Tes Rambut Sederhana Dapat Mengidentifikasi Anak-Anak dengan Risiko Tertinggi Mengalami Depresi dan Kecemasan

Para ilmuwan mengembangkan tes sederhana untuk mendeteksi masalah kesehatan mental sebelum terjadi

George Citroner

Mengukur tingkat stres melalui sampel rambut dapat memberikan petunjuk penting tentang risiko kesehatan mental pada anak-anak yang hidup dengan penyakit fisik kronis, menurut hasil penelitian terbaru.

“Kortisol dalam rambut menawarkan penanda biologis yang non-invasif dan mudah dikumpulkan, yang suatu hari nanti dapat digunakan untuk menyaring anak-anak serta memantau apakah pengobatan atau program dukungan benar-benar membantu mengurangi stres,” kata Mark Ferro, profesor di School of Public Health Sciences, Universitas Waterloo, dalam siaran persnya.

Diperkirakan 40 persen anak-anak di Kanada hidup dengan penyakit fisik kronis (chronic physical illness, CPI)—angka yang meningkat dalam beberapa dekade terakhir.

Anak-anak dengan kadar kortisol lebih tinggi cenderung mengalami masalah kesehatan mental dengan tingkat antara 20 hingga 50 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan anak-anak sehat, catat para peneliti. Kondisi tersebut dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup, munculnya pikiran untuk bunuh diri, serta peningkatan penggunaan layanan kesehatan.


Penyakit Kronis Terkait dengan Gangguan Kesehatan Mental

Penelitian yang diterbitkan tahun ini dalam jurnal Stress and Health menelusuri 244 anak Kanada dengan penyakit fisik kronis selama empat tahun. Para peneliti menggunakan kortisol rambut—penanda biologis yang mencerminkan stres dari waktu ke waktu—untuk mengukur tingkat stres.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari dua pertiga anak memiliki kadar kortisol yang terus-menerus tinggi.

Saat membandingkan pola stres tersebut dengan laporan kesulitan emosional dan perilaku, para ilmuwan menemukan bahwa anak-anak yang kadar kortisolnya menurun menunjukkan lebih sedikit gejala kecemasan, depresi, dan masalah perilaku dibandingkan mereka yang kadarnya tetap tinggi.


Mengapa Tes Rambut Penting

Berbeda dengan metode penyaringan saat ini yang bergantung pada penilaian perilaku setelah masalah muncul, tes kortisol rambut dapat mengidentifikasi anak-anak berisiko jauh lebih awal.

Hormon kortisol menumpuk di rambut selama berbulan-bulan, sehingga memberikan gambaran jangka panjang tentang tingkat stres yang tidak dapat diukur oleh tes darah atau air liur.

Menurut para peneliti, temuan ini dapat membantu mengembangkan strategi pencegahan dan pengobatan untuk mendukung kesejahteraan anak-anak secara lebih efektif.

“Temuan kami menunjukkan bahwa stres kronis yang terukur melalui sampel rambut dapat membantu mengidentifikasi anak-anak dengan CPI yang berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan mental. Ini membuka peluang untuk dukungan yang lebih dini dan terarah,” kata Emma Littler, kandidat doktoral di bidang ilmu kesehatan masyarakat Universitas Waterloo, sekaligus penulis utama studi tersebut.


Bagaimana Tes Ini Bekerja

Saat rambut tumbuh, kortisol dari aliran darah serta dari sekresi keringat dan kelenjar minyak tertanam di batang rambut.

Rambut manusia di kulit kepala biasanya tumbuh dengan kecepatan sekitar 1 sentimeter per bulan, sehingga setiap potongan sepanjang 1 cm mencerminkan tingkat stres rata-rata selama bulan tersebut.

Untuk menciptakan rekam jejak kadar kortisol, rambut sering dibagi menjadi beberapa segmen. Misalnya, sampel rambut sepanjang 3 cm dapat dibagi menjadi tiga segmen, masing-masing mewakili satu bulan.

Dalam analisis laboratorium, rambut terlebih dahulu dicuci untuk menghilangkan kontaminan luar, kemudian dihancurkan dan direndam dalam pelarut seperti metanol untuk mengekstrak hormon kortisol.

Hormon yang diekstraksi kemudian diukur dengan teknik sensitif seperti enzyme-linked immunoassay (ELISA) atau liquid chromatography–mass spectrometry (LC–MS). Hasilnya dinyatakan sebagai jumlah kortisol per miligram rambut (biasanya dalam pikogram per miligram).


Pendapat Ahli

Dr. Molly McVoy, profesor psikiatri di Case Western Reserve University School of Medicine, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mencatat bahwa gangguan kecemasan dan suasana hati seperti depresi paling sering dikaitkan dengan penyakit medis kronis.

Ia menjelaskan bahwa perubahan kadar kortisol merupakan tanda bahwa seorang anak berisiko lebih tinggi mengalami gangguan kecemasan atau suasana hati.


Tanda-Tanda Peringatan yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Dr. McVoy menyebutkan beberapa tanda atau gejala yang perlu diperhatikan orang tua pada anak-anak yang mungkin mengalami stres tinggi atau memiliki masalah kesehatan mental.

“Saya sarankan orang tua memikirkan apa yang seharusnya bisa dilakukan anak seusianya,” ujarnya. “Apakah mereka bisa melakukannya? Jika tidak, kita perlu bertanya apa yang menjadi penghalangnya.”

Sebagai contoh, anak usia sekolah yang kesulitan belajar, sulit berteman, atau tidak menikmati kegiatan yang biasanya menyenangkan—serta remaja yang kurang berinteraksi dengan teman sebaya—dapat menunjukkan tanda-tanda stres atau masalah mental.

Tanda lain termasuk gangguan pola tidur (bukan karena perangkat elektronik), atau ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas sesuai usianya.


Cara Mengurangi Stres pada Anak

Dr. McVoy menekankan bahwa anak-anak dengan penyakit kronis perlu menjalani kehidupan yang senormal mungkin, sambil tetap mempertimbangkan kebutuhan khusus mereka.

Yang Sebaiknya Dilakukan:

  • Bantu anak tetap bersekolah secara teratur bila memungkinkan.
  • Dorong mereka untuk berpartisipasi dalam olahraga atau kegiatan yang mampu mereka jalani.
  • Fasilitasi waktu bersama teman-teman.
  • Pertahankan rutinitas tidur dan aktivitas fisik yang sehat.

Yang Sebaiknya Dihindari:

  • Menghapus semua harapan yang biasanya diberikan kepada anak sehat.
  • Terlalu memanjakan atau membuat hidup mereka terlalu mudah.
  • Memperlakukan mereka secara berbeda hingga membuat mereka merasa terpisah dari teman-temannya.

McVoy menjelaskan bahwa banyak orang tua terlalu berlebihan dalam memperlakukan anak yang sakit kronis, dengan menghapus semua ekspektasi normal. Namun, hal itu justru dapat meningkatkan stres dan membuat anak merasa terisolasi secara sosial.

Insiden Mengejutkan di Kedai Mie Tiongkok: Seorang Wanita Menumpahkan Semangkuk Mie Panas ke Kepala Pria

Baru-baru ini, di sebuah kedai mie di Hangzhou, Tiongkok, terjadi peristiwa mengejutkan: seorang wanita dan pria terlibat adu mulut, lalu wanita itu langsung menumpahkan semangkuk mie panas ke kepala pria tersebut. Insiden itu pun segera berubah menjadi perkelahian fisik dan menimbulkan perdebatan hangat di internet.

EtIndonesia. Video yang beredar menunjukkan bahwa pada 19 Oktober di sebuah kedai  mie di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok, seorang wanita muda sedang makan ketika terjadi pertengkaran dengan pria yang duduk di belakangnya. Sang pria mengeluh bahwa wanita itu mengambil tempat duduk untuk dua orang, sementara wanita tersebut menuduh pria itu yang terlalu mendesak ke arahnya.

Dalam tengah-tengah pertengkaran itu, wanita tersebut tiba-tiba berdiri dan dengan keras menumpahkan semangkuk mie panas ke kepala pria itu. Teman pria tersebut yang makan bersamanya langsung membalas, dan ketiganya pun saling memukul hingga perkelahian berlanjut ke luar rumah makan.

Video berikutnya memperlihatkan wanita itu berlari keluar rumah mie, sementara pria yang terkena mie panas kembali masuk ke dalam. Beberapa orang baik hati membantu mengelap kepala dan tubuhnya yang terkena kuah mie panas.

Aksi wanita yang menumpahkan mie panas ke kepala pria itu memicu perdebatan di media sosial. Sejumlah warganet berkomentar:

  • “Wanita itu yang duluan menyerang, pria itu membela diri.”
  • “Dia mencoba kabur tapi gagal, rupanya tahu dirinya bakal dibalas.”
  • “Perilaku wanita itu benar-benar buruk, tak bisa ditoleransi.”

Insiden seperti ini bukan yang pertama di Tiongkok. Pada 5 Maret 2023, di sebuah kedai mie di Guangzhou, seorang pria setelah selesai makan tiba-tiba menuangkan semangkuk sisa kuah mie ke kepala seorang wanita muda yang duduk di meja sebelah. Lalu melarikan diri dengan cepat. Karena kejadiannya mendadak, wanita itu menjerit ketakutan, sementara para pelanggan lain di rumah makan ikut terkejut. Pemilik rumah makan segera melapor ke polisi.

Berdasarkan rekaman kamera pengawas, pelaku akhirnya berhasil ditangkap. 

Menurut laporan, pria tersebut mengenal korban, tetapi mereka tidak terlibat pertengkaran apapun sebelum kejadian. Tindakan buruk pria itu menuai kecaman luas dari para warganet. (Hui/asr)

oleh Luo Tingting /  Wen Hui

Pasukan Ukraina Menyerang Pabrik Kimia Bryansk dengan Rudal Storm Shadow dan Rudal Lainnya

EtIndonesia. Angkatan Pertahanan Ukraina menyerang pabrik kimia Bryansk dengan rudal, menurut Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina.

Staf Umum melaporkan bahwa pasukan Ukraina terus menyerang sasaran strategis kompleks industri militer Rusia, sehingga melemahkan potensi ofensif tentara Rusia.

“Pada 21 Oktober 2025, Angkatan Udara Ukraina, berkoordinasi dengan Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan komponen lain dari Angkatan Pertahanan Ukraina, menyerang pabrik kimia Bryansk,” demikian pernyataan tersebut.

Staf Umum menambahkan bahwa serangan gabungan rudal dan udara besar-besaran tersebut mencakup penggunaan rudal Storm Shadow yang diluncurkan dari udara, yang berhasil menembus sistem pertahanan udara Rusia.

Hasil serangan saat ini sedang diverifikasi.

Sebelumnya, media sosial Rusia melaporkan bahwa Ukraina telah meluncurkan pesawat untuk serangan rudal di wilayah Rusia, khususnya yang menargetkan wilayah Bryansk.

Staf Umum mencatat bahwa pabrik kimia Bryansk merupakan elemen kunci industri pertahanan Rusia. Fasilitas ini memproduksi bubuk mesiu, bahan peledak, dan komponen bahan bakar roket, termasuk bahan yang digunakan untuk amunisi dan rudal yang digunakan dalam serangan Rusia di Ukraina.

Serangan di wilayah Bryansk

Wilayah Bryansk sering diserang oleh pesawat nirawak tak dikenal dan senjata lainnya dalam beberapa minggu terakhir.

Misalnya, pada malam tanggal 6 Oktober, sumber-sumber Rusia melaporkan kebakaran besar di gardu induk pembangkit listrik termal di Kota Klintsy. Warga kemudian melaporkan pemadaman listrik dan mengklaim fasilitas tersebut telah terkena serangan rudal.

Baru-baru ini, pada tanggal 19 Oktober, anggota gerakan partisan ATESH menghancurkan sistem komando dan kendali Rusia di wilayah perbatasan Bryansk.

Menurut kelompok tersebut, sebuah menara komunikasi yang digunakan untuk mengoordinasikan pasukan pendudukan dan unit perbatasan dinonaktifkan dalam operasi tersebut. (yn)

Penelitian Terbaru Peringatkan: Minuman Manis Tambahan Mempercepat Penyebaran Kanker Usus

EtIndonesia. Sebuah studi yang diterbitkan pada September lalu di jurnal Nature Metabolism mengungkapkan bahwa konsumsi minuman manis dapat meningkatkan risiko penyebaran kanker kolorektal (usus besar dan rektum) di dalam tubuh.

Adapun yang dimaksud dengan minuman manis adalah semua jenis minuman yang mengandung tambahan gula, termasuk sukrosa dan sirup jagung tinggi fruktosa — keduanya mengandung fruktosa dan glukosa.

Para peneliti memaparkan sel kanker usus besar pada campuran fruktosa dan glukosa untuk meniru kondisi fisiologis setelah seseorang meminum minuman manis. Hasilnya menunjukkan bahwa paparan ini meningkatkan kemampuan sel kanker untuk bergerak dan bermetastasis (menyebar), sehingga mempercepat penyebaran kanker ke bagian tubuh lain.

Para ilmuwan menjelaskan bahwa mekanismenya terjadi karena campuran glukosa–fruktosa mengaktifkan enzim bernama sorbitol dehydrogenase (SORD). Enzim ini mempercepat metabolisme glukosa dan memicu jalur kolesterol, yang pada akhirnya menyebabkan sel kanker lebih cepat menyebar ke hati — organ yang paling sering menjadi lokasi metastasis kanker usus besar.

Menurut para peneliti, penelitian sebelumnya memang telah menyoroti hubungan antara konsumsi minuman manis dan risiko terkena kanker usus besar, tetapi studi ini merupakan yang pertama kali meneliti pengaruh minuman manis terhadap proses metastasis atau penyebaran penyakit tersebut.

Peringatan: Kasus Kanker Usus Besar pada Anak Muda Meningkat Tajam

Sejak tahun 1980-an, konsumsi minuman manis di seluruh dunia terus meningkat. Di Amerika Serikat, lebih dari separuh orang dewasa dan hampir dua pertiga remaja mengkonsumsi minuman manis setiap hari. Kenaikan konsumsi ini beriringan dengan peningkatan tajam kasus kanker usus besar pada kalangan muda.

Penelitian yang dipresentasikan dalam ajang “Digestive Disease Week” (Pekan Penyakit Pencernaan) 2024 menunjukkan bahwa antara tahun 1999 hingga 2020, angka kejadian kanker usus besar meningkat drastis:

  • pada kelompok usia 10–14 tahun naik 500%,
  • usia 15–19 tahun naik 333%,
  • usia 20–24 tahun naik 185%,
  • dan usia 25–29 tahun meningkat 68%.

Pola makan secara umum dianggap sebagai salah satu faktor lingkungan paling berpengaruh terhadap berkembangnya kanker kolorektal. Di antaranya, konsumsi minuman manis menjadi salah satu faktor utama.

Faktor risiko lainnya meliputi kelebihan berat badan, diabetes tipe 2, merokok, konsumsi alkohol, serta pola makan yang tinggi daging merah atau daging olahan, dan kebiasaan memasak dengan suhu sangat tinggi. Perbaikan dalam aspek-aspek ini diyakini dapat membantu menurunkan risiko terkena kanker usus besar dan rektum. (Hui/asr)

oleh Jin Jing/Lin Qing – NTDTV.com

Semakin Rendah Tingkat Kognitif, Seseorang Akan Semakin Keras Kepala

EtIndonesia. Kamu mungkin pernah mengalami hal seperti ini — kamu sudah menjelaskan sesuatu dengan sabar dari berbagai sudut pandang, memberi nasihat yang masuk akal, tapi orang itu tetap tidak mau mendengarkan, bersikeras dengan pandangannya sendiri, bahkan terlihat amat keras kepala.

Misalnya, seorang gadis terjebak dalam hubungan palsu. Orang di sekitarnya jelas tahu pria itu menipunya, namun si gadis tetap percaya bahwa laki-laki itu sungguh mencintainya. Semakin orang menasihatinya, dia justru semakin yakin semua orang hanya ingin merusak hubungan mereka.

Atau contoh lain: kamu menasihati seseorang agar mengisi masa mudanya dengan belajar, memperluas wawasan, dan menambah kemampuan, karena semua itu akan berguna bagi karier dan kehidupannya.

 Namun dia malah berkata: “Ilmu itu nggak penting. Hidup itu soal uang, koneksi, dan keberuntungan.”

Apapun yang kamu katakan tak akan mempan. Dia selalu punya alasan untuk membenarkan diri dan menolak berkembang.

Akhirnya kamu lelah dan frustrasi —  bertanya-tanya: “Kok bisa ya ada orang sekeras kepala itu? Padahal kebenaran sudah jelas di depan mata!”

Keras Kepala: Gejala dari Rendahnya Kapasitas Kognitif

Belum lama ini aku sendiri mengalaminya. Seorang rekan kerja menegaskan bahwa data yang aneh di sistem pasti akibat kerusakan alat. 

 Aku berkata: “Tunggu dulu, biar aku periksa.”

Setelah dicek, ternyata penyebabnya adalah aktivitas perawatan mesin dan faktor eksternal lainnya — bukan kerusakan.

Aku bahkan mengirimkan bukti catatan perawatan, menjelaskan semua kemungkinan penyebabnya. Tapi tak peduli berapa banyak bukti yang kuberikan, dia tetap bersikeras: “Itu pasti karena alatnya rusak.”

Aku kesal, capek bicara, hampir melempar ponsel.  Namun setelah tenang, aku berpikir: kenapa dia begitu keras kepala?

Jawabannya mungkin sederhana: karena keterbatasan kognitif.  Saat menghadapi masalah, dia hanya punya satu pola pikir: “Alat rusak.” Dia tidak bisa memproses alternatif lain, karena tidak memiliki referensi atau kapasitas berpikir yang lebih luas.

Semakin rendah tingkat kognitif seseorang, semakin sempit pula pikirannya, dan semakin sempit pikirannya — semakin keras kepalanya.

Keras Kepala Bukanlah Prinsip, Tapi Penolakan untuk Belajar

Banyak orang mengira keras kepala itu hal baik, tanda keteguhan hati dan pendirian yang kuat. Padahal, keras kepala berbeda dengan berpendirian teguh.

Keras kepala yang dimaksud di sini bukan keteguhan prinsip, tetapi sikap menolak mendengar, menolak introspeksi, dan menolak belajar.

Bahkan, keras kepala sering berkembang menjadi obsesi dan fanatisme — sebuah kondisi yang membuat seseorang berhenti tumbuh.

Ada pula yang menganggap keras kepala adalah bentuk “kepribadian kuat”. Padahal itu justru kekeliruan fatal — karena dia sedang mencampuradukkan antara “kepribadian” dengan “sisi tajam ego” yang belum ditempa.

Beberapa sudut tajam dalam diri memang harus dihaluskan, agar kita menjadi pribadi yang lebih bijak dan berjiwa besar.

Mengurangi keras kepala bukan berarti kehilangan jati diri. Sebaliknya, itulah tanda bahwa kita sedang berkembang.

Orang yang benar-benar hebat tetap memiliki karakter yang kuat, tapi tidak menutup diri dari masukan dan perubahan. Mereka tahu bahwa keras kepala bukanlah keunikan, melainkan bentuk keterbatasan dan kekurangan diri.

Keras kepala menghambat pembentukan kepribadian matang — membuat seseorang makin sempit, makin defensif, dan kehilangan kemampuan untuk belajar hal baru.

Penjelasan Psikologis: “Personal Construct” dan Fleksibilitas Pikiran

Psikolog Amerika George Kelly pernah mengemukakan teori Personal Construct — yaitu bahwa setiap orang membentuk cara berpikir berdasarkan pengalaman, penilaian, harapan, dan cara memahami dunia.

Ketika menghadapi situasi baru, otak kita secara otomatis mengacu pada “peta lama” dari pengalaman masa lalu untuk mengambil keputusan. Semakin miskin pengalaman dan wawasan seseorang, semakin sempit pula “peta pikirannya”.

Itulah sebabnya: “Orang dengan kemampuan kognitif rendah memiliki pola pikir tunggal.”

Mereka hanya punya satu jawaban, satu kemungkinan, dan menganggap itulah satu-satunya kebenaran.

Sebaliknya, orang dengan kemampuan kognitif tinggi punya “peta” yang lebih luas dan berlapis. Mereka membaca lebih banyak, melihat lebih banyak, berpikir lebih banyak. Ketika menghadapi masalah, mereka memiliki banyak kemungkinan solusi, bukan hanya satu.

Mereka tidak lagi berkata “hanya begini caranya”,  tapi bertanya, “ada cara lain yang lebih baik nggak?” Dan inilah ciri dari pola pikir terbuka dan matang.

Logika Sederhana: Semakin Tinggi Kognisi, Semakin Banyak Kemungkinan

Kalau diibaratkan secara matematis:

  • Orang berkemampuan rendah memiliki “set A” — terbatas dan tunggal.
  • Orang berkemampuan tinggi memiliki “set B” — mencakup A, tapi juga mengandung C, D, E, dan seterusnya.

Contohnya:

Orang dengan kognisi rendah percaya kuliah itu tidak berguna. Bagi mereka, ukuran kesuksesan hanyalah uang — titik.

Sementara orang dengan kognisi tinggi menilai kuliah bukan hanya dari pendapatan, tetapi juga kesempatan berkembang, kemampuan berpikir, peningkatan wawasan, dan kebebasan memilih.

Semakin tinggi tingkat pengetahuanmu, semakin kamu sadar bahwa dunia ini jauh lebih luas dari yang kamu bayangkan.Semakin banyak yang kamu tahu, semakin kamu sadar betapa banyak yang belum kamu tahu. Karena itu, orang berilmu sejati justru rendah hati.

Seperti kata Socrates:  “Satu-satunya hal yang aku tahu adalah bahwa aku tidak tahu apa-apa.”

Keras Kepala dan Lingkaran Stagnasi

Rendahnya kemampuan berpikir membuat seseorang sulit menerima sudut pandang baru. Semakin keras kepala, semakin tertutup dari pembelajaran. Dan semakin tertutup, semakin rendah lagi kemampuannya. Itulah lingkaran setan kebodohan dan ego.

Tak heran, berbicara dengan orang yang setara secara kognitif terasa ringan dan menyenangkan.
Namun berbicara dengan orang yang jauh berbeda tingkat pemahamannya terasa melelahkan dan sia-sia.

Bahkan, pertemuan kembali dengan teman lama sering terasa “kaku dan hambar” — bukan karena lingkungan berubah, tapi karena perbedaan tingkat pemahaman dan pertumbuhan pribadi.

Solusi: Tingkatkan Kesadaran Diri dan Terus Belajar

Psikolog Flavell pernah mengemukakan konsep metacognition — yakni kemampuan seseorang untuk menyadari bagaimana dirinya berpikir, belajar, dan membuat keputusan.

Dengan metakognisi, kamu tahu:

  • Bagaimana pikiranmu terbentuk,
  • Kenapa kamu berpikir begitu,
  • Dan bagaimana memperbaikinya jika ternyata salah.

Dulu aku juga pernah keras kepala — mengira itu bagian dari “sifat bawaan” yang tidak bisa diubah. Tapi setelah banyak membaca dan belajar, aku sadar bahwa semakin banyak pengetahuan, semakin kecil egoku. Keyakinan lama yang dulu kukira benar, banyak yang akhirnya terpatahkan.

Kini, setiap kali merasa keras kepala, aku belajar untuk berhenti sejenak — mengamati, menyadari, dan bertanya pada diri sendiri:  “Apakah aku benar-benar tahu segalanya tentang ini?”

Mengubah diri memang sulit, tapi bukan mustahil. Kuncinya: belajar, membaca, dan membuka pikiran. Setiap kali kamu menambah pengetahuan, kamu menambah ruang di otakmu untuk berpikir lebih fleksibel. Dan saat itu terjadi — keras kepala pun mulai melemah.

Penutup: Di Balik Sikap Keras Kepala, Sering Tersembunyi Rendahnya Pemahaman

Ketika kamu menemukan dirimu sulit menerima pendapat orang lain, saat kamu bersikeras dengan pandangan sendiri tanpa mau mendengar — berhentilah sejenak dan tanyakan pada diri sendiri: “Apakah aku sedang mempertahankan kebenaran, atau sekadar menutupi keterbatasan pikiranku?”

Karena sering kali, di balik keras kepala, tersembunyi rendahnya tingkat kognitif. Dan satu-satunya jalan keluar dari itu — adalah belajar dan membuka diri. (jhn/yn)

Komitmen ESG Merdeka Copper Gold Jadi Penopang Keberlanjutan Pertambangan Indonesia

Jakarta, 25 Oktober 2025 – PT Merdeka Copper Gold Tbk (IDX: MDKA), salah satu holding perusahaan pertambangan terkemuka di Indonesia, menegaskan komitmennya terhadap praktik Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam acara Media Gathering yang diselenggarakan bersama Bursa Efek Indonesia (BEI). Presentasi yang dipimpin oleh Tom Malik, Head of Corporate Communications Merdeka Group, menyoroti peran strategis pertambangan dan pentingnya penerapan ESG sebagai pilar pembangunan berkelanjutan.

Kontribusi Pertambangan bagi Indonesia

Dalam paparannya, Merdeka mengawali dengan memaparkan kontribusi signifikan sektor pertambangan terhadap perekonomian Indonesia. Pada tahun 2024, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai Rp22.139 triliun, dengan sektor pertambangan menyumbang Rp2.090 triliun atau 9,44%, menempati peringkat kelima. Indonesia juga menduduki peringkat utama dunia dalam produksi dan cadangan berbagai mineral, seperti peringkat pertama untuk nikel, ketiga untuk timah, serta kelima untuk produksi dan cadangan emas. Sektor ini tidak hanya menjadi penopang PDB, tetapi juga sumber devisa, pendapatan pemerintah, penciptaan lapangan kerja, dan penggerak pembangunan wilayah terpencil.

Merdeka Group: Kekuatan Nasional di Sektor Mineral

Sebagai perusahaan holding yang telah go public, Merdeka Copper Gold mengelola portofolio operasi yang tersebar di Pulau Jawa dan Kawasan Indonesia Timur. Grup ini didukung oleh anak usaha terbuka lainnya, yaitu PT Merdeka Battery Materials Tbk (IDX: MBMA) dan PT Merdeka Gold Resources (IDX: EMAS). Aset yang dikelola mencakup tambang emas, tembaga, nikel, serta fasilitas pengolahan mineral. Total sumber daya yang dimiliki Grup Merdeka mencapai 36,4 juta ounces emas, 8,5 juta ton tembaga, 13,8 juta ton nikel, dan 1,0 juta ton kobalt, menjadikannya pemain kunci dalam industri mineral nasional.

Pertambangan dan Transisi Energi Hijau

Salah satu fokus presentasi adalah hubungan sinergis antara pertambangan dan transisi energi. Ditekankan bahwa kendaraan listrik (EV) membutuhkan mineral enam kali lebih banyak dibandingkan mobil konvensional, dengan berat rata-rata 346 kg lebih berat. Sebagai negara penghasil mineral logam kritikal untuk EV, seperti nikel dan kobalt, Indonesia—dan khususnya Merdeka—memiliki peran strategis dalam mendukung rantai pasok energi hijau global. Meski diakui bahwa 81% sumber listrik di Indonesia masih berasal dari bahan bakar fosil (dengan 62% dari batubara), kontribusi mineral untuk teknologi hijau tetaplah vital.

ESG: Bukan Tren, tapi Keharusan

Bagian inti dari gathering ini adalah penjelasan mendalam tentang pentingnya ESG. Tom Malik menegaskan bahwa ESG bukan sekadar kepatuhan, melainkan kerangka fundamental untuk menciptakan dan mempertahankan nilai jangka panjang di tengah perubahan dinamika global. “Kinerja ESG digunakan pemangku kepentingan, terutama investor, untuk memahami dampak perusahaan beyond kinerja keuangan,” ujarnya. ESG dipandang sebagai evolusi dari konsep Corporate Social Responsibility (CSR) dan keberlanjutan.

Merdeka telah menerbitkan Laporan Keberlanjutan sejak 2018 (MDKA) dan 2022 (MBMA), sejalan dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 51/POJK.03/2017.

Pengakuan Global atas Kinerja ESG Merdeka

Komitmen nyata Merdeka dalam ESG diakui oleh berbagai lembaga pemeringkat ternama:

  • MSCI: Mempertahankan peringkat ESG ‘A’, satu-satunya perusahaan Indonesia di sektor logam dan pertambangan terdiversifikasi yang mencapai level ini.
  • Sustainalytics: Bercokol di peringkat #1 untuk Risiko ESG di antara perusahaan pertambangan terdiversifikasi Indonesia, dan naik dari persentil ke-16 ke persentil ke-9 secara global.
  • IDX KEHATI: Terpilih sebagai konstituen dua indeks ESG terkemuka BEI, yaitu ESG Sector Leaders IDX KEHATI dan ESG Quality 45 IDX KEHATI.
  • CDP: Meraih peringkat ‘B’ untuk pelaporan 2024, menjadikannya satu-satunya perusahaan pertambangan terdiversifikasi Indonesia yang diakui oleh CDP.

Penutup: Komitmen Berkelanjutan untuk Indonesia

Acara ditutup dengan penyampaian kesimpulan bahwa kekayaan sumber daya alam Indonesia adalah modal dasar untuk mensejahterakan bangsa. Grup Merdeka, dengan berpegang pada nilai inti keselamatan, keberlanjutan, tanggung jawab, dan inklusi, bertekad untuk terus menciptakan nilai dan meningkatkan kualitas hidup dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Transparansi melalui pelaporan keberlanjutan yang diakui secara nasional dan internasional menjadi bukti komitmen tersebut. Ke depan, strategi dan komunikasi ESG yang komprehensif akan terus menjadi prioritas Merdeka dalam menjalankan operasinya.

Dibangun Selama Perang Dingin, Terowongan Perang di Taiwan Kini Bergema Musik

EtIndonesia. Dibangun pada puncak Perang Dingin untuk melindungi kapal-kapal pasokan dari serangan artileri Tiongkok, salah satu objek wisata paling terkenal di Taiwan pada masa perang, akhir pekan lalu bergema dengan alunan musik yang berbeda – selo dan biola – dalam Festival Musik Terowongan Kinmen tahunan.

Terowongan Zhaishan di Kinmen, yang terletak di pesisir Tiongkok di sebelah Kota Xiamen dan Quanzhou, dipahat dengan tangan dari granit keras pada tahun 1960-an dan awalnya dirancang untuk keperluan militer, tepat di garis depan Taiwan dengan Tiongkok.

Kinmen telah dikuasai oleh Taiwan sejak berakhirnya perang saudara Tiongkok pada tahun 1949, dan secara teratur dibombardir dengan artileri oleh militer Tiongkok, meskipun kini Kinmen menjadi tujuan wisata yang populer.

Selama dua hari akhir pekan lalu, terowongan ini menyelenggarakan enam pertunjukan dengan 200 orang yang menghadiri setiap pertunjukan, yang merupakan tahun ke-17 berturut-turut festival ini diselenggarakan.

Para penampil duduk di atas perahu kecil yang didayung perlahan mengelilingi terowongan, yang diterangi warna-warna cerah, memainkan beragam musik, termasuk Mozart dan Beethoven, serta lagu-lagu tradisional Taiwan dan Tiongkok.

“Musik ini menceritakan kisah terowongan ini, musik yang berbicara tentang betapa berharganya perdamaian, dan musik yang menyampaikan pesannya kepada dunia,” ujar direktur seni festival sekaligus pemain cello, Chang Chen-chieh.

Tiket untuk festival tahun ini, yang diselenggarakan di salah satu lokasi paling dramatis di Kinmen, terjual habis hanya dalam dua menit, kata penyelenggara.

Darurat militer di Kinmen baru berakhir pada tahun 1992, lima tahun lebih lambat dari Taiwan sendiri.

Kinmen masih mempertahankan kehadiran militer yang besar, meskipun banyak lokasi, seperti terowongan tersebut, telah lama dipensiunkan dan dijadikan bagian dari taman nasional yang mencakup sebagian besar pulau.

Penonton Cheng Kai-hsiang mengatakan ia tersentuh oleh pertunjukan tersebut.

“Bukan hanya karena suara dan gema dari terowongan, tetapi juga karena saya bisa mendengar deburan ombak dari luar,” kata Cheng. “Perasaan yang kuat dan luar biasa itu sungguh sulit diungkapkan dengan kata-kata. Itu sesuatu yang hanya bisa Anda alami dengan hadir langsung di sana.” (yn)

Ketika Sidang Pleno Keempat Partai Komunis Tiongkok Dibuka, Keamanan yang Diperketat Berhadapan dengan Kekecewaan Publik

Di media sosial Tiongkok, topik “rakyat biasa tidak merasakan apa-apa tentang Sidang Pleno Keempat” menjadi perbincangan luas.

EtIndonesia. Sidang Pleno Keempat Komite Sentral ke-20 Partai Komunis Tiongkok (PKT) dibuka di Beijing pada  Senin (20/10/2025), dengan pengamanan ketat di seluruh ibu kota dan munculnya kembali kekecewaan publik mengenai apakah pertemuan politik tingkat tinggi ini—yang dipandang sebagai ujian penting bagi kendali rezim—akan membahas persoalan ekonomi dan sosial rakyat jelata.

Pertemuan empat hari itu, yang berlangsung dari 20 hingga 23 Oktober di Hotel Jingxi—tempat tradisional penyelenggaraan sidang-sidang penting PKT—digelar lebih dari setahun dari jadwal semula tanpa penjelasan resmi. 

Sidang ini mempertemukan sekitar 200 anggota penuh Komite Sentral dan 170 anggota pengganti untuk meninjau laporan kerja Politbiro PKT serta membahas rancangan “Rencana Lima Tahun” ke-15 bagi pembangunan ekonomi dan sosial nasional.

Di luar lokasi yang dijaga ketat, kendaraan polisi dan personel keamanan ditempatkan di seluruh area.

 “Ada mobil polisi dan kendaraan khusus penuh antena yang diparkir di depan hotel,” kata Zhao, seorang warga Beijing yang hanya bersedia disebut nama marganya, kepada The Epoch Times.

 “Polisi lalu lintas menyuruh orang-orang berjalan cepat. Suasananya sangat tegang.”

Ia mengatakan polisi memeriksa tas para pejalan kaki dan mengecek kartu identitas mereka. “Saya melihat mereka memeriksa kartu identitas seorang wanita—kelihatannya dia seorang pengadu,” katanya.

Pengadu adalah orang-orang di Tiongkok yang mengajukan keluhan kepada pemerintah untuk mencari keadilan atas permasalahan mereka, yang mana secara teori merupakan hak menurut hukum Tiongkok. Namun dalam praktiknya, para pengadu sering menjadi sasaran penindasan oleh PKT. Banyak dari mereka yang ditahan secara sewenang-wenang dan dianiaya karena berani bersuara.


Reaksi Warga

Sementara Sidang Pleno berfokus pada perencanaan ekonomi dan disiplin Partai, banyak warga di seluruh Tiongkok tampak tidak peduli. Wawancara di beberapa provinsi menunjukkan bahwa sebagian besar orang lebih khawatir tentang meningkatnya biaya hidup, pengangguran, dan berkurangnya tunjangan sosial.

Hu Jiangsheng, seorang pensiunan pekerja dari Taizhou, Provinsi Jiangsu, mengatakan kepada The Epoch Times:

 “Partai mengadakan rapat setiap tahun, tapi kami tidak mengerti isi dokumen-dokumen itu. Saya hanya berharap biaya pengobatan tidak terus naik dan lebih banyak obat bisa diganti asuransi. Belakangan ini, sistem asuransi berhenti menanggung banyak obat. Hidup makin sulit.”

Di Tianjin, seorang pengemudi pengantar barang bernama Liu, yang juga meminta hanya disebut marganya, menyampaikan keluhan serupa:

 “Rapat-rapat ini tidak ada hubungannya dengan kami. Saya hanya berharap harga bensin tidak naik dan platform [perdagangan daring] berhenti mengambil komisi yang begitu besar. Mereka selalu bicara soal meningkatkan kesejahteraan sosial, tapi semakin banyak bicara, keadaan malah makin buruk. Harus dibaca terbalik ucapan mereka itu.”


Para Pengadu Bersembunyi Saat Polisi Mengetatkan Penindakan

Di Yanjiao, sebuah kawasan industri di timur Beijing dengan sewa yang lebih murah, banyak pengadu sementara bersembunyi di sana untuk menghindari razia polisi.

Li dari Provinsi Liaoning, yang juga hanya ingin disebut marganya, mengatakan bahwa ia telah bersembunyi di sana selama sebulan.

 “Polisi ada di mana-mana menangkap orang,” ujarnya kepada The Epoch Times. “Saya tidak bisa ke Beijing atau pulang ke rumah, jadi saya tinggal di sini sampai Sidang Pleno selesai. Di gedung ini saja ada setidaknya belasan pengadu.”

Ketika ditanya tentang sidang tersebut, ia menjawab:  “Itu ada hubungannya apa dengan kami? Rapat-rapat mereka hanya untuk kepentingan mereka sendiri. Pemerintah tidak pernah menolong rakyat biasa. Mereka hanya menindas kami. Apa yang dikatakan di berita terdengar bagus, tapi semuanya palsu.”


Janji Ekonomi Versus Realitas Sehari-hari

Media pemerintah dalam beberapa minggu terakhir menekankan slogan-slogan seperti “memperluas permintaan dalam negeri”, “menstabilkan lapangan kerja”, dan “melindungi kehidupan rakyat.” Namun data menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen tetap lemah, pengangguran pemuda tinggi, dan pemerintah daerah menghadapi tekanan fiskal yang berat.

Sebuah laporan yang dirilis bulan ini oleh Biro Statistik Nasional PKT sendiri menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan rumah tangga melambat dan sentimen konsumen tetap lesu.

Wang Juan, seorang pekerja pabrik dari Xiangyang, Provinsi Hubei, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa ia tidak melihat adanya perbaikan dalam biaya hidup, terutama di bidang kesehatan.

 “Biaya medis terus naik, dan obat-obatan semakin mahal,” katanya. “Pemerintah mengadakan begitu banyak rapat, tapi pelayanan kesehatan malah makin buruk.”

Zhang dari Beijing, yang tidak ingin disebut nama lengkapnya, telah berjuang bertahun-tahun dalam sengketa properti.

 “Mereka bicara tentang ‘kemakmuran bersama’, tapi rakyat biasa bahkan tidak bisa membela haknya sendiri. Siapa yang punya waktu untuk menonton Sidang Pleno?” ujarnya.

Seorang pekerja restoran di Tianjin juga mengatakan kepada The Epoch Times:  “Kami hanya berharap harga rumah tidak turun lebih jauh dan gaji kami tidak dipotong lagi. Pemerintah bilang sedang menstabilkan ekonomi, tapi kami justru khawatir kehilangan pelanggan setiap hari.”

Di media sosial Tiongkok, topik “rakyat biasa tidak merasakan apa-apa tentang Sidang Pleno Keempat” memicu diskusi luas. Banyak warganet mengungkapkan kekhawatiran tentang harga bahan bakar dan program asuransi sosial.

Secara resmi, Sidang Pleno Keempat terutama berfokus pada perencanaan jangka panjang bagi ekonomi nasional, agenda sosial, dan penguatan kendali Partai.

Xing Du turut berkontribusi dalam laporan ini.

Seberapa Besar Perbedaan antara Orang yang Sering Membaca dan yang Tidak Pernah Membaca?

EtIndonesia. Di media sosial, kita sering melihat saran seperti: “Gunakan waktu luang untuk membaca buku.”

Tapi jarang ada yang menjelaskan mengapa membaca itu penting, atau apa sebenarnya perbedaan antara orang yang membaca dan yang tidak.

Sebuah adegan dalam film Green Book memberi gambaran yang sangat jelas. Dalam film itu, sopir kulit putih yang kurang berpendidikan menulis surat untuk istrinya dengan ejaan kacau dan isi yang berantakan. Namun ketika pianis kulit hitam — seorang pria terpelajar — membantunya menulis, kalimatnya menjadi indah, penuh makna, dan menyentuh hati. Istrinya pun menitikkan air mata saat membacanya.

Itulah salah satu perbedaan paling nyata antara orang yang membaca dan yang tidak membaca: kemampuan berpikir dan mengekspresikan diri.

Tapi sesungguhnya, perbedaannya jauh lebih besar daripada sekadar cara berbicara atau menulis.

1. Orang yang Sering Membaca Punya Pengendalian Diri yang Lebih Kuat

Kita hidup di era digital yang penuh distraksi. Ada ribuan hiburan di genggaman tangan — game, video pendek, media sosial — semuanya dirancang agar kita terjebak dalam kesenangan instan.

Dunia maya memberi kepuasan cepat: cukup geser layar, dan kamu langsung mendapat hiburan baru.  Itulah bentuk nyata dari “low effort, high reward” — usaha kecil, kepuasan besar.

Sebaliknya, membaca adalah kebalikannya: butuh fokus, waktu, dan kesabaran.

Kamu harus menyingkirkan ponsel, mencari ketenangan, dan meluangkan waktu berjam-jam hanya untuk memahami isi buku.

Lebih rumit lagi, hasilnya tidak langsung terlihat. Kamu mungkin membaca berbulan-bulan tanpa merasa berubah — hingga bertahun kemudian kamu baru menyadari betapa cara berpikirmu sudah jauh lebih tajam.

Inilah yang disebut “delayed gratification” — kepuasan yang tertunda. Dan kemampuan ini, menurut psikologi, adalah salah satu penentu kesuksesan terbesar dalam hidup.

Eksperimen klasik “Marshmallow Test” membuktikan: anak-anak yang mampu menunda keinginan sesaat demi hasil jangka panjang, di masa dewasa mereka lebih sukses, lebih stabil secara emosi, dan lebih mampu mencapai tujuan besar.

Karena itu, orang yang rajin membaca sebenarnya melatih otak untuk bersabar, fokus, dan mengendalikan diri. Mereka lebih kuat menolak kesenangan sesaat, dan itulah mengapa dalam hidup mereka lebih mudah mencapai hal-hal yang berarti.

2. Orang yang Membaca Berpikir Lebih Dalam dan Melihat Lebih Jauh

Kebanyakan orang yang tidak membaca hanya menerima informasi dari media sosial dan berita singkat, yang sering kali dangkal, terpotong, dan miskin konteks.

Akhirnya, pola pikir mereka pun menjadi sederhana dan reaktif. Mereka cepat menyalahkan orang lain atas nasib sendiri:

  • “Gajiku kecil karena bosku pelit.” 
  •  “Hidupku sulit karena nasib tidak adil.”

Padahal jika dilihat lebih dalam, ada banyak faktor — mulai dari kemampuan diri, keahlian yang belum berkembang, hingga keputusan pribadi. Tapi karena wawasan mereka sempit, mereka hanya melihat permukaannya.

Di internet, logika seperti ini juga sering terlihat: “Kalau kamu bilang aktor itu aktingnya jelek, ya kamu harus bisa lebih baik dari dia!”

Padahal, kritik tidak membutuhkan kemampuan lebih dari yang dikritik — cukup pemahaman dan logika.  Namun bagi orang yang jarang membaca dan berpikir, semua hal tampak hitam-putih, tanpa nuansa, tanpa logika berlapis.

Sebaliknya, orang yang gemar membaca berpikir lebih struktural dan mendalam. Mereka tahu setiap pernyataan bisa diuji lewat logika dan konteks. Dengan “kerangka berpikir” seperti silogisme — sebab, akibat, dan kesimpulan — mereka mampu membedakan argumen yang valid dari yang menyesatkan.

Mereka tidak mudah terprovokasi, tidak gampang ditipu, dan tahu bagaimana mencari kebenaran. Maka wajar jika orang yang bisa melihat inti masalah dalam satu detik, akan hidup jauh lebih bijak daripada orang yang menghabiskan setengah hidup tanpa pernah mengerti akar persoalan.

3. Orang yang Membaca Lebih Sadar akan Ketidaktahuannya

Fenomena ini disebut Dunning–Kruger Effect. Dia menjelaskan mengapa orang yang kurang kompeten sering terlalu percaya diri, sementara orang yang benar-benar pintar justru merasa masih bodoh.

Mereka yang jarang membaca sering merasa “tahu segalanya.” Sedikit informasi saja sudah membuat mereka merasa seperti ahli. Padahal, pengetahuan dangkal itulah yang menipu mereka.

Sebaliknya, orang yang gemar membaca menyadari betapa luasnya dunia pengetahuan. Semakin banyak mereka belajar, semakin mereka sadar bahwa yang belum mereka ketahui jauh lebih banyak daripada yang sudah.

Mereka lebih rendah hati, lebih terbuka terhadap kritik, dan lebih cepat berkembang karena mau terus belajar.

Aku pernah melihat contohnya sendiri. Dalam sebuah diskusi, seseorang berkata dengan yakin bahwa bisnis e-commerce itu mudah: “Cukup cari barang murah di internet, jual mahal, dan promosi besar-besaran. Sesederhana itu.”

Semua orang terdiam, mengira dia berpengalaman. Ternyata dia belum pernah menjalankan bisnis sama sekali.  Ketika dikoreksi, dia malah marah dan berdebat mati-matian.

Itulah wajah nyata dari orang yang tak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Mereka hidup di puncak “gunung kebodohan” — penuh keyakinan palsu, tanpa kesadaran diri.

Seperti kata filsuf Bertrand Russell: “Masalah dunia ini adalah karena orang bodoh terlalu yakin, sedangkan orang bijak penuh dengan keraguan.”

4. Membaca: Proses Senyap yang Mengubah Hidup Secara Permanen

Sekilas, membaca tampak seperti hobi biasa — sama seperti bersepeda, mendengarkan musik, atau bermain basket. Tapi bedanya, membaca adalah latihan otak paling kompleks yang bisa dilakukan manusia.

Saat membaca, kamu berdialog dengan pemikir besar sepanjang sejarah — para ilmuwan, filsuf, seniman, dan tokoh yang sudah meninggalkan warisan ide mereka. Kamu berhadapan dengan pikiran-pikiran yang lebih tinggi, dan dari situlah terjadi “gesekan intelektual” yang menyalakan api pemahaman baru.

Satu buku mungkin tak langsung mengubah hidupmu. Tapi seratus buku, dua ratus buku, lima ratus buku? Perlahan-lahan, cara berpikirmu akan berubah secara permanen.

Kamu akan berbicara lebih dalam, berpikir lebih jernih, dan menghadapi hidup dengan perspektif yang lebih luas.  Itulah perbedaan sejati antara mereka yang membaca — dan yang tidak.

Kesimpulan

Perbedaan antara orang yang rajin membaca dan yang tidak membaca bukan sekadar soal hobi atau gaya hidup. Itu adalah perbedaan dalam cara otak bekerja, cara berpikir, dan cara memahami dunia.

Orang yang gemar membaca:

  • Lebih sabar dan punya kontrol diri.
  • Lebih tajam dalam berpikir dan menilai masalah.
  • Lebih rendah hati dan sadar akan batas dirinya.
  • Lebih terbuka terhadap ide dan lebih mudah berkembang.

Sementara orang yang jarang membaca:

  • Mudah terjebak kesenangan instan.
  • Pola pikirnya sederhana dan mudah dimanipulasi.
  • Terlalu percaya diri tanpa dasar yang kuat.

Pada akhirnya, membaca adalah investasi jangka panjang untuk kecerdasan dan kebijaksanaan.

Dia tidak memberi hasil instan, tapi satu hal pasti: setiap halaman yang kamu baca hari ini, akan membuat dirimu besok jauh lebih kuat dari dirimu kemarin. (jhn/yn)

Nyamuk Ditemukan di Islandia untuk Pertama Kalinya

EtIndonesia. Nyamuk telah ditemukan di Islandia, yang pertama bagi negara kepulauan tersebut, yang telah lama menjadi salah satu tempat bebas nyamuk di dunia, ungkap seorang peneliti kepada AFP, Senin (20/10).

Tiga nyamuk Culiseta annulata, dua betina dan satu jantan, terlihat sekitar 30 kilometer di utara ibu kota Reykjavik, menurut Matthias Alfredsson, seorang ahli entomologi di Institut Ilmu Pengetahuan Alam Islandia.

“Semuanya dikumpulkan dari tali anggur… yang bertujuan untuk menarik ngengat,” kata peneliti tersebut dalam sebuah email, merujuk pada metode menambahkan gula ke dalam anggur panas dan mencelupkan tali atau potongan kain ke dalam larutan tersebut, yang kemudian digantung di luar untuk menarik serangga penyuka makanan manis.

Bersama dengan Antartika, Islandia telah lama menjadi salah satu dari sedikit tempat di bumi yang tidak memiliki populasi nyamuk.

“Ini adalah catatan pertama nyamuk yang hidup di lingkungan alami di Islandia. Satu spesimen Aedes nigripes (spesies nyamuk Arktik) dikumpulkan bertahun-tahun yang lalu dari sebuah pesawat di Bandara Keflavik,” kata Alfredsson, seraya menambahkan bahwa “sayangnya, spesimen itu hilang”.

Keberadaan mereka dapat “menunjukkan introduksi baru ke negara ini, kemungkinan melalui kapal atau kontainer”, ujarnya, tetapi pemantauan lebih lanjut di musim semi diperlukan untuk menentukan penyebarannya lebih lanjut.

Kenaikan suhu, musim panas yang lebih panjang, dan musim dingin yang lebih ringan, semuanya disebabkan oleh perubahan iklim, menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi nyamuk untuk berkembang biak.

Namun Alfredsson tidak yakin bahwa iklim yang lebih hangat menjelaskan penemuan tersebut.

Spesies ini “tampaknya beradaptasi dengan baik terhadap iklim yang lebih dingin”, yang “memungkinkan mereka bertahan hidup di musim dingin yang panjang dan keras ketika suhu turun di bawah titik beku”, ujarnya.

Dia menambahkan bahwa “habitat perkembangbiakannya yang beragam… semakin meningkatkan kemampuannya untuk bertahan hidup di lingkungan Islandia yang menantang”. (yn)

Israel dan Hamas Kembali Terlibat Baku Tembak, Trump: Gencatan Senjata di Gaza Masih Berlaku

Baru-baru ini, Kantor Perdana Menteri Israel mengumumkan bahwa setelah kelompok Hamas melanggar tahap pertama perjanjian damai dan menyebabkan pecahnya kembali pertempuran antara Israel dan Hamas, Israel kini telah menghentikan serangan dan kembali melaksanakan perjanjian gencatan senjata. 

Pihak Israel juga memperingatkan Hamas agar mematuhi isi perjanjian dan segera menyerahkan jenazah 16 sandera yang tewas. Sementara itu, Presiden Trump menegaskan kepada media bahwa perjanjian gencatan senjata di Gaza masih berlaku.

EtIndonesia. Pada  Senin (20/10), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pidatonya di parlemen menyatakan bahwa pada  Selasa (21 Oktober), ia akan menyambut kunjungan Wakil Presiden AS, J.D. Vance.

Netanyahu mengatakan: “Kami akan berfokus pada dua hal utama — tantangan keamanan yang kami hadapi dan peluang politik yang ada. Kami pasti akan mengatasi tantangan tersebut dan memanfaatkan peluang yang muncul.”

Kantor Perdana Menteri Israel menyatakan bahwa teroris Hamas terus menyerang pasukan Israel yang berjaga di Gaza dan masih menahan 16 jenazah sandera, yang berarti melanggar perjanjian gencatan senjata Gaza. Namun setelah melakukan serangan balasan, pihak Israel kini telah kembali melaksanakan perjanjian.

“Setelah Hamas melanggar perjanjian gencatan senjata dan menyerang tentara kami yang memicu rangkaian serangan balasan, sekitar pukul 9 malam waktu Israel pada Minggu (19 Oktober), tentara kami kembali menegakkan perjanjian gencatan senjata. Kami tidak hanya akan terus menaati perjanjian itu, tetapi juga akan menegakkannya dengan ketat,” kata Juru bicara Kantor Perdana Menteri Israel, Shosh Bedrosian.

Bedrosian  juga mendesak Hamas agar segera menyerahkan semua sandera yang tersisa. Ia menambahkan: “Kami tahu Hamas memiliki kemampuan untuk mengembalikan mereka (jenazah sandera) dan tahu di mana mereka berada. Penculik tidak mungkin kehilangan sandera mereka. Pernyataan bahwa Hamas tidak tahu di mana para sandera berada hanyalah alasan — bagian dari strategi propaganda mereka,” ujarnya. 

Sehari sebelumnya, militer Israel menyatakan bahwa Hamas telah melanggar perjanjian gencatan senjata dengan menyerang tentara Israel yang sedang bertugas di wilayah Rafah, Gaza, menewaskan dua tentara. Setelah itu, Israel meluncurkan serangan udara terhadap puluhan target teroris Hamas di Gaza.

Pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump mengatakan di pesawat kepresidenan Air Force One bahwa pihaknya akan menyelidiki dengan serius serangan Hamas terhadap tentara Israel.

Trump berkata: “Mereka (Hamas) sangat arogan dan melakukan penembakan. Kami percaya pimpinan Hamas mungkin tidak terlibat langsung, melainkan tindakan kelompok pemberontak di dalamnya. Apapun alasannya, kami akan menindak tegas dengan cara yang keras namun adil.”

Ketika seorang wartawan bertanya, “Apakah perjanjian gencatan senjata di Gaza masih berlaku?”

Trump menjawab, “Ya, masih berlaku.”

Pada hari yang sama, Wakil Presiden AS J.D. Vance juga menyampaikan bahwa agar perjanjian gencatan senjata di Gaza dapat bertahan, negara-negara Arab harus membantu menegakkan langkah-langkah keamanan dan melucuti senjata Hamas.

Vance menuturkan: “Kami yakin perjanjian ini memberikan peluang terbaik untuk mewujudkan perdamaian yang langgeng. Namun begitu, kami juga menyadari bahwa proses ini akan menghadapi sejumlah hambatan, dan kami harus terus memantau situasinya.”

Laporan oleh Zhao Fenghua, New Tang Dynasty Television

Video Fenomena Tak Wajar Terjadi di Tiongkok Utara: Sejumlah Besar Burung Layang-layang Mati Kedinginan Karena Tak Bermigrasi ke Daerah Selatan

Baru-baru ini, di wilayah utara Tiongkok muncul fenomena aneh — banyak burung layang-layang tidak terbang ke selatan untuk menghindari musim dingin, dan sebagian besar di antaranya mati kedinginan.  Burung layang-layang sejak dulu dianggap sebagai simbol keberuntungan, sehingga banyak orang menilai kematian massal burung ini sebagai pertanda buruk.

EtIndonesia. Pada 20 Oktober 2025, seorang netizen memposting video yang menunjukkan kejadian di Kota Wuchang, Provinsi Heilongjiang. Dalam video itu terlihat banyak burung layang-layang yang tidak bermigrasi ke selatan untuk musim dingin, akhirnya mati membeku.

“Burung-burung itu semuanya kedinginan sampai mati, tidak bisa terbang lagi. Di depan rumah saya ada sedikit tempat yang masih agak hangat, jadi mereka berkumpul di sana. Ada lebih dari seratus ekor, banyak yang sudah mati, tidak bisa berbuat apa-apa,” kata orang yang merekam video tersebut.

Fenomena burung layang-layang yang tidak terbang ke selatan dan mati membeku di wilayah utara Tiongkok menimbulkan diskusi luas.

Sebagian warganet menduga hal itu disebabkan oleh perubahan iklim yang ekstrem, karena suhu di wilayah utara menurun drastis dalam waktu singkat. “Rasanya seperti tiba-tiba masuk musim dingin dalam sehari,” tulis seorang pengguna internet.

Namun, banyak pula yang menilai fenomena ini sangat tidak wajar dan menganggapnya sebagai pertanda buruk:

  • “Kalau ada yang aneh, pasti ada sesuatu yang tidak beres.”
  • “Tahun ini angin dan hujan tidak menentu, hewan-hewan pun tak mampu beradaptasi.”
  • “Pagi tadi di jalan saya juga lihat beberapa burung mati. Tadinya saya kira burung pipit, tapi ternyata bukan.”

Setiap tahun ketika musim dingin tiba, burung layang-layang di utara biasanya akan bermigrasi ke selatan — hal ini adalah fenomena alam. Dalam sistem dua puluh empat musim tradisional Tiongkok, periode ‘Bailu’ (Embun Putih) memiliki tiga tanda:

  1. Burung angsa mulai datang,
  2. Burung “xuan niao” (burung layang-layang) pulang ke selatan,
  3. Burung-burung lainnya mulai mencari makanan untuk musim dingin.

Artinya, setelah masuk musim “Bailu”, udara semakin dingin, dan burung-burung seperti angsa serta layang-layang mulai terbang ke wilayah selatan untuk mencari tempat yang lebih hangat. Dalam kitab kuno Yue Ling Qi Shi Er Hou Ji Jie disebutkan:

“Burung layang-layang adalah burung dari selatan, jadi ketika cuaca dingin, mereka akan kembali ke selatan.”

Tahun ini, musim “Bailu” jatuh pada 7 September. Pepatah kuno mengatakan:

“Pada malam Bailu, angin musim gugur bertiup — setiap malam semakin dingin.”

Seharusnya, sejak saat itu burung layang-layang sudah mulai meninggalkan utara untuk bermigrasi ke selatan. Namun hingga akhir Oktober, masih ada banyak burung layang-layang di timur laut Tiongkok yang belum berangkat dan akhirnya mati membeku — sesuatu yang dianggap sangat tidak biasa oleh masyarakat.

Burung Gagak di Langit

Selain itu, fenomena aneh lain juga muncul di berbagai daerah seperti Hebei, Henan, Sichuan, dan Mongolia Dalam — di mana ribuan burung gagak beterbangan di langit, membentuk pemandangan seperti awan hitam yang bergulung di atas kota.

Seorang saksi di Datong, Provinsi Shanxi, mengatakan, “Saya mendengar suara ‘kraaa kraaa’ di atas kepala. Saat menengadah, ternyata langit penuh dengan burung gagak, dan itu berlangsung sekitar dua jam.”

Dalam budaya tradisional Tiongkok, burung gagak sering dianggap sebagai simbol kesialan atau pembawa berita duka. Dalam catatan Youyang Zazu dari Dinasti Tang disebutkan:

“Suara gagak di bumi bukanlah pertanda baik.”

Peribahasa rakyat juga mengatakan:

“Jika gagak terbang di atas kepala, bila tak ada bencana, pasti ada musibah.”

Karena itu, banyak orang percaya bahwa munculnya begitu banyak burung gagak di berbagai wilayah Tiongkok mungkin menandakan adanya bencana atau peristiwa besar yang akan datang.

oleh Luo Tingting / Fan Ming – NTDTV.com

Beberapa Provinsi Penghasil Pangan di Tiongkok Dilanda Hujan dan Salju, Panen Terancam Gagal

Baru-baru ini, beberapa provinsi penghasil pangan utama di Tiongkok mengalami cuaca hujan dan salju yang menghambat panen. Di Provinsi Shandong dan Henan, hujan terus-menerus selama lebih dari sebulan ditambah pelepasan air dari waduk menyebabkan lahan pertanian tergenang; banyak tanaman yang gagal panen atau sulit dipanen.

Di timur laut, Provinsi Heilongjiang mengalami salju mendadak yang memperlambat panen musim gugur. Para petani khawatir akan kehilangan waktu terbaik untuk menanam gandum musim dingin.

EtIndonesia. Di Henan, cuaca hujan terus berlangsung. Pada 17 Oktober, hujan deras kembali melanda secara luas, menyebabkan genangan air di kota-kota seperti Shangqiu dan Nanyang, serta banjir parah di daerah pedesaan. Banyak lahan pertanian masih tergenang air hingga kini.

Seorang petani di Henan bermarga Wang mengungkapkan bahwa pada paruh pertama tahun ini, tanaman jagung di Henan mengalami kekeringan selama masa pertumbuhan, sementara saat masa panen di paruh kedua tahun ini justru dilanda banjir. 

Sejak September hingga sekarang, hujan telah turun lebih dari sepuluh kali, dan pelepasan air dari waduk memperburuk situasi. Sungai Diao yang melintasi Desa Longyan biasanya selebar 10 meter, kini melebar menjadi 100 meter, dan seluruh tanaman di tepi sungai gagal panen.

“Airnya besar sekali, semua ladang jagung terendam, tanaman di sawah mati semuanya. Hujan terus turun, panen gagal total. Petani kerja keras menanam tapi sulit sekali. Gandum belum bisa ditanam, entah masih sempat atau tidak. Mungkin setelah seminggu air baru surut, kemungkinan baru bisa tanam gandum bulan depan,” kata Petani Wang dari Longyan, Kota Dengzhou, Nanyang, Henan. 

Provinsi Shandong juga mengalami cuaca mendung dan hujan selama musim panen. Lahan pertanian tergenang air dan berlumpur sehingga hanya bisa dipanen secara manual. Petani khawatir tidak sempat menanam gandum musim dingin sebelum akhir Oktober, yang merupakan waktu terbaik untuk menanam.

Seorang petani dari Heze, Shandong, bermarga Li mengatakan bahwa para pemuda telah pergi bekerja ke luar daerah, hanya para lansia yang tersisa untuk memanen jagung. Ia masih memiliki sekitar 30 mu (sekitar 2 hektare) lahan belum dipanen. Empat orang lansia memerlukan sekitar 10 hari untuk menyelesaikannya, sementara jagung di ladang mulai berjamur.

“Tahun ini terjadi banjir besar, air memenuhi ladang. Mesin pemanen tidak bisa masuk, kalau masuk malah terjebak lumpur. Ladang sangat becek, panen jagung memang sulit sekali. Jagung sudah mulai berjamur, dan harganya sekarang sangat murah, hanya 0,6–0,8 yuan per jin. Tahun ini tidak bisa dapat untung,” jelasnya. 

Dua waduk besar di Sungai Kuning, yaitu “Sanmenxia” dan “Xiaolangdi”, terus melakukan pelepasan air selama beberapa hari, menyebabkan Sungai Kuning dan anak sungainya, Sungai Wei, berada di atas tingkat siaga banjir. Para petani di tepi Sungai Wei bingung bagaimana memanen tanaman yang tergenang air.

“Ladang tergenang air selama sekitar sepuluh hari. Tahun ini bagaimana mau panen jagung? Benar-benar pusing. Saya ini petani lahan kering, sudah 30 tahun menanam tanpa pernah kebanjiran. Untungnya belum tumbuh kecambah di tongkol jagung, tapi sebagian orang yang panen lebih awal sudah mengalami jagung bertunas,” ujar seorang petani dari Kota Weinan, Provinsi Shaanxi, bermarga Pi. 

Minggu lalu, suhu di Heilongjiang turun drastis, dan daerah itu mulai diguyur salju.

Seorang petani di Kota Daqing mengatakan bahwa salju di sana cukup tebal. Meskipun sebagian sudah mencair, ladang padi masih tertutup salju sehingga sulit dipanen. Akibatnya, harga varietas padi “Zhongkefa No. 5” meningkat.

Petani Zhang dari Daqing, Heilongjiang, mengatakan: “Beberapa hari terakhir, harga padi Zhongkefa No. 5 naik di berbagai daerah. Karena cuaca buruk — hujan dan salju — panen besar-besaran terhenti. Pabrik beras kekurangan bahan baku, jadi menaikkan harga pembelian. Sekarang kami menjual di harga tinggi, sekitar 1,5 hingga 1,6 yuan per jin.” (Hui/asr)

Laporan oleh Xiong Bin dan Banni – NTD News

Keadaan Darurat di Ibu Kota Peru Setelah Protes Korupsi dan Kejahatan

EtIndonesia. Presiden sementara Peru, Jose Jeri, mengumumkan keadaan darurat di Lima dan pelabuhan tetangganya, Callao, pada hari Selasa (21/10), setelah berminggu-minggu protes anti-pemerintah atas korupsi dan kejahatan terorganisir.

“Keadaan darurat yang disetujui oleh Dewan Menteri akan berlaku mulai tengah malam pada hari Rabu dan akan berlangsung selama 30 hari di wilayah Metropolitan Lima dan Callao,” kata Jeri dalam pidato nasional yang disiarkan oleh televisi pemerintah.

Dalam keadaan darurat ini, pemerintah dapat mengirimkan tentara untuk berpatroli di jalan-jalan dan membatasi kebebasan berkumpul serta hak-hak lainnya.

Ini adalah tindakan besar pertama yang diambil oleh presiden sementara sejak dia menjabat hampir dua minggu lalu untuk mengatasi krisis kejahatan yang semakin meningkat.

Negara Amerika Selatan ini telah diguncang protes selama berminggu-minggu, dan para anggota parlemen telah memberikan suara awal bulan ini untuk memakzulkan Presiden Dina Boluarte, yang oleh para kritikus dianggap sebagai penyebab lonjakan kejahatan dan dituduh melakukan korupsi.

“Kejahatan telah meningkat secara tidak proporsional dalam beberapa tahun terakhir, menyebabkan penderitaan yang luar biasa bagi ribuan keluarga dan semakin menghambat kemajuan negara. Namun, itu sudah berakhir. Hari ini, kita mulai mengubah narasi ketidakamanan di Peru,” ujar Jeri dalam pidatonya.

“Kita beralih dari defensif ke ofensif dalam memerangi kejahatan, sebuah perjuangan yang akan memungkinkan kita untuk mendapatkan kembali kedamaian, ketenangan, dan kepercayaan jutaan rakyat Peru,” tambahnya.

Lima telah diberlakukan sebagian dalam keadaan darurat antara bulan Maret dan Juli, menyusul pembunuhan seorang musisi terkenal, yang dikaitkan dengan kejahatan terorganisir.

Demonstrasi yang dipimpin oleh pemuda telah membawa ribuan rakyat Peru, yang frustrasi dengan kegagalan pihak berwenang dalam mengatasi krisis kejahatan yang semakin memburuk, turun ke jalan di Lima dan beberapa kota lainnya.

Selama sebulan terakhir, lebih dari 200 orang terluka dalam protes tersebut, termasuk petugas polisi, pengunjuk rasa, dan jurnalis, dan seorang pria ditembak mati oleh polisi.

Krisis keamanan di Peru, yang khususnya menghantam sektor transportasi—dengan setidaknya 47 pengemudi bus tewas tahun ini dalam serangan yang diyakini terkait pemerasan—memicu pemecatan Boluarte pada 10 Oktober.

Ketua Parlemen Jeri akan menjabat sebagai presiden sementara hingga Juli 2026.

Peru telah memiliki tujuh pemerintahan selama dekade terakhir, termasuk pemerintahan yang menggantikan Dina Boluarte. (yn)