kembali memulai operasi perlindungan pelayaran kapal di Selat Hormuz.

Pejabat Amerika bahkan menyebut operasi pengawalan kapal kemungkinan dapat dimulai kembali paling cepat dalam minggu ini.

Situasi ini memperlihatkan bahwa kawasan Timur Tengah kini benar-benar berada di titik paling sensitif. Di satu sisi, negosiasi nuklir masih terus berlangsung. Namun di sisi lain, bentrokan militer dan pengerahan kekuatan bersenjata terus meningkat dari hari ke hari.

Dunia internasional kini menanti apakah Iran akan menerima proposal Amerika Serikat dan kembali ke meja perundingan, atau justru memilih jalur konfrontasi yang berpotensi memicu perang regional berskala besar di kawasan Teluk Persia. (***)

Giorgino Abraham Kecewakan Davina Karamoy di Episode 3 ‘Love & 10 Million Dollars’

0

JAKARTA – Ketegangan dalam serial WeTV Original Love & 10 Million Dollars mencapai puncaknya di episode ketiga. Perjuangan Elina (Davina Karamoy) untuk lepas dari pernikahan toksik justru berbalik menjadi mimpi buruk setelah sebuah akun gosip menyebarkan foto keakrabannya dengan Arman (Giorgino Abraham).

Fitnah yang dirancang oleh Diaz (Anthony Xie) ini bertujuan menghancurkan reputasi Elina dan memaksanya menyerahkan uang 10 juta dolar sebagai kompensasi perceraian. Dampaknya luar biasa: Elina bahkan ditolak oleh ayahnya sendiri, Frans Wardana, yang lebih percaya pada “mulut manis” Diaz.

Kekerasan Fisik dan Cedera Kepala

Puncak konflik fisik terjadi di kantor Anvaya. Ibu Diaz, Laksmi, menghina Elina dengan kata-kata kasar, lalu Diaz dengan brutal menampar Elina hingga terluka dan mendorongnya hingga mengalami cedera kepala serius. Sisi narsistik dan kasar Diaz semakin terpampang, membuktikan betapa berbahayanya pernikahan yang menjerat Elina.

Kejutan: Arman Ternyata Sudah Beristri

Di tengah kerapuhannya, Elina harus menghadapi kenyataan pahit bahwa “pahlawan” yang selama ini melindunginya, Arman, ternyata telah terikat pernikahan dengan Vero Adinata (Elina Joerg). Meski belakangan terungkap bahwa pernikahan Arman hanyalah bentuk “balas budi” kepada keluarga konglomerat Adinata dan telah lama hambar, Elina merasa dikhianati. Baginya, bantuan Arman seharusnya murni demi bisnis, bukan menjadikannya pihak ketiga.

Sidang Sengit, Arman Jadi Saksi Kunci

Di ruang sidang Pengadilan Negeri Bali, saat Diaz dan tim pengacaranya merasa di atas angin dengan bukti foto pertemuan di restoran, Arman melakukan langkah tak terduga. Ia hadir sebagai saksi kunci dan menunjukkan draf kontrak kerja sama bisnis yang membuktikan hubungannya dengan Elina murni profesional. Ancaman balik Arman untuk menuntut pencemaran nama baik membuat Diaz panik.

Pernyataan yang Menghancurkan Hati

Episode ditutup dengan momen emosional. Demi menjaga harga diri, Elina memilih berbohong dan menyebut keintiman mereka sebagai “kesalahan”. Pernyataan itu menghancurkan hati Arman dan memaksanya kembali ke pelukan Vero sebagai bentuk kepasrahan.

Akankah putusan hakim berpihak pada Elina? Saksikan kelanjutan Love & 10 Million Dollars setiap Jumat dan Sabtu pukul 18.00 WIB, eksklusif di aplikasi WeTV.

Elon Musk Berencana Membubarkan xAI dan Menggabungkannya ke SpaceX untuk Menciptakan Jaringan Komputasi Luar Angkasa 

EtIndonesia. Elon Musk pada Rabu (6/5/2026) mengumumkan restrukturisasi besar dengan menggabungkan perusahaan AI miliknya, xAI, secara resmi ke dalam SpaceX. Restrukturisasi ini terjadi setelah SpaceX mencapai kesepakatan kerja sama komputasi dengan Anthropic. Tujuannya adalah mengintegrasikan AI tingkat tinggi dengan infrastruktur luar angkasa secara mendalam, bahkan merencanakan pembangunan pusat data di orbit luar angkasa. Musk memiliki ambisi membangun mesin inovasi vertikal yang mencakup industri dirgantara, jaringan satelit, dan AI.

 “xAI tidak akan lagi berdiri sebagai perusahaan independen. Ke depan, hanya akan ada SpaceXAI, yaitu produk AI di bawah SpaceX,” demikian tulisan Elon Musk. 

Restrukturisasi strategis ini terjadi setelah SpaceX dan Anthropic mencapai kesepakatan kerja sama komputasi berskala besar.

Sebenarnya, rencana restrukturisasi ini memang sudah lama menjadi visi Musk: menggabungkan AI canggih dengan infrastruktur luar angkasa, termasuk kemungkinan membangun pusat data di orbit pada masa depan.

Anthropic menyatakan bahwa kerja sama ini akan secara signifikan meningkatkan kapasitas komputasi perusahaan.

xAI adalah perusahaan AI yang didirikan Musk pada tahun 2023 untuk bersaing dengan perusahaan seperti Google dan OpenAI.

Pada Februari tahun ini, Musk memimpin SpaceX untuk mengakuisisi xAI. Ia menyatakan dengan penuh ambisi bahwa melalui penggabungan ini, ia ingin membangun mesin inovasi vertikal paling ambisius di bumi maupun di luar bumi, yang mencakup AI, roket, dan jaringan luar angkasa.

Integrasi ini juga berkaitan dengan rencana Musk membangun pusat data di luar angkasa. Selain itu, langkah tersebut dipandang sebagai persiapan menuju kemungkinan penawaran saham perdana (IPO) SpaceX di masa depan yang nilainya diperkirakan dapat mencapai 1,5 triliun dolar AS.

Laporan reporter NTDTV, Liu Jiajia, dari Amerika Serikat.