Sejumlah Generasi Merah dan Aktris Tiongkok Tercantum dalam Daftar Paradise Papers

oleh Ma Li

Epochtimes.id- Kehebohan menyusul Panama Papers yang mengungkapkan serentetan daftar nama para penguasa negara, elite politik dan orang-orang kaya dari seluruh dunia yang memanfaatkan perusahaan lepas pantai untuk menghindari pajak dan pencucian uang.

Konsorsium Wartawan Investigasi Internasional (ICIJ) pada 6 November kembali mengejutkan dunia dengan temuan dari jutaan dokumen keuangan yang mengungkap triliunan dolar yang berusaha disembunyikan oleh para penguasa, elite politik, orang-orang kaya termasuk sejumlah Generasi Merah dan aktris-aktris Tiongkok.

Laporan BBC menyebutkan bahwa dokumen yang dibocorkan kali ini dinamakan Paradise Papers yang jumlahnya mencapai lebih dari 13.4 juta dokumen.

Anggota ICIJ yang terdiri dari 67 negara dan lebih 90 media menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk memeriksa dokumen-dokumen terbaru.

Sama halnya dengan Panama Papers, dokumen-dokumen penting Paradise Papers juga diperoleh melalui 2 orang wartawan surat kabar Jerman Süddeutsche Zeitung yang dibagikan kepada ICIJ, dan ICIJ kemudian memobilisasi lebih 380 orang wartawan dari seluruh dunia untuk melakukan pemeriksaan.

Investigasi untuk Paradise Papers difokuskan pada dokumen-dokumen yang melibatkan Kantor Konsultan Hukum Appleby yang berpusat di Bermuda. Kantor tersebut sudah berdiri selama 119 tahun dan sudah memiliki cabang-cabang di Kepulauan Virginia Inggris, Kepulauan Cayman di Karibia,  Pulau Man, Jersey, Guernsey, Mauritius, dan Seychelles serta di pusat keuangan Hong Kong dan Shanghai.

Panama Papers mengungkap basis pelanggan yang berbeda dengan Kantor Konsultan Hukum Mossack Fonseca. Kantor Konsultan Hukum Appleby menargetkan orang-orang yang paling berkuasa dan kaya di dunia. Sementara basis pelanggan Mossack Fonseca mencakup orang-orang berduit dari semua lapisan.

Generasi Merah dan aktris Tiongkok juga muncul dalam daftar Paradise Papers.

Paradise Papers memuat banyak daftar nama para elite politik dari seluruh dunia. Di antaranya ada sejumlah nama aristokrasi kerajaan Eropa dan Timur Tengah, beberapa perusahaan Amerika, termasuk cucu pejabat senior PKT dan para aktris Tiongkok.

Media “Hongkong 01” yang juga terlibat dalam investigasi mengemukakan bahwa aktris Tiongkok Zhao Wei dan suaminya Huang Youlong, raja judi Malaysia Lin Guotai, tahun 2011 ikut menanam modal perusahaan pertambangan di Mongolia yang jumlahnya mencapai USD 80 juta. Selama ini, kejadian tersebut belum pernah dipublikasikan.

Paradise Papers mengungkap sejumlah dokumen rapat dewan Genting Hongkong Limited (di mana Lin Guotai adalah pimpinan Perusahaan) yang belum pernah dirilis.

Di antaranya, perusahaan Genting Hongkong Limited pada tahun 2011 pernah meminjamkan dana sekitar USD 3.1 juta kepada perusahaan pertambangan Mizu LlC yang dimiliki oleh Huang Youlung.

Tetapi dalam notulen rapat Genting Hongkong Limited tahun berikutnya sampai sekarang, juga tidak ditemukan pengembalian dana dari Mizu yang sudah jatuh tempo.

Paradise Papers juga menemukan adanya perjanjian antara perusahaan asing bernama Xendrill Limited yang dikendalikan oleh keluarga Lin Guotai dan pinjaman pribadi Huang Youlung serta perjanjian pemegangan saham yang jumlahnya mencapai USD 70 juta.

Nama-nama penting lainnya dalam daftar Paradise Papers tersebut termasuk pangeran Arab Saudi, mantan panglima militer Venezuela, putra mantan Sekjen PBB Kofi Atta Annan, cucu pejabat senior Tiongkok, aktris Inggris, serta pejabat-pejabat senior dari Uganda, Austria, Irak, Ukraina, Kenya, Kazakhstan, Kanada, Kosta Rika, Indonesia, Jepang, India, Zambia, Nigeria, Yordania, Kolombia, Turki, Honduras, Liberia dan lainnya. (Sinatra/asr)

Sumber : Epochtimes.com

Amerika Mulai Khawatirkan Radikalisasi Warga Uzbekistan

0

EpochTimesId – Peneliti Kontra Terorisme Amerika Serikat mengkhawatirkan meningkatnya ekstremisme di kalangan etnis Uzbek di Amerika. Mereka mengkhawatirkan imigran dari wilayah Asia Tengah penutur bahasa Uzbek sedang mengalami radikalisasi secara besar-besaran.

“Dalam 18 sampai 24 bulan terakhir menunjukkan bahwa warga Uzbekistan atau Kirgistan dan Tajikistan yang berbahasa Uzbek secara tidak proporsional terlibat dalam serangan teror yang dilakukan sendiri ini,” kata Thomas Lynch, seorang peneliti di Universitas Pertahanan Nasional (NDU) yang berbasis di Washington, di kutip dari VOA, Selasa (7/11/2017).

Thomas Lynch bersama tim peneliti-nya telah melakukan penelitian tentang ekstremisme di Asia Tengah. Sejak awal 2017, telah terjadi beberapa serangan teror terhadap dunia Barat yang diduga dilakukan oleh etnis Uzbekistan yang memiliki hubungan dengan organisasi teror.

Bulan Januari 2017, Abdulkadir Masharipov, seorang pria etnis Uzbekistan berusia 34 tahun dicurigai melakukan serangan mematikan di klub malam Reina di Istanbul, Turki. Dalam insiden itu setidaknya 39 orang tewas. ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Bulan April, pejabat Rusia mengatakan bahwa Akbarzhon Jalilov, pria etnis Uzbekistan berusia 22 tahun yang berasal dari Kirgiztan, meninggal dalam serangan bunuh diri di sebuah pusat kereta listrik di St. Petersburg, Rusia. Aksi itu menewaskan setidaknya 14 orang dan melukai lebih dari 50 orang.

Beberapa hari kemudian, Rakhmat Akilov dari Uzbekistan, dituduh melakukan serangan truk di sebuah jalan di Stockholm, Swedia. Dia menewaskan empat orang dan melukai beberapa orang.

Sedangkan di Amerika, pekan lalu, Abdurasul Juraboev, seorang warga Uzbekistan berusia 27 tahun di New York, dijatuhi hukuman 15 tahun penjara karena berkonspirasi untuk memberikan dukungan material kepada kelompok teror ISIS.

Terakhir adalah serangan teror mematikan yang dilakukan oleh Sayfullo Saipov. Imigran Uzbekistan berusia 29 tahun ini melakukan serangan teror mematikan pada Selasa (31/10/2017) pekan lalu di New York.

Tersangka menggunakan truk sewaan untuk menabrak orang-orang yang berada di jalur sepeda di Manhattan. Saipov menewaskan delapan orang dan melukai 12 pejalan kaki dan pengguna sepeda.

Otoritas kontra terorisme melaporkan bahwa sebanyak tujuh orang Uzbek saat ini berada di belakang jeruji besi di Amerika. Mereka didakwa mencoba memberikan dukungan material kepada organisasi teroris. (waa)

Facebook Diduga Menguping Via Mikrofon Ponsel Demi Kepentingan Iklan

0

EpochTimesId – Perusahaan raksasa sosial media dunia, Facebook, diduga mendengar percakapan pengguna yang login melalui mikrofon telepon seluler. Facebook sendiri membantah dugaan tersebut, namun banyak penggiat sosial media yang tidak percaya dengan bantahan sosial media kelahiran Amerika Serikat itu.

Dugaan tentang Facebook tukang nguping melalui ponsel pengguna muncul sejak sekitar setahun yang lalu. Dugaan bermula ketika akun anekdotal, melemparkan isu tersebut.

Misalkan seseorang menelpon atau bahkan hanya berbicara tentang sesuatu bersama teman dan keluarganya di dekat telepon seluler, maka dengan cukup cepat, Facebook atau Instagram (yang dimiliki oleh Facebook) akan menampilkan iklan terkait yang berdasarkan kata kunci dari hasil percakapan.

Banyak cerita semacam itu tersebar luas, semakin meyakinkan dengan melibatkan produk yang tidak relevan dengan orang-orang yang terlibat.

Salah satu pasangan, misalnya, bereksperimen dengan membicarakan makanan kucing di sekitar telepon selama beberapa jam. Mereka tidak punya kucing dan itu adalah topik yang tidak pernah mereka bicarakan atau telusuri secara online.

“Dua hari kemudian, iklan Facebook kami benar-benar berubah menjadi makanan kucing selama beberapa hari,” pria itu menulis dalam deskripsi video Youtube yang mereka buat untuk mendokumentasikan eksperimen tersebut.

Dia menulis bahwa mereka juga menguji kata kunci lain. Ajaibnya, mereka melihat hasil yang sama setiap saat.

Namun, Facebook sudah membantah penggunaan ponsel pengguna untuk menguping demi tujuan periklanan.

“Beberapa artikel baru-baru ini menduga bahwa kita mendengarkan percakapan orang-orang untuk menunjukkan iklan yang relevan kepada mereka. Ini tidak benar,” kata perusahaan tersebut dalam sebuah pernyataan tahun lalu.

“Kami hanya mengakses mikrofon Anda jika Anda telah memberikan izin aplikasi dan jika Anda secara aktif menggunakan fitur tertentu yang memerlukan audio,” kilahnya.

Tapi penyangkalan itu tidak cukup untuk meyakinkan orang banyak yang sudah yakin bahwa Facebook memang tukang nguping.

PJ Vogt dan Alex Goldman dalam program acara ‘Reply All’ mengupas masalah ini dalam episode 2 November 2017.

Goldman mewawancarai seorang pria dengan banyak pengalaman yang bercerita tentang percakapan yang berubah menjadi iklan online. Dia juga berbicara dengan perwakilan Facebook, mantan pengembang Facebook bagian penargetan iklan (Antonio Garcia Martinez), reporter ProPublica Julia Angwin, dan narasumber lainnya.

Dia yakin bahwa penargetan iklan Facebook cukup invasif bahkan tanpa menguping. Facebook tidak hanya memonitor apa yang pengguna lakukan di situsnya, namun juga melacak perilaku mereka di situs-situs lain, dan juga mengumpulkan informasi tentang penggunanya dari perusahaan lain.

Goldman menduga penargetan iklan Facebook bisa jadi begitu canggih, sepertinya itu hasil dari menguping, meski tidak.

Dia bertanya di Twitter untuk orang-orang yang percaya Facebook menguping mereka untuk dihubungi. Dia mengatakan bahwa dia akan meyakinkan setidaknya satu dari penelepon bahwa Facebook tidak mendengarkannya.

Dia tidak bisa meyakinkan salah satu dari lima penelepon itu.

Tweet Goldman mendapat respon dari Rob Goldman, wakil presiden iklan di Facebook.

“Saya menjalankan produk iklan di Facebook. Kami tidak pernah dan tidak akan pernah menggunakan mikrofon untuk iklan. Tidak benar,” katanya.

https://twitter.com/robjective/status/923620196010434560

Itu juga termasuk Instagram, dia menegaskan dalam respon selanjutnya.

Juru bicara Facebook dan Instagram, Adam Isserlis juga menimpali, menunjukkan bahwa otak pengguna sendiri memainkan trik pada mereka (karena Fenomena Baader-Meinhof). Secara khusus, orang mulai memperhatikan, berdasarkan topik percakapan mereka, iklan yang seharusnya tidak mereka sadari.

Namun, penjelasannya sama sekali tidak meyakinkan terhadap jumlah akun yang membalas untaian tweet, banyak berbagi pengalaman mereka sendiri dengan topik percakapan yang dengan menakutkan merembet menjadi iklan.

Dugaan lain pun sempat muncul, bahwa Facebook mungkin memang tidak menguping namun pihak lain yang melakukannya untuk mereka. Barangkali pihak ke-tiga dengan aplikasi lain atau penyedia layanan lain yang menguping, lalu kemudian menyediakan datanya untuk Facebook.

Epoch Times bertanya kepada Facebook apakah mereka ada menerima data pihak ketiga berdasarkan percakapan yang direkam melalui mikrofon ponsel. Namun, Facebook tetap membantahnya.

“Tidak ada yang baru untuk ditambahkan di luar pos kami [tanggapan tahun 2016] yang menjelaskan bahwa kami tidak mendengarkan percakapan orang-orang untuk menunjukkan iklan kepada mereka,” jawab juru bicara Facebook, Rochelle Nadhiri.

Ditengah tidak jelasnya dugaan itu, pengguna Facebook dan ponsel pintar yang peduli dengan privasi dan enggan terganggu dengan pengumpulan data demi kepentingan periklanan yang mengganggu, barangkali bisa mencoba beberapa cara untuk mengantisipasinya.

Seseorang misalnya, bisa menolak akses Facebook dan aplikasi lainnya terhadap mikrofon ponsel. Untuk iPhone, settingnya ada dalam kategori Privacy Settings dan kemudian berada di bawah opsi Microphone. (waa)

 

Gunman yang Tewaskan Puluhan Orang Penindas dan Pacari Gadis di Bawah Umur

0

EpochTimesId – Pria bersenjata yang melakukan penembakan di gereja Texas, Devin Kelley, berkencan dengan seorang gadis di bawah umur. Dia juga dikenal suka menindas mantan pacarnya dan memaksa mereka untuk bergaul dengannya.

Pria yang menewaskan sedikitnya 26 jemaat gereja itu mengalami masa lalu yang bermasalah dan penuh kekerasan. Dia pernah ditangkap polisi karena melakukan kekejaman terhadap hewan.

Marshal pengadilan juga pernah menangkapnya karena menyerang anak tiri dan istri pertamanya, seperti dikutip The Epoch Times dari NBC, Selasa (7/11/2017).

Salah seorang mantan pacarnya mengatakan bahwa desertir Angkatan Udara Amerika Serikat itu juga pernah mencoba untuk menyerangnya. Pacarnya yang lain, yang masih dibawah umur juga pernah dipukuli.

Brittany Adcock, 22, mengatakan bahwa dia berkencan dengan Kelley selama dua bulan saat berusia 13 tahun dan berusia 18 tahun.

“Pada saat itu saya tidak berpikir banyak untuk menjadi begitu muda, tapi sekarang saya menyadari bahwa ada sesuatu dari seseorang yang berusia 18 dengan seseorang yang berusia 13 tahun,” katanya kepada NBC.

Setelah dia memutuskannya, dia mengganggunya melalui profil Facebook palsu, dan panggilan telepon. Dia juga menawarkan uang untuk Adcock agar mau bergaul dengannya, seperti dilansir oleh Reuters. Kejadian terakhir bahkan hanya sekitar enam bulan yang lalu.

Dia terpaksa menelepon polisi, mengganti nomor teleponnya dan mengajukan keluhan kepada polisi.

“Dia baru mulai menjadi sangat aneh,” kata Adcock, kepada NBC, menjelaskan bagaimana dia memintanya untuk pindah dan tinggal bersamanya.

Seorang mantan pacar lainnya, Katy Landry, mengaku bertemu dengan Kelley di gereja saat masih remaja. Dia juga mengatakan bahwa Kelley terus merepotkan dan mengganggunya setelah mereka putus.

“Bertahun-tahun setelah berkencan dengan saya, dia akan mencoba menyuap saya untuk bergaul dengannya,” kata Landry kepada NBC News dalam pesan Facebook.

“Dia akhirnya menyerang saya. Dia menguntit saya dan berulang kali menelpon saya. Dia sering berbicara dan meracau hal-hal yang tidak jelas ketika menelpon saya,” imbuhnya.

“Saya yakin dia mengalami masalah pada otaknya. Dia akan mengatakan hal-hal aneh, yang tidak bisa saya pahami,” katanya, tanpa merinci hal aneh yang dibicarakan mantan pacarnya.

Devin Kelley menceraikan istri pertamanya di New Mexico pada tahun 2012. Kelley dihukum karena menyerang istri dan anaknya saat berada di Angkatan Udara pada tahun 2012.

Kelley bergabung dengan Angkatan Udara pada tahun 2010 dan ditempatkan di Pangkalan Angkatan Udara Holloman di New Mexico sampai dikeluarkan karena Perilaku Buruk.

Dia bertugas setahun dalam penahanan sebelum dipulangkan pada tahun 2014. Pada tahun 2012 Kelley mengaku bersalah atas tuduhan menyerang pasangannya dan anak mereka berkali-kali.

“Dia menyerang anak tirinya cukup parah hingga tengkoraknya retak, dan dia juga menyerang istrinya,” kata Don Christensen, seorang kolonel pensiunan yang merupakan jaksa penuntut untuk Angkatan Udara, kepada The New York Times. “Dia mengaku sengaja melakukannya.”

Angkatan Udara mengatakan bahwa kasus Kelley adalah pengadilan militer umum, tingkat paling serius dalam proses persidangan militer. Sidang umum biasanya untuk tuduhan kriminal yang lebih serius, yang secara substansial serupa dengan tindak pidana berat di yurisdiksi pengadilan sipil.

Selanjutnya, dia menikahi Danielle Shields di Texas pada tahun 2014, setelah bebas dari penjara.

Kelley masuk ke Gereja Baptist Church di Sutherland Springs, Texas dengan pakaian ala militer. Dia melepaskan tembakan dengan senapan otomatis dan menewaskan sedikitnya 26 orang pada hari Minggu (5/11/2017) lalu.

Seorang warga sempat membalas dengan melepaskan tembakan ke arahnya, namun Kelley berhasil melarikan diri dengan mobil. Ketika dikejar polisi, mobilnya mengalami kecelakaan dan dia ditemukan tewas. Polisi menduga dia terbunuh oleh tembakan dari senjatanya sendiri.

Dia diduga terlibat masalah dengan mertuanya yang terkadang beribadah di gereja. Pelaku pernah mengirim pesan ancaman kepada mertuanya.

Seorang warga mengatakan kepada LA Times bahwa, Kelley pernah memulai pertengkaran online dengan warga Texas di Facebook.

“Sepertinya dia mencarinya, Anda tahu maksud saya? Anda bisa memberi tahu orang-orang yang membela pendapat mereka, versus seseorang yang ingin memulai sesuatu pertengkaran,” tutur Johnathan Castillo, seorang warga Texas.

Banyak orang yang akhirnya menghapus pertemanan dengan tersangka dari Facebooknya. Semua itu dipicu karena pertengkaran di media sosial tersebut. (waa)

Laba Bersih Facebook Melonjak Walau Sempat Terkoreksi Isu Rusia

0

EpochTimesId – Facebook berhasil mencetak kenaikan laba bersih pada pendapatan kuartalan. Pendapatan kuartal ketiga tahun ini lebih baik dari yang diperkirakan.

Saham Facebook bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi pada sesi awal perdagangan. Sempat naik pada perdagangan setelah sesi penutupan, namun kemudian jatuh ke level negatif. Koreksi negatif terjadi ditengah kontroversi seputar upaya Rusia menggunakan Facebook untuk memecah-belah rakyat Amerika pada pemilihan presiden Amerika 2016.

Walau demikian, saham Facebook telah naik sebanyak 60 persen sepanjang tahun ini. Kenaikan pendapatan tersebut dilaporkan akibat upaya perusahaan untuk menggarap iklan video. Isu Rusia pun tampaknya tidak berpengaruh pada kinerja keuangan jejaring media sosial terbesar di dunia ini, seperti dikutip dari VOA, Senin (6/11/2017).

Kepala Eksekutif Facebook, Mark Zuckenberg mengutuk upaya Rusia untuk mempengaruhi hasil pemilihan presiden tahun lalu melalui unggahan di Facebook yang dirancang untuk menebar perpecahan. Dia juga mengulangi janjinya untuk menaikkan pengeluaran untuk meningkatkan keamanan jejaring sosial, sebuah langkah yang menurut Zuckenberg pada pekan lalu, akan mempengaruhi laba.

“Apa yang mereka lakukan salah dan kami tidak akan membelanya,” kata Zuckenberg, dalam paparan kepada analis melalui sambungan telepon, dilansir dari VOA.

Pendapatan iklan Facebook naik sebanyak 49 persen di kuartal ketiga menjadi 10.14 miliar dolar. Sekitar 88 persen dari pendapatan iklan berasal dari iklan ponsel.

Sebelumnya, analis dari perusahaan data dan analitik, FactSet memprediksi total pendapatan akan mencapai 9,71 miliar dolar Amerika Serikat.

Pada kuartal ke-dua tahun ini, kenaikan iklan Facebook hanya sebesar 47 persen. Turun dari kenaikan kuartal pertama, yaitu sebesar 51 persen.

Laba bersih kuartal ke-tiga naik menjadi 4.71 miliar dolar atau 1.59 dolar per saham, dari 2.63 miliar dolar atau 90 sen per saham.

Angka laba bersih Facebook lebih tinggi dari perkiraan analis yang memperkirakan perusahaan ini akan mencetak laba bersih 1,28 dolar, menurut Thomson Reuters I/B/E/S. Sementara pendapatan total naik 47,3 persen menjadi 10,33 miliar dolar, melampaui angka perkiraan analis yang diperkirakan mencapai 9,84 miliar dolar. (voa/waa)

Jika 48 Jam Tak Hapus Konten Tak Senonoh, Kominfo Ancam Blokir WhatsApp

Epochtimes.id– Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengancam akan memblokir aplikasi chatting WhatsApp Facebook Inc jika dalam waktu 48 jam, tak memastikan gambar bergerak Graphics Interchange Format (GIF) yang tidak senonoh tidak dihapus.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Kemkominfo, Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan sejak diterima laporan-laporan adanya konten pornografi pada Minggu (5/11/2017),  Tim Aduan Konten segera bekerja dan secara khusus Semuel melakukan komunikasi via telepon ke content provider global yang terkait, yaitu Facebook sebagai perusahaan pemilik aplikasi WhatsApp.

“Hari minggu sore saya langsung hubungi pihak Facebook melalui telepon selaku induk perusahaan dari layanan aplikasi WA” ujar Semmy.

Selanjutnya, Tim Aduan Konten telah melakukan analisa dan menemukan GIF di WhatsApp yang bermuatan asusila yang dapat ditemukan dengan keywords tertentu terkait dengan konten asusila.

Konten tersebut berasal dari penyedia konten GIF yaitu Tenor.com dan Giphy.com yang merupakan aplikasi pihak ketiga (third party), bukan aplikasi yang disediakan sendiri oleh WhatsApp.

Tim Aduan Konten telah berkoordinasi dengan penyelenggara layanan Whatsapp yaitu Facebook, Inc dan sudah mengirimkan 3 (tiga) kali permohonan take down konten GIF tersebut melalui e-mail ke pihak Facebook pada 5-6 November 2017.

Mengingat ketersediaan konten GIF tersebut adalah dari pihak ketiga, maka Kementerian Kominfo pada minggu malam (5/11) juga melakukan komunikasi permintaan takedown secara langsung kepada Giphy.com dan Tenor.com.

Pihak Giphy menyatakan bersedia untuk melakukan filtering dari searching konten GIF yang masuk kategori asusila dan konten negatif lainnya sehingga tidak terakses dari Indonesia. Proses penanganan dari Giphy memerlukan waktu 1-2 hari untuk bisa efektif.

Sementara itu, tenor.com belum memberikan konfirmasi dalam waktu cepat sehingga Kementerian Kominfo melalui Tim Aduan Konten, pada 6 November 2017 pagi hari telah melakukan pemblokiran terhadap 6 DNS dari Tenor yaitu:

  1. tenor.com
  2. api.tenor.com
  3. blog.tenor.com
  4. qa.tenor.com
  5. media.tenor.com
  6. media1.tenor.com

Kemudian, kepada pengelola WhatsApp juga telah disampaikan permintaan agar dapat memastikan konten GIF berkategori asusila tidak muncul lagi pada aplikasi WhatsApp.

Menurut Semmy, sejak minggu malam dan pada pagi Senin, tim aduan konten telah mengirimkan notice kepada WhatsApp agar konten GIF asusila tidak muncul di aplikasi Whatapp, dan agar WhatsApp memastikan pihak ketiga mereka melakukan upaya sebagaimana diminta oleh Kementerian Kominfo.

“Apabila tidak dilaksanakan dalam waktu 2×24 jam maka Kementerian Kominfo akan melakukan tindakan tegas termasuk pemblokiran,” tegas Semmy dalam konfrensi pers di kantor Kominfo, Jakarta, Senin (6/11/2017).

Sebelumnya, WhatsApp dalam pernyataanya mengatakan, di Indonesia, WhatsApp mengizinkan orang mencari GIF menggunakan penyedia pihak ketiga.

“Kami tidak dapat memantau GIF pada Aplikasi WhatsApp karena konten bersifat end-to-end yang dienkripsi. Kami telah mengarahkan pemerintah Indonesia untuk bekerja sama dengan penyedia pihak ketiga ini untuk meninjau konten mereka.” Namun demikian, WhatsApp berjanji akan bekerjasama dengan Kemkominfo.

Sementara Ketua Pengurus Harian Yayasan lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan konten tak senonoh yang beredar sangat tidak positif untuk kebutuhan konsumen anak-anak dan remaja.

Oleh karena itu, YLKI mendesak Kementerian Kominfo untuk menstop konten pornografi di emoticon whatsapp serta turut mendesak pihak WhatsApp untuk mengubah dan memperbaiki konten dimaksud.

Tak hanya itu, YLKI meminta kepada kalangan orangtua untuk mewaspadai penggunaan smartphone pada anak-anaknya agar tidak terpapar konten pornografi tersebut. (asr)

Puluhan Demonstran Anarkis Anti Pemerintah Ditangkap Polisi Rusia

EpochTimesId – Badan keamanan Rusia menahan 263 orang di pusat kota Moskow karena pelanggaran ketertiban umum, Minggu (5/11/2017) waktu setempat.

Penahanan tersebut menyusul serangkaian aksi protes anti-pemerintah potensial seputar peringatan Hari Persatuan akhir pekan ini. Peringatan Hari Persatuan adalah perayaan kudeta Uni Soviet pada Oktober 1917 yang membawa kaum Bolshevik berkuasa.

Wartawan Reuters mengatakan bahwa mereka telah melihat polisi menahan beberapa lusin orang di sebuah jalan di Moskow, meskipun tidak ada satupun diantara mereka mmembawa poster. Mereka bahkan juga tidak meneriakkan slogan-slogan.

FSB, penerus KGB era Soviet, mengatakan di situsnya pada hari Jumat bahwa mereka telah menahan semua anggota Artpodgotovka. Komunitas itu adalah sebuah gerakan anti-pemerintah di wilayah Moskow. FSB juga mengklaim menyita 15 botol bom molotov dari kelompok tersebut.

Kelompok tersebut diduga telah merencanakan tindakan ekstremis. Mereka berencana melakukan pembakaran bangunan administratif dengan menggunakan bahan bakar minyak, dan serangan terhadap anggota polisi untuk memprovokasi kerusuhan massa pada 4-5 November, guna memperingati Hari Persatuan.

Sementara itu, Vyacheslav Maltsev dikabarkan mengunggah ajakan demo anarkis pada situs internetnya. Mereka menyerukan aksi ‘revolusi rakyat’ untuk menumbangkan pemerintahan Putin.

Gerakan Artpodgotovka sendiri telah resmi dilarang oleh pengadilan Rusia sejak bulan Oktober 2017. (waa)

Tiongkok Memperluas Hukum ‘Tidak Menghormati’ Lagu Kebangsaan Sampai Hong Kong

0

BEIJING – Badan parlemen Tiongkok, Kongres Nasional, secara formal memperluas sebuah undang-undang yang melarang tidak menghormati lagu kebangsaan untuk mencakup Hong Kong pada hari Sabtu, 4 Oktober, sebuah langkah yang menurut para kritikus merongrong otonomi dan kebebasan Hong Kong yang diperintah oleh Tiongkok .

Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa penggemar sepak bola Hong Kong telah mencemooh lagu nasional selama kualifikasi Piala Dunia dan pertandingan lainnya, mengungkapkan ketidakpuasan mereka dengan semakin berkembangnya Rezim Komunis Tiongkok ke dalam urusan Hong Kong.

Tiongkok mengeluarkan sebuah undang-undang baru pada bulan September yang mewajibkan hingga 15 hari dalam penahanan polisi bagi mereka yang mencemooh lagu kebangsaan “March of the Volunteers”, sebuah undang-undang yang juga mencakup wilayah Tiongkok di Hong Kong dan Makau namun tidak segera diberi undang-undang dasar untuk pelaksanaannya pada saat wilayah tersebut diserahkan kembali ke Tiongkok.

Hukum Lagu Kebangsaan, yang mulai berlaku pada 1 Oktober, kini telah dimasukkan dalam lampiran Undang-Undang Dasar, atau undang-undang dasar Hong Kong, kantor berita Tiongkok, Xinhua mengatakan. Ini juga akan dimasukkan dalam lampiran Undang-Undang Dasar Macau, lapor Xinhua.

He Shaoren, juru bicara Komite Tetap Kongres Nasional, mengatakan dalam sebuah konferensi pers pada hari Sabtu bahwa terserah pada pemerintah Hong Kong untuk menetapkan undang-undang setempat untuk mematuhi amandemen tersebut pada waktu yang tepat.

Seorang pejabat Hong Kong mengatakan pada 1 Oktober bahwa Daerah Administratif Khusus akan memberlakukan undang-undang semacam itu “sesegera mungkin”.

Hong Kong adalah bekas koloni Inggris yang kembali ke pemerintahan Tiongkok pada tahun 1997 di bawah formula “satu negara, dua sistem” yang menjanjikan kota dengan tingkat otonomi yang tinggi, termasuk peradilan yang independen.

Badan legislatif nasional Tiongkok pada 4 Oktober juga telah melakukan amandemen terhadap undang-undang pidana yang memperpanjang hukuman karena telah menodai bendera dan lambing komunis Tiongkok dan tidak menghormati lagu kebangsaan tersebut. Hukuman termasuk hukuman penjara hingga tiga tahun, Xinhua melaporkan. Undang-undang ini tampaknya tidak berlaku untuk Hong Kong atau Macau. (ran)

Nasib Presiden Republik Katalonia Kini Berada di Tangan Hakim Belgia

EpochTimesId – Jaksa Spanyol mengeluarkan Surat Perintah Pengkapan Warga Eropa (EAW) bagi lima pemimpin Katalonia. Mereka adalah Presiden Carles Puigdemont dan empat mantan menterinya yang pergi berlindung ke Belgia.

Mereka tidak memenuhi panggilan sebuah persidangan di Madrid pada Kamis (2/11/2017) lalu, terkait dakwaan pemberontakan. Berbeda dengan lima pejabat tersebut, sembilan orang mantan anggota pemerintahan regional Catalonia memilih menghadiri persidangan dan sudah ditahan otoritas Kerajaan Spanyol.

Surat perintah penangkapan jaksa Spanyol itu sudah dikirim kepada jaksa Belgia, seperti dikutip dari BBC. Belgia memiliki waktu 24 jam untuk memutuskan keabsahan dokumen.

Jika dokumen itu sah, maka Jaksa Belgia akan meneruskan kepada hakim yang berhak memutuskan apakah Puigdemont dan empat orang lainnya harus ditangkap. Puigdemont dan empat pejabat lainnya langsung menyerahkan diri ke kepolisian Belgia, seperti dikutip dari CNN, Senin (6/11/2017).

Mereka mendatangi salah satu kantor polisi Belgia ditemani oleh pengacara lokal, pada Minggu (5/11/2017) waktu setempat. Belgia memiliki waktu maksimal 60 hari untuk mengembalikan tersangka ke Spanyol setelah penangkapan.

Namun, Belgia bisa menolak surat perintah penangkapan Uni Eropa jika ada kekhawatiran ekstradisi tersebut akan melanggar hak asasi tersangka. Apalagi jika para tokoh Katalan itu memiliki bukti dan alibi kuat ke arah sana.

Alasan diskriminasi politik, agama dan/atau ras juga bisa dijadikan alasan penolakan. Selain itu kekhawatiran tersangka tidak akan mendapatkan persidangan yang adil, juga bisa menjadi alasan penolakan.

Sebanyak 32 pelanggaran hukum telah disepakati dalam daftar Uni Eropa. Setiap pelanggaran yang masuk dalam daftar, bisa dijadikan alasan untuk melakukan ekstradisi, dengan syarat ancaman hukuman minimal tiga tahun penjara.

Namun, hasutan dan pemberontakan yang dituduhkan Spanyol pada pemimpin Katalonia tidak ada dalam daftar kesepakatan Uni Eropa tersebut.

Puigdemont sendiri sudah berulangkali mengatakan bahwa dia tidak akan kembali ke Spanyol kecuali mendapat jaminan untuk menjalani persidangan yang adil.

Parlemen regional CKatalonia baru-baru ini memproklamirkan kemerdekaan berdasarkan hasil referendum yang digelar pada 1 Oktober lalu. namun, tidak ada negara yang mengakui deklarasi kemerdekaan ‘Republik Catalunya’ dari Kerajaan Spanyol.

Puigdemont dan koleganya pergi ke Belgia untuk mengangkat kasus status negara mereka pada institusi Eropa.

Sementara itu, Ribuan orang berkumpul di Barcelona dan kota lain di Katalonia selama dua malam untuk meminta pembebasan mantan pejabat yang ditahan pada Kamis (2/11/2017) lalu. Demonstran juga meminta pembebasan dua orang pemimpin separatis akar rumput, Jordi Sánchez dan Jordi Cuixart, yang ditahan sejak bulan lalu.

Lima pejabat senior perlemen Katalonia termasuk Ketua Parlemen, Carme Forcadell, juga menghadapi dakwaan yang sama. Namun mereka tidak ditahan karena memiliki kekebalan hukum. Akan tetapi, kasus mereka akan disidang oleh Mahkamah Agung pada 11 November mendatang. (waa)

Amazon Boleh Jualan Obral Hanya Ketika Baru Buka di Australia

0

EpochTimesId – Undang-undang persaingan usaha Australia akan memungkinkan Amazon untuk jualan dengan harga diskon ketika mulai berjualan di Australia. Toko online itu diperkirakan akan mulai beroperasi pada akhir November 2017 di Negeri Kanguru.

Ketua Komisi Persaingan Usaha dan Konsumen Australia (Australian Competition and Consumer Commission/ACCC), Rod Sims mengatakan kepada Fairfax Media bahwa Amazon.com.Inc dapat menggunakan undang-undang untuk menetapkan harga yang cukup rendah untuk memenangkan bisnis tanpa melanggar undang-undang persaingan.

“Dalam hal penyalahgunaan kekuatan pasar, jika Anda membuka toko di kota baru dan Anda menetapkan titik harga yang sama, Anda akan kehilangan uang jika Anda tidak memiliki skala,” kata ketua regulator persaingan Australia itu, dikutip The Epoch Times dari Reuters, Senin (6/11/2017).

“Akhirnya, jika Anda menjalankan rencana bisnis Anda dengan benar, Anda akan membuat titik harga itu, sama sekali tidak ilegal,” sambung Rod.

Namun, Amazon masih menolak berkomentar kapan operasi Australia akan dimulai. Walau, mereka telah membangun gudang distribusi di selatan kota Melbourne.

Country Manager Amazon, Rocco Braeuniger dijadwalkan mengadakan pertemuan di Sydney di mana dia diharapkan bisa menangani lebih dari 500 pemasok lokal.

Menteri Usaha Kecil Australia, Michael McCormack mengatakan bahwa dia akan mengawasi Amazon guna memastikan bahwa perusahaan Amerika itu membayar pajak dengan benar.

“Amazon selalu membayar semua pajak yang menjadi kewajibannya di negara manapun kami beroperasi,” kata juru bicara Amazon kepada Fairfax.

Penghindaran pajak oleh perusahaan besar asing merupakan isu yang besar di Australia. Pemerintah sekarang memberlakukan kebijakan baru yang dikenal sebagai undang-undang pajak perusahaan, “Earned here, Taxed here” (berusaha di sini, bayar pajak di sini).

Ombudsman Usaha Kecil dan Keluarga Australia, Kate Carnell mengatakan bahwa organisasinya belum melihat salinan kontrak dimana Amazon mengizinkan usaha kecil beroperasi di pasarnya. (waa)

Australia Tolak Permintaan Selandia Baru terkait Pencari Suaka Pulau Manus

0

EpochTimesId – Australia menolak tawaran Selandia Baru untuk mengambil 150 pencari suaka yang ditahan di sebuah pusat penahanan yang dikelola orang Australia di Papua Nugini (PNG), pada Minggu (5/10/2017) kemarin. Pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa akan terjadi darurat kemanusiaan terkait pengungsi tersebut.

Sekitar 600 orang telah mengurung diri sendiri di dalam kamp di pulau Manus yang terpencil di Papua Nugini. Mereka menentang upaya Australia dan PNG untuk menutup Kamp tersebut. Suply makanan, air bersih dan layanan medis diputus oleh Australia sejak lima hari yang lalu.

Pihak berwenang Australia ingin agar orang-orang tersebut pindah ke pusat transit di tempat lain di pulau itu. Ketika awal proses, pencari suaka akan dipindahkan ke PNG atau negara berkembang lainnya. Mereka mengaku takut akan pembalasan kekerasan dari masyarakat setempat.

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern mengatakan pada hari Jumat (3/11/2017) lalu bahwa negaranya bersedia untuk membawa 150 pencari suaka diantara mereka yang berada di pulau Manus dan sebuah kamp lain di negara kecil Nauru.

Namun, Perdana Menteri Australia, Malcolm Turnbull, mengatakan bahwa Canberra lebih memilih untuk bekerja berdasarkan kesepakatan pemindahan pengungsi yang disepakati dengan mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama pada 2016 lalu. Berdasarkan kesepakatan itu, hingga 1.250 pencari suaka dapat dikirim ke Amerika Serikat dan Australia, yang pada gilirannya akan menerima pengungsi dari Amerika Tengah.

“Kami ingin mengejar mereka, menyimpulkan pengaturan tersebut, dan kemudian setelah itu, kami dapat mempertimbangkan yang lain,” kata Turnbull kepada PM Ardern, dalam sebuah konferensi pers di Sydney.

Merelokasi orang-orang di pulau Manus dirancang sebagai tindakan sementara, yang memungkinkan Amerika Serikat untuk menyelesaikan pemeriksaan mendalam terhadap pencari suaka.

Ardern mengakui kedua tetangga Tasman menghadapi masalah imigrasi yang berbeda namun mengatakan bahwa tawaran tersebut tetap terbuka kedepannya.

Kamp-kamp di pulau Manus dan Nauru merupakan bagian penting dari kebijakan imigrasi “Sovereign Lorders” yang diperdebatkan di Australia. Australia menolak mengizinkan pencari suaka tiba dengan kapal untuk mencapai daratan Negeri Kanguru. Para pengungsi harus berkumpul terlebih dahulu di negara-negara berkembang.

Kebijakan penahanan lepas pantai Australia telah banyak dikritik oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan kelompok hak asasi manusia namun didukung oleh pemerintah kanan-tengah dan oposisi Partai Buruh.

Juru bicara hak asasi manusia PBB, Rupert Colville mengatakan pada sebuah konferensi pers di Jenewa pada hari Jumat tentang ‘kejadian darurat kemanusiaan’ di pusat pulau Manus, di mana pencari suaka dilaporkan menggali sumur untuk mencoba menemukan air. (waa)

Korea Utara Mengakui Dampak Merugikan Akibat Sanksi-sanksi Internasional

Oleh Jasper Fakkert

Epochtimes.id- Sanksi yang dipimpin Amerika Serikat diberlakukan untuk Korea Utara mulai berdampak pada negara komunis yang tertutup itu.

Rezim Korea Utara, yang sering membanggakan sebagai “negara model sosialis”, terpaksa mengakui besarnya dampak yang dikenakan akibat sanksi tersebut.

Dalam sebuah surat kepada PBB pada hari Jumat, utusan Korea Utara menggambarkan sanksi tersebut sebagai “brutal.” Para diplomat dalam surat tersebut mengatakan hal tersebut sebagai “genosida”.

Meskipun puluhan tahun kemiskinan di bawah gagalnya kebijakan ekonomi komunis, Korea Utara menghabiskan anggaran hingga 24 persen dari total belanja negara untuk militer, menurut Departemen Luar Negeri AS.

Anggaran ini terus dikejar untuk alokasi senjata nuklir – dengan biaya tinggi, sangat relatif terhadap ukuran ekonominya, yang mana Produk Domestik Bruto (PDB) Bank Sentral Korea Selatan memperkirakan berada di $ 28,5 Miliar.

Kampanye Internasional untuk Mengakhiri Program Senjata Nuklir memperkirakan pada tahun 2011 Korea Utara menghabiskan $ 700 juta untuk mengembangkan senjata nuklir. Pada tahun 2012, CNN mengutip sumber Korea Selatan yang memperkirakan bahwa Korea Utara telah menghabiskan $ 1,3 miliar untuk dua kali peluncuran rudal.

Rezim komunis Korut juga bertanggung jawab atas kasus kelaparan yang mengakibatkan jutaan kematian.

Sejak memegang kekuasaan setelah kematian ayahnya di tahun 2011, Kim Jong Un telah melakukan sekitar 85 uji coba balistik.

Dalam suratnya, Korea Utara menyalahkan sanksi karena tidak mengizinkan barang-barang bantuan PBB untuk memasuki negara tersebut.

Namun, menurut mantan pembelot Korea Utara, Ri Jong Ho, rezim tersebut menggunakan barang-barang bantuan PBB untuk kepentingan militer dan bukan untuk rakyat Korut.

Berbicara di New York bulan lalu, Ri mengatakan bahwa dia secara pribadi telah melihat personil militer Korea Utara memuat barang-barang tersebut ke truk militer.

Pengakuan oleh Korea Utara tentang sanksi tersebut disampaikan setelah dewan keamanan PBB memberlakukan tahapan baru mereka pada awal September menyusul uji coba nuklir bawah tanah Korea Utara yang ke enam.

Sanksi PBB melarang penjualan gas alam ke Korea Utara dan membatasi jumlah minyak yang bisa dijual ke Korea Utara. Ini juga memotong jalur kehidupan ekonomi penting ke Korea Utara dengan melarang ekspor produk kapas.

Tiongkok telah memberikan dukungan resmi untuk sanksi tersebut, dan bahkan melangkah lebih jauh, memerintahkan bank-banknya untuk berhenti memberikan layanan keuangan ke Korea Utara.

Perusahaan tersebut juga memerintahkan bisnis Korea Utara yang beroperasi di Tiongkok untuk ditutup dalam waktu 120 hari. Rusia, di sisi lain, telah memungkinkan peningkatan arus lalu lintas penyelundupan ke Korea Utara, yang memberikan ruang bangsa yang terisolasi itu sebuah jalur keberlangsung hidup Korut.

Presiden Donald Trump percaya bahwa Tiongkok dapat melakukan lebih banyak untuk menahan Korea Utara. Trump juga mendesak pemimpin Xi Jinping untuk melakukan hal itu selama kunjungannya ke Tiongkok dalam turnya ke Asia timur, yang dimulai pada 3 November.

Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, Joseph Dunford, mengatakan dalam sebuah testimoni di hadapan Komite Senat Angkatan Bersenjata Amerika Serikat pada 26 September, bahwa Tiongkok yang memberi tekanan ekonomi pada Korea Utara adalah elemen kunci untuk menghindari perang.

Pemerintahan Trump telah menyiapkan berbagai pilihan militer sementara secara bersamaan mencoba menemukan solusi diplomatik untuk masalah tersebut.

Selama kunjungannya ke Asia, Trump diharapkan dapat menyelesaikan situasi Korea Utara menjadi prioritas.

Menurut Penasehat Keamanan Nasional Amerika Serikat, H.R. McMaster, waktunya hampir habis dengan solusi diplomatik ke Korea Utara.

Direktur CIA Mike Pompeo percaya hanya butuh beberapa bulan sebelum Korea Utara menyelesaikan program senjata nuklirnya, memberikan kemampuan untuk berhasil menembakkan rudal balistik dengan hulu ledak nuklir.

Korea Utara telah berulang kali mengancam akan menggunakan senjata nuklir untuk menyerang Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang. Sejauh ini Korea Utara belum menunjukkan kemampuan untuk meluncurkan rudal balistik antar benua yang bisa berhasil meninggalkan ruang atmosfer.

Wilayah Guam berpotensi dicapai oleh rudal balistik konvensional Korea Utara. (asr)

Sumber : The Epochtimes

“KPK” Arab Saudi Menangkap 11 Pangeran, Termasuk si Pangeran Pemegang Saham Terbesar ke-2 di Twitter

Epochtimes.id- Kerajaan Arab Saudi menangkap 11 pangeran dan 38 menteri pada Sabtu, 4 November 2017.

Mereka yang ditangkap termasuk miliarder Pangeran Al-Waleed bin Talal bin Abdulaziz, yang memiliki saham terbesar kedua di Twitter Inc., dan Pangeran Mutaib bin Abdullah, Komandan Garda Saudi. Demikian Middle East Eye melaporkan.

Penangkapan tersebut dalam jumlah besar di Saudi Arabia terjadi menjelang transisi kekuasaan yang direncanakan dari Raja Salman ke Putra Mahkota Mohammed bin Salman, menurut melaporkan Harian Sabah Mideast.

Waleed al-Ibrahim, pendiri MBC Broadcasting, perusahaan media swasta terbesar di timur tengah dan utara Afrika, dan Saleh Kamel, seorang pengusaha miliarder juga ditangkap.

Berita tentang penangkapan tersebut menutup sebuah berita beredar di Arab Saudi. Pada hari Sabtu pagi, Presiden Donald Trump meminta Arab Saudi untuk memulai penawaran perdana saham perdana perusahaan minyak Aramco di New York Stock Exchange.

Beberapa jam kemudian, Arab Saudi mengumumkan bahwa mereka mencegat sebuah rudal balistik di timur laut ibu kota Riyadh. Kemudian, saat matahari terbit di Arab Saudi pada Minggu, pencegatan bom tersebut dilakukan.

Selain Twitter, Pangeran bin Talal adalah pemegang saham utama di Citi dan Newscorp. Pada tahun 2015, dia menentang Presiden Donald Trump saat mencalonkan diri sebagai presiden. Bin Talal menulis dalam pesan Twitter pada bulan Desember 2015, bahwa Trump harus mengundurkan dari pemilu dan yakin dia “tidak akan pernah menang”.

Pada tahun 2016, Trump menuduh bin Talal mencoba mengendalikan politisi A.S.

“Dopey Prince @ Alwaleed_Talal ingin mengendalikan politisi Amerika Serikat kami dengan uang ayah,” tulis Trump. “Dia Tidak bisa melakukannya saat aku terpilih.”

Penangkapan tersebut dilakukan beberapa jam setelah Arab Saudi menunjuk menteri baru, beberapa di antaranya menggantikan mereka yang kemudian ditangkap.

Putra Mahkota Mohammed mengepalai gugus tugas anti-korupsi yang mengkoordinasikan penangkapan tersebut. Satuan tugas dibentuk lebih awal pada Sabtu.

Penangkapan tersebut dilakukan beberapa bulan setelah Raja Salman mengganti keponakannya Pangeran Mohammed bin Nayef dengan putranya Pangeran Mohammed sebagai putra mahkota.

“Sejak Mohammed bin Salman menjadi putra mahkota pada bulan Juni, kami telah melihat banyak pergolakan,” kata Ian Black, dari London School of Economics, mengatakan kepada Al Jazeera.

Dalam gelombang penangkapan sebelumnya dilakukan pada September tahun ini, puluhan orang diciduk termasuk ulama berpengaruh. (asr)

Sumber : The Epochtimes

Polisi Pastikan Tersangka Penembakan Massal Gereja Devin Patrick Kelley

0

EpochTimesId – Tersangka penembakan massal terhadap puluhan jemaat gereja di Texas diidentifikasi sebagai Devin Patrick Kelley. Kelley, berusia 26 tahun, adalah penduduk New Braunfels. Kota itu terletak di dekat San Antonio, seperti dikitip The Epoch Times dari The Daily Beast.

Dia ditemukan oleh polisi dalam kondisi tewas setelah melakukan penembakan massal. Rincian identitas tentang Kelley, termasuk motifnya melakukan penembakan masih belum jelas.

Namun, jika melihat akun LinkedIn yang diduga milik Kelley, pelaku pernah bekerja di Angkatan Udara Amerika sejak lulus SMA pada 2009 sampai 2013. CBS News melaporkan Kelley dikeluarkan dari dinas militer dengan tidak hormat dan diadili di pengadilan militer pada 2014.

Menurut MySanAntonio.com, rumah tersangka sudah langsung digeledah oleh Polisi San Antonio. ABC News melaporkan bahwa diasempat mengunggah foto yang berpose dengan senjata ke akun Facebook. Namun, kini foto tersebut sudah dihapus.

Sheriff Wilson County, Joe Tackitt mengatakan kepada CNN bahwa setidaknya 25 orang terbunuh dalam penembakan itu. Letnan Gubernur Texas, Dan Patrick mengatakan kepada Fox News bahwa 30 orang lainnya terluka dan sudah mendapat perawatan di rumah sakit.

Puteri pastur Frank Pomeroy yang berusia 14 tahun ikut terbunuh dalam insiden tersebut. Anggota keluarganya membenarkan kepada beberapa stasiun televisi.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa dia tetap memantau situasi pasca penembakan dari Jepang dalam safari Asia selama 12 hari.

“Semoga Tuhan bersama orang-orang Sutherland Springs, Texas. FBI & penegak hukum ada di tempat kejadian,” cuit Trump di Twitter.

Menurut para saksi, sekitar 20 tembakan terdengar sekitar pukul 11.30 waktu setempat (17.30 GMT) selama kebaktian gereja. Tidak jelas berapa banyak jumlah jemaat dalam gereja saat itu.

Setelah penembakan tersebut, tersangka kabur dengan mobil dan segera terpojok oleh deputi sheriff di luar Wilson County di Guadalupe County. (waa)

Penembakan Massal Tewaskan Puluhan Orang di Gereja Texas Amerika

0

EpochTimesId – Puluhan orang diberondong tembakan oleh seorang pemuda pada sebuah Gereja di Texas, Amerika Serikat. Insiden tersebut terjadi di Gereja First Baptist, Kota Sutherland Springs pada hari Minggu (5/11/2017) pagi waktu Texas, seperti dikutip The Epoch Times dari KENS-TV.

Komisaris Wilson County, Albert Gamez Jr. mengatakan kepada NBC News bahwa dia mendapat laporan penembaknya sudah tewas. Namun belum dijelaskan, apakah pelaku bunuh diri atau ditembak oleh polisi.

Biro Alkohol, Tembakau, Senjata Api dan Bahan Peledak (The Bureau of Alcohol, Tobacco, Firearms and Explosives/ATF) dan FBI sudah berada di tempat kejadian.

Tersangka tewas setelah sempat kabur ke arah kota perbatasan, Guadalupe. Seperti dikatakan oleh juru bicara kantor Sheriff Guadalupe County, Robert Murphy, dilansir dari CNN.

Polisi mengatakan bahwa pria bersenjata yang melepaskan tembakan telah dinetralisir. Lokasi gereja terletak di blok 500 Street, yang terletak sekitar 40 mil sebelah timur San Antonio.

Saksi mata mengatakan tersangka masuk ke gereja dengan perlengkapan perang sebelum melepaskan tembakan. Dia lalu melarikan diri dengan mobil.

Saksi lainnya mengatakan kepada CNN bahwa dia mendengar sebanyak 20 tembakan. Seorang anak berusia 2 tahun turut terkena muntahan timah panas.

Gubernur Texas Greg Abbott menulis sebuah tweet setelah kejadian tersebut. “Doa kami ada pada semua orang yang dirugikan oleh tindakan jahat ini. Terima kasih kami atas penegakan hukum atas kesigapan mereka,” katanya.

https://twitter.com/MajorNews911/status/927245332420923392

Kepolisian Texas, Amerika Serikat, memperkirakan jumlah korban tewas sekitar 25 hingga 28 orang. Korban tewas masih berpeluang bertambah, karena sebagian dari puluhan korban luka dalam kondisi kritis. (waa)