Wakil Komandan Angkatan Laut Rusia yang Dipuji oleh Vladimir Putin Tewas di Dekat Garis Depan Ukraina

EtIndonesia. Seorang wakil komandan angkatan laut Rusia yang dipuji dan dipromosikan oleh Presiden Vladimir Putin telah tewas dalam pertempuran, Moskow telah mengonfirmasi.

Mayor Jenderal Mikhail Gudkov — yang dianugerahi penghargaan tertinggi Kremlin oleh Putin pada bulan Februari dan diangkat ke jabatan angkatan laut tertinggi — tewas “selama operasi tempur di salah satu distrik perbatasan wilayah Kursk” di sebelah Ukraina, kata Kementerian Pertahanan dalam sebuah pernyataan.

Bertanggung jawab atas pasukan roket dan artileri pesisir angkatan laut dan semua unit marinir angkatan laut, pria berusia 42 tahun itu adalah salah satu perwira militer Rusia paling senior yang tewas sejak Moskow melancarkan serangannya ke Ukraina pada bulan Februari 2022.

Saluran Telegram militer Rusia dan Ukraina yang tidak resmi melaporkan bahwa Mayor Jenderal Gudkov telah tewas — bersama dengan prajurit dan perwira lainnya — dalam serangan rudal Ukraina di sebuah pos komando di wilayah Kursk Rusia dengan rudal HIMARS buatan AS.

Reuters tidak dapat memverifikasi secara independen bagaimana Gudkov, yang tanda panggilannya adalah ‘Viking’, tewas atau apa yang dilakukannya di Kursk.

Beberapa blogger perang Rusia mengatakan bahwa dia telah memimpin secara keseluruhan pasukan marinir yang maju di wilayah Sumy, Ukraina.

Oleg Kozhemyako, kepala wilayah Primorye di Timur Jauh Rusia, mengatakan Gudkov “tewas saat menjalankan tugasnya sebagai perwira”.

Setidaknya 10 komandan senior Rusia lainnya telah tewas dalam pertempuran atau dibunuh oleh Kyiv sejak dimulainya perang.

Tidak ada komentar langsung dari Ukraina, yang menuduh Mayor Jenderal Gudkov dan bawahannya melakukan berbagai kejahatan perang, sesuatu yang dibantah Moskow.

Gudkov dipuji secara khusus oleh Putin

Putin memuji Mayor Jenderal Gudkov pada bulan Maret ketika dia menunjuknya, dengan mengatakan bahwa brigade Marinir ke-155 — yang dia pimpin sebagai bagian dari Armada Pasifik Rusia — adalah unit elit dan salah satu yang terbaik yang dimiliki Rusia.

Dia menugaskan Mayor Jenderal Gudkov untuk menerapkan pengetahuan dan pengalamannya guna meningkatkan efisiensi tempur pasukan baru di bawah komandonya dan membantu mengawasi rencana reorganisasi Korps Marinir Rusia.

Blogger perang Rusia ‘Romanov Light’ mengatakan Mayor Jenderal Gudkov dianggap oleh pasukan sebagai salah satu komandan paling efektif dan sebagai salah satu dari sedikit yang memberi tahu atasan tentang situasi sebenarnya di lapangan, alih-alih apa yang ingin mereka dengar.

Sebelum dipromosikan menjadi petinggi angkatan laut, Mayor Jenderal Gudkov telah memimpin brigade marinirnya melalui pertempuran di Ukraina, termasuk dalam pertempuran di sekitar Kyiv, dan telah mengambil bagian dalam penyerbuan kota pelabuhan Mariupol, sebelum akhirnya bertempur di wilayah Kursk.

Di kota pelabuhan timur jauh Vladivostok — pangkalan Armada Pasifik Rusia — para pelayat meletakkan bunga di dekat potret luar ruangan Mayor Jenderal Gudkov — bagian dari pameran foto yang merayakan perwira yang dianggap Rusia sebagai pahlawan militer.

Pasukan Ukraina merebut sebagian besar wilayah Kursk dalam serangan mendadak tahun lalu, yang merupakan respons terhadap kampanye besar-besaran Rusia terhadap negara mereka yang dimulai pada tahun 2022.

Rusia pada bulan April mengatakan telah merebut kembali wilayah tersebut tetapi bentrokan di wilayah perbatasan terus berlanjut.(yn)

12 Prinsip Mendidik Anak: Selalu Tunjukkan Harapan di Depan Mata Anak

EtIndonesia. Mendidik anak adalah proses panjang dan kompleks, yang tidak hanya menuntut kasih sayang, tetapi juga kebijaksanaan, kesabaran, dan prinsip yang tepat. Di bawah ini adalah 12 prinsip mendasar dalam mendidik anak agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang kuat, sehat secara psikologis, dan penuh harapan.

1. Prinsip Rasa Memiliki: Pastikan Anak Tumbuh dalam Lingkungan Keluarga yang Sehat

Setiap orangtua pasti ingin memberikan lingkungan terbaik bagi anak-anaknya. Namun, keinginan baik saja tidak cukup—perlu disertai pemahaman dan tindakan yang benar.

Misalnya:

·        Terlalu memanjakan dan selalu menuruti kemauan anak justru membuat mereka terbiasa dengan kebiasaan buruk.

·        Pertengkaran orangtua di depan anak atau lingkungan keluarga yang retak bisa merusak rasa aman dan rasa memiliki anak terhadap keluarganya.

Jika perubahan dalam keluarga tak bisa dihindari (seperti perceraian), orangtua harus memberi perhatian ekstra terhadap kondisi psikologis anak, menghindari melampiaskan emosi atau menelantarkan mereka.

2. Prinsip Harapan: Selalu Tunjukkan Cahaya Harapan untuk Anak

Setiap orangtua tentu berharap yang terbaik untuk anaknya. Namun, harapan yang disampaikan dengan cara salah akan berubah menjadi tekanan.

Orangtua yang bijak:

·        Memberi pujian dan penguatan saat anak melakukan hal baik.

·        Saat anak belum berhasil, mereka memberikan dukungan dan semangat, bukan kritik dan celaan.

Contohnya, anak mendapat nilai 95, orangtua jangan hanya menyoroti “kenapa tidak 100?”, tetapi hargai usaha anak. Harapan yang sehat adalah yang membuat anak bersemangat, bukan yang membuat mereka frustasi.

3. Prinsip Kekuatan: Jangan Pernah Adu Kuat dengan Anak

Secara fisik dan mental, orang dewasa tentu lebih unggul dari anak. Adu argumen atau paksaan atas dasar “siapa yang menang” hanya akan melukai hubungan.

Lebih baik:

·        Bermain atau berkompetisi dengan anak tanpa fokus pada menang atau kalah.

·        Hindari mempermalukan anak atau menggunakan metode seperti “tantangan psikologis” yang tidak sesuai untuk usia mereka.

Dan yang paling penting: orangtua harus berani minta maaf jika memang salah, agar anak juga belajar rendah hati dan tidak keras kepala.

4. Prinsip Pengelolaan: Sebelum Anak Dewasa, Pengasuhan Adalah Tanggung Jawab Orangtua

Anak-anak belum memiliki kemampuan kontrol diri yang matang. Maka, pengawasan orangtua sangat penting. Tapi pengawasan ini harus:

·        Penuh kasih, menghormati kepribadian anak.

·        Menghindari cara kasar atau memperlakukan anak seperti milik pribadi.

Anak yang dibimbing dengan hangat akan merasa aman dan lebih terbuka kepada orangtua saat menghadapi masalah.

5. Prinsip Suara: Dengarkan Suara Hati Anak

Hargai pendapat anak. Berikan mereka kesempatan berbicara. Ketika anak merasa suaranya tidak didengar, mereka akan menarik diri dan menutup komunikasi dengan orangtua.

·        Dengarkan dengan sabar, bahkan ketika mereka masih kecil dan ucapannya belum sempurna.

·        Jangan memotong, mengejek, atau meremehkan ucapan mereka.

Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh penghargaan akan menjadi pribadi yang berani berpendapat dan menghargai orang lain.

6. Prinsip Keteladanan: Jadilah Contoh Nyata bagi Anak

Anak belajar paling banyak melalui pengamatan dan peniruan, bukan hanya lewat nasihat.

·        Orangtua, kakak, guru, hingga lingkungan sosial semuanya membentuk karakter anak.

·        Anak perempuan banyak dipengaruhi ibunya, anak laki-laki oleh ayahnya.

Perhatikan juga:

·        Siapa teman anak?

·        Film, acara TV, atau tokoh publik yang mereka kagumi.

Jika anak bergaul dengan teman yang kurang baik, jangan langsung melarang, tapi pahami latar belakangnya dan bantu mereka membangun lingkaran pertemanan yang sehat.

7. Prinsip Toleransi: Hargai Pandangan Anak, Meskipun Berbeda

Anak punya cara pandang yang unik, kadang tampak aneh atau tak masuk akal bagi orang dewasa. Tapi di situlah letak keindahan jiwa anak-anak.

·        Jangan buru-buru menyiram imajinasi mereka dengan “realita orang dewasa”.

·        Bantu mereka mengungkapkan ide, beri penjelasan yang bisa mereka pahami bila ada risiko.

Libatkan anak dalam pengambilan keputusan penting seperti pindah rumah, memilih kegiatan ekstrakurikuler, atau ikut lomba. Mereka akan merasa dihargai dan lebih bertanggung jawab.

8. Prinsip Pengendalian Hukuman: Anak Belajar dari Kesalahan, Bukan dari Ketakutan

Hukuman, apalagi kekerasan fisik, bukanlah solusi mendidik anak yang sehat. Itu hanya meninggalkan trauma.

Jika perlu memberikan sanksi:

·        Lakukan dengan alasan yang jelas dan anak menyadari kesalahannya.

·        Gunakan cara yang membangun, misalnya tidak memperbolehkan main game selama beberapa hari.

Jangan pernah menjadikan kegiatan positif seperti membaca, menulis, atau bekerja sebagai hukuman—anak akan membencinya seumur hidup.

9. Prinsip Konsekuensi: Bantu Anak Memahami Akibat dari Pilihan Mereka

Alih-alih melarang atau memarahi langsung, ajak anak memikirkan akibat dari tindakan mereka.

Misalnya:

·        Mengapa tidak boleh begadang?

·        Apa risiko dari pergaulan yang buruk?

·        Kenapa harus memilih jurusan sesuai minat?

Orangtua harus berpandangan jauh ke depan, bukan sekadar mengikuti tren atau tekanan sosial.

10. Prinsip Aturan: Ajarkan Batas Moral dan Hukum Sejak Kecil

Pendidikan hukum dan moral harus diberikan sejak dini. Anak-anak harus tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Dan yang paling penting: orangtua harus menjadi teladan dalam hal ini. Jangan harap anak taat aturan jika orang tua justru membanggakan pelanggaran.

11. Prinsip Menunda Kepuasan: Latih Anak Bersabar dan Tidak Serba Instan

Eksperimen “permen marshmallow” membuktikan: anak yang mampu menunda kesenangan cenderung lebih sukses di masa depan.

·        Ajarkan anak untuk menunggu.

·        Latih mereka melalui permainan sederhana seperti “menunggu 3 menit sebelum main setelah membaca”.

Untuk keinginan-keinginan anak:

·        Ajari mereka berpikir dua kali sebelum membeli sesuatu.

·        Jangan langsung turuti semua keinginan mereka.

Kesabaran adalah fondasi penting untuk ketekunan dan keberhasilan.

12. Prinsip “20 Yard”: Beri Anak Ruang untuk Tumbuh Mandiri

“20 yard” di sini adalah simbol: orangtua harus menjaga jarak yang cukup agar anak bisa tumbuh mandiri, tetapi tetap dalam jangkauan pengawasan.

·        Jangan terlalu mengontrol, apalagi ketika anak memasuki masa remaja.

·        Hormati privasi mereka, biarkan mereka membuat pilihan dan belajar dari kesalahan.

Daripada terus-menerus mengomel, lebih baik katakan sekali dan biarkan anak bertanggung jawab atas keputusan mereka. Pengalaman adalah guru terbaik.

Penutup

Mendidik anak bukan soal mengatur, memaksa, atau menekan. Melainkan soal membimbing, memahami, dan memberi ruang bagi mereka untuk bertumbuh.

Dengan menjalankan 12 prinsip ini, orangtua bisa:

·        Menjadi pendamping yang bijak,

·        Menumbuhkan rasa percaya diri pada anak,

·        Dan yang terpenting: membuat anak selalu melihat harapan dalam setiap fase hidupnya.

Karena anak yang tumbuh dengan harapan, akan menjadi pribadi yang berani menghadapi dunia.(jhn/yn)

Hujan Ekstrem di Henan, Tiongkok  Memakan Korban Jiwa, Pihak Berwenang: Akan Sering Terjadi Lagi

Sejak musim panas tahun ini, berbagai provinsi di Tiongkok seperti Hubei, Guangdong, Guizhou, dan Henan dilanda hujan lebat yang luar biasa, menyebabkan banjir, tanah longsor, dan bencana alam lainnya. Dalam semalam, wilayah perkotaan tergenang air, dan rakyat mengalami kerugian besar. Hingga saat ini, hujan deras di Provinsi Henan telah menyebabkan sedikitnya 5 orang tewas. Berikut laporan kondisi bencana terbaru di daratan Tiongkok.

EtIndonesia.  Kabupaten Xianfeng, Provinsi Hubei, Tiongkok yang menjadi wilayah paling parah terdampak bencana, terjadi hujan sangat deras selama dua hari berturut-turut. Dalam waktu hanya 12 jam, curah hujan di sana melampaui total curah hujan selama sebulan.

Dalam semalam, wilayah kabupaten dengan populasi 300.000 orang itu tenggelam dalam banjir. Banyak toko terendam, dan arus deras menyeret kendaraan.

Total curah hujan mencapai 358,8 milimeter, dan di beberapa lokasi, ketinggian air melebihi 2,5 meter. Wilayah perkotaan pun terendam dalam semalam.

Banjir juga memicu tanah longsor yang menelan banyak kendaraan. Setelah air surut, kondisi di lokasi sangat memprihatinkan, dengan jalanan dipenuhi lumpur, perabotan rumah tangga, dan barang-barang lainnya yang berserakan.

Seorang warga terdampak dari Xianfeng, Hubei mengatakan:  “Banjir, tanah longsor, sekitar belasan mobil cuma kelihatan atapnya saja.”

Beberapa warganet juga mengungkapkan bahwa seorang pemilik toko dan istrinya di Kabupaten Xianfeng tersengat listrik hingga tewas saat banjir. Adik perempuan pemilik toko tersebut sedang mengadakan acara duka di rumah. Namun, laporan terkait peristiwa ini kemudian dihapus.

Di Guizhou, sejak 19 Juni, Kota Dujiang di Prefektur Qiannan telah tiga kali dilanda banjir besar, memicu bencana banjir parah serta tanah longsor dan pergerakan tanah skala besar. Banyak rumah hancur dan toko-toko di kota tersapu air.

Sebuah video menunjukkan seorang pemilik toko wanita di Kabupaten Rongjiang menangis histeris sambil duduk di tanah setelah banjir surut.

Seorang warga bernama Nyonya Zhao dari Rongjiang, Guizhou mengatakan: “Toko kami semuanya terendam, air hampir mencapai langit-langit. Kerugian dari tiga toko kami ini setidaknya mencapai lebih dari satu juta yuan. Alat pengukur biometrik satu unitnya saja lebih dari RMB.80 ribu , dan setiap toko kami punya satu unit. Sekarang kami tidak tahu harus bagaimana, di rumah masih ada tiga anak yang harus kami besarkan, masih ada cicilan rumah dan mobil.”

Di wilayah pegunungan Kabupaten Xixia, Kota Nanyang, Provinsi Henan, sejak Senin juga terjadi hujan ekstrem. Dalam waktu tiga jam, curah hujan mencapai 225,3 milimeter. Hujan deras menyebabkan air sungai meluap, jalanan hancur, dan jembatan rusak. 

Hingga kini, hujan lebat ini telah menyebabkan 5 orang tewas dan 3 orang hilang. Partai Komunis Tiongkok dikenal sering menutup-nutupi bencana, sehingga kemungkinan besar kondisi sebenarnya jauh lebih buruk.

Pada waktu yang bersamaan, Provinsi Sichuan dan Kota Dezhou di Shandong juga dilanda hujan badai, menyebabkan jalanan perkotaan terendam dan kendaraan terjebak banjir.

Kementerian Sumber Daya Air Tiongkok memperkirakan bahwa sejak 1 Juli, Tiongkok telah sepenuhnya memasuki musim banjir. Secara umum, akan terjadi kekeringan di utara dan banjir di selatan, serta kejadian banjir lokal akibat hujan deras diperkirakan akan sering dan berulang. (Hui/asr)

Laporan oleh Chen Yue dari NTDTV

Sandera, Senjata, dan Skandal: Drama Besar Israel-Hamas dan Iran—Ada Kudeta Diam-diam di Garda Revolusi?

EtIndonesia. Negosiasi intensif terkait gencatan senjata antara Israel dan Hamas kembali memanas setelah Middle East News melaporkan adanya kesepakatan baru yang difasilitasi para mediator internasional. Dalam usulan tersebut, dijamin bahwa selama proses negosiasi berlangsung, kedua belah pihak tidak diperbolehkan melakukan serangan militer.

Namun, posisi Israel masih belum sepenuhnya condong pada penghentian permanen konflik. Sumber internal menyebutkan, Israel tidak secara eksplisit menyetujui pengakhiran perang lewat proposal ini, melainkan hanya sebatas berkomitmen pada penghentian sementara selama negosiasi. Sementara itu, pihak Hamas disebutkan cukup puas dengan jaminan keamanan yang tercantum, dan memandang proposal gencatan senjata ini sebagai dasar penting untuk mencapai solusi lebih lanjut.

Di hari yang sama, Presiden AS, Donald Trump, menyatakan dirinya akan mengambil langkah tegas terhadap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Meski tidak merinci bentuk tindakan tersebut, pernyataan Trump menambah tekanan terhadap Israel, khususnya jelang kunjungan Netanyahu ke Washington pekan depan.

Tekanan internasional terhadap Israel semakin meningkat. Times of Israel menyoroti, Amerika Serikat kini secara aktif mendesak Israel agar segera menyepakati gencatan senjata sebelum lawatan resmi Netanyahu ke ibu kota AS. Sementara itu, stasiun TV Al Aqsa, yang berafiliasi dengan Hamas, secara resmi mengumumkan bahwa pihaknya siap menerima proposal gencatan senjata yang diusulkan oleh Trump.

Iran-AS: Negosiasi Nuklir di Tengah Ancaman Militer

Sementara perkembangan di Gaza berlangsung, diplomasi Iran-Amerika Serikat juga memasuki babak penting. Axios melaporkan, utusan khusus AS, Steve Witkoff, dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, di Norwegia pekan depan. Menurut Bloomberg, Araqchi menegaskan, Iran akan tetap berkoordinasi erat dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) PBB terkait program nuklir mereka.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, menegaskan dalam wawancara dengan NBC bahwa diplomasi tetap menjadi prioritas utama Teheran. Namun, Iran mengajukan syarat mutlak agar Amerika Serikat memberikan jaminan tertulis tidak akan menggunakan kekuatan militer selama negosiasi berlangsung. Tanpa komitmen tersebut, Iran menolak untuk kembali ke meja perundingan. Sejak 12 April lalu, kedua negara tercatat telah melaksanakan lima putaran negosiasi terkait isu nuklir.

Mossad: Ratusan Prajurit Garda Revolusi Iran Ingin Membelot ke Israel

Di tengah ketegangan kawasan, sebuah laporan mengejutkan datang dari seorang blogger militer di Axios. Dia mengutip sumber intelijen Israel (Mossad) yang menyebut, ratusan perwira dan tentara Garda Revolusi Iran telah menghubungi Israel untuk meminta perlindungan. Dikatakan bahwa semakin banyak militer Iran yang merasa muak dengan rezim yang berkuasa.

Mossad bahkan mengeluarkan peringatan langsung kepada warga Iran, agar menjauhi pangkalan militer dan pasukan Garda Revolusi. Jika terdengar suara yang disebut “pemotong rumput dari langit”—istilah yang mengacu pada serangan udara—Mossad menyarankan masyarakat segera berlindung di terowongan atau tempat perlindungan terdekat. Spekulasi pun bermunculan di kalangan warganet, mempertanyakan apakah operasi militer besar-besaran sedang dipersiapkan di kawasan tersebut.

AS: Iran Bukan Lawan yang Bisa Diajak Negosiasi?

Di Amerika Serikat, Menteri Luar Negeri Marco Rubio dalam pidatonya secara tajam mengkritik ideologi kepemimpinan tertinggi Iran. Rubio mengungkapkan, para pemimpin spiritual dan militer Iran didorong oleh ideologi kiamat: bukan sekadar memenangkan konflik regional, melainkan berusaha memicu perang besar yang diyakini akan mempercepat kemunculan “juru selamat” mereka. Menurut Rubio, dengan logika seperti itu, Iran menjadi pihak yang sulit diajak berunding karena memiliki agenda ideologis yang “tak bisa ditawar”.

Gaza: Pertempuran Masih Berlangsung, Israel Klaim Hamas Mulai Melemah

Juru bicara militer Israel, Effie Defrin, pada 3 Juli mengumumkan bahwa pertempuran di Gaza masih berlangsung sengit. 

Dia menyatakan: “Kekuasaan Hamas mulai runtuh,” seraya menegaskan lima divisi pasukan Israel kini dikerahkan penuh di wilayah Gaza dengan misi utama membebaskan para sandera dan menumpas kekuatan Hamas.

Israel juga mengklaim telah menyalurkan sekitar satu juta paket bantuan makanan kepada warga Gaza, namun menurut Effie Defrin, Hamas menyebarkan hoaks untuk menciptakan kekacauan opini publik dan memperburuk citra Israel di mata dunia.

Negosiasi Pertukaran Sandera: Usulan Qatar dalam Sorotan

Mengutip sumber dari Washington Post, Hamas dalam waktu dekat diperkirakan akan memberikan jawaban resmi terkait pertukaran sandera berdasarkan proposal Qatar yang difasilitasi oleh mediator Amerika, Steve Witkoff. Dalam proposal tersebut, disepakati bahwa selama 60 hari masa gencatan senjata, Hamas akan membebaskan 10 sandera hidup dan mengembalikan 18 jenazah kepada Israel. Proposal ini dipandang sebagai langkah strategis menuju deeskalasi, meskipun masih menunggu respons final dari pihak Hamas.

Kesimpulan

Konflik Israel-Hamas dan krisis Iran-AS kini memasuki fase krusial di mana tekanan diplomatik dan militer berjalan beriringan. Amerika Serikat, melalui peran aktifnya baik di isu Gaza maupun Iran, menekan seluruh pihak agar memilih jalur negosiasi, meski tantangan ideologi dan kepentingan regional tetap menjadi rintangan utama.

Situasi masih sangat dinamis dan setiap perkembangan ke depan akan sangat menentukan nasib kawasan Timur Tengah, bahkan berpotensi mengubah konstelasi politik global.

Hampir 1.000 Gempa Terjadi di Lepas Pantai Kagoshima Jepang dalam 12 Hari, Terbesar Berkekuatan Magnitudo 5,5

Dalam dua minggu terakhir, wilayah perairan lepas pantai barat daya Jepang, tepatnya di sekitar Kagoshima, mengalami hampir seribu kali gempa bumi. Pada  Rabu (2/7/2025) waktu setempat, dua gempa berkekuatan lebih dari 5 Magnitudo juga terjadi. Sementara itu, Gunung Berapi Shinmoedake yang berada di dekat lokasi tersebut telah terus-menerus meletus selama lebih dari enam hari. Ramalan dari mangaka wanita Jepang, Ryou Tatsuki, tentang kemungkinan terjadinya bencana besar pada 5 Juli kembali menarik perhatian publik.

EtIndonesia. Di wilayah sekitar Kepulauan Tokara, Prefektur Kagoshima, Jepang barat daya, dalam waktu 12 jam terjadi dua gempa berkekuatan lebih dari Magnitudo 5.  

Menurut Badan Meteorologi Jepang (Japan Meteorological Agency), pada Rabu (2 Juli) pukul 04:32 waktu setempat, terjadi gempa berkekuatan 5,0 dengan kedalaman 30 km. Kemudian, kekuatan gempa diperbarui menjadi 5,1 dengan kedalaman direvisi menjadi 16 km. Di wilayah yang sama, sekitar pukul 15:26 sore, kembali terjadi gempa berkekuatan 5,5 dengan kedalaman 10 km, menjadikannya gempa terbesar dalam rangkaian kejadian terkini. Pihak berwenang menyatakan tidak ada risiko tsunami.

Kedua gempa tersebut mencapai intensitas maksimum 5 lemah pada skala intensitas gempa Jepang. Menurut definisi Badan Meteorologi, pada tingkat ini, sebagian besar orang akan merasa takut, perlu berpegangan pada sesuatu untuk menjaga keseimbangan, dan barang-barang di lemari bisa jatuh.

Faktanya, dari 21 Juni hingga 2 Juli, telah terjadi lebih dari 900 gempa yang dirasakan, hampir tiga kali lipat dari catatan kejadian serupa di masa lalu. Hal ini menimbulkan kekhawatiran dan membuat penduduk setempat sulit tidur.

Pejabat setempat menyatakan bahwa penyebab rangkaian gempa ini belum diketahui. Karena gempa mungkin terus berlanjut, warga diminta tetap waspada serta siap siaga untuk evakuasi atau mengungsi jika diperlukan.

Sementara itu, Gunung Berapi Shinmoedake yang terletak di Pegunungan Kirishima, di perbatasan antara Prefektur Kagoshima dan Miyazaki di selatan Pulau Kyushu, telah terus meletus sejak 27 Juni. Pada Rabu pukul 11:43 pagi waktu setempat, asap dari kawah gunung tersebut mencapai ketinggian 2.800 meter. Pemerintah daerah seperti Kota Kirishima (Kagoshima) dan Kota Kobayashi (Miyazaki) telah mengeluarkan peringatan terkait hujan abu vulkanik.

Namun, sejumlah ahli menyatakan bahwa rangkaian gempa di sekitar Kepulauan Tokara tidak berkaitan dengan letusan Gunung Shinmoedake.

Pemerintah daerah di sekitar Gunung Shinmoedake telah mengaktifkan sistem penanggulangan bencana dan menaikkan status peringatan ke Level 3, yaitu “Pembatasan Pendakian.” Masyarakat diimbau untuk menggunakan perlindungan saat beraktivitas di luar, menjaga keselamatan, dan tidak mendekati zona berbahaya. (Hui/asr)

Laporan oleh Guo Yuexi dari NTDTV, Amerika Serikat

Menara Eiffel “Membengkok karena Panas” — Kebakaran Hutan di Spanyol Tewaskan Dua Orang

Sejak musim panas dimulai, gelombang panas laut di Laut Mediterania ditambah dengan fenomena “kubah panas” telah menyebabkan Eropa mengalami  Juni terpanas dalam sejarah. Di Paris, Prancis, Menara Eiffel mengalami pembengkokan karena pemuaian logam akibat panas, hingga terpaksa ditutup sementara. Kemudian, badan meteorologi kembali mengeluarkan peringatan bahwa badai yang lebih hebat akan melanda minggu ini. Suhu tinggi yang dikombinasikan dengan badai kuat membuat warga Eropa harus waspada.

EtIndonesia. Setelah memasuki musim panas, gelombang panas laut di kawasan Mediterania bergabung dengan fenomena “kubah panas”, membuat banyak wilayah Eropa lebih awal terjerat dalam suhu tinggi dan pengap. Spanyol dan Portugal mencatat  Juni terpanas sepanjang sejarah. Di berbagai kota di Italia, suhu mencapai 40°C. Bahkan kota-kota yang biasanya sejuk seperti London dan wilayah Nordik pun tak luput dari gelombang panas ini.

Badan Meteorologi Nasional Spanyol menyebutkan bahwa pada Minggu, suhu melonjak hingga 46°C, menjadi rekor tertinggi untuk bulan Juni di seluruh negeri.

Pada Selasa (1 Juli), sebanyak 16 provinsi di Prancis telah mengeluarkan peringatan merah untuk gelombang panas, menyebabkan sekitar 1.900 sekolah terpaksa diliburkan.

Bagian atas Menara Eiffel di Paris juga ditutup sementara karena suhu mendekati 38°C. Pejabat setempat menjelaskan bahwa pada suhu tinggi, logam pada menara mengalami pemuaian hingga sedikit miring, namun hal ini tidak membahayakan stabilitas strukturnya.

Akibat gelombang panas dan cuaca ekstrem, terjadi tanah longsor di sisi Pegunungan Alpen Prancis, yang menyebabkan layanan kereta antara Paris dan Milan terputus. Perusahaan kereta api nasional Prancis (SNCF) memperkirakan bahwa layanan penuh baru akan pulih pada pertengahan Juli.

Saat ini, lebih dari setengah wilayah Italia telah melarang aktivitas kerja di luar ruangan pada jam-jam terpanas. Pihak berwenang juga telah mengeluarkan peringatan merah untuk gelombang panas di 17 kota, termasuk Milan dan Roma.

Namun demikian, jumlah pasien gawat darurat di berbagai rumah sakit meningkat drastis, dan telah dilaporkan adanya korban jiwa.

Para ahli menjelaskan bahwa sebagian besar korban gelombang panas sebenarnya meninggal dunia karena penyakit yang sudah diderita sebelumnya seperti penyakit jantung, paru-paru, atau ginjal, yang mudah memburuk di bawah suhu tinggi. Selain itu, para pekerja konstruksi, petani, dan tunawisma yang terpapar panas dalam waktu lama juga sangat rentan mengalami sengatan panas atau kelelahan akibat panas.

Gelombang panas ekstrem ini juga memicu kebakaran hutan di berbagai wilayah Eropa. Pada Selasa, terjadi kebakaran hutan di wilayah Catalonia, Spanyol, yang menyebabkan dua orang tewas. Meski api sebagian besar sudah dapat dikendalikan, pihak berwenang memperingatkan bahwa pada Rabu (2 Juli) diperkirakan akan datang angin kencang dan badai petir, sehingga masyarakat diminta tetap waspada dan mematuhi instruksi penanggulangan bencana. (Hui/asr)

Laporan oleh Liu Jiajia, NTDTV, Amerika Serikat

Laporan Minghui : 76 Praktisi Falun Gong Meninggal Dunia Akibat Penganiayaan di Paruh Pertama Tahun 2025

 Menurut statistik yang dilaporkan oleh situs Minghui.org, dari Januari hingga Juni 2025, diketahui bahwa 76 praktisi Falun Gong meninggal dunia akibat penganiayaan oleh rezim Partai Komunis Tiongkok (PKT). Di antaranya, tujuh orang meninggal saat ditahan secara ilegal, satu orang meninggal di rumah sakit jiwa akibat penganiayaan, dan 69 orang lainnya meninggal dunia karena penganiayaan serta gangguan jangka panjang dari otoritas PKT.

EtIndonesia. Laporan Minghui.org pada Rabu (2 Juli) menyebutkan, dari 76 praktisi Falun Gong yang diketahui meninggal dunia akibat penganiayaan pada paruh pertama tahun ini, 65 di antaranya sebelumnya pernah dipenjara secara ilegal, dikirim ke kamp kerja paksa, ditahan di penjara gelap, pusat pencucian otak, atau rumah sakit jiwa.

Distribusi wilayah korban antara lain: 13 orang dari Provinsi Hebei, 11 dari Heilongjiang, 8 dari Jilin, 6 dari Liaoning, dan masing-masing 5 orang dari Hubei, Shandong, dan Sichuan.

Sebanyak 62 korban adalah lansia berusia di atas 60 tahun, dengan rincian:
– 17 orang berusia antara 60–70 tahun
– 31 orang berusia antara 70–80 tahun
– 12 orang berusia antara 80–90 tahun
– 2 orang berusia di atas 90 tahun

Salah satu korban, Liao Yuying, seorang praktisi Falun Gong berusia 87 tahun dari Kota Maoming, Guangdong, meninggal dunia akibat penganiayaan karena tetap teguh menyuarakan kebenaran tentang Falun Gong. 

Semasa hidupnya, ia setidaknya pernah lebih dari 20 kali mengalami pelecehan, penculikan, dan penggeledahan rumah. Pada Desember 2023, dalam sidang ilegal di Pengadilan Distrik Maonan, Liao menyatakan bahwa berlatih Falun Gong tidak bersalah. Dua pengacaranya juga mengajukan pembelaan tidak bersalah.

Praktisi Falun Gong asal Kota Shenyang, Provinsi Liaoning, bernama Zhai Hui, pernah mengalami penculikan, penyiksaan, pemukulan brutal, dan penyetruman dengan tongkat listrik oleh rezim PKT. Ia meninggal dunia pada 19 Maret tahun ini di usia 62 tahun.

Lin Jianping, seorang praktisi Falun Gong berusia 63 tahun dari Kota Qixia, Yantai, Provinsi Shandong, meninggal dunia pada 13 Februari 2025 akibat penganiayaan. Ia telah beberapa kali ditahan secara ilegal di pusat penahanan, pusat cuci otak, kamp kerja paksa, dan penjara, serta mengalami berbagai bentuk penyiksaan.

Hu Keling, seorang guru teladan di SMP Eksperimen Kota Laixi, Provinsi Shandong, selama bertahun-tahun mengalami penganiayaan dari Partai Komunis Tiongkok. 

Pada tahun 2002, ia secara paksa dimasukkan ke bangsal psikiatri Rumah Sakit Kedua Laixi, dan disuntik dengan obat beracun. Akibatnya, persendian jarinya mengalami pembengkakan. Ia dibebaskan setelah empat bulan dan meninggal dunia dalam usia 60 tahun. 

Falun Gong atau Falun Dafa adalah sebuah latihan jiwa dan raga kuno dari Tiongkok yang diperkenalkan kepada publik di Tiongkok pada tahun 1992. Latihan ini mengajarkan para pengikutnya untuk menjalankan prinsip-prinsip Sejati, Baik, dan Sabar. Menurut perkiraan resmi pada saat itu, pada tahun 1999 Falun Gong telah menarik setidaknya 70 juta orang di seluruh negeri.

Karena khawatir bahwa popularitas Falun Gong dapat mengancam kekuasaan Partai Komunis Tiongkok (PKT), rezim tersebut melancarkan kampanye brutal untuk memberantas latihan ini pada  Juli 1999.

Sejak saat itu, jutaan praktisi Falun Gong telah ditahan di dalam penjara, kamp kerja paksa, dan berbagai fasilitas lainnya, dengan ratusan ribu di antaranya mengalami penyiksaan selama ditahan, menurut Pusat Informasi Falun Dafa. (Hui/asr)

Laporan gabungan oleh reporter NTDTV, Li Mei dan Liu Fei

Manuver Gila Timur Tengah: Simbol Baru, Senjata Baru, Sanksi Baru—Perang Besar Tinggal Tunggu Waktu?

EtIndonesia. Dalam upaya memperkuat simbol persatuan nasional dan ketahanan di tengah tekanan geopolitik, Presiden Suriah, Ahmed al-Sharaa secara resmi meresmikan desain baru lambang negara Suriah. Meski tampak baru, lambang ini tetap mempertahankan ikon burung elang yang menjadi simbol utama sejak puluhan tahun terakhir. Pemerintah Suriah menegaskan bahwa burung elang tersebut melambangkan kekuatan, semangat rekonstruksi nasional, serta perlawanan terhadap segala bentuk campur tangan asing.

Pengamat politik menilai, di balik perubahan lambang tersebut, tersirat pesan perubahan arah kebijakan Suriah, khususnya dalam menghadapi Amerika Serikat. Tak sedikit netizen yang menyoroti desain baru ini dengan nada bercanda: “Bentuknya seperti elang, tanda mau jadi ‘adik’ Amerika?” 

Sindiran tersebut mengacu pada upaya Suriah mencari keseimbangan baru di tengah dinamika kawasan yang terus berubah.

AS Jatuhkan Sanksi Ekonomi Baru terhadap Irak dan Hizbullah

Dari Washington, Departemen Keuangan Amerika Serikat pada hari Kamis (3/7) secara resmi mengumumkan penjatuhan sanksi terhadap sebuah perusahaan dagang besar di Irak. Perusahaan ini dituding terlibat dalam penyelundupan minyak Iran senilai miliaran dolar AS, yang dinilai telah melanggar berbagai ketentuan internasional mengenai perdagangan minyak dan sanksi terhadap Iran.

Tak hanya itu, sejumlah lembaga keuangan yang berada di bawah kendali kelompok Hizbullah juga ikut dijatuhi sanksi. Langkah ini merupakan bagian dari upaya lebih luas Washington untuk menekan pendanaan kelompok-kelompok yang dianggap terlibat dalam aktivitas teroris dan memperkuat aliansi anti-Iran di Timur Tengah.

Militer Israel Serang Gudang Senjata Hizbullah

Di kawasan Timur Tengah, ketegangan semakin meningkat. Pada 3 Juli, militer Israel melaporkan telah melancarkan serangan udara yang menargetkan gudang senjata serta fasilitas militer milik Hizbullah di perbatasan Suriah-Lebanon. Serangan ini diklaim sebagai langkah preventif guna menghalau ancaman serangan roket dan aliran persenjataan dari Iran ke Hizbullah, yang selama ini menjadi momok keamanan bagi Tel Aviv.

Iran Dikabarkan Beli Jet Tempur Canggih dari Tiongkok

Dari Teheran, sejumlah media melaporkan bahwa Iran baru saja memperkuat armada udaranya dengan mendatangkan jet tempur J-10C buatan Tiongkok. Situs berita RKM pada 3 Juli menyebutkan, Iran sudah menerima beberapa unit jet tempur generasi terbaru tersebut, yang dilengkapi radar AESA mutakhir dan rudal udara-ke-udara PL-15. Jet ini digadang-gadang sebagai “penangkal” F-35 milik Israel, dan kehadirannya diprediksi akan mengubah keseimbangan kekuatan udara di kawasan. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi baik dari pemerintah Iran maupun Tiongkok terkait kesepakatan ini.

Perombakan Besar di Xinjiang, Tiongkok

Sementara itu, dari Beijing, Pemerintah Tiongkok melakukan perombakan besar-besaran di wilayah otonomi Xinjiang. Sekretaris Partai Komunis untuk Xinjiang, Ma Xingrui, secara mengejutkan digantikan oleh Chen Xiaojiang. Chen sendiri diketahui lebih banyak berkecimpung di bidang pengawasan internal dan urusan persatuan nasional, bukan sebagai pemimpin daerah.

Banyak analis meyakini, pergantian ini bukan tanpa alasan. Keterlibatan kelompok bersenjata Uighur—yang disebut-sebut pernah terlibat dalam pemberontakan bersenjata di Suriah—menjadi salah satu kekhawatiran utama pemerintah pusat di Beijing. Penguasa Tiongkok dinilai ingin memperketat kontrol di Xinjiang guna mengantisipasi kemungkinan ancaman di masa mendatang.

Kesimpulan

Berbagai dinamika di Timur Tengah dan Asia menunjukkan bahwa stabilitas kawasan masih jauh dari kata aman. Upaya rekonstruksi Suriah, sanksi ekonomi Amerika Serikat, akuisisi senjata mutakhir oleh Iran, hingga pengetatan kontrol di Xinjiang menandai babak baru persaingan geopolitik global. Setiap langkah yang diambil oleh para aktor utama—baik negara maupun kelompok non-negara—dipastikan akan memberi dampak besar terhadap arah kebijakan, stabilitas politik, dan keamanan dunia ke depan.

Trump Desak Gencatan Senjata di Gaza, PM Israel Bersumpah Hancurkan Hamas

Pada Selasa (1 Juli) malam, suara ledakan terdengar tanpa henti di Gaza bagian utara, menerangi langit malam. Pasukan militer Israel melancarkan operasi militer di Khan Younis, Gaza selatan, dengan tujuan menghancurkan terowongan bawah tanah milik kelompok teroris Hamas. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersumpah akan memusnahkan Hamas dan membebaskan semua sandera. Presiden Trump juga menyatakan bahwa Israel telah menyetujui persyaratan gencatan senjata selama 60 hari, dan mendesak Hamas untuk segera meletakkan senjata dan mengakhiri perang.

EtIndonesia. Operasi militer Israel di Gaza masih terus berlangsung. Pada Selasa malam, ledakan terdengar di Gaza utara, dan cahaya api memenuhi langit malam.

Pada Rabu (2 Juli), militer Israel merilis video yang menunjukkan pasukan darat Israel sedang melakukan operasi di daerah Khan Younis, Gaza selatan.

Pasukan Israel menghancurkan sebuah terowongan bawah tanah yang digunakan Hamas untuk menghubungkan wilayah Khan Younis dan Rafah.

Pada hari yang sama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersumpah akan sepenuhnya menghancurkan kelompok ekstremis Hamas dan membebaskan semua sandera.

PM Israel Netanyahu mengatakan: “Saya katakan kepada Anda, tidak akan ada lagi Hamas. Tidak akan ada negara Hamas. Kita tidak akan kembali ke masa itu — masa itu telah berakhir. Kita akan membebaskan semua sandera. Kita akan mengalahkan Hamas.”

Pada konferensi pers yang digelar di ibu kota Estonia, Tallinn, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar kembali mendesak Hamas untuk melucuti senjata.

Menlu Israel Gideon Sa’ar  mengatakan: “Hamas masih dengan kejam menahan sekitar 50 orang sandera kami. Jika Hamas membebaskan sandera dan meletakkan senjatanya, perang bisa berakhir besok.”

Sehari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump melalui platform media sosial “Truth Social” menyatakan bahwa Israel telah menyetujui rancangan akhir gencatan senjata 60 hari di Gaza, dan mendesak Hamas untuk menyetujuinya.

Trump menulis: “Hari ini, perwakilan saya mengadakan pembicaraan panjang dan produktif dengan Israel terkait isu Gaza. Israel telah menyetujui persyaratan penting untuk gencatan senjata 60 hari. Dalam waktu itu, kami akan bekerja sama dengan semua pihak untuk mengakhiri perang.”

Trump menambahkan bahwa perwakilan dari Qatar dan Mesir akan menyampaikan proposal gencatan senjata tersebut kepada Hamas.

Pada hari yang sama, Trump juga menyampaikan kepada wartawan bahwa ia berharap Israel dan Hamas bisa mencapai kesepakatan gencatan senjata paling lambat minggu depan.

Hamas pada Rabu merespons dengan menyatakan bahwa mereka terbuka terhadap gagasan gencatan senjata, namun menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus mengakhiri perang secara total.

Sehari sebelumnya, kelompok bersenjata Houthi dari Yaman mengklaim telah menembakkan rudal ke Israel, dengan sasaran termasuk bandara Israel.

Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant kembali memperingatkan kelompok Houthi untuk menghentikan serangan, jika tidak, Israel akan memberlakukan blokade laut dan udara terhadap mereka.

Sebagian besar rudal dan drone serangan yang diluncurkan Houthi ke arah Israel berhasil dihalau oleh sistem pertahanan udara Israel. (Hui/asr)

Laporan oleh Zhao Fenghua – NTDTV

Ahli Feng Shui Peringatkan: Jangan Bepergian ke Luar Negeri di Juli – Pembersihan Karma Besar-Besaran dalam Sejarah Umat Manusia

 Isu ramalan bencana besar pada 5 Juli terus menjadi sorotan. Belakangan ini, Jepang juga sering dilanda gempa bumi, menambah kecemasan masyarakat Asia. Meskipun mangaka Jepang Ryu Shuryou  telah mengubah ucapannya dan menyatakan bahwa “tidak pasti akan terjadi sesuatu pada hari itu”, banyak pihak tetap merasa khawatir. Seorang ahli feng shui memperingatkan bahwa  Juli akan dipenuhi bencana alam dan buatan manusia, dan menyebutnya sebagai “pembersihan karma berskala epik dalam sejarah umat manusia”, serta menyarankan masyarakat untuk mengurangi perjalanan ke luar negeri.

EtIndonesia. Sejak 21 Juni, wilayah Kepulauan Tokara di Kagoshima, Jepang, telah mengalami aktivitas seismik yang sangat tinggi. Hingga pukul 18.00 waktu setempat pada 2 Juli, telah tercatat 927 kali gempa yang terasa.

Penduduk setempat tidur dalam kecemasan setiap malam, khawatir kapan gempa besar berikutnya akan datang. Ada yang menggambarkan guncangan itu sebagai “getaran mendadak naik turun, lalu seperti diputar, sangat menakutkan”.

Hanya pada 2 Juli saja, hingga pukul 17.00, tercatat 100 gempa. Akibat gempa yang terus menerus dan banyaknya gempa susulan, penduduk setempat semakin was-was. Pada malam hari, Badan Meteorologi Jepang mengadakan konferensi pers darurat.

Mereka menjelaskan bahwa konferensi darurat ini digelar karena masyarakat sangat cemas, dan hingga saat ini belum bisa dipastikan kapan aktivitas seismik ini akan berakhir. Penduduk diimbau untuk tetap waspada dan siap evakuasi setiap saat.

Mengenai kemungkinan aktivitas gempa ini memicu megagempa di Palung Nankai, para ahli menyebut kemungkinannya sangat kecil.

Ryu Shuryou, yang sebelumnya memprediksi berbagai kejadian besar dengan akurat, dalam karyanya “Apa yang Kulihat di Masa Depan”, pernah meramalkan bahwa pada 5 Juli 2025 akan terjadi gempa besar dan tsunami dahsyat di Jepang. Namun dalam karyanya yang lebih baru “Testamen Malaekat” (Juni 2025), ia mengklarifikasi bahwa tanggal dalam mimpinya belum tentu merupakan tanggal kejadian sebenarnya.

Meskipun banyak ahli menyatakan bahwa gempa bumi tidak bisa diprediksi secara tepat, menjelang 5 Juli dan dengan seringnya gempa di Kepulauan Tokara, masyarakat menjadi semakin waspada.

Pada 1 Juli, ahli feng shui Taiwan Li Jingwei menulis di Facebook bahwa Juli 2025 akan menjadi bulan penuh bencana alam dan buatan manusia, serta merupakan fase pembersihan karma terakhir dalam fenomena Kala Sarpa Yoga (Yoganya “ular langit” dalam astrologi Veda). Ia menyebut akan terjadi retrogradasi Saturnus, Neptunus, dan Merkurius secara bersamaan, serta konjungsi Mars-Ketu dan Saturnus-Neptunus, yang dapat memicu guncangan besar dalam situasi dunia.

Ia menyebutkan bahwa gempa di Kagoshima belakangan ini seolah memperkuat ramalan tentang bencana besar pada 5 Juli. Selama Juli, konfigurasi Mars dan Saturnus sangat berbahaya, yang bisa memicu letusan gunung api bawah laut, gempa bumi, atau tsunami. Meskipun belum tentu pada 5 Juli, risiko gempa besar bulan ini tidak bisa diabaikan.

Menurutnya, pada 20 Juli akan terjadi konjungsi Mars dan Ketu di rasi Leo, salah satu konfigurasi paling destruktif dalam astrologi Veda. Mars melambangkan kekerasan dan perang, Ketu berkaitan dengan karma dan akibat perbuatan, sedangkan Leo mewakili pemimpin dan otoritas, sehingga formasi ini dapat menandakan runtuhnya kekuasaan para pemimpin.

Ia juga memperingatkan, bencana terkait air seperti topan, hujan deras, banjir, longsor, dan gangguan transportasi harus diwaspadai. Selain itu, isu-isu seperti kesehatan, kehidupan masyarakat, transportasi, epidemi, dan politik bisa kembali memanas. Ia menyebut kemungkinan terjadinya kecelakaan kapal atau pesawat, serangan teroris, hingga lonjakan gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, kecanduan, dan insomnia yang berpotensi menimbulkan kekacauan sosial.

Terakhir, Li Jingwei menyarankan agar masyarakat mengurangi bepergian ke luar negeri pada Juli, dan memusatkan perhatian pada diri sendiri, kembali ke hati nurani, serta menjaga ketenangan batin karena “ketika hati benar-benar tenang, dunia pun akan ikut tenang.”

Sementara itu, pakar feng shui Hong Kong Guru Yang Tianming mengatakan dalam wawancara dengan kanal YouTube 9BoThew 膠保廢 bahwa ia pernah dua kali meramal potensi gempa pada Juli–Agustus, dan dua-duanya menyatakan ‘langit berkata ada’. Ia yakin kemungkinan gempa di atas magnitudo 7 sangat besar, dan menyarankan masyarakat untuk tidak pergi ke Jepang jika tidak perlu selama dua bulan ini.

Biksu Jepang Miki Taiun, yang pernah meramalkan secara akurat penembakan mantan PM Jepang Shinzo Abe, juga menyampaikan dalam kanal YouTube-nya bahwa “Juli perlu sangat diperhatikan” karena akan muncul “gas merah” di atmosfer bawah — fenomena cahaya merah yang dalam kitab suci Buddha dianggap sebagai tanda awal gempa bumi. Ia memperkirakan Juli akan menjadi puncak aktivitas suar matahari yang menghantam bumi, menyiratkan bahwa “waktunya telah tiba”, dan menganjurkan masyarakat untuk menyiapkan jalur evakuasi dan peta bencana. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Langkah Berani atau Blunder? Trump-Putin Siapkan Kejutan Besar untuk Dunia!

EtIndonesia. Ketegangan geopolitik dunia kembali memuncak seiring serangkaian komunikasi tingkat tinggi antara para pemimpin negara adidaya. Pada Kamis (3/7), Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan melalui platform “Truth Social” bahwa dirinya akan melakukan pembicaraan via telepon dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada pukul 10 pagi waktu setempat. Tak hanya itu, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, juga dijadwalkan melakukan percakapan telepon dengan Trump, yang diperkirakan berlangsung pada hari berikutnya atau dalam beberapa hari ke depan.

Isyarat Negosiasi Damai dan Tekanan Bantuan Militer

Sumber-sumber diplomatik menyebutkan, Menlu Tiongkok, Wang Yi baru-baru ini mengingatkan Uni Eropa bahwa Beijing tidak sanggup menanggung risiko kekalahan Rusia dalam perang Ukraina. Pada saat yang sama, Kremlin mengumumkan bahwa Putin telah merencanakan pembicaraan dengan Trump sebelum Trump bernegosiasi dengan Zelenskyy. Pokok bahasan utama di antara kedua tokoh ini adalah prospek penghentian suplai senjata Amerika ke Ukraina—isu yang kini menjadi pusat perhatian dunia.

Menurut sumber di Washington, Putin bahkan meninggalkan sebuah forum strategis lebih awal untuk bersiap berbicara dengan Trump. Dalam suasana informal, Putin sempat melontarkan candaan, tidak ingin membuat Trump menunggu terlalu lama—sebuah perubahan sikap dari pembicaraan sebelumnya pada Maret, di mana Putin sempat terlambat 52 menit.

Pengamat politik internasional, Cao Changqing, menilai bahwa pembicaraan langsung antara para pemimpin AS dan Rusia, terlebih setelah Pentagon mengumumkan penangguhan sebagian bantuan militer ke Ukraina, memiliki makna strategis yang besar. 

Cao menyoroti, di bawah mediasi Trump, beberapa konflik besar telah berhasil diredam: mulai dari gencatan senjata antara Israel dan Iran, hingga berakhirnya konflik puluhan tahun antara Rwanda dan Kongo. Kini, jika pertemuan Trump dan Putin membuahkan hasil, bukan tidak mungkin jalan menuju gencatan senjata di Ukraina akan terbuka—sebuah peluang langka untuk mengakhiri perang yang telah menelan banyak korban jiwa.

Putin dan Trump Sepakat: Perlu Negosiasi Damai

Seperti dilansir Los Angeles Times, Kremlin mengonfirmasi bahwa pertemuan daring antara Trump dan Putin berlangsung dengan suasana “jujur dan konstruktif”, menjadi kali keenam mereka berbicara secara terbuka di depan publik. Pembicaraan yang berlangsung selama satu jam tersebut diwarnai dengan ucapan selamat Putin atas perayaan Hari Kemerdekaan AS ke-249, dan penekanan dari Trump bahwa perang Rusia-Ukraina harus segera diakhiri demi terciptanya stabilitas kawasan.

Putin menyatakan Rusia terbuka untuk perundingan dengan Kyiv, namun mengklaim bahwa Uni Eropa terus-menerus menghalangi upaya damai dan mendesak Presiden Zelenskyy agar melanjutkan perlawanan. Rusia juga menegaskan beberapa syarat kunci untuk perdamaian: Ukraina tidak boleh bergabung dengan NATO, menghentikan segala aksi permusuhan terhadap warga etnis Rusia, membubarkan kelompok sayap kanan nasionalis Ukraina, serta melakukan demiliterisasi secara signifikan. Beredar kabar, kedua pemimpin kemungkinan besar akan segera bertatap muka langsung dalam waktu dekat.

Trump: Bantuan AS untuk Ukraina Tetap Berlanjut

Menjawab pertanyaan wartawan terkait isu penghentian suplai senjata ke Ukraina, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap akan melanjutkan pengiriman bantuan, meski terjadi pengurangan sementara akibat kebutuhan dalam negeri. Politico melaporkan, percakapan telepon antara Trump dan Zelenskyy kemungkinan berlangsung setelah keputusan Washington menunda sebagian bantuan militer ke Kyiv. Financial Times menyebutkan, pembicaraan ini dijadwalkan sekitar 4 Juli, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Amerika.

Presiden Zelenskyy mengungkapkan bahwa Ukraina sangat tergantung pada dukungan Amerika Serikat, khususnya sistem pertahanan udara Patriot yang tidak dapat disediakan oleh negara-negara Eropa. Pemerintah Ukraina juga tengah meningkatkan produksi pertahanan dalam negeri, namun tetap membutuhkan sokongan finansial dan logistik dari mitra Barat. Zelenskyy menekankan harapannya untuk segera membahas hubungan bilateral serta keberlanjutan dukungan Amerika bersama Trump, baik esok hari maupun dalam beberapa hari ke depan.

Dinamika Perang: Gugurnya Tokoh Militer Rusia

Sementara perundingan damai masih diperdebatkan di tingkat diplomasi, konflik di medan perang masih terus menelan korban. Gubernur Primorsky Krai, Oleg Kozhemyako, mengumumkan di media sosial bahwa Wakil Panglima Angkatan Laut Rusia, Laksamana Muda Gudkov, beserta 10 perwira tinggi Angkatan Laut Rusia, tewas saat menjalankan tugas di wilayah Kursk akibat serangan Ukraina. 

Kementerian Pertahanan Rusia mengonfirmasi Gudkov adalah pejabat tertinggi militer yang gugur dalam operasi ini, dan baru saja diangkat sebagai Wakil Panglima pada Maret lalu. Meski Gudkov dikenal berprestasi, Kyiv menudingnya pernah terlibat kejahatan perang. Tidak hanya itu, pada akhir April lalu, Jenderal Staf Umum AD Rusia, Yaroslav Moskalik, juga tewas akibat ledakan mobil di Moskow—yang oleh Kremlin langsung dituduhkan pada Ukraina, meski otoritas Kyiv belum berkomentar.

Ketegangan Tiongkok-UE: Beijing Tak Siap Rusia Kalah

Isu dukungan Tiongkok terhadap Rusia kian terang-benderang setelah South China Morning Post melaporkan pernyataan jujur Wang Yi kepada diplomat Uni Eropa pada 2 Juli. Wang Yi menegaskan, Beijing tidak sanggup menerima risiko kekalahan Rusia di Ukraina karena khawatir Amerika Serikat akan memindahkan fokus tekanan geopolitiknya langsung ke Tiongkok. Sikap ini memperkuat kecurigaan Uni Eropa bahwa Beijing secara diam-diam terus mendukung Moskow, meski secara resmi Pemerintah Tiongkok menyangkal terlibat langsung dalam perang. Beberapa pejabat Uni Eropa pun menyatakan terkejut atas keterbukaan Wang Yi kali ini.

Nasib Tentara Tiongkok di Medan Ukraina: Kisah Haru dan Sindiran Warganet

Situasi lapangan semakin pelik dengan beredarnya video pengakuan seorang tentara Tiongkok yang tertangkap di Ukraina. Dalam video tersebut, dia memohon kepada Presiden Xi Jinping agar dipulangkan ke Tiongkok. Dia mengaku mendapat perlakuan tidak manusiawi di militer Rusia, dan nekat ikut berperang hanya karena impian masa kecil menjadi tentara. Namun kenyataan di medan laga benar-benar berbeda dari bayangannya, dan dia merasa menyesal. Video ini menuai banyak reaksi dari warganet, mulai dari cibiran soal nasib para “pahlawan” Tiongkok di medan Ukraina hingga lelucon gelap mengenai kemungkinan ia malah dijadikan “donor organ” jika pulang ke negeri asal.

Analisis Akhir:

Pertemuan intens antara Trump dan Putin, serta rencana pembicaraan Trump dengan Zelenskyy, menjadi momen krusial yang bisa mengubah peta politik dan keamanan global, khususnya di Eropa Timur. Sementara, di balik layar, Tiongkok makin terang-terangan menunjukkan kegelisahan akan nasib sekutunya, Rusia, di medan perang Ukraina. Semua mata kini tertuju pada langkah berikutnya dari Washington, Moskow, Kyiv, dan Beijing.

Hitungan Mundur Ramalan Gempa Besar: Awan Tsunami Raksasa Muncul di Jepang dan Portugal

Topik mengenai ramalan bencana besar pada 5 Juli terus menjadi perbincangan hangat. Baru-baru ini, awan raksasa menyerupai gelombang tsunami muncul di Jepang dan Portugal, memicu kekhawatiran akan datangnya tsunami

EtIndonesia. Saat ini, banyak wilayah di Eropa tengah mengalami gelombang panas yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan suhu melonjak di atas 40°C. Di Spanyol dan Portugal, suhu bahkan mendekati 50°C. Jalan-jalan di Italia meleleh akibat panas ekstrem, dan Menara Eiffel di Paris harus ditutup sementara karena pemuaian logam yang menyebabkan struktur sedikit membengkok.

Menurut laporan BBC dan New York Post, pada 29 Juni, para pengunjung pantai di Praia de Buarcos, bagian barat Portugal, menyaksikan fenomena langka — awan raksasa yang membentang melintasi garis pantai dan menutupi sebagian besar langit, tampak seperti gelombang tsunami yang datang menerjang. Pemandangan itu mengejutkan para wisatawan, yang mengira tsunami akan segera terjadi.

Seorang pengguna platform X di luar negeri mengunggah foto dan video, yang menunjukkan awan raksasa menyerupai tsunami mendekati pantai Buarcos. Awan tersebut tidak hanya menutupi sinar matahari tetapi juga disertai hembusan angin kencang.

Pengguna bernama “Helder” menulis:  “Melihat gulungan awan seperti ini di utara Portugal benar-benar gila. Rasanya seperti adegan dalam film tentang tsunami! Katanya panjangnya mencapai 150 km, dari Figueira da Foz hingga Vila do Conde — sangat dekat dengan tempat saya berada saat itu.” 

Banyak warganet meninggalkan komentar seperti:

  • “Sangat tidak biasa dan mengesankan.”
  • “Kamu harus lari, bukan tetap di pantai.”
  • “Kenapa orang-orang tidak takut? Kalau saya melihat pemandangan seperti itu, saya pasti akan kabur sekuat tenaga.”
  • “Apakah tsunami akan datang?”

Sarah Keith-Lucas dari BBC Weather Channel menjelaskan bahwa ini adalah jenis awan busur (arcus cloud), yang biasanya terbentuk di sekitar badai kuat. Udara dingin dan lembab dari atas laut bertemu dengan udara hangat dan kering di daratan, menghasilkan kondensasi cepat. Perbedaan arah angin di atas dan bawah awan membentuknya menjadi gulungan mirip cerutu — fenomena yang umum terlihat di dekat pantai.

Ahli meteorologi Mário Marques menambahkan bahwa meskipun roll cloud (awan gulung) jarang terjadi di Portugal, mereka lebih sering terlihat di wilayah seperti Australia. Bagi orang yang belum pernah melihatnya, awan seperti ini bisa terlihat sangat menakutkan.

Selain itu, pada 29 Juni, media luar negeri Derun Media juga membagikan video penampakan awan tsunami di Jepang melalui platform X. Dalam unggahan itu disebutkan: “Awan tsunami muncul di Jepang, apakah ramalan 5 Juli akan menjadi kenyataan?” 

Menurut laporan SET News Taiwan, mantan Direktur Pusat Pemantauan Gempa Bumi Biro Cuaca Taiwan, Guo Kaiwen, menjelaskan bahwa tsunami disebabkan oleh gempa besar di zona subduksi lepas pantai, yang menyebabkan pergerakan air laut secara besar-besaran. 

Sementara itu, awan yang menyerupai tsunami biasanya terjadi di musim panas di tepi laut, saat sinar matahari meningkatkan suhu secara ekstrem, dan bertemu dengan udara dingin dan lembab dari laut. Pertemuan ini menciptakan gust front (front angin kencang) yang menghasilkan awan bergulung seperti tsunami — tetapi sebenarnya tidak ada kaitannya dengan tsunami yang sesungguhnya.

Mangaka Jepang Ryuho Ryu yang sebelumnya telah meramalkan beberapa peristiwa besar secara akurat, pernah menulis dalam karyanya “The Future I Saw”, bahwa pada 5 Juli mendatang, Jepang akan mengalami gempa besar yang memicu tsunami besar. Dengan semakin dekatnya tanggal tersebut dan aktivitas seismik baru-baru ini di Kepulauan Tokara Jepang, kekhawatiran di kalangan masyarakat pun meningkat. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Hong Kong: 5 Tahun di Bawah Undang-Undang Keamanan Nasional

oleh Joseph Yizheng Lian

Waktu berlalu begitu cepat, dan kini Hong Kong telah memasuki tahun kelima sejak Partai komunis Tiongkok komunis memberlakukan Undang-Undang Keamanan Nasional di kota tersebut. Sudah waktunya untuk melakukan tinjauan.

Undang-Undang Keamanan Nasional adalah respons Beijing terhadap protes tahun 2019 di Hong Kong. Protes tersebut dipicu oleh upaya pemerintah Hong Kong untuk mengubah undang-undang ekstradisi, yang memungkinkan ekstradisi individu dari Hong Kong ke Tiongkok daratan, termasuk orang asing yang berada di kota tersebut. Mengapa Partai Komunis Tiongkok (PKT) menginginkannya?

Desakan Beijing muncul dari kasus ekstradisi Meng Wanzhou, putri pendiri Huawei. Otoritas Kanada mengekstradisinya ke Amerika Serikat atas permintaan pemerintah AS, yang menuduh Meng telah melanggar serius undang-undang pengendalian ekspor.

PKT membalas dengan secara sewenang-wenang memenjarakan dua warga Kanada di Tiongkok. Pemimpin Tiongkok Xi Jinping, yang selama ini menggaungkan penerapan “aturan hukum” ala PKT, mungkin lebih memilih agar tindakan seperti itu dilakukan oleh Hong Kong atas nama Beijing, karena hal tersebut bisa memberikan kesan legitimasi yudisial—sesuatu yang saat itu masih dimiliki Hong Kong. Namun, Xi salah perhitungan.

Pemberontakan selama enam bulan yang terjadi selanjutnya tampak luar biasa secara visual, namun konsekuensi terpentingnya adalah munculnya gagasan kemerdekaan Hong Kong sebagai arus utama—gagasan yang mulai muncul sejak awal 2010-an. Ide ini mulai menguat selama Revolusi Payung 2014, ketika kelompok pro-demokrasi Demosisto yang dipimpin Joshua Wong mengusung “penentuan nasib sendiri untuk Hong Kong” dalam platform politiknya. Meskipun demikian, gagasan ini belum mendapat dukungan mayoritas, terutama dari generasi yang lebih tua. Namun sentimen baru ini mendapatkan dorongan besar selama protes tahun 2019 dan kini telah menjadi pola pikir dominan di kalangan oposisi dari semua kelompok usia.

Perubahan besar dalam loyalitas warga Hong Kong terjadi dalam waktu kurang dari 10 tahun, dan ini bukan tanpa preseden historis. Bahkan, terdapat kemiripan mencolok antara situasi Hong Kong dan peristiwa yang mengarah pada pemberontakan 13 koloni Amerika menjelang tahun 1776, sebagaimana dijelaskan secara rinci oleh sejarawan Pauline Maier dalam bukunya From Resistance to Revolution: Colonial Radicals and the Development of American Opposition to Britain, 1765–1776.

Yang lebih mencolok lagi, kemiripan ini memiliki satu penyebab yang sama: ekstradisi. Deklarasi Kemerdekaan Amerika mencantumkan 27 keluhan yang menjelaskan kepada dunia mengapa para kolonis memutuskan hubungan dengan Inggris. Keluhan No. 19 adalah ekstradisi: “Karena membawa kami melintasi laut untuk diadili atas pelanggaran yang direkayasa.”

Ekstradisi adalah urusan yang sangat serius, dan PKT yang arogan tidak memahami hal itu.

Begitu warga Hong Kong mulai memperjuangkan kemerdekaan, penerapan Undang-Undang Keamanan Nasional yang kejam menjadi tak terhindarkan. PKT bisa mentoleransi dan bahkan mengabaikan jutaan orang yang turun ke jalan menuntut demokrasi selama bertahun-tahun, tetapi tidak bisa menerima kemerdekaan walau hanya sehari. Maka dari itu, penindasan PKT di Hong Kong lebih berkaitan dengan isu kemerdekaan daripada demokrasi.

Jelas,  Hong Kong tidak bisa mempertahankan statusnya sebagai pusat keuangan kelas dunia dengan sistem hukum yang dipercaya secara internasional setelah diberlakukannya Undang-Undang Keamanan Nasional. Beijing sadar akan hal ini, tetapi memilih untuk menerima konsekuensinya.

Apa peran baru yang diberikan rezim Tiongkok kepada “Hong Kong baru”? Saya mengidentifikasi dua hal berikut:

Militer

Sejak tahun 1997, Hong Kong telah menjadi markas bagi sekitar 20 pangkalan militer dari ketiga cabang militer Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). Sebuah rumah sakit militer khusus juga telah didirikan di Shenzhen, tepat di seberang perbatasan. Pemerintah menolak penggunaan alternatif untuk landasan pacu bekas Bandara Kai Tak dan, bertentangan dengan berbagai saran, membangun landasan pacu ketiga di Bandara Internasional Hong Kong yang baru. Kapasitas landasan pacu yang berlebihan itu dengan mudah bisa dikonversi untuk keperluan militer.

Jet-jet PLA yang lepas landas dari Hong Kong dapat dengan cepat menjangkau Kepulauan Penghu, atau Pescadores, yang merupakan garis pertahanan pertama Taiwan.

Pemerintah Hong Kong juga telah membangun dermaga dalam berair dalam yang luas untuk kapal pesiar, yang mampu menampung kapal induk milik Tiongkok. Saya yakin pusat logistik barang Hong Kong jauh lebih unggul dibanding wilayah pesisir Fujian yang menghadap Taiwan dan akan sangat berguna dalam serangan terhadap Taiwan.

Infiltrasi Global

Rezim Tiongkok menggunakan Hong Kong sebagai sarana untuk menyusup ke komunitas internasional dan menyebarkan pengaruhnya.

Tiga insiden besar berikut patut dicermati:

Kasus Patrick Ho Chi-ping

Ho adalah dokter mata lulusan Harvard dan kemungkinan simpatisan komunis yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Urusan Dalam Negeri Hong Kong dari 2002 hingga 2007. Setelah masa jabatannya, ia menjadi eksekutif puncak di konglomerat milik negara Tiongkok, China Energy Fund Committee (CEFC), yang mempromosikan kepentingan energi Beijing dan Inisiatif Sabuk dan Jalan (One Belt, One Road).

Ho didakwa di Amerika Serikat pada tahun 2019 dan dijatuhi hukuman 36 bulan penjara. Ia terbukti menyuap pejabat di Chad dan Uganda untuk mengamankan kesepakatan minyak dan bisnis untuk CEFC. Pergerakannya di dunia Barat difasilitasi oleh “penyamaran” asal Hong Kong-nya.

Kasus Huis Ten Bosch

Huis Ten Bosch adalah taman hiburan bergaya Belanda di Sasebo, Jepang, sekitar 15 km dari pangkalan angkatan laut besar milik AS dan fasilitas militer Jepang, yang terhubung oleh jalur air publik yang aman.

Pada 30 Agustus 2022, PAG, perusahaan investasi raksasa yang terdaftar di Hong Kong dan memiliki kaitan dengan Beijing, mengumumkan pembelian taman hiburan tersebut. Transaksi senilai USD 720 juta ini berjalan tanpa hambatan, bahkan setahun setelah Jepang mengesahkan undang-undang yang membatasi pembelian properti di dekat lokasi sensitif.
Ketua PAG, Shan Weijian, berasal dari Tiongkok daratan dan mungkin merupakan agen PKT.

Kasus Primavera Capital Group

Primavera, yang berbasis di Hong Kong, memiliki sekolah swasta elite di Amerika Serikat melalui perusahaan yang dikendalikannya, Spring Education Group.

CEO Primavera, Fred Zuliu Hu, menurut laporan investigatif New York Post, diduga merupakan anggota senior PKT. Ia adalah lulusan Universitas Harvard dengan gelar doktor di bidang ekonomi dan memiliki posisi penasihat di Harvard dan Universitas Columbia.

Primavera juga memiliki The Princeton Review dan Tutor.com.

Sekolah-sekolah Primavera dapat dianggap sebagai versi pendidikan dasar-menengah dari Institut Konfusius di tingkat perguruan tinggi, yang didukung oleh Front Persatuan Tiongkok.

Dari desa nelayan yang tenang menjadi pusat keuangan papan atas di Asia, transformasi Hong Kong memerlukan kerja keras rakyatnya selama satu setengah abad. Namun setelah itu, rezim Tiongkok hanya butuh lima tahun untuk mengubahnya menjadi kota stagnan secara ekonomi yang sepenuhnya melayani kepentingan Beijing. PKT memiliki sentuhan anti-Midas—kemampuan luar biasa untuk membalikkan kemajuan.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah pendapat penulis dan tidak mencerminkan pandangan The Epoch Times.

Profesor Lian lahir dan dibesarkan di Hong Kong. Ia memperoleh gelar B.A. dalam bidang matematika dari Carleton College dan gelar Ph.D. dalam bidang ekonomi dari University of Minnesota. Lian telah banyak menerbitkan tulisan di publikasi akademik dan profesional, dan salah satu bukunya adalah catatan perjalanan bersepeda keliling Taiwan.

Tiga Tantangan Ekonomi Tambahan yang Dihadapi Tiongkok

Ekonomi Tiongkok menghadapi berbagai tantangan yang jarang dilaporkan oleh media Barat.

Milton Ezrati

Selain tarif-tarif yang diberlakukan—maupun yang masih berupa ancaman—oleh pemerintahan Trump, Tiongkok juga menghadapi sejumlah tantangan ekonomi domestik serius lainnya. Sebuah kolom sebelumnya telah merinci beberapa di antaranya. Anda dapat membacanya di sini. Namun, daftar tersebut masih jauh dari lengkap. Berikut ini adalah tiga tantangan tambahan yang tak kalah pentingnya.


1. Teknologi dan Inovasi

Tantangan pertama adalah di bidang yang digencarkan oleh propaganda Partai Komunis Tiongkok (PKT): teknologi dan inovasi, khususnya dalam bidang kecerdasan buatan (AI).
Narasi dari Beijing adalah bahwa Tiongkok sedang membuat kemajuan pesat dan dalam waktu dekat akan melampaui Amerika Serikat di bidang ini.

Tampaknya banyak media Barat menerima begitu saja narasi PKT tersebut. Dan, meskipun tak diragukan lagi bahwa Tiongkok telah mencapai kemajuan teknologi yang mengesankan, statistik yang tersedia menunjukkan bahwa Tiongkok sebenarnya masih tertinggal dalam persaingan ini.

Meskipun sulit mengukur kemajuan teknologi secara akurat, perbandingan dalam pengeluaran untuk riset dan pengembangan (R&D) menunjukkan dominasi Amerika Serikat yang signifikan.
Menurut data terbaru dari Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), Amerika Serikat mengalokasikan sekitar 3,5 persen dari produk domestik bruto (PDB)-nya untuk R&D, sementara Tiongkok hanya sekitar 2,6 persen. Ini memang merupakan peningkatan besar dibandingkan masa lalu, tetapi masih jauh tertinggal dari AS.

Dan, karena ekonomi AS lebih besar dari Tiongkok, maka kesenjangan dalam jumlah riil dana yang diinvestasikan menjadi jauh lebih lebar.

Namun ini bukan satu-satunya hal yang harus dipertimbangkan dalam hal posisi teknologi. Pemerintah AS secara aktif menghalangi transfer teknologi ke Tiongkok.

Pemerintahan Trump telah memberlakukan pembatasan baru terhadap ekspor chip, dan memasukkan banyak entitas Tiongkok ke daftar hitam dalam perdagangan yang berkaitan dengan semikonduktor dan teknologi strategis canggih lainnya.

Tiongkok memang memiliki sumber semikonduktor lain selain Amerika Serikat—meskipun Taiwan tidak termasuk dalam daftar tersebut. Dan meskipun belanja R&D AS melebihi Tiongkok, upaya domestik Tiongkok tetap menjanjikan penciptaan pengganti produk Barat versi buatan dalam negeri.

Namun demikian, larangan-larangan tersebut memperlambat laju kemajuan Tiongkok, dan karena Amerika Serikat sudah lebih unggul, ini merupakan faktor yang tidak bisa diremehkan.


2. Keterbatasan Fiskal (“Fiscal Room”)

Tantangan yang berbeda datang dari apa yang oleh sebagian pihak disebut sebagai “ruang fiskal”—yaitu kemampuan keuangan suatu negara untuk merangsang aktivitas ekonomi dan mengarahkan fokus kebijakan.

Selama bertahun-tahun, Tiongkok memiliki “ruang” yang besar. Beban utang publiknya begitu kecil hingga bisa dikatakan menjadi irinya dunia.

Pada tahun 2008, selama krisis keuangan global, Beijing menggunakan ruang fiskalnya untuk meluncurkan stimulus ekonomi secara besar-besaran yang sangat membantu meringankan dampak krisis terhadap ekonominya. Namun itu cerita lama.

Upaya Beijing dalam menghadapi krisis tersebut, serta selama pandemi COVID-19, ditambah berbagai upaya setelahnya untuk mengembalikan momentum ekonomi dari krisis properti yang melanda, telah meningkatkan utang publik sehingga kini setara dengan PDB Tiongkok.

Memang benar, beban utang relatif ini masih lebih rendah dibandingkan yang dihadapi Amerika Serikat, tetapi karena Tiongkok adalah negara dengan pendapatan lebih rendah dan kekayaan modal yang lebih sedikit, kemampuannya untuk menanggung beban utang ini lebih terbatas dibanding AS.

Selain itu, Tiongkok juga menghadapi masalah utang besar di tingkat pemerintah daerah, yang skalanya melampaui apa pun yang terjadi di Amerika Serikat.

Di saat kendala fiskal ini membatasi kemampuan baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk mengelola situasi, Tiongkok juga terbebani oleh warisan kesalahan kebijakan masa lalu.

Segera setelah pandemi dan untuk mengurangi dampak ekonomi dari krisis properti yang dimulai pada tahun 2021, Beijing mengucurkan dana besar ke investasi di kendaraan listrik, teknologi, dirgantara, material, dan berbagai industri pilihan lainnya.

Namun, pada saat yang sama, pembeli asing dari Barat dan Jepang mulai mendiversifikasi sumber pasokan mereka dan menjauh dari Tiongkok.

Akibatnya, investasi-investasi tersebut menciptakan kelebihan kapasitas besar di sejumlah sektor ekonomi Tiongkok.

Dengan permintaan luar negeri yang menurun dan ekonomi domestik yang tidak terlalu kuat, Tiongkok telah menghabiskan banyak uang untuk menciptakan kapasitas produksi yang tampaknya tidak dibutuhkan siapa pun.

Berbagai investasi tersebut pada akhirnya menjadi sia-sia.


3. Kelebihan Kapasitas yang Tidak Efektif

Kelebihan kapasitas yang hampir tidak berguna ini tercermin dalam tiga statistik utama:

  1. Pemanfaatan kapasitas produksi dalam perekonomian Tiongkok kini berada di titik terendah selama tiga tahun terakhir.
  2. Kelebihan kapasitas telah menciptakan deflasi harga produsen yang berlangsung selama beberapa tahun.
  3. Pengembalian investasi telah menurun drastis sehingga hanya sedikit manajer yang tertarik untuk melakukan modernisasi, apalagi ekspansi.

Menurut lembaga think tank Eropa Bruegel, tingkat pengembalian aset (return on assets) bagi perusahaan milik negara Tiongkok telah jatuh ke angka hanya 3,4 persen.

 Angka untuk perusahaan swasta memang lebih tinggi—sedikit di atas 5 persen—tetapi itu pun turun jauh dari rata-rata hampir 10 persen yang terjadi sebelum pandemi.


Bahkan setelah menambahkan tiga tantangan tambahan ini, daftar tantangan ekonomi Tiongkok masih belum lengkap.

Tiongkok, misalnya, belum merasakan dampak jangka panjang dari penurunan populasi, dan yang lebih signifikan secara ekonomi, adalah laju penurunan angkatan kerja yang jauh lebih cepat.

Dari sudut mana pun, situasi ini tidak tampak baik, terutama mengingat Washington telah berjanji untuk menambah tekanan ekonomi yang lebih besar lagi terhadap Tiongkok. (asr)


Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah opini penulis dan tidak mencerminkan pandangan The Epoch Times.

Milton Ezrati adalah editor kontributor di The National Interest, afiliasi dari Center for the Study of Human Capital di University at Buffalo (SUNY), dan kepala ekonom di Vested, sebuah perusahaan komunikasi yang berbasis di New York. Sebelum bergabung dengan Vested, ia menjabat sebagai kepala ahli strategi pasar dan ekonom di Lord, Abbett & Co. Ia juga sering menulis untuk City Journal dan secara rutin menulis blog untuk Forbes. Buku terbarunya berjudul “Thirty Tomorrows: The Next Three Decades of Globalization, Demographics, and How We Will Live.”