‘Amuba Pemakan Otak’ di Negara Bagian di India Menewaskan 17 Orang Karena Infeksi Misterius Menyebar ke Luar Kolam dan Sungai

EtIndonesia. Departemen Kesehatan Kerala, India, telah merevisi data Meningoensefalitis Amuba. Direktorat Layanan Kesehatan (DHS) mengonfirmasi bahwa sejauh ini, 17 orang telah meninggal dunia, dan secara total, 66 orang telah terinfeksi amuba pemakan otak langka tahun ini.

Sebelumnya, departemen tersebut menyatakan bahwa hanya ada dua kematian yang terkonfirmasi, dengan 14 lainnya sedang ditinjau.

Pada 12 September, dua kasus baru dilaporkan, sehingga total kasus bulan ini menjadi 19 kasus dan tujuh kematian. Para pejabat mengatakan pengawasan, pengujian, dan pemantauan lingkungan telah ditingkatkan di seluruh distrik yang terdampak.

Penyakit ini, Meningoensefalitis Amuba Primer (PAM), disebabkan oleh ameba Naegleria fowleri, yang sering disebut sebagai “amuba pemakan otak”. Penyakit ini sangat jarang terjadi tetapi biasanya berakibat fatal. Meskipun angka kematian global mencapai 97 persen, angka di India saat ini 24 persen — jauh lebih rendah, meskipun tetap mengkhawatirkan.

Amuba diyakini menginfeksi manusia ketika air tawar yang terkontaminasi masuk ke hidung, biasanya saat berenang atau mandi di kolam, sungai, atau kolam renang yang kurang terklorinasi. Namun, pejabat kesehatan mengakui bahwa kasus-kasus terbaru menantang asumsi ini.

Seorang bayi berusia tiga bulan yang tidak terpapar air kolam dan pasien yang hanya mandi di rumah juga tertular infeksi ini, menimbulkan kekhawatiran akan jalur penularan yang belum diketahui.

Bagaimana cara melindungi diri dari amuba pemakan otak?

Para ahli telah mendesak tindakan pencegahan praktis seperti menghindari paparan air tawar, memakai penjepit hidung, dan memastikan klorinasi kolam dan sumur yang tepat. Namun, para pejabat mengakui langkah-langkah ini mungkin tidak sepenuhnya melindungi dari infeksi, terutama dengan adanya laporan pasien yang jatuh sakit setelah mandi di rumah tangga biasa.

Sementara itu, leptospirosis tetap menjadi penyakit menular paling mematikan di negara bagian india ini tahun ini, dengan 139 kematian, diikuti oleh hepatitis A (58), demam musiman (38), demam berdarah dengue (33), dan rabies (23).

Otoritas kesehatan telah meluncurkan kampanye kesadaran, survei demam, dan kampanye keamanan air. “Kewaspadaan berkelanjutan, peningkatan pengawasan, dan langkah-langkah KIE yang ketat sangat penting,” ujar seorang pejabat senior kepada ANI.(yn)

Dilema Yuan Tiongkok

Sebesar apa pun keinginan Beijing, yuan tak bisa sekaligus digunakan untuk mendukung perekonomian, melindungi perdagangan dari tarif Amerika, dan melayani ambisi global Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Milton Ezrati

Sekarang, kebijakan moneter dan mata uang Tiongkok menghadapi tumpang tindih tujuan yang saling bertentangan. Bahkan, masih jauh dari kenyataan ke arah mana Beijing akan bergerak.

Di satu sisi, Tiongkok perlu menurunkan suku bunga demi membantu menghidupkan kembali perekonomian yang lesu. Beijing sudah lebih dari sekali menyinggung kebutuhannya. Penurunan suku bunga cenderung menekan nilai tukar yuan. Hasil tersebut mungkin disambut baik karena yuan yang melemah juga akan menurunkan harga barang buatan Tiongkok bagi konsumen Amerika Serikat, sehingga mengurangi dampak nyata dari tarif pemerintahan Trump terhadap ekspor Tiongkok.

Namun, di sisi lain dari persamaan yuan adalah keinginan agar menjaganya tetap kuat demi ambisi PKT memperluas pengaruh ekonomi, keuangan, dan diplomasi di panggung global. Beijing tampaknya belum menentukan pilihan mana yang akan diambil.

Polanya dalam beberapa tahun terakhir—terutama sejak Donald Trump terpilih sebagai presiden—menunjukkan pengaruh dari kedua sisi dilema ini. Yuan jatuh hampir 10 persen terhadap dolar AS sepanjang 2023 dan 2024, akibat masalah ekonomi yang membuat para investor memindahkan aset mereka ke luar negeri, serta ekspektasi luas bahwa The People’s Bank of China (PBOC)  akan memangkas suku bunga untuk mendukung ekonomi sehingga mengurangi imbal hasil kepemilikan yuan.

Yuan sebetulnya bisa jatuh lebih dalam lagi, jika saja PBOC tidak menahan diri dalam pemangkasan suku bunga. Bank sentral memang memberi sinyal akan membantu perekonomian, namun pemangkasan suku bunga yang lambat dan kurang dari satu persen masih jauh dari cukup dibandingkan kebutuhan maupun retorika Beijing.

Para bankir tampaknya terombang-ambing antara kebutuhan nyata ekonomi akan suku bunga rendah dengan keinginan PKT mempertahankan kekuatan yuan, guna mendukung ambisi menjadikannya mata uang internasional—bahkan mungkin menggantikan dolar AS sebagai mata uang global utama. Dorongan inilah yang justru sempat memicu apresiasi yuan pada musim panas hingga awal musim gugur 2024.

Namun, setelah Trump kembali terpilih pada November 2024, ancaman tarif tinggi terhadap impor Tiongkok menjadi kenyataan, dan yuan pun kembali melemah. Pedagang valas global segera menjauhi yuan dengan ekspektasi tarif AS akan menekan ekspor Tiongkok.

Mereka juga mengingat respons pada masa tarif Trump 2018–2019. Saat itu, yuan jatuh begitu mendalam terhadap dolar sehingga menurunkan harga barang buatan Tiongkok di Amerika dan hampir sepenuhnya meniadakan dampak tarif. Akibatnya, volume ekspor Tiongkok nyaris tidak terganggu. Para pedagang tentu berharap pola itu terulang, terlebih kondisi ekonomi Tiongkok jauh lebih lemah pada 2025 dibanding 2018–2019. Mereka juga memperkirakan PBOC akan kembali menurunkan suku bunga demi ekonomi, yang akan semakin melemahkan yuan.

Ada perbedaan lain. Pada 2018–2019, Beijing belum gencar mempromosikan yuan sebagai mata uang internasional, seperti yang dilakukan sekarang. Baru-baru ini, meski yuan melemah, Beijing tetap mendorong kesepakatan internasional dengan denominasi yuan, baik dalam kerangka Inisiatif Belt and Road maupun proyek lain. Contoh paling baru adalah pinjaman sindikasi luar negeri senilai 14,2 miliar yuan (US$1,98 miliar) yang diatur Bank of China untuk perusahaan raksasa Australia, Fortescue, guna membeli teknologi energi bersih dan mesin lain dari Tiongkok.

Meski begitu, kesepakatan seperti ini belum menjadikan yuan mata uang internasional sejati. Itu baru bisa tercapai jika, seperti dolar AS saat ini, perdagangan dan pinjaman dilakukan dalam denominasi yuan meski tanpa melibatkan pihak Tiongkok.

Namun, kesepakatan ini tetap meningkatkan kebutuhan pemain internasional menyimpan cadangan yuan. Hal itu, meski di tengah tarif dan lemahnya ekonomi Tiongkok, telah meningkatkan permintaan terhadap yuan dan mendorong penguatannya terhadap dolar. Sejak musim semi lalu, yuan sudah merebut kembali sekitar sepertiga dari nilai yang hilang terhadap dolar AS sepanjang 2023–2024.

Ada pula faktor lain. Ekspektasi meningkat bahwa Federal Reserve AS (The Fed) akan segera menurunkan suku bunga, yang berarti imbal hasil kepemilikan dolar juga akan berkurang. Dengan PBOC masih lamban memangkas suku bunga, langkah The Fed itu akan sedikit mengurangi daya tarik dolar dibanding yuan.

Tentu saja, jika PBOC benar-benar memenuhi janji Beijing untuk melonggarkan kebijakan moneter demi mendongkrak ekonomi, pemangkasan suku bunga di AS takkan terlalu berpengaruh terhadap kurs. Namun, para pedagang jelas bertaruh PBOC akan terus menahan diri dari pemangkasan suku bunga besar-besaran, meski sebenarnya dibutuhkan.

Tumpang tindih motivasi inilah yang bisa menjelaskan pergerakan yuan terhadap dolar selama ini. Namun, itu tetap menyisakan dilema besar bagi PKT. Jika ingin menyelamatkan ekonomi Tiongkok sekaligus mengurangi dampak tarif Trump terhadap ekspor, maka Beijing harus menunda ambisi internasionalisasi yuan dan membiarkannya melemah terhadap dolar lewat pemangkasan suku bunga agresif.

Sebaliknya, jika PKT rela mengorbankan kesehatan ekonomi jangka pendek dan menanggung penuh beban tarif Trump, maka Beijing akan menahan pemangkasan suku bunga, mendorong lebih banyak transaksi dalam yuan, dan mengejar apresiasi mata uang.

Tidak ada jalan tengah, dan PKT tidak bisa mendapat keduanya sekaligus. Hingga kini, Beijing tampaknya masih belum membuat keputusan.

Pendapat dalam artikel ini sepenuhnya milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan The Epoch Times.

Milton Ezrati adalah editor kontributor di The National Interest, afiliasi dari Center for the Study of Human Capital di Universitas Buffalo (SUNY), serta kepala ekonom di Vested, sebuah firma komunikasi berbasis di New York. Sebelumnya, ia menjabat kepala strategi pasar dan ekonom di Lord, Abbett & Co. Ia juga kerap menulis untuk City Journal dan rutin mengisi blog di Forbes. Buku terbarunya berjudul Thirty Tomorrows: The Next Three Decades of Globalization, Demographics, and How We Will Live.

Menlu AS Marco Rubio Kunjungi Israel Pasca Serangan ke Qatar

EtIndonesia. Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengunjungi Israel pada 14 September, setelah operasi militer negara itu melawan kelompok teroris Hamas yang memicu serangan ke Qatar dan meningkatnya aksi militer di Jalur Gaza.

Rubio dan Presiden Donald Trump sebelumnya bertemu dengan Perdana Menteri Qatar pada 12 September untuk membahas dampak operasi Israel yang menargetkan pimpinan Hamas di ibu kota Doha. Sedikitnya enam orang tewas dalam serangan tersebut. Baik Hamas maupun pemerintah Qatar mengecam serangan itu, dengan menyatakan bahwa hal tersebut menunjukkan Israel tidak berniat mencapai kesepakatan. Trump pun menyatakan ketidaksetujuannya terhadap serangan tersebut.

Saat bertolak menuju Yerusalem, Rubio menegaskan akan membicarakan serangan di Qatar dan bagaimana hal itu memengaruhi diskusi seputar Gaza. Namun, ia tetap menegaskan sikap menentang Hamas dan menekankan bahwa hubungan Amerika Serikat–Israel masih kuat.

“Fokus saya adalah memastikan kembalinya para sandera, mencari cara agar bantuan kemanusiaan bisa menjangkau warga sipil, dan membahas ancaman yang ditimbulkan Hamas,” tulis Rubio di platform X pada 13 September sore. “Hamas tidak bisa terus ada jika perdamaian di kawasan menjadi tujuan.”

Pada 14 September, Rubio bersama istrinya mengunjungi Tembok Ratapan (Western Wall) bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan istrinya, serta Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee dan istrinya.

“Saya pikir kunjungan [Rubio] ini menjadi bukti ketahanan dan kekuatan aliansi Israel–Amerika,” ujar Netanyahu. “Aliansi itu sekuat dan setangguh batu-batu Tembok Ratapan yang baru saja kita sentuh.”

Kunjungan Rubio berlangsung di tengah meningkatnya operasi militer Israel di Jalur Gaza yang hingga 14 September menewaskan 13 orang dan melukai puluhan lainnya, menurut laporan rumah sakit setempat.

Kunjungan ini juga dilakukan di tengah meningkatnya tekanan internasional agar Palestina diakui sebagai negara resmi, sesuatu yang ditentang keras oleh Netanyahu.

Trump berpendapat bahwa pengakuan terhadap negara Palestina hanya akan memberi keuntungan bagi Hamas. Rubio juga baru-baru ini memperingatkan wartawan soal potensi dampak negatif, seperti terhambatnya upaya di Gaza dan kemungkinan Israel memilih mencaplok Tepi Barat.

Pada 5 September, Rubio menyampaikan bahwa pemerintahan Trump telah menegaskan kepada negara-negara yang berupaya secara sepihak mengakui negara Palestina, bahwa hal itu tidak akan terjadi karena justru akan mempersulit tercapainya gencatan senjata.

Laporan ini disusun oleh Ryan Morgan, Guy Birchall, dan The Associated Press.

Dua Gelas Air yang Tidak Sama

EtIndonesia. Suatu hari, sekolah kami mengundang seorang profesor terkenal untuk memberikan ceramah.

Di hadapan kami, profesor itu meletakkan dua gelas air: satu berwarna kuning, satu lagi bening tanpa warna. 

Dengan wajah penuh rahasia, dia berkata: “Nanti, kalian boleh memilih salah satu untuk diminum. Apa pun rasanya, jangan langsung berkomentar. Setelah percobaan selesai, saya akan menjelaskannya.”

Profesor kemudian menunjuk dua siswa pertama. Mereka sama-sama memilih gelas berwarna kuning. Siswa berikutnya juga memilih yang sama. Begitu seterusnya—dari lebih dari 200 siswa yang hadir, hanya sekitar sepertiga saja yang memilih gelas berwarna putih bening.

Setelah semua mencoba, profesor bertanya kepada mereka yang memilih gelas kuning: “Menurut kalian, ini air apa?”

Dua pertiga siswa menjulurkan lidah dan berkata: “Pahit sekali, ini air rebusan huanglian (sejenis tanaman obat pahit).”

Profesor pun tersenyum dan bertanya lagi: “Kalau begitu, mengapa kalian memilih meminumnya?”

Mereka menjawab serempak:  “Karena kelihatannya seperti jus buah.”

Lalu profesor bertanya kepada siswa yang memilih gelas air bening. 

Mereka dengan penuh semangat menjawab: “Rasanya manis, ini madu yang dicampur air.”

“Lalu, mengapa kalian memilih yang bening?” tanya profesor lagi.

Mereka tertawa sambil berkata:  “Karena air yang diberi warna memang kelihatan menarik, tapi belum tentu bisa menghilangkan dahaga. Yang tampak sederhana justru lebih menenangkan.”

Profesor kembali tersenyum dan menyimpulkan: “Mayoritas dari kalian memilih air pahit hanya karena warnanya tampak seperti jus. Hanya segelintir yang merasakan manisnya madu, sebab mereka tidak terpengaruh oleh tampilan luar. Hidup juga demikian. Kita selalu dihadapkan pada pilihan: dua gelas air yang berbeda. Begitu memilih salah satunya, berarti kita meninggalkan yang lain. Kebanyakan orang tergoda oleh yang tampak mencolok, penuh warna, tapi akhirnya pahit. Hanya sedikit orang yang memilih kesederhanaan—yang mungkin tidak menarik—namun justru membawa kebahagiaan manis.”

Pesan yang bisa direnungkan: Jangan mudah tertipu oleh penampilan luar. Dalam hidup, hal-hal yang sederhana sering kali lebih bernilai dan lebih menyehatkan dibanding yang tampak mencolok tapi menipu.

72 Tewas dalam Unjuk Rasa yang Berujung Kerusuhan di Nepal, Korban Dinyatakan ‘Martir’, Keluarga Akan Mendapatkan Bantuan

EtIndonesia. Sushila Karki resmi menjabat sebagai Perdana Menteri sementara Nepal pada hari Minggu, mendeklarasikan mereka yang tewas dalam protes Gen Z sebagai “martir” dan mengumumkan bantuan sebesar Rs 1 juta (sekitar Rp 186 juta) untuk setiap keluarga korban, menurut laporan media lokal.

Karki, mantan Ketua Mahkamah Agung, dilantik pada hari Jumat (12/9) oleh Presiden Ramchandra Paudel setelah meningkatnya tuntutan dari gerakan Gen Z.

Dia mengambil alih jabatan dua hari kemudian, memulai masa jabatannya dengan memberikan penghormatan di Monumen Martir di Lainchaur pada Minggu pagi sebelum melanjutkan perjalanan ke Singha Durbar. Dia memulai tugas resminya dari gedung Kementerian Dalam Negeri, karena Kantor Perdana Menteri telah dipindahkan ke sana setelah serangan pembakaran pada hari Selasa yang merusak kompleks utama.

Salah satu keputusan pertamanya adalah memberikan bantuan langsung kepada para korban demonstrasi kekerasan minggu lalu.

Sekretaris Utama Eknarayan Aryal mengonfirmasi bahwa mereka yang tewas selama protes akan diakui sebagai martir, dengan keluarga mereka menerima bantuan keuangan sebesar Rs 1 juta (sekitar Rp 186 juta) per orang.

Menurut The Kathmandu Post, pemerintah juga telah memastikan perawatan medis gratis bagi 134 pengunjuk rasa yang terluka dan 57 personel polisi yang terluka.

Kementerian telah diarahkan untuk menyiapkan laporan komprehensif yang merinci kerusakan yang terjadi selama protes, lapor The Himalayan Times.

Protes, yang meningkat menjadi kerusuhan yang meluas, sejauh ini telah merenggut 72 nyawa, termasuk 59 demonstran, 10 narapidana, dan tiga petugas polisi, menurut laporan media lokal.

Sementara itu, Presiden Paudel, dalam pidatonya kepada rakyat pada hari Sabtu, mendesak semua pihak untuk bekerja sama dalam menyelenggarakan pemilihan Dewan Perwakilan Rakyat yang dijadwalkan pada 5 Maret tahun depan dengan sukses.

Pernyataannya muncul di tengah meningkatnya kritik dari partai-partai politik besar menyusul pembubaran majelis rendah pada tengah malam hari Jumat, sebuah langkah yang secara luas dianggap memenuhi salah satu tuntutan utama gerakan Gen Z.

Para pengunjuk rasa bersikeras bahwa parlemen yang ada terjerumus dalam korupsi dan tidak mampu melakukan reformasi sejati.

Bertindak atas rekomendasi Karki, majelis rendah dibubarkan, menandai berakhirnya masa jabatannya yang prematur setelah dibentuk pada tahun 2022. Paudel menggambarkan pembubaran tersebut sebagai langkah yang sulit tetapi perlu untuk mempertahankan Konstitusi, sistem parlementer, dan republik demokrasi federal Nepal.

“Jalan keluar yang damai telah dicapai dalam situasi yang sangat sulit dan menakutkan,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa itu adalah kesempatan “yang dimungkinkan berkat intervensi yang bijaksana.”

Namun, keputusan tersebut menuai kritik tajam dari kalangan politik. Pada hari Sabtu, delapan partai politik yang terwakili di DPR yang kini telah dibubarkan mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam langkah tersebut sebagai inkonstitusional.

“Hal ini bertentangan dengan Pasal 76 (7) Konstitusi, preseden yang ditetapkan oleh Mahkamah Agung, dan tradisi konstitusional. Tindakan inkonstitusional semacam itu tidak dapat kami terima,” bunyi pernyataan tersebut. (yn)

Demonstrasi Anti-Imigran Besar-besaran di London, Polisi Dipukul dan Ditendang Demonstran

EtIndonesia. Demonstrasi di London yang diselenggarakan oleh aktivis sayap kanan Tommy Robinson menarik lebih dari 110.000 orang dan menjadi rusuh pada hari Sabtu (12/9) ketika sekelompok kecil pendukungnya bentrok dengan petugas polisi yang memisahkan mereka dari demonstran tandingan.

Beberapa petugas dipukul, ditendang, dan dipukul dengan botol yang dilempar oleh orang-orang di pinggiran demonstrasi “Unite the Kingdom”, kata Kepolisian Metropolitan. Bala bantuan dengan helm dan perisai anti huru hara dikerahkan untuk mendukung lebih dari 1.000 petugas yang bertugas.

Dua puluh enam petugas polisi terluka – empat di antaranya mengalami luka serius, termasuk gigi patah dan gegar otak, kemungkinan hidung patah, dan cedera tulang belakang. Setidaknya 25 orang ditangkap karena pelanggaran termasuk gangguan kekerasan, penyerangan, dan kerusakan kriminal, dan penyelidikan masih berlanjut, kata polisi.

“Tidak diragukan lagi banyak yang datang untuk menggunakan hak mereka yang sah untuk berunjuk rasa, tetapi banyak juga yang berniat melakukan kekerasan,” kata Asisten Komisaris Matt Twist. “Mereka berhadapan dengan petugas, melakukan kekerasan fisik dan verbal, dan berupaya keras untuk menerobos barikade yang ada demi menjaga keamanan semua orang.”

Unjuk rasa tersebut menarik sekitar 110.000 hingga 150.000 orang, jauh melampaui ekspektasi, kata polisi. Protes tandingan “March Against Fascism” yang diselenggarakan oleh Stand Up To Racism diikuti sekitar 5.000 peserta.

Robinson, yang nama aslinya adalah Stephen Yaxley-Lennon, mendirikan English Defense League yang nasionalis dan anti-Islam dan merupakan salah satu tokoh sayap kanan paling berpengaruh di Inggris.

Unjuk rasa tersebut disebut sebagai demonstrasi yang mendukung kebebasan berbicara – dengan sebagian besar retorika para influencer dan beberapa politisi sayap kanan dari seluruh Eropa sebagian besar ditujukan pada bahaya migrasi, sebuah masalah yang sedang sulit dikendalikan oleh sebagian besar benua ini.

“Kita berdua mengalami proses yang sama, yaitu penggantian besar-besaran orang-orang Eropa kita oleh orang-orang yang datang dari selatan dan berbudaya Muslim. Anda dan kami sedang dijajah oleh bekas koloni kita,” kata politisi sayap kanan Prancis, Eric Zemmour.

Elon Musk, CEO Tesla dan pemilik platform X, yang telah beberapa kali terjun ke dunia politik Inggris tahun ini, disiarkan melalui video dan mengecam pemerintah Inggris yang condong ke kiri.

“Ada sesuatu yang indah tentang menjadi orang Inggris, dan apa yang saya lihat terjadi di sini adalah kehancuran Inggris, awalnya erosi yang lambat, tetapi erosi Inggris yang meningkat pesat dengan migrasi besar-besaran yang tidak terkendali,” katanya.

Robinson mengatakan kepada kerumunan dengan suara serak bahwa para migran sekarang memiliki lebih banyak hak di pengadilan daripada “publik Inggris, orang-orang yang membangun bangsa ini.”

Demontasi ini terjadi di saat Inggris terpecah belah oleh perdebatan tentang migran yang menyeberangi Selat Inggris dengan perahu karet yang penuh sesak untuk tiba di pantai tanpa izin.

Banyak protes anti-migran digelar musim panas ini di luar hotel-hotel yang menampung pencari suaka menyusul penangkapan seorang pria Etiopia yang kemudian dihukum karena melakukan pelecehan seksual terhadap seorang gadis berusia 14 tahun di pinggiran Kota London. Beberapa protes tersebut berujung pada kekerasan dan berujung pada penangkapan.

Para peserta unjuk rasa “Unite the Kingdom” membawa bendera St. George merah-putih milik Inggris dan Union Jack, bendera negara bagian Britania Raya, dan meneriakkan “kami ingin negara kami kembali.”

Bendera-bendera Inggris telah berkibar di seluruh Britania Raya musim panas ini—di berbagai acara dan di tiang-tiang lampu desa—dalam apa yang oleh sebagian orang disebut sebagai unjuk rasa kebanggaan nasional, sementara yang lain menyebutnya mencerminkan kecenderungan nasionalisme.

Para pendukung membawa spanduk bertuliskan “hentikan kapal-kapal itu,” “pulangkan mereka,” dan “sudah cukup, selamatkan anak-anak kita.”

Dalam protes balasan, massa membawa spanduk bertuliskan “pengungsi diterima” dan “hancurkan sayap kanan ekstrem,” serta meneriakkan “berdiri, lawan.”

Para pendukung Robinson meneriakkan yel-yel kasar tentang Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, pemimpin Partai Buruh kiri-tengah, dan juga meneriakkan pesan dukungan untuk aktivis konservatif AS yang terbunuh, Charlie Kirk.

Beberapa pembicara memberikan penghormatan kepada Kirk, yang dikenang dengan mengheningkan cipta, diikuti oleh pemain bagpipe yang memainkan “Amazing Grace.”

Seorang demonstran memegang spanduk bertuliskan: “Kebebasan berbicara telah mati. RIP Charlie Kirk.”

Kerumunan pada satu titik membentang dari Big Ben melintasi Sungai Thames dan di tikungan di luar stasiun kereta Waterloo, jaraknya sekitar tiga perempat mil (sekitar satu kilometer).

Unjuk rasa sebagian besar berlangsung damai, tetapi menjelang sore hari, para pendukung “Unite the Kingdom” melemparkan barang-barang ke arah demonstrasi lawan dan mencoba menerobos penghalang yang didirikan untuk memisahkan kelompok-kelompok tersebut, kata polisi. Petugas terpaksa menggunakan kekerasan untuk mencegah pagar pembatas massa ditembus.

Para demonstran tandingan mencemooh seorang pria berlumuran darah yang sedang dikawal oleh polisi dari kelompok pendukung Robinson. Tidak langsung jelas apa yang terjadi padanya.

Meskipun massanya besar, jumlahnya jauh lebih sedikit daripada salah satu pawai terbesar baru-baru ini ketika demonstrasi pro-Palestina menarik sekitar 300.000 orang pada November 2023.

Robinson telah merencanakan demonstrasi “Unite the Kingdom” Oktober lalu, tetapi tidak dapat hadir setelah dipenjara karena penghinaan terhadap pengadilan karena melanggar perintah Pengadilan Tinggi tahun 2021 yang melarangnya mengulangi tuduhan pencemaran nama baik terhadap seorang pengungsi Suriah yang berhasil menggugatnya. Dia sebelumnya menjalani hukuman penjara karena penyerangan dan penipuan hipotek. (yn)

Dokumen Rahasia yang Bocor Mengungkapkan Mekanisme Sensor “Tembok Api Besar” Partai Komunis Tiongkok

EtIndonesia. Minggu ini terjadi kebocoran internal terbesar dalam sejarah proyek pengawasan informasi Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang dikenal sebagai “Tembok Api Besar” (Great Firewall/GFW). Bocoran tersebut mengungkap banyak rahasia, termasuk peran penting perusahaan Geedge Networks Ltd. dalam mekanisme sensor tersebut. 

Perusahaan ini bukan hanya membangun firewall tingkat provinsi untuk pemerintah daerah, tetapi juga mengekspor teknologi pengawasan dan sensor ke berbagai negara dalam kerangka inisiatif “Belt and Road”.

Menurut laporan The Globe and Mail (Kanada) pada Senin (8 September) dan Kamis (11 September), dokumen yang bocor berasal dari Geedge (Hainan) Information Technology Co., Ltd.. Dokumen itu menunjukkan bahwa perusahaan ini tidak hanya menjalankan tugas inti pembangunan “Tembok Api Besar” di Tiongkok, tetapi juga mengekspor teknologi sensor internet ke Myanmar, Pakistan, dan sejumlah negara lain.

Data yang bocor mencakup lebih dari 100 ribu dokumen internal milik Geedge, dengan total sekitar 600 GB informasi, termasuk 500 GB kode sumber.

Perusahaan Geedge didirikan pada 2018 oleh beberapa tokoh, termasuk Fang Binxing, akademisi Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok yang dikenal sebagai “Bapak Tembok Api Internet” PKT.

Dokumen yang bocor menunjukkan bahwa teknologi yang disediakan Geedge meliputi:

  • penyaringan situs web dan aplikasi,
  • pemantauan jaringan secara real-time,
  • pembatasan lalu lintas regional atau pemutusan jaringan,
  • identifikasi pengguna anonim melalui jejak digital,
  • serta pemblokiran VPN (Virtual Private Network) dan jalur akses internet lintas batas lainnya.

Dokumen itu juga mengungkap bahwa Geedge bekerja sama dengan pemerintah daerah di Xinjiang, Jiangsu, dan Fujian, membantu membangun firewall tingkat lokal di luar “Tembok Api Besar” nasional.

Selain itu, produk andalan Geedge bernama “Tengou Security Gateway” (TSG) telah dijual ke sedikitnya empat negara, yakni Kazakhstan, Ethiopia, Myanmar, dan Pakistan.

Sumber : NTDTV.com

Bakat yang Dipaksa Menjadi Jenius

EtIndonesia. Di sebuah bar kecil di Amerika, seorang pemuda sedang memainkan piano dengan penuh kesungguhan. Harus diakui, permainannya memang cukup bagus, hingga setiap malam banyak orang datang hanya untuk mendengarkan lantunannya.

Suatu malam, seorang pria paruh baya yang menjadi pelanggan tetap berkata setelah mendengar beberapa lagu:  “Anak muda, setiap hari aku datang ke sini mendengar permainanmu. Lagu-lagu yang kamu mainkan sudah begitu sering kudengar sampai rasanya membosankan. Bagaimana kalau sekali-sekali kamu bernyanyi untuk kami?”

Usulan itu langsung mendapat dukungan dari para penonton lain. Semua ikut meminta pemuda itu untuk menyanyi.

Namun, si pemuda justru tampak kikuk. Dengan wajah penuh rasa malu, dia berkata: “Maaf sekali, sejak kecil saya memang belajar memainkan alat musik, tapi tidak pernah belajar bernyanyi. Bertahun-tahun saya hanya duduk di sini memainkan piano. Kalau saya bernyanyi, mungkin akan sangat buruk.”

Pria paruh baya itu tersenyum dan berkata memberi semangat: “Justru karena kamu belum pernah bernyanyi, bisa jadi bahkan dirimu sendiri belum tahu kalau kamu sebenarnya punya bakat luar biasa sebagai penyanyi!”

Mendengar itu, manajer bar pun ikut mendorongnya, khawatir suasana jadi canggung. Meski merasa orang-orang hanya ingin melihatnya ditertawakan, pemuda itu tetap ditekan. 

Pemilik bar akhirnya berkata tegas: “Kamu pilih: menyanyi, atau cari pekerjaan lain.”

Tak ada pilihan lain. Dengan wajah memerah, dia pun memberanikan diri menyanyikan lagu “Mona Lisa.”

Siapa sangka, sekali bernyanyi dia langsung membuat semua orang terpukau. Suaranya mengalir alami, penuh kehangatan, dan sarat dengan daya tarik maskulin. Para pendengar terpesona.

Sejak saat itu, dengan dorongan banyak orang, pemuda itu meninggalkan dunia permainan musik semata dan menapaki jalan baru sebagai penyanyi. Tak disangka, dia kemudian benar-benar menjadi salah satu legenda besar musik jazz Amerika. Pemuda itu adalah Nat King Cole.

Kalau bukan karena keberanian memaksa diri bernyanyi saat itu, mungkin Nat King Cole akan selamanya hanya menjadi seorang pianis kelas tiga di sebuah bar kecil.

Pesan yang bisa direnungkan: Kadang, pekerjaan yang kita tekuni bukanlah bidang yang paling cocok dengan bakat sejati kita. Kita terbiasa dan merasa nyaman, sehingga takut untuk berubah. Namun, jika berani mencoba hal baru, bisa jadi kita menemukan potensi yang jauh lebih besar dalam diri kita.

Bank Indonesia Inisiasi Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Jawa untuk Mendukung Percepatan Pertumbuhan Ekonomi melalui Penquatan Produktivitas dan Pembiayaan Sektor Pertanian

Rapat Koordinasi Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah di Wilayah Jawa yang bertemakan “Mendorong Penguatan Skema Pembiayaan untuk Akselerasi Produktivitas Sektor Pertanian dalam rangka Mendukung Program Ketahanan Pangan” digelar pada Kamis, 11 September 2025 di Kota Surabaya. Kegiatan ini lahir atas insiatif Bank Indonesia yang berkolaboras: bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional, dan Otoritas Jasa Keuangan untuk meningkatkan produktivitas dan pembiayaan pertanian. Rakorwil dihadiri oleh Sekretaris Daerab/Asisten Daerah Perekonomian dan Pembangunan, Perum Perhutani, dan Dinas Pertanian seJawa, serta turut melibatkan perbankan dan pelaku usaha. Adapun pembahasan berfokus pada peluang dan tantangan di aspek ekstensifikasi, intensifikasi, serta pembiayaan sektor Pertanian, yang didukung oleh pendalaman lesson /earned dari seluruh Provinsi di Jawa.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Ibrahim dalam sambutannya menekankan penguatan produktivitas pertanian, khususnya pada tanaman padi, jagung, dan tebu dapat dilakukan dengan dukungan pembiayaan, dan perlindungan lahan. Kus Prisetiahadi selaku Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing Produk Tanaman Pangan, Kementerian Koordinator Bidang Pangan menambahkan bahwa jaminan ketersediaan pupuk bersubsidi yang diperhitungkan dengan tepat, serta irigasi yang memada akan menjamuin tercapainya target swasembada pangan. Terkait dengan pembiayaan sektor Pertanian, Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Muhammad Saifulloh menyampaikan bahwa capaian penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di wilayah Jawa dari awal Januari 2025s d. 31 Agustus 2025 adalah sebesar Rp 88,54 triliun, atau berkontribusi sebesar 49,18% terhadap capaian nasional. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah Jawa menjadi motor utama dalam penyaluran KUR nasional, khususnya pada sektor produksi yang berkontribusi terhadap penguatan ketahanan pangan. Lebih lanjut, Dewi Sagita Pranata selaku Kepala Bagian Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menuturkan bahwa dalam rangka mendorong peningkatan penyaluran pembiayaan, OJK telah menerbitkan Peraturan OJK (POJK) No. 19 Tahun 2025 tentang Kemudahan Akses Pembiayaan UMKM yang berlaku bagi bank dan lembaga keuangan nor-bank (LKNB).

Pertemuan ini menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis untuk mengakselerasi kinerja sektor pertanian, beberapa di antaranya adalah: (1) mempertahankan luas lahan pertanian melalui Perda Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) dan implementasinya; (2) optimalisasi lahan tidur, termasuk pemanfaatan lahan milk Perhutani; (3) regenerasi petani melalui program Petani Milenial yang didukung dengan sarpras dan teknologi digital; (4) penguatan kelembagaan petani dan Iiterasi

keuangan; serta (5) support dari Perbankan untuk penyaluran pembiayaan, termasuk persyaratan suku bunga yang lunak. Pada kesempatan yang sama, turut diadakan penyerahan komitmen sinergi penyaluran pembiayaan perbankan kepada sejumlah pelaku usaha di sektor Pertanian, kerja sama agroforestri antara PT Sinergi Gula Nusantara dengan Perum Perhutani, serta penguatan produktivitas pertanian dari Bank Indonesia kepada sejumlah Kelompok Tani di Jawa. Upaya penguatan produktivitas dan pembiayaan sektor Pertanian ini diharapbkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang akseleratif, inklusif, dan berkelanjutan, yang perlu turut didukung oleh sinergi yang lebih erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bank Indonesia, serta mitra strategis lainnya.

Aksi Protes Sejuta orang di London Berujung Bentrok, Polisi Mulai Melakukan Penangkapan 

EtIndonesia. 13 September 2025, massa besar berkumpul di London, Inggris, menggelar aksi demonstrasi besar-besaran yang disebut mencapai lebih dari satu juta orang. Video yang beredar di internet menunjukkan bahwa di beberapa lokasi terjadi bentrokan antara polisi dan demonstran, dan polisi mulai melakukan penangkapan dengan kekerasan.

Aksi ini bernama “Unite the Kingdom” (Satukan Kerajaan), digelar hanya tiga hari setelah aktivis konservatif Amerika, Charlie Kirk, tewas ditembak. 

Polisi setempat menyatakan jumlah peserta sekitar 110 ribu orang, namun video liputan media memperlihatkan massa yang memenuhi banyak blok jalan, jumlahnya jelas jauh melebihi klaim resmi.

Pihak penyelenggara “Unite the Kingdom” menyebut jumlah peserta mencapai satu juta, bahkan ada yang mengatakan hingga tiga juta. Para demonstran membawa bendera Inggris dan menyebut diri mereka patriot. Tuntutan mereka antara lain: membela kebebasan berpendapat, menolak imigrasi, serta menentang kebijakan pemerintah Inggris yang dianggap merugikan rakyat.

Di lokasi lain, berlangsung aksi tandingan bernama “Stand Up to Racism” (Berdiri Melawan Rasisme) yang diikuti beberapa ribu orang.

Video menunjukkan bahwa di sejumlah ruas jalan, polisi membentuk barikade manusia untuk menghalangi laju aksi “Unite the Kingdom”, sehingga terjadi dorong-mendorong antara kedua pihak.

Rekaman lain menunjukkan polisi mulai menangkap sejumlah demonstran di jalan, lalu menggiring mereka ke dalam mobil patroli.

Polisi menyatakan beberapa petugas diserang oleh demonstran, sementara pihak demonstran mengecam tindakan represif dan kekerasan dari polisi.

Sumber : NTDTV.com

Takut Mengatakan Hal yang Sebenarnya, Terjebak dalam “Kebohongan demi Kebaikan”! Bagaimana Mengatasi Rasa Tekanan Ini?

EtIndonesia. Saat kecil, kalau PR tidak dikerjakan, keesokan harinya kita sering mencari alasan:  “Kemarin aku lupa bawa pulang buku, jadi nggak bisa ngerjain PR.”

Apakah kalimat seperti itu terdengar familiar?

Berbohong sering kali lahir dari rasa takut dan keinginan untuk menghindari kenyataan. Waktu kecil, kita tidak mampu menghadapi konsekuensi, takut dimarahi guru, takut orangtua tahu. Maka, spontan kita memilih cara aman: menyembunyikan, mengalihkan, atau memberi alasan.

Kadang kita bahkan tidak merasa itu bohong, hanya sekadar mencari “jalan keluar yang lebih ringan.” Tapi pola ini bisa terbawa hingga dewasa.

1. “Kebohongan demi Kebaikan”: Antara Ketulusan dan Tekanan

Saat dewasa, kebohongan yang lebih sering kita lakukan dikenal sebagai “white lies” atau kebohongan demi kebaikan.

Mengapa kita melakukannya?

Biasanya karena kita takut kalau mengatakan yang sebenarnya, orang lain akan terluka, kecewa, atau marah. Kita tidak tahu bagaimana mereka akan bereaksi, jadi kita memilih kata-kata yang lebih aman, terdengar baik, dan tidak menimbulkan konflik.

Sekilas, semua tampak lebih lancar. Kita pun tak perlu menghadapi emosi orang lain. Tapi lama-kelamaan, kita jadi makin jauh dari perasaan asli kita sendiri.

Banyak orang yang terbiasa berbohong kecil akhirnya merasa hidupnya berat. Ada beban tak kasat mata, rasa tidak bahagia tanpa sebab jelas. 

Seperti pepatah: “Satu kebohongan butuh sepuluh kebohongan lain untuk menutupinya.”

Setiap kebohongan menambah tekanan emosional. Energi mental terkuras, beban psikologis semakin menumpuk. Sedikit demi sedikit, perasaan ini membentuk rasa lelah dan berat dalam hidup sehari-hari.

Selain faktor kepribadian, lingkungan juga berperan. Ada yang mudah berbohong di rumah karena takut konflik dengan keluarga. Ada pula yang lebih sering melakukannya di kantor, karena khawatir posisi atau citra dirinya terganggu.

Jika kita tidak belajar cara menghadapi situasi sulit dengan berani, kita akan terus terjebak dalam kebiasaan ini—berbohong demi menghindar, tapi justru semakin menambah tekanan batin.

2. Bagaimana Melepaskan Diri dari “Kebohongan demi Kebaikan”?

Kalau kamu sadar dirimu sering refleks berbohong atau mempermanis kenyataan, coba tanyakan:

·        “Kalau aku jujur, apakah orang lain akan berhenti menyukaiku?”

·        “Kalau aku jujur, apakah situasinya akan merugikan diriku?”

·        “Kalau aku jujur, apakah orang lain akan memandangku lebih buruk?”

Biasanya, kita hanya terjebak dalam bayangan pikiran kita sendiri. Padahal, belum tentu kenyataannya seburuk itu.

Hanya dengan memilih berkata jujur, beban hati bisa berkurang drastis.

Latihan kecil bisa dimulai dari situasi ringan. Misalnya, saat menghadapi hal sederhana, biasakan berkata jujur dan amati reaksi orang lain. Dengan begitu, kamu benar-benar mengobservasi kenyataan, bukan hanya membayangkan skenario buruk di kepalamu.

Kalau ternyata orang lain marah, apa yang bisa kamu lakukan untuk meredamnya? Kalau situasi kacau, apa langkah darurat yang bisa kamu ambil? Pertanyaan-pertanyaan ini membuatmu lebih siap, sehingga tidak perlu lagi sembunyi di balik kebohongan.

Pada dasarnya, kebiasaan berbohong lahir dari kurangnya keberanian. Kita memilih jalan ringan ketimbang menghadapi kenyataan. Lama-lama, cara ini jadi semacam candu—karena memberi rasa lega sesaat.

Tapi, untuk jangka panjang, yang kita butuhkan justru sebaliknya: keberanian untuk menghadapi kebenaran.

3. Contoh Nyata: Kebohongan Kecil untuk Menjaga Hubungan di Tempat Kerja

Di kantor, kita sering berhadapan dengan hal-hal kecil. Misalnya, saat jam makan siang, ada rekan kerja yang berkata: 

“Eh, nanti kalau kamu keluar sekalian tolong belikan aku makan ya.”
Atau “Aku pesan makanan online, nanti bisa tolong ambilkan kalau sudah datang?”

Awalnya, mungkin kita akan mengiyakan dengan mudah: “Oke, nggak masalah, sekalian aja.”

Tapi lama-lama, ketika hal itu terjadi hampir setiap hari, kita mulai merasa tertekan. Dalam hati mungkin bergumam:  “Kenapa harus aku terus? Kenapa dia nggak ambil sendiri?”

Namun, meskipun ada rasa jengkel, sering kali kita tetap tidak berani berkata jujur. Kita memilih diam dan terus mengiyakan. Inilah bentuk kebohongan kecil—bukan hanya pada orang lain, tapi juga pada diri sendiri.

Kalau ingin mengungkapkan perasaan dengan lebih jujur tanpa merusak hubungan, kita bisa melakukannya dengan cara menyampaikan langsung tapi tetap halus. Misalnya:

·        “Aku senang kok bantu kamu, tapi kalau tiap hari harus keluar ambil pesanan, agak bikin aku capek juga. Gimana kalau kita gantian ya?”

·        Atau dengan nada bercanda: “Oke deh, tapi kapan aku bisa juga merasakan enaknya ‘sekalian’ ini dari kamu?”

Dengan begitu, lawan bicara tahu perasaan kita tanpa harus tersinggung. Hubungan kerja tetap cair, tapi kita juga tidak menumpuk emosi negatif.

4. Contoh Nyata: Kebohongan Halus dalam Hubungan Suami-Istri

Mari lihat contoh dalam rumah tangga. Seorang istri yang juga bekerja selalu bergegas pulang untuk menyiapkan makan malam. Hampir semua pekerjaan rumah dia tangani sendiri. Namun, sering kali sang suami tiba-tiba mengabari bahwa dia akan pulang lebih larut.

Mendengar itu, hati sang istri sebenarnya kesal.

“Kenapa semua urusan rumah harus aku yang kerjakan? Aku capek-capek menyiapkan makan malam, tapi rasanya tidak dihargai.”

Namun begitu suami pulang, dia tetap tersenyum dan berkata: “Kamu sudah pulang, ayo makan.”

Padahal, di dalam hati, sudah ada riak-riak emosi yang tidak terucapkan. 

Dia mencoba menenangkan diri dengan alasan: “Ah, nggak apa-apa. Masak juga hal sepele. Lagipula, kalau suami yang masak, aku juga nggak suka.”

Tapi semakin lama, emosi yang ditahan itu menumpuk. Hingga suatu hari, ketika suami kembali berkata akan pulang telat, saat pintu dibuka—ledakan emosi pun tak terbendung.

Suami bingung:  “Aku salah apa? Aku kan sudah bilang bakal pulang telat, bahkan bilang aku dengan siapa. Kok kamu marah besar begini?”

Masalahnya jelas: sang istri tidak pernah benar-benar mengungkapkan perasaannya. Akhirnya, suami pun tidak tahu letak masalahnya, apalagi cara memperbaikinya.

5. Bagi yang Sulit Mengungkapkan Perasaan, Bagaimana Belajar Bicara Jujur?

Sering kali, justru dengan orang yang paling dekat kita kesulitan untuk jujur. Ada rasa takut, jangan-jangan kalau aku katakan apa adanya, hubungan jadi retak.

Ambil contoh sepasang kekasih. Keduanya sebenarnya setara, tapi salah satunya merasa rendah diri. Pasangannya pandai bicara, terbuka mengekspresikan perasaan, sementara dia sendiri sulit mengungkapkan apa yang dirasakan.

Suatu hari, saat mereka ngopi bersama, si pasangan berkata:“Wah, kopi ini enak banget! Wangi, rasanya pas.”

 Karena tidak ingin berbeda pendapat, dia pun hanya menimpali:  “Iya, lumayan enak juga.”

Padahal, dalam hati sebenarnya merasa: kopi itu biasa saja, bahkan agak pahit. Tapi dia takut kalau jujur, pasangannya akan tersinggung, merasa dilawan, atau marah.

Bagaimana cara melatih diri?

Caranya adalah dengan menjelaskan alasan di balik perasaan kita, bukan sekadar menolak atau menyetujui. 

Misalnya: “Menurutku kopi ini agak kurang pas di lidahku, mungkin karena jenis bijinya.”

Dengan begitu, komunikasi tidak berhenti di “enak” atau “tidak enak”, yang kerap menciptakan konfrontasi. Kita bisa belajar menambah kosakata emosi dan perasaan, sehingga bisa mengungkapkan pendapat dengan lebih kaya, netral, dan apa adanya.

Contoh lain:  “Kopi ini rasanya kurang cocok untukku, soalnya setelah minum, perutku agak nggak enak.”

Dengan cara ini, kita tetap jujur, tapi juga jelas dan tidak memojokkan lawan bicara.

6. Kebohongan yang Berat Ditanggung oleh Tubuh

Saya teringat kisah seorang perempuan sosialita. Dari luar, hidupnya tampak glamor—dia sering bercerita tentang bepergian ke luar negeri, tentang bisnis besar yang ia tangani, tentang betapa nyamannya hidupnya.

Namun, ada yang janggal.

Tubuhnya tampak tegang, terutama di bagian punggung yang kaku seolah membawa beban berat. Dari situ, bisa terlihat jelas bahwa di balik kisah-kisah indah yang ia bangun, ada tekanan batin yang besar.

Mungkin kenyataannya ia harus bekerja keras untuk menopang gaya hidupnya, meski di depan orang lain ia selalu menampilkan citra “hidup mewah tanpa beban”.

Ironisnya, seandainya ia berani menceritakan perjuangan sejatinya, orang justru akan lebih menghargai dan mengaguminya. Karena yang tulus dan nyata sering kali lebih menginspirasi daripada kisah yang “dibagus-baguskan”.

7. Lepaskan Beban, Rasakan Ringannya Hidup

Berbohong ibarat menumpuk beban batu di pundak, satu demi satu. Awalnya terasa enteng, tapi lama-lama punggung dan hati kita remuk menahannya.

Sebaliknya, berkata jujur ibarat meletakkan batu-batu itu satu per satu.

·        Saat kita bisa berkata pada pasangan: “Menurutku kopi ini kurang cocok.”

·        Atau pada rekan kerja: “Sesekali gantian kamu yang ambil ya.”

Itu artinya kita sudah mengurangi beban di bahu kita.

Memang, mungkin ada rasa tidak nyaman sesaat. Tapi justru di situlah kita belajar keseimbangan baru—mengatur sikap, mengatur kata-kata, melatih keberanian.

Kalau kita mau membuka diri untuk jujur, lama-kelamaan tubuh dan hati akan terasa lebih ringan.

Kuncinya ada pada “kesadaran”:

·        Kesadaran untuk mengamati diri sendiri.

·        Kesadaran untuk melihat reaksi orang lain secara nyata, bukan hanya lewat bayangan ketakutan kita.

Hidup penuh warna. Dan jika kita selama ini terbiasa bersembunyi di balik “kebohongan demi kebaikan”, mungkin inilah saatnya menurunkan beban itu sedikit demi sedikit.

Dengan begitu, kita bisa menemukan kembali tubuh dan hati yang lebih ringan, lebih bebas, dan lebih bahagia.

Jadi, jangan takut berkata jujur. Karena kejujuran bukan hanya untuk orang lain, tapi juga hadiah terbaik untuk dirimu sendiri.(jhn/yn)

Serangan Terkoordinasi! Rudal, Drone, dan 40 Ribu Tentara Polandia Guncang Kremlin”

EtIndonesia. Dalam beberapa hari terakhir, konflik Rusia–Ukraina kembali memasuki fase paling berbahaya dengan rentetan serangan, sabotase, dan manuver militer yang memicu kepanikan di seluruh Eropa Timur.

Pada 11 September 2025, Ukraina meluncurkan gelombang serangan udara terbaru yang menargetkan wilayah inti Rusia. Selain drone jarak jauh, Kyiv juga menembakkan rudal balistik ke Pelabuhan Novorossiysk, markas tersisa Armada Laut Hitam Rusia.

Yang paling mengejutkan, untuk pertama kalinya drone Ukraina menyerang wilayah Kaliningrad, eksklave Rusia di Laut Baltik. Aksi ini hanya mungkin setelah Polandia membuka ruang udaranya, sebuah langkah berani sebagai balasan atas insiden 10 September 2025, ketika drone Rusia menembus wilayah Polandia.

Situasi ini menempatkan Moskow dalam dilema. Jika Rusia menyerang balik melalui langit Polandia, risiko ditembak jatuh NATO hampir tak terhindarkan.

Polandia Tancap Gas: 40 Ribu Tentara di Perbatasan

Pada 10 September 2025, Polandia mengumumkan pengerahan 40.000 tentara ke perbatasan Belarus, lengkap dengan kawat berduri dan pos pertahanan, menciptakan “tirai besi” modern yang memutus jalur darat Rusia–Belarus ke Eropa.

Bagi Kaliningrad, yang sangat bergantung pada jalur pasokan darat, langkah ini berpotensi melumpuhkan. Kremlin bereaksi keras: 11 September 2025, Kementerian Luar Negeri Rusia dua kali mendesak Polandia membuka perbatasan, sembari memperingatkan konsekuensi serius. Namun Warsawa bergeming, bahkan mempererat kerja sama militer dengan Ukraina, termasuk pengembangan sistem anti-drone berbasis pengalaman medan tempur Kyiv.

Rusia Digempur di Jantung Energi dan Transportasi

Pada 11–12 September 2025, Ukraina meluncurkan ratusan drone ke berbagai titik vital Rusia:

  • Moskow: Dua malam berturut-turut diguncang ledakan, bandara internasional Kaluga ditutup total.
  • Lobnya (utara Moskow): Gudang elektronik terbakar hebat, diduga menyimpan komponen militer penting.
  • Pelabuhan Primorsk (Leningrad): Pusat ekspor minyak terbesar Rusia terbakar. Ledakan besar membuat pelabuhan yang menyalurkan 60 juta ton minyak/tahun ini resmi berhenti beroperasi.
  • Smolensk dan Vladimir: Fasilitas minyak kembali terbakar dengan ledakan beruntun.

Menurut data Reuters, pendapatan ekspor minyak Rusia pada Agustus 2025 sudah jatuh ke titik terendah lima tahun terakhir. Serangan terbaru ini menambah beban ekonomi Moskow.

Perang Darat: Kursk, Belgorod, dan Donbas

Pada 11 September 2025, Ukraina memperluas operasi darat:

  • Kursk: Pos pemeriksaan Rusia hancur dihantam serangan mendadak.
  • Belgorod: Jembatan logistik vital dihancurkan lewat kombinasi peledak dan drone FPV.
  • Pokrovsk (Donetsk): Ukraina merebut dua titik strategis, Shakhove dan Volodymyrivka. Serangan balasan Rusia dengan tank, kendaraan lapis baja, dan motor gagal total, dihancurkan HIMARS dan drone kamikaze. Puluhan tentara Rusia tewas, peralatan tempur hancur.

Ledakan Besar di Krimea: Armada Laut Hitam Lumpuh

Pada 11 September 2025, pusat komunikasi elektronik Rusia di Krimea dihantam rudal presisi Ukraina. Ledakan besar melumpuhkan koordinasi Armada Laut Hitam selama 72 jam penuh.

Pakar militer menegaskan, hilangnya komunikasi ibarat “sistem saraf militer” terputus, membuat armada tak mampu menerima perintah atau memantau situasi.

Senjata Baru Ukraina: Flamingo& Drone Starlink

Dalam serangan 11–12 September 2025, Ukraina mulai mengoperasikan rudal jelajah Flamingo yang sukses menghantam fasilitas FSB dan kapal militer di Krimea. Sasaran berikutnya diyakini adalah Jembatan Krimea.

Selain itu, drone berbasis kendali Starlink digunakan menyerang kapal Rusia di Novorossiysk. Meski kerusakan terbatas, ini menegaskan kemampuan Ukraina melakukan serangan jarak jauh dengan akurasi tinggi.

Dukungan Barat Mengalir Deras

Bantuan dari sekutu diumumkan pada 12 September 2025:

  • Uni Eropa: Pinjaman  6 miliar folar dari aset beku Rusia + 2 juta butir amunisi (80% sudah tiba).
  • Inggris: Produksi ribuan drone interseptor “Octopus”, jauh lebih murah dibanding Shahed buatan Iran.
  • Swedia: Bantuan 836 juta dolar termasuk 18 artileri self-propelled Archer.

Balasan Rusia: Serangan Rudal ke Pabrik Senjata

Pada malam 12 September 2025, Rusia meluncurkan rudal ke sebuah pabrik senjata penting di Ukraina. Ledakan besar merusak fasilitas produksi, meski korban belum diumumkan. Moskow mengirim pesan ganda: melemahkan logistik Kyiv sekaligus memperingatkan Uni Eropa.

Reaksi Internasional

Pada 13 September 2025, Presiden Volodymyr Zelenskyy mengecam keras serangan Rusia, menyebutnya bukti kejahatan perang, dan mendesak sanksi tambahan. Uni Eropa menilai serangan tersebut “tak bisa diterima” serta berjanji melanjutkan dukungan.

Namun, sebagian negara Eropa khawatir eskalasi berlebihan dapat memicu konfrontasi langsung dengan Moskow. Di AS, dukungan tetap kuat, meski sebagian politisi domestik menyoroti risiko beban ekonomi dan fokus strategis Washington yang terpecah.

Kesimpulan

Gabungan serangan udara Ukraina pada 11–12 September 2025, pengerahan militer Polandia pada 10 September 2025, serta bantuan Barat pada 12 September 2025, membuat Rusia kini berada dalam tekanan paling besar sejak perang dimulai. Moskow dipaksa membagi konsentrasi pertahanan dari garis depan hingga wilayah inti.

Namun, serangan balasan Rusia ke pabrik senjata Ukraina pada malam 12 September 2025 menunjukkan perang ini masih jauh dari selesai. Jika eskalasi terus berlanjut, Eropa—dan dunia—berpotensi menghadapi fase konflik lebih berbahaya, lebih luas, dan semakin tak terkendali.

Nepal Meledak, Dunia Berguncang: Domino yang Menghantui Xi Jinping

EtIndonesia. Dalam kurun waktu 72 jam terakhir, dunia menyaksikan sebuah badai politik yang tidak melibatkan tank, pengeboman, ataupun intervensi militer asing. Namun, badai ini mampu meruntuhkan satu pemerintahan, menghancurkan rantai imperium global, dan merobek ilusi kontrol Tiongkok terhadap negara-negara sekitarnya. Untuk pertama kalinya, model Xi Jinping ditembak mati secara terbuka di panggung internasional. Dan episentrum gejolak itu bukan di Washington atau Moskow, melainkan di halaman belakang Tiongkok sendiri: Nepal.

Runtuhnya Rezim Pro-Beijing di Nepal

Perdana Menteri Nepal yang baru kembali dari Beijing dengan euforia politik membawa pulang “paket lengkap” strategi digital ala Xi Jinping. Dia menyalin bulat-bulat skema tirai besi digital:

  • Pemblokiran media sosial lebih ketat daripada Tiongkok.
  • Penerapan sistem nama asli secara cepat.
  • Pembangunan firewall dengan dukungan langsung insinyur Tiongkok.

Targetnya jelas: membentuk “Tiongkok digital kedua” di Himalaya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Dalam waktu tiga hari saja, rakyat Nepal bangkit dan menjatuhkan pemerintahannya.

Massa membakar gedung parlemen, kantor presiden, hingga kediaman perdana menteri. Menteri Keuangan diseret ke sungai, rumah mantan perdana menteri dibakar, dan jasad hangus disebut-sebut ditemukan. Perdana Menteri Oli bersama keluarganya dievakuasi dengan helikopter militer. Dalam sepekan, rezim pro-Beijing tumbang total.

Dari Pemblokiran ke Revolusi Jalanan

Pemicu krisis sebenarnya sederhana: pemblokiran media sosial.

  • 28 Agustus: Pemerintah Nepal mengumumkan semua platform asing wajib mendaftar dalam 7 hari, menunjuk perwakilan lokal, dan menyerahkan pengawasan konten.
  • 4 September: Perintah eksekusi dijalankan. 26 platform besar ditutup serentak, termasuk Facebook, X, Instagram, YouTube, WhatsApp, LinkedIn, hingga Reddit.

Operator telekomunikasi nasional melaksanakan instruksi dengan metode mirip “Tembok Api Tiongkok”. Saat itulah rakyat sadar: mereka bukan hanya kehilangan akses internet, tapi juga hak berbicara dan terhubung dengan dunia.

Generasi Z, mahasiswa, dan profesional kota menjadi motor perlawanan. Seruan mereka terdengar lantang:

  • “Kami bukan orang Tiongkok!”
  • “Nepal bukan laboratorium Beijing!”
  • “Keluar dari jaringan kami!”

Dalam 48 jam, protes sensor berubah menjadi revolusi jalanan anti-model Tiongkok.

Kekerasan, Korban, dan Runtuhnya Legitimasi

Pemerintah menanggapi dengan represi keras:

  • 8 September: Kathmandu diberlakukan jam malam total, izin tembak di tempat dikeluarkan.
  • Korban: 19 orang tewas, ratusan luka-luka.

Namun alih-alih menekan, kekerasan justru memicu kemarahan rakyat. Gedung parlemen dibakar, pejabat ditelanjangi di jalan, bahkan rumah mantan PM Khanal dibakar habis.

9 September sore, dunia terkejut dengan video evakuasi dramatis: helikopter militer menarik Perdana Menteri Oli dan para menteri dengan jaring dari atap rumah dinas. Tubuh mereka bergelantungan di udara. BBC menyebutnya sebagai “penghinaan visual terhadap model otoriter”.

Dampak Geopolitik

Kejatuhan rezim pro-Beijing di Nepal memiliki dampak besar:

  1. Strategi Himalaya Beijing runtuh. Nepal selama ini digunakan sebagai benteng pengamanan Tibet melalui dalih patroli kontra-terorisme dan pembangunan infrastruktur lintas Himalaya. Kini benteng itu jebol.
  2. Simbolik bagi India. Anak muda Nepal setelah membakar bendera Partai Komunis justru mengibarkan bendera India sambil berteriak:
    • “Kami lebih memilih Modi daripada Oli!”
    • “Demokrasi tak bisa dijaga dengan sensor!”

Bagi Beijing, ini mimpi buruk. Bila demokrasi ala India merembes ke Tibet, taruhannya adalah kelangsungan rezim, bukan sekadar perbatasan.

Model Tiongkok Jadi Simbol Racun

Selama bertahun-tahun, Tiongkok mengekspor teknologi stabilitas digital: firewall, sistem nama asli, kamera pengawas, hingga perangkat lunak sensor opini. Nepal dijadikan laboratorium terbaru.

Kini hasilnya berbalik: semua itu menjadi manual cara menggulingkan rezim pro-Tiongkok. India, Sri Lanka, Bangladesh, hingga dunia internasional menyaksikan bahwa model ini bukan solusi, melainkan racun politik.

Efek Domino Global

Keruntuhan di Nepal hanyalah satu bab dalam sebuah “pembersihan global”:

  • Karibia: Militer AS bersiap operasi langsung menekan rezim Maduro, “ATM Beijing” di Amerika Latin.
  • Timur Tengah: Israel dengan lampu hijau dari Washington menghantam markas Hamas di Doha, Qatar — sekaligus memutus mesin uang Beijing di kawasan.
  • Eropa Timur: Drone Rusia “misterius” memasuki Polandia, memaksa Uni Eropa menjauh dari orbit Beijing.
  • Asia Tenggara: Jaringan kejahatan siber terhubung intelijen Tiongkok kini dijadikan target operasi anti-teror.

Semua ini menunjukkan satu pola: rezim Komunis Tiongkok dan proksinya menjadi sasaran perburuan global.

Kesimpulan

Badai 72 jam di Nepal lebih dari sekadar keruntuhan satu rezim. Ia adalah peringatan keras bagi Beijing bahwa model politik Xi Jinping tidak hanya gagal diekspor, tetapi juga menjadi senjata makan tuan.

Nepal, Venezuela, Qatar, hingga Polandia kini menjadi bagian dari satu rangkaian perlawanan global. Krisis yang semula tampak lokal kini menjelma menjadi gelombang yang bisa mengancam eksistensi Partai Komunis Tiongkok itu sendiri.

Perkuat Jaminan Produk Halal Terintegrasi untuk Tingkatkan Daya Saing Ekonomi Syariah

Surabaya, 12 September 2025 – Festival Ekonomi Syariah Kawasan Jawa (FESyar Jawa) 2025 menghadirkan talkshow bertajuk “Penguatan Ekosistem Halal Nasional melalui Jaminan Produk Halal Terintegrasi” di Ballroom Almarwah Masjid Agung Al-Akbar Surabaya. Acara ini menegaskan komitmen bersama dalam memperkuat jaminan produk halal sebagai fondasi pengembangan ekonomi syariah di Indonesia.

Dalam sambutannya, Muhammad Nur Nugroho, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, menyoroti potensi besar ekonomi syariah global yang diproyeksikan mencapai US$ 3,36 triliun pada tahun 2028. “Indonesia saat ini menduduki peringkat ketiga dunia sebagai negara dengan ekosistem halal terbaik. Ini momentum untuk memperkuat sertifikasi halal yang kredibel dan terintegrasi,” ujarnya.

Prof. Dr. Fredy Kurniawan (Auditor Kajian Halal ITS): Pentingnya Digitalisasi dan Literasi Halal

Prof. Fredy menekankan bahwa jaminan produk halal harus mencakup seluruh rantai pasok, dari bahan baku hingga distribusi. “Sertifikasi halal bukan hanya tentang logo, tetapi tentang integritas seluruh proses. Digitalisasi sistem jaminan halal menjadi kunci untuk memastikan transparansi dan kepercayaan konsumen,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya literasi halal bagi pelaku usaha dan konsumen. “Banyak UMKM yang belum memahami pentingnya pencatatan proses produksi. Pelatihan dan sosialisasi masif diperlukan agar mereka dapat memenuhi standar halal,” tambahnya. Prof. Fredy menyarankan pengembangan aplikasi pemindaian barcode untuk memverifikasi kehalalan produk secara real-time.

Fajar Isnugroho (Direktur RPH Surabaya): RPH sebagai Penjaga Kehalalan dari Hulu

RPH Surabaya, yang telah berdiri sejak 1927, memastikan seluruh proses pemotongan hewan sesuai syariat Islam. “Kami memiliki 8 dokter hewan dan 9 juru sembelih halal bersertifikat. Setiap hewan dipastikan sehat sebelum dipotong, dan dagingnya layak konsumsi serta halal,” tegas Fajar.

Ia mengajak masyarakat untuk hanya membeli daging dari RPH bersertifikat. “Daging murah belum tentu halal. Banyak pemotongan liar yang mengabaikan aspek kehalalan. Konsumen harus cermat dan memastikan produk yang dibeli memiliki sertifikat halal resmi,” imbaunya. RPH Surabaya juga telah membangun sentra penjualan daging halal yang bekerja sama dengan UMKM.

Indiarto Wicaksono (Region Lead Eastern Indonesia Paragon Technology and Innovation): Halal sebagai Lifestyle dan Komitmen

Paragon, dengan 14 brand kecantikan termasuk Wardah dan Emina, menjadikan halal sebagai core value bisnis. “Kami memastikan seluruh proses, dari bahan baku hingga distribusi, tersertifikasi halal. Halal bukan hanya logo, tetapi menjadi lifestyle yang menjamin kenyamanan dan keamanan konsumen,” ungkap Indiarto.

Paragon juga berkomitmen pada sustainability dan pemberdayaan masyarakat. “Kami tidak hanya fokus pada bisnis, tetapi juga pada dampak sosial dan lingkungan. Halal adalah bagian dari tanggung jawab kami kepada masyarakat,” tambahnya. Sebanyak 95% bahan baku Paragon berasal dari Indonesia, memperkuat rantai pasok lokal.

Muhammad Fauzi (Sekretaris Satgas Halal Kemenag Jatim): Gratisnya Sertifikasi Halal untuk UMKM

Fauzi menyebutkan bahwa sertifikasi halal untuk UMKM telah digratiskan oleh pemerintah. “Setiap tahun, Kementerian Agama menyediakan 1 juta sertifikat halal gratis untuk pelaku usaha mikro kecil. Namun, kesadaran masyarakat masih rendah,” ujarnya. Jawa Timur saat ini berada di peringkat ketiga secara nasional dalam jumlah sertifikat halal.

Ia menjelaskan mekanisme sertifikasi halal yang mudah melalui aplikasi halal. “Pelaku usaha didampingi oleh pendamping PPH (Proses Produksi Halal) untuk memastikan seluruh proses memenuhi standar halal. Tidak perlu datang ke kantor, semua bisa diakses dari rumah,” jelas Fauzi. Ia juga menekankan pentingnya pengawasan bersama untuk menindak pelaku yang menyalahgunakan logo halal.

Kesimpulan: Kolaborasi untuk Ekosistem Halal yang Kredibel

Talkshow ini menyimpulkan bahwa penguatan ekosistem halal memerlukan kolaborasi semua pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen. Sertifikasi halal yang terintegrasi tidak hanya menjamin kepatuhan syariah, tetapi juga meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.

Bank Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan ekonomi syariah melalui pendampingan, literasi, dan fasilitasi sertifikasi halal. Dengan sinergi ini, diharapkan Jawa Timur dapat menjadi pusat halal Indonesia dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi syariah nasional.

Jangan Ulurkan Tangan ke Wilayah Orang Lain

EtIndonesia. Apakah kamu benar-benar paham batasan wewenang di perusahaanmu? Apakah kamu jelas dengan lingkup tugas dari posisimu sekarang?

Di dunia kerja, apa pun jabatanmu, hal pertama yang harus kamu ketahui adalah apa saja tanggung jawab dan kewenanganmu. Kalau kamu nekat melampaui batas, ikut campur dalam urusan yang bukan bidangmu, biasanya tidak akan ada hasil baik yang menanti.

Ada pepatah yang mengatakan: “Tidak berada di posisi itu, jangan ikut mengurus kebijakan posisi tersebut.”

Sekilas mungkin terdengar seperti alasan untuk menghindar, tapi di tempat kerja, pepatah ini justru sangat tepat. Kita harus tahu jelas batasan peran kita. Kalau ada hal yang melampaui tugas, cukup diingatkan seperlunya, jangan terburu-buru ikut campur. Kalau sampai kelewat batas, bisa-bisa malah membawa masalah untuk diri sendiri.

Kisah Nyata: Karyawan yang Terlalu Berinisiatif

Wu Heng, seorang manajer bisnis, suatu kali mengajak bawahannya, Junyi, untuk bertemu calon klien. Kebetulan, Junyi adalah teman kuliah dari perwakilan klien itu. Wu Heng berharap hubungan personal ini bisa membuka jalan bagi negosiasi.

Awalnya, rencana berjalan mulus. Junyi berhasil mencairkan suasana, bahkan dengan antusias memperkenalkan produk perusahaan secara detail. Namun, saat pembicaraan masuk ke tahap detail kontrak, Junyi tiba-tiba mengambil keputusan sendiri tanpa berkonsultasi dulu dengan Wu Heng. Situasi itu membuat sang manajer sangat canggung.

Setelah kontrak disepakati, Junyi dengan penuh percaya diri bertanya: “Pak Manajer, bagaimana penilaian Anda terhadap penampilan saya kali ini?”

Wu Heng hanya tersenyum kecut tanpa menjawab. Tidak lama setelah itu, Junyi tak pernah lagi diajak dalam perjalanan dinas. Kariernya pun perlahan dibekukan.

Pelajaran Penting

Di masyarakat—terutama di dunia kerja—kita harus paham posisi diri sendiri dan tahu batas wewenang yang dimiliki. Baik terhadap rekan kerja maupun atasan, jangan sembarangan “mengulurkan tangan” ke wilayah orang lain.

Karena akibatnya bisa ganda: membuang waktu sia-sia sekaligus menimbulkan rasa tidak suka dari orang lain.(jhn/yn)