Ayah di Pakistan Bunuh Putrinya Karena Menolak Menghapus Akun TikTok

EtIndonesia. Polisi Pakistan pada hari Jumat (11/7) mengatakan seorang ayah menembak mati putrinya setelah putrinya menolak menghapus akunnya di aplikasi berbagi video populer TikTok.

“Ayah gadis itu telah memintanya untuk menghapus akun TikTok-nya. Karena menolak, dia membunuhnya,” kata seorang juru bicara kepolisian kepada AFP.

Menurut laporan polisi yang dibagikan kepada AFP, penyidik mengatakan sang ayah membunuh putrinya yang berusia 16 tahun pada hari Selasa “demi kehormatan”. Dia kemudian ditangkap.

Keluarga korban awalnya mencoba “menggambarkan pembunuhan itu sebagai bunuh diri” menurut polisi di Kota Rawalpindi, tempat serangan itu terjadi, di sebelah ibu kota Islamabad.

Bulan lalu, seorang gadis berusia 17 tahun dan influencer TikTok dengan ratusan ribu pengikut daring dibunuh di rumahnya oleh seorang pria yang permintaannya ditolaknya.

Sana Yousaf telah mengumpulkan lebih dari satu juta pengikut di akun media sosial termasuk TikTok, tempat dia berbagi video kafe, produk perawatan kulit, dan pakaian tradisional favoritnya.

TikTok sangat populer di Pakistan, sebagian karena aksesibilitasnya bagi penduduk dengan tingkat literasi rendah.

Perempuan telah menemukan audiens dan pendapatan di aplikasi tersebut, sesuatu yang jarang terjadi di negara di mana kurang dari seperempat perempuan berpartisipasi dalam ekonomi formal.

Namun, hanya 30 persen perempuan di Pakistan yang memiliki ponsel pintar dibandingkan dengan dua kali lipat jumlah laki-laki (58 persen), kesenjangan terbesar di dunia, menurut Laporan Kesenjangan Gender Seluler 2025.

Otoritas telekomunikasi Pakistan telah berulang kali memblokir atau mengancam akan memblokir aplikasi tersebut atas apa yang disebutnya “perilaku tidak bermoral”, di tengah reaksi keras terhadap konten LGBTQ dan seksual.

Di Balochistan barat daya, di mana hukum adat mengatur banyak daerah pedesaan, seorang pria mengaku mendalangi pembunuhan putrinya yang berusia 14 tahun awal tahun ini melalui video TikTok yang menurutnya mencemarkan nama baik putrinya.(yn)

Setelah Membaca Ini, Kamu Tidak Akan Mau Bertengkar Lagi! Sebuah Rahasia untuk Membuat Keluarga Bebas dari Pertengkaran

EtIndonesia. Segala sesuatu di dunia ini memiliki sebab dan akibat.

Sekarang, izinkan saya membagikan sebuah kisah—meski terdengar seperti lelucon, namun ini adalah kisah nyata. Dan yang lebih penting lagi, kisah ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua dalam menjalani hidup di dunia ini.

Ceritanya begini:

Di sebuah lingkungan, ada dua keluarga yang tinggal berdampingan.Keluarga yang tinggal di sebelah kiri rumah itu—setiap hari ribut, setiap hari penuh keributan dan drama.

Suami istri saling bertengkar, anak-anak pun ikut-ikutan ribut. Kadang anak membantah orang tua, atau bahkan bertengkar dengan ayah dan ibunya.

Pertengkaran yang tiada henti ini membuat semua orang di rumah merasa lelah dan jenuh.

Sementara itu, tetangganya di sebelah kanan—sebuah keluarga yang harmonis dan penuh kasih.Orangtuanya penuh cinta kasih, anak-anaknya pun sangat berbakti.

Keluarga ini hidup rukun, tenteram, dan hampir tidak pernah terdengar suara keras, apalagi pertengkaran.

Hingga suatu hari, keluarga yang sering bertengkar itu pun datang berkunjung ke tetangganya yang damai: “Keluarga kami benar-benar sudah lelah karena terus bertengkar. Kami heran, kenapa keluarga kalian bisa begitu rukun dan damai? Kami tak pernah sekalipun mendengar suara tinggi dari rumah kalian. Apa rahasianya? Tolong ajarkan pada kami agar kami bisa mengubah rumah tangga kami yang penuh masalah ini.”

Tetangga yang baik itu menjawab, sambil tersenyum: “Sebenarnya tidak ada rahasia khusus. Tapi kalau kalian ingin tahu, baiklah akan aku beri tahu—rahasianya adalah: keluarga kalian semuanya orang baik, sedangkan keluarga kami semuanya orang jahat.”

Mendengar itu, mereka terkejut: “Eh? Apa maksudnya itu?”

Dia lalu menjelaskan: “Di keluarga kalian, jika ada yang berbuat salah, semua orang akan berkata ‘kamu yang salah’, dan kalau ada yang benar, akan berkata ‘aku yang benar’.

Setiap orang merasa dirinya paling baik, dan kalau ada masalah, semua menyalahkan orang lain.

Sedangkan di keluarga kami, kalau ada yang salah, setiap orang akan berkata ‘saya yang salah’, ‘maafkan saya’, dan tidak menyalahkan siapa pun.

Meskipun kami bukan orang sempurna, kami semua saling memaafkan dan bertanggung jawab. Itulah bedanya.”

Kunci Keharmonisan: Bukan Tidak Pernah Salah, Tapi Berani Mengakui Salah

Seseorang yang melakukan kesalahan bukanlah masalah besar—karena manusia bukan makhluk sempurna. Siapa yang tidak pernah salah?

Yang menjadi masalah besar adalah ketika sudah jelas salah, tapi tetap tidak mau mengakuinya, malah menyalahkan orang lain. Inilah yang menyebabkan pertengkaran antara saudara, bahkan antara orangtua dan anak.

Keluarga yang rukun itu selalu berkata: “Sayalah yang bersalah. Saya yang ceroboh.”

Meskipun kedengarannya seperti orang “jahat”, tetapi sikap seperti inilah yang membuat rumah tangga damai.

Sebaliknya, keluarga yang penuh konflik selalu berkata: “Aku ini orang baik. Yang salah itu dia!”

Sekarang, apakah kalian paham filosofi sederhana namun luar biasa ini?

Ilustrasi Sederhana: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Segelas Teh yang Pecah?

Misalnya, seorang kakak sedang minum teh dan meletakkan gelasnya di pinggir meja setelah setengah habis.

Lalu adik kecil yang ceroboh lewat, menyenggol gelas itu hingga jatuh pecah, bahkan tangannya terkena air panas.

Kakaknya marah: “Kenapa kamu pecahin gelasku?!”

Adiknya balas marah: “Kenapa kamu taruh di pinggir meja?!”

 Akhirnya, dua-duanya bertengkar.

Namun, bayangkan jika sang kakak berkata: “Tanganmu tidak apa-apa? Maaf, aku yang salah. Harusnya aku taruh gelas di tempat yang lebih aman.”

Dan adiknya pun berkata: “Maaf ya kak, aku yang tidak hati-hati. Gelasmu jadi pecah.”

Kalau begitu yang terjadi—bukankah rumah itu akan penuh damai?

Sebab Akibat yang Nyata dalam Hidup

Segala sesuatu memiliki sebab dan akibat.

Jika kamu menyalahkan orang lain, maka orang itu akan balik menyalahkanmu. Tapi jika kamu justru mengakui kesalahanmu sendiri, maka orang lain akan dengan mudah memaafkan dan memahami dirimu.

Dalam menjalani hidup dan berinteraksi dengan orang lain, jika kita bisa menjaga cara berpikir ini, maka ke mana pun kita pergi, hidup akan menjadi damai dan tenteram.

Ketenangan Ada dalam Hati, dan Hati Adalah Segalanya

Ada pepatah bijak: “Hati adalah Buddha, dan Buddha adalah hati.”

Jadi, jika kita ingin hidup tenang, mulailah dari hati sendiri. Segala hal yang terjadi, hendaknya dilihat ke dalam, bukan langsung menyalahkan ke luar.

Inilah ilmu sejati dalam hidup.

Mengakui Kesalahan Adalah Harta Paling Berharga dalam Hidup

Di tengah masyarakat, mengakui kesalahan adalah salah satu kualitas paling berharga. Sebaliknya, orang yang tidak mau mengaku salah setelah melakukan kesalahan, justru akan paling dibenci.

Ingatlah baik-baik pesan ini. Hari ini, saya memberikan harta karun ini untuk kalian.

Semoga keluarga kalian damai bahagia, dan semua urusan penuh keberkahan!(jhn/yn)

Serangan Drone Kyiv Tewaskan 3 Orang di Rusia; Moskow Membalas, Serang Bangsal Bersalin

EtIndonesia. Serangan drone dan penembakan Ukraina menewaskan tiga orang di Rusia pada hari Jumat (11/7), sementara pemboman Rusia di Ukraina timur memaksa evakuasi sebuah pusat bersalin di Kharkiv dan melukai sembilan orang.

Sistem pertahanan udara Rusia mencegat 155 drone Ukraina semalam, kata Moskow, sebuah serangan yang terjadi setelah Rusia menggempur Ukraina dalam serangan malam berturut-turut yang menargetkan ibu kota Kyiv.

Satu orang tewas di wilayah Lipetsk dan satu lagi tewas di wilayah Tula barat akibat serangan drone, kata pejabat setempat. Serangan drone Ukraina kemudian menewaskan seorang warga sipil lainnya di wilayah perbatasan Belgorod, gubernur mengumumkan.

Baik Kyiv maupun Moskow telah meningkatkan serangan udara mereka selama beberapa bulan terakhir karena Kremlin menolak seruan untuk menghentikan invasi tiga tahunnya.

Kremlin pada hari Jumat menegaskan kembali penolakannya terhadap pasukan penjaga perdamaian Eropa di Ukraina, sehari setelah Presiden Prancis, Emmanuel Macron mengatakan sekutu Kyiv memiliki “rencana yang siap dijalankan dan dimulai beberapa jam setelah gencatan senjata.”

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan kepada wartawan bahwa Moskow tidak akan menerima pasukan Eropa “di dekat perbatasan kami.”

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, yang berada di Roma minggu ini untuk menggalang dukungan dari sekutu, mengatakan sebuah fasilitas medis terkena serangan semalam di Kharkiv, kota terbesar kedua di negaranya.

“Di antara yang terluka terdapat perempuan di rumah sakit bersalin — ibu dengan bayi baru lahir, perempuan yang baru pulih dari operasi,” tulisnya di media sosial.

“Untungnya, tidak ada anak-anak yang terluka. Rusia sedang menargetkan kehidupan itu sendiri — bahkan di tempat-tempat di mana dia bermula,” tambahnya, seraya mencatat beberapa wilayah lain juga diserang semalam.

Seorang reporter AFP di kota itu melihat seorang perempuan menggendong bayinya di dalam ambulans setelah dievakuasi.

Kota pelabuhan Odesa di Ukraina selatan juga diserang pada pagi harinya, melukai delapan orang, kata pejabat setempat.

Selama seminggu terakhir, Moskow telah menggempur Ukraina dengan rentetan serangan pesawat nirawak dan rudal terbesar sejak melancarkan invasi pada Februari 2022.

PBB mengatakan bahwa meningkatnya serangan Rusia telah mendorong jumlah warga sipil Ukraina yang tewas dan terluka ke angka tertinggi dalam tiga tahun terakhir pada bulan Juni.

Pasukan Rusia juga telah bergerak maju melintasi garis depan yang membentang ratusan kilometer melintasi Ukraina timur dan selatan.

Moskow mengatakan pada hari Jumat bahwa pasukannya telah merebut desa lain di wilayah Donetsk timur, yang diklaim Kremlin telah dianeksasi bersama tiga wilayah lainnya pada akhir tahun 2022.(yn)

Pembicaraan Gencatan Senjata Gaza Pada Hari ke- 5,  PM Israel : Sangat Mungkin Kesepakatan akan Tercapai

Pada Kamis (10 Juli), Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar menyatakan bahwa negosiasi gencatan senjata dan pertukaran sandera di Gaza yang berlangsung di Doha, ibu kota Qatar, telah memasuki hari kelima, dan ia optimistis akan tercapainya kesepakatan. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam wawancaranya dengan media AS sebelumnya mengatakan bahwa Israel dan Amerika Serikat memiliki tujuan yang sama dalam mendorong perdamaian di Timur Tengah.

EtIndonesia. Dalam konferensi pers bersama dengan Menlu Austria Beate Meinl-Reisinger dan Menlu Jerman Johann Wadephul,  pada Kamis (10/7), Menlu Israel menyampaikan bahwa delegasi Israel sedang menggelar negosiasi di Doha mengenai gencatan senjata di Gaza.

“Israel benar-benar ingin mencapai kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran sandera di Gaza. Saya percaya hal ini bisa terwujud. Kami telah mengirim delegasi ke Doha, dan negosiasi di sana telah memasuki hari kelima,” kata Gideon Sa’ar. 

Seorang pejabat Israel mengungkapkan bahwa poin utama yang belum disepakati antara Israel dan Hamas adalah: Israel ingin tetap menempatkan pasukan di Koridor Morag di Gaza selama masa gencatan senjata 60 hari, sementara Hamas menuntut penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza.

Sehari sebelumnya, PM Netanyahu saat mengunjungi Kongres AS menyatakan bahwa tujuan Israel dan pemerintah AS sejalan dalam mendorong perdamaian Timur Tengah.

PM Israel Benjamin Netanyahu: “Presiden Trump dan saya memiliki tujuan yang sama. Saya ingin para sandera kami dibebaskan. Kami ingin mengakhiri kekuasaan Hamas di Gaza dan memastikan bahwa Gaza tidak lagi menjadi ancaman bagi Israel.”

Dalam wawancaranya dengan Fox Business News pada Selasa (8 Juli) malam, Netanyahu juga menyatakan optimisme terhadap kemungkinan tercapainya gencatan senjata di Gaza.

Netanyahu: “Saya pikir kita sangat mungkin mencapai kesepakatan gencatan senjata. Ini akan membawa kita lebih dekat pada tujuan yang sejak awal saya nyatakan: menyelamatkan semua sandera kita tanpa menyerah.”

Namun di saat yang sama, serangan militer Israel ke Gaza masih terus berlangsung. Asap tebal terlihat membumbung di langit Gaza.

Menurut pejabat kesehatan di Gaza, dari Rabu (9 Juli) malam hingga Kamis pagi, serangan militer Israel telah menewaskan sedikitnya 34 warga Palestina.

Militer Israel juga merilis sebuah video pada Kamis yang memperlihatkan operasi militer di wilayah Khan Younis, Gaza Selatan, di mana sebuah terowongan bawah tanah milik Hamas berhasil dihancurkan.

Selain itu, pada hari yang sama, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran menyatakan telah menembakkan rudal ke Bandara Ben Gurion dekat Tel Aviv, Israel, yang memicu alarm peringatan udara di berbagai wilayah.

Namun, militer Israel kemudian menyatakan bahwa rudal dari Yaman tersebut berhasil dicegat. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Trump Peringatkan Xi Jinping, Rekaman Suara Terungkap

Rekaman suara yang baru-baru ini terungkap menunjukkan bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pernah memperingatkan pemimpin Partai Komunis Tiongkok, Xi Jinping, bahwa jika PKT menyerang Taiwan, ia akan mengebom Beijing. Para analis menilai, pernyataan Trump ini merupakan bentuk ancaman strategis terhadap Beijing yang membuat Xi Jinping merasa gentar.

EtIndonesia. Media Amerika Serikat CNN memperoleh sebuah rekaman audio yang mengungkapkan bahwa dalam sebuah acara penggalangan dana pribadi tahun lalu, Trump menceritakan bahwa ia pernah memperingatkan Presiden Rusia Vladimir Putin bahwa jika Rusia menginvasi Ukraina, ia akan menghancurkan Moskow. Ia juga menyampaikan peringatan serupa kepada Xi Jinping.

Dalam rekaman tersebut, Trump berkata bahwa ia pernah mengatakan kepada Xi:

“Kalau kamu masuk ke Taiwan, aku akan bom Beijing sampai hancur lebur.”

Xi lalu terkejut dan bertanya:

“Beijing? Kamu mau bom Beijing?”

Trump menjawab:

“Saya tidak punya pilihan lain.”

Trump juga menambahkan bahwa Xi dan Putin tidak terlalu percaya dengan ancamannya, mungkin hanya percaya 10%, bahkan 5% pun tidak apa-apa.

Xing Tianxing, komentator politik Tiongkok di AS, mengatakan: “Trump adalah orang yang selalu menepati janji. Hal ini terlihat dari kebijakan tarif yang dijalankannya. Karena kepribadiannya itu, saat dia berbicara kepada Putin dan Xi, mereka harus mempertimbangkannya. Bukan berarti dia benar-benar akan mengebom dua kota itu, tapi ini adalah strategi pencegahan.”

Pada 6 Juli lalu, Beijing secara sepihak mengubah status quo dengan menambahkan jalur baru dari barat ke timur pada rute udara M503 yang melintasi Selat Taiwan.

Xing Tianxing menambahkan: “Secara militer, jika mereka benar-benar ingin menyerang Taiwan, itu mungkin saja. Tapi sekarang pemerintah AS belum mengambil langkah atau pernyataan yang tegas. Saat itulah CNN mengungkapkan rekaman ini — apakah ini sebagai sinyal dari Trump? Atau tekanan agar Trump menyatakan sikap? Ini sangat halus.”

Tim kampanye Trump menolak berkomentar mengenai isi rekaman tersebut.

Xing Tianxing berpendapat: “Trump tidak membantah laporan CNN dan juga tidak menjelaskan apa pun, itu berarti ia secara diam-diam mengakui. Dalam hal ini, baik pihak konservatif maupun liberal bersatu dalam menghadapi provokasi Beijing di Selat Taiwan. Meski Trump mengatakannya saat kampanye, sekarang dia sudah jadi Presiden, maka itu tetap berlaku.”

Pada 21 Juni lalu, serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran juga dipandang sebagai sinyal ancaman terhadap Beijing.

Xing Tianxing menyatakan: “Tiba-tiba Trump mengerahkan pasukan dan mengejutkan dunia, itu mengubah pandangan banyak orang. Setelah Iran dibom, semua orang jadi mengingat ucapan Trump dulu: ‘Kalau kamu menyentuh Taiwan, kamu akan menyesal.’ Ucapan itu membuat Xi Jinping — dan banyak orang lainnya — gemetar.”

Saat itu, di internet beredar kalimat: “Hari ini Iran, besok Tiongkok.”

Jiang Fuzhen, Sekretaris Jenderal Komite Luar Negeri Partai Demokrat Tiongkok mengatakan: “Dulu saat Trump mengeluarkan ancaman seperti itu, banyak orang menganggapnya cuma omong kosong. Tapi setelah kejadian di Iran, orang mulai percaya: Trump kalau sudah bicara, dia benar-benar akan lakukan. Kalau Iran saja dibom, maka kalau PKT serang Taiwan, Trump juga akan bom Beijing.”

Para ahli menunjukkan bahwa strategi besar Trump memang berfokus pada menghadapi Beijing.

Su Tzu-yun, Direktur Lembaga Penelitian Strategi Pertahanan Nasional Taiwan mengatakan:

“PKT (Partai Komunis Tiongkok) sekarang memiliki hampir 1.000 hulu ledak nuklir, serta sistem pertahanan udara yang lengkap. Maka, PKT memang sumber ancaman utama dunia saat ini.”

Lembaga think tank militer Swedia bulan Juni lalu melaporkan bahwa PKT menambah sekitar 100 hulu ledak nuklir setiap tahun, dengan tujuan mengubah daya gentar nuklir menjadi ancaman nuklir.

Su Tzu-yun menjelaskan: “Hal yang paling ditakuti PKT adalah kekuatan militer AS. Dalam kondisi perang, bisa saja ibukota mereka dalam bahaya. Misalnya serangan dari jet tempur AS yang lepas landas dari Korea Selatan, Jepang, atau pesawat pengebom siluman dari Alaska — semua itu bisa mengancam keamanan Beijing. Karena itu, wilayah antara Tianjin dan Beijing, atau disebut ‘garis pertahanan Jing-Jin’, menjadi fokus utama pertahanan udara mereka. Termasuk Laut Kuning, yaitu wilayah Komando Medan Perang Utara, bertanggung jawab atas pertahanan udara dan penguasaan wilayah tersebut.”

Para analis menilai, dalam kondisi ini, Beijing akan sadar bahwa kekuatan militernya masih terbatas.

Su Tzu-yun menyimpulkan: “Yang lebih penting lagi adalah bahwa Trump sekarang mungkin akan benar-benar menjalankan strategi besar yang dia canangkan sebelum terpilih. Yaitu, mengakhiri perang Rusia-Ukraina secepat mungkin di Eropa, membuat negara-negara Arab di Timur Tengah kembali ke blok Barat, menjadikan Israel sekutu utama AS di kawasan, dan mencegah Iran semakin dekat ke Beijing. Semua ini akan menciptakan situasi pengepungan geopolitik terhadap Beijing — inilah tantangan nyata yang harus dihadapi oleh Xi Jinping.” (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Bocor! Rekaman Trump Ancam Hancurkan Beijing: Jika Tiongkok Serang Taiwan, Perang Dunia Dimulai?

EtIndonesia. Dunia internasional dikejutkan oleh bocornya rekaman audio terbaru yang mengungkap pernyataan keras Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kepada pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT), Xi Jinping. Dalam rekaman tersebut, Trump secara blak-blakan memperingatkan Xi Jinping bahwa jika Tiongkok menyerang Taiwan, dia tidak akan ragu memerintahkan pemboman terhadap Beijing. Pengungkapan ini sontak memicu perdebatan global, dinilai sebagai sinyal deterrence yang sangat kuat, serta menimbulkan kekhawatiran tersendiri di kalangan elite Beijing.

Isi Rekaman dan Respons Xi Jinping: “Saya Akan Bombardir Beijing Sampai Hancur”

Rekaman eksklusif ini diperoleh oleh jaringan berita CNN dari sebuah acara penggalangan dana pribadi pada tahun 2024. Di dalamnya, Trump menceritakan bahwa dirinya pernah secara pribadi memperingatkan Presiden Rusia Vladimir Putin: jika Rusia menginvasi Ukraina, dia akan menghancurkan Moskow. Peringatan serupa juga dia sampaikan kepada Xi Jinping.

Dalam kutipan rekaman, Trump berkata tegas:

“Jika Anda masuk ke Taiwan, saya akan membombardir Beijing sampai hancur.”

Respons Xi Jinping, menurut pengakuan Trump, adalah keterkejutan:“Beijing? Anda akan membom Beijing?”

Trump menegaskan kembali: “Saya tidak punya pilihan lain.”

Trump juga menambahkan, baik Xi Jinping maupun Putin, menurutnya, tidak sepenuhnya percaya dengan ancaman tersebut.

“Mungkin mereka hanya mempercayai sepuluh persen. Bahkan kalau hanya lima persen juga tidak apa-apa,” ujarnya, menekankan bahwa ketidakpastian itulah yang menciptakan efek psikologis deterensi.

Analisis Para Pengamat: Deterrence atau Bluff?

Pengamat politik Tiongkok di Amerika Serikat, Xing Tianxing, menilai bahwa gaya komunikasi Trump yang lugas dan seringkali tanpa basa-basi justru memperkuat persepsi lawan terhadap keseriusan ancamannya.

“Trump adalah tipe orang yang menepati janjinya. Dari kebijakan tarif hingga diplomasi internasional, semuanya menunjukkan konsistensi karakter. Jadi, saat Trump berbicara tegas kepada Putin atau Xi, pihak lawan harus mempertimbangkan segala kemungkinan, bahkan kemungkinan terburuk,” ujar Xing.

Menurutnya, ancaman Trump bukan sekadar “pamer nyali”, melainkan strategi deterrence (strategi penangkalan)  yang terukur. Bukan berarti Amerika benar-benar akan membom Beijing, namun ucapan Trump cukup untuk membuat Beijing berpikir dua kali sebelum mengambil langkah militer terhadap Taiwan.

Manuver Tiongkok di Selat Taiwan: Eskalasi yang Tak Bisa Diabaikan

Pada 6 Juli 2025, Tiongkok secara sepihak menambah satu jalur penerbangan baru di rute M503, yang melintasi Selat Taiwan dari barat ke timur. Langkah ini disebut-sebut mengubah status quo di wilayah sensitif dan langsung mendapat perhatian tajam dari Amerika Serikat dan sekutunya.

Xing Tianxing menegaskan: “Secara militer, Tiongkok tetap memiliki potensi untuk melakukan serangan mendadak ke Taiwan, walaupun sampai sekarang AS tidak secara terbuka mengancam dengan intervensi militer. Di tengah situasi seperti ini, munculnya laporan CNN soal ancaman Trump menjadi momen strategis. Bisa jadi ini sinyal dari Trump, atau justru tekanan dari CNN agar Trump lebih keras. Apapun itu, pesan yang dikirim ke Beijing sangat jelas.”

Pihak tim kampanye Trump sendiri memilih untuk tidak memberikan komentar, namun tidak ada bantahan maupun klarifikasi resmi, yang menurut pengamat menandakan adanya pembenaran implisit atas rekaman tersebut.

Serangan Udara AS ke Iran: Sinyal Tegas untuk Beijing

Pada 21 Juni, militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara yang menghancurkan fasilitas nuklir Iran. Aksi tersebut secara luas dipandang sebagai “peringatan keras” bukan hanya kepada Teheran, tetapi juga kepada Beijing.

Xing Tianxing menjelaskan : “Tiba-tiba Trump mengerahkan kekuatan militer hingga membuat dunia tercengang. Setelah Iran dibombardir, publik internasional langsung teringat akan peringatan Trump: ‘Jika berani bergerak ke Taiwan, konsekuensinya akan fatal.’ Dampak psikologis inilah yang menjadi inti dari strategi deterrence Trump.”

Bahkan di media sosial sempat ramai pernyataan: “Hari ini Iran, besok giliran Tiongkok.”

Dampak Strategi Trump di Mata Aktivis dan Pakar

Jiang Fuzhen, Sekjen Komite Luar Negeri Partai Demokrat Tiongkok, menilai: “Dulu banyak orang menilai Trump hanya pandai retorika, tapi setelah peristiwa Iran, orang baru sadar bahwa Trump bertindak sesuai kata-katanya. Kalau Trump bisa membom Iran, maka kalau PKT menyerang Taiwan, Trump pasti akan membom Beijing.”

Para pakar menegaskan, strategi besar Trump memang memusatkan perhatian ke Beijing sebagai tantangan utama Amerika Serikat di kancah global.

Analisis Militer dan Ancaman Nuklir: Beijing Ada di Garis Api

Su Tzu-yun, Kepala Institut Strategi Pertahanan dan Sumber Daya Taiwan, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap potensi konflik besar.

“Tiongkok kini sudah memiliki hampir 1.000 hulu ledak nuklir, serta sistem pertahanan udara kelas dunia. Setiap tahun, jumlah ini terus bertambah—ini bukan sekadar upaya pencegahan, tapi sudah mengarah pada upaya pemaksaan politik global (‘nuclear coercion’),” ujar Su.

Data lembaga think tank Swedia pada Juni 2025 mencatat, Tiongkok menambah sekitar 100 hulu ledak nuklir setiap tahunnya.

Su Tzu-yun menekankan: “Yang paling ditakuti Tiongkok adalah kekuatan militer Amerika Serikat. Dalam skenario perang terbuka, keamanan ibu kota Tiongkok (Jing-Jin: Tianjin–Beijing) sangat mungkin terancam oleh serangan dari pesawat tempur AS yang bermarkas di Korea Selatan, Jepang, atau bahkan bomber siluman dari Alaska. Wilayah Jing-Jin, Laut Kuning, dan komando pertahanan udara utara adalah garis pertahanan vital PKT.”

Meningkatnya kekuatan militer Tiongkok memang signifikan, namun para pakar menegaskan Tiongkok tetap menghadapi keterbatasan jika harus berhadapan langsung dengan AS dan sekutunya.

Situasi Geopolitik Global: Beijing Terancam Pengepungan Strategis

Lebih jauh, Su Tzu-yun menambahkan : “Trump menjalankan strategi besar: mempercepat penyelesaian perang Rusia-Ukraina di Eropa, menarik negara-negara Arab Timur Tengah lebih dekat ke blok Barat, menjadikan Israel sebagai mitra strategis utama, serta menjaga agar Iran tak lagi berpihak ke Beijing. Dengan begitu, Beijing saat ini benar-benar menghadapi situasi pengepungan strategis baru yang harus mereka waspadai secara sangat serius.”

Kesimpulan: Bocornya rekaman ancaman Trump terhadap Xi Jinping bukan hanya membuktikan bahwa politik internasional tengah memasuki babak baru yang penuh ketegangan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana satu pernyataan keras mampu mengguncang peta diplomasi dan militer global. 

Dengan semakin intensifnya manuver Tiongkok di sekitar Taiwan dan respons keras dari Amerika Serikat, dunia kini berada di tengah ketidakpastian yang hanya dapat diatasi melalui diplomasi tingkat tinggi, namun tetap dibayangi kemungkinan konflik besar jika komunikasi politik gagal meredakan tensi kedua kekuatan raksasa dunia.

Kongres AS Ungkap Infiltrasi PKT ke Dunia Akademik, Desak 7 Universitas Hentikan Kerja Sama

Pada Rabu (9 Juli), Kongres Amerika Serikat menyebutkan tujuh universitas yang diminta untuk menghentikan kerja sama mereka dengan program beasiswa yang didanai oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT).  

EtIndonesia. Komite Khusus Kongres AS untuk Melawan PKT mengumumkan bahwa mereka telah mengirim surat kepada tujuh universitas AS—termasuk Temple University, University of California, dan University of Tennessee—meminta agar mereka menghentikan kerja sama dengan program yang berkaitan dengan “China Scholarship Council” (CSC) atau Komisi Nasional Beasiswa untuk Studi ke Luar Negeri Tiongkok.

Dalam surat tersebut diungkapkan bahwa mahasiswa yang belajar melalui CSC wajib setiap tiga bulan melaporkan perkembangan studi mereka kepada kedutaan atau konsulat Tiongkok di AS, termasuk pekerjaan di laboratorium, hasil penelitian, serta publikasi ilmiah. Setelah menyelesaikan studi, mereka wajib kembali ke Tiongkok dan bekerja minimal dua tahun.

Selain itu, para mahasiswa tersebut juga diwajibkan mengikuti kegiatan pendidikan ideologis yang disebut “Studi Aman di Luar Negeri”, di mana mereka dicuci otak dengan ideologi Partai Komunis oleh pejabat Tiongkok.

Melalui kerja sama dengan universitas-universitas AS, CSC mengirim puluhan mahasiswa setiap tahun, bahkan dalam beberapa kasus, biaya kuliah dibagi bersama antara universitas AS dan pihak Tiongkok.

Kongres AS meminta tujuh universitas tersebut untuk menyerahkan dokumen kontrak kerja sama, data mahasiswa terkait, serta memberikan penjelasan mengapa mereka membantu PKT melatih tenaga ahli di bidang teknologi dan militer.

Pengamat independen dan blogger media independen, Tang Jingyuan, mengatakan:  “(AS) baru saja menangkap mata-mata peretas dari PKT, dan imigrasi AS juga sedang menyelidiki dugaan penipuan visa oleh mahasiswa asal Tiongkok. Semua ini adalah bentuk serangan terhadap titik-titik vital. Kini, dengan Kongres mendorong setidaknya tujuh universitas AS untuk menghentikan kerja sama dengan CSC, artinya penanganan kini telah berkembang dari skala titik ke skala menyeluruh, dan akan terus berkembang dan meningkat.”

Berkat upaya Komite Khusus Kongres ini, Duke University dan Western Michigan University masing-masing pada Mei dan Juni lalu telah mengakhiri kerja sama mereka dengan sejumlah universitas di Tiongkok, demi melindungi teknologi dan keamanan nasional AS. (hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Kapal Selam Nuklir AL AS Kunjungi Islandia untuk Pertama Kalinya, Kirim Sinyal Keras ke Beijing

Di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Arktik, pada Rabu (9 Juli), kapal selam serang cepat bertenaga nuklir milik Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Newport News, untuk pertama kalinya merapat di Reykjavík, ibu kota Islandia. Langkah ini dipandang sebagai sinyal peringatan keras kepada Partai Komunis Tiongkok (PKT).

EtIndonesia. Kapal selam kelas Los Angeles, USS Newport News, dilengkapi dengan 12 peluncur vertikal (VLS) yang dapat meluncurkan rudal jelajah Tomahawk, serta persenjataan konvensional lainnya. Kapal ini memiliki kemampuan penting dalam pengawasan bawah laut, peperangan anti-kapal selam, dan anti-permukaan.

“Kunjungan pelabuhan hari ini adalah momen penting yang menegaskan komitmen kuat kami terhadap pertahanan kolektif dan keamanan kawasan Arktik… Kami berpatroli di laut dalam dalam dunia yang semakin kompleks dan kompetitif, sekaligus memberikan kekuatan penangkal,” kata Komandan Angkatan Laut AS, Laksamana Stuart B. Munsch, dalam sebuah pernyataan. 

Kunjungan USS Newport News ini dilakukan di tengah situasi kawasan Arktik yang makin memanas, di mana kawasan tersebut menjadi ajang perebutan pengaruh antara PKT, Rusia dan NATO.

Rusia telah mengerahkan sumber daya militer dalam jumlah besar ke kawasan Arktik. Sementara itu, PKT juga makin aktif di kawasan tersebut, yang menimbulkan kewaspadaan dari negara-negara Barat.

Melalui proyek yang disebut “Jalur Sutra Kutub”, PKT berusaha memperluas inisiatif Belt and Road (BRI) ke kawasan Arktik, yang mana semakin memperumit ketegangan di wilayah itu.

Selain itu, PKT dengan cepat memperbesar armada kapal pemecah es, dan bahkan mengadakan patroli bersama dengan Rusia di wilayah Laut Bering, dekat pantai Alaska.

Namun demikian, Rusia sendiri merasa khawatir dengan ekspansi PKT yang semakin dalam di wilayah yang dianggap sebagai “halaman belakangnya”. Menurut dokumen rahasia dari dinas keamanan Rusia yang baru-baru ini bocor, Moskow mencurigai PKT melakukan aktivitas mata-mata di Arktik dengan kedok perusahaan pertambangan dan penelitian ilmiah.

Pejabat Kedutaan Besar AS di Islandia, Erin Sawyer, mengatakan dalam sebuah pernyataan: “Koordinasi mendalam kami dengan sekutu luar biasa kami di NATO—Islandia—untuk mewujudkan kunjungan bersejarah ini menunjukkan komitmen kuat kami terhadap kebebasan navigasi dan keamanan sekutu kami di kawasan ini.”

Karena letaknya yang sangat strategis, Islandia telah lama menjadi pos depan militer penting bagi Amerika Serikat.

Kementerian Luar Negeri Islandia menyatakan bahwa keberadaan kapal selam nuklir AS di wilayah mereka secara efektif meningkatkan kemampuan pemantauan bawah laut sekutu, memungkinkan pemahaman situasi yang lebih baik, serta menjamin keamanan infrastruktur bawah laut seperti kabel komunikasi laut di sekitar perairan Islandia. (Hui/asr)

Laporan oleh wartawan NTD, Zhao Fenghua.

Kena Tarif Impor 50% dari Trump, Apa yang Terjadi dengan Brasil, Anggota BRICS Ini?

Pada Rabu (9 Juli), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tarif impor baru terhadap delapan negara. Di antara negara-negara tersebut, Brasil dikenakan tarif tertinggi sebesar 50%. Trump menyebut Brasil, anggota BRICS, selalu memperlakukan AS dengan buruk, dan menyinggung kasus hukum terhadap mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro sebagai sebuah bentuk penganiayaan politik. 

Para pakar menilai, meskipun Brasil menjalin hubungan erat dengan Tiongkok, namun ketergantungannya terhadap perdagangan dengan AS sangat besar, dan kemungkinan besar akan mengalah. Sementara itu, Taiwan kembali tidak termasuk dalam daftar negara yang dikenai tarif baru, dan Pemerintah Taiwan menyatakan bahwa mereka sedang melakukan negosiasi dengan pihak AS.

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara bertahap mengumumkan tarif untuk delapan negara, termasuk Filipina, Brunei, Irak, dan Sri Lanka. Tarifnya berkisar antara 20% hingga 50%.

Dari seluruh negara tersebut, Brasil mendapat tarif tertinggi, yakni 50%, jauh melampaui tarif 10% yang diumumkan pada 2 April 2025.

Presiden AS Donald Trump (9 Juli 2025): “Ambil contoh Brasil — mereka selalu memperlakukan kita dengan buruk, sangat buruk.”

Profesor Xie Tian dari Sekolah Bisnis Aiken, Universitas South Carolina, menjelaskan: “Brasil menjalin hubungan erat dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT), dan pernah melakukan dumping besar-besaran baja ke pasar AS. Oleh karena itu, saat AS menentang praktik dumping baja beberapa tahun lalu, sasaran utamanya adalah Tiongkok dan Brasil.”

Dalam surat tarifnya, Trump menyebut langsung kasus Bolsonaro, mantan Presiden Brasil yang kini diadili karena dituduh berusaha membatalkan hasil pemilu 2022. Trump menganggap kasus tersebut adalah penganiayaan politik.

Xie Tian mengatakan: “Bolsonaro sebenarnya mewakili suara rakyat Brasil, kekuatan yang mendukung sistem kapitalis yang tradisional dan konservatif, serta menentang agenda sosialisme kiri. Dukungan Trump ditujukan pada kekuatan pro-kapitalis dan konservatif tradisional Brasil yang menentang sosialisme.”

Meskipun Brasil mengancam akan membalas dengan mengenakan tarif 50% terhadap produk AS, namun Trump dalam suratnya sudah menyatakan: jika Brasil membalas, maka AS akan menaikkan tarif lebih tinggi lagi, yakni dengan menambahkan tarif balasan Brasil ke tarif awal 50%.

Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva, pada Kamis, secara terbuka menanggapi tarif tersebut dengan sikap yang tetap keras.

“Tanpa ragu, kami akan berusaha bernegosiasi terlebih dahulu. Tapi jika gagal, kami akan menerapkan tindakan balasan yang setara. Jika dia mengenakan tarif 50% kepada kami, kami juga akan mengenakan tarif 50% kepadanya,” katanya. 

Namun menurut laporan, sumber internal menyebutkan bahwa Lula kemungkinan tidak akan mengumumkan balasan konkret sebelum tarif resmi diberlakukan.

Xie Tian menambahkan: “Masih ada waktu hingga 1 Agustus. Seperti halnya Tiongkok yang akhirnya juga bernegosiasi dengan AS, karena pada akhirnya, lebih baik mendapat sedikit keuntungan daripada tidak mendapat sama sekali. Mereka tetap membutuhkan pasar AS. Jadi, Brasil mungkin akan berakhir dalam posisi yang mirip dengan Tiongkok — saya percaya mereka akhirnya akan tunduk.”

“Kemungkinan besar, produk AS akan masuk ke Brasil dengan tarif rendah atau bahkan nol, sedangkan produk Brasil akan dikenai tarif berbeda saat masuk ke pasar AS,” tambahnya. 

Selain minyak, Brasil juga mengekspor jus jeruk, kopi, serta besi dan baja ke Amerika Serikat. Menurut perkiraan Goldman Sachs, jika tarif 50% tetap diberlakukan, maka PDB Brasil akan turun sebesar 0,3% hingga 0,4%.

Dalam surat tarif gelombang kedua dari Trump, Taiwan kembali tidak termasuk dalam daftar. Kantor Eksekutif Taiwan (Executive Yuan) pada Kamis (10 Juli) menyatakan optimis, dan menyebut bahwa perwakilan mereka telah melakukan pertemuan langsung dengan pihak AS pada  Selasa (8/7) dan telah mencapai konsensus serta sedang menyusun negosiasi selanjutnya.

 “Menurut saya, strategi terbaik Taiwan adalah dengan secara aktif mengurangi defisit perdagangan, sambil menjamin keamanan energi dan rantai pasokan, serta mendukung AS dalam menghadapi Tiongkok. Taiwan punya makna strategis dan keamanan nasional yang penting, jadi harus menjaga hubungan aliansi yang baik dengan AS,” kata Xie Tian.  (Hui/asr)

Laporan oleh wartawan NTD, Wang Ziyi dari Amerika Serikat.

Heboh! AS Ancam Sanksi 500% untuk Tiongkok dan India, Trump Siap ‘Bom Beijing’ Jika Taiwan Diserang

EtIndonesia. Kongres Amerika Serikat kembali menunjukkan sikap tegas terhadap negara-negara yang masih menjalin hubungan dagang energi dengan Rusia. Dalam sidang terbaru pada 11 Juli 2025, dua senator dari partai berbeda—Lindsey Graham (Republik) dan Richard Blumenthal (Demokrat)—secara resmi mengajukan usulan sanksi ekonomi baru berupa pemberlakuan bea impor hingga 500% untuk seluruh produk minyak, gas, dan batubara yang berasal dari negara-negara yang masih membeli komoditas energi Rusia, terutama Tiongkok dan India.

Langkah keras ini dilatarbelakangi fakta bahwa Tiongkok dan India kini menguasai sekitar 70% dari total ekspor energi Rusia. Jika aliran perdagangan ini terganggu, maka sumber pendanaan utama Kremlin untuk mendanai operasi militernya di Ukraina akan sangat terpukul. Sanksi ini juga diarahkan untuk memberikan tekanan maksimal kepada Beijing dan New Delhi agar tidak lagi mencari keuntungan dari konflik Rusia-Ukraina, sekaligus memutus rantai ekonomi yang menopang ambisi geopolitik Moskow.

AS Tak Lagi Main-main: Targetkan Pendukung Inti Putin

Senator Lindsey Graham dalam pernyataannya menegaskan bahwa Amerika Serikat tak lagi akan menerapkan sanksi “setengah-setengah” yang selama ini dinilai kurang efektif. 

“Kami langsung menyasar para pendukung utama Putin, bukan hanya Rusia sebagai negara, tapi juga para mitra dagangnya. Dunia harus tahu, mendukung Putin sama saja dengan mendanai perang dan kekejaman di Ukraina,” ujar Graham.

Langkah ini disambut positif oleh para sekutu Amerika di Eropa yang selama ini menanggung dampak perang, baik secara ekonomi maupun keamanan. 

Senator Richard Blumenthal menambahkan bahwa sanksi super-tinggi ini merupakan “game changer”—bukan hanya untuk Rusia, tetapi juga sebagai pesan keras kepada Beijing bahwa setiap upaya memperpanjang perang akan membawa konsekuensi ekonomi yang sangat mahal.

 “Dengan kebijakan ini, kita berharap Tiongkok dan India akan lebih bijak menilai untung-rugi hubungan mereka dengan Moskow. Dunia sedang berubah. Tidak ada tempat untuk negara yang menutup mata terhadap agresi,” tambah Blumenthal.

Trump Ancam Akan Bom Beijing jika Taiwan Diserang

Di tengah memanasnya wacana sanksi dan tekanan internasional, mantan Presiden AS, Donald Trump, kembali menjadi sorotan dunia setelah rekaman pernyataannya dalam sebuah wawancara eksklusif dengan NBC bocor ke publik. Dalam pernyataan yang viral tersebut, Trump secara terbuka mengaku kecewa pada Rusia dan akan segera menyampaikan pernyataan penting terkait sikapnya terhadap Moskow pada tanggal 14 bulan ini. Namun, bukan itu yang membuat dunia geger.

Trump secara gamblang mengeluarkan ancaman keras:  “Jika Partai Komunis Tiongkok (PKT) menyerang Taiwan, saya akan bom Beijing.” 

Pernyataan ini segera menyebar luas dan menjadi bahan perdebatan global, terutama di tengah meningkatnya tensi militer di kawasan Asia Pasifik.

Reaksi Panik Tiongkok dan Rusia: Sensor Ketat & Klarifikasi Kilat

Pemerintah dan media di Tiongkok langsung bergerak cepat dengan memblokir seluruh pemberitaan dan diskusi di internet terkait rekaman ancaman Trump tersebut. Semua platform media sosial dan situs berita di Tiongkok dipantau ketat, dan tidak ada satu pun media besar yang berani mengutip secara utuh ucapan Trump—bahkan media pro-pemerintah seperti Xin Jing Bao dan Guancha hanya menampilkan potongan video CNN, dengan sengaja menghentikan tayangan sebelum Trump menyebut nama Presiden Xi Jinping, apalagi menyinggung soal ancaman bom ke Beijing.

Namun, secara mengejutkan, bagian rekaman yang berisi “ancaman bom Moskow” justru viral di platform Weibo, bahkan mencapai 24 juta tayangan hanya dalam satu hari pada tanggal 9 Juli. Fenomena ini mengindikasikan adanya ketegangan dan keresahan publik di Tiongkok atas arah kebijakan luar negeri mereka.

Di sisi lain, Pemerintah Rusia juga bertindak cepat. Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, melalui kantor berita Sputnik dan media sosial X (Twitter), segera mengeluarkan klarifikasi resmi. Peskov membantah klaim ancaman Trump terhadap Moskow pada tahun 2024 dan menyatakan bahwa pernyataan tersebut “tidak pernah terjadi”. Dia menegaskan bahwa saat itu Trump bahkan belum menjabat sebagai Presiden AS, dan menyebut berita tersebut sebagai bagian dari gelombang informasi palsu (hoaks) yang marak di era digital saat ini.

Analisis: Beijing dan Moskow Ketar-ketir Hadapi Tekanan AS

Menurut pengamat hubungan internasional, reaksi cepat Tiongkok yang langsung membungkam isu tersebut dan langkah Rusia yang buru-buru menyangkal, memperlihatkan betapa kedua negara kini berada dalam posisi yang sangat defensif dan berhati-hati menghadapi gaya diplomasi tekanan tinggi ala Trump. Fenomena ini semakin terasa setelah Amerika Serikat berani melakukan serangan udara ke fasilitas nuklir Iran baru-baru ini, yang membuktikan bahwa ancaman AS bukan sekadar retorika.

Analis menilai, dengan kebijakan sanksi super berat yang kini digulirkan, ditambah dengan diplomasi gertak Trump yang “tanpa filter”, AS berupaya mencegah terbentuknya blok kekuatan anti-Barat baru yang bisa mengancam stabilitas global.

“Waves of Wonder” Hadir dengan Kejutan!  Untuk pertama kalinya berpartisipasi dalam International Islamic Expo 2025

EtIndonesia. Taiwan dengan tema utama “Waves of Wonder” untuk pertama kalinya ikut serta dalam International Islamic Expo di Jakarta, guna memperkenalkan daya tarik wisata Taiwan yang beragam, kreatif, dan kaya pengalaman budaya mendalam kepada masyarakat Muslim Indonesia serta pelaku industri pariwisata.

Pada Februari 2023, Pariwisata Taiwan membuka Taiwan Tourism Information Center, (TTIC), dan secara aktif mengembangkan pasar Indonesia, mulai dari Jakarta hingga Surabaya, Medan, Bandung, dan Batam. 

Suasana Stand Taiwan “Waves of Wonder”International Islamic Expo di Jakarta, Influencer Indah Nada Puspita bersama MC Stand Taiwan. Foto : Asari/ETIndonesia.com

Melalui kombinasi promosi online dan offline, bekerja sama dengan duta pariwisata dan sumber daya lokal, Taiwan memperluas pengaruh mereknya, membentuk citra “Taiwan, Perjalanan Penuh Kejutan” dan meningkatkan pengenalan Taiwan sebagai destinasi wisata ramah Muslim.

Paviliun Taiwan pada expo ini dirancang dengan konsep “Kotak Kejutan” yang menyoroti tiga tema utama: “Kuliner Ramah Muslim,” “Wisata Ekologi Berkelanjutan,” dan “Wisata Kereta Api Kreatif.” 

Melalui pengalaman imersif yang menggabungkan penglihatan, rasa, sentuhan, dan penciuman, pengunjung diajak menyelami pesona alam dan budaya Taiwan. 

Suasana Stand Taiwan “Waves of Wonder”International Islamic Expo di Jakarta, influencer Indah Nada Puspita bersama MC Stand Taiwan. Foto : Asari/ETIndonesia.com

Acara ini juga mengundang influencer  dengan jutaan pengikut, Indah Nada Puspita, sebagai “Kepala Paviliun Sehari” untuk membagikan pengalaman perjalanannya di Taiwan. Selain itu, hadir juga maskot wisata Taiwan yang sangat menggemaskan, “OhBear,” serta sajian khas Taiwan seperti Oden Taiwan dan Es Jadoel Taiwan, memperkenalkan budaya lokal dan keramahan Taiwan secara lebih mendalam.

Kepala Kantor TTIC Jakarta,  Abe Chou, menyatakan bahwa pasar wisatawan Muslim adalah fokus penting dalam pengembangan pariwisata Taiwan. Indonesia tidak hanya merupakan negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, tetapi juga pasar wisata potensial terbesar di ASEAN dengan jumlah penduduk Muslim terbanyak di dunia. Taiwan dalam beberapa tahun terakhir aktif menciptakan lingkungan wisata ramah Muslim, menyediakan fasilitas seperti ruang sholat, tempat bersuci, dan label halal di berbagai titik transportasi utama dan destinasi wisata. 

Wakil Kepala TETO Trust Lin (kiri ke-1), Influencer Indah Nada Puspita (tengah), Direktur Dinas Pariwisata Taiwan di Jakarta, Zhou Shi-bi (kanan ke-1) berfoto bersama di acara Waves of Taiwan di Pameran International Islamic Expo 2025. Foto : Asari/ETIndonesia.com

Saat ini, Taiwan memiliki 195 restoran bersertifikat ramah Muslim. Selain itu, kota Taipei menerima penghargaan di tahun 2025 dari Crescent Rating sebagai “Kota Destinasi Ramah Wanita Muslim Tahun Ini” (Muslim Women-friendly City Destination of the Year), yang menegaskan hasil integrasi sumber daya wisata ramah Muslim Taiwan dan menunjukkan pengakuan internasional atas suasana aman dan kebebasan beragama di Taiwan. 

Partisipasi Taiwan kali ini selain untuk belajar dan berbagi pengalaman, juga untuk memahami perkembangan pasar wisatawan Muslim secara global. Taiwan berharap melalui tiga tema utama—wisata berkelanjutan, inovasi kereta api, dan keramahan Muslim—dapat menciptakan suasana paviliun yang unik sehingga sahabat dari Indonesia dapat merasakan pesona Taiwan secara langsung!

Suasana Stand Taiwan “Waves of Wonder”International Islamic Expo di Jakarta Foto : Asari/ETIndonesia.com

Pengunjung yang membeli paket wisata Taiwan di pameran akan mendapatkan Tas Travel Lipat, pembeli tiket pesawat mendapatkan Sim card unlimited 7 hari JavaMifi, serta berbagai promo menarik seperti undian “Taiwan the Lucky Land” dengan hadiah uang tunai NT$5.000, promo “Go 2 Taiwan” Beli 2 Tiket, Cukup Bayar 1!, paket tiket wisata “Taiwan Pass,” dan tur singkat transit setengah hari. Tunggu apa lagi? Segera berangkat dan rasakan kejutan tak terbatas dari pesona Taiwan! (***)

FBI Secara Langka Gunakan Bahasa Mandarin, Kecam Kementerian Keamanan Negara Tiongkok “Tak Tahu Malu”

Baru-baru ini, Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) secara langka mengeluarkan pernyataan dalam bahasa Mandarin, mengecam keras Kementerian Keamanan Negara Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang dinilai “menghalalkan segala cara, tanpa rasa malu”, dalam mencuri teknologi dan informasi sensitif milik Amerika Serikat. Para ahli menyatakan bahwa PKT telah melancarkan perang tak terbatas terhadap AS, dan pemerintah AS perlu melakukan serangan balik secara menyeluruh.

EtIndonesia. Kantor FBI cabang Houston mengeluarkan pernyataan tegas di platform X (Twitter), menggunakan bahasa Mandarin, yang menyebutkan bahwa peretas asal Tiongkok bernama Xu Zewei, ditangkap oleh FBI cabang Houston di bandara Italia, dan langsung menuding Kementerian Keamanan Negara PKT sebagai pihak yang:

“Menghalalkan segala cara, tanpa rasa malu, dan mengabaikan prinsip hukum internasional dasar dalam mencuri teknologi serta informasi sensitif milik Amerika. Satu-satunya hal yang mereka ‘sesali’ hanyalah karena kejahatan ilegal mereka kini telah terbongkar dan diketahui publik.”

Menurut dakwaan resmi, Xu Zewei dan komplotannya Zhang Yu (44 tahun), antara Februari 2020 hingga Juni 2021, terlibat dalam serangan siber besar-besaran yang dijalankan oleh Kementerian Keamanan Negara PKT. Mereka menyerang lebih dari 60.000 institusi di Amerika Serikat, dan mencuri data sensitif dari lebih dari 12.700 institusi, menyebabkan kerusakan serius terhadap keamanan nasional AS.

Anggota Komite “Menghadapi Krisis PKT di Amerika Serikat”, Lin Xiaoxu, mengatakan: “Kasus Xu Zewei ini hanyalah puncak gunung es. FBI mengecam Kementerian Keamanan Negara Tiongkok, tapi sebenarnya bukan hanya kementerian itu saja, sistem militer PKT juga punya pasukan peretas besar. Kalau Xu bisa menyerang lebih dari 60.000 institusi AS, maka kekuatan militer mereka pasti lebih besar lagi.”

Mark, pembawa acara program “Mark’s Space-Time”, juga menyebutkan: “PKT, Rusia, Iran, dan Korea Utara disebut sebagai ‘poros kejahatan’, dan keempat negara ini memiliki jaringan peretas yang sangat besar. Mereka telah menyebabkan kerusakan besar terhadap negara-negara lain, khususnya negara-negara Barat.”

Para pakar menilai, PKT telah menggunakan metode perang tak terbatas untuk menyerang Amerika Serikat. Maka, AS perlu merespons dengan tindakan menyeluruh dari berbagai aspek.

Lin Xiaoxu menegaskan: “Tindakan PKT saat ini pada dasarnya sudah berada dalam keadaan perang. Oleh karena itu, pemerintah AS tidak bisa hanya menanggapinya secara diplomatik atau ekonomi biasa. Kalau lawan menggunakan perang tak terbatas untuk menyerangmu, maka kamu juga harus melawan dengan segala cara dari semua lini.”

Saat ini, Xu Zewei tengah menghadapi proses ekstradisi ke Amerika Serikat, sementara komplotannya Zhang Yu masih menjadi buronan. (Hui/asr)

Laporan oleh wartawan NTD, Li Yun dan Qiu Yue.

Kasus 230 Lebih Anak TK Keracunan Timbal di Tianshui, Tiongkok  Picu Ledakan Opini Publik

Kasus keracunan timbal massal yang menimpa anak-anak di Taman Kanak-Kanak Heshih Peixin di Kota Tianshui, Provinsi Gansu,Tiongkok  terus memicu kemarahan publik. Menurut sejumlah orang tua, hasil tes darah timbal yang dilakukan secara kolektif oleh pihak TK setempat sangat berbeda jauh dengan hasil tes yang mereka lakukan sendiri di rumah sakit di Xi’an.  Selain itu, para orang tua juga mengalami intimidasi dan ancaman dari aparat pemerintah daerah. Pihak berwenang mengumumkan bahwa penyebab keracunan adalah karena adanya zat pewarna lukis yang ditambahkan ke dalam makanan di dapur sekolah. Namun, penjelasan ini dinilai penuh kejanggalan.

EtIndonesia. Pada 8 Juli, pemerintah Kota Tianshui mengumumkan bahwa dari 251 anak di TK tersebut, sebanyak 233 anak terdeteksi mengalami kelainan kadar timbal dalam darah. Penyebabnya, menurut mereka, adalah karena staf dapur TK membeli cat lukis yang tidak bisa dimakan, lalu mencairkannya dan mencampurkannya ke dalam makanan. Pernyataan resmi ini memicu kemarahan publik di dunia maya.

Seorang pegawai negeri bernama  Wang mengatakan:  “Mereka bilang itu karena cat, itu sungguh merendahkan akal sehat orang. Begitu dibuka saja sudah tercium baunya, siapa yang mau makan roti kukus seperti itu? Tukang roti dan juru masak itu bukan orang bodoh.”

Seorang blogger Tiongkok berkomentar:  “Kasus 233 anak yang terdeteksi mengalami kelainan kadar timbal di Tianshui, sejak pertama kali saya dengar sampai sekarang, saya benar-benar tidak bisa berkata-kata. Ini jelas bukan sekadar insiden keamanan pangan biasa.”

Warganet pun mempertanyakan, mengapa dari empat TK yang didirikan oleh Kepala TK Li Huifang, hanya TK ini yang mengalami kejadian keracunan?

Pada hari yang sama, sebuah pabrik cat di Shenzhen mengeluarkan pernyataan resmi bahwa produk cat lukis mereka tidak mengandung timbal atau logam berat lainnya.

Selain itu, banyak orangtua anak korban mengeluhkan bahwa hasil tes kadar timbal anak mereka di rumah sakit di Gansu dan Xi’an bisa berbeda hingga puluhan kali lipat, bahkan ada yang selisihnya 20 kali lipat. 

Setelah kasus ini mencuat, pihak berwenang tidak hanya melarang mereka menyuarakan keadilan di internet, tapi bahkan pejabat dari Tianshui mendatangi rumah sakit di Xi’an untuk melakukan “stabilitas sosial” dengan cara membujuk dan mengancam: jika tidak pulang, tidak akan mendapat penggantian biaya asuransi kesehatan, namun jika pulang, akan diberi pengobatan gratis.

Orang tua korban, Zhao Qiang, mengatakan:  “Pemerintah menyebutnya kelebihan timbal, padahal diagnosisnya adalah keracunan timbal. Ini bukan cuma ‘kelebihan’, tapi memang keracunan. Dan dalam jumlah sebesar itu, pasti hasil dari paparan jangka panjang. Kami tidak mau kembali ke sana untuk berobat, karena sudah tidak ada kepercayaan.” 

“Perbedaan hasil tesnya sampai dua puluh kali lipat. Di Xi’an, sekitar 200 anak juga dirawat, tapi belum ada yang membaik. Pemerintah memang sudah mengeluarkan pernyataan, tapi ada hal-hal yang tidak bisa kami katakan, salah bicara satu kata saja bisa dipenjara,” lanjutnya. 

Dalam peta, terlihat bahwa tidak jauh dari lokasi TK tersebut terdapat pusat transit timbal-seng milik perusahaan milik negara Tiongkok, yakni Baiyin Nonferrous Group. Berdasarkan informasi publik, perusahaan ini berada di bawah pengawasan Komisi Pengelolaan Aset Negara Provinsi Gansu.

Menurut media Tiongkok, 20 tahun lalu di Distrik Maiji, Kota Tianshui, juga pernah terjadi kasus keracunan timbal massal pada anak-anak. Saat itu, pemerintah menyatakan penyebabnya adalah limbah beracun yang dibuang secara ilegal oleh sebuah pabrik setempat.

Pembawa acara program “Jingyuan Commentary”, Tang Jingyuan, mengatakan:  “Kasus keracunan timbal di TK Tianshui ini sangat mungkin disebabkan oleh pencemaran air tanah atau tanah akibat tambang timbal di daerah tersebut. Pemerintah daerah demi kepentingan ekonomi dan karier politiknya, sudah lama menutup-nutupi masalah ini.”

Dalam insiden kali ini, pihak berwenang mengumumkan bahwa kepala TK dan pemilik investasi, total 8 orang, telah ditahan secara pidana. Namun analisis menyebutkan, kemungkinan besar pemerintah daerah sedang mencari kambing hitam untuk melempar tanggung jawab.

Tang Jingyuan melanjutkan:  “Kalau bisa mengatur rumah sakit setempat untuk memanipulasi hasil tes darah dalam jumlah besar, dan berbohong tanpa rasa malu, jelas bahwa orang seperti itu bukan hanya sekadar kepala TK seperti Li Huifang. Satu-satunya penjelasan masuk akal adalah bahwa ada kekuatan dari level pemerintah yang ikut campur.” (Hui/asr)

Laporan oleh wartawan NTD, Tang Rui dan Xiong Bin.

Wanita di Tiongkok dengan Ruam Wajah Parah Mengaku Tidak Menghapus Riasan Wajah Selama 22 Tahun

EtIndonesia. Seorang wanita berusia 37 tahun dari Jilin, Tiongkok, menjadi viral setelah mengungkapkan bahwa dia tidak menghapus riasan dengan benar selama lebih dari dua dekade, yang akhirnya menyebabkan ruam parah di wajahnya.

Yang dikenal hanya sebagai Gao, wanita Tiongkok ini membagikan kisahnya di media sosial sebagai peringatan bagi orang lain untuk membersihkan wajah secara teratur setelah merias wajah. 

Dia sendiri diduga tidak melakukannya selama lebih dari 20 tahun, yang akhirnya menyebabkan reaksi alergi serius yang membuat wajahnya meradang. 

Gao mengatakan bahwa dia terpesona dengan lipstik ibunya di awal masa remajanya dan mulai memakai riasan saat berusia 15 tahun. Namun, dia merasa menghapus riasan “terlalu merepotkan”, alih-alih mengikuti prinsip, “untuk apa repot-repot menghapus riasan jika Anda akan memakainya lagi keesokan harinya?” Jadi dia hanya membilas wajahnya dengan air sebelum tidur dan memakai lebih banyak riasan keesokan harinya.

Meskipun dia telah bergelut dengan jerawat selama bertahun-tahun, Gao mengatakan kulitnya dalam kondisi relatif baik hingga awal tahun ini ketika dia mengalami reaksi alergi serius yang menyebabkan wajahnya membengkak dan berubah bentuk hingga tak dikenali lagi. 

Alih-alih menemui dokter kulit, dia pergi ke klinik estetika medis untuk mendapatkan suntikan “penguat kulit” yang menurutnya justru memperburuk keadaan, membuat kulitnya tampak keunguan.

“Gatalnya tak tertahankan… Saya bersembunyi di rumah setiap hari. Saya tidak berani keluar,” aku Gao dalam sebuah video yang beredar di media sosial. “Seluruh wajah saya keriput dan mengerikan. Saya tidak berani keluar, bertemu orang, atau berteman. Paling parah, ruamnya terasa seperti ribuan semut kecil merayap di wajah saya.”

Tumbuh di keluarga sederhana, Gao terkadang menggunakan alas bedak murah, yang dia curigai berkontribusi pada kondisinya saat ini. Namun, para dokter kulit skeptis bahwa riasan dapat menyebabkan gejala-gejalanya, betapapun buruknya ritual membersihkan wajahnya. Beberapa orang percaya bahwa gejalanya disebabkan oleh berbagai penyebab lain, seperti rosacea dan dermatitis.

“Menjalani dua puluh dua tahun tanpa pembersihan yang tepat memang buruk — tetapi apa yang kita lihat di sini lebih kompleks,” kata seorang dokter kulit. “Mungkin ada campuran produk yang keras, kemungkinan penyalahgunaan steroid, atau suntikan berulang yang terlibat.”

Kasus Gao memicu perdebatan di Weibo, media sosial versi Tiongkok, dengan banyak orang bertanya-tanya apakah riasan yang tidak dibersihkan dengan benar dapat menyebabkan reaksi alergi semacam ini, atau apakah perempuan berusia 37 tahun itu melakukan hal lain yang merusak kulitnya. Beberapa orang bahkan menuduhnya memanfaatkan kondisinya untuk menarik perhatian dan opini. (yn)

Sumber: odditycentral