Bagaimana Perdana Menteri Inggris Mengatakan “Tidak”

EtIndonesia. Ketika kita meminta tolong kepada seseorang dan ditolak, sering kali hal yang paling membuat kita merasa tidak nyaman bukanlah karena permintaan itu gagal dipenuhi — melainkan karena rasa malu akibat ditolak.

Sebaliknya, ketika orang lain meminta bantuan kepada kita, kita pun sering tidak tega menolak, bukan karena kita mampu atau tidak, tetapi karena tak ingin melukai harga diri mereka.

Banyak pemimpin besar dalam sejarah yang menguasai seni menolak dengan elegan — mereka bisa berkata “tidak” tanpa membuat orang lain kehilangan muka. Salah satu contoh terbaik datang dari Benjamin Disraeli, Perdana Menteri Inggris pada abad ke-19.

Seni Menolak Tanpa Menyakiti

Suatu hari, seorang perwira militer ambisius terus-menerus memohon kepada Disraeli agar dirinya dianugerahi gelar bangsawan (Baron).

Sang Perdana Menteri tahu bahwa perwira itu memang berbakat luar biasa, dan dia juga ingin menjaga hubungan baik dengannya.

Namun, sayangnya, sang perwira belum memenuhi syarat untuk menerima gelar kehormatan tersebut.

Disraeli menghadapi dilema: jika dia menolak mentah-mentah, perwira itu akan kecewa dan hubungan mereka bisa retak. Akhirnya, dia menemukan cara yang cerdas dan bermartabat untuk berkata “tidak”.

Suatu hari, Disraeli memanggil perwira itu secara pribadi ke kantornya dan berkata dengan lembut: “Sahabatku yang baik, maaf sekali aku tak bisa memberimu gelar bangsawan. Tapi aku bisa memberimu sesuatu yang lebih berharga dari itu.”

Sang perwira menatap heran.

Disraeli kemudian menurunkan suaranya dan berkata dengan senyum diplomatis: “Aku akan memberitahu semua orang bahwa aku sudah beberapa kali memintamu menerima gelar bangsawan, tetapi kamu menolaknya dengan rendah hati.”

Hasil yang Tak Terduga

Kabar itu pun segera tersebar. Semua orang memuji sang perwira sebagai orang yang sederhana, tidak gila kehormatan, dan tulus mengabdi. Dia dihormati melebihi banyak bangsawan sungguhan.

Sementara itu, sang perwira sendiri merasa sangat berterima kasih kepada Disraeli. Alih-alih kecewa karena ditolak, dia justru menjadi pengikut setia dan pendukung militer terkuat bagi sang Perdana Menteri.

Pesan Moral

Seni berkata “tidak” bukan hanya soal menolak permintaan, tetapi bagaimana menjaga martabat dan perasaan orang lain dalam prosesnya.

Disraeli menunjukkan bahwa kebijaksanaan sejati bukanlah memberi semua yang diminta, melainkan tahu kapan harus menolak dengan cara yang membuat orang tetap merasa dihargai. (jhn/yn)

Israel dan Hamas Memulai Tahap Pertama Perundingan Damai – Bahas Rincian Pembebasan Sandera

Pada Senin (6 Oktober 2025), delegasi perunding dari Israel dan Hamas tiba di Mesir untuk memulai tahap pertama perundingan tidak langsung dalam rencana perdamaian. Gencatan senjata di Gaza dan pembebasan sandera menjadi topik utama pembahasan. Presiden Donald Trump memperingatkan Hamas bahwa jika tetap berkuasa, mereka akan menghadapi kehancuran total.

ETIndonesia. Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pada  Senin (6/10/2025) bahwa delegasi Israel yang dipimpin oleh Ron Dermer telah berangkat ke Mesir untuk mengikuti perundingan. Seorang pejabat Mesir mengkonfirmasi bahwa delegasi Hamas juga telah tiba di lokasi pembicaraan.

Sehari sebelumnya, Presiden Trump mengatakan kepada wartawan saat kembali ke Gedung Putih bahwa ia optimis terhadap tercapainya kesepakatan damai Gaza.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa perundingan di Mesir perlu membahas rincian konkret pembebasan para sandera Hamas.

Rubio menyatakan: “Dalam proses pertukaran tahanan, tidak boleh terjadi ledakan atau baku tembak. Itu poin pertama. Poin kedua, kami berharap semua 48 sandera — baik yang masih hidup maupun yang tewas — dapat segera dibebaskan.”

Rubio juga menjelaskan kerangka dua tahap rencana perdamaian Gaza. Setelah para sandera dibebaskan, pasukan Israel akan mundur ke posisi ‘garis kuning’ seperti pada bulan Agustus.

Perdana Menteri Netanyahu mengatakan: “Kami telah menerima kesepakatan ini, seluruh dunia juga telah menyetujuinya. Ini adalah rencana Presiden Trump. Hamas mengklaim telah menerimanya. Sekarang bola ada di tangan Hamas.”

Netanyahu menjelaskan bahwa rencana perdamaian Trump terdiri dari dua tahap:

  • Tahap pertama, Hamas harus membebaskan semua sandera, sementara Israel melakukan penarikan taktis namun tetap mempertahankan pasukan di Gaza.
  • Tahap kedua, menargetkan demiliterisasi Gaza dan pelucutan senjata Hamas, yang akan dicapai melalui negosiasi lanjutan antara kedua pihak.

Berdasarkan rencana ini, Hamas harus membebaskan 48 sandera yang tersisa dalam waktu tiga hari, serta menyerahkan kekuasaan dan melucuti persenjataan mereka.

Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menyatakan bahwa tahap pertama rencana perdamaian Gaza yang diajukan oleh Presiden Trump seharusnya dapat terealisasi paling lambat awal pekan depan, sementara isu-isu lainnya masih perlu waktu untuk dibahas lebih lanjut.

“Kami menyambut baik keputusan Israel untuk menyetujui rencana ini. Sekarang giliran Hamas. Israel juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap tahap rencana berjalan dengan lancar,” ujarnya.

Sementara itu, militer Israel pada Senin merilis video operasi di Kota Gaza, yang menunjukkan pasukan Israel sedang berupaya menghilangkan ancaman dan menghancurkan infrastruktur teroris Hamas.

Pemerintah Trump minggu lalu mengajukan rencana perdamaian Gaza dengan 20 poin, yang bertujuan mengakhiri perang di Gaza, membebaskan seluruh sandera, dan merancang struktur pemerintahan baru di wilayah tersebut. Pada Jumat lalu, Hamas menerima sebagian besar isi rencana itu, namun menghindari poin-poin yang berkaitan dengan pelucutan senjata.

Dalam percakapan pesan teks dengan jurnalis CNN Jake Tapper, Presiden Trump menegaskan bahwa jika Hamas tetap berkuasa, mereka akan menghadapi kehancuran total. Ia juga menulis bahwa Netanyahu telah setuju untuk menghentikan pemboman dan mewujudkan perdamaian di Gaza. (Hui/asr)

Video : Hampir Seribu Wisatawan Terjebak di Gunung Everest – Saksi Mata: Badai Salju Jauh Melebihi Perkiraan, Sangat Mengerikan

Pada 4 Oktober 2025, hampir seribu wisatawan terjebak di kamp sisi timur Gunung Everest di Tibet akibat badai salju mendadak yang membuat mereka tak dapat turun gunung. Beberapa saksi mata menceritakan pengalaman mengerikan tersebut dan masih merasa trauma. Ada yang mengatakan bahwa bertahan semalam di tengah badai salju dan sambaran petir itu bisa dibilang seperti “lolos dari maut”. Seorang lainnya berkata, bahkan jaket anti-air tebal pun tak mampu menahan dingin — seluruh tubuh membeku, sangat menakutkan.

EtIndonesia. Pada 4–5 Oktober, sisi timur Everest dilanda badai salju besar, menyebabkan lebih dari seribu orang terjebak di sepanjang jalur pendakian. Pada 4 Oktober malam, banyak netizen mengirim pesan minta tolong:

“Badai salju merobohkan banyak tenda,”
“Tumpukan salju terlalu dalam, yak tidak bisa berjalan,”
“Beberapa orang mengalami hipotermia.”

Pada 6 Oktober, seorang wisatawan bermarga Dong mengatakan kepada Xiaoxiang Morning News bahwa rombongannya yang berjumlah belasan orang mulai mendaki pada 4 Oktober. Sekitar tengah hari hujan mulai turun, lalu berubah menjadi salju yang makin lama makin deras. 

Saat malam tiba, cuaca memburuk drastis — antara pukul 03.00 hingga 05.00 dini hari hujan turun sangat lebat. Mereka tidak bisa tidur di dalam tenda dan harus terus menyapu salju yang menumpuk di atasnya. “Angin konvektif sangat kuat, saljunya luar biasa deras, dan banyak kilat menyambar di sekitar,” ujarnya.

Dong menggambarkan bahwa ini adalah cuaca terburuk yang pernah ia alami selama bertahun-tahun melakukan pendakian. “Bisa bertahan hidup malam itu benar-benar seperti keluar dari maut,” katanya.

Banyak wisatawan terjebak di lembah Gama (嘎瑪溝) di Kecamatan Qudang, Kabupaten Dingri, di sisi timur Everest. Lembah ini memiliki ketinggian antara 2.100 hingga lebih dari 5.000 meter. Satu-satunya sarana transportasi adalah yak dan kuda. Biasanya, perjalanan menyusuri dan kembali dari Gama memakan waktu sekitar 10 hari. Jalur ini dikenal sebagai salah satu dari “10 rute trekking klasik terbaik di dunia”.

Menurut laporan National Business Daily, selama liburan “Pekan Emas 1 Oktober” tahun ini, lembah Gama dipenuhi banyak kelompok pendaki. Pada 4 Oktober, fotografer Dong Shuchang, yang sudah beberapa kali mendaki di kawasan Everest, mengatakan, “Kami saja bertemu tiga tim pendaki. Di lembah Gama kemungkinan ada beberapa ratus orang. Hampir semua area perkemahan penuh.”

Dong Shuchang menceritakan, saat mendaki sekitar 1.000 meter dan mencapai perkemahan pertama di jalur timur — Xiaowucuo — badai salju tiba-tiba datang. “Tidak menyangka akan sebesar itu. Jauh melebihi perkiraan, sangat menakutkan.”

Ia menjelaskan bahwa hujan es bercampur salju membasahi seluruh tubuh. “Meski memakai jas hujan, jaket gunung keras (hard shell), dan celana pendakian, tetap tidak bisa menahan dingin. Seluruh tubuh basah, dan jaket luar membeku menjadi lapisan es.” Ia menambahkan, “Yang paling saya khawatirkan adalah hipotermia, karena di alam terbuka itu bisa sangat berbahaya dan mengancam jiwa.”

Seorang petugas pengatur kendaraan di kawasan wisata Everest bernama Yixi mengatakan bahwa ketebalan salju di basecamp telah mencapai lebih dari 50 cm, dan di lembah Gama bahkan lebih tebal. Jalur trekking seluruhnya tertutup salju, sinyal ponsel terputus, komunikasi hanya mengandalkan radio, dan kendaraan hanya bisa mencapai dasar lembah.

Pada siang hari tanggal 5 Oktober, Dong Shuchang dan timnya berhasil mengikuti pemandu untuk turun sendiri hingga tiba di Kecamatan Qudang. “Di sana sinyal sangat buruk, bahkan listrik mati, hanya mengandalkan genset,” ujarnya.

Seorang pemandu gunung bernama Xiaoming mengatakan bahwa ia memimpin lima orang mulai dari Desa Youpa pada 29 September untuk mendaki jalur sisi timur Everest. Pada 2 Oktober pagi, ketika mencapai ketinggian 4.550 meter di daerah Tangxiang, salju mulai turun deras dan jalan menjadi licin. Ia segera memutuskan untuk membatalkan pendakian ke basecamp Everest dan kembali melalui jalur kecil.

“Kalau dipikir sekarang masih ngeri. Untung kami memutuskan turun lebih awal, pada 4 Oktober sudah keluar dari gunung. Kalau tetap lanjut naik, akibatnya tidak terbayangkan,” kata Xiaoming. Ia baru bisa mendapatkan mobil jemputan pada 5 Oktober pukul 20.00 dan tiba di hotel di Xigazê (日喀则) sekitar 6 Oktober pukul 02.00 dini hari. (Hui/asr)

Asal Kamu Mau…

EtIndonesia. Seorang ibu kulit hitam membawa putrinya ke kota Birmingham untuk membeli pakaian. Namun begitu mereka tiba di toko, seorang pegawai toko kulit putih menghadang si gadis kecil dan melarangnya masuk ke ruang ganti. 

Dengan nada sombong, pegawai itu berkata: “Ruang ganti ini hanya untuk orang kulit putih. Kalau kalian mau mencoba pakaian, pergilah ke ruang kecil di gudang — khusus untuk orang kulit hitam.”

Namun sang ibu tak gentar sedikit pun. Dia memandang pegawai itu dengan dingin dan berkata tegas: “Kalau hari ini anak saya tidak boleh mencoba baju di ruang ini, maka saya akan berpindah ke toko lain!”

Pegawai itu panik. Tak ingin kehilangan pelanggan, akhirnya dia membiarkan mereka masuk ke ruang ganti tersebut — sambil berdiri di pintu, mengawasi dengan gugup agar tak ada pelanggan lain yang melihat.

Adegan itu membekas dalam-dalam di hati sang anak.

Beberapa waktu kemudian, sang anak kembali mengalami perlakuan serupa. Di sebuah toko lain, dia baru saja menyentuh topi di rak pajangan, dan langsung dimarahi pegawai toko kulit putih.

Namun sang ibu lagi-lagi berdiri membela anaknya: “Tolong jangan berbicara seperti itu pada putri saya.”

Lalu dia menatap putrinya dan berkata dengan suara lembut namun penuh makna: “Condi, sekarang sentuhlah semua topi yang kamu suka di toko ini.”

Dengan senyum bahagia, sang gadis mengikuti perintah ibunya — menyentuh setiap topi yang menarik perhatiannya, satu per satu.

 Pegawai toko itu hanya bisa terdiam, tak berdaya.

Pelajaran dari Seorang Ibu

Menghadapi diskriminasi dan ketidakadilan, sang ibu tidak pernah menunjukkan rasa takuts sedikit pun. Sebaliknya, dia menanamkan keyakinan yang kuat kepada anaknya:

“Ingat, Nak, semua ini akan berubah suatu hari nanti. Ketidakadilan ini bukan salahmu. Warna kulitmu dan asal keluargamu adalah bagian dari dirimu — itu tidak bisa diubah, dan tidak ada yang salah dengan itu.  Tapi kalau kamu ingin mengubah nasibmu, kamu harus lebih baik dari orang lain, jauh lebih baik.  Hanya dengan begitu kamu akan punya kesempatan.”

Sejak saat itu, rasa tidak minder dan pantang menyerah menjadi kekuatan hidup bagi sang gadis kecil.

Ia percaya bahwa pendidikan adalah jalan menuju kebebasan — sumber ilmu yang akan membuatnya unggul, menjaga harga dirinya, dan menembus batas yang selama ini mengekangnya.

Gadis dari Birmingham yang Menjadi Perempuan Terkuat di Dunia

Bertahun-tahun kemudian, gadis kecil dari kawasan miskin dan terpisah secara rasial di Birmingham, Alabama itu berhasil menaklukkan dunia.
 

Dia dinobatkan oleh majalah Forbes sebagai “Perempuan Paling Berpengaruh di Dunia Tahun 2004”.

 Namanya adalah Condoleezza Rice, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat kala itu.

Dalam sebuah wawancara, Rice mengenang kata-kata ibunya yang tak pernah dia lupakan: “Condi, tujuan hidupmu bukanlah bisa makan hamburger di restoran bertuliskan ‘Hanya untuk Kulit Putih’.  Tujuan hidupmu adalah: asal kamu mau, dan berjuang sungguh-sungguh, kamu bisa mencapai hal besar apa pun di dunia ini.”

Pesan Abadi

Kenyataan hidup memang sering kejam dan tidak adil,  tapi itu tidak berarti kita kehilangan hak untuk memilih arah hidup kita sendiri.

Diskriminasi mungkin menorehkan luka,  namun di saat yang sama — dia juga melahirkan kekuatan untuk berjuang.

Kita memang tidak bisa memilih ras, darah, atau rupa. Tapi kita bisa memilih untuk berjuang.

Sebelum kamu mengizinkan, tak ada seorang pun di dunia ini yang bisa membuatmu merasa rendah diri.

Seperti kata ibunda Condoleezza Rice: “Asal kamu mau — dan bersedia berjuang — kamu bisa mencapai hal besar apa pun dalam hidup ini.” (jhn/yn)

Ketidakberuntungan dan Keadilan

EtIndonesia. Ada seorang pemuda yang hidupnya penuh dengan kemalangan. Saat berusia 10 tahun, ibunya meninggal karena sakit. Dia terpaksa belajar mencuci, memasak, dan mengurus dirinya sendiri, sebab ayahnya adalah sopir bus jarak jauh yang jarang berada di rumah.

Tujuh tahun kemudian, ayahnya pun meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Sejak itu, dia benar-benar tidak punya siapa pun untuk diandalkan. Dia harus belajar mencari nafkah dan bertahan hidup sendirian.

Di usia 20 tahun, sebuah kecelakaan kerja membuatnya kehilangan kaki kiri. Dia pun harus beradaptasi dengan kenyataan baru—belajar berjalan dengan tongkat, dan dengan keras kepala menolak untuk terlalu sering meminta bantuan orang lain.

Dengan tabungan yang berhasil dia kumpulkan, akhirnya dia membuka usaha ternak ikan. Namun, sebuah banjir besar tiba-tiba datang dan menghancurkan seluruh jerih payahnya, menyapu bersih harapannya tanpa sisa.

Tak tahan lagi, dia pun mendatangi Tuhan, dengan marah bertanya:  “Kenapa Engkau begitu tidak adil padaku?”

Tuhan balik bertanya: “Kenapa kamu bilang Aku tidak adil?”

Pemuda itu pun menceritakan seluruh kemalangannya.

Tuhan mendengarkan, lalu berkata dengan tenang: “Oh, begitu… memang kisahmu terdengar menyedihkan. Tapi kalau begitu, kenapa kamu masih hidup hingga sekarang?”

Pemuda itu tersulut emosi dan menjawab tegas:  “Aku tidak akan mati! Setelah mengalami begitu banyak kesulitan, tidak ada lagi yang bisa membuatku takut. Suatu hari nanti, aku pasti akan menciptakan kebahagiaan sendiri!”

Tuhan tersenyum. Dia membuka pintu neraka, lalu menunjuk ke arah satu roh: “Lihatlah, orang itu hidupnya jauh lebih beruntung darimu. Hampir sepanjang hidupnya berjalan lancar tanpa hambatan. Namun, pada akhirnya, sama sepertimu, dia juga kehilangan semua harta bendanya karena banjir. Bedanya, dia memilih bunuh diri. Sedangkan kamu… kamu tetap memilih untuk hidup.” (jhn/yn)

Tujuh Anak Anjing

EtIndonesia. Dahulu kala, pada suatu musim dingin yang sangat dingin di sebuah negeri, seekor anjing betina melahirkan tujuh ekor anak anjing. Sang pemilik berniat memilih satu ekor dari mereka untuk dijadikan anjing penjaga rumah di masa depan.

Seekor “anjing penjaga” yang baik harus memiliki sifat: setia dan patuh kepada tuannya, berani dan garang menghadapi musuh, serta tak gentar bahkan rela berkorban dalam menghadapi bahaya.

Namun, bagaimana cara menentukan mana yang paling layak? Pemilik pun menemukan sebuah cara yang kejam. Dia mengurung induk anjing bersama tujuh anaknya di dalam ruang bawah tanah, lalu memutus suplai makanan dan air.

Tiga hari kemudian, induk anjing itu sudah tidak lagi memiliki air susu untuk memberi makan ketujuh anaknya. Dalam kondisi lapar dan putus asa, dia akhirnya memilih anak yang paling lemah untuk dimakan, agar bisa tetap menghasilkan susu untuk yang lain.

Tetapi susu itu tidak bertahan lama. Hari-hari berikutnya, keputusan mengerikan itu berulang: satu demi satu anak yang lemah dikorbankan… hingga akhirnya hanya tersisa satu ekor saja.

Namun, ketika tinggal anak terakhir, induk anjing itu berubah. Dia lebih rela mati kelaparan daripada memakan anaknya yang terakhir.

Pada saat itulah, sang pemilik datang. Dia “menyelamatkan” induk anjing bersama satu-satunya anak yang tersisa. Anak anjing yang selamat ini tumbuh dengan penuh rasa syukur kepada tuannya yang dianggap sebagai penyelamat. Kelak, dia benar-benar menjadi anjing penjaga terbaik dan paling setia.

Pertanyaan untuk Para Pemimpin

Bayangkan suatu hari, dalam situasi luar biasa, perusahaanmu menghadapi ancaman hidup dan mati. Persaingan bisnis yang brutal mungkin memaksa bosmu—sadar atau tidak—melakukan pilihan yang mirip seperti induk anjing tadi.

Sebagai mitra strategis, apa yang akan kamu lakukan?(jhn/yn)

Tujuan

EtIndonesia. Di London, Inggris, hiduplah seorang pemuda penyandang disabilitas bernama Sierman (Transliterasi-red). Salah satu kakinya menderita atrofi otot kronis sehingga berjalan pun sulit. Namun berkat tekad dan keyakinannya yang kuat, dia berhasil mencatatkan prestasi luar biasa yang membuat dunia kagum:

·        Pada usia 19 tahun, dia berhasil mendaki puncak tertinggi dunia, Gunung Everest.

·        Pada usia 21 tahun, ia menaklukkan Pegunungan Alpen.

·        Pada usia 22 tahun, ia mencapai puncak Kilimanjaro.

·        Sebelum usianya mencapai 28 tahun, dia sudah berdiri di atas hampir semua gunung terkenal di dunia.

Namun, di musim gugur ketika ia berusia 28 tahun, kabar mengejutkan datang: Sierman ditemukan bunuh diri di rumahnya.

Mengapa seorang yang begitu sukses memilih jalan tragis ini?

Setelah ditelusuri, para jurnalis menemukan bahwa ketika Suleiman masih berusia 11 tahun, kedua orang tuanya tewas dalam sebuah longsoran salju di Gunung Kilimanjaro. Sebelum berangkat, orangtuanya meninggalkan sebuah wasiat untuk anak mereka: berharap Suleiman kelak bisa seperti mereka—mendaki gunung-gunung terkenal di dunia, satu demi satu.

Sejak kecil, Sierman menjadikan wasiat itu sebagai tujuan hidupnya. Dia berjuang habis-habisan demi mewujudkannya. Namun ketika akhirnya seluruh target itu tercapai, dia justru dilanda kekosongan dan keputusasaan yang mendalam.

Di lokasi kematiannya, orang-orang menemukan catatan terakhir yang memilukan: “Selama ini, sebagai seorang penyandang disabilitas, saya mampu mencatat banyak prestasi mendaki gunung berkat wasiat orang tua yang memberi saya pegangan hidup. Kini, setelah semua gunung itu saya daki, saya merasa tidak ada lagi yang bisa saya lakukan…”

Suleiman kehilangan tujuan hidup—dan bersamaan dengan itu, ia kehilangan seluruh makna hidupnya.

Makna hidup tidak hanya terletak pada mencapai tujuan, tetapi juga pada terus meningkatkan tujuan. Jika tujuan berakhir, hidup pun bisa terasa hampa. Karena itu, kita harus senantiasa memperbarui mimpi, menumbuhkan harapan baru, dan memberi makna lebih luas bagi perjalanan hidup kita.(jhn/yn)

Video: Helikopter Jatuh di Jalan Raya Sacramento, California, Beberapa Orang Terluka

EtIndonesia. Sebuah helikopter evakuasi medis jatuh di jalan raya di Sacramento Timur, Amerika Serikat, pada hari Senin (6/10).

Menurut Departemen Pemadam Kebakaran Sacramento, helikopter tersebut jatuh di sisi timur Jalan Raya 50 dekat Howe Avenue. Pihak berwenang sedang menyelidiki kecelakaan tersebut dan petugas pertolongan pertama telah tiba di lokasi.

Lalu lintas di area tersebut sepenuhnya ditutup sementara petugas darurat dikerahkan ke lokasi kejadian.

Gambar-gambar di media sosial menunjukkan sebuah helikopter merah yang dioperasikan oleh Reach Air Medical Services terbalik di tengah jalan raya. Beberapa orang dilaporkan terluka ketika heli tersebut menabrak sebuah kendaraan.

Menurut FlightRadar24, heli tersebut adalah helikopter Airbus H-130 yang dioperasikan sebagai Reach 5 dan lepas landas dari atap Pusat Medis UC Davis.

Tidak jelas apakah helikopter tersebut sedang dalam perjalanan ke atau dari rumah sakit pada saat kecelakaan.

Akibat insiden tersebut, Jalan Raya 50 arah timur di 59th Street telah ditutup sepenuhnya. Petugas pemadam kebakaran melaporkan bahwa setidaknya tiga orang mengalami luka kritis. Penyebab kecelakaan belum diketahui.

Anggota Dewan Kota Sacramento, Lisa Kaplan, membagikan beberapa foto dan video dari lokasi kecelakaan.

“Malam ini, saya terbang bersama Sheriff Sac dengan helikopter mereka. Setiap hari terasa berbeda. Kami adalah salah satu yang pertama kali melihat kecelakaan helikopter dari atas. Sungguh menyadarkan. Saya berdoa untuk semua yang terlibat dalam kecelakaan itu. Terima kasih,” tulis dalam postingannya. (yn)

Satu Jin (0.5 kg) Beras yang Sama

EtIndonesia. Seorang pemuda datang meminta petunjuk kepada seorang biksu. “Guru, ada orang yang memuji saya sebagai seorang jenius, katanya kelak saya pasti bisa meraih prestasi besar. Tapi ada juga orang yang mencaci saya sebagai orang bodoh, seumur hidup tak akan jadi apa-apa. Menurut Anda, bagaimana sebenarnya saya ini?”

Biksu itu balik bertanya: “Kalau menurutmu sendiri, bagaimana?”

Pemuda itu menggeleng lemah, wajahnya penuh kebingungan.

Biksu pun berkata: “Ambil contoh satu jin beras (sekitar setengah kilogram). Nilainya akan berbeda tergantung siapa yang memandangnya.

·        Di mata seorang juru masak, dia hanya cukup untuk dimasak menjadi dua atau tiga mangkuk nasi.

·        Bagi seorang petani, nilainya mungkin hanya sekitar satu yuan.

·        Bagi penjual bakcang, setelah dibungkus menjadi bakcang, bisa dijual seharga tiga yuan.

·        Bagi pembuat kue, dia bisa diolah menjadi biskuit yang dijual lima yuan.

·        Di pabrik penyedap rasa, beras itu bisa diolah menjadi MSG, nilainya delapan yuan.

·        Sementara di tangan pembuat arak, beras itu bisa difermentasi menjadi minuman beralkohol, lalu dijual hingga empat puluh yuan.

Padahal, berasnya tetaplah beras yang sama.”

Biksu itu berhenti sejenak, lalu melanjutkan: “Demikian juga dengan seorang manusia. Ada orang yang memujimu setinggi langit, ada yang merendahkanmu dengan hinanya. Tapi sejatinya, kamu tetaplah kamu. Seberapa besar pencapaianmu pada akhirnya, itu ditentukan oleh bagaimana kamu memandang dirimu sendiri.”

Pemuda itu pun seketika tercerahkan. (jhn/yn)

Detik-detik Menegangkan di Mesir: Gencatan Senjata Gaza Bisa Lahir atau Gagal Total

EtIndonesia. Upaya diplomatik besar kembali bergulir di kawasan Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump secara langsung memimpin perundingan gencatan senjata antara Israel dan Hamas di resor pantai Sharm el-Sheikh, Mesir. Pertemuan yang dihadiri oleh berbagai negara kunci kawasan itu menjadi salah satu langkah paling konkret menuju penghentian perang Gaza sejak konflik besar meletus pada 2023.

Fokus Perundingan: Hentikan Perang dan Tukar Tawanan

Trump membuka sesi utama dengan pernyataan tegas: “Jika Hamas menolak melepaskan kekuasaannya di Gaza, mereka akan menghadapi kehancuran total.”

Tujuan utama dari pertemuan ini adalah menghentikan pertempuran bersenjata dan menyepakati mekanisme pertukaran tawanan Israel–Palestina dalam waktu dua hingga tiga hari ke depan.

Trump menegaskan, AS kini berperan sebagai “penjamin solusi akhir” dengan dukungan dari Mesir, Yordania, dan Uni Emirat Arab.

Delegasi dan Rencana Aksi

Delegasi Amerika dipimpin langsung oleh Bishara Bahbah dan Jared Kushner, menantu Trump sekaligus arsitek utama dari perjanjian Abraham Accords pada 2020.
Rencana gencatan senjata yang diajukan AS memuat tiga poin penting:

  1. Pembebasan semua sandera secara serentak, di bawah pengawasan Palang Merah Internasional.
  2. Penarikan bertahap pasukan Israel dari Jalur Gaza sesuai kesepakatan pengawasan internasional.
  3. Pembentukan pasukan penjaga perdamaian multinasional, yang melibatkan UEA, Yordania, Arab Saudi, dan Turki sebagai pengawas keamanan pascaperang.

Proposal ini disebut sebagai “Rencana Sharm el-Sheikh 2025”, kelanjutan dari Doha Peace Initiative yang sebelumnya gagal disepakati pada awal September.

Dukungan dan Tanggapan Dunia Internasional

Masyarakat internasional menyambut positif pertemuan ini. Dr. Bashar Murad, Direktur organisasi bantuan medis Palestina, menyatakan bahwa keberhasilan gencatan senjata harus diukur bukan hanya dari penghentian perang, tetapi juga jaminan masuknya bantuan kemanusiaan tanpa hambatan ke Gaza.

Sementara itu, Ketua Palang Merah Internasional Mirjana Spoljaric menegaskan bahwa proses pembebasan sandera “harus dilakukan secara aman, bermartabat, dan bebas dari tekanan politik”. Ia menambahkan, banyak sandera yang masih berada dalam kondisi medis kritis dan membutuhkan perlindungan segera.

Sikap Israel: Tegas pada Keamanan Nasional

Di sisi lain, Pemerintah Israel tetap menunjukkan sikap keras. Pada hari yang sama, Kementerian Dalam Negeri Israel mengumumkan pengusiran 171 aktivis asing, termasuk aktivis lingkungan terkenal Greta Thunberg serta beberapa anggota armada kemanusiaan “Global Samudra”.

Israel menuduh kelompok tersebut “menyamar sebagai relawan kemanusiaan” namun sebenarnya melakukan provokasi politik dan kampanye anti-Israel di lapangan. Namun, otoritas Tel Aviv menegaskan bahwa selama proses penahanan, hak hukum dan perlakuan kemanusiaan terhadap para aktivis tetap dijamin sesuai standar internasional.

Harapan Baru di Tengah Ketegangan

Meski suasana perundingan sempat menegang pada sesi awal, diplomat Mesir menyebut pertemuan kali ini “lebih konstruktif dibandingkan sebelumnya”.

Menlu Mesir,  Badr Abdelatty menegaskan kembali posisi negaranya:“Prioritas utama Mesir adalah memastikan rakyat Palestina tetap berada di tanah mereka dan tidak terusir akibat perang.”

Jika kesepakatan ini berhasil, maka gencatan senjata permanen Gaza 2025 dapat menjadi tonggak baru dalam upaya menstabilkan Timur Tengah — sekaligus menjadi uji pertama bagi kebijakan luar negeri Trump di masa jabatan keduanya.

Kesimpulan:
Perundingan 6 Oktober 2025 di Sharm el-Sheikh menandai babak penting dalam upaya diplomasi global untuk mengakhiri perang Gaza. Dengan kombinasi tekanan militer, negosiasi politik, dan dukungan kemanusiaan internasional, dunia menatap peluang nyata menuju akhir konflik berkepanjangan yang telah menelan puluhan ribu korban jiwa sejak 2023.

Mengenali Seseorang dengan Benar

EtIndonesia. Suatu hari, Plato berkata kepada gurunya, Socrates: “Guru, orang bernama X itu tidak baik!”

Socrates bertanya dengan tenang: “Kenapa kamu berkata begitu?”

Plato menjawab:  “Dia selalu mencari-cari kesalahan dalam ajaranmu, dan dia juga tidak suka dengan hidung pesekmu.”

Socrates tersenyum, lalu berkata perlahan: “Sebaliknya, aku justru merasa dia orang yang cukup baik.”

Plato heran dan bertanya: “Bagaimana mungkin Guru bisa berpikir begitu?”

Socrates menjelaskan: “Dia sangat berbakti kepada ibunya, setiap hari merawatnya dengan penuh perhatian. Dia sangat menghormati gurunya, tidak pernah berlaku kurang ajar. Dia tulus kepada teman-temannya, bahkan berani menegur kesalahan mereka demi membantu memperbaiki. Dia penuh kasih kepada anak-anak, sering bermain bersama mereka. Dan dia juga punya belas kasih kepada orang miskin. Pernah aku melihat dengan mata kepala sendiri, dia memberikan koin terakhir yang dia miliki kepada seorang pengemis.”

Plato masih keberatan: “Tapi Guru, dia tidak menghormatimu!”

Socrates berdiri, lalu menepuk bahu Plato dengan penuh kasih sayang: “Anakku, di sinilah letak persoalannya. Jika kita menilai orang hanya dari bagaimana dia memperlakukan kita, sering kali kita akan salah menilai. Karena itu, aku menilai seseorang bukan dari sikapnya padaku, melainkan dari bagaimana dia memperlakukan orang lain.”

Pelajaran Hidup

Jangan menilai seseorang hanya dari cara ia memperlakukan diri kita. Pandanglah lebih luas, lihat bagaimana ia bersikap pada keluarganya, gurunya, sahabatnya, anak-anak, dan orang-orang lemah di sekitarnya. Di sanalah kita bisa benar-benar mengenal karakter seseorang. (jhn/yn)

PM Prancis Mengundurkan Diri Beberapa Jam Setelah Mengumumkan Kabinet Baru

EtIndonesia. Presiden Prancis, Emmanuel Macron pada hari Senin (6/10) menerima pengunduran diri Perdana Menteri Sebastien Lecornu hanya beberapa jam setelah mengumumkan kabinetnya, menurut pernyataan kepresidenan, yang semakin menjerumuskan negara Eropa tersebut ke dalam kebuntuan politik.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron menunjuk Lecornu, mantan menteri pertahanan, untuk jabatan tersebut bulan lalu.

Namun, kabinet yang sebagian besar tidak berubah yang dia umumkan pada Minggu malam untuk bekerja sama dengan Lecornu memicu kritik pedas di seluruh spektrum politik.

Lecornu menghadapi tugas berat untuk mendapatkan persetujuan di parlemen yang terpecah belah untuk anggaran penghematan tahun depan.

Dua pendahulu langsung Lecornu, Francois Bayrou dan Michel Barnier, digulingkan oleh majelis legislatif dalam kebuntuan mengenai rencana pengeluaran tersebut.

Utang publik Prancis telah mencapai rekor tertinggi, data resmi menunjukkan pekan lalu.

Rasio utang terhadap PDB Prancis kini menjadi yang tertinggi ketiga di Uni Eropa setelah Yunani dan Italia, dan hampir dua kali lipat dari 60 persen yang diizinkan berdasarkan aturan Uni Eropa.

Pemerintah sebelumnya telah meloloskan tiga anggaran tahunan terakhir melalui parlemen tanpa pemungutan suara, sebuah metode yang diizinkan oleh konstitusi tetapi dikritik habis-habisan oleh oposisi.

Namun, Lecornu berjanji pekan lalu untuk memastikan anggota parlemen dapat memberikan suara pada RUU tersebut.

Prancis telah terjebak dalam kebuntuan sejak Macron bertaruh pada pemilihan parlemen dadakan pada pertengahan tahun lalu dengan harapan dapat memperkuat otoritasnya.

Langkah tersebut menjadi bumerang, membuat blok yang pro-Macron di majelis menjadi minoritas.(yn)