Kisah Penyintas Banjir Bandang dan Longsor : Mereka yang Tinggal Memiliki Baju di Badan

EtIndonesia. Ketinggian banjir di beberapa titik Aceh mencapai 3,5 meter. Evakuasi dramatis memperlihatkan warga berebut naik perahu. Bagi para penyintas, yang tersisa hanyalah secarik harapan untuk besok hari.

Pada Rabu (26/11/2025) itu, air datang bukan sekadar menggenang, melainkan menelan habis. Di posko pengungsian di Aceh Tamiang, para korban menceritakan bagaimana bencana mengubah segalanya dalam hitungan jam. Sebagian besar dari mereka bergerak ke tempat aman setelah air terus naik.

Tersisa Sehelai Pakaian

Bagi seorang penyintas, Rabu menjadi hari ketika air bah benar-benar merenggut segalanya. Di rumahnya, ketinggian air mencapai sekitar 3,5 meter. Atap rumah bahkan sudah tidak terlihat lagi.

Kepanikan menyergap. Mereka tidak sempat menyelamatkan barang-barang. “Tidak sempat ngambil-ngambil barang, baju di badan, baju di badan kami ini,” ujar seorang ibu, menggambarkan betapa mendadaknya musibah itu. Pakaian yang mereka kenakan saat ini adalah pemberian orang lain.

Kesadaran akan kehilangan total adalah realita pahit yang harus mereka hadapi. Mereka yakin, jika pulang kelak, tidak akan ada lagi apa-apa di dalam rumah. “Hancur semua yang ada di dalam. Pokoknya kalau pulang kami apappun pun enggak ada lagi,” tuturnya, menyiratkan kehancuran total materiil.

 Isi rumah sudah tidak dipedulikan, yang terpenting saat ini adalah bekal untuk hidup ke depan, seperti perlengkapan untuk memasak dan mencuci.

Meski kehilangan begitu besar, semangat bersyukur tetap menaungi. Mereka berterima kasih atas bantuan yang berdatangan, baik nasi, maupun bahan bubuk yang dimasak untuk mereka. Mereka juga bersyukur ketika pakaian basah mereka akhirnya kering. “Besok kering Alhamdulillah dua hari ini Bu panas ya kan nah bisa kerik pakai lagi Alhamdulillah,” kata mereka, menemukan keajaiban kecil dalam sengatan matahari.

Evakuasi di Atas Masjid

Tim evakuasi menghadapi pemandangan memilukan, terutama di Kampung Pipa. Sebagian warga ditemukan dalam posisi tertekan, menunggu bantuan sambil jongkok di atas masjid.

Ketika tim evakuasi tiba di lokasi, warga berebut untuk naik ke perahu (bot). Karena keterbatasan perahu, tim harus menerapkan skala prioritas. “Kami prioritaskan dulu yang pertama ibu-ibu sama anak-anak dulu,” jelas anggota tim evakuasi.

Kondisi terparah dialami sejumlah warga yang ditemukan di ladang rambung. Mereka tertahan di sana selama dua hari dan persediaan bahan makanan mereka sudah habis semua. Keadaan ini begitu menyentuh, bahkan anggota tim evakuasi mengaku sempat menangis menyaksikan kondisi tersebut.

 Akses menuju ujung kampung menjadi rintangan lain. Air masih sangat deras bercampur lumpur, dan rumah-rumah telah terangkat ke arah sungai. Lalu lintas perahu pun sangat sulit dilalui.

Mimpi Sekolah dan Main Karet

 Bencana ini juga merenggut hak anak-anak untuk belajar. Seorang anak perempuan kelas 3 SD mengaku sudah empat hari tidak sekolah. Ia menyampaikan kerinduan yang mendalam: “Mau sekolah ya, pengin sekolah ya,” ujarnya.

Namun, posko pengungsian juga menjadi tempat lahirnya komunitas baru. Anak-anak yang kehilangan rumah menemukan banyak teman baru. Mereka bermain bersama di siang hari. Permainan sederhana seperti lempar selok, main jaga, dan main karet menjadi hiburan di tengah puing-puing trauma.

 Dalam keterbatasan itu, harapan tetap menyala terang. Para penyintas percaya bahwa di balik musibah ini, pasti ada hikmat yang luar biasa yang disiapkan Allah untuk mereka. Mereka bersyukur karena masih diberi rezeki dan selamat dari maut.

Ketabahan para pengungsi Aceh—yang nyaris tidak memiliki apa-apa selain pakaian yang melekat di tubuh—mengajarkan bahwa pada akhirnya, yang paling berharga dalam hidup bukanlah isi rumah yang tenggelam, melainkan keselamatan diri dan janji matahari yang akan mengeringkan pakaian mereka di hari esok. Mereka telah menyelamatkan nyawa mereka dan anak-anak mereka.

Hingga 9 Desember 2025, Aceh mencatatkan 391 korban meninggal dunia dan 31 hilang dengan 831.124 pengungsi. Kabupaten dengan angka tertinggi korban meninggal dunia di Aceh Utara dengan 138 jiwa, kemudian Aceh Tamiang 58 jiwa dan Aceh Timur 48 jiwa. (WJ)

Di Balik 3 Meter Air Bah Besitang : Kisah Janda-Janda Tangguh dan Perjuangan Melawan Isolasi

EtIndonesia. Bagi Mawaddah Hasibuan, seorang guru TK sekaligus janda di Besitang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, malam itu adalah pertarungan melawan insting. Saat hujan deras turun, ia dan anaknya tidak tidur. Awalnya, ia berpikir air hanya akan datang setinggi mata kaki. Ia sempat mengira banjir tidak mungkin terjadi karena bukan air pasang, melainkan hanya hujan.

 Namun, sekitar jam 3 malam, air yang datang bukan air biasa. Ia terkejut melihat air dari sungai di belakang rumahnya telah mengalir deras.

“Ya Allah dosa apa yang kami buat ni ya Allah,” kenangnya sambil berdiri di pintu.

 Mawaddah menyaksikan horor yang belum pernah ia saksikan seumur hidupnya: batu-batu besar terangkat oleh kekuatan air, sesuatu yang tidak pernah terjadi di jalanan di belakang rumahnya. Dalam sekejap, barang-barang di rumahnya hancur semua.

Tiga Hari Terjebak di Tengah “Lautan”

 Banjir bandang yang melanda Besitang, menurut Lurah setempat, mulai terjadi pada hari Rabu. Ketinggian air yang mengejutkan mencapai tiga meter. Dampak bencana ini sangat luas, menjangkau seluruh kelurahan dengan estimasi 1000 hingga 1300 Kepala Keluarga (KK) terdampak.

Fokus awal tim penolong memang adalah menyelamatkan jiwa. Namun, kondisi segera memburuk. Hanya dalam waktu satu hari, semua komunikasi terputus dan bantuan terputus.

Kondisi isolasi ini memaksa pemangku jabatan mengambil risiko yang luar biasa. Pak Lurah Besitang harus mempertaruhkan nyawanya untuk menembus isolasi. Ia harus “mengkorbankan… korban jiwa saya” demi menjemput bantuan.

Sungai yang meluap, dengan ketinggian 3 meter, berubah menjadi seperti lautan. Pak Lurah menyeberangi arus deras itu menggunakan perahu nelayan untuk mengambil sedikit bantuan dari Bupati Langkat yang menunggu di seberang, untuk dibawa ke para pengungsi di Masjid Raya.

Stagnasi Bantuan di Kota Kabupaten

 Perjuangan menjemput bantuan juga dirasakan oleh kelompok masyarakat. Pemuda Besitang yang telah mengumpulkan donasi, stagnan selama tiga hari di Stabat, kota kabupaten.

Mereka kesulitan menyalurkan akomodasi dan suplai makanan ke Besitang karena terhambat di jalan tol, di mana banjir masih tinggi. Jalan satu-satunya yang mereka temukan adalah mencari mobil tinggi, bahkan sampai harus menyewa mobil yang kondisinya “busuk” hingga tengah malam demi bisa mendistribusikan bantuan.

Mawaddah, sang guru TK, adalah gambaran ketabahan di tengah krisis. Ia yang kini menjanda dan tinggal bersama anaknya, menjadi bagian dari komunitas perempuan yang sangat kuat. Mawaddah menyebutkan, “Kami sini janda semua, Masya Allah, kuat tapi kuat semua perempuan kuat, kuat perempuan kuat apalagi guru”.

Meskipun semua barang hancur, mereka tetap kuat dan bersyukur. “Kami ada makan walaupun ikan asin, kami kuat ya insyaallah kuat pasti kuat insyaallah,” kata Mawaddah.

Lingkungan yang Terkoyak

Meskipun data di Besitang tidak secara eksplisit menyebutkan kayu gelondongan seperti yang terjadi di Garoga, Tapanuli Selatan , amukan air bah di Sumatera Utara ini merupakan cerminan dari “kebijakan pemerintah yang gagal” dan deforestasi yang sangat masif, seperti yang ditekankan oleh Iqbal Damanik dari Greenpeace [histori percakapan].

 Di Besitang, air mampu mengangkat batu besar, menunjukkan kekuatan ekstrem yang dilepaskan oleh alam yang ekologinya telah rusak. Sementara di Tapanuli Selatan, banjir yang sama telah menghancurkan 140 rumah dan menewaskan puluhan orang, didorong oleh ribuan batang kayu hutan dengan bekas gergaji mesin.

Bagi Damanik, tragedi ini, yang merenggut ratusan ini jiwa di Sumatera, adalah akibat akumulasi kegagalan pengawasan tiga menteri—Menteri ATR/BPN, Menteri ESDM, dan Hanif Faisal dari KLHK—yang dianggap melakukan pembiaran terhadap korporasi yang merusak kawasan hutan untuk sawit, HTI, dan pertambangaN.

Peristiwa di Besitang, di mana Mawaddah dan Pak Lurah harus berjuang menembus lautan 3 meter, adalah babak baru dalam drama bencana Sumatera, di mana ketabahan warga harus menambal lubang besar yang ditinggalkan oleh kegagalan kebijakan. (yud)

Ramalan Mengejutkan Nostradamus untuk Tahun 2026 Terungkap : ‘Perang Besar dan Kawanan Lebah’

EtIndonesia. Seorang astrolog abad ke-16 meramalkan gejolak politik dan bangkitnya kembali konflik antara Timur dan Barat pada 2026 — namun tidak semuanya muram; ada pula secercah harapan yang mungkin dinantikan di tahun yang baru.

Michel de Nostredame, atau lebih dikenal sebagai Nostradamus, disebut-sebut telah melihat sejumlah peristiwa besar yang mengguncang dunia, termasuk tragedi 9/11 dan kematian Putri Diana, dalam buku Les Propheties yang diterbitkan pada 1555.

Karyanya — berisi 942 ramalan dalam bentuk puisi — ditulis dengan campuran frasa Latin yang samar dan bahasa Prancis kuno, sehingga sulit ditafsirkan.

Meski banyak ramalannya terdengar kabur, para pengikutnya menafsirkan kuatrain-kuatrain sang filsuf Prancis itu sebagai nubuat mengenai pengeboman atom Hiroshima dan Nagasaki serta, lebih baru, penyebaran Covid-19.

Dikutip dari Dailymail, untuk ramalannya yang berikutnya, Nostradamus tidak menyebutkan tahun secara spesifik. Namun para penganutnya percaya bahwa kuatrain ke-26 dalam teksnya berkaitan dengan tahun 2026.

Salah satu bagian bertanda I:26 berbunyi: “Kawanan lebah besar akan bangkit… di malam hari penyergapan…”

Namun alih-alih membayangkan serbuan lebah sungguhan, banyak yang meyakini bahwa lebah tersebut merupakan simbol kekuasaan — sebuah metafora bagi para pemimpin dunia.

Ini bisa berarti tokoh-tokoh kuat seperti Donald Trump atau Vladimir Putin akan meraih kemenangan pada tahun mendatang — misalnya melalui kesepakatan Trump terkait Gaza atau potensi kemenangan Rusia atas Ukraina.

 Ada pula kemungkinan munculnya aliansi baru yang mengambil keputusan politik mengejutkan.

Kuatrain lain yang dikaitkan dengan angka 26 ditulis dalam bahasa Prancis standar dan jika diterjemahkan berbunyi: “Karena kemurahan yang ditunjukkan kota… Ticino akan meluap dengan darah…”

Ticino adalah wilayah paling selatan di Swiss, dikenal dengan hutan, danau, dan gletsernya.
Makna geografis spesifik ini tidak sepenuhnya jelas, tetapi sebagian pihak menilai Nostradamus tengah menyinggung potensi konflik baru di Eropa—kemungkinan antara dua negara bertetangga, karena Ticino berbatasan dengan Italia utara.

Sayangnya, ada lagi prediksi tentang perang dan kemungkinan bentrokan antara Timur dan Barat.

Penafsiran serupa juga ditujukan pada kuatrain berikut: “Tujuh bulan perang besar, orang-orang mati karena kejahatan / Rouen, Evreux sang Raja takkan gagal.”
Banyak yang melihatnya sebagai tanda munculnya perang lain, dipimpin oleh dua pemimpin keras kepala yang merasa tidak boleh kalah.

Apakah ini berkaitan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang masih mencari dukungan untuk mengusir Rusia dari negaranya, atau Donald Trump yang kerap dijuluki “Raja Donald”? Waktu yang akan menjawab.

Ramalan lain berbunyi: “Saat Mars menapaki jalurnya di antara bintang-bintang, darah manusia akan memercikkan tempat suci. Tiga api bangkit dari arah timur, sementara Barat kehilangan cahaya dalam keheningan.”
Karena Mars adalah dewa perang dalam mitologi Romawi, banyak yang menafsirkan bahwa tahun 2026 akan kembali dipenuhi konflik dan penderitaan.

Nostradamus juga terkesan mengisyaratkan adanya ketegangan baru antara Eropa Barat dan kemungkinan Asia, meski ia tidak menyebutkan wujudnya secara jelas.
Pertarungan ini bisa berbentuk persaingan ekonomi, mengingat Eropa masih berjuang keluar dari kelesuan ekonomi — tetapi ada pula yang menilai bahwa ini adalah ramalan tentang kebangkitan kecerdasan buatan (AI).

Dengan Tiongkok dan Jepang yang terus memacu kemajuan teknologi AI, kekhawatiran bahwa robot akan menggantikan pekerjaan manusia makin besar — sesuatu yang mungkin berkaitan dengan gambaran “Barat kehilangan cahayanya dalam keheningan.”

Namun tak semua ramalan Nostradamus muram; ia justru menutup prediksinya untuk 2026 dengan nada optimistis.
“Bayangan akan runtuh, tetapi manusia cahaya akan bangkit,” tulisnya. “Dan bintang-bintang akan menuntun mereka yang menoleh ke dalam dirinya.”

Setelah krisis perang dan kobaran api, Nostradamus menggambarkan masa kelahiran kembali — kemungkinan hadirnya pemimpin baru atau cara pandang baru tentang dunia.

Apakah ini berarti perubahan tatanan dunia? Atau pesan agar manusia menjauhi ketergantungan pada teknologi dan kembali memperkuat hubungan antarsesama?

Hanya waktu yang memberi jawabannya.

Wanita di Tiongkok Menikahi Pria yang Menyelamatkannya dari Reruntuhan Gempa

EtIndonesia. Seorang wanita di Tiongkok telah menikahi pria yang menyelamatkannya dari reruntuhan gempa ketika ia baru berusia 11 tahun, menurut SCMP. Reuni dan kisah cinta pasangan ini disorot dalam Upacara Pernikahan Kolektif Gaya Han Tahunan ke-5 yang diadakan di Changsha, Provinsi Hunan, pada 29 November, di mana 37 pasangan menikah.

Pengantin wanita, Liu Ximei, dan suaminya, Liang Zhibin, memiliki ikatan yang telah terjalin lebih dari 15 tahun. 

Pada tahun 2008, saat gempa bumi Wenchuan yang dahsyat, Liang yang berusia 22 tahun dikerahkan untuk operasi penyelamatan. Dia menyelamatkan Liu, yang saat itu berusia 10 tahun, yang terjebak di bawah jeruji besi dan reruntuhan di lantai dua sebuah bangunan yang runtuh. Liang dan timnya menghabiskan empat jam menggali sebelum menariknya keluar dan membawanya ke rumah sakit.

Menurut SCMP, setelah pulih, Liu kembali ke Zhuzhou, Hunan, bersama keluarganya. Selama bertahun-tahun, ingatannya tentang penyelamatnya memudar, hanya menyisakan bayangan samar di benaknya.

Titik balik terjadi pada tahun 2020, ketika Liu, yang saat itu berusia 22 tahun, melihat Liang di sebuah restoran di Changsha setelah ibunya mengenalinya.

Liu mendekatinya dan mengonfirmasi identitasnya, menandai dimulainya kembali hubungan mereka. Dia kemudian menambahkannya di media sosial dan berinisiatif untuk memulai percakapan. Seiring waktu, Liu menyadari bahwa perasaannya tulus dan tidak didasari rasa terima kasih. Dia akhirnya menyatakan cintanya.

Liang, tersentuh oleh ketulusan dan optimisme Liu, juga mengembangkan perasaan yang mendalam terhadapnya. Dia menggambarkan Liu sebagai “sinar cahaya” dalam hidupnya. Kisah pasangan ini telah menarik perhatian luas di dunia maya, dengan banyak pengguna media sosial menyebutnya sebagai kisah cinta yang digerakkan oleh takdir dan “dongeng kehidupan nyata.” (yn)

[Berita Terlarang] Kebakaran Hong Kong: Tuntutan Pertanggungjawaban Menguat, Partai Komunis Tiongkok Mengancam Media Asing

Kebakaran besar di kompleks Wang Fuk Court (Hong Fook Yuen) di Hong Kong telah memicu meluasnya kemarahan publik. Seruan masyarakat Hong Kong untuk meminta pertanggungjawaban terus bermunculan. Namun demikian, pemerintah Hong Kong dan Beijing justru menerapkan cara-cara “pemeliharaan stabilitas” ala daratan Tiongkok: menangkap warga yang berani bersuara, mengontrol ketat opini publik, bahkan secara langka memanggil pimpinan media asing untuk diintimidasi.

Etindonesia. Sejak kebakaran besar terjadi pada 26 November 2025 di Wang Fuk Court, masyarakat Hong Kong diliputi kesedihan dan kemarahan. Kecurigaan terhadap adanya kejanggalan di balik kebakaran serta tuntutan agar pemerintah Hong Kong dan pejabat terkait dimintai pertanggungjawaban terus menguat.

Situasi ini membuat Partai Komunis Tiongkok sangat panik. Kantor Keamanan Nasional Beijing di Hong Kong, pejabat pemerintah Hong Kong, serta media pro-Beijing silih berganti mengeluarkan peringatan bernada ancaman, bahkan menggunakan slogan ala “diplomasi serigala”: “Hukum itu luas dan tak pernah meleset; siapa pun yang anti-Tiongkok dan mengacaukan Hong Kong, meski sejauh apa pun akan diburu.”

“Dalam insiden Wang Fuk Court ini, bahkan muncul pernyataan seperti ‘meski jauh akan tetap diburu’, yang jelas-jelas merupakan intimidasi. Cara ini menunjukkan bahwa Beijing sangat takut insiden ini memicu aksi perlawanan publik,” ujar juru bicara PEN Tiongkok Independen, Sheng Xue. 

Pada 6 Desember, Kantor Keamanan Nasional Beijing di Hong Kong secara tidak lazim memanggil pimpinan dan wartawan media asing yang berbasis di Hong Kong. Mereka diperingatkan terkait peliputan kebakaran Wang Fuk Court dan pemilihan Dewan Legislatif pada  7 Desember, dengan tuduhan agar tidak menyebarkan apa yang disebut sebagai “informasi palsu”, serta diingatkan untuk “berhati-hati dengan nasib sendiri”.

“Sekarang bahkan laporan berita biasa pun tidak diizinkan. Ini benar-benar terbalik. Saya tidak melihat media asing menyebarkan kebohongan. Yang saya lihat hanyalah mereka melaporkan fakta sebenarnya, agar dunia luar tahu apa yang sedang terjadi di Hong Kong. Tidak ada yang dilebih-lebihkan, hanya menyampaikan kebenaran,” ujar pengusaha Hong Kong yang kini bermukim di Amerika Serikat, Zhu Aoling.

Hong Kong pernah menjadi salah satu wilayah dengan kebebasan pers tertinggi di Asia. Namun sejak PKT memaksakan Undang-Undang Keamanan Nasional Hong Kong, lingkungan media di Hong Kong mengalami perubahan mendasar, dan suara-suara berbeda hampir sepenuhnya lenyap. Dalam laporan Indeks Kebebasan Pers yang dirilis Reporters Without Borders (RSF) tahun ini, peringkat Hong Kong merosot ke posisi ke-140.

Pada 6 Desember, The Washington Post melaporkan bahwa setelah kebakaran, pemerintah Hong Kong terus menekan tuntutan publik untuk pertanggungjawaban. Mantan anggota dewan distrik Cheung Kam-hung ditangkap hampir satu hari karena unggahan Facebook dan dilarang meninggalkan wilayah. Seorang mahasiswa, Guan Jingfeng, ditangkap karena memprakarsai petisi yang menuntut pemerintah menanggapi “empat tuntutan”. Polisi juga memanggil para pemimpin masyarakat sipil, memaksa pembatalan konferensi pers warga, dan tindakan lainnya.

Kemungkinan besar laporan pengungkapan fakta semacam inilah yang membuat PKT marah dan panik. Pada 6 Desember, polisi Hong Kong juga menangkap seorang pria berusia 71 tahun karena menuduh bahwa Beijing dan pemerintah Hong Kong adalah dalang yang “mengacaukan Hong Kong dengan bencana”.

Zhu Aoling menambahkan: “Sekarang bahkan berbicara di internet tentang fakta pun sudah tidak berani. Ini sangat menakutkan, Undang-Undang Keamanan Nasional ini. Mereka tidak punya batas bawah. Mereka melarang semua suara yang tidak ingin mereka dengar. Bahkan jika mereka jelas-jelas salah, mereka tetap tidak mengakuinya. Inilah yang paling menakutkan—mereka sendiri salah, tapi justru melarang orang lain untuk berbicara.”

Kebakaran mematikan tingkat 5 di Wang Fuk Court hingga kini telah menewaskan sedikitnya 159 orang. Di balik tragedi ini, berbagai masalah terungkap satu per satu, termasuk pelanggaran oleh kontraktor, penggunaan bahan bangunan palsu dan bermutu rendah dari daratan Tiongkok, kelalaian pemerintah Hong Kong, serta kolusi antara pejabat dan pelaku usaha.

Sheng Xue menyatakan: “Masalah-masalah ini tidak hanya menunjuk pada kegagalan tata kelola pemerintah Hong Kong, tetapi juga berkaitan dengan dampak bencana langsung dari model pengelolaan ala daratan yang dipaksakan Beijing di Hong Kong. Pada akhirnya, penelusuran tanggung jawab atas bencana pasti akan mengarah pada persoalan sistem, dan karena itulah PKT berusaha memutus rantai logika tersebut.”

Sheng Xue menegaskan bahwa alih-alih menanggapi secara langsung pertanyaan dan tuntutan masyarakat, Beijing dan pemerintah Hong Kong justru menggunakan metode klasik pemeliharaan stabilitas ala daratan, termasuk pemblokiran informasi, pengendalian media, penindasan aktivitas berkabung dan bantuan sipil, serta kembali mengangkat narasi tentang “kekuatan musuh asing” untuk mengaburkan fakta.

Ia menambahkan: “Selama ada orang yang berdiskusi, selama ada media yang meliput, mereka akan dianggap ‘mengganggu stabilitas sosial’, ‘melukai perasaan rakyat’, dan ‘mengganggu agenda politik’. Terlebih lagi sekarang ada pemilihan Dewan Legislatif Hong Kong pada t 7 Desember 2025. Tuduhan PKT ini justru menciptakan konfrontasi dan terus memicu ketidakpuasan.”

Seorang reporter Sky News dari Inggris yang berjaga di lokasi kebakaran selama beberapa hari melaporkan bahwa sebelumnya ada banyak relawan di alun-alun sekitar lokasi untuk membantu para korban, serta tumpukan besar bantuan yang disumbangkan masyarakat. Namun secara tiba-tiba polisi memerintahkan para relawan untuk pergi. Kini bantuan tersebut kemudian tidak diketahui keberadaannya. (Hui)

Sepuluh Ribu dan Seratus Ribu

EtIndonesia. Musim panas yang terik. Di bawah sengatan matahari, sekelompok pekerja sedang sibuk memperbaiki jalan raya yang rusak. Asap panas mengepul dari permukaan aspal. Di tengah kesibukan itu, sebuah mobil BMW model terbaru berhenti di pinggir jalan. Jendela mobil turun, lalu terdengar suara hangat memanggil: “Hey, Paul, itu kamu?”

Salah satu pekerja menoleh dan dengan senyum lebar menjawab: “Iya, David! Senang sekali ketemu kamu di sini!”

David turun dari mobil ber-AC itu. Dia dan Paul berbincang dengan riang. Mereka tertawa, bertukar cerita, dan lama kemudian barulah saling berjabat tangan sebelum berpisah.

Begitu BMW itu melaju menjauh, para pekerja langsung mengelilingi Paul dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Mereka sulit percaya bahwa Paul ternyata mengenal David, presiden direktur perusahaan itu.

Paul mengangkat bahunya dan berkata: “Dua puluh tahun lalu, aku dan David bekerja di jalan yang sama, seperti kalian sekarang.”

Seseorang bercanda: “Kalau begitu kenapa dua puluh tahun kemudian kamu masih bekerja di bawah terik matahari, sementara David sudah jadi bos besar?”

Paul memandang jauh ke arah jalan raya, lalu berkata perlahan: “Dua puluh tahun lalu, aku bekerja demi upah 2 dolar per jam… sedangkan David, saat itu sudah bekerja demi seluruh proyek jalan raya ini.”

Mendengar itu, semua orang terdiam.

Ahli sukses Amerika, Anthony Robbins, pernah berkata: “Jika kamu seorang tenaga penjual, mana yang lebih mudah: menghasilkan 10.000 dolar, atau 100.000 dolar?

 Jawabannya: 100.000 dolar lebih mudah!  Kenapa?

Karena bila targetmu hanya 10.000 dolar, itu cuma untuk bertahan hidup. Kalau alasan kerjamu hanya sekadar mencari nafkah, apakah kamu akan merasa bersemangat? Apakah kamu akan bekerja dengan penuh gairah? Jawabannya jelas: tidak.”

Menghasilkan seratus ribu lebih mudah daripada sepuluh ribu — itulah kekuatan sebuah mimpi. Itulah nilai dari tujuan yang besar.(jhn/yn)

Semangka Busuk dan Hadiah Nobel

EtIndonesia. Pada tahun 1928, ahli bakteriologi Inggris, Alexander Fleming, menemukan bahwa jamur Penicillium dapat mengeluarkan zat yang mampu membunuh bakteri. Dia menamai zat itu penisilin. Namun Fleming belum mampu memurnikannya untuk penggunaan klinis. Pada 1929, dia mempublikasikan hasil penelitiannya — sayangnya, makalah tersebut hampir tidak mendapat perhatian sama sekali dari kalangan ilmuwan.

Sepuluh tahun kemudian, seorang ahli kimia Jerman bernama Ernst Chain menemukan kembali makalah Fleming di sebuah tumpukan buku lama. Dia pun mulai melakukan percobaan pemurnian. Pada musim dingin tahun 1940, Chain berhasil menghasilkan sedikit penisilin murni. Ini adalah terobosan besar, tetapi masih jauh dari tahap aplikasi medis.

Tahun 1941, tongkat estafet penelitian itu berpindah ke tangan ahli patologi Australia, Howard Florey. Dengan bantuan militer Amerika Serikat, Florey berhasil memisahkan berbagai strain jamur dari sampel tanah yang dibawa pulang para pilot dari berbagai bandara dunia. Temuan itu membuat produksi penisilin melonjak dari 2 unit menjadi 40 unit per sentimeter kubik.

Meskipun hasil itu masih belum cukup untuk produksi massal, Florey tetap merasa sangat gembira. Suatu hari sepulang kerja, dia berjalan-jalan di depan laboratorium dan melihat sebuah toko buah yang memajang banyak semangka. 

“Penelitian sedang berjalan baik belakangan ini,” pikirnya, “bagus juga kalau membelikan beberapa semangka untuk teman-teman di lab.” Dia pun masuk ke toko.

Semangka di toko itu tampak bagus-bagus. Florey menepuk-nepuk beberapa buah dengan jarinya, memilih beberapa, lalu membawanya ke kasir. Ketika hendak beranjak pergi, matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah semangka besar di atas meja — kulitnya robek di beberapa bagian, bahkan sudah ditumbuhi lapisan jamur hijau.

Florey menatap semangka busuk itu cukup lama. Dia mengerutkan kening, berpikir sejenak, lalu berkata kepada pemilik toko: “Saya mau yang ini.”

Pemilik toko terkejut: “Tuan, itu semangka yang baru saja kami pilih untuk dibuang. Dimakan bisa sakit perut!”

“Tapi saya memang ingin yang itu.”

Florey pun meletakkan semangka-semakang bagus yang sudah dia pilih dan justru mengangkat semangka busuk itu keluar toko.

Pemilik toko mengejarnya sambil berteriak: “Tuan! Ambil juga semangka bagus yang tadi! Yang busuk ini saya kasih gratis!”

Florey menoleh dan menjawab sambil mengatur pegangan di lengannya: “Saya tidak bisa membawa begitu banyak. Lagipula kalau semangka ini sampai pecah di jalan, bagaimana?”

Pemilik toko tampak kebingungan.

“Kalau begitu… saya kembalikan saja uang semangka yang tadi!” ujarnya sambil berlari kecil. Namun Florey sudah berjalan semakin jauh, meninggalkan si pemilik toko yang kebingungan melihat tingkah pembeli aneh itu.

Setibanya di laboratorium, Florey segera mengikis sedikit jamur hijau dari semangka itu dan mulai membiakkan kultur baru. Tidak lama kemudian hasilnya keluar — dan membuat Florey nyaris melompat kegirangan. Kandungan penisilin yang dihasilkan dari jamur semangka busuk itu melonjak dari 40 unit menjadi 200 unit per sentimeter kubik!

Pada Oktober 1943, Florey menandatangani kontrak pertama produksi penisilin dengan militer Amerika Serikat. Penisilin, yang lahir tepat pada masa kritis Perang Dunia II, dengan cepat mengubah jalannya perang bagi pihak Sekutu. Setelah perang usai, penisilin diadopsi secara luas dan menyelamatkan puluhan juta nyawa.

Atas pencapaian luar biasa ini, Florey, Fleming, dan Chain bersama-sama dianugerahi Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran 1945.

Ketika kesempatan tampak seperti “semangka busuk” yang dibuang orang lain, namun kamu mampu melihat nilainya dan memperlakukannya seperti harta — maka selamat, itu bisa menjadi langkah menuju keberhasilanmu. (jhn/yn)

Dokter Ternama Ungkap Rahasia Panjang Umur Ayahnya yang Hidup Hingga 96 Tahun : Setiap Hari Hanya Lakukan Olahraga Ini

Berjalan kaki adalah olahraga aerobik yang paling sederhana dan paling umum, serta memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Namun, tak sedikit orang beranggapan bahwa berjalan kaki kurang efektif. Seseorang juga harus melakukan latihan beban agar benar-benar bermanfaat. Menanggapi hal ini, pakar nutrisi dan kedokteran fungsional asal Taiwan, Liu Boren, membagikan kisah ayahnya yang wafat pada usia 96 tahun. Sepanjang hidupnya, sang ayah tidak pernah melakukan latihan beban, tetapi setiap hari selalu berjalan kaki—sebuah ritme paling sederhana, sekaligus yang paling mendukung umur panjang

EtIndonesia. Pada 1 Desember 2025, pakar nutrisi dan kedokteran fungsional asal Taiwan Liu Boren menulis di Facebook bahwa dalam praktik kliniknya minggu lalu, ada pasien yang bertanya kepadanya: ia berjalan kaki 6.000 langkah setiap hari, tetapi kini semua orang melakukan latihan beban. Apakah ia juga harus mengikutinya? Jika tidak, apakah itu berarti ia “kalah”?

Pertanyaan ini mengingatkannya pada kehidupan sang ayah: tidak ada gym, tidak ada barbel, tidak ada pelatih. Olahraga hariannya hanyalah berjalan kaki, dilakukan hari demi hari, perlahan tanpa tergesa-gesa, hingga mencapai usia 96 tahun. Sebagai seorang dokter, baru kemudian ia memahami bahwa langkah kaki harian itulah investasi kesehatan paling stabil yang diberikan ayahnya untuk dirinya sendiri.

Liu Boren menjelaskan bahwa berjalan kaki adalah “tombol pengaktif seluruh tubuh” yang paling tua dan paling praktis bagi manusia. Saat berjalan, yang aktif bukan hanya kaki, tetapi juga sistem saraf yang mulai berkoordinasi, elastisitas pembuluh darah terbangun, bagian otak seperti korteks prefrontal dan hipokampus terstimulasi, sirkulasi darah membaik, penanda peradangan menurun, hormon stres perlahan turun, dan emosi pun menjadi lebih tenang.

Menurut Liu Boren, mekanisme inilah yang menjadi kekuatan dasar yang memungkinkan ayahnya menjalani hidup hingga 96 tahun dengan stabil. “Kita sering mengira bahwa kesehatan harus dicapai dengan cara yang keras dan berintensitas tinggi, padahal sebenarnya berjalan kaki secara teratur adalah ritme paling sederhana, sekaligus paling mendukung umur panjang.”

Lalu, apakah latihan beban tetap diperlukan? Liu Boren mengatakan, jika memiliki waktu dan kemampuan, tentu saja itu baik. Latihan kekuatan dapat mempertahankan massa otot, melindungi sendi, dan menjaga metabolisme, yang sangat penting untuk masa depan.

Namun, ia sering menasehati pasiennya: “Jika tidak punya waktu atau merasa terlalu tertekan, tidak perlu memaksakan diri. Selama bisa berjalan kaki secara konsisten, itu sudah merupakan awal dan fondasi yang sangat baik. Tidak semua gaya hidup bisa ‘memasukkan’ latihan beban, tetapi hampir setiap orang bisa ‘memasukkan’ berjalan kaki.”

Liu Boren menekankan bahwa mengejar kesehatan bukanlah mengikuti tren, melainkan mampu berjalan jauh dan hidup dengan baik. Sepuluh tahun terakhir kehidupan ayahnya mengalir seperti sungai kecil yang tenang. Dampak berjalan kaki bagi sang ayah adalah kestabilan, sirkulasi yang baik, kelancaran energi dan darah, serta daya tahan.

Ia mengingatkan di akhir: bila bisa latihan beban, itu nilai tambah; bila bisa berjalan kaki, itu pondasi; dan bila bisa melakukannya secara konsisten, itulah resep umur panjang yang paling kuat. Berjalan kaki adalah ritme dialog antara tubuh dan kehidupan.

Sebenarnya, berjalan kaki merupakan olahraga berintensitas rendah dan berdampak kecil, cocok untuk semua kelompok usia—terutama lansia, orang dengan berat badan berlebih, penderita penyakit kronis, serta pemula dalam olahraga.

Ribuan tahun lalu, berjalan kaki sudah disebut oleh Hippokrates, bapak kedokteran, sebagai “obat terbaik bagi manusia”. Dalam era modern, banyak penelitian telah membuktikan bahwa program berjalan kaki secara teratur dapat meningkatkan kesehatan seluruh bagian tubuh.

Dokter keluarga asal Taiwan, An Xinyu, pernah mengutip sebuah survei yang menemukan bahwa penduduk di lima wilayah paling panjang umur di dunia semuanya memiliki kebiasaan “banyak berjalan kaki”. Ia juga menyebutkan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terus menekankan pentingnya menghindari duduk terlalu lama, karena hal ini telah terbukti berkaitan dengan berbagai penyakit kronis dan sindrom metabolik. WHO menganjurkan untuk bangun dan bergerak setiap 30 menit, yang secara signifikan dapat meningkatkan kesehatan.

Banyak orang menjadikan lari sebagai olahraga kebugaran jangka panjang. Namun sebenarnya, lari dan berjalan kaki adalah dua pola gerak yang sama sekali berbeda. Lari melibatkan gerakan melompat, di mana kedua kaki berada di udara secara bersamaan, sedangkan berjalan kaki memiliki pembagian beban yang lebih merata. Beban tekanan antara keduanya bisa berbeda lebih dari tiga kali lipat. Jika Anda khawatir lari akan memberi beban berlebihan pada sendi, maka berjalan kaki adalah pilihan terbaik.

Beberapa tahun lalu, jurnal internasional Arteriosclerosis, Thrombosis, and Vascular Biology menerbitkan studi perbandingan antara berjalan kaki dan lari. Hasilnya menunjukkan bahwa ketika berjalan kaki dan lari menghabiskan energi yang sama, berjalan kaki lebih efektif daripada lari dalam menurunkan risiko tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Korban Tewas Akibat Banjir di Sri Lanka Menjadi 618 Jiwa, Peringatan Tanah Longsor Masih Berlaku Hingga 2 Juta Jiwa Terdampak

EtIndonesia. Sri Lanka dilanda hujan lebat dan banjir besar akibat Siklon Ditwah. Jumlah korban tewas telah meningkat menjadi 618 orang, sementara otoritas setempat kembali mengeluarkan peringatan longsor pada Minggu (7/12/2025).

Menurut laporan AFP, Siklon Ditwah pada pekan lalu memicu banjir dan longsor yang disebut sebagai bencana alam paling parah di wilayah tersebut sejak abad ini. Bencana ini telah memengaruhi lebih dari 2 juta orang, setara dengan hampir 10% dari total penduduk Sri Lanka.

Pusat Manajemen Bencana Nasional Sri Lanka (The Disaster Management Centre/DMC) menyatakan bahwa hujan monsun yang terus berlanjut membuat lereng-lereng pegunungan menjadi semakin tidak stabil. Wilayah yang terdampak mencakup daerah pegunungan bagian tengah serta kawasan barat laut negara tersebut.

Pada Minggu (7/12), pihak berwenang mengerahkan helikopter dan pesawat untuk mengirimkan bantuan ke komunitas di wilayah tengah yang terisolasi akibat longsor.

Angkatan Udara Sri Lanka menyatakan bahwa hari ini mereka telah menerima sebuah pesawat dari Myanmar yang membawa bantuan kemanusiaan. Bantuan tersebut merupakan gelombang terbaru dari bantuan internasional.

Pemerintah Sri Lanka mengonfirmasi bahwa 618 orang telah meninggal dunia, dengan 464 korban berasal dari wilayah tengah penghasil teh, sementara 209 orang masih dinyatakan hilang.

Pusat Manajemen Bencana juga menyampaikan bahwa seiring surutnya banjir di berbagai wilayah pulau, jumlah orang yang tinggal di tempat pengungsian milik pemerintah pada Minggu (7 Desember) telah berkurang dari puncaknya 225.000 orang menjadi sekitar 100.000 orang. Lebih dari 75.000 rumah mengalami kerusakan, dan hampir 5.000 rumah di antaranya hancur total.

Pada 5 Desember, pemerintah mengumumkan rencana kompensasi besar-besaran untuk rekonstruksi rumah dan pemulihan usaha-usaha yang hancur akibat bencana ini. Bencana tersebut terjadi saat Sri Lanka masih berupaya bangkit dari krisis ekonomi parah yang melanda negara itu pada tahun 2022.

Seorang pejabat senior sebelumnya memperkirakan bahwa biaya pemulihan pasca bencana dapat mencapai 7 miliar dolar AS. Dana Moneter Internasional (IMF) pada 5 Desember menyatakan sedang mempertimbangkan permintaan tambahan Sri Lanka sebesar 200 juta dolar AS untuk bantuan rekonstruksi. (Hui)

Kapal Induk Tiongkok “Fujian” Mulai Beroperasi, Pakar Jepang Temukan Cacat Desain

EtIndonesia. Baru-baru ini, Kementerian Pertahanan Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengumumkan bahwa kapal induk pertama yang menggunakan sistem ketapel elektromagnetik, “Fujian”, telah resmi mulai beroperasi. Namun, pakar militer Jepang Toshiki Kaji menyatakan bahwa kapal induk tersebut memiliki cacat dalam desainnya.

“Fujian adalah kapal induk ketiga milik Tiongkok. Seberapa besar kemampuan tempurnya saat ini menjadi fokus perhatian kalangan militer dunia. Secara tampilan terlihat mengesankan, tetapi memiliki kelemahan mendasar, karena menggunakan tenaga konvensional, bukan tenaga nuklir,” ujar pakar militer Jepang, Toshiki Kaji. 

Kaji menegaskan, tanpa penggerak nuklir, daya jelajah serta kemampuan operasi jarak jauh kapal induk tersebut harus dipertanyakan.

Kaji menjelaskan: “Saat ini, satu-satunya kapal induk di dunia yang menggunakan sistem ketapel elektromagnetik adalah kapal induk USS Ford milik Amerika Serikat, yang digerakkan oleh tenaga nuklir. Hanya tenaga nuklir yang mampu menyediakan pasokan listrik sangat besar yang dibutuhkan sistem ketapel elektromagnetik. Karena itu, banyak pihak mempertanyakan bagaimana tenaga konvensional dapat menyediakan daya listrik sebesar itu.”

pakar militer Jepang, Toshiki Kaji (tangkapan layar)

PKT secara resmi mengumumkan bahwa kapal induk Fujian menggunakan sistem pasokan arus searah (DC) untuk memberi daya pada ketapel elektromagnetik. Namun Kaji menilai, meskipun demikian, jumlah listrik yang dapat disediakan tetap tidak mencukupi.

Kaji menambahkan: “Bahkan jika arus bolak-balik diubah menjadi arus searah, kapasitas pasokan listrik maksimal hanya bisa meningkat sekitar 1,5 hingga 2 kali lipat. Sementara tenaga nuklir mampu menghasilkan daya lebih dari 10 kali lipat tenaga konvensional. Meski daya DC pada ketapel elektromagnetik ditingkatkan dua kali lipat, efisiensinya hanya sekitar seperlima dari kapal induk USS Ford milik Amerika Serikat. Terus terang, Fujian adalah produk dengan desain yang gagal. Ini merupakan pandangan utama dalam penilaian kekuatan militer saat ini.”

Kapal induk bertenaga nuklir memiliki biaya sangat mahal. Sebagai contoh, kapal induk kelas Ford terbaru milik Amerika Serikat memerlukan biaya pembangunan sekitar 13 miliar dolar AS per unit. Kaji menganalisis bahwa PKT tidak memiliki kemampuan finansial sebesar itu.

Ia menyimpulkan: “Alasan Fujian menggunakan sistem tenaga konvensional adalah karena tenaga nuklir membutuhkan biaya sangat besar. Selain itu, tidak ada alasan lain yang masuk akal. Ketapel elektromagnetik tanpa tenaga nuklir pada dasarnya tidak akan berfungsi optimal. Para pakar Tiongkok seharusnya sangat memahami hal ini. Ini menunjukkan bahwa kemerosotan ekonomi Tiongkok sudah tidak mampu menopang pembangunan kapal induk bertenaga nuklir. Secara luas diyakini bahwa kebijakan kapal induk Tiongkok, bahkan seluruh strategi maritimnya, sedang mengalami hambatan serius.”

Kaji menekankan di akhir bahwa meskipun PKT telah meluncurkan kapal induk ketiganya, dari segi total bobot (displacement) dan kinerja, kemampuan kapal induk Tiongkok masih tertinggal jauh. (Hui)

Laporan wawancara dari Tokyo, Biro Jepang Televisi New Tang Dynasty

Video Wabah Influenza H1N1 Meledak di Daratan Tiongkok: Puncak Desember Picu Lonjakan Kematian Anak dan  Publik Khawatir

Wabah influenza A di Tiongkok memasuki masa puncak pada  Desember. Banyak rumah sakit di berbagai wilayah penuh sesak, sejumlah anak yang terinfeksi meninggal dunia sehingga menimbulkan kekhawatiran di masyarakat

EtIndonesia. Seorang warganet Tiongkok bernama pengguna akun “一朵元” mengunggah sebuah video pada 6 Desember dan mengatakan: “Pagi tadi pergi ke rumah sakit dan melihat seorang anak berusia 8 tahun terkena flu A. Demamnya tidak turun-turun, lalu mengalami komplikasi miokarditis, akhirnya meninggal, tidak bisa diselamatkan. Mendengar ibunya menangis histeris sampai menyayat hati. Ini harus benar-benar diperhatikan, demam tinggi tidak boleh ditunda-tunda.”

Dalam video tersebut terlihat di lorong rumah sakit seorang perempuan mengalami gangguan emosi berat, tubuhnya nyaris tidak sanggup berdiri. Ia terus menangis sambil memanggil nama putrinya, sementara beberapa orang di sekitarnya menopangnya. Pemandangan ini membuat hati siapa pun terasa perih.

Seorang warganet menulis di kolom komentar: “Flu A yang terkutuk ini kenapa tidak ada cara pengobatannya? Kenapa virus ini tidak bisa dikendalikan?”

Warganet lain mengungkapkan bahwa gelombang flu A kali ini sangat ganas. Dokter menyebut sudah ada beberapa anak yang meninggal dunia : “Semua orang harus benar-benar waspada terhadap flu A. Jika demam tidak turun dalam dua hari, segera rawat inap dan infus. Saya dengar dari dokter, kali ini sudah ada beberapa anak yang meninggal. Jangan sekali-kali menunda di rumah, karena bisa berkembang menjadi kondisi berat.”

Pihak resmi PKT menyatakan bahwa flu A telah merebak di berbagai daerah di Tiongkok. Banyak rumah sakit penuh sesak, sudah ada anak-anak yang meninggal setelah terinfeksi, dan juga muncul banyak pasien dengan kondisi parah.

Pada 7 Desember, seorang warganet dari Zhejiang dengan nama akun “蜜遇” mengunggah foto sambil menulis: “Sangat mengerikan, hanya karena flu A, poliklinik anak sudah penuh selama 24 jam.”

7 Desember, poliklinik anak di sebuah rumah sakit di Zhejiang penuh selama 24 jam

(Tangkapan layar dari internet)

Menurut laporan Dahe Daily, Wakil Kepala Dokter Unit Perawatan Intensif Anak (PICU) Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Zhengzhou, Huo Yufeng, mengatakan bahwa dalam kasus pasien kritis yang baru-baru ini dirawat, seorang anak perempuan berusia 6 tahun yang baru demam selama sehari tiba-tiba mengalami kejang. Saat diperiksa, sudah ditemukan kerusakan otak. Berkat penanganan intensif, kondisi tersebut berhasil dicegah agar tidak berkembang menjadi ensefalopati nekrotik akut.

Huo Yufeng menjelaskan: “Ensefalopati nekrotik akut berkembang sangat cepat. Biasanya terjadi 1–3 hari setelah terinfeksi flu A. Dalam waktu singkat, dapat muncul nekrosis simetris pada otak, dengan tingkat kecacatan yang sangat tinggi dan prognosis yang buruk. Dalam kasus berat, kondisi ini mengancam nyawa.”

Kasus lainnya adalah seorang anak laki-laki berusia 13 tahun (nama samaran Gao Ming) yang tiba-tiba mengalami demam tinggi dan sesak napas. Saat dibawa ke rumah sakit, hasil pencitraan paru-parunya sudah menunjukkan area putih luas atau yang dikenal sebagai “paru-paru putih”. Kondisinya sangat kritis. Setelah dilakukan perawatan dengan ECMO, barulah ia berhasil diselamatkan dari kondisi berbahaya.

Saat ini, penyebaran flu A di Tiongkok berlangsung sangat cepat. Pihak resmi PKT menyatakan bahwa strain yang dominan adalah influenza A tipe H3N2, yang memiliki daya patogen lebih kuat, lebih mudah menular, dan tidak memiliki obat khusus yang efektif.

Kepala Dokter Departemen Penyakit Menular Terpadu Rumah Sakit You’an Beijing yang berafiliasi dengan Universitas Kedokteran Beijing, Li Tongzeng, sebelumnya menyatakan bahwa bulan Desember merupakan puncak infeksi. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Tiongkok melaporkan bahwa tingkat positif influenza secara nasional telah mendekati 45%.

Video dan unggahan yang beredar di media sosial Tiongkok menunjukkan bahwa banyak sekolah mengalami infeksi skala besar. Banyak kelas terpaksa menghentikan kegiatan belajar, bahkan sejumlah guru juga ikut terinfeksi.

(Tangkapan layar dari internet)

Dalam grup media sosial guru di sebuah sekolah, diumumkan jumlah siswa yang meminta izin tidak masuk sekolah setelah terinfeksi flu A.

(Tangkapan layar dari internet)
(Tangkapan layar dari internet)

Banyak warga mempertanyakan apakah yang disebut sebagai “flu A” sebenarnya adalah virus COVID-19, dan bahwa PKT mengganti istilah tersebut demi menjaga stabilitas sosial. (Hui)

Laporan gabungan oleh  Luo Tingting / Fan Ming

Kisah Inspiratif: Pesawat yang Menyimpang dari Jalurnya

EtIndonesia.  Dalam hidup, hampir tak ada hal yang berjalan 100% sesuai rencana. Sesekali cobalah melihat kembali “peta” yang ada di tanganmu, periksa apakah kamu masih bergerak ke arah yang benar, lalu lakukan penyesuaian yang diperlukan.

Dalam kehidupan nyata, kamu punya sebuah mimpi — gambaran tentang seperti apa dirimu sepuluh tahun mendatang. Dengan semangat penuh, kamu mulai bergerak mewujudkannya.

Namun beberapa bulan kemudian, hidup justru memotong jalanmu. Masalah bertubi-tubi muncul, kesulitan menghambat kemajuanmu. Tidak lama, kamu tersadar bahwa hidup ternyata jauh berbeda dari mimpi yang kamu bayangkan.

Bayangkan hidupmu seperti sebuah pesawat yang terbang dari Sydney menuju Tokyo — perjalanan panjang di atas samudra. Meski begitu, setiap minggu ribuan orang naik ke pesawat dengan keyakinan bahwa mereka akan tiba di Tokyo.

Sekarang coba bayangkan:  Bagaimana jika seseorang memberi tahumu bahwa 95% waktu selama penerbangan, pesawat itu sebenarnya menyimpang dari jalur?

Dengan kata lain, tanpa kendali, pesawat hampir selalu melenceng dari rute sejak awal dia lepas landas.

Lalu apa yang membuat pesawat itu tetap bisa sampai tujuan?

Jawabannya ada pada sang pilot.

Pilotlah yang bertanggung jawab menjaga arah. Dia memiliki rencana penerbangan — menuju Tokyo. Dia tahu betul bahwa angin dan arus udara akan terus mendorong pesawat keluar dari jalurnya, sehingga dia memantau arah terbang secara berkala, melakukan penyesuaian kecil demi kecil… hingga akhirnya pesawat mendarat dengan tepat di tujuan.

Hidup pun serupa dengan pesawat yang terbang di atas samudra luas. Kita selalu berada di antara arus dan angin yang bisa menggeser langkah kita kapan saja. Dan memang benar: tak ada yang berjalan 100% sesuai perkiraan.

Karena itulah, kita harus belajar menjadi “pilot” dalam perjalanan menuju keberhasilan — belajar mengoreksi arah, menyesuaikan langkah, dan memastikan diri terus bergerak menuju tujuan akhir yang kita impikan.(jhn/yn)

Kunjungan Pertama Kanselir Jerman ke Israel : Memperbaiki Hubungan dan Membahas Perdamaian Gaza

Pada 7 Desember 2025, Kanselir Jerman  Friedrich Merz yang sedang melakukan kunjungan ke Yerusalem bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Kedua pihak membahas isu perdamaian di Gaza serta hubungan bilateral. Kunjungan Merz ini juga bertujuan memperbaiki retakan hubungan antara Jerman dan Israel yang muncul akibat konflik Gaza.

EtIndonesia. Kanselir Jerman Friedrich Merz tiba di Israel pada 6 Desember, menandai kunjungan pertamanya ke Israel sejak menjabat. Pada 7 Desember, ia mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Netanyahu, di mana keduanya membahas hubungan bilateral dan isu perdamaian Gaza.

“Saat ini, peluang untuk mencapai perdamaian (di Gaza) sudah ada di depan mata, dan kami berniat untuk memanfaatkannya. Saya akan membahas isu-isu ini ketika bertemu Presiden Trump pada akhir bulan ini,” ujar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. 

Netanyahu menyebutkan bahwa tahap pertama perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas hampir rampung. Setelah jenazah sandera terakhir berhasil dibawa pulang, tahap kedua akan dimulai. Tahap kedua akan jauh lebih sulit karena berkaitan dengan bagaimana mengakhiri kekuasaan Hamas di Gaza.

Netanyahu menekankan: “Saya pikir, ketika tahap kedua dilanjutkan, sangat penting untuk memastikan bahwa Hamas tidak hanya mematuhi perjanjian gencatan senjata, tetapi juga memenuhi komitmennya untuk melakukan pelucutan senjata dan mewujudkan demiliterisasi Gaza.”

Kanselir Jerman Merz menegaskan: “Ada satu hal yang pasti: Hamas tidak boleh memainkan peran apa pun di Gaza. Hamas sama sekali tidak boleh lagi menjadi ancaman bagi Israel.”

Sejumlah media Amerika Serikat baru-baru ini melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump berencana mengumumkan dimulainya tahap kedua proses perdamaian Gaza sebelum Natal, termasuk pembentukan struktur pemerintahan baru di bawah pengawasan sebuah “komisi perdamaian” yang dipimpin oleh Trump.

Israel dan Jerman sepakat bahwa Hamas tidak boleh terus menguasai Gaza. Namun, keduanya memiliki perbedaan pandangan terkait kemungkinan Israel mencaplok Tepi Barat.

Selama ini, Jerman dikenal sebagai salah satu pendukung paling kuat Israel. Namun, perang di Gaza sempat menimbulkan retakan dalam hubungan erat kedua negara. 

Merz sebelumnya beberapa kali mengkritik operasi militer besar-besaran Israel di Gaza dan pada Agustus tahun ini sempat menangguhkan ekspor senjata ke Israel. Pembatasan tersebut telah dicabut pada Desember ini.

Kunjungan Merz kali ini membantu mencairkan ketegangan antara kedua negara. Jerman kembali menegaskan dukungannya yang teguh terhadap Israel, sementara pihak Israel juga menyatakan bahwa Jerman merupakan mitra penting.

Pada hari yang sama, saat mengunjungi Museum Peringatan Holocaust, Merz mengatakan: “Jerman harus membela keberlangsungan hidup dan keamanan Israel. Inilah hakikat abadi dari hubungan antara kedua negara kami, dan akan selalu demikian.” (Hui/asr)

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Yi Jing

Jet F-35 Belanda Diterbangkan Setelah Peringatan Drone Tak Dikenal

EtIndonesia. Belanda menerbangkan dua jet tempur F-35 setelah sebuah drone tak dikenal muncul di wilayah udaranya, menurut NOS.

Kementerian Pertahanan melaporkan bahwa jet-jet tersebut, yang diberangkatkan pada hari Minggu, 7 Desember, sebagai tanggapan atas peringatan tentang objek udara tak dikenal, kemudian kembali ke Pangkalan Udara Volkel. Ditetapkan bahwa objek tersebut adalah drone yang tidak menimbulkan ancaman langsung dan telah meninggalkan wilayah udara Belanda. Asalnya masih belum diketahui.

Pengatur lalu lintas udara tidak dapat berkomunikasi dengan drone tersebut saat memasuki wilayah udara Belanda.

Kementerian juga menyatakan bahwa lalu lintas udara tidak terpengaruh dan tidak ada pembatasan penerbangan yang diperlukan. Drone tersebut mengabaikan semua saluran identifikasi, tetapi setelah pengejaran singkat, ia meninggalkan wilayah udara Belanda sendiri.

Ini bukan pertama kalinya Belanda harus menerbangkan jet karena drone. Insiden serupa terjadi pada 22 November di Pangkalan Udara Volkel.

Secara keseluruhan, kasus-kasus serupa yang melibatkan drone tak dikenal di atas kota-kota dan lokasi militer di Eropa terus meningkat. Bulan lalu, berita utama di seluruh Uni Eropa dipenuhi laporan tentang UAV yang muncul secara misterius di atas bandara dan menghentikan penerbangan.(yn)

Bentrokan Kembali Meletus di Perbatasan Thailand–Kamboja, Seorang Prajurit Thailand Tewas, Banyak Korban Luka Hingga Sekolah Perbatasan Ditutup

EtIndonesia. Bentrokan kembali meletus di perbatasan Thailand dan Kamboja. Militer Thailand pada Senin (8/12/2025) menyatakan bahwa seorang prajurit Thailand tewas dalam baku tembak, sementara beberapa lainnya terluka. Militer Thailand kemudian melancarkan serangan udara ke wilayah sengketa dengan Kamboja. Warga di kawasan perbatasan dievakuasi secara besar-besaran, dan Kementerian Pendidikan Thailand memerintahkan penutupan 641 sekolah di wilayah perbatasan.

Menurut laporan AFP, juru bicara Angkatan Darat Thailand, Winthai Suvaree, dalam pernyataannya mengatakan bahwa militer Kamboja pada pagi hari menembaki beberapa lokasi di perbatasan Provinsi Ubon Ratchathani, Thailand. Insiden tersebut menewaskan seorang prajurit Thailand dan melukai beberapa lainnya. Militer Thailand kemudian melakukan serangan balasan dengan mengerahkan jet tempur F-16 untuk menyerang sasaran militer Kamboja.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Maly Socheata, menyatakan bahwa pada 8 Desember pagi, militer Thailand melancarkan serangan terhadap pasukan Kamboja di Provinsi Preah Vihear dan Provinsi Oddar Meanchey. Ia menegaskan bahwa pihak Kamboja tidak melakukan serangan balasan.

Angkatan Darat Kerajaan Thailand membantah pernyataan juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja yang menuduh Thailand sebagai pihak yang lebih dahulu menembak. Bahkan, menggunakan berbagai jenis senjata untuk menyerang pasukan Kamboja. Militer Thailand menegaskan bahwa “pihak Kamboja yang lebih dahulu membuka tembakan” dan bahwa pihak Thailand memiliki bukti kuat yang membuktikan waktu, lokasi, serta dampak serangan terhadap pasukan Thailand.

Thailand juga menyerukan agar Kamboja menghentikan tuduhan dan pernyataan yang tidak berdasar, karena hal tersebut dinilai menghambat upaya kedua negara dalam menyelesaikan ketegangan perbatasan secara damai.

Sehari sebelumnya, surat kabar Bangkok Post melaporkan bahwa pada 7 Desember sekitar pukul 14.00, terjadi bentrokan bersenjata selama 35 menit di Distrik Kantharalak, Provinsi Si Saket, di perbatasan Thailand–Kamboja. Insiden tersebut mengakibatkan dua prajurit Thailand terluka. Militer Thailand juga memerintahkan evakuasi warga di wilayah perbatasan.

Kementerian Luar Negeri Thailand pada  7 Desember malam menyebutkan bahwa pasukan Kamboja menembaki prajurit Thailand yang sedang memperbaiki jalan di wilayah Thailand, sehingga memaksa militer Thailand melakukan tembakan balasan sesuai aturan keterlibatan. Insiden tersebut mengakibatkan dua prajurit Thailand terluka, satu terkena tembakan di kaki dan satu lainnya tertembak di bagian dada.

Sebelumnya, surat kabar The Nation melaporkan bahwa Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dan Menteri Pertahanan Nattapon Nakpanich dijadwalkan mengunjungi empat provinsi perbatasan pada 8 Desember. Namun, rencana tersebut dibatalkan. Pada  (8 Desember) pagi pukul 09.00, Anutin memanggil seluruh lembaga keamanan terkait untuk mengadakan rapat darurat.

Menteri Pendidikan Thailand, Narumon Pinyosinwat, pada 8 Desember mengatakan bahwa karena pecahnya konflik di perbatasan Thailand–Kamboja, pemerintah telah memerintahkan evakuasi personel di wilayah berisiko tinggi. Demi menjamin keselamatan guru dan siswa, sebanyak 641 sekolah di wilayah perbatasan di empat provinsi — Si Saket, Ubon Ratchathani, Buriram, dan Sa Kaeo — ditutup sementara.

Thailand dan Kamboja sebelumnya juga terlibat konflik perbatasan selama lima hari pada  Juli tahun ini. Konflik tersebut kemudian berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. Pada  Oktober, Trump secara langsung menghadiri penandatanganan kesepakatan gencatan senjata yang diperluas di Kuala Lumpur. (Hui)

Sumber : NTDTV.com