PKT Memanipulasi Berita melalui CGTN; Mantan Karyawan Beberkan Mekanisme Sensor

Media corong propaganda Partai Komunis Tiongkok (PKT), CGTN, terungkap menerapkan sensor berita secara ketat. Bahkan, karyawan disebut diminta menayangkan apa yang disebut sebagai laporan “pengakuan bersalah” di televisi, meskipun mereka sendiri merasa malu untuk menyiarkannya.

EtIndonesia.com Laporan terbaru dari organisasi hak asasi manusia internasional Safeguard Defenders mewawancarai delapan mantan karyawan asing CGTN dan mengungkap bagaimana CGTN memutarbalikkan fakta serta menekan kebebasan pers. Analis mengatakan bahwa pada hakikatnya, CGTN merupakan versi luar negeri dari CCTV, televisi pemerintah PKT.

Mesin propaganda luar negeri PKT kembali mendapat sorotan. Dalam laporan terbarunya, organisasi hak asasi manusia internasional Safeguard Defenders mewawancarai delapan mantan karyawan asing CGTN. Mereka mengungkap bagaimana PKT memasukkan sensor berita ke dalam setiap tahap, mulai dari peliputan, penyuntingan naskah hingga penyiaran.

Di permukaan, CGTN mengklaim menjunjung “objektivitas dan keseimbangan”. Namun pada kenyataannya, media tersebut merupakan corong propaganda luar negeri yang dikendalikan PKT. Komentator politik yang tinggal di Amerika Serikat, Lan Shu, mengatakan bahwa stasiun televisi tersebut pada dasarnya adalah versi luar negeri CCTV. Para jurnalis harus mematuhi tuntutan politik Beijing; jika tidak, mereka berpotensi diberhentikan.

Komentator politik Lan Shu: “Media milik Partai harus tunduk kepada Partai. CGTN, misalnya, adalah versi luar negeri CCTV. Pada dasarnya, tuntutannya sama seperti CCTV. Jika Anda tidak memiliki tingkat loyalitas politik kepada Beijing seperti yang dituntut dari para wartawan CCTV, mereka akan meminta Anda pergi.”

Laporan terbaru dari organisasi hak asasi manusia internasional Safeguard Defenders

Skandal PKT yang memaksa orang memberikan “pengakuan bersalah” di televisi kembali diungkap oleh mantan karyawan asing CGTN.

Pada 2019, Simon Cheng, mantan pegawai Konsulat Jenderal Inggris di Hong Kong, ditahan oleh polisi PKT dan kemudian dipaksa tampil di televisi untuk “mengakui kesalahan”. CGTN tidak hanya menggunakan rekaman pengakuan tersebut untuk membantah wawancara Cheng dengan BBC, tetapi juga membuat narasi bahwa ia ditahan karena “mengunjungi pekerja seks”.

Seorang mantan editor asing CGTN secara terus terang mengatakan bahwa itu merupakan naskah terburuk yang pernah ia edit. Namun, karena pimpinan memerintahkan agar laporan tersebut disiarkan, para karyawan hanya bisa menjalankannya.

Bahkan, ada yang mengungkapkan bahwa video pengakuan tersebut diam-diam disisipkan ke dalam daftar materi siaran. Meskipun para karyawan asing mengetahui adanya masalah, mereka hanya bisa diam.

Lan Shu : “Media-media ini harus menyelesaikan tugas propaganda luar negeri yang diberikan PKT kepada mereka. Terutama dalam beberapa tahun terakhir, ketika hubungan AS–Tiongkok mengalami perubahan yang sangat drastis dan perekonomian internal Tiongkok juga mengalami kemerosotan. Ekspor menjadi sumber utama perekonomian dan pendapatan fiskalnya. Dalam kondisi seperti ini, kita bisa membayangkan bahwa tugas propaganda luar negerinya menjadi sangat berat.”

“PKT telah menerapkan blokade menyeluruh terhadap kebebasan berbicara, informasi, dan pemberitaan bagi seluruh rakyat yang berada di bawah kekuasaannya selama puluhan tahun,” kata Wakil ketua Aliansi Demokrasi Hong Kong (Hong Kong Alliance in Support of Patriotic Democratic Movements of China) dan juru bicara Independent Chinese PEN Center, Sheng Xue. 

“Karena itu, mereka telah mencurahkan banyak upaya di bidang ini, bahkan sampai memasuki dunia demokratis untuk membeli atau memengaruhi orang-orang di negara-negara demokrasi tersebut. Salah satu sasaran utamanya adalah kalangan media,” jelasnya. 

Analis menilai, seiring Amerika Serikat dan negara-negara besar lainnya memberlakukan undang-undang terkait, termasuk undang-undang mengenai agen asing, serta memperkuat pencegahan terhadap represi lintas negara yang dilakukan PKT, langkah-langkah tersebut diharapkan dapat menciptakan tekanan yang lebih besar dan membuat semakin banyak orang memahami hakikat propaganda luar negeri PKT.

Sheng Xue: “Saat ini sejumlah negara utama, khususnya Amerika Serikat, telah mengeluarkan sejumlah undang-undang dan peraturan yang ditujukan terhadap PKT, termasuk undang-undang mengenai agen asing. Selain itu, kini juga terdapat sejumlah langkah untuk menghadapi represi lintas negara yang dilakukan PKT.” 

“Setelah semua ini perlahan membentuk tekanan arus utama tertentu, saya rasa orang-orang yang berani melakukan hubungan atau kerja sama terbuka dengan PKT, khususnya kalangan media, akan semakin sedikit.”

Laporan wawancara oleh Yi Xin dan Li Yun, NTD Television.

Shanghai Juga Jadi Seperti Xinjiang? Dikabarkan Pisau di Toko Pasar Tradisional Harus Digembok

Kebijakan “menjaga stabilitas” oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) semakin ekstrem. Tren penguncian pisau yang digunakan untuk berjualan di pasar-pasar Xinjiang kini disebut-sebut mulai menyebar ke berbagai wilayah Tiongkok. Seorang pemilik kios daging di sebuah pasar tradisional di Shanghai mengungkapkan bahwa pihak pasar telah memerintahkan agar pisau dipasangi rantai pengaman.

EtIndonesia.com Pada 9 September, seorang pedagang daging di Pasar Hasil Tani Rongnan, Distrik Songjiang, Shanghai, mengunggah video dan mengungkapkan bahwa dirinya telah menerima pemberitahuan yang mewajibkan pisau yang digunakan untuk berjualan diperkuat dengan rantai besi. Pedagang tersebut mengingatkan rekan-rekannya di Shanghai: “Sekarang semua pisau harus dikunci!”

Video tersebut memperlihatkan pedagang sedang berjualan daging. Pada bagian ujung gagang dua buah pisau di atas meja pemotong daging, dipasang kabel baja.

Selain itu, pemilik kios daging lainnya juga mengunggah video atau foto yang menunjukkan bahwa pisau di toko mereka telah dipasangi kabel baja atau rantai besi untuk mengamankannya.

Ada pula pedagang yang menyampaikan kembali isi pemberitahuan resmi: semua pisau harus dipasangi rantai pengaman. Bagi yang tidak melaksanakannya, akan diperintahkan untuk melakukan perbaikan. Jika terjadi kecelakaan, pedagang akan menanggung tanggung jawab yang bersangkutan.

Ketika video-video tersebut beredar, ada warganet yang menambahkan suara latar berbunyi, “Ini benar-benar keterlaluan.” Banyak netizen juga terkejut dan berkomentar: “Ini Shanghai?!”

Sebelumnya, PKT selalu menggambarkan Shanghai sebagai “kota internasional”. Namun, seiring PKT terus memperketat pengendalian sosial, citra Shanghai sebagai kota yang disebut-sebut memiliki “standar peradaban perkotaan tertinggi di Tiongkok” perlahan mulai runtuh.

Pada tahun 2020, Shanghai mengikuti kebijakan “zero-COVID dinamis” yang diterapkan PKT dan memberlakukan lockdown serta pengendalian pandemi yang ketat. Setelah pembatasan dicabut, banyak warga asing yang tinggal di Shanghai meninggalkan kota tersebut. Bahkan, para orang kaya dan kelas menengah setempat juga berlomba-lomba bermigrasi ke luar negeri.

Di Xinjiang, penguncian pisau di toko-toko dan pisau yang digunakan untuk berjualan di pasar tradisional telah diterapkan selama bertahun-tahun. Saat ini, tindakan pengendalian semacam itu disebut telah muncul di sejumlah provinsi, bahkan sudah diterapkan di Beijing. Kini kebijakan tersebut kembali dilaporkan menyebar ke Shanghai, sehingga memicu perhatian warganet.

Di media sosial luar negeri, warganet mengejek PKT karena dianggap begitu takut rakyat melakukan perlawanan hingga menjadi “terlalu waspada terhadap segala sesuatu”.

Komentar-komentar yang beredar antara lain:

  • “Seperti kembali ke zaman Dinasti Yuan, ketika orang-orang Mongol berkuasa.”
  • “Sepuluh keluarga di Tiongkok mungkin hanya boleh menggunakan satu pisau dapur; kalau terjadi sesuatu, semuanya ikut bertanggung jawab.”
  • “Seberapa takut sebenarnya Partai Komunis terhadap rakyat sampai seperti ini?”
  • “Bahkan Dinasti Qing juga mengendalikan kepemilikan pisau. Ada hubungannya dengan runtuhnya rezim itu dan pisau? ××.”

Sumber : NTDTV.com 

Warga Tionghoa di Luar Negeri, Hati-Hati Saat Kembali ke Tiongkok! Tiga Jebakan Bisa Membuat Anda Tidak Bisa Pulang

Aturan Baru Berlaku 15 September: Beijing Menggunakan Identitas, Data, dan Keluarga untuk Membuat Anda Tak Bisa Pulang ke Luar Negeri

EtIndonesia.com — Pada 25 Agustus 2026, sebuah putusan pidana dengan hukuman tiga tahun penjara bagaikan guyuran air es bagi warga Tionghoa di seluruh dunia.  Tak lama kemudian, aturan baru tentang keluar-masuk negara yang memperluas penerapan “pengendalian perbatasan” dan mulai berlaku pada 15 September semakin membayangi perjalanan warga keturunan Tionghoa yang hendak pulang ke tanah leluhur.

Kunjungan Keluarga yang Tak Memiliki Perjalanan Pulang

Dua tahun lalu, seorang seniman yang tinggal di Amerika Serikat, Gao Shen, pulang ke Tiongkok untuk mengunjungi keluarganya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa yang menantinya adalah proses persidangan selama dua tahun dan hukuman tiga tahun penjara. Alasan penangkapannya hanyalah karya seni satir yang dibuatnya di luar negeri bertahun-tahun sebelumnya.

 Istrinya dan putra bungsunya yang berkewarganegaraan Amerika Serikat juga dikenai “larangan meninggalkan negara” dengan alasan “membantu penyelidikan”. Hingga kini, mereka masih terjebak di Tiongkok.

Ini bukan kasus yang berdiri sendiri, melainkan awal dari gelombang perubahan sistemik yang sedang digulirkan Beijing: orang yang memasuki Tiongkok, khususnya warga keturunan Tionghoa, dapat ditahan atau “dijatuhi hukuman”; dan penyebabnya tidak harus berupa sesuatu yang dilakukan saat ini, tetapi bisa berupa ucapan, tindakan, atau unggahan di internet yang dibuat bertahun-tahun sebelumnya. 

Orang yang ditahan juga tidak selalu hanya pelaku yang menjadi sasaran. Bahkan kewarganegaraan Amerika Serikat sekalipun belum tentu berguna.

Laporan penelitian besar Telinga di Balik Tembok Tinggi—Studi tentang Sistem Intelijen Khusus Partai Komunis TIongkok (PKT) dan Studi Struktur Aparat Keamanan PKT, yang diperoleh dan dianalisis secara eksklusif oleh The Epoch Times, membedah tiga “jebakan” yang tersembunyi di balik kehangatan perjalanan pulang untuk mengunjungi keluarga bagi para profesional dan warga keturunan Tionghoa di seluruh dunia.

Aturan Baru Keluar-Masuk Negara Menyimpan Jebakan: Pulang ke Tanah Leluhur Bisa Berarti “Masuk dan Tak Bisa Keluar”

Aturan baru yang direvisi Dewan Negara Tiongkok, Ketentuan Dewan Negara tentang Administrasi Keluar dan Masuk Negara, akan resmi berlaku pada 15 September 2026. Pasal 4 dan Pasal 6 ibarat cek kosong administratif yang diberikan kepada aparat keamanan di tingkat bawah.

Pasal 4 menetapkan bahwa warga negara Tiongkok yang dinilai melakukan kegiatan di luar negeri yang “membahayakan keamanan dan kepentingan negara” dapat dilarang meninggalkan Tiongkok selama enam bulan hingga tiga tahun setelah kembali ke negara tersebut. Pasal 6 memberikan kewenangan untuk tidak memberitahukan terlebih dahulu kepada pihak yang bersangkutan ketika kasus menyangkut keamanan nasional atau penyelidikan pidana.

Ketika aturan baru ini dibaca berdampingan dengan putusan hukuman dalam kasus Gao Shen, sebuah kenyataan serius kini terbentang di hadapan seluruh warga Tionghoa di luar negeri:

Setelah 15 September, warga Tionghoa di luar negeri tertentu dapat baru menyadari setelah kembali ke Tiongkok bahwa mereka telah terperosok ke dalam perangkap “masuk tetapi tidak bisa kembali”, hanya karena ucapan, pekerjaan, atau hubungan sosial mereka di luar negeri.

Sejak 2023 hingga sekarang, Departemen Luar Negeri AS terus mengeluarkan peringatan perjalanan, termasuk peringatan bahwa otoritas Beijing dapat menganggap informasi publik, bahan penelitian, atau data statistik sebagai rahasia negara. Bahkan pesan elektronik pribadi yang mengkritik pemerintah PKT dapat berujung pada penahanan atau pengusiran.

Jebakan Pertama: Perebutan Hak untuk Menentukan Status Identitas

“Sertifikat naturalisasi membuktikan bahwa Anda adalah warga negara asing, tetapi tidak menjamin pemerintah PKT akan mengakuinya.”

Dalam pola pikir banyak warga Tionghoa di luar negeri, memiliki paspor asing atau status penduduk tetap asing—seperti green card—dianggap sama dengan memiliki jimat pelindung. Namun, laporan eksklusif The Epoch Times secara tegas menunjukkan bahwa ketika menangani urusan politik, sosial, dan keamanan nasional, “politik” selalu ditempatkan di atas “hukum” oleh PKT.

Sistem partai-negara ini secara cermat membagi warga Tionghoa di luar negeri menjadi tiga kategori dan menerapkan pengambilalihan status identitas serta administratif secara tidak seimbang.

1. Pemegang Paspor Tiongkok yang Memiliki Green Card di Luar Negeri

Pasal 4 aturan baru tersebut menjadi pedang yang secara langsung menggantung di atas kelompok ini.

Setiap aksi yang Anda ikuti di luar negeri, setiap komentar yang Anda sampaikan, bahkan setiap unggahan ulang di grup pribadi, dapat menjadi alasan untuk membatasi hak Anda meninggalkan Tiongkok setelah kembali ke negara itu.

2. Mantan Warga Negara Tiongkok yang Telah Menjadi Warga Negara Asing

Inilah wilayah abu-abu hukum yang paling mudah diabaikan.

Berdasarkan Pasal 9 Undang-Undang Kewarganegaraan Tiongkok sendiri, warga negara Tiongkok yang menetap di luar negeri dan secara sukarela memperoleh kewarganegaraan asing secara otomatis kehilangan kewarganegaraan Tiongkok.

Namun, peraturan PKT menyisakan dua celah: “menetap” dan “pencabutan status kependudukan.”

Banyak orang yang setelah menjadi warga negara asing tidak secara resmi membatalkan registrasi rumah tangga (hukou) atau kartu identitas Tiongkok mereka. Bahkan, demi kemudahan masuk ke Tiongkok, sebagian mengurus “dokumen perjalanan Tiongkok” atau “izin pulang”.

Di bawah mekanisme pencocokan data lintas departemen dari rezim PKT, selama masih tersisa sedikit saja “keterkaitan dengan Tiongkok”, aparat keamanan dapat secara administratif menganggap seseorang sebagai “warga negara Tiongkok”.

Selain itu, Pasal 18 aturan baru keluar-masuk negara secara jelas mendefinisikan bahwa “lembaga administrasi imigrasi”—yakni departemen administrasi imigrasi nasional, lembaga pemeriksaan perbatasan keluar-masuk, serta lembaga administrasi keluar-masuk kepolisian di tingkat daerah—merupakan unit yang secara langsung menerapkan penentuan status tersebut.

Sederhananya, status asing Anda bukan ditentukan oleh paspor, melainkan oleh sistem partai-negara.

Hal ini jelas meningkatkan ketidakpastian keamanan bagi warga Tionghoa di luar negeri ketika masuk dan keluar dari Tiongkok.

A. Tidak membatalkan hukou.

Menurut peraturan PKT, setelah menjadi warga negara asing, jika seseorang tidak secara resmi membatalkan registrasi rumah tangganya, ia dapat menghadapi risiko pembatalan paksa dan sanksi ketika kembali ke Tiongkok.

Risikonya antara lain dapat diwajibkan membatalkan hukou secara paksa, bahkan untuk sementara waktu dilarang meninggalkan Tiongkok, dikenai denda, atau dikenai pembatasan keluar-masuk negara.

Satu ketentuan ini saja sudah dapat menjadi persoalan besar bagi banyak warga Tionghoa di luar negeri dan menanamkan “ranjau” dalam perjalanan pulang mereka.

Bahkan jika seseorang mengikuti prosedur pencabutan status kewarganegaraan sesuai aturan PKT, risiko tetap ada.

Misalnya, pemimpin redaksi Baqi Culture asal Taiwan, Li Yanhe, justru menghilang dan ditangkap pada 2023 ketika melakukan perjalanan ke Shanghai untuk mengurus pembatalan status kependudukan Tiongkok. Prosedur yang seharusnya menjadi langkah untuk “keluar” dari sistem justru berubah menjadi situasi yang berujung pada penahanannya.

B. Menggunakan dokumen perjalanan Tiongkok, izin pulang, atau paspor asing untuk masuk.

Jika seseorang masuk menggunakan paspor asing, tetapi sebelumnya pernah berkewarganegaraan Tiongkok dan belum menyelesaikan proses “pelepasan/pencabutan kewarganegaraan”, ketika tersangkut suatu kasus, PKT masih dapat secara sepihak membekukan penggunaan paspor asingnya dan mengadili orang tersebut sebagai warga negara Tiongkok, seperti dalam kasus Gao Shen.

Jika menggunakan dokumen perjalanan Tiongkok untuk masuk, seseorang sudah pasti dipandang sebagai warga negara Tiongkok.

Sementara itu, penduduk Hong Kong dan Makau yang masuk menggunakan izin pulang, meskipun memiliki paspor asing, berdasarkan interpretasi khusus Kongres Rakyat Nasional Tiongkok terhadap Undang-Undang Kewarganegaraan yang berlaku di Hong Kong dan Makau, pada prinsipnya tetap hanya diakui dalam kapasitas sebagai warga negara Tiongkok.

Departemen Luar Negeri AS dalam peringatan perjalanan terbarunya mengenai Tiongkok juga secara khusus memperingatkan bahwa masuk menggunakan “dokumen perjalanan Tiongkok”, atau masih memiliki kartu identitas dan hukou Tiongkok, dapat sangat menghambat kemampuan konsulat AS untuk memberikan bantuan dan perlindungan konsuler.

3. Warga Keturunan Tionghoa yang Lahir di Luar Negeri

Perselisihan mengenai kewarganegaraan mungkin lebih sedikit terjadi pada kelompok ini. Namun, jika orang tua mereka memiliki kewarganegaraan Tiongkok, PKT masih dapat, dalam kasus tertentu yang berkaitan dengan faktor geografis atau politik, “secara paksa menetapkan” bahwa mereka memiliki kewarganegaraan Tiongkok, atau memberlakukan pemeriksaan tambahan.

Putra Gao Shen yang berusia tujuh tahun dan lahir di Amerika Serikat kini ditahan oleh PKT. Kasus tersebut menjadi salah satu contohnya.

Di kalangan organisasi hak asasi manusia internasional, tindakan semacam ini dikritik sebagai bentuk klasik “hukuman berdasarkan keterkaitan keluarga”.

Jebakan Kedua: Jebakan Data—Kehidupan di Luar Negeri Masuk ke Tiongkok Bersama Ponsel

“Risiko tidak hanya berasal dari apa yang Anda katakan atau lakukan setelah kembali, tetapi juga dari jejak digital yang Anda tinggalkan di luar negeri sebelum pulang.”

Pemerintah Kanada secara jelas memperingatkan dalam nasihat perjalanannya bahwa petugas perbatasan PKT kemungkinan besar dapat memeriksa telepon seluler dan perangkat elektronik lainnya saat seseorang memasuki Tiongkok. Otoritas PKT juga dapat menganggap ucapan atau tindakan yang dilakukan di luar negeri sebagai tindakan yang membahayakan keamanan nasional atau ketertiban sosial.

Menurut laporan eksklusif The Epoch Times, ini bukan sekadar pemeriksaan acak oleh petugas bea cukai, melainkan titik awal dari integrasi antara “lapisan teknologi data” dan “lapisan pelaksana profesional” PKT.

Ketika ponsel Anda dibuka oleh petugas pemeriksaan perbatasan, daftar kontak, riwayat WeChat, grup Telegram, album foto di penyimpanan awan, bahkan daftar pelanggan dalam email pekerjaan dapat dimasukkan ke dalam platform big data dan dicocokkan dengan basis data “orang-orang yang menjadi sasaran” serta basis data “keamanan politik” milik sistem partai-negara.

Laporan The Epoch Times secara rinci membedah model lingkaran tertutup “tindakan di luar negeri—bukti data—penindakan di dalam negeri”.

Tindakan di luar negeri yang dapat diberi label baru:

Mengikuti aksi protes di luar negeri, memperingati “4 Juni” atau mendukung kegiatan terkait Hong Kong; berhubungan dengan pembangkang, kelompok agama, atau organisasi etnis minoritas; meneruskan berita yang mengkritik PKT secara pribadi di dalam grup; bekerja untuk media atau lembaga penelitian di luar negeri; serta mengumpulkan data publik mengenai perusahaan Tiongkok atau industri militer di negara-negara bebas.

Hal-hal yang sepenuhnya legal dalam kehidupan sehari-hari di luar negeri tersebut dapat, setelah memasuki Tiongkok, sewaktu-waktu diklasifikasikan kembali berdasarkan Undang-Undang Antispionase dan Undang-Undang tentang Menjaga Rahasia Negara Tiongkok sebagai “pencurian rahasia negara, intelijen” atau “membantu kekuatan asing yang bermusuhan”.

Kasus yang memicu jebakan:

Zhang Yadi (Tara), seorang perempuan muda yang pernah belajar di Prancis dan aktif memperjuangkan hak asasi manusia Tibet serta dialog lintas kelompok etnis, ditangkap secara tiba-tiba pada musim panas 2025 ketika melakukan perjalanan ke Shangri-La, Yunnan.

Sementara itu, Li Yanhe (Fucha), yang telah lama bekerja di Taiwan dalam bidang penerbitan sensitif, juga menghilang dari ruang publik tak lama setelah kembali ke Shanghai.

Pengalaman mereka menggambarkan dengan sempurna jebakan data dalam masyarakat otoriter: tubuh Anda mungkin berada di luar negeri dan menikmati kebebasan, tetapi jaringan big data PKT dan sistem pengawasan luar negerinya telah lebih dahulu membangun berkas politik mengenai Anda di dalam Tiongkok.

Yang diperlukan hanyalah Anda melangkah melewati perbatasan. Saat itulah perangkap dapat menutup secara presisi dan menangkap Anda.

Jebakan Ketiga: Menjadikan Hubungan Keluarga sebagai “Sandera”—Menggunakan Orang yang Paling Sulit Anda Tinggalkan untuk Mengendalikan Anda

“Yang ingin dikendalikan PKT bukan hanya Anda, tetapi juga orang-orang yang paling Anda cintai dan paling sulit Anda tinggalkan, menjadikan mereka tali untuk mengendalikan Anda dari jarak jauh.”

Inilah yang diungkap laporan The Epoch Times sebagai “jebakan hubungan” yang paling tidak manusiawi dalam sistem partai-negara.

Larangan meninggalkan Tiongkok dan penempatan agen intelijen oleh Beijing tidak terbatas pada terdakwa kasus pidana. Otoritas sangat memahami konsep “bakti kepada orang tua” dan “ikatan keluarga” dalam budaya tradisional Tiongkok, kemudian membongkar dan mengubahnya menjadi alat penyiksaan yang paling kejam.

Keterikatan keluarga dan “pemerasan emosional”

Seperti dalam kasus Gao Shen, putra bungsunya yang berkewarganegaraan Amerika dan istrinya bukanlah pihak yang dituduh melakukan pelanggaran. Namun, keduanya ditahan di Tiongkok dan dijadikan “sandera” untuk memaksa Gao Shen bekerja sama dan mengaku bersalah.

Dalam logika operasional aparat keamanan nasional, metode ini disebut “pendidikan dan bantuan yang ditempatkan berdampingan dengan pemaksaan”—partai-negara tidak perlu secara langsung menyiksa Anda secara fisik; mereka hanya perlu menyiksa orang yang paling dekat dengan Anda di depan mata Anda.

Matriks risiko keterkaitan

Mereka yang pernah bekerja di pemerintahan, sektor teknologi, industri militer, atau perusahaan milik negara: selama mengunjungi keluarga, mereka sewaktu-waktu dapat dipanggil untuk diwawancarai dan diminta “menjelaskan secara rinci pekerjaan di luar negeri serta daftar pelanggan”. Jika menolak, mereka dapat dilarang meninggalkan Tiongkok dengan alasan terlibat dalam informasi rahasia.

Mereka yang terlibat dalam kegiatan keagamaan, hak asasi manusia, atau organisasi masyarakat: pensiun, tunjangan hari tua, atau pekerjaan anggota keluarga di dalam negeri dapat “diikat” sebagai bentuk tekanan. Mereka dapat dipaksa memberikan daftar nama dan foto anggota komunitas di luar negeri, atau setelah kembali ke luar negeri tetap berperan sebagai “alat penyelidik” yang melaporkan informasi.

Batas keterkaitan tidak berhenti pada keluarga.

The Epoch Times baru-baru ini mewawancarai pembangkang Sun Yuanping, yang telah berada di bawah pengendalian perbatasan PKT selama tujuh tahun.

Tak lama setelah ia melarikan diri dari Tiongkok, Kementerian Keamanan Publik membentuk tim khusus. Penyelidikan kemudian diperluas dari dirinya kepada teman-teman yang sama sekali tidak mengetahui apa pun tentang kegiatannya. Beberapa di antaranya ditahan, sehingga secara keseluruhan sekitar 17 atau 18 orang ikut terseret.

Polisi kemudian menyampaikan pesan kepadanya melalui saudara perempuannya agar ia “berhenti berbicara di luar negeri dan tidak lagi menerima wawancara media.”

Penilaian Risiko yang Sesungguhnya Bukanlah “Apakah Saya Menentang PKT?”

Di kalangan warga Tionghoa di luar negeri, selama ini beredar beberapa asumsi yang memberikan rasa aman palsu:

“Saya hanya pegawai biasa dan tidak memegang rahasia.”

“Komentar saya hanya diposting di grup pribadi yang anggotanya sedikit.”

“Saya pulang hanya untuk menjenguk orang tua. Saya sudah berkali-kali pulang dan tidak pernah mengalami masalah.”

“Saya sudah mengganti paspor dengan paspor asing. Kalau terjadi sesuatu, paling tidak saya bisa meminta bantuan kedutaan atau konsulat.”

Namun, ketiga jebakan tersebut menunjukkan bahwa tidak satu pun dari asumsi itu dapat menjamin keselamatan secara mandiri.

Sebab pertanyaan yang diajukan Beijing bukanlah semata-mata “Apakah Anda melanggar hukum atau menentang PKT?”

Sebaliknya, ada tiga pertanyaan yang lebih mendasar:

Pertama, warga negara negara mana yang mungkin akan ditetapkan sebagai diri saya oleh sistem partai-negara?

Kedua, catatan apa saja dari kehidupan saya di luar negeri yang dapat diklasifikasikan ulang dan digunakan terhadap saya?

Ketiga, apakah hubungan keluarga, aset, dan hubungan sosial saya dengan Tiongkok dapat dijadikan “sandera tersembunyi” untuk memaksa saya tunduk?

Pahami logika operasi sistem tersembunyi ini. Jika tidak, perjalanan pulang untuk mengunjungi keluarga yang seharusnya memiliki tiket pulang dapat sewaktu-waktu berubah menjadi jalan satu arah yang membawa Anda kembali ke balik jeruji.

Buku penelitian eksklusif The Epoch Times, Telinga di Balik Tembok Tinggi: Studi tentang Sistem Intelijen Khusus PKT dan Studi Struktur Aparat Keamanan PKT: Unit Operasional Garis Depan Pengendalian Sosial, kini telah tersedia secara global dalam format elektronik.

Judul asli: [Eksklusif] Tiga Jebakan bagi Warga Tionghoa di Luar Negeri yang Pulang ke Tiongkok

Ditransfer dari The Epoch Times / Editor Yue Yuan

Memulihkan Kepercayaan: Tempat yang Layak Bagi Taiwan di Dunia Bebas

oleh Dr. Lin Chia-lung, Minister of Foreign Affairs ROC (Taiwan)

Tatanan internasional yang berbasis aturan kini berada di bawah tekanan yang terus meningkat seiring upaya negara-negara otoriter melemahkan perlindungannya dan membentuk kembali aturan internasional demi kepentingan mereka sendiri.

Bahkan prinsip-prinsip mendasar mengenai penyelesaian sengketa secara damai serta larangan mengancam atau menggunakan kekuatan, yang tercantum dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), secara terbuka ditentang dan dilanggar secara terang-terangan.

Saat ini, komunitas internasional berada di titik kritis. Kita harus memilih: bertindak bersama untuk menegakkan keadilan, membela supremasi hukum, serta mempertahankan perdamaian dan keamanan, atau kita menyaksikan tatanan dunia perlahan runtuh, dan kebebasan, hak menentukan nasib sendiri, serta demokrasi ikut runtuh bersamanya.

Tidak banyak tempat yang memperlihatkan kondisi ini secara lebih nyata dibandingkan kawasan Rantai Pulau Pertama Indo-Pasifik. Keamanan kawasan berada di bawah tekanan yang kian meningkat dari Tiongkok, yang terus menggunakan taktik zona abu-abu, termasuk intimidasi militer, intrusi siber, dalam upaya mengubah aturan dan norma yang berlaku secara sepihak.

Sebagai garda terdepan dalam mempertahankan kebebasan dan demokrasi, Taiwan akan terus teguh mempertahankan status quo. Namun, menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan bukan semata-mata kepentingan Taiwan. Hal tersebut merupakan kepentingan bersama komunitas internasional.

Selat Taiwan merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia sekaligus jalur vital bagi rantai pasok internasional.

Pentingnya selat ini bagi keamanan dan kemakmuran global tercermin dalam berbagai pernyataan G7 serta pertemuan tingkat tinggi dan pertemuan tingkat menteri yang melibatkan Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Australia, Selandia Baru, dan negara-negara lainnya. Negara-negara tersebut merupakan bagian dari semakin banyak suara di seluruh dunia yang menegaskan pentingnya perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan.

Keutuhan tatanan internasional berbasis aturan juga dirongrong oleh kesengajaan Tiongkok dalam menyalahartikan Resolusi Majelis Umum PBB 2758. Resolusi yang diadopsi pada 1971 tersebut membahas persoalan mengenai perwakilan Tiongkok di PBB. Teks resolusi tersebut tidak menyebut Taiwan, tidak menentukan status politik Taiwan, dan tidak membahas partisipasi Taiwan dalam sistem PBB.

Namun Tiongkok telah mendistorsi Resolusi 2758 Majelis Umum PBB dengan secara keliru menyamakannya dengan “prinsip Satu Tiongkok” dan menggunakan resolusi untuk menghalangi partisipasi Taiwan di PBB dan organisasi internasional lainnya. Jika dibiarkan, distorsi ini dapat menjadi preseden hukum yang berbahaya dan menjadi dalih untuk aksi militer di Selat Taiwan di masa mendatang.

Meskipun dikecualikan dari PBB, Taiwan bertekad untuk tetap menjadi kekuatan yang memberikan kontribusi positif. Keunggulan yang dimiliki Taiwan dalam bidang manufaktur maju, kesiapsiagaan bencana, dan kesehatan masyarakat dapat memberikan kontribusi dalam berbagai bentuk bagi komunitas internasional.

Taiwan menerapkan kebijakan luar negeri yang terintegrasi dan memberikan nilai tambah, yang berlandaskan pada penguatan aliansi demokratis, peningkatan keamanan bersama, dan pembangunan ketahanan ekonomi.

Bekerjasama dengan mitra-mitra yang memiliki kesamaan pandangan, Taiwan terus mendorong demokrasi, hak asasi manusia, dan kebebasan di seluruh dunia. Sebagai pemimpin di bidang semikonduktor, kecerdasan buatan, dan teknologi, Taiwan berkomitmen untuk membangun rantai pasok yang aman, tangguh, dan bebas dari ketergantungan terhadap rezim otoriter.

Melalui Diplomatic Allies Prosperity Project, Taiwan terus mendorong kemakmuran bersama dengan para mitranya. Taiwan menyumbangkan keahlian dan sumber dayanya untuk berbagai proyek berbasis teknologi, bekerja sama dengan sekutu diplomatiknya guna mengatasi berbagai tantangan pembangunan dan meningkatkan kapasitas lokal.

Contoh nyata antara lain pembangunan sistem informasi layanan kesehatan terpadu dengan Paraguay, pembangunan fasilitas cadangan minyak strategis di Eswatini, dan kerjasama dengan Palau National Hospital dalam bidang layanan kesehatan pintar. Berbagai inisiatif tersebut telah memperkuat pengelolaan data dan efisiensi, meningkatkan ketahanan energi, mendorong pertumbuhan industri, serta memajukan pembangunan berkelanjutan.

Khalilur Rahman, Presiden Terpilih Majelis Umum PBB ke-81 yang akan datang, telah menetapkan pemulihan kepercayaan dan pengelolaan transformasi kelembagaan sebagai tema utama kepemimpinannya. Taiwan memiliki tujuan yang sama dan siap membantu mewujudkannya.

Memulihkan kepercayaan terhadap PBB harus dimulai dengan memperlakukan setiap anggota komunitas internasional dengan cara yang adil dan setara. Transformasi tidak akan dapat terlaksana secara utuh selama masih ada anggota komunitas internasional yang konstruktif dan dapat dipercaya namun secara tidak adil tetap dikecualikan.

Kami menyerukan kepada komunitas internasional untuk menjunjung tinggi prinsip inklusivitas, tidak meninggalkan siapa pun, menyelesaikan sengketa secara damai, serta tidak mengancam maupun menggunakan kekuatan. Prinsip-prinsip tersebut merupakan landasan tatanan internasional berbasis aturan dan harus diterapkan secara konsisten tanpa pengecualian.

Dunia bebas membutuhkan Taiwan dan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang lebih kuat serta lebih kredibel membutuhkan partisipasi Taiwan yang bermakna. Bekerja bersama Taiwan akan memperkuat keamanan bersama, meningkatkan ketahanan ekonomi dan teknologi, serta memperkuat kapasitas kita bersama dalam menghadapi tekanan dari rezim otoriter.

Oleh karena itu, memastikan partisipasi Taiwan yang bermakna di Perserikatan Bangsa Bangsa merupakan hal yang sangat penting untuk membangun tatanan internasional yang lebih inklusif, aman, tangguh, dan berbasis aturan. (***)

Rusia Gencarkan Serangan ke Ukraina, Zelenskyy Kunjungi Kanada Cari Dukungan Pertahanan Udara 

Di tengah perang Rusia-Ukraina yang terus meningkat, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy tiba di Kanada untuk melakukan kunjungan selama tiga hari. Ia berharap dapat memperoleh lebih banyak bantuan militer, khususnya sistem pertahanan udara yang saat ini sangat dibutuhkan Ukraina.

EtIndonesia.com Zelenskyy tiba di Calgary pada Rabu malam (9 September), didampingi Ibu Negara Olena Zelenska. Dalam agendanya, ia akan mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri Kanada Mark Carney dan menuju Banff untuk menyampaikan pidato kepada para anggota kabinet Kanada.

Fokus pembahasan kedua pihak mencakup penguatan kerja sama di bidang pertahanan, ekonomi, dan energi, serta bantuan kepada Ukraina dalam menghadapi musim dingin yang akan datang.

Sementara itu, di medan perang, Rusia belakangan ini secara signifikan meningkatkan serangan udara terhadap Ukraina. Pada Kamis (10 September), drone Rusia menghantam sebuah stasiun pengisian bahan bakar di Kyiv, menyebabkan empat orang terluka. Sebuah pabrik minyak bunga matahari di Dnipro yang dioperasikan oleh perusahaan Amerika Serikat juga diserang, menewaskan dua orang dan melukai lima lainnya.

Ukraina saat ini menghadapi kekurangan sistem pertahanan udara dan rudal pencegat, sementara tekanan untuk melindungi kota-kota dan fasilitas energi terus meningkat. Pada saat yang sama, Ukraina juga memperluas serangan jarak jauhnya terhadap target-target di wilayah Rusia.

Pihak Ukraina mengklaim bahwa dalam beberapa waktu terakhir mereka telah menyerang fasilitas gas alam di Siberia, serta pelabuhan militer dan sejumlah target energi di sepanjang pesisir Laut Hitam.

Kedua pihak kini semakin meningkatkan serangan terhadap sistem logistik dan energi satu sama lain. Perang Rusia-Ukraina masih belum menunjukkan tanda-tanda akan segera mencapai gencatan senjata.

Laporan gabungan wartawan NTD TV Wang Kaixuan

Iran Tukar Minyak dengan Barang dari Tiongkok, Mekanisme Penghindaran Sanksi Iran-Tiongkok Terungkap 

Media Amerika Serikat kembali mengungkap bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) masih melakukan transaksi secara diam-diam dengan Iran, membantu Iran menghindari sanksi Amerika Serikat. Investigasi menemukan bahwa dalam satu tahun terakhir, dana yang beredar melalui mekanisme transaksi rahasia yang dibangun oleh PKT tersebut kemungkinan mencapai US$2 miliar hingga US$2,5 miliar.

EtIndonesia.com  Iran menjual minyak, sementara PKT menyediakan berbagai barang kepada Iran. Namun, kedua pihak sengaja tidak membiarkan transaksi tersebut melewati jalur keuangan internasional yang normal.

Berdasarkan investigasi Reuters pada 10 September, Tiongkok dan Iran setidaknya sejak 2021 telah menggunakan mekanisme transaksi rahasia yang menyerupai sistem barter.

“Secara praktis, Iran menukar minyak dengan barang juga untuk menghindari sanksi internasional, terutama agar masyarakat internasional tidak dapat menemukan bukti. Kalau menggunakan dana untuk membeli barang, akan ada bukti dan celah yang bisa dijadikan pegangan. Jadi, menurut saya, mereka melakukan komunikasi dan transaksi nyata dengan PKT melalui sejumlah perusahaan, atau perusahaan cangkang,” kata Mark, blogger kanal militer Mark Space. 

Secara spesifik, mekanismenya adalah Iran menjual minyak yang terkena sanksi kepada Tiongkok. Pembayaran atas minyak tersebut tidak langsung ditransfer kembali ke Iran, tetapi tetap disimpan di Tiongkok. Ketika Iran membutuhkan barang dari Tiongkok, pendapatan dari penjualan minyak tersebut kemudian digunakan untuk membayar pembelian.

Dengan demikian, Iran dapat menggunakan minyak untuk mendapatkan barang-barang yang dibutuhkannya, sementara perusahaan-perusahaan Tiongkok tetap dapat menjalankan bisnis. Namun, aliran dana yang seharusnya melewati dolar AS dan sistem perbankan internasional sengaja dialihkan untuk menghindari jalur tersebut.

“Sejak 2021, sistem transaksi rahasia yang telah berlangsung sekitar lima tahun ini, seiring dengan hasil penyelidikan intelijen dan pemeriksaan keuangan oleh negara-negara Barat, menjadi semakin jelas. Saat ini kita melihat bahwa komunitas internasional telah memperoleh bukti institusional yang sangat jelas,” ujar Shen Ming-shih, peneliti di Institute for National Defense and Security Research (INDSR) Taiwan. 

Investigasi Reuters menemukan bahwa dalam satu tahun terakhir, dana yang beredar melalui mekanisme rahasia tersebut kemungkinan mencapai US$2 miliar hingga US$2,5 miliar.

Yang lebih penting, setidaknya satu transaksi kemungkinan melibatkan peralatan pertahanan udara senilai jutaan dolar.

Para analis menilai bahwa dengan terungkapnya transaksi dan aliran dana terkait, Tiongkok dan Iran kemungkinan akan menghadapi konsekuensi yang lebih besar.

“Jadi, meskipun ini baru merupakan pengungkapan oleh media, bukti-bukti terkait telah diselidiki dengan sangat jelas. Nama-nama pihak yang terlibat, cara operasinya, hingga jumlah uangnya semuanya sudah ada. Saya kira baik PKT maupun Iran tidak akan dapat menyangkalnya,” kata Shen Ming-shih. 

Laporan wartawan NTD TV, Yi Xin dan Qiu Yue

Kasus Huawei Disidangkan di New York, Jaksa: Selama 20 Tahun Huawei Mencuri Teknologi dan Berbohong 

EtIndonesia.com Setelah hampir delapan tahun menjalani proses hukum, Pengadilan Federal Distrik Timur New York secara resmi mulai menyidangkan kasus dugaan konspirasi pemerasan yang melibatkan raksasa teknologi Tiongkok, Huawei. Jaksa menuduh Huawei selama bertahun-tahun mencuri teknologi dari perusahaan-perusahaan Amerika Serikat untuk memperoleh keuntungan kompetitif secara tidak patut, sekaligus menghambat penyelidikan hukum. Berikut laporan selengkapnya dari wartawan NTD, Yu Liang.

Wartawan NTD : Pada Senin, Jaksa Federal AS Taylor Stout mengatakan kepada dewan juri bahwa inti kasus ini adalah tindakan “mencuri, berbohong, dan menutupi” yang menurut jaksa telah dilakukan Huawei selama sekitar 20 tahun.

Antara 1999 hingga 2020, Huawei dan perusahaan-perusahaan yang berafiliasi dengannya berulang kali memperoleh secara ilegal teknologi nonpublik dan rahasia dagang milik perusahaan-perusahaan AS. Menurut jaksa, hal tersebut memungkinkan Huawei menghemat biaya penelitian dan pengembangan serta memperoleh keuntungan ekonomi dalam jumlah besar.

Metode yang disebut dalam dugaan pelanggaran kekayaan intelektual tersebut antara lain melanggar perjanjian kerahasiaan, merekrut karyawan pesaing untuk mendapatkan informasi dari perusahaan tempat mereka sebelumnya bekerja, serta secara langsung menginstruksikan atau mendorong karyawan dan pihak ketiga untuk mencuri dan mengumpulkan rahasia produk milik pesaing.

Pada 2013, Huawei juga disebut pernah menerapkan kebijakan penghargaan internal yang mendorong karyawan mendapatkan informasi rahasia milik pesaing. Besaran bonus diberikan berdasarkan nilai komersial dari informasi yang diperoleh.

Jaksa menjadikan kekayaan intelektual dari enam perusahaan yang disebut sebagai korban sebagai bukti utama dalam kasus ini. Teknologi yang dimaksud mencakup kode sumber asli router, teknologi stasiun pemancar, teknologi antena komunikasi, serta robot penguji ponsel.

Keenam perusahaan tersebut adalah T-Mobile, Quintel, Cisco, Motorola Solutions, Fujitsu, dan CNEX Labs.

Dalam salah satu kasus, Huawei dan anak perusahaannya di AS diduga memperoleh kode sumber sistem operasi router milik perusahaan AS T-Mobile, kemudian mengintegrasikannya ke dalam produk mereka sendiri.

Setelah diduga mencuri teknologi antena komunikasi milik perusahaan Quintel, Huawei menggunakannya untuk mengajukan paten dan mengembangkan produknya sendiri, yang menurut jaksa menghasilkan keuntungan sekitar US$22 juta.

Selain itu, jaksa juga mengatakan bahwa dokumen internal Huawei pernah menggunakan kode tertentu untuk menyebut Iran dan Korea Utara, dan Huawei menjalankan kegiatan operasional melalui perusahaan-perusahaan yang berafiliasi di kedua negara tersebut.

Jaksa mengungkap bahwa pada 2017, Huawei berupaya memindahkan karyawan yang memahami kegiatan bisnis di Iran kembali ke Tiongkok untuk keluar dari yurisdiksi hukum AS. Huawei juga diduga menyembunyikan atau menghancurkan bukti-bukti terkait di wilayah AS, yang menurut jaksa merupakan tindakan menghalangi proses hukum.

Wartawan: Pada Rabu, saksi pertama yang memberikan kesaksian di pengadilan adalah seorang warga Amerika keturunan Iran. Ia mengatakan bahwa kegiatan bisnis Huawei di Iran mencakup membantu pemerintah Iran memantau masyarakat Iran, termasuk menganalisis warga Iran dan aktivitas mereka di dunia maya.

Jaksa juga mengatakan bahwa sejumlah mantan karyawan Huawei akan secara bertahap hadir di pengadilan untuk memberikan kesaksian.

Laporan wartawan NTDTV Yu Liang dan Hong Da dari New York

Israel Ledakkan Terowongan Hizbullah dengan Lebih dari 1.000 Ton Bahan Peledak, Terdeteksi Gempa Magnitudo 4,1 

EtIndonesia.com Israel pada Kamis (10 September) mengatakan telah menghancurkan sebuah terowongan penting yang dibangun oleh kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah, di bawah punggung bukit Ali al-Taher di Lebanon selatan. Ledakan “menimbulkan guncangan dan suara gemuruh yang sangat keras”. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) kemudian mencatat gempa bermagnitudo 4,1 di wilayah itu.

Menurut laporan AFP, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz mengatakan dalam pernyataan bersama bahwa terowongan tersebut merupakan “infrastruktur terorisme strategis yang dibangun selama lebih dari 20 tahun dengan pendanaan dan perencanaan dari Iran”. Hizbullah di Lebanon diketahui mendapat dukungan dari Iran, yang merupakan musuh utama Israel.

Seorang wartawan AFP yang berada di Lebanon selatan juga mengatakan bahwa pada malam 10 September ia mendengar “suara ledakan yang sangat besar”.

Seorang perwira mengatakan kepada AFP bahwa sebagian anggota kelompok bersenjata yang sebelumnya beroperasi di kawasan punggung bukit Ali al-Taher telah mundur, sementara yang lainnya “tewas dalam serangan udara dan penembakan artileri”.

Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan bahwa Israel melakukan “peledakan berskala besar” di punggung bukit Ali al-Taher di wilayah Nabatieh, yang “menimbulkan guncangan dan suara gemuruh yang sangat keras”. USGS kemudian melaporkan bahwa gempa bermagnitudo 4,1 terjadi di kawasan tersebut.

Militer Israel mengatakan kompleks bawah tanah tersebut mencakup pusat komando unit Hizbullah yang dikenal sebagai Badr. Fasilitas Hizbullah tersebut membentang lebih dari dua kilometer dan di dalamnya terdapat “puluhan roket, rudal, dan drone buatan Iran, serta senapan mesin, puluhan rudal antiranjau, dan ratusan ranjau serta alat peledak”.

Menurut laporan media Israel, ledakan tersebut menggunakan 1.100 ton bahan peledak. Ledakan itu menghancurkan delapan terowongan dengan total panjang 5,4 kilometer—sebuah jaringan bawah tanah yang menurut laporan dibangun Hizbullah selama 20 tahun dengan pendanaan dan perencanaan dari Iran.

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan dalam sebuah pernyataan pada 4 September, “Perebutan punggung bukit Ali al-Taher menandai selesainya tahap penguasaan zona keamanan di Lebanon selatan.” Hal tersebut semakin memperkuat kendali Israel atas zona keamanan tersebut. Ia juga menegaskan bahwa pasukan Israel tidak akan mundur dari kawasan itu.

Pada Maret tahun ini, Hizbullah menyeret Lebanon ke dalam perang di Timur Tengah dengan memberikan dukungan kepada Iran. Setelah Iran dan Amerika Serikat mencapai kesepahaman pada Juni, Lebanon dan Israel juga menandatangani kesepakatan, sehingga kekerasan di kawasan tersebut sempat mereda. Namun, dalam beberapa hari terakhir, intensitas serangan kembali meningkat.

Sumber : NTDTV.com

Terlalu Berat Memanen Kentang di Mongolia Dalam! Lebih dari 200 Pria dan Wanita Tidur Bersama di Barak Besar 

Belakangan ini, kentang di Mongolia Dalam, Utara Tiongkok mulai memasuki masa panen. Banyak pekerja dari luar daerah datang untuk bekerja memanen kentang. Lebih dari 200 orang, baik pria maupun wanita dari berbagai usia, berdesakan tidur di tempat tidur bersama berukuran besar di sebuah tenda sederhana. Kondisi tempat tinggal mereka sulit dipercaya.

EtIndonesia.com Pada 4 September, seorang warganet mengunggah video mengenai pekerja yang memanen kentang di Mongolia Dalam. Dalam video terlihat bahwa di dalam sebuah tenda sederhana, lantainya berupa tanah. Karena hujan turun, air hujan langsung mengalir masuk ke dalam tenda sehingga lantainya dipenuhi air lumpur keruh.

Di dalam tenda terdapat beberapa deretan tempat tidur model barak. Di antaranya hanya terdapat lorong-lorong sempit. Lebih dari 200 pria dan wanita tidur berdesakan di atas tempat tidur tersebut, satu orang berdempetan dengan orang lainnya, tanpa pembatas apa pun dan sama sekali tidak memiliki privasi.

Seorang pria yang merekam video di dalam tenda berkata: “Celaka, begitu kami sampai di Mongolia Dalam, hujan mulai turun. Kami para pemanen kentang sekarang hanya bisa terjebak di sini. Mata kami sampai terasa biru karena menunggu, tetapi satu sen pun belum berhasil kami dapatkan. Hujannya deras sekali.”

Pria tersebut mengeluh: “Anak-anak muda, kehidupan ke depan tidak akan mudah. Mendapatkan pekerjaan juga tidak mudah… Di dalam ruangan ini semuanya orang. Yang paling tua berusia 75 tahun, yang paling muda 15 tahun. Teman-teman, apakah hidup kami susah? Apakah kami menderita?”

Dalam rekaman lainnya, terlihat sekelompok ibu-ibu yang memanen kentang langsung duduk di ladang untuk makan siang. Makanan mereka sangat sederhana, hanya berupa acar sayuran dan mantou (roti kukus khas tiongkok).

Seorang blogger yang mengaku telah berkecimpung dalam industri kentang di Mongolia Dalam selama delapan tahun mengatakan bahwa banyak orang tidak percaya kondisi tempat tinggal para pekerja pemanen kentang di Mongolia Dalam bisa seburuk itu. Namun, menurutnya, itulah kenyataannya. Karena tekanan kebutuhan hidup, banyak orang tidak memiliki pilihan dan hanya dapat melakukan pekerjaan yang berat dan melelahkan tersebut.

Video yang diunggah blogger tersebut memperlihatkan seorang perempuan muda yang menggendong seorang anak di punggungnya sambil memanen kentang di ladang. Perempuan itu terus membungkuk, menghadap tanah dengan punggung mengarah ke langit. Kedua tangannya dengan cepat mengambil kentang yang sebelumnya telah dikeluarkan dari tanah, lalu memasukkannya ke dalam kantong yang diikat di pinggang.

Terkadang, ketika merasa kelelahan, ia meletakkan anaknya di tanah dan melanjutkan memanen kentang.

Di antara para pekerja pemanen kentang tersebut terdapat orang lanjut usia dan anak-anak yang masih berusia belasan tahun. 

Blogger itu menjelaskan bahwa setiap karung kentang yang berhasil dikumpulkan dibayar 1,8 yuan (RMB). Pekerja yang mampu mengumpulkan banyak kentang dapat memanen beberapa ratus karung dalam sehari dan memperoleh sekitar 500–600 yuan. Sementara itu, pria yang juga bertugas mengangkat karung dapat memperoleh 800–900 yuan per hari.

“Siang hari bekerja keras, malam hari tidur diterpa angin. Badan sangat lelah. Semua uang yang didapat adalah hasil jerih payah.”

Ia juga mengatakan bahwa banyak pekerja dari Yunnan, Guizhou, dan Sichuan datang ke Mongolia Dalam untuk memanen kentang. Menurutnya, khususnya perempuan dari Sichuan dikenal sangat tahan bekerja keras. Bahkan ketika menggendong anak di punggung, mereka terkadang mampu memanen lebih banyak dibandingkan pekerja lainnya.

Setelah kentang dipanen dan dimasukkan ke dalam karung, para pekerja mengangkatnya ke tepi ladang agar mudah dimuat ke kendaraan. Ada pula pekerja yang mengikuti kendaraan dan melemparkan karung satu per satu ke atas truk. Kendaraan terus bergerak maju tanpa berhenti, sementara pekerja yang mengangkat karung harus mengikuti kecepatannya.

Mereka membawa karung dari ujung ladang hingga ke titik pemuatan. Praktis tidak ada kesempatan untuk beristirahat. Pekerjaan fisik yang sangat berat ini umumnya dilakukan oleh pria dewasa.

Pekerjaan memanen kentang berlangsung 10–12 jam sehari. Selain beristirahat untuk makan siang di ladang, pada dasarnya hampir tidak ada waktu untuk berhenti. Setelah menyelesaikan pekerjaan seharian, para pekerja kembali ke tenda sederhana untuk beristirahat dan tidur. Keesokan harinya mereka bangun dan kembali bekerja.

Pekerjaan memanen kentang tidak berlangsung lama, biasanya hanya sekitar setengah bulan hingga 20 hari, dan umumnya terkonsentrasi dari pertengahan September hingga awal Oktober.

Meskipun sangat melelahkan, banyak orang tetap bersedia datang karena pekerjaan tersebut dapat menghasilkan uang. 

Bagi para pekerja musiman dari luar daerah ini, penghasilan tersebut merupakan bagian yang cukup besar dari pendapatan mereka sepanjang tahun.

Video mengenai pekerja yang memanen kentang di Mongolia Dalam memicu perdebatan di platform X. Warganet berkomentar:

“Kentang sudah bisa dipanen menggunakan mesin sejak lama. Satu-satunya alasan masih menggunakan tenaga manusia adalah karena tenaga kerja di tiongkok lebih murah daripada mesin.”

Warganet lainnya berkata: “Inilah alasan mengapa sayuran di tiongkok begitu murah.”

Reporter Luo Tingting, dirangkum dari berbagai sumber / Editor Wen Hui

Spesimen Bayi dalam Toples dan Jenazah Anak-anak Memenuhi Kolam, Video Terowongan Bawah Tanah Mengerikan di Changchun Kembali Beredar

Pada tahun 2022, seorang blogger eksplorasi dari daratan Tiongkok pernah merekam sebuah terowongan perlindungan serangan udara bawah tanah di Kota Changchun, Provinsi Jilin. Baru-baru ini, video terkait kembali beredar di internet. Video tersebut memperlihatkan adanya spesimen bayi, sejumlah besar jenazah anak-anak, serta tulang-belulang di dalamnya. Opini publik di luar negeri pada umumnya mempertanyakan apakah hal tersebut berkaitan dengan dugaan industri gelap berupa pengambilan organ secara paksa dan pengolahan jenazah yang dikaitkan dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT).

EtIndonesia.com  Pada 9 September, seorang blogger media mandiri mengunggah video pendek berjudul “Laboratorium Bawah Tanah (Bagian 1)” ke platform X dan menarik perhatian banyak warganet. Video tersebut memperlihatkan seorang blogger eksplorasi dari daratan Tiongkok bernama “Doubao Exploration” memasuki sebuah terowongan perlindungan serangan udara bawah tanah yang menyeramkan.

Pada sebuah pintu di dalam terowongan terdapat ukiran simbol bintang bersegi lima berwarna merah, yang menunjukkan bahwa tempat tersebut diduga pernah menjadi fasilitas militer PKT.

Di dalam terowongan terdapat banyak barang yang ditinggalkan, termasuk beberapa botol berisi cairan yang tidak diketahui jenisnya dan sebuah bak semen yang dipenuhi tulang-belulang.

Blogger tersebut kemudian mengambil sebuah toples kaca berbentuk silinder yang tertutup rapat dari lantai. Di dalamnya terdapat sekitar setengah toples cairan serta sesuatu yang diduga merupakan spesimen bayi yang masih tampak memiliki tali pusar. Setelah melihatnya, blogger tersebut segera meletakkannya kembali sambil berulang kali meminta maaf dan berkata, “Maaf mengganggu.”

Setelah berjalan lebih jauh ke dalam, ia menemukan tiga karung berbahan seperti kulit ular yang tampak lebih baru. Sampai di sini, video eksplorasi bagian pertama berakhir.

Video tersebut sebenarnya memiliki bagian kedua dan ketiga. Video asli telah lama dihapus oleh otoritas PKT, tetapi sejumlah cuplikannya masih beredar di internet.

Video lanjutan menunjukkan bahwa karung-karung yang ditemukan blogger eksplorasi tersebut berisi sejumlah besar tulang manusia yang telah dipotong menggunakan gergaji. Potongannya terlihat rapi, sehingga diduga tulang-tulang tersebut telah menjalani suatu bentuk proses pengolahan.

Lebih jauh ke dalam terowongan, blogger tersebut menemukan beberapa kolam pengawetan yang ditutupi terpal. Ketika terpal dibuka, muncul pemandangan yang lebih mengerikan. Sejumlah besar jenazah anak-anak terlihat terendam dalam cairan formalin.

Rekaman dari jarak dekat menunjukkan bahwa sebagian jenazah telah dibuka pada bagian dada dan perut, sehingga tulang-tulang dada terlihat. Beberapa jenazah mulai membusuk dan menunjukkan kondisi yang dalam laporan disebut sebagai “gigantisme mayat” (巨人觀), yaitu perubahan bentuk tubuh yang dapat terjadi pada jenazah setelah terendam dalam cairan.

Di lantai sekitar kolam juga berserakan pakaian anak-anak yang diduga telah terlepas dari tubuh jenazah.

Dalam video tersebut, blogger beberapa kali menekankan bahwa benda-benda yang terlihat mungkin merupakan “model” atau “properti film.” Namun, warganet mengatakan bahwa pernyataan tersebut merupakan “ungkapan yang sering digunakan” oleh sejumlah blogger eksplorasi alam terbuka di daratan Tiongkok untuk menghindari penyensoran platform media sosial dan mencegah video mereka dihapus.

Dalam proses pengambilan gambar, blogger tersebut beberapa kali terlihat hendak muntah. Hal itu disebut menunjukkan bahwa lokasi tersebut memiliki bau yang sangat menyengat. Selain itu, menurut laporan, rekaman jarak dekat terhadap jenazah di dalam kolam pengawetan serta belatung yang terlihat bergerak di dalam kolam juga dianggap menunjukkan bahwa benda-benda tersebut bukan sekadar “properti” yang terbuat dari plastik atau silikon seperti yang disebutkan blogger.

Menurut berbagai laporan dari warganet, video-video tersebut direkam pada 2022 di wilayah Kota Changchun, ibu kota Provinsi Jilin. Terowongan perlindungan serangan udara tersebut disebut berada di bawah sebuah gedung.

Blogger eksplorasi itu dikatakan telah mengunjungi lokasi tersebut beberapa kali, sehingga video-video tersebut tidak direkam pada hari yang sama. Saat pertama kali datang, kolam pengawetan masih ditutupi terpal. Setelah ia membuka terpal tersebut, cairan pengawet diduga mulai menguap dan udara masuk ke dalam kolam. Ketika ia kembali beberapa bulan kemudian untuk merekam lokasi tersebut, jenazah di dalam kolam disebut telah mulai membusuk.

Di daratan Tiongkok, video eksplorasi alam terbuka semacam ini biasanya tidak terlalu menarik perhatian. Namun, video “Doubao Exploration” tersebut sempat menimbulkan kehebohan. Video terkait kemudian dihapus, dan kanal “Doubao Exploration” juga sempat berhenti memperbarui konten. Di internet bahkan beredar rumor bahwa blogger tersebut mungkin telah “mengalami sesuatu”.

Setelah terowongan aneh tersebut menarik perhatian publik, blogger eksplorasi lainnya juga datang untuk merekam lokasi tersebut. Namun, mereka menemukan bahwa seluruh benda di dalam terowongan telah dibersihkan. Jenazah di dalam kolam pengawetan juga telah menghilang dan hanya tersisa cairan keruh. Satu-satunya benda yang masih dapat ditemukan di dalam terowongan hanyalah sejumlah pecahan tulang.

Belakangan, pintu masuk terowongan tersebut juga ditutup.

Setelah video-video tersebut beredar di luar negeri, banyak blogger kembali mengunggah cuplikannya dan memberikan berbagai analisis. Banyak warganet berpendapat bahwa masyarakat Tiongkok secara tradisional menganut kepercayaan “masuk ke tanah agar tenang”, sehingga tidak banyak orang tua yang rela begitu saja meninggalkan jenazah anak mereka.

Karena itu, menurut sebagian warganet, keberadaan begitu banyak jenazah anak-anak di sebuah terowongan perlindungan serangan udara mungkin berkaitan dengan dugaan rantai industri gelap seperti pengambilan organ secara paksa dan pengolahan jenazah yang dikaitkan dengan PKT.

Seorang warganet dari daratan Tiongkok mengklaim bahwa terowongan tersebut sebelumnya merupakan fasilitas pengolahan milik sebuah perusahaan yang membuat spesimen biologis melalui proses plastinasi tubuh manusia. Setelah perusahaan tersebut bangkrut, jenazah-jenazah itu diduga ditinggalkan begitu saja di lokasi tersebut.

Keterangan gambar: Informasi yang dibagikan oleh warganet. (Tangkapan layar dari laman web)

Industri yang disebut sebagai “spesimen biologis plastinasi” (spesimen tubuh manusia) telah terungkap sejak bertahun-tahun lalu.

Menurut investigasi sebuah organisasi internasional yang selama bertahun-tahun menyelidiki penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong di luar negeri, setelah PKT mulai melakukan penindasan terhadap Falun Gong, Bo Xilai, yang saat itu merupakan pejabat tertinggi Partai Komunis di Kota Dalian, Provinsi Liaoning, dan istrinya, Gu Kailai, disebut membangun dua industri kriminal yang saling berkaitan di wilayah tersebut.

Menurut organisasi tersebut, Bo Xilai memimpin pengambilan organ praktisi Falun Gong secara paksa untuk digunakan dalam operasi transplantasi, sementara Gu Kailai memimpin produksi spesimen tubuh manusia melalui proses plastinasi, yang kemudian dijual dengan harga tinggi atau dipamerkan secara terbuka di dalam maupun luar negeri.

Reporter NTD Chen Zhenjin, dirangkum dari berbagai sumber / Editor penanggung jawab: Xu Gengwen

Tank Buatan Tiongkok Tiba-Tiba Meledak, 2 Orang Tewas dan 1 Luka Parah dalam Latihan Militer Bangladesh

EtIndonesia.com  Sebuah tank Type 59 buatan Tiongkok tiba-tiba mengalami ledakan dahsyat saat latihan militer di Bangladesh. Insiden tersebut menyebabkan dua tentara Bangladesh tewas di tempat dan seorang perwira mengalami luka parah. Perwira yang terluka telah dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Proses kecelakaan tersebut terekam secara lengkap dan videonya dengan cepat beredar luas di internet.

Sejumlah pihak menganalisis bahwa tank tersebut telah digunakan dalam waktu yang cukup lama. Selain itu, proses modernisasinya melibatkan banyak struktur mekanis, yang diduga dapat menimbulkan persoalan kualitas. Warganet pun menyindir dengan mengatakan bahwa produk buatan Tiongkok bisa meledak.

Saat tank menembakkan peluru, bagian kabin pengemudi dan menara tank tiba-tiba dilalap kobaran api besar dan asap tebal. Para awak tank terlempar ke udara akibat ledakan sebelum jatuh dengan keras ke tanah. Pemandangan tersebut sangat mengerikan.

Direktorat Hubungan Masyarakat Kementerian Pertahanan Bangladesh (ISPR) menyatakan bahwa kecelakaan tersebut terjadi pada Rabu (9 September). Saat itu, pasukan sedang melakukan latihan menembak dengan peluru tajam di lapangan tembak terbuka di Chittagong. Setelah itu, tiba-tiba terjadi ledakan di dalam tank, yang mengakibatkan dua personel Angkatan Darat Bangladesh tewas dan seorang perwira mengalami luka parah.

Militer Bangladesh mengatakan akan melakukan penyelidikan menyeluruh untuk mengetahui penyebab kecelakaan, apakah disebabkan oleh masalah kualitas atau kesalahan pengoperasian, sehingga tragedi serupa dapat dicegah agar tidak terjadi lagi.

Tank yang mengalami kecelakaan tersebut adalah tank Type 59 buatan Tiongkok. Tank ini merupakan tank generasi pertama yang dikembangkan oleh rezim Komunis Tiongkok, berdasarkan tank T-54A buatan Uni Soviet.

Berdasarkan rekaman kecelakaan yang beredar, sejumlah pihak menganalisis bahwa kerusakan tersebut kemungkinan berkaitan dengan laras meriam, bagian belakang meriam, sistem pengisian amunisi, atau sistem amunisi di dalam menara tank.

Analisis tersebut menyebutkan bahwa karena tank ini telah lama digunakan dan memiliki banyak struktur mekanis, persoalan kualitas mungkin menjadi salah satu faktor penyebabnya.

“Ketika penembakan dilakukan, di dalam laras akan muncul gas bersuhu dan bertekanan sangat tinggi. Proses pembuatan laras itu sendiri memiliki persyaratan yang sangat ketat. Misalnya, jika terdapat retakan atau masalah kualitas pada laras, hal itu dapat dengan mudah menyebabkan laras meledak,” kata Komentator urusan militer dari kanal Military Intelligence Bureau, Zhou Ziding. 

“Jika sambungan pada bagian tertentu tidak cukup rapat, kecelakaan serupa juga dapat terjadi. Jadi, menurut saya, insiden kali ini mungkin berkaitan dengan modernisasi tank Type 59 milik Bangladesh, karena proses tersebut melibatkan banyak struktur mekanis, termasuk penyambungan struktur mekanis lama dan baru serta perubahan konstruksi. Karena kualitasnya tidak cukup stabil, akhirnya terjadi ledakan pada laras,” ujarnya. 

Analisis lebih lanjut menyebutkan bahwa peralatan militer PKT dalam penggunaan nyata berulang kali memperlihatkan persoalan kualitas dan kinerja. Hal tersebut dinilai berkaitan dengan korupsi sistemik dalam rezim Komunis Tiongkok serta keterbatasan teknologi.

“Alasan mereka (rezim Partai Komunis Tiongkok) dapat memproduksinya terutama karena pada tahun-tahun sebelumnya, ketika negara-negara Barat masih memiliki angan-angan untuk mereformasi sistem politik Tiongkok, mereka memanfaatkan celah tersebut untuk memperoleh teknologi dari Barat melalui berbagai cara, kemudian membawanya kembali ke Tiongkok dan mengembangkan apa yang disebut sebagai ‘menyalip di tikungan,” ujar Komentator urusan politik dan militer Lan Shu. 

“Ditambah lagi dengan korupsi sistemik dalam keseluruhan sistem Komunis Tiongkok. Dalam proses pelaksanaannya, para pejabat di berbagai tingkatan melakukan pengurangan bahan dan kualitas. Akibatnya, banyak produk buatan Tiongkok yang tampak canggih dan mengesankan, terutama produk yang berkaitan dengan teknologi tinggi, termasuk peralatan militer, justru mengalami berbagai persoalan ketika digunakan dalam praktik,” jelasnya. 

Reporter NTD Chen Yue dan Chang Chun, melaporkan.

Gempuran Udara AS Hantam Iran, Lima Tanker Minyak Terbakar Hebat hingga Karam 

EtIndonesia.com Presiden AS Donald Trump baru saja mengatakan bahwa perang Iran akan berakhir setelah pemilihan paruh waktu AS. Sebelumnya, dalam serangkaian serangan udara besar-besaran oleh militer AS, sejumlah tanker minyak Iran terbakar dan kemudian tenggelam.

Serangan Udara AS Semalam Hantam Iran, 5 Tanker Minyak Tenggelam dan Dilalap Api

Sebelumnya, AS dan Iran melancarkan operasi serangan balasan maritim terbesar terhadap sektor pelayaran sejak perang antara kedua negara berlangsung selama enam bulan.

Militer AS membombardir Iran sepanjang malam dan menghancurkan lima tanker minyak Iran. Militer AS juga merilis video yang memperlihatkan kapal-kapal tersebut terbakar sebelum akhirnya tenggelam.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan respons terhadap dua serangan Garda Revolusi Iran dalam dua hari terakhir, yang meluncurkan rudal ke arah sebuah kapal perang AS. Meski demikian, militer AS berhasil menghindari serangan yang ditujukan Iran, tetap melanjutkan misi patroli, dan tidak ada personel AS yang terluka.

Menurut laporan terkait, kapal-kapal yang dihancurkan tersebut termasuk supertanker berukuran sangat besar milik National Iranian Tanker Company (NITC) yang sedang dalam kondisi tanpa muatan, dengan total lima tanker minyak Iran menjadi sasaran.

Lembaga pelacakan kapal TankerTrackers menyatakan bahwa sejak Mei 2019, kelima tanker tersebut secara kumulatif telah mengangkut sekitar 45 juta barel minyak mentah dan produk minyak olahan Iran untuk diekspor.

TankerTrackers kemudian mengatakan bahwa setelah militer AS menyelesaikan serangan tersebut, sebuah kapal tanker pengangkut gas minyak cair (LPG) yang terkait dengan Iran dan belum dikenai sanksi AS ditarik menjauh dari wilayah yang sebelumnya menjadi sasaran serangan udara.

“Iran terus berusaha menyerang kapal-kapal Angkatan Laut AS. Setiap kali mereka melakukan atau mencoba melakukan hal tersebut, mereka akan kehilangan tanker minyak,” kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada 8 September 2026. 

Pada Kamis pagi, Komando Pusat AS juga mengeluarkan pernyataan untuk membantah klaim Garda Revolusi Iran yang menyatakan telah mengenai dua kapal perusak AS. CENTCOM menegaskan bahwa seluruh upaya serangan Iran berakhir dengan kegagalan.

Setelah militer AS melancarkan serangan besar terhadap tanker-tanker minyak Iran, Iran menembakkan rudal balistik ke sebuah pangkalan militer AS di Yordania. Seorang pejabat AS mengatakan kepada Fox News bahwa serangan tersebut tidak berhasil dan seluruh personel militer AS di Yordania berada dalam kondisi aman.

The Wall Street Journal mengutip pejabat AS yang mengatakan bahwa China atau Rusia mungkin membantu Iran memperkirakan lokasi kapal-kapal perang AS sebelum Iran meluncurkan rudal. Rincian mengenai hal tersebut masih perlu diverifikasi.

Pelayaran di Teluk Persia Diserang, 1 Tewas dan 1 Hilang di Lepas Pantai Dubai

United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) sebelumnya mengeluarkan peringatan bahwa ketika pertempuran udara kembali pecah, sejumlah kapal komersial di bagian utara Teluk Persia dan Teluk Oman terkena serangan “disabling fire” atau tembakan yang menyebabkan kapal tidak dapat beroperasi dan kehilangan tenaga.

Di perairan lepas pantai Uni Emirat Arab, sebuah tanker minyak diserang oleh benda yang tidak diketahui, sehingga badan kapal mengalami kemiringan.

Di wilayah perairan Irak, tanker New Andros, yang berbendera Panama dan membawa sekitar 2 juta barel bahan bakar minyak Irak, juga terkena serangan drone dan terbakar.

Sementara itu, di lepas pantai Dubai, tanker produk minyak Hercules Star diduga terlibat dalam sebuah insiden. Laporan menyebutkan bahwa seorang anggota awak kapal tewas dan seorang pelaut dinyatakan hilang.

Dokumen Rahasia Ungkap Iran Bentuk Jaringan Baru untuk Menjual Minyak yang Terkena Sanksi

Menurut dokumen dan sumber yang diperoleh media oposisi Iran International, Kementerian Perminyakan Iran telah membentuk jaringan perdagangan minyak baru dan menunjuk lima perantara utama untuk menjual jutaan barel minyak mentah Iran yang terkena sanksi.

Dokumen tersebut serta keterangan dari dua sumber di Kementerian Perminyakan mengarah kepada Mohammad Javad Bavand, mantan pejabat intelijen Garda Revolusi Iran. Ia ditunjuk untuk mengawasi transaksi minyak dan menjadi tokoh utama dalam pengaturan baru tersebut.

Dokumen rahasia mengungkap bahwa meskipun para anggota jaringan tersebut sebelumnya gagal mengembalikan pendapatan minyak senilai miliaran dolar, pemerintah Iran tetap memberikan diskon yang tidak biasa sebesar US$8,5 per barel, serta fasilitas pembayaran secara kredit.

Iran International menganalisis bahwa hal tersebut menunjukkan bahwa struktur militer dan intelijen Iran memiliki kendali yang mendalam atas penjualan minyak untuk menghindari sanksi. Hal itu juga memperlihatkan persoalan serius terkait penyaluran kepentingan pribadi dan pengembalian dana di dalam rezim Teheran.

Reporter NTD Wang Ziyi, dirangkum dari berbagai sumber.

Moorlife Gelar Social Donor Darah Nasional “Satu Tetes, Sejuta Harapan’

SURABAYA,- Bentuk tanggung jawab sosial perusahaan kembal mewujudkan secara nyata oleh Moorlife melalui kegiatan “Moorlife Berbagi Kasih: Satu Tetes
Sejuta Harapan”. Gerakan yang mendorong kepedulian masyarakat ini mendorong kesadarar
banyak orang untuk berbagi harapan dan menyelamatkan kehidupan melalui satu langkat
sederhana, yaitu mendonorkan darah. Jangkauan Luas di Sekitar 30 Wilayah Indonesia

Dalam mewujudkan komitmen untuk berdampak positif secara luas, gerakan ini telah berhasil dilaksanakan di sekitar 30 titik yang tersebar di penjuru
Indonesia. Wilayah tersebut
Jiantaranya adalah Tangerang, Bengkulu, Solo, Jember, Pontianak, Palembang, Cilacap, Medan.
Bekasi, Gowa, Kendari, Jambi, Jakarta, Sekadau, Padang, Langsa Aceh, Yogyakarta, Bireuen
Balikpapan, Gunungkidul, Banda Aceh, Prabumulih, Semarang. Masamba, hingga berbagai titil
lainnya. Moorlife sebagai produsen premium lifestyle houseware dari plastik berkualitas tingg
nemiliki jaringan distribusi para member direct selling yang sangat kuat di berbagai wilayah se-
Indonesia, sehingga kegiatan ini turut didukung penuh oleh para member. Bagi Moorlife, kegiatan sosial ini dirancang bukan sekadar aktivitas formalitas saja
melainkan kontribusi sederhana yang berdampak nyata. Setiap kantong darah yang terkumpul
nemiliki nilai vital untuk membantu pasien yang membutuhkan transfusi dalam berbagai kondis
medis darurat. Pesan Kemanusiaan dan Kolaborasi Lintas Pihak

Nurlaila Hidayaty, Direktur Marketing Moorlife, menyampaikan bahwa aksi ini dimula
dari kesadaran akan pentingnya tindakan kecil yang berdampak besar. “Melalui kegiatan yanç
penuh makna ini, kami ingin mengajak lebih banyak masyarakat untuk menyadari bahwa
<ebaikan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Darah yang kita donorkan mungkin terlihat
sederhana bagi kita tetapi bisa menjadi harapan yang sangat berarti bagi seseorang yang
sedang membutuhkan,” terangnya

la juga menambahkan bahwa tingginya antusiasme masyarakat di berbagai daeral
nenjadi bukti kuatnya semangat gotong royong di Indonesia. Gerakan sosial ini terbukti mampu
tumbuh pesat <etika perusahaan, komunitas, mitra, dan masyarakat saling bergandengan
tangan. “Kami sangat bersyukur melihat antusiasme para pendonor dan seluruh pihak yang
terlibat Bagi Moorlife, berbagi kasih bukan hanya tentang memberikan sesuatu yang bersifat
materiil, tetapi juga menghadirkan manfaat dan menggerakkan lebih banyak orang untuk
melakukan kebaikan. Kami berharap gerakan ini dapat terus berkembang dan menjangkau lebit
banyak masyarakat,” lanjutnya.

Targetkan 5.000 Pendonor untuk Indonesia

Semangat kolaborasi ini dipacu lebih jauh melalui target besar mengumpulkan 5.000
pendonor untuk Indonesia. Moorlife secara aktif merangkul masyarakat dari berbagai lata
belakang untuk berpartisipasi sebagai aksi nyata kepedulian sosial. Kota Surabaya menjadi salah satu pusat kegiatan Utama dalam rangkaian gerakan
<emanusiaan ini. Acara digelar penuh manfaat di Ciputra World Surabaya pada Kamis (10/9)
Palang Merah Indonesia (PMI) mendukung penuh penyelenggaraan acara ini bersama dengar

kolaborasi para mitra serta pendukung acara. Sebagai bentuk apresiasi atas kepedulian para pendonor, Moorlife beserta para mitra menyediakan souvenir eksklusif Moorlife dan goodie bag menarik
Komitmen Berkelanjutan untuk Indonesia
Melalui momentum ini, Moorlife berharap dapat menyebarkan pengingat bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk memberi dampak positif bagi sesama. “Satu tetes yang kita berikan hari ini bisa menjadi sejuta harapan bagi mereka yang sedang berjuang. Mari bersama- sama menjadikan kebaikan sebagai gerakan yang terus berjalan,” tutup Nurlaila Moorlife berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program kemasyarakatan yang memberi manfaat langsung, sekaligus menginspirasi lebih banyak pihak untuk mewujudkan Indonesia yang lebih peduli dan penuh kasih.

Israel Hancurkan ‘Pusat Saraf’ Hizbullah! Iran Diperingatkan Jangan Coba Menyerang

EtIndonesia.com  Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat pada Kamis, 10 September 2026, setelah Israel mengeluarkan peringatan keras kepada Iran di tengah kekhawatiran bahwa tekanan ekonomi yang semakin berat terhadap Teheran dapat mendorong pemerintah Iran mengambil langkah militer yang lebih berisiko.

Pada saat yang hampir bersamaan, militer Israel menyelesaikan operasi besar untuk menghancurkan jaringan infrastruktur bawah tanah Hizbullah di Punggungan Ali al-Taher, Lebanon selatan. Kawasan strategis tersebut selama bertahun-tahun disebut menjadi salah satu pusat militer penting Hizbullah.

Dua perkembangan ini memperlihatkan bagaimana Israel kini menghadapi dua persoalan keamanan yang saling berkaitan: ancaman langsung dari Iran dan keberadaan jaringan Hizbullah di Lebanon yang selama bertahun-tahun memperoleh dukungan dari Teheran.

Katz Peringatkan Iran: Jangan Menyerang Israel

Pada 10 September 2026, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz kembali memperingatkan pemerintah Iran agar tidak mencoba melancarkan serangan terhadap negaranya.

Menurut Katz, tekanan ekonomi yang sangat berat terhadap Iran dapat menciptakan situasi berbahaya. Pemerintah di Teheran, katanya, mungkin saja memilih tindakan militer sebagai respons terhadap tekanan yang semakin besar.

Katz memperingatkan bahwa setiap serangan Iran terhadap wilayah Israel, apa pun alasan maupun lokasinya, akan mendapatkan balasan yang sangat keras.

Ia bahkan secara khusus menyebut bahwa fasilitas energi utama Iran dapat menjadi bagian dari sasaran pembalasan Israel. Menurut pernyataannya, fasilitas tersebut memiliki peran penting karena memberikan sumber daya ekonomi yang mendukung kemampuan militer Iran.

Pernyataan Katz bukan ancaman pertama. Pada 3 September 2026, ia juga mengatakan bahwa tekanan ekonomi berat serta kekhawatiran terhadap meningkatnya ketidakpuasan di dalam negeri dapat mendorong Teheran mengambil langkah yang dianggap putus asa.

Peringatan terbaru pada 10 September menunjukkan bahwa pemerintah Israel masih menganggap kemungkinan serangan Iran sebagai ancaman yang serius.

Militer Israel pun disebut berada dalam kesiapan tinggi untuk menghadapi berbagai skenario.

Iran Berusaha Memulihkan Kekuatan Rudalnya

Kekhawatiran Israel semakin besar setelah muncul laporan bahwa Iran sedang berusaha membangun kembali kemampuan rudal balistiknya.

Laporan terbaru menyebut Iran kembali memproduksi rudal balistik dengan memanfaatkan komponen yang sebelumnya telah disimpan. Sebagian proses perakitan dilaporkan berlangsung di fasilitas bawah tanah, sementara Teheran juga membangun lokasi-lokasi baru yang lebih terlindungi dari kemungkinan serangan udara.

Aktivitas dilaporkan terlihat di sejumlah fasilitas penting, termasuk kompleks rudal Khojir.

Namun kemampuan produksi Iran diyakini masih menghadapi keterbatasan akibat kerusakan terhadap sejumlah fasilitas industri dan kesulitan memperoleh beberapa komponen penting.

Meski demikian, fakta bahwa proses produksi rudal kembali berlangsung menjadi perhatian serius bagi Israel.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berulang kali menegaskan bahwa pemerintahnya tidak akan membiarkan Iran membangun kembali kemampuan strategis yang dianggap dapat mengancam keberadaan Israel, terutama apabila kemampuan tersebut berkaitan dengan rudal balistik dan program nuklir.

Pada saat bersamaan, perhatian internasional juga tertuju pada aktivitas Iran di kawasan pegunungan dekat fasilitas nuklir Natanz. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 10 September 2026 bahkan memperingatkan Teheran mengenai aktivitas di fasilitas bawah tanah yang dikenal sebagai Pickaxe Mountain, dekat kompleks Natanz.

Israel Hancurkan Kompleks Bawah Tanah Hizbullah

Ketika ketegangan dengan Iran meningkat, Israel juga menyelesaikan salah satu operasi militernya yang paling penting di Lebanon selatan.

Pada 10 September 2026, militer Israel mengumumkan telah menghancurkan infrastruktur bawah tanah Hizbullah di kawasan Punggungan Ali al-Taher.

Lokasi tersebut berada sekitar 15 kilometer dari perbatasan Israel dan memiliki posisi geografis yang sangat strategis karena ketinggiannya memungkinkan pengawasan terhadap wilayah luas di sekitarnya.

Operasi Israel sebenarnya telah berlangsung selama beberapa pekan.

Pada 3 September 2026, Pasukan Pertahanan Israel atau IDF mengumumkan bahwa pasukannya telah memperoleh kendali operasional atas punggungan tersebut, termasuk sebagian infrastruktur bawah tanahnya.

Kemudian pada 4 September, Menteri Pertahanan Israel Katz mengatakan bahwa pasukan Israel telah membersihkan para anggota Hizbullah yang bertahan di dalam jaringan terowongan. Menurut militer Israel, sebagian anggota Hizbullah tewas dalam operasi tersebut, sedangkan lainnya meninggalkan kawasan itu. Hizbullah ketika itu tidak segera memberikan tanggapan terhadap klaim Israel.

Setelah memperoleh kendali atas kawasan permukaan dan bawah tanah, pasukan Israel mempersiapkan penghancuran fasilitas tersebut.

Pada 10 September, proses penghancuran akhirnya dilaksanakan.

Dibangun Selama Sekitar Dua Dekade

Menurut militer Israel, kompleks bawah tanah Ali al-Taher bukan sekadar kumpulan terowongan perlindungan biasa.

Fasilitas tersebut disebut telah dikembangkan Hizbullah selama kurang lebih 20 tahun dan digunakan sebagai salah satu pusat penting bagi unit Badr Hizbullah.

Di dalamnya terdapat ruang komando, tempat penyimpanan persenjataan dan fasilitas yang memungkinkan personel bertahan dalam waktu lama.

Israel mengatakan kompleks tersebut digunakan untuk mendukung operasi terhadap pasukan Israel maupun wilayah Israel.

Militer Israel juga melaporkan menemukan berbagai jenis persenjataan di kawasan tersebut, termasuk roket, drone dan bahan peledak.

Keberadaan fasilitas sebesar itu menunjukkan betapa pentingnya sistem bawah tanah dalam strategi pertahanan Hizbullah di Lebanon selatan. Infrastruktur semacam ini memungkinkan kelompok tersebut menyimpan persenjataan sekaligus melindungi personelnya dari pengamatan dan serangan udara.

Israel menyebut kompleks Ali al-Taher sebagai salah satu pusat penting aktivitas militer Hizbullah di kawasan tersebut.

Pertempuran Belum Tentu Berakhir

Penghancuran kompleks Ali al-Taher memiliki arti strategis lebih luas daripada sekadar penghancuran sebuah jaringan terowongan.

Punggungan tersebut telah menjadi salah satu titik paling diperebutkan dalam konflik Israel-Hizbullah. Bahkan setelah gencatan senjata diumumkan pada Juni 2026, pertempuran di sekitar kawasan itu tidak sepenuhnya berhenti.

Hizbullah dilaporkan beberapa kali menggunakan drone untuk menyerang pasukan Israel yang beroperasi di sekitar punggungan tersebut, sedangkan Israel terus melancarkan serangan dan operasi militer untuk mempertahankan kendalinya.

Amerika Serikat sebelumnya mengusulkan agar kawasan Ali al-Taher diserahkan kepada tentara Lebanon sebagai bagian dari proses yang lebih luas untuk mengurangi keberadaan persenjataan Hizbullah. Namun proses tersebut menghadapi hambatan politik dan keamanan yang serius.

Israel mengatakan penghancuran infrastruktur bawah tanah pada 10 September merupakan langkah untuk memastikan Hizbullah tidak lagi dapat memanfaatkan kompleks tersebut sebagai pusat serangan.

Netanyahu dan Katz bahkan menyatakan operasi tersebut melengkapi pembentukan apa yang Israel sebut sebagai “zona keamanan” di Lebanon selatan.

Namun perkembangan ini juga berpotensi meningkatkan ketegangan.

Bagi Hizbullah, kehilangan posisi strategis dan jaringan bawah tanah yang dibangun selama bertahun-tahun merupakan pukulan terhadap kemampuan operasionalnya di kawasan tersebut. Sementara bagi Iran, tekanan terhadap Hizbullah berarti tekanan terhadap salah satu mitra regional terpenting Teheran.

Karena itulah dua perkembangan pada 10 September 2026—peringatan Israel terhadap Iran dan penghancuran kompleks bawah tanah Hizbullah—tidak dapat sepenuhnya dipandang sebagai peristiwa terpisah.

Israel sedang berusaha menekan dua lapisan ancaman sekaligus: kemampuan militer Iran secara langsung dan jaringan bersenjata yang didukung Teheran di Lebanon.

Kini pertanyaan terbesar adalah bagaimana Iran dan Hizbullah akan merespons.

Jika Teheran memilih meningkatkan tekanan militer terhadap Israel, ancaman Katz menunjukkan bahwa Israel telah menyiapkan kemungkinan serangan balasan yang jauh lebih luas, termasuk terhadap infrastruktur energi Iran.

Sebaliknya, apabila Hizbullah mencoba merebut kembali posisi yang hilang di Lebanon selatan, Punggungan Ali al-Taher dapat kembali menjadi pusat pertempuran.

Dengan demikian, penghancuran benteng bawah tanah pada 10 September 2026 mungkin memang menutup satu fase operasi militer Israel di Lebanon selatan. Namun dalam konteks konflik yang lebih luas antara Israel, Hizbullah dan Iran, peristiwa tersebut justru berpotensi menjadi awal dari babak ketegangan berikutnya. (***)

Peta Perang Berubah Drastis! Houthi Rebut Mocha, Saudi Bombardir 40 Target

EtIndonesia.com Situasi di Timur Tengah kembali mengalami perubahan signifikan pada 10 September 2026. Perkembangan terbaru tidak hanya datang dari konflik di Yaman, tetapi juga dari meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang berpotensi membuka babak baru konfrontasi di kawasan.

Di Yaman, laporan yang beredar menyebut pasukan pemerintah mengalami kemunduran di sejumlah garis pertempuran wilayah utara. Pada saat bersamaan, kelompok Houthi melancarkan pergerakan cepat ke arah selatan dengan menyusuri pesisir Laut Merah.

Dalam kurun sekitar 28 jam, pasukan Houthi dilaporkan berhasil memperluas wilayah kekuasaannya secara signifikan. Sejumlah daerah disebut jatuh ke tangan kelompok tersebut, termasuk Hays, Al-Khawkhah, Al-Wazi’iyah, dan Mawza, bersama beberapa lokasi lainnya.

Perkembangan yang paling mendapat perhatian adalah laporan mengenai jatuhnya Mocha, kota pelabuhan strategis di pesisir Laut Merah.

Posisi Mocha sangat penting karena kota tersebut berada tidak jauh dari Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran internasional paling strategis di dunia. Kawasan ini menjadi penghubung antara Laut Merah dan Teluk Aden, sekaligus bagian dari rute perdagangan yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Terusan Suez dan Laut Mediterania.

Jarak Mocha menuju kawasan Bab el-Mandeb hanya sekitar 80 kilometer. Artinya, apabila pergerakan Houthi ke arah selatan terus berlangsung, posisi kelompok tersebut terhadap jalur pelayaran internasional akan semakin kuat.

Pada saat bersamaan, Houthi juga dilaporkan berhasil menguasai Pulau Zuqar, sebuah pulau strategis di Laut Merah yang berada di sekitar jalur menuju Bab el-Mandeb.

Menurut laporan yang beredar pada 10 September 2026, pasukan Houthi terlebih dahulu menggunakan roket berat untuk membombardir posisi di Pulau Zuqar. Setelah serangan tersebut, pasukan darat mereka bergerak dalam formasi konvoi menuju Dhubab.

Dhubab menjadi sangat penting karena merupakan salah satu titik pesisir terakhir di kawasan tersebut yang dilaporkan masih berada di bawah kendali pasukan pemerintah Yaman.

Apabila Dhubab benar-benar jatuh, keseimbangan kekuatan di pesisir barat Yaman dapat berubah secara drastis. Houthi bukan hanya akan memperluas kendalinya di sepanjang Laut Merah, tetapi juga memperoleh posisi yang lebih menguntungkan untuk memberikan tekanan terhadap kawasan Bab el-Mandeb.

Inilah yang membuat perkembangan di Yaman memiliki konsekuensi jauh melampaui konflik domestik negara tersebut.

Gangguan keamanan di sekitar Bab el-Mandeb dapat berdampak langsung terhadap kapal dagang, kapal tanker energi, biaya asuransi pelayaran, hingga rantai pasokan internasional.

Iran Disebut Meningkatkan Dukungan

Di tengah pergerakan Houthi tersebut, perhatian juga tertuju kepada Iran.

Sejumlah sumber yang dikaitkan dengan Iran disebut mengatakan kepada Reuters bahwa beberapa komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC telah menuju Yaman untuk membantu operasi Houthi.

Menurut laporan tersebut, dukungan yang diberikan tidak hanya berkaitan dengan perencanaan operasi darat. Teheran juga disebut menjanjikan tambahan bantuan keuangan dan persenjataan.

Namun informasi mengenai keterlibatan langsung personel IRGC dalam operasi terbaru Houthi perlu diperlakukan sebagai laporan yang masih membutuhkan verifikasi independen.

Jika informasi tersebut terbukti benar, keterlibatan Iran akan semakin memperbesar dimensi regional perang Yaman.

Arab Saudi sendiri dilaporkan telah merespons perkembangan di medan tempur dengan meningkatkan operasi udara.

Dalam periode sekitar 24 jam hingga 10 September 2026, Angkatan Udara Arab Saudi disebut melancarkan hingga 64 serangan udara terhadap wilayah yang berada di bawah kendali Houthi. Lebih dari 40 sasaran di empat provinsi dilaporkan menjadi target.

Intensitas serangan tersebut memperlihatkan bahwa Riyadh memandang perubahan garis depan di Yaman sebagai ancaman serius, terutama jika Houthi semakin mendekati Bab el-Mandeb.

Pakistan juga disebut mulai mempertimbangkan langkah baru.

Islamabad dilaporkan sedang mengevaluasi kemungkinan keterlibatan militer terhadap Houthi setelah Arab Saudi menyetujui bantuan keuangan senilai sekitar 2 miliar dolar AS kepada Pakistan. Selain itu, Pakistan disebut mempertimbangkan penempatan pasukan tambahan di kawasan perbatasannya dengan Iran.

Sampai saat ini, laporan mengenai kemungkinan operasi udara Pakistan tersebut belum berarti keputusan militer akhir telah diambil.

Turki pun dilaporkan memberikan peringatan bahwa Ankara siap mengambil tindakan apabila eskalasi terus berkembang.

Ketegangan Iran–Amerika Serikat Meningkat

Sementara perhatian tertuju kepada Yaman, ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat juga menunjukkan tanda-tanda semakin berbahaya.

Dalam beberapa hari menjelang 10 September 2026, serangan rudal yang dikaitkan dengan Iran dilaporkan semakin sering terjadi. Perkembangan tersebut memunculkan penilaian bahwa kemampuan ofensif Teheran mulai pulih setelah sebelumnya menghadapi tekanan militer dan ekonomi.

Laporan yang beredar menyebut Iran sedang mempertimbangkan peningkatan operasi militernya terhadap aset Angkatan Laut Amerika Serikat.

Dalam sepekan terakhir, Iran diklaim sedikitnya tiga kali meluncurkan rudal ke arah pesawat ataupun kapal perang Amerika.

Informasi lain menyebut bahwa dalam serangan terhadap sebuah pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania, Iran meluncurkan sekitar 20 rudal balistik.

Yordania dilaporkan berhasil mencegat 18 rudal tersebut.

Seorang pejabat Amerika Serikat juga disebut mengungkapkan bahwa serangan itu menyebabkan bagian sayap sebuah pesawat serang A-10 mengalami kerusakan. Sekitar delapan pesawat tempur F-15 dikabarkan mengalami kerusakan ringan, meskipun kemudian dapat kembali beroperasi.

Laporan tersebut juga menyebut Iran menggunakan jenis persenjataan berkecepatan sangat tinggi dalam serangan itu.

Sejumlah pengamat menilai rangkaian serangan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya Teheran untuk menguji sistem pertahanan udara dan rudal Amerika Serikat serta sekutunya. Dengan melakukan serangan secara bertahap, Iran berpotensi mengumpulkan informasi mengenai pola intersepsi, waktu reaksi, serta kemungkinan celah dalam sistem pertahanan lawan.

Jika penilaian itu benar, maka serangan-serangan yang terjadi belum tentu merupakan puncak eskalasi.

Sebaliknya, tindakan tersebut dapat menjadi bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan konfrontasi yang lebih besar.

Tekanan Dalam Negeri Iran

Di balik ketegangan militer tersebut, Iran juga menghadapi persoalan serius di dalam negeri.

Tekanan ekonomi dilaporkan semakin berat, sementara ketidakpuasan masyarakat mulai muncul di sejumlah wilayah. Beberapa laporan menyebut telah terjadi kerusuhan dan aksi protes di beberapa kota, meskipun skala serta penyebab masing-masing kejadian masih perlu diverifikasi secara independen.

Situasi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah Iran karena Teheran harus menghadapi tekanan eksternal dan internal secara bersamaan.

Di satu sisi, Iran terlibat dalam ketegangan yang semakin berbahaya dengan Amerika Serikat dan negara-negara kawasan. Di sisi lain, pemerintah harus menjaga stabilitas domestik ketika kondisi ekonomi dan sosial berada di bawah tekanan.

Komandan IRGC wilayah Teheran bahkan dilaporkan menyatakan bahwa pasukannya telah bersiap melakukan operasi cepat di berbagai wilayah Iran apabila situasi keamanan memburuk.

Dengan perkembangan pada 10 September 2026 ini, terdapat setidaknya dua titik yang harus diperhatikan secara serius.

Pertama adalah Bab el-Mandeb. Jika Houthi berhasil memperkuat kendali di pesisir barat Yaman hingga kawasan dekat selat tersebut, risiko terhadap jalur perdagangan internasional dapat meningkat tajam.

Kedua adalah hubungan Iran–Amerika Serikat. Semakin seringnya serangan rudal dan ancaman terhadap aset militer Amerika meningkatkan kemungkinan terjadinya kesalahan perhitungan yang dapat memicu serangan balasan lebih besar.

Karena itu, perkembangan di Yaman kini tidak dapat lagi dilihat sebagai konflik yang berdiri sendiri. Perebutan wilayah pesisir, keterlibatan kekuatan regional, keamanan Bab el-Mandeb, serta meningkatnya konfrontasi Iran–Amerika Serikat mulai saling berkaitan.

Jika eskalasi terus berlangsung, 10 September 2026 bisa menjadi salah satu titik penting dalam perubahan peta konflik Timur Tengah—ketika pertempuran darat di Yaman mulai bersinggungan langsung dengan perebutan kendali atas salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia.  (***)