Kekacauan Personel Berlanjut di Zhongnanhai : “Klik Taiwan” yang Berperang Melawan Taiwan Menderita Pukulan Berat

Pada 28 Oktober, Sidang ke-18 Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional (NPC) ke-14 Tiongkok resmi ditutup. Dalam sidang tersebut, diumumkan sejumlah keputusan penting terkait mutasi dan pemberhentian pejabat tinggi, termasuk pencopotan He Weidong dari jabatan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC). Jabatan tersebut kini secara resmi diambil alih oleh Zhang Shengmin, yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Komisi Disiplin Militer Pusat.

EtIndonesia. Sejauh ini, banyak orang kepercayaan Xi Jinping di tubuh militer telah terjungkal dari jabatannya, terutama kelompok yang dikenal sebagai “Kelompok Selat Taiwan”, yang kini mengalami pukulan berat. Para analis menilai, kejatuhan para jenderal ini secara langsung melemahkan kemampuan rezim PKT untuk melancarkan serangan ke Taiwan.

Dalam keputusan terbaru itu, Komisi Militer Pusat kini kembali ke struktur “satu ketua dan dua wakil ketua”, dengan Zhang Youxia tetap menjabat sebagai wakil ketua lainnya.

Namun, menurut komunike dari Sidang Pleno Keempat Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang dirilis sebelumnya, Zhang Shengmin tidak masuk dalam anggota Politbiro PKT. Para pengamat menilai hal ini menunjukkan adanya perebutan kekuasaan di kalangan elite partai.

“Karena dua faksi tidak mencapai kesepakatan — faksi Xi dan faksi anti-Xi, atau faksi Xi dengan para ‘tetua politik’ — akhirnya muncul kompromi politik. Zhang Shengmin adalah hasil dari tarik-ulur kekuasaan itu, dan pengangkatannya melanggar norma dan logika politik biasa,” ujar Pengamat politik yang berbasis di Amerika Serikat, Chen Pokong. 

Sembilan jenderal senior yang digulingkan pada 17 Oktober 2025. Getty Images, Baidu, Namuwiki, Domain Publik, CCTV

Menjelang Sidang Pleno Keempat, rezim PKT tiba-tiba mengumumkan pemecatan He Weidong, Miao Hua, dan Lin Xiangyang (komandan Zona Militer Timur), bersama 9 jenderal tinggi lainnya dari partai dan militer, dengan alasan bahwa “militer tidak boleh menjadi tempat berlindung bagi koruptor.”

“Kesembilan jenderal yang dicopot itu semuanya berasal dari ‘kelompok Xi Jinping’. Jadi alasan ‘anti-korupsi’ itu mungkin hanya kedok dari perebutan kekuasaan politik. Karena Lin Xiangyang, He Weidong, dan Miao Hua semuanya berasal dari kelompok Fujian, yang menunjukkan adanya ketegangan internal dalam militer terhadap dominasi Xi dan faksi-faksinya,” kata  Su Tzu-yun, Direktur Institut Pertahanan Nasional Taiwan bidang Strategi dan Sumber Daya. 

Laporan menunjukkan bahwa para jenderal yang jatuh tersebut memiliki hubungan dekat dengan Xi Jinping, yang pernah lama menjabat di Provinsi Fujian, dan semuanya diangkat setelah Xi berkuasa, sehingga dikenal sebagai “Kelompok Fujian” dalam militer.

Selain itu, He Weidong dan Lin Xiangyang berasal dari Divisi ke-31 Angkatan Darat Wilayah Militer Nanjing (yang kini sudah dibubarkan). Divisi ini bermarkas di Xiamen, Fujian, dan selama ini dikenal sebagai pusat pelatihan perwira strategi militer untuk operasi melawan Taiwan. Miao Hua juga berasal dari unit yang sama, sehingga kelompok ini sering disebut sebagai “Kelompok Selat Taiwan.”

Para ahli menilai, kejatuhan kelompok ini akan berdampak langsung pada kemampuan militer PKT dalam menjalankan operasi terhadap Taiwan.

“Kelompok Fujian ini dulunya berasal dari wilayah militer Nanjing, yang kini menjadi Komando Teater Timur. Dengan tersingkirnya mereka, berarti tidak ada lagi tokoh militer berpengalaman yang memahami situasi Selat Taiwan untuk melaksanakan misi semacam itu,” jelas Su Tzu-yun. 

Sementara itu, ancaman PKT untuk menyatukan Taiwan dengan kekerasan terus memicu perhatian dunia internasional. Pada 30 Oktober, Presiden AS Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan Xi Jinping di Korea Selatan, dan isu Taiwan diperkirakan akan menjadi topik utama pembahasan.

Sebelum berangkat ke Asia, Trump telah menegaskan bahwa ia akan membahas Taiwan secara langsung dengan Xi, dan menambahkan bahwa ia sangat menghormati Taiwan. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, juga menegaskan bahwa dalam perundingan perdagangan dengan Beijing, pemerintahan Trump tidak akan mengorbankan dukungan jangka panjang terhadap Taiwan.

“Kita dapat memperkirakan bahwa dalam pertemuan APEC antara Trump dan Xi, akan ada empat isu utama — fentanil, tarif, logam tanah jarang, dan Taiwan. Trump tidak akan menukar isu Taiwan dengan keuntungan lainnya, tetapi justru akan menetapkan garis batas yang jelas, agar pembicaraan dapat berlangsung di atas dasar yang tegas,” kata Su Tzu-yun. (Hui/asr)

Laporan oleh Tang Rui dan Luo Ya, New Tang Dynasty Television

 Zhongnanhai : Kantor Pusat dan Komplek pimpinan Partai Komunis Tiongkok di Beijing 

Militer AS Kembali Menyerang, Kali Ini Menyasar 4 Kapal Penyelundup Narkoba Hingga Menewaskan 14 Pengedar Narkoba

Pada Selasa (28 Oktober), Menteri Perang AS, Pete Hegseth, mengonfirmasi bahwa pada Senin (27 Oktober), militer AS melancarkan serangan di wilayah Samudra Pasifik bagian timur, menargetkan empat kapal penyelundup narkoba. Dalam operasi tersebut, 14 penyelundup tewas dan satu orang ditangkap hidup-hidup.

EtIndonesia. Laporan dari Li Jiayin, jurnalis New Tang Dynasty menyebutkan keempat kapal yang dihancurkan itu dioperasikan oleh organisasi teroris DTO, yang telah ditetapkan oleh pemerintah AS sebagai kelompok teroris. Menteri Hegseth menjelaskan bahwa badan intelijen AS sudah lama memantau jalur penyelundupan kapal-kapal itu dan mengetahui bahwa kapal tersebut membawa narkoba.

Militer AS melancarkan operasi tersebut dalam tiga gelombang serangan. Serangan pertama menghancurkan dua kapal yang membawa total 8 pria penyelundup narkoba. Dua serangan berikutnya masing-masing menargetkan satu kapal, yang membawa 4 dan 3 pria. Setelah serangan, pihak AS segera memulai operasi pencarian dan penyelamatan standar, dengan Meksiko ikut berpartisipasi dalam proses evakuasi.

Dari 15 penyelundup, 14 orang tewas, sementara 1 orang berhasil ditangkap. Semua operasi dilakukan di perairan internasional, dan tidak ada korban di pihak militer AS.

Hegseth menegaskan bahwa jumlah warga Amerika yang tewas akibat narkoba yang diselundupkan oleh kelompok teroris ini lebih banyak dibandingkan korban serangan Al-Qaeda, sehingga militer AS akan terus memburu, membongkar, menangkap, dan memusnahkan jaringan tersebut.

Menurut data yang dilaporkan, pada tahun 2024, sekitar 80.000 orang Amerika tewas akibat overdosis narkoba; pada tahun 2023, jumlahnya lebih dari 100.000 orang, dan pada 2022 hampir 110.000 orang. Di antara kelompok usia 18 hingga 44 tahun, narkoba merupakan penyebab utama kematian.

Sejak Presiden Donald Trump kembali ke Gedung Putih, ia telah memerangi penyelundupan narkoba melalui sanksi ekonomi dan tindakan militer. Hingga kini, militer AS telah melancarkan lebih dari 10 operasi di Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur, menewaskan lebih dari 50 penyelundup narkoba.

Namun, beberapa pakar hukum dan anggota Partai Demokrat mempertanyakan apakah operasi-operasi tersebut sesuai dengan hukum perang internasional.

Menanggapi hal itu, Presiden Trump menyatakan bahwa dirinya memiliki wewenang untuk menghancurkan kapal penyelundup di laut tanpa harus menyatakan perang secara resmi. Ia juga mengatakan bahwa jika militer AS berencana melakukan operasi darat terhadap “kartel narkoba Venezuela”, maka ia akan memberi tahu Kongres terlebih dahulu. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Analisis Rencana “15·5”: Ekonomi Tiongkok Memasuki Masa Resesi

Partai Komunis Tiongkok (PKT) dalam Sidang Pleno Keempat Komite Sentral ke-20 telah menyetujui “Rekomendasi Rencana Lima Tahun ke-15 (15·5)”, yang menetapkan tujuan utama pembangunan ekonomi dan sosial untuk lima tahun ke depan.

Namun, para analis menilai bahwa dari isi komunike pleno tersebut, terlihat jelas bahwa PKT sepenuhnya telah meninggalkan era “reformasi dan keterbukaan”. Fokus kebijakan kini telah bergeser dari pertumbuhan ekonomi menuju keamanan politik, menandai bahwa ekonomi Tiongkok telah memasuki periode perlambatan dan resesi. Sidang pleno kali ini menegaskan dua prioritas utama: “kemandirian dan kekuatan teknologi” serta “keamanan nasional.”

EtIndonesia. Selama lima tahun terakhir, Tiongkok mengalami kemunduran politik dan kemerosotan ekonomi. Dalam “Rencana 15·5”, PKT kembali menggaungkan slogan seperti penguatan teknologi mandiri, reformasi mendalam, pembangunan berkualitas tinggi, serta keterbukaan tingkat tinggi terhadap dunia luar. Namun, di balik retorika itu, para pengamat menilai bahwa PKT sebenarnya telah benar-benar menutup babak reformasi ekonomi yang dimulai sejak era Deng Xiaoping.

“Baik ekonomi komando maupun ekonomi terencana, keduanya tidak mungkin mengejar perubahan cepat dan kompleks dari permintaan pasar modern,” ujar profesor Xie Tian dari Sekolah Bisnis Aiken, Universitas South Carolina, Amerika Serikat.

Ia menambahkan bahwa pada masa Mao Zedong, sistem ekonomi Tiongkok beberapa kali kolaps, hingga akhirnya Deng Xiaoping melonggarkan kontrol negara dan mengizinkan rakyat menggunakan mekanisme ekonomi kapitalis untuk menyelamatkan ekonomi sosialis.

“Pada masa Jiang Zemin dan Hu Jintao, Tiongkok bergabung dengan WTO dan mulai membuka diri ke dunia. Tetapi sistem yang mereka anut bukanlah ekonomi pasar bebas yang sejati, melainkan bentuk kapitalisme terburuk — yaitu kapitalisme kroni. Para pejabat partai mengubah kekuasaan menjadi modal ekonomi dan mendapatkan keuntungan terbesar dari sistem tersebut,” ujar Xie.

Menurut Xie, rezim oligarki politik inilah yang menyebabkan korupsi sistemik: partai menguasai baik perusahaan negara maupun perusahaan swasta terbesar.

“Namun di era Xi Jinping, model ini sudah mencapai batasnya,” katanya. 

“Akibat kesenjangan kekayaan yang makin lebar, sekitar 500 keluarga elit di puncak struktur PKT memiliki kekayaan dan kekuasaan tanpa batas, sementara rakyat biasa terus ‘dipanen seperti rumput’, kehilangan kekayaan mereka, dan terjebak dalam utang akibat gelembung properti,” jelasnya. 

Penulis kolom Epoch Times, Wang He, berpendapat bahwa meskipun reformasi dan keterbukaan memberi ruang bagi ekonomi Tiongkok untuk terhubung dengan dunia, “sangkar” sistem partai tidak pernah benar-benar hilang.

“Xi Jinping tahu bahwa kembali sepenuhnya ke zaman Mao tidaklah mungkin,” kata Wang. 

“Sebab, elit PKT kini telah menjadi kelompok yang sangat diuntungkan dan kekayaan mereka terikat kuat dengan modal internasional. Jika Tiongkok benar-benar memutuskan hubungan dengan ekonomi global, maka ekonominya akan runtuh lebih dulu. Tanpa sirkulasi ekonomi internasional, ekonomi domestik Tiongkok pasti kolaps,” imbuhnya. 

Pemerintah menyatakan bahwa Rencana 15·5 dipimpin langsung oleh Xi Jinping sebagai ketua tim perumus dan disusun di bawah bimbingannya secara menyeluruh. Xi dikatakan “berperan menentukan arah”, dengan penekanan pada “mempertahankan dan memperkuat kepemimpinan terpadu Partai.” Namun, banyak pihak menilai bahwa dalam konteks sejarah panjang rezim PKT, model ekonomi kepemilikan negara yang ditegakkan oleh komunisme kini telah menemui jalan buntu di bawah Xi.

“Sebenarnya Tiongkok dulu masih punya peluang untuk bergerak ke kanan — menuju ekonomi pasar yang terintegrasi dengan dunia. Tapi di era Xi, semua itu dibunuh dan dibalik arah. Xi ingin memainkan ‘diplomasi negara besar’, menuntut dominasi global lewat Belt and Road Initiative. Ia sempat percaya bahwa Tiongkok bisa melampaui AS dalam 10–20 tahun. Namun pandemi COVID menghancurkan rencana itu. Kebijakan nol-COVID ekstrem membuat ekonomi terguncang hebat. Modal asing kini besar-besaran hengkang, investasi domestik juga negatif, dan ditambah lagi konfrontasi politik serta strategis antara Tiongkok dan AS membuat dunia kini melihat Tiongkok bukan lagi tempat mencari untung, melainkan zona risiko tinggi,” Wang He menambahkan. 

Xie Tian menambahkan bahwa Xi pernah mencoba memberantas sistem oligarki dan korupsi warisan era Deng dan Jiang dalam upaya memperkuat kontrol politik.

“Namun ia segera menyadari bahwa jaringan kepentingan itu terlalu dalam dan merata di semua tingkatan. Jika ia benar-benar ingin mencabut akar korupsi itu, maka seluruh rezim PKT bisa runtuh. Karena itu, ia kini mencoba kembali ke ekonomi terencana, berharap bisa memulihkan kontrol seperti di era Mao. Tapi kenyataannya, Tiongkok tidak bisa kembali ke masa lalu. Program seperti dapur umum, koperasi desa, hingga kantin komunal di kota — semua gagal sebelum sempat berjalan,” katanya. 

Menurut Xie Tian, tantangan terbesar yang kini dihadapi Xi Jinping setelah Sidang Pleno Keempat adalah ancaman keruntuhan ekonomi, yang juga menjadi latar utama dari krisis politik yang semakin dalam. (Hui/asr)

Huang Yimei/ Yi Ru/Tony – NTDTV.com

Bahagia Itu Sebuah Pilihan

EtIndonesia. Istri Socrates dikenal luas sebagai simbol istri pemarah — keras kepala, mudah meledak, cerewet tanpa akhir, dan sering mempermalukannya di depan umum. Bahkan sang filsuf besar pun sering dibuat tak berdaya oleh sikapnya.

Suatu kali, seseorang bertanya kepada Socrates:  “Mengapa Anda menikahi wanita seperti itu?”

Socrates tersenyum dan menjawab dengan tenang: “Penunggang kuda yang hebat justru akan memilih kuda yang paling liar. Jika aku bisa menaklukkan yang paling sulit, maka menghadapi orang lain di dunia ini, aku tak akan takut pada siapa pun.”

Konon, Socrates sengaja menikahinya untuk melatih dirinya dalam kesabaran dan kejernihan batin — agar jiwanya terasah dan semakin bersih.

Suatu hari, saat Socrates sedang berdiskusi serius dengan murid-muridnya, istrinya tiba-tiba datang dan memakinya habis-habisan, lalu kembali membawa seember air dingin dan menyiraminya dari kepala sampai kaki.

Para murid terkejut dan mengira Socrates akan murka.

Namun Socrates hanya menyentuh bajunya yang basah kuyup dan berkata santai: “Oh, aku sudah tahu — setelah guntur, pasti turun hujan.”

Filsafat Pernikahan ala Socrates

Socrates berkata: “Bagaimanapun, menikahlah. Jika kamu mendapatkan istri yang baik — kamu akan bahagia. Jika kamu mendapatkan istri yang buruk — kamu akan menjadi filsuf.”

Saat masih bujang, Socrates tinggal berdesakan dengan beberapa sahabat di kamar kecil tak sampai 10 meter persegi. Namun setiap hari dia tampak riang dan penuh semangat.

Orang heran bertanya: “Hidup sesempit itu, bagaimana bisa tetap gembira?”

Socrates menjawab: “Tinggal bersama sahabat, tiap hari bisa bertukar pikiran dan memperkuat persahabatan — bukankah itu membahagiakan?”

Beberapa waktu kemudian, teman-temannya menikah dan pindah satu per satu. Kini Socrates tinggal seorang diri — namun dia tetap tersenyum dan bahagia.

Orang itu kembali bertanya: “Kamu sendirian, tidak kesepian?”

Socrates menunjuk ke rak penuh buku dan menjawab: “Lihatlah — aku bersama begitu banyak guru. Mereka selalu siap mengajarkanku kapan saja. Bagaimana mungkin aku tidak bahagia?”

Bahagia itu lahir dari dalam — bukan dari keadaan luar

Ada pepatah: “Keadaan lahiriah berasal dari keadaan batin.”

Kalau hati kita cerah — dunia pun ikut terang.

Bahagia tidak datang dari harta atau jabatan,  melainkan dari kemampuan melihat indahnya hal-hal sederhana.

  • Orang bahagia bukan karena kaya.
    Tapi karena pandai menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan.
  • Orang bahagia bukan karena jabatan tinggi.
    Tapi karena mampu mencintai hidup yang ia jalani.

Bahagia adalah PILIHAN

Dalam satu hari, kita akan bertemu banyak orang, mengalami macam-macam kejadian —
ada yang membuat hati panas, ada juga yang membawa tawa dan kehangatan.

Pertanyaannya bukan “apa yang terjadi?”

 Melainkan:
– “Apa yang ingin kamu simpan dalam hatimu?”
– “Mau kamu jadikan hari ini pahit atau manis?”

Bahagia itu seperti sepotong permen dalam saku — saat hidup terasa pahit, tinggal kamu ambil dan rasakan manisnya.

Setiap hari, beri dirimu SATU alasan untuk tersenyum. Maka hidup akan terasa manis. 

Semoga kebahagiaanmu — bukan hanya hari ini, tapi hadir di setiap pergantian musim, di setiap langkah kehidupanmu. (jhn/yn)

Tangan dan Kaki Kesemutan? Pakar Ungkap Metode Terbaru untuk Mengobati Neuropati

EtIndonesia. Sistem saraf manusia terdiri dari sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Menurut dr. Wu Anli, seorang spesialis saraf dan pascadoktoral klinis bidang neuromuskular dari Harvard Medical School, saraf pada tangan dan kaki termasuk dalam sistem saraf tepi. Ia menjelaskan bahwa olahraga aerobik seperti berlari dapat membantu pemulihan penyakit neuropati perifer.

Kesemutan Disebabkan oleh Kerusakan Saraf

Kesemutan pada tangan dan kaki terjadi karena saraf kekurangan nutrisi atau oksigen sehingga mengalami kerusakan. Dalam program Kesehatan 1+1, dr. Wu Anli mengungkapkan penyebab di balik gejala tersebut.

Menurutnya, diabetes adalah penyakit yang memengaruhi banyak sistem tubuh — termasuk mata, ginjal, dan tentu saja sistem saraf. Karena saraf di kaki lebih panjang, gejala biasanya muncul pertama kali di jari kaki, lalu menjalar ke kaki bagian atas, kemudian ke tangan.

Neuropati Perifer: Penyakit pada Saraf Tepi

Saraf pada tangan dan kaki termasuk dalam sistem saraf tepi, dan neuritis perifer adalah istilah medis untuk kelainan pada sistem saraf tersebut.

Gejala neuropati perifer meliputi:

  1. Mati rasa atau hilangnya sensasi
  2. Rasa kesemutan atau panas terbakar pada kaki
  3. Nyeri seperti tersengat listrik atau kram
  4. Sensitif terhadap suhu dingin atau panas
  5. Deformitas pada kaki
  6. Gangguan keseimbangan, mudah jatuh

Salah satu cara sederhana untuk memeriksa apakah saraf mengalami kerusakan adalah dengan memperhatikan apakah kaki sering kesemutan atau terasa tertusuk. Dr. Wu menyarankan agar pasien dengan gejala seperti ini segera berkonsultasi ke spesialis saraf untuk melakukan pemeriksaan, seperti tes sensasi terhadap sentuhan dan suhu di kaki.

Operasi Ultrasonik dengan Sayatan 4 Milimeter

Menurut dr. Wu, bagi penderita diabetes yang mengalami neuritis perifer, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengendalikan kadar gula darah. Bila muncul gejala seperti kaki kesemutan, nyeri, kehilangan keseimbangan, atau kelemahan otot, ada beberapa pilihan pengobatan saat ini:

  1. Obat-obatan saraf untuk membantu mengendalikan gejala
  2. Latihan fisik, yang sangat penting
  3. Operasi bila diperlukan

Ia menjelaskan bahwa teknologi operasi sekarang jauh lebih maju. Misalnya, pada kasus sindrom terowongan karpal (carpal tunnel syndrome), kini dapat dilakukan dengan teknik ultrasonik melalui sayatan hanya 4 milimeter. Pasien bisa kembali menggerakkan tangan dalam waktu seminggu, sedangkan dulu butuh waktu hingga sebulan.

Setelah operasi saraf, pemulihan dapat dibantu dengan:

  1. Alat bantu rehabilitasi, seperti pelindung pergelangan tangan atau bola latihan
  2. Latihan tangan, seperti menggenggam, membuka telapak, dan meregangkan ke belakang

Jenis Saraf: Kecil, Besar, dan Otonom

Dr. Wu menjelaskan bahwa saraf otonom juga termasuk dalam sistem saraf tepi — yaitu saraf yang tidak berada di otak atau sumsum tulang belakang. Saraf ini mengendalikan fungsi-fungsi otomatis tubuh, seperti detak jantung, pencernaan, dan buang air.

Dengan demikian, saraf tepi terbagi menjadi tiga jenis utama:

  1. Saraf otonom – mengatur fungsi otomatis seperti keringat; ada orang yang mudah berkeringat dan ada yang tidak.
  2. Saraf kecil – bila rusak, menyebabkan sensasi panas, terbakar, atau demam lokal.
  3. Saraf besar – bertanggung jawab atas rasa kesemutan dan mati rasa yang umum dirasakan.

Postur Tubuh yang Benar Dapat Mencegah Tekanan pada Saraf

Menurut dr. Wu, postur duduk dan berdiri sangat penting. Saat duduk, punggung harus menempel pada sandaran kursi, dada ditegakkan, perut ditarik sedikit ke dalam, dan posisi duduk harus penuh tanpa celah antara punggung dan kursi. Saat berdiri, kedua kaki harus lurus menopang tubuh, dan ketika berjalan, punggung jangan membungkuk. Selain itu, hindari menyilangkan kaki saat duduk.

Saat mengambil barang, jangan membungkuk — lebih baik berjongkok dengan menekuk lutut agar punggung tidak terbebani, sebab membungkuk bisa melukai tulang belakang bagian bawah.

Selain terapi akupunktur atau pijat untuk neuropati perifer, dr. Wu merekomendasikan beberapa latihan fisik berikut untuk membantu pemulihan:

  1. Olahraga aerobik – seperti berjalan cepat atau berlari selama 30–60 menit per hari (tidak berlebihan).
  2. Berenang – melatih seluruh tubuh tanpa tekanan berlebih.
  3. Bersepeda – melatih otot secara menyeluruh.
  4. Yoga, terutama pose putri duyung (mermaid pose), yang sangat membantu mengatasi nyeri punggung bawah.

Laporan oleh Jin Hong / Editor: Lin Qing – NTD

Kapal Tanker Minyak Rusia Tujuan India Berbalik Arah di Laut Baltik di Tengah Sanksi AS

EtIndonesia. Sebuah kapal tanker tujuan India yang berisi minyak mentah Rusia berbalik arah dan kini terombang-ambing di Laut Baltik, sebuah tanda potensi gangguan dalam perdagangan minyak antara kedua negara setelah AS memperketat sanksi terhadap Moskow.

Furia sedang bergerak ke arah barat di selat antara Denmark dan Jerman ketika berbalik arah pada hari Selasa (28/10) dan berlayar sebentar sebelum melambat drastis, menurut data pelacakan kapal. Aframax membawa kargo yang dijual oleh Rosneft PJSC, menurut Kpler.

Perputaran kapal di Fehmarn Belt terjadi seminggu setelah AS menjatuhkan sanksi kepada perusahaan milik negara Rosneft dan raksasa minyak Rusia lainnya, Lukoil PJSC. Transaksi yang melibatkan kedua perusahaan tersebut harus dihentikan paling lambat 21 November, kata Departemen Keuangan.

Daftar hitam produsen terbesar Rusia mengancam akan memutus sumber minyak mentah yang relatif murah bagi kilang-kilang minyak India. Para eksekutif senior di perusahaan pengolahan minyak India mengatakan kepada Bloomberg bahwa arus minyak Rusia diperkirakan akan anjlok sebagai akibatnya.

Furia mengangkat hampir 730.000 barel minyak mentah Urals dari pelabuhan Primorsk di Baltik Rusia pada 20 Oktober, menurut data dari platform pelacakan kapal Kpler dan Vortexa. Kapal tersebut awalnya menampilkan Sikka—sebuah pelabuhan di negara bagian Gujarat, India, yang digunakan oleh kilang minyak swasta Reliance Industries Ltd. dan Bharat Petroleum Corp. Ltd. yang didukung negara—sebagai tujuan berikutnya, dengan perkiraan tanggal kedatangan pertengahan November.

Kapal tersebut kemudian mengubah jadwalnya untuk mengindikasikan kedatangan di Port Said, Mesir, pada pertengahan bulan depan. Kapal-kapal yang melintasi Terusan Suez, rute tercepat antara pelabuhan-pelabuhan barat Rusia dan India, terkadang memberi sinyal Port Said sebagai tujuan sebelum menyesuaikan dengan tujuan akhir mereka setelah melewati jalur air tersebut.

Reliance, yang memiliki kontrak jangka panjang untuk membeli Ural dari Rosneft, telah menyatakan komitmennya untuk mematuhi sanksi dan terlihat membeli minyak mentah Timur Tengah setelah AS memberlakukan langkah-langkah perdagangan terbarunya. Perusahaan penyulingan minyak negara India juga bersikap hati-hati dalam membeli kargo dari produsen Rusia yang dikenai sanksi AS.

Perusahaan penyulingan minyak India sering membeli minyak mentah berdasarkan pengiriman, yang berarti mereka baru mengambil alih kepemilikan ketika kargo dibongkar di pelabuhan tujuan. Reliance dan BPCL tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Furia telah dikenai sanksi oleh Uni Eropa dan Inggris. Manajer kepatuhan keselamatannya, yang terdaftar sebagai Harbor Harmony Shipmanagement yang berbasis di Azerbaijan di basis data maritim Equasis, tidak segera menanggapi permintaan komentar. Tidak ada detail kontak yang tercantum untuk pemilik kapal tanker yang berbasis di Seychelles, Whispering Willow Corp.

Beberapa negara Eropa, termasuk Denmark, telah meningkatkan pemeriksaan terhadap kapal tanker untuk menghentikan kapal yang membawa minyak mentah Rusia melewati perairan mereka. Denmark mengatakan bulan ini akan menargetkan kapal-kapal tua, yang sering digunakan oleh armada bayangan Rusia yang terlibat dalam perdagangan gelap. Furia akan berusia 23 tahun tahun ini, di atas batas normal sekitar 18 tahun untuk kapal tanker minyak. (yn)

Viral Kasus “Anak Liar” di Yunnan, Tiongkok, Kini Terus Berkembang — Diduga Dalang Utama Terlibat Perdagangan Anak Internasional

Kasus “anak liar” di Yunnan, Tiongkok  terus memicu perhatian dan kemarahan luas di seluruh daratan Tiongkok, sementara otoritas Partai Komunis Tiongkok (PKT) tetap bungkam. Melalui penyelidikan para warganet, terungkap bahwa dalang utama yang dikenal sebagai “Guoba” memiliki akun media sosial di luar negeri. Konten di akun tersebut menunjukkan dugaan keterlibatannya dalam perdagangan dan penyiksaan anak lintas negara.

EtIndonesia. Pada 27 Oktober, warganet daratan Tiongkok menemukan bahwa si dalang, influencer TikTok bernama “Guoba”, memiliki akun di platform luar negeri seperti Instagram dan Twitter dengan nama pengguna “Real.DR.Phil”.

Nama lengkapnya adalah “Real Doctor pedophile”, yang jika diterjemahkan ke bahasa Mandarin berarti “Doktor Pedofil Sejati”. Warganet menjelaskan bahwa dalam bahasa Inggris, “Phil” merupakan singkatan dari “pedophile”, yang berarti pelaku kejahatan seksual terhadap anak-anak.

(Tangkapan layar dari internet)

Isi akun tersebut menampilkan kalimat “Sell the kids for food” (jual anak untuk makanan). Akun itu juga menunjukkan bahwa lokasi transaksi sebelumnya adalah di Guiyang dan kini berpindah ke Yunnan. Transaksi disebut menggunakan istilah sandi seperti “hamburger”, “pizza”, dan “produk”, yang diduga merupakan kode untuk perdagangan anak.

(Tangkapan layar dari internet)

Salah satu akun bernama “guiyang.bites” menganjurkan banyak orang asing untuk menghubungi “Leon-GR” guna memesan “hamburger”. “Leon” sendiri merupakan nama akun TikTok “Guoba”. Nama “Leon” diambil dari karakter film Barat yang dikaitkan dengan kecenderungan pedofilia.

(Tangkapan layar dari internet)

Warganet menganalisis bahwa “guiyang.bites” kemungkinan adalah salah satu pembeli dari akun “Real.DR.Phil”. Pengikut akun “guiyang.bites” sebagian besar berada di Guiyang, banyak di antaranya bekerja di bidang pendidikan anak, dan beberapa terkait dengan komunitas “LGBT”.

(Tangkapan layar dari internet)

Selain itu, ditemukan bahwa “Guoba” kerap mengunggah foto dirinya dengan wajah dicat putih dan lingkar mata hitam, menyerupai badut panda. Anak-anak “liar” yang ditemukan di area layanan jalan tol Sichuan juga tampak dengan riasan serupa. Warganet menunjukkan bahwa kata “panda” terdengar mirip dengan “pedo”, singkatan informal dari “pedophile”.

Informasi lain menunjukkan bahwa nama awal akun TikTok “Guoba” adalah “Saya makan anak-anak”. Ia juga diketahui memperoleh SIM Korea Selatan. Beberapa orang berspekulasi bahwa ia melakukannya untuk menghindari pengawasan lalu lintas dan mempermudah pengiriman “barang rahasia” (kemungkinan anak-anak yang diselundupkan lintas negara).

(Tangkapan layar dari internet)

Setelah kasus ini menarik perhatian publik, “Guoba” tidak memberikan tanggapan apa pun terhadap tudingan yang beredar. Sebaliknya, ia dengan cepat menghapus semua videonya dan mengubah akunnya menjadi privat. Akun “Real.DR.Phil” serta sejumlah akun asing yang mengikuti dan berinteraksi dengannya juga segera ditutup.

(Tangkapan layar dari internet)

Menurut informasi di internet, sejak tahun 2019 telah ditemukan sejumlah anak telanjang merangkak di berbagai tempat, namun asal-usul mereka tidak diketahui.

(Tangkapan layar dari internet)

Warganet berpendapat bahwa karena negara-negara Barat menindak tegas kejahatan terhadap anak, sebagian pelaku dari luar negeri pindah ke Tiongkok dan menyamar sebagai guru asing untuk menyakiti anak-anak di sana. Karena lemahnya penegakan hukum dan ketidakpedulian rezim PKT — bahkan diduga ada pejabat yang memperoleh keuntungan dari praktek ini — kejahatan tersebut bisa berlangsung selama bertahun-tahun tanpa hukuman.

(Tangkapan layar dari internet)

 “Sebagai manusia, kita tidak bisa diam. Ini adalah kejahatan yang menentang masyarakat dan kemanusiaan. Mereka menyiksa anak-anak demi uang! Bagaimana bisa disebut pendidikan yang normal? Apakah orang tua yang memakan anak-anak mereka sendiri juga disebut wajar? Mereka itu bukan manusia — mereka binatang, sampah masyarakat, dan musuh kemanusiaan,” tulis seorang warganet. (Hui/asr)

Laporan oleh Li Li / Editor: Lin Qing – NTDTV.com

Ada Sebagian Hukum Karma yang Tidak Terlihat oleh Mata Kita



EtIndonesia. Dahulu, di Kota Yangzhou, hiduplah seorang penjual beras. Awalnya dia adalah orang miskin — benar-benar merintis dari nol.

Suatu hari, demi mendapatkan keuntungan lebih cepat, dia memakai akal licik: dia mengubah timbangan beras agar terlihat lebih berat dari kenyataannya, sehingga diam-diam mengurangi jumlah beras pelanggan dan untung besar tanpa disadari orang.

Beberapa tahun berlalu — usahanya makin maju, hartanya meningkat pesat, dan dia memiliki dua anak laki-laki yang sangat lucu dan pintar.

Suatu malam saat sedang minum arak, dia berkata pada istrinya penuh kebanggaan:  “Tahu tidak, bagaimana aku bisa sekaya sekarang? Karena aku mengubah timbangan itu — begini, begini caranya…”

Mendengar itu, istrinya langsung sedih dan terpukul.

 Dia berkata: “Kita harus bercerai.”

Suaminya terkejut: “Mengapa? Hidup kita sekarang sudah makmur.”

Istrinya menjawab — dengan hati penuh prinsip: “Perbuatan seperti ini merusak keberkahan batin (陰德).  Harta ini tidak bersih — cepat atau lambat keluarga kita akan tertimpa kemalangan.”

Mendengar itu, suaminya tersentuh dan tersadar. 

Dia bertanya :  “Kalau begitu, bagaimana cara menebusnya?”

Istrinya menjawab: “Kalau dulu kamu curangi timbangan dan mengurangi beras orang, maka mulai sekarang lakukan sebaliknya — kasih lebih banyak dari timbangan sebenarnya untuk mengganti kerugian orang lain.”

Maka dia pun benar-benar melakukannya setiap hari. Tak hanya mengembalikan, dia melakukannya dengan hati tulus dan penuh penyesalan.

Karma Berjalan — Tapi Cara Kerjanya Tak Selalu Langsung

Namun beberapa tahun kemudian — dua anak kesayangannya justru meninggal.

Dia terpukul dan mulai ragu pada hukum karma: “Dulu saat aku berbuat curang, semuanya lancar. Kini aku mulai berbuat baik, mengapa anak-anakku malah meninggal? Benarkah ada hukum karma?”

Malam itu, dia bermimpi — datang seorang makhluk langit (dewa penjaga karma) dan berkata: “Saat engkau berbuat curang dahulu, langit sudah mengirim dua anak untuk menghancurkan hartamu.  Kini engkau bertobat dan memperbaiki diri, maka kedua anak itu sudah ditarik kembali (tugas mereka selesai).  Jika engkau terus berbuat baik, kelak engkau akan diberi dua anak lagi —  tapi kali ini anak-anak yang baik dan membawa keberkahan.”

Dia pun kembali yakin, dan terus melanjutkan perbuatannya. Dan benar — kemudian dia memperoleh dua anak lagi, dan keduanya menjadi orang yang mulia dan sukses di kemudian hari.

Pelajaran Besar

Banyak hukum karma tidak dapat kita lihat langsung karena dia bekerja melampaui waktu — menembus masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Dalam ajaran klasik Tiongkok dikatakan: “Keluarga yang menimbun kebajikan — pasti akan menuai berkah.  Keluarga yang menimbun kejahatan — pasti akan ditimpa kemalangan.”

Perhatikan — ada orang miskin tetapi tetap jujur dan tidak melanggar prinsip. Cepat atau lambat, keturunannya akan muncul orang besar dan berbudi.  Sebaliknya — ada keluarga kaya karena korupsi — kelak pasti muncul anak cucu yang menghancurkan semuanya.

Ini — sering kali bisa kita lihat dengan sangat jelas.(jhn/yn)

Beberapa Menit Sebelum Bertemu Xi, Trump Perintahkan Uji Coba Senjata Nuklir Segera

EtIndonesia. Presiden AS, Donald Trump, menjelang pertemuannya dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping pada hari Kamis, mengatakan dia telah menginstruksikan Departemen Pertahanan untuk segera melanjutkan uji coba senjata nuklir secara “setara” dengan negara-negara nuklir lainnya.

“Karena negara-negara lain sedang menguji program, saya telah menginstruksikan Departemen Perang untuk mulai menguji Senjata Nuklir kami secara setara. Proses itu akan segera dimulai,” kata Trump di Truth Social, menjelang pertemuan dengan Xi di Korea Selatan.

“Rusia berada di posisi kedua, dan Tiongkok berada di posisi ketiga, tetapi akan sama dalam 5 tahun,” kata Trump.

Presiden Vladimir Putin mengatakan pada hari Rabu (29/10) bahwa Rusia telah berhasil menguji super torpedo bertenaga nuklir Poseidon yang menurut para analis militer mampu menghancurkan wilayah pesisir dengan memicu gelombang laut radioaktif yang besar.

Sementara Trump telah memperketat retorika dan sikapnya terhadap Rusia, Putin secara terbuka memamerkan kekuatan nuklirnya dengan uji coba rudal jelajah Burevestnik baru pada 21 Oktober dan latihan peluncuran nuklir pada 22 Oktober.

Amerika Serikat terakhir kali menguji senjata nuklir pada tahun 1992.

Uji coba memberikan bukti tentang apa yang dapat dilakukan oleh senjata nuklir baru – dan apakah senjata lama masih berfungsi.

Selain menyediakan data teknis, uji coba semacam itu akan dipandang di Rusia dan Tiongkok sebagai penegasan yang disengaja atas kekuatan strategis AS.

Amerika Serikat membuka era nuklir pada Juli 1945 dengan uji coba bom atom berkekuatan 20 kiloton di Alamogordo, New Mexico, dan kemudian menjatuhkan bom atom di Kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang pada Agustus 1945 untuk mengakhiri Perang Dunia Kedua.(yn)

Grand Whiz Hotel Praxis Surabaya Pererat Sinergi Bisnis Lewat Coffee Morning di Hari Sumpah Pemuda

SURABAYA, 29 Oktober 2025 – Dalam rangka memperingati semangat Hari Sumpah Pemuda, Grand Whiz Hotel Praxis Surabaya menyelenggarakan acara Coffee Morning yang dihadiri oleh para tenant dan mitra kantor di kawasan Intiland Tower dan Praxis Office. Acara yang berlangsung pada 29 Oktober 2025 ini bertujuan memperkuat hubungan dan membuka peluang kolaborasi di masa mendatang.

General Manager Grand Whiz Hotel Praxis Surabaya, Ari Perdana, menyampaikan bahwa acara ini merupakan bentuk apresiasi dan komitmen hotel terhadap para mitra yang telah mendukung operasional dan layanan hotel. “Grand Whiz Hotel Praxis ingin terus hadir sebagai mitra yang memberikan dukungan nyata bagi tenant dan perusahaan sekitar. Melalui Coffee Morning ini, kami berharap hubungan positif yang sudah terbangun dapat semakin erat dan berkelanjutan,” ujarnya.

Acara yang digelar di loby Intiland Tower dan Praxis Building ini disambut positif oleh para peserta. Ali, perwakilan dari PT Pertamina EP, mengungkapkan apresiasinya. “Kegiatan seperti ini membuat kami merasa dihargai dan semakin dekat dengan pihak hotel. Selain itu, kami bisa saling berbagi insight bisnis dan memperkuat hubungan profesional,” katanya.

Pendapat serupa disampaikan Nurni dari Bank CTBC. “Kami berharap kegiatan ini terus berlanjut karena benar-benar memberikan kesempatan untuk menjalin relasi yang lebih baik dan membuka peluang kerja sama baru,” tambahnya.

Ke depan, Coffee Morning akan menjadi agenda rutin Grand Whiz Hotel Praxis Surabaya sebagai upaya memperluas jejaring dan memperkuat sinergi di lingkungan bisnis sekitar. Hotel bintang empat yang terletak di Jalan Panglima Sudirman ini berkomitmen untuk terus menjadi pilihan utama akomodasi bagi tenant dan mitra bisnis di kawasan strategis Surabaya.

5 Jenis Makanan yang Tidak Takut “Kedaluwarsa” — Bahkan Semakin Lama Semakin Bernilai

EtIndonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti pernah menemukan makanan yang terlupakan di sudut kulkas hingga melewati tanggal kedaluwarsa. Namun menariknya, tidak semua makanan akan rusak setelah “kedaluwarsa” — bahkan ada yang semakin lama justru semakin berharga dan berkualitas.

Berikut 5 jenis makanan yang tidak takut waktu, bahkan ada yang nilai jualnya naik seiring usia:

1. Kecap (Saus Soy)

Kecap adalah salah satu bumbu dapur yang paling sering digunakan. Yang mengejutkan, kecap yang disimpan terlalu lama tidak mudah rusak, justru rasa dan aromanya akan semakin kuat dan berlapis.

 Karena dalam kecap terdapat asam amino dan enzim yang terus melakukan fermentasi ringan seiring waktu, membuatnya semakin gurih dan matang secara alami.

2. Madu

Dijuluki sebagai “emas cair alami”, madu dikenal sebagai makanan yang nyaris tidak memiliki batas kedaluwarsa nyata.

 Bahkan madu yang disimpan bertahun-tahun bisa semakin bernutrisi dan lebih berkhasiat.
Enzim dan antioksidan di dalam madu akan semakin aktif seiring waktu, sehingga daya tahan tubuh dan manfaat kesehatannya justru meningkat.

3. Arak Putih (Baijiu)

Dalam budaya Tiongkok, baijiu adalah minuman beralkohol bernilai tinggi. Berbeda dari wine biasa, semakin lama disimpan, kualitas baijiu justru semakin tinggi.

Baijiu yang sudah berumur puluhan tahun dikenal sebagai koleksi mewah bernilai tinggi — harganya bisa melonjak drastis. Jadi, jika kamu menemukan “baijiu kedaluwarsa” di rumah — jangan buru-buru dibuang!

4. Kulit Jeruk Kering & Herbal Tiongkok (Chen Pi)

Herbal seperti chen pi (kulit jeruk kering) justru semakin lama semakin kuat khasiatnya. Seiring waktu, minyak atsiri dan zat aromatiknya semakin matang, sehingga lebih ampuh untuk melancarkan pencernaan dan memperbaiki sistem pernapasan.  Dalam pengobatan tradisional Tiongkok, chen pi tua jauh lebih mahal daripada yang baru.

5. Teh Pu-erh

Pu-erh adalah teh fermentasi khas Tiongkok yang dirancang untuk disimpan lama.  Semakin lama disimpan, fermentasi terus bekerja secara alami, membuat rasa teh lebih halus, manis, dan beraroma dalam. Selain itu, pu-erh juga dikenal baik untuk menurunkan kolesterol, melancarkan pencernaan, dan menjaga tekanan darah.  Tak heran, pu-erh berusia puluhan tahun bisa dilelang dengan harga fantastis.

Penutup

Tidak semua makanan yang tampak “kedaluwarsa” harus langsung dibuang. Beberapa justru semakin lama semakin bernilai — baik rasa, khasiat, maupun harganya.

Namun tentu saja, usia simpan juga ada batas wajar. Jika kondisi tampilan, aroma, atau teksturnya sudah tidak normal — jangan dipaksakan untuk dikonsumsi.

Jadi, lain kali saat menemukan kecap, madu, baijiu, kulit jeruk kering, atau teh pu-erh lama di rumah,  jangan buru-buru membuangnya — mungkin justru itu adalah “harta tersembunyi”. (jhn/yn)

Pesawat Udara Putih Raksasa Terlihat Terbang di Atas San Francisco

EtIndonesia. Sebuah pesawat udara putih raksasa terlihat melayang tanpa suara di atas cakrawala San Francisco, membuat warga takjub dan penasaran.

Konten kreator Cesar Concepcion Salza mengunggah video pesawat udara tersebut di Instagram, merekam pergerakannya yang lambat di langit San Francisco.

Dalam klip tersebut, pesawat udara raksasa tersebut terlihat meluncur dari balik gedung tinggi, melayang anggun saat bergerak melintasi cakrawala. Video viral tersebut memicu spekulasi global tentang asal-usul dan tujuan pesawat udara tersebut, dengan berbagai teori mulai dari drone, properti film, hingga proyek pemerintah.

“Apa yang ada di langit San Francisco hari ini?” tulis Salza di Instagram beserta video pesawat udara tersebut. Klip tersebut dengan cepat ditonton ribuan kali dan di-repost di X dan Reddit.

Begini penampakan sebenarnya:

Pesawat udara tersebut diidentifikasi sebagai Pathfinder 1, sebuah pesawat tanpa emisi canggih yang dikembangkan oleh Lighter Than Air (LTA) Research, NBC melaporkan. Pesawat udara ini, yang dikembangkan dan didukung oleh salah satu pendiri Google, Sergey Brin, adalah pesawat tanpa emisi yang bertujuan untuk merevolusi transportasi kargo dan bantuan kemanusiaan.

Dengan panjang 124 meter, Pathfinder 1 menggunakan helium untuk daya angkat dan propulsi listrik, menjadikannya alternatif ramah lingkungan untuk logistik dan bantuan bencana.

Pathfinder 1 merupakan bagian dari misi LTA Research untuk menghidupkan kembali teknologi yang lebih ringan dari udara untuk transportasi kargo berkelanjutan, bantuan bencana, dan bantuan kemanusiaan. Pesawat udara ini memiliki desain unik dengan hub titanium, tabung serat karbon, dan cangkang polimer, ditenagai oleh 12 motor listrik dan helium untuk daya angkat, menjadikannya lebih senyap dan lebih bersih daripada pesawat konvensional.

Pathfinder 1 melakukan penerbangan perdananya pada Mei 2025 dari Lapangan Udara Federal Moffett yang bersejarah di dekat Mountain View, California – sebuah lokasi yang dikenal karena warisannya dalam penelitian pesawat udara NASA dan Angkatan Laut AS. Kemunculannya baru-baru ini di atas San Francisco menandai tonggak penting dalam operasi uji coba yang sedang berlangsung yang berfokus pada stabilitas penerbangan, kontrol ketinggian, dan navigasi.(yn)

Peralihan Tiongkok Menjadi Debt Collector di Negara-Negara Berkembang — Dari Pemberi Pinjaman Menjadi Rentenir

 Bagi negara-negara termiskin di dunia, Beijing telah berubah dari mitra investasi menjadi debt collector yang keras kepala

oleh James Gorrie 

Pada awal tahun 2000-an, Tiongkok memainkan peran yang relatif kecil sebagai pemberi pinjaman global. Namun, melalui Belt and Road Initiative (Inisiatif Sabuk dan Jalan), Beijing mulai membiayai pembangunan jembatan, pelabuhan, dan rel kereta api di negara-negara Selatan Global, sambil menyebutnya sebagai kerja sama “win-win”.

Namun, jika kita melompat ke tahun 2025, bagi banyak negara termiskin, Beijing kini tak lagi terasa seperti mitra—melainkan seperti penagih utang yang tak kenal ampun sedang mengetuk pintu.


Dari Pemberi Pinjaman Menjadi Kreditor Dominan

Kebangkitan Tiongkok menjadi kekuatan keuangan pembangunan global terjadi dengan sangat cepat. Pada pertengahan 2010-an, jumlah pinjaman bilateral baru ke negara-negara berkembang meningkat tajam, menjadikan Tiongkok sumber kredit terbesar di dunia. Pada puncaknya, pinjaman luar negeri Tiongkok bahkan melampaui gabungan pinjaman resmi dari IMF, Bank Dunia, dan para kreditor Paris Club.

Hingga tahun 2023, Tiongkok telah menjadi kreditor bilateral terbesar di lebih dari 50 negara dan memegang sekitar 26 persen dari seluruh utang luar negeri bilateral negara-negara berkembang. 

Di negara-negara dengan ekonomi paling rapuh, proporsi itu bahkan lebih tinggi. Kini, Tiongkok tetap menjadi salah satu dari lima pemegang utang terbesar di sekitar tiga perempat negara berkembang.


2025: “Gelombang Utang” yang Harus Dibayar

Namun, seiring kemerosotan ekonomi domestiknya akibat dampak jangka panjang dari kebijakan lockdown pandemi, menurunnya investasi asing langsung, dan kebijakan tarif perdagangan yang diberlakukan pemerintahan Trump, sikap Tiongkok terhadap para debiturnya menjadi jauh lebih keras. Dampaknya terhadap negara-negara berkembang sangat besar.

Pada tahun 2025, negara-negara berkembang diperkirakan akan membayar utang sebesar 35 miliar dolar AS (Rp542,5 triliun) kepada Tiongkok. Dari jumlah itu, sekitar 22 miliar dolar AS berasal dari 75 negara termiskin di dunia.

Yang krusial, kewajiban pembayaran ini kini telah melampaui jumlah pinjaman baru. 

Negara-negara berkembang kini membayar lebih banyak kepada kreditor Tiongkok dibandingkan jumlah pinjaman baru yang mereka terima. Sebuah studi terbaru memperkirakan adanya arus negatif bersih sebesar 3,9 miliar dolar AS per tahun ke kreditor Tiongkok.

Singkatnya, Tiongkok telah berubah dari penyedia modal bagi negara miskin menjadi penyedot modal dari mereka, membuat negara-negara peminjam terjebak dalam kesulitan fiskal.

Pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung membengkak sekitar 7,27 miliar dollar AS atau Rp 120,38 triliun, 75 persen dibiayai melalui utang dari Tiongkok dengan bunga sebesar 2 persen per tahun. Ini sudah termasuk cost overrun yang mencapai 1,2 miliar dollar AS. PT KCIC, mayoritas sahamnya dimiliki BUMN Indonesia harus menanggung cicilan utang pokok dan bunga. Laporan keuangan per 30 Juni 2025 yang dipublikasikan PT KAI, PT PSBI merugi Rp 4,195 triliun sepanjang 2024 dan 2025. Hitungan enam bulan pertama 2025, kerugian PSBI mencapai Rp 1,625 triliun. Utang harus dibayar hingga 40 tahun ke depan (PT KCIC)

Syarat Pinjaman Ala Rentenir

Kunci dari setiap pinjaman adalah syaratnya—dan struktur pinjaman Tiongkok memang menguntungkan pihak Beijing. Menurut penelitian terbaru dari Lowy Institute, pinjaman Tiongkok umumnya memiliki masa tenggang yang singkat (3–5 tahun) dan jangka waktu pelunasan 15–20 tahun. Kini masa tenggang itu telah berakhir, dan banyak negara mulai memasuki masa pembayaran kembali, tepat ketika suku bunga global dan harga komoditas meningkat tajam.

Yang memperburuk keadaan, komitmen pinjaman baru dari Tiongkok telah anjlok. Akibatnya, aliran dana baru untuk pembangunan berkurang drastis, sementara kewajiban pembayaran justru menumpuk. 

Lebih parah lagi, lembaga pemberi pinjaman milik negara Tiongkok sering mendapatkan hak prioritas atas arus kas negara peminjam—misalnya dengan mengalihkan pendapatan ekspor komoditas ke rekening escrow, atau menuntut jaminan agar mereka menjadi pihak pertama yang menerima pembayaran dalam valuta asing.

Faktanya, sekitar 60 persen dari portofolio pinjaman luar negeri Tiongkok kini dimiliki oleh negara-negara yang sedang kesulitan keuangan—yang sudah menghadapi gagal bayar, penundaan, atau restrukturisasi utang. 

Artinya, “bantuan luar negeri” Tiongkok kini lebih menyerupai proses penagihan yang bersifat eksploitasi daripada model pembangunan yang mendukung. Akibatnya, kendali Tiongkok atas arus kas negara debitur menjadikan “bantuan” itu sebagai mekanisme penegakan dan penagihan terhadap negara-negara paling rentan.

BACA JUGA : 12 Tahun Data Membuktikan Proyek  Belt and Road Initiative Tiongkok Adalah Perangkap Utang

BACA JUGA : Perangkap Belt and Road: Utang Tinggi Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Butuh 40 Tahun untuk Balik Modal


Biaya Nyata dari Pinjaman Tiongkok

Bagi banyak negara tersebut, bebannya sangat berat. Beberapa negara membayar Tiongkok hingga seperempat dari total anggaran pembayaran utang mereka, bahkan lebih tinggi daripada pembayaran kepada lembaga multilateral atau kreditor swasta. 

Dalam perspektif sejarah, selama 50 tahun terakhir, belum pernah ada kreditor bilateral yang memiliki pengaruh sebesar itu atas keuangan begitu banyak negara.

Dengan syarat sekeras itu, Beijing secara efektif memegang kendali atas aset negara-negara tersebut. Seiring meningkatnya pembayaran kepada Tiongkok, banyak negara terpaksa melakukan pengorbanan berat: memangkas anggaran kesehatan, pendidikan, dan program iklim, bahkan menaikkan pajak untuk menanggung beban.

Hal ini melemahkan momentum pembangunan dan memperburuk kerentanan fiskal.


Menguasai Sumber Daya dari Negara Miskin

Fokus Tiongkok pada negara-negara berkembang yang kaya sumber daya tentu bukan kebetulan. Negara-negara seperti Republik Demokratik Kongo, Indonesia, dan Brasil, yang ekspornya sangat bergantung pada siklus perdagangan global, memiliki utang besar kepada Tiongkok. Negara lain yang merupakan tetangga atau mitra strategis—seperti Pakistan, Mongolia, dan Kazakhstan—terus menerima investasi dan pinjaman terarah dari Tiongkok, meskipun pinjaman secara umum menurun.

Negara-negara kecil dan miskin yang banyak berutang pada pertengahan 2010-an, ketika kredit Tiongkok masih mudah diperoleh, kini praktis menjadi tawanan utang Beijing—terutama ketika bantuan dan dukungan perdagangan dari Barat ikut menurun.

BACA JUGA : Maju Mundur Mega Proyek Kereta Api Cepat, Jebakan Utang Tiongkok Semakin Terlihat


Mundurnya Bantuan Barat dan Dunia yang Tak Seimbang

Masalah ini diperparah dengan perubahan kebijakan banyak negara Barat yang kini lebih berfokus ke dalam negeri, mengurangi bantuan luar negeri, atau mengalihkan prioritas ke sektor pertahanan. Pergeseran tersebut membuat semakin sedikit pemberi pinjaman alternatif yang menawarkan syarat lunak. Akibatnya, meski ada perlawanan, negara-negara debitur tetap terpaksa menerima syarat yang sangat menguntungkan Tiongkok.

Menurut Lowy Institute, dampak geopolitiknya adalah melemahnya kemampuan Barat untuk menyeimbangkan pengaruh Tiongkok—membiarkan Beijing mengisi kekosongan tersebut.
Jika tren ini berlanjut, dunia bisa terjebak dalam situasi di mana banyak negara miskin secara permanen berada dalam orbit keuangan satu kekuatan besar.

Bayangkan jika BRICS atau blok keuangan yang dipimpin rezim Tiongkok perlahan menggeser perdagangan dan penyelesaian utang global ke dalam mata uang yuan, maka negara-negara lemah tak akan punya pilihan lain selain berutang atau bergantung pada Tiongkok.

Bagi negara-negara itu, Beijing akan menjadi semacam tuan feodal de facto, yang mengikis kekuatan tawar dan kedaulatan mereka.

Ke depan, upaya negara-negara itu untuk mencari keringanan atau restrukturisasi utang dari Tiongkok akan lebih menyerupai permohonan belas kasihan kepada penagih utang, bukan diplomasi sejajar—sebuah skenario yang kecil kemungkinan terjadi ketika ekonomi Tiongkok sendiri sedang lesu.

Dalam konteks global, dengan rezim Tiongkok mendominasi pemberian pinjaman dan mata uang, prospek masa depan pun tampak suram.


James Gorrie adalah penulis buku tahun 2013 berjudul “The China Crisis” dan membahas isu-isu terkini serta topik seputar Tiongkok di podcast YouTube-nya, The Banana Republican.

Program ‘Made in China 2025’ Gagal dalam Industri Manufaktur Canggih

oleh: Antonio Graceffo

Visi Xi Jinping dalam program “Made in China 2025” dan ambisinya untuk menjadikan Tiongkok sebagai pemimpin global pada tahun 2040 menargetkan dominasi dalam industri manufaktur canggih. Namun sejauh ini, hanya sebagian kecil pabrik di Tiongkok yang benar-benar memenuhi standar “manufaktur canggih” menurut definisi yang paling umum diterima.

Partai Komunis Tiongkok (PKT) memandang investasi besar-besaran dalam manufaktur canggih sebagai kunci untuk memperkuat kekuatan nasional dan menegakkan posisi Tiongkok sebagai pemimpin teknologi global. Tujuan ini, yang sejalan dengan Rencana Lima Tahun ke-14, dijalankan melalui program Manufacturing Innovation Centers (MIC). Program ini diluncurkan pada tahun 2015, meniru jaringan “Manufacturing USA” di Amerika Serikat dan “Industrie 4.0” di Jerman, untuk menjadi pusat penelitian dan inovasi yang menghubungkan industri, lembaga riset, dan pemerintah.

Selama sembilan tahun, PKT telah menggelontorkan lebih dari 300 miliar dolar AS untuk mendirikan 33 pusat inovasi, dengan target 40 pusat pada tahun 2025. Setiap pusat dihubungkan dengan laboratorium utama nasional dan mitra regional untuk membentuk ekosistem manufaktur di sektor-sektor prioritas yang ditetapkan oleh Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi (MIIT), termasuk robotika, semikonduktor, kedirgantaraan, biofarmasi, dan kendaraan listrik.

 Tujuannya adalah untuk mencapai hingga 80 persen produksi domestik di sektor-sektor tersebut pada tahun 2025, guna memperkuat kemandirian dan mengurangi ketergantungan pada teknologi asing.

Program MIC menjadi mekanisme utama dari Made in China 2025, yang bertujuan mengubah Tiongkok dari produsen barang murah menjadi negara berbasis inovasi dengan produk bernilai tinggi. Fungsinya antara lain mempromosikan standar dan perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI), mendukung komersialisasi teknologi baru, serta mempercepat adopsi manufaktur canggih di seluruh basis industri.

Rencana Lima Tahun ke-14 (2021–2025) memperkuat investasi ini, dengan menekankan pengurangan ketergantungan pada pemasok asing untuk komponen penting seperti sirkuit terpadu, dan mendorong integrasi MIC ke dalam rencana pembangunan nasional maupun daerah.

Namun, terlepas dari investasi masif tersebut, hasilnya masih campuran. Produksi industri Tiongkok memang tumbuh pesat, tetapi fondasi industrinya tetap tidak merata. Mayoritas pabrik masih beroperasi pada tingkat teknologi rendah hingga menengah—minim otomatisasi, digitalisasi, dan riset yang kuat. Hanya sebagian kecil yang memenuhi kriteria “manufaktur canggih.”

 Kajian dari NIST dan MERICS memang menunjukkan Tiongkok mulai mempersempit “kesenjangan manufaktur tingkat tinggi,” namun output industri canggihnya tetap merupakan bagian kecil dari total produksi. Banyak perusahaan meningkatkan anggaran R&D, tetapi tidak diiringi dengan peningkatan produktivitas atau inovasi yang setara.

Pada saat yang sama, strategi Tiongkok justru menciptakan kelebihan kapasitas industri besar-besaran. Kapasitas produksi panel surya kini mencapai dua hingga tiga kali lipat dari permintaan global. Pabrik mobil beroperasi hanya sekitar 59 persen dari kapasitasnya, sementara kendaraan listrik sering dijual dengan margin keuntungan negatif. Kerugian ini ditutupi dengan subsidi negara, memungkinkan Tiongkok menjual produk di bawah harga biaya di pasar global dan menyingkirkan pesaing.

Strategi jangka panjangnya tampak jelas: memproduksi berlebihan, membanjiri pasar dunia, menghancurkan pesaing, lalu menjadi pemasok dominan.

Dalam tujuan itu, Tiongkok memang berhasil merebut pangsa pasar, tetapi tetap tertinggal jauh dalam hal inovasi sejati. Sebaliknya, Amerika Serikat hanya menginvestasikan sekitar 160 juta dolar AS dalam sejumlah institut manufaktur canggih, namun masih memimpin dalam pengembangan teknologi. Perbedaannya bukan pada skala investasi, melainkan pada efisiensi, orisinalitas, dan hasil inovasi nyata.

Sistem Tiongkok juga sangat bergantung pada pencurian hak kekayaan intelektual. Menurut Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR), Tiongkok tetap menjadi salah satu pelaku terburuk dalam pencurian HKI melalui spionase dan serangan siber. Perusahaan asing yang beroperasi di Tiongkok juga sering dipaksa melakukan transfer teknologi paksa sebagai syarat untuk mendapatkan akses pasar. Praktik-praktik ini memang mempercepat akumulasi teknologi di Tiongkok, tetapi tidak meningkatkan kemampuan inovasi mandiri.

Kebijakan tarif Presiden Donald Trump terhadap produk Tiongkok mulai mengganggu pola ini. Investasi asing langsung ke Tiongkok menurun, karena semakin banyak perusahaan Amerika dan asing enggan memproduksi di sana—membatasi akses Beijing terhadap teknologi maju. Efek samping ini—membatasi pencurian teknologi—dapat memperlambat kemajuan teknologi Tiongkok sambil mendorong kebangkitan riset, investasi, dan pengembangan industri di Amerika Serikat.

Langkah-langkah ini berpotensi memulihkan basis industri Amerika dan mempertahankan keunggulan teknologinya. Namun, jika Partai Republik kehilangan Gedung Putih pada tahun 2028, Amerika mungkin akan kembali ke kebijakan lama yang gagal—kebijakan yang pernah membuat Tiongkok “mengambil alih makan siang kita,” seperti yang dulu dikatakan mantan Presiden Joe Biden bahwa hal itu “tidak akan pernah terjadi.”


Antonio Graceffo, Ph.D., adalah analis ekonomi Tiongkok yang telah menghabiskan lebih dari 20 tahun di Asia. Ia lulusan Shanghai University of Sport, meraih gelar MBA dari Shanghai Jiaotong University, dan mempelajari keamanan nasional di American Military University.