Militer Israel Perluas Operasi di Gaza, Mulai Kerahkan Puluhan Ribu Pasukan Cadangan

Pada Selasa (2 September), Israel mengaktifkan program mobilisasi pasukan cadangan untuk memperluas serangan terhadap Gaza. Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel (IDF), Letjen Eyal Zamir, menyatakan bahwa operasi darat di Gaza telah dimulai. Sementara itu, terkait Iran, Departemen Perdagangan AS mengumumkan akan memperketat sanksi terhadap Teheran dengan menargetkan jaringan penyelundupan minyak Iran di Irak.

EtIndonesia. Israel terus memperkuat gempuran terhadap Gaza. Pada Selasa (2/9) dini hari, sejumlah ledakan besar mengguncang wilayah Gaza, cahaya api membelah langit malam.

Hari itu, Israel memulai mobilisasi puluhan ribu pasukan cadangan. Letjen Eyal Zamir meninjau salah satu pangkalan militer Israel dan berpidato di hadapan pasukan cadangan.

 “Kita sedang bersiap untuk perang yang akan datang, pertempuran yang berkelanjutan. Kita akan memperluas dan memperkuat serangan militer. Itulah sebabnya kalian semua dipanggil kembali,” katanya. 

 “Kami telah memulai operasi darat di Gaza — pastikan kalian memahami hal ini,” tambahnya. 

Bulan lalu, pihak militer Israel menyatakan akan secara bertahap memobilisasi sedikitnya 60.000 pasukan cadangan, sekaligus memperpanjang masa tugas 20.000 prajurit aktif.

Pasukan darat Israel kini terus bergerak maju menuju Kota Gaza, yang merupakan basis politik dan militer Hamas. Meski kota tersebut telah berulang kali diserang Israel, jaringan terowongan Hamas yang luas masih bertahan di bawah tanah.

Pada hari yang sama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan kepada pasukan aktif maupun cadangan bahwa perang melawan Hamas telah memasuki “tahap krusial.”

PM Benjamin Netanyahu menyatakan:  “Kami bertekad untuk mengalahkan Hamas, tetapi dalam proses itu kami juga telah menciptakan keajaiban — karena kami berhasil melemahkan poros kekuatan Iran: baik di Gaza, Hizbullah di Lebanon, maupun rezim Assad yang kini runtuh.”

Netanyahu berterima kasih atas pengorbanan para prajurit, serta menyerukan mereka untuk terus berjuang di tahap berikutnya dari perang ini.

Netanyahu menambahkan:  “Dalam perang ini, kami membuat keputusan-keputusan yang sangat sulit. Banyak yang meragukan apakah keputusan itu bisa dijalankan. Tetapi berkat kekuatan yang kalian berikan kepada kami, Israel kini bisa melangkah menuju kemenangan penuh.”

Pada hari yang sama, AS mengumumkan peningkatan sanksi terhadap Iran dengan menargetkan jaringan penyelundupan minyak di Irak.

Kantor Pengendalian Aset Asing (OFAC) Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi terhadap jaringan perusahaan pelayaran dan kapal yang dipimpin oleh pengusaha Irak–Saint Kitts, Waleed al-Samarra’i.

Jaringan itu dituduh menyamarkan minyak mentah Iran sebagai minyak mentah Irak untuk diperdagangkan, menghasilkan ratusan juta dolar bagi rezim Iran dan Samarra’i sendiri.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dalam pernyataannya menegaskan bahwa Irak tidak boleh menjadi tempat aman bagi teroris, dan AS berkomitmen untuk membatasi pengaruh Iran di negara tersebut.

Sumber : NTDTV.com

Serangan Pria Berpisau di Marseille, Prancis Sebabkan  5 Orang Terluka, Pelaku Langsung Ditembak Mati

Pada 2 September, terjadi serangan menggunakan pisau daging di pusat kota Marseille, Prancis selatan, yang menyebabkan sedikitnya lima orang terluka. Pelaku kemudian ditembak mati oleh polisi.

EtIndonesia. Laporan AFP menyebutkan,  sumber kepolisian Prancis mengungkapkan bahwa pelaku berpisau menyerang beberapa warga di dekat area yang dikenal sebagai titik panas perdagangan narkoba, sebelum akhirnya ditembak mati polisi.

Seorang saksi mata mengatakan, saat polisi mencoba menangkapnya, pelaku berusaha menusuk petugas. Saksi lain menyebutkan bahwa pelaku memegang “dua pisau daging besar”.

Menurut laporan Le Parisien, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 14.45. Pelaku adalah seorang pria berkewarganegaraan Tunisia, lahir pada 1990, yang memiliki status tinggal legal di Prancis.

Dikabarkan, pria tersebut diusir dari sebuah hotel karena menunggak biaya sewa kamar. Ia kemudian kembali ke kamar lamanya dan menyerang penghuni baru dengan pisau. Korban ditusuk di bagian perut, dilarikan ke rumah sakit, dan kini dalam kondisi kritis. Setelah itu, pelaku menyerang manajer hotel serta anaknya. Keduanya terluka, namun tidak dalam kondisi yang mengancam jiwa.

Usai meninggalkan hotel, pelaku menyerang pemilik sebuah kedai makanan cepat saji, tetapi gagal karena pelanggan melawan, sehingga ia melarikan diri. Selanjutnya, di jalan Cours Belsunce, ia kembali mencoba menyerang, melukai dua orang pejalan kaki di bagian wajah.

Sebelum pukul 15.30, sebuah tim patroli polisi bertemu langsung dengan pelaku. Polisi memintanya meletakkan senjata, namun ia menolak, sehingga akhirnya ditembak mati di tempat.

Catatan dinas intelijen menunjukkan bahwa pelaku pernah mengeluarkan pernyataan bernada anti-Yahudi.

Sumber : NTDTV.com

Satu Dolar Terakhir

EtIndonesia. Kam adalah teman masa kecil penulis. Kami berdua sama-sama menyukai musik. Kini ia sudah menjadi seorang pria sukses. Namun, Kam pernah bercerita bahwa dirinya juga pernah mengalami masa sulit—saat hidupnya hanya tersisa satu dolar. Aneh tapi nyata, justru dari titik itu nasibnya berbalik secara ajaib.

Awal Cerita

Pada awal 1970-an, Kam bekerja sebagai penyiar program musik pop di stasiun radio KYAL di kota McKinley, Texas. Melalui pekerjaannya, ia mengenal banyak bintang musik country dan sering ikut pemilik stasiun terbang dengan pesawat perusahaan ke Nashville untuk menonton pertunjukan mereka.

Suatu malam, ia menghadiri konser perpisahan grup terkenal OLE OPRY di auditorium Ryman, Nashville. Setelah konser, seorang kenalan mengajaknya masuk ke belakang panggung untuk bertemu para penyanyi. Kam panik karena tak punya kertas untuk minta tanda tangan. Akhirnya, ia mengeluarkan selembar uang satu dolar. Malam itu, ia berhasil mendapatkan tanda tangan semua penyanyi dan dengan hati-hati menyimpan uang itu, bertekad untuk menjadikannya kenangan seumur hidup.

Masa Sulit

Namun hidup tak selalu mudah. KYAL kemudian dijual karena bangkrut, banyak pegawai kehilangan pekerjaan, termasuk Kam. Ia akhirnya mendapatkan kerja sementara di radio WBAP di Fort Worth, hanya sebagai penjaga malam, berharap suatu hari bisa menjadi pegawai tetap.

Musim dingin 1976–1977 begitu kejam. Mobil tua Kam rusak. Kehidupan keluarganya nyaris hancur. Ia bertahan berkat bantuan seorang teman yang bekerja di supermarket, yang sesekali memberinya makanan kotak kedaluwarsa agar istri dan anaknya tidak kelaparan. Uang saku? Tidak ada sama sekali.

Pertemuan dengan Pria Misterius

Suatu pagi, usai kerja, Kam melihat sebuah mobil tua Dodge kuning di tempat parkir, dengan seorang pria muda duduk di dalamnya. Ia melambaikan tangan sekilas, lalu pulang. Malamnya, mobil itu masih ada. Beberapa hari berturut-turut, pria itu tetap di sana. Kam mulai curiga.

Akhirnya, suatu hari ia menghampiri. Pria itu menurunkan kaca jendela dan mengaku sudah berhari-hari tinggal di mobil itu, tanpa uang, tanpa makanan. Ia datang dari luar kota untuk melamar pekerjaan, tapi tiba lebih awal tiga hari sehingga belum bisa mulai bekerja. Dengan wajah penuh malu, ia bertanya:
“Bisakah kau meminjamkan aku satu dolar saja, agar aku bisa makan dan bertahan sampai besok? Besok aku bisa mulai kerja dan mendapat uang muka.”

Kam terdiam. Faktanya, ia sendiri bahkan tak punya satu dolar pun di sakunya—hanya cukup bensin untuk pulang. Ia meminta maaf dan beranjak pergi, hatinya penuh rasa bersalah.

Tiba-tiba, ia teringat pada uang satu dolar dengan tanda tangan para penyanyi itu. Ia bergulat batin sebentar, lalu mengeluarkannya dari dompet. Setelah menatapnya sekali lagi, ia menyerahkan uang itu kepada pria muda tersebut.

Pria itu berkata:
“Sepertinya ada tulisan di sini.”
Tapi ia tidak mengenali bahwa itu adalah tanda tangan para bintang country. Ia hanya menyimpannya ke saku dengan lega.

Mukjizat yang Datang

Kam melanjutkan ceritanya:  “Pagi itu, ketika pulang ke rumah dan mencoba melupakan apa yang aku anggap ‘kebodohan’, telepon tiba-tiba berdering. Sebuah studio di Dallas memintaku membuat iklan komersial, dengan bayaran 500 dolar. Bagiku, saat itu rasanya seperti mendapatkan sejuta.”

Kesempatan itu menjadi titik balik. Dari hari ke hari, semakin banyak tawaran pekerjaan datang. Perlahan-lahan, Kam bangkit dari keterpurukan.

Beberapa tahun kemudian, semua orang tahu kelanjutan ceritanya: Kam memiliki keluarga bahagia, istri dan anak, bisnis yang sukses, bahkan rumah besar di pedesaan. Dan semua itu dimulai dari satu keputusan kecil di tempat parkir—memberikan satu dolar terakhirnya.


Refleksi

Kam tak pernah lagi melihat pria di mobil tua Dodge kuning itu. Kadang ia bertanya-tanya:
Apakah dia seorang pengemis? Atau mungkin seorang malaikat?

Jawabannya tidak lagi penting. Yang terpenting adalah: peristiwa itu merupakan ujian kemanusiaan, dan Kam lulus dengan hati yang tulus. (Jhon)

Kisah Penaklukan Kejahatan yang Sederhana

EtIndonesia. Seorang perampok bersenjata sedang melakukan aksi di sebuah bank ketika tiba-tiba ia terkepung polisi. Tak ada jalan untuk mundur. Dalam kepanikan, ia menarik seorang perempuan dari kerumunan untuk dijadikan sandera. Senjata api menempel di kepala perempuan itu, dan ia memaksa polisi agar tidak mendekat, sambil berteriak agar sandera patuh pada perintahnya.

Polisi mengepung dari segala arah, tetapi tidak bisa pergi begitu saja. Sang perampok pun berusaha membawa sandera keluar. Tiba-tiba, sandera itu merintih kesakitan. Awalnya hanya suara pelan, namun makin lama semakin keras, hingga berubah menjadi teriakan penuh penderitaan.

Barulah si perampok menyadari—sandera itu seorang perempuan hamil. Wajahnya pucat, tubuhnya bergetar, dan darah mulai membasahi pakaiannya. Ia berada dalam keadaan genting, seolah akan melahirkan kapan saja.

Saat itu, dilema berat menghantam si perampok:

·        Di satu sisi, ada kesempatan untuk melarikan diri, tapi juga ancaman penyesalan moral yang tak berkesudahan.

·        Di sisi lain, ada kehidupan baru yang sebentar lagi lahir, menuntut haknya untuk hidup.

Semua mata, baik polisi maupun kerumunan, tertuju padanya. Pilihannya kini bukan sekadar antara uang atau penjara, melainkan antara dosa atau nurani.

Akhirnya, dengan tangan gemetar, perampok itu mengangkat senjatanya—dan melemparkannya ke tanah. Ia mengangkat kedua tangan menyerah. Polisi langsung mengamankannya, sementara orang-orang yang menyaksikan tak kuasa menahan diri dan memberi tepuk tangan.

Namun keadaan perempuan itu semakin gawat. Ia harus segera dibawa ke rumah sakit. Saat polisi memborgol si perampok, ia tiba-tiba berkata:
“Tunggu sebentar… saya seorang dokter!”

Polisi tertegun. Ia melanjutkan dengan suara tegas:
“Dia tak akan bertahan sampai rumah sakit. Nyawanya terancam. Tolong percaya pada saya!”

Setelah ragu sesaat, polisi akhirnya membuka borgolnya. Beberapa menit kemudian, terdengarlah suara tangisan bayi yang lantang, menggema di udara. Orang-orang bersorak, saling berpelukan dengan haru.

Sang perampok kini berlumuran darah—bukan darah kejahatan, melainkan darah kehidupan baru. Di wajahnya muncul senyum kepuasan seorang dokter yang berhasil menyelamatkan nyawa. Semua yang hadir terdiam, seakan lupa bahwa ia sebenarnya seorang penjahat.

Sesudahnya, polisi kembali memborgol tangannya. Ia menatap sekeliling dengan tenang, lalu berkata:
“Terima kasih sudah mengizinkan saya menjalankan tugas seorang dokter. Bayi ini adalah yang pertama lahir dari tangan saya… tepat di bawah moncong senjata saya. Keberanian kecilnya telah menaklukkan saya. Saat ini, saya lebih berharap dikenal bukan sebagai perampok, melainkan sebagai seorang dokter yang menyelamatkan hidup.”


Pesan Kehidupan

Terkadang, kejahatan bisa ditaklukkan bukan oleh kekuatan atau kekuasaan, melainkan oleh sesuatu yang sangat sederhana: kehadiran sebuah kehidupan baru. Karena setiap kehidupan, betapapun kecilnya, membawa kekuatan besar—hak untuk hidup yang tak dapat ditolak.

Inilah penaklukan oleh kehidupan: sederhana, namun begitu kuat. (Jhon)

(Kisah nyata ini terjadi di Los Angeles, pada 25 Juli 1999.)

Mengatasi Rasa Takut Itu Sendiri

EtIndonesia. Mengapa banyak orang punya mimpi besar, namun hanya sedikit yang benar-benar berhasil meraihnya?

Jawabannya sederhana: ketika manusia berhadapan dengan hal-hal yang tak bisa diprediksi, muncullah rasa khawatir dan takut. Takut bahwa segalanya tak berjalan sesuai harapan. Dan begitu rasa takut hadir, kita jadi panik, kehilangan kendali, lalu berakhir pada kegagalan.

Ketika Rasa Takut Menguasai

Saat menghadapi bahaya, batin kita akan dipenuhi rasa sakit dan penderitaan—baik karena kejadian nyata maupun hanya bayangan semu. Ironisnya, meski hanya khayalan, rasa takut itu tetap mampu mengendalikan perilaku kita.

Karena itu, cara terbaik agar tidak dikuasai rasa takut adalah menanamkan keyakinan teguh bahwa kita bisa berhasil.

Sumber-Sumber Rasa Takut

Untuk mengalahkan rasa takut, kita perlu tahu dari mana ia berasal. Biasanya rasa takut muncul karena:

1. Ketidakpastian (Unknown)
Ketidakpastian masa depan membuat kita ragu melangkah, sehingga menutup peluang untuk menemukan kemungkinan baru.

2. Kegagalan (Failure)
Kita takut akan konsekuensi gagal. Padahal kegagalan adalah bagian alami dari hidup—justru dari sanalah kita belajar.

3. Kritik (Criticism)
Semua orang ingin dipuji. Itulah sebabnya kita takut dikritik, lalu tidak berani mengungkapkan ide atau jati diri yang sebenarnya.

4. Kehilangan (Loss)
Setelah memiliki sesuatu—keluarga, harta, pekerjaan—kita takut kehilangannya. Ketakutan itu sering membuat kita tak berani melangkah lebih jauh.

5. Rasa Sakit (Pain)
Ketika hasil tak sesuai harapan, rasa sakit dan kecewa muncul. Untuk menghindarinya, banyak orang memilih tidak bertindak sama sekali.

Kuncinya: Berjalan Terus ke Depan

Begitu kita membiarkan diri terikat oleh rasa takut, langkah pun berhenti. Semua rencana pun kandas sebelum dimulai. Karena itu, jangan berhenti melangkah. Buatlah keputusan, terus maju, jangan biarkan ketakutan menahanmu.

Ingatlah: apa yang kamu takuti, sering kali justru akan datang menghampiri.
Maka, pastikan tujuanmu jelas, lalu mantapkan hati untuk terus bergerak ke depan. (Jhon)

Gempa Dahsyat Kembali Mengguncang Afghanistan! Lebih dari 1.400 Orang Tewas dan 3.124 Terluka, Dukungan Internasional Terus Meningkat

Pada 31 Agustus lalu, setelah Afghanistan diguncang gempa bermagnitudo 6, wilayah tenggara negara itu kembali dilanda gempa susulan berkekuatan magnitudo 5,2 pada Selasa (2 September). Hingga kini, sudah diketahui lebih dari 1.400 orang tewas dan ribuan lainnya luka-luka. Juru bicara PBB memperkirakan jumlah ini masih akan terus meningkat.

EtIndonesia. Gempa pada Selasa (2 September) terjadi di timur laut Jalalabad, Provinsi Nangarhar. Dua hari sebelumnya (31 Agustus), di wilayah yang sama terjadi gempa berkekuatan 6 yang meruntuhkan rumah-rumah dari bata lumpur dan kayu, membuat banyak orang terjebak di bawah reruntuhan. Itu merupakan salah satu gempa terparah di Afghanistan dalam beberapa tahun terakhir.

Kelompok Taliban, yang saat ini berkuasa di negara tersebut, pada Selasa mengklaim sedikitnya 1.411 orang meninggal, 3.124 orang terluka, dan lebih dari 5.400 rumah hancur. Namun kondisi sebenarnya belum jelas.

Hujan deras, longsor, dan jalan-jalan yang rusak membuat bantuan sulit menjangkau daerah pegunungan terpencil yang paling parah terdampak.

Para relawan setempat menyebutkan bahwa gempa susulan membuat para penyintas hidup dalam ketakutan, sementara obat-obatan dan tempat pengungsian sangat terbatas.

 “Saya datang ke sini untuk membantu. Saat ini sudah ada sekitar lima puluh hingga enam puluh orang yang turun tangan. Situasi di lokasi sangat parah, jenazah bergelimpangan, sebagian korban luka sudah dievakuasi, sementara yang lain sedang dipindahkan dengan helikopter,” ujar seorang relawan bernama Nameerullah. 

Inggris berjanji memberikan bantuan sebesar 1 juta poundsterling (sekitar 1,3 juta dolar AS) melalui berbagai lembaga kemanusiaan. Uni Eropa sedang mengirimkan 130 ton bantuan darurat ke daerah bencana serta menyalurkan dana bantuan sebesar 1 juta euro (sekitar 1,16 juta dolar AS). PBB juga mengalokasikan dana 5 juta dolar AS untuk tanggap darurat. Selain itu, Uni Emirat Arab, India, dan sejumlah negara lain juga menyatakan akan menyalurkan bantuan.

 “Seiring dengan masuknya tim pencarian dan penyelamatan ke daerah terdampak, angka korban diperkirakan akan terus bertambah. Kami telah mengirim sedikitnya 25 tim penilai ke wilayah tersebut, serta mengupayakan distribusi barang-barang penting ke area yang bisa dijangkau untuk mendukung operasi penyelamatan,” kata Juru bicara PBB, Stephane Dujarric.

 “Rekan-rekan kami di bidang kemanusiaan menekankan bahwa kebutuhan paling mendesak mencakup tempat pengungsian darurat, pasokan medis penting, air minum, dan bantuan pangan darurat. Saat ini tempat pengungsian dan pasokan medis sangat terbatas.”

Sejak Taliban berkuasa pada 2021, ini sudah menjadi gempa besar ketiga yang melanda Afghanistan.

Sumber : NTDTV.com

Parade Militer 3 September: Kepala Xi Jinping Tampak Gemetar Tak Terkendali, Kondisi Tubuh Jadi Sorotan

Kondisi kesehatan pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT), Xi Jinping, kembali menjadi perhatian. Pada 3 September, saat menghadiri parade militer di Beijing, Xi terlihat menunjukkan sejumlah tanda-tanda fisik yang tidak biasanya, menimbulkan keprihatinan publik.

EtIndonesia. Pagi hari itu, Xi Jinping menyampaikan pidato dan meninjau pasukan dalam parade. Dari siaran langsung CCTV Tiongkok terlihat, wajah Xi tampak muram, kulit wajahnya gelap secara tidak wajar, tangan kirinya terlihat bengkak, dan suaranya terdengar lemah, sangat berbeda dari penampilannya sebelumnya.

Selain itu, kepalanya beberapa kali tampak bergetar tanpa kendali, meski kamera siaran langsung segera dialihkan. 

Pada parade 3 September tahun 2015, Xi sempat disorot karena memberi hormat dengan tangan kiri, yang diejek mirip “salut Nazi”. Namun kali ini ia sama sekali tidak memberi hormat, hanya sempat melambaikan tangan sebentar ke arah penonton.

Kondisi Xi yang tidak biasa ini ramai dibahas di platform X  luar negeri:

  • “Ada apa dengan Xi Jinping? Saat berdiri di Tiananmen menonton parade, kepalanya terus bergetar tanpa henti.”
  • “Wajahnya tampak aneh, gerakannya tidak terkoordinasi.”
  • “Sepertinya ada penyakit hati.”
  • “Kepalanya gemetar ringan tanpa sadar, matanya terus berkedip.”
  • “Beberapa video dari media resmi menunjukkan lehernya miring.”
  • “Xi Jinping diduga mengidap diabetes, tidak mampu berdiri lama, harus cepat duduk, wajahnya sangat letih.”
  • “Tampak linglung, seperti kehilangan tenaga hidup.”

Sebelumnya, saat menghadiri KTT SCO di Tianjin, Xi juga terlihat berwajah gelap tak wajar. Foto dan video yang beredar menunjukkan, saat berfoto bersama para pemimpin negara lain, wajah Xi tampak jauh lebih gelap dibanding yang lain.

Pada 20 Agustus, ketika menghadiri acara peringatan di Tibet, publik juga memperhatikan wajahnya yang hitam legam.

Seorang narasumber yang mengetahui kondisi internal mengatakan kepada Epoch Times bahwa saat Xi tiba di Lhasa, tubuhnya sudah tampak tidak sehat. Ia terlihat sangat lelah, dan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan oksigen rendah, Xi sempat berhenti sekitar 20 menit setelah turun dari pesawat di Bandara Gonggar, lalu berjalan perlahan dengan langkah kecil.

Sumber itu juga menyebutkan, saat berjalan di Lhasa, langkah Xi tampak tidak stabil: tubuhnya condong ke kaki kiri, kaki kanan agak terseret, langkah mengecil, kadang terlihat limbung.

Selama beberapa tahun terakhir, kesehatan Xi Jinping memang kerap menjadi bahan spekulasi. Ada rumor ia menderita tumor hati dan sempat menjalani operasi, kemudian muncul kabar bahwa ia mengidap kanker pankreas. Pada Juli 2024, bahkan beredar kabar ia sempat jatuh akibat stroke saat Sidang Pleno Ketiga, lalu dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan darurat.

Sumber : NTDTV.com

Xi Jinping Tampak Lesu di Parade Militer Beijing; Wen Jiabao Hadir, Hu Jintao Absen

Pada Rabu (3/9/2025), sejumlah mantan elite Partai Komunis Tiongkok (PKT) seperti Wen Jiabao dan Li Ruihuan hadir dalam parade militer di Beijing. Siaran langsung memperlihatkan wajah pemimpin PKT, Xi Jinping, tampak muram, dengan pidato lemah dan ekspresi penuh kegelisahan.

EtIndonesia. Pada 3 September 2025 pagi, PKT menggelar acara yang disebut sebagai “Peringatan 80 Tahun Perang Perlawanan terhadap Jepang” di Lapangan Tiananmen, Beijing. Xi Jinping menyampaikan pidato, kemudian melakukan inspeksi pasukan.

Dalam siaran CCTV, Xi terlihat dengan ekspresi tidak biasa: sering berkedip, menggelengkan kepala, wajah kusam dan muram, pidato tanpa semangat, tanpa tanda-tanda kegembiraan — seluruhnya menunjukkan raut wajah murung.

Hari itu, para pemimpin PKT yang masih menjabat duduk di bagian tengah tribun kehormatan, sementara kehadiran para pensiunan pejabat tinggi juga menarik perhatian publik. Yang hadir antara lain Li Ruihuan, Wen Jiabao, Jia Qinglin, Zhang Dejiang, Yu Zhengsheng, Li Zhanshu, Wang Yang, Li Lanqing, Zeng Qinghong, Wu Guanzheng, Li Changchun, He Guoqiang, Liu Yunshan, Wang Qishan, dan Zhang Gaoli — total 15 tokoh.

Namun, Hu Jintao, Zhu Rongji, Song Ping, dan Luo Gan tidak terlihat hadir. Hu Jintao yang kini berusia 82 tahun kemungkinan absen karena alasan kesehatan. Tiga tokoh lainnya juga tidak hadir karena faktor usia lanjut dan kondisi fisik yang lemah.

Baik CCTV maupun CGTN menutup kolom komentar dalam siaran langsung parade di YouTube pada 3 September.

Pada 30 September 2024, saat acara jamuan Hari Nasional di Beijing, Wen Jiabao (82 tahun) dan Li Ruihuan (90 tahun) ditempatkan di sisi kanan dan kiri Xi Jinping. Penempatan itu sempat menarik sorotan publik.

Zhu Rongji sendiri sudah pensiun dari jabatan Perdana Menteri Tiongkok sejak 2003. Dalam beberapa tahun terakhir ia jarang tampil di publik. Kemunculan terakhirnya adalah pada Oktober 2018 saat bertemu anggota Dewan Penasihat Sekolah Ekonomi dan Manajemen Universitas Tsinghua.

Selama 13 tahun kekuasaan Xi Jinping, kebijakan yang kacau membuat Tiongkok menghadapi tekanan dari dalam dan luar negeri. Ekonomi kini terjebak stagnasi, perebutan kekuasaan di kalangan elite PKT semakin sengit, kritik terhadap Xi meningkat, dan tuntutan agar ia turun dari jabatan semakin keras.

Menjelang parade 3 September, sejumlah aksi perlawanan rakyat muncul di berbagai daerah Tiongkok. Pada 7 Agustus, beredar luas di platform X sebuah video yang memperlihatkan seorang pria di depan Monumen Kemenangan Perang Anti-Jepang di Kunming, Yunnan, mengangkat spanduk bertuliskan “Xi Jinping mundur.”

Pada 29 Agustus malam, di kawasan Universitas Chongqing, beberapa proyeksi besar muncul di gedung-gedung tinggi menampilkan slogan anti-PKT selama lebih dari 50 menit. Tulisan di antaranya:

  • “Tanpa Partai Komunis baru ada Tiongkok baru, kebebasan bukan hadiah, harus direbut kembali.”
  • “Hancurkan fasisme merah, gulingkan kediktatoran PKT.”
  • “Bangkitlah, orang-orang yang tak mau jadi budak, bangkit melawan untuk merebut kembali hakmu.”
  • “Jangan kebohongan, kami mau kebenaran. Jangan perbudakan, kami mau kebebasan. Turunkan kediktatoran PKT.”

Pada 31 Agustus, di sebuah papan pengumuman di Beijing, muncul poster besar berjudul “Sekretaris Jenderal Mundur!” yang mencantumkan tiga tuntutan konkret.

Sumber : NTDTV.com

Saham Global Anjlok, Imbal Hasil Obligasi Naik Hingga Emas Mencapai Rekor Tertinggi

Pada Selasa (2 September), bursa saham global mengalami penurunan. Imbal hasil obligasi jangka panjang Eropa melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal berbagai negara. Sementara itu, dolar AS sedikit menguat. Bahkan, harga emas mencapai rekor tertinggi dalam sejarah.

Fokus pasar kini tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS untuk Agustus yang akan dirilis Jumat (5 September), yang berpotensi mempengaruhi keputusan suku bunga The Fed pada pertengahan bulan ini.

EtIndonesia. Pada Selasa 2 September 2025, bursa saham AS secara umum melemah: Dow Jones Industrial Average turun sekitar 1%, S&P 500 turun 1,2%, dan Nasdaq Composite turun 1,5%. Sehari sebelumnya (Senin, 1 September), volatilitas saham teknologi mengguncang pasar Jepang dan Korea Selatan, namun keduanya pulih pada Selasa.

Harga emas terus melambung, menembus USD 3.500 per ons, mencatat rekor tertinggi sepanjang masa. Sejak awal tahun, harga emas sudah naik lebih dari 30%.

 Analis menyebut lonjakan emas dipicu ekspektasi pemangkasan suku bunga, pelemahan dollar AS, serta ketidakpastian geopolitik, sekali lagi menegaskan peran emas sebagai aset lindung nilai tradisional.

Seiring jatuhnya bursa saham dan melonjaknya emas, harga Bitcoin naik sekitar 1%, kembali ke USD 111.000, sementara harga minyak juga sedikit menguat.

Kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal pemerintah membuat poundsterling dan yen Jepang anjlok tajam, sehingga dolar AS menguat. Para trader kini menunggu laporan ketenagakerjaan AS Jumat mendatang untuk memprediksi arah pergerakan dolar berikutnya. 

Saat ini, pasar memperkirakan ada 91% kemungkinan The Fed menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin bulan ini, meskipun proyeksi tersebut bisa berubah bergantung pada data ekonomi yang segera dirilis.

Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi Prancis bertenor 30 tahun naik ke 4,49%, tertinggi dalam 16 tahun. Imbal hasil obligasi Inggris bertenor 30 tahun melonjak ke 5,69%, level tertinggi sejak 1998. Sementara itu, imbal hasil obligasi AS bertenor 30 tahun kembali mendekati 5%, tertinggi dalam lebih dari sebulan.

Akhir pekan lalu, pengadilan banding memutuskan tarif “resiprokal” era pemerintahan Trump tidak sah, dan kasus ini kemungkinan akan berlanjut ke Mahkamah Agung. Analis menilai, putusan tersebut semakin menambah kekhawatiran di pasar obligasi AS karena berpotensi mengurangi penerimaan tarif, memperlebar defisit fiskal.

Dilaporkan pula bahwa investor obligasi mendorong naiknya imbal hasil karena ekspektasi pemerintah AS mungkin harus mengembalikan miliaran dolar penerimaan tarif, sehingga memperburuk tekanan fiskal yang sudah berat. Saham perbankan, saham teknologi, dan aset berisiko lainnya pun ikut melemah.

Secara historis, September memang cenderung menjadi bulan dengan performa terburuk bagi pasar saham. Dalam lima tahun terakhir, S&P 500 rata-rata turun 4,2%, dan dalam sepuluh tahun terakhir rata-rata turun lebih dari 2%. Faktor ini bisa menekan sentimen pasar pada awal bulan perdagangan yang baru.

Sumber : NTDTV.com

Mic Bocor! Obrolan Xi, Putin dan Kim Jong Un Saat Parade Militer Beijing soal Transplantasi Organ Jadi Sorotan

EtIndonesia. Pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping untuk pertama kalinya tampil bersama dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, pada Rabu (3/9/2025).  Menurut laporan media Jepang dan siaran langsung BBC, dalam percakapan santai ketiganya, penerjemah Putin menyebutkan soal transplantasi organ yang terus dilakukan sehingga bisa membuat orang “semakin muda” bahkan “hidup abadi.” 

Setelah terdengar suara tawa terbahak-bahak, siaran langsung segera mengalihkan kamera dari close-up ketiga pemimpin itu. 

Cuplikan percakapan ini kemudian banyak beredar di internet dan memicu perbincangan luas publik terkait praktik kejahatan PKT berupa pengambilan paksa organ manusia.

Putin dan Xi Membicarakan “Keabadian” dan Penggantian Organ

Rekaman siaran langsung media CCTV Partai Komunis Tiongkok  menunjukkan bahwa sebelum upacara “Parade 3 September” dimulai, Xi Jinping bersama para pemimpin negara lain berjalan menuju lokasi acara. Dalam perjalanan, Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin membicarakan soal umur panjang.

Dalam video, Xi Jinping melalui penerjemah bahasa Rusia berkata:
“Dulu, sangat jarang ada orang yang bisa hidup sampai usia 70 tahun, tapi sekarang usia 70 tahun masih dianggap anak-anak.”

Kemudian, suara penerjemah yang menyampaikan ucapan Putin terdengar sangat jelas. Putin membicarakan transplantasi organ, mengatakan:
“Organ manusia dapat terus ditransplantasikan, sehingga hidup akan semakin muda, bahkan bisa hidup abadi.”

Dalam video terdengar tawa terbahak-bahak.

Xi Jinping menanggapi:  “Prediksi mengatakan bahwa pada abad ini, usia manusia bisa mencapai 150 tahun.”

Di sampingnya, Kim Jong Un tersenyum sambil menoleh ke arah Xi, tampak sangat tertarik dengan topik itu. (Tautan video yang beredar luas di kalangan warganet)

Epoch Times tidak dapat memperoleh rekaman lengkap suara asli Putin.

Dalam konferensi pers setelah parade, Putin membenarkan bahwa ia dan Xi Jinping memang membicarakan soal “memperpanjang usia manusia.”

 “Saya pikir saya dan Presiden (Xi) sempat membicarakan topik ini saat berjalan menuju parade. (Mantan Perdana Menteri Italia) Silvio Berlusconi pernah sangat peduli dengan hal ini. Kedokteran modern dan teknologi yang berkaitan dengan transplantasi organ memberi manusia alasan untuk percaya bahwa usia bisa diperpanjang secara signifikan,” kata Putin. 

Namun, rekaman video tersebut telah dihapus oleh otoritas PKT. Saat wartawan Epoch Times menonton saluran siaran langsung CCTV di YouTube, kini video itu sudah diubah menjadi “privat” sehingga tak dapat diakses . Tetapi video tersebut telah disimpan oleh BBC dan sejumlah media asing lainnya. Dalam video lengkap yang dirilis BBC, percakapan ini terdengar pada menit 3:40.

Tanggapan Ketua DPR AS Mike Johnson

Ketua DPR AS Mike Johnson menanggapi pertanyaan terkait dari wartawan televisi NTD berbahasa Inggris. 

 “Kita sudah mendengar banyak laporan mengerikan dari Tiongkok mengenai transplantasi organ, di mana organ diambil dari ‘donor yang tidak rela’—itu pun sudah dikatakan dengan sangat halus. Dan sekarang, percakapan mereka sampai terekam mikrofon tanpa sengaja. Ini pertama kalinya saya mendengarnya, dan hal itu sendiri sudah sangat menjelaskan masalahnya,” katanya. 

“Ini menunjukkan cara pandang dunia mereka, yang benar-benar bertentangan dengan nilai moral kita, bahkan bisa dikatakan jahat,” tambahnya. 

Ia juga menegaskan bahwa fakta pemimpin PKT sendiri membicarakan hal ini harus menimbulkan kewaspadaan tinggi. Kongres AS menentang praktik semacam ini, dan sudah ada sejumlah rancangan undang-undang terkait. Jika perlu, masalah ini akan diprioritaskan.

Meledaknya Perbincangan Publik

Isi percakapan Xi dan Putin yang tersebar di media sosial luar negeri segera memicu perbincangan luas.

Pengamat politik senior Cai Shenkun, yang tinggal di AS, menulis di X:  “Hal paling mencolok dalam parade hari ini adalah Xi, Putin, dan Kim secara terbuka membicarakan topik seperti ‘transplantasi organ’ dan ‘hidup abadi’. Hampir semua diktator memang mendambakan hidup abadi dan berkuasa selamanya.”

Shen Mingshi, peneliti di Institut Penelitian Keamanan Pertahanan Nasional Taiwan, mengatakan kepada Epoch Times bahwa Putin selalu punya maksud tertentu ketika berbicara dalam kesempatan semacam ini.

 “Saya pribadi menilai, ketika Putin membicarakan hal itu, sebenarnya ia sedang menguji kondisi kesehatan Xi Jinping. Mungkin Putin melihat Xi kali ini tampak berbeda dengan sebelumnya,” ujarnya. 

Shen menambahkan, dari kegiatan Xi dalam dua hari terakhir, terlihat bahwa ia berjalan dengan langkah tidak stabil; saat menghadiri KTT SCO wajahnya tampak sangat gelap, terlihat tidak sehat.

Feng Chongyi, dosen senior di Universitas Teknologi Sydney, menulis di X:  “Mimpi hidup abadi para diktator sudah berlangsung lama. Hanya karena kejahatan pengambilan organ hidup saja, rezim PKT pasti akan menerima kutukan langit dan tak bisa lepas dari kehancuran.”

Warganet juga ramai berkomentar bahwa PKT sedang mengumbar secara terbuka kejahatan pengambilan organ hidup:

  • “Dalam Kisah Perjalanan ke Barat, para siluman membicarakan khasiat daging Biksu Tang Seng, kurang lebih sama seperti ini.”
  • “Dua diktator ini membicarakan pencabutan organ dan hidup abadi? Mereka bahkan tidak berusaha menutupi lagi.”
  • “Sekadar sebuah percakapan yang tertangkap kamera, sudah menunjukkan betapa jahatnya mereka.”
  • “Sepertinya selain mengekspor kemiskinan, kelaparan, dan komunisme, PKT juga mengekspor organ hidup pemuda Tiongkok untuk para elit dan penguasa asing!”

PKT dan “Perpanjangan Usia” untuk Pejabat Tinggi

Pernyataan Xi tentang “usia manusia bisa mencapai 150 tahun” sebenarnya berasal dari sebuah proyek penelitian khusus PKT untuk memperpanjang usia pejabat tinggi.

Pada tahun 2019, pernah beredar luas di WeChat sebuah iklan tentang “Proyek Kesehatan Pimpinan 981,” yang memperkenalkan layanan medis khusus bagi jajaran pimpinan tertinggi PKT. Iklan itu mengklaim bahwa proyek ini telah menunjukkan “hasil signifikan” dalam 60 tahun terakhir, dengan target memperpanjang usia hingga 150 tahun.

Situs Baidu sebelumnya juga secara terbuka memperkenalkan bahwa kelompok riset “Proyek Kesehatan 981” dibentuk pada tahun 2005 dan resmi diluncurkan pada bulan Mei. Disebutkan bahwa proyek ini “memiliki pakar perawatan medis khusus untuk pimpinan nomor satu.”

Namun, ketika kecurigaan publik semakin meluas bahwa elit PKT memperpanjang hidup dengan organ khusus, iklan tersebut diblokir, dan penjelasan tentang proyek “981” di Baidu pun dihapus.

Pengamat politik Li Linyi mengatakan kepada Epoch Times bahwa percakapan Xi dan Putin ini membuktikan tuduhan komunitas internasional selama beberapa tahun terakhir mengenai keterlibatan PKT dalam industri pengambilan organ hidup berskala negara, serta adanya sistem organ khusus untuk kalangan elit PKT.

Ledakan Transplantasi Organ Setelah PKT Menganiaya Falun Gong

Setelah PKT mulai menganiaya Falun Gong, praktek transplantasi organ di Tiongkok melonjak drastis.

Menurut data resmi media PKT yang dikumpulkan oleh World Organization to Investigate the Persecution of Falun Gong (WOIPFG), sebelum 1999, total kasus transplantasi hati di Tiongkok dalam lebih dari 20 tahun hanya berjumlah 135 kasus—rata-rata hanya 5–6 kasus per tahun. Namun, dalam 8 tahun sejak 1999 hingga 2006, transplantasi hati melonjak menjadi 15.207 kasus, rata-rata lebih dari 1.700 kasus per tahun—peningkatan sekitar 180 kali lipat.

Pada 2006, Epoch Times pertama kali melaporkan berdasarkan kesaksian Whistleblower bahwa PKT membunuh tahanan hati nurani untuk diambil organnya. Sejak saat itu, bukti mengenai kejahatan ini semakin banyak, bagaikan bola salju yang terus membesar.

Pada 2019, sebuah pengadilan independen di Inggris menyimpulkan dengan keyakinan penuh bahwa sebagian besar organ yang digunakan dalam industri transplantasi organ bernilai miliaran dolar di Tiongkok, berasal dari praktisi Falun Gong yang dianiaya, juga dari etnis Uyghur dan tahanan politik lainnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, praktik pengambilan organ hidup oleh PKT meluas dari target utama praktisi Falun Gong ke masyarakat umum. Bahkan, kini bahkan merambah ke luar negeri. (***)

Trump : Putin, Kim, Xi Bersekongkol Melawan AS Saat Partai Komunis Tiongkok Gelar Parade Militer

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa kepala Partai Komunis Tiongkok (PKT), Xi Jinping, bersekongkol dengan para pemimpin Rusia dan Korea Utara saat mereka berkumpul di Beijing untuk parade militer memperingati kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II.

Saat parade dimulai pada Rabu (3/9/2025) waktu setempat, Trump menulis di Truth Social dan bertanya apakah Xi akan “menyebutkan besarnya dukungan dan ‘darah’ yang diberikan Amerika Serikat kepada Tiongkok untuk membantunya meraih KEBEBASAN dari penjajah asing yang sangat tidak bersahabat,” merujuk pada Jepang Kekaisaran.

“Banyak orang Amerika gugur dalam perjuangan Tiongkok meraih Kemenangan dan Kejayaan,” katanya. “Saya berharap mereka dihormati dan dikenang dengan benar atas Keberanian dan Pengorbanan mereka!”

Trump kemudian menyampaikan harapannya kepada Xi dan “rakyat Tiongkok yang luar biasa … semoga mendapat hari perayaan yang hebat dan abadi.”
“Tolong sampaikan salam hangat saya kepada Vladimir Putin dan Kim Jong Un, saat kalian bersekongkol melawan Amerika Serikat,” kata Trump.

Penasihat kebijakan luar negeri Kremlin, Yuri Ushakov, menanggapi pernyataan itu dengan mengatakan di televisi pemerintah Rusia, “Saya ingin menegaskan bahwa tidak ada yang bersekongkol, tidak ada yang merencanakan sesuatu, tidak ada konspirasi.”

Menjelang parade, PKT meningkatkan keamanan dan membatasi pergerakan warga.

Acara ini menandai 80 tahun menyerahnya Jepang, yang menurut pengamat Tiongkok, dimanfaatkan PKT untuk mendorong narasi palsu bahwa merekalah yang memimpin perlawanan terhadap Jepang, padahal saat itu Republik Tiongkok yang memerintah dan kemudian mundur ke Taiwan.

Dewan Urusan Daratan Taiwan mengkritik PKT karena menghabiskan lebih dari 5 miliar dolar AS untuk latihan militer sambil “mengabaikan masalah ekonomi, tenaga kerja, dan sosial Tiongkok.”

Meski baik Taiwan maupun daratan Tiongkok memperingati kemenangan atas Jepang pada 3 September, PKT menggelar parade militer sementara Taiwan, bersama negara-negara sekutu AS lainnya, mengadakan pameran dan konser untuk menghormati jiwa-jiwa yang gugur demi kebebasan.

Presiden Taiwan Lai Ching-te mengkritik parade militer PKT dalam unggahan media sosialnya pada Rabu.

 “Rakyat Taiwan mencintai perdamaian, dan Taiwan tidak memperingati perdamaian dengan moncong senjata,” tulisnya. “Sebaliknya, Taiwan mengingat pelajaran sejarah, berpegang pada keyakinan akan kebebasan dan demokrasi, serta percaya bahwa peralatan di tangan digunakan untuk mempertahankan negara, bukan menyerang dan memperluas wilayah.”

Parade ini menandai pertama kalinya para pemimpin Korea Utara, Iran, Rusia, dan Tiongkok berkumpul dalam satu acara. Ini juga pertama kalinya seorang pemimpin Korea Utara menghadiri parade militer Tiongkok sejak 1959 di era Perang Dingin.

Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menjadi tamu kehormatan Xi. Xi telah mendukung invasi Putin ke Ukraina sejak mereka menandatangani kemitraan “tanpa batas” sekitar 20 hari sebelum serangan Rusia pada Februari 2022.

Secara keseluruhan, 26 kepala negara asing menghadiri acara tersebut, termasuk pemimpin dari Asia Tengah (Kazakhstan, Uzbekistan, Tajikistan, Kirgistan, dan Turkmenistan); Asia Tenggara (Myanmar, Kamboja, Vietnam, Laos, Indonesia, Malaysia, Pakistan, Nepal, dan Maladewa); Asia Barat (Azerbaijan, Armenia, dan Iran); Eropa (Belarusia dan Serbia); Afrika (Republik Kongo dan Zimbabwe); serta Kuba.

Pemimpin Venezuela Nicolás Maduro tidak hadir di tengah meningkatnya aktivitas angkatan laut AS di Karibia yang menurut Trump menargetkan anggota geng Tren de Aragua dari Venezuela.

Jumlah kehadiran ini lebih sedikit dibanding parade Xi pada peringatan 70 tahun tahun 2015, yang dihadiri beberapa pemimpin Barat dan mantan pemimpin internasional, termasuk Perdana Menteri India Narendra Modi.

Namun, Modi menghadiri Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Tianjin, Tiongkok, beberapa hari sebelumnya, dan membagikan foto pertemuannya dengan Xi dan Putin di media sosial.

Modi sedang menghadapi tekanan di dalam negeri setelah Trump memberlakukan tarif tinggi 50 persen pada barang-barang India yang diekspor ke AS, hanya 5 persen lebih rendah dari tarif tertinggi yang dikenakan pada barang-barang Tiongkok.

SCO, yang dipimpin Beijing dan Moskow, bertujuan melawan pengaruh Barat di Asia Tengah. Setelah pertemuan bilateral Xi dan Putin pada 2 September, raksasa energi Rusia Gazprom mengumumkan perjanjian baru untuk membangun pipa gas alam besar yang menghubungkan kedua negara tetangga yang memiliki sejarah rumit itu.

Pada Mei lalu, seorang pejabat menengah dari Kementerian Luar Negeri Tiongkok membelot ke Rusia dengan membawa dokumen rahasia yang merinci rencana darurat Beijing jika Rusia kalah di Ukraina. Hal ini mengungkap kurangnya keyakinan pada stabilitas rezim Putin, menurut Yuan Hongbing, mantan profesor hukum Universitas Peking yang kini hidup di pengasingan di Australia.

Mengutip sumber tingkat tinggi di internal PKT, Yuan mengatakan kepada The Epoch Times bahwa dokumen bocor itu berisi rencana PKT untuk mendukung Partai Komunis Rusia di era pasca-Putin—yang sejalan dengan kepentingan ideologis PKT—atau mendukung terbentuknya “Federasi Rusia Timur” di sebelah timur Pegunungan Ural jika tokoh pro-Barat berkuasa di Moskow.

Alex Wu, Dorothy Li, Frank Fang, dan Olivia Li berkontribusi dalam laporan ini

Sumber : Theepochtimes.com

Mahasiswa Tiongkok Dideportasi Setelah 36 Jam Diinterogasi – Dilarang Masuk AS Selama 5 Tahun

EtIndonesia. Seorang mahasiswa asal Tiongkok berusia 22 tahun yang rencananya mulai kuliah di University of Houston, Texas pada Agustus ini, ditahan otoritas bea cukai setibanya di bandara Texas pada Minggu (31 Agustus). Ia diinterogasi selama 36 jam terkait dugaan hubungan dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan China Scholarship Council (CSC). Akhirnya ia dideportasi kembali ke Tiongkok dan dilarang masuk AS selama 5 tahun. Kasus ini memicu perhatian komunitas Tionghoa perantauan.

Ditahan di Bandara, Gagal Mulai Kuliah

Mahasiswa bermarga Gu, jurusan filsafat, sebelumnya berencana menempuh studi di University of Houston dengan beasiswa penuh. Kepada Associated Press, ia mengatakan semua dokumennya lengkap dan hanya akan mengambil mata kuliah humaniora. Sebelumnya ia pernah menjadi mahasiswa pertukaran di Cornell University selama satu semester tanpa kendala.

Namun, menurut laporan Associated Press pada Minggu, Gu ditahan saat melewati imigrasi di bandara Texas. Barang bawaannya digeledah, perangkat elektroniknya disita. Setelah 36 jam interogasi, ia dipulangkan ke Tiongkok dengan larangan masuk AS selama 5 tahun.

Ditanya Hubungan dengan PKT dan CSC

Gu mengatakan, setelah memeriksa perangkat elektroniknya, petugas menanyai hubungannya dengan Partai Komunis Tiongkok. Ia mengaku bahwa orang tuanya adalah anggota PKT, tetapi ia sendiri bukan anggota partai, hanya pernah menjadi anggota Liga Pemuda Komunis.

Petugas juga menanyakan soal hubungannya dengan China Scholarship Council (CSC) karena menemukan catatan percakapan terkait dalam gawainya. Gu menjelaskan, ia hanya pernah menyebutkan CSC saat berbincang dengan teman, tetapi tidak pernah menerima dana dari pemerintah Tiongkok.

Setelah tiga putaran interogasi, masing-masing berlangsung hingga 10 jam, petugas memutuskan untuk mendeportasinya. Ia mengatakan, pihak bea cukai tidak memberikan alasan yang jelas, hanya menuliskan “dokumen tidak lengkap” pada surat deportasi. Saat ini, Gu mempertimbangkan untuk mengajukan banding.

Peraturan Baru Soal Visa

Beberapa hari sebelumnya, pada Rabu (27 Agustus), Departemen Keamanan Dalam Negeri AS mengumumkan rancangan aturan baru untuk memperpendek masa berlaku visa pelajar, peneliti, dan jurnalis asing.

  • Visa pelajar F dan peneliti J direncanakan berlaku hanya 4 tahun.
  • Visa jurnalis I berlaku maksimal 240 hari.
  • Untuk jurnalis asal Tiongkok, visa masuk AS dibatasi hanya 90 hari.

Sejak menjabat, Presiden Donald Trump memperketat proses penerbitan visa maupun pemeriksaan imigrasi. Mahasiswa yang belajar teknologi maju seperti komputasi kuantum dan kecerdasan buatan, atau yang dianggap berpotensi terkait dengan pemerintah maupun militer PKT, lebih rentan ditolak masuk.

Dalam setahun terakhir, sejumlah universitas besar di AS, termasuk University of Michigan, sudah menghentikan kerja sama dengan universitas di Tiongkok.

Banyak Mahasiswa Tiongkok Alami Kendala

Beberapa bulan terakhir, semakin banyak mahasiswa Tiongkok menghadapi hambatan visa maupun imigrasi. Menurut Kedutaan Besar PKT di AS, sudah ada lebih dari 10 kasus mahasiswa dan peneliti asal Tiongkok yang ditahan dan dideportasi saat masuk AS, dengan alasan “masalah visa” atau “berpotensi mengancam keamanan nasional AS”.

Sumber : NTDTV.com

Militer Israel Tewaskan Jubir Hamas – PM Houthi Jadi Target Serangan

EtIndonesia. Militer Israel mengumumkan bahwa dalam operasi “pembunuhan terarah” baru-baru ini, mereka berhasil menewaskan Obeida, juru bicara Hamas. Selain itu, Perdana Menteri pemerintahan Houthi di Yaman, Ahmed Ghaleb Nasser Al-Rahawi, bersama sejumlah pejabat tinggi juga tewas akibat serangan udara terarah Israel. 

Tel Aviv menyatakan, IDF (Pasukan Pertahanan Israel) sedang melakukan serangan sistematis terhadap “poros kejahatan” yang didukung Iran, dengan tujuan mempercepat pembebasan seluruh sandera.

Pemakaman Dua Sandera Israel

Senin (1 September), upacara pemakaman dua sandera yang tewas digelar di kota Rishon LeZion, Israel tengah. Para kerabat mengibarkan bendera Israel sepanjang jalan untuk memberi penghormatan terakhir.

Jenazah Ilan Weiss (55 tahun) ditemukan di Gaza pada Jumat (29 Agustus). Identitas sandera lain, Idan Stivi, baru terkonfirmasi pada Sabtu (30 Agustus).

Hari yang sama juga menandai dimulainya tahun ajaran baru. Sebuah sekolah di wilayah Eshkol menggelar acara doa bersama menuntut pembebasan sandera yang masih ditahan Hamas. Duta Besar AS untuk Israel, Jack Lew Hekabi, turut hadir menyatakan dukungan.

Seorang siswa berkata:  “Awal tahun ajaran baru memang menyenangkan, tapi hati kami tetap resah memikirkan para sandera di Gaza. Mereka menunggu bisa pulang ke rumah.”

Wilayah Eshkol, yang berdekatan dengan Jalur Gaza, merupakan salah satu target serangan Hamas pada serangan 7 Oktober.

 “Israel harus membebaskan sandera dan mengalahkan Hamas. Dua tujuan ini ditegaskan oleh Presiden Trump, sementara cara pelaksanaannya diserahkan kepada Israel. Demi melindungi anak-anak ini, kedua tujuan itu harus tercapai,” kata ubes AS Mike Huckabee. 

Serangan Terarah Israel

Militer Israel terus meningkatkan operasi di Kota Gaza. Ledakan terdengar silih berganti, kilatan cahaya membelah langit malam.

Minggu (31 Agustus), IDF mengumumkan bahwa sehari sebelumnya mereka menewaskan Khudayfa Khalout, juru bicara militer Hamas.

Khalout dianggap sebagai wajah paling simbolis Hamas. Selama lebih dari satu dekade, ia memimpin propaganda dan perang psikologis kelompok tersebut, sering menyuarakan seruan serangan terhadap Israel.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menulis di media sosial:  “Khalout telah menyusul anggota lain dari poros kejahatan ke neraka.” Ia juga memperingatkan bahwa Hamas akan menghadapi serangan yang lebih besar lagi.

Di Yaman, kelompok Houthi mengkonfirmasi pada Sabtu (30 Agustus) bahwa Perdana Menteri mereka, Nasser Al-Rahawi, serta sejumlah pejabat senior tewas akibat serangan udara Israel. Ini merupakan pejabat paling tinggi Houthi yang tewas dalam serangan gabungan AS-Israel.

Netanyahu: Sistematis Hadapi Poros Iran

 “Dalam 24 jam terakhir, kami berhasil menghabisi salah satu petinggi Hamas. Baru-baru ini, sebagian besar kekuatan rezim teroris Houthi juga kami lenyapkan. Di Lebanon, setiap kali Hizbullah mencoba bergerak, kami langsung menghantamnya,” kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. 

Dalam sidang kabinet Minggu (31 Agustus), Netanyahu menegaskan bahwa Israel sedang melancarkan serangan sistematis terhadap ‘poros kejahatan’ yang didukung Iran. Ia menekankan, operasi ini menunjukkan tekad Israel untuk menghancurkan Hamas sepenuhnya dan membebaskan semua sandera.

Sumber : NTDTV.com