Putin Kembali Menangi Pemilihan Presiden Rusia

EpochTimesId – Presiden Rusia, Vladimir Putin menang telak dalam pemilihan presiden Rusia 2018, Minggu (18/3/2018) waktu setempat. Kemenangan ini akan memperpanjang kekuasaannya atas negara terbesar di dunia, selama enam tahun lagi.

Kemenangan Putin akan memperpanjang total waktu menjabat hingga hampir seperempat abad, pada 2024. Saat itu dia akan berusia 71 tahun, seperti dikutip The Epoch Times dari Reuters, Senin (19/3/2018).

Hanya diktator Soviet, Josef Stalin yang memerintah lebih lama. Putin telah berjanji untuk menggunakan istilah barunya untuk memperkuat pertahanan Rusia melawan Barat dan untuk meningkatkan standar hidup.

Lembaga survei ‘pollen VTsIOM’ menggelar sebuah jajak pendapat ‘exit pol’ atau poling terhadap pemilih yang keluar dari tempat pemungutan suara. Hasil ‘Exit Pol’ menunjukkan Putin, yang telah mendominasi lanskap politik selama 18 tahun terakhir, memenangkan 73,9 persen suara.

Putin dikenal selalu didukung oleh TV pemerintah, partai yang berkuasa, dan dibingkai dengan iklan rating persetujuan rakyat sekitar 80 persen, kemenangannya tidak pernah diragukan. Sehingga hasil pilpres Rusia 2018 sudah diprediksi sejak lama.

Tidak satu pun dari tujuh kandidat yang menantangnya menimbulkan ancaman. Sementara pemimpin oposisi yang dianggap sebagai saingan terberat, Alexei Navalny dilarang mencalonkan diri.

Sementara itu, pilpres kali ini juga tetap diwarnai kritik. Para kritikus menuduh bahwa pejabat telah memaksa masyarakat untuk datang ke pemungutan suara, guna memastikan bahwa partisipasi pemilih tidak menjadi rendah.

Pemimpin oposisi, Alexei Navalny dan pendukungnya, memantau pemilu dan pemungutan suara di kantor Yayasan Anti-Korupsi (FBK) di Moskow pada tanggal 18 Maret 2018. (MAXIM ZMEYEV/AFP/Getty Images/The Epoch Times)

Komisi Pemilu Pusat Rusia mengakui bahwa ada beberapa penyimpangan. Namun mereka kemungkinan akan menolak kritik yang lebih luas dan menyatakan keseluruhan hasil tersebut sah.

Loyalis Putin mengatakan hasilnya adalah pembuktian sikap kerasnya terhadap Barat.

“Saya pikir di Amerika Serikat dan Inggris mereka mengerti bahwa mereka tidak dapat mempengaruhi pemilihan kita,” ujar Igor Morozov, anggota majelis tinggi parlemen, di televisi pemerintah. “Warga kita memahami situasi seperti apa yang ditemukan orang Rusia hari ini.”

Pihak oposisi yang dipimpin oleh Navalny kini mengadakan demonstrasi, dengan alasan kecurangan yang meluas. Namun, belum diketahui seberapa besar dan seberapa lama aksi mereka akan bertahan.

Seorang politisi oposisi senior memperingatkan bahwa mereka akan turun jalan. Jika polisi menindak demonstran terlalu keras, mereka memastikan akan terjadi bentrok di jalanan.

Pemimpin oposisi Rusia, Alexey Navalny (kiri) dan istrinya Yulia (kanan) menghadiri demonstrasi oposisi untuk mengenang kritikus yang dibunuh Kremlin, Boris Nemtsov di Moskow tengah pada 25 Februari 2018. (VASILY MAXIMOV/AFP/Getty Images/The Epoch Times)

Kemenangan Putin ini diprediksi tidak lepas dari sikapnya yang tiba-tiba keras terhadap negara-negara barat. Kini, Putin diprediksi akan melunakkan retorika anti-Baratnya saat pemilihan sudah berhasil dimenangkan.

Sebelum pemilihan dalam pidato kenegaraan, dia meluncurkan senjata nuklir baru. Putin mengatakan bahwa senjata itu dapat mencapai hampir semua titik di dunia dan menghindari perisai rudal Amerika Serikat.

Sejumlah masalah bergulir terkait perselisihan dengan Barat menjelang pemilihan presiden. Sebut saja masalah Suriah, Ukraina, tuduhan campur tangan pemilihan dan serangan cyber Rusia.

Ada pula serangan racun terhadap bekas mata-mata Rusia dan putrinya di Inggris. Hubungan antara Moskow dan Barat berada pada titik terendah pasca-Perang Dingin.

Putin, 65 tahun, telah berkuasa, baik sebagai presiden atau perdana menteri, sejak tahun 2000.

Pendukungnya memuji mantan agen KGB itu sebagai sosok ‘babak bangsa’ yang telah memulihkan kebanggaan nasional. Mereka juga mengklaim Putin berhasil memperluas pengaruh global Moskow dengan intervensi di Suriah dan Ukraina.

Kritikus menuduhnya mengawasi sistem otoriter yang korup dan secara ilegal mencaplok Ukraina Crimea pada tahun 2014. Mereka menyebut hal itu adalah sebuah langkah yang mengisolasi Rusia secara internasional.

Sanksi Barat terhadap Rusia diberlakukan atas dukungan Krimea dan Moskow atas pemberontakan separatis pro-Rusia di bagian timur Ukraina. Sanksi itu dinilai telah merusak ekonomi Rusia, yang baru pulih tahun lalu setelah krisis yang berkepanjangan.

Petugas Forensik menggunakan pakaian pelindung mengamankan tenda forensik yang menyelimuti bangku di mana Sergei Skripal dan putrinya ditemukan kolaps pada tanggal 4 Maret 2018, di Salisbury Wiltshire, Inggris pada tanggal 8 Maret 2018. (Matt Cardy/Getty Images/The Epoch Times)

Inggris dan Rusia juga terlibat dalam perselisihan diplomatik mengenai insiden serangan racun saraf terhadap mantan agen ganda Rusia, Sergei Skripal. Washington juga bersiap menjatuhkan sanksi baru terhadap Moskow atas tuduhan bahwa mereka mencoba mempengaruhi hasil pemilihan presiden AS. Rusia sudah membantah tudingan tersebut.

Pejabat dan analis mengatakan ada sedikit kesepakatan antara pembuat kebijakan utama Putin mengenai strategi ekonomi untuk masa jabatan barunya.

Untuk berapa lama Putin ingin tetap berkuasa, hingga kini tidak pasti.

Konstitusi membatasi jabatan presiden untuk dua kali berturut-turut, dan mewajibkan petahana untuk mengundurkan diri pada akhir jabatan ke-dua.

Putin sudah melakukan hal itu di tahun 2008, setelah menjalani dua kali empat tahun masa jabatan Presiden. Masa jabatan presiden kini diperpanjang, dari empat menjadi enam tahun, dimulai pada tahun 2012.

Meskipun Putin memiliki waktu enam tahun untuk mempertimbangkan kemungkinan penerusnya, ketidakpastian tentang masa depannya yang panjang merupakan sumber ketidakstabilan potensial dalam elit penguasa yang hanya bisa dia awasi.

Orang dalam Kremlin mengatakan bahwa Putin tidak memilih ahli waris. Setiap nama yang beredar adalah produk spekulasi, bukan pengetahuan tentang pemikiran Putin.

“Semakin lama dia tetap berkuasa, semakin sulit untuk keluar,” kata Andrei Kolesnikov, peneliti senior di Carnegie Moscow Center, sebuah lembaga ‘think-tank’. “Bagaimana dia bisa meninggalkan sistem yang rumit seperti itu, yang pada dasarnya adalah proyek pribadinya?” (Reuters/The Epoch Times/waa)

Erabaru Chanel :

https://www.youtube.com/watch?v=qexciNXS1a8&t=4s