Rusia dan Ukraina Gelar Putaran Ketiga Perundingan, Fokus pada Gencatan Senjata dan Pertukaran Tahanan

Pada  Rabu (23 Juli), Ukraina dan Rusia  menggelar putaran ketiga perundingan di Istanbul, Turki. Ini merupakan dialog langsung pertama antara kedua belah pihak yang bertikai dalam dua bulan terakhir. Mengingat Amerika Serikat kembali meluncurkan bantuan militer untuk Ukraina dan memberikan batas waktu 50 hari kepada Rusia untuk menghentikan serangan—jika tidak akan dikenakan “tarif sekunder” sebesar 100%—perkembangan perundingan terbaru ini pun sangat diperhatikan.

EtIndonesia. Kepolisian Turki pada Rabu (23/7) meningkatkan pengamanan di sekitar Istana Çırağan di Istanbul, tempat perundingan dijadwalkan berlangsung. Para wartawan dan pihak lain yang ingin masuk ke lokasi harus melalui pemeriksaan keamanan.

Delegasi Ukraina bertemu terlebih dahulu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan sebelum melakukan pertemuan dengan delegasi Rusia.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan sehari sebelumnya bahwa delegasi Ukraina akan dipimpin oleh Menteri Pertahanan Rustem Umerov.

Zelensky menekankan bahwa fokus utama dari perundingan kali ini tetap pada dua hal: gencatan senjata dan pembebasan tawanan perang.

 “Tugas kita adalah berjuang untuk mewujudkan gencatan senjata,” kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. 

Zelenskyy juga menyatakan: “Kita harus terus mendorong pembebasan tawanan yang ditahan oleh pihak Rusia. Proses pertukaran baru telah dimulai. Diharapkan besok kita bisa membawa pulang orang-orang kita.”

Sementara itu, bersamaan dengan persiapan perundingan, militer Rusia pada hari Rabu memulai latihan angkatan laut berskala besar yang dinamai “Badai Juli.” Latihan ini melibatkan lebih dari 150 kapal perang dan 15.000 tentara, dengan wilayah latihan mencakup Samudra Pasifik, Arktik, Laut Baltik, hingga Laut Kaspia.

Karena latihan militer Rusia ini bertepatan dengan dimulainya putaran baru perundingan, hasil negosiasi tersebut pun menjadi sorotan besar dunia. (Hui/asr)

Laporan gabungan oleh reporter NTDTV, An Qi dan Yi Long

Analis Pakar Tentang Kepala Biro Khusus Keamanan Diganti Menjelang Pertemuan Beidaihe Partai Komunis Tiongkok 

Menjelang pertemuan Beidaihe Partai Komunis Tiongkok (PKT), terjadi perombakan intensif di jajaran pimpinan Kementerian Keamanan Publik, di mana kepala Biro Khusus Keamanan kini dijabat oleh Ling Zhifeng. Analisis menyebutkan bahwa hal ini mencerminkan semakin tajamnya pertarungan internal dalam tubuh PKT menjelang pertemuan penting tersebut.

EtIndonesia. Pemerintah PKT baru-baru ini mengeluarkan pemberitahuan mengenai pengangkatan dan pemberhentian pejabat. Dalam pemberitahuan tersebut, Ling Zhifeng diangkat sebagai Wakil Menteri Keamanan Publik sekaligus menjabat Kepala Biro Khusus Keamanan. 

Sementara itu, Wang Zhizhong—yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keamanan Publik dan Kepala Biro Khusus—dipindahkan menjadi Kepala Administrasi Imigrasi Nasional. Ling Zhifeng diketahui berasal dari faksi Zhejiang dan memiliki hubungan dekat dengan Li Qiang dan Cai Qi.

Pertemuan Beidaihe secara tradisional dianggap sebagai ajang penting bagi para petinggi PKT untuk mendiskusikan kebijakan dan urusan personalia strategis. Penggantian kepala Biro Khusus Keamanan menjelang pertemuan tersebut dinilai sebagai sinyal penyesuaian kekuasaan dalam lingkaran inti Xi Jinping, dan mencerminkan intensitas pertarungan kekuasaan di internal partai.

Analisis menunjukkan bahwa pengangkatan Ling Zhifeng kemungkinan bertujuan untuk melemahkan kekuasaan Menteri Keamanan Publik Wang Xiaohong, yang merupakan orang kepercayaan Xi Jinping, serta memperkuat kendali Cai Qi dan sekutunya dalam struktur kekuasaan tinggi.

“Pertama, kita bisa melihat bahwa ini merupakan pergeseran kekuasaan di internal PKT,” ujar pengamat politik Tiongkok, Tang Jingyuan. 

 “Hal kedua yang patut dicermati adalah Ling Zhifeng yang baru diangkat ini memiliki hubungan dekat dengan Cai Qi. Sebagai mantan Kepala Kantor Umum Komite Sentral, Cai Qi pada dasarnya sudah memegang kendali atas pengamanan para pejabat tinggi,” lanjutnya. 

“Ini mencerminkan bahwa menjelang pertemuan Beidaihe, mungkin telah terjadi pergeseran kekuasaan tertinggi di internal PKT. Para senior partai kemungkinan merasa tidak nyaman mempercayai Wang Xiaohong, yang merupakan loyalis setia Xi Jinping,” tambahnya. 

Sementara itu, Wu Zuolai, cendekiawan independen yang tinggal di AS berkata : “Saya melihat baru-baru ini banyak Wakil Menteri Keamanan Publik yang baru diangkat, termasuk kemunculan publik putra Hu Jintao. Semua ini menunjukkan bahwa ini bukan lagi era dominasi Xi, melainkan era ‘lima danau empat lautan’—dalam arti sistem kekuasaan yang kembali berbagi dan bagi-bagi kekuasaan serta keuntungan. Sistem seperti ini masih terus dimainkan.”

Beberapa analisis juga menyebutkan bahwa penggantian pejabat menjelang pertemuan Beidaihe terkait dengan penataan kekuasaan, dan mungkin merupakan langkah untuk semakin memperkuat posisi Xi Jinping.

Menurut Cai Shenkun, jurnalis senior yang bermukim di AS: “Wang Xiaohong sudah berusia 70 tahun. Pada usia tersebut, tidak mungkin lagi menjabat sebagai Menteri Keamanan Publik. Karena itu, posisi Kepala Biro Khusus harus diisi oleh seseorang yang cukup dipercaya dan dianggap bisa diandalkan.”

Beberapa pengamat juga berpendapat bahwa dalam struktur kekuasaan tingkat tinggi PKT saat ini, hanya ada dua faksi utama: faksi Xi dan faksi anti-Xi.

Wu Zuolai mengatakan: “Mereka (faksi anti-Xi) berusaha memperbaiki dan menambal kerusakan besar yang telah ditimbulkan Xi Jinping terhadap PKT. Secara keseluruhan, terlihat bahwa mereka mencoba menjaga agar kapal besar ini tidak karam, dengan secara bergiliran menciptakan pembagian kekuasaan untuk mencapai keseimbangan internal.”

Dari luar, upaya faksi anti-Xi untuk menyelamatkan situasi tampak seperti pembagian keuntungan terakhir sebelum PKT benar-benar runtuh. Namun partai yang sudah membusuk ini diyakini tak mungkin bisa pulih kembali. (Hui/asr)

Laporan oleh wartawan NTD Chen Yue dan Luo Ya

Gaza Dilanda Krisis Kemanusiaan, Utusan Khusus AS Akan Kunjungi Timur Tengah Dorong Gencatan Senjata

Pada Rabu (23 Juli), Menteri Luar Negeri Israel dan Ukraina mengadakan pertemuan di Kyiv untuk memulai kerja sama bilateral dan multilateral. Pemerintah AS menyatakan bahwa Utusan Khusus untuk Timur Tengah, Brett McGurk, akan mengunjungi kawasan Timur Tengah pekan ini untuk mendorong putaran baru perundingan gencatan senjata di Gaza, serta membuka jalur bantuan kemanusiaan baru guna mempercepat masuknya bantuan ke Gaza.

EtIndonesia. Israel melanjutkan serangannya ke Gaza pada Rabu (23/7) dini hari. Ledakan terus terjadi di Gaza bagian selatan, cahaya api menerangi langit malam.

Di sebuah jalan di Khan Younis, warga terlihat membawa bantuan kemanusiaan sambil berjalan cepat.

Pada hari yang sama, lebih dari 100 organisasi bantuan dan HAM, termasuk Médecins Sans Frontières (Dokter Lintas Batas), menandatangani pernyataan bersama yang memperingatkan bahwa kelaparan dan kekurangan gizi semakin meluas di Gaza. Mereka menyerukan kepada Israel dan Hamas untuk segera melakukan gencatan senjata dan mencabut semua pembatasan atas pergerakan bantuan kemanusiaan.

 “Kami berada di titik kritis. Kemampuan bertahan warga di sana sungguh luar biasa di tengah situasi seperti ini,” ujar Amanda Bazzarol, kepala divisi darurat Médecins Sans Frontières. 

Menanggapi hal tersebut, juru bicara pemerintah Israel David Mencer memberikan penjelasan dalam konferensi pers pada  Rabu.

 “Tidak ada kelaparan yang disebabkan oleh Israel di Gaza saat ini, namun ada kekurangan yang dibuat-buat oleh Hamas. Sering kali, publik tidak tahu fakta yang sebenarnya. Penderitaan yang terjadi adalah akibat ulah Hamas,” katanya.

Mencer juga menambahkan bahwa dalam satu jam terakhir, lebih dari 700 truk bantuan telah menunggu di sisi perbatasan Gaza untuk diambil oleh PBB. Ia menyebut bahwa kemacetan ini disebabkan oleh PBB dan merupakan hambatan utama dalam arus bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Pada hari yang sama, dalam konferensi pers di Kyiv, Menteri Luar Negeri Ukraina dan Israel menyatakan bahwa kedua negara sepakat untuk memperkuat kerja sama dalam menghadapi ancaman keamanan.

Menteri Luar Negeri Ukraina, Andriy Sybiha:  “Moskow, Teheran, dan Pyongyang telah membentuk aliansi rezim kriminal, mereka saling mendukung dan mengancam seluruh dunia bebas. Untuk menghadapi ancaman ini, kami sepakat memulai kerja sama bilateral dan multilateral.”

Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz:  “Hari ini kami sepakat untuk melakukan dialog strategis bilateral terkait ancaman dari Iran. Tindakan yang kami ambil terhadap senjata dan teknologi Iran turut berkontribusi terhadap keamanan Eropa dan Ukraina. Kami tidak akan membiarkan Iran melanjutkan ambisi nuklirnya dan dukungan terhadap terorisme.”

Sehari sebelumnya, juru bicara Departemen Luar Negeri AS Matthew Bruce dalam konferensi pers menyatakan bahwa utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Brett McGurk, akan mengunjungi kawasan Timur Tengah pekan ini untuk mendorong putaran baru gencatan senjata di Gaza.

Bruce juga menyampaikan bahwa pemerintahan Trump sedang berupaya membuka koridor bantuan kemanusiaan untuk Gaza guna mempercepat pengiriman bantuan ke wilayah yang dilanda konflik tersebut.

Matthew Bruce:  “Koridor bantuan perlu dibentuk, kedua belah pihak telah sepakat. Situasi kemanusiaan jelas menjadi fokus utama kami, dan seperti yang saya katakan kepada beberapa dari Anda sebelumnya, setiap hari selalu ada peluang untuk membuat keadaan menjadi lebih baik.”

Perwakilan Israel dan Hamas telah melakukan negosiasi selama beberapa minggu terkait putaran baru gencatan senjata, namun hingga kini belum ada kemajuan berarti. (Hui/asr)

Laporan oleh Zhao Fenghua, NTD News

Rahasia Kesehatan Terbaik: Tidak Perlu Uang, Cukup Miliki Hati yang Penuh Kasih

EtIndonesia. Seorang ilmuwan pernah melakukan penelitian selama tiga tahun terhadap hampir 700 orang lansia yang telah berusia lebih dari 100 tahun. Hasilnya mengejutkan—mereka jarang jatuh sakit, dan rahasia panjang umur mereka ternyata terletak pada satu hal: memiliki sikap mental yang positif.

Pernyataan ini sejalan dengan apa yang telah disampaikan oleh ahli pengobatan dari Dinasti Yuan, Luo Tianyi:  “Ketika hati kacau, segala penyakit akan muncul; ketika hati tenang, penyakit pun akan sirna.”

Jika batin dipenuhi kebingungan dan keinginan yang tak terkendali, maka tubuh akan mudah diserang penyakit. Sebaliknya, bila hati damai dan jiwa penuh kehangatan, maka tubuh akan terlindungi dari berbagai gangguan. Dengan kata lain, cara terbaik untuk menjaga kesehatan adalah memiliki hati yang penuh kasih dan welas asih.

Hati yang Penuh Kasih Membuat Orang Menjadi Lapang dan Pemaaf

Orang yang memiliki hati penuh kasih tidak pernah perhitungan dalam hal kecil. Mereka mampu memahami sudut pandang orang lain dan cenderung membela mereka daripada menyalahkan.

Ketika dihina atau disakiti, emosi mereka tidak serta-merta meledak. Mereka mampu memaafkan, bersikap toleran, dan batinnya senantiasa berada dalam ketenangan.

Seperti kata ahli kesehatan ternama dari Dinasti Jin, Ge Hong: “Biasakan diri dengan sikap lapang dan damai, bersikap tenang serta menjaga ketulusan hati, maka tubuh akan tentram dan bencana pun akan menjauh.”

Orang yang hatinya tenang biasanya jarang sakit. Karena emosi mereka stabil, aliran darah dan energi dalam tubuh pun tetap lancar. Mereka tidak menyimpan amarah, tidak diliputi kecemasan atau ketakutan. Semua dilepaskan dengan hati lapang, sehingga tubuh pun bebas dari hambatan.

Seperti pepatah bijak berkata: “Hati yang lapang satu inci, menjauhkan penyakit sejauh satu depa.”

Memaafkan adalah obat terbaik yang bisa dimiliki siapa pun.

Hati yang Penuh Kasih Melahirkan Rasa Syukur

Orangtua yang membesarkan kita tidak wajib melakukannya—karena itu, kita perlu belajar bersyukur. Begitu pula dengan alam semesta yang menyediakan sumber daya bagi kita, bukan karena kewajiban, melainkan karena kemurahan hati alam itu sendiri. Kita adalah bagian dari alam, dan yang kita nikmati hanyalah pemberian.

Ketika seseorang menyadari bahwa dunia ini tidak berputar mengelilingi dirinya, maka dia akan tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati dan tahu berterima kasih.

Sebaliknya, orang yang tidak bisa bersyukur akan selalu merasa dirinya paling penting. Mereka arogan, serakah, dan penuh tuntutan. 

Banyak orang kaya yang justru memilih untuk mendonasikan seluruh kekayaannya karena mereka memahami makna syukur yang sejati. Sementara orang lain sibuk mengumpulkan harta, mereka justru mengembalikannya kepada masyarakat.

Mereka tidak merasa “memiliki” kekayaan, tapi mengelolanya dengan rendah hati. Tanpa rasa serakah, hidup mereka menjadi sederhana dan jernih.

Seperti yang tertulis dalam Huangdi Neijing : “Mereka yang dapat menyempurnakan kebajikan dan tidak tergelincir, bisa hidup seratus tahun sesuai kodrat.”

Mereka yang tidak tahu bersyukur telah kehilangan kebajikan, dan cepat atau lambat akan menuai kesengsaraan.

Hati yang Penuh Kasih Menjadikan Seseorang Berjiwa Baik

Tabib besar Dinasti Tang, Sun Simiao, dalam karyanya Qian Jin Yao Fang menulis: “Barang siapa memelihara wataknya agar tetap baik, maka segala penyakit, baik dari dalam maupun luar, tidak akan muncul. Bahkan bencana pun tak akan terjadi. Itulah jalan besar dalam menjaga diri.”

Menjaga hati tetap baik adalah kunci utama untuk terbebas dari segala penyakit.

Setelah pensiun, Li Ka-shing—salah satu orang terkaya di Asia—mendedikasikan dirinya pada kegiatan sosial dan kesejahteraan publik. Ia rela terjun langsung ke berbagai organisasi amal, menyebarkan kehangatan dan kebahagiaan kepada masyarakat.

Kadang-kadang ia bekerja sampai larut malam—bahkan lebih sibuk daripada saat masih aktif di dunia bisnis. Keluarganya sampai khawatir dan memintanya lebih menjaga kesehatan. Namun, ia justru semakin semangat.

Katanya: “Yang paling penting dalam hidup adalah kebahagiaan batin. Kekayaan materi hanyalah pelengkap. Yang lebih berharga adalah kebahagiaan dan kelimpahan dalam hati.”

Ilmu kedokteran modern pun membenarkan: suasana hati yang bahagia mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh, membantu penyembuhan, dan mencegah penyakit. Hati yang penuh kasih bukan hanya membawa kebahagiaan, tapi juga menjadi sumber umur panjang dan kesehatan sejati.

Sun Simiao juga berkata: “Tanpa kebajikan dan moralitas, sekalipun seseorang minum ramuan abadi, tetap tidak akan berumur panjang.”

Kesimpulan: Inilah Rahasia Sejati Menjaga Kesehatan

Cara terbaik untuk merawat kesehatan adalah dengan merawat hati. Dan merawat hati artinya memupuk kasih sayang dalam diri.

Orang yang memiliki hati penuh kasih akan memperlakukan sesama dengan cinta, bersikap toleran dan murah hati, tidak diperbudak oleh harta, dan tidak terlukai oleh dunia. Mereka tidak diliputi rasa takut, juga tidak dikuasai oleh kekhawatiran.

Karena itu, mereka mampu menjalani hidup yang sehat dan panjang umur.(jhn/yn)

AS Capai Kesepakatan Tarif dengan Filipina, Jepang dan Indonesia, Uni Eropa Berpeluang Dapat Tarif 15%

Pada Rabu (23 Juli), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencapai tiga kesepakatan dagang besar dalam sehari dengan Filipina, Indonesia, dan Jepang. Dalam kesepakatan dengan Jepang, tarif impor diturunkan dari sebelumnya 25% menjadi 15%. Trump menegaskan bahwa kecuali negara-negara membuka pasarnya, maka tarif hanya akan dinaikkan, bukan diturunkan. Uni Eropa pun berpeluang mendapatkan perlakuan tarif 15%. Sementara itu, batas waktu negosiasi tarif dengan Tiongkok kemungkinan akan diperpanjang 90 hari.

EtIndonesia .Gedung Putih pada Rabu menjelaskan bahwa dalam kesepakatan AS-Jepang, Jepang berjanji memberikan skema investasi dan pinjaman ke AS senilai 550 miliar dolar AS, dan penggunaannya akan sepenuhnya ditentukan oleh Presiden Trump.

 “Kemarin, Presiden Trump mencapai sesuatu yang belum pernah dicapai presiden lain: beliau menyelesaikan dan mengumumkan kesepakatan dagang besar dengan Filipina, Indonesia, dan Jepang hanya dalam satu hari,” ujar juru bicara Gedung Putih, Karoline Levitt. 

Levitt menjelaskan:  “Presiden berhasil membuat Jepang berkomitmen untuk investasi sebesar 550 miliar dolar demi menghidupkan kembali industri Amerika.”

“Amerika akan menyimpan 90% dari keuntungan investasi dana 550 miliar dolar itu.”

Levitt menambahkan bahwa komitmen awal dari Jepang hanya sebesar 400 miliar dolar, namun setelah negosiasi dinaikkan menjadi 550 miliar. Dana ini terutama akan digunakan untuk sektor energi, semikonduktor, mineral penting, farmasi, dan industri perkapalan AS.

Pada  Selasa (22 Juli), Trump memberlakukan tiga tarif baru secara berturut-turut. Kemudian pada Rabu, ia menulis:  “Saya hanya akan menurunkan tarif jika negara-negara lain setuju untuk membuka pasar mereka. Jika tidak, tarif akan meningkat secara signifikan! Pasar Jepang kini sudah terbuka (belum pernah terjadi sebelumnya). Perusahaan Amerika akan berkembang pesat!”

Setelah pengumuman kesepakatan AS-Jepang, pada  Rabu dua diplomat Uni Eropa mengonfirmasi bahwa kemungkinan besar Uni Eropa akan mencapai kesepakatan dengan AS mengenai tarif 15%, seperti kesepakatan dengan Jepang.

Para diplomat juga menyebutkan bahwa produk seperti pesawat, kayu, beberapa jenis obat-obatan, dan produk pertanian kemungkinan akan mendapatkan pengecualian tarif. Namun, AS tampaknya belum bersedia menurunkan tarif 50% untuk produk baja.

Meski begitu, keberhasilan akhir dari kesepakatan tetap tergantung pada keputusan akhir dari Presiden Trump.

Pasar saham Eropa pada Rabu ditutup mendekati level tertinggi dalam dua minggu terakhir, dipimpin oleh sektor otomotif. Para investor memperkirakan kesepakatan antara AS dan Eropa akan tercapai dan mampu meredakan dampak tarif.

Saham sektor otomotif Eropa melonjak 3,7%, mencetak kenaikan harian tertinggi dalam hampir sebulan. Kenaikan saham produsen mobil Eropa seperti Mercedes-Benz, Volkswagen, dan Porsche berkisar antara 6,1% hingga 7,3%.

Data menunjukkan bahwa pada tahun 2024, total impor mobil dan suku cadang mobil dari Jepang ke AS melebihi 55 miliar dolar AS. Sementara dari Uni Eropa, nilainya sekitar 55,45 miliar dolar. Namun penjualan mobil buatan AS di pasar Jepang atau Uni Eropa jauh lebih rendah dibandingkan sebaliknya.

Sementara itu, untuk Tiongkok yang saat ini masih berada dalam status “gencatan tarif” dengan AS, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa tenggat waktu pemberlakuan tarif tambahan terhadap Tiongkok yang semula dijadwalkan pada 12 Agustus, kemungkinan akan diperpanjang 90 hari. Ia juga dijadwalkan menghadiri putaran ketiga perundingan dagang AS-Tiongkok yang akan digelar di Stockholm, Swedia pada  28 dan 29 Juli mendatang. (Hui/asr)

Laporan wartawan NTD, Wang Ziyi, dari Amerika Serikat

Dana Multi-Miliar Dolar Shandong, Tiongkok,  Senilai Rp 136,9 Triliun Runtuh, Para Investor Hancurkan Kantor Pusat

Sebuah platform investasi besar di Linyi, Provinsi Shandong, baru-baru ini dilaporkan mengalami gagal bayar (meledak). Para korban mendatangi kantor pusat untuk menuntut hak mereka, namun justru mendapat represi dari polisi, dan sejumlah orang ditangkap. 

Beberapa investor menyebut bahwa platform investasi yang sebelumnya mendapat dukungan penuh dari pemerintah PKT ini ternyata adalah skema Ponzi.

EtIndonesia. Platform investasi bernama “Shupai Yigou” di Linyi, Shandong, Tiongkok mengusung konsep “inovasi e-commerce + investasi keuangan”, yang berhasil menarik puluhan ribu investor. Namun baru-baru ini platform tersebut tiba-tiba meledak, dengan nilai dana yang terlibat mencapai sekitar 60 miliar yuan (setara hampir 130 triliun rupiah). 

Sejumlah besar investor mendatangi toko fisik perusahaan untuk menuntut pengembalian dana, tetapi malah dihadang oleh polisi dan mengalami penindasan, serta beberapa investor ditangkap.

Video yang beredar di internet menunjukkan bahwa pada 22 Juli, banyak investor berkumpul di kantor pusat Shupai Yigou untuk menuntut hak mereka. Pemerintah daerah menerjunkan polisi dalam jumlah besar dan kendaraan anti huru-hara untuk menghadang.

Platform investasi bernama “Shupai Yigou”

Beberapa orang yang ikut aksi dilaporkan ditahan oleh pihak kepolisian. Saat ini, kantor pusat platform tersebut telah disegel.

Diketahui bahwa platform investasi Shupai Yigou sebelumnya mendapat dukungan penuh dari pemerintah Linyi, bahkan pemerintah ikut membantu mempromosikan platform tersebut.

Seorang korban mengatakan kepada media Epoch Times bahwa platform ini adalah bentuk skema Ponzi, yaitu model penipuan berbasis sistem piramida yang dikemas dengan gaya baru.

Platform investasi bernama “Shupai Yigou”

Korban bernama Song Zheng mengungkapkan bahwa jika tidak membeli barang, maka tidak bisa mendapat keuntungan maupun menarik dana. Setelah membeli barang, baru bisa menarik dana sebagian, namun harga barang sangat tidak masuk akal. Misalnya, beras seharga 19 yuan dijual 400–500 yuan, ponsel yang harga pasarnya sekitar 800 yuan dijual 6000 yuan. Ia sendiri menginvestasikan 1 juta yuan (sekitar 2,2 miliar rupiah), namun belum pernah berhasil menarik dana.

Saat ini, ketua platform, Wang Shaoqing, dilaporkan  menghilang, nomor ponselnya sudah tidak aktif, alamat terdaftar platform telah dibatalkan, dan kantor juga telah dikosongkan. (Hui/asr)

Laporan wartawan NTD, Zhao Fenghua

Peristiwa Aneh di Rumah Sakit: Kasih Ibu yang Melampaui Ruang dan Waktu

EtIndonesia. Banyak sopir ambulans berpengalaman memiliki segudang kisah dramatis. Dalam momen-momen genting yang mempertaruhkan hidup dan mati, mereka menjadi saksi akan cahaya kemanusiaan—bahkan terkadang mengalami hal-hal yang sulit dijelaskan oleh logika atau ilmu pengetahuan. Salah satu kisah penyelamatan yang sangat menyentuh ini memperlihatkan bahwa “kekuatan cinta bisa melampaui batas ruang dan waktu.”

Kisah ini dibagikan oleh seorang netizen yang pernah menjalani wajib militer sebagai petugas pemadam kebakaran pengganti. Cerita ini berasal dari pengalaman pribadi seorang instruktur pelatihan bernama “Zhao Qu.” Menurut sang netizen, semangat dan dedikasi Instruktur Zhao sangat menginspirasi. Selama pelatihan, dia selalu dengan sabar dan penuh perhatian mengingatkan para peserta tentang hal-hal penting yang harus diperhatikan di lapangan, membangkitkan rasa tanggung jawab dan profesionalisme.

Suatu hari, Zhao Qu menerima panggilan darurat. Sebuah kecelakaan terjadi di jalan rawan yang sering dilewati truk pasir dengan kecepatan tinggi dan memiliki jarak pandang yang buruk. Hampir semua kecelakaan di sana selalu berakhir fatal.

Bersama seorang petugas lainnya, Zhao Qu segera menuju lokasi. Di sana mereka menemukan sebuah sepeda motor yang hancur terguling di pinggir jalan. Seorang wanita berambut panjang tergeletak tengkurap di samping motor tanpa gerakan. Saat diperiksa, mereka menemukan luka parah di kepala—otaknya bahkan sudah tersembur keluar. Zhao Qu pun menetapkan status OHCA (meninggal sebelum tiba di rumah sakit). Namun, tiba-tiba terdengar tangisan keras seorang anak perempuan kecil. Dia tergeletak tak jauh dari lokasi kecelakaan dan menangis histeris.

Setelah memeriksa kondisi si anak, mereka menemukan luka lecet dan beberapa patah tulang, namun untungnya tidak dalam kondisi yang mengancam nyawa. Gadis kecil itu terus menangis, memanggil mamanya sambil berkata: “Mama… sakit… sakit sekali…”

Sesuai prosedur, karena satu ambulans hanya boleh membawa satu pasien, dan prioritas diberikan kepada korban yang masih bisa diselamatkan, maka gadis kecil itu lebih dulu dinaikkan ke tandu dan dimasukkan ke dalam ambulans. Mereka pun memanggil ambulans kedua untuk mengevakuasi sang ibu yang sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Saat ambulans yang membawa sang anak tiba di rumah sakit, seorang petugas keamanan bergegas membantu membuka pintu belakang ambulans. Bersama tim medis, mereka mendorong tandu masuk ke ruang UGD. Zhao Qu dan petugas lainnya lalu mulai mengisi formulir laporan medis.

Namun, karena si anak tidak membawa kartu asuransi maupun identitas, mereka kesulitan mencatat data diri. Meskipun sadarnya penuh, sang anak terlalu emosional untuk bisa menjawab pertanyaan.

Seorang anak tanpa pendamping orang dewasa masuk ke UGD tentu menimbulkan tanda tanya. Saat Zhao Qu sedang berpikir bagaimana mengatasi masalah ini, petugas keamanan yang tadi membantu mendorong tandu mendekat dan bertanya: “Eh, ada apa ya?”

Zhao Qu menjawab: “Gini, anak kecil tadi tidak ada identitas. Kita tidak tahu harus nulis data apaan…”

Tanpa ragu, petugas keamanan itu langsung bilang: “Lho, kenapa tidak tanya aja sama ibunya?”

Zhao Qu tertegun. Saat ambulans tiba tadi, hanya dia dan rekannya yang turun. Sang ibu sudah dinyatakan meninggal dan belum dibawa ke rumah sakit. Tapi…

Petugas keamanan itu menambahkan: “Tadi saya lihat kok, ibunya juga turun dari ambulans bareng kamu. Dia masuk ke ruang UGD ngikutin tandu anaknya, saya lihat sendiri.” 

Sambil berkata begitu, dia menunjuk ke arah pintu ruang UGD.

Zhao Qu dan rekannya saling berpandangan, terdiam. Dalam sekejap, semua adegan di lokasi kejadian dan saat menurunkan tandu kembali terlintas di kepala mereka. Mereka yakin betul—tidak ada satu orang pun selain mereka dan anak itu di ambulans tadi.

Petugas keamanan itu hanya terlihat kebingungan. Tiba-tiba terdengar suara sirene ambulans lain, menandakan adanya pasien dalam kondisi kritis. Sejumlah perawat segera berlarian ke luar.

Petugas keamanan itu buru-buru berkata: “Saya bantu dulu ya, nanti kita obrolin lagi!”

Setelah menyelesaikan administrasi, Zhao Qu dan rekannya mengganti seprai tandu dan bersiap kembali ke markas. Saat baru saja menyalakan mesin mobil, petugas keamanan itu tiba-tiba mengejar dan mengetuk jendela dengan panik.

Zhao Qu menurunkan kaca jendela. Sambil terengah-engah, petugas itu berkata: “Tadi, yang baru dibawa masuk itu… mereka bilang sudah meninggal saat masih di jalan…”

Zhao Qu mengangguk pelan. Dia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini.

“Tapi orang itu… wajah dan bajunya persis sama kayak ibu yang barusan saya lihat turun dari ambulans! Saya masuk ke ruang UGD buat ngecek… tapi dia udah tidak ada!”

Petugas itu tampak ketakutan dan bingung.

Zhao Qu bisa memahami kegelisahan pria itu. Namun, yang dirasakannya bukanlah ketakutan, melainkan rasa haru dan takjub yang hangat di dalam hati.

“Meski dirinya sudah tidak lagi bernyawa, sang ibu tetap mencemaskan kondisi anaknya. Dia bersikeras menemani sang anak hingga ke rumah sakit, memastikan semuanya baik-baik saja. Bukankah itu bentuk cinta yang paling agung dari seorang ibu?”

Zhao Qu lalu menutup kisahnya kepada para peserta pelatihan: “Kalau nanti kalian sudah mulai bertugas di lapangan, ingatlah untuk selalu menjalankan penyelamatan dengan sepenuh hati. Itu bentuk penghormatan kita—bukan hanya pada diri sendiri, tapi juga pada mereka yang kita tolong.”

Sebelum ‘berpulang kepada-Nya’, sang ibu memastikan anaknya aman dan selamat. Mungkin saat itu dia masih sempat berbisik lembut di telinga putrinya: “Nak, kamu harus kuat ya. Mama ada di sini.”

Itulah kasih ibu—kekuatan yang mampu menembus ruang dan waktu. Bahkan ketika napas terakhir telah pergi, cinta seorang ibu tetap mencari cara untuk melindungi anaknya hingga detik terakhir.

Pertanyaannya sekarang: apakah kamu percaya kisah ini benar-benar nyata? Kalau melihat dari komentar para netizen, hampir tak ada yang meragukannya. Karena memang—kasih ibu, sering kali tak bisa dijelaskan… hanya bisa dirasakan.(jhn/yn)

Penyakit yang Ditularkan Nyamuk di Guangdong, Tiongkok Melonjak Pesat, WHO Khawatirkan Potensi Pandemi Global

Wabah virus Chikungunya  terjadi di Foshan, Guangdong, Tiongkok. Hingga  21 Juli,  dilaporkan lebih dari 2.600 kasus, meskipun jumlah sebenarnya diduga jauh lebih tinggi. Virus ini mirip dengan demam berdarah dan belum ada obat atau vaksin khusus. 

Para ahli memperingatkan bahwa nyamuk pembawa virus ini tengah bergerak ke arah utara dan bisa menyebar ke seluruh negeri. 

Saat ini, wabah sudah menjalar hingga Beijing dan Makau, menimbulkan kemarahan publik terhadap pemerintah yang dianggap menutupi kebenaran. Hari ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengeluarkan peringatan global, memperingatkan bahwa virus ini berpotensi menyebabkan pandemi global.

Seorang blogger Tiongkok memperingatkan:  “Waspadai virus Chikungunya! Saat ini belum ada obat maupun vaksin yang efektif, jangan lengah.”

EtIndonesia. Wabah virus Chikungunya pertama kali meledak di Foshan, Guangdong, Tiongkok.  Laporan resmi menyebutkan bahwa hingga 21 Juli, kota Foshan telah mencatat 2.659 kasus terkonfirmasi. Namun angka sebenarnya diyakini lebih tinggi.

Gejala penyakit Chikungunya mirip dengan demam berdarah, yaitu demam tinggi, nyeri sendi, nyeri otot, sakit kepala, kelelahan, dan ruam pada kulit.

 “Virus ini terutama ditularkan oleh nyamuk Aedes albopictus atau dikenal sebagai Asian tiger mosquito. Jenis nyamuk ini banyak terdapat di Asia Tenggara, termasuk Guangdong dan Guangxi. Dalam beberapa tahun terakhir, nyamuk jenis ini terlihat menyebar ke wilayah utara Tiongkok, jadi provinsi lain juga perlu waspada,” ujar Dr. Lin Xiaoxu, pakar virologi dari AS.

Menurut media pemerintah Tiongkok pada 22 Juli, saat ini Foshan telah menunjuk 53 rumah sakit sebagai pusat penanganan khusus. Kini telah menyiapkan lebih dari 3.600 tempat tidur isolasi anti-nyamuk. Selain itu, 35 rumah sakit tambahan kini juga telah ditugaskan untuk melakukan tes PCR virus Chikungunya.

Di saat yang sama, virus COVID-19 masih menyebar di Tiongkok, jumlah kematian mendadak tetap tinggi, termasuk di kalangan selebriti muda, aktor, dan polisi. Masyarakat mulai khawatir bahwa kebijakan “zero-COVID” akan diberlakukan kembali.

David Xu, mantan kepala bagian akupunktur di sebuah rumah sakit Tiongkok, mengatakan: “Sekarang sudah tidak terhitung berapa banyak jenis penyakit menular yang menyebar di Tiongkok. Ada yang diberitakan, ada juga yang tidak. Dalam waktu singkat seperti ini, penyebarannya sangat cepat, ini sudah mengarah pada tren ledakan wabah.”

Menurut pengumuman dari Dinas Kesehatan Distrik Shunde, Foshan, pada 15 Juli, kasus Chikungunya sebenarnya sudah terdeteksi sejak 8 Juli, namun pemerintah baru mengumumkannya beberapa hari kemudian. Kondisi sebenarnya masih belum jelas.

Saat ini, virus Chikungunya telah menyebar ke Makau dan Beijing pun telah terjangkit. 

Pada 22 Juli, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Beijing (CDC) mengeluarkan peringatan bahwa saat ini telah ada kasus impor dari luar negeri. Namun publik mencurigai bahwa pemerintah kembali melempar tanggung jawab.

David Xu mengomentari:  “Ini adalah kebiasaan Partai Komunis Tiongkok. Mereka selalu menyembunyikan dulu apa pun masalahnya. Setelah menutupi dan melihat situasi tak terkendali, barulah mereka memberitahu rakyat. Pola pikir mereka tidak pernah berpihak pada rakyat.”

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 23 Juli mengeluarkan peringatan darurat, mengingatkan bahwa wabah penyakit yang ditularkan melalui nyamuk, seperti 20 tahun lalu, bisa terulang kembali. Saat ini, wabah yang berkaitan dengan wilayah Samudra Hindia telah menyebar ke Eropa dan benua lain. (Hui/asr)

Laporan wartawan NTD, Tang Rui

Perang Meletus di Asia Tenggara: Jet Tempur F-16 Thailand Hancurkan Markas Kamboja dalam 7 Menit!

EtIndonesia. Pada 24 Juli 2025 pagi hari yang mengejutkan, Angkatan Udara Thailand meluncurkan serangan udara besar-besaran menggunakan enam jet tempur F-16, menargetkan sasaran militer di wilayah Kamboja. 

Serangan ini menghancurkan markas komando serta barak milik Brigade Infanteri ke-8 dan ke-9 Kamboja. Aksi militer ini menandai eskalasi serius dalam konflik kedua negara, yang saling menuduh sebagai pihak pertama yang memicu pertempuran.

Saling Serang dan Tuduhan yang Saling Bertolak Belakang

Pihak militer Thailand menuduh Kamboja telah lebih dulu menembakkan roket  ke wilayah Surin, Thailand. Serangan itu menyebabkan beberapa warga sipil terluka. Kamboja menggunakan roket BM-21 dan RM-70. 

Sebagai respons, Thailand melancarkan serangan balasan kilat: enam unit F-16 dikirim dan hanya membutuhkan tujuh menit untuk menghancurkan posisi militer Kamboja yang dituduh meluncurkan roket.

Namun, Kamboja mengklaim bahwa Thailand-lah yang pertama kali melanggar wilayah kedaulatan mereka, bahkan merusak situs sejarah berusia ribuan tahun yang sangat sakral bagi rakyat Kamboja. Menurut Kamboja, serangan udara Thailand adalah provokasi terang-terangan.

Serangan Balasan Kamboja dan Korban Sipil

Setelah markas militernya dihancurkan, Kamboja segera melancarkan serangan balasan. Roket kembali ditembakkan ke wilayah Thailand. Roket ini dikenal di kalangan militer sebagai “kembang api raksasa” karena tingkat akurasinya yang rendah—bahkan bisa meleset hingga 300 meter. Salah satu roket menghantam rumah sakit di wilayah Surin.

Video yang beredar menunjukkan tentara Thailand tiarap di tanah saat serangan berlangsung. Serangan roket dan artileri Kamboja diklaim menewaskan sedikitnya 11 warga sipil Thailand. Sebuah minimarket 7-Eleven di permukiman penduduk juga terkena dampak; seorang warga tampak tergeletak tak sadarkan diri di atas mobil pickup di depan toko.

Bentrok Senjata Berat dan Teknologi Perang Modern

Pertempuran terbuka terjadi di pos-pos penjagaan perbatasan kedua negara. Video dari garis depan menunjukkan suara tembakan intens dan penggunaan senjata berat. Pasukan Kamboja menggunakan peluncur roket dan senjata anti-tank buatan Tiongkok, sedangkan pasukan Thailand mengandalkan senapan runduk buatan Israel, dilengkapi sistem komunikasi radio modern.

Perang ini juga memperlihatkan penggunaan drone tempur. Thailand menerbangkan drone bersenjata mortir yang sukses menghancurkan pos dan gudang senjata Kamboja.

Operasi “Pertempuran Tanah Suci” dan Kejatuhan Diplomatik

Militer Thailand secara resmi mengumumkan dimulainya operasi militer besar-besaran bernama “Pertempuran Tanah Suci”. Dengan dukungan artileri, pasukan darat Thailand menyeberang ke wilayah Kamboja dan berhasil merebut kuil Preah Vihear serta pos perbatasan strategis di Jalan 62.

Kamboja membalas dengan menembaki posisi Thailand yang telah direbut. Ketegangan ini memuncak hingga kedua negara saling menarik pulang duta besar mereka. Seluruh perbatasan ditutup, warga sipil di wilayah perbatasan dievakuasi massal, dan Thailand secara resmi memutuskan seluruh hubungan diplomatik dengan Kamboja.

Akar Konflik: Rebutan Kuil Kuno Ribuan Tahun

Apa yang memicu perang ini? Jawabannya: sengketa sejarah atas dua kuil kuno, yaitu Preah Vihear dan Ta Muen Thom.

Pada tahun 1962, Mahkamah Internasional memutuskan bahwa kuil Preah Vihear—yang berada di wilayah utara Kamboja, tepat di tebing perbatasan—secara hukum menjadi milik Kamboja. Namun, status wilayah sekitarnya yang seluas 4,6 km² tetap menjadi titik sengketa. Thailand menolak keputusan ini, dan bentrokan bersenjata sporadis sempat terjadi dari 2008 hingga 2011.

Sementara itu, kuil Ta Muen Thom, yang terletak di pegunungan perbatasan, terdiri dari tiga kompleks candi. Meski sebagian besar bangunan berada di wilayah Thailand, Kamboja mengklaim sebagian sebagai warisan mereka. Di lokasi ini, patroli militer kedua negara kerap berhadap-hadapan dan membangun pos secara sepihak.

Ironisnya, meskipun kini kedua negara adalah penganut agama Buddha, kuil-kuil tersebut sejatinya merupakan candi Hindu kuno. Dua bangsa Buddhis kini saling bertempur demi dua kuil Hindu.

Campur Tangan Asing dan Perebutan Pengaruh Global

Dari sudut pandang geopolitik, konflik ini lebih dari sekadar sengketa wilayah. Ada perebutan pengaruh antara Amerika Serikat dan Tiongkok di belakang layar.

Thailand, yang menggunakan jet tempur F-16 buatan AS, hanya dapat menggunakannya dengan izin Washington. Artinya, penggunaan senjata buatan AS untuk menyerang pasukan Kamboja yang dipersenjatai Tiongkok merupakan sinyal bahwa konflik ini memiliki dimensi internasional yang sangat sensitif.

Hun Sen, Tiongkok, dan Pangkal Ketegangan

Tokoh sentral dari sisi Kamboja adalah Hun Sen, mantan anggota Khmer Merah yang bertanggung jawab atas berbagai kekejaman selama genosida Kamboja. Setelah pecah kongsi dengan rezim Pol Pot, Hun Sen bergabung dengan Vietnam dan naik menjadi perdana menteri.

Namun, dalam satu dekade terakhir, Hun Sen kembali berpaling ke Tiongkok. Kini, ia dikenal sebagai “tangan kanan” Beijing di ASEAN. Pangkalan militer laut Ream, yang secara resmi milik Kamboja, secara de facto telah berubah menjadi pangkalan militer Tiongkok.

Saat perang baru berlangsung satu hari, pemerintah Tiongkok langsung mendesak Thailand agar tidak menyerang pangkalan Ream atau fasilitas Tiongkok lainnya di Kamboja. Hal ini menunjukkan kekhawatiran Beijing atas ancaman terhadap kepentingan militernya di Asia Tenggara.

Foto Blunder dan Isu Kaburnya Hun Sen ke Beijing

Setelah perang meletus, muncul rumor bahwa Hun Sen telah melarikan diri ke Beijing. Untuk membantah, ia mengunggah foto dirinya tengah “memimpin operasi militer” melalui Facebook.

Namun, unggahan itu justru menimbulkan kekacauan baru. Peta militer rahasia terlihat jelas dalam foto, sehingga netizen mengejeknya dengan pertanyaan, “Apakah Anda sudah pikun?” Tak lama kemudian, foto itu dihapus, menimbulkan spekulasi bahwa Hun Sen mungkin secara tak sengaja—atau sengaja—membocorkan strategi militer ke Thailand.

Kesimpulan: Perang yang Tak Terduga, Dampak Global

Perang Thailand–Kamboja yang meletus secara tiba-tiba telah mengguncang Asia Tenggara. Selain menimbulkan korban jiwa dan kehancuran, konflik ini juga menjadi medan benturan kepentingan global antara kekuatan besar dunia.

Dengan kedua negara bersenjata lengkap, terlibat langsung dalam pertempuran darat dan udara, serta hilangnya jalur diplomasi, pertanyaan besarnya kini adalah: akankah perang ini meluas, atau dapat segera dihentikan sebelum berubah menjadi krisis kawasan yang tak terkendali? (***)

Paruh Kedua dalam Hidup: Belajarlah Menyiapkan Keberanian untuk Menjadi Tua

EtIndonesia. Percayalah bahwa dirimu tetap “bernilai”, jalani hidup saat ini dengan sebaik-baiknya, dan usahakan agar dirimu hari ini lebih baik dari kemarin.

Menjelang akhir tahun, banyak orang tenggelam dalam tumpukan laporan dan catatan akhir tahun, sambil diam-diam merenung: waktu berlalu begitu cepat. Rambut beruban bertambah lagi beberapa helai, teman sebaya ada yang telah berpulang, persendian makin kaku dari tahun ke tahun, daya tahan tubuh pun kian melemah…

Semua ini menandakan: kita mulai menua. Daya fisik dan penampilan perlahan memudar, dan kemunduran pun mulai terasa mengikuti di belakang.

Bisa jadi, di paruh kedua hidup ini, kreativitas dan momen-momen luar biasa yang dulu sering kita alami, seolah mulai menjauh.

Namun, pandangan ini ditantang oleh penulis Jepang terkenal, Ichiro Kishimi. 

Dalam bukunya “Keberanian Menjadi Tua”, dia menulis:

“Dalam hidup, justru jalan menurunlah yang paling indah. Kamu tak perlu lagi memaksakan diri untuk terus mendaki, karena masa puncak telah berlalu. Tapi kamu masih bisa melangkah ke depan, dengan pola pikir menambah, bukan mengurang, menjadikan setiap pencapaian yang telah kamu kumpulkan sebagai nilai tambah untuk dirimu sendiri.”

Jangan takut menjadi tua. Pelajari cara menjadi tua. Maka, hidup pun akan menyuguhkan babak kedua yang tak kalah indah.

Penuaan Itu Tidak Ditentukan Angka

Memasuki usia paruh baya, kita sering merasa seolah ada garis tak kasat mata di depan. Dan saat melewati garis itu, semua kemampuan kita akan cepat lenyap—secepat dulu saat kita memperolehnya di masa muda.

Hanya saja, di mana garis itu berada, tiap orang punya pandangan yang berbeda. Ada yang menganggapnya di usia 35, ada yang bilang 50, bahkan ada yang merasa garis itu selalu berada di depan sana—tak pernah benar-benar terlampaui.

Dalam film dokumenter “Belajar Hingga Tua”, penulis Zhou Yijun mewawancarai 40 orang lansia di sebuah komunitas manula:

·        Seorang nenek berusia 96 tahun mulai belajar puisi klasik Tiongkok di usia 80, dan kini mengajar kelas apresiasi puisi tiap pekan, serta tengah menulis sebuah buku.

·        Seorang profesor berusia 85 tahun menghabiskan lebih dari 9 tahun untuk menulis naskah sepanjang 5 juta kata.

·        Para penghuni komunitas lain juga rutin mengikuti kelas sudoku setiap hari, melatih otak bagian prefrontal dengan perhitungan yang kompleks agar tetap tajam dan mampu belajar.

Di internet, kita sering melihat pertanyaan seperti:
#UsiaMendekati50MasihBisaBelajar?
#BelajarDiUsiaParuhBayaMasihAdaGunanya?

Di balik pertanyaan-pertanyaan itu, terselip kegelisahan yang sama:  “Apakah sudah terlambat?”

Selama Masih Bernapas, Tidak Pernah Terlambat

Kishimi sendiri mulai belajar bahasa Korea di usia 60. Meskipun tenaga dan daya ingat tak sebaik dulu, pengalaman belajarnya selama bertahun-tahun membantunya menemukan cara-cara belajar yang lebih efisien. Hasilnya? Dalam dua tahun, dia sudah bisa membaca bebas tanpa bantuan.

Dalam sebuah seminar, saat membagikan pengalamannya, seorang pria tua berdiri dan berkata bahwa dia juga mulai belajar bahasa Mandarin di usia 60-an, lalu menyemangati para peserta:

“Belajar itu tak pernah ada kata terlambat.”

Menurut Kishimi, banyak orang sulit mempercayai hal itu karena mereka belum bisa menerima “diri yang tidak sempurna”. Mereka merasa dirinya sudah terlalu tua, ingatan mulai lemah, waktu pun terbatas—mana mungkin masih bisa belajar keterampilan baru?

Padahal kenyataannya, selama kita berusaha sekeras saat muda, kita tetap bisa menguasai bahasa baru, menjelajahi bidang baru, dan meraih prestasi baru.

Kuncinya adalah:

·        Belajar menghapus nafsu berkompetisi dan hasrat untuk selalu menang.

·        Tidak terus-menerus terjebak dalam penilaian orang lain.

·        Belajar bersukacita atas hal yang dulu belum bisa kita lakukan, tapi hari ini akhirnya bisa.

Selama matahari masih terbit esok hari, kegembiraan semacam itu akan selalu bisa diulang. Dengan keberanian untuk terus maju, kita punya waktu tak terbatas untuk mewujudkan hal-hal yang dulu tertunda.

Kurangi Alasan, Tambah Keberanian

Banyak orang bilang, memasuki usia paruh baya kita harus belajar “mengurangi”: mengurangi beban, menghemat energi. Tapi kadang, pola pikir “menambah” justru lebih penting.

Saat Kishimi menjalani operasi besar di usia 50-an, proses pemulihannya sangat lambat dan membosankan. Tapi dia menemukan bahwa cara terbaik menjaga semangat adalah tidak membandingkan diri dengan orang lain, tapi cukup membandingkan diri dengan dirinya kemarin. Maka, setiap kemajuan kecil pun terasa seperti kemenangan besar.

Sebaliknya, orang yang mudah menyerah biasanya hanya menghitung kekurangan:

“Aku jauh dari versi ideal.”

 “Aku kalah jauh dari orang-orang seumuranku.”

Dan setelah hitungan itu selesai, semangat pun lenyap.

Ubah Pola Pikir: Jadikan Kemajuanmu sebagai Nilai Tambah

Awal tahun ini, seorang teman mulai mengalami tekanan darah tinggi dan berat badan yang naik drastis. Ia pun membuat target: jalan kaki 10.000 langkah per hari.

Awalnya banyak “tapi”:

·        “Aku mau keluar, tapi tumitku sakit.”

·        “Tumitnya sudah mendingan, tapi cuaca lagi buruk.”

·        “Cuaca sudah bagus, tapi kerjaan hari ini bikin capek banget.”

Namun setelah setengah tahun berjalan—walau kadang terhenti—ia mulai membentuk pola pikir baru:

“Hari ini hujan, tapi aku tetap jalan pakai payung—lebih baik dari kemarin yang ogah keluar rumah.”

 “Hari ini kerjaan berat, tapi aku tetap capai target—lebih baik dari kemarin yang cuma rebahan.”

Setahun kemudian, kebugarannya meningkat drastis. Teman-temannya pun mulai tergugah:

“Aku juga harus mulai olahraga. Tapi sekarang aku terlalu gemuk, baru jalan dikit aja udah ngos-ngosan…”

Temanku cuma tersenyum dan bilang: “Enggak apa-apa, mulai aja pelan-pelan. Yang penting terus jalan.”

 Sayangnya, si teman belum juga mulai. Mungkin masih terjebak dalam “tapi-tapi”-nya sendiri.

Dari “Tapi” ke “Mungkin Bisa”: Keberanian untuk Melangkah

Coba lepaskan semua alasan “tapi”, dan katakan pada diri sendiri:  “Mungkin aku bisa.”

 Langkahkan kaki dulu. Lihat apa yang terjadi.

Alih-alih terus mengurangi poin karena belum mencapai versi ideal, tambahkan poin dari setiap kemajuan kecil yang kamu raih hari ini.

Kamu akan sadar—usia dan penyakit hanyalah label. Nyatanya, masih banyak hal yang bisa kamu capai.

Nilai Diri Tidak Hilang Saat Tua—Kitalah yang Harus Menemukannya

Penulis Amerika Arthur Brooks pernah mendengar seorang pria tua di belakangnya di pesawat mengeluh pada istrinya: “Aku sudah tua dan tak berguna. Tak ada yang membutuhkan aku lagi.”

Sang istri menjawab dengan nada kesal. Brooks pun menoleh—dan terkejut: pria itu adalah seorang tokoh terkenal. Dia pun terdiam, merenung: “Kalau tokoh sekelas dia saja merasa tak bernilai setelah tua, bagaimana dengan orang biasa?”

Itulah kekhawatiran nyata:  Ketika menuruni puncak karier, bagaimana cara menjaga semangat hidup?

Hidup Berarti Selama Kita Masih Bermanfaat

Dalam kelas menulis online, aku bertemu seorang peserta berusia 60 tahun. Dia berkata, setelah pensiun, dia merasa sepi dan tak lagi dibutuhkan. Anaknya baru pindah keluar kota, cucu belum lahir, dan suami sibuk bekerja.

Dia sempat merasa “tak berguna”—namun semua berubah setelah ia membaca rubrik kehidupan yang menginspirasi.

Dia membayangkan dirinya di usia 80: seperti apa bentuk tubuhnya? Kesehatannya? Mentalitasnya? Lalu dia mulai merancang ulang hidupnya dari sekarang.

Dia membangun kebiasaan sehat, mengejar hobi yang tertunda, bahkan membuka akun media sosial untuk menulis. Kini dia punya komunitas pertemanan baru, menjalani hidup yang aktif, dan keluarganya merasa tenang melihat kondisi mentalnya yang stabil.

Hidup yang Bernilai = Bermanfaat, Sekecil Apa pun Itu

Kishimi menyimpulkan bahwa rasa bernilai sering muncul ketika kita merasa bisa memberi manfaat bagi orang lain. Saat kita merasa tidak bisa lagi “berkontribusi”, kita mulai merasa tidak berguna.

Padahal, setiap tindakan kecil yang dilakukan dengan sepenuh hati di saat kita masih mampu, adalah bentuk nilai tertinggi dalam hidup.

Seperti ibu berusia 60 tadi—menjaga kesehatan, tidak merepotkan keluarga, membangun kehidupan sosial positif, menginspirasi orang lain. Bukankah itu sangat bernilai?

Dua Kurva dalam Hidup: Saatnya Pindah Jalur

Arthur Brooks dalam bukunya “Midlife Awakening” menyebut ada dua “kurva” kehidupan:

1. Kurva pertama adalah masa muda: penuh semangat, pencapaian, kreativitas, dan kekuatan ingatan.

2. Kurva kedua dimulai saat semua keunggulan itu mulai menurun.

Banyak orang salah dengan terus berpegang pada kurva pertama, padahal harusnya segera beralih ke kurva kedua—yang menawarkan hal berbeda:  Kemampuan berpikir sistematis, menyampaikan ide, dan kebijaksanaan yang makin matang.

Paruh kedua hidup bukan sekadar masa penurunan. Ia juga adalah waktu untuk berganti jalur—dengan kebebasan dan kejutan baru.

Tua dengan Anggun: Tidak Perlu Takut, Asal Siap

Aktris legendaris Anita Yuen pernah ditanya, bagaimana cara menua dengan elegan?

Dia justru balik bertanya: “Kenapa kamu yang masih muda sudah khawatir soal menua?”

Sang pembawa acara menjawab: “Karena bisa menyambut usia tua dengan tenang adalah kemampuan yang ingin dimiliki setiap orang paruh baya.”

Jawaban itu benar adanya.

Seperti yang disampaikan Anita Yuen dalam video itu:

“Jangan hanya fokus pada menua itu menakutkan. Tatap ke depan dengan berani. Nikmati setiap pencapaian yang berhasil diraih hari ini.  Lewati tembok ‘tapi’, bangun semangat dengan pola pikir ekstra.  Percayalah dirimu tetap berharga. Rawat hidup saat ini sebaik mungkin. Jadikan hari ini sedikit lebih baik dari hari kemarin.”

Akhir kata, semoga kita semua ingat:

Paruh kedua kehidupan, meskipun mungkin dibayangi kehilangan dan kelemahan, tetap penuh peluang untuk bertumbuh dan bertransformasi. (jhn/yn)

Orang yang Bernasib Malang, Sekilas Saja Sudah Terlihat, Inilah Tiga Ciri Umum yang Sering Menyertainya

EtIndonesia. Tiongkok memiliki pepatah lama yang berbunyi: “Dalam hidup, sering kali terjadi hal yang tidak sejalan sesuai harapan.”

Pepatah ini mencerminkan realitas bahwa hidup tidak selalu membawa kesenangan. Dalam pandangan agama-agama Barat pun, penderitaan dalam hidup dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari takdir manusia. Manusia lahir dengan dosa asal, dan hanya melalui perbuatan baik serta doa sepanjang hidup, seseorang dapat membersihkan jiwanya dan menuju penebusan.

Jadi, baik di Timur maupun di Barat, banyak orang percaya bahwa esensi hidup adalah penderitaan.

Namun, sumber penderitaan manusia tidak selalu berasal dari kondisi hidup yang sulit secara nyata. Sering kali, rasa sakit itu muncul dari perbandingan dengan orang lain. Selalu ada orang yang lebih hebat di luar sana.

Ketika kita merasa sudah cukup bahagia, tiba-tiba kita melihat orang lain yang hidupnya lebih baik dari kita.

Dan saat perbandingan itu muncul, rasa puas pun menghilang, tergantikan oleh ketidakpuasan yang mendalam—yang membuat beban batin kita kian berat.

Meskipun ada pepatah yang mengatakan “banyak jalan menuju Roma”, namun kenyataannya, ada orang yang sudah berdiri di depan gerbang Roma sejak lahir. Mereka lahir dari keluarga kaya, penuh cinta dan dukungan sejak kecil, hidup mereka berjalan lancar dan tanpa kekurangan. 

Sebaliknya, ada pula orang yang lahir dari keluarga miskin—meski bekerja keras seumur hidup, mereka tetap sulit keluar dari jerat kemiskinan. Perbandingan inilah yang membuat orang semakin merasa bahwa takdir itu tidak adil.

Seperti kata orang: “Tanpa perbandingan, tak akan terasa sakitnya.”

Dan pada akhirnya, orang-orang yang kerap ditimpa kesialan hidup, biasanya memperlihatkan tiga ciri yang bisa dikenali secara kasat mata.

1. Raut Wajah dan Aura Seseorang Mencerminkan Kebahagiaan atau Penderitaan

Orang bijak zaman dulu sering berkata: “Wajah mencerminkan isi hati.”

Artinya, keadaan batin seseorang akan tampak dari raut wajah dan perilakunya. Rasa bahagia atau menderita bukan hanya bisa terlihat dari kondisi hidup secara materi, tapi lebih dalam lagi—bisa dibaca dari hati seseorang.

Sepanjang sejarah, kita sering melihat orang yang hartanya berlimpah, namun karena jiwanya kosong, ia hidup dalam kesedihan dan kesendirian. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, namun memiliki hati yang kuat dan positif—hidupnya justru terasa lebih kaya dan bermakna.

Orang yang sering ditimpa kemalangan biasanya terlihat dari wajah yang suram, ekspresi yang lesu, dan rambut kusam tak terawat. Karena terlalu lama berada dalam tekanan, mereka kehilangan semangat untuk merawat diri. Akhirnya, penampilan fisik mereka pun ikut tenggelam dalam kelelahan hidup.

Ciri lain yang mencolok adalah wajah selalu cemberut, penuh kerutan yang sulit mengendur. Wajah mereka seakan menyimpan beban kecemasan dan ketidakpuasan.

Siklusnya pun menjadi lingkaran setan:

Hidup yang tidak bahagia membuat hati tertekan, wajah pun penuh kesedihan. Tapi karena itu, orang-orang jadi enggan mendekat. Akibatnya, mereka makin kesepian, dan penderitaan batin semakin bertambah. Dalam jangka panjang, hal ini turut memengaruhi karier, kondisi ekonomi, dan keseimbangan mental mereka.

Penelitian psikologi modern menunjukkan bahwa sikap optimis bahkan dapat membantu seseorang melawan penyakit berat seperti kanker. Orang yang optimis mampu menjaga semangat, dan semangat ini mampu membantu proses pemulihan dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Sebaliknya, mereka yang hidupnya penuh keluhan dan kecemasan, biasanya memancarkan sorot mata yang redup—seolah kehilangan ketertarikan pada dunia.

Kesimpulannya: Jika ingin mengubah nasib, mulailah dari dalam diri—perbaiki cara pandang terhadap hidup.

Latihlah hati untuk melihat hal positif dalam setiap cobaan.  Pelan-pelan bangun semangat optimis dalam diri.  

Lingkungan yang bersih dan tertata juga membantu menumbuhkan energi positif—karena seperti kata pepatah:  “Meski rumah sederhana, jika hati mulia, tetap terasa nyaman.”

2. Terlalu Baik Hati Justru Sering Jadi Korban

Dalam kehidupan nyata, kita sering melihat orang yang berperilaku lembut dan penuh toleransi, justru sering mengalami kesulitan dalam hubungan sosial dan pekerjaan.

Contohnya, di dunia kerja: Jika seseorang terlalu baik dan tidak tahu cara menolak permintaan yang tidak masuk akal, maka dia akan mudah dijadikan sasaran eksploitasi.  Orang lain yang malas akan melimpahkan pekerjaan mereka padanya. Dan karena terlalu baik, dia selalu berusaha memahami dan membantu. Namun ironisnya, jarang mendapat balasan yang setimpal—bahkan sering jadi sasaran empuk untuk dimanfaatkan terus-menerus.

Dalam pergaulan pun demikian. Orang yang terlalu mudah mengalah, terlalu sering mengorbankan diri, lama-lama akan dianggap “biasa saja”. Awalnya dipuji baik, namun akhirnya malah kehilangan nilai diri. Orang lain mulai menganggap semua pengorbanannya sebagai hal yang sewajarnya.  Ketika suatu hari dia ingin menegaskan pendapatnya, justru malah dianggap egois.

Jadi, banyak orang yang hidupnya berat bukan karena takdir, tapi karena terlalu banyak mengalah dan selalu mendahulukan orang lain.

Kalau ingin memperbaiki nasib, kita harus mulai berani berkata “tidak” saat memang perlu melindungi kepentingan diri sendiri. Ketika beban sudah terlalu berat, belajarlah meminta bantuan, jangan menanggung segalanya sendirian.

3. Suka Mengeluh, Tapi Tak Mau Berjuang

Orang yang hidupnya berat juga seringkali punya satu kesamaan: Suka mengeluh.

Mereka selalu merasa nasib tidak adil.  Selalu menyalahkan latar belakang keluarga, kondisi lingkungan, atau perlakuan orang lain.

Mereka pikir dengan mengeluh, beban hati akan berkurang. Padahal kenyataannya, keluhan tidak pernah mengubah apa pun.  Yang berubah hanyalah suasana hati—dan itu pun ke arah yang makin buruk.

Biasanya, orang-orang seperti ini akan menyalahkan segala sesuatu di luar dirinya, tanpa pernah mau bercermin ke dalam. Mereka merasa diri cukup cakap, namun tidak berhasil karena ketidakadilan dunia.

Namun sebenarnya, pola pikir semacam itu terbalik. Lingkungan memang punya pengaruh, tapi faktor utama yang bisa mengubah nasib adalah usaha dan pilihan pribadi.

Berhenti mengeluh, dan mulai bertindak.  Alih-alih menyesali situasi, gunakan tenagamu untuk menyusun ulang strategi hidup.

Hadapilah tantangan dengan kesadaran penuh.  Ubah pola pikir negatif menjadi kekuatan untuk tumbuh. Karena keluhan tidak akan memperbaiki situasi—tindakanlah yang membuat perubahan.

Penutup: “Nasib Buruk” Sering Kali Bukan karena Takdir, Tapi Cara Kita Menjalani Hidup

Orang yang sering dianggap “bernasib malang” biasanya:

1. Wajahnya selalu suram, karena hatinya penuh keluhan.

2. Terlalu baik hati, tapi tak tahu cara melindungi diri.

3. Suka menyalahkan nasib, tapi tidak mau bekerja lebih keras.

Padahal, seperti kata pepatah: “Takdir bisa dibentuk ulang oleh orang yang tegar dan punya tekat.”

Maka, jika kamu merasa hidupmu berat—jangan langsung pasrah pada nasib. Bisa jadi yang perlu diubah bukan jalan hidupmu, tapi cara kamu berjalan di atasnya. (jhn/yn)

Kesedihan Terbesar dalam Sebuah Keluarga Bukan Karena Tak Punya Uang,  Tapi Ketika Anak Usia 30-an Masih Melakukan Dua Kesalahan Ini

EtIndonesia. Kita sering mendengar pepatah klasik: “Di usia 30, seseorang sudah harus mandiri dan mapan.”

Artinya, saat memasuki usia tiga puluhan, baik secara kepribadian maupun kedewasaan, seseorang sudah dianggap sebagai orang dewasa yang matang. Masyarakat tidak lagi memperlakukan mereka seperti anak-anak.

Dulu, banyak orang menganggap bahwa tidak memiliki karier atau tabungan yang stabil di usia 30 adalah hal yang paling menyedihkan.

Namun, kenyataannya, kesedihan terbesar dalam sebuah keluarga bukanlah soal uang atau pekerjaan, melainkan ketika seorang anak yang sudah menginjak usia 30 tahun masih melakukan dua kesalahan besar berikut ini:

Di Usia 30, Masih Bergantung pada Orangtua

Tak bisa dipungkiri, anak muda zaman sekarang memang menghadapi banyak tantangan.

·        Harga rumah dan mobil melambung tinggi, cicilan menekan.

·        Persaingan kerja makin ketat, angka pengangguran makin meningkat.

·        Harga kebutuhan pokok terus naik, biaya hidup makin berat.

Dalam kondisi seperti ini, tak sedikit orang yang meski sudah melewati usia 30 tahun, tetap terpaksa bergantung sesekali pada orangtua demi bertahan hidup. Misalnya, orangtua membantu beli rumah, mobil, biaya pernikahan, hingga urusan resepsi.

Kalau hanya sekadar bantuan sementara saat anak terhimpit masalah, tentu tak jadi soal. Orangtua mana yang tak ingin melihat anaknya bangkit?

Tapi yang jadi masalah adalah ketika sejak kecil si anak dibesarkan dalam lingkungan yang terlalu dimanja, hingga menganggap bantuan dari orangtua adalah hal yang wajar dan sudah sepantasnya.

Bahkan ada anak yang berpikir begini: “Selama orangtua saya masih mampu, sudah seharusnya mereka menanggung hidup saya. Toh saya anak satu-satunya, nanti warisannya juga buat saya.”

Jangan kaget. Pemikiran seperti ini bukan hal yang langka di dunia nyata.

Contohnya:

·        Di Provinsi Anhui, Tiongkok, seorang perempuan kelahiran 1990 dikenal sebagai “budak kakak laki-laki” — dia menjual kue selama 12 tahun, bangun pukul 4 pagi dan baru pulang jam 10 malam, semua demi mengumpulkan uang untuk membelikan adiknya rumah dan mobil.

·        Ada pula berita yang lebih mengejutkan: seorang kakak perempuan selama 10 tahun membiayai adiknya, tapi akhirnya malah dibunuh oleh sang adik—hanya karena merasa uang yang diberikan terlalu sedikit.

Coba perhatikan:

Kenapa korban “pengabdian membuta” ini kebanyakan perempuan dan pelakunya laki-laki?

Karena dalam banyak keluarga tradisional, mentalitas mementingkan anak laki-laki masih mengakar kuat.

Dan itulah yang membuat sebagian pria tidak pernah bisa mandiri, bahkan di usia dewasa.

Penyebab utamanya?

1. Terlalu dilindungi sejak kecil, sehingga tidak terbiasa menghadapi tantangan hidup.

2. Orangtua terlalu ikut campur dalam semua urusan anak, sampai anak dewasa pun tetap tidak punya kemandirian.

Akhirnya, anak tumbuh besar tapi tetap tidak bisa hidup mandiri. Dan di usia 30, hidup mereka tetap berputar dalam lingkaran ketergantungan.

Di Usia 30, Masih Tidak Tahu Apa Itu Tanggung Jawab

Yang lebih menakutkan dari tidak punya uang atau karier di usia 30, adalah tidak memiliki rasa tanggung jawab.

Usia sudah dewasa. Sebagian orang bahkan sudah punya istri dan anak. Secara logika, mereka seharusnya mulai belajar mendidik anak, mendampingi keluarga, dan menghormati orangtua.

Namun kenyataannya, ada yang hidupnya masih seperti anak kecil, padahal usianya sudah jauh dari itu.

Saya punya tetangga di kampung, laki-laki usia 30-an, sudah menikah dan punya anak, tapi…

·        Tidak punya pekerjaan tetap.

·        Suka mabuk, berjudi, bahkan terlibat dalam hal-hal amoral.

·        Uang hasil penjualan rumah yang dibelikan orang tuanya habis untuk judi.

·        Ketika sang ayah sakit keras, ia bahkan tidak pernah menjenguk.

Bukankah itu menyedihkan?

Usia 30 memang bukan jaminan sudah sukses. Tak masalah kalau masih pas-pasan, belum kaya raya, atau karier belum stabil.

Tapi setidaknya, seseorang di usia 30 harus sudah menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

Tak bisa memberi banyak uang, tak apa. Tapi bisa tetap mencintai istri dan anak, mendengarkan orang tua, dan hidup dengan prinsip. Itulah yang disebut dewasa yang sesungguhnya.

Mulai Sekarang, Jadilah Pribadi yang Bisa Diandalkan

Kalau kamu sekarang sudah usia 30 ke atas tapi merasa belum berhasil dalam hidup—tenang bro, belum terlambat.

Kalau kamu sedang terlilit utang, mulailah mencari cara untuk menambah penghasilan. Kerja keras dan capek sedikit tidak masalah. Perlahan, kamu akan melewati masa sulit itu.

Kalau rumah tangga sedang tidak harmonis, cobalah lebih banyak berdialog, introspeksi diri, dan cari titik temu dengan pasangan. Perbaiki komunikasi dan buka hati untuk berubah bersama.

Kalau karier belum berkembang, waktunya belajar keterampilan baru, upgrade diri, tingkatkan daya saing di dunia kerja.

Kalau orang tuamu masih ada, luangkan waktu untuk mereka. Tak perlu mahal, cukup telepon dan ajak ngobrol, duduk bareng nonton TV atau sekadar menyeduh teh hangat sambil bercengkrama.

Semua itu adalah bentuk tanggung jawab, dan itulah makna menjadi pribadi yang bisa diandalkan.

Kesimpulan:

Di usia 30, masih ada waktu untuk berubah. Yang penting, kamu bersedia memperbaiki kesalahan dan tumbuh jadi lebih baik. Jangan tunggu sampai semuanya terlambat, dan baru menyesal. Karena menjadi pribadi yang bertanggung jawab bukanlah soal uang atau status—Tapi soal sikap, pilihan, dan komitmen untuk jadi lebih baik setiap hari. (jhn/yn)

Kamboja Bombardir Rumah-rumah Warga sipil dengan Roket,  Jet Tempur F-16 Thailand Hancurkan Fasilitas Militer Kamboja

Bentrokan bersenjata kembali pecah di perbatasan Thailand dan Kamboja. Militer Kamboja menembakkan roket ke sebuah rumah warga Thailand, menewaskan satu orang dan melukai tiga lainnya, termasuk seorang anak berusia 5 tahun yang kini dalam kondisi kritis. 

Thailand langsung merespons dengan mengerahkan jet tempur F-16 untuk menyerang dua target militer di dalam wilayah Kamboja. Thailand juga mengusir duta besar Kamboja, sementara Kamboja menarik semua diplomatnya dari Bangkok.

EtIndonesia. Laporan Reuters menyebutkan, sengketa perbatasan antara Thailand dan Kamboja yang telah memanas selama beberapa minggu terakhir akhirnya meletus menjadi perang.  Sejauh ini telah menyebabkan sedikitnya dua warga sipil tewas. Kedua belah pihak saling menyalahkan atas siapa yang lebih dulu memulai tembakan.

Pihak Thailand menuduh Kamboja menanam ranjau di area perbatasan yang disengketakan, yang menyebabkan lima tentara Thailand terluka dalam pekan ini, salah satunya kehilangan satu kaki. Sebagai tanggapan, Thailand memanggil pulang duta besarnya di Kamboja dan mengusir duta besar Kamboja dari Bangkok.

Sementara itu, surat kabar Khmer Times melaporkan bahwa pemerintah Kamboja telah menurunkan status hubungan diplomatik dengan Thailand menjadi hanya “chargé d’affaires tingkat dua”, yang berarti perwakilan diplomatik setingkat di bawah duta besar. Selain itu, seluruh staf diplomatik Kamboja di Bangkok diperintahkan pulang.

Pada Kamis (24 Juli), Kamboja menembakkan dua roket ke wilayah Thailand, menewaskan satu orang, melukai dua orang lainnya. Serangan tersebut membuat seorang anak berusia lima tahun dalam kondisi kritis. Menyusul serangan itu, Thailand mengerahkan enam jet tempur F-16 untuk menyerang dua fasilitas militer di wilayah Kamboja.

Wakil juru bicara militer Thailand, Ritcha Suksuwanon, menyatakan bahwa keenam pesawat tempur F-16 tersebut berasal dari provinsi Ubon Ratchathani dan berhasil menjatuhkan bom ke dua fasilitas militer Kamboja. Ia menambahkan bahwa seluruh pesawat berhasil kembali dengan selamat dan tanpa kerusakan.

Kementerian Pertahanan Kamboja mengecam tindakan Thailand yang dianggap menggunakan kekuatan berlebihan dan menyebutnya sebagai “ancaman serius bagi perdamaian dan stabilitas kawasan.”

Kini Thailand mengumumkan penutupan penuh perbatasan daratnya dengan Kamboja. Kedutaan Besar Thailand di Phnom Penh juga telah mengeluarkan imbauan kepada seluruh warga Thailand agar “segera meninggalkan Kamboja.”

Perbatasan darat antara Thailand dan Kamboja membentang sepanjang 817 kilometer, dengan banyak titik yang masih dipersengketakan. Sengketa ini telah berlangsung lebih dari seratus tahun dan sering kali menimbulkan bentrokan kecil yang menyebabkan puluhan korban jiwa, termasuk bentrokan artileri selama seminggu pada tahun 2011.

Perseteruan antara kedua militer ini terjadi di kawasan yang dikenal sebagai “Segitiga Zamrud” — sebuah area di perbatasan antara Thailand, Kamboja, dan Laos yang terkenal memiliki sejumlah candi kuno.

Pada Mei lalu, kedua negara sempat terlibat baku tembak singkat yang menyebabkan seorang tentara Kamboja tewas, yang kemudian memicu ketegangan diplomatik yang berkembang menjadi konflik bersenjata lebih lanjut. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Manusia Tak Bisa Melawan Takdir : Jangan Percaya “Keberuntungan”, Percayalah pada Takdir

EtIndonesia. Jika seseorang terus-menerus mengandalkan keberuntungan dalam hidup, maka besar kemungkinan dia tidak akan mencapai keberhasilan sejati.

Mengapa?

Karena saat kita bergantung pada nasib baik semata, kita jadi mengabaikan peran penting dari usaha dan kerja keras. Dan ketika semangat untuk berjuang mulai pudar, kita akan mulai meragukan kemampuan diri sendiri, lalu kehilangan arah.

Orang-orang yang benar-benar hebat memahami satu prinsip penting:

“Berusaha sekuat tenaga, hasilnya serahkan pada takdir.”

Mereka memusatkan seluruh perhatian dan energi pada hidup mereka sendiri, fokus pada pekerjaan dan tanggung jawab yang ada di depan mata. Mereka tidak membuang waktu untuk urusan yang tidak penting, apalagi membiarkan kemalasan, kebingungan, atau kecemasan merusak hidup mereka.

Seorang jurnalis terkenal bernama He Caitou pernah berkata: “Cara seseorang memahami dunia, akan membentuk seperti apa dunia yang dia lihat.  Apa yang dia lihat, dan apa yang dia sukai untuk dilihat, akan menentukan masa depannya. Dan itulah yang disebut takdir.”

Maka, daripada menunggu keberuntungan datang, lebih baik kita gunakan rasa ingin tahu dan energi kita untuk menjelajahi dunia dengan aktif.

Jangan terlalu mengandalkan keberuntungan. Percayalah pada dirimu sendiri, hormatilah takdir. Dan melalui perenungan serta perubahan, perlahan-lahan kita akan tumbuh menjadi versi diri yang lebih baik.

Dalam Sisa Hidup Ini, Jangan Terlalu Perhitungan

Memahami takdir bukan berarti kita menjadi pengecut, lari dari tanggung jawab, atau menyerah pada hidup.

Sebaliknya, hal itu adalah cerminan dari seseorang yang benar-benar mengerti dan berdamai dengan hidup.

Kekuatan sejati bukanlah kekuasaan atau kekayaan dari luar, tapi kekuatan batin. Keteguhan sikap dan kestabilan emosi adalah fondasi bagi seseorang untuk tetap kuat di tengah badai takdir.

Hidup ini memang tak ada yang sempurna, hanya perubahan demi perubahan yang tak henti-hentinya. Kita harus belajar menemukan makna di dalam perubahan. Meski hidup tidak selalu menyenangkan, kita tetap harus belajar mencintai, berubah, dan tumbuh dari dalam.

Berpikirlah secara positif, perlakukan hidupmu dengan kelembutan. Jangan terlalu memperhitungkan hal-hal kecil. Jangan terjebak dalam kekhawatiran yang berlebihan.

Dalam kitab Xingshi Hengyan tertulis: “Segala hal tak selalu sesuai dengan perhitungan manusia, karena hidup ini sudah diatur oleh takdir.”

Tak peduli bagaimana takdir akan berubah—entah mudah atau penuh tantangan—hadapilah dengan tenang dan santai. Lambat tapi pasti, terus melangkah maju.

Ketika kita berhenti menghitung-hitung untung rugi, dan mulai hidup dengan ringan, sabar, dan bijaksana, maka hidup kita akan menjadi lebih tenang, lebih damai, dan pada akhirnya—lebih indah. (jhn/yn)