Israel Tewaskan Komandan Militer Tertinggi Hizbullah dalam Serangan Udara di Beirut

EtIndonesia. Israel membunuh yang disebut-sebut sebagai kepala staf Hizbullah. Militan tersebut tewas dalam serangan udara di wilayah Lebanon, lapor The Times of Israel.

Haytham Ali Tabatabai, yang secara efektif memimpin Hizbullah setelah sebagian besar pimpinan senior kelompok tersebut tewas, tewas pada 23 November dalam sebuah serangan udara di pinggiran selatan Beirut, ibu kota Lebanon.

Tabatabai telah dicari oleh AS sejak 2016, dengan hadiah 5 juta dolar yang ditawarkan bagi informasi yang mengarah pada penangkapannya. Dia adalah warga negara Lebanon dan seorang militan kawakan. Sebelumnya, dia memimpin pasukan elit Hizbullah, Radwan, sebuah unit yang dirancang untuk memimpin serangan ke Israel.

Israel berusaha membunuh Tabatabai pada tahun 2015 di Suriah selatan. Serangan itu justru menewaskan Jihad Mughniyeh, putra Imad Mughniyeh, seorang komandan senior Hizbullah.

The Times of Israel mencatat bahwa pada akhir 2024, Tabatabai secara efektif telah dipromosikan menjadi panglima militer utama Hizbullah. Israel telah menyingkirkan sebagian besar pimpinan tertinggi kelompok tersebut pada saat itu.

Israel vs. Hizbullah: Apa yang diketahui

Israel dan Hizbullah telah berkonflik sejak awal 1980-an. Kelompok ini beroperasi dari wilayah Lebanon, yang telah menyebabkan konflik dan eskalasi militer berulang kali. Pada tahun 2024, Hizbullah mengalami kekalahan telak dan kehilangan sebagian besar pimpinannya.

Meskipun kelompok tersebut mengalami kekalahan, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) terus melancarkan serangan udara terhadap target-target Hizbullah di Lebanon. Pada bulan Oktober, IDF menyerang beberapa lokasi, termasuk kamp pelatihan militan, fasilitas produksi rudal berpemandu presisi di Lembah Bekaa, dan infrastruktur militer lainnya.

Sebelumnya, pada bulan Juli, militer Israel menargetkan pabrik rudal berpemandu presisi terbesar milik Hizbullah. Fasilitas tersebut juga terletak di Lebanon.(yn)

Setelah Peringatan Pemerintah AS, 6 Maskapai Membatalkan Penerbangan ke Venezuela

EtIndonesia. Enam maskapai membatalkan penerbangan ke Venezuela pada hari Sabtu (22/11), menurut sebuah kelompok industri, setelah regulator penerbangan AS memperingatkan bahaya dari “peningkatan aktivitas militer” di tengah peningkatan besar-besaran pasukan Amerika di wilayah tersebut. 

Iberia (Spanyol), TAP (Portugal), LATAM (Cile), Avianca (Kolombia), dan GOL (Brasil) telah menangguhkan penerbangan mereka ke negara itu, kata Marisela de Loaiza, presiden Asosiasi Maskapai Venezuela (ALAV). Dia tidak merinci berapa lama penangguhan penerbangan tersebut akan berlangsung.

Copa Airlines (Panama), Air Europa (Spanyol), dan PlusUltra (Spanyol), serta LASER (Venezuela), masih mengoperasikan penerbangan untuk saat ini. Turkish Airlines mengatakan pada hari Minggu bahwa mereka membatalkan penerbangan dari 24-28 November.

Administrasi Penerbangan Federal AS pada hari Jumat (21/11) mendesak pesawat sipil di wilayah udara Venezuela untuk “berhati-hati” karena “situasi keamanan yang memburuk dan meningkatnya aktivitas militer di dalam atau di sekitar Venezuela.”

“Ancaman dapat menimbulkan risiko potensial bagi pesawat di semua ketinggian, termasuk selama penerbangan lintas udara, fase kedatangan dan keberangkatan penerbangan, dan/atau bandara dan pesawat di darat,” katanya.

Washington telah mengirimkan satu gugus tugas tempur kapal induk, kapal perang Angkatan Laut lainnya, serta pesawat siluman ke wilayah tersebut — pengerahan yang diklaim bertujuan untuk mengekang perdagangan narkoba tetapi telah memicu kekhawatiran di Caracas bahwa perubahan rezim adalah tujuannya.

Penunjukan AS sebagai teroris mulai berlaku Senin untuk kartel narkoba yang diduga dipimpin oleh pemimpin sayap kiri Venezuela, Nicolas Maduro — sebuah langkah yang diyakini beberapa pihak dapat menjadi pertanda aksi militer terhadap pemerintahannya.

Pasukan Washington telah melakukan serangan terhadap lebih dari 20 kapal yang diduga menyelundupkan narkoba di Laut Karibia dan Samudra Pasifik timur sejak awal September, menewaskan lebih dari 80 orang.

Namun Amerika Serikat belum merilis bukti konkret bahwa kapal-kapal yang menjadi targetnya digunakan untuk menyelundupkan narkoba atau menimbulkan ancaman bagi negara tersebut, dan ketegangan regional telah berkobar akibat kampanye dan peningkatan kekuatan militer yang menyertainya. (yn)

Video Travel Vlogger Tiongkok Ingatkan Cara Mencegah Penculikan untuk Pengambilan Organ – Terutama Bagi Anak Muda

EtIndonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus anak-anak dan remaja yang hilang secara misterius di Tiongkok terus meningkat, dan banyak yang dicurigai menjadi korban pengambilan organ secara hidup. Seorang travel blogger yang telah menjelajahi belasan provinsi kini memperingatkan bagaimana kaum muda bisa melindungi diri ketika bepergian.

Travel blogger tersebut, Wang Ankang, berkeliling Tiongkok dengan sebuah kendaraan roda tiga sejak tahun lalu sambil membagikan video dan pengalaman perjalanannya. Baru-baru ini, ia merilis sebuah video yang menjelaskan cara menghindari risiko menjadi korban pengambilan organ.

Dia mengatakan: “Kita harus tahu pola kejahatannya untuk bisa menghindarinya. Misalnya, kamu sedang di luar kota, lalu ada motor listrik atau kendaraan asing yang tiba-tiba menabrakmu. Kemudian orang itu menawarkan diri memanggil ambulans. Kamu harus sangat waspada.”

“Jangan pernah naik ambulans yang dipanggil orang tak dikenal. Begitu kamu naik, beberapa orang bisa langsung menahanmu dan kamu tidak akan bisa kabur. Lebih baik cari ambulans sendiri atau tetap menolak ambulans yang dipanggil orang asing—terutama bagi yang berusia 17 sampai 22 tahun.”

Wang Ankang juga menceritakan bahwa ia pernah hampir menjadi korban.

https://www.youtube.com/watch?v=VqAmG43NwBE

Pernah Dibius dan Hampir Menjadi Target: “Saya Tidak Tahu Ambulans Itu dari Mana dan Siapa di Dalamnya”

Dalam video lainnya, ia mengungkapkan: “Saya pernah diberi obat (dibius) di Fujian. Tengah malam saya berniat menelepon ambulans, tapi saya merasa ada yang tidak beres. Akhirnya saya memilih pergi ke klinik desa terdekat, tidak jadi memanggil ambulans. Saya tidak tahu ambulans seperti apa yang akan datang, dan saya tidak tahu siapa yang ada di dalamnya. Itu sangat berbahaya.”

Ia menjelaskan bahwa kejadian itu berlangsung di Desa Longchi, Kota Nanping, Provinsi Fujian, pada Januari tahun ini. Menurutnya, pemilik penginapan tempat ia menginap mencampurkan obat ke makanannya.

Ia mengalami:

  • kesadaran kabur,
  • jantung berdebar sangat cepat,
  • kesulitan bernapas,

dan hampir kehilangan nyawa.

Ia berkata: “Orang yang memberi obat itu sebelumnya cerita bahwa simpanan (wanita kedua) yang ia biayai adalah perawat di rumah sakit tingkat kabupaten. Kalau begitu, kalian bisa bayangkan sendiri. Sangat mengerikan.”


Kenapa Ia Tidak Berani ke Xinjiang dan Tibet: “Ada Sesuatu yang Tidak Beres”

Wang Ankang menambahkan: “Saya sudah setahun lebih backpacker keliling Tiongkok, tapi sampai sekarang belum pergi ke Xinjiang atau Tibet. Saya selalu merasa ada yang tidak beres. Tempat yang begitu dingin, terpencil, dan miskin—siapa yang menggalakkan masyarakat untuk pergi ke sana? Siapa yang memulai tren ‘jalan 318’, siapa yang mengarahkan orang-orang untuk bersepeda ke Xinjiang dan Tibet? Saya benar-benar heran, apa bagusnya tempat itu? Jauh, dingin, dan minim fasilitas.”

Ia menilai fenomena tersebut seperti efek kawanan (herd effect): “Kalau kamu sakit perut saja, belum tentu ada apotek atau klinik. Orang-orang cuma ikut-ikutan. Saya tidak mau jadi domba. Saya punya pemikiran sendiri. Yang ikut-ikutan tanpa berpikir, biarkan saja.”


“Darah Anak Muda Usia 17–21 Dipakai untuk Awet Muda”: Perdagangan Manusia dan Organ Kembali Jadi Sorotan

Saat isu pengambilan organ dan perdagangan organ ilegal semakin diperhatikan publik, pada 14 November, sebuah video yang diunggah di platform X menunjukkan seorang wanita yang menawarkan layanan “terapi transfusi darah muda” untuk para klien kaya.

Wanita itu mengklaim:

  • Darah remaja usia 17–21 tahun mengandung “mikrovesikel protein muda”
  • Mikrovesikel itu dapat mengembalikan vitalitas, meningkatkan fungsi seksual, dan memperlambat penuaan
  • Metode di Eropa hanya transfusi langsung, sementara di Tiongkok, mereka mengekstraksi “protein fungsional” dari darah remaja
  • Butuh darah dari banyak remaja untuk menghasilkan satu dosis “peremajaan”
  • Suntikan itu disebut dapat membuat seseorang “kembali seperti usia muda dalam dua minggu”

Wanita itu menyebut perusahaan tempat ia bekerja hanya melayani pelanggan golongan superkaya. Ia bahkan menyebut adanya “suntikan keabadian” (永生针) yang disebut sebagai riset dari “tim nasional Tiongkok” dan telah dibeli patennya dengan dana ratusan miliar.


Lonjakan Anak Hilang di Tiongkok: Angka Gelap yang Mengejutkan

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah anak dan pemuda yang hilang di Tiongkok meningkat drastis.

Menurut “China Missing Persons White Paper 2020”, pada tahun 2020 terdapat 1 juta kasus orang hilang.

Laporan China National Radio tahun 2013 menyebutkan 200.000 anak hilang setiap tahun, tetapi yang berhasil ditemukan hanya 0,1%.


Pengakuan “Anak Pejabat”: ‘Hampir Semua Remaja Hilang itu Sudah Diambil Organnya’

Pada Juli tahun ini, seorang pemuda bernama Eric MY, putra pejabat lokal (disebut “anak pejabat” atau guan er dai), mengungkapkan kepada Epoch Times:

“Di Tiongkok ada terlalu banyak CCTV. Ada jutaan kamera. Jika mau dicari, pasti bisa ditemukan. Selama ada nama atau fotonya, sistem Skynet bisa mendeteksi lokasi orang itu dalam lima detik.”

Namun ia mengatakan mengapa para remaja hilang tidak ditemukan: “Karena mereka sudah diambil organnya. Ini memang benar terjadi. Remaja hilang di Tiongkok pada dasarnya semuanya menjadi korban pengambilan organ. Organ anak muda paling sehat dan paling mahal. Dan yang menjalankan operasi ini adalah pemerintah sendiri.”


Isu Organ Mencuat ke Dunia Internasional Setelah Dialog Xi–Putin

Pada September lalu, sebelum parade besar di Beijing, percakapan antara Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin yang ditangkap kamera CCTV Tiongkok memicu kehebohan global.

Dalam dialog itu, mereka membahas:

  • transplantasi organ,
  • dan ambisi “hidup sampai usia 150 tahun”.

Percakapan tersebut menyalakan kembali perhatian dunia pada industri gelap pengambilan organ hidup di Tiongkok.

Banyak komentar global mengecam fenomena ini sebagai: “Keji di level ekstrem.” (jhon)

Masa Kecil Tanpa Tempaan, Orangtua Pasti Menanggung Bebannya di Masa Tua

EtIndonesia. Ada pepatah mengatakan: “Sekaya apa pun, pendidikan anak tidak boleh dikorbankan. Sesayang apa pun, anak tidak boleh dimanjakan.”

Di sekitar kita, banyak orangtua yang hidup hemat dan serba kekurangan, tetapi ketika anak meminta barang bermerek mahal, mereka langsung membeli tanpa ragu. Ada pula orangtua yang membiarkan anak hidup tanpa perlu mengangkat satu jari pun—makan tinggal disajikan, pakaian tinggal dipakai, satu tugas rumah pun tidak diberi.

Orangtua sendiri jarang berlibur, tetapi ketika anak ingin mengikuti tur ke luar negeri, mereka rela berutang demi memenuhi keinginannya.

Lalu, bagaimana nasib anak-anak seperti ini setelah dewasa?

1. Ketika Anak Tidak Pernah Merasakan Getirnya Hidup, Dia Tidak Punya Kekuatan Menghadapi Hidup

Pernah ada sebuah berita yang membuat banyak orang terkejut.

Seorang pria bernama Yang, 32 tahun, lulusan Universitas Normal Weinan. Dia adalah anak tunggal, sejak kecil diperlakukan sebagai permata keluarga. Orangtuanya bekerja keras, hidup hemat demi menyekolahkannya hingga perguruan tinggi.

Tetapi karena sejak kecil tidak pernah mengalami penderitaan, begitu memasuki dunia kerja, dia pertama kali merasakan kerasnya kehidupan. Pengabaian, hinaan, rasa tidak dianggap—semua itu membuat mentalnya menyimpang.

Dia mulai memikirkan cara “cepat kaya”. Sampai suatu hari, dia mengetahui bahwa asuransi jiwa memberikan kompensasi besar jika terjadi kecelakaan. Dia pun menyusun rencana yang mengerikan: mendaftarkan banyak polis untuk kedua orangtuanya, termasuk asuransi kecelakaan dan cacat total.

Kemudian, dia memasukkan nitrit ke dalam makanan yang dia masak sendiri untuk orangtuanya. Saat makan, dia bahkan sengaja menyendokkan daging beracun itu ke mangkuk mereka.

Namun orangtua yang sangat menyayanginya justru tidak mau memakannya, karena ingin menyisakan yang terbaik untuk anaknya.

Yang tidak menyerah. Dia mencampur nitrit ke dalam air minum, mengaduknya, lalu menyajikannya kepada mereka.

Dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri saat orangtuanya tersiksa sebelum meninggal. Setelah itu, dia membuka tabung gas untuk membuat skenario “keracunan gas”.

Tragedi ini memang berasal dari kejahatan si anak, tetapi akarnya lebih dalam: orangtua yang terlalu memanjakan, mengatur segala hal, dan tidak membiarkan anak menghadapi sedikit pun kesulitan.

Anak seperti ini, begitu kehilangan perlindungan orangtua dan harus menghadapi dunia yang keras, mental dan daya tahannya runtuh seketika.

Rousseau pernah berkata: “Tahukah kamu bagaimana membuat seorang anak menjadi manusia paling sengsara?  Caranya: penuhi semua keinginannya.”

Kasih yang berlebihan bukan hanya menghancurkan masa depan anak, tapi juga mungkin menghancurkan hidup orangtua itu sendiri.

2. Tidak Ada Anak yang Sulit Dididik — yang ada hanyalah orangtua yang salah mendidik

Anak yang berhasil adalah hasil dari keluarga yang “bermartabat”—bukan dalam arti kekayaan, tetapi dalam: keluasan hati orangtua besarnya visi dan pola pikir prinsip pendidikan yang benar serta teladan nyata dalam hidup.

Contohnya Fan Zhongyan, tokoh besar pada masa Dinasti Song.

Semua orang mengenal ucapannya yang terkenal:  “Mengutamakan kesedihan dunia sebelum sedih, dan baru menikmati kebahagiaan setelah dunia bahagia.”

Namun tak banyak yang tahu bahwa keturunannya berjaya selama delapan ratus tahun, menghasilkan banyak pejabat dan sarjana ternama.

Dalam catatan sejarah, Fan Zhongyan selalu mendidik anak-anaknya dengan ketat:  “Jangan meremehkan uang, karena dia datang dari kerja keras. Jangan belajar hidup mewah, karena itu jalan menuju kemiskinan.”

Ketika anaknya, Fan Chunren, ingin mendekorasi kamar pengantin dengan kain sutra mewah, Fan Zhongyan marah dan berkata: “Keluarga kita selalu hidup sederhana. Jika kamu berani membawa tirai sutra itu masuk, aku akan membakarnya di depan semua orang!”

Bandingkan dengan kondisi sekarang: banyak keluarga miskin mati-matian menjadikan anaknya hidup seperti anak orang kaya—tanpa kesulitan, tanpa tugas, tanpa tanggung jawab.

Sementara keluarga kaya justru berusaha membuat anak mereka merasakan kesulitan hidup agar tumbuh kuat.

Lihat saja Dong Mingzhu, pengusaha besar Tiongkok.

Sejak kecil, dia membiasakan anaknya untuk mandiri: tidak pernah dijemput dengan mobil, selalu naik bus sendiri pernah menunggu lama hanya demi naik bus yang ongkosnya lebih murah belajar melakukan segalanya sendiri, bahkan saat ujian besar seperti gaokao.

Saat dewasa, anaknya berkata:  “Kalau Mama bisa mulai dari nol, aku juga bisa.”

Meski ibunya kaya raya, dia memilih hidup mandiri: gaji hanya lima–enam ribu yuan per bulan, mengendarai mobil biasa, dan tinggal di rumah kontrakan.

Karena jalan menuju kedewasaan tidak pernah punya jalan pintas. Kesulitan yang tidak dialami saat kecil akan ditagih kembali di masa depan.

Maka, mencintai anak bukan berarti menempatkan mereka dalam manisan, melainkan membiarkan mereka merasakan getirnya usaha, memahami nilai perjuangan, dan belajar berdiri sendiri saat badai datang.

3. Yang Berharga Bukan “Penderitaan”—Tetapi Kemampuan Bangkit Menghadapinya

Sejujurnya, penderitaan itu sendiri tidak otomatis membuat seseorang kuat.

Yang membuat anak bertumbuh adalah: pemahaman setelah melewati kesulitan, refleksi setelah diuji,dan kualitas kepribadian yang ditempa melalui pengalaman pahit.

Jika “makan苦” adalah satu-satunya standar, maka para gelandangan yang hidup susah setiap hari seharusnya menjadi pemenang hidup.

Yang patut dihargai bukan penderitaannya, tetapi kemampuan mengalahkan penderitaan dan kebahagiaan yang diraih setelah itu.

Banyak orang hafal kalimat Mencius: “Langit akan menurunkan tanggung jawab besar kepada seseorang dahulu, maka dia harus dibuat menderita, lelah, lapar…”

Tetapi mereka lupa bagian paling penting: tujuannya adalah mempersiapkan seseorang untuk memikul tugas besar.

Demikian pula saat mendidik anak. Membiarkan anak merasakan kesulitan tidak berarti membuatnya tersiksa, tetapi membuatnya belajar mengalahkan kesulitannya sendiri, mendapatkan apa yang ia inginkan dengan jerih payahnya, dan tumbuh menjadi pribadi yang benar-benar kuat.

Tahun lalu, Ketua Mahkamah Agung AS John Roberts, dalam pidato kelulusan putranya, berkata hal yang sangat menggugah:

 “Di acara kelulusan, pembicara biasanya mendoakan kalian beruntung. Tetapi aku tidak.

Aku berharap kalian sesekali diperlakukan tidak adil, agar kalian memahami pentingnya keadilan.

Semoga kalian dikhianati, agar kalian memahami nilai sebuah kesetiaan.

Semoga kalian kadang tidak beruntung, agar kalian menyadari bahwa kesempatan itu berharga.

Bila kalian gagal, semoga lawan kalian mencemooh kalian, agar kalian belajar arti kompetisi.

Semoga kalian pernah diabaikan, agar kalian belajar mendengarkan.

Semoga kalian merasakan sedikit rasa sakit, agar kalian punya empati.

Kesulitan-kesulitan ini pasti datang, tidak peduli kalian siap atau tidak.

Yang menentukan adalah apakah kalian bisa memahami pesan yang dibawanya.”

Inilah inti dari semua ini: Anak harus belajar menghadapi kesulitan — bukan agar menderita,
tetapi agar memahami arti kekuatan dan kebijaksanaan.

Jika sejak kecil anak belajar menghadapi tantangan, belajar bangkit setelah jatuh, belajar menyelesaikan masalah dengan kepalanya sendiri— maka kelak ia bisa memikul hidupnya sendiri.

Dan ketika anak mampu berdiri dengan kakinya sendiri, barulah orang tua dapat menikmati masa tua tanpa beban. (jhn/yn)

Riset Terbaru: Kemampuan Ini Diduga Dapat Memperlambat Penuaan Otak

EtIndonesia. Selama bertahun-tahun, berbagai penelitian telah mengisyaratkan bahwa menguasai setidaknya dua bahasa dapat membantu memperlambat penuaan otak. Namun riset-riset sebelumnya umumnya hanya berfokus pada kelompok kecil, terutama pasien klinis. Akibatnya, hasil penelitian sering kali tidak konsisten dan sulit diterapkan pada populasi yang sehat.

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, Dr. Lucía Amoruso dari Basque Center on Cognition, Brain and Language di San Sebastián, Spanyol, bersama tim ilmuwan dari Spanyol, Chili, Kolombia, Argentina, Venezuela, Turki, dan Amerika Serikat — total 20 peneliti — melakukan studi besar terhadap 86.149 partisipan dari 27 negara Eropa.

Penelitian ini dipublikasikan awal bulan ini di jurnal Nature Aging dengan judul: “Multilingualism Helps Delay Aging: A Study Across 27 European Countries.”


Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?

Tim peneliti menggunakan metode khusus yang mereka kembangkan sendiri, yakni biobehavioral age gap — sebuah pendekatan yang mengukur selisih antara usia biologis dan usia perilaku seseorang.

Penelitian ini juga memperhitungkan faktor-faktor:

Faktor positif (memperlambat penuaan)

  • Kemampuan kognitif
  • Pendidikan
  • Kemampuan fungsional

Faktor negatif (mempercepat penuaan)

  • Penyakit jantung dan metabolik
  • Jenis kelamin
  • Gangguan sensorik

Dengan metode ini, peneliti dapat menilai apakah penggunaan banyak bahasa mampu memperlambat proses penuaan, terlepas dari kondisi kesehatan atau sosial lainnya.


Hasil Utama: Multilingual = Otak Lebih Muda

Hasil penelitian menunjukkan:

  • Menguasai lebih dari satu bahasa secara konsisten terkait dengan proses penuaan otak yang lebih lambat, baik dalam analisis horizontal (lintas populasi) maupun longitudinal (pengamatan jangka panjang).
  • Hanya menguasai satu bahasa justru berkaitan dengan risiko penuaan otak yang lebih cepat.
  • Efek perlindungan ini tetap ada, bahkan setelah mengontrol faktor eksternal seperti lingkungan bahasa, kesehatan fisik, kondisi sosial, hingga iklim politik.

Salah satu penulis penelitian, Dr. Agustín Ibáñez, ahli saraf dari Trinity College Dublin, mengatakan:

“Setiap tambahan satu bahasa memberikan perlindungan yang dapat diukur terhadap penuaan otak.
Ini sinyal kuat bahwa aktivitas mental sehari-hari — seperti menggunakan banyak bahasa — dapat memengaruhi kecepatan tubuh menua.
Berbicara banyak bahasa terus-menerus melatih banyak sistem dalam otak: mengelola perhatian, menahan gangguan, berpindah aturan antarbahasa. Aktivitas ini memperkuat area-area yang biasanya melemah seiring bertambahnya usia.”


Kesimpulan: Belajar Bahasa = Investasi Kesehatan Otak

Penelitian ini bukan hanya menekankan manfaat bilingual atau multilingual dalam melindungi fungsi kognitif, tetapi juga memberikan dasar ilmiah untuk mendorong masyarakat di seluruh dunia agar menguasai setidaknya dua bahasa.

Jadi, kalau kamu sudah mulai terpikir untuk membuka kembali buku pelajaran bahasa di sekolah dulu —  ini saatnya memulai! (jhon)

Video Lansia di Liaoning, Tiongkok  “Menaburkan Beras” ke Laut Sambil Komat-Kamit seperti Membaca Mantra

Etindonesia. Sebuah kejadian aneh terjadi di sebuah dermaga pesisir di Provinsi Liaoning, Tiongkok. Beberapa orang tua tampak membawa banyak karung beras dan menuangkannya ke laut, sementara mulut mereka komat-kamit seakan membaca mantra. Disebutkan bahwa mereka sedang melakukan “ritual pelepasan makhluk hidup dengan beras”, yang kemudian memicu kecaman luas dari publik. Banyak warganet menyebut tindakan itu sebagai pemborosan makanan yang sangat tidak pantas.

Sebuah video yang beredar menunjukkan kejadian tersebut berlangsung pada 20 November, di salah satu dermaga di Kota Huludao. Dalam video, beberapa orang lansia berseragam pakaian musim dingin menuangkan beras dari karung besar langsung ke laut. Seorang perempuan berambut pendek bahkan sempat menelepon keluarganya dan berkata bahwa ia “baru saja selesai melepasliarkan (beras)”, lalu ikut menuangkan sisa beras yang ia bawa.

Selama proses itu, sang perekam video terdengar terus komat-kamit, seolah mengucapkan mantra.


Aksi “Pelepasan Beras” Picu Kritik Tajam: “Ini Bukan Berbuat Baik, Ini Membuat Dosa”

Setelah video viral, warganet ramai mengkritik tindakan tersebut.

Beberapa komentar:

  • “Apa harus sampai membuang makanan seperti ini? Kalau mau sayang ikan, ya jaga kualitas air, bukan buang beras.”
  • “Sepanjang sejarah tidak pernah ada ‘melepaskan’ beras. Ini bukan ritual, ini pemborosan.”
  • “Ini bukan berbuat baik, ini malah menambah dosa.”
  • “Kalau mau berbuat amal, kirim saja beras ini ke daerah miskin.”
  • “Membuang makanan termasuk ‘menghancurkan lima jenis biji-bijian’, sebuah perbuatan buruk yang ada konsekuensi karmanya.”

Banyak warganet mempertanyakan bagaimana tindakan tersebut bisa dianggap “ritual kebaikan”, padahal jelas-jelas membuang sumber makanan yang berharga.


Fenomena “Pelepasan Aneh” Muncul di Banyak Daerah Tiongkok

Insiden seperti ini sebenarnya bukan pertama kalinya. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak video memperlihatkan masyarakat melakukan “ritual pelepasan” barang-barang yang tidak seharusnya dilepasliarkan, antara lain:

  • air mineral,
  • tepung terigu,
  • minyak goreng,
  • bahan makanan kemasan,
  • bahkan produk rumah tangga.

Aksi-aksi ini kerap memicu perdebatan karena:

  1. Tidak bermanfaat bagi lingkungan,
  2. Berpotensi mencemari daerah,
  3. Merupakan pemborosan sumber daya,
  4. Berangkat dari kesalahpahaman ritual keagamaan.

Kasus Lain: Hampir Seratus Kucing Dilepas di Waduk Air Minum

Pada 1 November, di Waduk Yingzui, Kota Qingyuan, Provinsi Guangdong, beberapa orang terlihat melepaskan hampir seratus ekor kucing ke dalam area waduk.

Akibatnya:

  • sebagian kucing panik dan memanjat pohon,
  • sebagian lainnya tercebur ke waduk,
  • tepi waduk dipenuhi kucing yang panik.

Masalahnya, waduk tersebut adalah zona perlindungan tingkat satu sumber air minum, sehingga tindakan itu menimbulkan kekhawatiran besar terkait pencemaran air, risiko penyakit, serta dampak ekologis.

Fenomena-fenomena ini menunjukkan bagaimana tindakan yang dilabeli sebagai “amal” atau “ritual” justru dapat menimbulkan konsekuensi serius ketika tidak berdasarkan pemahaman yang benar.   (jhon)

Wabah “Flu” Meledak Cepat di Tiongkok – Dalam Sepekan Terjadi Sedikitnya 955 Kejadian Epidemi

EtIndonesia. Wabah “flu” di Tiongkok dalam beberapa hari terakhir menyebar dengan sangat cepat. Laporan dari berbagai provinsi menunjukkan banyak sekolah terpaksa menghentikan kegiatan belajar akibat tingginya jumlah siswa yang terinfeksi. 

Data resmi menunjukkan bahwa dalam satu pekan saja, setidaknya 955 kejadian wabah flu tercatat di seluruh negeri—menandakan penyebaran flu di Tiongkok telah memasuki fase peningkatan cepat.

Pada Jumat (21 November), pejabat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok (CDC Tiongkok) dalam konferensi pers menjelaskan bahwa aktivitas flu nasional kini berada dalam fase “kenaikan cepat,” dengan lonjakan signifikan kasus berkelompok di sekolah dan lembaga pendidikan anak usia dini.

Pejabat CDC menyebutkan bahwa virus yang dominan adalah influenza A subtipe H3N2, namun H1N1 dan influenza B juga beredar bersamaan. Mereka memperkirakan bahwa aktivitas flu akan terus meningkat dalam beberapa minggu ke depan.


955 Wabah dalam Sepekan – 99,1% Kasus Terkonfirmasi adalah Influenza A

Dalam Laporan Pengawasan Influenza Mingguan (Pekan ke-46) yang dirilis Kamis malam, CDC Tiongkok melaporkan bahwa pada periode 10–16 November, total 955 kejadian “wabah influenza-like illness (ILI)” tercatat secara nasional. Data pemantauan juga menunjukkan bahwa 99,1% dari seluruh kasus yang dikonfirmasi laboratorium adalah influenza A.

Yang dimaksud “wabah influenza-like illness (ILI)” adalah kejadian di mana dalam satu wilayah atau satu unit (sekolah, institusi, dan lain-lain.) muncul 10 kasus atau lebih dengan gejala mirip flu dalam satu minggu, dan setelah diverifikasi oleh CDC tingkat kabupaten/kota, insiden tersebut dilaporkan ke Sistem Informasi Pemantauan Influenza Tiongkok.

Namun laporan dari masyarakat menunjukkan bahwa kondisi di lapangan lebih parah daripada yang disampaikan pemerintah.

(Tangkapan layar laman web)

Banyak Sekolah Tutup – Warga Mengalami Gejala Mirip COVID Sebelumnya

Orang tua murid di Guangzhou melaporkan bahwa setengah dari siswa di kelas anak mereka izin sakit, sehingga sekolah memutuskan menghentikan pembelajaran tatap muka dan memindahkan siswa ke pembelajaran daring. Orang tua di Shenzhen juga melaporkan hal serupa—jumlah siswa sakit meningkat tajam dan sekolah mengeluarkan pemberitahuan penutupan kelas.

Di media sosial Tiongkok, semakin banyak keluhan tentang cepatnya flu menyebar, dan banyak warga mengatakan gejalanya sangat mirip dengan COVID-19 (virus Tiongkok) pada dua tahun terakhir.

Beberapa keluhan warga:

  • “Di kelas anak saya, sepertiga murid terinfeksi. Baru satu sembuh, yang lain langsung menyusul.”
  • “Di wilayah Mongol Dalam, hampir semua anak di sekolah kena demam dan batuk. Butuh dua hari saja untuk satu kelas ikut sakit.”
  • “Bangsal anak sudah penuh. Gejalanya sama persis seperti COVID.”
  • “COVID kembali lagi. Setahun sekali pasti ada wabah besar.”

Banyak yang menilai bahwa istilah “flu” kini sengaja digunakan menggantikan kata “COVID”.


Rumah Sakit Membludak – Dokter Mengingatkan Risiko Komplikasi Serius

Dr. Huang Jing, dokter senior di Departemen Infeksi Rumah Sakit Rakyat Guangdong, mengatakan kepada Southern Daily bahwa jumlah pasien di klinik demam meningkat tajam. Menurutnya: “Sekitar setengah dari pasien yang datang belakangan ini terbukti positif flu.”

Ia menekankan bahwa flu bukan sekadar “batuk pilek biasa” karena bisa menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, ensefalitis, hingga miokarditis.

“Setiap tahun kami menerima pasien muda yang kena miokarditis akibat flu. Anak muda tetap harus waspada dan tidak meremehkan gejala.”

Sementara itu, Dr. Li Shuhua, direktur poliklinik anak dan klinik demam di Pusat Perempuan dan Anak Guangzhou, mengatakan bahwa kasus infeksi flu pada anak meningkat tajam dengan gejala utama:

  • demam tinggi,
  • kelelahan,
  • batuk,
  • nyeri otot dan tubuh.

Dr. Li mengingatkan: “Jika anak menunjukkan gejala flu, jangan asal memberi obat di rumah. Sebaiknya lakukan tes dan pastikan diagnosis di rumah sakit sebelum memulai pengobatan.”

Ia menambahkan bahwa bila ada siswa yang terinfeksi di kelas, sekolah harus meningkatkan ventilasi dan melakukan disinfeksi secara rutin. (jhon)

Sumber : NTDTV.com

Indosat Gandeng Indogrosir, Buka Akses Voucher Pulsa Grosir bagi 3,6 Juta Warung di Jawa

0

Surabaya, 24 November 2025 – Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) menjalin kemitraan strategis dengan PT Indogrosir untuk memperluas distribusi produk telekomunikasi sekaligus membuka peluang usaha baru bagi pelaku usaha kecil. Melalui kolaborasi ini, pemilik warung dan toko kelontong kini dapat memperoleh Box Grosir Voucher Pulsa IM3 berisi 10 voucher senilai Rp25 ribu yang dilengkapi bonus sembako, untuk dijual kembali ke konsumen.

Kolaborasi ini menjawab tantangan akses produk digital yang masih dihadapi lebih dari 3,6 juta warung dan toko kelontong di Indonesia. Program telah dijalankan di berbagai cabang Indogrosir di Jawa, termasuk Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Malang, Purwokerto, dan Solo.

Fahd Yudhanegoro, EVP-Head of Circle Java Indosat Ooredoo Hutchison, menegaskan komitmen perusahaan dalam memberdayakan pelaku usaha kecil. “Kami ingin para pelaku usaha ini dapat berpartisipasi lebih aktif dalam ekonomi digital sekaligus memberikan manfaat nyata bagi komunitas di sekitar mereka,” ujarnya.

Santoso Wibowo, Executive Director General Merchandising Indogrosir dan Indomaret, menyambut positif kemitraan ini. “Kehadiran IM3 di jaringan kami memudahkan anggota memperoleh stok produk digital dan memperluas layanan bagi pelanggan,” jelasnya.

Program ini turut dilengkapi berbagai promo menarik yang akan berlangsung hingga Desember 2025. Kehadiran produk IM3 dalam jaringan Indogrosir diharapkan dapat memperkuat konektivitas di tingkat komunitas sekaligus meningkatkan perputaran usaha warung lokal.

MYZE Hotel Sumenep Sukses Gelar Fun Run 5K, Dukung Gaya Hidup Sehat dan UMKM Lokal

0

Sumenep, November 2025 – MYZE Hotel Sumenep merayakan ulang tahun pertamanya dengan menyelenggarakan MYZE FUN RUN 5K yang sukses diikuti oleh 500 peserta dari berbagai kalangan pada Minggu pagi (23/11). Acara yang berkolaborasi dengan IndoRunners Sumenep ini tidak hanya mempromosikan gaya hidup sehat, tetapi juga mendukung perekonomian lokal melalui bazar UMKM.

Rute lari sepanjang 5 kilometer dilewati dengan meriah, didukung fasilitas lengkap seperti water station, tim medis, dan petugas keamanan. Seluruh peserta mendapat medal finisher, BIB Number, refreshment, serta voucher UMKM senilai Rp15.000 yang dapat digunakan di bazar yang diselenggarakan bersamaan.

General Manager MYZE Hotel Sumenep, Anndy Bramasto, menyampaikan apresiasi atas antusiasme masyarakat. “Kami sangat bersyukur acara ini berjalan lancar dan mendapat respons luar biasa. Ini menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan dengan masyarakat serta menghadirkan kegiatan positif yang bermanfaat,” ujarnya.

Bazar UMKM yang digelar turut menyemarakkan acara dengan menampilkan beragam produk lokal, mulai dari kuliner khas Sumenep hingga kerajinan tangan. Dukungan ini sejalan dengan komitmen MYZE Hotel Sumenep dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di daerah.

Kesuksesan acara ini tidak lepas dari kolaborasi dengan berbagai sponsor, komunitas, dan UMKM lokal. MYZE Hotel Sumenep berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan yang terus memberikan dampak positif bagi masyarakat Sumenep.

Video : Setidaknya 3 Tewas Akibat Serangan Kelompok Bersenjata di Markas Besar Pasukan Paramiliter Pakistan di Peshawar

EtIndonesia. Setidaknya tiga orang tewas setelah kelompok bersenjata menyerang markas besar pasukan paramiliter Pakistan di Peshawar pada hari Senin (24/11). Kompleks pertahanan, markas besar pasukan paramiliter kepolisian perbatasan, juga diserang oleh dua pelaku bom bunuh diri, lapor kantor berita Reuters, mengutip beberapa sumber.

Sumber mengatakan pelaku bom bunuh diri pertama melancarkan serangan di pintu masuk utama markas, sementara pelaku lainnya memasuki kompleks.

“Petugas penegak hukum, termasuk Tentara dan Polisi, telah menutup area tersebut dan menangani situasi dengan hati-hati, karena kami menduga ada beberapa teroris di dalam markas,” kata seorang pejabat senior kepada Reuters yang tidak disebutkan namanya.

Markas besar pasukan tersebut terletak di area yang ramai, dekat dengan barak militer.

Warga setempat di daerah tersebut mengatakan kepada kantor berita bahwa jalan menuju fasilitas pertahanan telah ditutup untuk lalu lintas dan ditutup oleh Tentara, Polisi, dan personel (keamanan).

Tak lama setelah serangan, beberapa video juga mulai beredar di media sosial, mengklaim bahwa ledakan terdengar di FC Chowk Main Sadar.

Video-video tersebut juga menunjukkan petugas keamanan terlibat dalam pertempuran dengan para teroris di dekat fasilitas tersebut. video-video tersebut belum dapat diverifikasi keaslian secara independen.

Awal tahun ini, setidaknya sepuluh orang tewas dan beberapa lainnya terluka dalam serangan teror serupa ketika sebuah bom mobil meledak di luar markas paramiliter di Quetta.(yn)

SD di Guangzhou, Tiongkok Diam-Diam Ambil Sampel Darah Anak Tanpa Izin Para Orangtua – Guru Menipu Anak dengan “Misi Rahasia”

EtIndonesia. Seiring meningkatnya perhatian publik terhadap isu pengambilan organ secara paksa oleh rezim Tiongkok, makin banyak orang tua di berbagai daerah menolak keras program pengambilan sampel darah di sekolah. Dalam situasi sensitif ini, sebuah sekolah dasar di Guangzhou kedapatan mengambil darah murid tanpa izin orang tua, dan hal tersebut langsung memicu ledakan kemarahan di media sosial.

Kasus ini terjadi di sebuah SD di Distrik Haizhu, Guangzhou. Dalam beberapa hari terakhir, insiden itu terus menjadi topik hangat dan menuai kritik luas dari publik.

Menurut laporan berbagai media Tiongkok, peristiwa itu terjadi pada 6 November 2025. Sekolah secara diam-diam mengambil sampel darah dari murid tanpa memberi tahu orang tua terlebih dahulu. Berdasarkan cerita para murid, wali kelas mengatakan kepada mereka bahwa ini adalah “misi rahasia”, dan mengancam bahwa bila mereka memberi tahu orang tua, mereka akan dikurangi poin “bunga merah” (reward kelas).

Setelah kasus ini terungkap, para orang tua mendatangi sekolah untuk menuntut penjelasan. Namun wali kelas terkait mematikan ponselnya dan tak bisa dihubungi. 

Pihak sekolah kemudian mengklaim bahwa pemeriksaan itu merupakan “instruksi terpadu dari dinas pendidikan setempat”, dan mengatakan kejadian ini mungkin akibat “kelalaian sebagian wali kelas yang tidak segera memberi tahu orang tua”.

Namun penjelasan tersebut tidak dipercaya banyak warganet, yang justru menduga sekolah sengaja menutupi informasi demi menyelesaikan tugas dari otoritas di atasnya.


Otoritas Pendidikan Janji Menyelidiki, tapi Hasilnya Tak Pernah Dipublikasikan

Keterangan foto: Komentar warganet daratan Tiongkok. (Cuplikan layar)

Dinas pendidikan setempat merespons dengan mengatakan bahwa pemeriksaan darah pada anak di bawah umur harus mendapatkan persetujuan wali, dan berjanji akan menyelidiki insiden ini.

Namun hingga kini hasil investigasi tidak pernah diumumkan, sementara diskusi publik terkait isu ini banyak yang disensor di internet.

Di tengah meningkatnya kesadaran tentang isu pengambilan organ, program “pemeriksaan darah gratis” di sekolah-sekolah semakin sering ditolak. Beberapa laporan menunjukkan bahwa saat hari pemeriksaan tiba, sejumlah sekolah mendapati murid-murid justru ramai-ramai izin tidak masuk.


Orang Tua Meluap Emosi: “Siapa pun yang ambil darah anak saya, saya habisi!”

Keterangan foto: Orang tua marah besar di grup WhatsApp/WeChat orang tua murid: “Siapa pun yang ambil darah anak saya, saya tebas!” (Cuplikan layar)

Meski pemeriksaan kesehatan berkala di sekolah secara resmi diwajibkan pemerintah, pada masa lalu banyak sekolah tidak terlalu serius menjalankannya. Namun beberapa tahun terakhir, bersamaan dengan kampanye penyuluhan “donor organ”, program pengambilan darah massal di sekolah malah semakin sering dilakukan—bahkan semakin ekstrem.

Ada orang tua yang mengungkapkan bahwa anaknya diambil dua tabung darah penuh, padahal pemeriksaan dasar biasanya hanya memerlukan sedikit sampel.

Kondisi ini memicu kecurigaan luas di masyarakat.

Di antara spekulasi publik:

• apakah pemeriksaan itu sebenarnya bertujuan untuk pencocokan organ,
• apakah ini bagian dari upaya elit politik Tiongkok untuk mengejar ambisi “hidup sampai usia 150 tahun”,
• atau bahkan apakah darah anak-anak digunakan untuk membuat produk kesehatan berharga tinggi bagi kalangan pejabat dan orang kaya.

Meskipun belum ada bukti resmi terkait tuduhan-tuduhan itu, fakta bahwa sekolah mengambil darah tanpa izin, ditambah sikap menutupi dan sensor internet, membuat publik semakin curiga dan marah. (jhon)

Hanya dengan Penuh Harapan, Kita Bisa Tak Terkalahkan

EtIndonesia. Setiap orang pasti melewati masa-masa sulit dalam hidup.  Mungkin itu malam-malam panjang penuh kecemasan dan tak bisa tidur. Mungkin itu usaha keras yang sudah menguras segalanya tetapi tetap tak berbuah hasil. Atau mungkin itu rasa menyesal, kehilangan, dan harapan yang tak terwujud.

Semua kegundahan itu sering tersembunyi dalam status yang kita unggah dan hapus dalam hitungan detik, dalam tangis yang tiba-tiba pecah, atau dalam runtuhan hati yang tak terlihat oleh siapa pun.

Banyak waktu, ketika hidup tampaknya sudah mulai membaik, ketika masalah seolah akan segera lewat, tiba-tiba muncul lagi hambatan kecil yang membuat kebahagiaan yang sudah nyaris kita genggam kembali menghilang.

Seakan-akan cobaan hidup tak pernah benar-benar selesai.

Ada sebuah kalimat bagus: “Tidak semua orang beruntung bisa hidup sesuai idealnya. Punya rumah dan mobil memang baik, tapi tidak punya pun jangan bersedih. Hargai apa yang sudah dimiliki sekarang, lalu bersama-sama kita berusaha menciptakan yang lebih baik.”

Semakin jauh perjalanan hidup kita, semakin kita menyadari bahwa dalam puluhan tahun umur ini, tidak ada hidup siapa pun yang selalu mulus. Setiap orang memikul beban dan kesedihan yang tidak diketahui orang lain.

Namun kapan pun itu, kita harus tetap melihat ke depan, tetap maju. Karena hanya orang yang penuh harapanlah yang bisa tak terbendung oleh apa pun.

Percayalah, dunia ini selalu menyimpan kehangatan yang tak terduga, menunggu kita di suatu tempat.

Mungkin itu hadir berupa sekumpulan teman yang sehati. Mungkin hadir dalam bentuk cinta yang manis dan kuat. Atau mungkin hanya sebuah malam yang tenang, milik kita sepenuhnya, tanpa beban.

Hal-hal kecil yang tampak biasa itulah yang sebenarnya membuat kita mampu menembus duri, melewati badai, dan terus melangkah menuju pemandangan yang lebih indah.

Jadi kalau kamu merasa tak sanggup lagi… bertahanlah sedikit saja. Selangkah lagi, kamu mungkin sedang menuju titik balik.

Hidup memang tidak selalu baik, tapi juga tidak seburuk yang kita bayangkan. Ketika keadaan sudah benar-benar sampai titik terendah, dia pasti berputar naik.

Jangan takut.  Kita memang tidak mungkin memiliki segalanya, tetapi kita juga tidak akan benar-benar kehilangan semuanya.

Apa pun yang terjadi kemarin—baik atau buruk—semua sudah berlalu.

Kemarin seindah apa pun, kita tak perlu terpaku. Kemarin seburuk apa pun, kita juga tak perlu terus bersedih.

Jangan terus tinggal dalam bayang-bayang masa lalu. Bagaimanapun juga, matahari kemarin tidak akan bisa mengeringkan pakaian hari ini.

Berdamailah dengan apa yang sudah lewat. Sambut hari esok dengan hati yang terang.

Hiduplah dengan baik, satu hari pada satu waktu.

Kalau hidup terasa terlalu menekan, istirahatlah sejenak. Kalau akhir-akhir ini kamu sangat lelah, beri tubuh dan pikiranmu waktu untuk rileks. Kalau hubungan sedang bermasalah, pikirkan bagaimana menyelesaikannya dengan tenang.

Selama hati kita berada dalam kondisi baik, apa pun masalah yang muncul sebenarnya masih bisa dihadapi.

Jangan pesimis. Hadapilah semuanya dengan optimis.

Ada satu kalimat indah: “Jika kamu menangis karena kehilangan bulan, kamu juga akan melewatkan bintang-bintang.”

Terimalah ujian yang diberikan hidup. Terimalah bahwa hidup dan diri kita tidak sempurna. Jika ada kondisi yang bisa diubah, ubahlah ke arah yang lebih baik. Jika ada yang tidak bisa diterima dan tidak bisa diubah, lepaskan. Beri dirimu ruang untuk pergi, untuk beristirahat, untuk memaafkan diri sendiri.

Dan di kota asing mana pun kamu berada, semoga kamu bisa merawat diri dengan baik. Segalanya pasti akan membaik. Percayalah.(jhn/yn)

Cara Hidup Terbaik di Paruh Kedua Usia: Jangan Terjebak dengan Orang dan Hal yang Merusak

EtIndonesia. Kemarin aku membaca sebuah kisah singkat yang cukup menarik. Ada dua orang yang sedang bertengkar hebat. Satu orang bersikeras bahwa 3×8 = 24, sementara yang satu lagi ngotot bahwa 3×8 = 21.

Mereka ribut setengah hari, tapi tetap tak menemukan titik temu. Akhirnya mereka pun pergi ke kantor pejabat daerah untuk meminta keadilan.

Pejabat itu mendengar cerita keduanya. Setelah memahami situasi, dia langsung memerintahkan bawahannya untuk menarik keluar dan menghukum orang yang bilang 3×8 = 24 dengan dua puluh kali cambuk. Orang itu tentu saja tak terima. 

Setelah hukuman selesai, ia bertanya dengan marah: “Jelas-jelas dia yang salah dan dia yang bodoh, kenapa justru saya yang dipukul?”

Pejabat itu menjawab tenang: “Kamu bisa bertengkar setengah hari dengan orang yang bilang 3×8 = 21… kalau aku tidak menghukummu, mau menghukum siapa?”

Kisah ini sederhana, tapi kita semua, pada banyak momen dalam hidup, tanpa sadar sering memainkan peran sebagai orang pertama yang dipukul.

Kita terlalu sering menghabiskan waktu dan emosi untuk orang yang tidak layak, dan terjebak dalam hal-hal yang hanya merusak hidup.

Apa Itu Kedewasaan?

Kita sering mengatakan bahwa seseorang harus menjadi matang dan dewasa.  Tapi apa sebenarnya arti “dewasa”?

Menurutku, dewasa berarti: berjumpa dengan orang buruk tapi tetap tidak terprovokasi; berhadapan dengan perkara buruk tapi tidak tenggelam di dalamnya.

Kedengarannya sederhana, tapi kenyataannya sangat sedikit orang yang benar-benar bisa melakukannya.

Harga Mahal dari Sikap Tidak Dewasa

Terakhir kali aku pergi ke rumah sakit adalah dua bulan lalu, menjenguk seorang teman, sebut saja Lao Chen.

Dia dan beberapa teman sedang makan di restoran. Di meja sebelah duduk beberapa orang mabuk—berisik, bernyanyi, menari, dan beberapa kali tanpa sengaja menyiramkan minuman ke baju Lao Chen.

Lao Chen menegur dengan sopan, mengingatkan mereka bahwa ini tempat umum.

Tapi yang terjadi justru debat sengit. Dan karena mereka sedang tinggi alkohol, pertengkaran mulut berubah menjadi perkelahian. Lao Chen terkena botol kaca di lehernya.

Untungnya arteri tidak robek dan nyawanya selamat, tapi dia tetap babak belur dan wajahnya bengkak seperti “kepala babi”.

Aku hanya bisa berkata:  “Kamu pantas, untuk apa berdebat dengan segerombolan orang rusak seperti itu?”

Lao Chen mengakui bahwa dia menyesal. Dia tahu orang-orang itu tidak mungkin mendengar tegurannya.

Tapi nasi sudah menjadi bubur. Dia harus dirawat lebih dari dua minggu, kehilangan bonus bulanan, kehilangan dua klien, bahkan pernikahannya pun ikut tertunda.

Itulah harga dari sikap tidak dewasa:  kerugian besar karena memilih berhadapan dengan orang yang tidak selevel.

Dengan Orang Rusak, Kamu Tidak Akan Pernah Menang

Di dunia ini, orang baik dan orang yang paham aturan tentu ada. Tapi orang yang rusak pun tidak sedikit.

Masalahnya, kamu tidak mungkin bisa mengajak mereka bicara logika. Karena bagi mereka, tidak ada batas, tidak ada aturan, tidak ada akal sehat.

Bukan berarti kamu harus “mengalah pada orang buruk”, bukan. Yang penting adalah mengendalikan emosimu, memilih respons yang rasional, dan tidak memperbesar kerugianmu sendiri.

Orang dewasa melihat konsekuensi, bukan hanya ledakan emosi sesaat.

Di Tempat Kerja, Orang Buruk Selalu Ada

Seorang pembaca pernah bercerita. Ia punya rekan kerja yang sangat licik. Ketika melihat ia disukai atasan, rekan itu terus menjebaknya dan menghambat pekerjaannya.

Aku bilang padanya: Di dunia profesional, orang seperti itu banyak. Justru karena kamu lebih baik, ia merasa terancam.

Yang harus kamu lakukan adalah: tetap memperkuat diri waspada terhadap serangan diam-dia, tapi jangan habiskan waktumu untuk meladeni dia, sebab jika kamu beradu dengan orang buruk, hasilnya hanya dua:

Kamu menang, tapi menghabiskan waktu, energi, reputasi, emosi—dan tetap rugi.

Kamu kalah, dan malah mendapat masalah tambahan.

Dua-duanya rugi. Pada akhirnya, kamu tetap bukan pemenang.

Efek Domino dari Masalah Kecil

Ada sebuah kisah yang terkenal. Seorang pria sedang mencuci muka. Dia meletakkan jam tangan mahalnya di tepi wastafel. Istrinya khawatir jam itu kena air, maka dia pindahkan jam itu ke meja makan.

Anak mereka bangun pagi, mengambil roti di meja makan, tanpa sengaja merusakkan jam tersebut.

Pria itu marah, memukul anaknya. Lalu dia juga memarahi istrinya. Pertengkaran membesar dan dia pergi ke kantor dalam keadaan emosi.

Karena tergesa-gesa, dia baru sadar sesampainya di kantor bahwa dia melupakan tas kerjanya. Dia pulang lagi. Tapi istrinya tak ada dan dia tak membawa kunci.

Dia menelepon istrinya. Istrinya terburu-buru pulang, tapi di jalan menabrak lapak buah, sehingga harus mengganti rugi.

Akhirnya pria itu tiba di kantor terlambat 15 menit, dimarahi atasan, dan karena moodnya sudah kacau, dia bertengkar lagi dengan rekan kerja.

Anaknya hari itu mengikuti lomba baseball. Karena kejadian pagi hari, dia tidak fokus dan akhirnya tersingkir.

Inilah yang disebut “Hukum Festinger.”

Banyak hal buruk sebenarnya bisa dihindari, tetapi karena kita menggandakan masalah kecil, hidup menjadi jauh lebih buruk.

Kalau saja pria itu tidak terpaku pada jam tangan yang rusak, seluruh rangkaian masalah tidak akan terjadi.

Itulah alasan mengapa kita tidak boleh tenggelam dalam hal-hal sepele yang merusak. Orang dewasa selalu melihat akhir, bukan awal masalahnya.

Berhenti Tepat Waktu adalah Sebuah Kecerdasan

Prof. Yi Zhongtian pernah berkata: “Jika hidupmu melaju ke arah yang salah, berhenti saja. Itu sudah merupakan sebuah kemajuan.”

Itulah yang disebut menghentikan kerugian tepat waktu. Dan berhenti mengutak-atik masalah yang sudah buruk, juga merupakan bentuk berhenti rugi.

Jika masalah sudah terjadi, fokuslah pada solusi, bukan pada emosi. Membiarkan diri terseret oleh perasaan negatif bukanlah ciri orang yang matang.

Dalam hidup, keberhasilan dan kegagalan, kebahagiaan dan kesedihan, semuanya sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara kita menghadapi orang dan peristiwa.

Hal yang sama, ketika ditangani dengan sikap yang berbeda, bisa menghasilkan hasil yang jauh bertolak belakang.

Kamu Mau Berdebat atau Mau Maju?

Kamu bisa memilih: terus berdebat dengan orang yang ngotot bahwa 3×8 = 21, atau memilih tersenyum, melangkah pergi, dan melakukan hal yang lebih penting.

Pilihan itu sepenuhnya ada di tanganmu.

Jadilah orang yang matang.  Karena itu menentukan apakah hidupmu akan berkualitas atau tidak.

Hidup ini singkat.  Belajarlah hidup dengan prinsip:“Bersainglah dengan orang baik untuk jadi lebih baik, tapi jangan biarkan orang bodoh menarikmu ke bawah.”

Kamu tidak bisa mengubah sifat orang buruk,tidak bisa memperbaiki akhir dari hal buruk, tapi kamu bisa mengubah sikapmu sendiri.

Dan di paruh kedua hidup ini— tidak terpancing, tidak terjebak, tidak mengulur masalah—itulah cara hidup yang paling elegan dan paling tinggi nilainya. (jhn/yn)

【Jurnal Mingguan】Jaringan Agen Global Tiongkok Terbongkar – Dunia Internasional Meningkatkan Kewaspadaan

Dalam beberapa waktu terakhir, keberadaan mata-mata dan agen yang direkrut Tiongkok di berbagai negara mulai terungkap satu per satu. FBI menemukan banyak bukti bahwa Sun Wen atau Linda Sun mantan wakil kepala staf kantor Gubernur New York, telah disuap oleh Tiongkok. Di California, seorang warga keturunan Tionghoa yang membantu Tiongkok mencuri teknologi militer telah mengaku bersalah. Sementara itu, pemerintah Taiwan juga menemukan bahwa enam pensiunan militer telah direkrut oleh Tiongkok. 

Kasus mata-mata Tiongkok yang menyamar sebagai perusahaan perekrutan internasional untuk menjaring pegawai pemerintah juga bermunculan. Rangkaian insiden ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari rencana infiltrasi jangka panjang yang kini memicu kewaspadaan dunia.

Etindonesia. Laporan lembaga riset Amerika, AidData (bagian dari College of William & Mary), sejak tahun 2000 nilai proyek investasi Tiongkok di luar negeri telah mencapai 2,1 triliun dolar AS, hampir seimbang antara negara maju dan negara berkembang.

BBC sebelumnya juga pernah melaporkan bahwa nilai investasi Tiongkok di perusahaan-perusahaan Inggris mencapai 58,57 miliar dolar AS, namun banyak pihak menilai investasi itu memiliki tujuan tersembunyi.

Ron Black, mantan CEO perusahaan desain semikonduktor Inggris Imagination Technologies, baru-baru ini mengungkapkan bahwa pada tahun 2019 ia pernah diminta untuk mentransfer teknologi militer ke Tiongkok. Setelah ia menolak dan mengundurkan diri, Tiongkok tetap berhasil memperoleh teknologi penting tersebut.

Beberapa tahun sebelumnya, empat bank milik negara Tiongkok memberikan pinjaman 1,2 miliar dolar AS kepada Fosun Group untuk membeli Wright USA, sebuah perusahaan asuransi khusus untuk agen FBI dan CIA.

Pada 3 September 2024 sore, Sun Wen atau Linda Sun mantan wakil kepala staf Gubernur New York, didakwa sebagai agen rezim Tiongkok, dan dibebaskan dengan uang jaminan sebesar 1,5 juta dolar AS. (Foto: Huang Xiaotang / The Epoch Times)

Kasus ini membuat Presiden Donald Trump pada masa jabatan pertamanya segera memperketat proses pemeriksaan investasi asing. Pada masa jabatan keduanya, ia menandatangani memorandum “America First Investment Policy” yang memerintahkan CFIUS memperluas pembatasan terhadap investasi Tiongkok di sektor strategis AS.

Namun Tiongkok tidak hanya berinvestasi pada perusahaan. Melalui warga keturunan Tionghoa, mereka juga melakukan pembelian besar-besaran tanah di Amerika Serikat.

Pada tahun 2024, sebuah perusahaan penambang kripto yang dikendalikan Tiongkok membeli lahan di sekitar pangkalan rudal nuklir di Wyoming.

Sepasang suami-istri keturunan Tionghoa juga membeli taman terbengkalai di dekat pangkalan pesawat pembom siluman B-2, sebuah wilayah terpencil yang tidak memiliki nilai komersial.

Jurnalis investigasi The Daily Caller, Philip Lenczycki, menjelaskan: “Sang istri pernah menjadi anggota dewan sebuah perusahaan investasi di Vancouver, memiliki banyak hubungan dengan Tiongkok, pernah bekerja sama dengan BUMN, dan jajaran pemimpinnya juga berisi anggota Partai Komunis serta pejabat pemerintah Tiongkok.”

Seiring Arkansas dan Missouri mengeluarkan larangan pembelian tanah oleh perusahaan Tiongkok, anggota Kongres AS juga mendorong undang-undang nasional. Pada Juli 2025, pemerintahan Trump mengumumkan larangan bagi warga negara Tiongkok dan negara musuh lainnya membeli lahan pertanian di Amerika Serikat.

Tidak bisa membeli tanah? Tiongkok masih bisa menyusup melalui produk buatan mereka.

Perusahaan transportasi publik Norwegia, Ruter, minggu ini mengumumkan hasil pengujian bahwa bus listrik raksasa buatan Yutong (Tiongkok) ternyata bisa dikendalikan dari jarak jauh melalui perangkat lunak yang dapat diperbarui tanpa izin. Denmark dan Inggris kini mengikuti langkah serupa dan memulai pengujian.

Bukan hanya bus — robot penyedot debu buatan Tiongkok dilaporkan menayangkan berita Tiongkok di rumah warga Taiwan, sementara di rumah seorang pengacara AS robot yang sama mengucapkan makian. Hal ini menunjukkan bahwa produk Tiongkok berpotensi berfungsi sebagai alat pemantauan terselubung.

Namun metode infiltrasi paling tersembunyi tetap melalui warga keturunan Tionghoa.

Sun Wen, mantan pejabat tinggi di New York, tidak hanya menghambat kegiatan diplomatik Taiwan, tetapi juga memalsukan dokumen untuk menjadikan masker buatan kerabatnya sebagai pemasok eksklusif untuk negara bagian New York. Ia juga rutin melaporkan berbagai situasi kepada Tiongkok. Bahkan ketika Tiongkok mengadakan perayaan 70 tahun berdirinya rezim komunis, ia mendapat undangan kehormatan. Persidangannya masih berlangsung dan diperkirakan berlangsung hingga pertengahan Desember.

Di Taiwan, kasus pengkhianatan juga meningkat. Dari Januari hingga September tahun ini saja, 24 orang telah dituntut dalam kasus spionase Tiongkok.

Menteri Pertahanan Taiwan, Chiu Kuo-cheng, menegaskan: “Infiltrasi Tiongkok terhadap Taiwan berlangsung tanpa henti. Dari semua ini kita bisa memahami betapa serius ancaman yang kita hadapi.”

Minggu ini, Taiwan kembali mengungkap enam personel militer aktif dan pensiunan yang dituduh mengumpulkan informasi rahasia untuk Tiongkok. Selain itu, seorang anggota Komite Urusan Etnis dan Luar Negeri Kota Changsha, Ding Xiaohu, juga didakwa karena menggunakan kedok “pertukaran budaya agama” untuk merekrut tentara Taiwan dan membentuk jaringan mata-mata.

Pada 18 November, badan intelijen Inggris MI5 memperingatkan bahwa agen Tiongkok sedang gencar mendekati pegawai pemerintah dan anggota parlemen untuk memperoleh informasi sensitif Inggris. Diperkirakan 10.000 warga Inggris telah menjadi target pendekatan. 

Menteri Keamanan Inggris, Dan Jarvis, segera mengumumkan langkah-langkah baru untuk menghadapi infiltrasi tersebut dan menegaskan bahwa Inggris memiliki nol toleransi terhadap campur tangan politik oleh Tiongkok.

Taylor Hawthorne, peneliti tamu di American Safety Security Center, memperingatkan: “Amerika harus segera sadar bahwa Tiongkok adalah musuh kita. Jika AS terus menenangkan mereka tanpa menyatakan sikap tegas, pada akhirnya Amerika akan kalah dalam perang ini.” (jhon/asr)

21 Tahun Penerbitan Buku “Sembilan Komentar”, Gelombang Kesadaran Publik Meningkat Pesat – Gerakan “Tiga Pengunduran Diri” Semakin Menguat

EtIndonesia. Tanggal 19 November 2025 menandai 21 tahun sejak terbitnya editorial “Sembilan Komentar mengenai Partai Komunis” yang dipublikasikan oleh Epoch Times. Buku tersebut secara jelas menyimpulkan perjalanan panjang gerakan komunisme internasional sepanjang lebih dari satu abad, terutama menyingkap sejarah kelam serta sifat jahat Partai Komunis Tiongkok.

Sejak dirilis pada 2004, “Sembilan Komentar” memicu gelombang besar masyarakat Tiongkok yang keluar dari keanggotaan Partai Komunis Tiongkok (PKT), Liga Pemuda, dan Pionir Muda—yang dikenal sebagai “tiga pengunduran diri” (三退) (San Tui).  Gerakan ini dipuji sebagai kebangkitan kesadaran spiritual terbesar masyarakat Tiongkok.

Hingga 18 November 2025, jumlah total orang yang melakukan “tiga pengunduran diri” di seluruh dunia mencapai sekitar 455 juta orang (454.576.390).


Awal Mula: Penerbitan “Sembilan Komentar” Tahun 2004

Sejak 19 November 2004, Epoch Times menerbitkan editorial berjudul “Sembilan Komentar mengenai Partai Komunis”, yang menyingkap sejarah tindakan represif dan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok.

Pada 13 Januari 2005, Epoch Times menerbitkan “Pernyataan Resmi”, yang mengatakan: “Akhir dari Partai Komunis sudah dekat. Namun partai jahat ini telah melakukan dosa besar terhadap umat manusia dan para dewa. Ketika hari perhitungan tiba, mereka yang masih berpegang teguh pada partai akan ikut terseret dalam hukuman sejarah.”

Pernyataan itu menyerukan agar siapa pun yang pernah bergabung dengan organisasi di bawah Partai Komunis segera mengundurkan diri, sehingga tidak ikut terseret dalam apa yang mereka sebut sebagai “pembalasan historis”.

Seruan ini memicu gerakan global ‘tiga pengunduran diri’ di kalangan warga Tiongkok di berbagai negara.


Seruan dan Pesan Para Aktivis

Ketua Pusat Global Pelayanan Pengunduran Diri dari PKT, Wang Zhiyuan, menyampaikan: “Sebelum Partai Komunis Tiongkok dihancurkan oleh langit, mereka yang sudah keluar tidak akan ikut menjadi korban. Ketika sejarah mengadili kejahatan PKT, mereka yang telah mundur tidak akan terseret dan akan memberi masa depan cerah bagi diri dan keluarga.”

Menurut pusat pelayanan tersebut, dari Januari hingga Oktober tahun ini, jumlah masyarakat yang secara nyata mendaftarkan diri untuk menerima sertifikat “tiga pengunduran diri” meningkat 32,2% dibanding tahun sebelumnya.

Hingga 19 November 2025, jumlah orang yang secara terbuka menyatakan keluar dari organisasi PKT di situs Epoch Times mencapai 454.614.803 orang.


Pengalaman Pribadi Masyarakat: Kesadaran yang Tumbuh

• Liu Tianhao dari Fuzhou, Jiangxi, dalam pernyataannya pada 14 November, mengaku pernah menjadi “tangan kotor” rezim komunis. Setelah bisa menembus tembok sensor dan mengetahui fakta sebenarnya, ia sangat menyesal. Liu bahkan mencetak “Sembilan Komentar” dan membagikannya di sekolah, berharap dapat “mengurangi dosa”.

• Pada 17 November, Gao Jingxian dan 27 warga lainnya menyatakan bahwa setelah membaca “Sembilan Komentar”, mereka baru memahami betapa besar kejahatan historis yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok terhadap rakyat, dan bahwa “Tuhan pasti akan mengadili kejahatan partai tersebut”. Mereka dengan tegas menyatakan keluar dari semua organisasi di bawah PKT.

Ketua Pusat Pengunduran Diri, Wang Zhiyuan, mengatakan bahwa keputusan warga Tiongkok untuk keluar dari partai merupakan aksi terbesar atas nama hati nurani dalam sejarah modern.

Wang juga menambahkan: “Mereka menganggap sertifikat pengunduran diri sebagai benda bersejarah yang sangat berharga—bukti bahwa di tengah zaman gelap mereka memilih keberanian, moralitas, dan berdiri di sisi yang benar.”


Dukungan dan Sikap Internasional

Kesadaran global mengenai ancaman Partai Komunis Tiongkok juga terus meningkat. Pada 7 November, bertepatan dengan “Hari Peringatan Korban Komunisme”, Presiden AS Donald Trump menetapkan tanggal 2–8 November sebagai “Anti-Communism Week”.

Pernyataan resmi Gedung Putih menegaskan: “Negara ini berkomitmen untuk melawan komunisme, membela kebebasan dan nilai-nilai kemanusiaan. Tidak satu pun sistem pemerintahan yang dapat menggantikan kebebasan moral dan kehendak manusia.”

Ketua Komisi Eksekutif Kongres AS untuk Tiongkok (CECC), Chris Smith, mengatakan kepada praktisi Falun Gong dan relawan “tiga pengunduran diri”: “Saya terinspirasi oleh keberanian kalian dan sedih melihat penindasan yang kalian alami. Mengapa rezim komunis takut pada kebaikan dan tindakan moral? Ini tidak masuk akal. Rezim diktator melakukan apa saja semaunya, dan kita harus berani melawannya.”


Relawan Lapangan: Mengajak Orang untuk Keluar dari PKT

Praktisi Falun Gong, Shi Lijun, selama bertahun-tahun menjadi relawan “tiga pengunduran diri”—baik dengan berbicara langsung kepada wisatawan maupun menelepon masyarakat di daratan Tiongkok.

Ia mengatakan: “Saya berharap mereka yang belum melakukan ‘tiga pengunduran diri’ segera sadar dan melihat kejahatan Partai Komunis. Partai tidak ingin rakyat Tiongkok pintar—mereka ingin rakyat tidak punya kemampuan berpikir agar mudah dikendalikan. Saya berharap kalian segera bangun dan memiliki masa depan yang baik.”


Pengaruh Internasional “Sembilan Komentar”

“Sembilan Komentar mengenai Partai Komunis” kini telah diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa, termasuk Inggris, Indonesia, Jepang, Jerman, Prancis, Korea, Rusia, Spanyol, Vietnam, dan Italia.

Buku ini tersebar luas di daratan Tiongkok, Hong Kong, Makau, Taiwan, serta komunitas Tionghoa di seluruh dunia—menjadi salah satu karya paling berpengaruh dalam mengenalkan hakikat Partai Komunis Tiongkok kepada publik internasional. (jhon/asr)