Sulit Menemukan Jenazah Korban? Sepanjang Jalur Pelabuhan Gyirong Dipenuhi Sobekan Pakaian

EtIndonesia.com  Longsor lumpur di perbatasan Tiongkok–Nepal menghancurkan Pelabuhan Gyirong di Tibet dan menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar. Media pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT) melaporkan bahwa di sepanjang tepi sungai dekat pelabuhan, dahan-dahan pohon dipenuhi sobekan pakaian yang berlumuran lumpur.

Pada 29 Agustus, media pemerintah PKT mulai melaporkan kondisi lokasi bencana di Pelabuhan Gyirong. Foto-foto menunjukkan tidak terlihat tanda-tanda kehidupan di pelabuhan maupun sekitarnya. Yang tersisa hanya sebagian fondasi bangunan, serta bebatuan dan lumpur yang memenuhi area tersebut.

Laporan media pemerintah daerah Tibet Daily menunjukkan bahwa dahan-dahan pohon di lereng sepanjang tepi sungai dipenuhi berbagai benda yang terbawa arus. Yang paling banyak terlihat adalah potongan pakaian yang penuh lumpur. Di salah satu pohon saja terdapat lebih dari selusin potongan pakaian dengan warna dan bahan yang berbeda-beda, sehingga diduga berasal dari korban yang berbeda.

Di media sosial Tiongkok daratan, beredar banyak video dan foto operasi penyelamatan yang diproduksi oleh pemerintah Tiongkok dan dianggap memiliki tanda-tanda pengambilan gambar yang telah diatur. Salah satu yang paling banyak mendapat kritik adalah video CCTV yang memperlihatkan apa yang disebut sebagai petugas penyelamat berdiri di depan lumpur yang memenuhi area pelabuhan sambil berteriak bersama-sama, “Apakah ada orang?”

Warganet menyindir : “Kalian kira orang Tiongkok itu ikan loach? Bisa bertahan hidup di bawah lumpur selama tiga hari?”

Meskipun media pemerintah mengerahkan pemberitaan besar-besaran mengenai “upaya penyelamatan”, dari  27 hingga 29 Agustus, pemerintah selama tiga hari berturut-turut tidak mengumumkan adanya korban selamat yang ditemukan. Jumlah korban tewas juga hanya meningkat dari 3 orang menjadi 7 orang, yang berarti kemungkinan hanya empat jenazah yang ditemukan.

Warganet menduga bahwa akibat dahsyatnya hantaman longsor lumpur, sebagian besar korban di Pelabuhan Gyirong mungkin tidak dapat ditemukan dalam kondisi utuh.

Menurut laporan, pada 26 Agustus, longsor lumpur mengalir deras dari hulu Sungai Donglin Zangbu (Lhende Khola) di sebelah timur pelabuhan. 

Setelah menghancurkan pelabuhan, material longsor kemudian bergerak ke utara melalui arah berlawanan arus di Sungai Kyirong Zangpo, menghantam wilayah hingga beberapa kilometer jauhnya. Setelah energinya berkurang, material tersebut berbalik dari arah hulu dan kembali melaju dengan kecepatan tinggi menuju kawasan pelabuhan.

Setelah menghancurkan Pelabuhan Gyirong, material longsor kembali bergerak ke selatan mengikuti aliran sungai dan kemudian menerjang wilayah Nepal, menyebabkan bencana besar di negara itu. 

Sumber : NTDTV.com

Kyiv Dalam Bahaya! Rusia Disebut Siapkan 600.000 Tentara untuk Serangan Terbesar Sejak 2022

EtIndonesia.com  — Situasi keamanan di ibu kota Ukraina dan wilayah sekitarnya kembali memburuk pada penghujung Agustus 2026. Serangan udara Rusia berlangsung selama beberapa hari berturut-turut, sementara sebuah serangan terhadap fasilitas penyimpanan di dekat Kyiv memicu ledakan berantai yang menewaskan puluhan orang.

Di tengah meningkatnya tekanan udara tersebut, muncul pula informasi yang jauh lebih mengkhawatirkan: Rusia disebut-sebut sedang mempertimbangkan kemungkinan membuka kembali front besar dari arah utara Ukraina dan pada akhirnya mengancam Kyiv.

Namun, informasi mengenai rencana ofensif darat berskala raksasa tersebut hingga kini belum dapat dipastikan secara independen.

Tragedi Myla: Sedikitnya 37 Orang Tewas

Salah satu insiden paling mematikan terjadi pada malam 28 Agustus 2026 di Desa Myla, Distrik Bucha, Oblast Kyiv, di sebelah barat ibu kota Ukraina.

Sekitar pukul 20.10 waktu setempat, sebuah drone Rusia menghantam fasilitas penyimpanan. Serangan tersebut kemudian memicu kebakaran besar dan rangkaian ledakan amunisi yang tersimpan di lokasi.

Laporan awal otoritas Ukraina pada 29 Agustus menyebut sedikitnya 27 orang tewas. Namun, setelah operasi pencarian dan penyelamatan berlanjut, jumlah korban kemudian diperbarui menjadi sedikitnya 37 orang tewas dan 42 lainnya terluka, termasuk empat anak.

Sekitar 50 bangunan tempat tinggal dilaporkan mengalami kerusakan dalam berbagai tingkat, sementara ratusan warga harus dievakuasi dari kawasan tersebut.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengakui bahwa fasilitas yang terkena serangan menyimpan bahan peledak, termasuk amunisi. Ia mengecam keras keputusan menempatkan material berbahaya tersebut begitu dekat dengan kawasan tempat tinggal penduduk dan mengatakan penyelidikan pidana mengenai dugaan kelalaian telah dibuka.

Dengan demikian, besarnya korban di Myla bukan hanya disebabkan serangan Rusia secara langsung, tetapi juga diperparah oleh ledakan berantai material eksplosif yang tersimpan di fasilitas tersebut.

Infrastruktur Kemanusiaan Ikut Terkena Serangan

Gelombang serangan Rusia pada akhir Agustus juga berdampak terhadap fasilitas sipil dan kemanusiaan.

Pada 27 Agustus 2026, sebuah gudang yang dikontrak UNICEF di Chubynske, wilayah Kyiv, terkena serangan. UNICEF mengatakan persediaan bantuan penting untuk anak-anak dan keluarga Ukraina yang terdampak perang hancur dalam insiden tersebut.

Kehancuran fasilitas kemanusiaan menjadi perhatian khusus karena Ukraina sedang mempersiapkan diri menghadapi musim dingin berikutnya. Bantuan seperti generator, perlengkapan kebersihan, air bersih dan kebutuhan dasar lainnya memiliki arti penting bagi masyarakat di wilayah yang infrastrukturnya terus mengalami kerusakan.

Serangan-serangan semacam ini menunjukkan bahwa perang tidak lagi hanya berlangsung di parit-parit pertahanan di Donbas. Jaringan logistik, fasilitas energi, gudang dan kawasan perkotaan jauh dari garis depan tetap berada dalam ancaman.

Amerika Serikat Kembali Peringatkan Warganya

Pada 28 Agustus 2026, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat kembali menegaskan status peringatan perjalanan Level 4: Do Not Travel atau “Jangan Bepergian” untuk Ukraina.

Washington memperingatkan bahwa perang Rusia-Ukraina tetap menciptakan risiko keamanan sangat tinggi. Kedutaan Besar AS di Kyiv masih beroperasi, tetapi pergerakan personelnya dibatasi dan kemampuan memberikan bantuan konsuler di luar Kyiv dapat terbatas.

Di tengah situasi inilah muncul pertanyaan yang lebih besar: apakah Rusia hanya berusaha meningkatkan tekanan melalui serangan udara, atau Moskow sedang mempersiapkan operasi darat baru?

Isu 600.000 Tentara Rusia Menuju Front Utara

Sejumlah narasi yang beredar menyebut Rusia tengah mempelajari kemungkinan pengerahan 500.000 hingga 600.000 personel untuk membuka front baru dari arah utara Ukraina.

Skenario tersebut dikabarkan melibatkan pergerakan pasukan dari arah Rusia dan Belarus menuju Chernihiv, sebelum kemudian menekan lebih jauh ke arah Kyiv.

Jika angka tersebut benar, skalanya akan luar biasa besar.

Sebagai perbandingan, ketika invasi skala penuh dimulai pada 24 Februari 2022, Rusia diperkirakan telah mengumpulkan sekitar 150.000–200.000 personel di sekitar Ukraina sebelum dan pada tahap awal operasi.

Karena itu, pengerahan hingga 600.000 tentara hanya untuk mendukung ofensif besar baru akan membutuhkan persiapan logistik, mobilisasi personel, kendaraan, amunisi dan sistem pendukung dalam skala sangat besar.

Sampai sekarang belum terdapat bukti terbuka yang cukup untuk memastikan bahwa pengerahan sebesar itu benar-benar sedang berlangsung. Oleh sebab itu, informasi tersebut harus diperlakukan sebagai skenario atau klaim yang belum terverifikasi, bukan keputusan operasi Rusia yang telah dikonfirmasi.

Kyiv 2026 Bukan Kyiv 2022

Terlepas dari benar atau tidaknya isu tersebut, satu hal jelas: menyerang Kyiv sekarang akan sangat berbeda dibandingkan Februari dan Maret 2022.

Empat tahun lalu, pasukan Rusia bergerak cepat dari Belarus menuju ibu kota Ukraina. Dunia bahkan sempat menyaksikan konvoi kendaraan militer Rusia sepanjang puluhan kilometer di sebelah utara Kyiv.

Ukraina ketika itu berada dalam kondisi jauh lebih sulit. Namun pertahanan Ukraina berhasil menggagalkan operasi Rusia, termasuk setelah pertempuran sengit di sekitar Bucha, Irpin dan Hostomel.

Sejak saat itu, Ukraina memiliki waktu bertahun-tahun untuk memperkuat pertahanan wilayah utara.

Ranjau antitank, parit, bunker, penghalang kendaraan dan posisi pertahanan telah dibangun di sejumlah wilayah. Kondisi geografis berupa sungai, hutan dan rawa juga dapat menjadi hambatan serius bagi kendaraan lapis baja berat.

Ancaman terbesar bagi pasukan penyerang saat ini bahkan mungkin datang dari udara dalam bentuk yang sangat berbeda: drone.

Perang sejak 2022 telah mengubah medan tempur secara radikal. Drone pengintai dan FPV dapat menemukan serta menyerang kendaraan dari jarak jauh. Konsentrasi tank, truk logistik dan kendaraan lapis baja dalam konvoi panjang dapat dengan cepat terdeteksi dan menjadi sasaran artileri maupun drone.

Pertahanan Udara Kyiv Juga Berubah

Pengalaman Rusia di Bandara Hostomel pada 24 Februari 2022 juga memberikan pelajaran penting.

Pada hari pertama invasi, pasukan lintas udara Rusia berusaha merebut bandara tersebut untuk menciptakan jembatan udara dekat Kyiv. Pertempuran sengit kemudian menggagalkan penggunaan Hostomel sebagai jalur cepat untuk memasukkan kekuatan besar ke ibu kota.

Sekarang risiko operasi semacam itu jauh lebih tinggi.

Ukraina telah memperoleh berbagai sistem pertahanan udara Barat, termasuk Patriot dan IRIS-T, serta mengembangkan jaringan pertahanan udara bergerak dan sistem pencegat drone.

Artinya, operasi udara besar untuk merebut lapangan terbang dekat Kyiv akan menghadapi lingkungan pertahanan yang jauh lebih berbahaya dibandingkan pada Februari 2022.

Ancaman Nyata atau Perang Psikologis?

Munculnya isu ofensif besar menuju Kyiv dapat dibaca melalui dua kemungkinan.

Pertama, informasi tersebut dapat menjadi bagian dari perang psikologis. Ancaman terhadap Kyiv berpotensi memaksa Ukraina mempertahankan pasukan dalam jumlah besar di wilayah utara sehingga unit-unit tersebut tidak dapat dikirim ke Donbas atau sektor garis depan lainnya.

Dalam perang berkepanjangan, memaksa lawan menyebarkan kekuatannya merupakan keuntungan strategis tersendiri.

Kemungkinan kedua tentu jauh lebih serius: Kremlin benar-benar sedang mempertimbangkan ofensif besar untuk mengubah jalannya perang.

Tetapi operasi seperti itu akan menjadi pertaruhan luar biasa mahal. Rusia harus menyediakan ratusan ribu personel, kendaraan, bahan bakar, amunisi, pertahanan udara, fasilitas medis dan jalur logistik panjang.

Lebih penting lagi, unsur kejutan yang dimiliki Rusia pada Februari 2022 praktis tidak ada lagi.

Jika pasukan Rusia benar-benar kembali bergerak dari utara menuju Kyiv, mereka akan menghadapi Ukraina yang telah memiliki pengalaman perang selama lebih dari empat tahun, pertahanan yang lebih matang, jaringan drone jauh lebih luas dan persenjataan Barat yang pada 2022 belum tersedia dalam jumlah seperti sekarang.

Karena itulah, kabar mengenai kemungkinan serangan baru terhadap Kyiv memang layak diperhatikan, tetapi belum boleh diperlakukan sebagai kepastian.

Yang sudah dapat dipastikan adalah bahwa akhir Agustus 2026 menunjukkan eskalasi tekanan Rusia terhadap Kyiv dan wilayah sekitarnya. Tragedi Myla pada 28 Agustus, dengan sedikitnya 37 korban tewas, memperlihatkan betapa berbahayanya perang udara yang terus berlangsung.

Apabila isu mengenai pembukaan kembali front utara pada akhirnya terbukti benar, pertempuran menuju Kyiv tidak akan menjadi pengulangan sederhana dari 2022.

Empat tahun perang telah mengubah Ukraina, mengubah Rusia, dan terutama mengubah cara perang itu sendiri dijalankan.

Karena itu, apabila Moskow benar-benar mencoba kembali menuju ibu kota Ukraina, yang menanti bukanlah operasi cepat seperti yang pernah dibayangkan pada awal invasi, melainkan sebuah pertempuran besar dengan risiko korban dan biaya yang sangat tinggi bagi kedua belah pihak. (***)

Perang Meledak Lagi, AS Serang Pulau Larak, Iran Balas Hujani Pangkalan Militer AS dengan Rudal

EtIndonesia.com  Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam di kawasan Selat Hormuz. Setelah beberapa pekan relatif tanpa serangan langsung berskala besar antara kedua pihak, Washington kembali menghantam sasaran militer Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan rudal terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di Yordania.

Perkembangan terbaru ini terjadi pada 30–31 Agustus 2026, sekaligus memperlihatkan betapa rapuhnya situasi keamanan di salah satu jalur pelayaran dan perdagangan energi terpenting di dunia.

Pada Minggu, 30 Agustus 2026, militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap dua peluncur milik Iran di Pulau Larak, sebuah pulau strategis yang terletak di kawasan Selat Hormuz.

Menurut laporan Axios yang mengutip seorang pejabat Amerika Serikat, pasukan Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC terdeteksi sedang mempersiapkan sistem peluncur yang diduga akan digunakan untuk menembakkan roket pembawa ranjau laut ke Selat Hormuz.

Amerika Serikat menilai aktivitas tersebut sebagai ancaman langsung terhadap keselamatan pelayaran. Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM kemudian menyatakan pasukannya mengambil tindakan terbatas dan presisi terhadap pasukan IRGC yang dinilai tengah mempersiapkan operasi penempatan ranjau.

Serangan tersebut menjadi aksi militer Amerika Serikat pertama yang diketahui terhadap wilayah Iran sejak akhir Juli 2026.

IRGC kemudian menyatakan serangan Amerika di Pulau Larak menimbulkan korban tewas dan luka di kalangan personel serta warga sipil Iran, meskipun jumlah korban secara terperinci belum dapat diverifikasi secara independen.

Teheran segera berjanji memberikan balasan.

Beberapa jam kemudian, ketegangan benar-benar memasuki tahap baru.

Memasuki Senin, 31 Agustus 2026, IRGC mengumumkan telah melancarkan serangan balasan terhadap dua fasilitas militer yang digunakan Amerika Serikat di Yordania, yakni Pangkalan King Hussein dan Al-Azraq.

Iran menyatakan operasi gabungan tersebut melibatkan rudal balistik dan pesawat nirawak. Teheran mengklaim menyerang fasilitas teknis, area pemeliharaan, serta lokasi yang digunakan untuk menempatkan pesawat tempur.

Namun, klaim Iran mengenai kerusakan berat belum dapat dikonfirmasi secara independen.

Militer Yordania memberikan gambaran berbeda. Angkatan bersenjata negara itu menyatakan sistem pertahanan udara berhasil mencegat delapan rudal yang memasuki wilayah udara Yordania.

Laporan awal dari sumber-sumber Amerika juga menyebut sebagian besar proyektil yang datang berhasil dicegat dan sejauh laporan awal diterbitkan belum terdapat dampak signifikan terhadap fasilitas Amerika.

Pertukaran serangan ini menjadi sangat penting karena berlangsung hanya beberapa hari setelah Washington mengumumkan kemajuan besar dalam operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz.

Pada 25 Agustus 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS telah membersihkan atau menghancurkan ranjau di jalur pelayaran internasional utama Selat Hormuz.

Operasi tersebut merupakan bagian dari upaya Washington membuka kembali jalur perdagangan energi yang selama berbulan-bulan terganggu akibat konflik.

Selat Hormuz memiliki nilai strategis luar biasa karena menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Sebelum konflik, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati kawasan ini.

Karena itulah, setiap ancaman terhadap kapal tanker, pemasangan ranjau, maupun serangan rudal di kawasan tersebut dapat langsung menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Dampaknya kembali terlihat setelah serangan terbaru. Harga minyak melonjak lebih dari dua persen setelah kabar serangan Amerika terhadap Pulau Larak muncul. Harga minyak mentah Brent bahkan kembali bergerak menembus kisaran 90 dolar AS per barel.

Situasi pelayaran juga masih jauh dari normal. Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz tetap berada di bawah tingkat sebelum perang, meskipun Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir berusaha meningkatkan jumlah kapal tanker yang dapat melintas melalui jalur yang dilindungi.

Ketegangan sebenarnya telah terlihat sebelum serangan Pulau Larak.

Dalam beberapa pekan terakhir masih muncul laporan mengenai kapal-kapal yang terkena proyektil di sekitar kawasan Hormuz. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun jalur utama telah dibersihkan dari ranjau, ancaman terhadap pelayaran komersial belum sepenuhnya berakhir.

Washington menilai kemampuan Iran menggunakan ranjau laut sebagai alat tekanan strategis harus dicegah. Sebaliknya, bagi Teheran, Selat Hormuz selama ini merupakan salah satu instrumen terpenting untuk mempertahankan daya tawar terhadap Amerika Serikat dan sekutunya.

Di balik ketegangan militer tersebut, Iran juga menghadapi tekanan ekonomi dan sosial yang berat.

Berbagai rekaman yang beredar dari dalam Iran memperlihatkan keluhan mengenai kenaikan biaya hidup, kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, hingga persoalan kualitas bahan bakar. Salah satu video yang beredar bahkan memperlihatkan seorang pria yang disebut sebagai anggota kepolisian Iran mengeluhkan kesulitan ekonomi dan mengkritik kemampuan pemerintah menangani persoalan masyarakat.

Namun, konteks, waktu perekaman, serta identitas dalam video-video tersebut perlu diverifikasi secara independen sebelum dapat dijadikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi aparat keamanan ataupun masyarakat Iran.

Tekanan ekonomi memang menjadi salah satu tantangan terbesar Teheran. Amerika Serikat telah mengisyaratkan akan terus meningkatkan tekanan melalui sanksi sekunder, sementara gangguan perdagangan dan konflik berkepanjangan semakin memperberat kondisi perekonomian Iran.

Situasi ini membuat perkembangan di Selat Hormuz semakin berbahaya. Persoalannya bukan lagi sekadar perang pernyataan antara Washington dan Teheran, melainkan sudah kembali berubah menjadi pertukaran serangan militer langsung.

Amerika Serikat menunjukkan bahwa setiap upaya baru untuk menempatkan ranjau di jalur pelayaran dapat dibalas dengan serangan. Iran, pada saat yang sama, menunjukkan bahwa serangan terhadap wilayahnya dapat dibalas dengan menargetkan fasilitas Amerika di kawasan Timur Tengah.

Dengan demikian, peristiwa 30–31 Agustus 2026 menjadi titik penting dalam konflik tersebut.

Selat Hormuz yang sempat menunjukkan tanda-tanda mulai terbuka kembali kini sekali lagi berada di bawah bayang-bayang eskalasi. Jika kedua pihak terus membalas serangan satu sama lain, konflik yang sebelumnya mulai mereda berisiko kembali berkembang menjadi konfrontasi militer yang jauh lebih luas—dengan dampak yang tidak hanya dirasakan Iran dan Amerika Serikat, tetapi juga negara-negara Teluk serta pasar energi dunia. (***)

Harimau Menyerang dan Menewaskan Dua Orang, India Kerahkan Gajah Terlatih untuk “Memburu Pelaku”

0

EtIndonesia.com Di wilayah selatan Nilgiri, India, baru-baru ini terjadi serangan harimau yang menyebabkan dua orang tewas. Untuk memburu harimau yang diduga melakukan serangan tersebut, petugas kehutanan sebelumnya mengerahkan dua ekor gajah “kumki” yang telah menjalani pelatihan khusus untuk bergabung dalam operasi pencarian.

Selain menggunakan gajah, petugas kehutanan juga menggunakan drone pencitraan termal dan kamera jebak untuk melacak dan menangkap harimau itu.

Para ahli mengatakan bahwa hilangnya habitat dan berkurangnya jumlah mangsa membuat harimau memasuki kawasan permukiman untuk mencari makanan, sehingga serangan terhadap manusia menjadi semakin sering terjadi.

Saat ini, India memiliki populasi harimau liar terbesar di dunia, dengan jumlah yang diperkirakan mencapai sekitar 70% dari seluruh populasi harimau liar dunia.

Rusia Serang Gudang Amunisi di Pinggiran Kyiv, Ledakan Menewaskan 37 Orang

Serangan udara Rusia terhadap Kyiv dan wilayah sekitarnya telah memasuki hari ketiga berturut-turut. Pihak Ukraina pada Sabtu (29 Agustus) mengatakan bahwa pada malam sebelumnya pasukan Rusia menyerang sebuah fasilitas penyimpanan amunisi di pinggiran Kyiv, yang kemudian memicu ledakan besar. Sebanyak 37 orang tewas, puluhan lainnya terluka, dan lebih dari 370 orang terpaksa dievakuasi.

EtIndonesia.com  Ledakan terjadi pada Jumat (28 Agustus) larut malam di Desa Myra, Distrik Bucha, Oblast Kyiv.

Sejumlah rumah hancur, sementara atap dan dinding mengalami kerusakan parah. Mobil dan garasi juga terdampak. Ledakan tersebut menyebabkan sedikitnya 37 orang tewas, puluhan orang terluka, dan lebih dari 370 orang dievakuasi.

Ketika ledakan terjadi, warga di sekitar lokasi menghadapi kobaran api yang dahsyat dan gelombang kejut.

Warga Ukraina Halyna Horodetska mengatakan: “Saat itu, dinding api bergerak ke arah kami. Anak saya berlutut dan berteriak, ‘Mama, tiarap!’ Jadi saya juga tiarap dan mulai merangkak pulang dengan berlutut. Kami sama sekali tidak bisa berjalan karena dinding api itu akan menelan kami. Jadi kami hanya bisa merangkak dengan berlutut.”

Warga Lyudmyla Pentsii mengatakan: “Atap rumah terlebih dahulu terbakar, jadi kami menelepon pemadam kebakaran. Namun, mereka tidak berhasil menyelamatkan rumah ini. Rumah itu hampir seluruhnya terbakar, hanya fondasinya yang tersisa.”

Pada Sabtu (29 Agustus), petugas penyelamat terus membersihkan lokasi bencana di pinggiran Kyiv. Pemerintah juga mendirikan tenda-tenda sementara untuk menyediakan makanan dan bahan bangunan guna membantu warga yang telah dievakuasi.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan pada Sabtu bahwa serangan pertama Rusia menghantam salah satu fasilitas penyimpanan amunisi milik pasukan pertahanan Ukraina. Serangan tersebut kemudian memicu ledakan dalam jumlah besar yang melibatkan peluru artileri, ranjau, drone, dan berbagai jenis persenjataan lainnya.

“Di Desa Myra, Distrik Bucha, setelah Rusia melancarkan serangan, ledakan mulai terjadi. Ini adalah situasi yang mengerikan. Sangat mengejutkan melihat kelalaian orang-orang yang menyimpan bahan peledak seperti itu di dekat pemukiman warga,” katanya. 

Zelenskyy mengatakan bahwa di antara korban tewas terdapat kepala desa dari desa tetangga, yang meninggal ketika sedang membantu operasi penyelamatan.

Dewan desa di sekitar lokasi bencana juga mengibarkan bendera setengah tiang untuk mengenang kepala desa dan warga lainnya yang menjadi korban. Pemerintah terus menyalurkan makanan dan berbagai bantuan kepada warga yang terdampak.

Pada Sabtu, sirene pertahanan udara kembali terdengar di Kyiv. Pihak Ukraina memperingatkan bahwa gelombang baru drone sedang menuju ibu kota.

Sejak Kamis (27 Agustus), pasukan Rusia telah menyerang Kyiv dan wilayah sekitarnya selama tiga hari berturut-turut. Rusia menggunakan sejumlah besar drone dan meningkatkan penggunaan rudal balistik serta drone jet. Serangan tidak hanya menyasar target militer Ukraina, tetapi juga berdampak pada supermarket, fasilitas pos, serta gudang-gudang sipil lainnya.

Reporter NTDTV, Yixin, berkontribusi dalam laporan ini.

Pemerintahan Trump Memperketat Magang bagi Mahasiswa Internasional, Sejumlah Kampus Hentikan Sementara Pengajuan 

 Pemerintahan Trump mulai pekan ini memperketat aturan mengenai program magang bagi mahasiswa internasional sebelum mereka lulus. Sejumlah universitas telah mengingatkan mahasiswa agar melakukan persiapan lebih awal. Beberapa permohonan izin kerja mahasiswa kemungkinan tidak dapat diproses oleh pihak universitas dalam waktu dekat.

EtIndonesia.com Menurut laporan The Wall Street Journal pada Kamis (27/8/2026), Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) pada awal pekan ini mengirimkan memo kepada berbagai perguruan tinggi. 

Memo itu menyatakan bahwa berdasarkan peraturan federal, mahasiswa internasional hanya diperbolehkan mengikuti magang apabila pemberi kerja memiliki hubungan kerja sama dengan universitas dan program studi tersebut memang mewajibkan seluruh mahasiswa menjalani pelatihan kerja praktik.

Departemen Keamanan Dalam Negeri memperingatkan bahwa universitas yang tidak mematuhi aturan tersebut dapat kehilangan izin untuk menerima mahasiswa asing.

Selama ini, mahasiswa internasional dapat mengikuti program Curricular Practical Training (CPT) untuk menjalani magang. Namun, dokumen resmi menyebutkan bahwa pemerintah baru-baru ini menemukan peningkatan jumlah izin kerja melalui program CPT, dan sebagian di antaranya tampaknya tidak memenuhi persyaratan yang berlaku.

Menanggapi kebijakan tersebut, University of California, Los Angeles (UCLA) dan University of California, Berkeley (UC Berkeley), antara lain, telah menghentikan sementara pengajuan CPT bagi sebagian mahasiswa.

Pada Juli lalu, pemerintahan Trump juga secara signifikan memperpendek masa tinggal di Amerika Serikat yang diizinkan bagi mahasiswa internasional, sarjana tamu, dan kelompok lainnya.

Reporter NTDTV, An Qi dan Zhao Jialin, berkontribusi dalam laporan ini.

Bau Jenazah Membusuk Menyelimuti Daerah Bencana Nepal, 40 Pelajar dan Bus Sekolah Terkubur Bersama

Korban jiwa akibat longsor lumpur di Nepal sangat besar. Media setempat melaporkan bahwa bau menyengat dari jenazah yang mulai membusuk telah menyelimuti wilayah yang paling parah terdampak. Dua bus sekolah tertimbun lumpur, salah satunya membawa 40 pelajar.

EtIndonesia.com Menurut laporan The Kathmandu Post, tiga hari telah berlalu sejak longsor lumpur terjadi pada 26 Agustus. Di Nuwakot, salah satu dari dua wilayah yang paling parah terdampak, banyak rumah masih tertimbun lumpur. Jenazah yang berada di dalam rumah mulai membusuk dan bau jenazah telah menyebar ke kawasan permukiman.

Banyak warga setempat tewas dalam bencana tersebut. Sebagian penyintas juga kehilangan anggota keluarga dan rumah mereka sehingga tidak memiliki tempat tinggal. Banyak keluarga masih menyimpan sedikit harapan bahwa anggota keluarga mereka yang tertimbun reruntuhan mungkin masih dapat diselamatkan dalam keadaan hidup.

Seorang warga bernama Bhim Prasad Pyakurel mengatakan bahwa rumahnya berada di tempat yang tinggi dan jauh dari aliran sungai. Ia tidak pernah menyangka rumahnya akan terancam bahaya. 

Sebelum longsor lumpur datang, ia berlari ke berbagai tempat untuk memperingatkan warga dan berhasil menyelamatkan banyak orang. Namun, ketika kembali ke rumah, ia mendapati ibu dan rumahnya telah lenyap. Untungnya, ia berhasil menarik istrinya keluar dari lumpur ketika sebagian tubuhnya masih tertimbun.

Banyak pelajar juga menjadi korban di sekolah-sekolah setempat. Seorang perempuan bernama Pasang Tamang mengatakan bahwa pada pagi hari tanggal 26 Agustus, tidak lama setelah ia mengantar putranya yang berusia 5 tahun ke sekolah, ia melihat aliran lumpur deras dari Sungai Trishuli. Ia segera berlari menuju sekolah. Namun, ketika tiba di sana, longsor lumpur telah menyeret banyak orang dari area sekolah, dan putranya hingga kini belum diketahui keberadaannya.

Di seberang Sungai Trishuli, sebuah bus sekolah terseret banjir dan terkubur di bawah material tanah dan batu. Bus tersebut membawa lebih dari 40 siswa. Bus sekolah lainnya dari sekolah yang sama juga terkubur di dasar sungai, tetapi belum diketahui berapa banyak orang yang berada di dalamnya.

Partai Komunis Tiongkok Membungkam Informasi Bencana di Tibet, Wartawan Asing: Meliput Warga Tibet Lebih Sulit daripada Warga Korea Utara

Banjir bandang dan longsor dahsyat terjadi di perbatasan Tibet dan Nepal pada 26 Agustus. Bencana tersebut dilaporkan sementara menyebabkan sedikitnya 586 orang tewas dan hampir 2.500 orang hilang, sehingga menarik perhatian dunia. Namun, pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT) melakukan sensor ketat terhadap video dan informasi mengenai bencana itu. Wartawan media asing mengatakan bahwa mewawancarai korban bencana di Tibet bahkan lebih sulit daripada mewawancarai warga Korea Utara.

EtIndonesia.com  Pelabuhan Gyirong, yang terletak di perbatasan Tibet, dihantam banjir bandang dan longsor pada 26 Agustus. Seluruh bangunan terminal serta bangunan-bangunan di sekitarnya rata dengan tanah. Rekaman udara yang dirilis pemerintah PKT menunjukkan bahwa Pelabuhan Gyirong sepenuhnya tertutup lumpur, sehingga harapan untuk menemukan korban yang hilang dalam keadaan hidup sangat kecil.

Setelah bencana terjadi, rekaman kamera pengawas yang memperlihatkan Pelabuhan Gyirong seketika diterjang banjir bandang seperti tsunami dan orang-orang berlarian menyelamatkan diri menyebar ke seluruh dunia. Rekaman tersebut menjadi salah satu gambar paling ikonik dari bencana ini. Namun, video tersebut dengan cepat diblokir di PKT daratan.

Di media dan internet Tiongkok yang berada di bawah sensor ketat, hampir tidak terlihat kesaksian para penyintas Tibet maupun keluarga korban yang hilang. Video yang direkam sendiri oleh warga setempat pada saat maupun setelah bencana juga sulit ditemukan. Sebaliknya, informasi mengenai bencana di Nepal, yang juga terdampak, jauh lebih terbuka dan transparan.

Hingga 29 Agustus, pemerintah PKT hanya melaporkan bahwa bencana longsor di Gyirong menyebabkan 16 orang tewas dan 546 orang hilang, tetapi hingga kini belum mempublikasikan daftar nama korban tewas maupun orang yang hilang. 

Laporan media pemerintah PKT terutama berfokus pada bagaimana petugas penyelamat mencapai lokasi bencana, sementara publik tidak memperoleh informasi mengenai identitas para korban maupun kondisi warga yang terdampak.

BBC melaporkan bahwa “Tibet” pada dasarnya sudah merupakan istilah yang sensitif bagi pemerintah PKT, dan sensitivitas Beijing terlihat semakin jelas ketika bencana sebesar ini terjadi.

Menurut laporan tersebut, program berita utama media pemerintah PKT hingga kini hanya menayangkan satu foto statis dari lokasi bencana di Pelabuhan Gyirong. Di media sosial Tiongkok, sangat sulit menemukan video yang memperlihatkan Pelabuhan Gyirong tersapu banjir dalam sekejap. Bahkan unggahan yang mendeskripsikan banjir bandang dan longsor tersebut pun sulit dicari.

Koresponden BBC di Tiongkok, Laura Bicker, berdasarkan pengalamannya sendiri mengatakan bahwa bahkan dalam situasi normal, hampir mustahil menghubungi warga Tibet. Ia mengatakan bahwa menghubungi warga Korea Utara di ibu kota Pyongyang, negara yang sangat tertutup, justru lebih mudah daripada mewawancarai warga Tibet di Lhasa, ibu kota Tibet.

Kelompok hak asasi manusia mengatakan bahwa warga Tibet di Tiongkok yang menerima wawancara atau mengunggah konten di internet yang dianggap tidak sesuai dengan narasi resmi PKT dapat ditangkap. Kondisi ini juga membuat warga Tibet yang tinggal di luar Tiongkok kesulitan mengetahui keberadaan anggota keluarga mereka setelah bencana terjadi.

Menurut laporan itu, di Tiongkok daratan, wartawan asing tidak dapat mengunjungi Tibet tanpa memperoleh izin dari Beijing. Selain itu, ketika peristiwa besar seperti ini terjadi, wartawan sering kali hanya memiliki waktu beberapa jam untuk mengumpulkan informasi. Setelah itu, video terkait dapat dihapus dan warga setempat dapat dibungkam.

Setelah bencana longsor terjadi di Tibet, pemerintah PKT memang memperbarui angka terbaru korban hilang dan korban tewas setiap hari serta mempublikasikan perkembangan operasi penyelamatan. Namun, di luar informasi tersebut, informasi mengenai kondisi bencana di Tibet sangat terbatas.

Laura Bicker mengatakan bahwa sikap dingin Beijing sebenarnya berkaitan dengan upaya “menjaga stabilitas”, yang merupakan salah satu tujuan paling penting bagi pemimpin PKT Xi Jinping. Hanya beberapa jam setelah bencana, mesin pemerintahan dan partai PKT mulai mengerahkan aparat di tingkat akar rumput untuk berusaha mencegah munculnya ketidakpuasan terhadap penanganan bencana.

Salah satu kantor komite partai tingkat daerah PKT mengeluarkan pemberitahuan yang meminta anggota Partai Komunis membantu penanganan bencana dan “berusaha semaksimal mungkin menjaga ketertiban sosial di wilayah bencana serta memastikan stabilitas dan kepercayaan masyarakat.”

Pemberitahuan itu juga menekankan bahwa mereka yang menunjukkan kinerja baik akan mendapatkan penghargaan, sedangkan mereka yang berkinerja buruk “akan dimintai pertanggungjawaban.” Hal ini dipandang sebagai peringatan yang tidak boleh diabaikan.

Dalam laporan resmi kantor berita pemerintah PKT Xinhua, Perdana Menteri PKT Li Qiang, yang pada 27 Agustus mengunjungi wilayah bencana di Tibet atas perintah Xi Jinping, meminta agar “stabilitas situasi sosial secara keseluruhan dipertahankan.”

Reporter: Luo Tingting | Editor: Wen Hui

Banjir Bandang Nepal: Kisah Rombongan Peziarah India Berhenti Selama 10 Menit untuk Minum Teh, Akhirnya Lolos dari Maut

EtIndonesia.com  Pada 29 Agustus 2026, Desa Devghat di Nepal dilanda banjir bandang secara tiba-tiba. Puing-puing dan lumpur menutupi desa itu.

Sebanyak 28 warga India awalnya berencana melakukan perjalanan ziarah ke wilayah perbatasan Nepal–Tibet pada 26 Agustus. Namun, mereka secara kebetulan terhindar dari tanah longsor mematikan setelah perjalanan mereka tertunda selama 10 menit karena berhenti untuk minum teh. Keterlambatan singkat tersebut ternyata membuat mereka lolos dari maut.

Menurut laporan Times of India pada Minggu (30 Agustus), ke-28 orang tersebut berasal dari negara bagian Andhra Pradesh, Telangana, dan Karnataka. Mereka selamat dari bencana banjir Nepal dan kini telah kembali ke rumah masing-masing.

“Sebenarnya kami seharusnya tiba lebih awal, tetapi kami berhenti untuk minum teh selama 10 menit. Penundaan itu menyelamatkan nyawa seluruh 28 orang dalam rombongan kami. Setelah itu, sopir juga segera mengambil tindakan, memilih rute lain yang lebih aman dan membawa kami ke tempat yang selamat,” ujar salah seorang anggota rombongan mengatakan kepada Times of India

Anggota rombongan lainnya mengatakan bahwa mereka meninggalkan hotel sekitar pukul 06.30 pagi. Setelah berkendara beberapa saat, mereka berhenti untuk beristirahat dan minum teh. Tidak lama kemudian, sopir menerima informasi bahwa banjir telah terjadi di depan mereka. Sopir segera memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan dan membawa seluruh rombongan ke tempat yang aman.

“Kami melihat dengan mata kepala sendiri beberapa bus terseret banjir. Beberapa desa juga hancur diterjang air. Suasananya sangat menegangkan. Kami berusaha menahan kepanikan dan meminta sopir membawa kami kembali ke hotel di Kathmandu,” katanya. 

Seorang warga India lainnya mengatakan kepada Times of India:“Kami sebenarnya akan pergi ke lokasi yang terkena bencana, tetapi proses pengurusan visa mengalami keterlambatan selama tiga hari sehingga seluruh perjalanan kami ikut tertunda. Kalau tidak, saat itu kami mungkin sudah berada di sana dan mungkin juga tidak akan selamat.”

Operasi penyelamatan berlanjut di Trishuli Center di Distrik Nuwakot, Nepal, pada 30 Agustus 2026. (Arun SANKAR / AFP via Getty Images- NTDTV.com

Memasuki hari kelima setelah banjir Nepal, berdasarkan data yang diumumkan Nepal dan Tiongkok, jumlah orang yang masih hilang kini mendekati 3.000 orang, sementara 691 jenazah telah ditemukan.

Pihak berwenang Nepal hari ini memperingatkan bahwa permukaan air sungai masih terus meningkat dan meminta tim penyelamat untuk meningkatkan kewaspadaan.

Pada 30 Agustus 2026, operasi penyelamatan masih berlangsung di kawasan Trishuli Center, Distrik Nuwakot, Nepal.

Pada 29 Agustus, banjir bandang melanda kawasan Devighat, Distrik Nuwakot. Setelah banjir surut, warga terlihat berjalan di sepanjang jalan yang tertutup lumpur di antara rumah-rumah.

Pada hari yang sama, Desa Devghat dilanda banjir secara tiba-tiba, menyebabkan puing-puing dan lumpur menutupi wilayah desa.

Seorang perempuan terlihat memindahkan barang-barang yang berhasil diselamatkannya dari rumahnya yang hancur diterjang banjir di Devghat, Nepal.

Sumber : NTDTV.com

Pada 29 Agustus 2026, warga berjalan menyusuri jalan yang tertutup endapan lumpur dan diapit oleh rumah-rumah di kawasan Devghat, Distrik Nuwakot, Nepal, setelah terjadinya banjir bandang. (Manan VATSYAYANA / AFP via Getty Images/NTDTV.com
Pada 29 Agustus 2026, desa Devghat di Nepal tertutup puing dan lumpur setelah diterjang banjir bandang. (Ritesh Shukla/Getty Images- NTDTV.com
Pada 29 Agustus 2026, seorang wanita membawa barang-barang yang berhasil diselamatkan dari rumahnya yang hancur akibat banjir di Devghat, Nepal. (Ezra Acayan/Getty Images- NTDTV.com

Hampir 3.000 Orang Hilang, Upaya Penyelamatan Banjir Bandang Nepal Menghadapi Kesulitan, Keluarga Menunggu dengan Putus Asa

EtIndonesia.com  Data bencana di perbatasan Nepal dan Tibet terus diperbaharui. Operasi penyelamatan pada 30 Agustus memasuki hari keempat, sementara masa emas 72 jam untuk pencarian dan penyelamatan telah berlalu. Banjir bandang dahsyat ini telah menewaskan sekitar 700 orang, sementara hampir 3.000 orang masih belum diketahui keberadaannya. Pihak berwenang Nepal juga mulai meminta bantuan teknis profesional dari luar negeri.

Setelah bencana runtuhnya gletser yang disertai banjir bandang dan longsor terjadi pada Rabu (26/8/2026) di perbatasan Nepal–Tibet, periode emas 48 hingga 72 jam untuk pencarian dan penyelamatan telah berlalu. Karena wilayah bencana memiliki medan pegunungan yang terjal dan lembah-lembah yang sempit, operasi penyelamatan menghadapi tantangan yang sangat besar.

Para penyintas yang kehilangan segala sesuatu berdatangan ke tempat-tempat penampungan sementara. Banyak warga juga berkumpul di markas militer dan rumah sakit, menunggu kabar mengenai kerabat mereka yang hilang.

“Kami sudah berada di sini selama dua hari, dari pagi hingga malam, tetapi kerabat dan teman-teman kami masih belum diselamatkan. Mereka kehilangan kontak dengan dunia luar. Kami tidak tahu apakah mereka berada di sungai atau di dalam hutan,” ujar kerabat korban hilang, Mingma Sherpa. 

Korban banjir Saraswati Galay mengatakan: “Bagaimana perasaan saya? Ketika melihat ke sekeliling, rasanya seperti dunia sudah tidak ada lagi. Apa yang masih tersisa? Saya merasa seperti sudah mati. Sekarang harus bagaimana? Saya tidak punya apa-apa lagi. Apa lagi yang membuat hidup ini layak dijalani? Sekarang apa yang akan terjadi, siapa yang tahu? Saya memang selamat, tetapi tidak ada yang tahu bagaimana semuanya akan berkembang. Biarlah seperti ini.”

Sebelumnya, Nepal sempat menghentikan operasi pencarian dan penyelamatan akibat hujan dan kabut tebal, serta meminta bantuan teknis profesional dari negara-negara asing.

“Seiring operasi terus berlangsung, kami telah meminta negara-negara tetangga yang bersahabat untuk memberikan bantuan konkret dan profesional guna memperkuat upaya pencarian dan penyelamatan kami dalam beberapa bidang berikut: membuka akses ke terowongan tempat orang-orang terjebak; menyediakan teknologi yang dapat membantu kami menemukan korban selamat di daerah bencana; menyediakan analisis forensik dan DNA secara cepat; serta menyediakan kamar jenazah untuk menampung jasad korban,” ujar Menteri Luar Negeri Nepal Shishir Khanal. 

Pihak berwenang Nepal mengatakan bahwa distribusi bantuan ke sejumlah desa terpencil kini sedang dipercepat. Tim penyelamat juga terus mencari puluhan orang yang masih terjebak di pembangkit listrik tenaga air di kawasan Trishuli.

Karena lebih dari 20 jembatan di Nepal hancur, pemerintah telah meminta negara-negara tetangga menyediakan jembatan Bailey portabel yang dapat dirakit dengan cepat, sehingga transportasi dan komunikasi di wilayah terdampak dapat segera dipulihkan.

Tragedi ini juga memberikan pukulan berat terhadap perekonomian Nepal. Pemerintah memperkirakan secara awal bahwa biaya rekonstruksi pascabencana dapat mencapai US$5 miliar, atau hampir sepersepuluh dari total perekonomian negara tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, banjir tersebut telah menyebabkan sedikitnya 675 orang tewas di Nepal. Banyak jenazah ditemukan di bagian hilir Sungai Trishuli dan di dalam endapan lumpur, sehingga kamar jenazah di fasilitas kesehatan setempat mengalami kelebihan kapasitas yang parah. Selain itu, 2.426 orang masih dinyatakan hilang di Nepal, termasuk sedikitnya 500 warga negara asing.

Sementara itu, media pemerintah Tiongkok mengklaim bahwa di wilayah Tibet telah dikonfirmasi 7 orang tewas dan 554 orang hilang. Namun, angka tersebut tidak berubah selama dua hari berturut-turut sehingga menimbulkan keraguan luas. Karena pemerintah Tiongkok selama ini dituding kerap menutupi kebenaran, jumlah korban yang sebenarnya masih belum diketahui.

Pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT) juga mengklaim bahwa danau bendungan alami kini sedang mengalirkan air secara alami dan risiko jebolnya bendungan telah berkurang secara signifikan. Namun, para ahli mengatakan situasinya masih belum stabil dan risiko longsor harus terus dipantau secara ketat.

Reporter NTDTV, Guo Yuexi, berkontribusi dalam laporan ini.

48 Jam Setelah Bencana, 350 Orang Diselamatkan dari Terowongan di Nepal, 1.500 Orang Masih Hilang

EtIndonesia.com  Pada Jumat (28 Agustus), bencana banjir dahsyat di perbatasan Tiongkok–Nepal telah berlalu selama 48 jam. Hingga saat ini, lebih dari 500 orang tewas dan sekitar 1.500 orang masih hilang. Pihak Nepal terus mengerahkan helikopter dan alat berat untuk mencari korban selamat di tengah timbunan lumpur. Lebih dari 5.000 personel militer dan polisi telah bergabung dalam operasi penyelamatan.

Selain itu, karena danau bendungan alami (danau bendungan longsor) masih berisiko jebol, perwakilan Palang Merah di Nepal menyatakan sangat khawatir akan terjadinya banjir susulan yang lebih besar.

Video pada Jumat menunjukkan tim penyelamat yang dibentuk oleh militer Nepal menerobos lumpur tebal dan secara bertahap mengevakuasi orang-orang yang terjebak di dalam terowongan pembangkit listrik tenaga air Upper Trishuli River.

Kantor Perdana Menteri Nepal mengatakan bahwa 350 orang telah diselamatkan dari dalam terowongan, sementara 533 warga setempat yang terdampak bencana telah dipindahkan ke tempat aman. Pihak berwenang masih berupaya mengevakuasi lebih dari 100 orang yang terjebak.

Hingga pukul 18.00 waktu setempat pada Jumat, pihak Nepal mengonfirmasi bahwa jumlah korban tewas dalam bencana ini telah meningkat menjadi 538 orang, sementara hampir 1.000 orang masih hilang.

Pemerintah Nepal juga merilis nama lebih dari 500 warga negara asing dari 34 negara yang dilaporkan hilang, termasuk 178 warga India, 90 warga Amerika Serikat, 33 warga Inggris, 25 warga Kanada, serta 100 warga Tiongkok.

Sementara itu, pemerintah Tiongkok menyatakan bahwa di sisi Tibet, bencana tersebut menyebabkan 5 orang tewas dan 558 orang hilang, termasuk 260 warga negara asing. Secara keseluruhan, masih terdapat sekitar 1.500 orang yang hilang, termasuk sekitar 400 warga Tiongkok.

Namun, angka yang diumumkan pemerintah Tiongkok dinilai sangat jauh dari kondisi sebenarnya, sehingga menimbulkan keraguan dan kritik keras dari pihak luar.

Bencana banjir mematikan ini menyebabkan banyak keluarga di Nepal tiba-tiba kehilangan anggota keluarganya dan mengalami trauma berat.

“Istri dan anak saya terseret banjir. Seluruh desa saya juga tersapu banjir. Hampir semua jalan hancur diterjang banjir, dan semua jembatan juga hilang. Hanya beberapa jalan yang masih bisa dilalui. Saya berjalan menyusuri jalan-jalan tersebut hingga akhirnya sampai di sini,” ujar Seorang warga Nepal yang terdampak bencana, Ghyamba Tsering. 

Menurut data yang tersedia, bencana banjir dahsyat ini sedikitnya merusak 80 jembatan dan 40 kilometer jalan. Lokasi tersebut merupakan tujuan populer bagi para pendaki dan peziarah yang melakukan perjalanan antara Lhasa di Tibet dan Kathmandu di Nepal, sehingga operasi pencarian dan penyelamatan menghadapi tantangan yang sangat besar.

Nepal telah mengerahkan helikopter dan alat berat untuk mencari korban selamat di tengah timbunan lumpur.

Helikopter juga menjatuhkan bantuan darurat kepada ribuan warga yang terjebak di daerah pegunungan yang sulit dijangkau. Bantuan tersebut antara lain berupa tenda, makanan, dan obat-obatan yang disediakan oleh negara tetangga, India.

Pada Jumat pagi, operasi penyelamatan sempat dihentikan setelah pejabat setempat menerima peringatan bahwa sebuah danau berisiko segera jebol, yang dapat menyebabkan banjir atau longsor baru. Namun, beberapa jam kemudian, situasi darurat tersebut untuk sementara dinyatakan telah mereda dan operasi penyelamatan kembali dilanjutkan.

Demi keselamatan, warga yang tinggal di wilayah perbatasan Nepal dan Tibet dievakuasi ke daerah yang lebih tinggi.

Reporter NTDTV, Li Mei, berkontribusi dalam laporan ini.

Balita 1 Tahun Sering Menggaruk Telinga, Ternyata Ada Biji Tanaman yang Sudah Berkecambah di Dalam Saluran Telinganya

EtIndonesia.com  Seorang balita berusia 1 tahun di Tiongkok daratan sering menggaruk telinganya. Setelah diperiksa ke rumah sakit, dokter menemukan beberapa biji tanaman yang bahkan sudah berkecambah di dalam saluran telinganya. Benda asing tersebut akhirnya berhasil dikeluarkan melalui operasi.

Menurut laporan media Tiongkok daratan pada 28 Agustus, belakangan ini anak tersebut sering menggaruk telinganya, tetapi tidak menunjukkan gejala yang jelas seperti menangis terus-menerus atau demam.

Orang tua secara tidak sengaja menemukan sebuah biji yang sudah mengering di bagian luar lubang telinga anak. Karena khawatir masih ada benda asing yang tertinggal jauh di dalam saluran telinga, mereka segera membawa anak tersebut ke Departemen THT, Kepala, dan Leher di Beijing Children’s Hospital, Capital Medical University.

Melalui pemeriksaan menggunakan endoskop telinga, dokter menemukan beberapa biji tanaman tertanam jauh di dalam saluran telinga dan menempel dekat gendang telinga.

Karena anak masih sangat kecil, sementara benda asing tersebut berada cukup dalam dan berdekatan dengan gendang telinga, dokter akhirnya melakukan prosedur pengangkatan benda asing dari saluran telinga dengan anestesi umum. Seluruh biji berhasil dikeluarkan dalam kondisi utuh.

Yang mengejutkan, biji-biji yang tertinggal di dalam telinga tersebut ternyata sudah mulai berkecambah dalam lingkungan saluran telinga yang tertutup.

Dokter menjelaskan bahwa saluran telinga bagian luar manusia memiliki kondisi yang relatif hangat, lembap, dan cukup kaya oksigen. Sekresi telinga yang bercampur dengan sisa kelembaban sehari-hari dapat menciptakan lingkungan yang cocok bagi biji tanaman untuk berakar dan berkecambah, layaknya sebuah “rumah kaca alami.”

Menurut statistik, benda asing di dalam saluran telinga merupakan salah satu penyebab yang cukup sering ditemukan pada kasus kegawatdaruratan THT anak.

Jenis benda asing yang ditemukan dalam praktik klinis sangat beragam, antara lain biji tanaman, kacang-kacangan, bagian mainan, stiker, potongan kertas, serat kapas, hingga serangga dan berbagai benda kecil lainnya.

Dokter mengingatkan bahwa apabila anak menunjukkan gejala tidak biasa seperti sering menggaruk telinga, sering menggelengkan kepala dan terlihat gelisah, menangis tanpa sebab, menolak berbaring miring, keluar cairan atau nanah dari telinga, atau kurang responsif terhadap suara, orang tua harus segera membawa anak untuk menjalani pemeriksaan medis.

Prinsip “Tiga Harus dan Tiga Jangan”

Dokter secara khusus mengingatkan orang tua agar mengingat prinsip “tiga harus dan tiga jangan” ketika ada benda asing masuk ke telinga anak.

Tiga yang harus dilakukan:

1. Harus mengamati.
Jika anak dengan jelas mengatakan bahwa ada sesuatu yang masuk ke telinganya, atau menunjukkan gejala seperti nyeri pada satu sisi telinga, telinga terasa tersumbat, sering menggaruk telinga, atau pendengaran menurun, orang tua harus segera memberikan perhatian.

2. Harus menenangkan anak.
Tenangkan anak dan cegah agar ia tidak menangis atau bergerak secara berlebihan. Gerakan yang tidak terkendali dapat menyebabkan benda asing semakin masuk ke dalam.

3. Harus mencari pertolongan medis.
Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan agar benda asing dapat dikeluarkan dengan aman.

Tiga yang jangan dilakukan:

1. Jangan mengeluarkannya sendiri dengan cotton bud, alat korek telinga, atau pinset.
Upaya mengorek secara sembarangan sangat mudah mendorong benda asing semakin dalam dan bahkan dapat melukai gendang telinga.

2. Jangan meneteskan air atau minyak ke dalam telinga.
Jika benda asing tersebut berasal dari tumbuhan, seperti kacang atau biji-bijian, benda tersebut dapat mengembang ketika terkena air, sehingga akan semakin sulit untuk dikeluarkan.

3. Jangan menunda dengan harapan masalah akan hilang sendiri.
Terutama jika ada kemungkinan benda asing tersebut merupakan baterai kancing, orang tua harus segera mencari pertolongan medis karena kondisi tersebut membutuhkan penanganan secepat mungkin.

Sumber : NTDTV.com

Trump Isyaratkan Bank Tiongkok dengan Sanksi, Beijing Diperingatkan Hentikan Dukungan ke Iran 

EtIndonesia.com Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru-baru ini mengisyaratkan bahwa ia tidak menutup kemungkinan menjatuhkan sanksi terhadap bank-bank Tiongkok yang melakukan transaksi dengan Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan memperingatkan bahwa lembaga keuangan yang membantu Iran menghindari sanksi dapat dikeluarkan dari sistem keuangan dolar AS.

Para analis menilai, jika Amerika Serikat mengarahkan sanksinya terhadap bank-bank Tiongkok, dampaknya bukan hanya terhadap transaksi Tiongkok–Iran. Langkah tersebut juga berpotensi secara langsung menghambat jalur keuangan penting yang digunakan Beijing untuk mendukung Iran, sehingga menimbulkan biaya ekonomi yang lebih besar bagi Tiongkok.

Ketika Trump baru-baru ini ditanya mengapa Amerika Serikat belum menjatuhkan sanksi terhadap bank-bank Tiongkok yang melakukan transaksi dalam jumlah besar dengan Iran, ia menjawab secara langsung:

“Siapa bilang saya belum melakukannya? Belum diumumkan. Anda tidak tahu apakah saya sedang melakukannya atau tidak. Saya tidak perlu mengumumkan setiap hal yang saya lakukan, bukan?”

Baru-baru ini, Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga mengumumkan sanksi baru terhadap 60 entitas dan individu di seluruh dunia, termasuk sejumlah entitas dan individu dari Tiongkok daratan dan Hong Kong.

Pada saat yang sama, Bessent meminta semua negara yang masih memiliki hubungan ekonomi dan bisnis dengan Iran untuk segera mengambil tindakan guna semakin mengisolasi Iran.

Bessent memperingatkan bahwa entitas mana pun yang membantu Iran melakukan pencucian uang atau menghindari sanksi dapat dikeluarkan dari sistem keuangan dolar AS.

Tang Jingyuan, pembawa acara program “Jingyuan Kaijiang” dan komentator senior:
“Jika mereka sampai dikeluarkan dari sistem dolar AS dan diputus hubungannya dengan sistem SWIFT, bank-bank tersebut tidak akan lagi dapat menjalankan bisnis yang berkaitan dengan dolar AS. Kerugian seperti ini tidak mungkin mereka tanggung.”

Wang He, kolumnis Epoch Times: “Sanksi semacam ini lebih merupakan sinyal pencegahan. Lebih dari segalanya, sanksi ini menunjukkan secara politik tekad dan kemauan Amerika Serikat untuk memberikan tekanan ekonomi terhadap Iran, serta menunjukkan bahwa Amerika tidak akan membiarkan Partai Komunis Tiongkok menantangnya.”

Jika bank-bank Tiongkok terkena sanksi, perdagangan minyak antara Tiongkok dan Iran juga akan terdampak. Lebih dari 80% minyak yang diekspor Iran dijual ke Tiongkok. Jika kegiatan perbankan dibatasi, Tiongkok akan semakin kesulitan untuk terus membeli minyak Iran dan memberikan dukungan kepada Iran.

Namun, para analis menilai bahwa PKT kemungkinan tidak akan begitu saja menghentikan transaksinya dengan Iran. Tiongkok mungkin akan beralih menggunakan lembaga keuangan yang lebih kecil atau melakukan transaksi melalui mekanisme di luar dolar AS untuk terus berdagang dengan Iran.

Menjelang pertemuan Trump–Xi yang dijadwalkan pada September, perhatian juga tertuju pada sinyal tegas yang dikeluarkan Amerika Serikat pada saat ini.

“Dia (Trump) bukan sedang memikirkan apakah harus mengkhawatirkan kemungkinan menyinggung Xi Jinping. Justru sebaliknya, dia menggunakan cara ini untuk menciptakan lebih banyak kartu tawar,” ujar Tang Jingyuan.

“Dengan cara ini, dia berusaha memaksa pemimpin PKT tersebut untuk mencapai kesepakatan yang lebih menguntungkan Amerika Serikat dalam berbagai kepentingan ekonomi, seperti negosiasi perdagangan, rantai pasok, maupun aspek geopolitik lainnya,” lanjutnya. 

Para analis menilai bahwa mulai dari tarif, pembatasan teknologi, dan mineral tanah jarang hingga masalah Iran, semuanya berpotensi menjadi kartu tawar Amerika Serikat dalam perundingan pada September mendatang. (***)

Banjir Dahsyat Nepal, Bocah 8 Tahun Kabur ke Hutan dan Panjat Pohon Demi Bertahan Hidup, Akhirnya Bertemu Ibunya 

Pada 26 Agustus, banjir mematikan melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tiongkok. Di Kabupaten Rasuwa, wilayah utara yang terdampak parah, seorang bocah laki-laki berusia 8 tahun melarikan diri ke hutan untuk menghindari banjir. Ia kemudian memanjat sebuah pohon dan berhasil menyelamatkan nyawanya. Setelah itu, ia dievakuasi seorang diri menggunakan helikopter. Pada 28 Agustus, ia secara ajaib kembali bertemu dengan ibunya.

EtIndonesia.com  Ibu Zoyal Ghale, Matti Maya Tamang, yang sebelumnya sangat mengkhawatirkan keselamatan putranya dan adiknya karena mengira keduanya tewas di sekolah, berkeliling ke berbagai tempat penampungan dan lokasi evakuasi untuk mencari kedua anaknya.

“Sampai di tempat keempat, nama anak-anak saya tetap tidak ada dalam daftar, dan mereka juga tidak ada di sana. Saat itu saya sudah menerima kenyataan bahwa kedua anak saya mungkin sudah meninggal. Yang bisa saya lakukan hanyalah menangis. Saya benar-benar hancur,” Tamang mengatakan kepada Reuters. 

Setelah berkali-kali mencari tanpa hasil, dua hari sebelumnya Tamang memperoleh nomor telepon jurnalis Reuters Sahana Bajracharya. Beberapa jam sebelumnya, Bajracharya baru saja melihat Ghale di sebuah rumah sakit kecil di Kabupaten Nuwakot yang berdekatan.

Bajracharya dan tim Reuters kemudian mendatangi rumah sakit tersebut setelah mendapat informasi bahwa seorang anak laki-laki telah dibawa ke sana dalam kondisi tidak diketahui identitasnya dan pihak berwenang tidak dapat menemukan keluarganya.

Sebelum Ghale diterbangkan ke rumah sakit lain untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut, Bajracharya berbicara dengannya. Bocah tersebut bersedia direkam dengan harapan rekaman itu dapat membantu menemukan keluarganya.

Bajracharya meninggalkan nomor kontaknya di rumah sakit. Beberapa jam kemudian, Tamang menelepon nomor tersebut. Ketika Bajracharya memberitahunya bahwa Ghale masih hidup dan telah dipindahkan ke Kathmandu, Tamang mengaku nyaris tidak percaya.

“Ketika Anda mengatakan kepada saya bahwa Anda tahu di mana Zoyal berada, semuanya terdengar seperti tidak nyata. Saya sudah menyerah untuk menemukan mereka,” katanya. 

Sebelumnya, Tamang sudah lebih dahulu menemukan putra bungsunya yang selamat.

Ia berkata: “Setelah menemukan putra sulung saya, saya merasa seperti hidup kembali.”

Keluarga Tamang dapat dikatakan sangat beruntung. Di wilayah Nepal dan Tibet, Tiongkok, saat ini telah dikonfirmasi sedikitnya 580 orang meninggal dunia, sementara sekitar 2.500 orang masih hilang.

UNICEF (Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa) mengatakan bahwa sedikitnya 17.000 anak di Kabupaten Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading—wilayah di utara Kathmandu—terdampak banjir.

UNICEF mengatakan pihaknya bekerja sama dengan pemerintah Nepal untuk mengidentifikasi dan mendaftarkan anak-anak yang terpisah dari keluarganya serta membantu mempertemukan mereka kembali dengan keluarga masing-masing.

Cara Mengenali Tanda-Tanda Peringatan Stroke dan Mencegah Kerusakan Otak dengan Pengobatan Tradisional Tiongkok

Seorang dokter pengobatan tradisional Tiongkok (PTT) yang berbasis di Taiwan memaparkan berbagai sinyal fisik yang dikirim tubuh sebelum stroke terjadi, menjelaskan patologi yang mendasarinya dari sudut pandang PTT, serta menguraikan formula herbal dan pola hidup yang dapat membantu mengurangi risiko stroke pertama maupun stroke berulang.

Stroke tidak selalu datang tanpa peringatan. Kondisi yang menjadi penyebabnya dapat dikenali dan, dalam banyak kasus, ditangani sebelum berkembang menjadi keadaan darurat.

Di dunia modern yang serba cepat, ketika jam kerja panjang, stres kronis, dan pola makan tidak teratur telah menjadi hal yang umum, kondisi pemicu stroke dapat berkembang secara diam-diam selama bertahun-tahun: kadar lipid darah yang tinggi, pengerasan arteri, dan tekanan darah yang tidak normal.

Ketika salah satu kondisi tersebut berkembang menjadi krisis, kerusakan yang ditimbulkan bisa sangat parah. Kelumpuhan anggota tubuh, kehilangan kemampuan bergerak pada salah satu sisi tubuh, bahkan kematian, merupakan sejumlah kemungkinan akibat stroke yang menyerang otak. 

Dengan perhatian dan penanganan yang tepat, kondisi tersebut dalam beberapa kasus dapat diantisipasi dan dicegah.

Siapa pun yang sering mengalami dada terasa sesak, pusing, sakit kepala, kesemutan atau mati rasa pada kulit kepala, penglihatan kabur, tiba-tiba mengalami gangguan ingatan, mendadak kehilangan alur pikiran, atau mengalami mati rasa pada tangan dan kaki, sebaiknya tidak mengabaikan gejala tersebut.

Kedutan otot, sudut mulut yang gemetar, atau kelopak mata yang bergerak sendiri juga merupakan tanda-tanda peringatan yang perlu mendapat perhatian.

Bagaimana Pengobatan Tradisional Tiongkok Menjelaskan Risiko Stroke

Pengobatan Tradisional Tiongkok (PTT) mengaitkan stroke dengan kondisi yang dikenal sebagai “dahak dan stasis darah yang menyumbat meridian” (痰瘀阻络, tán yū zǔ luò). Kedua istilah tersebut memiliki makna klinis tertentu dalam kerangka PTT.

“Dahak” dalam kerangka PTT merujuk pada produk sampingan metabolisme yang dianggap patologis dan menumpuk di dalam tubuh. Secara sederhana, konsep ini kurang lebih disamakan dengan apa yang dalam percakapan sehari-hari disebut sebagai “darah kental” atau “darah kotor”.

Kadar lipid darah yang tinggi merupakan salah satu contoh klasik dari akumulasi semacam ini. Literatur pengobatan Tiongkok klasik mengamati bahwa “orang dengan tubuh berat cenderung mengalami dahak dan kelembapan”, yang berarti bahwa menurut pemikiran PTT, kelebihan berat badan dapat menciptakan kerentanan tertentu.

Gejala yang umum meliputi kelelahan terus-menerus, pusing, dada terasa sesak, perut kembung, serta sensasi seolah-olah ada dahak yang tersangkut di tenggorokan.

“Stasis darah” merujuk pada sirkulasi darah yang terhambat—gambaran sederhananya adalah darah yang tidak dapat mengalir dengan lancar melalui jalurnya.

Secara klinis, kondisi tersebut menurut PTT dapat muncul dalam bentuk mati rasa pada kulit kepala atau anggota tubuh, rasa nyeri menusuk pada tubuh, serta lidah yang tampak keunguan atau menunjukkan bercak-bercak stasis.

Ketika dahak dan stasis darah bergabung dan dikaitkan dengan pengerasan arteri serta peningkatan tekanan darah, gejala tambahan dapat muncul, seperti wajah memerah, sensasi berdenyut kuat atau berat di kepala, insomnia, serta mimpi yang sangat jelas atau mengganggu.

PTT menyebut kondisi ini sebagai “hiperaktivitas yang” (yang hyperactivity), yakni energi tubuh yang bergerak naik secara berlebihan dan tidak lagi terkendali.

Formula Herbal untuk Mengatasi Sumbatan dan Memulihkan Sirkulasi

Bagi pasien yang pola utamanya menurut diagnosis PTT adalah dahak dan stasis darah, prinsip terapi yang digunakan adalah menghilangkan stasis, melancarkan meridian, melarutkan dahak, dan mengeluarkan kekeruhan.

Dua formula klasik yang umum digunakan adalah:

  • Warm the Gallbladder Decoction (Wen Dan Tang, 溫膽湯), atau ramuan untuk menghangatkan kandung empedu.
  • Drive Out Stasis from the Mansion of Blood Decoction (Xue Fu Zhu Yu Tang, 血府逐瘀湯), atau ramuan untuk menghilangkan stasis dari pusat darah.

Keduanya dirancang untuk meningkatkan kelancaran aliran darah dan mengatasi akumulasi yang dalam konsep PTT dikaitkan dengan kondisi sebelum stroke.

Bagi pasien yang juga menunjukkan hiperaktivitas yang, strategi pengobatan beralih pada upaya menutrisi energi yin ginjal untuk menambat yang hati, menenangkan hati, menekan yang yang naik, sekaligus melarutkan dahak dan menghilangkan “angin”.

Dalam istilah PTT, “angin” merujuk pada gejolak internal yang dianggap dapat memicu gangguan neurologis akut.

Tiga formula klasik digunakan untuk tujuan tersebut:

  • Sedate the Liver and Extinguish Wind Decoction (Zhen Gan Xi Feng Tang, 鎮肝熄風湯)
  • Enrich Water and Clear the Liver Drink (Zi Shui Qing Gan Yin, 滋水清肝飲)
  • Gastrodia and Uncaria Beverage (Tian Ma Gou Teng Yin, 天麻鉤藤飲)

Dokter PTT yang terlatih memilih salah satu di antaranya berdasarkan kondisi dan pola gejala masing-masing pasien.

Apa yang Ditunjukkan Penelitian Modern tentang Daun Ginkgo

Daun ginkgo (Yin Xing Ye, 銀杏葉) mengandung senyawa flavonoid yang, menurut artikel ini, dapat melebarkan pembuluh darah koroner dan pembuluh darah otak, meningkatkan sirkulasi ke jantung dan otak, serta menurunkan kadar kolesterol serum.

Sifat-sifat tersebut membuat ginkgo dikenal sebagai salah satu pilihan terapi untuk penyakit jantung koroner dan angina, hipertensi, hiperlipidemia, serta kejang atau spasme pembuluh darah otak.

Para klinisi juga telah menggunakannya untuk tinnitus, vertigo, stroke, penurunan daya ingat akibat usia, serta berbagai program yang ditujukan untuk memperlambat proses penuaan.

Bagi pasien yang pernah mengalami stroke atau memiliki faktor risiko yang jelas, sediaan daun ginkgo disebut dapat membantu mencegah penyumbatan lebih lanjut pada aliran darah otak dan membantu tubuh membersihkan produk sampingan yang dianggap toksik dari jaringan yang mengalami iskemia.

Mengapa Penyintas Stroke Menghadapi Risiko Lebih Tinggi Mengalami Serangan Kedua yang Lebih Parah

Dokter pada era Dinasti Qing, Shen Jin’ao, salah satu penulis medis paling berpengaruh pada masanya, pernah mengamati:

“Ketika penyakit angin telah mereda tetapi akarnya belum sepenuhnya diberantas, penyakit itu akan kambuh setelah satu atau dua tahun, atau mungkin beberapa tahun kemudian. Ketika kambuh, penyakit itu pasti akan menjadi lebih parah, bahkan terkadang berakibat fatal.”

Stroke berulang merupakan kondisi yang umum terjadi, dan setiap episode berikutnya cenderung menyebabkan kerusakan yang lebih besar dibandingkan episode sebelumnya.

Siapa pun yang pernah mengalami stroke atau memiliki faktor risiko yang signifikan, menurut penulis, membawa “bom waktu” yang dapat dijinakkan melalui pengelolaan kesehatan sehari-hari secara cermat, tetapi dapat “meledak” tanpa peringatan jika diabaikan.

Hal ini berarti menjaga pola makan, tidur, tingkat stres, dan aktivitas fisik secara konsisten, disertai pengobatan PTT yang sesuai dengan kondisi masing-masing individu.

Tanda-tanda peringatan yang telah dijelaskan di atas harus dipandang sebagai sinyal serius yang membutuhkan respons segera, bukan sesuatu yang boleh diabaikan atau dianggap sepele.

Penulis, Ye Huichang, adalah direktur Ye Huichang Traditional Chinese Medicine Clinic di Taichung, Taiwan. Artikel ini diterbitkan atas izin penulis. Reproduksi memerlukan persetujuan penulis.

Sumber : Visiontimes.com

#Nama obat-obat di atas bisa dapat diperoleh di Toko obat Tradisional Tionghoa