[Fitur Khusus] Mendobrak Mitos Klasik Hipotesa Evolusi (3) Sudut Pandang “Teori Evolusi” Bab II

1.3.3 Manusia Jawa Hasil Tambal Sulam

Pada 1891, seorang dokter internis sekaligus ahli anatomi asal Belanda yakni Prof. Dr. Eugene Dubois (1858-1891) menemukan satu cangkang tulang tengkorak, sepotong tulang paha, dan tiga buah gigi di tepian Sungai Sangiran, Pulau Jawa, Indonesia, lalu disatukan menjadi “manusia Jawa” (Java Man) yang memiliki sejarah panjang.

Kemudian, orang-orang mengemukakan banyak keraguan terhadap spesimen tersebut. Pertama, tidak diketahui jelas apakah tulang belulang tersebut berasal dari satu spesies yang sama, besar kemungkinan adalah hasil tambal sulam. Sejumlah ilmuwan menilai yang ditemukan oleh Dubois adalah seekor kera, sedangkan ilmuwan lainnya mengatakan itu adalah tulang modern yang mengidap penyakit, ada sebagian orang lain menilai bahwa itu adalah campuran tulang paha manusia dengan tulang tengkorak manusia kera. Ahli anatomi dari Cambridge University yakni Sir Arthur Keith (1866-1955) menemukan, tulang tengkorak yang ditemukan pertama kali jelas merupakan manusia modern, karena volume otaknya dalam ruang lingkup volume otak manusia modern. ⁹⁵

Ahli patologi bernama Profesor Rudolf Virchow yang dijuluki sebagai “bapak patologi” awalnya sangat bersemangat saat ditemukannya “manusia Jawa”, dia sendiri mengunjungi Dubois, bahkan memintanya untuk berpidato di Berlin, dan pada 1895 menerbitkan tesis atas penemuan baru ini sebanyak enam artikel. Namun Virchow masih belum bisa menerima temuan Dubois itu sebagai tambahan bagi pohon evolusi atau pohon filogenetika. Tak bisa disangkal, tulang paha tersebut memiliki ciri khas manusia primitif, sementara tulang tengkoraknya lebih menyerupai kera. Ia mengelompokkan tulang tersebut sebagai dua jenis spesies yang berbeda, ia menilai tulang paha yang sakit itu berasal dari manusia, dan tulang tengkorak itu berasal dari seekor kera jenis ungka atau owa berukuran besar. ⁹⁶

Intinya, semua fosil yang pernah dianggap orang-orang sebagai “nenek moyang manusia”, seperti “manusia Neanderthal” dan “Lucy”, telah dinilai bukan “nenek moyang manusia”; “manusia Jawa” adalah hasil tambal sulam tulang tengkorak dari hewan yang berbeda; ada pula artikel lanjutan yang memperkenalkan “manusia Piltdown” dan “manusia Nebraska” didapati ada unsur penipuan, serta tidak satu pun bisa dibuktikan merupakan nenek moyang kuno manusia dan kera. Nenek moyang “manusia kera” yang diasumsikan, hingga kini sama sekali tidak ditemukan. Hipotesa bahwa “manusia adalah hasil evolusi dari kera”, sama sekali tidak ada bukti berupa fosil.

1.4 Tidak Ada Spesies Transisi Antara Dinosaurus Dengan Burung

Archaeopteryx pernah dianggap sebagai spesies transisi antara dinosaurus dengan burung, dan digunakan untuk membuktikan teori evolusi Darwin. Akan tetapi, berdasarkan penelitian terhadap Archaeopteryx, bulu sayap, tulangnya, struktur otak, dan struktur telinga bagian dalamnya sangat menyerupai burung modern. ⁹⁷ Struktur telinga bagian dalam pada Archaeopteryx menunjukkan bahwa hewan itu memiliki pendengaran dan juga keseimbangan yang baik.

Alan Feduccia dari fakultas zoologi di University of North Carolina menjelaskan di majalah ilmiah Science, bilah sirip pada sayap terbang utama Archaeopteryx sesuai dengan pola asimetris pada burung modern — makna dari ciri asimetris ini membuktikan kemampuan terbang mereka⁹⁸. Disini perlu dijelaskan, bulu pada kontur tubuh burung modern adalah simetris, pola asimetris terutama terlihat pada bulu terbang, khususnya pola asimetris terlihat sangat signifikan pada bilah sirip di bagian depan yang kontak langsung dengan aliran udara pada saat terbang. Semua karakteristik itu menjelaskan, Archaeopteryx telah memiliki kondisi yang dibutuhkan untuk terbang, dan bukan dalam tahap transisi pada proses evolusi.

Fosil Archaeoraptor diduga merupakan bukti terbaik dinosaurus yang berevolusi menjadi burung setelah fosil Archaeopteryx. Profesor Timothy B. Rowe dari fakultas geologi di University of Texas at Austin menerbitkan hasil penelitian terhadap fosil Archaeoraptor yang ditemukan pada lapisan zaman kapur awal (Kreta awal) di majalah Nature pada Maret 2001, penelitian Profesor Rowe menemukan bahwa yang disebut fosil itu adalah benda palsu, yang merupakan gabungan antara ekor sejenis dinosaurus dengan tulang sejenis burung purba. ⁹⁹

Penulis bersama artikel ini adalah ilmuwan fakultas geologi Profesor Richard A. Ketcham dan asistennya Profesor Matthew Colbert, Profesor Cambria Denison dari Laboratorium Paleontologi Vertebrata, Xu Xing dari Institut Paleontologi Vertebrata dan Paleoantropologi di Academia Sinica, Beijing, Tiongkok, serta Profesor Philip J. Currie dari Royal Tyrell Museum di Drumheller, Alberta, Kanada. Oleh sebab itu, berbagai bukti menyatakan bahwa Archaeopteryx bukanlah spesies transisi antara burung dengan dinosaurus, juga tidak terdapat spesies transisi antara keduanya.

1.5 Ciri Khas Fosil Yang Menantang “Hipotesa Evolusi”

Sebelumnya telah disebutkan, karena pakar fosil Inggris Profesor Patterson tidak menemukan satu pun fosil yang dapat membuktikan teori evolusi, sehingga tidak bersedia menyesatkan masyarakat dengan fosil yang palsu. Bila dikatakan ini adalah suatu kesadaran awal yang disadari oleh Patterson dari kesalahan “hipotesa evolusi”, maka penelitian oleh pakar paleontologi AS yakni Profesor Gould adalah peningkatan yang esensial.

Pada era 1970-an abad ke-20, ahli paleontologi asal Harvard University yakni Prof. Dr. Stephen Jay Gould (1941-2002) setelah melakukan pengulasan kembali fosil dari berbagai tempat di segala penjuru dunia secara keseluruhan, menilai bahwa mayoritas sejarah fosil makhluk hidup meliputi dua karakteristik yang bertentangan dengan hipotesa evolusi yang progresif¹⁰⁰, yaitu:

(1) Kestabilan: Di saat banyak spesies bermunculan dari lapisan tanah, bentuknya hampir sepenuhnya sama dengan pada saat mereka punah. Meskipun ada perubahan wujud, juga sangat terbatas, dan tidak menunjukkan arah evolusi.

(2) Kemunculan tiba-tiba: Hasil survey di seluruh dunia membuktikan, spesies apapun bukan berasal dari perubahan bertahap dari “nenek moyangnya”; sebaliknya, kemunculan setiap jenis mahluk hidup sudah “semuanya selesai terbentuk”.

Singkatnya, jika evolusi berarti satu jenis makhluk hidup berubah secara bertahap menjadi makhluk hidup jenis lain, maka karakteristik menonjol pada catatan fosil adalah kurangnya bukti evolusi.

Sebagai contoh, arkeolog menemukan sejenis mahluk purba yang disebut “Trilobite”, yang hidup di bumi kita ini antara 600 juta tahun sampai 260 juta tahun silam, dan setelah 260 juta tahun makhluk itu sudah punah. Trilobite telah dibuktikan sebagai salah satu jenis mahluk prasejarah yang bertahan paling lama. Mulai dari ditemukannya sampai sepenuhnya punah telah melalui 340 juta tahun, tapi Trilobite masih tetap Trilobite, dia tidak mengalami evolusi apapun. Makhluk itu melalui 340 juta tahun dan tidak mengalami evolusi sampai punah. Ini juga menjadi bukti sangat kuat yang menyatakan teori evolusi tidak eksis. Jadi fosil tidak hanya tidak bisa mendukung hipotesa evolusi, juga telah meragukan kemungkinan “perubahan secara perlahan” itu secara mendalam.

1.6 Fosil Periode Kambrium Menunjukkan: Ledakan Kehidupan

Periode Kambrium sekitar 541 juta tahun sampai 485,4 juta tahun lalu menandai suatu momen penting dalam sejarah kehidupan di muka bumi.

Sebelum periode Kambrium, tidak ada hewan yang rumit, catatan fosil pun sangat sedikit. Pada batu serpih Burgess yang ditemukan di Kanada pada 1909, orang-orang telah menemukan banyak sekali fosil hewan laut dari zaman Kambrium. Fosil tersebut mencakup 20 hingga 35 jenis makhluk hidup yang berbeda filum atau divisi, seperti Artropoda, Brakiopoda, Vermes, Porifera, dan Chordata. Telah diketahui lebih dari 17.000 spesies yang berhasil bertahan hidup hingga zaman Permian 250 juta tahun lalu. Fenomena ini disebut juga sebagai ledakan kehidupan Kambrium¹⁰¹ (Cambrian Life’s Explosion, red.).

Bekas jasad Trilobite di atas batu 500 juta tahun lalu. Trilobite berasal kata “three lobes”, merupakan kumpulan fosil hewan Artropoda lautan yang berbentuk seperti kupu-kupu, tergolong kelas Trilobita. (Merlin74/Shutterstock)

Hewan Artropoda yang ikonik dari periode Kambrium adalah Trilobite. Ada Trilobite yang bertubuh pipih, bersusun, dan berlapis, yang berguna untuk melindungi mereka dari predator yang semakin banyak terdapat di tengah samudera. Trilobite memiliki banyak jenis dan ukuran, ada yang panjangnya bervariasi mulai dari 1 milimeter sampai 2 kaki (0,6 meter), terbukti merupakan salah satu jenis hewan prasejarah yang paling lama dan paling berhasil bertahan hidup.

Pada penelitian terhadap kumpulan fosil Chengjiang Tiongkok juga didapati fenomena serupa, hal ini telah membuktikan munculnya kehidupan secara tiba-tiba. Di Chengjiang mereka menemukan fosil berbagai jenis hewan yang berasal dari 530 juta tahun lalu, termasuk Porifera, ubur-ubur, hewan bertentakel, serangga, Peripatus, Brakiopoda, berbagai jenis Artropoda, serta hewan Chordata dan Hemichordata. ¹⁰²

Menurut hipotesa evolusi Darwin, mahluk hidup seharusnya mengalami proses evolusi yang panjang dan lambat, mengakumulasi perubahan yang kecil, lalu melalui proses seleksi alam secara bertahap berevolusi menjadi “genus” baru, “famili” baru, dan “filum” baru. Mempertimbangkan banyaknya spesies yang muncul di zaman Kambrium, seharusnya semua mahluk itu melalui proses evolusi yang amat panjang, tapi mengapa dalam rekaman fosil tidak terekam proses tersebut secara utuh? Rekaman fosil seharusnya bersifat acak, mengapa yang hilang justru mata rantai transisi sebelum periode Kambrium?

Beragam jenis fosil dari zaman Kambrium. (MarcelClemens/Shutterstock)

Ini adalah suatu masalah yang sangat krusial. Faktanya, besar kemungkinan karena metode munculnya kehidupan bukan proses evolusi yang panjang, melainkan suatu peristiwa yang terjadi tiba-tiba begitu saja, mungkin benar-benar ada suatu periode yang disebut “Abiogenesis”.

Pada 1972, ahli paleontologi Harvard University Prof. Dr. Stephen Jay Gould dan kurator American Museum of Natural History, Prof. Dr. Niles Eldredge (1943 – ), bersama-sama mengemukakan teori Keseimbangan Bersela (Punctuated Equilibrium, red.), spesies yang mengalami kondisi stasis dalam jangka waktu panjang, lalu dalam periode relatif pendek mengalami kejadian terisolasi, misalnya karena bencana geologi besar, lalu mengalami perubahan cepat, lalu tetap bertahan dalam stabilitas jangka panjang, selama periode ini tubuh makhluk hidup hampir tidak akan mengalami perubahan lebih lanjut. ¹⁰³

Kesimpulannya, ledakan besar kehidupan Kambrium memang betul-betul merupakan suatu kejadian yang sangat unik, tidak diragukan bahwa temuan ini telah mendatangkan tantangan yang besar terhadap hipotesa evolusi.

Referensi:

95. Java Man. (2023, February 9). New World Encyclopedia, Retrieved 23:52, June 3, 2023 from https://www.newworldencyclopedia.org/p/index.php?title=Java_Man&oldid=1099870

96. Rosen G. (1977). Rudolf Virchow and Neanderthal man. The American journal of surgical pathology, 1(2), 183–187.
https://doi.org/10.1097/00000478-197706000-00012

97. Alonso, P. D., Milner, A. C., Ketcham, R. A., Cookson, M. J., & Rowe, T. B. (2004). The avian nature of the brain and inner ear of Archaeopteryx. Nature, 430(7000), 666–669.
https://doi.org/10.1038/nature02706https://sci-hub.st/https://doi.org/10.1038/nature02706.

98. Feduccia, A., & Tordoff, H. B. (1979). Feathers of Archaeopteryx: Asymmetric Vanes Indicate Aerodynamic Function. Science.
https://doi.org/1021https://sci-hub.st/10.1126/science.203.4384.1021

99. Rowe, T., Ketcham, R. A., Denison, C., Colbert, M., Xu, X., & Currie, P. J. (2001). Forensic palaeontology: The Archaeoraptor forgery. Nature, 410(6828), 539–540.
https://doi.org/10.1038/35069145

100. Phillip E. Johnson. Darwin On Trial. Used with permission of Phillip E. Johnson and Regnery Gateway Publishing Co. Electronically Enhanced Text (c) Copyright 1993 World Library, Inc. Copyright 1991.
http://maxddl.org/Creation/Darwin%20On%20Trial.pdf

101. Cambrian Period. National Geographic.
https://www.nationalgeographic.com/science/article/cambrian

102. Rafferty, John P.. “Chengjiang fossil site”. Encyclopedia Britannica, 12 Nov. 2015, https://www.britannica.com/place/Chengjiang-fossil-site. Accessed 29 June 2023.

103. Stephen Jay Gould. American paleontologist.
https://www.britannica.com/biography/Stephen-Jay-Gould

SUD/whs