Gempa Magnitudo 6.5 Guncang Sumenep, Bergetar Sampai di Sejumlah Wilayah di Jawa Timur Hingga Bali
EtIndonesia. MOJOKERTO – Gempabumi berkekuatan magnitudo (M) 6.5 terjadi di wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Rabu (1/10/2025) pukul 23.49 WIB. Epicenter atau pusat gempa ini berada di dasar laut dengan titik koordinat 7,25 LS dan 114,22 BT, atau jika ditarik garis lurus berada di 50 kilometer (km) sebelah tenggara Kabupaten Sumenep pada kedalaman 11 km. Kendati demikian, gempa ini tidak berpotensi tsunami.
Guncangan gempabumi ini dirasakan lemah hingga sedang selama 3-5 detik di sejumlah kabupaten/kota wilayah Provinsi Bali seperti Kabupaten Gianyar, Buleleng, Tabanan, Denpasar dan Kuta.
Sementara di wilayah Provinsi Jawa Timur, guncangan dirasakan sedang hingga kuat selama 3-20 detik di sebagian besar kota/kabupaten di Pulau Madura, Kota Surabaya, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Gresik, hingga Kabupaten Mojokerto.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan, sebagian besar warga di radius tersebut berhamburan keluar rumah setelah merasakan guncangan gempa yang terasa secara tiba-tiba.
Personel Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang sedang berada di Surabaya dan Mojokerto pun turut merasakan guncangan gempabumi dangkal tersebut.
Sebagai bentuk respon awal, BNPB langsung melakukan koordinasi dengan sejumlah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang berada dalam radius wilayah hingga 350 kilometer dari pusat gempa.
Dampak Kerusakan
Dari hasil monitoring sementara per pukul 01.00 WIB, gempabumi tersebut telah menyebabkan empat rumah warga di Kabupaten Sumenep mengalami kerusakan di bagian dinding. Hasil laporan visual, kondisi dinding rumah warga roboh dan puing berserakan jatuh ke tanah.
Data sementara untuk wilayah terdampak di Kabupaten Sumenep meliputi empat kecamatan seperti Gayam, Nonggunong, Talango dan Saronggi. Sementara itu, belum ada laporan mengenai korban jiwa dari fenomena geologi tersebut. BNPB akan terus berkoordinasi dengan lintas instansi gabungan baik di pusat maupun di daerah.
Mulai pagi ini, tim BPBD akan kembali turun ke lapangan untuk monitoring, kaji cepat dan mengambil upaya lain yang dianggap perlu dalam penanganan darurat. Data perkembangan terbaru akan dilaporkan secara berkala.
Tetap Tenang dan Selalu Waspada
BNPB mengimbau warga agar tetap tenang, tidak panik namun tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa susulan.
Sebagai langkah kesiapsiagaan, masyarakat disarankan segera mencari tempat aman dan menghindari bangunan yang retak atau berpotensi roboh, memastikan jalur evakuasi di rumah, sekolah, dan tempat kerja bebas hambatan, serta menyiapkan tas siaga bencana berisi kebutuhan pokok, obat-obatan, dokumen penting termasuk senter.
Selain itu, warga juga dihimbau untuk mematikan aliran listrik, gas, dan air jika diperlukan untuk mencegah risiko kebakaran atau kebocoran.
Bagi para warga yang sedang berada di gedung tinggi disarankan untuk tidak menggunakan lift untuk sementara waktu jika terjadi gempabumi. Sebagai alternatif yang aman, warga dapat menggunakan tangga darurat.
Sebagai penguat sistem peringatan dini, masyarakat juga dapat membuat alarm darurat dari perkakas rumah tangga seperti panci atau kaleng bekas yang disusun atau ditumpuk ke atas. Jika terdapat guncangan dari aktivitas gempa bumi, maka perkakas itu akan terjatuh dan menimbulkan suara sebagai pertanda adanya bahaya.
Terakhir, masyarakat diharapkan hanya mengikuti perkembangan informasi resmi dari BMKG, BNPB, dan BPBD melalui kanal terpercaya, serta tidak terpancing oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. (***)
Ketegangan Timur Tengah Memuncak: Iran Ancam Seret AS Jika Israel Menyerang
EtIndonesia. Situasi keamanan di Timur Tengah kembali memanas setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) resmi mengaktifkan kembali seluruh sanksi terhadap Iran. Langkah tersebut diambil pada 28 September 2025, setelah Dewan Keamanan menilai Teheran tidak mematuhi ketentuan dalam kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA).
Ancaman Balasan Iran
Mantan Panglima Garda Revolusi Iran (IRGC), Mohsen Rezaei, memperingatkan bahwa jika Israel melakukan serangan militer, maka konflik tidak akan berhenti pada level regional. Menurutnya, Iran siap menyeret Amerika Serikat masuk ke dalam pusaran perang.
“Iran tidak akan berkompromi dalam isu nuklir. Jika Israel menyerang, kami akan menghantam target-target AS di Timur Tengah tanpa ragu,” tegas Rezaei dalam wawancara televisi pada Minggu (28 September 2025).
Pernyataan keras ini muncul setelah intelijen Israel menuding Iran menyimpan 400 kilogram uranium berkadar tinggi, sebuah klaim yang sebelumnya juga diumumkan oleh PM Israel, Benjamin Netanyahu, dalam wawancara dengan media internasional.
Israel Siaga Penuh
Sebagai respons, Israel meningkatkan status siaga penuh di seluruh wilayahnya. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Israel akan terus menekan Iran, baik melalui sanksi diplomatik, ekonomi, maupun langkah militer bila diperlukan.
“Israel tidak akan tinggal diam menghadapi ancaman nuklir Iran. Dunia internasional harus terus menekan Teheran,” ujar Netanyahu di Tel Aviv, 28 September 2025.
Militer Israel (IDF) juga dilaporkan memperkuat sistem pertahanan udara Iron Dome serta menyiapkan satuan cadangan untuk kemungkinan eskalasi mendadak.
Respons Dunia dan Risiko Salah Perhitungan
Aktivasi ulang sanksi PBB mencakup embargo senjata, pembekuan aset keuangan, serta larangan perjalanan pejabat Iran. Uni Eropa pada hari yang sama langsung menyatakan akan mengintegrasikan sanksi ini ke dalam hukum domestiknya.
Sementara itu, Amerika Serikat melalui Departemen Luar Negeri menyatakan dukungan penuh atas langkah PBB, dengan alasan Iran telah melanggar kewajiban internasional terkait non-proliferasi nuklir.
Pengamat hubungan internasional menilai situasi saat ini sangat rentan salah perhitungan. Potensi saling serang yang tidak terkontrol dapat memicu perang besar dalam hitungan hari, mengingat keterlibatan aktor-aktor kunci seperti AS, Israel, dan Iran di kawasan yang strategis namun rapuh stabilitasnya.
Kesimpulan
Dengan eskalasi ancaman yang meningkat cepat, Timur Tengah kembali berada di ujung krisis besar. Ancaman Iran untuk menyeret Amerika Serikat ke dalam konflik, ditambah dengan kesiagaan penuh Israel, membuat dunia kini menyoroti apakah kawasan itu akan menjadi titik pecahnya perang baru yang bisa mengguncang stabilitas global.
Eropa Tak Lagi Damai: Rusia Ancam Balas Tomahawk, UE Siapkan Tembok Drone
EtIndonesia. Situasi keamanan di Eropa kembali memanas setelah serangkaian pelanggaran wilayah udara oleh drone Rusia. Kondisi ini membuat sejumlah pejabat tinggi Uni Eropa (UE) menyamakan keadaan saat ini dengan “momen Ferdinand” menjelang pecahnya Perang Dunia I pada tahun 1914.
Peringatan dari Jerman: Eropa Tak Lagi Damai
Dalam pidatonya di Düsseldorf pada 29 September, Kanselir Jerman, Friedrich Merz menegaskan bahwa meski belum ada deklarasi perang secara resmi, hubungan Eropa dengan Rusia sudah tidak lagi berada dalam kondisi damai.
“Invasi Rusia ke Ukraina adalah serangan langsung terhadap demokrasi. Kita tidak bisa lagi bersikap seolah-olah ini hanya konflik regional. Ini adalah ancaman bagi seluruh tatanan dunia bebas,” tegas Merz.
Merz juga mendukung penuh pemanfaatan aset Rusia yang telah dibekukan oleh negara-negara Barat untuk memperkuat pertahanan Ukraina. Menurutnya, langkah itu adalah bagian dari upaya kolektif Eropa memastikan bahwa agresi militer tidak boleh diberi ruang tumbuh.
Respons Keras Moskow: Ancaman Tomahawk Bisa Memicu Eskalasi
Dari pihak Rusia, pernyataan yang tak kalah keras juga disampaikan. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, pada 29 September 2025 memperingatkan bahwa pengiriman rudal jelajah Tomahawk oleh Amerika Serikat ke Ukraina hanya akan mempercepat terjadinya eskalasi besar-besaran.
Sementara itu, Ketua Komisi Pertahanan Parlemen Rusia, Andrei Kartapolov, menyatakan lebih jauh bahwa setiap pakar militer AS yang terlibat dalam pengoperasian atau peluncuran Tomahawk ke arah Rusia akan dijadikan target langsung oleh Moskow.
“Siapa pun yang membantu Ukraina meluncurkan rudal ke Rusia harus sadar bahwa mereka akan masuk daftar target sah pasukan kami,” tegas Kartapolov.
Uni Eropa Siapkan “Tembok Drone”
Di sisi lain, Politico melaporkan bahwa para pemimpin UE tengah menyiapkan langkah-langkah pertahanan baru menghadapi ancaman udara Rusia. Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, mendorong pembahasan rencana pembangunan sistem pertahanan skala besar yang disebut “tembok drone” untuk menghadang serangan tanpa awak.
Namun, sejumlah diplomat di Brussel memperingatkan bahwa inisiatif ini bisa menimbulkan eskalasi tak terkendali. Mereka mengingatkan bahwa sejarah bisa terulang, mengacu pada tragedi Sarajevo tahun 1914 yang memicu Perang Dunia I.
Ancaman Bayangan Perang Besar
Ketegangan Rusia–Eropa kini berada di persimpangan berbahaya. Di satu sisi, Eropa memperkuat pertahanan dan menolak tunduk pada tekanan Moskow. Di sisi lain, Kremlin menunjukkan sinyal bahwa setiap langkah Barat untuk memperluas bantuan militer ke Ukraina akan dianggap sebagai tindakan permusuhan langsung.
Dengan berbagai pihak yang saling mengeluarkan ancaman keras, situasi ini semakin menegaskan bahwa Eropa tengah bergerak ke arah “pra–Perang Dunia I” baru, di mana kesalahan perhitungan sekecil apa pun bisa memicu konflik global.
Utamakan Solusi Sosial, STIKOSA-AWS Luncurkan Program Kaderisasi Inovator Digital Muda
Surabaya – Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (STIKOSA-AWS) meluncurkan program terbaru, Digital Community Innovators (DCI), yang dirancang untuk mencetak calon pemimpin inovasi sosial di era digital. Program ini bertujuan mengubah paradigma pemuda dari sekadar user teknologi menjadi pencipta solusi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Dr. Jokhanan Kristiyono, S.T., M.Med.Kom., Ketua STIKOSA-AWS, menekankan bahwa DCI hadir sebagai ekosistem belajar yang memberdayakan. “Pemuda hari ini adalah digital native yang penuh energi. Namun, seringkali energi itu berhenti pada konsumsi. Melalui DCI, kami mendorong mereka untuk berani mencipta dan menghadirkan perubahan sosial yang nyata,” ujarnya dalam peluncuran program, Sabtu (27/9/2025).
Lebih Dari Sekadar Pelatihan Teknologi
Berbeda dengan pelatihan digital konvensional, pendekatan DCI mengintegrasikan tiga aspek kunci: teknologi, sosial, dan budaya. Novri Susan, S.Sos., MA., Ph.D., salah satu mitra akademis Lembaga Penelitian, Pengabdian, dan Publikasi Masyarakat (LPPM) STIKOSA-AWS, menjelaskan bahwa program ini merupakan bentuk rekayasa sosial di masyarakat digital.
“Masyarakat digital membutuhkan pendekatan sosial yang serius, bukan hanya teknis. DCI menjadi ruang untuk menguji bagaimana teknologi dapat membentuk interaksi, solidaritas, hingga kesadaran kritis generasi muda,” tegas Novri.
Program ini juga secara visioner mempersiapkan peserta menyambut era blockchain dan Web3. Peserta tidak hanya diajak memahami tren terkini, tetapi juga didorong untuk memanfaatkannya dalam menciptakan inovasi sosial, memperkuat komunitas, dan membuka lapangan kerja baru.
Lima Pilar Utama dan Target Konkret
Untuk mewujudkan tujuannya, DCI dibangun atas lima pilar utama:
- Digital Developer Learning
- Social Design Thinking
- Sosiologi Digital dan Budaya
- Research Capacity Building
- Komunikasi Partisipatif
Program yang berjalan selama 6 hingga 12 bulan dengan metode hybrid ini ditujukan bagi tim kecil beranggotakan 3-5 pemuda berusia 17-30 tahun. Luaran yang ditargetkan sangat konkret, antara lain:
- Produk digital (aplikasi, platform, AI tools)
- Artikel riset sosial-digital
- Portofolio media kreatif (video, podcast, storymap)
- Blueprint bisnis sosial berbasis budaya lokal
Digagas oleh Pusat Penelitian (PUSLIT) LPPM STIKOSA-AWS, program DCI juga melibatkan berbagai mitra strategis dari akademisi, komunitas, startup, hingga pemerintah dan sektor swasta. Kehadiran DCI diharapkan dapat mewujudkan Youth Community Digital yang inklusif, partisipatif, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja digital masa depan.
Patung Raksasa ‘Virus PKT’ Muncul di New York, Picu Sorotan Media Barat
EtIndonesia. Sebuah patung raksasa menarik perhatian besar media Barat pada Minggu (28/9/2025). Patung itu menampilkan setengah wajah pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan setengah lagi wajah iblis, dipadu dengan struktur virus berwarna merah darah. Karya yang mencolok dengan tema “CCP Virus” atau Virus PKT ini dipamerkan di jalanan New York dan langsung menjadi topik panas di media sosial Barat.
“Partai Komunis Tiongkok, virus CCP. Kita harus meminta pertanggungjawaban mereka,” kata Ketua Aliansi Demokrasi dan HAM Tiongkok, Jin Xiuhong.

Bertepatan dengan pertemuan PBB, seniman anti-Komunis Chen Weiming bersama Jin Xiuhong dan timnya mengangkut patung raksasa itu dari Taman Patung Kebebasan di California menuju New York. Patung tersebut mengundang banyak warga berhenti untuk menonton dan memotret.
Influencer Amerika terkenal, Nick Shirley, mengunggah video patung tersebut di depan markas besar PBB ke platform X. Video itu memicu perhatian luas media AS dengan lebih dari 1,8 juta tayangan dan 500 ribu tanda suka.
🚨 Meanwhile outside the UN…
— Nick shirley (@nickshirleyy) September 26, 2025
Chinese women driving around NYC with a massive anti-CCP float with Xi Jinping face covered in a virus pic.twitter.com/H5uYVBJ3Jm
Pada bagian bawah patung tertulis dalam bahasa Inggris “CCP Virus.” Chen menamainya sebagai “Patung Virus CCP III” karena patung pertama pada Juli 2021 pernah dibakar oleh orang tak dikenal.
Di dekat Perpustakaan Flushing, Taman Patung Kebebasan California bersama Aliansi Demokrasi dan HAM Tiongkok menggelar aksi besar untuk mengecam PKT yang dituding menutup-nutupi pandemi hingga menimbulkan ledakan global. Massa mengangkat spanduk bertuliskan “END CCP” dan meneriakkan: “Virus CCP, seluruh dunia menuntut keadilan! Wabah CCP, darah akan dibayar dengan darah!”
Chen Weiming mengungkapkan, sejak patung pertama dibakar, sudah ada tiga mata-mata yang ditangkap. Namun aksi sabotase berlanjut, termasuk anjing penjaga di taman patung yang diracun dan papan informasi yang dirusak—semua dilakukan untuk mengintimidasi mereka agar menyerah.

Karena itu, saat rombongan melewati Washington DC, Chen dan tim melaporkan hal tersebut kepada Kongres AS serta Departemen Luar Negeri. Mereka juga menyerahkan petisi agar pemerintah AS waspada terhadap infiltrasi dan sabotase PKT serta mendesak lahirnya undang-undang terkait.
Pada 18 April lalu, Gedung Putih memperbarui situs web tentang COVID-19 dan secara jelas menyatakan bahwa virus itu berasal dari kebocoran laboratorium Wuhan.
Pengamat independen Zhang Lin menilai, virus PKT dapat dipandang sebagai bentuk perang: melemahkan Barat, memperkuat agresi diktator, sekaligus memecah belah masyarakat Amerika dan Barat. Karena itu, rakyat Amerika harus meningkatkan kewaspadaan terhadap PKT.
Menjelang 1 Oktober, Hari Berkabung Nasional PKT, rombongan patung raksasa “Virus CCP” pada Senin (29/9/2025) mendatangi Konsulat Tiongkok di New York, kembali menyerukan tuntutan agar PKT dimintai pertanggungjawaban. (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com
Pengadilan Taiwan Jatuhkan Vonis Kurungan Penjara Terhadap Mantan Ajudan Presiden Terkait Tuduhan Mata-mata untuk Tiongkok
Taiwan menghadapi lonjakan kasus spionase yang terkait dengan Tiongkok, yang bertujuan melemahkan demokrasi pulau itu serta mengumpulkan informasi intelijen militer dan teknologi.
EtIndonesia. TAIPEI, Taiwan — Pengadilan Distrik Taipei menjatuhkan vonis terhadap empat mantan anggota partai berkuasa di Taiwan—termasuk seorang mantan staf presiden—atas tuduhan menjadi mata-mata untuk Tiongkok. Vonis ini dijatuhkan di tengah upaya Taipei menahan infiltrasi rezim komunis Tiongkok yang berusaha merongrong demokrasi pulau yang memerintah sendiri itu.
Dalam pernyataan pada 25 September, pengadilan menyebut keempat terdakwa terbukti bersalah membocorkan rahasia negara kepada Tiongkok dan dijatuhi hukuman penjara antara empat hingga 10 tahun. Mereka sebelumnya didakwa pada Juni dengan sejumlah tuduhan.
Kasus ini dianggap sebagai salah satu kasus spionase paling menonjol di Taiwan karena melibatkan mantan anggota Partai Progresif Demokratik (DPP), partai politik yang para pemimpinnya—termasuk Presiden saat ini, Lai Ching-te—sering dicap Tiongkok sebagai “separatis” karena sikap tegas membela kedaulatan Taiwan. DPP telah memecat keempat orang tersebut pada Mei lalu.
Salah satunya adalah Ho Jen-chieh, mantan sekretaris Menteri Luar Negeri Joseph Wu yang kini menjabat Kepala Dewan Keamanan Nasional. Ho dituduh mengumpulkan dokumen rahasia dan menyerahkannya kepada Huang Chu-jung, yang kemudian meneruskannya kepada agen intelijen Tiongkok melalui perangkat lunak terenkripsi dengan imbalan uang.
Menurut pengadilan, Huang juga merekrut seorang mantan penasihat politik di kantor Lai ketika menjabat wakil presiden di era pemerintahan Tsai Ing-wen, melalui perantara Chiu Shih-yuan. Chiu mengarahkan penasihat tersebut, Wu Shang-yu, untuk memberikan dokumen termasuk rencana perjalanan luar negeri presiden dan jadwal kampanye domestik wakil presiden. Wu memenuhi permintaan itu.
Badan berita resmi Taiwan, Central News Agency (CNA), melaporkan bahwa Huang sebelumnya adalah asisten anggota dewan DPP New Taipei, Lee Yu-tien, sekaligus pengusaha di Tiongkok. Ia direkrut oleh dinas intelijen Tiongkok pada 2017.
Kejaksaan Distrik Taipei pada Juni menyebut Huang menerima 6 juta dolar Taiwan baru (sekitar Rp3,1 miliar) dari intelijen Tiongkok, sementara Chiu menerima 2,2 juta dolar Taiwan baru (sekitar Rp1,1 miliar) untuk aktivitas spionase mereka.
Keempatnya dinyatakan bersalah melanggar Undang-Undang Perlindungan Informasi Keamanan Nasional Rahasia. Huang dan Chiu juga terbukti bersalah melakukan pencucian uang.
Huang dijatuhi hukuman terberat, yakni 10 tahun penjara. Ho divonis delapan tahun dua bulan, Chiu enam tahun dua bulan, dan Wu empat tahun. Selain itu, Huang dan Chiu juga didenda masing-masing NT$1 juta (sekitar Rp518 juta) dan NT$50 ribu (sekitar Rp26 juta), dengan opsi menggantinya melalui kerja sosial.
Pengadilan menyatakan bahwa tindakan keempat terdakwa “membahayakan keamanan nasional,” memperburuk “situasi diplomatik Taiwan yang sudah sulit,” serta memperkuat strategi “tiga peperangan” Tiongkok terhadap Taiwan, yaitu perang opini publik, perang psikologis, dan perang hukum.
Menurut CNA, keempat terdakwa hingga kini tidak dapat dihubungi. Pengadilan Tinggi Taiwan juga tengah mengkaji kasus terpisah terhadap Huang, yang pada Juni didakwa membentuk “organisasi kriminal” untuk kepentingan Tiongkok.
The Epoch Times tidak berhasil memperoleh komentar dari kuasa hukum para terdakwa.
Dalam beberapa tahun terakhir, rezim Tiongkok meningkatkan tekanan diplomatik, politik, dan militer terhadap Taiwan. Pada 2024 saja, sebanyak 64 orang diadili di pengadilan Taiwan karena menjadi mata-mata Partai Komunis Tiongkok (PKT). Dua pertiganya adalah personel militer aktif atau pensiunan, menurut laporan Biro Keamanan Nasional Taiwan pada Januari.
PKT memandang pulau berpenduduk 23 juta jiwa itu sebagai provinsi yang memisahkan diri dan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer untuk merebutnya.
Presiden Lai berjanji akan mengambil langkah lebih tegas menghadapi infiltrasi dan aktivitas spionase rezim komunis Tiongkok. Dalam pertemuan dengan pejabat keamanan senior pada Mei, ia mengatakan Beijing memanfaatkan kebebasan di Taiwan untuk mencoba “memecah belah, menghancurkan, dan merongrong” dari dalam.
“Dengan tindakannya, Tiongkok sudah memenuhi definisi ‘kekuatan asing yang bermusuhan’ sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Anti-Infiltrasi kami,” kata Lai. “Kami tidak punya pilihan selain mengambil langkah yang lebih proaktif.” (asr)
Lufthansa Group Akan Pangkas 4.000 Pekerjaan hingga 2030 dengan Bantuan AI, Prediksi Laba Lebih Kuat
EtIndonesia. FRANKFURT, Jerman — Lufthansa Group pada Senin (29/9/2025) mengumumkan rencana memangkas 4.000 pekerjaan hingga tahun 2030 dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), digitalisasi, serta konsolidasi pekerjaan di antara maskapai anggota—meski perusahaan melaporkan permintaan perjalanan udara yang tetap tinggi dan memprediksi keuntungan yang lebih besar di tahun-tahun mendatang.
Pihak perusahaan mengatakan sebagian besar pemangkasan pekerjaan akan terjadi di Jerman, terutama di bidang administratif, bukan operasional. Lufthansa menegaskan pihaknya berupaya memperdalam integrasi di antara maskapai anggota dan sedang “meninjau aktivitas yang tidak lagi diperlukan di masa depan, misalnya akibat adanya duplikasi pekerjaan.”
Lufthansa Group mencakup maskapai terbesar Jerman, Lufthansa, serta Austrian Airlines, Swiss, Brussels Airlines, dan ITA Airways, penerus Alitalia.
Dalam pernyataannya, Lufthansa menyebut “perubahan besar yang dibawa oleh digitalisasi dan kecerdasan buatan” akan meningkatkan efisiensi di seluruh lini bisnis dan aktivitas perusahaan.
Rencana strategis ini dipaparkan dalam presentasi kepada investor dan analis di Munich. Perusahaan mengatakan permintaan perjalanan udara sangat tinggi, sementara penawaran penerbangan terbatas akibat rantai pasok pesawat dan mesin yang tertekan.
Kondisi ini menciptakan pasar yang ketat, membuat pesawat selalu penuh dan mendorong pendapatan.
Lufthansa Group menyatakan pihaknya memperkirakan “peningkatan profitabilitas yang signifikan” pada akhir dekade ini, serta tengah menyiapkan modernisasi armada terbesar dalam sejarah perusahaan, dengan menambah lebih dari 230 pesawat baru hingga 2030, termasuk 100 pesawat jarak jauh.
Perusahaan ini merupakan grup penerbangan global yang mencakup maskapai jaringan, maskapai rute langsung Eurowings, dan perusahaan layanan.
Pada 2024, Lufthansa memiliki 101.709 karyawan dan menghasilkan pendapatan sebesar 37,6 miliar euro (sekitar Rp725,7 triliun) atau 44 miliar dolar AS (sekitar Rp730,4 triliun). Kantor pusat resminya berada di Cologne, Jerman, sementara kantor eksekutif dan operasional berlokasi di Frankfurt.
Laporan: David McHugh
Sumber : The Associated Press via The Epoch Times
Taliban Bebaskan Warga AS yang Ditahan Secara Sewenang-wenang di Afghanistan
Qatar berperan penting dalam memastikan pembebasan Amir Amiry, menurut Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat.
EtIndonesia. Taliban pada Minggu (28/9/2025) membebaskan seorang warga negara Amerika Serikat yang sebelumnya ditahan secara tidak sah di Afghanistan, demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri AS.
Pembebasan Amir Amiry difasilitasi melalui mediasi Qatar. Pihak kementerian tidak memberikan rincian terkait kapan Amiry ditahan ataupun alasan penahanannya di Afghanistan.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Qatar dan menyebut bahwa “kemitraan yang kuat dan upaya diplomatik yang tak kenal lelah” dari negara itu sangat penting bagi keberhasilan pembebasan Amiry.
“Presiden Trump tidak akan beristirahat sampai semua warga kami yang ditawan kembali ke rumah,” kata Rubio dalam sebuah pernyataan. “Pembebasan hari ini merupakan langkah penting dari pemerintahan di Kabul untuk mewujudkan tujuan tersebut.”
Menteri Luar Negeri Taliban, Mawlawi Amir Khan Muttaqi, bertemu dengan utusan khusus AS untuk urusan sandera, Adam Boehler, dan delegasinya di Afghanistan pada 28 September, menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Taliban.
Kementerian itu menyebut pembebasan Amiry menunjukkan bahwa rezim Taliban “tidak memandang isu-isu yang berkaitan dengan warga negara asing dari perspektif politik” dan menekankan pentingnya diplomasi dalam menyelesaikan persoalan semacam itu.
Kementerian Luar Negeri Qatar dalam pernyataan di platform X menyebut Amiry telah dipindahkan dari Afghanistan ke Doha, Qatar, pada 28 September. Kementerian itu juga menegaskan komitmennya untuk “mendorong upaya mediasi yang bertujuan mencapai solusi damai atas konflik dan isu-isu internasional yang kompleks.”
Kunjungan Boehler ke Afghanistan berlangsung hanya sepekan setelah Presiden AS Donald Trump mendesak penguasa negara itu untuk mengembalikan Pangkalan Udara Bagram ke kendali Amerika Serikat, seraya memperingatkan bahwa “hal-hal buruk akan terjadi” bila Taliban menolak.
Rezim Taliban menegaskan bahwa “kemerdekaan dan integritas teritorial Afghanistan adalah hal yang paling penting” dan mendesak Amerika Serikat untuk menaati komitmen yang dibuat dalam Perjanjian Doha 2020.
Pangkalan udara Bagram sebelumnya merupakan pangkalan militer AS terbesar di Afghanistan, berfungsi sebagai pusat utama operasi pasukan AS setelah serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat.
Pasukan AS melepaskan kendali atas pangkalan tersebut saat penarikan pasukan dari Afghanistan pada 2021. Kendali diserahkan kepada Republik Islam Afghanistan yang didukung AS, namun pemerintahan itu runtuh pada Agustus 2021 ketika Taliban merebut ibu kota Kabul.
Perjanjian Doha mengatur penarikan pasukan AS dari Afghanistan sekaligus mencakup jaminan bahwa kelompok teroris internasional tidak akan menggunakan wilayah Afghanistan untuk melancarkan serangan terhadap Amerika Serikat.
Laporan tambahan oleh Ryan Morgan
Sumber : Theepochtimes.com
Influencer Tiongkok “Tang Feiji” Jatuh Bersama Pesawat Ringan, Ribuan Orang Saksikan Secara Live Streaming
EtIndonesia. Pada 27 September 2025, influencer asal Sichuan yang dikenal dengan nama “Tang Feiji” mengalami kecelakaan fatal saat menerbangkan pesawat ringan sambil melakukan siaran langsung. Ia meninggal dunia di tempat, lebih dari seribu penonton menyaksikan momen jatuhnya pesawat tersebut secara langsung di ruang siarannya.
Video yang beredar menunjukkan Tang Feiji sedang mengemudikan sebuah pesawat ultra-ringan saat melakukan siaran langsung. Tiba-tiba, pesawat kehilangan kendali di udara, lalu menukik tajam ke bawah, menghantam tanah, dan terbakar. Api dan asap hitam pekat terlihat mengepul di lokasi kejadian.
Menurut laporan Beijing News, pihak keluarga Tang Feiji kini sedang mengurus pemakaman, sementara penyebab pasti kecelakaan masih dalam penyelidikan.
Tang Feiji berusia 55 tahun. Ia mulai dikenal publik setelah membeli sendiri sebuah pesawat ultra-ringan dengan rotor ganda koaksial.
9月27日,四川网红“唐飞机”直播时坠机,不幸身亡。 pic.twitter.com/2AeFcdZHII
— ying tang (@yingtan04410735) September 28, 2025
Dalam wawancara media pada April lalu, ia mengaku sejak kecil bermimpi bisa menerbangkan pesawat, dan baru berhasil mewujudkannya di usia 55 tahun.
Ia menghabiskan sekitar 350.000 yuan (sekitar Rp 787,5 juta) untuk membeli sebuah pesawat ultra-ringan buatan sipil, satu kursi, dengan bobot hanya 115 kilogram, ketinggian maksimal 600 meter, kecepatan tertinggi sekitar 100 km/jam, dan jangkauan hingga 40 km dengan bahan bakar penuh.
Tang Feiji menyebut dirinya belajar menerbangkan pesawat secara otodidak: seminggu mempelajari teori, ditambah enam jam latihan praktik, sudah cukup baginya untuk bisa mengendalikan pesawat.
Malam setelah penerbangan sukses pertamanya, ia merayakannya dengan membeli lauk rebusan khas Sichuan dan minuman beralkohol. Dalam siarannya, ia dengan bangga mengatakan bahwa menerbangkan pesawat ultra-ringan tidak memerlukan izin terbang resmi, bahkan menyamakannya dengan mengemudi gokart di taman hiburan. Ia juga menyebut dirinya satu-satunya orang di Sichuan yang bisa menerbangkan pesawat rotor ganda koaksial.
Namun, ia mengaku bahwa istrinya awalnya sangat menentang keinginannya, meskipun akhirnya terpaksa merelakan, dengan syarat ia mengutamakan keselamatan.
Setelah kecelakaan tragis ini, akun siaran langsung Tang Feiji telah diubah menjadi akun privat. Sebelum kejadian, ia memiliki sekitar 97.000 pengikut dan lebih dari 425.000 tanda suka di platformnya. (hui/asr)
Sumber : NTDTV.com
Tolak Perundingan Damai, Rusia Kembali Gempur Ukraina – AS Pertimbangkan Kirim Rudal Tomahawk
Pada 28 September 2025 dini hari, Rusia kembali melancarkan serangan besar-besaran dengan drone dan rudal ke berbagai wilayah Ukraina. Serangan udara berlangsung selama 12 jam, menewaskan sedikitnya 4 orang dan melukai 70 orang. Pada hari yang sama, Wakil Presiden AS, J.D. Vance, menyatakan bahwa karena Rusia menolak perundingan damai, Washington sedang mempertimbangkan untuk mengirim rudal jelajah Tomahawk ke Ukraina.
EtIndonesia. Kebakaran melanda gedung-gedung di Ukraina, asap tebal mengepul, dan petugas pemadam kebakaran bergegas masuk untuk menyelamatkan warga yang terjebak.
Sejak 27 September malam hingga 28 September dini hari, Ukraina mengalami salah satu serangan paling dahsyat dalam beberapa bulan terakhir. Militer Rusia meluncurkan lebih dari 600 drone dan hampir 50 rudal, termasuk rudal hipersonik “Kinzhal”.
Serangan ini membuat Polandia, negara tetangga Ukraina, menutup wilayah udaranya di perbatasan dan segera mengerahkan jet tempur demi menjamin keamanan udara.
Serangan udara Rusia berlangsung 12 jam, menghantam banyak wilayah, termasuk kota Zaporizhzhia di Ukraina selatan. Namun, kerusakan terparah terjadi di ibu kota Kyiv.
Seorang warga Kyiv berkata: “Kami tidur di sebelah sana, dan di sisi sini jendela-jendela beterbangan karena ledakan.”
Seorang ayah tiga anak bernama Serhiy Shelieiev bercerita bahwa keluarganya baru pindah ke rumah tersebut pada 2024. Kini rumahnya kembali hancur untuk kedua kalinya. Meski begitu, ia bersyukur keluarganya selamat.
Shelieiev: “Anak bungsu saya terjebak di bawah reruntuhan. Saya menariknya keluar, lalu membawa semua anak ke lantai bawah. Syukurlah, mereka masih hidup.”
Sebuah rumah sakit jantung di Kyiv mengalami kerusakan parah. Seorang perawat dan seorang pasien tewas dalam serangan itu. Banyak apartemen dan infrastruktur sipil juga hancur.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menulis di media sosial, mengecam serangan keji tersebut. Ia mengatakan, serangan ini terjadi tepat setelah sidang Majelis Umum PBB berakhir. Menurutnya, Rusia dengan jelas menunjukkan sikap aslinya: Moskow ingin terus berperang dan membunuh. Karena itu, Rusia layak mendapat tekanan paling keras dari dunia internasional.
Pada 28 September, Wakil Presiden AS Vance dalam wawancara dengan Fox News menyatakan bahwa karena Moskow tetap menolak perundingan damai—baik bilateral maupun trilateral—yang diupayakan Presiden Donald Trump, AS sedang mempertimbangkan untuk mengirim rudal jelajah Tomahawk ke NATO untuk kemudian dipasok ke Ukraina.
Analis menilai, rudal Tomahawk dengan jangkauan hingga 2.500 km bisa sangat meningkatkan kemampuan tempur Ukraina dalam menghadapi serangan rudal dan drone Rusia yang semakin rutin. Namun, keputusan akhir tetap ada di tangan Presiden Trump.
Sumber : NTDTV.com
Mahasiswi 18 Tahun di Tiongkok Tewas Ditabrak Dosen di Hari Ulang Tahunnya, Kampus Diduga Tekan Topik Pencarian Terpanas di Medsos
Pada 27 September 2025, terjadi kecelakaan serius di dalam kampus Universitas Teknologi Selatan Tiongkok (South China University of Technology/华南理工大学), Guangzhou, Tiongkok. Beberapa orang tertabrak mobil, seorang mahasiswi tewas di tempat. Seorang rekan mahasiswa mengungkapkan, pada hari itu adalah ulang tahun ke-18 korban. Usai merayakan ulang tahun dan turun membuang sampah, ia ditabrak mobil yang dikendarai seorang dosen pria universitas tersebut. Setelah kejadian, pihak kampus diduga menekan media sosial agar insiden ini tidak menjadi trending hingga memicu kemarahan mahasiswa.
EtIndonesia. Pada 28 September 2025 malam, seorang saksi mata mengatakan kepada media daratan Tiongkok Jimu News bahwa sebuah kecelakaan terjadi di dekat apartemen dosen D4 Universitas Teknologi Selatan Tiongkok. Jalan di lokasi tidak terlalu lebar. Ia mendengar suara keras “dug” dan mengira mobil menabrak sesuatu. Saat keluar, ia baru mengetahui bahwa yang ditabrak adalah orang.
Media The Paper mengutip keterangan seorang mahasiswa bahwa kecelakaan terjadi di antara asrama dosen D4 dan asrama mahasiswa C3 di kampus Universitas Teknologi Selatan Tiongkok. Jalan ini biasanya sepi kendaraan.
Korban adalah mahasiswi baru jurusan teknik listrik angkatan 2025, bermarga Lu, sementara seorang mahasiswa jurusan tari terluka. Pengemudi adalah dosen Fakultas Seni universitas tersebut, bermarga Jin.
Menurut mahasiswa lain, korban Lu berasal dari Guangxi, berkepribadian ceria dan ramah. Pada hari kejadian, 27 September, tepat ulang tahun ke-18, ia baru saja merayakan ulang tahun bersama teman sekamarnya. Saat turun untuk membuang sampah, hanya sekitar 100 meter dari asramanya, ia ditabrak mobil hingga tewas.
Banyak orang yang mengetahui kejadian ini membagikan cerita di internet: “Seorang gadis baru saja meniup lilin ulang tahun ke-18 dengan teman-temannya, turun buang sampah, tapi tidak pernah kembali. Orang tuanya baru tiga minggu lalu mengantarnya masuk kuliah…”
“Dia teman seangkatan SMA saya, sangat berprestasi. Dari kota kecil di Guangxi berhasil masuk universitas 985, itu sangat sulit. Mengapa nasibnya seperti ini?”
Laporan polisi menuai keraguan
Pada 28 September, polisi Panyu, Guangzhou mengeluarkan pernyataan: 27 September pukul 21.40, sebuah mobil menabrak dua pejalan kaki di sebuah jalan perumahan di Xiaoguwei. Satu orang meninggal setelah gagal diselamatkan, satu lagi dirawat lalu pulang. Pengemudi bermarga Jin dinyatakan bebas dari dugaan mabuk maupun narkoba.
Namun, banyak warganet mempertanyakan laporan polisi yang dianggap mengecilkan fakta:
- “Itu bukan perumahan biasa, tapi area kampus Universitas Teknologi Selatan Tiongkok.”
- “Pengemudi adalah dosen fakultas seni bernama Jin.”
- “Korban adalah mahasiswa baru yang baru saja berulang tahun ke-18, habis buang sampah langsung meninggal.”
- “Mengapa disebut ‘perumahan’? Supaya universitas tidak perlu bertanggung jawab?”
- “Seperti apa kecepatan mobil hingga bisa membuat korban tewas seketika, padahal ini di dalam kampus?”
Beberapa orang juga menduga adanya upaya menutupi fakta yang sebenarnya. Pasalnya, sebelumnya beredar kabar pengemudi mabuk dan sempat melarikan diri.
Kampus Tekan berita, Mahasiswa Bongkar Identitas Dosen
Mahasiswa menuduh pihak universitas menekan penyebaran berita dengan sejumlah pernyataan :
- “Jangan hanya sibuk menekan trending topic, lebih baik gunakan tenaga dan dana itu untuk melindungi keselamatan mahasiswa. Sikap kampus setelah kejadian ini sangat mengecewakan.”
- “Di platform sosial banyak postingan tentang kejadian ini dihapus. Apakah baru diungkap karena sudah tidak bisa ditutup-tutupi?”
Mahasiswa juga membongkar identitas pengemudi: Jin, dosen tari Fakultas Seni, anggota Partai Komunis Tiongkok (PKT), pernah membawa mahasiswa tampil dalam acara propaganda “Selamanya Ikut Partai” yang diselenggarakan CCTV.
Sumber : NTDTV.com
Dalam Konfrontasi AS–Tiongkok, Mahasiswa Tiongkok Jadi “Pihak yang Terjepit”
Membatasi infiltrasi Partai Komunis Tiongkok (PKT) ke sejumlah kampus Amerika Serikat telah menjadi konsensus bipartisan di AS. Namun, seiring meningkatnya ketegangan AS–Tiongkok, mahasiswa asal Tiongkok di Amerika serikat kini seolah terjebak dalam situasi “sandwich” atau terjepit.
EtIndonesia. Pada Agustus lalu, seorang mahasiswa Tiongkok bermarga Gu yang mendapat beasiswa penuh dari Universitas Houston, dideportasi setelah menjalani interogasi selama 10 jam di bandara. Ia juga dilarang masuk ke AS selama lima tahun. Fokus pertanyaan petugas bea cukai adalah hubungan dirinya dengan PKT.
Pada bulan yang sama, Departemen Pendidikan AS mengeluarkan pedoman baru untuk seluruh universitas di Amerika, menekankan ancaman yang datang dari PKT.
Seorang mahasiswa Tiongkok bernama Alex Wu, yang berkuliah di sebuah universitas di California, mengatakan bahwa kini bea cukai AS sangat ketat memeriksa mahasiswa asal Tiongkok. Beberapa temannya pernah diperiksa.
“Kalau melewati bea cukai waktu kembali ke Amerika, biasanya dimasukkan dulu ke ruang interogasi sekitar setengah sampai satu jam, lalu baru dilepas. Hampir semuanya mahasiswa Tiongkok yang kena begitu,” katanya.
Seorang mahasiswa Tiongkok lain di sebuah community college di California, Geng Lu, mengatakan bahwa ketegangan hubungan AS–Tiongkok memang mempengaruhi suasana kampus.
“Orang jadi lebih berhati-hati kalau bicara tentang Tiongkok. Karena kebanyakan orang Amerika memang tidak suka Partai Komunis,” katanya.
Lembaga think tank Migration Policy Institute (MPI) baru-baru ini merilis laporan survei terhadap 1.300 mahasiswa Tiongkok di AS. Mayoritas responden mengaku merasakan diskriminasi. Namun, 48% mahasiswi tetap ingin menetap, sementara 40% mahasiswa juga berencana tinggal di AS.
“Kami yang berasal dari keluarga kelas menengah biasanya tidak kepikiran mau pulang ke Tiongkok. Di sana kerjaan berat, gajinya kecil. Sudah habiskan banyak uang sekolah di sini, kalau pulang masih harus bersaing lama dengan orang-orang yang punya koneksi. Kalau tidak punya hubungan, ya sulit,” ujar Alex Wu.
Dulu, lulusan luar negeri dianggap “pulang dengan emas” (gold-plated), bahkan kalau tidak masuk ke lingkaran elite, biasanya masih bisa dapat pekerjaan bagus. Namun, keadaan kini sudah berubah.
“Hubungan AS–Tiongkok makin buruk, ditambah dengan opini publik di dalam negeri yang terus dijejali narasi bahwa ‘Amerika adalah musuh’. Itu membuat mahasiswa yang pulang ke Tiongkok dianggap tidak cukup ‘andal secara politik’. Akhirnya, di dua sisi pun mereka tidak diterima,” ujar Geng Lu.
Alex Wu menambahkan, seorang temannya yang pulang ke Tiongkok tahun lalu sempat diperiksa polisi di kereta bawah tanah. Polisi mencurigainya sebagai mata-mata, memeriksa ponselnya, dan menginterogasi sebentar.
“Saat itu polisi memeriksa apakah di ponselnya ada aplikasi luar negeri seperti Twitter atau Telegram. Teman saya memang punya. Meski akhirnya cuma ditanya sebentar dan tidak terlalu ketat, tetap saja menimbulkan trauma psikologis,” tambahnya.
Pada 2024, kebijakan rekrutmen pegawai negeri di banyak provinsi Tiongkok tiba-tiba berubah drastis, dengan membatasi mahasiswa lulusan luar negeri untuk ikut ujian seleksi. Banyak yang langsung merasa “langit runtuh”.
Dalam propaganda Kementerian Keamanan Negara Tiongkok, mahasiswa luar negeri bahkan dianggap sebagai target empuk untuk direkrut lembaga intelijen asing.
Pernyataan Ketua Gree Electric, Dong Mingzhu, pada April lalu juga menimbulkan kontroversi besar. Ia mengatakan “tidak akan pernah memakai orang dari kalangan hai gui (lulusan luar negeri)”, karena “di antara mereka ada mata-mata, dan saya tidak tahu siapa yang iya siapa yang bukan”.
Sementara itu, pada Mei, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengumumkan bahwa AS akan “secara besar-besaran mencabut” visa mahasiswa Tiongkok, khususnya mereka yang terkait dengan PKT atau yang belajar di bidang sensitif.
“Mereka jadi sandwich karena ini konflik struktural. Persaingan AS–Tiongkok tidak bisa dihindari, terutama karena rezim PKT punya niat jahat. Jadi, mahasiswa Tiongkok ini sebenarnya juga korban dari PKT,” ujar Profesor studi internasional di Universitas St. Thomas, Ye Yaoyuan.
Profesor Xie Tian dari School of Business, University of South Carolina Aiken, menekankan bahwa kebijakan pemerintah AS ditujukan kepada rezim PKT, bukan rakyat Tiongkok. Sebagai orang yang pernah mengalami hal serupa, ia menyarankan mahasiswa Tiongkok di AS untuk melakukan “tiga pengunduran diri” (keluar dari Partai, Liga Pemuda, dan Pionir Muda PKT).
“Kalau suatu saat pihak imigrasi AS meragukan apakah Anda agen PKT, maka dengan punya bukti tertulis bahwa Anda sudah keluar dari organisasi PKT, itu bisa menunjukkan bahwa Anda bukan agen dan tidak melayani PKT. Anda hanyalah seorang mahasiswa yang benar-benar ingin belajar. Itu saran terbaik yang bisa saya berikan,” katanya.
Xie menegaskan, hanya dengan menyadari bahwa akar dari semua masalah adalah PKT, mahasiswa Tiongkok di AS bisa menyelamatkan diri mereka sendiri.
Sumber : NTDTV.com
