Apakah Persahabatan Sejati Bisa Terjadi antara Pria dan Wanita?

EtIndonesia. Pria berasal dari Mars, wanita dari Venus—dua dunia yang berbeda, seolah-olah “satu negara di masing-masing sisi, dengan pernyataan masing-masing”. Ungkapan ini kerap digunakan untuk menjelaskan mengapa pria dan wanita sulit menjadi sahabat sejati.
Ditambah lagi dengan pengaruh hormon seks, kedekatan fisik antara lawan jenis kerap memicu gejolak hati; rasa cemburu pun bisa membuat orang yang paling rasional sekalipun merasa terbakar ketika pasangannya akrab dengan teman lawan jenis.Kesimpulannya: pria dan wanita memang berbeda sejak lahir, jadi mustahil menjadi teman murni… atau benarkah?

Apa Kata Para Ahli?

Menurut para pakar hubungan, anggapan bahwa pria dan wanita tak mungkin menjadi teman murni berasal dari masa “pria di luar rumah, wanita di dalam rumah”. Dulu, satu-satunya ruang interaksi pria-wanita adalah dalam konteks percintaan atau pernikahan. Namun kini, mereka bekerja bersama, memiliki hobi yang sama, dan bersosialisasi di ruang yang sama.

Perubahan budaya inilah yang membuat psikolog, sosiolog, dan pakar komunikasi mulai menyuarakan argumen baru: pria dan wanita bisa menjadi sahabat dekat yang murni. Meski hubungan ini rumit dan penuh tantangan, alasan untuk menjalin persahabatan itu sangatlah kuat.

Manfaat Persahabatan dari Perspektif Pria

Persahabatan pria dan wanita memiliki karakteristik yang berbeda.

·        Wanita cenderung menghabiskan waktu membicarakan perasaan dan pikiran.

·        Pria lebih suka kegiatan kelompok: olahraga, perjalanan, atau membahas saham. Mereka jarang berbagi emosi atau perasaan pribadi.

Dalam bukunya “We’re Just Good Friends”, Kathy Werking dari Eastern Kentucky University menyebut bahwa aktivitas utama dalam persahabatan pria-wanita cenderung lebih “feminin”, seperti percakapan tatap muka, makan bersama, atau berkendara sambil berbicara. Dengan saling bertukar pikiran, pandangan, dan perasaan secara terus-menerus, mereka menciptakan dukungan emosional yang kuat.

Psikolog Linda Sapadin dari New York menemukan bahwa pria menilai persahabatan dengan wanita jauh lebih menyenangkan dan bermanfaat dibandingkan persahabatan sesama pria. Mereka mengakui, ada banyak hal yang mereka bisa bicarakan dengan wanita—tetapi tidak akan pernah mereka bicarakan dengan teman pria mereka.

Manfaat Persahabatan dari Perspektif Wanita

Persahabatan antar wanita terkadang terlalu mendalam hingga melelahkan. Siapa pun yang pernah menemani sahabat wanita yang patah hati semalaman pasti memahaminya. Namun dengan teman pria, wanita bisa bersenda gurau dan bercanda tanpa beban emosional yang berat. Pria tidak terlalu sensitif, sehingga pertemanan dengan pria terasa lebih ringan dan menyenangkan.

Banyak wanita bahkan menganggap teman prianya seperti kakak laki-laki, yang memberikan rasa aman, perlindungan, dan perhatian hangat. Di sisi lain, mereka juga bisa mendapatkan wawasan tentang cara berpikir pria, yang mungkin tak bisa mereka temukan di kalangan teman wanita.

Tantangan dalam Persahabatan Lawan Jenis

Meski bermanfaat, persahabatan antara pria dan wanita tetap menghadapi berbagai tantangan serius.

Tantangan 1: Bagaimana Mendefinisikan Hubungan Ini?

Profesor Don O’Meara dari University of Cincinnati menulis dalam jurnal Sex Roles bahwa persahabatan platonis antara pria dan wanita memang nyata, tapi sulit didefinisikan. Dalam studi terhadap 20 pasang teman lawan jenis, terungkap bahwa banyak orang bingung membedakan cinta, ketertarikan seksual, dan persahabatan.

“Kalau kamu menyukai seseorang, tapi tidak cukup kuat untuk mengencaninya, itu artinya apa? Persahabatan? Cinta? Sesuatu di antaranya?” Ketiadaan definisi budaya yang jelas membuat orang bingung bagaimana seharusnya merasa dan bersikap.

Tantangan 2: Bagaimana Menghadapi Daya Tarik Seksual?

Ini adalah tantangan paling sensitif dan membingungkan.  Daya tarik seksual kerap diam-diam bersembunyi di balik persahabatan, lalu tiba-tiba muncul dan mengacaukan keseimbangan.

Pelukan sederhana bisa tiba-tiba terasa “bermakna”, dan niat menjaga hubungan pertemanan jadi terganggu oleh kesadaran bahwa lawan bicara adalah pria atau wanita.

Dalam survei terhadap 150 pria dan wanita di lingkungan kerja, wanita menyebut “ketegangan seksual” sebagai aspek paling tidak disukai dari persahabatan lawan jenis. Sebaliknya, banyak pria justru menganggap ketertarikan seksual sebagai motivasi awal persahabatan, dan bahkan mempererat hubungan itu. 62% responden mengakui bahwa ketegangan seksual hadir dalam persahabatan antar lawan jenis.

Tantangan 3: Bagaimana Membangun Relasi yang Setara?

Persahabatan idealnya adalah hubungan yang setara. Namun kenyataannya, dalam budaya patriarki, pria masih memegang lebih banyak kekuasaan, status, dan pengaruh sosial. Meski zaman sudah berubah, wanita dalam persahabatan lawan jenis masih sering tanpa sadar memainkan peran yang tunduk atau “mengalah”.

Tantangan 4: Bagaimana Menghadapi Pandangan Sosial?

Banyak orang masih sulit menerima bahwa pria dan wanita bisa berteman tanpa unsur romantis. Apalagi generasi tua yang terbiasa dengan pembatasan antara pria dan wanita sebelum menikah.

Teman lawan jenis sering mendapat komentar seperti:  “Kalian beneran cuma teman, nih?”—dengan lirikan dan sindiran yang menyiratkan keraguan.

Tantangan 5: Bagaimana Memulai dan Menjaga Persahabatan?

Sejak kecil, anak-anak cenderung membentuk kelompok berdasarkan jenis kelamin—fenomena ini disebut “segregasi sukarela berbasis gender”.

Baru saat remaja, mereka mulai berinteraksi karena dorongan seksual. Akibatnya, mereka tidak pernah belajar mengembangkan pertemanan murni dengan lawan jenis.

Begitu memasuki dunia kerja atau kehidupan sosial dewasa, kesempatan berteman tetap terbatas, apalagi jika sudah memiliki pasangan atau menikah.

Bahkan pasangan yang paling percaya satu sama lain pun enggan jika pasangannya membangun persahabatan baru dengan lawan jenis, terutama jika lawan jenis itu menarik. Seiring bertambahnya usia, jumlah teman lawan jenis juga menurun.

Menurut Rosemary Blieszner, penulis Friendship in Adulthood, hanya sekitar 2% wanita paruh baya yang memiliki sahabat pria.

Menjadikan Persahabatan Melebihi Daya Tarik Seksual

Meski penuh tantangan, persahabatan antara pria dan wanita bukan hanya mungkin—tapi juga diperlukan. Jika pria dan wanita ingin hidup berdampingan dalam masyarakat modern, mereka harus belajar saling memahami dan berkomunikasi.

Faktanya, seks tidak selalu menjadi faktor utama dalam hubungan pria-wanita—karena orientasi seksual, ketertarikan fisik yang rendah, atau karena masing-masing sudah menjalin hubungan asmara.

Bahkan banyak orang mengakui bahwa sifat-sifat yang bisa ditoleransi dalam hubungan persahabatan, belum tentu bisa diterima dalam hubungan cinta. Setelah bertahun-tahun menjadi teman, sangat sulit mengubah hubungan itu menjadi romantis.

Kathy Werking menyarankan:

Agar persahabatan lawan jenis berhasil, kedua pihak harus jujur, terbuka, dan membicarakan makna hubungan mereka.

Dengan begitu, mereka bisa menetapkan batasan yang sehat.

Dan jika isu daya tarik seksual tidak diabaikan tapi ditangani dengan dewasa, maka persahabatan antara pria dan wanita bisa terjalin dengan sukses dan bertahan lama.(jhn/yn)

Fatwa Kematian untuk Trump & Netanyahu! Krisis Nuklir Iran Kian Membara, Dunia Siaga Perang Baru?

EtIndonesia. Krisis nuklir Iran kembali memasuki babak baru yang semakin panas di panggung internasional. Dalam perkembangan terkini, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Takht Ravanchi, secara terbuka mengungkapkan bahwa Amerika Serikat telah mengirim sinyal keinginan untuk kembali ke meja perundingan nuklir. Namun, pernyataan ini langsung dibantah keras oleh Presiden AS, Donald Trump.

Melalui platform Truth Social, Trump menegaskan: “Saya tidak pernah menawarkan apa pun pada Iran. Sejak kami benar-benar menghancurkan fasilitas nuklir mereka, saya bahkan tidak pernah berbicara lagi dengan mereka.” 

Sikap keras Trump ini sekaligus menutup peluang negosiasi baru pasca serangan udara AS-Israel yang melumpuhkan sejumlah fasilitas nuklir Iran beberapa waktu lalu.

Ancaman Terhadap IAEA dan Kecaman Eropa

Ketegangan juga semakin membara antara Iran dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Dalam wawancara eksklusif dengan BBC, Takht Ravanchi menegaskan bahwa negosiasi baru hanya mungkin terjadi jika Amerika memberikan jaminan tertulis untuk tidak lagi melancarkan serangan ke Iran selama proses dialog berlangsung. Selain itu, Iran juga menuntut kebebasan penuh untuk melanjutkan program pengayaan uraniumnya.

Di sisi lain, Prancis, Jerman, dan Inggris mengeluarkan pernyataan bersama yang keras, mengecam ancaman Iran terhadap Direktur Jenderal IAEA, Rafael Mariano Grossi. Ketiga negara Eropa ini juga menuntut Iran agar segera kembali mematuhi kewajiban internasional, melanjutkan kerja sama secara penuh dengan IAEA, dan menjamin keselamatan personel lembaga tersebut.

Situasi memanas setelah media pemerintah Iran, Global Times, menuding Grossi sebagai mata-mata Israel dan secara ekstrem menyerukan agar dia dieksekusi. Akibat tekanan dan ancaman ini, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, telah secara resmi memberitahu Presiden Prancis, Emmanuel Macron, bahwa Teheran menghentikan seluruh kerja sama dengan Grossi.

Eskalasi Program Nuklir dan Data Intelijen Internasional

Dalam laporan rahasia IAEA terbaru hingga 17 Agustus 2024, terungkap bahwa stok uranium Iran yang diperkaya hingga 60% telah mencapai sekitar 22,6 kilogram—jumlah yang disebut-sebut hanya berjarak kurang dari dua minggu dari batas pengayaan 90% yang cukup untuk pembuatan senjata nuklir. Saat ini, belum diketahui pasti ke mana uranium hasil produksi Iran selama ini dikirim, sehingga menimbulkan kekhawatiran besar di komunitas internasional.

Pejabat tinggi AS mengingatkan, jika Iran memutuskan untuk memperkaya uranium hingga 90%, mereka dapat memperoleh material yang cukup untuk bom nuklir dalam waktu yang sangat singkat.

Jejak Dukungan Tiongkok di Balik Program Nuklir Iran

Isu nuklir Iran tidak bisa lepas dari peran Tiongkok yang secara historis menjadi mitra strategis utama Teheran. Pada 1990, Tiongkok dan Iran menandatangani “Perjanjian Nuklir Rahasia” yang membuka jalan bagi transfer teknologi dan material nuklir. Tahun berikutnya, Tiongkok dilaporkan mengirim 1.000 kilogram uranium hexafluoride (UF6), komponen penting dalam produksi bahan bakar reaktor dan senjata nuklir, ke Iran.

Bahkan, pada 1992, kedua negara menandatangani perjanjian kerja sama nuklir selama 15 tahun, termasuk pendirian pusat riset nuklir dengan melibatkan sekitar 3.000 ilmuwan dan teknisi. Hingga 2024, kerja sama ini membuat Iran hampir mencapai ambang penguasaan teknologi senjata nuklir.

Pada 2021, Tiongkok dan Iran kembali mengukuhkan kemitraan strategis lewat perjanjian 25 tahun dengan investasi senilai 400 miliar dolar AS, menjadikan Iran sebagai simpul penting dalam inisiatif Belt and Road dan jalur penghubung Tiongkok dengan kawasan Timur Tengah, Eropa, dan Afrika.

Dampak Serangan AS-Israel dan Imbas Geopolitik ke Beijing

Serangan gabungan Israel-AS ke fasilitas nuklir Iran tidak hanya menghantam ambisi nuklir Teheran, tetapi juga menimbulkan kejutan di Beijing. Seorang sumber internal Partai Komunis Tiongkok mengungkapkan bahwa perubahan drastis ini mengguncang kepemimpinan tertinggi Tiongkok. Pakar hukum internasional, Yun Hongbin, mengungkapkan bahwa operasi ini berhasil menyingkirkan sejumlah figur utama dalam struktur komando militer dan pengembangan nuklir Iran—hal yang memukul posisi strategis Tiongkok di kawasan.

Pengamat politik senior, Cai Chengkun, berpendapat bahwa keberhasilan AS dan Israel ini menjadi peringatan serius bagi Beijing. Jika Tiongkok memicu perang di Selat Taiwan, bukan tidak mungkin Amerika juga akan menargetkan komando tertinggi militer Tiongkok menggunakan senjata presisi tinggi, skenario yang sangat dihindari oleh Beijing.

Fatwa Perburuan Internasional: Trump dan Netanyahu Jadi Target

Dalam perkembangan yang mengejutkan, salah satu ulama Syiah paling senior di Iran, Ayatollah Naser Makarem Shirazi, mengeluarkan fatwa perburuan internasional (Islamic fatwa) terhadap Donald Trump dan Benjamin Netanyahu. Keduanya dinyatakan sebagai “musuh Tuhan”, sebuah vonis yang, menurut hukum Iran, dapat berujung pada hukuman mati, hukum gantung, amputasi, atau pengasingan. Fatwa ini disebarluaskan sebagai seruan global kepada seluruh umat Muslim untuk bersikap.

Fatwa ini langsung menuai kritik tajam dari kalangan internasional. Ghabani, seorang aktivis berkewarganegaraan Inggris-Iran, menyebut langkah ini sebagai bentuk legalisasi ekstremisme oleh negara dan dapat memicu gelombang radikalisme baru di dunia.

Penutup: Ancaman Krisis Global

Perkembangan dramatis ini menandai babak baru dalam krisis nuklir Iran. Perbedaan sikap yang tajam antara Iran dan Barat, keterlibatan Tiongkok, serta ancaman kekerasan global akibat fatwa ulama Iran, membuat situasi di kawasan kian berbahaya dan sulit diprediksi.

Komunitas internasional kini menunggu langkah selanjutnya dari Washington, Teheran, Beijing, dan sekutu Eropa. Akankah jalan diplomasi masih terbuka? Atau dunia tengah menuju eskalasi baru yang bisa mengubah peta geopolitik global secara permanen?

“Nenek Naga Jepang” Ramalkan Bencana Besar Semakin Dekat, Pakar Peringatkan Satu Wilayah Berisiko

EtIndonesia. Komikus Jepang yang dikenal sebagai “Nenek Naga Jepang”, Ryo Tatsuki (竜樹諒), meramalkan bahwa pada 5 Juli tahun ini, akan terjadi gempa bumi dahsyat dan diikuti tsunami raksasa. Meskipun ramalan ini masih diragukan kebenarannya, baru-baru ini Tatsuki merilis karya barunya berjudul “Pesan Malaikat” untuk menjelaskan kebenaran dari mimpinya.

Dalam bukunya sebelumnya, “Apa yang Kulihat di Masa Depan”, Ryo Tatsuki menuliskan bahwa pada 5 Juli 2025, Jepang akan diguncang gempa bumi berkekuatan lebih dari 9 magnitudo, disertai pergeseran kerak bumi dan tsunami super besar, yang diprediksi tidak hanya memengaruhi Jepang, tetapi juga negara-negara tetangga. Hal ini memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat.

Meskipun dalam bukunya yang baru “Pesan Malaikat”, Tatsuki memberikan penafsiran baru, menyebut bahwa tanggal 5 Juli tersebut “belum tentu akan terjadi bencana besar”, namun fakta bahwa lebih dari 500 gempa telah terjadi di lepas pantai Kagoshima, Jepang, sejak 21 Juni, tetap menimbulkan kecemasan publik.

Pakar Taiwan: Zona Ini Bisa Guncang Gempa M 9 Kapan Saja

Menanggapi hal tersebut, pakar gempa Taiwan sekaligus mantan Direktur Pusat Informasi Gempa Bumi Biro Cuaca Pusat, Guo Kaiwen, mengatakan kepada media bahwa Kepulauan Tokara di dekat Kagoshima termasuk dalam wilayah Palung Okinawa, yang pernah mengalami gempa berkekuatan 8 pada tahun 1911, memicu tsunami setinggi 5 meter.

Namun yang lebih mengkhawatirkan, ujar Guo, adalah Pulau Kikai yang berjarak sekitar 200 km dari Tokara. Berdasarkan analisis ahli geologi, dalam 7.000 tahun terakhir, wilayah ini mengalami empat kali gempa besar berkekuatan 9, dengan rata-rata siklus 1.800 tahun sekali. Gempa terakhir terjadi sekitar 1.550 tahun lalu, yang artinya Palung Ryukyu bisa saja sewaktu-waktu mengalami gempa besar lagi. “Jadi, saat ini sudah saatnya mulai bersiap,” tegasnya.

Guo juga mengingatkan bahwa Palung Ryukyu dan Palung Okinawa di sekitar Taiwan memiliki kedalaman yang cukup tinggi. Jika terjadi gempa dan menimbulkan tsunami, maka seolah-olah ada “dua jalan tol super cepat” yang mengarah ke Taiwan — dan wilayah ini sangat mungkin terdampak. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com 

Gurun Terkering di Dunia Diselimuti Salju — Warga Chile Tak Percaya

Atacama, gurun paling kering di dunia yang terletak di Chile bagian utara, mengejutkan warganya pada 26 Juni ketika mereka bangun pagi dan menemukan hamparan salju tipis menutupi sebagian wilayah. Pemandangan yang sangat langka ini membuat banyak orang tak percaya apa yang mereka lihat.

EtIndonesia. Gurun Atacama menjadi rumah bagi Observatorium ALMA (Atacama Large Millimeter/submillimeter Array), yang memiliki teleskop raksasa yang berlokasi di Dataran Tinggi Chajnantor di ketinggian lebih dari 5.000 meter.

Pihak ALMA menulis di platform media sosial X (sebelumnya Twitter): “Sulit dipercaya! Gurun Atacama, gurun paling kering di dunia, tertutup salju!”

Mereka menambahkan bahwa meskipun salju terkadang turun di Dataran Tinggi Chajnantor, salju tidak pernah turun di fasilitas utama ALMA selama 10 tahun terakhir.

Akibat hujan salju ini:

  • Transportasi terganggu di wilayah Tarapacá, Antofagasta, dan Atacama.
  • Sekolah-sekolah ditutup untuk sementara waktu.

Ahli klimatologi dari Universitas Santiago, Raul Cordero, mengatakan kepada AFP bahwa terlalu dini untuk mengaitkan kejadian ini langsung dengan perubahan iklim, namun ia menjelaskan bahwa berdasarkan model iklim:

“Peristiwa seperti ini — hujan atau salju di Gurun Atacama — kemungkinan besar akan semakin sering terjadi di masa depan.”

Para pakar cuaca menjelaskan bahwa fenomena langka ini disebabkan oleh kombinasi tidak biasa antara udara dingin, front atmosfer di ketinggian, dan tekanan rendah di wilayah Samudra Pasifik. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Di Balik Serangan ke Iran: Benarkah Tiongkok Incar Kesempatan Serang Taiwan?

EtIndonesia. Ketika bentrokan antara Israel dan Iran mulai memanas, panggung politik global kembali diguncang oleh pergerakan strategis Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik. Komando Indo-Pasifik AS (INDOPACOM) mengambil langkah luar biasa: meningkatkan status kesiagaan militer di wilayah ini, sebuah sinyal tegas terhadap kemungkinan munculnya konflik lebih luas, terutama yang melibatkan kekuatan besar seperti Tiongkok.

Tak hanya itu, Amerika Serikat mengirimkan pesawat pengebom strategis B-2—bukan saja ke kawasan Timur Tengah untuk menghadapi Iran, tapi juga ke Guam, sebuah pangkalan militer vital di jantung Pasifik Barat. Langkah ini menandai perhatian besar Washington terhadap segala kemungkinan, termasuk manuver militer Tiongkok di Asia Timur.

Langkah ini mengingatkan kembali pada pernyataan Donald Trump saat kampanye pemilu lalu

Saat itu, ketika ditanya wartawan: “Jika Anda jadi presiden dan Tiongkok menyerang Taiwan, apa langkah Anda?” 

Trump menjawab lugas: “Saya akan mengebom Beijing.”

Jawaban tersebut, meski kontroversial, mencerminkan kepentingan strategis AS di kawasan—khususnya dalam menghalau ambisi ekspansi Tiongkok, sekaligus melindungi industri semikonduktor Taiwan, yang kini menjadi ‘urat nadi’ teknologi dunia.

Gejolak Israel-Iran dan Refleks Dunia

Konflik militer antara Israel dan Iran bukan hanya menjadi perhatian utama di Timur Tengah, tapi juga mengguncang opini publik Taiwan. Hal ini wajar, mengingat dua kepentingan paralel yang kini bersinggungan:

  1. Penolakan terhadap ekspansi Tiongkok (Anti-Tiongkok).
  2. Perlindungan terhadap industri semikonduktor Taiwan, yang menjadi krusial dalam rantai pasokan global.

Baru-baru ini, baik Israel maupun Iran sama-sama menawarkan usulan gencatan senjata. Bahkan  Presiden AS, Donald Trump, turut mendesak agar segera dicapai perjanjian damai. Namun, sikap Pemerintah Iran masih terkesan ambigu. Pemimpin spiritual Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah mengisyaratkan kesiapan tertentu, sementara Menteri Luar Negeri Iran belum memberikan jawaban pasti.

Di tengah situasi yang serba tidak pasti ini, publik dunia sepakat bahwa kedua pihak masih saling memantau dan belum benar-benar menurunkan tensi konfrontasi.

Latar Belakang Konflik dan Peran Kekuatan Regional

Serangan Balasan dan Dampaknya

Pada 13 Juni lalu, Israel meluncurkan operasi militer bertajuk “Operasi Kebangkitan Singa”. Serangan ini menyasar ratusan fasilitas strategis Iran, menandai salah satu operasi militer terbesar terhadap Iran dalam sejarah modern. Meski Iran sempat melancarkan serangan balasan, kemampuan militernya terbukti tak sebanding dengan kekuatan ofensif Israel.

Serangkaian peristiwa besar dua tahun terakhir menjadi latar belakang penting. Sejak serangan kelompok Hamas pada 7 Oktober 2023 ke wilayah Israel yang menimbulkan korban besar, siklus balas-membalas terjadi di Timur Tengah.

Prediksi para analis saat itu:

  • Israel pasti akan membalas secara besar-besaran.
  • Konflik ini tidak akan memicu perang regional yang melibatkan Lebanon, Suriah, Irak, Arab Saudi, dan Mesir secara langsung.

Dua prediksi ini, sejauh ini, terbukti benar. Negara-negara utama di Timur Tengah cenderung berhati-hati dan tidak terlibat langsung.

Perang Proksi: Jaringan Iran dan Respons Israel

Hamas, Hizbullah di Lebanon, serta Houthi di Yaman—semuanya dikenal sebagai kelompok proksi Iran. Serangan balasan Israel kepada Hamas dan Hizbullah begitu masif; lebih dari 3.000 kader dan komandan Hizbullah berhasil dilumpuhkan dengan operasi gabungan komunikasi dan radio, menciptakan kerugian sumber daya manusia yang sangat besar dan sulit dipulihkan dalam waktu dekat. Kelompok Houthi pun tak luput dari serangan Israel.

Di balik Iran, terdapat dukungan Tiongkok dan Rusia. Namun, baik Tiongkok maupun Rusia kini tampak lebih berhitung dalam mengambil langkah terbuka—faktor inilah yang membatasi manuver Iran di panggung Timur Tengah.

Amerika Serikat, Israel, dan Pergeseran Strategi Global

Peran Amerika Serikat

Sejak awal, Amerika Serikat (khususnya di bawah Trump) dikenal sangat pro-Israel. Momentum ini dimanfaatkan Israel untuk melancarkan aksi militer skala besar terhadap semua proksi Iran, dengan keyakinan penuh bahwa Washington akan tetap mendukung mereka, baik secara diplomatik, intelijen, maupun logistik.

Pada 21 Juni  Amerika Serikat melancarkan serangan langsung terhadap fasilitas nuklir Iran—peristiwa yang menjadi titik balik dalam eskalasi konflik.

Serangan besar ini menegaskan bahwa AS tidak hanya ingin membendung kekuatan Iran, namun juga memberi peringatan keras kepada Tiongkok, Rusia, dan pihak-pihak lain yang berpotensi memanfaatkan situasi untuk memperluas pengaruh mereka.

Kepentingan Israel dalam Menyerang Iran

Bagi Israel, ada dua ancaman utama dari Iran:

  • Kemampuan rudal balistik jarak jauh, yang dapat menyerang wilayah Israel secara langsung.
  • Ambisi pengembangan senjata nuklir, yang menjadi sumber ketakutan utama, tidak hanya bagi Israel, tapi juga negara-negara Arab tetangganya.

Jika dua ancaman ini dapat dilemahkan bahkan dihilangkan, Israel memandang dirinya dapat hidup berdampingan secara damai dengan negara-negara Arab di kawasan.

Kenapa Rusia dan Tiongkok “Diam”?

Rusia: Terlilit di Ukraina

Rusia kini terperangkap dalam konflik panjang di Ukraina. Bahkan, di Suriah—yang selama ini menjadi sekutu dekat Moskow—rezim Bashar al-Assad tumbang pada akhir 2024. Pasukan oposisi menguasai Damaskus, Assad terpaksa mengungsi, dan Rusia hanya bisa memberi suaka politik.

Dengan kekuatan yang tersebar dan reputasi internasional yang tercoreng, Rusia tidak punya kapasitas untuk membantu Iran secara signifikan tanpa risiko memperburuk keadaan di Ukraina.

Tiongkok: Jendela Peluang yang Tertutup

Tiongkok selama beberapa tahun terakhir menempuh strategi “wait and see”. Mereka berharap bisa memanfaatkan kekacauan di Ukraina dan Timur Tengah untuk mencuri peluang—khususnya terkait Taiwan. Namun, faktanya:

  • Pemilu Taiwan dan AS berjalan lancar tanpa kekacauan berarti.
  • AS justru semakin tegas, bukan melemah.
  • Perang di Timur Tengah berkembang tidak sesuai ekspektasi Beijing.

Pengerahan pengebom B-2 ke Guam adalah pesan eksplisit dari Washington: jika Tiongkok mencoba bertindak, AS siap merespons secara militer.

Akankah Gencatan Senjata Bertahan?

Meskipun berbagai pihak menyerukan gencatan senjata, secara realistis, perang tidak akan berhenti sepenuhnya dalam waktu dekat. Dalam dunia diplomasi internasional, selama proses negosiasi berlangsung, kekuatan militer kedua pihak tetap dikerahkan untuk menjaga posisi tawar masing-masing.

Israel memanfaatkan momentum kemenangan untuk menguatkan posisi, apalagi mereka yakin sanksi ekonomi dari Washington belum mengancam langsung. Sementara itu, Iran—yang sangat menderita kerugian—lebih ingin segera melakukan gencatan senjata demi menyelamatkan kredibilitas pemerintah di mata rakyat, meski tidak bisa melakukannya secara mendadak agar tidak kehilangan muka. 

Implikasi Strategis bagi Kawasan Indo-Pasifik dan Taiwan

Amerika Serikat secara doktrinal selalu bersiap menghadapi kemungkinan “dua setengah perang” (dua konflik besar dan satu konflik skala kecil) secara bersamaan. Di tengah perang Ukraina dan eskalasi Timur Tengah, AS telah mengerahkan sumber daya militer besar—termasuk menempatkan pengebom strategis di Guam.

Ini adalah peringatan jelas untuk Tiongkok agar tidak memanfaatkan kekacauan global untuk menyerang Taiwan.

Pernyataan Trump yang terkenal (“Saya akan mengebom Beijing jika Tiongkok menyerang Taiwan”) memberikan tekanan psikologis tersendiri bagi Beijing. Tindakan dan kata-kata Trump juga menanamkan rasa gentar, karena Washington bisa saja mengambil keputusan ekstrem tanpa bisa diprediksi sebelumnya. 

Pelajaran untuk Masyarakat Taiwan dan Dunia

Masyarakat Taiwan harus memahami dinamika kekuatan besar dunia, serta pentingnya membangun daya tahan nasional di tengah pertarungan geopolitik global.

Hubungan AS dan Taiwan didasarkan pada dua pilar utama:

  • Menahan ekspansi Tiongkok di Asia Timur.
  • Melindungi industri semikonduktor Taiwan yang menjadi penopang utama teknologi global.

Warga Taiwan diimbau untuk tetap kritis dan tidak mudah terpengaruh propaganda Tiongkok. Sejarah membuktikan, mereka yang “berpihak pada musuh” kerap dicatat sebagai pengkhianat bangsa.

Epilog: Dunia dalam Persimpangan

Eskalasi Israel-Iran bukan hanya urusan dua negara atau kawasan Timur Tengah. Dampaknya merambat hingga Indo-Pasifik, memaksa Amerika Serikat meningkatkan kesiagaan, mengingatkan Tiongkok agar tidak mencoba-coba, dan menyadarkan dunia akan rapuhnya stabilitas global.

Dalam situasi global yang sangat cair, satu percikan kecil bisa membesar menjadi kobaran api besar. Oleh sebab itu, semua pihak—baik pemerintah maupun masyarakat sipil—harus tetap waspada, berpikir kritis, dan mengutamakan kepentingan nasional di atas segala propaganda.

Wanita di Liaoning, Tiongkok Temukan “Laba-laba Berwajah Manusia” di Mobilnya — Lengkap dengan Eyeliner dan Lipstik

Baru-baru ini, seorang wanita di Shenyang, Provinsi Liaoning, Tiongkok, menemukan seekor “laba-laba berwajah manusia” di kap mobilnya. Laba-laba tersebut tampak seperti memakai eyeshadow dan lipstik, hingga membuat sang wanita berteriak ketakutan: “Sangat menyeramkan!”

EtIndonesia. Pada 26 Juni, Nona Yang dari Shenyang mengunggah sebuah video yang menunjukkan mobil kecil berwarna merah miliknya diparkir di luar ruangan. Di atas kap mobil itu, ia menemukan seekor laba-laba berwarna hijau dengan pola di punggungnya yang menyerupai wajah manusia. Yang mengejutkan, pola tersebut terlihat seperti wajah dengan riasan lengkap: eyeshadow dan lipstik — seperti memakai make-up tebal.

Seorang pria yang menyaksikan kejadian itu di lokasi pun berseru kaget:

“Serangga ini benar-benar menakutkan!”

Dalam video, terdengar suara seorang wanita yang berkata dengan terkejut:

“Serangga ini punya wajah di punggungnya, dan riasannya tebal sekali!”

Video “laba-laba berwajah manusia” ini langsung viral di media sosial Tiongkok, mengundang beragam reaksi netizen.

Nona Yang mengatakan kepada media: “(Waktu itu) saya melihat lebih dekat, dan pola di punggungnya benar-benar terlihat seperti wajah yang memakai make-up. Saya sangat kaget, agak takut juga.”

Menurut para ahli, laba-laba ini dikenal sebagai laba-laba Yinsi tiga-benjolan (nama ilmiah: Parawixia dehaani), yang memiliki racun sangat lemah, dan biasanya bersembunyi di bunga untuk memangsa serangga kecil. Hingga kini, belum ada laporan bahwa jenis laba-laba ini pernah menggigit manusia.

Komentar netizen pun bermunculan, mulai dari lucu hingga sarkastik:

  • “Sekarang hewan pun tahu bahwa manusia adalah makhluk yang menakutkan.”
  • “Benar-benar pepatah ‘setiap daerah melahirkan warganya masing-masing’, sampai laba-labanya pun mirip orang Timur Laut. Kami orang Guangdong nggak dandan begini.” (Hui/asr)

Laporan oleh Luo Tingting /Zhu Xinrui

Ponorogo Batik Festival 2025: Harmoni Tradisi dan Inovasi dalam Sorotan Global 

0

Ponorogo, 28 Juni 2025 – Hotel Maesa Ponorogo sukses menggelar Ponorogo Batik Festival 2025, sebuah perhelatan budaya yang memadukan kekayaan tradisi batik lokal dengan sentuhan modern. Acara ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Maesa Hotel, Fashion Design Business Universitas Ciputra Surabaya, dan Pemerintah Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Dengan mengusung tema “Harmoni Tradisi dan Budaya”, festival ini tidak hanya menjadi wadah pelestarian batik khas Ponorogo tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif daerah. 

Festival dibuka dengan pertunjukan Tari Jathilan, simbol budaya Ponorogo yang penuh energi. Acara dihadiri oleh sejumlah tokoh kunci, antara lain Aan Wildan Ahsani (Direktur Maesa Hotel), Bobby Wibowo (CEO Maesa Group), Bupati Ponorogo Kang Giri, serta perwakilan dari Universitas Ciputra Surabaya, Universitas Muhammadiyah Ponorogo, dan pengrajin batik ternama seperti Batik Shaka dan Batik Ciprat. 

Dalam sambutannya, Aan Wildan Ahsani menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan bentuk nyata komitmen untuk membangun ekosistem kolaboratif antara pelaku UMKM, seniman, dan pemangku kebijakan. “Kami ingin Maesa Hotel menjadi titik temu antara tradisi dan inovasi,” ujarnya. 

Sementara itu, Bobby Wibowo menyatakan komitmen Maesa Group dalam mendukung kegiatan budaya dan ekonomi kreatif. “Kami bertekad menjadikan Maesa Hotel sebagai rumah bagi pembangunan berkelanjutan,” tambahnya. 

Bupati Ponorogo Kang Giri turut memberikan apresiasi tinggi atas penyelenggaraan festival ini. “Batik Ponorogo adalah warisan budaya yang harus kita jaga dan kembangkan. Kegiatan seperti ini membuka peluang ekonomi baru bagi pengrajin dan generasi muda kreatif,” pesannya. 

Beberapa acara yang digelar adalah,

1. Fashion Show Batik Ponorogo 

   Karya mahasiswa Universitas Ciputra dan sanggar batik lokal ditampilkan dalam gaya modern oleh para model dari LS Model. Finalis Putera-Puteri Batik Ponorogo 2025 turut memeriahkan acara dengan penampilan elegan. 

2. Workshop Membatik & Talkshow Inspiratif 

   – Workshop membatik dipandu oleh pengrajin batik ternama, seperti Batik Shaka, mengajak generasi muda mengenal motif khas Ponorogo. 

   – Talkshow membahas strategi branding batik lokal untuk pasar global, menghadirkan akademisi dan praktisi fashion dari Universitas Ciputra Surabaya. 

3. Pameran UMKM & Batik Kreatif 

   Pengunjung, termasuk wisatawan luar negeri, antusias berbelanja di booth pameran yang menampilkan produk dari Batik Neotral, Batik Lesoeng, Batik Ciprat, dan lainnya. 

Acara ini menarik perhatian berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, pengrajin, komunitas fashion, hingga wisatawan. Salah satu momen istimewa adalah ketika Bobby Wibowo secara simbolis menuliskan kata “Ponorogo Batik Festival” di kanvas, sebagai bentuk komitmen terhadap pelestarian budaya.  Ponorogo Batik Festival 2025 menjadi contoh nyata implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam aspek pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan. Maesa Hotel berharap acara ini dapat menjadi agenda tahunan yang memperkuat branding Ponorogo sebagai kota kreatif berbasis budaya. 

140 Ribu Orang Demo Antikorupsi, Serbia Dilanda Bentrokan antara Polisi dan Warga

Sekitar 140.000 pengunjuk rasa anti-pemerintah berkumpul di Beograd, ibu kota Serbia, pada Sabtu (28 Juni) malam.  Aksi massa bertujuan untuk menekan pemerintah agar mengadakan pemilu dini dan mengakhiri kekuasaan Presiden Aleksandar Vučić yang telah berlangsung selama 12 tahun.

EtIndonesia. Organisasi pemantau independen “Arsip Aksi Publik” memperkirakan jumlah peserta aksi di lokasi mencapai sekitar 140.000 orang, dengan tuntutan utama agar Presiden Aleksandar Vučić  mundur dari jabatannya.

Polisi antihuru-hara dikerahkan di sekitar gedung pemerintahan, gedung parlemen, dan Taman Pionirski yang terletak di sekitarnya. Para pendukung Vučić juga mengadakan aksi tandingan di lokasi tersebut.

Setelah unjuk rasa berakhir sekitar pukul 22.00 malam, sebagian demonstran yang ingin berhadapan dengan pendukung Vučić mulai melemparkan petasan ke arah polisi, yang kemudian membalas dengan semprotan merica untuk membubarkan massa.

Aksi protes ini dipimpin oleh kelompok mahasiswa, dan bermula dari tragedi runtuhnya atap stasiun kereta api di kota besar Novi Sad di bagian utara Serbia, yang menyebabkan 16 orang tewas. Tragedi tersebut banyak dianggap sebagai akibat dari masalah korupsi yang merajalela.

Selama lebih dari enam bulan terakhir, mahasiswa telah melakukan aksi blokade di berbagai kampus, serta menyelenggarakan demonstrasi besar-besaran di seluruh negeri. Bulan lalu, tuntutan mereka berkembang menjadi desakan untuk pemilu parlemen dini.

Namun, Presiden Vučić menolak tuntutan tersebut pada Jumat, dan menegaskan bahwa pemilu nasional tidak akan diadakan sebelum akhir tahun 2026. (Hui/asr)

Laporan oleh wartawan NTD Yan Feng dan Zhang Xiaoyu 

Kisruh di Zhongnanhai, Apakah Xi Jinping akan Kehilangan Kekuasaan? Jenderal Michael Flynn Ungkap Kisah di Balik Layar

Etindonesia. Belakangan ini, beredar luas kabar bahwa kekuasaan di Zhongnanhai (pusat pemerintahan Partai Komunis Tiongkok) sedang bergeser, dan bahwa Xi Jinping kehilangan pengaruhnya. Para tokoh politik Barat pun tampaknya mulai menyadarinya. Baru-baru ini, Michael Flynn, pensiunan Letnan Jenderal Angkatan Darat AS dan mantan Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat, secara langka mengunggah pernyataan bahwa “pergantian kekuasaan tengah terjadi di Tiongkok.”

Dalam unggahan di platform X (dulu Twitter), Jenderal Flynn menulis:

“Tiongkok jelas sedang mengalami pergeseran kekuasaan. Para pengamat Tiongkok harus memantau secara seksama para tokoh utama Partai Komunis, khususnya bagaimana para pejabat publik dan dinas keamanan negara mulai kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan.”

Flynn juga menyertakan beberapa foto dalam unggahannya, antara lain:

  1. Foto tiga pejabat tinggi Partai Komunis Tiongkok, yaitu:
    • Zhang Youxia (Wakil Ketua Pertama Komisi Militer Pusat),
    • Ding Xuexiang (anggota tetap Politbiro dan Wakil Perdana Menteri),
    • dan Chen Jining (anggota Politbiro dan Sekretaris Partai Komunis Shanghai).
  2. Foto kedua memperlihatkan suasana rapat besar Partai Komunis Tiongkok di Balai Agung Rakyat di Beijing.
  3. Foto ketiga adalah potret close-up Zhang Youxia dengan senjata di punggungnya, menampilkan kesan militeristik dan waspada.

Michael Flynn merupakan tokoh senior di bidang militer dan intelijen AS. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Badan Intelijen Pertahanan (DIA) dan juga menjadi Penasihat Keamanan Nasional pada masa jabatan pertama Presiden Donald Trump.

Sebagai seseorang yang memiliki jaringan intelijen luas dan pengalaman tinggi di bidang pertahanan, pernyataannya tentang pergeseran kekuasaan di kalangan elit Partai Komunis Tiongkok menjadi sorotan penting bagi banyak pengamat internasional. (Hui/asr)

Laporan oleh wartawan NTD Xu Zhe dan Zhao Jialin

Penelitian BRUIN Mengungkap Dalang Pencemaran Sampah Plastik Di 30 Provinsi Di Indonesia

Surabaya-Badan Riset Urusan Sungai Nusantara (BRUIN) melakukan riset Sensus Sampah Plastik, audit sampah plastik terbesar, paling akurat, dan paling komprehensif yang pernah dilakukan di Indonesia. Riset dilakukan selama tiga tahun (2022–2024) di 30 provinsi di Indonesia.

 Koordinator Sensus Sampah Plastik BRUIN, Muhammad Kholid Basyaiban, menyampaikan riset ini dilakukan dengan melibatkan 156 mitra serta 976 relawan untuk mengumpulkan 76.899 sampah plastik dari 92 titik lokasi yang tersebar di 49 kabupaten/kota di Indonesia. Disampaikan, hasil Sensus Sampah Plastik menunjukkan kondisi pencemaran sampah plastik di perairan Indonesia sudah mengkhawatirkan. 

 “BRUIN mengambil sampel di 35 sungai, 17 pantai, dan 2 titik mangrove di 49 kabupaten/kota yang tersebar di 30 provinsi atau hampir 65 persen wilayah riset merupakan ekosistem perairan sungai. Hasilnya, tidak ada sungai yang bebas atau nihil dari sampah, jauh dari aturan yang tertera pada Lampiran IV Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH),” jelasnya dalam rilisnya, Kamis, (26/6).

 BRUIN mengungkap lima besar produsen pencemar polusi plastik di perairan Indonesia, yakni:

1.    Unbranded: 23% didominasi oleh kemasan tanpa merek (kantong kresek, styrofoam, sedotan plastik, kain, cup gelas, dan tali plastik);

2.    Wings: 11% didominasi oleh kemasan sachet (Soklin, Sedaap, Daia, Mama Lime, Tea Jus) dan botol minuman (Ale-ale, Teh Rio, Golda Coffee, Milku, dan Floridina);

3.    Indofood: 9% didominasi oleh kemasan sachet (Indomie, Sarimie, Indomilk, Bumbu Racik), botol minuman (Club), dan kemasan styrofoam (Pop Mie);

4.    Mayora: 7% didominasi oleh kemasan botol minuman (Le Minerale, Teh Pucuk Harum), kemasan sachet (Roma, Energen, Torabika, Kopiko, & Beng Beng);

5.    Unilever: 6% didominasi oleh kemasan sachet (Royco, Rinso, Molto, Sunsilk, Sunlight, dan Bango).

Sementara, 5 besar merek kemasan plastik yang ditemukan:

1.    Club: merek Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) botol produk Indofood: 3% (2.271 pieces);

2.    Indomie: merek mie kemasan produk Indofood: 3% (1.977 pieces);

3.    Le Minerale: merek AMDK produk Mayora: 2% (1.708 pieces);

4.    SoKlin: merek sabun deterjen produk Wings: 2% (1.699 pieces);

5.    Teh Pucuk Harum: merek AMDK botol produk Mayora: 2% (1.445 pieces).

Kholid mengatakan Sensus Sampah Plastik menunjukkan bahwa polusi sampah plastik tak hilang begitu saja, tetapi juga berdampak pada ekosistem, mempengaruhi krisis iklim dan risiko kesehatan makhluk hidup.

Prigi Arisandi, aktivis lingkungan, peneliti senior, sekaligus founder  ECOTON Foundation mengatakan sensus menunjukkan, bahwa sampah kemasan pasca konsumsi mencemari perairan, mengancam ekosistem, serta memperburuk dampak perubahan iklim lewat cemaran mikroplastik dan polutan berbahaya lainnya.

Berdasarkan Sensus Sampah Plastik yang dilakukan, BRUIN menuntut tanggung jawab produsen dan regulasi tegas dari pemerintah. BRUIN melihat perlunya pengelolaan sampah plastik secara segera dan tegas, khususnya terhadap kemasan sachet. “Untuk itu, para produsen plastik dituntut untuk mengambil langkah nyata dalam mengelola sampah kemasan pasca konsumsi serta mendukung target pengurangan sampah oleh produsen sebanyak 30 persen di tahun 2029 mendatang,” kata Prigi.

Menurutnya, hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, saat membuka Pameran Lingkungan Hidup bertema “End Plastic Pollution”, yang menyatakan akan mendorong industri lokal dalam pengelolaan limbah serta membangun sistem hukum yang mewajibkan penerapan EPR, lengkap dengan sanksi administratif hingga pidana bagi yang melanggar.

“Intinya, jangan hanya bergantung pada perubahan perilaku konsumen. Yang lebih penting adalah kebijakan tegas yang memaksa produsen bertanggung jawab atas dampak yang mereka timbulkan,” seru Dr. Susi Agustina Wilujeng , ST., MT.,  Kepala Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember ITS Surabaya, menanggapi hasil Sensus Sampah Plastik.

Digadang menjadi regulasi taktis pemutus rantai sampah plastik di Indonesia, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 75/2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen nyatanya belum efektif. Hal ini terutama terlihat dari rendahnya tingkat partisipasi produsen dan masyarakat serta lemahnya pengawasan dan pemberian sanksi.

“Regulasi peta jalan sebetulnya hanya mengubah kapasitas isi produk tanpa larangan ketat penggunaan kemasan plastik sekali pakai. Akibatnya, produsen cenderung mempertahankan penggunaan plastik dengan sedikit modifikasi, bukannya mencari alternatif produk ramah lingkungan atau menerapkan guna ulang,” jelas salah satu kolaborator yang terlibat dalam Sensus Sampah Plastik, Aeshnina Azzahra Aqilani, dari River Warrior Indonesia.

Atas temuannya ini, BRUIN menyerukan kepada pemerintah untuk menutup keran polusi plastik dengan merekomendasikan 6 strategi utama untuk melawan pencemaran plastik, yaitu:

1.  Kebijakan pembatasan plastik sekali pakai yang sulit terdaur ulang seperti sachet;

2.  Kebijakan model guna ulang (reuse movement) untuk mengurangi limbah kemasan;

3.  Disinsentif pajak terhadap produk plastik sekali pakai yang sulit didaur ulang seperti sachet;

4.  Insentif untuk pengelolaan plastik yang lebih berkelanjutan;

5.  Green procurement dalam pemakaian produk ramah lingkungan oleh pemerintah dan industri;

6.  Menuntut tanggung jawab produsen lewat implementasi Extended Producer Responsibility (EPR) secara tegas dan menyeluruh.

BRUIN berharap, Sensus Sampah Plastik membuka mata banyak pihak mengenai pentingnya pengelolaan sampah plastik dari hulu hingga hilir.

Banjir Bandang dan Longsor Melanda Pakistan, 45 Orang Tewas dalam Beberapa Hari Musim Hujan

EtIndonesia. Sejak awal musim hujan minggu lalu, berbagai wilayah di Pakistan dilanda hujan deras dan banjir bandang. Dalam waktu hanya beberapa hari, sedikitnya 45 orang dilaporkan tewas, termasuk lebih dari sepuluh anak-anak.

Menurut laporan AFP, provinsi Khyber Pakhtunkhwa yang berbatasan dengan Afghanistan mencatat jumlah korban tewas terbanyak, yakni 21 orang, termasuk 10 anak-anak.

Media lokal melaporkan bahwa sebuah banjir bandang menyapu sejumlah keluarga yang berada di tepi sungai. Badan Penanggulangan Bencana setempat menyatakan, 14 dari korban jiwa berasal dari Lembah Swat (Swat Valley).

Sementara itu, di Provinsi Punjab — provinsi terpadat di Pakistan yang berbatasan dengan India — tercatat 13 orang meninggal sejak 25 Juni, dengan 8 di antaranya adalah anak-anak yang tertimpa tembok atau atap rumah yang roboh akibat hujan deras. Beberapa orang dewasa meninggal akibat banjir mendadak.

Di Provinsi Sindh dan Balochistan, tercatat 11 korban jiwa akibat hujan muson deras.

Badan Meteorologi Nasional Pakistan memperingatkan bahwa risiko hujan deras dan banjir bandang akan tetap tinggi setidaknya hingga 5 Juli.

Musim semi tahun ini, Pakistan mengalami serangkaian cuaca ekstrem, termasuk hujan es hebat. Pada bulan lalu saja, sedikitnya 32 orang tewas dalam badai hebat.

Pakistan termasuk salah satu negara di dunia yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, dengan populasi mencapai 240 juta jiwa yang kini semakin sering menghadapi fenomena cuaca ekstrem. (Hui/asr)

Dikutip NTDTV.com dari Central News Agency/ Lu Yongxin

Detik-detik Teror di Teheran: Penjara Evin Dihancurkan Rudal, 71 Tewas, Sang Algojo Penjara Kabur!

EtIndonesia. Sebuah serangan udara besar-besaran yang diduga dilakukan oleh Israel menghantam Penjara Evin di ibu kota Iran, Teheran, pada 23 Juni, menyebabkan setidaknya 71 orang tewas. Data tersebut disampaikan oleh juru bicara lembaga peradilan Iran, Asghar Jahangir, dalam konferensi pers pada 29 Juni. Serangan ini menambah daftar panjang eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang semakin mengkhawatirkan.

Rincian Korban dan Kerusakan

Menurut laporan resmi dan dikonfirmasi oleh Reuters, Penjara Evin mengalami kerusakan fisik yang sangat parah akibat serangan tersebut. Korban jiwa terdiri dari berbagai kelompok, antara lain pegawai administrasi penjara, tentara muda yang tengah bertugas, para tahanan, keluarga tahanan yang sedang membesuk, hingga warga sipil yang tinggal di sekitar penjara. Hingga kini, tim penyelamat masih melakukan evakuasi dan pencarian di puing-puing gedung yang runtuh.

Selain menimbulkan korban jiwa, serangan tersebut juga menyebabkan sejumlah bangunan kantor di kompleks penjara hancur total. Para tahanan yang berhasil selamat telah dipindahkan secara darurat ke beberapa lembaga pemasyarakatan lain di wilayah Teheran.

Penjara Evin: Simbol Represi dan Pelanggaran HAM

Penjara Evin selama ini dikenal sebagai pusat penahanan para tahanan politik di Iran dan menjadi sorotan tajam organisasi-organisasi hak asasi manusia internasional. Lembaga ini kerap disebut sebagai tempat terjadinya penyiksaan, perlakuan kejam, bahkan eksekusi terhadap narapidana politik. Sejumlah warga negara asing, termasuk dua warga negara Prancis yang ditahan sejak 2022, juga tercatat masih mendekam di Evin saat serangan terjadi.

Sinyal Perang dan Ancaman Sebelum Serangan

Menurut laporan Fox News pada 29 Juni, menjelang serangan udara tersebut, kepala Penjara Evin, Hedayatollah Farzadi —yang namanya telah tercantum dalam daftar sanksi Amerika Serikat dan Uni Eropa karena dugaan pelanggaran HAM berat—dilaporkan telah melarikan diri. Sumber Fox News yang mengutip intelijen Israel mengungkapkan bahwa putra Farzadi, Amir, sebelumnya menerima pesan peringatan melalui aplikasi WhatsApp dari agen intelijen Israel.

Isi pesan tersebut sangat eksplisit: “Suruh ayahmu buka penjara, kalau tidak dalam beberapa menit lagi akan ada serangan.”

Pesan itu juga mengingatkan Amir bahwa jika dia mematuhi, “tidak akan terjadi apa-apa.” Namun, dalam waktu singkat setelah pesan itu diterima, paman Amir mendatangi penjara dan membawa Farzadi pergi dari lokasi. Tidak lama berselang, serangan besar-besaran terjadi, menghancurkan gerbang utama dan bagian besar fasilitas penjara.

Meski terdapat rumor bahwa sebagian tahanan berhasil melarikan diri akibat kerusakan penjara, hingga kini belum ada bukti atau data resmi yang mengonfirmasi jumlah tahanan yang kabur.

Profil Kepala Penjara Farzadi: Simbol Brutalitas Sistem

Farzadi merupakan sosok kontroversial di Iran. Ia dikenal sebagai pejabat brutal yang sering didakwa melakukan berbagai kejahatan terhadap tahanan politik, mulai dari penyiksaan, pelecehan seksual terhadap narapidana perempuan, hingga aksi pemukulan massal dan pembunuhan narapidana. Dia juga tercatat pernah memimpin aksi penculikan terbuka di Penjara Dizel Abad sebagai bentuk teror dan intimidasi kepada para pelaku pelanggaran ringan.

Karena berbagai pelanggaran berat tersebut, Farzadi masuk dalam daftar Specially Designated Nationals and Blocked Persons (SDN) yang diterbitkan oleh Departemen Keuangan AS. Akibatnya, seluruh entitas atau warga negara AS dilarang melakukan bisnis atau berinteraksi dengannya. Uni Eropa pun menjatuhkan sanksi serupa. Dalam gelombang unjuk rasa anti-pemerintah yang terjadi di Iran beberapa waktu lalu, Farzadi dituding sebagai otak utama penindasan dan penyiksaan para demonstran yang dijebloskan ke Evin.

Hingga saat ini, keberadaan Farzadi setelah serangan masih belum diketahui. Pihak otoritas Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai status maupun lokasi terkini mantan kepala penjara tersebut.

Spekulasi: Serangan Presisi atau Operasi Penyelamatan?

Serangan terhadap Penjara Evin ini menuai spekulasi di berbagai kalangan. Seorang pengguna platform X (Twitter) menulis: “Apakah ini serangan presisi atau operasi penyelamatan berisiko tinggi?” 

Komentar ini memperkuat dugaan bahwa serangan udara tersebut bukan hanya bermotif militer, melainkan juga mungkin menjadi bagian dari upaya menekan rezim Iran sekaligus membebaskan tahanan politik tertentu.

Namun hingga saat ini, pemerintah Iran memilih bungkam dan belum memberikan klarifikasi rinci mengenai motif serangan, jumlah pasti korban, maupun data tahanan yang kemungkinan melarikan diri. Misteri masih menyelimuti peristiwa besar ini, yang menambah daftar panjang drama dan konflik di kawasan.

Xi Jinping Akan Segera Lengser? Mantan Diplomat AS Ungkap Serangkaian Tanda Mencurigakan

EtIndonesia. Beberapa bulan terakhir, beredar luas rumor bahwa pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping telah kehilangan kekuasaan. Baru-baru ini, mantan diplomat Amerika Serikat, Gregory W. Slayton, menulis di New York Post, menganalisis berbagai tanda tak biasa terkait Xi, dan memperkirakan bahwa Xi kemungkinan akan lengser pada Sidang Pleno PKT Agustus mendatang atau hanya akan memegang jabatan simbolis.

Dalam tulisannya, Slayton menyatakan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, telah muncul tanda-tanda luar biasa bahwa Xi Jinping — yang sebelumnya tampak mengendalikan segalanya — mungkin akan segera turun dari kekuasaan. Ia juga menyebut bahwa mantan pemimpin PKT Hu Jintao, yang pernah dipermalukan secara terbuka oleh Xi, mungkin kini berperan sebagai pengatur di balik layar.

Slayton menjelaskan bahwa rumor mengenai turunnya Xi memang bukan hal baru, tetapi belum pernah terjadi sebelumnya puluhan loyalis Xi di militer secara kolektif dibersihkan atau bahkan meninggal secara misterius, dan kemudian digantikan oleh jenderal dari faksi lain. Saat ini, Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat yang sebelumnya berseteru dengan Xi, disebut telah menjadi pemimpin de facto militer PKT.

Selain itu, langkah “de-naming” museum peringatan Xi Zhongxun, ayah Xi Jinping, juga menjadi sorotan. Museum tersebut, yang dibangun di provinsi Shaanxi untuk mengenang Xi Zhongxun, saat dibuka pada Mei lalu tiba-tiba tidak lagi menggunakan nama ayah Xi, dan diganti menjadi “Museum Revolusi Guanzhong” — sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Slayton juga mencatat bahwa jumlah pengawal pribadi Xi Jinping baru-baru ini dikurangi hingga setengahnya, dan mempertanyakan: “Pemimpin dunia mana yang akan mengurangi pengamanan pribadinya?”

Selain itu, Xi Jinping menghilang selama hampir dua minggu dari akhir Mei hingga awal Juni, dan selama masa itu, semua penyambutan tamu negara dilakukan oleh pejabat tinggi PKT lainnya. Frekuensi kemunculan Xi di media resmi PKT, seperti People’s Daily, juga menurun drastis.

Xi akhirnya muncul kembali pada awal Juni, bertemu dengan Presiden Belarusia Lukashenko, namun menurut pengamatan Slayton, Xi terlihat sangat letih, bahkan tampak murung seperti baru saja mengalami kekalahan. Pertemuan tersebut berlangsung di lokasi bergaya rumah pribadi di Zhongnanhai, yang tidak pernah digunakan untuk acara kenegaraan, dan hanya dihadiri oleh sedikit orang, tanpa kehadiran penerjemah atau staf senior. Ini sangat berbeda dengan protokol resmi sebelumnya.

Sebaliknya, pertemuan kenegaraan yang dilakukan oleh pemimpin PKT lainnya masih tetap dilakukan di aula resmi yang megah, mencerminkan otoritas dan kekuasaan.

Bahkan, setelah Xi melakukan panggilan telepon dengan Presiden AS Donald Trump baru-baru ini, media resmi PKT seperti CCTV tidak menyebutkan jabatan resmi Xi.
Slayton menyebut, hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Meskipun kemudian diralat sebagian, ia yakin itu bukan kesalahan yang tidak disengaja.

Ia juga menyoroti bahwa beberapa profesor dari universitas ternama di Tiongkok kini berani menulis kritik langsung terhadap Xi, sesuatu yang sangat tabu di masa lalu.

Slayton menilai semua ini hanyalah sebagian dari beragam sinyal tak biasa yang berasal dari Beijing, yang mengindikasikan perubahan besar dalam struktur kekuasaan PKT.
Mengenai siapa yang akan menggantikan Xi, meskipun belum pasti, tampaknya Zhang Youxia dan para sesepuh PKT telah memilih Wang Yang sebagai pengganti.

Wang Yang, mantan Wakil Perdana Menteri PKT, yang terpaksa pensiun pada 2023 setelah tidak lagi menjabat sebagai Ketua Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok (CPPCC), dikenal sebagai tokoh reformis moderat yang dipromosikan oleh Deng Xiaoping. Ia mendukung pasar bebas dan diplomasi lunak.

Slayton menyatakan, Tiongkok adalah sebuah “misteri yang dibungkus teka-teki,” dan tidak ada yang bisa benar-benar yakin akan apa pun. Namun mengingat akibat bencana dari kekuasaan otoriter Xi Jinping, lengsernya ia tidaklah mengejutkan.

Ia menyebut beberapa contoh seperti:

  • Total utang Tiongkok yang telah melebihi 50 triliun dolar AS
  • Gelombang migrasi orang kaya Tiongkok beserta asetnya ke luar negeri
  • Tingkat pengangguran yang menyamai era Depresi Besar

Semua ini membuat kerusuhan lokal, pembakaran pabrik, dan protes anti-pemerintah di berbagai tempat di Tiongkok bukan hal yang mengejutkan lagi.

Bagi Amerika Serikat, menurut Slayton, jika dikelola dengan baik, perubahan ini dapat membawa dampak positif besar bagi AS dan sekutu-sekutunya yang demokratis.
Trump bahkan bisa memenangkan Perang Dingin melawan PKT tanpa melepaskan satu peluru pun. Negara-negara seperti Rusia, Korea Utara, dan Iran pun bisa ikut terdampak secara negatif.

Tulisan itu menutup dengan menyebutkan bahwa Xi Jinping sekali lagi membuktikan pepatah terkenal: “Kekuasaan cenderung menyimpang, dan kekuasaan absolut menyimpang secara absolut.” 

Slayton berharap pengganti Xi bisa belajar dari keberhasilan negara-negara demokratis Barat dan Asia, membawa Tiongkok ke arah pasar bebas, masyarakat bebas, demokrasi sejati, dan supremasi hukum. Meskipun perjalanan menuju ke sana mungkin penuh kekacauan, namun ia yakin hasil akhirnya akan sepadan. (Hui/asr)

Laporan diterjemahkan oleh wartawan Xue Fei / Lin Qing

Pergantian Kekuasaan di Zhongnanhai Muncul Banyak Pertanda Xi Jinping Akan Lengser

Selama beberapa bulan terakhir, sering terdengar kabar bahwa pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT), Xi Jinping, telah kehilangan kekuasaan secara signifikan, mengalami masalah kesehatan, dan bahwa Zhang Youxia, Wakil Ketua Pertama Komisi Militer Pusat (CMC), bersama para sesepuh partai, telah mengambil alih kekuasaan.  Ini menunjukkan kekisruhan di Zhongnanhai (pusat pemerintahan Partai Komunis Tiongkok) semakin kencang. 

EtIndonesia. Perubahan misterius dalam konstelasi politik di tubuh elite PKT ini juga mulai menarik perhatian para ahli Barat, yang menyebut muncul berbagai tanda Xi akan turun dari jabatan, serta menyebutkan bahwa struktur kekuasaan di tingkat tertinggi PKT akan mengalami perubahan besar.

Menjelang Sidang Pleno Keempat PKT, pada 27 Juni, sekutu militer Xi di pusat kekuasaan, Miao Hua, Direktur Departemen Politik CMC, diberhentikan dari keanggotaan Komisi Militer Pusat. Pada hari yang sama, Li Hanjun, Kepala Staf Angkatan Laut, juga dicopot dari statusnya sebagai delegasi Kongres Rakyat Nasional. Sementara itu, sekutu militer Xi lainnya, He Weidong, Wakil Ketua CMC, telah menghilang sejak Maret dan belum muncul kembali.

Menurut berbagai sumber, Xi awalnya berencana mengandalkan Miao Hua dan He Weidong untuk mengendalikan militer, serta menggunakan dalih “pemberantasan korupsi” untuk membersihkan kubu Zhang Youxia dan menjatuhkannya. Namun justru mendapat serangan balik dari Zhang dan para sesepuh PKT di belakangnya.

Keanehan yang terjadi di tingkat tertinggi rezim ini pun menarik perhatian para pejabat dan pengamat Barat.

Pada 28 Juni, mantan diplomat senior AS, Gregory W. Slayton, dalam artikelnya di New York Post, menyebut bahwa melihat perkembangan beberapa bulan terakhir, kemungkinan Xi Jinping akan lengser semakin mendesak. Para sesepuh PKT diyakini sedang mengatur segalanya di balik layar, termasuk Hu Jintao, yang pernah dipermalukan oleh Xi dalam Kongres Nasional PKT tahun 2022.

Artikel itu menyebut, saat ini Zhang Youxia telah sepenuhnya menguasai militer, sementara kesehatan Xi memburuk, dan sangat mungkin pada  Agustus nanti ia akan pensiun, atau hanya memegang jabatan simbolis.

Artikel tersebut juga merinci lima tanda utama bahwa Xi telah kehilangan kekuasaan:

  1. Puluhan perwira tinggi militer yang loyal pada Xi telah disingkirkan, bahkan beberapa meninggal secara misterius, dan digantikan oleh jenderal dari faksi lain.
  2. Makam ayah Xi, Xi Zhongxun, telah dihapuskan namanya. Tidak lagi disebut sebagai Makam Xi Zhongxun.
  3. Jumlah pengawal pribadi Xi dikurangi hingga setengahnya. Pemimpin mana yang dengan sukarela mengurangi keamanan pribadinya?
  4. Pada akhir Mei hingga awal Juni, Xi menghilang hampir dua minggu tanpa penjelasan, sementara pemimpin lain menerima tamu asing di Beijing. Di saat bersamaan, Xi nyaris tidak muncul di halaman utama media partai, People’s Daily.
  5. Beberapa profesor dari universitas ternama di Tiongkok mulai menulis artikel yang secara langsung mengkritik Xi, sesuatu yang sangat langka sebelumnya.

Artikel menyimpulkan bahwa semua ini hanya sebagian dari banyak tanda luar biasa di Beijing yang mengisyaratkan bahwa struktur kekuasaan di tubuh PKT akan mengalami perubahan besar.

Miao Hua, yang dulunya merupakan salah satu orang paling dipercaya Xi, kini telah secara resmi disingkirkan dari posisi komando tertinggi militer.

Pada 28 Juni, Rod Martin, aktivis konservatif AS sekaligus CEO Martin Capital, juga menulis di platform X:

 “Apakah kekuasaan Xi Jinping sedang terancam? Tampaknya memang seperti itu.”
Ia menambahkan, “PKT sedang menuju kegelapan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah: ini bukan kejadian tunggal. Dalam rezim otoriter, pembersihan elite biasanya bukan tanda kontrol, tapi tanda ketidakstabilan.”

Martin menegaskan, jika Xi yang telah mengkonsolidasikan kekuasaan selama lebih dari satu dekade kehilangan posisi-posisi militer kunci dan tak mampu menghentikan tren ini, maka artinya “rezim ini mungkin sedang memasuki fase perpecahan internal yang berbahaya.”

Selain itu, pada 27 Juni, Michael Flynn, pensiunan Letnan Jenderal Angkatan Darat AS dan mantan Penasihat Keamanan Nasional AS, juga memposting di X:

 “Jelas sekali, saat ini sedang terjadi pergantian kekuasaan di Tiongkok. Para pengamat perlu memantau dengan cermat anggota utama PKT, khususnya pejabat di sektor publik dan keamanan nasional, apakah mereka mulai kehilangan kepercayaan pada kepemimpinan saat ini.”

 Ia menambahkan, “Perubahan kepemimpinan di PKT akan membawa konsekuensi yang sangat besar.”

The Epoch Times dari sumber internal menyebutkan bahwa sejak April tahun lalu, Xi Jinping sudah mulai kehilangan kekuasaan. Meskipun secara lahiriah masih berkuasa, kenyataannya ia sudah kalah, dan kini Zhang Youxia, Wen Jiabao, dan para sesepuh lainnya menjadi kekuatan utama di balik kendali politik Tiongkok. Walaupun Xi sempat beberapa kali melawan balik, bahkan memakai senjata, namun semuanya gagal. Kini ia hanya “berakting sesuai skenario”, melakukan apa pun yang diperintahkan padanya.

Pada 16 Juni, komentator luar negeri “Xiao Shuojia” mengutip informasi internal bahwa di tubuh PKT terjadi perbedaan pendapat dalam menangani Xi Jinping. Zhang Youxia dan Wen Jiabao mendukung penyelesaian total terhadap Xi, sementara Hu Jintao dan lainnya ingin Xi turun secara “terhormat” demi menjaga stabilitas rezim.

Pada 26 Juni, kolumnis independen Du Zheng, dalam artikelnya di media Taiwan Shang Bao, mengungkap bahwa seorang tokoh politik senior anti-Xi dari Beijing mengatakan, “Tunggu saja, akan ada perubahan di musim gugur. Pada  Oktober segalanya akan menjadi jelas.” (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Setelah Presiden Trump, Putra Keduanya  Eric Trump  Puji Epoch Times: Membantu Pulihkan Kebebasan Berekspresi di Amerika

EtIndonesia. Setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memuji NTD dan The Epoch Times sebagai “kelompok yang hebat”, Eric Trump, putra keduanya, juga menyatakan apresiasinya terhadap kontribusi The Epoch Times dalam mendukung kebebasan berpendapat di Amerika Serikat.

“Saya sungguh percaya bahwa kita adalah kekuatan yang mendorong pemulihan kebebasan berpendapat di Amerika. Karena kita semua yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat—tentu saja termasuk The Epoch Times dan semua pemirsanya—begitu kami menerbitkan sesuatu, orang-orang bisa melihatnya, tetapi (platform media sosial) terus berusaha membungkam suara kami,” kata Eric Trump, Wakil Presiden Eksekutif Trump Organization. 

Eric Trump menyampaikan pernyataan itu pada Sabtu, 28 Juni, saat diwawancarai oleh Jan Jekielek, pembawa acara program American Thought Leaders dari The Epoch Times. Ia menegaskan bahwa media tersebut berperan besar dalam memperjuangkan kebebasan berbicara di Amerika.

Beberapa waktu sebelumnya, Presiden Trump juga secara terbuka menyebut grup media NTD dan Epoch Times sebagai “kelompok yang luar biasa”.

Dalam sebuah konferensi pers, reporter Iris Tao dari NTD Television, yang merupakan grup saudari The Epoch Times, menyampaikan: “Saya Iris Tao, dari NTD Television, bagian dari grup saudari The Epoch Times. Terima kasih banyak atas konferensi pers ini, sangat menyegarkan bagi semua yang hadir di sini.”

Presiden Trump merespons: “(NTD dan The Epoch Times) adalah kelompok yang sangat bagus. Sangat menyegarkan, ya?”

Iris Tao menjawab: “Sangat menyegarkan.” (Hui/asr)

Laporan oleh jurnalis NTD TV, Yang Hao