(Video) Mobil Xiaomi Kembali  Kecelakaan — SU7 Terjun ke Laut Dini Hari, Pengemudi Tewas

EtIndonesia. Mobil listrik buatan Tiongkok Xiaomi kembali menjadi sorotan setelah serangkaian kecelakaan. Pada 9 Oktober 2025 sekitar pukul 04.00 pagi, sebuah mobil Xiaomi SU7 secara misterius terjun ke laut di Kabupaten Pingtan, Provinsi Fujian, dan pengemudinya tewas di tempat, menimbulkan perhatian luas di media sosial.

Dalam video yang beredar di internet, terlihat sebuah mobil sedan melaju perlahan, melewati tepi jalan, lalu langsung jatuh ke laut. Dalam rekaman lain, mobil tersebut diangkat dari laut dengan derek, sementara di tepi pantai tampak kerumunan warga dan polisi, serta keluarga korban menangis di lokasi kejadian. 

Menurut laporan media Tiongkok, kecelakaan terjadi di Dermaga Nelayan Dong’ao, Kota Ao Qian, Kabupaten Pingtan, Kota Fuzhou.

Seorang saksi mata bermarga Nian mengatakan: “Dia (pengemudi) sudah tewas, jasadnya dibawa ke rumah duka.”

Seorang staf dari Biro Maritim Pingtan menuturkan bahwa pada pukul 8 pagi mobil telah berhasil diangkat ke permukaan. Pengemudi ditemukan sudah tidak bernyawa, dan operasi pencarian serta penyelamatan telah selesai. Pihak berwenang saat ini masih menyelidiki penyebab kecelakaan.

Beberapa pengguna internet mengungkap bahwa pengemudi adalah pria kelahiran tahun 1994. Ia diduga mengemudi dalam keadaan mabuk atau melakukan kesalahan pengoperasian, meskipun informasi ini belum dikonfirmasi oleh polisi.

(Tangkapan layar dari video daring)

Video menunjukkan lampu rem sempat menyala sebelum mobil jatuh, yang mengindikasikan pengemudi mungkin berusaha mengerem.

Komentar warganet pun bermunculan: “Bukankah katanya bisa rem mendadak dari kecepatan 100 km/jam? Kok lampu rem nyala tapi tetap jatuh?”
“Mungkin dia mabuk, atau mobil dalam mode autopilot.”

Sebelumnya, CEO Xiaomi, Lei Jun, pernah mempromosikan kemampuan mobilnya yang bisa berhenti seketika pada kecepatan 200 km/jam, namun banyak warganet kini mempertanyakan klaim tersebut:

“Katanya bisa berhenti mendadak dari 200 km/jam, mana buktinya?”

Mobil listrik Xiaomi kerap dipromosikan sebagai “mobil tercepat dan paling cerdas”, tetapi justru sering terlibat kecelakaan fatal.

Pada 13 September, sebuah Xiaomi SU7 Ultra di salah satu kota menabrak sepeda listrik di persimpangan lampu merah karena berusaha menyalip kendaraan lain dengan kecepatan 150 km/jam dalam mode “racing”, menyebabkan pengendara sepeda listrik mengalami mati otak.

Selain itu, seorang warganet di Xi’an mengungkap bahwa beberapa hari lalu, di Distrik Beilin, Jalan Wenyi, terjadi kecelakaan maut lain:

“Mobil Xiaomi baru saja menewaskan seseorang pada jam sibuk malam 9 September 2025. Tidak banyak media resmi yang memberitakan. Mobil Xiaomi ini jelas bermasalah.”Komentar warganet lainnya menyebut: “Mobil lokal ini terlalu banyak omong kosong soal promosi — katanya generasi pertama, bisa rem mendadak, padahal membahayakan orang.”

“Lei Jun tampaknya tidak sadar kalau slogan seperti ‘berhenti seketika’ justru berisiko besar. Promosi memang ramai, tapi nyawa yang hilang juga nyata.” (Hui/asr)

ADHD Mungkin Terkait dengan Trauma,  Cara Mengatasinya

Untuk mencegah dampak jangka panjang dari pengalaman masa kecil yang buruk, dukungan harus hadir di berbagai tingkat—di rumah, sekolah, dan masyarakat—menurut para ahli

Zena le Roux

Sebuah surat ilmiah yang diterbitkan dalam Indian Journal of Pediatrics mencatat kasus berikut.

Seorang anak perempuan berusia 5 tahun di taman kanak-kanak menunjukkan riwayat tiga bulan berupa ledakan emosi, agresi, dan perilaku keras kepala. Sekilas, anak itu tampak menderita gangguan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD)  atau pemusatan perhatian dan hiperaktivitas . Namun kenyataannya, perilaku itu merupakan dampak dari trauma.

Di rumah, keluarganya menghadapi pengangguran dan konflik yang terus-menerus, menciptakan lingkungan penuh stres.

Trauma dan pengalaman negatif di masa kanak-kanak tidak hanya meningkatkan risiko berkembangnya ADHD, tetapi juga dapat memperparah gejala yang berpotensi bertahan hingga dewasa. Karena itu, ketika meninjau pilihan pengobatan, penting untuk mempertimbangkan pengalaman anak dan memberikan dukungan yang membuat mereka merasa aman—bukan hanya berfokus pada perilaku atau pengobatan semata.


Hubungan Antara ADHD dan Trauma

“Hubungan antara trauma dan ADHD itu sangat nyata,” kata Dr. Samuel Ponnuthurai, psikiater di London Psychiatry Clinic, kepada The Epoch Times.

Trauma dapat mengganggu perkembangan otak dan proses kognitif, sehingga berkontribusi pada munculnya ADHD serta meninggalkan jejak mendalam pada aspek emosional, kognitif, dan neurologis.

Anak-anak yang mengalami trauma cenderung mengembangkan bias memori negatif—lebih mudah mengingat pengalaman buruk daripada yang baik. Bias seperti ini dapat meningkatkan stres dan reaktivitas emosional, memperburuk kemampuan berkonsentrasi, mengontrol impuls, dan perilaku hiperaktif—gejala yang sering ditemukan pada ADHD.

Selain itu, riwayat penderitaan atau pengalaman sulit sering membuat seseorang terjebak dalam kondisi fight or flight (melawan atau lari), sehingga lebih mudah terpicu oleh stres, tambah Ponnuthurai.

Di tingkat keluarga, ADHD juga sangat bersifat genetik.
“Tidak jarang seorang orang tua dan anak sama-sama memiliki sifat ADHD, yang membuat interaksi sehari-hari menjadi lebih sulit,” kata Ponnuthurai.

Stres akibat benturan yang terus-menerus antara orang tua dan anak—seperti pertengkaran, kesalahpahaman, dan frustrasi yang berulang—dapat tertanam lintas generasi, membuat keluarga lebih rentan terhadap siklus trauma.

Trauma sendiri dapat muncul dalam berbagai bentuk. Bisa disebabkan oleh satu peristiwa besar, seperti kematian orang terdekat, kecelakaan serius, atau menyaksikan kekerasan. Namun, trauma tidak selalu tampak dramatis dari luar. Bagi anak yang sensitif, situasi yang tampaknya kecil—seperti sering dimarahi guru, dibentak orang tua, atau dikucilkan oleh teman sebaya—bisa meninggalkan bekas yang dalam.

Semakin banyak pengalaman negatif masa kecil yang dialami seorang anak, semakin tinggi kemungkinan ia mengembangkan gejala ADHD.

Orang tua dapat membantu dengan mengenali pola stres, memberikan dukungan, dan mencari bantuan sejak dini sebelum kesulitan semakin membesar.


Pendekatan Pengobatan yang Berbasis Pemahaman Trauma

“Kita hanya bisa mengetahui apakah gejala ADHD anak terkait trauma dengan mengambil riwayat lengkap tentang siapa mereka dan apa yang telah mereka alami,” kata Patricia Worby, seorang spesialis trauma, kepada The Epoch Times.

Penilaian standar sering kali kurang memadai karena terlalu fokus pada pengobatan gejala.

Perawatan ADHD saat ini biasanya meliputi obat-obatan atau psikoterapi. Meskipun kedua pendekatan ini tetap penting, kini pengobatan berkembang untuk mencakup intervensi fisik, sosial, dan okupasional—kadang sebagai pelengkap perawatan tradisional, dan kadang sebagai bentuk utama pengobatan, jelas Ponnuthurai.

Untuk anak perempuan berusia 5 tahun tadi, pendekatan berbasis trauma tidak hanya menargetkan gejala, tetapi juga berfokus pada penciptaan lingkungan yang aman dan suportif. Perawatan berpusat pada penguatan ikatan orang tua-anak, dengan mendorong sang ibu untuk “memeluk, berinteraksi, bertanya, membacakan, dan berbicara” dengan anaknya—strategi praktis yang dikenal sebagai HEART. Pendekatan ini membantu anak merasa aman dan didukung sambil mengatasi tantangan perilaku.

Bekerja di lingkungan non-klinis seperti sekolah dan rumah memungkinkan terapis menyesuaikan penanganan ADHD secara lebih praktis, kata Worby.

Namun, intervensi dini sangatlah penting.

Untuk pengobatan, Worby menyoroti nilai pendekatan berbasis tubuh (somatic), seperti latihan pernapasan, yoga, terapi eye movement desensitization and reprocessing (EMDR)—yang membantu memproses memori traumatis—atau somatic experiencing. Teknik-teknik ini dapat membantu anak-anak kembali terhubung dengan tubuh mereka, menyelesaikan memori emosional, serta memulihkan rasa aman dan stabilitas diri.

“Kita perlu membalikkan pengalaman traumatis dengan mengajarkan anak alat dan teknik yang menumbuhkan rasa aman pada tubuh mereka,” ujarnya.

Masyarakat juga memiliki peran penting.

 “Kita hidup dalam arus besar koneksi palsu yang menyebabkan ketidakseimbangan sistem saraf,” tambah Worby. Anak-anak masa kini tumbuh dalam lingkungan penuh perbandingan dan penilaian, diperburuk oleh media sosial.

Yang paling dibutuhkan anak-anak adalah hubungan nyata yang aman dan autentik—serta struktur pendukung seperti klub olahraga atau kelompok masyarakat—yang memberi rasa kebersamaan dan makna.

Akhirnya, pengobatan sebaiknya tidak hanya berfokus pada masalah, tetapi juga pada kekuatan.

“Menemukan cara memanfaatkan kekuatan yang dimiliki individu dengan ADHD dalam berbagai aspek kehidupan mereka sangat penting,” kata Ponnuthurai.

 “Dalam bidang-bidang yang menjadi tantangan, kita bisa mengaitkan adaptasi terkait ADHD dengan kekuatan mereka, dan menemukan keseimbangan untuk menciptakan solusi.”

Sang Penyala Pelita: Menyalakan Cahaya Hati dalam Kegelapan

EtIndonesia. Di sebuah desa pegunungan yang terpencil, hiduplah seorang pemuda petani bernama A Qiang. Dia berjuang menumbuhkan harapan di atas tanah yang keras dan tandus. Orangtuanya telah lama tiada, hanya meninggalkan sebuah rumah reyot dan sebidang tanah miskin — namun ada satu kalimat dari sang ayah yang tak pernah padam dari ingatannya: “Selama engkau terus berusaha, dan hatimu menyimpan cahaya — hidup akan selalu menemukan jalan.”

Kalimat itu menjadi pelita di dalam hatinya — menerangi langkahnya bahkan ketika hidup terasa begitu gelap.

Walau hidupnya serba kekurangan, A Qiang dikenal sebagai sosok yang berhati mulia dan rajin bekerja. Suatu hari, dia menggendong seorang kakek yang terjatuh dan terluka — berjalan kaki sejauh lima kilometer untuk membawanya ke rumah sakit. Warga desa tersentuh oleh ketulusannya. 

Meski ada juga yang mencibir, menilai kebaikannya tak akan mengubah nasibnya, A Qiang hanya tersenyum dan berkata:  “Berbuat baik itu seperti menyalakan pelita — yang pertama kali diterangi adalah jalan di dalam hati kita sendiri.”

Kesempatan baru datang ketika sebuah tim bantuan pendidikan mengunjungi desa itu. Berkat rekomendasi para guru, A Qiang diberi kesempatan untuk pergi ke kota dan melanjutkan pendidikan.

Perjalanan itu penuh tantangan, namun dengan ketekunan dan hati yang teguh, dia berhasil mengatasi segala rintangan — hingga akhirnya diterima di sebuah universitas ternama. Kisah perjuangannya menjadi sumber semangat bagi semua orang yang mengenalnya — menunjukkan bahwa cahaya harapan bisa tumbuh dari tanah yang paling keras sekalipun.

Setelah lulus, A Qiang bekerja di sebuah perusahaan konstruksi besar. Namun dia tidak pernah melupakan akar tempat dia berasal. Dia menyumbang dana untuk membangun sekolah dan jalan di desanya, serta mendirikan “Hope Fund” — sebuah yayasan yang membantu anak-anak miskin agar bisa melanjutkan pendidikan.

Dia selalu berkata: “Setiap orang memiliki pelita dalam hati. Saat kita memilih untuk menyalakannya, dunia pun akan ikut menjadi hangat dan bercahaya.”

Tahun demi tahun berlalu, dan kebaikan A Qiang menyebar luas, menginspirasi banyak orang untuk ikut berbuat baik. Cahaya yang dia nyalakan — menyebar seperti untaian pelita yang tak pernah padam, menerangi jalan kehidupan banyak orang.

Kisah A Qiang menjadi bukti bahwa meski hidup dimulai dalam kegelapan — selama ada tekad dan kebaikan di dalam hati — kita bisa menjadi pelita bagi dunia. (jhn/yn)

Rahasia di Dalam Sumur Tua


EtIndonesia.
Di sebuah kota kecil yang dikelilingi pegunungan dan aliran sungai, berdiri sebuah sumur kuno yang oleh warga setempat disebut “Sumur Keberuntungan”. Konon katanya, siapa saja yang meminum air dari sumur itu akan segera mendapatkan keberuntungan dalam hidupnya.
Setiap hari, banyak orang datang untuk menimba air — masing-masing membawa harapan.

Tak jauh dari sumur itu tinggal seorang pemuda bernama A Chang. Dia hidup sederhana, bahkan bisa dibilang pas-pasan. Namun wajahnya selalu ceria — seolah tidak ada yang bisa memadamkan semangatnya. Dia senang membantu siapa pun yang membutuhkan, tanpa pamrih.

Melihat nenek yang kesulitan menarik timba air — dia segera membantu. Menemukan anak kecil kebingungan mencari jalan pulang — dia antarkan sampai rumah. Bahkan melihat sampah berserakan di jalan pun dia punguti tanpa berpikir panjang. Baginya, melakukan kebaikan bukanlah tugas — melainkan kebahagiaan.

Suatu hari, seorang pedagang dari luar kota mendengar tentang Sumur Keberuntungan dan datang untuk membuktikan kabarnya. Sesampainya di sana, dia bertemu A Chang dan bertanya tentang legenda sumur itu.

A Chang hanya tersenyum dan berkata,: “Banyak orang yang meminumnya kemudian mengalami hal-hal baik. Air sumur ini memang istimewa.”

Dengan rasa penasaran, si pedagang pun menimba air dan langsung meminumnya — lalu memilih tinggal beberapa hari di desa itu untuk mengamati apa yang terjadi.

Beberapa hari berlalu, dan dia mendapati bahwa hidup A Chang tampak sama saja — tidak menjadi kaya, tidak mendapatkan hadiah besar, dan tidak terjadi kejadian besar seperti yang dia bayangkan.

Akhirnya, dia bertanya : “Kamu bilang air ini membawa keberuntungan. Tapi kenapa hidupmu masih sama saja?”

A Chang tersenyum semakin lebar: “Ya, hidupku sederhana. Tapi bukankah setiap hari aku tetap bahagia?”

Pedagang itu terdiam.  Di saat itu, seorang bocah perempuan mendekat dengan gembira, memeluk A Chang dan berkata : “Kakak, terima kasih ya! Berkatmu aku berhasil menemukan kucingku waktu itu!”

A Chang hanya tersenyum hangat sambil mengusap kepala bocah itu — dan si pedagang melihat cahaya kebahagiaan yang begitu nyata terpancar dari matanya.

Hari-hari berikutnya, si pedagang mulai memperhatikan sekeliling.

Ke mana pun A Chang pergi, semua orang menyapanya dengan senyum. Anak-anak berlari menyambutnya. Warga selalu menyapa hangat. Suasana di sekelilingnya selalu terasa ringan — damai — nyaman.

Akhirnya satu malam, dia bertanya kembali : “A Chang, selama ini aku menyaksikanmu. Kamu tidak kaya, tidak sukses besar, tapi kenapa kamu bisa merasa seberuntung itu?”

A Chang menjawab tenang : “Karena setiap hari aku mendapatkan hal-hal yang tidak bisa dibeli. Persahabatan, rasa terima kasih, senyum tulus — bukankah itu juga bentuk keberuntungan?”

“Sumur ini sebenarnya tidak memberi kekayaan. Dia hanya mengingatkan kita — jika hatimu lapang, jika kamu hidup dengan kebaikan,  keberuntungan akan datang dengan sendirinya.”

Pedagang itu pulang membawa seember air dari Sumur Keberuntungan — namun yang lebih berharga, dia membawa pemahaman baru tentang hidup.

Sejak itu, dia mulai menolong orang dengan tulus, seperti A Chang. Dan tanpa disadari, hidupnya pun ikut berubah — menjadi lebih hangat, lebih damai, dan penuh kesempatan.

Sementara Sumur Keberuntungan itu tetap berdiri di kota kecil itu — diam, tenang, dan terus menjadi cahaya yang lembut bagi nurani orang-orang. (jhn/yn)

Pintu Jodoh yang Terbuka oleh Niat yang Penuh Kebaikan

EtIndonesia. Ji Chen adalah seorang pria yang berpenampilan tenang dan berperilaku lembut, berhati baik, namun selalu mengalami kegagalan dalam urusan cinta. Setiap kali dia bertemu wanita yang dia sukai, tiba-tiba saja selalu muncul sosok pesaing — ada yang memicu kesalahpahaman, ada yang mengadu domba, bahkan tak jarang ada yang dengan sengaja merusak hubungan dari belakang. Akhirnya, kisah cintanya pun selalu berakhir sebelum sempat bertumbuh. 

Lama-kelamaan, dia mulai curiga — mungkinkah ini adalah balasan dari karma masa lalu?

Isyarat dari Takdir

Suatu hari, tanpa sengaja dia membaca sebuah buku tentang hukum karma. Buku itu membahas konsep “in gai” (sebab yang harus ditanggung) dan “ding ye” (takdir yang sudah ditetapkan) — bahwa perbuatan di kehidupan lampau membentuk hasil yang harus diterima pada kehidupan ini. Sebagian karma memang sudah matang dan tak bisa dihindari, namun masih bisa diperlunak dan diubah melalui perbuatan baik.

Tergerak oleh pemahaman ini, Ji Chen pun memutuskan untuk meminta petunjuk dari seorang guru spiritual yang dikenal bijaksana.

Sang guru menatapnya dengan tatapan penuh welas asih dan berkata pelan namun tegas: “Ketidaklancaran jodohmu bukanlah kebetulan. Di kehidupan lalu, karena terlalu terobsesi pada cinta, engkau tak segan menyakiti pesaing cintamu. Luka itu membekas dan karma itu belum selesai. Maka di kehidupan ini, setiap kali kau bertemu seseorang yang berjodoh denganmu, kekuatan karma itu akan muncul — dan menghalangi.”

Ji Chen terdiam, hatinya terguncang. Penjelasan itu seperti menjawab seluruh kegagalan cintanya selama ini.

Titik Refleksi dan Awal Perubahan

Tak lama kemudian, dia bertemu seorang wanita yang begitu tulus dan lembut — seolah jawaban dari semua penantiannya. Hatinya kembali berbunga, dia merasa inilah saatnya kebahagiaannya terwujud.

Namun seperti biasa — muncul lagi “pesaing.”

Sosok yang mencoba merusak namanya di mata sang gadis, memicu keraguan dan salah paham. Di titik itulah Ji Chen tersadar: Apakah semua ini benar-benar kebetulan? Atau inilah saatnya aku diuji — apakah aku akan mengulang kesalahan masa lalu?

Langkah Pertama Mengubah Karma

Dia teringat pesan sang guru: “Jangan lagi melawan. Ubah dari dalam. Jalan keluar dimulai dari hati.”

Maka untuk pertama kalinya, Ji Chen tidak melawan. DIa tidak sibuk membuktikan dirinya benar. DIa memilih mundur setapak, mengamati dengan tenang — dan dalam diam, dia mulai menumbuhkan doa kebaikan. Dia bahkan mendoakan pesaingnya agar menemukan kebahagiaan.

Dia juga mulai rutin ikut kegiatan fangsheng (melepaskan makhluk hidup), membantu sesama, dan berbuat baik secara konsisten. Suatu hari, saat dia melepaskan seekor burung kecil dari genggaman tangannya — hatinya tiba-tiba terasa bebas. Seolah-entah-dari-mana — sebuah beban masa lalu ikut terlepas bersamanya.

Menyembuhkan Ego yang Pernah Menyakiti

Sejak hari itu, dia melanjutkan perbuatan baiknya. Membantu kaum lemah, berdonasi tanpa nama, menjadi relawan di panti asuhan, menemani lansia di panti jompo, bahkan turun langsung ke daerah bencana untuk membantu penyelamatan.

Yang berubah bukan hanya perbuatannya — tetapi hati-nya. Dia belajar untuk tidak lagi menuntut dunia mencintainya — tapi memberi cinta lebih dulu, tanpa syarat.

Kedamaian itu pun perlahan tumbuh. Dia tak lagi cemas tentang hasil cintanya — karena dia yakin, apa yang ditakdirkan pasti datang pada waktunya.

Titik Balik Takdir: Saat Karma Lama Mulai Luruh

Ajaibnya, semenjak itulah hidupnya mulai berubah. Saat “pesaing” kembali muncul, gadis itu tidak lagi terpengaruh. Justru sebaliknya — rasa percaya gadis itu pada Ji Chen semakin kuat. Hubungan mereka pun semakin kokoh karena Ji Chen telah berubah, bukan di permukaan — melainkan dari dalam dirinya.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa kesalahan masa lalu memang tidak bisa dihapus. Namun ketika kita berani bertobat, berbuat baik, melepaskan ego, dan berjalan dengan kerendahan hati — takdir mulai melunak. Karma pun perlahan mencair. Dan pada waktunya, kita akan bertemu dengan cinta yang sudah disucikan oleh pertumbuhan jiwa.

Karena hanya dengan niat baik dan kelapangan hati, pintu takdir yang terkunci — akan kembali terbuka. (jhn/yn)

Prancis Siap Mengerahkan Pasukan ke Ukraina Sebagai Bagian dari Jaminan Keamanan

EtIndonesia. Prancis telah menyatakan kesiapannya untuk mengirim kontingen militer ke Ukraina sebagai bagian dari jaminan keamanan di masa mendatang jika diperlukan, kata Kepala Staf Angkatan Darat Prancis, Jenderal Pierre Schill, menurut BFMTV.

Menurut Schill, unit-unitnya siap untuk kemungkinan pengerahan pasukan untuk mendukung Ukraina pada tahun 2026 di bawah kerangka jaminan keamanan yang akan datang.

“Kami akan siap mengerahkan pasukan sebagai bagian dari jaminan keamanan, jika diperlukan, untuk mendukung Ukraina,” kata sang jenderal.

Dia juga menekankan bahwa tahun 2026 akan menjadi tahun koalisi dan menambahkan bahwa Prancis secara aktif mempersiapkan latihan militer multinasional Orion 26.

Latihan militer Orion 26 diharapkan dapat menguji koordinasi antara berbagai cabang angkatan bersenjata dan mitra sekutu.

Schill menyatakan bahwa Angkatan Darat Prancis siap untuk merespons secara bersamaan tiga potensi ancaman, termasuk kesiapan untuk kemungkinan pengerahan pasukan ke Ukraina dan memenuhi komitmen dalam NATO.

Dalam beberapa bulan terakhir, Paris semakin menyuarakan kekhawatirannya tentang ancaman yang ditimbulkan oleh Rusia. Sebelumnya, mantan Kepala Staf Angkatan Darat Prancis, Thierry Bukhard, memperingatkan bahwa Kremlin memandang Prancis sebagai salah satu target utamanya, sementara Kepala Staf yang baru, Fabien Mandon, telah menyerukan penguatan persenjataan negara tersebut.

Pasukan Asing di Ukraina

Seperti diketahui, salah satu poin dalam jaminan keamanan yang akan datang — yang akan berlaku setelah gencatan senjata — mencakup kemungkinan pengerahan pasukan asing ke Ukraina.

Topik ini mulai dibahas secara aktif awal tahun ini, dan selama pertemuan Coalition of the Willing (Koalisi Sukarela) pada 4 September di Paris, beberapa detail spesifik telah diklarifikasi.

Sejumlah negara telah menyatakan kesiapannya untuk menempatkan pasukan mereka di Ukraina. Di antara negara-negara yang mendukung gagasan tersebut adalah Inggris, Prancis, Swedia, Denmark, Norwegia, negara-negara Baltik, Belanda, dan Australia.

Beberapa negara masih ragu untuk mengirimkan pasukan mereka ke Ukraina, sementara yang lain telah menegaskan bahwa mereka tidak berencana untuk melakukannya.

Setelah pertemuan Coalition of the Willing pada 4 September, Presiden Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa jumlah pasukan pasti akan mencapai ribuan, merujuk pada potensi jumlah pasukan asing.

Pertemuan terakhir Coalition of the Willing berlangsung pada 24 Oktober di London, di mana rencana lima poin baru untuk Ukraina diuraikan. (yn)

Pelita di Tengah Angin

EtIndonesia. Di sebuah desa pegunungan yang jauh dari hiruk pikuk kota, hiduplah seorang pemuda bernama Lin Ze. Hari-harinya sederhana, namun di lubuk hatinya dia menyimpan kerinduan besar untuk berubah. Hampir setiap malam, dia menatap langit berbintang dan merenungkan arti hidup.

Dia hidup dalam dilema — ingin keluar dari kehidupan biasa, tetapi sekaligus takut pada ketidakpastian yang menunggu di depan.

Suatu hari, datanglah seorang pengembara tua bernama Bai Lao. Dia bukan hanya membawa keahlian luar biasa dalam pertukangan kayu, tetapi juga kebijaksanaan kehidupan.

Dia berkata kepada Lin Ze: “Nilai hidup seseorang berasal dari tanah tempat dia berpijak — dari bagaimana dia menyalakan harapan bagi orang lain.”

Di bawah bimbingan Bai Lao, Lin Ze mulai belajar membuat kerajinan kayu. Dalam proses itu, dia merasakan kekuatan dari fokus dan tindakan nyata. Hatinya perlahan menjadi lebih tenang

Dia berhenti berpikir untuk keluar dari desa — dan mulai bertanya: “Apa yang bisa kulakukan untuk desa ini?”

Tak lama kemudian, hujan deras menyebabkan banjir bandang yang menghancurkan satu-satunya jembatan penghubung desa ke dunia luar. Jembatan itu adalah nadi kehidupan — tanpa jembatan, seluruh desa terisolasi. Namun, perbedaan pendapat dan rasa saling curiga antarwarga membuat pembangunan kembali terhambat.

Lin Ze tidak mundur. Dengan ilmu yang diajarkan Bai Lao, dia merancang struktur jembatan yang sederhana namun kokoh. Dia turun langsung memimpin warga, menyatukan mereka dengan kesabaran dan keteladanan. Sebelum air bah kembali naik, jembatan baru berhasil berdiri. Desa pun kembali aman — dan harapan kembali menyala.

Melalui peristiwa itu, Lin Ze memahami satu hal penting:  kedewasaan sejati bukan tentang lari dari kesulitan — melainkan menemukan arti hidup di dalamnya.

Dia tak hanya menjadi lebih kuat secara batin, tetapi juga menjadi sosok harapan bagi desanya.

Sebelum pergi, Bai Lao berkata:  “Hidup yang kuat adalah hidup yang menjadi mercusuar bagi orang lain.”

Sejak itu, Lin Ze mulai memimpin perkembangan desa — memperbaiki pertanian, membangun fasilitas, dan menata masa depan bersama warga. 

Kisah hidupnya menjadi inspirasi bagi generasi muda: “Kebahagiaan bukan hanya datang dari mengejar mimpi untuk diri sendiri — tetapi dari menciptakan kebaikan bagi orang lain.” (jhn/yn)

Dafam Pacific Caesar Surabaya Gelar Workshop Batik, Ajak Warga Lestarikan Warisan Budaya

0

SURABAYA – Dalam rangka memperingati penetapan Batik sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009, Dafam Pacific Caesar Surabaya menyelenggarakan kegiatan “Ngebatik Bersama Dafam”. Acara yang berlangsung pada Sabtu, 25 Oktober 2025 ini bertujuan mengajak masyarakat untuk terlibat langsung dalam melestarikan warisan budaya nasional.

Workshop yang diadakan di Caesar Lounge, lobby hotel, menawarkan pengalaman edukatif dan rekreatif bagi peserta dari berbagai kalangan. Dengan biaya partisipasi sebesar Rp 50.000 per orang, para peserta tidak hanya belajar teknik membatik dasar, tetapi juga mendapat kesempatan untuk membuat dan membawa pulang karya mereka sendiri berupa batik tote bag.

General Manager Dafam Pacific Caesar Surabaya, Hogi Budiarto, menyatakan antusiasmenya terhadap acara ini. “Batik adalah identitas bangsa kita. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak masyarakat, khususnya generasi muda di Surabaya, untuk lebih mencintai dan bangga akan warisan budaya ini dengan terlibat langsung dalam proses pembuatannya,” ujarnya.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi dengan Artotel Wanderlust dan Komunitas ISIK (Ibu Sehat Indonesia Kuat). M Luqman Hakim, Wakil Direktur 1 ISIK, menekankan bahwa membatik bukan sekadar aktivitas seni, melainkan juga proses meditasi dan apresiasi. “Dalam kelas singkat ini, kami fokus pada teknik dasar yang mudah dipelajari, sehingga setiap peserta bisa merasakan kegembiraan menciptakan karya seni mereka sendiri,” tambah Luqman.

Dukungan juga datang dari Edy Santoso, Sales Marketing Manager, yang menyatakan kebanggaannya dapat terlibat dalam inisiatif yang memadukan pariwisata dan pelestarian budaya. Acara ini turut didukung oleh sejumlah mitra yang konsisten memajukan produk lokal, seperti Ina Cookies dan Super Skin.

Diharapkan, “Ngebatik Bersama Dafam” dapat menjadi agenda rutin yang tidak hanya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan batik, tetapi juga mempererat silaturahmi antar komunitas di Surabaya. Melalui langkah ini, Dafam Pacific Caesar Surabaya mempertegas komitmennya tidak hanya sebagai penyedia akomodasi, tetapi juga sebagai ruang promosi budaya Indonesia.

Kokoon Hotel Surabaya Jadi Ruang Belajar Nyata, Pikat Mahasiswa dengan Konsep ‘Living Museum’

SURABAYA – Kokoon Hotel Surabaya, boutique hotel yang sarat dengan nuansa heritage, menjadi destinasi studi lapangan bagi puluhan mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra, Sabtu (25/10/2025). Kunjungan industri ini difokuskan untuk mengulik strategi komunikasi pemasaran yang unik, yaitu dengan mengangkat nilai sejarah dan budaya melalui konsep living museum.

Sebagai hotel yang berdiri di kawasan Surabaya Utara yang kaya sejarah, Kokoon Hotel tidak hanya menawarkan kamar penginapan, tetapi juga menyuguhkan perjalanan waktu. Desain interior, arsitektur, dan koleksi benda-benda antik era 1990-an yang autentik di hotel ini dijadikan studi kasus nyata bagi para mahasiswa untuk memahami bagaimana elemen masa lalu dapat ditransformasi menjadi daya tarik komersial dan identitas brand yang kuat, di tengah gempuran hotel-hotel modern.

“Kami merasa bangga dapat menjadi salah satu destinasi pilihan program Kunjungan Industri dari mahasiswa dari universitas bergengsi seperti Universitas Ciputra,” ujar Wiweid A Widyastuti, perwakilan manajemen Kokoon Hotel Surabaya. “Hal ini menjadi bukti bahwa Kokoon tidak hanya hadir sebagai tempat menginap, tetapi juga sebagai ikon yang menarik untuk dikunjungi, ditelusuri, dan dipelajari sebagai bagian dari warisan budaya kota,” tambahnya.

Kunjungan ini tidak berhenti di teori. Para mahasiswa diajak melakukan tur heritage yang didampingi oleh Komunitas Pernak-Pernik Surabaya Lama (PSL), yang memberikan konteks sejarah yang mendalam. Rute jelajah dimulai dari Monumen Mobil Malaby, melewati Pasar Heritage Pabean, Klenteng Hok An Kiong, Rumah Perkumpulan Hwie Tiauw Kao, kemudian menginap dan belajar di Kokoon Hotel Surabaya, serta mengunjungi De Javasche Bank.

Kombinasi antara pembelajaran di kampus dengan observasi langsung di lapangan ini memberikan perspektif baru bagi peserta. Mereka dapat menganalisis secara langsung bagaimana sebuah merek dalam industri jasa dapat membangun narasi, membentuk persepsi, dan berkomunikasi dengan segmen pasar yang tertarik pada nilai budaya dan pengalaman autentik.

Dengan mayoritas tamu yang berasal dari mancanegara seperti Eropa, Tiongkok, dan Malaysia, Kokoon Hotel Surabaya membuktikan bahwa warisan lokal memiliki daya pikat global. Melalui kolaborasi strategis dengan akademisi dan komunitas sejarah, Kokoon berkomitmen untuk terus menjadi pelestari dan promotor aktif kekayaan sejarah Surabaya, sekaligus menjadi laboratorium hidup bagi calon-calon praktisi komunikasi dan pariwisata Indonesia.

Perampokan “Abad Ini” di Museum Louvre: Permata Bernilai Ratusan Juta Dolar Dicuri dalam 7 Menit

Museum Louvre di Paris menjadi lokasi dari sebuah perampokan besar yang menyaingi adegan film. Empat perampok bertopeng menembus jendela museum di siang hari bolong dan dalam waktu hanya beberapa menit berhasil mencuri harta tak ternilai dari era Kekaisaran Napoleon. Bagaimana mereka melakukannya? Dan apakah barang-barang berharga itu masih bisa ditemukan kembali?

EtIndonesia. Pada 19 Oktober 2025 pagi, hanya setengah jam setelah museum dibuka, Louvre mengalami apa yang disebut sebagai “perampokan abad ini.” Empat perampok bertopeng menggunakan sebuah kendaraan derek dengan lengan pengangkat untuk memanjat ke lantai dua, memecahkan jendela, lalu masuk ke ruang pameran. Mereka kemudian menghancurkan kaca lemari pajang dan mengambil perhiasan serta mahkota bernilai luar biasa — seluruh aksi itu hanya berlangsung selama lebih dari tujuh menit.

Menurut laporan, dua dari perampok mengenakan rompi kuning reflektif untuk menyamar sebagai pekerja konstruksi, sementara dua lainnya menunggu di luar dengan sepeda motor untuk membantu pelarian.

Target mereka sangat jelas — sembilan harta dari era Kekaisaran Napoleon. Dalam proses melarikan diri, para perampok sempat menjatuhkan mahkota milik Permaisuri Eugénie, istri Napoleon III. Mahkota itu bertatahkan 1.354 berlian dan 56 batu zamrud, dengan nilai mencapai puluhan juta euro. Akhirnya, para perampok berhasil membawa kabur delapan benda berharga lainnya.

Delapan benda yang dicuri mencakup:

  • Sebuah tiara bertatahkan batu safir,
  • Kalung dan sepasang anting dari set perhiasan zamrud milik Permaisuri Marie-Louise,
  • Dua bros dan satu tiara milik Permaisuri Eugénie.

Yang menarik, para perampok justru tidak mengambil “Regent Diamond” — berlian paling terkenal di ruang pameran Apollo — yang nilainya diperkirakan lebih dari 60 juta dolar AS.

Menurut para penyelidik, pencurian ini kemungkinan dilakukan atas perintah seorang kolektor perhiasan kaya. Jika dugaan ini benar, maka ada peluang bahwa permata-permata tersebut masih bisa ditemukan dalam kondisi utuh.

Saat ini, satuan penyelidik khusus Prancis sedang berupaya keras mengejar para pelaku. Polisi mengungkapkan bahwa di helm dan sarung tangan yang ditinggalkan para pencuri saat kabur ditemukan jejak DNA. Tim forensik sedang melakukan analisis untuk segera mengidentifikasi tersangka utama.

Diperkirakan, kurang dari 10% karya seni yang dicuri di seluruh dunia berhasil ditemukan kembali. Para ahli memperingatkan bahwa benda-benda berharga seperti ini sering kali dibongkar dan diubah bentuknya sebelum dijual di pasar gelap. 

Ada juga kemungkinan bahwa dalang di balik perampokan ini akan menggunakan metode “pencucian uang digital” untuk menjual barang curian, sehingga membuat upaya pelacakan polisi semakin sulit. (Hui/asr)

Laporan oleh reporter magang Tian Xin untuk New Tang Dynasty Television.

Finexpo 2025 Resmi Dibuka, OJK dan Pemprov Jatim Perkuat Komitmen Wujudkan Inklusi Keuangan Berkelanjutan

SURABAYA – Acara puncak Bulan Inklusi Keuangan (BIK) dan Financial Expo (Finexpo) 2025 resmi dibuka di Tunjungan Plaza, Surabaya, Kamis (15/5/2025). Acara yang mengusung semangat “Inklusi Keuangan untuk Semua, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju” ini menegaskan komitmen kuat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan seluruh pelaku industri jasa keuangan untuk terus memperluas akses dan literasi keuangan hingga ke pelosok negeri.

Acara yang dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi ini diisi dengan sambutan dari Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK, Friderika Widari Dewi; Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa; Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, dan Yunita Linda Sari adalah Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur.

Capaian Luar Biasa dan Prinsip No One Left Behind

Dalam sambutannya, Friderika Widari Dewi atau yang akrab disapa Ibu Kiki menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas dukungan semua pihak, terutama Pemprov Jatim, dalam menyukseskan gerakan nasional cerdas keuangan. Ia mengungkapkan, BIK 2025 telah melaksanakan 5.182 kegiatan dengan jumlah peserta mencapai 10,8 juta orang, meningkat 67,87% dari tahun sebelumnya.

“Sebagai informasi yang sangat menggembirakan, telah berhasil dibuka akses keuangan baru untuk masyarakat Indonesia,” ujarnya antusias. Capaian konkret tersebut meliputi:

  • 3,55 juta rekening bank baru (+0,27%).
  • 643.000 rekening investasi di pasar modal baru (melonjak 310%).
  • 951.000 polis asuransi baru (+30%).
  • 1,47 juta rekening perusahaan pembiayaan baru.
  • 5 juta rekening pergadaian baru (+45%).
  • 720.000 akun fintech baru.

Meski data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) menunjukkan literasi keuangan mencapai 66,46% dan inklusi 80,50% (inklusi luas 92%), Ibu Kiki menegaskan bahwa OJK tidak akan berpuas diri. Target jangka panjang nasional adalah 98% inklusi keuangan pada 2045, sebagaimana arahan Presiden agar seluruh masyarakat Indonesia memiliki rekening bank.

“Kita memiliki prinsip no one left behind. Tidak ada satu orang pun yang boleh ketinggalan,” tegasnya. Fokus utama adalah pada kelompok unbanked dan masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Ia juga menitipkan tiga pesan penting kepada seluruh Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK): edukasi harus tepat sasaran, pelaksanaan inklusi yang bertanggung jawab dan berkelanjutan, serta memperkuat sinergi dan kolaborasi, khususnya dengan pemerintah daerah.

Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih dan kebanggaan karena Jatim terpilih sebagai tuan rumah acara puncak ini. Ia menggarisbawahi bahwa kolaborasi yang terbangun antara OJK Jatim dan Pemprov Jatim tidak hanya kuat, tetapi juga merakyat.

Khofifah memaparkan potensi ekonomi Jawa Timur yang sangat besar. Dengan kontribusi 14,44% terhadap PDB nasional dan 25,36% terhadap PDB Pulau Jawa, Jatim merupakan kekuatan ekonomi terbesar kedua setelah DKI Jakarta. “Kedua terbesar setelah DKI karena memang holding-holding company, holding-holding BUMN rupanya adanya di Jakarta. Coba dibagi, Pak Mahendra,” ujarnya disambut tawa hadirin.

Dengan 38 kabupaten/kota (terbanyak di Indonesia) dan 8.504 desa/kelurahan, Khofifah menegaskan komitmen Jatim sebagai “Gerbang Baru Nusantara”. Dukungan logistik sangat kuat, di mana 21 dari 39 jalur tol laut nasional melalui Jatim, khususnya Tanjung Perak, yang menyuplai 80% logistik untuk Indonesia Timur.

Di bidang SDM, Khofifah mengungkapkan kemajuan signifikan dengan kedatangan Russell Group dari Inggris. Tiga perguruan tinggi grup tersebut sedang dalam proses untuk beroperasi di Jatim. “Kings College London siap mendirikan master degree di sini,” jelasnya. Program beasiswa LPDP telah diperoleh untuk 41 kursi master degree di bidang digital future dan digital economy, menunjukkan kesiapan Jatim menyambut era ekonomi digital.

Ia mengakui bahwa tantangan utama di Jatim saat ini adalah meningkatkan literasi keuangan, yang masih “jomplang” dibandingkan tingkat inklusi. Untuk itu, diseminasi edukasi yang komprehensif tentang layanan keuangan yang mudah, aman, dan terjangkau menjadi fokus utama, sejalan dengan prinsip no one left behind yang digaungkan OJK.

Potensi Sektor Jasa Keuangan untuk Melipatgandakan Perekonomian

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menyampaikan terima kasih kepada Pemprov Jatim atas kerjasamanya. Ia sepakat dengan visi Jatim sebagai gerbang baru Nusantara dan menegaskan bahwa sektor jasa keuangan memiliki peran kunci dalam mewujudkannya.

“Kalau seluruh aset dari perusahaan yang bergerak di sektor jasa keuangan ini digabungkan, maka nilainya… sekitar 145% dari PDB nasional,” papar Mahendra. Angka ini bahkan bisa mencapai 3-4 kali lipat PDB di negara lain. Oleh karena itu, bagi provinsi sebesar dan sedinamis Jatim, potensi sektor jasa keuangannya seharusnya jauh lebih besar dari PDRB-nya sendiri.

Mahendra mengapresiasi capaian program inklusi, seperti Rekening Kejar yang telah menjangkau 86% pelajar nasional. Tingkat literasi dan inklusi Indonesia, menurutnya, sudah setara dengan negara maju. Namun, tantangan ke depan adalah meningkatkan utilisasi atau pemanfaatan produk jasa keuangan tersebut.

“Kita sekarang bergerak kepada pemanfaatan utilisasinya yang lebih tinggi lagi,” ujarnya. Masyarakat yang sudah memiliki rekening didorong untuk tidak hanya menabung, tetapi juga memanfaatkan produk pembiayaan, investasi di pasar modal, asuransi, dan lain-lain. “Ini yang akan melipatgandakan suatu perekonomian berkali-kali lebih besar daripada PDRB-nya,” tegas Mahendra.

Acara puncak ditutup dengan prosesi simbolis pembukaan gerbang akses inklusi keuangan secara bersama-sama oleh para pejabat dengan memasukkan totem kunci, disertai doa bersama untuk kelancaran dan keberkahan seluruh rangkaian kegiatan. Finexpo 2025 akan berlangsung selama empat hari dan diharapkan dapat semakin mendongkrak angka inklusi dan literasi keuangan masyarakat.

 Menyaksikan Kengerian Pandemi Wuhan: Setiap Hari Sekitar 3.000 Orang Meninggal Dunia

Sebagai akibat rezim Partai Komunis Tiongkok (PKT) dengan keras menutupi kenyataan yang sebenarnya, hingga kini dunia luar masih sulit mengetahui angka kematian sebenarnya akibat wabah COVID-19 (virus PKT) yang merebak di Wuhan pada akhir tahun 2019. Baru-baru ini, seorang mantan perawat rumah sakit kelas tiga di Wuhan, bernama Zhang Yu, mengungkapkan kepada media ini pengalaman langsungnya menyaksikan situasi mengerikan selama pandemi tersebut.

EtIndonesia. Pada 30 Desember 2019, Komisi Kesehatan Kota Wuhan mengeluarkan pemberitahuan darurat yang melarang keras penyebaran informasi tentang penanganan pasien. Sehari kemudian, mereka kembali mengumumkan bahwa “belum ditemukan bukti penularan antarmanusia”, serta “tidak ada tenaga medis yang tertular.”

Namun, bukti penularan dari manusia ke manusia mulai bermunculan. Rumah sakit dipenuhi pasien, sementara otoritas kesehatan Wuhan terus bersikeras bahwa “wabah ini dapat dicegah dan dikendalikan.” Mereka bahkan menindak para dokter yang mencoba memperingatkan publik, termasuk Dr. Li Wenliang, yang kemudian dikenal dunia sebagai pelapor pertama COVID-19.

Baru pada 20 Januari 2020, publik untuk pertama kalinya diberi tahu bahwa COVID-19 adalah penyakit menular berbahaya. Namun saat itu, keadaan sudah tak terkendali.

“Unit gawat darurat dan poliklinik seperti neraka di dunia. Rasanya seperti malaikat maut berdiri di sana, memetik nyawa satu per satu. Kami benar-benar kewalahan. Tidak ada mobil di jalan, hanya ambulans yang lalu-lalang semalaman. Suara sirene tak berhenti. Jalanan kosong seperti kota mati,” ujar Zhang Yu mengenang dalam wawancara dengan NTD yang disiarkan 24 Oktober 2025. 

“Banyak orang bahkan tak sempat melihat keluarga mereka untuk terakhir kali. Yang paling menyedihkan, ada seorang anak kecil yang keluarganya—kakek, nenek, ayah, ibu—semua meninggal karena COVID. Hanya dia yang selamat. Saya melihatnya dan hati saya benar-benar hancur,” lanjutnya. 

Pada akhir Januari, Zhang Yu dipindahkan untuk membantu di bangsal pasien COVID-19, menyaksikan secara langsung masa tergelap Wuhan. Karena kekurangan alat pelindung diri (APD), kadang mereka harus menggunakan kantong plastik sebagai pelindung darurat, dan banyak tenaga medis tertular.

Ia juga mengungkapkan bahwa rumah sakit mendapat instruksi untuk tidak melakukan resusitasi jantung paru (CPR) pada pasien yang henti napas, agar tenaga medis tidak tertular.

“Semua orang tahu, kalau pasien berhenti bernapas dan tidak dilakukan CPR, artinya sama saja dengan menyerah. Mereka hanya diberi obat dan dibiarkan berjuang sendiri. Saya sangat marah. Kenapa negara tidak mengumumkan wabah ini lebih awal? Kenapa tidak memperingatkan masyarakat sejak dini?”

Sementara wabah semakin parah, pemerintah provinsi Hubei tetap mengadakan acara besar-besaran, termasuk pesta “10.000 keluarga” di Distrik Jianghan pada 18 Januari.

Pada 23 Januari 2020, situasi memburuk drastis. Kota berpenduduk 11 juta jiwa itu akhirnya menjalani lockdown total untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Pada 4 April, saat peringatan Qingming (Hari Arwah), pemerintah PKT mengklaim bahwa hanya sekitar 80.000 orang terinfeksi dan 3.300 lebih meninggal di seluruh negeri.

Namun, Zhang Yu menegaskan bahwa dari Desember 2019 hingga Maret 2020, angka kematian sebenarnya jauh melampaui angka resmi.

“Saat puncak pandemi, saya memperkirakan lebih dari 3.000 orang meninggal setiap hari di Wuhan. Hampir setiap rumah sakit kehilangan lebih dari 100 pasien per hari. Tapi banyak sertifikat kematian tidak mencantumkan ‘pneumonia’ atau ‘COVID’, melainkan diagnosis lain seperti hipertensi atau pneumonia komunitas. Saya ingat, dalam dua minggu saja, satu lantai rumah sakit sudah menghabiskan satu buku penuh sertifikat kematian.”

Pada 12 Februari 2021, saat warga Wuhan melakukan ritual sembahyang Imlek untuk mendiang keluarga, bunga krisan di seluruh kota habis terjual. Pemilik toko bunga yang sudah 30 tahun berjualan mengatakan belum pernah melihat permintaan sebesar itu. Media pemerintah menyebutnya tanda “kehidupan normal kembali,” tetapi warga lokal tahu bahwa itu karena terlalu banyak orang yang meninggal tahun sebelumnya.

Zhang Yu berkata: “Tahun 2021, saat orang pergi menyalakan dupa di makam keluarga, jalanan Wuhan macet total. Itu artinya banyak sekali orang yang meninggal. Semua orang tahu jumlah kematian jauh lebih besar dari yang diumumkan. Sangat ironis.”

Pada Desember 2022, ketika PKT tiba-tiba mencabut kebijakan “nol COVID”, gelombang infeksi baru kembali melanda. Di berbagai kota, rumah sakit dan krematorium penuh sesak, antrian panjang jenazah terjadi di mana-mana, bahkan muncul kasus satu tungku membakar beberapa jenazah sekaligus. Namun, angka resmi korban tetap sangat rendah. (Hui/asr)

AS Kobarkan Perang Melawan Kartel Narkoba dengan Lebih dari 4.000 Tentara di Amerika Latin

EtIndonesia. AS mengerahkan lebih dari 4.000 Marinir dan pelaut ke perairan di sekitar negara-negara Amerika Latin dan Karibia untuk memperkuat perang melawan kartel narkoba, menurut CNN.

Operasi ini akan melibatkan Grup USS Iwo Jima dan Unit Ekspedisi Marinir ke-22 di wilayah tanggung jawab Komando Selatan AS.

Sebagaimana ditegaskan dalam pernyataan yang dirilis oleh juru bicara Pentagon, Sean Parnell, keputusan tersebut diambil sesuai dengan arahan Presiden untuk membubarkan organisasi kriminal transnasional (TCO) dan memerangi terorisme narkotika untuk melindungi tanah air.

Menurut para pejabat, sebagai bagian dari misi tersebut, Komando Selatan AS akan menerima sebuah kapal selam serang bertenaga nuklir, sebuah pesawat pengintai P-8 Poseidon tambahan, beberapa kapal perusak, dan sebuah kapal penjelajah berpeluru kendali.

Sumber lain yang mengetahui masalah ini mengatakan bahwa aset tambahan tersebut bertujuan untuk menghilangkan ancaman terhadap keamanan nasional AS dari organisasi-organisasi narkotika-teroris yang ditunjuk secara khusus di kawasan tersebut.

Pada hari Jumat, Angkatan Laut AS mengumumkan pengerahan kapal induk USS Iwo Jima, Unit Ekspedisi Marinir ke-22, dan dua kapal lain dalam kelompok amfibi tersebut – USS Fort Lauderdale dan USS San Antonio – tetapi tidak mengungkapkan tujuan mereka.

Seorang pejabat menekankan bahwa peningkatan kehadiran militer terutama merupakan unjuk kekuatan dan sinyal, alih-alih persiapan untuk serangan terarah terhadap kartel. Pada saat yang sama, hal ini memberikan komando militer AS dan Presiden berbagai pilihan jika Donald Trump memerintahkan tindakan militer.

Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump secara diam-diam menandatangani sebuah arahan yang mengizinkan operasi militer langsung terhadap kartel narkoba Amerika Latin yang ditetapkan sebagai organisasi teroris asing.

AS juga menawarkan 50 juta dolar untuk informasi yang mengarah pada penangkapan pemimpin Venezuela Nicolás Maduro, yang dituduh melakukan perdagangan narkoba, korupsi, dan pelanggaran hak asasi manusia, termasuk menggunakan organisasi yang ditetapkan sebagai kelompok teroris untuk menyelundupkan narkoba ke AS. (yn)

Pengadilan Thailand Putuskan Dalang Utama Kamp Penipuan KK Myanmar She Zhijiang Akan Diekstradisi ke Tiongkok

Salah satu dalang utama di balik kawasan KK di Myanmar, She Zhijiang, yang diduga menjalankan bisnis judol ilegal, telah ditangkap di Thailand dan menghadapi proses ekstradisi ke Tiongkok. Ia sempat mengajukan banding untuk menolak ekstradisi tersebut, namun pada Rabu (22/10/2025), pengadilan menolak bandingnya. Sehari kemudian, sekitar 700 orang melarikan diri dari kawasan KK di Myanmar menuju Thailand, sebagian besar berasal dari Tiongkok dan India.

EtIndonesia. Pada Rabu,22 Oktober 2025 Mahkamah Konstitusi Thailand memutuskan bahwa kasus ekstradisi She Zhijiang tidak melanggar konstitusi, sehingga ekstradisinya ke Tiongkok diizinkan.

She Zhijiang ditangkap di Bangkok pada tahun 2022. Setahun kemudian, pada 2023, pengadilan Thailand memerintahkan agar ia diektradisi ke Tiongkok.

Pada September di tahun yang sama, She Zhijiang merekam video dari penjara Thailand, di mana ia secara terbuka mengaku sebagai agen Dinas Keamanan Negara (Guoanbu) PKT, dan menyatakan bahwa ia dijebak serta dianiaya oleh perintah rezim PKT. Dalam video itu, ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak akan pernah bunuh diri.

She Zhijiang, salah satu dalang kawasan KK di Myanmar:  “Mereka ingin memaksaku dikirim kembali ke Tiongkok untuk dibungkam. Aku bersumpah tidak akan bunuh diri. Jika terjadi sesuatu padaku, pasti itu dilakukan oleh Komisi Keamanan Nasional PKT, Kementerian Keamanan Negara, dan dinas intelijen Thailand. Aku ditangkap dan diculik secara ilegal di penjara Thailand.”

Salah satu dalang utama di balik kawasan KK di Myanmar, She Zhijiang, yang diduga menjalankan bisnis judol ilegal (tangkapan layar)

Pada Agustus tahun lalu, She Zhijiang menggunakan sistem kunjungan video penjara Thailand untuk melakukan wawancara eksklusif dengan Al Jazeera — wawancara pertamanya sejak ia ditahan.

She Zhijiang:  “Saya mengetahui banyak rahasia dari Kementerian Keamanan Negara PKT dan proyek Belt and Road Initiative (BRI). Beberapa hal bahkan terkait dengan ‘pemimpin tertinggi’. Jika Saya dikirim kembali ke Tiongkok, Saya pasti akan dibungkam.”

Ia mengaku menyesal telah bergabung dengan aparat keamanan PKT, karena ia menyadari bahwa tujuan utama PKT adalah menjajah negara lain, sementara ia sendiri hanya ingin berbisnis.

Sementara itu, pemerintah Thailand pada Kamis (23 Oktober) mengkonfirmasi bahwa setelah militer Myanmar menyerbu kawasan KK untuk memberantas jaringan kejahatan siber, lebih dari 600 warga asing melarikan diri ke Thailand.

Militer Thailand melaporkan bahwa mereka telah menahan 677 orang yang menyeberang secara ilegal ke Provinsi Tak, terdiri dari 618 pria dan 59 wanita. Mereka kebanyakan berasal dari India dan Tiongkok, dengan sebagian kecil dari Vietnam, Pakistan, Indonesia, dan negara lain. Saat ini, militer Myanmar telah menguasai kembali kawasan KK.

Namun, laporan terbaru menyebutkan bahwa kawasan penipuan di Myanmar sedang berkembang pesat, dan kini bahkan telah memasang banyak penerima sinyal Starlink. Pihak Amerika Serikat dilaporkan sedang menyelidiki hal ini. (Hui/asr)

Laporan oleh: Li Mei dan Jiang Diya

Sumber: New Tang Dynasty Television (NTD)

Kebaikan yang Menyucikan Karma, Membuka Jalan Jodoh


EtIndonesia.
 Chen — seorang umat yang taat dan penuh welas asih — telah lama mendambakan jodoh yang tulus dan sejiwa. 

Demi memperbaiki jalan takdirnya, dia melakukan berbagai bentuk kebajikan:

  • Rutin melepaskan makhluk hidup (fangsheng),
  • Mendanai percetakan kitab suci dan buku kebajikan,
  • Menyumbang untuk dapur umum amal,
  • Serta ikut dalam ritual pembebasan arwah (yáng gòng & pāi dù) demi mendoakan makhluk tak kasatmata agar memperoleh kedamaian.

Meski telah menabur begitu banyak kebajikan, dia tetap merasa ada tembok tak terlihat yang menghalangi jodohnya — seolah keberkahan belum juga turun meski usahanya begitu besar.

Pertemuan yang Mengubah Garis Takdir

Suatu hari, dia pergi berziarah ke sebuah vihara kuno di pegunungan, membawa niat tulus untuk memohon petunjuk. Setelah selesai berdoa, tiba-tiba dia berjumpa dengan seorang guru besar — seorang resi tua dengan tatapan yang dalam namun penuh belas kasih. Sang guru tidak berkata banyak, hanya memberi isyarat halus agar Chen mengikutinya.

Di halaman sunyi yang dipenuhi cahaya sore, sang guru perlahan membuka sebuah rahasia:

“Di kehidupan lampau, engkau adalah seorang pendeta Tao yang sakti. Engkau menolong banyak orang dengan ilmu spiritualmu, sebab itulah engkau di kehidupan ini begitu peka terhadap mantra dan dharma suci. Namun dalam kealimanmu itu, lahir kesombongan. Engkau menolong umat, tetapi menyimpan obsesi — dan meninggalkan luka yang belum ditebus. Itulah yang kini menghalangi jodohmu.”

Sang guru melanjutkan kata-kata yang mengguncang hati: “Bagi para Bodhisattva, yang menakutkan adalah ‘sebab’.  Bagi manusia biasa, yang menakutkan adalah ‘akibat’. Walau engkau menabur kebajikan begitu banyak, selama akar karma lama belum dicabut — keberkahan tidak akan bisa turun sepenuhnya.”

Jalan Penebusan Dimulai

Chen tersentuh mendengarnya. Untuk pertama kalinya, hatinya benar-benar menyadari kekeliruannya — bukan hanya di tingkat logika, tapi di kedalaman nurani. Sejak hari itu, dia tidak lagi “melakukan kebajikan untuk mendapatkan sesuatu” — melainkan melakukannya sebagai bentuk penyucian hati.

Dia tetap:

  • mendoakan arwah yang terlantar,
  • mendanai penyebaran kitab Dharma,
  • membantu sesama tanpa pamrih,
  • menjalankan latihan batin dengan makin rendah hati.

Semakin dalam dia berjalan, semakin terasa jiwanya menjadi ringan. Rasa cemas dan gelisah perlahan memudar.

Jodoh yang Hadir Tepat pada Waktunya

Suatu sore yang tenang, ketika dia kembali ke vihara itu — takdir pun bergerak.

Dia bertemu seorang perempuan yang lembut dan berhati jernih — tatapannya tenang, kehadirannya damai. Mereka berbincang bukan tentang fisik atau status — melainkan tentang makna, tentang batin, tentang panggilan hidup.

Dan sejak pertemuan itu, seperti dua cahaya yang saling mengenali — takdir mereka mulai berjalan berdampingan.

Penutup

Kisah Chen mengajarkan kita bahwa: Bukan berapa banyak amal yang kita lakukan yang menentukan keberkahan — tetapi kemurnian hati kita saat melakukannya.

Karma buruk tak akan sirna hanya karena kita menumpuk pahala. Dia hanya sirna ketika kita menyadari, menyesali, dan mengubah akar niat di dalam diri.

Ketika hati telah bersih, berkah tidak perlu dicari — dia akan datang sendiri. (jhn/yn)