Ngeri! Ambisi Rusia-Belarusia Menyatukan Eropa Timur, Senjata Kimia Jadi Ancaman Nyata

EtIndonesia. Situasi di medan perang Ukraina semakin memanas dengan munculnya tuduhan serius terhadap Rusia. Menurut laporan eksklusif Newsweek yang mengutip sumber-sumber intelijen Belanda dan Jerman, militer Rusia kini secara sistematis memperluas penggunaan senjata kimia mematikan dalam serangan-serangan mereka di Ukraina. Tindakan ini dianggap melanggar Konvensi Senjata Kimia internasional, dan memicu kecaman tajam dari berbagai pihak di Eropa Barat.

Rusia Gunakan Senjata Kimia: Dunia Barat Bereaksi

Laporan intelijen terbaru mengungkap, Rusia diduga telah menerapkan taktik baru dengan mengerahkan zat kimia berbahaya pada sejumlah lini pertempuran yang paling sengit, khususnya di wilayah Donetsk dan Kharkiv. Informasi ini berasal dari hasil penyelidikan bersama lembaga intelijen Belanda (AIVD) dan Jerman (BND), yang menemukan bukti-bukti forensik keberadaan agen kimia seperti klorin dan fosgen di zona perang.

“Kami mendesak komunitas internasional untuk segera mengambil sikap tegas agar praktik penggunaan senjata kimia tidak menjadi kebiasaan yang berbahaya di masa depan,” demikian pernyataan bersama dari kedua lembaga tersebut, seperti dikutip Newsweek. Kedua negara menilai, jika dunia membiarkan pelanggaran berat ini berlalu tanpa hukuman, maka standar moral dan hukum internasional akan terancam runtuh.

Dari Washington hingga Brussel, seruan untuk penyelidikan mendalam dan kemungkinan penjatuhan sanksi baru terhadap Rusia langsung menguat. Uni Eropa bahkan berencana mempercepat pembahasan resolusi baru di Dewan Keamanan PBB, sembari menambah bantuan darurat perlindungan kimia kepada Ukraina.

Ancaman Nuklir dan Ambisi Wilayah: Presiden Lukashenko Angkat Bicara

Di tengah sorotan tajam pada perang kimia, Presiden Belarusia, Alexander Lukashenko, kembali membuat pernyataan kontroversial yang mengundang perhatian internasional. Dalam konferensi pers di Minsk, Lukashenko secara terbuka menyatakan bahwa konflik di Ukraina hanyalah satu bagian dari strategi besar Rusia dan Belarusia untuk “menaklukkan Eropa Timur”.

“Kami tidak sedang main-main. Jika negara-negara seperti Polandia, Lituania, Latvia, dan Estonia terus mempromosikan agenda-agenda agresif Barat dan menjadi pion NATO, maka integrasi penuh ke dalam wilayah Rusia-Belarusia hanyalah soal waktu. Ini bukan sekadar retorika,” ujar Lukashenko dengan nada tegas.

Lukashenko juga menyinggung kemungkinan penggunaan “opsi ekstrem” jika tekanan politik dan militer dari Barat terhadap Rusia-Belarusia terus meningkat. “Kami memiliki semua instrumen pertahanan, termasuk yang sifatnya strategis,” imbuhnya, mengisyaratkan kesiapan untuk menggunakan kekuatan nuklir sebagai bentuk “penyeimbang ancaman”.

Strategi Ekspansi dan Kecemasan Negara Baltik

Ancaman langsung dari Lukashenko ini langsung disambut alarm oleh negara-negara Baltik dan Polandia. Presiden Polandia, Andrzej Duda, menegaskan bahwa negaranya siap menghadapi segala bentuk provokasi militer dari timur. “Setiap langkah agresif akan mendapat respons setimpal dari NATO. Kami tidak akan pernah membiarkan satu jengkal pun wilayah kami jatuh ke tangan agresor,” tegas Duda di hadapan parlemen.

Lituania, Latvia, dan Estonia pun memperketat koordinasi militer dan intelijen, mempercepat penempatan pasukan NATO di perbatasan timur mereka. Pemerintah Estonia bahkan menyampaikan permintaan resmi kepada NATO untuk memperkuat kehadiran sistem pertahanan udara dan detasemen pasukan khusus di wilayah Baltik.

Tanggapan Dunia Internasional: Menuju Krisis Baru di Eropa?

Pakar politik Eropa, Prof. Adrian Keller dari Berlin, menilai kombinasi ancaman kimia dan retorika nuklir yang dilontarkan Rusia-Belarusia sebagai fase eskalasi paling berbahaya sejak awal invasi ke Ukraina. “Ini bukan lagi soal Ukraina, tetapi tentang peta ulang keamanan Eropa secara menyeluruh. Dunia harus belajar dari sejarah—setiap kali konvensi internasional dilanggar tanpa respons tegas, harga yang harus dibayar akan jauh lebih mahal,” katanya kepada Deutsche Welle.

Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar sidang darurat membahas isu ini, sementara organisasi kesehatan dunia (WHO) dan Palang Merah Internasional juga mulai mengirim tim bantuan medis khusus untuk menghadapi kemungkinan krisis korban senjata kimia di Ukraina.

Kesimpulan: Ancaman yang Tak Bisa Diabaikan

Perang di Ukraina kini tidak lagi sekadar soal perebutan wilayah, melainkan menjadi arena eksperimen senjata dan ancaman strategis yang dapat mengguncang tatanan internasional. Penggunaan senjata kimia oleh Rusia, diikuti dengan retorika keras dari Belarusia tentang ekspansi teritorial dan ancaman nuklir, telah menyalakan alarm bahaya di seluruh Eropa.

Sejauh ini, dunia masih menunggu, akankah kecaman dan sanksi internasional cukup ampuh untuk menghentikan gelombang ancaman baru dari Moskow dan Minsk? Atau justru, sejarah Eropa akan kembali diwarnai babak baru konfrontasi militer yang lebih luas? Semua mata kini tertuju pada langkah-langkah komunitas internasional dalam beberapa hari ke depan. (***)

Pencarian Korban Selamat dari Runtuhnya Bangunan 5 Lantai di Pakistan Terus Berlanjut

EtIndonesia. Sebuah gedung berlantai lima runtuh di Pakistan pada hari Jumat (4/7), menewaskan sedikitnya delapan orang dan melukai sembilan lainnya, kata para pejabat, sementara tim penyelamat mencari korban lain yang terjebak di antara reruntuhan.

Insiden itu terjadi sesaat setelah pukul 10:00 pagi di lingkungan Lyari yang miskin di Karachi, yang dulunya dilanda kekerasan geng dan dianggap sebagai salah satu daerah paling berbahaya di Pakistan.

Sekitar 100 orang tinggal di gedung itu, kata perwira polisi senior Arif Aziz kepada AFP.

Shankar Kamho, 30 tahun, seorang penghuni gedung yang sedang berada di luar saat itu, mengatakan sekitar 20 keluarga tinggal di dalamnya.

“Saya mendapat telepon dari istri saya yang mengatakan gedung itu retak dan saya menyuruhnya untuk segera keluar,” katanya kepada AFP di lokasi kejadian.

“Dia pergi untuk memperingatkan para tetangga, tetapi seorang wanita mengatakan kepadanya ‘bangunan ini akan berdiri setidaknya 10 tahun lagi’. Namun, istri saya membawa putri kami dan pergi. Sekitar 20 menit kemudian, bangunan itu runtuh.”

Departemen kesehatan Provinsi Sindh mengatakan jumlah kematian telah meningkat menjadi delapan orang tewas dan sembilan orang luka-luka pada Jumat malam.

Pencarian korban selamat berlanjut hingga malam, dengan para kerabat berkumpul di dekat lokasi menunggu kabar.

Saad Edhi, dari yayasan kesejahteraan Edhi yang merupakan bagian dari operasi penyelamatan, mengatakan kepada AFP bahwa mungkin ada “setidaknya delapan hingga 10 orang lagi yang masih terjebak”, menggambarkannya sebagai “bangunan yang sudah usang”.

Berpacu dengan Waktu

Warga sekitar bergegas menyelamatkan tetangga mereka sebelum tim penyelamat mengambil alih untuk membersihkan puing-puing, bersama dengan sedikitnya lima ekskavator.

Mesin berat kesulitan untuk mengakses gang-gang sempit, dan polisi menyerang warga dengan tongkat untuk membersihkan jalan.

Keenam anggota keluarga Jumho Maheshwari yang berusia 70 tahun berada di flatnya di lantai pertama ketika dia berangkat kerja pagi-pagi sekali.

“Tidak ada yang tersisa bagi saya sekarang — keluarga saya semua terjebak dan yang bisa saya lakukan hanyalah berdoa agar mereka selamat,” katanya kepada AFP.

Warga lainnya, Maya Sham Jee, mengatakan keluarga saudara laki-lakinya juga terjebak di bawah reruntuhan.

“Ini tragedi bagi kami. Dunia telah berubah bagi keluarga kami,” katanya kepada AFP.

“Kami tidak berdaya dan hanya berharap petugas penyelamat dapat membawa orang-orang yang kami cintai kembali dengan selamat.”

Pada bulan Juni 2020, sedikitnya 18 orang tewas ketika sebuah bangunan tempat tinggal yang menampung sekitar 40 apartemen runtuh di area yang sama di kota tersebut.

Atap dan bangunan runtuh merupakan hal yang umum di Pakistan, terutama karena standar keselamatan yang buruk dan bahan konstruksi yang buruk di negara Asia Selatan yang berpenduduk lebih dari 240 juta orang tersebut.

Namun, Karachi, yang merupakan rumah bagi lebih dari 20 juta penduduk, sangat terkenal karena pembangunan yang buruk, perluasan ilegal, infrastruktur yang menua, kepadatan penduduk, dan lemahnya penegakan peraturan bangunan.(yn)

Di Balik Serangan Kilat Israel: Perwira Kunci Iran Tewas di Beirut, Dunia Menuju Krisis Baru?”

EtIndonesia.  Pada 4 Juli 2025, ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah seorang perwira militer senior Iran, Qassem al‑Husseini, tewas dalam serangan udara Israel yang mengguncang kawasan selatan Beirut, Lebanon, Kamis malam waktu setempat. Husseini dikenal sebagai salah satu figur kunci di balik jaringan penyelundupan senjata Iran ke Lebanon dan Tepi Barat, yang selama ini dituding sebagai tulang punggung kekuatan milisi Hizbullah dan kelompok-kelompok bersenjata di wilayah Palestina.

Menurut laporan The Times of Israel, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz  menyatakan bahwa operasi militer yang menewaskan Husseini ini merupakan “titik balik bersejarah” dalam menghadapi ancaman terbesar yang datang dari rezim Teheran. Ia menegaskan, keberhasilan operasi ini adalah bagian dari strategi Israel untuk menghalau pengembangan program nuklir dan produksi rudal Iran, yang selama ini dipandang sebagai ancaman eksistensial terhadap keamanan nasional Israel.

Operasi “Rising Lion”: Titik Kunci Perang Bayangan

Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, mengungkapkan bahwa operasi dengan sandi “Rising Lion” merupakan hasil dari ribuan jam perencanaan matang, pengumpulan intelijen secara intensif, serta latihan militer yang ekstensif. Zamir menegaskan, keberhasilan ini menandai babak baru dalam upaya Israel menggagalkan ekspansi militer Iran di kawasan.

Menteri Pertahanan Katz menambahkan bahwa Israel telah menyiapkan strategi jangka panjang untuk memastikan Iran tidak lagi memiliki kemampuan atau kesempatan untuk mengancam keamanan Israel pada masa mendatang. 

“Ini bukan sekadar balasan sesaat, melainkan langkah preventif strategis agar generasi mendatang bebas dari ancaman rudal dan nuklir Iran,” tegas Katz dalam pernyataannya kepada media.

AS dan Iran Akan Gelar Perundingan di Oslo, IAEA Tarik Inspektur dari Iran

Sementara itu, berbagai media internasional melaporkan Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan melakukan perundingan penting di Oslo, Norwegia, pekan depan. Fokus utama pembicaraan adalah membahas pembatasan lebih lanjut atas program nuklir Iran, pertukaran sanksi serta relaksasi ekonomi, serta mencari solusi penurunan ketegangan di kawasan. Namun, di tengah upaya diplomasi tersebut, Reuters melaporkan bahwa Badan Energi Atom Internasional (IAEA) telah menarik seluruh tim inspekturnya dari fasilitas nuklir Iran. Keputusan ini diambil akibat memburuknya situasi keamanan dan meningkatnya kecurigaan atas aktivitas nuklir rahasia Teheran. Peninjauan ulang terhadap program nuklir Iran kini tertunda, menunggu situasi yang lebih kondusif.

Retorika Panas dari Teheran: Seruan Hukuman Mati untuk Trump dan Netanyahu

Di Teheran, suasana semakin panas setelah pemimpin salat Jumat, Ahmad Khatami, menyerukan hukuman mati bagi Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berdasarkan interpretasi hukum Islam. 

Pernyataan keras tersebut mendapat reaksi luas dari warganet dan komunitas internasional, yang menilai retorika ini lebih sebagai provokasi yang telah berulang kali disuarakan para pemimpin Iran selama beberapa dekade terakhir. Para pengamat menilai, pernyataan seperti ini justru memperkeruh suasana dan memperkecil ruang dialog antara pihak-pihak yang bertikai.

Perang Gaza Memanas: Israel Klaim Kuasai 65% Wilayah Tempur

Dalam perkembangan lain, militer Israel terus menggempur wilayah Gaza dalam operasi militer besar-besaran. Juru bicara militer Israel mengumumkan, sepanjang sepekan terakhir, lebih dari 100 anggota Hamas tewas dalam berbagai serangan, dan kini pasukan Israel mengklaim telah menguasai 65% wilayah pertempuran di Gaza. Langkah ini menegaskan ambisi Israel untuk sepenuhnya melumpuhkan kekuatan militer Hamas dan menggulingkan kontrol organisasi tersebut atas Gaza.

Sementara itu, komandan militer Hamas, Izz al‑Din al‑Haddad, memperingatkan bahwa jika tidak tercapai perjanjian damai yang bermartabat, maka konflik akan berlanjut dalam bentuk “perang pembebasan” atau bahkan “perang pengorbanan jiwa”, menandakan potensi eskalasi yang lebih luas dan berdarah di masa mendatang.

Hizbullah Mulai Kurangi Senjata Berat, Tekanan Ekonomi Meningkat

Reuters juga melaporkan, Hizbullah di Lebanon kini tengah menimbang langkah-langkah pengurangan stok senjata berat serta drone canggih akibat tekanan keuangan yang semakin besar dan konflik yang berkepanjangan. Namun, kelompok yang didukung Iran itu masih berusaha mempertahankan arsenal senjata ringan demi kebutuhan pertahanan di dalam negeri.

Analisis dan Dampak Regional

Rentetan peristiwa ini semakin menunjukkan betapa kompleks dan rapuhnya stabilitas di kawasan Timur Tengah. Kematian Husseini bukan sekadar kehilangan seorang perwira, tetapi juga bisa memicu serangkaian aksi balasan dari Iran maupun kelompok-kelompok proksi di Lebanon, Suriah, dan Gaza. Langkah IAEA menarik inspektur juga menambah kecemasan global terkait potensi “kebutaan” dunia atas kemajuan program nuklir Iran.

Pengamat menilai, jika perundingan AS-Iran di Oslo gagal menghasilkan terobosan, risiko konflik terbuka, baik melalui serangan langsung maupun perang proksi, akan semakin besar. Masyarakat internasional kini menanti apakah diplomasi akan mampu meredam panasnya situasi atau justru krisis akan berlanjut tanpa ujung. (***)

Rusia Menolak Perundingan, Meluncurkan Serangan Terbesar ke Ukraina

EtIndonesia. Kremlin mengatakan pada hari Jumat (4/7) bahwa mereka tidak melihat jalan keluar diplomatik langsung dari perang di Ukraina, beberapa jam setelah meluncurkan serangan pesawat nirawak dan rudal terbesar yang pernah ada dalam invasi tersebut.

Pengeboman selama berjam-jam di seluruh Ukraina terjadi tepat setelah panggilan telepon antara presiden AS dan Rusia berakhir tanpa terobosan apa pun.

Wartawan AFP di Kyiv mendengar pesawat nirawak berdengung di atas ibu kota dan ledakan terdengar sepanjang malam saat sistem pertahanan udara Ukraina menangkis serangan tersebut.

“Kami tertarik untuk mencapai tujuan kami dalam operasi militer khusus dan lebih baik melakukannya dengan cara politik dan diplomatik,” kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov kepada wartawan, mengacu pada invasinya, yang diluncurkan pada Februari 2022.

“Tetapi selama itu tidak memungkinkan, kami akan melanjutkan operasi khusus,” katanya dalam sebuah pengarahan, termasuk dengan AFP.

Presiden AS, Donald Trump mengatakan bahwa dia tidak membuat kemajuan dalam diskusi sehari sebelumnya dengan Presiden Vladimir Putin untuk mengakhiri perang, sementara Kremlin berjanji untuk mengejar tujuan perangnya.

Tymur, seorang warga Kyiv yang mengatakan bahwa dia telah mengalami serangan Rusia sebelumnya, mengatakan kepada AFP bahwa serangan pada dini hari Jumat itu berbeda.

“Serangan seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Tidak pernah ada begitu banyak ledakan,” katanya.

‘Perang dan Teror’

Zelenskyy mengatakan peringatan udara mulai bergema di seluruh negeri saat panggilan Trump-Putin sedang berlangsung.

“Sekali lagi, Rusia menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki niat untuk mengakhiri perang dan teror,” kata Zelenskyy di media sosial.

“Semua ini adalah bukti nyata bahwa tanpa tekanan skala besar, Rusia tidak akan mengubah perilakunya yang bodoh dan merusak.”

Dia mendesak Amerika Serikat khususnya untuk meningkatkan tekanan pada Moskow, yang pada hari Jumat mengumumkan perolehan teritorial baru di garis depan dengan merebut sebuah desa di wilayah Donetsk.

Polandia mengatakan gedung kedutaannya di Kyiv telah rusak dalam serangan itu tetapi stafnya tidak terluka.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Jerman mengatakan bahwa waktu serangan — tepat setelah panggilan para pemimpin — menunjukkan bahwa Moskow “terus mengandalkan kekuatan kasar”.

“Ukraina membutuhkan lebih banyak untuk mempertahankan dirinya, bukan lebih sedikit,” kata kementerian itu di media sosial.

Seorang juru bicara pemerintah mengatakan Jerman sedang menjajaki kemungkinan untuk membeli lebih banyak sistem pertahanan udara Patriot dari Amerika Serikat untuk Ukraina.

Zelenskyy mengatakan 23 orang terluka dalam rentetan serangan itu, yang menurut angkatan udara terdiri dari 539 pesawat tanpa awak dan 11 rudal.

Seorang perwakilan angkatan udara Ukraina mengatakan kepada media Ukraina bahwa serangan itu adalah yang terbesar dari invasi Rusia, yang diluncurkan pada Februari 2022.

‘Pengabaian Total’

Serangan Rusia dalam semalam telah meningkat selama beberapa minggu terakhir.

Sebuah penghitungan AFP menemukan Moskow meluncurkan sejumlah rekor drone dan rudal ke Ukraina pada bulan Juni, ketika pembicaraan damai langsung antara Kyiv dan Moskow tampaknya terhenti.

Di Kyiv, wartawan AFP melihat puluhan penduduk ibu kota berlindung di sebuah stasiun metro.

Yuliia Golovnina, yang mengatakan bahwa dia berlindung di metro secara teratur, menjelaskan kepada AFP kekhawatiran yang muncul saat mendengar ledakan selama serangan.

“Apakah akan ada lagi? Apakah sesuatu akan jatuh menimpa Anda?” kata wanita berusia 47 tahun itu.

“Jadi dalam hitungan detik, Anda hanya menahan napas dan menunggu untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya,” tambahnya.

Di Kyiv, kekhawatiran meningkat mengenai apakah AS akan terus mengirimkan bantuan militer, yang merupakan kunci kemampuan Ukraina untuk menangkis rentetan drone dan rudal.

AS mengumumkan minggu ini bahwa mereka mengurangi sebagian pengiriman bantuannya.

Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen mengatakan ini adalah sinyal yang jelas bahwa 27 negara Uni Eropa perlu “melangkah maju”.

Ukraina juga telah meningkatkan serangan balasannya di Rusia, di mana seorang wanita tewas ketika pesawat nirawak Ukraina menabrak sebuah gedung apartemen, kata penjabat gubernur daerah di Rostov.

Pembicaraan, yang dipelopori oleh Amerika Serikat untuk mengamankan gencatan senjata, telah terhenti tetapi Ukraina dan Rusia mengumumkan pertukaran tawanan perang baru dengan Ukraina.

Kedua belah pihak mengatakan itu adalah bagian dari kesepakatan yang dicapai selama pembicaraan di Istanbul bulan lalu.(yn)

Misteri B-2 Setelah Serangan ke Iran: Di Mana Pesawat Pengebom Siluman AS Itu?

EtIndonesia. Operasi pengeboman Angkatan Udara AS yang menargetkan fasilitas nuklir Iran telah berubah secara tak terduga. Satu kelompok pesawat pengebom siluman B-2 Spirit yang terlibat dilaporkan belum kembali ke pangkalan, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang keberadaannya.

AS mengerahkan dua kelompok pesawat pengebom B-2 terpisah dari Pangkalan Angkatan Udara Whiteman di Missouri pada tanggal 21 Juni. Satu formasi terbang ke arah barat di atas Pasifik — dilaporkan untuk mengecoh pertahanan Iran — sementara formasi kedua, yang terdiri dari tujuh B-2, menuju ke timur untuk menyerang fasilitas nuklir bawah tanah Teheran di Fordo dan Natanz, menurut laporan EurAsian Times yang diterbitkan pada tanggal 27 Juni.

Tim penyerang menyelesaikan misinya dan kembali ke pangkalan setelah perjalanan pulang pergi tanpa henti selama 37 jam. Namun, sedikit yang diketahui tentang tim umpan yang terbang menuju Pasifik.

Namun, yang muncul adalah bahwa setidaknya satu pesawat dari kelompok itu terpaksa melakukan pendaratan darurat di Hawaii.

Pesawat pengebom siluman yang dimaksud dilaporkan mendarat di Bandara Internasional Daniel K. Inouye, yang berbagi landasan pacu dengan Pangkalan Angkatan Udara Hickam di Honolulu. Sebuah video pesawat itu muncul secara daring, menambah misteri seputar kondisinya dan alasan pasti pengalihan dan pendaratannya.

Belum ada rincian yang dirilis mengenai sifat darurat tersebut atau berapa lama pesawat pengebom siluman itu akan tetap mendarat darurat.

Insiden ini bukan satu-satunya. Pesawat pengebom B-2 juga pernah melakukan pendaratan tak terencana di Hawaii sebelumnya. Pada April 2023, pendaratan darurat serupa terjadi di Hickam, yang mendorong seluruh armada B-2 untuk sementara mendarat darurat setelah kecelakaan terpisah di Missouri pada akhir 2022.

Pesawat yang terlibat dalam insiden April itu tetap berada di Hawaii selama berminggu-minggu sebelum diizinkan terbang. B-2 lainnya harus diangkut ke fasilitas Northrop Grumman di Palmdale, California, untuk diperbaiki pada tahun 2021 setelah insiden serupa.

Namun, kecelakaan B-2 yang paling parah terjadi pada tahun 2008, ketika “Spirit of Kansas” jatuh tak lama setelah lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Andersen di Guam. Pesawat itu hancur, meskipun kedua awaknya berhasil melontarkan diri dengan selamat.

Pesawat pengebom B-2 Spirit, bagian penting dari strategi penangkal nuklir AS, dikenal karena teknologi siluman mutakhir dan kemampuan misi yang fleksibel.(yn)

Fenomena Langit 4 Juli: Bumi Berada Jauh dari Matahari, Merkurius Tampil dengan Kecerahan Tinggi

Awal Juli tahun ini menyuguhkan tiga fenomena astronomi menarik di langit musim panas. Selain momen matahari terbenam paling lambat dalam setahun, Bumi juga mencapai jarak terjauhnya dari Matahari pada 4 Juli, dan pada hari yang sama, Merkurius akan tampil di langit dengan kecerahan tinggi.

EtIndonesia. Taipei Astronomical Museum menyampaikan melalui situs resminya bahwa meskipun titik balik musim panas (summer solstice) adalah hari dengan siang terpanjang dalam setahun, waktu matahari terbenam paling akhir di Taipei justru jatuh pada 3 Juli pukul 18:48 waktu setempat — sekitar satu menit lebih lambat dibanding hari titik balik musim panas. 

Dari 26 Juni hingga 9 Juli, waktu matahari terbenam stabil di jam tersebut. Hal ini disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor, termasuk kemiringan sumbu rotasi Bumi, orbit elips Bumi, dan lokasi geografis.

Kemudian, pada 4 Juli pukul 03:55, Bumi mencapai titik aphelion tahunannya — yaitu jarak terjauh dari Matahari, sekitar 1,0166 satuan astronomi (sekitar 152 juta kilometer). Meskipun merupakan jarak terjauh dari Matahari, namun wilayah belahan bumi utara tetap mengalami puncak musim panas. Ini menunjukkan bahwa pergantian musim lebih ditentukan oleh kemiringan sumbu Bumi, bukan jarak dari Matahari.

Fenomena langit menarik lainnya adalah Merkurius mencapai elongasi timur terbesar dari tiga kali yang terjadi pada 2025. Fenomena ini terjadi pada 4 Juli pukul 12:39 siang waktu setempat, di mana jarak sudut antara Merkurius dan Matahari mencapai 25,9 derajat — menjadikannya tampak cukup jauh dari cahaya matahari untuk bisa dilihat dengan mata telanjang setelah matahari terbenam. Saat itu, Merkurius akan terlihat di langit barat dengan kecerahan sebesar 0,5 magnitudo, tampak seperti permata yang berkilauan di langit senja.

Biasanya Merkurius sulit diamati karena selalu dekat dengan Matahari, tetapi kali ini sudutnya cukup jauh untuk mengurangi gangguan cahaya matahari — menjadikan ini salah satu momen terbaik sepanjang 2025 untuk mengamati elongasi timur. Selain itu, Merkurius juga akan berada dekat dengan gugus bintang Beehive (M44) di rasi bintang Cancer.

Ingin melihat Merkurius? Cobalah mengamati ke arah barat sekitar 30–60 menit setelah matahari terbenam. Pilih lokasi dengan cakrawala yang lapang tanpa gedung tinggi yang menghalangi. Lebih bagus lagi jika menggunakan teropong.

Taipei Astronomical Museum menambahkan bahwa meskipun ketiga fenomena langit ini tidak saling berkaitan secara langsung, kebetulan terjadi dalam waktu yang berdekatan — menjadikannya tema istimewa bagi para pengamat langit dan penggemar astrofotografi. 

Menikmati senja terlama, membayangkan luasnya jarak Bumi dari Matahari, atau menangkap kilau Merkurius di langit senja — semua ini adalah pengalaman langit malam musim panas yang layak dinantikan. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Trump dan Putin Lakukan Panggilan Telepon, Rusia: Tidak Akan Menyerah dalam Misi “Menghapus Ukraina”

Pada Kamis (3 Juli) pagi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan pembicaraan lewat telepon, membahas situasi Ukraina, Iran, dan isu-isu di Timur Tengah. Kremlin menyatakan bahwa Putin bersedia melanjutkan negosiasi dengan Ukraina, namun menegaskan bahwa Rusia tidak akan menyerah dalam tujuannya untuk “menghapus Ukraina”.

EtIndonesia. Presiden AS Donald Trump mengumumkan lewat media sosial bahwa ia melakukan panggilan dengan Putin pada pukul 10.00 pagi waktu timur AS, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Media asing melaporkan bahwa Trump kemungkinan akan melakukan panggilan telepon dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada  Jumat, untuk membahas keputusan AS yang baru-baru ini menangguhkan sebagian pengiriman senjata ke Ukraina.

Presiden Ukraina Zelenskyy mengatakan:  “Terkait hubungan bilateral dengan Amerika Serikat, saya berharap dapat berdiskusi dengan Presiden Trump besok atau dalam beberapa hari mendatang.”

Penangguhan pengiriman sebagian senjata dari AS kepada Ukraina telah memicu perhatian luas. Para ahli memperkirakan bahwa stok rudal pertahanan udara Patriot Ukraina saat ini hanya akan cukup hingga musim gugur. Jika pengiriman dari AS tidak segera dilanjutkan, militer Ukraina kemungkinan akan memprioritaskan perlindungan terhadap fasilitas militer, dan tidak mampu sepenuhnya melindungi warga sipil.

Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menyatakan:  “Kami tentu akan memantau keputusan Washington dengan seksama. Kami berharap kemitraan trans-Atlantik, khususnya dalam mendukung Ukraina, dapat terus berlanjut.”

Trump sebelumnya juga menyatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk menjual lebih banyak sistem pertahanan udara Patriot kepada Ukraina.

Di sisi lain, penasihat kebijakan luar negeri Kremlin, Yuri Ushakov, mengatakan bahwa Trump kembali menegaskan keinginannya agar perang segera berakhir, dan menyampaikan bahwa Rusia bersedia melanjutkan negosiasi dengan Ukraina.

Namun, Rusia tetap teguh pada tujuan awal invasi tersebut.

Yuri Ushakov mengatakan:  “Presiden kami juga menyampaikan bahwa Rusia akan mencapai tujuannya: yakni menghilangkan akar penyebab yang memicu situasi saat ini dan konfrontasi yang sengit. Rusia tidak akan mundur dari tujuan-tujuan tersebut.”

Namun, Ukraina dan sekutu-sekutu Eropanya mengecam pernyataan tersebut sebagai dalih Rusia untuk melancarkan perang agresi. (Hui/asr)

Laporan oleh jurnalis NTD, Yi Xin

Menteri Keuangan AS: RMB Tak Bisa Menjadi Mata Uang Cadangan, 1,4 Miliar Orang Ingin Mentransfer Uang ke Luar Negeri

Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menyatakan bahwa mata uang Tiongkok, yuan (renminbi), tidak dapat menjadi mata uang cadangan global karena tidak dapat diperdagangkan secara bebas. Ia mengatakan, “Sebanyak 1,4 miliar warga Tiongkok ingin memindahkan uang mereka ke luar negeri.” Pernyataan tersebut disampaikan Bessent dalam wawancara dengan Bloomberg pada 3 Juli waktu setempat.

Etindonesia. Nilai tukar dolar AS yang belakangan ini melemah telah menimbulkan kekhawatiran atas status dolar sebagai mata uang utama dunia. Menanggapi hal ini, Menkeu AS Bessent membantah kekhawatiran tersebut.

Ia menjelaskan, “Pergerakan nilai tukar dolar tidak ada kaitannya dengan kebijakan dolar kuat. Kami menerapkan kebijakan dolar kuat untuk memastikan bahwa dolar tetap menjadi mata uang cadangan dunia dalam jangka panjang.”

Tahun ini, beberapa pembuat kebijakan di Tiongkok dan Eropa telah mempertanyakan dominasi dolar dan menyuarakan perlunya reformasi sistem keuangan global guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar.

Namun, menurut Bessent, harapan agar RMB. mengambil peran global adalah “omong kosong total”.

 “Mata uang mereka tidak dapat dikonversi secara bebas. Jadi, bagaimana mungkin bisa menjadi mata uang cadangan? Terlebih lagi, ada 1,4 miliar warga Tiongkok yang ingin memindahkan uangnya keluar dari Tiongkok.”

Bessent, yang telah berkarier selama puluhan tahun di dunia hedge fund dan ahli dalam perdagangan valuta asing, menegaskan bahwa “syarat utama mata uang cadangan adalah dapat diperdagangkan secara bebas”, namun Beijing terus memberlakukan kontrol modal secara ketat.

Ia juga mengatakan, “Sejak Perang Dunia II, banyak orang telah memprediksi keruntuhan status dolar sebagai mata uang cadangan. Menurut saya, para peragu akan kembali terbukti salah.” (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Gunung Berapi di Jepang Meletus Setinggi 5.000 Meter, Kagoshima Diguncang Lebih dari Seribu Kali, Warga Mengungsi

Baru-baru ini, gugusan pulau Tokara di lepas pantai Prefektur Kagoshima, Jepang, diguncang lebih dari seribu kali, membuat warga setempat berada dalam kondisi fisik dan mental yang sangat tertekan. Saat ini, warga pulau tersebut telah mulai mengungsi pada 4 Juli dini hari dan diperkirakan akan tiba di Pelabuhan Kota Kagoshima pada sore harinya. Selain itu, Gunung Shinmoedake di Pegunungan Kirishima, yang berada di perbatasan Prefektur Kagoshima dan Miyazaki, juga meletus dengan kolom abu vulkanik mencapai ketinggian 5.000 meter.

EtIndonesia. Gempa berkekuatan 5,5 mengguncang wilayah laut di sekitar gugusan pulau Tokara, sekitar pukul 16:13 waktu setempat pada 3 Juli 2025.  Pulau Akuseki di Desa Toshima mengalami intensitas guncangan hingga level 6 lemah. Sejak 21 Juni hingga 3 Juli, wilayah tersebut telah mencatat lebih dari 1.100 gempa yang dirasakan.

Sementara itu, Gunung Shinmoedake di Pegunungan Kirishima yang terletak di perbatasan Prefektur Kagoshima dan Miyazaki telah meletus terus-menerus sejak 27 Juni, dengan total aktivitas vulkanik tercatat sebanyak 2.890 kali. Sekitar pukul 13:49 waktu setempat pada 3 Juli, gunung tersebut kembali meletus dan menghasilkan kolom abu setinggi 5.000 meter, yang menyebabkan 55 penerbangan di Bandara Kagoshima dibatalkan.

Gugusan pulau Tokara terletak di bagian selatan Prefektur Kagoshima dan terdiri dari 12 pulau, di mana 7 di antaranya berpenghuni.

Menurut laporan NHK (Japan Broadcasting Corporation), pada 3 Juli, Kepala Desa Toshima, Genichiro Kubo, hadir secara daring dalam rapat markas penanggulangan bencana prefektur dan mengumumkan rencana evakuasi sukarela bagi warga yang ingin mengungsi pada 4 Juli dini hari.

Dalam konferensi pers, Kubo menyatakan bahwa semua 80 warga dari 38 rumah tangga di Pulau Akuseki dalam keadaan selamat. Namun, demi keselamatan ke depannya, pihak desa telah mulai mendata keinginan warga dan menilai apakah perlu mengevakuasi sebagian dari mereka ke pulau utama.

Ia mengatakan bahwa kombinasi antara gempa susulan yang terus terjadi dan suhu tinggi telah membuat warga kelelahan secara fisik dan mental. Oleh karena itu, rencana evakuasi mulai dijalankan, bersamaan dengan pencarian lokasi penampungan di pulau utama.

Laporan menyebutkan bahwa rombongan pertama warga telah berangkat  4 Juli pada pukul 02.00 dini hari waktu setempat dari Pelabuhan Naze di Pulau Amami Ōshima, dan akan singgah di tujuh pulau berpenghuni sebelum tiba di Pelabuhan Kota Kagoshima sekitar pukul 18.00 sore. Rencana evakuasi ini direncanakan berlangsung selama seminggu, namun bisa diperpanjang tergantung pada kondisi aktivitas gempa.

Badan Meteorologi Jepang juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai aktivitas gempa dan kondisi hujan ke depan, serta memperhatikan risiko runtuhnya bangunan dan tanah longsor. Karena aktivitas gempa belum mereda, masih ada potensi terjadinya gempa dengan intensitas hingga level 6.

Selain itu, data pemantauan gempa global dalam format 3D menunjukkan bahwa gugusan pulau Tokara telah mengalami lebih dari seribu kali gempa, dan tumpukan data pada peta 3D terlihat seperti sebuah pencakar langit, mencerminkan frekuensi gempa yang jauh melampaui negara-negara lain di dunia.

Pada 3 Juli pukul 17:00, Kepala Sekretariat Kabinet Jepang, Yoshimasa Hayashi, bersama Badan Meteorologi Jepang menggelar konferensi pers darurat dan menyatakan bahwa pemerintah telah menguasai informasi terkait bencana dan tengah mengerahkan seluruh daya untuk menangani perkembangan situasi. Mereka juga menyerukan masyarakat untuk sangat waspada, terutama warga yang tinggal di wilayah dengan intensitas gempa level 6 lemah agar terus mengikuti informasi evakuasi.

Saat ini, Kantor Perdana Menteri Jepang telah meng-upgrade pusat koordinasi menjadi Ruang Tanggap Darurat Pemerintah.

Terkait isu “ramalan gempa besar pada 5 Juli” yang beredar di internet, Badan Meteorologi Jepang kembali menegaskan bahwa hal itu tidak memiliki dasar ilmiah. Mereka menekankan bahwa saat ini tidak ada cara untuk memprediksi kapan rangkaian gempa akan berhenti, namun masyarakat diimbau untuk selalu siap siaga menghadapi bencana.

Ayaki Ebitada, kepala Divisi Pemantauan Gempa dan Tsunami di Badan Meteorologi Jepang, mengingatkan agar sebelum malam tiba, masyarakat memilih tempat tidur di lokasi yang aman — di mana furnitur tidak mudah roboh dan barang tidak mudah jatuh — serta meletakkan sepatu dan senter di samping tempat tidur sebagai persiapan untuk evakuasi darurat kapan saja. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Ledakan Besar & Kematian Misterius di Moskow: Putin, Trump, dan Zelenskyy Berebut Pengaruh Dunia!”

EtIndonesia. Situasi di Rusia kembali memanas setelah ledakan hebat mengguncang pusat Kota Moskow pada Jumat malam 4 Juli 2025, yang menewaskan Kepala Direktorat Kelima Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB), Alexei Komkov. Insiden yang menghebohkan ini dilaporkan oleh berbagai media Rusia dan kanal-kanal sosial seperti Telegram dan Facebook, memicu kepanikan dan peningkatan status siaga di ibukota Moskow.

Sumber-sumber keamanan menyebutkan, mobil yang meledak tersebut diduga kuat menjadi target serangan terencana yang langsung menewaskan Komkov, sosok penting dalam kontraintelijen Rusia yang selama ini memegang kendali atas operasi-operasi sensitif di negara-negara Persemakmuran Negara-negara Merdeka (CIS). Hingga kini, pihak berwenang Rusia masih melakukan investigasi intensif, sementara pengamanan di pusat Kota Moskow diperketat.

Putin-Trump Berkomunikasi Langsung, Isyarat Tegang

Pada hari yang sama 4 Juli, laporan Reuters menyebut, pihak Rusia mengklaim bahwa Presiden Vladimir Putin saat melakukan komunikasi dengan Presiden AS, Donald Trump, menegaskan Rusia sama sekali tidak akan melepaskan ambisinya di Ukraina. Percakapan ini menjadi salah satu komunikasi paling terbuka antara dua tokoh besar tersebut sejak invasi Rusia ke Ukraina dimulai.

Trump sendiri mengungkapkan kekecewaannya terhadap hasil pembicaraan itu kepada media. 

“Putin sudah tidak seperti dulu. Saya tidak melihat dia berniat menghentikan perang,” ujarnya, menandakan keraguan besar terhadap kemungkinan tercapainya perdamaian dalam waktu dekat.

Namun di sisi lain, Pemerintah Rusia justru mengirimkan sinyal berbeda ke publik. Melalui TASS, pejabat Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, pada 4 Juli mengatakan hubungan Rusia-AS mulai mencair dan terdapat kemajuan nyata dalam dialog bilateral. Meski begitu, banyak pengamat menilai sikap Rusia cenderung ambigu di tengah konflik yang terus membara.

Zelenskyy dan Trump: Kerjasama Pertahanan Udara Ditingkatkan

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada 4 Juli mengonfirmasi telah melakukan percakapan langsung dengan Trump. Dalam komunikasi tersebut, Zelenskyy menegaskan pentingnya peningkatan sistem pertahanan udara Ukraina dan membuka kemungkinan pembentukan tim khusus bersama untuk membahas skema bantuan lebih lanjut.

Kedua pemimpin juga mendiskusikan peluang kerjasama dalam bidang produksi dan pengadaan senjata, serta investasi pertahanan. Zelenskyy memanfaatkan momentum Hari Kemerdekaan Amerika Serikat untuk menyampaikan ucapan selamat kepada rakyat AS, sembari memperkuat hubungan strategis kedua negara.

Laporan Axios menyebutkan, Trump menunjukkan itikad untuk membantu Ukraina memperkuat pertahanan udara dan berjanji meninjau ulang segala bentuk bantuan militer yang saat ini masih tertahan. Trump juga ingin memahami lebih jauh alasan di balik eskalasi serangan militer Rusia dalam beberapa waktu terakhir.

Perang Membara: Serangan Balasan dan Pertahanan Udara

Situasi di lapangan semakin memburuk. Pada 4 Juli, Ukraina melancarkan serangan drone ke sebuah stasiun trafo di Sergiev, pinggiran Moskow, yang menyebabkan pemadaman listrik massal dan satu korban luka. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah berhasil menembak jatuh 48 drone Ukraina pada hari yang sama, menandakan intensitas pertempuran kian meningkat.

Tidak hanya di Moskow, serangan juga melanda wilayah Luhansk, menewaskan satu orang dan merusak sejumlah bangunan. Ratusan warga terpaksa dievakuasi akibat ancaman yang terus berlanjut.

Puncak ketegangan terjadi saat Rusia melancarkan serangan terbesar sepanjang sejarahnya terhadap ibu kota Ukraina, Kyiv. Sebanyak 539 drone dan 11 rudal diarahkan ke berbagai target strategis di Kyiv, menyebabkan sedikitnya 23 orang terluka dan menghancurkan permukiman, fasilitas publik, serta infrastruktur penting lainnya. Beruntung, sebagian besar rudal berhasil dijatuhkan oleh sistem pertahanan udara Ukraina, namun kerusakan dan trauma warga tetap tidak terelakkan.

Pertukaran Tawanan: Sinyal Kemanusiaan di Tengah Perang

Meski perang terus berkobar, upaya kemanusiaan tetap berlangsung. Pada 4 Juli, kantor berita AFP melaporkan terjadinya pertukaran tawanan perang antara Rusia dan Ukraina. Presiden Zelenskyy secara terbuka mempublikasikan foto-foto tentara Ukraina yang baru saja dibebaskan dan dipulangkan ke tanah air, lengkap dengan balutan bendera biru-kuning kebanggaan mereka. 

“Misi kita adalah membebaskan seluruh rakyat Ukraina yang masih ditahan di Rusia,” tegas Zelenskyy, menegaskan prioritas pemerintahannya.

Dinamika Internasional: Eropa dan NATO Tingkatkan Kesiagaan

Di tengah eskalasi perang, dinamika global ikut berubah cepat. Pada hari Kamis 4 Juli, Perdana Menteri Rusia, Mikhail Mishustin diketahui mengadakan pembicaraan dengan Trump mengenai pengiriman senjata ke Ukraina. 

Penundaan pengiriman sistem rudal Patriot oleh Amerika Serikat mendorong Jerman untuk bernegosiasi langsung dengan Washington, guna membeli sistem pertahanan tambahan yang sangat dibutuhkan. Menteri Pertahanan Jerman bahkan dijadwalkan untuk berkunjung ke AS membahas percepatan bantuan ini.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, dengan tegas menyatakan kesiapan Inggris menghadapi kemungkinan perang terbuka dengan Rusia pada tahun 2025. Inggris telah menyiapkan sedikitnya 1.000 personel militer di Estonia, sekaligus memperkuat latihan militer gabungan dengan 31 negara anggota NATO. 

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, bahkan mengumumkan status siaga militer nasional serta tambahan investasi sebesar 15 miliar pound sterling. Dana besar itu dialokasikan untuk penguatan pertahanan nuklir, pembangunan kapal selam nuklir generasi baru, dan penambahan kekuatan militer Inggris secara menyeluruh.

Kesimpulan

Ledakan maut di Moskow dan intensifikasi serangan di berbagai front menandakan bahwa konflik Rusia-Ukraina masih jauh dari kata selesai. Komunikasi terbuka antara para pemimpin dunia, upaya diplomasi, hingga pertukaran tawanan perang hanyalah bagian dari babak panjang pertarungan geopolitik yang kini semakin mempengaruhi keamanan global. Negara-negara Barat meningkatkan kesiagaan, sementara Ukraina dan Rusia sama-sama memperkuat posisi militernya.

Perang ini bukan hanya soal perebutan wilayah, melainkan pertarungan kepentingan yang menyangkut masa depan tatanan dunia. Dengan segala ketidakpastian, dunia menanti: akankah diplomasi akhirnya bisa menghentikan laju senjata, atau justru dunia bersiap menghadapi babak konflik berikutnya yang lebih besar?

Banjir di Tiongkok Rendam Ribuan Mobil, Pedagang Mobil Bekas Borong Mobil Terendam dengan Harga Murah 

 Baru-baru ini, Kabupaten Rongjiang di Provinsi Guizhou, Tiongkok, dilanda banjir dua kali, menyebabkan banyak mobil terendam air. Setelah banjir, banyak pedagang mobil bekas berdatangan ke daerah tersebut untuk memborong mobil-mobil terendam dengan harga sangat murah, memicu kecaman bahwa mereka sedang “mencari untung dalam musibah”.

Etindonesia. Banyak pedagang mobil bekas mengunggah video di platform media sosial Tiongkok, menunjukkan mereka membeli mobil-mobil terendam banjir di Rongjiang dalam jumlah besar, dengan harga yang sangat rendah.

Seorang pedagang mobil mengatakan:  “BMW 740i keluaran Juli 2024, seluruh bodi mobil terendam saat diam. Ini mobil yang baru saja diangkat dari air, ini di Kabupaten Rongjiang, Provinsi Guizhou. Di sini banyak mobil BMW 740i, semuanya terendam air saat parkir. Di sini ada ratusan unit. Mobil-mobil yang harganya RMB.600 ribu atau RMB.700 ribu , setelah kena banjir, sekarang dijual seharga sayur kol.”

Pedagang lain pada 3 Juli mengunggah video dan mengatakan:  “Hari ini kami datang ke tempat penampungan mobil terbesar di Kabupaten Rongjiang, kira-kira ada sekitar 2.000 unit mobil di sini. Nantinya, masih akan ada lebih banyak lagi yang dibawa ke sini. Semua mobil ini punya asuransi, sudah melalui proses klaim. Semua jenis mobil ada. Kalau ada teman-teman yang tertarik dengan mobil terendam banjir seperti ini, silakan kirim pesan pribadi. Kami borong dalam jumlah besar untuk dijual kembali.”

Pada 24 Juni, Kabupaten Rongjiang dilanda banjir besar, seluruh wilayah kota terendam dan situasinya sangat parah. Bahkan sebelum lumpur dan sisa banjir sempat dibersihkan, pada 28 Juni (empat hari kemudian), Rongjiang kembali diterjang banjir yang lebih dahsyat. Seluruh kota harus dievakuasi darurat.

Banjir kedua membuat Kabupaten Rongjiang nyaris lumpuh total. Banyak toko dan rumah warga terendam air, ribuan mobil terendam dan kerugian sangat besar.

Seorang warga bermarga Hu yang telah membuka showroom mobil selama lebih dari 7 tahun di Jalan Dongbinjiang, Rongjiang, mengatakan bahwa pada 24 Juni, 20 mobil baru di tokonya semuanya terendam hingga atap.

Kepada media Jimu News, Hu mengatakan bahwa mobil-mobil terendam itu rencananya akan dijual ke perusahaan lelang dengan harga 20–30% dari harga asli setelah diperbaiki. Ia memperkirakan total kerugiannya lebih dari 1 juta yuan. Meskipun perusahaan pemegang merek menanggung sebagian besar kerugian melalui asuransi properti, Hu tetap harus menanggung sekitar 400–500 ribu yuan kerugian pribadi.

Hu mengeluh: “Beberapa tahun ini seperti kerja sia-sia. Sekarang harus mulai lagi dari nol.”

Setelah banjir pertama di Rongjiang, pada 25 Juni, banyak pedagang mobil bekas dari luar kota langsung berdatangan, menempelkan iklan di seluruh kota untuk membeli mobil terendam banjir.

Seorang pedagang dari Hunan bermarga Xiang (nama samaran) mengatakan bahwa ia sudah berada di Rongjiang lebih dari seminggu dan telah membeli belasan mobil terendam, semuanya sudah dijual.

“Yang paling mahal adalah Mercedes-Benz C260 tahun 2023, jarak tempuh 30.000 km, dijual seharga RMB.100.000 ; yang paling murah mobil buatan lokal, hanya RMB.3.000 .”

Namun, Xiang menyebut bahwa meski mobil terendam terlihat di mana-mana, tidak semua pemilik bersedia menjual, dan cukup sulit mencari pemilik aslinya, sehingga bisnis tidak semudah yang dibayangkan.

Pedagang lain dari Heilongjiang bermarga Yu (nama samaran) juga membeli beberapa mobil terendam di Rongjiang dan sedang menawarkannya untuk dijual.

 “Mobil terbaik yang saya miliki adalah BMW X3 tahun 2019, sudah menempuh 60.000 km, saya beli seharga lebih dari RMB.80.000 , sekarang bisa dijual RMB.90.000 .”

Yu tidak setuju jika disebut “mencari untung dalam musibah”:  “Kalau tidak ada yang membeli mobil terendam, menurut Anda harga mobil itu akan naik? Sekarang banyak mobil langsung dibuang, bukankah kerugian pemiliknya akan lebih besar?”

Ia menjelaskan bahwa mobil-mobil terendam yang ia beli sebagian besar dijual ke bengkel dan perusahaan perbaikan spesialis. Mengenai apakah mobil-mobil tersebut nantinya akan disamarkan dan dijual kembali sebagai mobil bekas biasa, ia mengaku tidak mengetahui.

Setelah banjir besar di Guizhou, aksi pembelian massal mobil terendam banjir dengan harga murah menuai perdebatan publik. Banyak netizen mengkritik:

  • “Orang lain sibuk menyelamatkan korban, kalian malah cari untung.”
  • “Orang lain sedang membangun kembali rumah, para pedagang ini malah untung dari bencana.”
  • “Entah berapa orang lagi yang akan jadi korban penipuan.”
  • “Mobil terendam air, urusannya ternyata dalam juga. Sampai segitu banyak yang berebut beli.”  (Hui/asr)

Jurnalis NTD, Luo Tingting / Wen Hui

PKT Keluarkan Pernyataan Penting Pada Peringatan Kematian Li Keqiang, Kebenaran Kematiannya Kembali Diragukan

  • Kematian mendadak mantan Perdana Menteri Tiongkok, Li Keqiang, sejak awal sudah dianggap penuh kejanggalan oleh publik. 
  • Seiring melemahnya kekuasaan pemimpin tertinggi Partai Komunis Tiongkok (PKT), desakan untuk menyelidiki penyebab kematian Li Keqiang kembali menguat. Kabar terbaru menyebutkan bahwa istri Li Keqiang, Cheng Hong, tengah mengajukan gugatan kepada Komite Sentral PKT dan Komisi Militer Pusat untuk menuntut kebenaran atas kematian suaminya. 
  • Pada 3 Juli, media resmi PKT People’s Daily (Harian Rakyat) secara besar-besaran menerbitkan artikel pujian terhadap Li Keqiang, namun media partai lainnya Qiushi tiba-tiba menghapus artikel peringatannya — sebuah sinyal apa yang sesungguhnya tengah disampaikan?

EtIndonesia. Tanggal 3 Juli merupakan hari ulang tahun ke-70 mendiang Li Keqiang. Pada hari itu, People’s Daily menerbitkan artikel panjang untuk mengenangnya, memujinya sebagai tokoh yang “secara aktif mendorong kejujuran dan tindakan nyata”, serta “memimpin penolakan terhadap formalisme dan birokrasi” — semua ini dinilai sebagai bentuk penghormatan dari sudut pandang mempertahankan partai.

 “Jika diperhatikan dengan saksama, ini bukan hanya penilaian ulang sejarah terhadap Li Keqiang, tetapi juga secara jelas merupakan sebuah pengangkatan citra dirinya,” ujar rokoh media independen terkenal, Li Muyang. 

Namun yang mencurigakan, artikel penghormatan yang dipublikasikan di situs resmi Qiushi, majalah teori resmi Komite Sentral PKT, tiba-tiba dihapus pada hari yang sama.

Li Muyang menilai:  “Ini mencerminkan adanya perpecahan kekuasaan di dalam. Bayangkan jika saat itu Xi Jinping masih memegang kekuasaan penuh, media partai hanya akan memberitakan Li Keqiang secara formalitas dan seadanya, tanpa artikel panjang atau pujian khusus. Tapi sekarang, setelah kematiannya, justru muncul penghormatan besar-besaran. Terlebih lagi, saat ini menjelang pertemuan Beidaihe, dan rumor tentang kejatuhan Xi Jinping ramai beredar. Dalam konteks ini, peninggian nama Li Keqiang menurut saya adalah bentuk rehabilitasi politik terhadap dirinya.”

Pengamat politik Tiongkok di AS, Chen Pokong, menambahkan:  “Penghapusan artikel ini justru merupakan blunder. Hal itu menunjukkan bahwa faksi Xi Jinping sedang mencoba menutupi sesuatu — ‘semakin ingin menyembunyikan, semakin jelas ada yang disembunyikan.’ Ini malah memperkuat dugaan bahwa Li Keqiang memang dibunuh. Tak diragukan lagi, pasti ada orang di dalam partai yang menyinggung masalah ini, itulah mengapa sekarang Xi dan kroni-kroninya panik seperti semut di atas wajan panas, takut semua ini akan terbongkar.”

Pada 27 Oktober 2023, otoritas PKT menyatakan bahwa Li Keqiang “meninggal dunia akibat serangan jantung mendadak saat sedang beristirahat di Shanghai.” Namun publik secara luas mencurigai bahwa ia sebenarnya menjadi korban intrik dan perebutan kekuasaan internal partai.

Belakangan ini, muncul kabar bahwa istri Li Keqiang, Cheng Hong, secara resmi mengajukan gugatan kepada Komite Sentral PKT dan Komisi Militer Pusat, untuk menuntut pengungkapan kebenaran kematian suaminya. Para analis menilai informasi ini bukan sekadar rumor kosong.

Li Muyang berkomentar lagi:  “Sebab ketika Li Keqiang meninggal tahun 2023, istrinya tidak bersuara. Kini ia mulai bersuara, apa artinya? Saat itu Xi Jinping masih memegang kekuasaan penuh. Sekarang ia bersuara — ini mencerminkan bahwa kekuasaan Xi sudah melemah.”

Sejak tahun lalu, para pejabat kepercayaan Xi — baik di kalangan militer maupun politik — mengalami nasib serupa: dicopot, diberhentikan, bahkan meninggal secara misterius atau menghilang tanpa jejak. Baru-baru ini, Jenderal AS Michael Flynn dan mantan diplomat senior Slayton secara terbuka menyatakan bahwa tanda-tanda ini menunjukkan bahwa kejatuhan Xi Jinping semakin dekat. (Hui/asr)

Laporan oleh reporter NTD, Tang Rui.

Trump Bertemu dengan Sandera AS di Gaza, Israel : Perang Akan Berakhir Secepatnya

Pada Kamis (3 Juli), Presiden Amerika Serikat Trump menerima Edan Alexander, sandera Amerika terakhir yang dibebaskan dari Gaza. Sementara itu, juru bicara pemerintah Israel menyatakan bahwa mereka sedang mengatasi segala rintangan untuk segera mengakhiri perang di Gaza.

EtIndonesia. Pada  Kamis 3 Juli, Edan Alexander — yang pernah disandera oleh Hamas — bersama keluarganya tiba di Gedung Putih dan bertemu dengan Presiden Trump.

Edan adalah tentara Israel kelahiran Amerika Serikat. Ia ditahan oleh Hamas selama 584 hari dan dibebaskan pada Mei tahun ini. Diyakini bahwa ia adalah sandera Amerika terakhir yang berhasil dibebaskan.

Gedung Putih dalam unggahannya di media sosial X mengatakan:  “Hari ini, Presiden Trump menyambutnya (Edan) di Oval Office. Kami tidak akan berhenti hingga setiap sandera dipulangkan kepada keluarganya.”

Pada hari yang sama, serangan Israel di Gaza masih terus berlangsung. Rentetan ledakan mengguncang Gaza dan asap tebal membumbung ke langit.

Kementerian Kesehatan Gaza pada Kamis menyatakan bahwa sebuah sekolah di Kota Gaza terkena serangan rudal Israel, menyebabkan 15 orang tewas.

Sehari sebelumnya, militer Israel menyatakan bahwa teroris Hamas menembakkan dua roket dari Gaza ke wilayah selatan Israel. Beruntung, keduanya berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Israel.

Juru bicara pemerintah Israel, David Mencer, pada Kamis mengatakan bahwa Israel sedang merundingkan proposal gencatan senjata baru di Gaza demi segera mengakhiri perang.

David Mencer menyatakan:  “Perdana Menteri Netanyahu sedang berupaya untuk mengakhiri operasi di Gaza dengan membebaskan para sandera dan mengalahkan organisasi teroris Hamas secepat mungkin.”

Ia menambahkan:  “Jelas bahwa Israel tidak menginginkan warga sipil Gaza terluka. Mereka juga merupakan korban dari organisasi teroris Hamas.”

Pada Selasa (1 Juli), Presiden Trump menyatakan bahwa telah dicapai kesepakatan dengan Israel untuk melakukan gencatan senjata selama 60 hari di Gaza, dan ia mendesak Hamas untuk menerima proposal tersebut.

Pada hari yang sama, polisi di ibu kota Denmark, Kopenhagen, mengatakan bahwa mereka sedang memeriksa paket mencurigakan yang dikirim ke Kedutaan Besar Israel.

Cuplikan televisi menunjukkan sejumlah mobil polisi dan kendaraan darurat berjaga di sekitar kedutaan Israel. Sejak pecahnya “Perang 12 Hari” antara Israel dan Iran, banyak negara Eropa telah meningkatkan pengamanan terhadap misi Israel dan organisasi-organisasi Yahudi.

Di hari yang sama pula, Menteri Luar Negeri Prancis, Stéphane Séjourné, mengecam Iran atas penahanan dua warga negara Prancis selama tiga tahun, dan mendesak pemerintah Iran untuk segera membebaskan mereka.

Dalam beberapa tahun terakhir, Garda Revolusi Iran telah menahan puluhan warga asing dan warga berkewarganegaraan ganda, dengan tuduhan melakukan kegiatan mata-mata. Organisasi hak asasi manusia dan negara-negara Barat menuduh Iran melakukan “diplomasi sandera”, yaitu menggunakan warga asing yang ditahan sebagai alat tawar-menawar. (Hui/asr)

Laporan disusun oleh reporter NTD Zhao Fenghua.

Vietnam Teken Perjanjian Dagang dengan AS Meski Dapat Peringatan dari Tiongkok, Analis : Negara Lain Bisa Segera Menyusul

Para analis mengatakan kesepakatan dagang dua tingkat akan menjadi norma baru untuk menahan praktik dumping Tiongkok

EtIndonesia. Setelah Amerika Serikat dan Vietnam menandatangani perjanjian dagang, Beijing kembali mengeluarkan peringatan akan membalas negara-negara lain yang tengah bersiap menandatangani kesepakatan serupa dengan Washington, menjelang tenggat 9 Juli yang ditetapkan Gedung Putih untuk kesepakatan perdagangan.

Dalam perjanjian yang ditandatangani pada 2 Juli, barang-barang dari AS akan masuk ke pasar Vietnam tanpa tarif, sementara semua barang dari Vietnam yang dikirim ke Amerika Serikat akan dikenakan tarif sebesar 20 persen. Barang apa pun yang dikirim ulang (transshipment) melalui Vietnam ke AS akan dikenakan tarif sebesar 40 persen.

Transshipment merujuk pada produk-produk dari Tiongkok dan negara lain yang dialihkan melalui Vietnam lalu diekspor ke Amerika Serikat untuk menghindari tarif yang lebih tinggi.

Mitra impor terbesar Vietnam adalah Tiongkok, dan tujuan ekspor utamanya adalah Amerika Serikat.

Pada 3 Juli, juru bicara Kementerian Perdagangan Tiongkok menyatakan bahwa rezim komunis Tiongkok “dengan tegas menentang pihak mana pun yang mencapai kesepakatan dengan mengorbankan kepentingan Tiongkok” dan bahwa “Tiongkok akan dengan tegas membalasnya.”

Rezim Tiongkok mengeluarkan peringatan serupa pada akhir Juni dan April.

Kesepakatan dengan Vietnam ini adalah perjanjian dagang ketiga yang ditandatangani Amerika Serikat, setelah sebelumnya menandatangani kesepakatan dengan Inggris dan Tiongkok, saat para mitra dagang AS berlomba untuk mencapai kesepakatan sebelum tenggat 9 Juli yang ditetapkan oleh pemerintahan Trump demi menghindari tarif yang lebih tinggi.

Meski Tiongkok sendiri telah menandatangani perjanjian dagang dengan Amerika Serikat, Beijing tetap waspada terhadap negara lain yang meneken kesepakatan yang bisa menghentikan praktik pengiriman ulang barang-barangnya serta mengecualikan Tiongkok dari rantai pasokan global yang andal.

Ekonom Taiwan Edward Huang mengatakan kepada Epoch Times pada 3 Juli bahwa dunia kini mencermati perjanjian dagang AS–Vietnam “karena semua orang tahu bahwa Vietnam adalah titik transit terpenting Tiongkok untuk praktik transshipment-nya.”

Pengamat Tiongkok berbasis di AS, Wang He, mengatakan bahwa dengan ditandatanganinya kesepakatan ini, “di bawah tekanan dari Amerika Serikat, Vietnam harus secara ketat menerapkan aturan, jadi akan sulit bagi produk-produk Tiongkok untuk terus mengubah asal barang mereka melalui Vietnam.” Ia menambahkan bahwa kini tinggal persoalan “detail dalam mendefinisikan asal produk antara Vietnam dan Amerika Serikat.”

‘Norma Global’

Yang ditakuti oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) adalah dampak simbolik dari Vietnam yang menandatangani perjanjian dagang dua tingkat dengan Amerika Serikat, yang menurut Huang akan menjadi norma baru secara global.

“Sebagai contoh, perjanjian dagang antara Amerika Serikat dan Inggris akan menjadi model bagi Uni Eropa. Negara-negara dengan struktur industri yang mirip dengan Vietnam juga akan menggunakan perjanjian Vietnam sebagai model untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat, yang kemudian akan menjadi aturan baru dalam perdagangan internasional,” kata Huang.

Ekonom makro asal Taiwan, Henry Wu, sependapat. Ia mengatakan kepada Epoch Times pada 3 Juli bahwa seperti halnya Vietnam, negara-negara seperti Kamboja, Madagaskar, dan Lesotho di Afrika, semuanya telah dikenai tarif tinggi oleh Amerika Serikat karena keterlibatan mereka dalam praktik transshipment.

“Kali ini, Amerika Serikat ingin menggunakan Vietnam sebagai contoh untuk menutup celah ini, dan itulah sebabnya rezim Tiongkok merespons keras, tetapi itu tidak akan berhasil,” katanya.

Seorang pedagang dari Shenzhen, yang berbicara secara anonim karena alasan keamanan, mengatakan kepada Epoch Times dalam beberapa hari terakhir bahwa saat Amerika Serikat meningkatkan pelacakan dan penyelidikan terhadap produk-produk Tiongkok, semakin sulit bagi produk Tiongkok untuk dikirim ke Amerika melalui negara ketiga.

“Bea cukai di Vietnam, Korea Selatan, dan Malaysia sedang berusaha sekuat tenaga memblokir produk Tiongkok. Per Juni ini, saluran [ekspor] ini semakin tidak dapat diandalkan,” kata pedagang tersebut.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada 1 Juli bahwa Amerika Serikat bisa mencapai perjanjian dagang dengan India untuk mengurangi pembatasan akses pasar bagi perusahaan-perusahaan AS di India.

Trump mengatakan kepada wartawan di dalam pesawat Air Force One, “Saat ini, India tidak membuka akses bagi siapa pun. Saya pikir India akan melakukannya, dan jika mereka melakukannya, kita akan mendapatkan kesepakatan dengan tarif yang lebih rendah, jauh lebih rendah.”

Pada 1 Juli, Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan kepada Fox News bahwa Amerika Serikat dan India sudah hampir mencapai kesepakatan.

“Kami sudah sangat dekat dengan India,” kata Bessent.

Jika perjanjian itu berhasil difinalisasi, India akan bisa menghindari tarif timbal balik sebesar 26 persen yang akan mulai berlaku pada 9 Juli.

Negosiasi perdagangan AS–Uni Eropa juga sedang berlangsung. Tiongkok telah menyerukan agar blok tersebut “saling menghormati kepentingan inti masing-masing.”

Wu mengatakan bahwa upaya PKT tersebut tidak akan berhasil dan Tiongkok tidak punya daya tawar terhadap Uni Eropa untuk menghentikannya membuat kesepakatan dengan Amerika Serikat.

“Dari perspektif makro, Tiongkok membutuhkan pasar AS dan Eropa untuk menyerap kapasitas produksinya,” ujar Wu.

Wu menambahkan bahwa ia yakin Uni Eropa akan menandatangani perjanjian dagang serupa dengan Amerika Serikat seperti yang dilakukan Inggris, “karena Uni Eropa memiliki surplus perdagangan yang besar dengan Amerika Serikat.”

Yi Ru, Song Tang, dan Luo Ya berkontribusi dalam laporan ini.