ZTE Setuju Bayar Denda kepada Amerika

EpochTimesId – Menurut laporan sejumlah media internasional, ZTE Corporation pada prinsipnya siap menyetujui isi perjanjian yang dibuat oleh pemerintah Amerika Serikat pada akhir lalu. Akan tetapi, ZTE belum menandatangani perjanjian penyelesaian yang direvisi.

Pemerintahan Donald Trump akan segera menerapkan hukuman baru kepada produsen peralatan telekomunikasi terbesar kedua di Tiongkok, ZTE. Seperti dikutip dari Reuters pada 1 Juni 2018, sanksi terhadap ZTE berupa denda sebesar 1,7 miliar dolar AS (sekitar 23,8 triliun rupiah).

Di samping itu, Departemen Perdagangan AS juga meminta waktu berkunjung tak terbatas. Kunjungan yang dapat digunakan untuk melakukan verifikasi kondisi terkini tentang penggunaan komponen elektronik AS oleh ZTE.

Sumber yang mengetahui masalah menginformasikan kepada Reuters, bahwa akhir pekan lalu ZTE telah menandatangani perjanjian yang disusun oleh Kementerian Perdagangan. Dalam perjanjian itu sudah termasuk denda 1 miliar dolar AS dan dana dukungan bank sebesar 400 juta dolar AS, yang disiapkan untuk mengatasi kemungkinan denda pelanggaran yang didakwakan oleh pemerintah AS.

Selain itu, sumber tersebut juga mengatakan bahwa Departemen Perdagangan AS berencana untuk mengubah perjanjian penyelesaian yang dibuat tahun lalu, untuk memasukkan denda sipil 361 juta dolar. Denda yang dibayarkan oleh ZTE tahun lalu, sebagai bagian dari denda untuk perjanjian baru.

Oleh karena itu, denda untuk Kesepakatan Penyelesaian Baru terhadap ZTE akan menjadi 1,7 miliar dolar AS. Sebagaimana diketahui bahwa ZTE belum menandatangani perjanjian penyelesaian perselisihan yang terbaru.

James Rockas, juru bicara Departemen Perdagangan AS, Selasa (5/6/2018) mengatakan, “Kedua belah pihak belum menandatangani perjanjian definitif tersebut.”

ZTE Corporation melanggar sanksi AS terhadap Iran dan Korea Utara, serta tidak melakukan kesepakatan penyelesaian yang dicapai dengan Departemen Perdagangan AS tahun lalu. Pada pertengahan bulan April tahun ini, ZTE terkena sanksi berat dari Departemen Perdagangan berupa larangan membeli suku cadang dan memperoleh layanan teknologi tinggi dari Amerika Serikat selama tujuh tahun.

Setelah itu, operasional perusahaan ZTE nyaris terhenti. Menurut berita yang disampaikan dalam sebuah tweet yang diterbitkan pada 25 Mei 2018 oleh Presiden Trump, Presiden Xi Jinping telah menelepon Trump mengenai masalah operasional ZTE.

Mereka mencoba mencari jalan alternatif yang memungkinkan perusahaan tersebut dapat melanjutkan operasinya secara normal.

Jika Departemen Perdagangan AS dan ZTE Corporation berhasil mencapai kesepakatan penyelesaian baru, larangan sebelumnya atas ekspor perusahaan akan dicabut. (Wu Ying/ET/Sinatra/waa)

Video Rekomendasi :

Agen Inggris Menyamar di Internet untuk Bongkar Jaringan Teroris Wanita ISIS

EpochTimesId – Seorang gadis remaja, Safaa Boular, menjadi terpidana teroris ISIS termuda di Inggris. Dia ditangkap bersama komplotannya setelah operasi penyamaran agen badan intelijen Inggris, MI5.

Agen MI5 berpose sebagai jihadis di Internet. Dia mengaku memiliki rencana untuk menyerang London bersama ‘suami online’-nya yang tinggal di Suriah.

Safaa Boular dinyatakan bersalah karena merencanakan aksi teror bersama saudara perempuan dan ibunya. Ini adalah jaringan sel perempuan pertama ISIS yang terungkap di Inggris.

Gadis 18 tahun bersama komplotannya itu berencana untuk melakukan serangan senjata dan granat di British Museum.

Pengadilan mendengar bahwa Boular mengalami radikalisasi melalui kombinasi keluarga yang disfungsional. Sang ibu yang mendorongnya menuju interpretasi Islam yang sangat konservatif, sehingga dirinya menjadi radikal. Boular juga mengalami radikalisasi melalui hubungannya dengan seorang pejuang jihad di Suriah.

Sue Hemming dari Crown Prosecution Service (CPS) mengatakan, “Niat Safaa Boular adalah untuk menyebabkan cedera serius dan kematian. Dia pertama berencana melakukan ini di Suriah dengan meledakkan sabuk bunuh diri dengan tunangannya turut serta di sisinya.”

“Ketika dia dicegah (perjalanan ke Suriah) fokusnya beralih ke serangan di Museum Inggris di mana akan ada kerumunan besar,” kata Hemming dalam sebuah pernyataan.

Kakak perempuan dan ibunya, serta seorang wanita lain telah mengaku bersalah atas kejahatan terkait terorisme itu. Mereka mengaku bersalah, sebelum Boular divonis bersalah pada 4 Juni 2018 di Old Bailey, London.

Wakil Asisten Deputi Terorisme, Dean Haydon, mengatakan penyelidikan dimulai ketika Boular tertangkap sedang berusaha melakukan perjalanan ke Suriah. Dia ke Suriah untuk bertemu seorang jihadis yang berkenalan secara online.

“Setelah dicegah untuk bepergian ke Suriah, dia kemudian mulai merencanakan serangan di Inggris, tetapi rencananya digagalkan oleh kerjasama para agen jaringan anti terorisme dan badan keamanan,” kata Haydon dalam sebuah pernyataan.

CPS mengatakan Boular, yang berusia 16 tahun pada saat itu, melakukan kontak online dengan seorang wanita yang merupakan perekrut ISIS dan propagandis bahasa Inggris di Raqqa. Dia lalu diperkenalkan kepada ratusan orang baru.

Dia kemudian membangun hubungan online dengan seorang jihadis Inggris yang pergi ke Suriah untuk menjadi teroris ISIS. Mereka ‘menikah’ dalam sebuah upacara online.

Segera setelah mereka menggagalkan upaya Boular untuk melakukan perjalanan untuk bertemu dengan suaminya, para agen Inggris yang menyamar sebagai komandan ISIS menghubungi dia melalui sistem pesan aman. Boular kemudian ‘mengambil umpan’, dan berdiskusi dengan mereka tentang rencana serangan di London.

“Tanpa disadari (oleh Boular), orang-orang yang dia ajak berdiskusi tentang rencana serangan terornya via online bukan sesama ekstremis, tetapi agen dari layanan keamanan yang sedang menyamar,” kata pernyataan dari Kepolisian Metropolitan London.

“Yakin bahwa dia berkomunikasi melalui aplikasi terenkripsi dan aman, (Boular) mendiskusikan rencana dan keinginannya untuk memegang senjata api dan granat nanas saat mereka akan melakukan serangan teror.”

Bersama dengan ibu dan saudara perempuannya, dia juga membahas kemungkinan menggunakan kendaraan dan pisau untuk melakukan serangan. Mereka memberi sandi ‘pesta teh’ untuk rencana aksi teror itu.

Percakapan dengan saudara perempuannya, Rizlaine Boular, dan ibu, Mina Dich, dari dalam penjara berlanjut selama sekitar dua minggu.

Pada 25 April 2017, ibu dan anak perempuan itu berkeliling Westminster. Kegiatan yang, dalam apa yang dinas keamanan yakini, sebagai pengintaian target potensial. Mereka kemudian pergi ke supermarket di London selatan pada hari berikutnya untuk membeli sebungkus pisau dapur.

Pada tanggal 27 April, ketika mereka mendengar Rizlaine mendiskusikan rencana penyerangan di rumah dengan anggota komplotan ke-empat, Khawla Barghouthi, pihak berwenang memutuskan untuk mengambil tindakan.

Selama penggrebekan di rumah mereka, Rizlaine ditembak oleh petugas saat hendak menyerang petugas dengan pisau. Dia berteriak agar mereka meninggalkannya sendirian saat mereka memberikan pertolongan pertama.

Rizlaine Boular dan Mina Dich, keduanya mengaku bersalah atas tuduhan terorisme, dan ketiga terdakwa lainnya kini sedang menunggu sidang putusan pengadilan.

Selama persidangan, terungkap bahwa sang ibu telah tertarik pada interpretasi Islam yang semakin radikal. Paham radikal itu yang kemudian ditularkan pada Boular remaja, bahkan memaksanya untuk berpuasa selama Ramadhan meskipun anaknya menderita diabetes.

“Ketiga wanita itu dipenuhi dengan kebencian dan ideologi beracun, mereka bertekad untuk melakukan serangan teroris,” kata Haydon. (Simon Veazey/Epoch Times/waa)

Video Rekomendasi :

Misteri Kehamilan Lima Astronot Wanita di Luar Angkasa

EpochTimesId – Dokumen rahasia Uni Soviet mengungkap bahwa sebanyak lima astronot wanita mereka secara tidak sengaja hamil di luar angkasa. Bayi perempuan pertama yang dikandung di ruang angkasa lahir di Uni Soviet pada 25 Juli 1991.

Para ilmuwan mengatakan bahwa masa kehamilan di luar angkasa jauh lebih pendek dari kehamilan normal di bumi. Namun identitas dari ayah bayi ruang angkasa ini masih menjadi misteri.

Para ilmuwan Uni Soviet sebelumnya telah mengungkap bahwa bayi ruang angkasa tersebut mengalami perkembangan paru-paru yang kurang sempurna. Sementara seluruh organ dan fisik lainnya berada dalam kondisi yang sangat sehat.

Setelah satu bulan lahir, bayi tersebut sudah bisa duduk, berbalik, dan berbicara dalam kalimat yang sederhana.

Seorang ahli dari Uni Soviet yang bertanggung jawab atas masalah ini mengatakan bahwa ayah dari bayi di ruang angkasa ini masih menjadi misteri. Oleh sebab itu, banyak orang khawatir bahwa bayi itu aneh.

Ketika orang-orang akhirnya melihat tampilan dari bayi yang dilahirkan itu memiliki penampilan fisik tidak beda dengan manusia, mereka semua baru merasa lega.

Setelah kejadian itu, pihak-pihak yang terkait mempelajari dan mengeksplorasi apakah terbang di angkasa akan menciptakan efek aneh pada tubuh astronot wanita.

Disebutkan oleh Soviet bahwa pesawat ruang angkasa yang membawa ibu dari bayi ruang angkasa itu telah diluncurkan pada 8 April 1991. Pesawat mendarat kembali ke Bumi pada 14 Juli di tahun yang sama.

Hal luar biasa yang sulit dipercaya adalah 5 orang astronot wanita Uni Soviet semua hamil setelah 2 bulan terbang mengelilingi bumi. Tetapi 4 orang astronot wanita lainnya memutuskan untuk melakukan aborsi, atau mengalami keguguran.

Kelima orang astronot wanita tersebut semua ingat dengan jelas, bahwa selama penerbangan itu mereka dapat merasakan adanya sensasi kenikmatan seksual dan orgasme.

Pihak-pihak terkait menganalisis bahwa fenomena ini mungkin berhubungan dengan konsepsi mereka. Tetapi bagaimana mereka bisa hamil? Siapa ayah dari janin itu? Dari mana asalnya? Ini adalah misteri yang belum terpecahkan hingga sekarang. (NTDTV/Sinatra/waa)

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :
https://youtu.be/0x2fRjqhmTA

Pejabat Intelijen AS Khawatir dengan Invasi Bersenjata Tiongkok ke Taiwan dalam 10 Tahun ke Depan

Mantan pejabat intelijen AS memprediksikan bahwa Tiongkok dapat melancarkan invasi bersenjata terhadap Taiwan paling lambat pada tahun 2030. Tujuan strategisnya adalah untuk mengusir Amerika Serikat dari Asia.

Para peneliti pada Pusat Penelitian Strategis Internasional percaya bahwa kegiatan demokrasi Taiwan merupakan ancaman terhadap legitimasi Tiongkok komunis. Tiongkok dapat menggunakan invasi bersenjata terhadap Taiwan paling cepat pada tahun 2020 untuk menjadikan Taiwan sebagai pijakan strategis global.

 oleh Huo Cheng – EpochWeekly

Militer Tiongkok melakukan invasi bersenjata terhadap Taiwan sebelum tahun 2013 ?!

James Fanell, seorang Kolonel Laut AS yang telah pensiun pada 17 Mei menghadiri acara dengar pendapat mengenai ekspansi militer global Tiongkok yang diselenggarakan oleh Komite Intelijen Dewan Perwakilan AS. Dia memperkirakan, militer Tiongkok dapat melancarkan invasi bersenjata terhadap Taiwan paling lambat tahun 2030. Oleh karena itu, tahun 2020 hingga 2030 akan menjadi dekade yang mengkhawatirkan.

Kolonel Laut James Fanell yang pernah menjabat sebagai Deputi Direktur Armada Ketujuh AS mengatakan bahwa, dalam dekade yang mengkhawatirkan ini Tiongkok komunis setiap hari akan menghadapi peningkatan tekanan internal yang muncul. sehingga mereka akan meminta jari siap  menarik pelatuk. tinggal tunggu instruksi untuk mempersatukan kedaulatan dengan kekuatan militer.

James Fanell percaya bahwa para pemimpin Tiongkok mendesak militer Tiongkok mempersiapkan kemampuan untuk menyerang Taiwan pada tahun 2020. Sementara itu juga  terus mempromosikan target peremajaan besar bangsa Tionghoa pada tahun 2049. Sehingga pada saat Republik Rakyat Tiongkok merayakan usianya yang ke-100, Tiongkok telah menyelesaikan target utamanya, yakni reunifikasi nasional.

Masalahnya sekarang adalah, kapan invasi bersenjata terhadap Taiwan mau dilakukan, agar orang-orang waktu itu telah melupakan masalah invasi militer dan bersedia bergabung dalam pesta yang diadakan di Beijing.

James Fanell mengatakan bahwa, tahun 2029 adalah batas waktu militer Tiongkok mengambil alih Taiwan demi reunifikasi. Dunia melihat apa yang Tiongkok komunis perlakukan terhadap rakyatnya. Tetapi 19 tahun kemudian, Tahun 2008, Beijing mampu menjadi tuan rumah Olimpiade dan bahkan Presiden Amerika Serikat menghadiri upacara tersebut.

Ia percaya bahwa pemimpin komunitas internasional dapat melupakan peristiwa Tiananmen dalam waktu kurang dari 20 tahun, kemudian paling lambat invasi militer terhadap Taiwan harus dilaksanakan pada tahun 2030, dan cukup banyak informasi yang mendukung pemikiran tersebut.

Farell juga mengatakan, meskipun tujuan strategis Tiongkok adalah reunifikasi Taiwan, tetapi juga untuk mencegah intervensi AS dalam konflik Selat Taiwan, Amerika Serikat akhirnya akan terusir dari Asia.

Demokrasi Taiwan adalah ancaman bagi legitimasi PKT

Richard Fisher, peneliti senior di Pusat Kajian dan Strategi Internasional juga memprediksikan Tiongkok dapat menggunakan kekuatan militer untuk reunifikasi Taiwan secepat pertengahan 2020. Dia mengatakan militer Tiongkok pada tahun-tahun terakhir terus meningkatkan tekanan kepada Taiwan di Selat Taiwan,

Pada awal tahun mereka menggeser secara sepihak jalur penerbangan pesawat di Selat Taiwan hingga mendekati tengah selat dengan maksud agar militer Taiwan sulit untuk membedakan mana pesawat lawan dan teman. merusak stabilitas di Selat Taiwan.

Ia percaya Amerika Serikat harus menyediakan pesawat mengisi bahan bakan di udara kepada Taiwan agar Taiwan mampu mengatasi ancaman militer Tiongkok.

Richard Fisher mengatakan, Tiongkok memperluas kemampuan membangun integrasi strategis darat, laut dan udara. Amerika Serikat memiliki kira-kira 10 tahun untuk mencegah ekspansi militer Tiongkok, dan Selat Taiwan akan menjadi titik awal.

Dia mengatakan alasan PKT khawatir terhadap Taiwan adalah bahwa perkembangan demokrasi Taiwan terus menjadi ancaman bagi legitimasi PKT. “Selama domokrasi Taiwan ada, legitimasi PKT terancam”

Selain itu, alasan penting Tiongkok mengambil kembali Taiwan, karena mereka akan  menempatkan Taiwan sebagai loncatan strategis bagi kemampuan pengiriman global militer, termasuk menempatkan rudal balistik antarbenua, pesawat tempur dan sistem senjata milik Tiongkok.

Ketua Komite Intelijen, Nunes mengatakan pemerintah terdahulu AS telah membantu Beijing bergabung dengan WTO dan mengadakan pertukaran militer. menghindari konfrontasi dengan membiarkan Tiongkok melakukan praktik perdagangan yang tidak adil dan klaim teritorial yang berlebihan. Namun, metode menyenangkan Tiongkok ini tidak meningkatkan hubungan bilateral, bahkan membuat Tiongkok menjadi lebih berani, sekarang mungkin sudah menjadi ancaman utama bagi keamanan, ekonomi, dan nilai-nilai AS.

Peneliti Amerika: Tiongkok belum mampu menyerang Taiwan pada tahun 2020

Terkait masalah invasi terhadap Taiwan, Ian Easton, seorang peneliti dari Institut Project 2049 menerbitkan sebuah buku yang mengekspos rahasia Tiongkok mengenai rencana menyerang Taiwan.

Kepada Epoch Times Ian Easton mengatakan, militer Tiongkok tak akan melakukan invasi terhadap Taiwan pada tahun 2020, karena Tiongkok tidak memiliki kekuatan dan keberanian untuk itu, jika Tiongkok sampai melakukannya, maka AS, Jepang, Kanada, Inggris, Prancis, Jerman dan lainnya tidak akan tinggal diam. Apalagi semua negara menyadari bahwa PKT harus harus dihilangkan.

Atas rangkaian tindakan Tiongkok di Laut Selatan telah membangkitkan kewaspadaan Gedung Putih. Juru bicara Gedung Putih Sanders pada 3 Mei memperingatkan bahwa militerisasi Tiongkok komunis di Laut Selatan akan memiliki konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang.

Juru bicara Pentagon mengatakan bahwa militerisasi lanjutan dari wilayah kontroversial di Laut Selatan akan memperburuk situasi ketegangan dan mengguncang stabilitas kawasan  tersebut. (Sinatra/asr)

Periode Krusial Negosiasi Dagang, Mampukah AS Dorong Agama dan HAM di Tiongkok?

Tang Hao

Akankah AS menggunakan perundingan ekonomi dagang untuk mendorong Beijing bagi perbaikan lebih lanjut dalam hal kebebasan beragama dan juga HAM? Jawabannya akan segera terungkap.

Perundingan dagang AS-RRT yang disoroti masyarakat luas telah mencapai dua putaran, Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross minggu ini (31/05) memimpin rombongan berkunjung ke Tiongkok, untuk melangsungkan perundingan putaran ketiga.

Tapi menjelang perundingan putaran ketiga itu, tanggal 29 Mei lalu Kemenlu AS mengumumkan “Laporan Kebebasan Beragama Internasional Tahun 2017”, walaupun ini adalah ke-18 kalinya AS merilis buku laporan ini, namun mayoritas tahun-tahun sebelumnya laporan baru dirilis di bulan Juli atau Agustus bahkan lebih lama lagi, akan tetapi tahun ini di luar dugaan laporan telah dirilis di akhir bulan Mei; dalam hal ini ada beberapa faktor yang membuat laporan kali ini menarik untuk dicermati.

Trump Kuasai Masalah Internasional, Kerahkan Jurus Jaga Kebebasan Agama

Pertama-tama, walaupun ini adalah “Laporan Kebebasan Beragama Internasional” kedua yang dirilis di masa jabatan Presiden Trump, namun ini merupakan buku laporan yang diserahkan Trump setelah menyelesaikan rangkuman pengalamaan satu tahun karirnya sebagai presiden.

Dari jurus proaktif Trump terhadap masalah internasional, termasuk masalah Korut, Iran, Yerusalem yang dikenal merupakan masalah pelik, tidak sulit dilihat bahwa Trump telah menguasai lebih luas masalah internasional yang ada, di saat yang sama juga dengan tegas mendorong prinsip keamanan internasional yakni “anti sayap kiri, anti terorisme dan perlindungan terhadap HAM”, untuk mewujudkan janji kampanyenya.

Dan sejak Trump menjabat, berulang kali ia meluruskan kembali makna penting agama bagi nilai tradisi dan ketentraman sosial Amerika, juga berulang kali menandatangani instruksi administratif dan menyampaikan pidato, bahwa dirinya akan menjamin kebebasan beragama.

Oleh sebab itu, dalam kali ini “Laporan Kebebasan Beragama Internasional”, apakah pemerintah Trump dapat lebih lanjut memberi tekanan terhadap Beijing dalam hal nilai-nilai universal seperti soal kebebasan beragama dan masalah HAM? Apakah akan mengungkap lebih banyak masalah penindasan HAM oleh PKT dibandingkan pemerintahan Obama dan sebelumnya? Apakah akan ada lebih banyak pernyataan sikap dan dorongan? Hal ini patut diperhatikan.

Perundingan Dagang AS-RRT Mungkin Peluang Dorong HAM dan Agama di RRT

Selain itu, saat ini bertepatan dengan periode krusial perundingan dagang AS-RRT, sebelumnya memanfaatkan perundingan ekonomi dagang pemerintah Trump telah berhasil memberi tekanan pada pihak RRT atas masalah nuklir Korut, dan menimbulkan dampak tertentu; kini, bagi seorang Trump yang mengutamakan agama dan HAM, akankah ia memanfaatkan langkah yang sama untuk menyoroti masalah HAM di Tiongkok, mendorong kebebasan beragama?

Mungkin ada yang berpendapat, perundingan AS-RRT telah memasuki faktor nuklir Korut, jika ingin memasukkan masalah agama dan HAM ke dalamnya, bukankah akan membuat perundingan menjadi lebih rumit dan sulit tercapai kesepakatan?

Memang demikian. Tapi dari berkali-kali transaksi besar sepanjang karirnya di bidang properti, hampir setiap kali menyangkut banyak faktor, dengan perundingan negosiasi yang sangat kompleks, bahkan pengacaranya sendiri pun merasa sangat rumit.

Dan semua transaksi itu, selalu mengandalkan logika Trump yang jernih, inovasi yang unik, keberanian yang besar, ditambah intuisi yang tajam serta mampu menangkap peluang yang tepat, beraksi cepat, sehingga transaksi bisa berlangsung lancar dan perundingan sukses, juga membawanya mencapai keberhasilan yang sulit tertandingi orang lain.

Oleh karena itu, akankah pemerintah Trump memanfaatkan kesempatan perundingan dagang AS-RRT, tidak hanya menekan pihak RRT atas masalah nuklir Korut, tapi juga mendesak RRT untuk mereformasi kondisi HAM dan kebebasan beragama di Tiongkok, ini adalah fokus pengamatan penting berikutnya.

Duta Baru Kebebasan Beragama Internasional, Fokus Pada HAM di Tiongkok

Selain itu, laporan ini juga menyebut mantan gubernur negara bagian Texas yakni Sam Brownback yang pada tanggal 1 Februari lalu menjabat sebagai Duta Kebebasan Beragama Internasional untuk kali pertama menyampaikan laporan kebebasan beragama.

Di masa Brownback menjabat sebagai senator federal, ia banyak memfokuskan pada masalah internasional dan penindasan agama dan HAM di Tiongkok, mendorong banyak undang-undang dan aktivitas terkait perlindungan kebebasan beragama. Ia juga mendukung Falun Gong, mengecam kelompok Jiang Zemin yang melakukan penindasan ilegal.

Komisi Kebebasan Beragama Ungkap Perampasan Organ Tubuh Para Tahanan Nurani

Selain itu, badan independent lintas partai yang bernaung di bawah pemerintah federal AS yakni “Komisi Kebebasan Beragama Internasional Amerika” (USCIRF), pada laporan tahunan yang dirilis pada 25 April lalu menunjukkan, “kondisi kebebasan beragama semua negara di seluruh dunia di tahun 2017 terus memburuk”, dan merekomendasikan Kemenlu untuk memasukkan RRT, Korut, Iran dan 16 negara lainnya ke dalam daftar “negara yang patut diawasi”.

Faktanya, dalam “Laporan Kebebasan Beragama” yang dilansir kali pertama oleh Kemenlu AS sejak tahun 1999, RRT telah masuk ke dalam daftar “negara yang patut diawasi” selama 16 tahun berturut-turut. USCIRF mengkritik PKT yang masih terus menindas kejam umat muslim Uighur di Xinjiang, umat Buddha di Tibet, umat Kristen, dan juga para praktisi Falun Gong.

USCIRF pun langsung menuding mantan Wakil Menteri Kesehatan RRT Huang Jiefu ikut terlibat langsung dalam kasus ini, “Para kritikus mendapati bahwa dia (Huang Jiefu) merupakan tokoh yang terlibat langsung dan berpengaruh besar dalam operasi cangkok organ dan pada proyek transplantasi organ di Tiongkok.”

Oleh karena itu USCIRF merekomendasikan pemerintah AS agar menuntut PKT mencabut seluruh larangan terhadap Falun Gong, dan melakukan penyelidikan independen kekejaman penindasan dan perampasan organ oleh PKT terhadap penganut kepercayaan. Seberapa besar pengaruh dari laporan usulan USCIRF kepada pemerintah federal terkait masalah kebebasan beragama pada laporan tahunan Kemenlu, ini juga akan menjadi fokus perhatian.

Mengapa Rezim Komunis Selalu Tindas Agama?

Terakhir, yang patut dicermati, melihat daftar 16 negara “yang patut diawasi” dengan masalah kebebasan agama yang serius, selain RRT, Korut, Vietnam yang merupakan rezim komunis serta Rusia yang dikenal sebagai negara asal komunis; ada dua negara rezim komunis lain yakni Kuba dan Laos masuk dalam daftar “negara yang patut diawasi tingkat dua”. Apakah ini hanya suatu kebetulan? Tentu saja tidak.

Membaca kembali “9 komentar” yang dirilis surat kabar Epoch Times di tahun 2004, sampai “Tujuan Terakhir Komunisme” yang dirilis di tahun 2017, dan juga serial artikel “Setan & Iblis Tengah Menguasai Dunia Kita” yang dimuat di situs Epoch Times, semuanya mengerucut dan menyimpulkan bahwa komunisme adalah paham sesat, yang berniat menghancurkan norma-norma tradisi, yang bertujuan merusak moralitas dan hati nurani manusia, setahap demi setahap, dalam rangka mencapai tujuannya memusnahkan umat manusia.

Dengan PKT sebagai contoh, walaupun kelihatannya mempropagandakan “atheisme”, namun pada dasarnya adalah menindas agama kepercayaan dan ke-Tuhan-an, mendewakan partai komunis sendiri, memaksa rakyat untuk memuja ajaran sesat yang diyakininya.

Hanya pada permukaannya menggunakan organisasi parpol dan tidak berwujud sebagai kelompok agama, lalu dikemas dengan “sekularisasi” agar dapat mengelabui manusia, lebih sulit dideteksi sifat ajaran sesatnya, sehingga mudah untuk percaya pada ajaran “atheisme” tersebut, untuk kemudian menghancurkan moral dan menyebabkan kekacauan.

Di AS, Trump secara proaktif melindungi agama dan kebebasan beragama, serta mengingatkan warga, “Kita tidak memuja pemerintah, kita memuja Tuhan.” Di Tiongkok, PKT terus menindas agama dan meminta warga untuk “mengikuti partai selamanya” melalui corong propagandanya.

Membandingkan keduanya, terefleksi rezim komunis berupaya menggantikan agama tradisional dengan “ajaran sesat partai politik”, juga menjelaskan alasan PKT terus menindas dan menganiaya kebebasan beragama selama ini; di saat yang sama juga membuktikan kebenaran pengamatan USCIRF yang telah memasukkan rezim komunis ke dalam daftar “negara yang patut diawasi”. (SUD/WHS/asr)

Artikel ini sudah diterbitkan di Epochtimes versi cetak bahasa Indonesia Edisi 557 dengan judul Periode Krusial Negosiasi Dagang, Mampukah AS Dorong Agama dan HAM di Tiongkok?

Protes Gejolak Ekonomi Memaksa PM Yordania Mengundurkan Diri, Raja Abdullah Turun Tangan

Epochtimes.id- Raja Yordania Abdullah resmi menggantikan perdana menteri untuk meredakan protes terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Protes terkait atas rencana reformasi ekonomi yang didukung oleh IMF.

Rencana pemerintah untuk menaikkan pajak menyebabkan ribuan orang turun ke jalan-jalan di ibukota Amman dan bagian lain Yordania sejak pekan lalu.

Raja Abdullah menunjuk Omar Al-Razzaz, mantan ekonom Bank Dunia, untuk membentuk pemerintahan baru setelah menerima pengunduran diri Hani Mulki seperti diungkapkan satu sumber menteri kepada arabnews.com. Razzaz adalah Menteri Pendidikan di pemerintahan Mulki.

Dalam suratnya menerima pengunduran diri, raja memuji Mulki karena “keberaniannya dalam mengambil keputusan sulit yang tidak mendapatkan popularitas,” dan memintanya untuk tetap dalam perannya hingga pemerintah baru terbentuk.

Pimpinan Asosiasi Serikat Pekerja Profesional mengatakan pemogokan yang direncanakan pada Rabu akan berlangsung kecuali rancangan undang-undang pajak penghasilan dicabut oleh pemerintah.

Kepala polisi Mayor Jenderal Fadel Al-Hamoud mengatakan pasukan keamanan telah menahan 60 orang karena melanggar hukum saat aksi protes digelar.

Sejauh ini 42 anggota pasukan keamanan terluka. Akan tetapi protes tetap terkendali.

“Yakinlah, Yordania adalah negara yang aman dan terkendali,” kata Mayor Jenderal Hussein Hawatmeh, selaku Kepala Departemen Keamanan Gendarmeria bersama Mayjen Fadel dalam jumpa pers.

Ketidakstabilan telah memukul perekonomian negara yang miskin terkait sumber daya dan menampung hampir 700.000 pengungsi Suriah. Pengangguran di antara penduduk Yordania mencapai 18,4 persen seperti diungkapkan Departemen Statistik Yordania.

Kemarahan publik mengemuka atas kebijakan pemerintah sejak kenaikan pajak penjualan yang tinggi pada awal tahun ini. Bahkan diberlakukan penghapusan subsidi roti yang didorong oleh Dana Moneter Internasional (IMF). (asr)

AS dan Jamaika Kerjasama Perangi Perdagangan Anak

0

EpochTimesId – Amerika Serikat menjanjikan bantuan dana 4,5 juta dolar AS (sekitar 63 miliar rupiah) guna membantu Jamaika mendirikan sebuah program untuk mencegah perdagangan anak. Bantuan tersebut akan disalurkan selama empat tahun dalam program perlindungan anak, ‘Child Protection Compact’ (CPC).

Program CPC milik AS bekerja sama dengan pemerintah asing untuk membantu mengurangi perdagangan anak. CPC membantu membuat perjanjian dan proyek yang disesuaikan untuk masing-masing negara.

Menurut situs web layanan informasi pemerintah, Jamaika adalah negara keempat yang dipilih untuk kemitraan CPC, dan yang pertama di Karibia. Negara lainnya adalah Ghana, Peru, dan Filipina.

Perjanjian tersebut ditandatangani di Kingston, Jamaika pada tanggal 31 Mei 2018 oleh petugas urusan biaya (Charge’ d’ Affaires), Eric Khant dari Kedutaan Besar AS di Kingston. Sementara pihak Jamaika diwakili oleh Marcia Gilbert-Roberts, sekretaris permanen Kementerian Luar Negeri Jamaika, serta Duta Perdagangan Luar Negeri.

Gilbert-Roberts mengatakan perjanjian itu bertujuan untuk mencegah perdagangan anak-anak Jamaika dan pemuda yang berisiko. “Salah satu aset paling berharga untuk masa depan negara manapun adalah kaum muda-nya, anak-anak kita,” ujarnya.

“Perang melawan perdagangan manusia, atau perbudakan modern, merupakan prioritas bagi Amerika Serikat. Kejahatan ini terjadi di negara-negara di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat, dan kerja sama yang kuat sangat penting untuk melawan bencana ini,” timpal Khant.

Dia mencatat bahwa di Jamaika, perdagangan manusia memiliki banyak bentuk. “Perdagangan anak khususnya memiliki dampak yang menghancurkan dan abadi pada anak-anak, merusak keamanan dan aturan hukum, dan kadang-kadang terkait dengan kejahatan terorganisir atau kekerasan geng.”

“Kejahatan-kejahatan ini sering tetap tersembunyi, terjadi tidak terdeteksi dalam masyarakat lokal,” kata Khant. “Melalui kemitraan CPC, kami akan bekerja sama untuk meningkatkan kapasitas pemerintah, masyarakat sipil, dan masyarakat untuk mengidentifikasi, merujuk, dan menangani kejahatan-kejahatan ini.”

Dia mengatakan bahwa, melalui program ini, Amerika Serikat bermitra dengan Satuan Tugas Nasional Jamaika Melawan Perdagangan Orang (NATFATIP), anggotanya, dan organisasi publik untuk “bekerja secara kolaboratif untuk melindungi anak-anak Jamaika dan mempertahankan masa depannya.”

Amerika sendiri sejak lama menjadi tujuan korban dan pelaku perdagangan anak dan remaja. Bahkan, jumlah kasus yang terungkap terus meningkat drastis sejak sepuluh tahun terakhir. (Joshua Philipp/The Epoch Times/waa)

Video Rekomendasi :

Thailand Berencana Kirim Durian ke Luar Angkasa Sebagai Uji Coba

0

Epochtimes.id- Terobosan ini adalah satu langkah kecil bagi Thailand, tapi menjadi satu lompatan besar bagi buah-buah yang terkenal di Asia Tenggara ini.

Thailand berencana untuk meluncurkan durian ke orbit untuk menguji daya tahannya dalam sebuah proyek terhadap “raja buah” yang dikonsumsi dalam kondisi nol gravitasi.

“Di masa depan kami ingin astronot untuk bisa menyantap makanan Thailand,” kata juru bicara untuk Geo-Informatika dan Pengembangan Teknologi Luar Angkasa (GISTDA) Thailand dilansir Saudigazette.

“Kami ingin melihat apakah ada perubahan fisik setelah kembali ke bumi, misalnya mungkin menjadi lebih kecil, atau merekah.”

Durian terkenal karena popularitasnya dan terkenal karena baunya yang menyengat, mendorong larangan makan durian di kamar hotel, lift dan kabin pesawat.

Reputasi buah itu menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana ia akan diterima di dalam ruang tertutup di pesawat luar angkasa.

Tetapi pengujian dari organisasi yang belum disebutkan namanya menyebutkan akan menggunakan versi buah yang dikeringkan dan disegel hampa udara yang membungkus lebih sedikit bau.

Belum diketahui secara pasti kapan rencana ini akan diwujudkan. Beragam jenis nasi Thai juga akan jadi bekal bagi astronut si pembawa duria.

Kemajuan teknologi dan semakin banyaknya negara mengirim warganya ke luar angkasa telah memperkaya masakan yang dikonsumsi astronot dengan rasa baru.

Sebelumnya pada 2008, Kimchi yang dikenal sebagai hidangan acar telah dikirim ke angkasa. Ketika itu, Kimchi yang difermentasi telah dibawa oleh seorang astronot Korea Selatan. (asr)

Kesaksian Etnis Uighur yang Lolos dari “Kamp Pendidikan Ulang” di Xinjiang

Xinjiang ditengarai sedang dihantui teror merah. Pihak berwenang secara terbuka menenderkan sejumlah besar proyek pembangunan kamp interniran, menangkap dan menahan orang sewenang-wenang, seorang korban yang dipenjara selama lebih dari delapan bulan di “kamp pendidikan ulang” baru-baru ini bersaksi tentang penganiayaan oleh pihak berwenang PKT.

Pada 19 Mei VOA (Voice of America) mengutip kesaksian seorang yang selamat dari penjara di Xinjiang dan ‘kamp pendidikan ulang’ kepada Associated Press, menunjukkan bahwa Xinjiang sudah menjadi sebuah tempat dimana pengawasan menyusup ke mana-mana dan penduduk dapat ditahan secara sewenang-wenang.

Omir Bekali (42), terlahir di Tiongkok, orang tuanya adalah suku Kazakh dan Uighur. Pada tahun 2006 ia beremigrasi ke Kazakhstan dan setelah tiga tahun memperoleh kewarganegaraan.

Pada bulan Maret tahun lalu Bekali kembali ke Tiongkok untuk berkunjung dan beberapa hari kemudian ia ditangkap. Fokus interogasi polisi adalah masalah kerjasamanya dengan sebuah agen perjalanan di Kazakhstan. Pihak berwenang menuduh mereka membantu Muslim Tiongkok untuk mendapatkan visa turis lokal dan membantu orang-orang ini melarikan diri dari Tiongkok.

Bekali disiksa degan duduk di “bangku harimau” dan terus diinterogasi. Dia digantung dengan sepasang kakinya hampir tidak menyentuh lantai dan selama 4 hari 4 malam tidak boleh tidur. Pada hari biasa, kedua tangan dan kakinya diikat dengan rantai besi dan diikatkan pada tempat tidur dimana badannya tidak bisa berdiri tegak.

Interogator mengancam hendak membakar paspornya dan mengatakan dia “tidak bisa keluar dengan selamat”. Polisi memaksanya mengakui telah membahayakan keamanan nasional, mengorganisir, menghasut dan melindungi teroris. Di bawah campur tangan pihak diplomat Kazakhstan, Bekali dibebaskan oleh polisi tetapi dipindahkan ke dalam “kamp interniran (pendidikan ulang)”.

Di sana, ia dikurung dalam sebuah ruangan bersama 40 orang lainnya. Setiap subuh bangun tidur, harus menyanyikan dulu “lagu-lagu merah (komunis)”; mereka diharuskan belajar bahasa mandarin dan sejarah Tiongkok, terutama sejarah bagaimana Partai Komunis “membebaskan” Xinjiang (Uighur). Sebelum makan diharuskan berteriak keras “Terima Kasih Partai” dan lain-lain; di dalam kelas wajib melafalkan slogan berulang-ulang.

Yang paling sulit baginya adalah ketika harus terus-menerus mencela keyakinannya sebagai Muslim, melakukan oto kritik dan mengkritik kerabat. Ketika Bekali menolak untuk melakukan, ia dihukum berdiri didepan dinding selama 5 jam. Satu minggu kemudian ia dimasukkan ke dalam sel isolasi dan tidak diijinkan untuk makan selama 24 jam.

Setelah ditahan di kamp  yang dijaga ketat itu selama 20 hari, ia terpikir untuk bunuh diri. Sampai akhir bulan Nopember tahun lalu, Bekali dibebaskan dan dapat meninggalkan Tiongkok.

Sampai hari ini ia masih saja tidak bisa keluar dari bayangan kelam semasa dalam tahanan dan setiap malam tidak bisa tidur nyenyak. Dengan meneteskan air mata ia berkata “ketika Anda mengkritik diri sendiri, menyangkal pikiran sendiri dan bangsa sendiri, tekanan mental seperti itu adalah sangat besar”. Namun, setelah beberapa bulan berlalu, kedua orang tua dan adik perempuannya juga dijebloskan ke “kamp pendidikan ulang”.

Menurut statistik dari Departemen Luar Negeri AS, sedikitnya ada beberapa puluh ribu orang Uighur di Daerah Otonomi Xinjiang, Tiongkok yang ditahan dalam “kamp pendidikan ulang”. Kaum etnik Uighur dan beberapa ilmuwan yang diasingkan di luar negeri mengatakan bahwa jumlah ini mungkin telah mencapai hampir satu juta orang.

Rian Thum seorang asisten profesor ilmu sejarah di Loyola University New Orleans AS yang mempelajari masalah Xinjiang secara jangka panjang, pada tangal 4 Mei lalu dalam sebuah seminar di Washington mengatakan: “Menurut data statistik terbaik yang dapat kami peroleh, ada 5% hingga 10% kelompok etnis Uighur karena status suku mereka lantas menjadi target penahanan dari ‘pusat pendidikan ulang’ tersebut, ini berarti jumlah mereka yang ditahan mencapai 500.000 hingga 1.000.000 orang.”

Sebuah laporan studi terbaru dari Adrian Zenz, seorang peneliti dari European School of Culture and Theology di Korntal Jerman menunjukkan bahwa sejak tahun 2016 PKT menggalakkan pembangunan ‘kamp konsentrasi’ di semua pelosok Xinjiang, hingga saat ini sudah menghabiskan dana lebih dari 680 juta RMB.

Pemerintah mengadakan tender secara terbuka untuk proyek pembangunan kamp-kamp konsentrasi tersebut dan pada saat yang sama merekrut staf kamp dengan latar belakang keahlian psikologis kriminal atau dengan latar belakang militer dan polisi.

Menurut laporan terbaru dari Minghui News, saat ini di setiap kota dan kabupaten di daerah otonomi Xinjiang terdapat kamp konsentrasi yang khusus untuk menganiaya etnis minoritas, hanya di kota Urumqi saja ada 33 kamp konsentrasi. Selain orang Uighur, banyak praktisi Falun Gong juga ditahan dalam kamp konsentrasi.

Sejak tokoh garis keras PKT Chen Quanguo menjabat sebagai Skretaris Komite (pimpinan) Partai di Daerah Otonomi Xinjiang sejak musim panas 2016, keamanan Xinjiang terus ditingkatkan. Xinjiang pun telah menjadi penjara buatan manusia terbesar di dunia, sistem nama asli ketika Anda pergi dengan mobil, sistem nama asli pengiriman, pusat perbelanjaan, kantor, distrik………. hampir semua tempat masuk membutuhkan kartu pengenal wajah untuk digesekkan baru bisa masuk.

Beberapa komentator mengatakan bahwa kebijakan pemerintah yang menghendaki stabilitas dan menolak perkembangan, hal ini menyebabkan seluruh suasana masyarakat dipenuhi oleh kecemasan dan rasa tidak aman, orang saling tidak percaya dan saling melaporkan secara rahasia, sudah mencapai taraf panik, jika mendengarkan kabar angin, semua orang sibuk membela diri. Dalam tekanan tinggi seperti ini perkembangan di Xinjiang sudah stagnan, sekarang kota-kota besar di Xinjiang termasuk Urumqi berada dalam depresi. (LIN/WHS/asr)

Video Rekomendasi :

https://www.youtube.com/watch?v=oHKYeGfQ2Ko

Perubahan Sikap Aktris Lois Wheeler Snow dari Pro Sampai Kontra PKT

Aktris dan penulis AS berusia 97 tahun, Lois Wheeler Snow 2 bulan lalu meninggal dunia di Swiss. Nyonya Snow mengutuk penindasan Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap hak asasi manusia dan kritikannya berdampak lebih luas di bawah pengaruh suaminya.

Li Muyang – EpochWeekly

Lois Wheeler Snow, aktris dan penulis AS berusia 97 tahun telah meninggal dunia pada 3 April 2018 di Swiss. Suaminya adalah seorang jurnalis Amerika terkenal bernama Edgar Snow.

Edgar Snow bersama mantan istrinya, Helen menulis buku berjudul ‘Red Star Over China’. Sebuah buku terbitan tahun 1937 yang tulisannya untuk mempercantik kepribadian Mao Zedong. Sehingga berkat buku tersebut Mao berhasil menggalang sejumlah  bantuan dana asing untuk mengembangkan Partai Komunis Tiongkok (PKT), selain itu, buku tersebut juga berhasil memikat banyak intelektual muda Tiongkok yang tidak mengetahui situasi untuk bergabung dengan komunis yang berbasis di Yan’an.

Tentu tidak diragukan lagi bahwa Edgar Snow melakukan propaganda ingternasional untuk PKT karena ia tertipu organisasi jahat tersebut. Seperti yang semua orang tahu, Partai Komunis Tiongkok selalu menaruh perhatian tinggi pada hubungan publik dengan para wartawan dan penulis media Barat, termasuk akademisi dan orang-orang dari kalangan intelektual tinggi.

Tahun 1949, Edgar Snow menikah dengan Lois Wheeler yang kemudian dikenal sebagai Nyonya Snow. Sebelum menikah, Lois Wheeler adalah seorang aktris pertunjukan di Broadway yang relatif masih segar, dan Edgar Snow sudah terkenal karena buku larisnya ‘Red Star Over China’.

Edgar tiba di Tiongkok pada bulan September 1928, dan ia dapat pergi ke Yan’an dengan bantuan Soong Ching Ling (istri alm. Sun Yatsen) pada tahun 1936. Ia secara berturut-turut telah mewawancarai banyak pemimpin Tentara Merah Tiongkok, termasuk Mao Zedong, Peng Dehuai, Zuo Quan, Nie Rongzhen dan lainnya.

Snow menerbitkan banyak artikel di berbagai media Inggris, dan kemudian disusun dan diterbitkan dalam buku ‘Red Star Over China’. Justru karena pengaruh buku ini membuat Amerika Serikat berpaling dari kebijakan Chiang Kai-shek yang akhirnya menyebabkan kegagalan bagi rezim Chiang Kai-shek.

Ada versi yang lebih baru dari ini, Matthews dan Castro. Matthews, jurnalis besar The New York Times melakukan kontak dengan Fidel Castro dan Castro berbicara tentang konstitusionalisme liberal. Kemudian dalam wawancara panjang dengan Matthew, Matthew mempromosikan Fidel Castro sebagai citra heroik yang anti-kediktatoran dan seorang demokrat sejati, sehingga menyebabkan kehebohan di masyarakat Barat. Setelah itu, di bawah tekanan publik, pemerintah AS secara bertahap menyerahkan dukungannya kepada pemerintah militer Kuba dan menyebabkan keruntuhannya.

Tetapi tak lama setelah Castro mulai berkuasa, orang-orang menemukan apa yang telah dia lakukan dan apa yang telah dijanjikan bertolak belakang, sehingga New York Times dan Matthew mulai diserang karena mereka tertipu oleh Castro, melakukan propaganda untuk pemerintah militer baru.

The American National Review Magazine pernah menerbitkan gambar kartun berupa Castro tersenyum dan duduk di atas peta Kuba. Judulnya tertulis : Saya menemukan pekerjaan melalui The New York Times.

Edgar Snow pun sama, tulisan dalam bukunya semua menggambarkan segala sesuatu yang cenderung pro PKT. Karena apa yang dia lihat dan dengar semuanya ditentukan oleh Partai Komunis Tiongkok.

Mengenai kematian sebenarnya dari Liu Zhidan, Edgar dan para pemimpin PKT lainnya yang terjerumus dalam kehidupan pribadi yang pesta pora di Yan’an. Jelas tidak akan membiarkan Snow mengetahuinya.

Terpengaruh oleh tulisan dalam bukunya, beberapa orang wanita ‘berpikiran maju’ pun pergi ke Yan’an untuk bergabung dengan PKT. Itulah sebabnya Mao Zedong langsung meninggalkan He Zizhen (istri Mao) dan kumpul kebo dengan Jiang Qing. Hal-hal seperti itu dirahasiakan, sehingga Edgar Snow tidak mengetahuinya.

Buku Snow tersebut telah membantu menaikkan ‘reputasi’ PKT, tetapi ketika Edgar kembali mengunjungi Tiongkok pada tahun 1960, Partai Komunis Tiongkok bahkan tidak memberikan royalti dari buku yang diterbitankan, karena hampir tidak ada tempat lain kecuali perpustakaan dengan jumlah buku yang sangat sedikit. PKT selalu habis manis sepah dibuang, begitu pula Edgar Snow diperlakukan.

Mengenal wajah sebenarnya dari PKT melalui peristiwa Tiananmen 4 Juni

Edgar Snow di tahun-tahun terakhirnya melihat kekejian Mao Zedong dan mulai membenci Mao. Ketika mengunjungi Tiongkok pada tahun 1970, meskipun ia dan istri diperlakukan seperti raja dan ratu, tetapi Mao Zedong bahkan berkata kepadanya bahwa dia harus berterima kasih kepada Jepang atas agresi mereka, karena itu yang memungkinkan PKT merebut kekuasaan dari Kuomingtang dan mengubah tatanan pemerintah yang demokrasi menjadi diktator di bawah pimpinan Partai Komunis Tiongkok.

Sejak itu, Snow menyadari bahwa ia telah keliru dan menyesali perbuatannya yang telah merugikan rakyat Tiongkok.

Dibandingkan dengan Edgar, istrinya Lois Wheeler lebih beruntung karena ia dapat melihat kejahatan PKT secara langsung. Ia kemudian menjadi seorang pendukung kegiatan HAM Tiongkok yang cukup gigih.

Tahun 1989 PKT memutuskan pembantaian mahasiswa di Tiananmen pada 4 Juni. Ribuan masyarakat dibunuh, digilas dengan tank-tank Tentara Pembebasan Rakyat. Sejak itu, nyonya  Snow melihat PKT dengan perspektif yang berbeda. Ia segera mengutuk tindakan keras itu dan bersumpah tidak akan pernah kembali ke Tiongkok.

Ny. Snow pernah mengatakan kepada Time versi Asia bahwa ia selama ini tidak mengetahui tentang pelanggaran hak asasi manusia oleh PKT dan bahwa pembantaian massal pada 4 Juni itu telah menyadarkan dirinya.

“Misalnya, Anda dapat melihat orang-orang dengan wajah penuh darah dibawa pergi. Saya mulai menyadari bahwa keluarga orang-orang termasuk telah dianiaya dalam beberapa cara.”

Selama bertahun-tahun, Ny. Snow menulis surat kepada para pemimpin puncak Partai Komunis Tiongkok dan meminta mereka untuk memperhatikan keluarga yang terkena dampak dari penindasan di Lapangan Tiananmen.

Nyonya Snow merasa ia memiliki tanggung jawab ini, karena bagaimanapun suaminya masih memiliki pengaruh tertentu di PKT, dan kekejaman PKT itu juga telah membawa bencana yang tidak ringan bagi rakyat Tiongkok.

Nyonya Snow terakhir pergi ke Beijing adalah pada tahun 2000. Saat itu ia sudah berusia 79 tahun. Ia menyumbangkan sejumlah uang kepada seorang aktivis terkenal yang putranya tewas dalam insiden 4 Juni.

Namun, Perjalanan ke Beijing kali ini dibandingkan dengan pertama kalinya ia mengunjungi Beijing 30 tahun yang lalu telah jauh berbeda.

Ia diperlakukan sebagai tamu istimewa oleh PKT, namun bukan pemimpin Partai Komunis Tiongkok yang menerimanya, tetapi lebih dari 20 orang polisi berpakaian preman yang mengelilinginya.

Para polisi itu secara diam-diam memotretnya dan mencegahnya bertemu dengan aktivis. Bahkan ketika ia singgah ke Universitas Peking di mana terkubur separuh dari abu jenasah suaminya Edgar Snow, ia juga diawasi secara ketat. (Sinatra/asr)

Hamas Kembali Tembakkan Roket, Israel Membalas dengan Bombardir Pesawat Tempur

Epochtimes.id- Hamas kembali meluncurkan roket ke Israel pada (02/06/2018) Sabtu malam waktu setempat. Aksi ini memicu sirene meraung-raung saat ribuan orang Israel berlari untuk berlindung.

Serangan roket ini mendapat balasan dari pesawat tempur Israel pada sejumlah posisi Hamas di Gaza, semua hanya beberapa hari setelah pertempuran mengganas di kawasan itu sejak perang 2014.

Awal pekan ini pada 29 Mei lalu, rentetan lebih dari 100 mortir dan roket ditembakkan ke beberapa lokasi di Israel Selatan. Satu mortir Hamas menghantam sebuah taman kanak-kanak Israel. Gencatan senjata yang dibuat mulai berlaku pada Rabu pagi.

Saat tembakan roket terakhir – pelanggaran pertama dari gencatan senjata 30 Mei – setidaknya empat proyektil ditembakkan ke Israel selatan dari lokasi Hamas di Gaza. Laporan ini diklaim militer Israel dalam sebuah pernyataan.

Belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan roket.

Warga di Gaza mengatakan pesawat Israel menyerang setidaknya tiga situs milik Hamas, kelompok teroris Islam yang mengontrol daerah kantong.

Militer Israel mengkonfirmasikan dalam pernyataan bahwa mereka telah melakukan serangan udara. Israel menambahkan bahwa “organisasi teror Hamas bertanggung jawab untuk semua peristiwa yang terjadi di Jalur Gaza dan berasal dari itu.”

Tidak ada laporan tentang korban di salah satu insiden.

Hamas dan Jihad Islam menembakkan lebih dari 100 roket dan bom mortir ke Israel selatan sepanjang Selasa hingga Rabu.

Hamas dan Jihad Islam Palestina yang didukung Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan roketterhadap Israel, Selasa (29/05/2018). Israel menanggapi dengan serangan tank dan serangan udara terhadap lebih dari 65 target Hamas dan Jihad Islam di Gaza.

“IDF, menggunakan jet tempur, menyerang 10 target teror dalam tiga senyawa milik kelompok teror Hamas di Jalur Gaza. Di antara target yang diserang adalah dua situs yang digunakan untuk memproduksi dan menyimpan senjata dan komplek militer,” klaim tentara Israel.

Area perbatasan di sepanjang jalur Gaza memanas dalam beberapa minggu terakhir ketika warga Palestina memprotes blokade yang diberlakukan oleh Israel dan Mesir pada 2007 silam ketika kelompok Hamas berhasil merebut kekuasaan.

Lebih dari 2 juta orang Palestina tinggal di daerah yang dikuasai oleh Hamas. Israel menarik pasukan dan pemukimnya dari Gaza pada 2005, tetapi mempertahankan kontrol ketat atas perbatasan darat dan laut. (asr)

Kata Pengantar – Bagaimana Roh Jahat Komunisme Menguasai Dunia Kita

The Epoch Times di sini mulai menerbitkan  serial terjemahan dari bahasa Mandarin dari sebuah buku baru, “Bagaimana Roh Jahat Komunis Menguasai Dunia Kita,” oleh tim editorial “Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis.”

Kata pengantar

Meskipun rezim komunis di Eropa Timur telah hancur, iblis  komunisme belum lenyap. Sebaliknya, iblis jahat ini sudah menguasai dunia kita, dan manusia seharusnya tidak memelihara rasa optimisme yang keliru.

Komunisme bukanlah tren pemikiran, ataupun sebuah doktrin, juga bukan sebuah upaya yang gagal pada cara baru untuk menguasai hal ihwal manusia. Sebaliknya, ia harus dipahami sebagai iblis, iblis  jahat yang ditempa oleh kebencian, kerusakan moral, dan kekuatan unsur lainnya di alam semesta. Ia mengambil bentuk seekor ular, lalu seekor naga merah, dan ia terus bersatu dengan setan, yang membenci Tuhan, dan ia mengeksploitasi makhluk tingkat rendah dan setan-setan untuk mendatangkan malapetaka pada manusia.

Tujuan dari iblis  tersebut adalah untuk menghancurkan umat manusia, dan sementara sang ilahi menawarkan keselamatan bagi umat manusia, komunisme mengatakan kepada manusia untuk tidak percaya Tuhan, menyerang moralitas manusia agar supaya meninggalkan tradisi, dan menyebabkan manusia tidak mengindahkan perintah Tuhan dan, akhirnya, untuk dihancurkan.

Roh jahat komunis tersebut, dengan mutasi yang tak terhitung jumlahnya, penuh dengan tipu muslihat. Kadang-kadang menggunakan pembunuhan dan kekerasan untuk mengancam mereka yang menolak untuk mengikutinya; lain kali, ia membuat sumber bantuan dengan bahasa “ilmu” dan “kemajuan,” menawarkan panduan membuat masa depan yang indah dimaksudkan untuk menipu para pengikut. Terkadang ia menghadirkan dirinya sebagai bidang pembelajaran yang mendalam dan membuat orang percaya bahwa ia adalah arah masa depan umat manusia; di lain waktu, ia menggunakan slogan-slogan “demokrasi”, “kesetaraan,” dan “keadilan sosial” untuk menyusup ke bidang-bidang pendidikan, media, seni, dan hukum, membawa orang-orang di bawah benderanya tanpa mereka menyadarinya. Namun, di lain waktu, itu menyebut dirinya “sosialisme,” “progresivisme,” “liberalisme,” “Neo-Marxisme,” dan istilah-istilah kiri lainnya.

Kadang-kadang ia memegang bendera-bendera yang tampaknya benar seperti pasifisme, environmentalisme, globalisme, dan kebenaran politik; di lain waktu, ia mendukung seni pelopor, kebebasan seksual, legalisasi narkoba, homoseksualitas, dan kesenangan lainnya dalam hasrat manusia, memberikan kesan yang salah bahwa itu adalah bagian dari tren populer. Ekstremisme dan kekerasan bukan satu-satunya ungkapannya, kadang-kadang ia berpura-pura peduli terhadap kesejahteraan masyarakat. Namun tujuan utamanya adalah untuk menghancurkan, dengan cara apa pun, segala sesuatu yang tradisional, apakah itu iman, agama, moralitas, budaya, institusi keluarga, seni, pengajaran, hukum, apa pun yang diperlukan agar manusia jatuh ke dalam jurang moral dan terkutuk.

Komunisme dan berbagai mutasinya sekarang ditemukan di seluruh dunia. Sementara Tiongkok dan Kuba secara terbuka memproklamasikan diri untuk dipimpin oleh rezim komunis, bahkan Amerika — pemimpin dunia bebas — telah menjadi mangsa serangan roh jahat tersebut, belum lagi Eropa, yang merangkul sosialisme, dan Afrika serta Amerika Latin, yang diselimuti oleh pengaruh komunis. Inilah kenyataan mengejutkan yang dihadapi umat manusia: bahwa persekongkolan iblis jahat untuk menghancurkan manusia hampir berhasil.

Manusia secara naluri ingin mengambil keuntungan dari diri sendiri dan lari dari bahaya. Naluri mendesak mereka untuk melarikan diri dari penderitaan, untuk membuat nama bagi diri mereka sendiri, untuk mendirikan perusahaan yang makmur, atau hanya untuk menikmati hidup. Adalah manusia yang memiliki pikiran-pikiran ini. Namun, jika manusia menjauhkan diri dari Tuhan, pikiran-pikiran ini dapat dipegang kuat dan diperbesar oleh iblis  tersebut, yang mengakibatkan seseorang dikendalikan olehnya. Kesombongan dari pemberontakan iblis tersebut melawan Tuhan juga membuat mereka yang ia kendalikan mengalami rasa kesombongan; mereka kemudian mencoba untuk bertindak sebagai Tuhan mereka sendiri melalui latihan kekuatan, modal, dan pengetahuan, mencoba untuk menguasai nasib jutaan orang dan mempengaruhi jalannya sejarah melalui gerakan-gerakan sosial.

Manusia diciptakan oleh Tuhan dan memiliki dua sisi baik dan jahat di dalam sifat mereka. Jika orang meninggalkan kejahatan dan mengembangkan belas kasih, mereka dapat kembali kepada Tuhan. Apa yang menanti di sisi yang berlawanan adalah iblis. Pilihannya hanya ada pada orang tersebut.

Kita merasa sedih telah menemukan bahwa banyak orang yang pada dasarnya baik hati secara tidak sadar telah menjadi agen-agen atau sasaran-sasaran manipulasi dari iblis komunis tersebut, apa yang disebut Vladimir Lenin sebagai “orang-orang bodoh yang berguna.” Meskipun masyarakat secara keseluruhan telah berakhir di ambang kehancuran karena bujukan dan godaan dari iblis tersebut, faktanya, hanya ada sangat sedikit orang yang dengan rela menjanjikan jiwa mereka kepada iblis tersebut dan memilih untuk secara sengaja merusak manusia. Untuk sebagian besar, kebaikan bawaan dalam sifat manusia masih ada, memberi mereka kesempatan untuk melepaskan diri dari pengaruh iblis tersebut.

Ini adalah tujuan dari buku ini: untuk menyusun secara sistematis masalah yang rumit dan kusut ini dalam bahasa yang sederhana, sejujur ​​mungkin. Maka orang-orang akan dapat melihat trik-trik atau tipuan dari iblis komunis tersebut. Lebih penting lagi, buku ini berusaha menyajikan tradisi moral, budaya, dan artistik yang diberikan sang sadar bagi umat manusia. Orang-orang dapat memilih antara Tuhan dan roh jahat untuk diri mereka sendiri.

Ketika pikiran baik seseorang muncul, Tuhan akan membantu membebaskannya dari kendali iblis tersebut. Tetapi proses mengenali iblis tersebut terhadap apa yang ia butuhkan agar seseorang berpikir secara mendalam dan membedakan dengan jelas.

Buku ini berusaha untuk menguji kembali arus pasang surut sejarah selama beberapa abad terakhir, dan dari tingkat yang tinggi, dengan perspektif yang luas, menilai aneka topeng dan bentuk-bentuk yang iblis tersebut telah diadopsi untuk menduduki dan memanipulasi dunia kita.

Tujuan dari melakukan ini bukan hanya menceritakan sejarah, tetapi untuk memahami bagaimana kita bisa menghentikan iblis tersebut menguasai dunia lagi. Ini mengandalkan pencerahan yang dimiliki setiap individu, secara proaktif meninggalkan kejahatan, dan kembali ke tradisi dan cara hidup yang ditakdirkan Tuhan untuk manusia.

Tuhan akan menang atas iblis. Sisi mana kita berdiri akan menentukan takdir abadi kita.

Doctor Strange Muncul di Dunia Nyata Selamatkan Kurir dari Kawanan Perampok

EpochTimesId – Jiwa super hero pemeran Doctor Strange nampaknya tidak hanya ada di dalam film layar lebar saja. Aktor Inggris Benedict Cumberbatch, baru-baru ini beraksi melawan penjahat di dunia nyata.

Pria 41 tahun itu dikabarkan melompat keluar dari taksi dan berlari ke arah aksi kejahatan jalanan. Seorang kurir sepeda yang bekerja untuk perusahaan pengiriman makanan Deliveroo sedang dikeroyok oleh perampok, seperti dikutip The Epoch Times dari surat kabar the Sun, baru-baru ini.

“Pengendara sepeda itu beruntung, Benediktus adalah pahlawan super,” tutur pengemudi Uber Cumberbatch, Manuel Dias kepada the Sun. “Benediktus itu pemberani, berani dan tanpa pamrih. Jika dia tidak segera bertindak, pengendara sepeda bisa terluka parah.”

Dias mengatakan aktor itu berlari ke arah penyerang, mengintimidasi dan menghardik mereka pergi. “‘Doktor Strange’ berteriak, ‘biarkan dia sendirian’ sebelum mereka (para penjahat) melarikan diri,” tuturnya.

Percobaan perampokan itu terjadi di Marylebone High Street. Kawasan itu berjarak hanya beberapa blok dari rumah fiksi Holmes di Baker Street.

Cumberbatch membenarkan aksinya tersebut. Namun, Dia mengatakan pada the Sun bahwa dia bukanlah seorang pahlawan. “Saya melakukannya, ya, saya harus (melakukannya). Anda tahu,” kata Cumber.

“Salah satu laki-laki berusaha untuk mengambil sepeda korban… Dia kemudian ditonjok di wajah, dipukul di kepala dan dipukul dengan helmnya,” kata Polisi Metropolitan setempat, dalam sebuah pernyataan.

Polisi menambahkan bahwa insiden itu terjadi pada November tahun lalu (2017).

“Tidak ada yang dilaporkan tercuri (oleh perampok). Korban tidak memerlukan perawatan rumah sakit. Tidak ada penangkapan yang dilakukan,” tambah pernyataan polisi.

Cumberbatch sebelumnya berperan sebagai tokoh fiksi detektif Sherlock Holmes dalam serial TV “Sherlock” sejak 2010. Dia juga membintangi sejumlah film, seperti The Hobbit, dan Avengers: Infinity War, dan The Imitation Game. Dia adalah pemeran Alan Turing, yang digambarkan sebagai pemecah kode Perang Dunia II asal Inggris.

Nama Benedict Cumberbatch sendiri memang meroket berkat serial televisi ‘Sherlock’. Serial TV itu mengangkat kisah fiksi dalam novel karangan Sir Arthur Conan Doyle, dengan judul yang sama.

‘Sherlock’ berkisah tentang petualangan Sherlock Holmes dalam memecahkan bermacam kasus bersama sahabatnya John Watson, yang dalam versi drama itu diperankan oleh Martin Freeman.

Benedict sendiri berhasil meraih piala Primetime Emmy Awards pada tahun 2014 berkat drama ‘Sherlock’. Dia meraih piala untuk kategori Outstanding Lead Actor in a Miniseries or a Movie.

Serial ‘Sherlock’ itu sendiri kini sedang mati suri. Episode terakhirnya tayang pada tahun 2017. Hingga kini, belum jelas apakah drama detektif itu akan diproduksi dan tayang kembali untuk menyajikan kisah Sherlock Holmes dari novel ke layar televisi. (the Sun/The Epoch Times/waa)

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :
https://youtu.be/0x2fRjqhmTA

Pebulutangkis Muda Indonesia Gantung Raket Secara Bertahap

0

EpochTimesId – Pebulutangkis tunggal putri Indonesia, Hanna Ramadini mengundurkan diri dari Pelatnas PBSI. Kepergiannya diperkirakan sebagai langkah gantung raket yang bertahap.

“Saya tinggal menunggu SK (surat keputusan) dari PBSI. Sepertinya susah sekali meninggalkan dunia bulutangkis sepenuhnya, mungkin prosesnya pelan-pelan. Soal masih main atau tidak, masih dalam pembicaraan dengan klub asal saya, Mutiara Cardinal Bandung,” ujar Hanna, seperti dikutip dari rilis PBSI, Senin (4/6/2018).

Hanna terbilang masih muda, usianya baru 23 tahun. Pebulutangkis asal Tasikmalaya ini, lahir pada 21 Februari 1995.

Keputusan Hanna untuk pamit dari pelatnas sudah dipikirkan dan dipertimbangkan sejak dua bulan terakhir. Ia mengaku sudah menyampaikan keinginannya kepada Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti.

Hanna Ramadini bergabung di pelatnas Cipayung sejak tahun 2013. Prestasinya memang belum maksimal, berimbang dengan prestasi sektor putri bulutangkis Indonesia.

Hanna memang mengantongi beberapa gelar pada kejuaraan Internasional. Namun, gelar juara itu pada umumnya berada pada kasta ke-dua dan ke-tiga turnamen profesional. Seperti diantaranya juara Vietnam International Challenge 2013, juara Swiss International Challenge 2014, dan medali medali perak SEA Games Singapura 2015.

Pada turnamen kasta tertinggi, Hanna turut serta memperkuat tim Indonesia di saat meraih medali perunggu pada Piala Sudirman 2015 dan Asia Team Championships 2018.

PBSI sendiri sesungguhnya akan menerapkan promosi dan degradasi pemain dalam beberapa bulan ke depan. Namun, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti mengatakan pengunduran diri Hanna tidak terkait dengan kebijakan promosi dan degradasi.

“Hanna menemui saya sebelum kami berangkat ke Bangkok (Piala Thomas dan Uber 2018). Memang kami akan mengadakan promosi dan degradasi di bulan Juli ini, sedangkan pengajuan Hanna memang sudah agak lama sebelum berangkat ke Bangkok, jadi ini tidak ada sangkut pautnya dengan degradasi,” ungkap Susy.

Melihat usianya yang masih relatif muda, Hanna sepertinya masih sangat mungkin untuk berkarier dan berlaga pada turnamen profesional internasional. Bahkan, peluang untuk kembali masuk pelatnas cipayung sepertinya juga belum tertutup mutlak. Sebab, beberapa pebulutangkis Indonesia lainnya juga sering keluar masuk pelatnas berkat prestasi profesional yang kembang-kempis. (waa)

Video Rekomendasi :

Polisi Malaysia Tangkap 15 Orang Terduga Teroris Termasuk Seorang Remaja dan Ibu Rumah Tangga

Epochtimes.id- Aparat Malaysia telah menahan 15 tersangka terduga ekstremis termasuk seorang remaja dan seorang ibu rumah tangga yang dituduh merencanakan serangan “Lone Wolf” secara terpisah di tempat-tempat ibadah di sekitar ibu kota, Kuala Lumpur.

Laporan ini diungkapkan oleh Kepolisian Malaysia seperti dilansir Reuters Jumat (01/06/2018).

Inspektur Jenderal Polisi Mohamad Fuzi Harun mengatakan dalam sebuah pernyataan, kepolisian menangkap 15 orang, termasuk sembilan orang asing, dalam beberapa operasi keamanan antara 27 Maret dan 9 Mei 2018.

Mereka termasuk seorang siswa sekolah menengah berusia 17 tahun yang dicurigai sebagai anggota ISIS, yang diduga merencanakan serangan “lone wolf” di gereja-gereja, pusat-pusat hiburan dan kuil-kuil Hindu di sekitar Kuala Lumpur.

Mahasiswa itu telah membuat enam bom bensin dan telah menguji salah satunya, .

“Tersangka telah mensurvei dan memfilmkan lokasi target, serta merekam peringatan video dari serangan yang akan dilancarkan,” katanya.

Polisi menambahkan video tersebut diunggah ke empat chatroom seluler ISIS sesaat sebelum tersangka ditangkap.

Seorang tersangka lain yang ditahan adalah seorang ibu rumah tangga berusia 51 tahun yang ditangkap pada 9 Mei bertepatan saat Malaysia mengadakan pemilihan umum.

Wanita itu diduga berencana untuk mengendarai mobil menjadi pemilih non-Muslim di sebuah pusat pemungutan suara di pinggiran Kuala Lumpur.

“Tersangka juga berencana menabrak rumah ibadah non-Muslim menggunakan mobil yang dilengkapi dengan tangki bensin untuk digunakan sebagai bahan peledak,” kata Mohamad Fuzi.

Di antara yang lain yang ditahan adalah seorang pemilik restoran Bangladesh yang dicurigai menyelundupkan senjata ke teroris asing, serta enam warga negara Filipina yang bertujuan untuk bergabung dengan orang-orang bersenjata terkait ISIS yang menduduki kota di Filipina tahun lalu.

Pasangan suami istri asal Afrika Utara, yang ingin menjadi anggota ISIS di negara asal mereka, ditahan sebelum dideportasi pada 14 April. Namun demikian, kepolisian tidak merinci kewarganegaraan mereka.

Pihak berwenang telah menangkap ratusan orang selama beberapa tahun terakhir karena dicurigai terkait dengan teroris, tetapi tidak pernah mengalami serangan teroris skala besar.

ISIS menyatakan bertanggungjawa atas serangan granat di sebuah bar di pinggiran Kuala Lumpur pada 2016 silam. Ketika tiu delapan orang terluka. Kejadian ini adalah serangan pertama di Malaysia. (asr)