Banjir Lumpur Dahsyat Menenggelamkan Tibet, Pakar : Apakah Peledakan Gunung dan Pembangunan Jalan yang Diluncurkan PKT Menjadi Akar Bencana

EtIndonesia.com  Pada 26 Agustus 2026, banjir bandang dan longsor lumpur yang menghancurkan terjadi secara tiba-tiba di perbatasan Tibet, Tiongkok, dan Nepal, menyebabkan banyak korban jiwa. Hingga kini, Tiongkok dan Nepal telah mengonfirmasi lebih dari 300 orang tewas dan hampir 1.500 orang hilang.

Menurut data yang diumumkan Kepolisian Nepal dan Otoritas Nasional Pengurangan Risiko dan Penanggulangan Bencana Nepal (NDRRMA), hingga pukul 15.50 waktu setempat pada 27 Agustus, setidaknua 332 orang tewas dan lebih dari 900 orang hilang di Nepal, termasuk hampir 517 wisatawan asing.

Media pemerintah Tiongkok melaporkan bahwa hingga pagi 27 Agustus, 3 orang telah dipastikan tewas dan 558 orang hilang, termasuk 260 warga negara asing.

Beijing juga mengumumkan bahwa sekitar 100 warga negara Tiongkok hilang di wilayah Nepal. Jumlah tersebut tidak termasuk 558 orang yang dinyatakan hilang dan masih dicari di wilayah Tiongkok.

Penyebab bencana hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti. Sejumlah pakar Barat menganalisis bahwa runtuhnya gletser dan longsor gunung, yang menyebabkan sejumlah besar material tanah dan batu masuk ke sungai, kemungkinan menjadi salah satu penyebab bencana.

Namun, sejumlah pakar Taiwan mempertanyakan apakah bencana tersebut merupakan bencana akibat ulah manusia, yang disebabkan oleh aktivitas Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama bertahun-tahun, seperti meledakkan gunung untuk membangun jalan dan pembangunan waduk yang merusak lingkungan setempat.

Pakar strategi Taiwan Lin Tinghui, dalam program Critical Moment, mengatakan bahwa Pos Perbatasan Gyirong di Tibet sudah ada sejak zaman Dinasti Tang dan merupakan bagian dari jalur kuno menuju Tianzhu—istilah historis yang digunakan Tiongkok untuk India, termasuk jalur perjalanan ke India dalam kisah “perjalanan ke Barat untuk mengambil kitab suci Buddha”.

Menurutnya, selama ribuan tahun kawasan tersebut tidak pernah mengalami bencana seperti ini. Ia menilai bahwa munculnya bencana dahsyat saat ini sebagian besar disebabkan oleh kerusakan lingkungan dan kondisi pegunungan akibat aktivitas PKT.

AS Menyita Platform Peretas PKT, Mencegah Serangan terhadap Infrastruktur Penting AS

Pada 26 Agustus, Departemen Kehakiman AS dan Biro Investigasi Federal (FBI) mengumumkan penyitaan sejumlah domain internet yang diduga digunakan oleh peretas yang terkait dengan PKT untuk menyembunyikan sumber serangan siber.

Dalam pernyataannya, Departemen Kehakiman AS mengatakan bahwa tindakan tersebut dilakukan bersama FBI untuk mencegah pelaku serangan siber berbahaya terus menggunakan dua platform peretasan bernama “QScan” dan “QTRouter”.

Penegak hukum mengatakan bahwa kedua platform tersebut digunakan untuk menyerang infrastruktur penting Amerika Serikat dan jaringan sensitif lainnya.

Menurut pernyataan tersebut, kedua platform itu dibuat oleh sebuah organisasi bernama “QTFY”.

Target serangan siber yang dilakukan organisasi tersebut antara lain NASA, serta Departemen Energi AS, Departemen Kehakiman, Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan, serta Senat AS.

Pelanggan QTFY disebut mencakup Kementerian Keamanan Negara Tiongkok (MSS) dan militer Tiongkok.

Jaksa Agung AS Todd Blanche mengatakan dalam pernyataan tersebut bahwa tindakan penyitaan ini merupakan salah satu dari serangkaian langkah teknis yang baru-baru ini dilakukan Amerika Serikat untuk membongkar aktivitas serangan siber yang didukung PKT dan memiliki sasaran yang luas. (***)

Longsor Lumpur Menghancurkan Pos Perbatasan Gyirong di Tibet, Diperkirakan Lebih dari 1.000 Orang Tertimbun Hidup-Hidup 

Pada 26 Agustus, terjadi bencana banjir bandang dan longsor lumpur berskala besar di wilayah perbatasan Tiongkok dan Nepal, yang menyebabkan banyak korban jiwa. Pos Perbatasan Gyirong di Tibet hancur rata dengan tanah. Perkiraan dari kalangan masyarakat menyebutkan sedikitnya lebih dari 1.000 orang tertimbun hidup-hidup, jauh lebih banyak dibandingkan angka yang diumumkan secara resmi.

EtIndonesia.com  Sekitar pukul 11.00 pada 26 Agustus, Pos Perbatasan Gyirong di Kabupaten Gyirong, Kota Shigatse, Tibet, hancur diterjang longsor lumpur.

Rekaman kamera pengawas menunjukkan bahwa bangunan pos perbatasan dan kendaraan yang berada di area parkir ditelan longsor lumpur setinggi puluhan meter. Sejumlah besar orang yang berusaha melarikan diri dengan berlari seketika terkubur hidup-hidup.

Berdasarkan berbagai informasi yang diungkapkan warganet, Pos Perbatasan Gyirong merupakan salah satu pos perbatasan terbesar di Tibet. Di lokasi tersebut terdapat personel bea cukai, penjaga perbatasan, polisi, polisi bersenjata, petugas penjaga perbatasan, serta polisi pembantu. Diperkirakan terdapat sedikitnya 350 hingga 450 personel.

Jika ditambah para pedagang di sekitar lokasi, wisatawan yang sedang menunggu pemeriksaan dan berbagai orang lainnya, diperkirakan lebih dari 1.000 orang berada di lokasi ketika bencana terjadi.

Hingga pukul 08.00 pada 27 Agustus, pemerintah Tiongkok secara resmi hanya melaporkan 3 orang tewas dan 558 orang hilang, termasuk 260 warga negara asing.

Karena akses jalan menuju daerah bencana terputus dan ketebalan lumpur yang menumpuk rata-rata mencapai lebih dari 1,5 meter, proses penyelamatan menjadi sangat sulit. Jumlah korban tewas dikhawatirkan dapat meningkat secara signifikan.

“Di Pos Perbatasan Gyirong saja jumlah wisatawannya sudah sangat banyak. Semuanya menggunakan bus besar. Bahkan kalau bisa terbang pun mungkin tidak akan sempat menyelamatkan diri. Setelah melihat video ini, saya mempelajarinya selama satu setengah jam. Tidak ada satu pun tempat untuk berlindung. Longsor lumpurnya setinggi lebih dari 50 meter dan dalam sekejap begitu banyak orang harus melarikan diri. Rekamannya bahkan sudah diturunkan, sekarang tidak bisa ditemukan di internet,” ujar seorang petugas penyelamat bermarga Su. 

Banjir bandang dan longsor lumpur juga menghancurkan desa, jalan, jembatan, serta sejumlah pembangkit listrik tenaga air di Nepal.

Pihak Nepal telah mengumumkan 163 orang tewas dan 484 wisatawan hilang, termasuk 391 warga negara asing.

Seorang warga Tiongkok bermarga Zhou yang tinggal di Nepal mengungkapkan bahwa biaya hidup di Nepal relatif rendah. Nepal juga memberlakukan bebas visa bagi warga Tiongkok, sementara bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa yang umum digunakan. Kondisi tersebut menarik banyak warga Tiongkok untuk datang ke Nepal guna berbisnis, berwisata, atau belajar bahasa Inggris.

Pos Perbatasan Gyirong berjarak lebih dari 100 kilometer dari ibu kota Nepal. Setiap hari, sedikitnya ratusan orang melintasi perbatasan tersebut.

“Di daerah pos perbatasan terjadi longsor lumpur, mungkin dipengaruhi oleh hujan yang turun setiap hari. Banyak warga Tiongkok yang datang dan membuka toko di kawasan pecinan, terutama bisnis makanan,” ujar warga Tiongkok bermarga Zhou yang tinggal di Nepal. 

“Saya juga sering melihat mereka membawa anak-anak untuk bersekolah. Ada juga yang datang saat liburan musim panas karena ingin belajar bahasa Inggris dengan biaya serendah mungkin,” katanya. 

Pemerintahan Komunis Tiongkok tidak mengumumkan penyebab terjadinya longsor lumpur tersebut. Sejumlah warganet di dalam maupun luar Tiongkok menduga bahwa bencana tersebut mungkin disebabkan oleh jebolnya bendungan akibat faktor manusia.

Sebuah video yang beredar di internet menunjukkan banjir menghancurkan sebuah pembangkit listrik tenaga air. Seorang pekerja yang mengenakan rompi bertuliskan “Tiongkok Power Construction” terlihat berhasil melarikan diri ke lereng gunung.

Seorang pengguna platform X berkomentar di bawah video tersebut: “Ini adalah bencana akibat ulah manusia yang dipicu oleh bendungan yang dibangun Tiongkok.”

Reporter NTD Xiong Bin dan Chen Jianming melaporkan.

Sae Rassa Hadirkan “Suki in The Garden”, Santap Malam Bernuansa Taman dengan Live Music

SUMENEP, Agustus 2026 — MYZE Hotel Sumenep menghadirkan pengalaman bersantap malam yang berbeda melalui program promosi kuliner terbaru bertajuk “Suki in The Garden” di Garden Sae Rassa Restaurant. Program ini menawarkan perpaduan hidangan Suki and Sushi dalam suasana taman terbuka yang asri, dilengkapi dengan alunan musik langsung (live music).

Promo ini berlangsung setiap hari Selasa dan Rabu, mulai pukul 19.00 hingga 21.30 WIB, sepanjang periode September hingga November 2026. Sajian istimewa ini dirancang untuk dinikmati bersama keluarga, sahabat, maupun kolega bisnis dalam suasana yang hangat dan berkesan.

Akfian Farado Gusti, General Manager MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL, mengungkapkan bahwa program ini dihadirkan untuk menciptakan momen berkumpul yang istimewa bagi masyarakat Sumenep maupun tamu hotel.

“Kami ingin menghadirkan alasan baru bagi pemuda-pemudi dan masyarakat Sumenep maupun tamu hotel untuk berkumpul dan menghabiskan waktu berkualitas bersama. Melalui ‘Suki in The Garden’, kami memadukan kehangatan hidangan suki dan sushi dengan keasrian suasana taman Garden Sae Rassa serta alunan musik langsung. Ini adalah paket lengkap untuk momen kebersamaan yang berkesan,” ungkapnya.

Paket kuliner ini ditawarkan dengan harga Rp360.000 per paket, yang sangat ideal untuk dinikmati bersama oleh empat orang. Pihak manajemen hotel memberlakukan ketentuan wajib reservasi terlebih dahulu untuk menjaga kenyamanan serta kualitas pelayanan secara optimal.

Sukur Priyanto Klarifikasi Soal Keabsahan Ijazahnya

Anggota DPRD Kabupaten Bojonegoro sekaligus Ketua DPC Partai Demokrat Bojonegoro, Sukur Priyanto, akhirnya angkat bicara terkait gugatan perdata yang diajukan Indah Kuntarti atas dugaan keabsahan ijazah yang digunakannya. Gugatan dengan nomor perkara 807/Pdt.G/2026/PN Sby tersebut saat ini bergulir di Pengadilan Negeri Surabaya.

Didampingi kuasa hukumnya, Arifin, SH, MH, Sukur menyatakan siap menghadapi proses hukum hingga tuntas dan optimis gugatan tersebut akan ditolak oleh majelis hakim. Selain Sukur, gugatan yang diajukan atas dasar Perbuatan Melawan Hukum oleh Pejabat Publik ini juga menyeret Wakil Ketua DPRD Jawa Timur Sri Wahyuni serta Universitas Wijaya Putra sebagai tergugat.

Klarifikasi Riwayat Pendidikan

Dalam klarifikasinya, Sukur Priyanto memaparkan secara rinci perjalanan pendidikannya. Ia menjelaskan bahwa setelah lulus SMA pada tahun 1997, ia melanjutkan pendidikan di Akademi Keperawatan di Bojonegoro dan lulus pada tahun 2000 dengan gelar Ahli Madya Keperawatan (A.Md.Kep).

Seusai menempuh pendidikan di Akademi Keperawatan, Sukur mengabdi sebagai tenaga honorer di RSUD dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro dari tahun 2000 hingga 2004. Pada tahun 2003, ia ditawari untuk melanjutkan pendidikan S1 lintas jalur dari Keperawatan ke Fakultas Ekonomi.

“Waktu saya mendaftar untuk melanjutkan pendidikan S1 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Prima Visi, ijazah yang saya gunakan adalah ijazah D3 Keperawatan. Buktinya, saya tidak ada masalah dan pihak sekolah mengizinkan,” jelas Sukur.

Pada tahun 2004, Sukur dinyatakan lulus S1 dan memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari STIE Prima Visi.

Menyoal Status Perguruan Tinggi

Terkait pertanyaan mengenai legalitas perguruan tinggi tempatnya menempuh pendidikan S1, Sukur menyatakan bahwa masalah tersebut bukan menjadi urusannya. Menurutnya, ijazah yang ia miliki diterbitkan pada tahun 2004 dan ia tidak pernah menerima pemberitahuan resmi dari otoritas berwenang yang menyatakan STIE Prima Visi tidak sah.

Sukur juga menyayangkan pemberitaan yang menyatakan bahwa ia menempuh pendidikan S1 hanya dalam waktu satu tahun. Ia menegaskan bahwa terdapat fakta yang tidak dijelaskan ke publik, yaitu bahwa ia mendaftar ke STIE Prima Visi menggunakan ijazah D3 yang telah dimilikinya.

Sukur Priyanto menegaskan bahwa seluruh proses hukum akan dihadapinya sampai selesai. Ia optimis dapat membuktikan keabsahan ijazahnya melalui mekanisme hukum yang berlaku.

“Saya tegaskan bahwa ijazah S1 yang saya gunakan adalah asli yang saya peroleh setelah mengikuti proses pendidikan,” tegas Sukur.

Perkara ini kini memasuki tahapan persidangan di PN Surabaya, di mana pihak tergugat dan penggugat akan saling menyampaikan bukti dan dalil hukum masing-masing.

Beredar Diduga Instruksi Propaganda Partai Komunis Tiongkok Soal Longsor Lumpur Tibet-Nepal : Tekankan Longsor Lumpur Terjadi di Wilayah Nepal

EtIndonesia.com Pada 26 Agustus, terjadi longsor lumpur yang jarang terjadi di perbatasan Tiongkok dan Nepal. Bencana tersebut menyebabkan banyak orang hilang dan bangunan pos perbatasan hancur tersapu arus. Dalam sekejap, bangunan tersebut rata dengan tanah.

Setelah bencana terjadi, Partai Komunis Tiongkok (PKT) disebut kembali melakukan upaya menutupi skala bencana, membatasi informasi di internet, dan menekan pemberitaan publik. Beredar di internet sebuah dokumen yang diduga merupakan instruksi dari Administrasi Cyberspace China, yang meminta media domestik hanya meneruskan pemberitaan resmi dari media pemerintah, dengan menekankan bahwa longsor lumpur terjadi di Nepal.

Menurut informasi yang beredar di media sosial luar negeri, departemen propaganda PKT dan Administrasi Cyberspace China meminta media di dalam negeri untuk:

  • Hanya mengizinkan Xinhua, CCTV, dan media pemerintah pusat lainnya untuk melakukan pemberitaan.
  • Media pemerintah daerah dan media mandiri hanya diperbolehkan mengutip atau meneruskan pemberitaan resmi media pemerintah pusat dan tidak diperbolehkan membuat laporan sendiri.
  • Kalimat pertama pemberitaan harus menekankan bahwa bencana tersebut disebabkan oleh longsor lumpur di Nepal, yang mengakibatkan korban jiwa besar di Nepal dan Tiongkok.
  • Nepal harus disebut terlebih dahulu sebelum Tiongkok, yang dinilai sebagai upaya mengalihkan tanggung jawab kepada Nepal.
  • Memberikan porsi besar pemberitaan mengenai bencana longsor lumpur di pihak Nepal, sambil mengurangi penekanan terhadap kondisi di pihak Tiongkok.
  • Secara khusus menekankan bahwa banyak warga Tiongkok juga menjadi korban tewas atau hilang di pihak Nepal.

Menurut penelusuran reporter NTD, pada hari terjadinya bencana, berbagai platform media sosial di Tiongkok, seperti Douyin, Weibo, WeChat, Xiaohongshu, dan Zhihu, dibanjiri unggahan warganet yang membagikan video bangunan di Pos Perbatasan Gyirong yang tersapu banjir dan banyak orang tertimbun dalam sekejap.

Banyak warganet mengungkapkan kesedihan dan mengatakan bahwa manusia terlihat begitu kecil dan tidak berdaya di hadapan bencana alam. Mereka juga merasa sangat sedih melihat dahsyatnya kehancuran yang ditimbulkan oleh bencana tersebut.

Namun, tidak lama kemudian, video tersebut beserta video terkait lainnya dengan cepat dihapus dari internet Tiongkok. Meski demikian, sejumlah warganet terus mengunggah dan membagikannya kembali.

Reporter mengatakan bahwa video tersebut masih dapat dilihat pada pagi hari waktu Amerika Serikat bagian Timur, tetapi pada sore harinya video itu sudah dihapus.

Dalam konferensi pers rutin pada hari yang sama, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengatakan bahwa hampir 100 warga negara Tiongkok yang berada di wilayah terdampak di sisi Nepal telah kehilangan kontak.

Setelah itu, berbagai media di Tiongkok daratan meneruskan laporan seragam dari CCTV yang menyatakan: “Sekitar pukul 10.30 pagi tanggal 26 Agustus, akibat bencana longsor lumpur yang terjadi di sisi Nepal, Pos Perbatasan Gyirong di Kabupaten Gyirong, Kota Shigatse, Tibet, mengalami korban jiwa besar dan banyak orang kehilangan kontak.”

Hingga 27 Agustus, hampir seluruh pemberitaan media Tiongkok berfokus pada bagaimana pemerintah mengerahkan berbagai kekuatan untuk melakukan “upaya penyelamatan secara aktif”.

Pada saat yang sama, daftar pencarian terpopuler di Weibo menampilkan sejumlah topik mengenai artis wanita dan orang kaya yang menggugat karena masalah hubungan asmara. Hal ini membuat sejumlah warganet mempertanyakan apakah topik-topik tersebut sengaja digunakan untuk “mengalihkan perhatian publik” dari bencana.

Laporan gabungan reporter Li Li / Editor Xu Gengwen

Merampok Jam Tangan Mewah Senilai Miliaran Yen di Siang Bolong, Polisi Jepang Tangkap Dua Warga Chile

EtIndonesia.com Pada 25 Agustus 2026, kawasan pertokoan Nakano Broadway di Distrik Nakano, Tokyo, Jepang, dirampok pada siang hari. Empat jam tangan mewah senilai sekitar 200 juta yen dibawa kabur. Pada 27 Agustus, polisi menangkap dua pria warga Chile yang diduga terlibat dalam pencurian itu.

Kedua tersangka masing-masing berusia 23 dan 33 tahun. Pada 21 Agustus, mereka tiba di Bandara Haneda, Tokyo, dari Sydney, Australia, dengan menggunakan visa tinggal jangka pendek.

Sekitar pukul 11.50 pada 25 Agustus, para tersangka menggunakan palu untuk memecahkan kaca etalase toko jam Time Walker di Nakano Broadway. Mereka hanya berada di dalam toko sekitar 10 detik, kemudian mengambil tiga jam tangan mewah Richard Mille dan satu jam tangan Patek Philippe.

Total nilai jual keempat jam tangan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 200 juta yen atau sekitar US$1,187 juta.

Setelah melakukan aksi tersebut, kedua tersangka melarikan diri secara terpisah. Salah satunya menggunakan skuter listrik, sementara yang lainnya melarikan diri dengan berjalan kaki.

Pada 27 Agustus, Kepolisian Metropolitan Tokyo menangkap keduanya di sebuah penginapan di Kota Osaka. Saat ditangkap, salah satu dari mereka membawa sebuah jam tangan yang mereknya sama dengan salah satu jam tangan yang dicuri. Polisi menduga jam tangan tersebut juga merupakan hasil rampokan.

Tersangka berusia 33 tahun mengakui keterlibatannya dalam kejahatan tersebut. Kepada polisi dia mengatakan, “Awalnya saya berencana menjual jam tangan tersebut dan membawa uangnya kembali ke negara asal.”

Namun demikian, tersangka lainnya mengatakan, “Saya hanya mencuri satu jam tangan dan tidak tahu mengenai tiga jam tangan lainnya.”

Polisi Tokyo mengatakan bahwa dua tersangka tersebut telah mendatangi lokasi kejadian dua hari sebelum perampokan untuk melakukan pengamatan.

Polisi kemudian menelusuri rekaman kamera pengawas dan informasi lainnya. Dari penyelidikan tersebut, polisi mengetahui bahwa kedua tersangka telah pergi ke Kota Osaka. Mereka akhirnya ditangkap di sebuah penginapan di Osaka.

Sumber : NTDTV.com

Desa di Nepal “Musnah” dalam Hitungan Semenit, Rekaman Mengerikan Terungkap

EtIndonesia.com  Pada 26 Agustus, banjir besar dan tanah longsor terjadi di perbatasan Nepal-Tiongkok dan menghancurkan sejumlah desa. Sebuah rekaman video menunjukkan sebuah desa di dekat Betrawati Bazaar, Nepal, “musnah” hanya dalam waktu sekitar 1 menit dan berubah menjadi lautan lumpur. Setelah menyadari datangnya banjir, warga berlarian menyelamatkan diri.

Dalam video tersebut terlihat bahwa sebelum bencana terjadi, pepohonan di lembah masih rimbun. Di salah satu sisi sungai terlihat jelas rumah-rumah dan jalan. Tiba-tiba, dari hulu sungai muncul arus banjir berwarna abu-abu kehitaman yang membawa lumpur, batu-batu, serta puing-puing bangunan. Arus tersebut dengan cepat menerjang rumah dan jalan di tepi sungai, hingga bangunan-bangunan segera tersapu.

Dalam rekaman terlihat sejumlah warga berlari sekuat tenaga menyusuri jalan untuk menyelamatkan diri dan berusaha menuju tempat yang lebih tinggi. Namun, arus deras yang bergulung dengan cepat menenggelamkan seluruh rumah dan jalan. 

Hampir seluruh desa terendam, hanya bagian atas beberapa bangunan yang lebih tinggi yang masih terlihat di atas permukaan air. Pemandangan tersebut sangat mengerikan.

Menurut laporan surat kabar Inggris The Guardian pada 27 Agustus, lokasi bencana berada di sekitar Betrawati Bazaar, Nepal. Saat itu, banjir deras mengalir dengan kekuatan besar ke arah hilir, melewati kawasan Uttargaya Rural Municipality, hingga akhirnya mencapai dan menenggelamkan daerah di sekitar Betrawati Bazaar.

Laporan menyebutkan bahwa sejumlah besar air banjir, lumpur pegunungan, dan bebatuan bergulung dengan dahsyat ke lembah, kemudian mengalir deras melalui Sungai Lende Khola, Sungai Bhotekoshi, dan Sungai Trishuli. 

Banjir bandang berkecepatan tinggi tersebut menyapu berbagai kota di Nepal bagian utara, termasuk daerah yang populer di kalangan pendaki gunung dan peziarah. Rumah-rumah dan jalan-jalan hancur hanya dalam hitungan detik.

“Itu adalah aliran lumpur yang sangat besar, datang langsung ke arah kami. Semakin mendekat, aliran lumpur itu semakin tinggi. Ketika saya melihat lumpur mulai masuk ke rumah kami, saya mencoba meraih tangan istri saya dan menariknya ke teras. Tetapi dia tetap terseret oleh arus lumpur,” ujar seorang penyintas berusia 68 tahun, Keshav Prasad Bhandari yang mana sedang menjalani perawatan di sebuah rumah sakit kecil setempat. 

“Empat atau lima jam kemudian, sebuah helikopter datang untuk menyelamatkan saya. Istri saya masih tertimbun di bawah lumpur. Dia sudah tidak ada lagi,” tambahnya. 

“Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah puing-puing kehancuran,” kata Tula Bahadur Bik, seorang petugas kesehatan di Rasuwa, kepada Reuters. 

“Permukiman di sepanjang sungai benar-benar tersapu. Lima kerabat saya hilang,” katanya. 

Menurut laporan BBC, keluarga Dikshya Subedi berhasil menghindari bencana, tetapi dia tidak berhasil meyakinkan semua tetangganya untuk menyelamatkan diri.

Subedi mengatakan kepada BBC News bahwa pamannya yang tinggal di Nuwakot menerima telepon dari seseorang yang tinggal di bagian hulu. Orang tersebut memperingatkan bahwa keluarganya hanya memiliki waktu 15 menit untuk melarikan diri. Penelepon tersebut memperingatkan bahwa “sesuatu yang besar akan terjadi.”

Subedi mengatakan bahwa proses memperingatkan orang lain “sangat sulit” karena saat itu tidak sedang turun hujan, sehingga banyak orang tidak percaya bahwa bencana akan segera terjadi.

“Semua anggota keluarga kami selamat dan tidak mengalami apa-apa,” katanya. 

Namun, dia mengatakan bahwa tidak semua tetangga mereka seberuntung keluarganya.

Menurut data terbaru yang diumumkan Kepolisian Nepal, jumlah korban tewas akibat banjir telah meningkat menjadi 469 orang, sementara 910 orang masih hilang. Selain itu, 667 wisatawan dilaporkan belum diketahui keberadaannya.

Menurut laporan resmi dari pihak berwenang Tiongkok, di wilayah Tibet tercatat 3 orang meninggal dunia, sementara 558 orang masih hilang.

Editor Li Enzhen

Inikah Penyebab Longsor Lumpur Mematikan Nepal-Tibet ? Analisis Citra Satelit: Gletser Raksasa Patah dan Jatuh Langsung ke Dasar Lembah 

ETIndonesia.com Longsor lumpur dahsyat melanda perbatasan Nepal dan Tibet pada 26 Agustus 2026. Insiden ini menyebabkan setidaknya ratusan orang tewas dan lebih dari seribu orang hilang, termasuk sekitar 90 warga Amerika Serikat. Berdasarkan analisis citra satelit oleh para ahli geologi dan meteorologi, longsor lumpur mematikan tersebut kemungkinan besar dipicu oleh runtuhnya gletser di pegunungan tinggi yang jatuh ke dasar lembah.

Menurut laporan The Washington Post, citra satelit beresolusi tinggi dari Planet Labs menunjukkan bahwa sebuah gletser bernama RGI2000-v7.0-G-15-05732, yang berada di pegunungan tinggi di perbatasan Nepal dan Tibet, mengalami patahan vertikal pada bagian dasarnya. Es seluas sekitar 2 juta kaki persegi—setara dengan luas sekitar 25 lapangan sepak bola standar—terlepas dari ketinggian sekitar 17.000 kaki dan jatuh secara vertikal.

Setelah terlepas, bongkahan es tersebut jatuh sekitar 4.000 kaki atau sekitar 1,2 kilometer sebelum menghantam dasar lembah. Energi potensial gravitasi yang sangat besar membuat es tersebut seketika hancur menjadi campuran air, pecahan es, dan lumpur yang membentuk arus deras. Aliran tersebut dengan cepat masuk ke Sungai Lhende serta Sungai Bhotekoshi/Trishuli.

Aliran lumpur dan puing-puing tersebut dengan cepat menelan bangunan Pelabuhan Perbatasan Gyirong serta orang-orang yang berusaha melarikan diri. Setelah itu, aliran tersebut bergerak masuk ke wilayah Nepal dan memicu banjir bandang berkecepatan tinggi yang menghancurkan jalan serta fasilitas listrik dan menenggelamkan desa-desa.

Getaran dahsyat yang terjadi ketika gletser runtuh awalnya salah diidentifikasi oleh Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) sebagai gempa bumi berkekuatan 4,4 magnitudo.

Namun, setelah menganalisis gelombang seismik secara lebih mendalam serta data satelit, USGS kemudian memastikan bahwa sinyal seismik berkekuatan 5,2 magnitudo tersebut sebenarnya disebabkan oleh runtuhnya gletser dan aliran material puing yang menghantam permukaan tanah, bukan gempa bumi yang disebabkan oleh pergerakan lempeng tektonik.

Hingga kini, penyebab pasti runtuhnya gletser tersebut masih belum diketahui.

Ahli geologi Simon Cook mengatakan bahwa citra satelit sehari sebelum bencana menunjukkan permukaan gletser di kawasan tersebut tertutup salju. Namun, pada hari kejadian, salju tersebut terlihat mencair dengan cepat dan memperlihatkan lapisan es di bawahnya.

Hal ini menunjukkan kemungkinan terjadinya pencairan salju secara cepat di kawasan tersebut. Air kemudian meresap ke dalam retakan gletser dan terkumpul di bagian bawah, membentuk semacam “lapisan pelumas”. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menyebabkan massa es yang sangat besar meluncur menuruni lereng dan runtuh.

Pada Kamis, 27 Agustus, pemerintah Nepal dan Tiongkok sama-sama mengeluarkan peringatan bahwa Pegunungan Himalaya masih menghadapi risiko banjir baru. Hal ini disebabkan oleh dua danau bendungan alami yang terbentuk di kedua sisi perbatasan kedua negara dan kini menghadapi risiko jebol.

Aksi Saling Serang Antara Rusia-Ukraina Semakin Gencar, Rudal Buatan Inggris Mulai Dikerahkan

EtIndonesia.com Pada Kamis (27/8/2026), pasukan Rusia melancarkan serangan besar-besaran ke berbagai wilayah Ukraina dengan mengerahkan hingga 258 drone serta menembakkan rudal. Serangan tersebut menyebabkan fasilitas pangan, energi, dan industri Ukraina mengalami kerusakan parah. Di sisi lain, militer Ukraina juga meningkatkan serangan terhadap kilang minyak dan berbagai sasaran di dalam wilayah Rusia.

Rusia bahkan mengancam akan membalas dengan menyerang sasaran militer Inggris, sehingga risiko keamanan bagi NATO meningkat. Sementara itu, Kantor Presiden Ukraina pada Kamis menyatakan bahwa Rusia dan Ukraina kemungkinan akan melanjutkan kembali perundingan pada September, dengan keterlibatan perwakilan Amerika Serikat. Ini menjadi secercah harapan perdamaian di tengah berkecamuknya perang.

Asap hitam tebal membumbung ke langit hingga menutupi matahari. Pada Kamis, Rusia melancarkan serangan rudal dan drone besar-besaran ke sejumlah wilayah Ukraina, termasuk Kyiv, Sumy, Kharkiv, dan Odesa. Sasaran serangan meliputi gudang pangan, pelabuhan, fasilitas energi, serta infrastruktur industri. Area pergudangan yang luas di sekitar Kyiv dilalap api.


“Serangan udara tersebut menyebabkan satu orang tewas dan tiga orang terluka, dengan tingkat keparahan luka yang berbeda-beda,” ujar Kepala Kantor Kejaksaan Wilayah Kharkiv, Borisenko. 

Serangan udara berlangsung selama beberapa jam dan baru berakhir menjelang pagi. Militer Ukraina mengonfirmasi bahwa Rusia mengerahkan 258 drone dan sejumlah rudal yang belum diketahui jumlahnya. Pihak Ukraina mengatakan telah menembak jatuh 7 rudal balistik, 1 rudal jelajah antikapal, serta hampir 90 persen drone yang digunakan dalam serangan tersebut.

Sejumlah pihak menilai Moskow sedang bertaruh untuk menghancurkan moral masyarakat Ukraina dan berusaha memanfaatkan tekanan tersebut untuk memperoleh terobosan di wilayah Ukraina timur, yang selama ini belum berhasil dicapainya.

Sementara itu, Kyiv berusaha melumpuhkan industri-industri yang menopang perekonomian Rusia agar kemampuan Rusia untuk melanjutkan invasi semakin terbatas.

Pada Rabu, Ukraina melancarkan serangan drone terhadap sebuah kilang minyak besar Rusia di dekat Nizhny Novgorod, yang memicu kebakaran hebat.

Pada saat yang sama, sebuah gudang milik raksasa e-commerce Rusia Wildberries di wilayah Tambov, Rusia tengah, juga mengalami kebakaran.

Meskipun perang semakin brutal, para analis menilai bahwa sejauh ini belum ada tanda-tanda Rusia maupun Ukraina berada di ambang keruntuhan. Serangan udara Rusia belum berhasil menghancurkan sistem energi Ukraina, sementara serangan jarak jauh Ukraina terhadap Rusia juga belum cukup untuk memaksa Presiden Vladimir Putin menerima gencatan senjata.

Kantor Presiden Ukraina pada Kamis menyatakan bahwa Rusia dan Ukraina kemungkinan akan melanjutkan kembali perundingan pada September, dengan perwakilan Amerika Serikat turut berpartisipasi.

Selain itu, sebuah pusat perbelanjaan di Kota Donetsk yang berada di bawah kendali Rusia diserang oleh Ukraina pada Rabu, menyebabkan 11 orang terluka.

Pejabat setempat mengatakan bahwa berdasarkan analisis terhadap puing-puing rudal yang ditemukan, militer Ukraina menggunakan rudal jelajah Storm Shadow buatan Inggris.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia pada Kamis mengeluarkan ancaman bahwa sebagai respons, Rusia mungkin akan menyerang sasaran militer Inggris. Ini merupakan salah satu peringatan paling keras yang pernah dikeluarkan Rusia terhadap Inggris hingga saat ini.

Seperti diketahui, Inggris bukan hanya merupakan sekutu kuat Ukraina, tetapi juga anggota NATO. Pernyataan Moskow tersebut dalam beberapa hal dipandang sebagai bentuk provokasi terhadap NATO.

Menurut laporan The Wall Street Journal, penilaian intelijen terbaru Amerika Serikat menunjukkan bahwa Putin mungkin akan melancarkan serangan terbatas terhadap negara-negara anggota NATO dalam beberapa tahun mendatang, mulai dari serangan siber hingga invasi darat dalam skala kecil. Negara-negara Baltik kemungkinan menjadi sasaran, dengan tujuan menguji tekad dan respons NATO.

Sumber yang mengetahui masalah tersebut juga mengungkapkan bahwa Direktur CIA John Ratcliffe melakukan kunjungan mendadak ke Moskow pekan ini, yang diduga bertujuan memperingatkan Rusia agar tidak menyerang negara anggota NATO.

Namun, Kremlin pada Kamis membantah laporan tersebut dan mengatakan bahwa para pejabat intelijen kedua negara hanya melakukan pertemuan pada tingkat kerja.

Presiden Donald Trump juga berpendapat bahwa Putin tidak akan menyerang wilayah NATO.

Wartawan: “Mengapa Putin setuju atau berjanji untuk tidak menyerang wilayah NATO?”

Presiden AS Donald Trump: “Saya telah berbicara dengan mereka dengan sangat baik. Dia tidak akan menyerang wilayah NATO.”

Saat ini, salah satu isu utama yang membuat perundingan perdamaian terhenti adalah status Donbas di Ukraina timur. Kremlin menuntut Ukraina menyerahkan wilayah Donetsk sebelum perang berakhir, tetapi tuntutan tersebut ditolak oleh pihak Ukraina.

Di tengah tekanan pasukan Rusia yang terus maju, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy baru-baru ini menunjuk dua komandan Ukraina yang paling menonjol untuk memperkuat pertahanan benteng-benteng di Ukraina timur.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy: “Kami akan memperkuat posisi di wilayah Donetsk melalui dua kelompok tempur yang telah direstrukturisasi.”

Laporan gabungan reporter NTD Television, Yi Jing.

“Berenanglah ke Sini, Aku Akan Membawamu Pulang” — Aksi Nekat Anak Kucing Liar Menyeberangi Arus Deras Bikin Haru

0

Baru-baru ini, di Kota Xiaogan, Provinsi Hubei, Tiongkok, seekor anak kucing liar terjebak di sebuah tiang jembatan di tengah sungai dan terus mengeong. Seorang pria yang sedang memancing di tepi sungai berkata kepadanya, “Kalau kamu bisa berenang ke sini, aku akan membawamu pulang.” Tak disangka, anak kucing itu seolah memahami perkataannya. Ia berusaha keras berenang menyeberangi arus deras selebar sekitar 20 meter menuju pria itu, ia kemudian membawanya pulang untuk dipelihara.

EtIndonesia.com Sebuah video yang beredar di internet memperlihatkan beberapa pria sedang memancing di tepi sungai di bawah sebuah jembatan di Kota Xiaogan pada suatu malam. Mereka melihat seekor anak kucing liar berada di bawah tiang jembatan di tengah sungai.

Salah seorang pria mencoba memanggilnya, “Mimi, sini, Mimi!” Namun, anak kucing itu tidak memberikan banyak reaksi dan tetap meringkuk di tempatnya.

Kemudian pria tersebut berkata kepada anak kucing itu, “Kalau kamu bisa berenang ke sini, aku akan membawamu pulang!”

Yang mengejutkan, anak kucing tersebut seolah memahami perkataan pria itu. Ia melompat ke dalam sungai dan berenang menyeberangi arus deras sepanjang lebih dari 20 meter dengan sekuat tenaga menuju pria tersebut.

Setelah sampai di tepi sungai, anak kucing itu sudah sangat kelelahan dan seluruh tubuhnya basah kuyup. Pria tersebut kemudian berinteraksi dengannya, dan anak kucing itu terlihat sangat jinak serta berbaring dengan tenang di tanah.

Video tersebut memicu banyak perbincangan di kalangan warganet. Jiang, pria yang mengunggah video tersebut, mengatakan kepada media bahwa malam itu ia pergi memancing di tepi sungai. 

Seorang pemancing lain di dekatnya mengatakan bahwa seekor anak kucing sudah lama mengeong di tengah sungai, tetapi mereka tidak tahu bagaimana cara membawanya ke tepi.

“Air di bagian tengah sungai sangat dalam, jadi saya tidak berani turun. Kemudian saya berkata kepada anak kucing itu, ‘Kalau kamu bisa berenang ke sini, saya akan membawamu pulang.’ Ternyata kucing itu benar-benar berenang ke sini,” kata Jiang. 

Setelah anak kucing itu berhasil berenang menyeberang, Jiang juga menepati janjinya. Ia membawa anak kucing pemberani tersebut pulang dan memeliharanya, sehingga kini anak kucing itu memiliki rumah yang hangat.

“Saya pasti akan memelihara kucing ini. Ia sudah berenang menghampiri saya melewati arus sungai yang begitu deras. Artinya, kami memang berjodoh,” kata Jiang.

Ia mengatakan bahwa dirinya sudah membeli pasir kucing dan susu kambing untuk anak kucing tersebut. Ia juga membawanya ke dokter untuk diperiksa, dan hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kondisi kesehatannya tidak bermasalah.

Laporan: Luo Tingting / Editor Wen Hui

Trump Tutup Pintu Negosiasi! AS Siapkan Penyitaan Kapal Minyak, Iran Makin Terjepit

EtIndonesia.com  Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase baru. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis, 27 Agustus 2026, menegaskan bahwa pemerintahannya saat ini tidak sedang berunding dengan Iran. Washington memilih memusatkan tekanan pada sektor ekonomi dan keuangan Teheran, sementara muncul laporan bahwa Departemen Kehakiman AS sedang mempersiapkan mekanisme hukum masa perang untuk mempermudah penyitaan kapal tanker dan minyak Iran.

Berbicara kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih, Trump secara terbuka menepis kemungkinan pertemuan dengan pihak Iran dalam waktu dekat.

“Kami tidak ingin berbicara dengan mereka. Kami juga tidak sedang berusaha untuk bertemu atau apa pun,” kata Trump.

Pernyataan tersebut memperjelas arah kebijakan Washington setelah pemerintah AS pada 24 Agustus 2026 meluncurkan Operation Economic Outcast, sebuah kampanye tekanan ekonomi yang dirancang untuk memutus sebanyak mungkin jalur keuangan dan perdagangan yang masih menopang pemerintah Iran.

Gedung Putih menyebut operasi tersebut sebagai upaya untuk mengisolasi Iran dari jaringan ekonomi internasional. Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya juga memperingatkan bahwa negara maupun lembaga yang terus mempertahankan hubungan ekonomi tertentu dengan Iran dapat menghadapi konsekuensi dari Washington.

Trump mengklaim tekanan yang diterapkan pemerintahannya telah membuat kondisi keuangan Iran semakin sulit, termasuk kemampuan Teheran membiayai aparat militernya.

Ketika ditanya mengapa Washington belum secara terbuka menjatuhkan tindakan keras terhadap bank-bank besar Tiongkok yang masih memiliki hubungan dengan Iran, Trump memberikan jawaban yang penuh isyarat.

“Siapa yang mengatakan itu? Anda tidak tahu apa yang sedang saya lakukan. Saya tidak perlu mengumumkan semuanya,” ujarnya.

Pernyataan tersebut memunculkan spekulasi bahwa pemerintahan Trump kemungkinan tengah mempertimbangkan langkah terhadap lembaga keuangan Tiongkok. Namun, hingga 27 Agustus, belum ada pengumuman resmi mengenai sanksi besar terhadap bank utama Tiongkok terkait perdagangan Iran.

Persoalan Tiongkok juga muncul ketika Trump membahas aktivitas intelijen antarnegara. Ia secara terbuka mengakui bahwa kegiatan spionase tidak hanya dilakukan Beijing.

Menurut Trump, ketika negara lain melakukan kegiatan intelijen terhadap Amerika Serikat, Washington juga melakukan kegiatan serupa terhadap mereka. Pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana persaingan AS-Tiongkok kini tidak hanya berlangsung dalam perdagangan dan teknologi, tetapi juga mencakup sektor intelijen serta sistem keuangan.

Di tengah meningkatnya tekanan ekonomi tersebut, situasi domestik Iran juga mulai menunjukkan tanda-tanda tekanan serius.

Pada 27 Agustus, antrean panjang kendaraan dilaporkan terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di Teheran dan beberapa kota lainnya. Sebagian antrean bahkan dilaporkan membentang sangat panjang, sementara beberapa SPBU menghentikan pelayanan setelah pasokan tidak mampu memenuhi lonjakan permintaan.

Kondisi itu diperburuk oleh kekhawatiran masyarakat mengenai ketersediaan bahan bakar dan kemungkinan perubahan harga.

Laporan terpisah yang mengutip sumber-sumber di Iran menyebut penggunaan cadangan strategis bahan bakar negara tersebut telah mencapai tingkat “peringatan merah”. Jika tingkat penarikan cadangan terus berlangsung dengan kecepatan yang sama, stok tersebut dikhawatirkan dapat semakin menipis dalam beberapa pekan.

Namun, laporan mengenai kondisi cadangan strategis tersebut belum dapat diverifikasi secara independen sepenuhnya.

Tekanan terhadap Iran berpotensi meningkat lebih jauh.

Laporan Bloomberg Law pada 26 Agustus mengungkapkan bahwa Departemen Kehakiman Amerika Serikat sedang mempersiapkan pengaktifan kembali mekanisme hukum maritim masa perang yang telah lama tidak digunakan, dikenal sebagai prize court.

Mekanisme tersebut secara historis digunakan untuk menentukan apakah kapal dan muatan yang direbut dalam konflik dapat secara hukum dianggap sebagai rampasan perang.

Jaksa federal AS Aaron Reitz mengonfirmasi bahwa Departemen Kehakiman sedang berupaya menghidupkan kembali mekanisme tersebut.

Jika rencana itu benar-benar diterapkan, pemerintah Amerika Serikat dapat memperoleh jalur hukum yang lebih cepat untuk mengklaim minyak dan berbagai muatan lain dari kapal Iran yang berhasil disita. Barang yang telah ditetapkan sebagai milik Amerika kemudian dapat dijual dan hasilnya disetorkan ke Departemen Keuangan AS.

Langkah tersebut diperkirakan akan menghadapi tantangan hukum serius. Namun jika berhasil diterapkan, kebijakan itu dapat menandai perubahan besar strategi Washington—dari tekanan melalui sanksi ekonomi menuju penggunaan hukum maritim masa perang untuk memperkuat blokade terhadap Iran.

Di luar persoalan Iran, Trump pada hari yang sama juga menyinggung meningkatnya kekhawatiran mengenai Rusia dan NATO.

Trump mengatakan dirinya tidak yakin Presiden Rusia Vladimir Putin akan menyerang wilayah negara anggota NATO.

“Dia tidak akan menyerang wilayah NATO,” katanya.

Trump juga mengecilkan spekulasi mengenai perjalanan Direktur CIA John Ratcliffe ke Moskow pada awal pekan tersebut. Trump mengatakan perjalanan itu bukan misi khusus untuk membawa ultimatum kepada Rusia.

Namun sejumlah laporan media Amerika yang mengutip sumber-sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut memberikan gambaran berbeda. Ratcliffe dilaporkan memperingatkan pejabat Rusia agar tidak melakukan serangan terhadap anggota NATO. Dukungan Moskow terhadap Iran juga disebut menjadi salah satu topik pembicaraan.

Pada hari yang sama, Trump turut mengambil langkah kontroversial dalam hubungan Amerika Serikat-Kanada.

Pada 27 Agustus 2026, Trump menandatangani perintah eksekutif yang mengarahkan pemerintah federal Amerika Serikat untuk mengganti nama Lake Ontario menjadi “Lake America” dalam penggunaan resmi pemerintah federal AS.

Perintah tersebut memberikan waktu 30 hari kepada Menteri Dalam Negeri AS untuk berkoordinasi dengan Board on Geographic Names dalam melaksanakan perubahan nama dan memperbarui sistem geografis federal. Dengan demikian, perubahan tersebut bukan berarti Kanada diwajibkan menggunakan nama baru itu.

Setelah menyelesaikan agenda di Washington, Trump bertolak menuju Houston, Texas, pada Kamis malam untuk menghadiri kegiatan penggalangan dana Komite Nasional Partai Republik.

Perjalanan Trump ke Texas berlanjut pada Jumat, 28 Agustus 2026, dengan agenda di Johnson Space Center NASA di Houston.

Trump dijadwalkan memberikan Congressional Space Medal of Honor kepada empat awak Artemis II: tiga astronaut NASA asal Amerika Serikat, Reid Wiseman, Victor Glover dan Christina Koch, serta astronaut Badan Antariksa Kanada Jeremy Hansen.

Keempatnya menyelesaikan misi bersejarah selama sekitar 10 hari mengelilingi Bulan pada April 2026.

Rangkaian perkembangan pada 27 Agustus memperlihatkan bagaimana Washington kini menghadapi beberapa front strategis sekaligus. Di satu sisi, pemerintahan Trump berusaha meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran dan bahkan mempertimbangkan instrumen hukum masa perang untuk memperkuat penyitaan aset maritim.

Di sisi lain, Amerika Serikat tetap harus menghadapi persaingan dengan Tiongkok, menjaga stabilitas hubungan dengan Rusia dan NATO, serta mengelola ketegangan baru dengan Kanada.

Namun perhatian terbesar saat ini tetap tertuju pada Iran. Jika mekanisme penyitaan kapal benar-benar diaktifkan sementara tekanan ekonomi terus diperketat, pertarungan Washington dan Teheran tidak lagi sekadar berkisar pada sanksi.

Konfrontasi tersebut berpotensi memasuki fase yang jauh lebih keras—ketika jalur perdagangan, kapal tanker, pasokan bahan bakar, sistem perbankan, dan pendapatan minyak menjadi medan utama perebutan pengaruh antara kedua negara. (***)

KKI 2026 Torehkan Transaksi Rp177 Miliar, UMKM Jatim Raup Rp19,4 Miliar dari Business Matching

Jakarta — Gelaran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 resmi ditutup setelah empat hari berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, pada 20–23 Agustus 2026. Ajang tahunan yang diselenggarakan Bank Indonesia ini mencatatkan capaian yang menggembirakan: total penjualan mencapai Rp177,21 miliar—meningkat signifikan dibandingkan KKI 2025 yang mencapai Rp130,84 miliar.

KKI 2026 diikuti lebih dari 1.860 UMKM dari seluruh Indonesia, dengan hampir 560 di antaranya tampil secara luring. Mengusung semangat “Beudaya Meusare Sare” dari Aceh yang berarti Berdaya, Bersama-sama, ajang ini melibatkan 27 kementerian dan lembaga serta 34 mitra strategis.

Business Matching Tembus Rp285 Miliar

Tak hanya sekadar pameran, KKI 2026 juga menjadi ajang business matching yang produktif. Business matching ekspor mencatat nilai Rp169,9 miliar, melibatkan 192 UMKM dan pembeli dari 16 negara. Sementara itu, business matching pembiayaan mencapai Rp285 miliar, meningkat 30,3 persen dibandingkan rata-rata tiga tahun terakhir.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, dalam seremoni penutupan menegaskan bahwa KKI bukan sekadar ruang promosi dan transaksi, tetapi juga bagian dari ekosistem pengembangan UMKM yang berkelanjutan. “UMKM perlu mempunyai ekosistem yang menjadi tujuan berkelanjutan agar tumbuh, tangguh, dan berdaya saingnya UMKM Indonesia terus berlangsung,” ujarnya.

UMKM Jatim Unjuk Gigi, Raup Rp19,4 Miliar

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Jawa Timur turut berperan aktif dengan membawa 17 UMKM binaan dalam pameran luring dan 55 UMKM lainnya melalui pameran daring. Produk yang dipamerkan meliputi kopi, kriya, wastra, fesyen, hingga makanan-minuman olahan.

Kepala KPwBI Jawa Timur, Ibrahim, menyatakan bahwa keikutsertaan UMKM binaan tidak hanya untuk pameran, tetapi juga untuk business matching pembiayaan dan ekspor. “Mereka tidak hanya tampil dalam pameran saja tapi juga turut serta dalam business matching pembiayaan dan ekspor,” ujarnya.

Hasilnya, 5 UMKM binaan KPwBI Jatim berhasil menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan total nilai mencapai Rp19,4 miliar.

Prestasi Membanggakan: Canting Wira dan Barista Jatim

Dua UMKM binaan KPwBI Jatim berhasil masuk dalam 20 besar program Citra Nusa, yaitu Al-Warist Batik Aromatherapy dan Canting Wira. Canting Wira bahkan meraih Juara Harapan II melalui inovasi teknik pembatikan Rainbow in the Shadow.

Di bidang kopi, dua barista asal Jawa Timur—Hangga Dwi Prakarsa dan Rahmat Ramadhan—berhasil masuk dalam 12 besar program Cangkir Barista, sebuah program pengembangan wirausaha kopi melalui peningkatan kompetensi dan sertifikasi nasional.

Batik Tuban Tampil di Pagelaran Swarna Nusantara

Momen penting dalam Closing Ceremony KKI 2026 adalah kolaborasi antara Batik Tuban Lockan, salah satu UMKM binaan BI Jatim, dengan desainer nasional Danjyo Hiyoji dalam Pagelaran Swarna Nusantara. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya memperluas eksposur dan meningkatkan nilai tambah produk wastra daerah.

Penjualan Wastra Jatim Tumbuh 228%

Tujuh UMKM wastra dan fesyen dari Jatim yang berpartisipasi dalam pameran luring—terdiri dari Jokotole, Al-Warist Batik, Hadi Batik Podhek, Gedog Zaenal Tuban, Canting Wira, Namira Ecoprint, dan Batik Radhika—mencatat total penjualan Rp4,33 miliar, meningkat 228 persen dibandingkan capaian tahun 2025 sebesar Rp1,34 miliar.

Peningkatan ini didorong oleh semakin banyaknya UMKM yang lolos kurasi, variasi produk yang lebih beragam, serta pengembangan produk ready to wear dengan desain yang menjangkau berbagai segmen konsumen.

Pesan untuk UMKM Indonesia

Di akhir penutupan, Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman, menyampaikan pesan kepada seluruh pelaku UMKM: “Cintai, bangga, dan pakai produk UMKM Indonesia. Karena kalau bukan kita, siapa lagi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi UMKM Indonesia menjadi tuan rumah produk Indonesia dan bisa tumbuh, tangguh, dan berdaya saing”.

Melalui semangat “#BeudayaMeusareSare—Berdaya Bersama-sama”, Bank Indonesia bersama seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat sinergi untuk mewujudkan UMKM Indonesia yang bangkit, tangguh, inovatif, dan berdaya saing, baik di pasar domestik maupun global.

Fakta Cepat KKI 2026

IndikatorCapaian
Total penjualanRp177,21 miliar
BM EksporRp169,9 miliar (192 UMKM, 16 negara)
BM PembiayaanRp285 miliar (naik 30,3%)
UMKM peserta1.860+ (560 luring)
UMKM Jatim luring17 UMKM
UMKM Jatim daring55 UMKM
LoI UMKM JatimRp19,4 miliar

(Update) Banjir Bandang Nepal-Tibet, Lebih dari 390 Orang Tewas dan 1.400 Orang Masih Hilang

EtIndonesia.com  Gelombang besar air, lumpur, dan puing menerjang permukiman di Himalaya dekat perbatasan Nepal–Tiongkok, menghancurkan desa, jembatan, dan jalan. Tim penyelamat berpacu dengan waktu untuk menemukan para korban yang masih selamat.

Pada 23 Agustus, banjir bandang dahsyat menerjang sejumlah permukiman di sepanjang perbatasan Nepal–Tiongkok, menewaskan ratusan orang dan menyebabkan ribuan lainnya hilang setelah runtuhan besar es dan bebatuan dari kawasan tinggi Himalaya mengirimkan dinding air dan puing mengalir deras ke wilayah hilir.

Hingga malam 27 Agustus waktu setempat, jumlah korban tewas telah mencapai lebih dari 390 orang, menurut otoritas Nepal dan Tiongkok. Lebih dari 1.400 orang masih belum ditemukan, termasuk ratusan wisatawan asing yang sedang mengunjungi kawasan pegunungan tersebut.

Bencana terjadi di Distrik Rasuwa, Nepal bagian utara, sekitar pukul 09.00, ketika permukaan Sungai Bhote Koshi tiba-tiba naik secara drastis. Dalam hitungan menit, arus deras itu mengalir ke Sungai Trishuli, membawa lumpur, bebatuan, dan berbagai puing sambil menghancurkan permukiman yang dilaluinya.

Video dari wilayah tersebut memperlihatkan warga berlari menyelamatkan diri ketika massa air berlumpur yang menjulang menerjang bangunan dan kendaraan hanya dalam hitungan detik. Helikopter dikerahkan untuk menyelamatkan warga yang terjebak di atas atap, sementara tim tanggap darurat menyisir kawasan yang luluh lantak.

Seorang pilot helikopter yang menyaksikan banjir dari udara memperkirakan ketinggian gelombang mencapai sekitar 5 hingga 6 meter.

“Kami bisa melihat gelombang air setinggi lima hingga enam meter. Kami mulai berputar mengelilingi desa-desa dan melihat pohon-pohon besar serta beberapa kendaraan terseret arus,” kata pilot Aman Budathoki kepada CNN.

“Situasinya sangat menakutkan. Kami bahkan sempat mencoba mengikuti aliran banjir untuk mengetahui kerusakan yang terjadi,” tambah Budathoki.

Ribuan Orang Hilang, Upaya Penyelamatan Ditingkatkan

Besarnya kehancuran akibat bencana tersebut masih terus terungkap. Sedikitnya 19 jembatan dan hampir 40 kilometer ruas jalan tersapu banjir, menurut laporan AP. Fasilitas pembangkit listrik tenaga air dan desa-desa di sepanjang Sungai Bhote Koshi juga mengalami kerusakan parah.

Otoritas memperingatkan warga di sejumlah distrik untuk menjauhi tepian Sungai Bhote Koshi, Trishuli, dan Narayani karena adanya kekhawatiran akan terjadi banjir susulan.

Di antara mereka yang hilang terdapat ratusan wisatawan, termasuk warga negara India, Amerika Serikat, Australia, Inggris, Korea Selatan, dan sejumlah negara lainnya. CNN melaporkan sedikitnya 47 warga Amerika Serikat termasuk dalam daftar orang yang belum ditemukan. Sementara itu, otoritas Nepal menyatakan 28 polisi juga masih hilang.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan pihaknya mengetahui adanya warga Amerika yang terdampak bencana tersebut dan tengah berkoordinasi dengan otoritas Nepal serta badan-badan pariwisata untuk membantu operasi pencarian dan penyelamatan.

“Amerika Serikat siap memberikan bantuan,” kata seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS.

Nepal juga meminta bantuan penyelamatan dari negara tetangga, India dan Tiongkok.

Di seberang perbatasan, otoritas Tiongkok melaporkan kerusakan luas di sekitar Gyirong, Tibet, setelah tanah longsor mengganggu akses jalan, komunikasi, dan pasokan listrik. Pemimpin Tiongkok Xi Jinping memerintahkan operasi pencarian dan penyelamatan setelah otoritas melaporkan 265 orang hilang di wilayah Tibet.

Ilmuwan Meneliti Pemicu Bencana

Laporan awal mengenai penyebab banjir tersebut sempat berbeda. Pejabat Nepal pada awalnya mengatakan gempa bumi memicu tanah longsor yang kemudian membendung Sungai Bhote Koshi. Bendungan alami tersebut kemudian jebol dan melepaskan aliran air dalam jumlah besar ke wilayah hilir.

Namun, para ilmuwan kemudian menunjuk longsoran besar es dan batu atau keruntuhan sebagian gletser sebagai kemungkinan pemicu utama.

Para peneliti dari International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) mengatakan bukti awal menunjukkan bahwa sejumlah besar es dan batu masuk ke Sungai Lende Khola, anak Sungai Bhote Koshi, sehingga memicu peningkatan debit air secara tiba-tiba dan ekstrem.

Kecepatan kenaikan air tersebut luar biasa. ICIMOD menyatakan Sungai Trishuli naik hingga 9 meter—hampir 30 kaki—hanya dalam waktu 30 menit di salah satu lokasi pemantauan.

Para ilmuwan juga menyelidiki kemungkinan puing-puing sempat membendung aliran sungai, yang menimbulkan kekhawatiran bahwa pelepasan air secara tiba-tiba lainnya dapat terjadi.

Lanskap Himalaya yang Berubah Cepat

Bencana ini kembali menyoroti kerentanan masyarakat Himalaya di tengah meningkatnya suhu yang mengubah gletser, lapisan salju, dan lereng pegunungan di kawasan tersebut.

Himalaya memiliki ribuan gletser yang menjadi sumber aliran sungai bagi masyarakat di berbagai wilayah Asia Selatan dan Asia Tengah. Ketika suhu meningkat, pencairan es dan ketidakstabilan lereng pegunungan dapat meningkatkan risiko longsoran salju, tanah longsor, serta banjir akibat jebolnya danau gletser.

ICIMOD sebelumnya telah memperingatkan bahwa kenaikan suhu mempercepat hilangnya gletser dan meningkatkan berbagai bahaya yang berkaitan dengan kriosfer, termasuk perubahan pada lapisan permafrost dan stabilitas pegunungan di kawasan tersebut.

Namun, para peneliti masih menyelidiki secara pasti rangkaian peristiwa yang menyebabkan banjir pada 23 Agustus.

“Frekuensi bencana yang berkaitan dengan kriosfer semakin terlihat dibandingkan sebelumnya,” kata Mohd. Farooq Azam, pakar senior kriosfer ICIMOD. Ia menambahkan bahwa laju perubahan lingkungan kini menjadi tantangan yang semakin besar bagi kesiapsiagaan dan upaya penyelamatan.

Namun, bagi masyarakat yang tinggal di wilayah hilir, perhatian utama saat ini tetap tertuju pada pencarian korban yang masih selamat.

Dengan ratusan orang masih hilang dan timbunan puing yang tidak stabil berpotensi memicu gelombang banjir berikutnya, otoritas memperingatkan bahwa skala sebenarnya dari bencana ini mungkin baru diketahui dalam beberapa hari atau bahkan beberapa pekan mendatang.

Berita ini masih berkembang dan akan diperbarui seiring tersedianya informasi terbaru.

Sumber ; Visiontimes.com

Penyintas Banjir Bandang di Tibet: Ketakutan Sampai Kaki Gemetar, Mundur Cepat 3 Kilometer untuk Menyelamatkan Diri

EtIndonesia.com Pada 26 Agustus pagi, banjir bandang dan longsor lumpur tiba-tiba terjadi di sekitar Pelabuhan Gyrong di Kabupaten Gyrong, Kota Shigatse, Tibet. Seorang penyintas mengatakan bahwa banjir datang dengan sangat deras hingga membuat kakinya lemas. Ia terpaksa memundurkan mobil dengan cepat sejauh 3 kilometer untuk melarikan diri. Ada kendaraan yang tidak menghiraukan peringatan dan tetap melaju, tetapi kendaraan tersebut kemudian tidak pernah kembali.

Seorang perempuan bermarga Fang, yang berhasil selamat dari banjir bandang tersebut, mengatakan kepada Xiaoxiang Morning Post bahwa mereka berencana pergi ke Nepal. Mereka berangkat dari Kota Gyrong dan awalnya berencana berangkat sekitar pukul 09.00 pada 26 Agustus, tetapi karena bangun terlambat, keberangkatan mereka tertunda hingga sekitar pukul 10.00.

Kota Gyrong berjarak sekitar 20 kilometer dari Pelabuhan Gyrong, dan dalam kondisi normal perjalanan dengan mobil hanya membutuhkan sekitar 40 menit.

Fang mengatakan, ketika mobil mereka berada sekitar 4 kilometer dari Pelabuhan Gyrong, mereka tiba-tiba melihat banjir datang dari arah depan jalan.“Pohon-pohon, tiang listrik, semuanya tumbang. Air bah datang mengejar kami. Kami tidak sempat memutar mobil, jadi hanya bisa mundur.”

Fang mengatakan saat itu ia begitu ketakutan sampai “kaki saya gemetar!” Karena tidak sempat memutar kendaraan, mereka hanya bisa memundurkan mobil secepat mungkin untuk menyelamatkan diri.

Gambar sebelum dan sesudah banjir bandang di perlintasan perbatasan Tiongkok-Nepal di Tibet. (Tangkapan layar dari internet)

“Kami mundur sekitar 3 kilometer. Setelah itu, arus air baru tidak begitu ganas.”

Ia mengatakan mobil mereka merupakan kendaraan pertama yang mundur. Tak lama kemudian, sebuah kendaraan lain datang dari belakang. Mereka memberi isyarat agar kendaraan tersebut jangan melanjutkan perjalanan.

“Tetapi kendaraan itu tetap lewat. Saya kira kendaraan itu mungkin sudah tidak ada.”

Setelah tiba di tempat yang aman dan menghentikan mobil, lembah tersebut diselimuti kabut tebal sehingga mereka hampir tidak dapat melihat keadaan di sekitar.

“Kami dan orang-orang di belakang turun dari mobil. Kami semua membicarakan kejadian itu dan menghubungi kerabat serta teman.”

Pada sore hari, Fang kembali ke Kota Gyrong. Kota tersebut tidak terkena dampak banjir bandang. Namun, seorang temannya yang berada di Pelabuhan Gyrong tidak dapat dihubungi. Ia memperkirakan kondisi temannya sangat mengkhawatirkan.

Video yang beredar di internet menunjukkan bahwa ketika banjir bandang dan longsor terjadi, gelombang air setinggi puluhan meter menerjang Pelabuhan Gyrong. Gedung pelabuhan, bangunan di sekitarnya, tempat parkir, dan berbagai fasilitas lainnya seketika ditelan gelombang besar. Seluruh kawasan pelabuhan dilaporkan hancur dan rata dengan tanah.

Saat itu terdapat banyak bus pariwisata, truk, dan kendaraan lainnya yang terparkir di pelabuhan. Ketika melihat banjir bandang datang, orang-orang di lokasi berusaha melarikan diri dengan panik, tetapi dalam sekejap mereka tersapu banjir. Dari rekaman yang beredar, skala korban diperkirakan sangat parah.

Setelah bencana terjadi, sebuah drone merekam lokasi asal keruntuhan es dan batuan yang diduga memicu bencana besar tersebut. Citra satelit menunjukkan adanya bagian yang hilang di sisi utara Puncak Langtang Lirung, yang memiliki ketinggian lebih dari 7.200 meter di wilayah Nepal.

Campuran lumpur, es, dan material dari gletser dalam jumlah sangat besar kemudian mengalir deras menyusuri lembah. Longsoran tersebut melaju mengikuti aliran sungai dan, menurut laporan, hanya membutuhkan sekitar 5–7 menit untuk menempuh jarak 20 kilometer, sebelum tiba-tiba menerjang Pelabuhan Gyrong di perbatasan Tiongkok–Nepal.

Dengan kecepatan seperti itu, orang-orang yang berada di lokasi disebut hampir tidak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri.

Hingga pukul 08.00 pada 27 Agustus, menurut laporan resmi pemerintah Partai Komunis Tiongkok, banjir bandang dan longsor di Tibet tersebut telah menyebabkan 3 orang tewas dan 558 orang hilang, termasuk 260 warga negara asing. Jumlah korban diperkirakan masih dapat meningkat.

Reporter Luo Tingting; Editor: Wen Hui

Banjir Bandang di Tibet Seperti Tsunami : Permukaan Air Naik 9 Meter dalam 30 Menit, Pilot Menceritakan Pemandangan Mengerikan

EtIndonesia.com Banjir mematikan melanda perbatasan Tibet, Tiongkok, dan Nepal pada 26 Agustus. Banjir bandang yang membawa material longsoran lumpur dan batu dalam jumlah besar dengan cepat menerjang wilayah hilir. 

Dalam waktu hanya 30 menit, permukaan air Sungai Trishuli naik hingga 9 meter, menyerupai “tsunami di daratan”. Seorang pilot helikopter menyaksikan langsung pemandangan mengerikan sebelum banjir menerjang.

Pilot Menyaksikan Pemandangan Mengerikan dari Udara

Pilot helikopter Aman Budathoki menyaksikan langsung banjir bandang mematikan tersebut dari udara. Ia memperkirakan ketinggian gelombang air mencapai 5 hingga 6 meter.

“Sekitar lima menit sebelum banjir terjadi, kami melihat sejumlah besar debu tiba-tiba membumbung dari permukaan sungai,” kata Budathoki kepada CNN. “Awalnya kami mengira itu hanya longsoran tanah dan batu. Kami bahkan menduga mungkin militer sedang menggunakan bahan peledak untuk memperbaiki jalan.”

Namun, hanya dalam hitungan detik, Budathoki melihat air banjir berwarna gelap yang membawa banyak puing mengalir deras ke hilir dan bercampur dengan air sungai yang sebelumnya jernih. Aliran tersebut bahkan membentuk gelombang raksasa setinggi 5 hingga 6 meter.

Ia melihat pohon-pohon besar, kendaraan, dan bangunan tersapu oleh derasnya arus.

“Itu adalah pemandangan yang sangat mengerikan. Kami bahkan sempat mencoba mengikuti arah aliran banjir untuk sementara waktu, hanya untuk menilai bencana yang sedang terjadi.”

Ia mengatakan belum pernah melihat kekuatan alam ditunjukkan dengan cara yang sedemikian dahsyat.

Banjir Bandang Seperti Tsunami di Daratan, Air Naik 9 Meter dalam 30 Menit

International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) yang berbasis di Nepal menyatakan bahwa permukaan air di bagian hilir Sungai Trishuli naik hingga 9 meter hanya dalam waktu 30 menit.

Banjir datang begitu cepat dan dahsyat sehingga bencana tersebut digambarkan seperti “tsunami di daratan” yang terjadi di lembah pegunungan. Bagi penduduk yang tinggal di dekat sungai, ketika mereka menyadari banjir sudah mendekat, waktu yang tersedia untuk menyelamatkan diri sudah sangat terbatas.

Yang membuat situasi semakin berbahaya adalah arus deras membawa lumpur dalam jumlah besar serta batu-batu raksasa ke arah hilir. Rumah, jalan, dan jembatan terkena hantaman langsung.

Penyintas berusia 24 tahun, Bibek Kumal, mengatakan kepada Reuters bahwa setelah terseret arus, ia berhasil bertahan hidup dengan memeluk erat sebuah pohon mangga. Ia bahkan menyaksikan langsung rumah tempatnya bekerja tersapu banjir.

Bencana ini telah menyebabkan sedikitnya lebih dari 160 orang tewas dan lebih dari 900 orang hilang. Wisatawan yang masih dinyatakan hilang antara lain warga India, Nepal, Amerika Serikat, Inggris, Korea Selatan, Malaysia, Afrika Selatan, Australia, Ukraina, dan Belanda, serta sejumlah negara lainnya.

Menurut kantor berita resmi Tiongkok, Xinhua, hingga pukul 08.00 pada 27 Agustus, tercatat 3 orang tewas dan 558 orang hilang di Tibet, termasuk 260 warga negara asing. Peningkatan jumlah orang yang dinyatakan hilang disebut terjadi setelah komunikasi pulih dan cakupan pemeriksaan diperluas.

Sementara itu, di wilayah Nepal, bencana yang sama telah menyebabkan 157 orang tewas dan 403 wisatawan dinyatakan hilang.

Diperkirakan jumlah korban tewas dan hilang masih akan terus bertambah. (***)