Balita 1 Tahun di India Menggigit Mati Ular Kobra, Secara Ajaib Selamat 

EtIndonesia. Sebuah peristiwa mengejutkan terjadi di distrik Bettiah, Bihar, India. Seorang bocah laki-laki berusia 1 tahun, bernama Govinda, berhasil menggigit mati seekor ular kobra yang masuk ke dalam rumahnya.

Namun, aksi nekat ini membuatnya ikut keracunan. Govinda sempat pingsan, tetapi nyawanya berhasil diselamatkan berkat penanganan medis cepat.

Ular Disangka Mainan

Menurut sang nenek, seekor kobra sepanjang sekitar 60 sentimeter tiba-tiba masuk ke rumah. Govinda yang masih balita menyangka ular itu adalah mainan, lalu memegangnya.

Ular tersebut dengan cepat melilit tangan bocah itu. Anehnya, Govinda tidak menangis atau berteriak, justru langsung menggigit kepala ular itu.

“Kami melihat Govinda menggenggam seekor ular. Saat kami berlari menghampiri, ternyata dia sudah menggigitnya sampai mati,” ujar neneknya.

Bocah itu bahkan sempat merobek tubuh ular menjadi dua bagian sebelum melemparkannya ke lantai.

Kondisi Kritis & Penyelamatan

Tak lama kemudian, Govinda jatuh pingsan akibat racun ular. Keluarga segera melarikannya ke pusat kesehatan terdekat, lalu dipindahkan ke Rumah Sakit Pemerintah Bettiah (GMCH).

Dokter menyebut kasus ini “sangat tidak biasa”. Meski ular mati karena gigitan di kepalanya, racun tetap masuk ke tubuh sang bocah.

“Perawatan darurat yang cepat menyelamatkan hidupnya. Saat ini kondisinya stabil, masih dalam pengawasan intensif,” jelas pihak rumah sakit.

Insiden ini segera jadi sorotan media India. Banyak yang menyebut Govinda sebagai “balita pemberani”, meski jelas tindakannya dilakukan karena polos, bukan karena keberanian sadar.

Peristiwa ini juga menjadi pengingat berbahaya bagi keluarga dengan anak kecil yang tinggal di daerah rawan ular. (jhn/yn)

Aksi Protes Meluas di Sejumlah Daerah, Prabowo Batalkan Sejumlah Fasilitas Anggota DPR

Aksi protes di berbagai daerah Indonesia semakin meluas. Pada Minggu (31 Agustus), pemerintah akhirnya membuat konsesi besar. Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa seluruh partai politik telah sepakat untuk membatalkan sebagian fasilitas dan keistimewaan anggota DPR.

EtIndonesia. Presiden RI Prabowo Subianto bersama para pimpinan partai besar mengumumkan di Istana Kepresidenan bahwa mereka telah setuju mencabut sejumlah kebijakan terkait fasilitas anggota DPR, sebagai respons terhadap tuntutan masyarakat.

 “Pimpinan DPR telah mengumumkan akan membatalkan beberapa kebijakan parlemen, termasuk tunjangan anggota DPR serta penghentian perjalanan dinas luar negeri,” katanya. 

Aksi protes di ibu kota Jakarta dimulai pada Senin (25 Agustus). Para demonstran menilai gaji serta tunjangan perumahan anggota DPR terlalu tinggi. Pada Kamis (28 Agustus), aksi tersebut meningkat menjadi kerusuhan. 

Seorang pengemudi ojek online tewas dilindas kendaraan rantis Polri  di lokasi aksi protes. Situasi berkembang ke sejumlah daerah menjadi kekerasan yang menewaskan sedikitnya tiga orang.

Sejumlah rumah milik anggota partai politik serta fasilitas pemerintah juga menjadi sasaran penjarahan dan pembakaran.

Prabowo menyatakan, ia telah memerintahkan militer dan kepolisian untuk mengambil tindakan tegas terhadap para pelaku kerusuhan dan penjarahan. Ia juga memperingatkan bahwa sebagian tindakan tersebut bisa dikategorikan sebagai “terorisme” dan “pengkhianatan negara”.

Pemerintahan Prabowo yang baru menjabat sejak Oktober tahun lalu relatif stabil, namun kerusuhan kali ini menjadi ujian terbesar bagi masa pemerintahannya.

Sumber : NTDTV.com

Ukraina Guncang Rusia: Kilang Minyak Meledak, Radar S-400 Hancur, Politik Eropa Ikut Bergejolak!

EtIndonesia. Situasi di medan tempur Ukraina–Rusia memasuki fase yang semakin menegangkan. Pasukan Ukraina dalam beberapa hari terakhir melancarkan serangan balik besar di dua arah utama, yakni Sumy dan Kharkiv, dengan hasil yang mulai terlihat di peta pertempuran.

Serangan Balik di Darat

Menurut laporan jurnalis militer, Ukraina berhasil merebut kembali tiga wilayah penting: kawasan Mirne dan Sobolivka di Kharkiv, serta bergerak mendekati pinggiran desa Radkivka. Serangan dilakukan menggunakan kendaraan tempur BMP-ETS, meski sempat terkena tembakan artileri Rusia. Pasukan Ukraina tetap bertahan, menunjukkan intensitas dan kegigihan pertempuran di garis depan.

Dominasi Serangan Udara

Selain pertempuran darat, Angkatan Udara Ukraina melancarkan operasi intensif.

  • Jet tempur MiG-29 menggempur posisi Rusia dengan bom presisi ASM “Hammer”, digambarkan bagaikan “hujan deras”.
  • Di Donetsk, jet Su-27 menjatuhkan bom luncur yang menghancurkan markas komando Rusia, memicu ledakan besar.
  • Di Tokmak, sistem roket HIMARS menghantam kendaraan pengangkut pasukan Rusia, termasuk APC MPLB, yang langsung hancur seketika.

Infrastruktur Energi Rusia Jadi Target

Pada 29 Agustus 2025, Ukraina melancarkan serangan ke fasilitas energi Rusia. Sasaran utama adalah stasiun bahan bakar besar di Bryansk, yang memasok 10,5 juta ton diesel per tahun bagi militer Rusia. Ledakan beruntun memicu kebakaran besar.
Serangan serupa juga diarahkan ke:

  • Pipa minyak Druzhba
  • Kilang Seslan di Samara
  • Kilang Krasnodar

Selain itu, jalur kereta api di Krasnodar dan basis udara Engels di Saratov ikut menjadi target, dengan laporan serangan drone berulang kali.

Perang Drone dan Rudal

Data per 31 Agustus 2025 menunjukkan skala pertempuran tanpa henti:

  • Rusia meluncurkan 142 drone ke Ukraina, 126 berhasil ditembak jatuh.
  • Ukraina melancarkan hampir 100 drone ke wilayah Rusia, menyerang Moskow, Oryol, Voronezh, hingga Krimea.
  • Gudang di Balashikha (Moskow), kilang Seslan dan Krasnodar, serta pabrik bahan peledak di Tula mengalami kerusakan.
  • Di Krimea, sistem radar S-400 Rusia hancur, lapangan terbang dibom, dan beberapa helikopter serta kapal serbu ikut musnah.

Dukungan Barat Mengalir

Bantuan militer dari Barat semakin memperkuat Ukraina:

  • Jerman menyerahkan sistem pertahanan udara Iris-T SLM kedelapan.
  • AS menyetujui penjualan senjata senilai 8,5 miliar dolar, termasuk enam sistem Patriot tambahan.
  • Denmark turut menanggung biaya, sementara Belgia berjanji mengirim jet tempur F-16.
  • Uni Eropa membahas mekanisme keputusan berbasis suara mayoritas untuk menghindari veto Hungaria dalam isu bantuan ke Ukraina.

Hungaria Jadi Batu Sandungan Uni Eropa

Sikap Perdana Menteri Viktor Orbán kembali memicu kontroversi. Dari 27 anggota Uni Eropa, hanya Hungaria yang menolak mengecam Rusia. Kontras dengan hal itu, survei menunjukkan 86% rakyat Hungaria mendukung tetap berada di Uni Eropa.

Partai berkuasa Fidesz kini hanya meraih 37% dukungan, kalah dari oposisi Demokratik yang mencapai 46%. Pemilu 2026 berpotensi menjadi titik balik politik Hungaria.

Pembunuhan Tokoh Politik Ukraina

Pada 30 Agustus 2025, Andriy Parubiy, mantan Ketua Parlemen Ukraina, tewas ditembak di pusat kota Lviv. Parubiy dikenal sebagai arsitek utama Euromaidan 2013–2014 dan tokoh penting dalam perlawanan terhadap aneksasi Krimea.

Presiden Volodymyr Zelenskyy dan mantan Presiden Petro Poroshenko mengecam keras, menyebut pembunuhan ini sebagai “tembakan ke jantung Ukraina”.

Inovasi Drone Murah Ukraina

Pasukan Ukraina juga memperlihatkan kreativitas dengan penggunaan drone murah seharga USD 600–725 per unit. Dengan biaya rendah, drone tersebut berhasil menghancurkan dua jembatan strategis di Belgorod yang dipasangi ranjau Rusia, memutus jalur logistik vital musuh.

Kesimpulan

Perang Rusia–Ukraina kini bergerak ke fase baru: Ukraina menargetkan jantung energi dan logistik Rusia. Serangan terhadap kilang minyak, pipa gas, depot bahan bakar, hingga jalur kereta api menunjukkan strategi melemahkan Rusia dari sisi ekonomi dan militer secara bersamaan.

Pertanyaannya: Mampukah Rusia bertahan menghadapi kombinasi tekanan ekonomi, sanksi internasional, dan serangan militer berteknologi tinggi—atau justru menuju keruntuhan seperti Uni Soviet di masa lalu?

Slogan Anti-komunis Chongqing Menggemparkan Dunia, Komentator : Perlawanan Rakyat Tiongkok terhadap Partai Komunis  Memasuki Babak Baru

Menjelang parade militer Partai Komunis Tiongkok (PKT) pada 3 September, seorang pejuang pemberani memproyeksikan slogan anti-komunis raksasa di dinding sebuah gedung di kawasan Universitas Chongqing. Diketahui, pejuang tersebut kini telah melarikan diri ke luar negeri. Dalam surat terbuka, ia menyerukan agar rakyat sadar dan bangkit melawan PKT.

Etindonesia. Pada 29 Agustus sekitar pukul 22.00, di dinding luar sebuah gedung di Xijie, Universitas Chongqing, tiba-tiba muncul beberapa slogan besar melalui proyektor. Tayangan itu berlangsung lebih dari 50 menit, hingga polisi menemukan kamar hotel tempat proyektor dipasang dan mematikannya.

Isi slogan tersebut antara lain:

  • “Tanpa Partai Komunis baru ada Tiongkok baru, kebebasan bukan hadiah tetapi harus direbut kembali”
  • “Jangan kebohongan tapi kebenaran, jangan perbudakan tapi kebebasan, Partai Komunis yang tiranik turun!”

Peristiwa ini terjadi tepat menjelang parade PKT pada 3 September, sehingga mengguncang berbagai kalangan. Informasi terkait dengan cepat menyebar di internet, dan banyak warganet memuji keberanian pejuang anti-komunis tersebut.


“Rakyat Tiongkok terus-menerus terbangun. Setelah menerima kebenaran, mereka menggali nurani, menjadikan diri sebagai percikan api untuk menerangi orang lain di negeri gelap ini,” kata Jiang Pinchao, penulis puisi “Antologi 4 Juni” sekaligus penulis koleksi Perpustakaan Kongres Amerika Serikat. 

Jie Lijian, Ketua Aliansi Internasional Partai Demokrat Tiongkok, menambahkan: “Di media sosial, semua orang mendoakan pejuang ini. Apa artinya ini? Ini suara hati rakyat jelata. ‘Tumbangkan Fasis Merah, akhiri Partai Komunis Tiongkok’ — ini adalah suara bersama dari lebih dari 1 miliar rakyat yang tertindas.”

Informasi lanjutan menyebut, pejuang itu memang mendaftar dengan nama asli di hotel, namun kini telah berhasil membawa keluarganya keluar negeri dengan selamat. Ia juga membagikan detail teknis, termasuk proyektor, kamar hotel, dan lokasi yang digunakan.

Jiang Pinchao berkata:  “Hal semacam ini akan terus terjadi. Sama seperti Peng Zaizhou atau Peng Lifa yang berteriak di Jembatan Sitong. Meski mereka ditangkap atau bahkan dipenjara, selalu ada pejuang lain yang maju melawan rezim jahat PKT.”

Pada 13 Oktober 2022, menjelang Kongres Nasional ke-20 PKT, Peng Lifa menggantung spanduk anti-PKT di Jembatan Sitong, Beijing, yang menarik perhatian dunia. Setelah itu meletus “Revolusi Kertas Kosong”, memaksa PKT membatalkan kebijakan “nol-COVID” yang ekstrem.

Pada Juli tahun ini, beredar kabar bahwa Peng Lifa dijatuhi hukuman 9 tahun penjara.

Insiden proyeksi di Chongqing juga terjadi pada saat yang sangat sensitif. PKT, yang sebenarnya tidak pernah sungguh-sungguh melawan Jepang, menggunakan dalih “Hari Kemenangan Perang Melawan Jepang” untuk mengadakan parade pada 3 September, dengan tujuan memberi semangat pada diri sendiri. 

Di Beijing, suasana sangat tegang: gerbong kereta bawah tanah dipenuhi polisi bersenjata dan anjing pelacak.

Jie Lijian berkomentar:  “Setiap menjelang peristiwa besar, selalu ada pejuang yang benar-benar menampar muka PKT. Pada Kongres ke-20 lalu ada Peng Lifa, pejuang Jembatan Sitong. Saya percaya aksi seperti ini akan terus berlanjut.”

Sejumlah warganet berpendapat, rakyat Tiongkok kini memasuki tahap baru perlawanan anti-PKT yang lebih cerdas, lebih memperhatikan keselamatan, dan lebih efektif. Sementara itu, PKT hanya bisa kelabakan dan berjuang dalam keputusasaan.

Jie Lijian menambahkan:  “Rakyat Tiongkok yang cerdas akan menggunakan berbagai cara untuk membuat PKT kewalahan, tak bisa bertahan. Hari ini mungkin dengan proyektor, besok mungkin turun ke jalan—itulah saat berakhirnya tirani PKT.”

Pengguna platform X bernama “Yesterday” mengungkap, pejuang itu meninggalkan sebuah surat terbuka di kamar hotel sebelum pergi. Saat ini, polisi di Tiongkok sedang mengganggu dan mengintimidasi kerabatnya di dalam negeri.

Dalam surat terbuka itu, ia menyatakan bahwa kejahatan PKT di Tiongkok “tak terhitung jumlahnya”. Ia menyerukan rakyat untuk sadar, memahami kebenaran, dan berkontribusi sedikit demi sedikit. Jika semua orang bangkit melawan, para penguasa jahat tidak akan bisa bertindak semena-mena.

Surat tersebut bertanggal 16 Agustus pukul 23.00.

Aksi proyeksi serupa sudah pernah terjadi. Pada Februari 2023, di dinding gedung Wanda Plaza di Jinan, Shandong, muncul proyeksi raksasa bertuliskan: “Tumbangkan PKT, tumbangkan Xi Jinping.” 

Pejuang anti-PKT bernama Chai Song kemudian memberitahukan kepada media ini bahwa ia memasang proyektor di seberang gedung dengan kendali jarak jauh, lalu mengaktifkannya setelah berada di luar negeri. 

Sumber : NTDTV.com

Setelah PM-nya Tewas Dibom Israel, Houthi Balas dengan Serbu Kantor PBB dan Menyandera Puluhan Staf!

EtIndonesia. Tensi di Yaman kembali memuncak. Pada 31 Agustus 2025, kelompok pemberontak Houthi melakukan serangan terhadap sejumlah kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di ibu kota Sanaa, termasuk markas dari World Food Programme (WFP), UNICEF, dan WHO. Dalam insiden ini, setidaknya 11 staf PBB, baik internasional maupun lokal, ditahan oleh Houthi. Tak hanya itu, mereka juga menyita berbagai dokumen dan properti penting dari fasilitas-fasilitas tersebut.

Aksi ini bukan tindakan spontan; aksi penahanan tersebut menyusul serangan udara Israel yang terjadi beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada 28 Agustus 2025, yang menewaskan Perdana Menteri pemerintahan Houthi, Ahmed al‑Rahawi, beserta beberapa menteri lainnya dalam satu serangan terkoordinasi.

Menurut pernyataan dari Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, penahanan ini tidak hanya terjadi di Sanaa, tetapi juga mencakup penahanan staf di kota pelabuhan Hodeidah. Selain penahanan, mereka juga memaksa masuk dan menyita properti dari berbagai kantor PBB yang menjadi target.

Ini menambah daftar panjang sebelumya: total jumlah staf PBB yang ditahan kini mencapai 23 orang, termasuk beberapa yang ditahan sejak 2021, serta satu staf yang telah dinyatakan meninggal selama dalam tahanan tahun ini.

Reaksi PBB dan Komunitas Internasional

PBB, melalui Sekjen António Guterres, mengecam keras tindakan paksa ini dan menuntut agar seluruh staf dibebaskan segera dan tanpa syarat.

Hans Grundberg juga menyatakan bahwa penahanan ini “sangat merusak upaya bantuan kemanusiaan dan perdamaian di Yaman,” serta memperingatkan bahwa negara tersebut bisa menjadi arena konflik yang lebih luas.

Reaksi dari World Food Programme juga tegas—eksekutif direktur Cindy McCain menyatakan bahwa tindakan penyitaan properti dan penahanan staf adalah hal yang “tidak dapat diterima”

Latar Belakang: Pola Tahanan dan Gangguan Kemanusiaan

Kasus ini bukanlah pertama kalinya Houthi menahan staf kemanusiaan. Sejak 2021, mereka telah melakukan penahanan terhadap staf PBB dan NGO, termasuk kasus empat staf dari OHCHR dan UNESCO pada tahun 2021 dan 2023; serta seorang petugas Save the Children yang meninggal saat dalam tahanan pada September 2023.

Pada Januari 2025, dilaporkan bahwa tujuh staf PBB ditahan, yang kemudian memicu suspend operasional dan gerakan di wilayah yang dikuasai Houthi.

Human Rights Watch dan Amnesty International menyoroti bahwa penahanan ini kerap menggunakan tuduhan seperti “spionase terhadap Amerika atau Israel”, dengan pengakuan yang diduga dipaksakan.

Secara sistemik, sejak 2019, Houthi mendirikan lembaga seperti SCMCHA untuk mengontrol dan memonopoli penyaluran bantuan kemanusiaan, sampai akhirnya lembaga tersebut dibubarkan pada Oktober 2024 dan fungsinya dialihkan ke kementerian di bawah kendali Houthi

Dampak Situasional dan Implikasi

  1. Krisis kemanusiaan memburuk: Penahanan staf PBB dan NGO memperlambat distribusi bantuan vital bagi jutaan warga yang bergantung pada bantuan pangan dan medis.
  2. Ketegangan geopolitik meningkat: Insiden ini memperpendek jembatan dialog antara Houthi, PBB, Israel, dan negara-negara pendukung Gaza.
  3. Keselamatan staf berada di zona merah: Patroli kemanusiaan kini harus menghadapi risiko tinggi—baik pengamanan internal maupun dari otoritas agresif.
  4. Legitimasi PBB terancam: Kondisi ini mengikis kredibilitas PBB sebagai penyelenggara bantuan dan mediator netral di wilayah konflik.

Ringkasan Inti

  PeristiwaDetail
 Tanggal Penahanan  31 Agustus 2025
Lokasi Kantor WFP, UNICEF, WHO di Sanaa dan Hodeidah
Jumlah Staf Ditahan Setidaknya 11 (menambah total tahanan menjadi 23)
Penyebab AwalSerangan udara Israel pada 28 Agustus 2025, menewaskan PM Houthi
  
PBB Tuntut Pembebasan segera tanpa syarat
Dampak KemanusiaanOperasional bantuan terganggu, keselamatan staf terancam

Dengan situasi yang terus berkembang, komunitas internasional diharap segera mengambil langkah diplomatik dan kemanusiaan untuk memastikan keselamatan staf PBB, menjaga akses bantuan, serta mendorong de-eskalasi konflik di Yaman.

Israel Bunuh Juru Bicara Senior Hamas Abu Obaida: Pukulan Besar bagi Mesin Propaganda al-Qassam

EtIndonesia. Konflik berkepanjangan di Jalur Gaza kembali mencapai titik panas. Pada malam 31 Agustus, militer Israel melancarkan serangan drone presisi ke wilayah Gaza bagian utara, yang menewaskan Abu Obaida (nama asli: Hudhayfa Samir Abdallah al-Kahlout), juru bicara senior Brigade al-Qassam, sayap militer Hamas.

Israel menyebut kematian tokoh penting ini sebagai “pukulan besar terhadap Hamas”, khususnya pada lini propaganda yang selama hampir dua dekade digerakkan oleh sosok yang identik dengan kefiah merah dan suara ancaman yang khas.

Sosok Abu Obaida: Wajah Publik Hamas

Abu Obaida mulai dikenal luas pada 2006, saat mengumumkan penculikan prajurit Israel Gilad Shalit. Sejak resmi menjadi juru bicara al-Qassam pada 2007, dia kerap muncul di media dengan wajah tertutup, menyampaikan ancaman terhadap Israel, merilis video penyanderaan, hingga membakar semangat perlawanan bersenjata.

Bagi banyak warga Palestina, dia menjadi simbol keberanian, sementara bagi Israel, dia adalah arsitek propaganda perang yang memainkan peran vital dalam mengobarkan konflik.

Kronologi Serangan

  • Waktu & Lokasi: Serangan terjadi pada 31 Agustus malam, menargetkan sebuah apartemen di kawasan Rimal, Gaza City.
  • Metode: IDF menggunakan drone tempur presisi tinggi berdasarkan intelijen yang dikumpulkan selama beberapa bulan terakhir.
  • Korban: Selain Abu Obaida, setidaknya 11 orang lain tewas, termasuk anak-anak, dan sekitar 20 orang terluka.

Menurut juru bicara militer Israel, operasi ini adalah bagian dari rangkaian strategi untuk melemahkan kepemimpinan Hamas, setelah sebelumnya Israel juga melancarkan serangan terhadap tokoh-tokoh Houthi di Yaman.

Reaksi Israel

  • PM Benjamin Netanyahu menyebut tewasnya Abu Obaida sebagai “pukulan telak” terhadap Hamas.
  • Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa Abu Obaida kini “telah bertemu semua anggota sumbu jahat dari Iran, Gaza, Lebanon, dan Yaman di neraka.”
  • Kepala Staf IDF, Eyal Zamir, menambahkan bahwa pimpinan Hamas yang masih hidup kini sebagian besar berada di luar negeri, dan mereka juga akan menjadi target berikutnya.

Reaksi Hamas

Hingga kini, Hamas belum mengeluarkan pernyataan resmi. Namun sejumlah akun media sosial yang terafiliasi dengan kelompok tersebut menyebut Abu Obaida sebagai “syuhada perlawanan” dan menyerukan agar warga Palestina membalas dendam atas kematiannya.

Dampak bagi Gaza

Serangan ini menambah panjang daftar korban dalam konflik yang semakin brutal.

  • Korban Jiwa: Dalam lima pekan terakhir, lebih dari 63.000 orang tewas, mayoritas adalah warga sipil termasuk perempuan dan anak-anak.
  • Kondisi Lapangan: Kawasan Sheikh Radwan dan Rimal luluh lantak, ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal, dan pengungsian penuh sesak tanpa makanan, air bersih, serta bantuan medis memadai.
  • Krisis Kemanusiaan: PBB memperingatkan Gaza kini berada di ambang bencana kemanusiaan, dengan akses bantuan yang sangat terbatas.

Analisis Regional

Pengamat menilai, secara militer kematian Abu Obaida mungkin tidak langsung mengubah jalannya perang, namun secara psikologis dan simbolik ini merupakan kejutan strategis. Hamas kehilangan sosok paling ikonik dalam propaganda mereka, yang selama bertahun-tahun menjadi “suara perlawanan” melawan Israel.

Bagi Israel, operasi ini mengirimkan pesan bahwa tidak ada tokoh Hamas yang aman, baik di dalam maupun di luar Gaza.

Kesimpulan

Kematian Abu Obaida menjadi tonggak penting dalam eskalasi konflik Gaza–Israel. Israel mengklaim kemenangan strategis, sementara Hamas dipastikan akan menggunakan peristiwa ini sebagai bahan bakar untuk melanjutkan narasi perlawanan.

Namun, di balik operasi militer dan propaganda, warga sipil Gaza tetap menjadi pihak yang paling menderita, terjebak di tengah perang tanpa ujung.

Rencana AS Terkait Rekonstruksi Gaza  Terungkap, Militer Israel Tewaskan “Corong” Hamas

Kementerian Pertahanan Israel pada Minggu (31 Agustus) mengkonfirmasi bahwa militer Israel telah menewaskan juru bicara Hamas, Abu Ubaida, yang bersembunyi di Kota Gaza. Ia menjadi corong Hamas selama 20 tahun, dikenal karena ucapannya yang penuh kebencian terhadap Israel. Bersamaan dengan itu, militer Israel meningkatkan serangan ke pinggiran Kota Gaza, bersiap untuk menghantam basis utama Hamas.

Etindonesia. Dengan kepala selalu tertutup rapat oleh selendang merah, dan sering tampil di layar dengan kata-kata tajam membakar kebencian terhadap Israel—itulah Abu Ubaida, juru bicara Brigade Qassam Hamas. Ia dianggap sebagai salah satu tokoh paling simbolis dalam organisasi Hamas.

Kementerian Pertahanan Israel memastikan bahwa Ubaida, yang bersembunyi di Kota Gaza, telah tewas dalam operasi militer. Pidato terakhirnya terjadi pada Jumat (29/8) lalu.

Israel menuduh media yang dipimpin Ubaida melakukan teror psikologis terhadap rakyat Israel. Dalam video terakhir yang dirilis, sandera Israel tampak kurus kering dan memohon dibebaskan.

Sejak serangan  Hamas pada 7 Oktober 2023, Israel hampir membunuh semua pemimpin utama Hamas, termasuk pemimpin tertinggi mereka, Yahya Sinwar.

Pada Mei tahun ini, militer Israel mengumumkan bahwa penggantinya, adiknya Mohammad Sinwar, juga telah tewas. Baru pada Minggu lalu Hamas mengeluarkan pernyataan yang mengkonfirmasi kematian Sinwar.

Selain menghantam pimpinan Hamas, Israel juga tidak memberi ampun terhadap rezim teroris Houthi di Yaman, yang kerap menyerang kapal dagang di Laut Merah. Perdana Menteri Houthi, Ahmad Ghaleb al-Rahwi, bersama sejumlah menteri lainnya tewas dalam serangan Israel beberapa hari lalu.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan:  “Sudah sejak lama saya berjanji kepada kalian dan rakyat Israel bahwa Houthi akan membayar mahal atas agresinya terhadap negara Israel. Ini baru awal dari serangan terhadap para pejabat tinggi di Sanaa (Yaman). Kami akan menghantam mereka satu per satu.”

Minggu lalu, langit di pinggiran Kota Gaza dipenuhi asap hitam. Menurut otoritas kesehatan Gaza, sedikitnya 30 orang tewas dalam serangan udara tersebut. Saat ini, militer Israel bersiap melancarkan serangan ke Kota Gaza dengan target menghancurkan markas besar Hamas sepenuhnya.

Israel menyerukan semua warga sipil untuk segera meninggalkan Kota Gaza demi keselamatan mereka, dan pindah ke wilayah lain di Jalur Gaza.

Mengenai masa depan Gaza, Washington Post pada Minggu mengungkap bahwa pemerintahan Trump sedang merancang rencana pasca perang. AS berencana mengelola Gaza yang hancur akibat perang itu selama sedikitnya 10 tahun, dengan dana 100 miliar dolar AS untuk membangun kembali wilayah tersebut menjadi pusat pariwisata dan industri manufaktur.

Dalam aspek keamanan, kemungkinan akan ditempatkan tentara bayaran dari negara ketiga untuk menjaga ketertiban, namun Israel tetap akan memegang kendali keamanan secara keseluruhan.

Sumber : NTDTV.com

Rusia “Menjual” Tiongkok? Persahabatan yang Retak

EtIndonesia. KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) menjadi sorotan global, terutama karena keterlibatan kuat delegasi Rusia, yang membawa tiga wakil perdana menteri, belasan menteri, serta delegasi dari perusahaan-perusahaan besar. Media Tiongkok menyanjung kemitraan Beijing–Moskow sebagai yang “terbaik sepanjang sejarah,” namun dinamika sesungguhnya jauh lebih kompleks.

Sorotan Utama: Kehadiran Rusia yang Tangguh

Kehadiran Putin dengan tim inti tingkat tinggi menggambarkan betapa pentingnya Rusia bagi SCO dan peran strategis yang dipegangnya dalam blok regional ini

Figur-figur seperti PM India, Narendra Modi dan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan juga turut hadir, memantapkan dimens kebijakan geopolitik SCO yang semakin menjauh dari Barat

Narasi Media Tiongkok vs Realitas

Media resmi Tiongkok menampilkan hubungan Beijing–Moskow sebagai puncak sejarah diplomatik. Namun, kata pengamat, narasi itu tidak sejalan dengan realitas di lapangan.

Wacana Tiongkok dan Perang Ukraina

  • Pernyataan Reuters, tiga hari sebelum KTT: Seorang pejabat Rusia menyebut bahwa “Jika bukan karena Tiongkok, kami bahkan tak mampu membuat satu rudal pun, apalagi drone. Ekonomi kami sudah lama kolaps.” Sumber tersebut menuduh Beijing tidak menginginkan perang Rusia–Ukraina segera berakhir.
  • Pernyataan Menlu Tiongkok Wang Yi (Juli 2025): Dalam pertemuan informal dengan diplomat UE pada 3 Juli 2025, Wang Yi menyatakan bahwa Beijing “tidak ingin Rusia kalah” dalam perang Ukraina, karena berisiko membuat Amerika Serikat mengalihkan fokus ke Asia, khususnya Tiongkok.
  • Analisis dari laporan internasional menyebut bahwa posisi Tiongkok tidak untuk menghentikan konflik; melainkan cukup mendukung untuk menjaga Rusia agar tidak tumbang, tanpa memperlihatkan sinyal akhir permusuhan. Ini mengisyaratkan bahwa Beijing memperoleh keuntungan strategis dari berlarutnya konflik.

SCO sebagai Panggung Geopolitik

KTT SCO kali ini disebut sebagai yang terbesar sepanjang sejarah blok tersebut, dan merupakan ajang jelas bagi Xi untuk memperkuat visinya terhadap “tatanan dunia multipolar” yang menantang dominasi AS

Xi bahkan menyampaikan inisiatif global governance baru, termasuk pembangunan bank pembangunan SCO

Putin juga menggunakan forum ini untuk menuduh Barat memicu perang Ukraina dan mengecam sanksi sebagai langkah diskriminatif

India mengadopsi posisi lebih seimbang—tetap menjalin hubungan dengan ketiga kekuatan besar (Tiongkok, Rusia, dan AS), meski menolak beberapa deklarasi bersama karena dianggap berat sebelah

Mengapa Perang Masih Berlangsung? Tinjauan Geostrategis

  1. Ketergantungan Rusia pada Tiongkok
    Rusia sangat bergantung pada ekosistem industri dan energi Tiongkok. Ekspor minyak dan batu bara ke Tiongkok meroket pada 2024, memperkuat dominasi ekonomi Tiongkok atas Rusia
  2. Manfaat Strategis Konflik bagi Tiongkok
    Rusia sebagai daya tarik Barat mengalihkan perhatian dari Asia–Pasifik, memungkinkan Beijing fokus pada ambisi regional seperti Taiwan dan infrastruktur global
  3. Retorika Perdamaian, Praktik Prolongasi
    Meski Tiongkok berbicara tentang damai dan mengusulkan “12‑point peace plan”, upaya konkret untuk mengakhiri perang tetap terbatas. Proposal tersebut dianggap menguntungkan Rusia karena tidak menuntut penarikan penuh pasukan
  4. Optik Persatuan Global South
    SCO dan parade militer Victory Day klik untuk memperkuat citra solidarity antara non‑blok barat dalam menghadapi tekanan AS dan Barat

 Kesimpulan

Sementara media Tiongkok menonjolkan hubungan bersahaja antara Beijing dan Moskow, data nyata dan analisis internasional menunjukkan peran strategis Tiongkok dalam memperpanjang perang. Pernyataan Reuters dan diplomatik Wang Yi memperkuat kesan bahwa Tiongkok tidak semata ingin perdamaian, tetapi juga menjaga konflik tetap berjalan demi menjaga keamanan dan posisi globalnya.

Balasan Trump atas “Laporan 25 Tahun Penganiayaan oleh Partai Komunis Tiongkok terhadap Falun Gong”

EtIndonesia. Buku “Penganiayaan Falun Gong oleh PKT: 25 Tahun dan Terus Berlanjut” disusun tahun 2024 berdasarkan fakta-fakta langsung yang dikumpulkan oleh Minghui.org. Buku ini menguraikan penindasan sistematis Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap praktisi Falun Gong sejak 1999 hingga sekarang.

Buku ini juga  memuat kasus-kasus gangguan selama pandemi, penindasan lintas negara, upaya praktisi dalam memperjuangkan rehabilitasi secara damai, serta dukungan masyarakat dunia terhadap nilai-nilai “Sejati, Baik, Sabar.”

Presiden Amerika Serikat Donald Donald Trump, setelah menerima buku ini, menulis dalam surat balasannya:

 “Terima kasih atas kata-kata baik dan perhatian Anda.”
“Negara kita kuat karena adanya orang-orang seperti Anda yang memegang teguh dan membela cita-cita besar Amerika—iman, keluarga, komunitas, dan negara di atas segalanya. Saya tidak akan pernah berhenti berjuang demi Amerika yang kita hargai.”

Falun Gong, yang juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah disiplin spiritual dan latihan meditasi yang didasarkan pada prinsip-prinsip Sejati, Baik, dan Sabar. Latihan ini pertama kali diperkenalkan kepada publik di Tiongkok oleh Li Hongzhi pada tahun 1992 dan dengan cepat meraih popularitas. Diperkirakan antara 70 juta hingga 100 juta orang mempraktikkan Falun Gong di Tiongkok pada akhir tahun 1990-an.

Pada tahun 1999, Partai Komunis Tiongkok (PKT) melancarkan penganiayaan berskala nasional terhadap Falun Gong, dengan menggunakan kerja paksa, penyiksaan, dan berbagai bentuk siksaan lainnya untuk memaksa para praktisi meninggalkan keyakinan mereka.

Penulis koleksi Perpustakaan Kongres AS, Jiang Pinchao, mengatakan bahwa surat balasan Presiden Trump menunjukkan dukungan pemerintah AS terhadap kebebasan berkeyakinan.

 “Karena hanya di atas dasar kebebasan berkeyakinan, Amerika bisa memiliki kemakmuran dan kekayaan hari ini, menjadi pemimpin dunia, dan memimpin bangsa-bangsa lain. Jadi apa yang dikatakan Presiden Trump sebenarnya mewakili pemerintah AS untuk mendukung kebebasan berkeyakinan rakyatnya. Secara tersirat, ini juga berarti menentang penindasan PKT terhadap iman rakyatnya. Saya rasa ini adalah dukungan besar bagi praktisi Falun Gong,” ujar Jiang Pinchao. 

Pengamat politik Tiongkok di AS, Lan Shu, mengatakan:  “Pada 2016, sebelum Trump pertama kali memenangkan pemilu, dalam salah satu iklan kampanyenya dia secara khusus menyinggung Falun Gong sebagai bagian dari ancaman PKT terhadap dunia bebas. Jadi Trump sangat memahami penganiayaan yang dialami Falun Gong. Dukungan Trump terhadap perlawanan praktisi Falun Gong akan membawa harapan bagi Amerika.”

Perpustakaan Universitas Washington, Perpustakaan Nasional Taiwan, Perpustakaan Nasional Taiwan (NCL) serta perpustakaan universitas di Jerman juga memberikan balasan setelah menerima buku tersebut.

Perpustakaan Nasional Taiwan dan Perpustakaan Umum Nasional Taiwan telah mengkatalogkan dan menempatkan buku ini di rak agar dapat dipinjam masyarakat. Perpustakaan Universitas Erfurt, Jerman, menyatakan akan memasukkan buku tersebut ke dalam koleksi.

Jiang Pinchao menambahkan:  “Ini luar biasa, tindakan yang sangat baik. Praktisi Falun Gong telah melakukan sesuatu yang sangat penting dan historis. Buku ini mencatat sejarah: pertama, menyebarkan kebenaran; kedua, membuat rakyat mendukung praktisi Falun Gong dan menentang rezim yang membawa bencana bagi mereka.”

Lan Shu juga menilai, pengiriman buku ini kepada Presiden Trump dan perpustakaan dunia bebas akan membuat sejarah ini diingat di masa depan, yang memiliki arti besar.


“Pengalaman Falun Gong adalah salah satu penganiayaan paling parah dalam sejarah manusia. Bahkan kejahatan pengambilan organ hidup terjadi—sesuatu yang sangat gelap. Mereka menunjukkan keteguhan luar biasa, tidak pernah menyerah. Perlawanan ini hingga hari ini tidak hanya menjadi bagian dari sejarah dunia, tapi juga seharusnya menjadi monumen bagi Amerika yang berdiri atas dasar kebebasan berkeyakinan,” ujar Lan Shu. 

Selain itu, Lan Shu menekankan perlunya merenungkan sejarah ini karena alasan lain. Tahun 2000, Kongres AS memberikan status hubungan dagang normal permanen kepada Tiongkok, membuka jalan bagi PKT untuk bergabung dengan WTO pada 2001. Namun setahun sebelumnya, PKT justru memulai penganiayaan terhadap Falun Gong. Kontras ini sangat jelas.


“Di satu sisi, PKT melancarkan penindasan terbesar terhadap iman dalam sejarah umat manusia; sementara di sisi lain, negara-negara Barat justru bermimpi membantu Tiongkok mengembangkan ekonominya dengan harapan PKT akan menuju demokrasi. Sejarah ini adalah ironi besar. Hal ini akan membuat generasi mendatang mengingat banyak hal, jadi ini adalah sejarah yang layak dicatat dan direnungkan terus-menerus,” ujar Lan Shu. 

Buku “Penganiayaan Falun Gong oleh PKT: 25 Tahun dan Terus Berlanjut” dibangun di atas laporan 20 tahun yang diterbitkan sebelumnya, dengan tambahan banyak data baru. Versi bahasa Inggris dari laporan 20 tahun itu bahkan meraih Benjamin Franklin Award pada 2021.

Sumber : NTDTV.com

Balasan Houthi atas Serangan Udara Israel : 11 Staf PBB Ditahan

Serangan udara Israel pada 28 Agustus terhadap ibu kota Yaman, Sanaa, menewaskan Perdana Menteri Houthi (Gerakan Pemuda/Ansarullah) Ahmed al-Rahawi serta sejumlah menterinya. Menurut laporan media asing, pada hari yang sama Houthi menyerbu beberapa kantor lembaga PBB di Sanaa dan menahan sedikitnya 11 pegawai.

EtIndonesia. Menurut informasi dari pejabat PBB maupun pejabat Houthi, kantor Program Pangan Dunia (WFP), UNICEF, dan WHO menjadi sasaran dalam operasi tersebut.

Juru bicara WFP, Abeer Etefa, menyatakan bahwa sedikitnya satu staf mereka di Sanaa telah ditahan, dan ada staf lain di wilayah berbeda yang juga ditahan.

Menurut laporan AFP, pada 31 Agustus PBB mengumumkan bahwa sedikitnya 11 pegawai PBB di Yaman diculik oleh Houthi. Kelompok itu melancarkan aksi penculikan setelah perdana menteri mereka tewas dalam serangan udara Israel pekan lalu.

Utusan khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, dalam sebuah pernyataan mengkonfirmasi dan mengecam Ansarullah (nama resmi kelompok Houthi) atas gelombang baru penangkapan sewenang-wenang terhadap staf PBB di Sanaa dan Hodeidah.

Pejabat itu juga mengecam tindakan Houthi yang menyerang fasilitas PBB dan menyita aset organisasi tersebut.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres segera mengeluarkan pernyataan yang “sangat mengecam” penangkapan itu, menyebutnya sebagai “sewenang-wenang”. Ia menyerukan pembebasan segera tanpa syarat terhadap ke-11 pegawai tersebut, serta “semua pegawai PBB, LSM internasional dan nasional, masyarakat sipil, dan staf misi diplomatik yang ditahan secara sewenang-wenang.”

Sedikitnya 5 Pejabat Tinggi Houthi Tewas dalam Serangan Udara

Serangan udara Israel pada 28 Agustus menewaskan perdana menteri Houthi dan sejumlah anggota kabinet pentingnya, sehingga memberikan pukulan telak bagi kelompok bersenjata pro-Iran tersebut.

Mereka yang tewas termasuk:

  • Perdana Menteri Ahmed al-Rahawi
  • Menteri Luar Negeri Gamal Amer
  • Wakil PM merangkap Menteri Pembangunan Daerah Mohammed al-Medani
  • Menteri Listrik Ali Seif Hassan
  • Menteri Pariwisata Ali al-Yafei
  • Menteri Informasi Hashim Sharafuldin
  • Wakil Menteri Dalam Negeri Abdel-Majed al-Murtada

Sementara itu, Menteri Pertahanan Mohamed Nasser al-Attefi dan Menteri Dalam Negeri Abdel-Karim al-Houthi berhasil selamat.

Ketua Dewan Politik Tertinggi Houthi, Mahdi al-Mashat, bersumpah untuk membalas dendam.

Sumber : NTDTV.com

Video yang Mendebarkan Menunjukkan Anak Hilang Berjalan di Rel Monorel di AS, Seorang Pria Melompat untuk Menyelamatkannya

EtIndonesia. Sebuah video yang mendebarkan menunjukkan seorang anak laki-laki berjalan sendirian di rel monorel pada hari Sabtu (30/8) di sebuah taman hiburan di Hershey, Pennsylvania. Menurut NBC News, rel tersebut tingginya sekitar 6 meter. Untungnya, anak laki-laki itu berhasil diselamatkan. Dalam video yang kini viral, anak laki-laki itu terlihat berdiri dan berjalan di rel Capital BlueCross Monorail, sebuah wahana yang menawarkan tur audio mengelilingi taman hiburan tersebut.

Seperti dikutip NBC News, juru bicara perusahaan mengatakan bahwa wahana tersebut “ditutup dan dijaga dengan rantai di pintu masuk dan barikade di peron” ketika insiden itu terjadi.

Anak laki-laki itu dilaporkan terpisah dari keluarganya pada sore hari sekitar pukul 17: 00 (waktu setempat). Para kru mulai mencarinya setelah orangtuanya melaporkan dia hilang.

Anak laki-laki itu kemudian memasuki stasiun monorel yang ditutup dan mulai berjalan di sepanjang rel. Seorang pengunjung menolong dan menyelamatkannya.

Video tersebut menunjukkan pria tak dikenal itu melompat ke rel, lalu memeluknya. Dia membimbingnya ke tempat aman, sementara orang-orang di sekitar mulai bersorak.

“Kami berterima kasih atas kewaspadaan para pengunjung dan respons cepat tim kami, dan kami tetap berkomitmen untuk menjaga tingkat keselamatan pengunjung tertinggi di seluruh Hersheypark,” ujar juru bicara taman kepada media lokal.

Para pengguna media sosial memuji pria itu atas tindakan cepatnya dalam menyelamatkan anak tersebut.

“Syukurlah dia menyelamatkan anak itu! Hershey memang punya beberapa masalah keselamatan yang harus ditangani! Mustahil seorang anak bisa naik ke sana tanpa diketahui staf!” tulis seorang pengguna.

Pengguna lain memuji komunitas tersebut karena meninggalkan semua hal lain dan berusaha membantu anak itu, dengan mengatakan: “Yang saya sukai dari ini adalah menunjukkan kebaikan bersama dalam masyarakat. Semua orang meninggalkan apa yang mereka lakukan karena mereka tahu yang terpenting adalah keselamatan anak itu. Senang melihat orang-orang asing bekerja sama dan berbagi bantuan ketika kebaikan menang.”

“Bagaimana anak itu bisa naik ke atas rel? Rel itu seharusnya diamankan dengan baik agar tidak ada yang bisa mengaksesnya kecuali petugas taman.”

Pengguna lain mempertanyakan pihak berwenang di taman hiburan dan meminta langkah-langkah keamanan yang lebih baik. (yn)

Kisah-kisah yang Jarang Diketahui dari Kapal Naas Titanic

EtIndonesia. Malam tragis 14 April 1912 akan selamanya tercatat dalam sejarah. Dari 2.207 penumpang dan awak Titanic, hanya 705 orang yang selamat, sementara 1.502 orang meninggal dunia.

Di antara para penyintas, yang berpangkat tertinggi adalah Charles Lightoller, perwira kedua berusia 38 tahun. Dia adalah orang terakhir yang ditarik dari air dingin Atlantik Utara ke perahu penyelamat. 

Dalam memoarnya yang terdiri dari 17 halaman, dia menulis dengan getir: “Sepanjang hidupku, aku tidak akan pernah melupakan malam itu. Kapten memerintahkan: ‘Perempuan dan anak-anak lebih dahulu!’ Tetapi banyak wanita menolak meninggalkan suami atau keluarga. Aku berteriak: ‘Perempuan dan anak-anak, cepat kemari!’ Namun nyaris tak ada yang mau naik ke sekoci sendirian.”

Cinta Abadi Sang Miliarder Astor

John Jacob Astor IV, saat itu orang terkaya di dunia, mengantarkan istrinya yang sedang hamil lima bulan naik ke sekoci nomor 4. Dia sendiri tetap berdiri di geladak, menyalakan cerutu, menggenggam anjing kesayangannya, dan melambaikan tangan sambil berteriak ke arah istrinya yang menjauh: “Aku mencintaimu!”

Ketika seorang perwira menawarkan kursi untuknya, dia menolak keras: “Aku lebih suka tetap dengan prinsip awal: lindungi wanita dan anak-anak!”

Dia bahkan memberikan satu-satunya kursi kosong kepada seorang wanita miskin dari kelas tiga. Beberapa hari kemudian, jasad Astor ditemukan, kepalanya hancur akibat tertimpa cerobong kapal. Kekayaannya mampu membangun belasan Titanic, namun dia menolak semua alasan untuk menyelamatkan diri. Dia memilih mati dengan kehormatan.

Guggenheim: “Aku Akan Mati sebagai Seorang Gentleman”

Benjamin Guggenheim, bankir besar asal Amerika, mengenakan pakaian malam paling mewahnya dan berkata: “Aku ingin mati dengan terhormat, sebagai seorang gentleman.”

Dalam pesan terakhir untuk istrinya, dia menulis: “Tak seorang wanita pun akan tertinggal di geladak ini karena aku mengambil tempatnya. Aku tidak akan mati seperti binatang. Aku akan mati sebagai pria sejati.”

Kisah Pasangan Strauss

Isidor Strauss, pendiri Macy’s dan orang terkaya kedua di dunia kala itu, didesak awak kapal untuk naik ke sekoci karena usianya yang lanjut. Tetapi dia menolak: “Aku tidak akan naik sebelum pria lain diselamatkan lebih dulu.”

Istrinya, Rosalie, juga menolak naik meski dibujuk berkali-kali. Dia hanya berkata dengan tenang: “Bertahun-tahun aku selalu bersamamu, ke mana pun kamu pergi, aku ikut. Kini aku pun akan menemanimu.”

Keduanya lalu bergandengan tangan, berjalan ke kursi rotan di geladak, dan duduk menunggu ajal bersama.

 Di New York, sebuah monumen didirikan untuk mengenang cinta mereka, dengan ukiran:  “Tak ada lautan yang mampu menenggelamkan cinta.”

Seorang Ayah Prancis yang Rela Berkorban

Seorang pedagang asal Prancis bernama Navratil memasukkan dua putranya ke sekoci, menitipkan mereka pada beberapa wanita agar dijaga. Dia sendiri menolak naik. Kedua anak itu selamat, fotonya tersebar luas hingga akhirnya sang ibu mengenali mereka. Namun ayah mereka selamanya hilang di lautan.

Cinta Pengantin Baru & Pengorbanan Seorang Ibu

Seorang pengantin baru bernama Mrs. Ryerson menolak meninggalkan suaminya. Sang suami terpaksa memukulnya hingga pingsan, lalu menaruhnya di sekoci. Dia selamat, namun sepanjang hidupnya tidak pernah menikah lagi, mengenang suaminya yang gugur.

Ada juga seorang ibu yang tanpa nama, sudah duduk di sekoci, tetapi melihat seorang wanita lain tak bisa ikut karena anak-anaknya masih di atas kapal. Dia bangkit, mendorong wanita itu masuk sambil berkata: “Naiklah! Anak-anakmu butuh ibunya!”

Dia sendiri tetap tinggal di kapal. Hingga kini, di Lausanne, Swiss, berdiri monumen untuk “Ibu Tak Bernama” itu.

Para Pahlawan yang Tak Terselamatkan

Selain para miliarder, banyak tokoh terkenal lain turut tenggelam:

·        John Jacob Astor – taipan dunia

·        Benjamin Guggenheim – bankir

·        Isidor Strauss – pendiri Macy’s

·        William Stead – jurnalis senior

·        Mayor Archibald Butt – perwira artileri

·        Thomas Andrews – insinyur kapal

Mereka semua memilih menyerahkan kursi penyelamatan untuk wanita miskin dari kelas bawah.

Lebih dari 50 pejabat senior Titanic tetap di pos mereka hingga akhir. Hanya Lightoller, perwira kedua, yang selamat. Radio operator John Phillips tetap mengetuk kode SOS hingga kapal tenggelam.

Kata Terakhir di Tengah Kematian

Saat kapal raksasa itu pecah dan tenggelam perlahan, pekikan terakhir yang terdengar bukanlah jeritan panik, melainkan suara orang-orang yang saling berteriak: “Aku mencintaimu!”

Pada detik-detik terakhir, bahkan di hadapan maut, manusia memilih untuk mengekspresikan hal paling murni: cinta. (jhn/yn)