Laporan Reuters pada 20 Juli menunjukkan hasil investigasi dan wawancara mengonfirmasi bahwa merek mobil listrik Tiongkok, Neta dan Zeekr, dalam beberapa tahun terakhir telah memanipulasi data penjualan dengan mengubah mobil baru menjadi “mobil bekas nol kilometer” guna memperoleh subsidi kendaraan listrik lebih awal.
EtIndonesia. Catatan penjualan Neta dari Januari 2023 hingga Maret 2024 menunjukkan bahwa mobil “bekas nol kilometer” yang dijual lebih awal mencapai setidaknya 64.719 unit, atau lebih dari separuh dari total penjualan dalam periode 15 bulan tersebut. Bulan lalu, perusahaan induk Neta, yaitu Hozon New Energy Automobile Co., Ltd. yang berbasis di Zhejiang, telah memasuki proses kebangkrutan.
Baru-baru ini, Zeekr juga pertama kali disebut oleh media Tiongkok, yang mempertanyakan kejanggalan data penjualannya pada Desember tahun lalu di Shenzhen dan Xiamen. Di Xiamen, penjualan melonjak hingga 2.737 unit, lebih dari 14 kali lipat rata-rata penjualan bulanan mereka. Reuters mengkonfirmasi bahwa Zeekr juga menggunakan metode “mobil bekas nol kilometer” untuk memalsukan data penjualan.
Dalam beberapa tahun terakhir, di tengah kondisi kelebihan kapasitas dan persaingan brutal di industri mobil listrik Tiongkok, banyak produsen mulai menempuh jalan abu-abu.
Untuk mendapat subsidi lebih cepat, mereka mengasuransikan mobil baru sebelum benar-benar terjual dan langsung memasukkannya ke dalam angka penjualan. Mobil-mobil semacam ini disebut sebagai “mobil bekas nol kilometer”.
Pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT) sebenarnya telah lama membiarkan praktik manipulatif ini, bahkan beberapa pemerintah daerah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mendorong perusahaan melakukan hal tersebut. (Hui/asr)
Laporan oleh jurnalis NTDTV, Zhang Qin dan Yilong.
EtIndonesia. Pada Minggu (20 Juli), Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa ia akan membantu para pengungsi Afghanistan yang melarikan diri ke Uni Emirat Arab (UEA) namun telah ditahan selama bertahun-tahun, agar mereka tidak dikembalikan ke Afghanistan dan diserahkan ke Taliban.
Dalam unggahan di media sosial miliknya, Truth Social, Trump menulis: “Mulai sekarang, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan mereka.” Ia juga melampirkan sebuah artikel yang menggambarkan kondisi para pengungsi Afghanistan yang ditahan di UEA dan kini menghadapi kemungkinan dipulangkan secara paksa ke Afghanistan—suatu situasi yang sangat mengerikan bagi mereka.
Sebelumnya diberitakan bahwa rezim Taliban sedang memburu sekitar 200 mantan tentara dan polisi pemerintahan Afghanistan sebelumnya, bahkan melakukan pembunuhan terhadap mereka. Hal ini memicu keprihatinan masyarakat internasional terhadap nasib para pengungsi Afghanistan di pengasingan.
Pada tahun 2021, setelah Taliban menggulingkan pemerintah Afghanistan yang didukung Amerika, ratusan ribu warga Afghanistan melarikan diri ke luar negeri. Pemerintahan Biden menampung sekitar 200.000 warga Afghanistan di AS, sementara UEA juga setuju untuk menampung sementara ribuan pengungsi Afghanistan yang dievakuasi dari Kabul.
Namun, pada awal tahun ini, sebagai bagian dari kebijakan yang lebih luas untuk menekan imigrasi ilegal, Trump memerintahkan penangguhan program pengungsi Amerika Serikat, dan pada April, ia mencabut status perlindungan sementara bagi ribuan warga Afghanistan yang berada di AS.
Pernyataan Trump pada Minggu menunjukkan bahwa ia mungkin mulai melunakkan sikapnya terhadap pengungsi Afghanistan, atau bersedia membantu mereka untuk mencari suaka di negara lain. (Hui/asr)
Laporan oleh jurnalis NTDTV, Yu Liang dan Zhao Jialin.
Baru-baru ini, warga di Distrik Yuhang, Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok mengeluhkan bau busuk dari air keran. Beredar kabar bahwa pipa air bersih telah tersambung ke sistem limbah, dan makanan yang tercemar air kotor itu diduga telah beredar secara nasional. Pihak berwenang mengklaim bahwa bau tersebut berasal dari senyawa sulfur yang dihasilkan oleh alga, namun penjelasan ini justru memicu gelombang kritik.
EtIndonesia. Pada 19 Juli 2025, otoritas Distrik Yuhang, Hangzhou, melaporkan bahwa pada 16 Juli pukul 08.00 pagi, pabrik Air Minum Renhe mendeteksi anomali pada indikator bau air. Setelah mengganti sumber air, kualitas air yang disuplai diklaim telah “berhasil dikendalikan dan air yang keluar dari pabrik aman”.
Laporan itu berdalih bahwa “tim investigasi yang terdiri dari para ahli nasional dan provinsi telah menyimpulkan bahwa bau tersebut berasal dari senyawa sulfur yang dihasilkan oleh dekomposisi anaerobik alga di bawah kondisi iklim tertentu.”
“Pihak terkait buru-buru membantah kabar soal air kotor dan limbah tinja. Ini karena peristiwanya sangat serius. Mereka sengaja memperkecil masalah dan menggunakan istilah-istilah kimia yang rumit agar orang awam tidak paham. Tujuannya agar lolos dari tanggung jawab. Intinya mereka membayar ahli dan lembaga tertentu untuk ‘bekerja sama,” ujar sejarawan Tiongkok di Australia, Li Yuanhua.
Namun, laporan resmi itu menghindari banyak pertanyaan kunci dan gagal meyakinkan publik. Netizen meragukan: jika benar hanya masalah alga, maka setelah melewati proses penyaringan di pabrik air, seharusnya hanya kualitas air yang terganggu, bukan sampai muncul bau busuk dan benda asing. Banyak yang menyebut penjelasan itu sebagai “esai kecil untuk menenangkan rakyat”.
“Ini mirip dengan penanganan pandemi COVID dulu. Pemerintah selalu menutup-nutupi kebenaran karena takut akibat dari terbongkarnya fakta. Banyak kasus serupa di masa lalu—seperti kasus ‘wanita rantai besi’—yang akhirnya dibiarkan begitu saja,” ujar warga Tionghoa di AS, Liu Ao.
Netizen ramai-ramai bertanya:
“Kenapa airnya jadi berwarna kuning?”
“Apakah alga hanya meledak di Distrik Yuhang saja?”
“Bukankah sebelumnya juga musim panas? Kenapa dulu tidak ada masalah alga?”
“Kalau sudah terdeteksi pagi, kenapa baru malam hari ada pengumuman dan tidak dijelaskan penyebabnya?”
Ada pula yang menyindir:
“Air baku itu bukan air minum. Setelah diproses di pabrik baru jadi air keran. Bukankah ada uji kualitas sebelum air didistribusikan?”
“Tim investigasi itu sendiri sudah coba minum belum? Minumnya berapa liter?”
Pada 16 Juli malam, warga Yuhang menemukan bahwa air keran di rumah mereka berbau, berwarna kekuningan, dan mengandung benda asing. Ada yang mengungkap bahwa katup pembuangan limbah diduga disambungkan ke jaringan pipa air bersih, menyebabkan air limbah dan tinja masuk ke rumah-rumah warga.
Beberapa netizen mengungkap, wilayah terdampak dihuni oleh berbagai pabrik barang kebutuhan sehari-hari, kosmetik, dan makanan, dan selama kejadian tidak ada informasi bahwa produksi dihentikan. Produk-produk ini dikhawatirkan telah dikirim ke berbagai wilayah di Tiongkok.
Pemerintah dalam pernyataan 19 Juli menyatakan: “Saat ini terdapat banyak rumor di internet, termasuk tentang ‘air tinja’, dan polisi telah menangani rumor tersebut secara hukum.”
Liu Ao menambahkan: “Begitu mereka menyebut itu ‘rumor’, maka mereka berhak menindak hukum. Orang-orang yang menyebarkan kebenaran bisa mendapat ancaman dari pemerintah. Ini bentuk intimidasi terang-terangan: meskipun air keran busuk dan membahayakan kesehatan, kalian tetap tidak boleh menyebarkannya.”
Indikasi menunjukkan bahwa saat ini pemerintah mulai menyensor penyebaran informasi terkait. Video dan komentar banyak yang dihapus, bahkan ada akun warga yang diblokir oleh situs resmi.
Li Yuanhua berkomentar lagi: “Jika bukan versi pemerintah, maka akan dianggap mengganggu ketertiban umum dan bisa dikenakan pidana. Ini adalah metode lama yang biasa digunakan Partai Komunis Tiongkok untuk menangani krisis—tidak ada pengawasan, tidak ada tanggung jawab, dan yang penting bisa lolos.”
Pada 19 Juli juga, seorang warga dari wilayah Liangzhu, Yuhang, mengunggah video yang menunjukkan air keran masih mengandung benda asing. Ia bertanya: “Kalau baunya berasal dari senyawa sulfur, lalu benda asingnya itu apa?”
Sebelumnya, pada 26 Juli 2020, kejadian serupa juga pernah terjadi di Distrik Xihu, Hangzhou. Saat itu, air keran di rumah warga desa Hubu juga mengeluarkan bau aneh. Setelah penyelidikan, ditemukan bahwa air limbah masuk ke jaringan pipa air kota akibat pelanggaran prosedur di lokasi pengolahan sampah organik Shuangpu. (Hui/asr)
Malang, Jawa Timur – Nama Gledy Webyansyah mungkin sudah tidak asing di kalangan industri perhotelan Malang. Pria 27 tahun ini, yang kini menjabat sebagai Marketing Communication Manager di Grand Mercure Malang Mirama, membuktikan bahwa passion yang diikuti dengan konsistensi bisa membawa seseorang meraih mimpi. Dalam perbincangan eksklusif, Gledy membagikan perjalanan kariernya yang penuh liku, pelajaran berharga, dan ambisi besar untuk go internasional.
Awal yang Tak Terduga: Dari Magang ke Passion Seumur Hidup
Tidak banyak yang tahu bahwa dunia perhotelan awalnya bahkan tidak terlintas di benak Gledy. Semuanya berubah saat ia menjalani magang di Aria Gajayana Hotel Malang pada 2017.
“Saya waktu itu hanya ingin mencoba. Ternyata, pengalaman sebagai bellboy, receptionist, hingga membantu Guest Relation Officer membuka mata saya. Saya jatuh cinta pada dinamika industri ini,” tutur Gledy kepada The Epoch Times.
Magang tersebut menjadi batu loncatan. Dalam 6 tahun, ia menanjak dari Secretary General Manager di Senyum World Hotel (2018) hingga puncak karier saat ini sebagai Marketing Communication Manager di jaringan hotel internasional.
Pencapaian Gemilang dan Momen Terkesan
Gledy menyebut tahun 2024 sebagai tahun terbaiknya. Dua penghargaan bergengsi diraihnya di Grand Mercure Malang Mirama: Best Manager Q1 dan Best Manager of The Year 2024.
“Tidak pernah menyangka passion saya di marketing dan public relations akan membawa saya sejauh ini. Yang paling berkesan justru ketika jadi pembicara di Tribun Academy dan IDJEN TALK Radio. Berbagi ilmu itu memuaskan,” ujarnya.
Kunci Sukses: Trilogi Konsistensi, Komitmen, dan Doa
Ketika ditanya rahasia kesuksesannya, Gledy menjawab dengan tegas,”Konsistensi, komitmen, dan doa. Tanpa ketiganya, saya mungkin sudah menyerah saat menghadapi tekanan. Ia juga menyebut orang tuanya sebagai penyemangat utama. Ayah saya asal dari Banyuwangi dan Ibu asli Malang, mereka selalu mengingatkan bahwa kerja keras itu perlu, tapi jangan lupa bersyukur. Itu yang membuat saya tetap rendah hati,” ceritanya.
Suka-Duka di Balik Dinamika Perhotelan
Industri perhotelan, menurut Gledy, adalah dunia yang hidup, penuh tantangan dan pasang surut. Sukanya?
“Bertemu orang dari berbagai budaya, belajar hal baru setiap hari, dan punya jaringan yang luas.”
Tapi, ada juga dukanya, “Kita harus adaptif. Tren berubah cepat, kadang harus work overtime, dan tekanan tinggi. Butuh mental kuat dan kemampuan self-recovery yang baik.”
Filosofi Kepemimpinan: Kuasai Bidang dan Pahami Tim
Sebagai pemimpin, Gledy punya prinsip sederhana tapi mendalam:
1. Master your field: “Saya harus paham betul seluk-beluk marketing komunikasi, dari digital hingga event.”
2. Know your team: “Memahami karakter tim itu wajib. Saya tidak mau hanya jadi bos, tapi juga mentor.”
Saat ditanya soal kendalanya, ia justru tersenyum,”Alhamdulillah sejauh ini tidak ada kesulitan berarti. Kuncinya komunikasi terbuka dan fleksibilitas.”
Work-Life Balance dan Rencana ke Depan
Meski masih single, Gledy sangat menjaga keseimbangan hidup. “Weekend saya gunakan untuk me-time: eksplor fashion atau jalan-jalan ke tempat baru. Itu cara saya recharge,” ungkapnya.
Untuk masa depan, ambisinya jelas, “Saya ingin terus belajar, baik skill maupun attitude. Target jangka panjang? Membawa nama saya ke kancah internasional. Mungkin suatu hari bisa jadi Director of Marketing di hotel berbintang di luar negeri.”
Kiprah Gledy kerap menjadi inspirasi di media, karena selain muda dan bertalenta, professional di posisinya juga memiliki penampilan fashionable. Ini yang membuatnya lebih menonjol dari rekan-rekan seprofesinya. Sosoknya menjadi inspiratif bagi generasi seusianya yang saat ini sedang memulai karir dan menekuni karir di bidang masing-masing.
Sebagai imbas penggunaan media sosial, inflasi nilai di sekolah, dan faktor lingkungan, perilaku narsistik tampaknya semakin meningkat di kalangan anak-anak dan remaja, menurut beberapa psikoterapis dan pakar.
Prevalensi narsisme pada siswa di bawah usia 18 tahun telah meningkat sekitar 10 persen dalam 12 tahun terakhir dan seharusnya menjadi perhatian para psikolog sekolah saat tahun ajaran baru dimulai, menurut David Liebert, seorang psikoterapis yang berpraktik di Tampa, Florida.
Liebert mengingatkan bahwa narsisme adalah istilah yang sangat luas, para profesional kesehatan mental umumnya menghindari mendiagnosis gangguan kepribadian spesifik ini pada anak-anak karena kepribadian mereka masih dalam tahap perkembangan. Akibatnya, perkiraannya sangat bervariasi.
Gangguan kepribadian narsistik didefinisikan sebagai kebutuhan akan kekaguman, pola umum dari rasa kebesaran diri yang berlebihan (megalomania)—atau perasaan yang terlalu tinggi terhadap pentingnya diri sendiri—dan kurangnya empati. Menurut Perpustakaan Nasional Kedokteran Amerika Serikat (National Library of Medicine), gangguan ini memengaruhi kurang dari 2 persen populasi umum.
Liebert mengatakan ia percaya bahwa dalam beberapa tahun terakhir, gerakan peningkatan harga diri mungkin telah melampaui batas. Kebutuhan akan persetujuan secara terus-menerus adalah masalah umum di komunitas tempat anak-anak mendapatkan piala meskipun berada di posisi terakhir, dan bintang emas tidak lagi diberikan untuk hasil kerja terbaik karena khawatir akan mengecualikan anak-anak lainnya.
“Harga diri yang hanya sedikit terluka, dikombinasikan dengan kerendahan hati, adalah sesuatu yang sehat,” kata Liebert. “Anak-anak perlu diberi lebih banyak kesempatan untuk gagal.”
Anita Horvath, seorang psikoterapis yang berbasis di Cobleskill, New York, mengatakan perilaku narsistik sering kali muncul pada individu saat masih anak-anak, dipuji atas prestasinya tetapi tidak dilihat sebagai pribadi secara keseluruhan.
Ia percaya perilaku ini terus meningkat dari waktu ke waktu. Anak-anak saat ini menghabiskan lebih banyak waktu jauh dari orang tua mereka. Bahkan ketika bersama orang tua, mereka mungkin kurang memiliki koneksi emosional, di era yang lebih berfokus pada kinerja dan produktivitas daripada pada anak sebagai manusia utuh. Akibatnya, mereka memiliki lebih sedikit dukungan dalam menghadapi pengalaman negatif.
Lebih dari itu, orang tua mereka sendiri mungkin juga belum dewasa secara emosional, kata Horvath kepada The Epoch Times.
“Sering kali, menjadi orang tua bukanlah tentang memenuhi kebutuhan emosional anak. Justru anaklah yang diminta untuk memenuhi kebutuhan orang tua. Orang tua yang belum dewasa secara emosional mudah terpicu, memproyeksikan emosinya ke anak, dan anak dipaksa untuk menyesuaikan diri demi mendapatkan kasih sayang. Dan terkadang, akibatnya, kepribadian anak berkembang dengan cara yang tidak sehat,” jelasnya.
Horvath percaya bahwa langkah-langkah perbaikan dapat ditemukan dalam nilai-nilai keluarga tradisional.
“Menjunjung tinggi pernikahan. Menjunjung tinggi keluarga. Mengakui dan menghadapi masalah kita sendiri, bukan membebankan semuanya kepada anak-anak,” katanya.
“Kita terus-menerus membelikan mereka barang, menjadi orang tua yang permisif, membiarkan mereka sendirian dengan internet, tidak bertanggung jawab atas mereka dan tidak memberikan mereka tanggung jawab, tidak menghabiskan waktu berkualitas bersama mereka—lalu kita heran mengapa mereka terlihat begitu arogan.”
Respons Terhadap Trauma
Ada berbagai bentuk perilaku narsistik, tetapi untuk diagnosis resmi dibutuhkan kriteria spesifik, kata Tina Lintner, manajer klinis senior untuk program rawat inap di Rawhide Youth Services di New London, Wisconsin.
“Betapa bebasnya orang menggunakan kata ‘narsistik’ itu tidak adil dan tidak tepat,” katanya kepada The Epoch Times.
Remaja yang mengalami pengabaian dan trauma sering kali masuk ke mode bertahan hidup demi melindungi diri dan kehilangan empati terhadap orang lain, jelasnya.
Anak-anak ini mungkin merasa bahwa mereka adalah beban bagi orang lain, ketika dibiarkan sendiri, mereka membuat keputusan buruk tanpa pengawasan, termasuk merundung orang lain untuk menutupi harga diri yang rendah, kata Lintner. Mereka yang tampak percaya diri dan besar kepala bisa jadi justru kekurangan rasa percaya diri dan penghargaan terhadap diri sendiri, tambahnya.
Anak laki-laki yang mengikuti program Rawhide datang melalui sistem peradilan remaja negara bagian. Mereka tinggal dalam kelompok kecil bersama teman sebaya, staf pengawas, dan terapis. Mereka bertanggung jawab atas memasak, mengelola tempat tinggal secara bersama-sama, belajar untuk peduli terhadap orang lain, serta memperoleh keterampilan hidup dan cara mengatasi masalah. Penggunaan ponsel, video game, dan media sosial dibatasi.
“Perilaku mereka terlihat jauh lebih stabil tanpa perangkat-perangkat itu, sangat kentara,” ujarnya.
Catrina Drinning-Davis, seorang terapis di Texas yang bekerja dengan para penyintas kekerasan dalam rumah tangga, mengatakan bahwa narsisme adalah gangguan umum pada orang-orang yang melakukan kekerasan terhadap pasangan atau anak mereka.
Banyak dari mereka mempelajari perilaku tersebut dari orang tuanya atau tumbuh dengan rasa berhak karena tidak pernah mendapat konsekuensi atas tindakan mereka. Pola kekerasan dalam hubungan romantis, katanya, dapat dimulai sejak usia 14 tahun dan memburuk seiring waktu.
“Semua harus tentang saya—kalau kamu tidak memberikan apa yang saya inginkan, saya akan membuat hidupmu sengsara,” kata Drinning-Davis kepada The Epoch Times. “Orang yang abusif juga cenderung mencari pasangan yang lebih muda dari mereka.”
Sebuah meta-analisis dari data lebih dari 37.000 peserta di Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa Barat, yang diterbitkan tahun lalu oleh American Psychological Association, menunjukkan bahwa meskipun tingkat narsisme menurun dari masa kanak-kanak hingga usia dewasa yang lebih tua, “orang yang sejak kecil lebih narsistik dari rata-rata, tetap lebih narsistik dari rata-rata ketika dewasa.”
Peran Orang Tua
Perilaku narsistik bisa diturunkan, kata Rick Rodgers, seorang pekerja sosial klinis berlisensi yang berbasis di Indiana. Ia menganggap narsisme sebagai masalah keluarga, bukan masalah individu. Dalam banyak kasus, katanya, salah satu orang tua juga merupakan seorang narsistik atau memiliki kondisi yang tidak terdiagnosis, seperti gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD) atau bahkan tingkat autisme tertentu.
Orang tua narsistik, katanya, bisa sepenuhnya mengabaikan anaknya atau mencoba hidup melalui anak tersebut dengan harapan-harapan yang tidak realistis.
“Generasi Baby Boomer adalah generasi yang paling narsistik,” katanya kepada The Epoch Times. “Ingat iklan layanan masyarakat dari tahun 1980-an dan 1990-an—‘Ini jam 22.00 malam. Apakah Anda tahu di mana anak Anda berada?’ Itu adalah pengumuman layanan publik karena para Boomer lebih fokus pada diri sendiri, bukan pada anak-anak mereka.”
Tim Diehl, seorang ayah sekaligus mantan pendeta di Reading, Pennsylvania, mengatakan bahwa saat ini ada lebih banyak tekanan dari teman sebaya bagi para orang tua untuk memenuhi semua kebutuhan anak-anak mereka. Ia menunjuk pada kegiatan olahraga luar kota (travel sports), yang bisa mahal dan menyita waktu, sebagai contoh.
“Orang tua lain melakukan semua itu untuk anak-anak mereka karena mereka merasa itu yang mendefinisikan mereka sebagai orang tua. Tapi kebanyakan orang tua sebenarnya tidak suka harus mengantar-jemput terus-menerus, dan anak-anak pun tidak menghargainya,” kata Diehl, 48 tahun, kepada The Epoch Times.
Diehl mengatakan bahwa remaja secara alami memang cenderung egois; tidak mengherankan bila mereka merasa seolah dunia berputar mengelilingi mereka.
Media sosial memperlebar jurang antar generasi. Orang tua sering terlihat kurang menarik dibandingkan dunia maya. Orang dewasa di rumah membiarkan anak-anak terputus dari kenyataan, padahal seharusnya mereka mendorong anak keluar dari zona nyaman mereka, ujar Diehl.
“Ada nilai dari pekerjaan yang tidak kamu sukai, dari atasan yang tidak kamu sukai,” katanya. “Segala hal yang tidak kita sukai justru bisa memberi manfaat dalam jangka panjang.”
“Kedewasaan itu soal hubungan dan kebijaksanaan. Keterputusan dan keinginan instan justru bertentangan dengan kebijaksanaan. Terlalu banyak dari kita [orang tua] yang tidak memperhatikan. Tugas orang dewasa adalah belajar untuk memperhatikan.”
Orang tua dapat mengurangi perilaku narsistik pada anak-anak dengan menanamkan pemahaman bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri, seperti keluarga, Tuhan, dan negara, kata Liebert.
“Ambillah tanggung jawab yang tidak akan menghasilkan pujian, tetapi tetap akan membuat hidup orang lain menjadi lebih baik,” ujarnya.
Media Sosial
Perjuangan khas remaja untuk diterima telah berkembang menjadi keinginan menjadi terkenal dan lebih baik dari orang lain, menurut Mark Gregston, pendiri Parenting Today’s Teens, sebuah organisasi nirlaba berbasis di Texas. Ia telah bekerja dengan remaja di lingkungan kelompok selama lima dekade. Media sosial dan influencer media sosial telah memainkan peran dalam tren yang mengkhawatirkan ini, katanya.
“Orang akhirnya menyadari bahwa konsumsi dengan diri sendiri tidak membawa ke mana-mana,” ujar Gregston kepada The Epoch Times. “Ada harga yang harus dibayar ketika terlalu terobsesi dengan diri sendiri. Kamu tidak akan dewasa.”
Gregston mengajarkan kepada remaja dan orang tua mereka nilai interaksi pribadi, percakapan yang lebih mendalam, dan relasi antar personal. Remaja tidak memiliki akses ke ponsel selama setahun di pusat konseling residensial Heartlight milik Gregston. Ketika mereka kembali ke rumah, “masalah terbesar mereka adalah menemukan teman sebaya berpikiran sama yang tidak terlalu peduli dengan ponsel,” katanya.
Liebert, psikoterapis berbasis di Tampa, mengatakan bahwa larangan ponsel di kelas mulai diterapkan di sekolah-sekolah di beberapa negara bagian pada tahun ajaran mendatang, adalah langkah ke arah yang benar.
“Saya belum pernah mendengar pasien mengatakan kepada saya, ‘Ketika Anda menyuruh saya mengurangi penggunaan media sosial dan mengurangi scrolling sebesar 50 persen, hidup saya berantakan,’” ujar Liebert kepada The Epoch Times.
Solusi
Para ahli menyarankan bahwa orang tua dapat mengurangi perilaku narsis pada anak-anak dengan menanamkan pemahaman bahwa ada sesuatu di luar diri mereka, seperti keluarga, Tuhan, dan negara, kata Liebert.
“Ambil tanggung jawab yang tidak akan mendapat pujian, tetapi tetap membuat hidup orang lain lebih baik,” ujarnya.
Cara memahami suara kucing, bahasa tubuh, dan perilaku membingungkan mereka
oleh Randy Tatano
Kucing tortoiseshell saya, Rosie, mengendus rasa baru dari makanan yang saya berikan, lalu membuat gerakan menutupi dengan cakarnya seolah-olah seperti sesuatu yang di kotak pasir.
Jadi, apakah dia kritikus makanan? Apakah dia menganggap rasa baru itu… yah…
Ternyata, dia hanya bertindak seperti keberadaan kucing di alam liar, melakukan sesuatu yang disebut “caching.”
Jika kucing memiliki makanan yang tidak dihabiskan, mereka akan menutupinya agar tidak ditemukan predator, menyimpannya untuk nanti. Meskipun Rosie adalah kucing rumahan, insting ini tetap muncul. Satu jam kemudian, dia kembali dan menikmati makanannya.
Kucing selalu memiliki sedikit misteri, sering kali membuat mereka sulit dipahami. Tapi mereka tidak sedang merencanakan mendominasi dunia. (Meskipun, mengingat orang Mesir kuno menganggap kucing sebagai wadah para dewa, itu mungkin bisa diperdebatkan.)
Menurut pakar perilaku kucing, kucing sebenarnya tidak terlalu sulit dipahami. Ini hanya soal memahami bahasa mereka. Kita semua tahu suara meong—“beri makan saya,” “saya ingin keluar,” “saya ingin perhatian”—tapi kucing juga banyak berbicara melalui bahasa tubuh dan perilaku mereka.
(Elisa Putti/Shutterstock)
Memahami Kebutuhan Sosial
Marci Koski, pendiri Feline Behavior Solutions, adalah konsultan perilaku dan pelatihan kucing bersertifikat yang memiliki beberapa kucing sendiri. Dia mengatakan bahwa mempelajari bahasa tubuh kucing sangat membantu dalam membangun ikatan, dan salah satu kesalahpahaman terbesar adalah bahwa kucing “rendah perawatan” karena mereka sangat mandiri.
“Kucing memiliki kebutuhan sosial. Biasanya terserah kucing untuk menentukan seberapa banyak kebutuhan sosial mereka akan dipenuhi oleh manusia di rumah,” kata Ms. Koski.
“Biarkan kucing memilih interaksi,” tambahnya. “Biarkan kucing mendekati Anda, lalu tawarkan pilihan lain: Anda bisa mengulurkan tangan dan melihat apakah kucing ingin disentuh. Mereka mungkin mengendus jari Anda, menggosokkan diri ke tangan Anda, dan itu tanda boleh mengelus.”
Kristyn Vitale, ahli perilaku hewan terapan dan peneliti, mengatakan bahwa kucing juga akan memberi tahu Anda kapan mereka sudah cukup mendapatkan perhatian.
“Tanda-tanda tubuh bahwa kucing membutuhkan ruang termasuk ekor yang bergerak cepat ke sana kemari, telinga yang miring ke samping atau rata ke kepala, kulit yang bergetar, menjilat bibir berulang atau menelan, dan suara seperti mendesis,” katanya.
Tapi bagaimana jika Anda memiliki kucing yang tidak terlalu suka disentuh? Ms. Koski mengatakan kita harus menyadari bahwa beberapa kucing memang tidak terlalu suka kontak fisik.
“Mereka seperti manusia. Beberapa orang tidak suka dipeluk. Kucing bisa menunjukkan kasih sayang mereka dengan cara lain,” katanya, seperti nongkrong di dekat Anda, bermain, atau berbaring miring, posisi yang sangat rileks dan terbuka yang menunjukkan kepercayaan.
(Courtesy of Yana the Two-Faced Cat)
Perilaku Karena Bosan
Jika Anda pulang dan menemukan banyak barang bertebaran di lantai, kucing Anda sedang memberi tahu bahwa mereka ingin lebih banyak perhatian.
“Banyak perilaku ‘nakal’ sebenarnya adalah hasil dari kebosanan,” kata Joey Lusvardi, konsultan perilaku kucing bersertifikat dan pendiri Class Act Cats. “Kucing yang bosan akan menemukan cara untuk menghibur diri, dan kebanyakan orang tidak akan menikmati cara kreatif mereka untuk menyibukkan diri.”
Perilaku umum termasuk menjatuhkan barang dari meja, melompat ke meja dapur, mencakar yang merusak, dan suara berlebihan.
Kucing yang kurang stimulasi di lingkungannya juga bisa “menunjukkan tanda-tanda stres terus-menerus,” kata Ms. Vitale, “seperti melakukan perilaku berulang seperti overgrooming atau mondar-mandir.”
Meskipun beberapa perilaku ini sulit dihindari sepenuhnya, menjaga kucing tetap terstimulasi adalah cara terbaik untuk mencegahnya. Sementara kucing luar ruangan memiliki banyak hal yang menarik perhatian mereka, kucing rumahan memerlukan lingkungan dan mainan yang memungkinkan mereka “menjadi kucing” dan mengekspresikan sifat sejati mereka, menurut Ms. Koski. Itulah mengapa waktu bermain sangat penting.
“Cobalah bermain dengan kucing Anda setiap hari dalam waktu singkat,” kata Ms. Vitale. “Kucing adalah pemburu penyergap, jadi mereka terbiasa dengan latihan singkat dan istirahat.”
Ms. Koski adalah penggemar mainan tongkat—“yang sepanjang mungkin.”
“Sangat penting untuk memberikan sesi berburu kepada kucing Anda, [dan] mainan panjang adalah satu-satunya jenis mainan yang bisa melakukannya,” katanya.
Dan, Anda mungkin terkejut bahwa posisi Anda saat bermain juga perlu dipertimbangkan.
“Karena tongkat itu panjang, Anda tidak berdiri di tengah area berburu. Hanya menggantungkan tali di depan wajah kucing tidak terlalu realistis,” kata Ms. Koski.
Konteks Penting
Kadang-kadang, kucing memiliki ide sendiri tentang bermain. Saat Anda melihat kucing dengan bulu mengembang, ekor seperti sikat kawat, dan punggung melengkung, Anda mungkin berpikir mereka siap bertarung atau menangkis penyerang, bukan? Tidak selalu. Kucing manis kami, Rosie, memainkan permainan ini dengan saya setiap pagi, melompat keluar dari tempat persembunyian. Lalu dia berubah menjadi kucing Halloween dan melompat ke samping. Setelah itu, saatnya bermain.
Ternyata dia hanya bertindak seperti teman-temannya di luar saat bermain dengan saya.
Ms. Koski memiliki teori: “Kucing adalah pemburu. Mereka berburu di waktu fajar dan senja. Mereka juga predator penyergap. Itu menjelaskan mengapa dia ingin melompat ke arah Anda di pagi hari. Banyak kucing akan mengembangkan bulu saat mereka bersemangat karena bermain.”
Mr. Lusvardi mengatakan ini menunjukkan pentingnya konteks.
“Kucing Halloween biasanya adalah tanda stres atau ketakutan pada kucing karena mereka mencoba membuat diri mereka lebih besar dan menakuti ancaman potensial,” katanya. “Namun, perilaku kucing sering perlu diartikan dalam konteks, dan ini adalah contoh bagus di mana perilaku itu mungkin berarti sesuatu yang berbeda.”
Karena saya selalu bermain dengan Rosie setelah dia melakukan ini, dia mengaitkan sesuatu yang menyenangkan dengan tindakannya.
Kucing bisa menjadi ahli manipulasi, menurut Mr. Lusvardi.
“Saat kucing belajar apa yang membuat mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka akan lebih sering melakukan perilaku itu, meskipun agak aneh,” katanya.
Anak Kucing (Katho Menden/Shutterstock)
Meong dan Lainnya
Kucing juga akan mengubah cara mereka meong tergantung pada respons manusia mereka. Meong biasanya ditujukan untuk manusia, karena kucing cenderung berkomunikasi dengan kucing lain dengan cara lain, dan meong bisa memiliki banyak makna berbeda, yang akan Anda “pahami” seiring waktu.
“Dengan kata lain, seiring waktu, Anda mengembangkan cara sendiri untuk berkomunikasi dengan kucing Anda,” kata Mr. Lusvardi.
Dalam kasus saya, Rosie memiliki meong “tajam” yang saya tahu berarti dia ingin perhatian, dan meong “lembut” saat dia berada di dekat jam kakek yang memberi tahu saya bahwa dia telah memukul ikan catnip-nya di bawahnya dan tidak bisa mengambilnya.
Punya kucing rumahan yang berkicau atau mengobrol pada burung melalui jendela? Ada beberapa interpretasi berbeda dari vokalisasi ini, menurut Ms. Vitale.
“Satu ide adalah bahwa ini adalah perilaku ‘antisipasi,’ yang berarti kucing melihat sesuatu yang mereka inginkan (sering kali mainan atau mangsa), tapi mereka tidak memilikinya atau tidak bisa mencapainya,” katanya.
Kita tahu dengkuran sebagai “suara bahagia” kucing, tanda bahwa mereka puas dan menikmati sesuatu. Tapi meskipun itu biasanya benar, Mr. Lusvardi mengatakan bahwa kucing juga bisa mendengkur saat mereka terlalu terstimulasi atau saat mereka terluka atau sekarat, sebagai cara untuk menenangkan diri.
“Jangan hanya mengandalkan dengkuran sebagai satu-satunya indikator suasana hati kucing Anda,” katanya.
Sekali lagi, konteks penting.
Mendesis dan menggeram mudah diterjemahkan: “Mundur.”
Gambar ilustrasi kucing. (Pixabay)
Bahasa Tubuh
Kucing memiliki lebih banyak cara untuk berkomunikasi selain suara mereka. Perhatikan ekor, telinga, dan mata mereka.
“Kucing bisa mengatakan banyak hal dengan ekor mereka,” kata Ms. Koski. “Semakin tinggi ekor kucing, semakin percaya diri kucing itu. Jika kucing berlari mendekati Anda dengan ekor terangkat, mereka senang, percaya diri, dan mencari interaksi. Kucing dengan ekor sejajar dengan tubuhnya mungkin sedikit tidak yakin bagaimana interaksi akan berlangsung.”
Jika kucing mengibaskan ekornya seperti anjing, Mr. Lusvardi mengatakan Anda harus berhati-hati.
“Kucing biasanya tidak menggerakkan ekor mereka jika mereka senang, jadi jika Anda memiliki kucing dengan ekor yang bergoyang, Anda harus memberi mereka ruang,” katanya.
Pengecualian adalah mereka juga bisa mengibaskan ekor saat berburu atau jika mereka melihat sesuatu yang menarik, seperti mengamati burung di tempat makan burung.
Kucing yang percaya diri akan memiliki telinga yang menghadap ke depan dan ke atas. Saat telinga kucing berpaling ke samping, itu berarti mereka mulai gugup atau mencoba mendengar suara. Kucing akan menurunkan dan meratakan telinga mereka saat mereka kesakitan.
Mr. Lusvardi mengatakan bahwa kadang-kadang telinga memberikan sinyal campuran.
“Misalnya, satu telinga mungkin ke samping dan telinga lainnya menghadap ke depan dan tegak. Kucing mungkin sedang mencoba mendengar sesuatu, tapi itu juga bisa menunjukkan kebingungan atau ketidakpastian,” katanya, saat mereka mencoba menilai apakah sesuatu adalah ancaman.
Jika Anda yang dinilai, anggap diri Anda disetujui jika kucing mengedipkan mata perlahan kepada Anda.
“Kedipan lambat adalah cara kucing menunjukkan kepercayaan dan bisa dianggap sebagai tanda bahwa kucing menyukai Anda,” kata Mr. Lusvardi. “Menatap bisa sangat mengancam bagi kucing, jadi kedipan lambat adalah cara kucing mengatakan, ‘Hei, lihat! Saya bukan ancaman. Saya sedikit menutup mata.’
“Jika Anda membalas kedipan lambat dan setelah beberapa kali mengalihkan pandangan sedikit, itu bisa membantu kucing Anda merasa bahwa Anda tidak akan menyakiti mereka.”
Ms. Vitale mengatakan kedipan lambat adalah strategi yang baik saat bertemu kucing untuk pertama kalinya: “Kucing lebih mungkin mendekati orang asing setelah orang itu mengedipkan mata perlahan kepada kucing.”
Lalu ada gerakan “cakar yang menyegarkan” yang disukai semua pemilik kucing: menguleni. Mr. Lusvardi mengatakan itu tanda kucing yang bahagia.
“Menguleni adalah perilaku penuh kasih sayang yang dilakukan kucing saat mereka dalam suasana hati yang baik. Ini kemungkinan adalah perilaku yang berlanjut dari saat mereka masih anak kucing,” katanya.
Anda mungkin terkejut mengetahui bahwa kucing memiliki banyak feromon di cakar mereka, jadi itu juga bisa berfungsi untuk menandai wilayah mereka.
Misteri yang Belum Terpecahkan
Meskipun semua informasi ini bisa membantu kita memahami kucing, kita tidak akan pernah sepenuhnya bisa mengungkap misteri mereka. Mengapa kucing-kucing di lingkungan sekitar lebih suka nongkrong di atap mobil bagus milik saya daripada di mobil tua rongsokan? Mengapa kucing Siam saya mencuri perhiasan dari atas meja rias dan meletakkannya di dalam salah satu sepatu saya? Mengapa saya berkata, “Aku akan segera kembali,” kepada Rosie saat saya meninggalkan rumah, padahal tidak ada orang lain di rumah?
Saya selalu percaya bahwa rumah tanpa kucing hanyalah sebuah bangunan biasa. Saya telah memelihara kucing sepanjang hidup saya dan bahkan telah menulis lima novel tentang mereka. Namun, mereka tetap saja penuh misteri dalam banyak hal. Mungkin itu bagian dari daya tarik mereka.
Ada satu bahasa tubuh yang dikenal oleh semua pemilik kucing. Terkadang, seekor kucing menatap mata Anda dan seolah melihat langsung ke dalam jiwa Anda. Pada saat-saat seperti itu, tidak dibutuhkan penjelasan apa pun.
Sebuah pelukan sederhana bertindak seperti obat gratis, bahkan terhadap virus
Mercura Wang
Di sebuah laboratorium yang sangat terkontrol di Universitas Carnegie Mellon di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat, para peneliti mengekspos lebih dari 400 relawan sehat pada virus flu biasa. Namun sebelum paparan virus tersebut, selama dua minggu para peneliti dengan cermat melacak sesuatu yang mungkin diabaikan oleh sebagian besar ilmuwan: apakah para peserta dipeluk setiap harinya.
Fokusnya bukanlah pada hal-hal sentimental, melainkan untuk melihat apakah pelukan sederhana dapat berfungsi sebagai semacam vaksin mini terhadap penyakit. Penelitian ini, bersama dengan studi lainnya, menunjukkan bahwa frekuensi dan durasi pelukan yang tepat dapat mempersiapkan sistem imun, meningkatkan kesehatan jantung, dan bahkan membantu menyembuhkan luka emosional.
Bisakah Pelukan Mengalahkan Virus?
Peneliti utama dalam studi Carnegie Mellon, Sheldon Cohen, memiliki dugaan bahwa sentuhan fisik mungkin merupakan salah satu cara utama dukungan sosial melindungi kita dari penyakit yang dipicu oleh stres.
Timnya mengekspos para peserta pada virus flu biasa dan, selama 14 hari berturut-turut, menanyakan kepada mereka tentang konflik harian, interaksi sosial, dan ya—apakah mereka dipeluk hari itu.
Hasilnya: Hipotesis Cohen terbukti benar. Peserta yang dipeluk hampir setiap hari memiliki kemungkinan sekitar 60 persen lebih rendah untuk terinfeksi dibandingkan mereka yang jarang dipeluk. Selain itu, mereka yang tetap jatuh sakit pulih lebih cepat dan menunjukkan respons kekebalan yang lebih kuat daripada mereka yang menerima pelukan lebih sedikit.
Temuan ini menunjukkan bahwa pelukan, selain menjadi perilaku penuh kasih sayang, juga merupakan pertahanan yang mengejutkan efektif terhadap penyakit yang berhubungan dengan stres, dan membantu meningkatkan sistem imun.
Ilmu di Balik Pelukan
Ketika kita memeluk seseorang, rangkaian reaksi terjadi dalam tubuh dan otak kita, memengaruhi kita di berbagai tingkat—neurobiologis, neurokimia, dan sosial.
Secara neurobiologis, pelukan merangsang jaringan saraf sensorik di bawah kulit, terutama kelompok khusus yang disebut C-tactile afferents, kadang disebut sebagai “saraf pelukan”.
Saraf ini sangat responsif terhadap sentuhan lembut dan penuh kasih sayang, serta mengirim sinyal langsung ke korteks insular, pusat otak untuk pemrosesan emosi. Ketika dirangsang, saraf pelukan juga melepaskan endorfin, pereda nyeri alami tubuh yang membantu memperbaiki suasana hati. Saraf ini dioptimalkan untuk menciptakan rasa nyaman, memperkuat dorongan kita untuk mencari dan menikmati kontak fisik dekat dengan orang lain.
Secara neurokimia, pelukan memicu pelepasan beberapa bahan kimia “pembawa perasaan baik”. Yang utama di antaranya adalah oksitosin, yang sering disebut “hormon cinta”, karena meningkatkan rasa kedekatan, kepercayaan, dan keamanan.
Pelukan juga melepaskan dopamin (terkait kenikmatan) dan serotonin (menstabilkan suasana hati dan meningkatkan kebahagiaan). Dari sudut pandang sosial dan psikologis, pelukan menyampaikan dukungan tanpa kata-kata, sebagai bentuk afirmasi emosional dan memperkuat ikatan sosial.
Ketika para peneliti menguji berbagai gaya dan durasi pelukan, mereka menemukan bahwa pelukan satu detik terasa tidak memuaskan dan hanya memberi sedikit manfaat. Sebaliknya, pelukan 5 hingga 10 detik terbukti paling optimal sebelum mulai terasa tidak nyaman. Untuk hubungan intim, pelukan selama 20 detik memberikan efek yang paling kuat secara terukur.
Manfaat Kesehatan di Setiap Pelukan
Dalam sebuah studi tahun 2023 yang diterbitkan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health, lebih dari 100 mahasiswa baru yang menerima lebih banyak pelukan setiap hari dari teman, teman sekamar, dan anggota keluarga mengalami tingkat stres pagi hari yang lebih rendah dibanding hari-hari ketika mereka menerima lebih sedikit pelukan.
Conny Wade, praktisi pengobatan fungsional dan pelatih kesehatan, mengatakan bahwa sentuhan fisik juga meningkatkan kesehatan jantung dengan meningkatkan variabilitas detak jantung (HRV).
“Variabilitas detak jantung adalah ukuran penting tentang seberapa baik tubuh Anda merespons stres. HRV Anda sebaiknya setinggi mungkin,” katanya kepada The Epoch Times.
Penelitian sebelumnya pada tahun 2003 menemukan bahwa pasangan yang berpegangan tangan selama 10 menit, kemudian berpelukan selama 20 detik sebelum memberikan pidato, memiliki tekanan darah dan detak jantung setengah lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang duduk diam tanpa kontak. Hasil ini menunjukkan bahwa sentuhan penuh kasih memberikan perlindungan fisiologis, yang sebagian menjelaskan manfaat kesehatan jantung dari hubungan yang suportif.
Kontak fisik yang konsisten memberikan manfaat yang jauh melampaui pengurangan stres dan kesehatan jantung. Orang yang rutin mendapatkan pelukan atau kenyamanan fisik—baik dari manusia, hewan peliharaan, atau bahkan selimut berbobot—tidur lebih nyenyak dan bangun lebih segar daripada mereka yang kurang kontak fisik.
Pelukan secara rutin juga dapat mengurangi peradangan, kata Wade. Ia menjelaskan, “Peradangan sebagian besar disebabkan oleh stres kronis, dan peradangan kronis telah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk depresi dan penyakit autoimun.” Sebuah studi tahun 2020 menemukan bahwa pelukan secara signifikan terkait dengan penurunan molekul pro-inflamasi.
Menyembuhkan Trauma Melalui Sentuhan
Spesialis kesehatan mental Stacey Ross menyaksikan transformasi mendalam ketika kliennya yang mengalami kecemasan, depresi, gangguan stres pascatrauma (PTSD), dan kecanduan menerima sentuhan yang lembut dan menenangkan.
“[Sentuhan] dapat mengingatkan otak mereka bagaimana rasanya merasa aman dan dicintai,” kata Ross kepada The Epoch Times.
Ini bukan semata-mata efek psikologis. Penelitian tentang neuroplastisitas menunjukkan bahwa pengalaman positif yang berulang dapat membentuk ulang jalur saraf.
Proses penyembuhan terjadi karena kenyamanan fisik yang konsisten menciptakan pola saraf baru yang mendukung pemulihan emosional. Kemampuan otak untuk berubah dan beradaptasi melalui pengalaman berarti bahwa sentuhan penuh kasih secara teratur dapat secara bertahap mengatur ulang respons stres yang rusak dan sistem pengaturan emosi.
Bagi para penyintas trauma, kasih sayang fisik memberikan jalur penyembuhan yang tidak harus bergantung pada pemrosesan ingatan menyakitkan melalui kata-kata saja.
Kesimpulan: Pelukan adalah Obat
Dalam konteks apa pun, pelukan adalah alat ampuh untuk meningkatkan kesejahteraan di semua usia. Resep ini tidak membutuhkan pelatihan khusus, alat mahal, atau intervensi farmasi.
Lain kali Anda ingin mencari obat, ingatlah obat yang sudah ada di sekitar bahu Anda.
Otoritas kesehatan menyatakan kondisi ini umum terjadi pada orang lanjut usia
EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah didiagnosis menderita kondisi yang disebut insufisiensi vena kronis, sebuah kondisi kesehatan yang cukup umum di kalangan orang dewasa yang lebih tua, demikian dikonfirmasi oleh Gedung Putih.
Sebuah memorandum yang dirilis oleh Gedung Putih pada 17 Juli mengonfirmasi diagnosis tersebut, menyebutkan bahwa Trump melaporkan adanya pembengkakan ringan di kaki bagian bawah, yang kemudian dievaluasi oleh Unit Medis Gedung Putih.
Pada hari yang sama, sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan kepada wartawan bahwa kondisi ini “jinak dan umum terjadi,” khususnya pada “individu yang berusia di atas 70 tahun.” Trump sendiri genap berusia 79 tahun pada Juni lalu.
Insufisiensi Vena Kronis Merupakan Kondisi yang Umum
Insufisiensi vena kronis (chronic venous insufficiency atau CVI) terjadi ketika pembuluh darah vena di kaki seseorang mengalami kerusakan, yang kemudian membatasi sirkulasi darah dan menyebabkan penumpukan darah di kaki, demikian menurut situs web Klinik Cleveland.
“Biasanya, katup di pembuluh vena kaki Anda menjaga aliran darah agar kembali ke jantung,” tulis klinik tersebut. “Namun CVI merusak katup-katup tersebut, menyebabkan darah menggenang di kaki. Hal ini meningkatkan tekanan pada pembuluh vena dan menimbulkan gejala seperti pembengkakan dan luka terbuka (ulkus).”
Menurut klinik tersebut, kondisi ini memengaruhi sekitar 1 dari 20 orang dewasa, dan risikonya meningkat seiring bertambahnya usia.
CVI berbeda dari trombosis vena dalam (deep vein thrombosis/DVT), yaitu kondisi yang lebih serius yang ditandai dengan pembentukan gumpalan darah di pembuluh vena dalam, biasanya terjadi di kaki.
Setelah penjelasan Leavitt, Gedung Putih merilis surat dari Sean Barbabella, seorang perwira Angkatan Laut AS yang merupakan dokter Trump. Dalam surat tersebut dinyatakan bahwa tidak ditemukan bukti bahwa Trump mengalami trombosis vena dalam maupun penyakit arteri.
Gejala dan Tanda-Tandanya
Gejala umum CVI meliputi:
Pembengkakan, biasanya di sekitar kaki dan pergelangan kaki
Rasa pegal
Kaki terasa berat
Kesemutan di kaki
Munculnya varises
Gejala lainnya termasuk:
Warna kulit kemerahan atau cokelat kehitaman
Kulit terlihat seperti kulit kasar/leathery
Kulit kaki yang mengelupas atau gatal
Namun dalam kasus yang parah, kondisi ini dapat menyebabkan luka di kaki yang disebut ulkus.
“Tanpa pengobatan, CVI dapat meningkatkan tekanan di pembuluh vena kaki hingga kapiler (pembuluh darah terkecil) pecah. Saat ini terjadi, kulit di area tersebut berubah menjadi cokelat kemerahan dan mudah robek jika terbentur atau tergores,” jelas situs Klinik Cleveland.
Pecahnya pembuluh darah ini dapat menyebabkan peradangan, kerusakan jaringan, dan luka di kaki.
“Ulkus karena stasis vena sulit sembuh dan dapat terinfeksi. Infeksi ini bisa menyebar ke jaringan sekitarnya, menyebabkan kondisi yang disebut selulitis, yang berbahaya jika tidak segera diobati,” lanjut laman tersebut.
Penyebab Insufisiensi Vena Kronis
Menurut situs web Universitas Johns Hopkins, CVI lebih mungkin terjadi pada individu yang:
Kelebihan berat badan
Memiliki riwayat keluarga dengan kondisi serupa
Mengalami cedera kaki
Pernah menjalani operasi kaki
Pernah mengalami gumpalan darah
Faktor lainnya:
Merokok
Kurang olahraga
Tekanan darah tinggi di kaki karena terlalu lama duduk atau berdiri
Pilihan Pengobatan
Otoritas kesehatan menyarankan pengobatan yang berfokus pada meningkatkan sirkulasi darah di kaki, antara lain:
Mengangkat kaki untuk mengurangi pembengkakan
Menggunakan kaus kaki atau stoking kompresi
Olahraga rutin
Beberapa obat juga dapat digunakan untuk meningkatkan sirkulasi darah, dan aspirin digunakan untuk membantu pengobatan ulkus kaki.
Dalam kasus yang parah, dapat dilakukan operasi pada pembuluh vena yang terdampak.
“Pembuluh darah yang terdampak akan diikat agar darah tidak lagi mengalir melaluinya. Jika pembuluh darah atau katupnya rusak parah, maka pembuluh darah tersebut akan diangkat. Ini disebut **pengangkatan vena (vein stripping),” jelas laman Johns Hopkins.
Perawatan lainnya termasuk:
Skleroterapi: penyuntikan zat kimia ke dalam pembuluh darah
Ablasi laser endovenous atau ablasi frekuensi radio
Detail Tambahan tentang Kesehatan Trump
Leavitt juga menanggapi spekulasi mengenai memar di tangan kanan Trump yang terlihat dalam beberapa hari terakhir. Ia mengatakan memar tersebut disebabkan oleh iritasi akibat sering berjabat tangan, serta kebiasaan Trump mengonsumsi aspirin secara rutin.
Beberapa lansia memang mengonsumsi aspirin setiap hari untuk mencegah serangan jantung atau stroke, meskipun beberapa lembaga kesehatan mulai tidak merekomendasikan kebiasaan ini sejak lima tahun lalu. Leavitt menyatakan bahwa konsumsi aspirin tersebut merupakan bagian dari “regimen pencegahan kardiovaskular standar.”
Leavitt menepis anggapan bahwa kesehatan Trump sedang menurun.
“Presiden tetap dalam kondisi kesehatan yang sangat baik, dan saya rasa Anda semua menyaksikannya setiap hari di sini,” ujarnya kepada wartawan.
“Tidak ditemukan tanda-tanda gagal jantung, gangguan ginjal, atau penyakit sistemik.”
Leavitt juga menambahkan bahwa Trump tidak mengalami ketidaknyamanan akibat kondisi tersebut.
Para pengamat mengatakan insiden ini menyoroti praktik ‘diplomasi sandera’ oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan mungkin terkait dengan pengiriman uang ke luar negeri oleh pejabat tinggi PKT
EtIndonesia. Seorang eksekutif senior Wells Fargo, seorang warga negara Amerika Serikat, telah dilarang meninggalkan Tiongkok, memperbarui kekhawatiran mengenai berbisnis di negara komunis tersebut.
Para analis mengatakan bahwa di tengah ketegangan yang terus berlangsung antara Tiongkok dan Amerika Serikat serta meningkatnya konflik internal dalam Partai Komunis Tiongkok (PKT), risiko keamanan yang dihadapi oleh para pebisnis asing di Tiongkok meningkat tajam.
Chenyue Mao, warga AS yang memimpin bisnis faktoring internasional Wells Fargo dan berbasis di AS, dilarang keluar dari Tiongkok setelah masuk ke negara itu dalam beberapa minggu terakhir. Mao lahir di Shanghai dan kini tinggal di Atlanta. Raksasa perbankan AS tersebut dilaporkan telah menghentikan seluruh perjalanan ke Tiongkok setelah insiden itu.
“Kami memantau situasi ini secara saksama dan sedang menempuh jalur yang sesuai agar karyawan kami dapat kembali ke Amerika Serikat sesegera mungkin,” kata Wells Fargo dalam pernyataan tertanggal 17 Juli.
Seorang juru bicara Kedutaan Besar AS di Beijing mengatakan, “Kami telah menyampaikan kekhawatiran kepada otoritas Tiongkok mengenai dampak larangan keluar yang sewenang-wenang terhadap warga negara AS terhadap hubungan bilateral kami, dan mendesak mereka untuk segera mengizinkan warga AS yang terdampak untuk pulang ke rumah.”
Kedutaan tidak memberikan komentar lebih lanjut mengenai rincian kasus tersebut.
Tiongkok sering menahan orang dengan tuduhan spionase dan kejahatan ekonomi, “namun tuduhan tersebut sering kali kurang transparan atau bukti, dan lebih dimaksudkan sebagai alat tawar diplomatik,” ujar Yeh Yao-Yuan, profesor ilmu politik dan studi internasional di University of St. Thomas kepada The Epoch Times pada 18 Juli. Ia menyebut bahwa “diplomasi sandera” telah menjadi praktik umum PKT.
Yeh mengatakan bahwa seiring dengan berlanjutnya ketegangan perdagangan dan persaingan teknologi antara AS dan Tiongkok, “praktik semacam ini mungkin dimaksudkan sebagai alat tawar, namun justru akan semakin memperburuk iklim bisnis dan mendorong perusahaan asing untuk mengevaluasi kembali risiko berinvestasi di Tiongkok.”
Serangkaian Insiden Serupa
Kasus Mao merupakan yang terbaru dari serangkaian insiden terkait pelarangan keluar atau penahanan terhadap pebisnis asing di Tiongkok.
Pada 16 Juli, pengadilan di Beijing menjatuhkan hukuman 3,5 tahun penjara kepada seorang karyawan asal Jepang dari Astellas Pharma atas tuduhan spionase.
Otoritas Tiongkok menggerebek kantor perusahaan AS Mintz Group di Beijing pada Maret 2023, menahan para karyawannya, dan mendenda perusahaan tersebut sebesar 1,5 juta dolar. Para karyawan dibebaskan pada bulan Maret setelah dua tahun dalam tahanan.
Leon Wang, Presiden AstraZeneca Tiongkok, telah ditahan dan diselidiki sejak Desember 2024 oleh rezim Tiongkok, namun hanya sedikit informasi yang diberikan mengenai penyelidikan tersebut.
Pada akhir 2023, Charles Wang Zhonghe, bankir senior di Nomura Holdings Jepang, dilarang meninggalkan Tiongkok saat kunjungannya.
Menurut survei dari Kamar Dagang Uni Eropa di Tiongkok, 9 persen perusahaan yang merespons menyatakan kesulitan menarik karyawan asing untuk bekerja di Tiongkok karena kekhawatiran terhadap risiko keamanan dan keselamatan pribadi.
Dewan Bisnis AS-Tiongkok menerbitkan survei terhadap 130 perusahaan AS pada 16 Juli yang menunjukkan bahwa “kurang dari separuh merasa optimistis tentang masa depan, mencerminkan kekhawatiran terkait tarif, deflasi, dan ketidakpastian kebijakan,” meskipun sebagian besar perusahaan memperoleh keuntungan pada tahun 2024.
Larangan keluar dari Tiongkok berdasarkan Undang-Undang Anti-Spionase yang diperluas pada 2023 memungkinkan negara itu mencegah siapa pun, baik warga negara Tiongkok maupun asing, meninggalkan negara tersebut karena alasan hukum atau politik, termasuk sedang dalam penyelidikan.
Pemerintah AS telah mengeluarkan peringatan perjalanan level 2 ke Tiongkok pada 27 November 2024, memperingatkan agar “meningkatkan kewaspadaan saat bepergian ke daratan Tiongkok karena penerapan hukum lokal yang sewenang-wenang, termasuk yang berkaitan dengan larangan keluar.”
Shen Ming-shih, Direktur Divisi Penelitian Keamanan Nasional di Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa ekonomi Tiongkok saat ini menghadapi banyak masalah dan rezim “sangat takut terhadap aliran dana besar yang keluar ke negara lain.”
Selain itu, di tengah konflik internal yang memanas, “para pemimpin tertinggi PKT sangat korup dan menggunakan bank asing untuk mencuci uang” atau mentransfer uang ke luar negeri, kata Shen. Itulah sebabnya rezim Tiongkok “secara ketat memantau apakah ada pemimpin tinggi PKT yang menyimpan dana dalam jumlah besar di bank asing atau jika ada eksekutif bank yang masuk ke Tiongkok untuk menangani urusan penting,” jelasnya.
Luo Ya dan Reuters berkontribusi dalam laporan ini
EtIndonesia. Manusia mungkin tak bisa mengendalikan takdirnya, tetapi kita bisa mengendalikan sikap kita terhadap takdir.
Pada hari terakhir tahun 1956, surat kabar Pravda menerbitkan sebuah cerita pendek. Radio Moskow membacakan cerita itu secara lengkap, dan siapa pun yang mendengarnya, tak kuasa menahan air mata.
Itulah kisah “Nasib Seorang Manusia” karya pemenang Nobel, Mikhail Sholokhov—sebuah kisah tentang penderitaan hidup yang dijalani dengan ketabahan dan kekuatan jiwa.
Tokohnya, Sokolov, adalah seorang pria biasa, namun hidupnya luar biasa penuh luka. Setiap kali ditampar takdir, dia tidak pernah menyerah. Dia terus bertahan, terus melangkah. Dan dari kisahnya, kita diajak merenung: Saat nasib menghantammu dan hidup yang tenang tiba-tiba hancur berkeping-keping—apa yang akan kamu lakukan?
Sokolov menunjukkan dengan nyata:
Manusia tak bisa mengendalikan takdir, tapi bisa memilih bagaimana menyikapinya. Apa yang kamu yakini, itulah yang akan terjadi.
Bahagia yang Sempat Terlambung
Sokolov adalah seorang buruh biasa. Dia dan istrinya bertemu saat bekerja di pabrik. Saat itu, seluruh keluarganya telah meninggal karena kelaparan. Dia sendirian, menjual rumah di desa lalu merantau ke kota demi bertahan hidup.
Di kota itu pula dia bertemu istrinya, yang juga yatim piatu. Karena sama-sama mengenal pahitnya hidup, mereka begitu menghargai kebahagiaan yang akhirnya mereka miliki.
Mereka dikaruniai tiga anak: seorang putra dan dua putri. Demi memberi kehidupan yang layak, Sokolov bekerja keras. Dia berhasil membangun rumah baru dan membeli dua kambing—sederhana, tapi cukup untuk membuatnya memimpikan masa depan cerah.
Namun, kebahagiaan itu tak bertahan lama. Perang Patriotik Raya pecah, dan Sokolov dipanggil ke medan perang.
Perang Mengubah Segalanya
Dia tahu, sejak naik ke kereta menuju medan perang, takdir tak lagi ada di tangannya. Istrinya menangis semalaman, dan saat mengantarnya pergi, tubuhnya gemetar, mengucapkan kata-kata perpisahan.
Sokolov, yang sudah diliputi perasaan berat, justru naik pitam melihat istrinya. Dengan emosi, dia mendorong mereka, dan tanpa menoleh lagi, naik ke kereta.
Di medan perang, kematian menjadi pemandangan harian. Sesama tentara sering kali menulis surat sambil menangis, mencurahkan kesedihan dan ketakutan. Namun, Sokolov tidak. Dia tak percaya air mata bisa mengubah kenyataan.
Baginya, daripada meratap, lebih baik menerima takdir dan menjalani hari dengan sikap terbaik.
Seperti kata pepatah: “Sebagian besar kedewasaan adalah belajar menerima—menerima kesepian, kegagalan, dan kenyataan hidup.”
Ditawan, Tapi Tak Tunduk
Dalam sebuah pertempuran, Sokolov terluka dan ditangkap. Dia dikirim ke kamp tawanan Nazi—tempat yang lebih pantas disebut neraka dunia.
Tawanan diperlakukan seperti binatang, disuruh kerja paksa, diberi makanan tak layak (150 gram roti dicampur serbuk kayu), dan jika sedikit salah, bisa dipukul atau ditembak mati.
Banyak yang kehilangan semangat hidup dan menyerah pada keputusasaan. Tapi tidak Sokolov. Bahkan sejak hari pertama, dia sudah menyusun rencana untuk melarikan diri.
Dia pernah mencoba kabur dan tertangkap, disiksa hingga nyaris mati. Tapi dia tidak berhenti. Keinginannya untuk bebas tumbuh makin besar.
Dua tahun kemudian, kesempatan datang. Dia ditugaskan mengemudikan mobil untuk seorang insinyur Jerman. Saat tugas membawanya ke garis depan, suara meriam membangkitkan semangat patriotiknya. Dia memutuskan untuk kabur—dan membawa si insinyur sebagai tawanan balasan.
Kesempatan emas tiba. Saat si insinyur tertidur di kursi belakang, Sokolov memukulnya hingga pingsan, mengikat tubuhnya dengan kawat, lalu mengenakan seragam tentara Jerman dan mengemudi menuju posisi tentara Soviet.
Meski diterjang hujan peluru, dia berhasil kabur dan kembali ke negaranya—berbekal keberanian dan akal sehat.
Patah Hati yang Paling Dalam
Kembali ke negaranya, Sokolov segera mengirim surat ke keluarganya. Namun balasan yang datang justru mengguncang jiwanya: Istri dan kedua putrinya telah tewas dalam serangan bom. Satu-satunya anak laki-lakinya, Anatoly, dikabarkan sedang bertugas di garis depan.
Dia mencari Anatoly ke mana-mana. Saat akhirnya mendengar bahwa sang anak masih hidup dan kini jadi perwira tinggi, Sokolov menangis bahagia.
Dia membayangkan hidup damai bersama anaknya setelah perang. Tapi saat dia tiba di Berlin untuk menemuinya, kabar buruk lain menyambutnya—Anatoly tewas pada hari kemenangan.
Air matanya telah kering. Dia hanya berdiri diam saat menghadiri pemakaman putranya.
Hidup Harus Tetap Berjalan
Dihancurkan oleh takdir, Sokolov tidak menyerah. Setelah perang, dia pindah ke kota lain dan bekerja sebagai sopir.
Awalnya dia pikir akan menjalani sisa hidup dalam kesunyian. Tapi takdir ternyata belum selesai menulis kisahnya.
Di sebuah restoran dekat rumahnya, dia berkali-kali melihat seorang anak laki-laki yang tampak kotor, lapar, dan kesepian. Anak itu menarik perhatiannya dengan mata yang bersinar tajam. Dia lalu mengajak anak itu berbicara. Namanya Vanya—seorang yatim piatu yang hidup menggelandang.
Melihat penderitaan Vanya, hati Sokolov tergerak. Dia langsung memutuskan untuk mengadopsi anak itu.
Dia memeluk Vanya dan berkata: “Aku ayahmu. Aku sudah mencari kamu ke mana-mana.”
Tanpa ragu, Vanya memeluknya kembali, menangis bahagia—seakan dia telah menemukan kembali keluarganya.
Sejak itu, hidup Sokolov berubah. Dia kembali tertawa, bangun di malam hari hanya untuk melihat wajah Vanya yang sedang tidur, lalu tersenyum sendiri.
Dia memasakkan makanan, menyiapkan susu, dan menjalani hari-hari dengan rasa syukur.
Sokolov, yang hatinya telah lama membatu, mulai melunak kembali.
Saat Kau Punya Cinta, Hidup Akan Menyala Lagi
Ada yang bilang: “Seseorang yang pernah terluka parah tidak perlu terus menangisi nasibnya. Selama dia masih hidup, dia masih bisa memberi cinta untuk menyelamatkan jiwa lain yang lebih lemah.”
Sokolov telah melewati penderitaan luar biasa, namun dia masih punya kekuatan untuk mencintai—dan dalam proses itu, dia menyembuhkan dirinya sendiri.
Saat kamu terus menangisi luka hidupmu, penderitaan akan terus mengikuti. Tapi saat kamu membuka hatimu untuk memberi, dunia akan membalas dengan cinta yang tak kamu duga.
Kamu Tak Bisa Mengubah Takdir, Tapi Bisa Memilih Sikap
Penulis Tiongkok, Zhou Guoping, pernah berkata: “Kita tidak bisa mengatur takdir, tapi kita bisa mengatur sikap terhadap takdir.”
Benar adanya—hidup tidak selalu berjalan mulus. Tapi daripada mengutuki nasib, lebih baik mengubah cara kita melihat dan menanggapinya:
· Belajarlah menerima hal-hal yang tidak bisa diubah;
· Jangan menyerah, terus cari jalan keluar bahkan saat semuanya terasa buntu;
· Jangan hilang harapan, tetap tanam benih kebaikan.
Akhir yang Bukan Akhir
Di akhir cerita, Sokolov secara tak sengaja menabrak seekor sapi dan kehilangan SIM-nya. Dia tak tahu lagi harus ke mana. Tapi tanpa banyak pikir, dia menggendong Vanya, dan kembali melangkah ke jalanan.
Kisah mereka ditutup dengan bayangan dua sosok yang berjalan menjauh—bukan akhir, tapi permulaan hidup baru.
Maka untukmu yang sedang berada dalam masa sulit: Percayalah—selama kamu yakin dan tetap berjuang, keajaiban bisa terjadi.
Seperti kalimat terakhir dalam cerita ini “Tak peduli seberapa pahitnya kehidupan, semua itu akan dikalahkan oleh tekat untuk bahagia, dan oleh harapan untuk hidup lebih baik.” (jhn/yn)
EtIndonesia. Perang, bila benar terjadi, akan membawa kesulitan hidup yang jauh lebih parah daripada pandemi. Pengawasan sosial di masa perang akan lebih ketat, karena saat itu benar-benar berada dalam “status darurat perang.”
Jangan terlalu optimistis terhadap perang. Kita tidak tahu seberapa besar dampaknya, atau berapa lama akan berlangsung—bisa bertahun-tahun. Bahkan satu pihak pun bisa terpecah menjadi banyak faksi bersenjata, dan semua aliansi bisa berubah sewaktu-waktu.
Perang ibarat kobaran api—tak ada yang tahu seberapa luas akan menjalar. Bisa saja sebuah negara pecah menjadi banyak bagian, atau sebaliknya, banyak negara melebur jadi satu.
Saat perang, siapa pun yang lewat depan rumah Anda—entah tentara, polisi, atau kelompok tak dikenal—bisa saja menuntut makanan, uang, dan logistik. Karena militer bukanlah pihak yang menciptakan nilai ekonomi, mereka hanya konsumtif. Perang bukan proses produksi, melainkan penghancuran kekayaan dan nyawa. Maka semakin lama perang, semakin langka barang dan makanan, hingga banyak orang tak bisa bertahan hidup.
Penerangan, Bahan Bakar, dan Penghangat
Begitu perang pecah, hanya butuh beberapa menit bagi bom grafit untuk melumpuhkan seluruh jaringan listrik kota. Semua mati—lampu jalan, listrik, internet, sinyal ponsel. Alat pemanas, AC, dan boiler tak bisa digunakan. Gas kota juga akan dimatikan karena rawan meledak.
Tanpa listrik di malam hari, jalanan menjadi gelap gulita. Tanpa senter, bahkan bisa tersesat di kompleks sendiri, dan tidak bisa menemukan pintu rumah saat naik belasan lantai tangga.
Peralatan penerangan yang wajib disiapkan:
· Senter minimal satu per orang + baterai cadangan secukupnya;
· Beberapa kotak lilin (bukan hanya beberapa batang);
· Sumbu/lilin kapas (jika darurat, minyak goreng bisa dijadikan lampu);
Untuk memasak & merebus air:
· Kompor batubara (dan stok batubaranya);
· Tungku kayu sederhana;
· Kompor lipat Jerman dengan bahan bakar padat khusus;
Bagi warga kota yang tinggal di apartemen, menyimpan batubara dan kayu sulit. Maka, siapkan golok atau gergaji kecil untuk menebang ranting pohon di sekitar kompleks. Tapi ingat, kayu basah susah dibakar.
Untuk penghangat & penerangan sekaligus:
Gunakan lampu gas outdoor + tabung butana. Nyala terang, panas cukup, dan tidak menghasilkan karbon monoksida. Butana juga bisa dipakai untuk memasak. Tapi jangan simpan terlalu banyak tabung gas dalam rumah—jika ada satu yang bocor dan terkena percikan api atau listrik statis, bisa meledak.
Makanan
“Punya stok makanan di rumah, hati jadi lebih tenang.” Dalam sejarah, hampir semua perang skala besar disertai kelaparan massal.
Daftar stok makanan:
Jumlah: untuk kebutuhan seluruh anggota keluarga selama 3 bulan.
Kriteria: Tidak perlu enak, yang penting bergizi, tahan lama, dan tidak mudah basi.
Usahakan pilih makanan yang bisa langsung dimakan tanpa perlu dimasak (saat listrik & gas padam).
Jangan andalkan makanan beku. Saat perang, listrik tidak stabil. Daging beku akan membusuk.
Sembunyikan sebagian logistik makanan di tempat tersembunyi, seperti ruangan rahasia atau wadah tersembunyi. Karena saat perang, pasokan bisa dirampas—oleh tentara, pemerintah, atau tetangga yang kelaparan.
Makanan siap makan yang disarankan:
· Sosis instan, biskuit, daging kalengan, buah kaleng;
· Energy bar, makanan instan berpemanas mandiri;
· Daging kering sapi/babi.
Stok cadangan jangka panjang (kelas survival):
· Ransum militer, biskuit militer, paket survival rumah gunung.
· Beberapa drum stainless steel atau galon PE besar;
· Jika rumah dekat danau/sungai/sumur, jumlah drum bisa dikurangi.
Air minum siap pakai: beberapa dus air botolan.
Peralatan penyaring & penjernih air:
· Tablet klorin dioksida (untuk desinfeksi);
· Batu tawas besar (untuk pengendapan lumpur).
Pakaian & Penghangat Tubuh
Musim dingin tanpa listrik sangat menyiksa. Saat perang, jalanan rusak dan Anda mungkin harus jalan kaki jauh. Maka siapkan pakaian lebih hangat dari biasanya.
Wajib punya:
· Jaket tebal dengan isi 300 gram bulu angsa atau serat sintetis kualitas tinggi.
· Selimut super hangat. Lebih baik lagi jika punya sleeping bag tipe envelope, tipis tapi hangat dan mudah dibawa.
Pakaian dalam & kaus kaki:
· Pilih yang dari wol Merino—tidak bau walau jarang mandi, cepat kering, nyaman dipakai.
· Kaos kaki: sediakan beberapa pasang cadangan (wol Merino terbaik).
Sepatu:
· Sepatu outdoor yang kokoh, anti licin, dan nyaman dipakai lama. Jika harus menggendong tas berat di medan sulit, pakai sepatu hiking high-cut.
Alat survival tambahan:
· Selimut darurat aluminium, sleeping bag foil, jas hujan darurat—berguna saat basah kuyup.
Tas Darurat
1. Tas 72 jam survival: Satu orang satu tas (40–60L, ada ikat pinggang). Isinya cukup untuk bertahan hidup 3 hari saat mengungsi mendadak. Latihanlah camping ala backpacker untuk tahu kebutuhan dasar.
2. Tas pindahan darurat: Bisa berupa koper atau tas ransel besar beroda, berisi semua barang esensial keluarga. Pilih roda dan resleting berkualitas. Troli lipat juga sangat berguna.
Alat Informasi
Tanpa listrik dan internet, tidak ada akses informasi. Maka siapkan:
· Radio FM/AM/SW (frekuensi pendek);
· Beberapa unit walkie-talkie (jarak 1–3 km, bisa lebih jauh jika tanpa penghalang); → Simpan dengan baterai cadangan;
· Telepon satelit (bisa saja dilarang saat perang, simpan baik-baik, gunakan kartu internasional);
· Starlink (belum bisa dipakai di Tiongkok, tapi patut dipertimbangkan).
Obat-obatan & Kit Medis
Rumah sakit akan penuh dengan korban perang. Obat harian bisa langka. Siapkan:
· Jika punya skill medis, siapkan alat bedah ringan.
Peralatan Lainnya
· Tisu toilet, kantong sampah;
· Toolbox lengkap (karena harus mandiri memperbaiki barang rusak);
· Uang tunai: Minimal 5–6 juta rupiah. Lebih baik punya 10–20 juta. Perang bisa menyebabkan bank membekukan tabungan, batasi penarikan, atau bahkan hilang.
· Valuta asing & emas: Jika rupiah terjun bebas saat perang, dolar dan emas bisa menyelamatkan Anda.
· Paspor aktif: Untuk keluar negeri sebagai pengungsi. Belajar bahasa asing, terutama bahasa Inggris—ini penting di mana pun Anda mencari suaka.
EtIndonesia. Seorang ibu di Los Angeles, Amerika Serikat, setiap hari bangun pukul 02:45 dini hari untuk memulai perjalanan panjang menuju tempat kerjanya. Dia bekerja selama 9 jam, namun waktu tempuh naik kendaraan umum bisa mencapai 6 jam sehari. Meski hanya tidur 4,5 jam per malam, ibu ini merasa sangat puas, karena ada alasan yang mengharukan dan kekuatan hangat di balik perjuangannya.
Kehidupan Sibuk Seorang Ibu Berusia 60 Tahun
Di kota besar, menghabiskan waktu 2 jam untuk perjalanan kerja sudah biasa, namun 6 jam perjalanan setiap hari adalah hal yang langka. Diketahui, ibu ini telah menjalani rutinitas ini selama lebih dari sepuluh tahun, dan tidak pernah mengeluh.
Carolyn Cherry, 60 tahun, adalah seorang pendeta yang bertugas di kantor pemerintah wilayah Los Angeles sebagai staf pelayanan untuk auditor daerah. Dia memiliki dua anak, laki-laki dan perempuan.
Carolyn menyebut pekerjaan ini sebagai posisi yang banyak orang impikan. Dia telah bekerja selama 16 tahun, dengan jam kerja 9 jam per hari. Dia tidak merasa lelah karena penghasilannya cukup untuk menghidupi keluarganya dengan layak.
Yang membedakan Carolyn dari rekan-rekannya adalah tempat tinggalnya yang sangat jauh, sekitar 169 km dari Los Angeles, tepatnya di kota kecil bernama Hemet. Karena itu, setiap hari dia harus bangun pukul 02:45 pagi, bersiap, sarapan, dan menyiapkan perlengkapan anak-anak. Sekitar pukul 03:45, dia sudah keluar rumah.
6 Jam Perjalanan Setiap Hari
Dia mengemudi untuk menjemput temannya, lalu mereka bersama-sama ke Stasiun South Perris, memarkir mobil, dan naik kereta menuju Los Angeles.
Kenapa tidak menyetir langsung ke kantor? Karena lalu lintas di Los Angeles sangat padat saat jam sibuk, dan biaya bensin untuk perjalanan pulang-pergi sekitar 338 km juga sangat mahal. Maka, naik kereta lebih hemat dan efisien bagi Carolyn.
Sekitar pukul 07:00 pagi, dia tiba di Los Angeles dan masih harus berganti moda transportasi untuk sampai ke kantornya.
Setelah bekerja selama 9 jam, Carolyn akan menempuh perjalanan yang sama untuk kembali ke rumah sejauh 169 km itu.
Motivasi Seorang Ibu yang Tak Kenal Lelah
Karena keluar rumah sangat pagi dan pulang malam, dia jarang bertemu anak-anaknya di hari kerja. Total waktu kerja dan perjalanan membuat waktu tidurnya hanya sekitar 4,5 jam per hari sepanjang tahun.
Namun Carolyn tidak pernah mengeluh. Dia bahkan tidak menggunakan alarm, karena sudah terbiasa bangun tepat waktu setiap hari.
“Aku memilih tinggal jauh karena ingin anak-anakku tumbuh di lingkungan yang lebih baik,” ujar Carolyn.
Dulu dia pernah tinggal di lingkungan dengan tingkat kejahatan tinggi dan tidak ingin anak-anaknya terpengaruh.
Kini, dia tinggal di komunitas yang tenang, anak-anaknya bersekolah bersama teman-teman yang sopan dan baik, serta jauh dari pengaruh kriminalitas — dan itu membuat Carolyn merasa tenang.
Alasan penting lainnya adalah biaya sewa rumah. Di Hemet, dia menyewa apartemen dua kamar seharga 800 dolar per bulan. Sedangkan di Los Angeles, apartemen dengan kondisi yang sama, meski di lingkungan kurang bagus, bisa mencapai 1800 dolar atau lebih.
Uang yang dihemat dari sewa rumah digunakan untuk kebutuhan anak-anak dan menabung untuk biaya kuliah mereka kelak.
“Aku hanya ingin anak-anakku memiliki kehidupan yang lebih baik,” kata Carolyn.
Alasan yang sederhana namun tulus inilah yang menjadi semangat terbesarnya. Betapa pun berat hari-harinya, dia tak pernah merasa lelah.
Yang membuat Carolyn paling bahagia adalah, anak-anaknya memahami dan menghargai pengorbanan sang ibu.
Perjalanan Panjang yang Membahagiakan: “Aku Menikmatinya”
Meski harus menghabiskan waktu berjam-jam di kendaraan, Carolyn tidak pernah merasa bosan, bahkan ia menikmati setiap perjalanannya.
Dia selalu duduk di tempat yang sama, ditemani kopi dan camilan kecil. Tempat duduknya tidak terkena angin dan memiliki pandangan luas ke luar, sangat cocok untuk mengamati sesama penumpang.
“Orang-orang yang naik kereta sangat menarik. Kamu bisa melihat berbagai macam kehidupan,” kata Carolyn.
Melalui pengamatan itu, dia merasakan kehidupan orang lain, dan itu membuatnya bahagia.
Rencana Pensiun: Akhir dari Perjalanan Pagi Buta
“Aku tidak bisa membayangkan seperti apa nanti,” ujarnya, “tapi aku menantikannya.”
Dia berharap setelah pensiun, tidak perlu lagi bangun pukul 02:45 pagi, dan bisa tidur nyenyak selama 6 jam atau lebih setiap hari.
“Aku lelah secara fisik, tapi hatiku penuh kebahagiaan. Semua ini untuk masa depan anak-anakku.”(jhn/yn)
EtIndonesia. Tanah Fukushima yang telah didekontaminasi namun sedikit radioaktif, dikirim pada hari Sabtu (19/7) ke kantor perdana menteri Jepang untuk digunakan kembali dalam upaya menunjukkan keamanannya.
Ini adalah tanah pertama yang digunakan, selain untuk eksperimen, sejak bencana nuklir tahun 2011 ketika PLTN Fukushima Daiichi mengalami kehancuran dahsyat akibat gempa bumi dan tsunami yang menyebabkan semburan bahan radioaktif dalam jumlah besar dari fasilitas tersebut, mencemari daerah sekitarnya.
Pemerintah sangat ingin meyakinkan masyarakat tentang daur ulang 14 juta meter kubik tanah yang telah didekontaminasi, yang cukup untuk mengisi 11 stadion bisbol, yang dikumpulkan setelah pembersihan besar-besaran dan disimpan di fasilitas luar ruangan yang luas di dekat PLTN Fukushima. Para pejabat telah berjanji untuk menemukan lokasi pembuangan akhir di luar Fukushima pada tahun 2045.
Kementerian Lingkungan Hidup mengatakan bahwa 2 meter kubik tanah tersebut, yang sekarang berada di kompleks kantor Perdana Menteri Shigeru Ishiba di Tokyo, akan digunakan sebagai material pondasi di salah satu bagian taman, berdasarkan pedoman keselamatan kementerian yang disahkan oleh Badan Tenaga Atom Internasional. Tanah tersebut tidak mengandung material dari dalam pabrik.
Meskipun telah ada jaminan, terdapat banyak keresahan publik. Pemerintah telah terpaksa membatalkan rencana untuk bereksperimen menggunakan sebagian tanah tersebut di hamparan bunga di beberapa taman umum di dalam dan sekitar Tokyo menyusul protes yang terjadi.(yn)
EtIndonesia. Anak perempuan yang tumbuh tanpa cukup belaian kasih sayang sejak kecil seringkali kesulitan dalam hubungan asmara saat dewasa. Hanya sedikit saja kehangatan dari seorang pria bisa membuatnya rela “terbakar”, seolah cinta adalah segalanya yang dia kejar meski harus tersakiti。
1. Sejak kecil haus akan kasih sayang, setelah tumbuh dewasa rela menyerahkan segalanya demi setitik kehangatan
Film “Memories of Matsuko” menggambarkan tragisnya kehidupan seorang wanita bernama Matsuko.
Sejak kecil, Matsuko dikenal cerdas dan lembut. Namun karena sang adik yang sakit-sakitan terus-menerus jadi pusat perhatian orangtuanya, Matsuko pun terabaikan.
Dia mulai tumbuh dengan kepribadian yang sangat haus akan cinta, tidak tahan sepi, dan selalu ingin diakui.
Demi membuat ayahnya tersenyum, dia bahkan rela berdandan dan berperan seperti badut. Tapi cinta yang diharapkannya tak kunjung datang.
Kekurangan cinta saat kecil adalah kekosongan awal yang bisa menciptakan kehampaan seumur hidup.
Matsuko terus mencari cinta dan pengakuan sepanjang hidupnya. Meski berkali-kali disakiti dan dihina, dia tetap menghibur dirinya sendiri: “Tidak apa-apa, yang penting aku tidak sendirian.”
Dia lebih rela disakiti, dimarahi, bahkan dipukul, daripada harus menghadapi kesepian. Di akhir hidupnya, dia menulis di dinding: “Terlahir sebagai manusia, maafkan aku.”
Hingga napas terakhir, dia tetap menyalahkan dirinya atas semua luka yang menimpanya. Dia merasa dirinya bodoh dan menyusahkan orang lain.
2. Artis terkenal pun bisa jadi korban: Kisah nyata dari masa kecil tanpa cinta
Artis wanita Yi Nengjing (伊能静) adalah contoh nyata dari kehidupan tanpa kasih sejak dini.
Dalam program reality show “Super Mom”, penonton dibuat prihatin melihat sikap dingin suaminya, aktor Qin Hao, terhadap istri dan anak mereka. Banyak ibu-ibu penonton tidak tahan melihat betapa sensitif dan rapuhnya Yi Nengjing.
Dia dikenal sebagai sosok yang sangat mudah tersentuh, sangat peduli pada pandangan orang lain, dan sering merasa cemas. Untuk membela suaminya, dia bahkan menulis klarifikasi panjang, namun justru semakin menunjukkan betapa keras dia berusaha mempertahankan “kesan bahagia”.
Yi Nengjing pernah mengaku bahwa dia tak pernah benar-benar merasakan kasih sayang orangtua. Ayah dan ibunya bercerai, dia diasuh oleh ibu angkat, dan sempat menjalani kehidupan nomaden di Jepang setelah ibunya menikah lagi.
Orang yang kekurangan cinta sejak kecil akan terus mencoba menutupi luka itu saat dewasa—dengan mencintai berlebihan, atau terus meminta dicintai.
Bahkan ketika dia menerima cinta dari orang lain, rasa tidak aman tetap menghantui:
“Jika orangtuaku sendiri saja tidak mencintaiku, siapa yang bisa bertahan mencintaiku selamanya?”
Maka tak heran jika dia tumbuh menjadi pribadi yang sulit percaya, sangat sensitif terhadap perubahan sikap orang di sekelilingnya.
Kisah cintanya dengan penyanyi terkenal Harlem Yu (哈林) selama 20 tahun pun akhirnya kandas. Meskipun Harlem sangat menyayanginya, Yi Nengjing justru mengakhiri hubungan itu melalui perselingkuhan.
Tak lama kemudian, dia jatuh cinta pada pria yang 10 tahun lebih muda, dan demi mempertahankan keluarga baru ini, dia hamil lagi di usia lebih dari 40 tahun.
Namun, seperti yang dia sendiri katakan, dia hanya ingin memberikan “rasa memiliki rumah” kepada suaminya. Sayangnya, rumah yang hangat tak bisa dibangun oleh satu orang saja. Harus dijaga bersama.
3. Bahkan pangeran pun rapuh jika tak pernah dicintai
Kisah cinta antara Pangeran Edward (Duke of Windsor) dan Wallis Simpson, yang dulunya disebut “kisah cinta paling romantis dalam sejarah”, ternyata menyimpan sisi gelap.
Demi wanita yang telah tiga kali menikah, Edward rela turun takhta sebagai Raja Inggris. Tapi di balik romansa itu, kenyataan jauh dari indah.
Wallis bukan wanita muda, juga bukan perempuan lembut. Dia dikenal galak, dominan, dan bahkan kasar terhadap Edward. Suatu hari saat makan malam, Wallis marah karena Edward memberi perintah kepada pelayan, dan membentaknya di depan tamu-tamu.
Yang mengejutkan, Edward justru buru-buru minta maaf—seperti seekor anjing yang dipanggil majikannya.
Menurut catatan sejarah, masa kecil Edward diwarnai oleh kekakuan orang tua dan sikap dingin ibunya. Dia juga diasuh oleh pengasuh yang sangat keras, sehingga membuatnya tumbuh menjadi anak yang takut, tertekan, dan selalu haus perhatian.
Kurangnya kasih sayang di masa kecil membentuk kepribadiannya saat dewasa—lemah dalam cinta, haus akan validasi, dan rela menyerahkan hidupnya demi cinta yang salah.
4. Mereka yang tumbuh tanpa cinta, cenderung menyerahkan diri dalam hubungan yang tidak sehat
Orang yang kekurangan cinta sejak kecil, cenderung terus mencari cinta di tempat yang salah. Seringkali mereka tidak tahu bagaimana mencintai secara sehat, atau membangun relasi yang seimbang.
Mereka takut ditinggalkan, mudah tersentuh oleh kebaikan sekilas, dan rela bertahan dalam hubungan yang menyakitkan hanya demi tidak merasa sendirian.
Cinta yang sehat seharusnya saling tumbuh, saling menghargai. Bukan saling menyakiti atau mengejar yang tak pasti.
Namun kabar baiknya: Cinta yang kurang di masa kecil, bukanlah takdir.
Kita bisa belajar mencintai diri sendiri, menyembuhkan luka masa lalu, dan membangun hidup yang hangat tanpa harus bergantung pada cinta dari orang lain.
Penutup:
Jika dulu kita tidak cukup dicintai, itu bukan salah kita. Tapi sekarang kita punya kendali untuk mencintai diri sendiri dan menciptakan cinta yang sehat.
Kita semua berhak untuk dicintai, dengan cara yang tepat—dimulai dari diri sendiri.(jhn/yn)