Ilmuwan Temukan Golongan Darah Paling Langka: Hanya Dimiliki Satu Orang di Dunia

EtIndonesia. Dunia kedokteran kembali dikejutkan! Baru-baru ini, ilmuwan Prancis menemukan satu golongan darah baru yang belum pernah ada sebelumnya. Hingga kini, hanya ada satu orang di seluruh dunia yang memilikinya.

“Gwada Negative”: Golongan Darah Paling Unik

Golongan darah ini dinamai “Gwada Negative”, diambil dari nama daerah asal sang pasien, yaitu Guadeloupe, sebuah wilayah seberang laut Prancis di Karibia.

Pemilik golongan darah ini adalah seorang wanita berusia 68 tahun. Keunikan darahnya pertama kali ditemukan pada tahun 2011 saat dia menjalani pemeriksaan rutin sebelum operasi di Paris. Tim medis bingung karena tidak ada sampel darah yang cocok untuk transfusi dengannya.

Penemuan Setelah 8 Tahun Penelitian

Karena keterbatasan teknologi kala itu, penelitian sempat terhenti. Namun pada tahun 2019, para ilmuwan menggunakan metode high-throughput sequencing untuk menganalisis DNA pasien secara mendalam.

Setelah dua tahun, akhirnya diketahui penyebabnya: terjadi mutasi langka pada gen PIGZ, yang mengubah cara protein menempel di permukaan sel darah merah. Mutasi inilah yang membentuk golongan darah unik tersebut.

Pada Juni 2025, French Blood Establishment (EFS) mengumumkan bahwa “Gwada Negative” resmi diakui sebagai golongan darah ke-48 di dunia, setelah mendapat pengesahan dari International Society of Blood Transfusion (ISBT).

Golongan Darah yang Tak Tertandingi

Ahli transfusi Thierry Peyrard menjelaskan: “Wanita ini adalah satu-satunya orang yang benar-benar cocok dengan dirinya sendiri. Bahkan orangtuanya tidak bisa menjadi donor darah untuknya.”

Temuan ini sekaligus menegaskan bahwa sistem golongan darah manusia jauh lebih kompleks daripada hanya ABO dan rhesus (Rh).

Pentingnya Penemuan Ini

Kasus “Gwada Negative” menjadi peringatan medis bahwa masih banyak golongan darah ultra-langka yang berpotensi memengaruhi keamanan transfusi. Penemuan ini membuka peluang baru bagi riset medis untuk melindungi pasien dengan darah langka dan menyiapkan strategi darurat bagi mereka.

Dengan demikian, “Gwada Negative” bukan hanya sekadar penemuan medis, melainkan simbol betapa unik dan misteriusnya tubuh manusia.(jhn/yn)

Gubernur Jakarta Pramono Dukung Arahan Mendagri Jaga Stabilitas dan Keamanan Kota

EtIndonesia. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan komitmennya untuk mendukung dan menindaklanjuti arahan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian yang disampaikan dalam rapat koordinasi bersama kepala daerah se-Indonesia secara daring pada Sabtu (30/8/2025).

“Kami mengapresiasi arahan yang disampaikan Mendagri. Jakarta menjadi salah satu provinsi yang hadir lengkap dalam rapat tersebut. Semua wali kota dan pejabat terkait memahami instruksi agar penyelenggaraan pemerintahan berjalan tertib sekaligus menenangkan masyarakat,” ujar Gubernur Pramono di Balai Kota Jakarta.

Ia menjelaskan, dalam rapat tersebut Mendagri Tito memberikan sejumlah arahan, antara lain menunda sementara perjalanan ke luar negeri bagi kepala daerah, mengurangi acara selebrasi berlebihan yang bersifat hura-hura atau menunjukkan kemewahan, serta menjaga komunikasi publik pejabat daerah agar tidak menimbulkan keresahan masyarakat.

Lebih lanjut, Gubernur Pramono menekankan pentingnya kebersamaan dalam menjaga Jakarta. Selain internal Pemprov DKI, pihaknya juga akan melibatkan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) DKI serta organisasi masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan dan kenyamanan ibu kota.

“Menjaga Jakarta tidak cukup hanya dilakukan Pemprov DKI, tetapi juga perlu keterlibatan publik. Karena itu, kami akan menggelar rapat Forkopimda, yang tidak boleh diwakilkan, semua harus hadir. Kami juga akan berkoordinasi dengan pimpinan ormas, baik kepemudaan, keagamaan, maupun lainnya, untuk bersama-sama menjaga Jakarta,” jelasnya.

Gubernur Pramono menegaskan, kegiatan keagamaan tetap diperbolehkan berlangsung. Namun, sejumlah acara selebrasi berskala besar dibatalkan, termasuk Karnaval Budaya yang semula dijadwalkan pada Minggu (31/8) di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.

Kota Pokrovsk di Ukraina Timur dalam Bahaya? Militer Rusia Kumpulkan 100.000 Tentara

ETIndonesia. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada Jumat (29/8/2025) mengonfirmasi bahwa pasukan Rusia telah mengerahkan sekitar 100 ribu tentara di sekitar kota strategis Pokrovsk di Ukraina timur, dan siap melancarkan serangan besar. Pada saat yang sama, perwakilan Ukraina bertemu dengan utusan khusus Trump, Witkoff, di New York untuk membahas isu perdamaian. Selain itu, Amerika Serikat telah menyetujui penjualan peralatan militer senilai 825 juta dolar AS guna meningkatkan kemampuan serangan jarak jauh Ukraina.

Pada Jumat itu, bendera diturunkan setengah tiang di Kyiv. Warga mendirikan tugu peringatan sementara di depan gedung yang hancur akibat serangan, meletakkan bunga dan mainan untuk mengenang para korban.

Sehari sebelumnya, Rusia melancarkan serangan terbesar sejak Juli ke Kyiv, menewaskan 23 orang, termasuk 4 anak-anak.

Seorang warga Kyiv, Kliushnychenko, berkata:  “Semua anak-anak ini, kami melihat mereka tumbuh besar. Ini terlalu berat, sungguh terlalu berat. Saya tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.”

Warga lain, Synytsia, mengatakan:  “Kenapa Rusia harus berbohong kepada dunia, mengatakan hanya menargetkan sasaran militer, padahal kenyataannya mereka terus menyerang warga sipil?”

Pada hari yang sama, Ukraina secara resmi membuka Makam Pahlawan Militer Nasional, dan Zelenskyy menghadiri upacara pemakaman prajurit tak dikenal di sana.

Zelenskyy mengkonfirmasi bahwa saat ini Rusia telah menempatkan sekitar 100 ribu pasukan di Pokrovsk , pusat logistik penting di Ukraina timur, dan setiap saat dapat melancarkan serangan.

Hari itu juga, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim pasukan mereka telah merebut sebuah permukiman di pinggiran  Pokrovsk. Rekaman menunjukkan seseorang mengibarkan bendera Rusia, dengan kondisi sekitar hancur parah. Beberapa hari sebelumnya, dua desa di dekatnya juga diduga telah jatuh ke tangan Rusia.

Menteri Pertahanan Rusia dalam pidato video pada Jumat mengakui bahwa laju serangan mereka di Ukraina meningkat. Kini, tiap bulan Rusia menguasai 600–700 kilometer persegi wilayah, hampir dua kali lipat dibanding awal tahun.

Menghadapi ancaman ekspansi yang semakin serius, Kyiv di satu sisi mendorong diplomasi untuk mengakhiri perang, di sisi lain berharap mitra internasional memberikan jaminan keamanan.

Presiden Zelenskyy mengatakan:  “Saya rasa para pemimpin kita perlu segera melakukan kontak untuk mencapai kesepakatan.”

Pada Jumat itu, utusan khusus Trump, Steve Witkoff, bertemu dengan Kepala Kantor Presiden Ukraina, Andriy Yermak, di New York. Mereka membahas serangan mematikan Rusia terhadap Kyiv, serta perlunya memberi tekanan pada Moskow agar tercapai perdamaian.

Sehari sebelumnya, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan persetujuan penjualan peralatan militer senilai 825 juta dolar AS ke Ukraina. Paket ini mencakup 3.350 unit rudal jelajah jarak jauh tipe ERAM yang diluncurkan dari udara, dilengkapi dengan kit pemandu GPS dan sistem perlindungan peperangan elektronik.

Rudal ERAM memiliki jangkauan hingga 450 km, dapat menyerang target darat maupun laut. Keunggulannya adalah harga relatif murah dan mudah diproduksi massal. Biaya pembelian akan ditanggung oleh sekutu Eropa, termasuk Denmark, Belanda, dan Norwegia.

Dalam pernyataannya, Departemen Luar Negeri AS menyebut bahwa penjualan ini akan meningkatkan kemampuan Ukraina untuk melaksanakan misi pertahanan diri dan keamanan regional, serta memperkuat kemampuannya menghadapi ancaman saat ini maupun di masa depan.

Sumber : NTDTV.com

Muncul Spanduk Raksasa Anti-Komunis di Chongqing, Tiongkok, Sang Pemberani Tinggalkan Surat Tulis Tangan

EtIndonesia. Menjelang parade militer Partai Komunis Tiongkok (PKT) pada 3 September, pada  29 Agustus 2025 malam, di kawasan Universitas Chongqing muncul proyeksi spanduk raksasa anti-komunis yang menyerukan untuk menggulingkan tirani PKT dan memperjuangkan kebebasan. Setelah proyeksi berlangsung selama 50 menit, polisi setempat baru menemukan kamar hotel dan mematikan peralatan. Tak lama kemudian, tersebar di internet isi surat tulisan tangan yang ditinggalkan sang pemberani untuk polisi.

Malam itu, gambar spanduk anti-komunis menyebar luas di internet. Menurut media sosial, pada pukul 22.00 di sebuah gedung di Xijie, University Town Chongqing, seseorang menggunakan proyektor untuk menampilkan sejumlah spanduk besar di dinding luar gedung. Proyeksi ini berlangsung lebih dari 50 menit.

Isi spanduk tersebut berbunyi:

  • “Tanpa Partai Komunis, barulah ada Tiongkok baru. Kebebasan bukan pemberian, harus direbut kembali.”
  • “Bangkitlah mereka yang tidak mau menjadi budak, bangkit melawan dan rebut kembali hak kalian.”
  • “Ganyang fasis merah, tumbangkan tirani Partai Komunis.”
  • “Jangan kebohongan, kami mau kebenaran. Jangan perbudakan, kami mau kebebasan. Partai Komunis tirani turun dari panggung.”

Setelah proyeksi berlangsung 50 menit, polisi menemukan kamar hotel yang digunakan dan mematikan perangkat. Di atas meja hotel, sang pemberani meninggalkan sepucuk surat tulisan tangan untuk polisi sebelum pergi.

Pada 30 Agustus, Le Zailin, keponakan penulis disiden asal Hubei Du Daobin, membagikan isi surat tersebut di platform X luar negeri. Surat itu berbunyi:

“Halo, temanku. Aku tidak tahu siapa dirimu, untuk sementara aku memanggilmu teman. Mungkin saat ini kau sudah menganggapku musuhmu. Pertama-tama, aku nyatakan bahwa aku tidak tergabung dalam organisasi apa pun. Sampai pada langkah ini pun terpaksa. Siapa yang mau hidup sengsara bila bisa hidup baik? Tolong jangan persulit orang-orang yang tidak ada hubungannya. Kejahatan Partai Komunis di tanah ini sudah tak terhitung lagi. Tolong jangan ikut membantu kejahatannya.”

Dalam surat itu juga disebutkan:

“Mungkin sekarang kau adalah pihak yang diuntungkan. Tapi aku yakin, sebagian besar orang, dari generasi kakek hingga anak cucu, tidak ada yang luput dari penindasan PKT. Hanya saja orang Tiongkok terlalu mudah lupa. Sejak PKT berkuasa, setiap tiga tahun ada satu gerakan besar, setiap sepuluh tahun ada satu gerakan kecil, yang membuat banyak keluarga hancur, orang-orang menderita dan dianiaya. Selain kebohongan, apa lagi yang mereka miliki? Mereka adalah fasis.

Mungkin sekarang kau merasa diuntungkan, tapi suatu hari di tanah ini, kau pasti akan menjadi korban. Maka dalam kemampuanmu, perlakukanlah orang lain dengan baik. Jika memang tak bisa dihindari, maka arahkan senjatamu sedikit lebih ke atas. PKT memerintah dengan kebohongan, menindas dengan kekerasan mereka yang membela kebenaran dan berani bersuara. Singkatnya, bangunlah dan ketahuilah kebenaran. Kebenaran tetaplah kebenaran, seperti matahari yang tertutup awan, bukan berarti matahari tidak ada. Jika setiap orang berkontribusi sedikit saja, berdiri melawan, maka orang-orang jahat itu tidak akan bisa berbuat sewenang-wenang. Salam hangat, temanku.”

Peristiwa ini memicu perbincangan hangat di internet. Seorang akademisi bernama Gancheng Wang menulis di X:  “Menjelang parade 3 September, kembali ada keberanian untuk menantang! Pada pukul 22.00 malam 29 Agustus, terjadi insiden proyeksi pamflet di Universitas Chongqing. Setelah 50 menit baru ditemukan oleh polisi. Sang pemberani meninggalkan peringatan lalu pergi dengan tenang, sungguh keren! Membuat Xi dan antek-anteknya ketakutan.”

Komentar netizen lain:

  • “Bisa bertahan memproyeksikan selama 50 menit, saya curiga polisi sengaja terlambat. Saya percaya di dalam sistem PKT juga banyak yang menunggu kejatuhannya.”
  • “Kerja bagus, berani dan cerdas. Kalau terakhir ditutup dengan ledakan, pasti lebih dahsyat.”
  • “Orang ini pasti sudah kabur ke luar negeri, dan memasang kamera mini di hotel untuk merekam proses polisi masuk.”
  • “Orang Tiongkok yang berani dan cerdas, sungguh mengagumkan.”
  • “Salut untuk sang pemberani! Semangat untuk menumbangkan PKT!”
  • “Siapa pun akhirnya tak akan lepas dari penindasan sistem. Ia membuat antek PKT melihat nasib mereka sendiri.”
  • “Cerdas dan berani, inilah tulang punggung Tiongkok, harapan bangsa.”
  • “Selesai sudah, pasti akan ada penutupan paksa lagi. Rakyat tidak takut mati, bagaimana bisa ditakut-takuti dengan kematian? Aksi perlawanan akan makin banyak. PKT sudah di ujung ajal.”

Beberapa tahun terakhir, ekonomi Tiongkok terus lesu. Gelombang pengangguran melanda berbagai sektor, banyak perusahaan gulung tikar, investor asing besar-besaran hengkang, kaum muda sulit mendapat pekerjaan, sehingga keluhan masyarakat semakin memuncak dan aksi protes rakyat terus bermunculan.

Pada 13 Oktober 2022, hanya tiga hari sebelum Kongres ke-20 PKT, seorang pemberani anti-komunis, warga Tiongkok bernama Peng Lifa (nama daring: Peng Zaizhou), menggantung dua spanduk besar bertuliskan huruf merah di atas jembatan Sitong, Beijing. Isi spanduk itu antara lain:

  • “Tidak mau tes PCR, kami mau makan!”
  • “Tidak mau lockdown, kami mau kebebasan!”
  • “Tidak mau kebohongan, kami mau martabat!”
  • “Tidak mau Revolusi Kebudayaan, kami mau reformasi!”
  • “Tidak mau pemimpin, kami mau pemilu!”
  • “Tidak mau jadi budak, kami mau jadi warga negara!”

Serta seruan:  “Boikot sekolah, boikot kerja, lengserkan diktator pengkhianat Xi Jinping!”

Sumber : NTDTV.com

Beijing Gelar Parade Militer 3 September, Pemimpin Barat Kompak Absen

Pada 3 September mendatang, Partai Komunis Tiongkok (PKT) akan mengadakan parade militer peringatan perang di Lapangan Tiananmen, Beijing. Kementerian Luar Negeri PKT mengumumkan daftar para pemimpin negara yang diundang untuk menghadiri parade tersebut. Namun, banyak dari pemimpin yang hadir memiliki rekam jejak buruk, sementara para kepala negara Barat kompak absen.

EtIndonesia. Menurut media resmi PKT, sebanyak 26 kepala negara dan pemerintahan asing akan menghadiri parade besar memperingati 80 tahun perang tersebut di Beijing. Dua tamu utama adalah Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, disusul Presiden Iran Pezeshkian, Presiden Belarus Lukashenko, serta sejumlah pemimpin dari negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Namun, para kepala negara Barat tidak ada yang hadir.

 “Hal ini terutama karena persaingan antara AS dan Tiongkok semakin memanas. Selain itu, terkait perang Rusia-Ukraina, PKT selalu berpihak pada Rusia. Ia terus menantang sistem perdagangan bebas yang diciptakan negara-negara Barat. Setelah Amerika Serikat menyadarinya, negara-negara demokratis tetap memilih berdiri di sisi AS,” kata Profesor Yao-Yuan Yeh dari Universitas St. Thomas, AS. 

Sebelumnya, pemerintah Jepang melalui jalur diplomatik juga menyerukan agar negara-negara Eropa dan Asia tidak menghadiri parade militer PKT.

 “Negara-negara demokratis maju di Barat kini sudah menganggap PKT sebagai ancaman terbesar. Jika mereka menghadiri parade tersebut, berarti sama saja memberikan legitimasi pada ekspansi global PKT dan ancamannya terhadap perdamaian. Karena itu, mereka tidak akan datang,” ujar pengamat politik di AS, Lan Shu. 

Analisis menyebutkan, tujuan parade militer PKT adalah untuk menggalang poros jahat melawan Barat.

Mantan pengacara Beijing, Lai Jianping, mengatakan:  “PKT ingin memanfaatkan parade ini untuk memperluas kerja sama dengan negara-negara poros jahat yang sehaluan. Tujuannya tetap untuk berebut hegemoni dengan AS dan Barat. Negara-negara Barat tidak mau lagi bersekutu dengan rezim jahat seperti ini. Jadi PKT terpaksa menonjolkan Putin dan Kim Jong-un.”

Media Taiwan menyindir bahwa para pemimpin yang diundang ke parade itu memiliki rekam jejak buruk:

  • Putin dituntut secara internasional karena melancarkan perang Rusia-Ukraina.
  • Kim Jong-un dijatuhi sanksi internasional karena uji coba nuklir.
  • Presiden Belarus Lukashenko dikenai sanksi oleh banyak negara karena pelanggaran HAM.
  • Presiden sementara Myanmar, Min Aung Hlaing, dikenai sanksi AS dan Eropa karena kudeta militer.

Sumber : NTDTV.com

Orang Dalam Ungkap Jumlah Korban Banjir Besar Beijing Akhir Juli Jauh Lebih Tinggi dari Laporan Resmi

Akhir Juli lalu, beberapa distrik di Beijing dilanda hujan deras dan banjir besar yang menimbulkan banyak korban jiwa. Pemerintah resmi hanya melaporkan puluhan orang meninggal dunia, tetapi warga setempat mengungkapkan bahwa jumlah korban sebenarnya jauh lebih tinggi, sementara orang hilang tidak terhitung jumlahnya. 

EtIndonesia. Pada 27 Agustus, seorang warga Miyun, Beijing, menulis kesaksiannya di situs Minghui, menceritakan pengalaman saat banjir besar melanda. Warga itu menyebutkan, saudara-saudaranya tinggal di desa-desa perbatasan Beijing–Hebei, wilayah yang paling parah terdampak, sehingga ia mengetahui kondisi sebenarnya.

Tulisan itu menyebutkan, hujan deras ditambah dengan pelepasan air waduk tanpa peringatan menyebabkan banyak desa di Hebei hingga Beijing tersapu air. Banyak orang hanyut terbawa arus dan jumlah orang hilang sama sekali tidak bisa dihitung.

Sebagai contoh, menurut penduduk setempat, saat pembersihan pasca-banjir, sebuah ekskavator ketika mengangkat pohon tumbang menemukan 17 jenazah di sebuah kubangan air. Pekerja yang terlibat pembersihan tidak sanggup melanjutkan karena pemandangan yang terlalu memilukan.

Di Panti Jompo Taishitun yang terkena dampak parah, pihak berwenang hanya melaporkan 30-an orang meninggal. Namun, warga desa setempat mengatakan jumlah korban sebenarnya mencapai setidaknya 62 orang.

Tulisan itu juga menyebut, di area hilir waduk, banyak warga yang sedang memancing atau bekerja di tepi sungai tersapu banjir secara tiba-tiba. Jumlahnya tidak pernah dihitung resmi. Yang tersisa hanyalah kabar dari mulut ke mulut: “si anu hanyut di sungai…”

Awal Agustus, di platform Xiaohongshu Tiongkok, warganet setempat menulis bahwa di Huairou jumlah orang hilang bahkan lebih banyak daripada Miyun. Banyak wisatawan dari luar daerah yang menginap di homestay atau berkemah di tepi sungai tersapu banjir:

  • “Saya lihat ada satu keluarga tiga orang hilang.”
  • “Saya dengar ada satu keluarga lima orang, termasuk seorang kakek, pasangan, dan dua anak, semua lenyap.”
  • “Huairou banyak yang hilang, sangat banyak wisatawan.”
  • “Saya rasa Huairou lebih parah daripada Miyun.”
  • “Ada satu tempat camping, semua hilang, tidak dilaporkan.”

Warganet lain menulis:

  • “Beberapa hari terakhir Sungai Baihe penuh dengan sampah yang terbawa arus, sekarang orang lebih fokus mengangkat jenazah daripada sampah.”
  • “Di Jembatan Baihe, Miyun, sudah ditemukan beberapa mayat.”
  • “Saya lihat ada tim penyelam, setiap hari mencari mayat. Mungkin nanti baru diumumkan setelah agak selesai.”
  • “Di Liulimiaozhen, Huairou, ada lebih dari 50 orang yang hanyut.”
  • “Hanya di Teluk Baihe saja katanya ada lebih dari 100 korban.”
  • “Saya dengar di panti jompo ada lebih dari 80 korban.”

Banyak warganet berkata: “Data yang sebenarnya tidak akan pernah diumumkan ke publik. Tahun ini terasa lebih parah daripada banjir 7.21 (tahun 2012).”

Sejak 26 Juli, wilayah Yanqing, Huairou, Miyun, dan distrik lain di Beijing terus diguyur hujan lebat. Banyak waduk meluap. Menurut warga setempat, pada 27 Juli saja, sedikitnya 9 waduk di Miyun, Huairou, dan Pinggu serentak membuang air, menyebabkan 352 alur sungai pegunungan penuh banjir bandang. Banyak area terendam, jalan raya dan jembatan hanyut, air, listrik, dan jaringan komunikasi terputus.

Pada 31 Juli, otoritas Beijing mengumumkan bahwa hingga pukul 12.00 siang, korban tewas mencapai 44 orang dan 9 orang hilang. Dari jumlah itu, 37 orang tewas di Miyun, termasuk 31 korban dari Panti Jompo Taishitun. Namun, angka resmi ini langsung menuai keraguan luas dari publik. 

Sumber : NTDTV.com

Aksi Demo Meluas ke Sejumlah Daerah,  3 Orang Tewas Setelah Massa Membakar Gedung DPRD Makassar 

EtIndonesia— Massa yang marah membakar gedung dewan perwakilan rakyat daerah di Kota Makassar, Sulawesi Selatan menewaskan sedikitnya tiga orang dan membuat lima orang lainnya dirawat di rumah sakit. 

Dikutip The Associated Press, Sabtu (30/8/2025) Kebakaran di Makassar, ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, terjadi pada Jumat malam. Laporan televisi memperlihatkan gedung DPRD provinsi tersebut dilalap api semalam suntuk, membuat kawasan itu berubah menjadi warna oranye menyeramkan.

Tim penyelamat menemukan tiga jenazah pada Sabtu pagi, sementara lima orang dirawat di rumah sakit karena luka bakar atau patah tulang akibat melompat dari gedung, kata Fadli Tahar, seorang pejabat setempat di bidang kebencanaan.

Sementara itu, para pengunjuk rasa di Kota Bandung, Jawa Barat, juga membakar gedung DPRD pada Jumat, tetapi tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Di Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia, pengunjuk rasa menyerbu markas besar kepolisian daerah setelah merusak pagar dan membakar kendaraan. Aparat keamanan menembakkan gas air mata dan menggunakan meriam air, tetapi para demonstran melawan dengan kembang api dan pentungan kayu.

Kedutaan asing di Jakarta, termasuk Amerika Serikat, Australia, dan negara-negara Asia Tenggara, telah menyarankan warganya di Indonesia untuk menghindari lokasi demonstrasi atau kerumunan besar.

Ketenangan sebagian besar kembali ke ibu kota Indonesia pada Sabtu, saat pihak berwenang membersihkan mobil-mobil hangus, kantor polisi, dan halte bus yang dibakar oleh massa yang marah.

Presiden Prabowo Subianto, membatalkan kunjungan yang telah direncanakan ke Tiongkok minggu depan, dengan alasan meningkatnya protes di seluruh negeri.

 “Keputusan ini diambil dengan sangat hati-hati sambil tetap menjaga hubungan baik dengan pemerintah Tiongkok,” kata Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam sebuah pernyataan, seraya menambahkan bahwa Subianto telah menyampaikan permintaan maafnya kepada Beijing.

Subianto adalah salah satu dari sejumlah kepala negara dan pemerintahan yang diundang oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping untuk menghadiri Parade Hari Kemenangan di Beijing pada 3 September.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam konferensi pers pada Sabtu malam mengatakan protes di beberapa wilayah telah meningkat menjadi kerusuhan, dengan gedung-gedung dan fasilitas publik dibakar bahkan markas kepolisian pun diserang. 

“Situasi seperti ini tidak bisa lagi dianggap sebagai kebebasan berpendapat, melainkan tindakan kriminal,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa polisi dan militer “akan segera bertindak untuk memulihkan ketertiban umum.”

Lima hari aksi protes dimulai di Jakarta pada Senin, dipicu oleh laporan bahwa seluruh 580 anggota DPR menerima tunjangan perumahan bulanan sebesar 50 juta rupiah  di samping gaji mereka. Tunjangan yang diperkenalkan tahun lalu itu hampir 10 kali lipat dari upah minimum Jakarta.

Para pengkritik berpendapat bahwa tunjangan baru itu tidak hanya berlebihan tetapi juga tidak peka pada saat sebagian besar masyarakat sedang menghadapi kenaikan biaya hidup dan pajak serta meningkatnya pengangguran.

Protes meluas dan semakin keras setelah kematian seorang pengemudi ojek daring berusia 21 tahun bernama Affan Kurniawan. 

Sebuah video di media sosial yang tampaknya memperlihatkan kematiannya saat unjuk rasa di Jakarta pada Kamis mengguncang bangsa dan memicu kecaman terhadap aparat keamanan.

Kurniawan dilaporkan sedang menyelesaikan pesanan makanan ketika ia terjebak dalam bentrokan. Saksi mata mengatakan kepada televisi lokal bahwa mobil lapis baja dari satuan Brigade Mobil Polri tiba-tiba melaju kencang menembus kerumunan demonstran dan menabrak Kurniawan hingga terjatuh. Alih-alih berhenti, mobil itu justru melindasnya.

Pada Sabtu, ratusan pengemudi ojek daring dan mahasiswa di Bali menggelar aksi solidaritas atas kematian Kurniawan dalam sebuah protes langka di pulau wisata itu. Mereka menuntut reformasi kepolisian dan pembebasan orang-orang yang ditangkap selama aksi protes.

Para demonstran berbaris menuju markas kepolisian daerah Bali dan polisi antihuru-hara menembakkan gas air mata untuk memukul mundur mereka yang mencoba mendekati kompleks yang dijaga ketat. Para pengunjuk rasa membalas dengan lemparan batu, botol, dan suar.

Bentrokan antara polisi antihuru-hara dan pengunjuk rasa pecah di berbagai kota di Indonesia pada Jumat, termasuk di Medan, Solo, Yogyakarta, Magelang, Malang, Bengkulu, Pekanbaru, dan Manokwari di wilayah paling timur Papua.

Sekitar 950 orang ditangkap dalam aksi unjuk rasa di Jakarta saja hingga Kamis, menurut Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

Pihak berwenang mengatakan sekitar 25 polisi dirawat di rumah sakit dengan luka serius setelah diserang oleh pengunjuk rasa di Jakarta. Komnas HAM memperkirakan jumlah korban luka di pihak masyarakat jauh lebih besar.

Sumber : The Associated Press

Remaja 19 Tahun di Tiongkok Mengalami Kelumpuhan Setelah Menunduk dalam Waktu Lama

EtIndonesia. Seorang remaja di Tiongkok mengalami ketakutan terbesarnya ketika dia terbangun suatu hari tanpa merasakan apa pun di tubuhnya akibat kebiasaan yang semakin umum.

Seperti banyak remaja seusianya, Xiao Dong, seorang mahasiswa tahun ketiga berusia 19 tahun di sebuah universitas di Quanzhou, Provinsi Fujian, Tiongkok, menghabiskan banyak waktu menatap ponselnya. Namun, musim panas ini, konsekuensi dari kebiasaan sehari-harinya tersebut mengancam jiwanya.
Setelah mendapatkan pekerjaan musim panas mencuci piring dan mengelap meja dengan kepala tertunduk ke depan selama berjam-jam, tekanan pada pembuluh darah di dekat tulang belakangnya menjadi terlalu berat. Dia juga menghabiskan sebagian besar waktu luangnya dengan menatap ponsel, bermain gim video, dan menjelajahi platform media sosial.

Awalnya, dia mulai merasakan mati rasa di leher, lengan, dan kakinya, tetapi pada 30 Juli, dia terbangun tanpa merasakan apa pun di kakinya dan tidak bisa bergerak.

Xiao dibawa ke ruang gawat darurat, di mana dokter menemukan gumpalan darah besar di tulang belakang leher di segmen C4-T1, yang menekan sumsum tulang belakang dan menyebabkan tubuhnya, dari dada ke bawah, hampir lumpuh total.

Dokter mengatakan kepadanya bahwa menundukkan kepala secara terus-menerus dalam waktu lama telah merusak pembuluh darah abnormal di kanal tulang belakang, membentuk hematoma dan menyebabkan kelumpuhan akut.

Beruntung bagi pemuda itu, dokter melakukan operasi darurat untuk mengangkat gumpalan darah dan mencegah kelumpuhan permanen. Xiao Dong saat ini sedang memulihkan kendali atas anggota tubuh bagian bawahnya, tetapi dia diperkirakan akan pulih sepenuhnya.

Para ahli medis memperingatkan bahwa menundukkan kepala dalam waktu lama akan menyebabkan sirkulasi darah tersendat, yang pada gilirannya menyebabkan pembuluh darah vena membengkak dan melebar secara tidak normal. Jika darah tidak dialirkan secara efektif, hal ini akan menyebabkan gejala seperti sakit kepala, pusing, kelelahan berkepanjangan, disertai rasa kebas di bahu, leher, dan lengan.
Dalam kasus ekstrem, kongesti kronis dapat memengaruhi struktur pembuluh darah dan sistem saraf pusat, dengan konsekuensi parah seperti infark serebral atau hemiplegia. (yn)

Dendam Membuatmu Cepat Tua, Tapi Memaafkan Punya Kekuatan Penyembuhan

EtIndonesia. Apakah kamu pernah merasa disakiti oleh perkataan atau perbuatan orang lain? Saat terluka, marah dan ingin membalas dendam mungkin terasa memuaskan sesaat. Namun pada akhirnya, kitalah yang membayar harga paling mahal. Menyimpan dendam tidak hanya membuat hati tersiksa, tapi juga bisa mempercepat penuaan dan mengurangi usia. Sebaliknya, memilih untuk memaafkan justru memberi kekuatan penyembuhan yang luar biasa.

Dendam dan Amarah Membuat Cepat Tua

Saat hati penuh dendam dan amarah, wajah kita ikut menegang. Senyum terasa dipaksakan, alis mengerut, dan otot-otot wajah kaku. Akibatnya, orang yang sering menyimpan kebencian biasanya tampak lebih tua dibandingkan teman sebayanya.

Bagi mereka yang sudah berusia 60 tahun ke atas, perbedaannya semakin nyata. Mereka yang sering tersenyum terlihat jauh lebih muda daripada mereka yang penuh amarah. Dendam juga bisa mempercepat munculnya keriput, bahkan memicu penyakit kulit.

Mengapa? Karena kulit adalah organ terbesar tubuh, dan dia sangat dipengaruhi oleh emosi. Saat kita marah, cemas, atau takut, kulit bisa memerah, pucat, berkeringat, atau gatal. Jika dendam menumpuk lama, sistem saraf otonom menjadi tidak seimbang, dan berbagai masalah kesehatan pun bermunculan.

Dendam Bisa Memendekkan Usia

Ilmu pengetahuan modern menemukan bahwa dendam bisa memperpendek umur melalui telomer—“pelindung” di ujung DNA kita. Setiap kali sel membelah, telomer memendek. Saat telomer habis, sel mati.

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Biological Psychiatry (2012) menunjukkan, orang yang sinis, penuh kebencian, dan bermusuhan memiliki telomer jauh lebih pendek. Artinya, mereka menua lebih cepat. Dampaknya lebih kuat pada pria dibandingkan wanita.

Riset tahun 2017 juga menemukan bahwa pria yang sinis lebih berisiko terkena penyakit jantung, stroke, dan memiliki tingkat kematian lebih tinggi.

Memaafkan Adalah Obat yang Menyembuhkan

Sebaliknya, memaafkan orang lain memberi banyak manfaat bagi tubuh dan jiwa. Menurut Mayo Clinic (rumah sakit top di AS), memaafkan dapat:

·        Menurunkan tekanan darah

·        Menjaga kesehatan jantung

·        Meningkatkan harga diri

·        Memperbaiki kesehatan mental

·        Mengurangi kecemasan, stres, dan permusuhan

·        Membantu membangun relasi yang lebih sehat

·        Mengurangi gejala depresi

·        Menguatkan sistem imun

Dengan kata lain, memaafkan adalah kunci kesehatan jantung, pikiran, dan daya tahan tubuh.

Memaafkan Baik untuk Jantung

Peneliti dari Florida State University menemukan bahwa sifat pemaaf berkaitan dengan tekanan darah yang lebih stabil dan risiko penyakit jantung yang lebih rendah.

Menurut dr. Liu Borin, pakar nutrisi genetik, orang yang mudah memaafkan jarang mengalami pengerasan pembuluh darah. Sebaliknya, mereka yang pemarah lebih mudah mengalami hipertensi, yang berujung pada risiko kardiovaskular tinggi.

Memaafkan Mengurangi Kecemasan dan Depresi

Efek memaafkan menyebar ke berbagai aspek hidup. Dengan memaafkan, kecemasan berkurang, tidur lebih nyenyak, hormon lebih seimbang, dan risiko penyakit jantung pun menurun. Tidur berkualitas memungkinkan tubuh menghasilkan melatonin dan hormon pertumbuhan yang penting bagi regenerasi sel.

Memaafkan Membantu Melawan Kanker

Memaafkan juga dapat meningkatkan sistem imun, sehingga tubuh lebih mampu melawan kanker.

Lothar Hirneise, pakar terapi kanker alami asal Jerman, meneliti pasien-pasien kanker yang berhasil sembuh. Ia menemukan tiga faktor penting: perubahan pola pikir, perubahan pola makan, dan detoksifikasi total. Pasien yang bisa berdamai dengan perasaan dan memaafkan menunjukkan peningkatan imun yang signifikan.

Meditasi Membantu Mengikis Dendam

Meski kita tahu pentingnya memaafkan, sering kali sulit mengendalikan amarah saat stres datang. Di sinilah meditasi bisa membantu.

Penelitian menemukan bahwa meditasi membuat bagian otak bernama amigdala (pusat pengendali stres) mengecil, sementara korteks prefrontal (bagian otak untuk berpikir rasional) menebal. Hasilnya, orang yang rutin meditasi lebih mampu berpikir jernih, tidak mudah terseret stres, dan lebih positif dalam menghadapi hidup.

Bahkan, penelitian juga menemukan meditasi dapat menjaga panjang telomer, sehingga memperlambat proses penuaan sel.

Kesimpulan

Dendam adalah racun yang mempercepat penuaan dan mengurangi usia harapan hidup. Sementara itu, memaafkan adalah obat yang memperkuat tubuh, menyehatkan jiwa, dan membuat kita awet muda. (jhn/yn)

Berbuat Baik Bisa Mengubah Nasib, Benarkah?

EtIndonesia. Satu tindakan kebajikan bisa membuka jalan bagi perubahan besar dalam hidup seseorang.

Saat kita terjebak dalam penderitaan, saat merasa nasib begitu tidak adil, bukankah kita sering berharap bisa segera keluar dari kesulitan itu dan hidup bahagia? 

Orang-orang bijak di masa lalu kerap mengatakan: “Menanam kebajikan dan berbuat baik dapat mengubah nasib.” 

Tetapi, di zaman modern ini, berapa banyak orang yang masih percaya?

Kini, banyak orang lebih suka mengejar uang cepat, bahkan dengan cara-cara berisiko: pinjaman berbunga tinggi, spekulasi, bahkan penipuan. Hasilnya? Masalah yang tadinya kecil justru makin besar, hidup semakin kacau, dan beban bertambah. Padahal, sejarah dan kisah nyata dari para tokoh membuktikan: menjaga moral dan berbuat baik justru bisa mengubah garis hidup.

1. Pei Du Mengembalikan Ikat Pinggang

Pei Du, kelak menjadi perdana menteri di zaman Dinasti Tang, pada masa muda hidup miskin dan berkali-kali gagal ujian negara. Suatu hari, dia meminta seorang biksu menilik nasibnya. 

Sang biksu berkata: “Wajahmu kurang baik, garis hidupmu tidak bagus. Nasibmu berat, bisa-bisa engkau kelak mati kelaparan di jalan.”

Pei Du sangat sedih. Dia pun pergi ke Kuil Xiangshan untuk menenangkan diri. Di sana dia melihat seorang wanita berdoa, lalu buru-buru pergi. Tanpa sengaja, wanita itu meninggalkan bungkusan berisi sebuah ikat pinggang giok dan dua ikat pinggang dari tanduk badak—harta yang nilainya sangat tinggi.

Pei Du sempat tergoda untuk memilikinya, tetapi dia berpikir: “Ini pasti untuk kebutuhan penting, mungkin bahkan untuk menyelamatkan nyawa seseorang. Aku tidak boleh mengambilnya.

Maka dia menunggu wanita itu kembali.

Benar saja, menjelang malam, wanita itu datang dengan panik. Sambil menangis dia berkata, ayahnya ditahan karena difitnah, dan hanya bisa bebas dengan uang tebusan. Harta berharga itu adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa sang ayah.

Pei Du segera menyerahkan bungkusan itu tanpa mengambil sedikit pun. Wanita itu bersujud berterima kasih, bahkan memaksa agar dia menerima satu ikat pinggang, tapi Pei Du menolak.

Beberapa hari kemudian, sang biksu melihat wajah Pei Du kembali, dan kali ini berkata dengan penuh kagum : “Wajahmu berubah! Engkau telah berbuat kebajikan besar dengan menyelamatkan satu nyawa. Hidupmu kini penuh berkah. Masa depanmu akan mulia.”

Tak lama kemudian, Pei Du lulus ujian jinshi, kariernya melesat, hingga menjadi perdana menteri, memimpin pemerintahan lebih dari 20 tahun, dan meninggal di usia panjang—76 tahun.

2. Eisenhower Menolong Pasangan Lansia

Dwight D. Eisenhower, Presiden Amerika Serikat ke-34 sekaligus panglima tertinggi Sekutu di Eropa saat Perang Dunia II, juga memiliki kisah serupa.

Suatu hari, di tengah musim dingin bersalju, dia sedang menuju markas untuk rapat penting. Di perjalanan, dia melihat sepasang lansia Prancis kedinginan di pinggir jalan. 

Para ajudan menasihati agar jangan berhenti karena rapat sangat mendesak, tapi Eisenhower berkata: “Kalau kita menunggu orang lain, mereka sudah mati membeku.”

Dia turun, menolong mereka, memberikan selimut, lalu mengantar sampai ke rumah anak mereka di Paris.

Ternyata, keputusan itu juga menyelamatkan dirinya sendiri. Pada rute yang seharusnya dia lewati, pasukan Jerman telah menunggu dengan penembak jitu untuk membunuhnya. Karena dia terlambat akibat menolong lansia itu, nyawanya pun selamat—dan jalannya Perang Dunia II pun ikut berubah.

3. Bocah Pengemis Membangun Jembatan

Pada masa Dinasti Song, hakim agung Bao Zheng (Pak Bao) melewati sebuah desa dekat Kuil Taiping. Di sana ada seorang anak yatim berusia 12 tahun, cacat kakinya, hidup dari mengemis.

Meski miskin, hatinya penuh kebaikan. Dia melihat sungai besar yang tiap kali banjir membuat desa terisolasi. Ia pun bertekad membangun jembatan. Dengan tenaganya yang terbatas, dia setiap hari mengangkut batu dari gunung dan menumpuknya di tepi sungai.

Awalnya, orang-orang menertawakan. Tapi setelah bertahun-tahun, tumpukan batu itu menjadi bukit kecil. Akhirnya para warga tergerak untuk ikut membantu. Seorang dermawan bahkan menyumbang uang dan memanggil tukang untuk merampungkan jembatan.

Sayangnya, saat bekerja memecah batu, anak itu terkena serpihan dan kehilangan penglihatannya. Meski begitu, dia tetap berusaha. Setelah tiga tahun, jembatan akhirnya selesai. Namun tak lama setelah berjalan di atas jembatan yang baru, dia tersambar petir dan meninggal seketika.

Warga marah dan menilai Langit tidak adil. Bao Zheng yang lewat mendengar kisah itu, ikut bersedih. Dia menuliskan kata-kata di tangan bocah itu: “Lebih baik berbuat jahat daripada berbuat baik,” lalu pergi dengan hati getir.

Sesampainya di ibukota, dia dipanggil Kaisar untuk melihat bayi pangeran baru lahir yang terus menangis tanpa henti. Saat Bao Zheng mendekat, dia terkejut: di tangan sang bayi ada tulisan yang dia buat di tangan bocah pengemis itu. Hanya saja, bagi orang lain tulisan itu tampak seperti tanda lahir merah. Begitu Bao Zheng menghapus tulisannya, bayi pun langsung berhenti menangis.

Malamnya, Bao Zheng bermimpi pergi ke alam baka. Dia baru tahu bahwa bocah pengemis itu sebenarnya memiliki karma buruk tiga kehidupan: lahir cacat, buta, lalu mati disambar petir. Tapi karena dalam hidupnya dia berubah, berbuat baik membangun jembatan, neraka pun meringankan hukumannya. Seluruh utang karma tiga kehidupan ditebus sekaligus, dan dia dilahirkan kembali sebagai pangeran.

Kesimpulan

Kisah-kisah ini mengajarkan bahwa kebaikan tidak pernah sia-sia. Kadang balasan datang segera, kadang menunda untuk menghapus bencana yang lebih besar. Meski hidup terasa berat, jangan menyerah pada keputusasaan.

“Menanam kebaikan adalah jalan terbaik untuk mengubah nasib.” (jhn/yn)

Jangan Suka Menyalahkan Orang Lain

EtIndonesia. “Menyalahkan orang lain itu mudah, mengenali diri sendiri justru yang sulit.” Kata-kata Tolstoy ini bagaikan jarum kecil yang langsung menusuk sisi paling rapuh dari manusia.

Pernahkah kamu sadar? Saat kita menunjuk orang lain dengan jari telunjuk, sebenarnya tiga jari lainnya sedang mengarah pada diri sendiri.

Menyalahkan siapa pun, dalam hal apa pun, ibarat air kotor yang disiram keluar: memang membasahi orang lain, tapi cipratannya tetap akan mengotori diri sendiri.

Orang bodoh menggunakan cara menyalahkan untuk melampiaskan emosi—hasilnya hanya merusak hubungan, mengubah pihak yang seharusnya bersama-sama menyelesaikan masalah, menjadi sekadar “tukang lempar kesalahan”.

Menyalahkan = Memutus Jembatan Komunikasi

Orang bijak zaman dulu sudah bilang: “Bencana berasal dari mulut.”

Begitu pula dengan “menyalahkan” yang keluar dari mulut, daya rusaknya sangat besar.

Contohnya di zaman Kaisar Liang Wu. Seorang menteri bernama He Chen pernah menasihati dengan tulus soal banyaknya masalah pemerintahan. Namun, sang Kaisar justru marah besar, membantah keras, bahkan balik menuduh He Chen hanya ingin mencari nama. Akibatnya, suasana terbuka di istana langsung hilang. Semua pejabat ketakutan, memilih diam, hingga akhirnya kerajaan hancur dilanda pemberontakan.

Padahal, kata-kata yang awalnya penuh loyalitas itu, justru jadi pisau yang memutus ikatan terakhir penyelamat bangsa.

Seperti kata Socrates: “Hidup yang tak pernah diperiksa, tak layak dijalani.”

Menyalahkan orang lain hanyalah kabut yang menutup mata batin, sedangkan introspeksi diri adalah air jernih yang membersihkan hati.

Konfusius pun mengingatkan: “Tegaslah pada diri sendiri, ringanlah pada orang lain.”

Jika kita bisa keras kepada diri sendiri namun lapang dada kepada orang lain, dunia batin kita akan terasa lebih luas.

Akar dari Sifat Suka Menyalahkan

Mengapa seseorang terbiasa menyalahkan orang lain? Sesungguhnya, itu hanyalah cara untuk menutupi kelemahan dalam dirinya sendiri.

Seperti Kaisar Romawi Hadrian, dikenal berilmu tinggi, tetapi minder dengan telinga kecilnya. Saat seorang pelukis melukis potret dengan telinga sesuai kenyataan, Hadrian marah besar. Namun setelah bercermin, dia terdiam dan tertawa pahit: yang dia benci sebenarnya adalah diri sendiri yang tak berani menerima kenyataan.

Inilah hakikatnya: menyalahkan orang lain hanyalah bayangan dari ketakutan dalam hati.

Nietzsche berkata: “Siapa yang terlalu lama menatap ke dalam jurang, maka jurang itu akan menatap balik kepadanya.”

Begitu juga saat kita terlalu sibuk mencari kesalahan orang lain—sesungguhnya kita sedang berhadapan dengan bayangan kelemahan diri sendiri.

Laozi sudah lama mengingatkan: “Orang yang tahu orang lain adalah cerdas, tapi orang yang mengenal dirinya sendiri adalah bijak.”

Kebijaksanaan: Tidak Menyalahkan, tapi Mengampuni

Dalam hubungan sosial, menyimpan amarah dan menyalahkan hanya akan merusak. Sebaliknya, menahan diri dari menyalahkan bisa menjadi kunci membangun hubungan yang sehat.

Lihatlah kisah pejabat besar Dinasti Song, Lü Mengzheng. Suatu kali ada orang mengejeknya dari balik tirai: “Anak muda seperti ini pantas jadi pejabat negara?”

Namun dia pura-pura tidak mendengar. Saat rekannya ingin mencari siapa yang menghina, dia menahan: “Kalau tahu namanya, aku pasti akan dendam seumur hidup. Lebih baik tidak tahu.”

Sikap lapang ini menyelamatkannya dari konflik tak berguna, dan justru membawanya menjadi perdana menteri besar di kemudian hari.

Victor Hugo berkata: “Balas dendam yang paling mulia adalah pengampunan.”

 Mengampuni bukanlah kelemahan, justru itu tanda jiwa yang kuat.

Dale Carnegie juga mengingatkan: “Kritik itu tidak berguna, karena hanya membuat orang bertahan dan menutup diri.”

 Menyalahkan hanya membangun tembok, sedangkan memahami membangun jembatan.

Penutup: Kekuatan Sejati Ada pada Introspeksi

Menyalahkan itu seperti api kecil yang menyambar ke mana-mana. Pada akhirnya, dia akan menghanguskan hubungan, bahkan membakar diri sendiri. Sebaliknya, introspeksi adalah aliran sungai yang menyejukkan, pengampunan adalah atap tempat berteduh, dan tindakan nyata adalah batu pijakan menuju masa depan.

Orang yang benar-benar kuat adalah mereka yang mampu diam untuk mengasah diri, dan mengerti untuk merangkul orang lain.

Dengan melepaskan jari yang suka menunjuk, kita bisa membuka tangan untuk merangkul dunia—dan di sanalah kita menemukan ruang yang lebih luas, penuh tanggung jawab, penuh kehangatan, penuh kehidupan bersama. (jhn/yn)

Pria 32 Tahun Tak Mampu Sewa Rumah di Beijing, Naik Kereta Cepat 6 Jam PP untuk Kerja

Seorang pria berusia 32 tahun tidak mampu menyewa rumah di kawasan Second Ring Road Beijing. Setiap hari ia harus menempuh perjalanan dari Zhangjiakou ke Beijing dengan kereta cepat. Waktu pulang-pergi memakan 6 jam, dengan biaya transportasi bulanan lebih dari 4.000 yuan (sekitar Rp9 juta).

EtIndonesia. Blogger bernama “Commute Li Chengzi” mengunggah sejumlah video dengan judul “tantangan perjalanan kerja terjauh di internet.” Ia tinggal di Zhangjiakou, Hebei, dan bekerja di Distrik Xicheng, Beijing. Setiap hari ia menempuh perjalanan pulang-pergi sejauh 400 kilometer.

“Sekarang jam 5.30 pagi, sebentar lagi matahari terbit. Saya harus bangun dan cuci muka,” katanya dalam salah satu videonya. “Jam 5.50 sudah siap, lalu diam-diam keluar rumah. Tetangga masih tidur, komplek perumahan sunyi sekali. Bagi para perantau di Beijing, bangun jam segini sebenarnya tidaklah terlalu pagi.”

Ia berkendara ke Stasiun Kereta Cepat Zhangjiakou, memarkir mobil di basement dengan tarif 2 yuan per jam. Ia lalu naik kereta cepat pukul 06.53 dan tiba di Stasiun Beijing Utara pukul 08.17.

Dalam video terlihat banyak penumpang yang turun, sebagian besar berlari kecil ke pintu keluar. Ia pun ikut mempercepat langkahnya. “Kebiasaan terburu-buru ini hanya bisa dipahami oleh para pekerja,” ujarnya.

Pukul 08.22 ia memasuki mal CapitaMall, bersama kerumunan orang yang berlari menuju stasiun metro agar tidak terlambat. Dari situ, ia hanya perlu menyeberang jalan untuk sampai ke kantornya. Paling lambat pukul 08.30 ia sudah tiba. Seluruh perjalanan pergi memakan waktu sekitar 3 jam.

Selain perjalanan berangkat, ia juga merekam perjalanan pulang. Dalam salah satu video ia berkata bahwa hari itu ia lembur 1,5 jam dan baru bisa pulang pukul 19.30, merasa sangat lelah dan lapar.

“Jalanan masih macet, orang juga banyak. Kalau dibandingkan, mungkin saya bisa sampai rumah lebih cepat daripada sebagian orang yang menyewa rumah di Beijing. Para perantau biasanya baru sampai rumah setelah jam 9 malam,” ujarnya.

Ia menaiki kereta cepat pukul 20.03 dari Beijing Utara dan tiba di Zhangjiakou pukul 21.05, lalu membayar 18 yuan untuk parkir sebelum pulang dengan mobil.

“Di perjalanan, anak saya berkali-kali mengirim pesan suara, menanyakan kapan saya pulang. Itulah motivasi saya menempuh perjalanan antarprovinsi ini,” katanya.

Ia menambahkan, dengan kondisi ekonomi Tiongkok yang sedang sulit dan pekerjaan yang makin langka, bisa tetap bekerja di Beijing setiap hari sudah merupakan sebuah keberuntungan.

Sekitar pukul 21.30, ia akhirnya tiba di rumah dan menutup hari panjang perjalanan pulang-pergi.

Video perjalanan 6 jam pulang-pergi pria itu menuai diskusi hangat. Banyak netizen mengatakan waktu tempuhnya lebih lama daripada jam kerja, dan memuji ketekunannya: “Benar-benar punya tekad, salut.”

Namun ada juga yang bingung, bertanya, “Kalau benar begitu, kenapa tidak sewa rumah saja? Kereta cepat dan mobil juga mahal, ditambah fisik sangat capek. Biaya komuter terlalu tinggi. Bukankah lebih baik sewa rumah?”

Ia menjawab di kolom komentar: “Sewa rumah di (Beijing) Second Ring Road terlalu mahal.”

Pada 28 Agustus, ia memberi keterangan kepada Jimunews. Pria bermarga Li itu berasal dari Zhangjiakou, berusia 32 tahun. Sejak 2015 ia merantau ke Beijing, dan sejak 2023 mulai melakukan perjalanan antarprovinsi setiap hari, sudah lebih dari dua tahun. Ia bangun pukul 05.30 dan tiba di rumah sekitar pukul 20.40.

“Saya menghabiskan sekitar 6 jam sehari untuk pulang-pergi, dengan biaya transportasi bulanan lebih dari 4.000 yuan. Banyak yang menyarankan saya menyewa rumah dekat kantor, tapi biaya sewa di Beijing sangat tinggi. Saya juga tidak suka tinggal bersama orang lain. Jadi saya pilih tetap komuter, demi bisa pulang setiap hari menemani keluarga. Walaupun melelahkan, di Zhangjiakou saya belum menemukan pekerjaan yang cocok dan belum berencana berhenti,” ujarnya.

Tuan Li menjelaskan, setiap pagi memang banyak perantau dari pinggiran Beijing berangkat kerja ke ibu kota, tapi dari Zhangjiakou hampir tidak ada, karena jaraknya terlalu jauh, sekitar 400 km pulang-pergi.

Istrinya menambahkan, sang suami bekerja di bidang komputer, yang sulit ditemukan pekerjaannya di Zhangjiakou. “Anak kami berusia lima tahun, sangat membutuhkan pendidikan dan kehadiran ayahnya. Karena itu, meski sangat lelah, suami saya tetap ingin pulang setiap hari untuk menemani anak.”

Sumber : NTDTV.com