Peringatan Dini Tsunami di Wilayah Indonesia Pasca Gempa Rusia Dinyatakan Berakhir

EtIndonesia – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengumumkan peringatan dini tsunami di wilayah Indonesia yang disebabkan oleh gempabumi dengan magnitudo 8,7 di pesisir timur Kamchatka, Rusia pada Rabu (30/7/2025) dinyatakan telah berakhir pada hari yang sama pukul 22.42 WIB.

“Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada sembilan titik wilayah dengan gelombang tsunami minor, tidak ada dampak kerusakan maupun korban jiwa,” kata Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB. 

Selain itu, terdapat 100 jiwa yang mengungsi di Pangkalan TNI Angkatan Laut Provinsi Gorontalo. Pada titik lainnya, masyarakat melakukan evakuasi mandiri ke tempat kerabat dekat yang lebih aman. 

Adapun sembilan titik tersebut meliputi masing-masing dua titik di Jayapura dan Papua Barat serta masing-masing satu titik di Halmahera Tengah, Papua, Sulawesi Utara, Maluku Utara dan Gorontalo. 

BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat di wilayah pesisir untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa dan tsunami yang dapat terjadi kapan saja. 

Menyikapi peristiwa ini, pemerintah daerah dapat mengkaji kembali efektivitas sistem peringatan dini, jalur evakuasi, fasilitas di lokasi pengungsian, kesiapan peralatan dan logistik serta melakukan pelatihan kesiapsiagaan guna memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dan meminimalisir risiko dampak kerusakan maupun korban jiwa akibat bencana.  (***)

Beda Cara Pandang, Tak Perlu Berdebat, Beda Nilai Hidup, Tak Perlu Berjalan Bersama

EtIndonesia. Penulis kenamaan Shen Congwen lahir dari keluarga miskin.  Namun sejak kecil dia gemar membaca dan percaya bahwa seseorang bisa mengubah nasibnya melalui usaha sendiri.

Saat menjadi tentara, banyak rekan-rekannya hanya sibuk berpesta, bersenang-senang, dan tak peduli masa depan. Mereka malah menertawakan Shen yang tekun belajar, mencemooh bahwa dirinya terlalu naif.

Tapi Shen tidak meladeni perdebatan. Dia tetap tenang, terus membaca dan menulis.
Ketika novel Border Town (边城) mengangkat namanya ke panggung sastra nasional,
dia memutuskan untuk memutus hubungan dengan para rekan lamanya.

Ada yang bilang dia terlalu dingin, tapi saya justru bisa memahaminya.

Semakin banyak kita mengalami hidup, kita akan makin sadar:

  • Berbeda tingkat pemahaman (kognisi), tak perlu berdebat.
    – Berbeda pandangan hidup (tiga pandangan utama: dunia, hidup, dan nilai), tak perlu memaksakan berjalan bersama.

01. Beda Pola Pikir, Tak Perlu Dipaksa Debat

Dalam “Republik”, Plato menulis sebuah alegori terkenal—Perumpamaan Gua.

Beberapa orang sejak lahir dirantai di dalam gua, hanya bisa melihat bayangan di dinding gua. Suatu hari, salah satu dari mereka berhasil membebaskan diri dan keluar. Di luar, dia melihat dunia yang cerah dan indah—bukan sekadar bayangan semu.

Dia kembali ke gua dan dengan penuh semangat menceritakan apa yang dia lihat kepada yang lain. Tapi mereka malah mencurigainya, menganggap dia gila. Karena bagi mereka, dunia hanyalah bayangan di dinding gua—itulah “kenyataan”.

Pembicara cerdas Huang Zhizhong pernah berkata: “Apa yang diyakini seseorang hari ini adalah hasil dari tumpukan pengalaman dan pilihan masa lalunya.”

Artinya, jika kamu tidak bisa membantu seseorang menembus batas pemahamannya, berdebat pun hanya akan jadi buang-buang waktu dan energi.

Contohnya ada dalam serial Friends. Ross, seorang profesor arkeologi, terkejut saat temannya Phoebe mengaku tidak percaya teori evolusi.

Ross pun mencoba meyakinkannya dengan berbagai fakta ilmiah, bahkan membawa fosil berumur 200 juta tahun.

Tapi Phoebe hanya menjawab santai: “Kamu punya waktu berdebat dengan seorang terapis pijat? Mending kamu nulis paper lagi buat komunitas arkeologi yang memang percaya evolusi.”

Akhirnya Ross sadar—Phoebe percaya pada apa yang dia ingin percayai. Debat pun tak ada gunanya.

Berbeda pengalaman hidup = berbeda perspektif.

Orang yang berdiri di puncak gunung melihat laut.  Yang masih merangkak di bawah, hanya bisa melihat pohon.

Maka, berdebat dengan orang yang belum sampai ke tempatmu berpijak, hanya akan membuatmu lelah sendiri.

02. Beda Pandangan Hidup, Tak Perlu Jalan Bersama

Ada ungkapan menarik: “Jarak paling jauh di dunia bukan langit dan bumi, tapi saat aku berdiri di depanmu, namun kita tetap tak bisa nyambung bicara.”

Contohnya:

·        Kamu suka baca buku, dia bilang itu cuma gaya-gayaan.

·        Kamu suka makan steak di restoran, dia bilang itu mahal dan gak enak.

·        Kamu suka traveling, dia bilang jalan-jalan itu cuma buang duit dan nyiksa diri.

Bersama orang seperti itu hanya akan membuatmu lelah secara fisik dan mental.

“Burung dan ikan tak bisa satu jalan.”

Memaksakan diri untuk terus bersama orang yang tak sefrekuensi, hanya akan membuatmu tersesat dalam keramaian.

Lihat kisah nyata penyair perempuan Yu Xiuhua.

Dia menderita cerebral palsy sejak lahir, tapi punya semangat kuat, mencintai puisi dan kehidupan. 

Orangtuanya menjodohkannya dengan pria sederhana yang tak punya pendidikan, yang justru menganggap minat Yu Xiuhua sebagai mimpi kosong.

Pernikahan mereka selama 20 tahun penuh dengan kesalahpahaman dan konflik—hingga akhirnya dia memilih bercerai.

“Jalan kita beda, tak bisa saling memahami. Maka lebih baik pisah jalan.”

Kontras dengan kisah persahabatan Jin Yong dan Cai Lan. Keduanya sahabat sejati karena menyukai hal yang sama: baca buku, jalan-jalan, menikmati kuliner, dan berdiskusi tentang hidup.

Hanya dengan tatapan mata, mereka sudah bisa tahu apa yang sedang dipikirkan satu sama lain.

“Bertemu boleh kebetulan, tapi cocok adalah pilihan.”

Hidup ini singkat. Teman sejati bukan mereka yang selalu ada di sekeliling, tapi mereka yang bisa mengerti diam kita, dan membaca isi hati kita.

03. Tak Perlu Balas, Tak Perlu Buktikan. Cukup Jalani Hidupmu Sendiri

Ada seorang netizen bertanya kepada Cai Lan: “Orang-orang terus mencampuri hidup saya, harus bagaimana saya merespons?”

Cai Lan hanya menjawab 4 kata: “Tutup telinga, diamkan.”

  • Tak semua suara patut didengar.
    –  Tak semua kritik perlu dibalas.
    – Tak semua perbedaan harus diperdebatkan.

Kadang, cara terbaik untuk membuktikan dirimu bukan dengan kata-kata, tapi dengan berjalan lebih jauh—diam-diam dan pasti.

Penutup:

Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan bersama orang yang tak sejalan.

Berjalanlah bersama mereka yang satu frekuensi, bertemanlah dengan mereka yang saling memahami.

 Lepaskan yang membuatmu lelah, hindari debat yang tak ada ujungnya, dan fokuslah membangun kehidupan yang kamu inginkan.

Karena pada akhirnya…

Kita tak perlu meyakinkan semua orang, cukup temukan beberapa yang benar-benar mengerti.(jhn/yn)

Framing Percepatan Pelabelan BPA Pada Galon Tidak Rasional

Jakarta – Gerakan masif yang dilakukan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mau mengintervensi atau memaksa agar dilakukan percepatan terhadap pelabelan BPA pada kemasan galon guna ulang dipertanyakan banyak pihak. Desakan tersebut dinilai tidak relevan sama sekali karena tidak disertai bukti-bukti sesuai fakta yang terjadi di masyarakat.

Willy Bintoro Chandra, Pembina Asosiasi Pengusaha Air Minum Dalam Kemasan (Aspadin) DPD Jawa Tengah mengatakan desakan sebuah LSM yang ingin agar pelabelan BPA terhadap kemasan galon guna ulang itu dipercepat itu tidak rasional sama sekali. “Sampai sekarang belum ada bukti-bukti ilmiah yang kuat yang menunjukkan bahwa paparan BPA dari galon guna ulang itu menyebabkan dampak kesehatan yang signifikan,” ujarnya.

Karenanya, dia melihat desakan sebuah LSM itu seperti buzzer. “Karena, saya melihat hanya pada jarang sekali LSM yang fokus satu bidang yang itu-itu saja,” ucapnya.

Dia juga mempertanyakan sesuatu yang mendesak yang bagaimana yang dimaksud LSM tersebut. “Kalau disebut mendesak, mendesaknya di mana? Ya harusnya dijabarkan secara ilmiah dan bukti-buktinya di masyarakat itu ada atau tidak?” tandasnya.

Sebagai sebuah LSM, menurut Willy, seharusnya tidak hanya mengkritisi satu fokus tertentu saja melainkan semua. “Kalau mau mengkritisi untuk tujuan menyelamatkan masyarakat dari makanan dan minuman berbahaya kan banyak. Malah kasusnya sudah benar-benar terjadi di masyarakat. Kenapa tidak itu yang dikritisi tapi hal-hal yang sama sekali belum ada buktinya. Ini kan aneh kelihatannya,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Ketua Umum Asosiasi Depot Air Minum Isi Ulang (Asdamindo), Erik Garnada. Menurutnya, ada hal yang lebih penting untuk dikritisi para LSM ketimbang persoalan pelabelan BPA pada galon guna ulang ini. Dia mencontohkan salah satunya adalah terkait banyaknya pemakaian galon sekali pakai yang digunakan masyarakat untuk isi ulang. “Ini lebih berbahaya lagi dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Kenapa nggak yang seperti ini saja yang dikritisi para LSM itu,” ucapnya.

Selain itu, kata Erik, yang hal yang harus menjadi perhatian para LSM itu jika memang ingin fokus kepada kesehatan masyarakat adalah pengawasan terhadap depot-depot air minum. Karena menurutnya, banyak depot air minum itu yang tidak menerapkan standar higienitas yang ketat. “Itu kan sangat berbahaya buat masyarakat yang mengkonsumsinya,” ujarnya.

Dia melihat adanya ketidaktegasan pengawasan yang dilakukan terhadap depot-depot air minum itu. Di antaranya terkait sumber airnya dari mana, kualitasnya seperti apa, dan soal higienis dan sanitasi mesin yang digunakan. “Ini seharusnya yang menjadi perhatian para LSM. Apalagi para pengguna air isi ulang ini kebanyakan kaum menengah ke bawah. Jadi, sebagai LSM, ya perhatikan lah masyarakat bawah juga agar mengonsumsi air minum yang steril. Jadi jangan tebang pilih,” katanya.

Terkait dengan AMDK galon guna ulang, menurut Erik, itu tidak perlu dikritisi lagi sebetulnya. Hal itu menurutnya dikarenakan sudah jelas-jelas ada BPOM yang mengawasinya. “Apalagi membuat air minum dalam kemasan itu harus melalui beberapa tahap, uji laboratorium, harus melalui SNI juga. Nanti dari AMDK-nya itu ke BPOM, kita punya merek dagang ini, nomor sekian. Jadi, pengawasannya sangat ketat, jadi tidak mungkin berbahaya. Kalau berbahaya, pasti sudah ditarik dari peredaran lah,” tukasnya.

Sebelumnya, para praktisi kesehatan juga mengatakan belum pernah menemukan di masyarakat ada yang melaporkan terkena penyakit setelah mengkonsumsi air minum dalam kemasan galon guna ulang.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra mengatakan belum pernah menemukan fakta AMDK galon guna ulang ini berdampak bagi kesehatan masyarakat. “BPA ini, dari kasus konsumsi, kami belum melihat evidence base atau fenomena dan fakta yang cukup dan berdampak luas di masyarakat,” ungkapnya.

Dokter spesialis onkologi, Bajuadji juga menjelaskan belum ada satupun pasien yang ditanganinya mengeluhkan sakit karena meminum air kemasan galon guna ulang. “Jujur, saya sendiri belum pernah ada pasien datang karena riwayat penggunaan air galon isi ulang yang kemudian mengakibatkan terjadinya kelainan pada tubuhnya atau kelainan pada organ yang lain,” tegasnya.

Hal senada disampaikan dokter spesialis kandungan Dr. M. Alamsyah Aziz SpOG (K), MKes. Menurutnya, belum ada seorang ibu hamil yang janinnya terganggu kesehatannya hanya karena mengkonsumsi air galon guna ulang.

Dokter Spesialis Anak sekaligus Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Dr.dr. Rini Sekartini, Sp.A (K) juga mengatakan hingga saat ini belum ada bukti bahwa air galon guna ulang itu bisa menyebabkan penyakit pada anak. “Itulah sebabnya hingga saat ini pun belum ada kajian yang dilakukan terkait hal tersebut,” katanya.

Menabung Air Foundation dan IPMI International Business School Kolaborasi Wujudkan Kampus Peduli Konservasi Air

Jakarta, 25 Juli 2025 – Menabung Air Foundation resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan IPMI International Business School. Kolaborasi ini menjadi komitmen bersama dalam mendorong keterlibatan generasi muda, khususnya mahasiswa, dalam aksi nyata pelestarian lingkungan.

Penandatanganan MoU berlangsung di kampus IPMI dan dihadiri oleh Prof. Ir. M. Aman Wirakartakusumah, M.Sc., Ph.D. selaku Rektor IPMI, Ibu Cut Sjahrifa Zahirsjah, M.Si selaku Wakil Rektor, Ibu Detty Nurfadilah, S.E., MBA selaku Ketua LPPM, Yulia Ayu Srikanthi selaku Ketua Menabung Air Foundation, serta seluruh staf dan mahasiswa IPMI International Business School.

Rektor IPMI, Prof. Ir. M. Aman Wirakartakusumah, M.Sc., Ph.D. dalam sambutannya menyampaikan bahwa kemitraan ini sejalan dengan visi IPMI untuk mencetak mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
“Saya melihat bahwa saat IPMI bertemu dengan Menabung Air Foundation, muncul harapan besar akan lahirnya perubahan perilaku yang mendukung keberlanjutan. Kontribusi kecil seperti lubang biopori dapat membawa dampak besar dalam menjaga kualitas hidup manusia ke depan,”ujarnya.

Ibu Detty Nurfadilah, S.E., MBA, Ketua LPPM IPMI, menambahkan bahwa kerja sama ini membuka ruang implementasi program konservasi air di lingkungan kampus dan sekitarnya. “MoU ini bukan hanya simbolis, tetapi bentuk komitmen nyata IPMI untuk berkontribusi terhadap isu lingkungan, khususnya konservasi air,”jelasnya.

Ketua Menabung Air Foundation, Yulia Ayu Srikanthi, menyampaikan bahwa IPMI merupakan institusi pendidikan yang memiliki semangat kuat terhadap keberlanjutan.
“Fokus Menabung Air Foundation adalah pada konservasi air melalui teknologi biopori. Kami percaya, bekerja sama dengan IPMI akan memperluas dampak yang kami ciptakan. Harapan saya, kolaborasi ini tidak berhenti pada seremonial, tetapi benar-benar terealisasi lewat aksi nyata, mulai dari edukasi hingga penerapan langsung di lingkungan kampus dan komunitas,”tuturnya.

Kolaborasi ini menjadi langkah awal dari transformasi berkelanjutan yang menjadikan institusi pendidikan sebagai motor penggerak gerakan peduli air dan lingkungan.

S-26 Exceptional League Hadir di Surabaya, Dukung Stimulasi Otak Generasi Alpha dan Beta

 Wyeth Nutrition S-26 sukses menggelar puncak rangkaian “S-26 Exceptional League”, sebuah event edukasi dan stimulasi otak anak terbesar di Indonesia, di Surabaya pada 25-27 Juli 2025. Acara yang bekerja sama dengan National Hospital Surabaya ini menghadirkan pengalaman imersif pertama di Tanah Air dengan konsep “Futuristic City” untuk mempersiapkan Generasi Alpha dan Beta menjadi anak-anak hebat yang future-ready.

Inovasi Stimulasi Multi-Sensori

Event yang telah digelar di Medan, Jakarta, dan Makassar ini menghadirkan empat zona stimulasi unggulan:

1. Exceptional Maestro: Zona musik dan seni yang mengasah kemampuan motorik halus dan daya ingat melalui permainan alat musik dan melukis.

2. Exceptional Architect: Area konstruksi berbasis LEGO yang melatih kemampuan memecahkan masalah dan berpikir spasial.

3. Exceptional Astronaut: Simulasi luar angkasa untuk melatih fokus, ketelitian, dan sensorik anak.

4. Exceptional Zoologist: Zona interaksi dengan hewan virtual yang mengembangkan keterampilan bahasa dan kinestetik.

“Kami ingin menciptakan pengalaman belajar multi-sensori yang menyenangkan. Setiap zona dirancang oleh ahli perkembangan anak untuk mengaktifkan berbagai area otak secara simultan,” jelas Vera Niki Gozali, Category Marketing Manager Wyeth Nutrition S-26.

Terobosan Teknologi Pemantau Otak

Yang menjadi pembeda event ini adalah penerapan teknologi mutakhir “S-26 Exceptional Brain Visualizer”. Alat berbasis electroencephalogram (EEG) ini dikembangkan oleh MyndPlay, perusahaan neurokognitif terkemuka asal Inggris.

“Headband canggih ini memungkinkan orang tua melihat aktivitas lima area kognitif utama otak anak secara real-time melalui tampilan visual interaktif,” papar Vera. Teknologi ini mampu memetakan perkembangan:

– Lobus frontal (kreativitas dan pemecahan masalah)

– Lobus temporal (bahasa dan memori)

– Lobus parietal (fokus dan spasial)

Data Ilmiah di Balik Stimulasi

Dr. Benny Herlianto, Sp.A dari National Hospital Surabaya menjelaskan mekanisme neurologis di balik stimulasi ini. “Setiap aktivitas memicu synaptogenesis – pembentukan koneksi baru antar neuron. Proses ini dipercepat oleh mielinasi yang membutuhkan nutrisi tepat.”

Elizabeth Santoso, M.Psi, psikolog dari Klinik Kupompong menambahkan, “Stimulasi multi-sensori di usia dini dapat meningkatkan plasticitas otak hingga 80%. Kuncinya adalah konsistensi dan pendampingan orang tua.”

Dukungan Nutrisi Berbasis Riset

Wyeth Nutrition menghadirkan rangkaian produk berbasis penelitian selama 100 tahun di pusat riset mereka di Swiss. S-26 Procal GOLD Multilearn Connect mengandung:

– Sphingomyelin dan Fosfolipid untuk pembentukan mielin

– AA dan DHA dengan rasio optimal 2:1

– 15 vitamin dan 9 mineral esensial

“Formula ini dikembangkan khusus untuk mendukung konektivitas antarsel otak selama proses belajar,” jelas Vera.

Respons Positif Peserta

Acara ini menarik lebih dari 1.200 keluarga Surabaya. Amanda Kohar, salah satu peserta, mengungkapkan, “Saya terkejut melihat bagaimana area bahasa di otak anak saya aktif saat di zona Zoologist. Ini membantu saya memahami bakat alaminya.”

Komitmen Berkelanjutan

Wyeth Nutrition berencana mengembangkan program lanjutan:

– Aplikasi pemantau perkembangan otak berbasis AI

– Workshop bulanan untuk orang tua

– Ekspansi ke 10 kota lainnya pada 2026

“Kami ingin terus mendampingi orang tua Indonesia dalam membentuk generasi exceptional,” tutup Vera.

Fakta Kunci:

– 85% perkembangan otak terjadi sebelum usia 5 tahun

– Stimulasi multi-sensori meningkatkan konektivitas otak hingga 40% – 1 dari 3 orang tua Indonesia belum memahami pentingnya stimulasi terpadu

Truk Terguling di Shandong, Lebih dari 10 Ton Makanan Beku Dijarah Warga

Etindonesia. Sebuah truk logistik mengalami kecelakaan terguling di Shandong, Tiongkok, menyebabkan lebih dari 10 ton muatan berupa makanan beku dijarah habis oleh warga sekitar. Nilai kerugian ditaksir melebihi 400.000 yuan (sekitar Rp 900 juta). Insiden penjarahan massal ini menuai kecaman luas dari warganet, yang menyebut tindakan tersebut sebagai perilaku “tidak beradab” dan “memanfaatkan musibah demi keuntungan pribadi”.

Truk tersebut berasal dari sebuah perusahaan logistik yang berangkat dari Kota Linyi, Shandong, pada 24 Juli. Muatan penuh terdiri atas kaki babi beku, paha ayam, cokelat, dan barang-barang beku lainnya, dengan tujuan akhir Kota Chengdu, Provinsi Sichuan.

Namun, sekitar pukul 23.00 waktu setempat, truk mengalami kecelakaan di Jalan Tol G1511 (Ruas Qufu), terguling dari jembatan layang dan menghamburkan seluruh muatan ke tanah.

Menurut Ji, perwakilan perusahaan logistik, pihaknya langsung mengirim tim ke lokasi kejadian malam itu juga dan menugaskan lima hingga enam karyawan untuk menjaga barang. Namun, proses evakuasi barang tertunda karena polisi lalu lintas perlu melakukan investigasi tempat kejadian terlebih dahulu. Proses pemindahan baru dimulai pada pukul 10 pagi keesokan harinya (25 Juli).

Karena jarak antara lokasi barang berserakan dan jalan utama mencapai beberapa ratus meter, para staf terpaksa menggunakan troli kecil dan bolak-balik untuk mengangkut barang. Namun, saat proses evakuasi sedang berlangsung, warga dari desa sekitar mulai berdatangan—beberapa bahkan membawa kantong dan tas dari rumah.

Penjarahan terjadi dalam dua gelombang. Awalnya hanya beberapa orang yang datang dan mengambil barang secara diam-diam. Namun, menjelang pukul 6 sore keesokan harinya, ratusan orang langsung menyerbu dan menyebabkan penjarahan massal.

Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat warga desa memadati lokasi kejadian. Ada yang membawa kantong plastik, ada juga yang mengendarai becak listrik untuk membawa barang. Pada awalnya, sebagian hanya mengambil barang beku yang rusak atau tercecer. Namun tak lama kemudian, mereka mulai mengangkut satu dus penuh tanpa rasa bersalah.

Menurut salah satu staf perusahaan bernama Hu: “Kebanyakan yang menjarah adalah orang tua, tapi ada juga anak muda dan orang dewasa. Mereka membawa karung besar, naik becak motor, dan langsung mengangkut barang. Awalnya yang diambil cuma yang rusak, lama-lama satu dus penuh pun mereka bawa pergi.”

Staf di lokasi sempat berusaha menghentikan, tapi jumlah massa yang terlalu banyak membuat upaya mereka sia-sia.

“Kami usir dari timur, mereka menyerbu dari barat. Usir dari selatan, mereka datang dari utara. Mereka berputar-putar untuk menjarah,” tutur Hu.

Rekaman di lokasi memperlihatkan bahwa sebagian besar pelaku penjarahan adalah orang lanjut usia, namun ada pula kalangan muda. Polisi lokal memang mengirim dua petugas untuk mengamankan situasi, namun jumlah massa yang besar membuat tindakan mereka tidak efektif.

Dengan nada frustrasi, Ji mengatakan bahwa pada akhirnya polisi memilih untuk tidak ikut campur, membuat warga semakin berani dan tidak terkendali. Dari total muatan lebih dari 10 ton, hampir semuanya dijarah atau rusak, menyebabkan kerugian perusahaan mencapai lebih dari 400.000 yuan.

Pihak kepolisian setempat mengonfirmasi bahwa hanya dua petugas yang dikirim karena keterbatasan personel, dan mereka kesulitan mengendalikan massa.

Insiden ini memicu gelombang kemarahan dari warganet Tiongkok. Komentar-komentar pedas membanjiri media sosial:

·        “Benar-benar tidak punya moral.”

·        “Masyarakat yang dikuasai oleh nafsu materi bisa berubah sangat kejam.”

·        “Ini bukan lagi soal usia. Yang jahat bukan hanya anak muda, tapi juga yang sudah tua.”

·        “Orang mengalami kecelakaan, bukannya ditolong malah dijarah. Miris.”

·        “Ini sama seperti merampok saat rumah orang kebakaran. Mengerikan. Tidak berperikemanusiaan!”

Tak sedikit pula yang mengkritik kinerja aparat dan pejabat setempat:

·        “Kenapa tidak minta bantuan personel tambahan? Tidak mampu atau tidak mau?”

·        “Ini bukan tidak bisa dikendalikan, tapi malas dan terlalu banyak pertimbangan pribadi.”

·        “Petugas bilang tidak bisa dikendalikan? Atau sebenarnya tidak ingin dikendalikan?”

Beberapa warganet bahkan mengusulkan agar semua pelaku penjarahan ditindak:

“Rekam semuanya, identifikasi para pelaku, lalu total kerugian dibagi rata. Siapa pun yang terekam ambil barang harus mengganti rugi, tidak peduli ambil sedikit atau banyak. Kalau tidak mampu bayar, asetnya diblokir. Kalau tidak punya aset, anaknya yang bayar. Kalau tidak punya anak, desa yang tanggung!”(jhn/yn)

Kumpulan Foto: Banjir Parah Landa Beijing, Bangkai Mobil Menumpuk di Jalanan

Distrik Miyun, Beijing diterjang banjir besar. Air meluap dan menghancurkan rumah-rumah serta kendaraan, meninggalkan kehancuran total di jalan-jalan kota.

Pada 29 Juli 2025, Distrik Miyun di Beijing terendam banjir. Puing-puing bangunan dan mobil-mobil rusak berserakan di sepanjang jalan, dengan genangan air setinggi lutut membuat warga terpaksa berjalan menerobos air. (ADEK BERRY / AFP via Getty Images)


Pemandangan Desa Xin’anzhuang, Distrik Miyun, Beijing, yang sepenuhnya terendam banjir pada 28 Juli 2025.  (JADE GAO / AFP via Getty Images)


Setelah hujan deras pada 29 Juli 2025, Distrik Miyun terendam. Permukaan sungai naik drastis, menghancurkan jalanan dan infrastruktur di wilayah pinggiran Beijing.(ADEK BERRY / AFP via Getty Images)

Kawasan utara Distrik Miyun tampak porak-poranda. Banjir meluluhlantakkan pemukiman, meninggalkan tumpukan puing dan mobil-mobil yang rusak.(ADEK BERRY / AFP via Getty Images)


Air bah menggenangi jalanan utama di Distrik Miyun. Sejumlah warga terlihat mengendarai sepeda motor dan melewati genangan air yang dalam.(ADEK BERRY / AFP via Getty Images)


Seorang pria mendorong motornya menerobos air. Sementara itu, mobil-mobil terjebak dalam lumpur yang menutup jalanan kota.(ADEK BERRY / AFP via Getty Images)


Seorang pria berusaha menyelamatkan barang-barang yang hanyut di tengah banjir di Distrik Miyun, Beijing utara. (ADEK BERRY / AFP via Getty Images)


Perumahan warga di pinggiran Distrik Miyun terendam air. Jalanan yang biasanya ramai kini berubah menjadi sungai penuh kendaraan rusak.(ADEK BERRY / AFP via Getty Images)


Mobil-mobil rusak berserakan di kawasan perumahan yang terendam. Banjir menyisakan lumpur tebal dan kehancuran. (ADEK BERRY / AFP via Getty Images)

Penembakan di Manhattan Tewaskan 5 Orang, Termasuk Eksekutif Senior Perempuan dari Raksasa Investasi Blackstone

EtIndonesia. Sebuah insiden penembakan terjadi di sebuah gedung perkantoran di Midtown Manhattan dan menyebabkan lima orang tewas, termasuk pelaku penembakan itu sendiri. Salah satu korban yang kehilangan nyawa adalah Wesley LePatner, seorang eksekutif perempuan senior dari perusahaan investasi ternama Amerika, Blackstone Group.

Pada tanggal 29 Juli, Blackstone Inc. yang berkantor pusat di Manhattan mengonfirmasi bahwa Wesley LePatner, salah satu pemimpin utama di perusahaan tersebut, menjadi korban dalam insiden penembakan pada malam sebelumnya.

Dalam pernyataannya, Blackstone menyampaikan: “Dengan penuh duka kami mengumumkan bahwa rekan kami, Wesley LePatner, telah meninggal dunia dalam insiden tragis yang terjadi di 345 Park Avenue. Kata-kata tidak mampu mengungkapkan kesedihan dan keterkejutan kami.”

Menurut data publik, Wesley LePatner merupakan kepala global divisi properti inti Blackstone dan CEO dari Blackstone Real Estate Income Trust (BREIT). Dia juga merupakan anggota Komite Investasi Properti Blackstone. Sebelumnya, dia menjabat sebagai Chief Operating Officer untuk divisi Core+ dan BREIT.

Sebelum bergabung dengan Blackstone pada tahun 2014, LePatner telah bekerja lebih dari satu dekade di Goldman Sachs, di mana posisi terakhirnya adalah Managing Director pada divisi investasi properti di unit Manajemen Aset.

Rincian Peristiwa Penembakan

Penembakan terjadi pada malam 28 Juli. Seorang pria bersenjata masuk ke sebuah gedung perkantoran di Midtown Manhattan dan menembaki sejumlah orang. Total lima orang tewas, termasuk si pelaku. Gedung tempat kejadian merupakan kantor pusat global Blackstone Group.

Menurut Kepolisian New York City, pelaku adalah Shane Tamura (27 tahun), warga Las Vegas. Dia pertama kali menembak mati seorang petugas polisi NYPD, lalu menembaki seorang perempuan yang bersembunyi di belakang pilar dan seorang petugas keamanan yang berlindung di balik meja.

Setelah itu, Tamura naik lift ke lantai 33, menuju kantor perusahaan pengelola properti Rudin Management Company dan menembak mati satu orang lagi. Dia kemudian menembakkan pistol ke dadanya sendiri dan mengakhiri hidupnya.

Gedung yang diserang diketahui menjadi tempat berbagai lembaga ternama lainnya seperti National Football League (NFL), kantor akuntan KPMG, dan Rudin Real Estate Company. Pasca insiden, sebagian besar kawasan Midtown Manhattan langsung ditutup.

Pernyataan Presiden Trump

Presiden AS Donald Trump langsung mengeluarkan pernyataan terkait tragedi ini: “Saya sudah menerima laporan tentang penembakan di Manhattan—tempat yang sangat saya kenal dan cintai. Saya percaya penegak hukum akan mengungkap alasan di balik tindakan brutal tak bermakna ini. Hati saya bersama keluarga para korban, terutama petugas NYPD yang gugur dalam tugas. Semoga Tuhan memberkati Kepolisian New York, dan memberkati kota New York!” (jhn/yn)

Menemukan Kelapa Milikmu Sendiri

  
EtIndonesia.
Dia lahir dari keluarga miskin, dan sejak kecil hidupnya selalu dibayangi rasa minder ekstrim. Setelah lulus kuliah, dia berkali-kali gagal dalam mencari pekerjaan. Akhirnya, dia memilih mengurung diri di rumah, tenggelam dalam dunia game online, dan menjalani hari-hari yang nyaris tanpa harapan.

Suatu hari, temannya, Anke, memaksa dia ikut menonton sebuah pertunjukan bakat bertema “kelompok akar rumput”. Yang membuatnya tercengang, para peserta yang tampil berasal dari berbagai usia dan latar belakang pekerjaan. Mereka semua dengan berani naik ke atas panggung, menunjukkan bakat terbaik mereka tanpa rasa malu.

Seorang anak laki-laki berusia delapan tahun memutar adonan pizza hanya dengan ujung jarinya. Sesekali, adonan itu dilempar ke belakang kepala, lalu ditangkap dan diputar kembali dengan lihai. Teknik melempar pizza yang piawai, ditambah dengan senyuman percaya diri yang menawan, langsung mengundang tepuk tangan meriah dari penonton.

Seorang gadis bertubuh mungil dan gemuk menyanyikan lagu tema film Titanic. Meski suara nyanyiannya tak begitu merdu, semangatnya untuk menantang diri sendiri begitu menyentuh hati.

Ada juga seorang pria yang kehilangan kedua kakinya dalam kecelakaan lalu lintas. Di atas panggung, dia menunjukkan keahliannya menjahit. Dalam waktu lima menit, dia berhasil menyulap selembar kain menjadi gaun cantik. Dia telah bangkit dari keputusasaan dan memilih jalan hidup baru: menjadi penjahit.

Saat dia terpaku menonton pertunjukan itu, tiba-tiba Anke—temannya yang kelihatannya juga tak punya bakat apa-apa—naik ke atas panggung dan mulai meniup gelembung sabun. Ketika Anke berhasil meniup lebih dari lima puluh gelembung dalam satu tarikan napas, suasana panggung seketika berubah menjadi dunia impian yang indah.

“Giliranmu naik panggung sekarang,” ujar Anke sambil tersenyum padanya.

“Aku nggak bisa!” katanya tergagap, menggeleng keras.

Namun Anke tidak menyerah. 

“Mulai hari ini, buang kata ‘nggak bisa’ dari kamus hidupmu!” katanya sambil mendorong tubuhnya ke panggung dan berteriak: “Tepuk tangan untuk teman baru kita!”

Dalam kepanikan, dia spontan mengambil sebuah kelapa yang tergeletak di sisi panggung, meletakkannya di atas kepala, lalu memberi isyarat pada Anke. “Ingat permainan masa kecil kita? Ayo, lakukan!”

Anke mengangguk paham, mengambil tongkat kayu dan—BRAK!—memukul kelapa itu sekuat tenaga.

PRANG! Kelapa pecah seketika. Tapi dia tetap berdiri kokoh di tempat, tanpa ekspresi takut.

Penonton langsung berdiri dan bertepuk tangan meriah, terpukau oleh “kepala besi”-nya. Berdiri di tengah panggung, dikelilingi sorakan dan semangat yang lama tak dia rasakan, matanya pun berkaca-kaca.

Sejak saat itu, hidupnya berubah drastis. Dia mulai mencoba pekerjaan yang dulu tak pernah dia lirik: mengantar paket, menjual bunga. Hanya dalam dua tahun, dia berhasil menjadi manajer di sebuah perusahaan properti.

Ketika kedua orangtuanya sedang bangga-bangganya padanya, ia malah mengambil keputusan mengejutkan: berhenti kerja dan kembali ke rumah, jadi “anak rumahan” lagi. Tapi kali ini berbeda—dia tidak lagi tenggelam dalam game, melainkan ingin mengejar mimpi masa kecilnya: menjadi seorang penulis.

Demi mimpi itu, dia mematikan ponsel, menjauh dari semua hiburan. Dia hanya tidur empat jam sehari, dan sisanya digunakan untuk membaca dan menulis. Pada Agustus 2011, setelah setahun penuh bekerja keras, dia akhirnya menyelesaikan novel inspiratif setebal 200 ribu kata yang berjudul: “Mimpi yang Diubah oleh Kelapa”.

Tak lama setelah diterbitkan, bukunya langsung menarik perhatian luas. Gaya penulisan yang sederhana namun penuh kehangatan berhasil menyentuh hati banyak pembaca. Dalam waktu enam bulan, bukunya menduduki posisi puncak daftar buku terlaris, dan dicetak ulang hingga tiga kali, menciptakan sensasi luar biasa.

Penulis muda berbakat ini adalah Jean Nauré asal Prancis. Dalam kata pengantar bukunya, dia menuliskan dengan jujur:

“Pertunjukan bakat itu membuatku sadar bahwa sekalipun kamu merasa tak punya apa-apa, dengan satu buah kelapa pun, kamu masih bisa mendapat tepuk tangan. Sebenarnya, hidup ini tidak pernah benar-benar buntu—setiap orang pasti bisa menemukan ‘kelapa’ miliknya sendiri.” (jhn/yn)

Viral Harimau di Kebun Binatang Beijing Kurus Kering Sampai Makan Rumput

Sebelumnya, di beberapa kebun binatang di berbagai daerah di Tiongkok, warganet pernah merekam harimau yang sangat kurus hingga hanya tinggal kulit dan tulang, menggambarkan dampak kemerosotan ekonomi. Kini, pemandangan serupa muncul juga di Kebun Binatang Beijing, membuat banyak netizen terkejut dan berkata, “Bahkan Beijing pun sekarang kekurangan dana.”

EtIndonesia. Pada 27 Juli, sebuah video dengan lokasi bertanda “Kebun Binatang Beijing” diunggah ke media sosial Tiongkok. Dalam video tersebut, seekor harimau tampak sangat kurus, sedang memakan rumput liar di pinggir genangan air. Harimau itu tampak lemas dan tidak memperlihatkan sedikit pun kegagahan yang biasanya melekat pada “raja hutan”.

Dalam video lain, terlihat seekor harimau yang tulangnya menonjol, makan rumput di bawah terik matahari, bahkan sampai memakan rumput yang tumbuh di dinding batu.

Dalam video terdengar suara seorang pengunjung wanita dengan logat timur laut Tiongkok berkata, “Harimau sudah nggak ada makanan, sampai makan rumput.”

Video ini cepat menjadi perbincangan panas. Warganet ramai-ramai mengecam pihak kebun binatang karena tidak memberi makan harimau dengan cukup, sampai membuatnya harus makan rumput.

Beberapa netizen menyayangkan kondisi ekonomi yang begitu memburuk, bahkan di ibu kota seperti Beijing.

Pihak pengelola objek wisata di Beijing segera keluar untuk “membantah rumor”, menyatakan bahwa kondisi kebun binatang “sangat baik”, harimaunya “meski kurus tapi sehat”, dan hanya memiliki “persentase lemak tubuh yang rendah”. Bahkan “pakar” yang dikerahkan pemerintah ikut menjelaskan bahwa “harimau makan rumput untuk membuang benda asing di saluran pencernaan”.

Penjelasan ini mirip dengan pernyataan resmi saat harimau kurus terlihat memakan rumput di kebun binatang di Guangdong dan Shandong. Namun, kali ini, netizen Tiongkok sudah tidak percaya lagi. Mereka membanjiri kolom komentar dengan balasan:

  • “Sudah sekurus ini masih saja ngeyel.”
  • “Saya merasa kecerdasan saya dihina.”
  • “Kalau katanya ‘kesejahteraannya bagus’, ya coba saja jelaskan makan dan minumnya apa setiap hari?”
  • “Uang untuk memelihara harimau itu ke mana perginya?”

(Hui/asr)

Sumber ; NTDTV.com

Tsunami Rusia Berpotensi Menghantam Indonesia, Pemda dan Masyarakat Diminta Mengosongkan Pantai Hingga Dua Jam

ETIndonesia – Gempabumi berkekuatan 8,7 skala richter yang berpusat di lepas pantai timur Kamchatka, Rusia, Rabu (30/7) pada pukul 08.25 waktu setempat atau 23.25 GMT, telah memicu terjadinya tsunami ke wilayah Asia-Pasifik. 

Hasil analisa data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gelombang tsunami itu turut berpotensi melanda sejumlah wilayah Indonesia, mulai dari Kepulauan Talaud di Sulawesi Utara, Halmahera Utara di Maluku Utara, Raja Ampat bagian utara, Manokwari dan Sorong bagian utara di Papua Barat serta Biak Numfor dan Supiori di Papua.

Menurut analisa sementara, tinggi gelombang tsunami yang berkisar kurang lebih 50 sentimeter ini akan tiba di Kepulauan Talaud pada pukul 13.52 WIB, Halmahera Utara pada 14.04 WIB, Manokwari pada 14.08 WIB, Raja Ampat bagian utara pada 14.18 WIB, Biak Numfor pada 14.21 WIB, Supiori pada 14.21 WIB dan Sorong bagian utara pada 14.24 WIB.

FOTO: Konferensi Pers potensi tsunami di Indonesia pasca gempabumi dengan magnitudo 8,7 di Kamchatka, Rusia, di Ruang Pusat Pengendalian Operasi BNPB, Jakarta, Rabu (30/7)

Menyikapi hal tersebut, pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta seluruh pemerintah daerah khususnya di sejumlah wilayah terkait agar segera menyiapkan skenario peningkatan kesiapsiagaan masyarakat yang berada di wilayah pesisir. 

“Masyarakat dihimbau untuk tidak mendekati wilayah garis pantai dalam periode satu jam sebelum hingga dua jam setelah pada waktu yang telah ditentukan,” ujar Abdul Muhari.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB

Tsunami Setinggi 50 Sentimeter Dapat Membunuh

Perlu digaris bawahi bahwa meski ada potensi tsunami setinggi 50 sentimeter, namun hal itu dapat menghilangkan nyawa manusia. Menurut catatan terdahulu, tsunami yang terjadi di Tohoku Jepang pada 2011 telah menyebabkan satu warga di Papua meninggal dunia tepatnya di teluk Youtefa.

Tsunami setinggi 50 sentimeter dapat beramplifikasi dan ketinggiannya berpotensi meningkat jika gelombangnya menerjang wilayah teluk. Kejadian di teluk Youtefa, Papua menjadi bukti di mana pada saat itu dinyatakan bahwa gelombang tsunami Tohoku di Jepang akan menerjang wilayah Papua dengan ketinggian muka air 50 sentimeter, namun ketika gelombang memasuki wilayah teluk, tinggi gelombang meningkat menjadi 3,8 meter.

FOTO: Konferensi Pers potensi tsunami di Indonesia pasca gempabumi dengan magnitudo 8,7 di Kamchatka, Rusia, di Ruang Pusat Pengendalian Operasi BNPB, Jakarta, Rabu (30/7)

Di samping itu, hal yang juga harus diwaspadai adalah adanya gelombang tsunami susulan yang berpotensi lebih besar dan mungkin dapat merusak. Oleh sebab itu, BNPB meminta pemerintah daerah dan masyarakat agar mengikuti arahan untuk tetap menjauhi pantai dan mengosongkan segala aktivitas di pesisir hingga waktu yang telah ditentukan sebelumnya.

Pemerintah Daerah Telah Siap

Melalui rapat koordinasi yang dilakukan antara BNPB, BMKG, Basarnas dan sejumlah pemerintah daerah terkait, antisipasi dan kesiapsiagaan serta kewaspadaan telah dilakukan. Sejumlah pemerintah daerah tersebut telah mengeluarkan surat peringatan kepada seluruh stakeholder dan masyarakat untuk tidak beraktivitas di bibir pantai dalam waktu yang telah ditentukan.

Masyarakat pun diharapkan dapat mengikuti anjuran pemerintah demi keselamatan bersama. Di sisi lain, masyarakat juga diharapkan tidak termakan isu yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Masyarakat diminta untuk hanya mengikuti perkembangan informasi terkait potensi bencana tsunami dari instansi yang berwenang seperti BNPB, BMKG, Basarnas, BPBD, TNI dan Polri.

Selanjutnya, BNPB akan kembali menggelar rapat evaluasi peringatan dini dan penanganan darurat di sejumlah lokasi terkait bersama para pemangku kebijakan pada, Rabu (30/7) pukul 18.00 WIB.  (***)

AI Sudah Bisa Berkarya Seni, Lantas, Apakah Seniman Akan Punah?

EtIndonesia. “Manusia tidak mungkin dikuasai oleh kecerdasan buatan, karena manusia tidak bisa menciptakan makhluk yang lebih cerdas dari dirinya sendiri.” – Jack Ma.
 

“Saya sangat tidak setuju. Kita bisa menciptakan sesuatu yang lebih cerdas dari manusia, meskipun bukan dalam bentuk manusia.” – Elon Musk

Pada 29 Agustus, di acara pembukaan Konferensi Kecerdasan Buatan Dunia 2019 di Shanghai, Jack Ma dan CEO Tesla, Elon Musk, terlibat perdebatan sengit di atas panggung.

Terlepas dari apakah AI (Artificial Intelligence) sudah lebih pintar dari manusia atau belum, satu hal yang tak bisa disangkal: AI telah merambah hampir ke seluruh aspek kehidupan manusia—termasuk ke dalam dunia seni yang dulunya dianggap eksklusif milik manusia. Bila kerja sama antara seniman dan AI hanya menciptakan medium baru untuk berekspresi, maka kemampuan AI untuk menciptakan seni secara mandiri benar-benar membuka gerbang menuju dunia yang sama sekali baru.

Dalam dunia seni yang sangat menekankan kreativitas dan imajinasi, kehadiran AI membawa pertanyaan besar: Apa arti “seni” di zaman sekarang? Apakah semua orang kini bisa menjadi seniman? Para seniman yang berada di garis depan perkembangan ini pun memberikan jawaban mereka masing-masing.

1. Pengalaman Langsung di Pameran: Kendali Gerak Tubuh dan AR “Lintas Waktu”

Di area pameran IBM dalam Konferensi AI Dunia 2019, cukup angkat tangan membentuk simbol hati di atas kepala dan hitung mundur 5 detik, kamu sudah bisa “mengaktifkan” astronot CIMON untuk “mendarat di Bulan”. Di layar, sang astronot akan meniru gerakan tubuhmu, seolah mewakilimu dalam misi luar angkasa. Foto hasil interaksi ini pun bisa langsung kamu unduh dan unggah ke media sosial.

CIMON sendiri adalah astronot AI pertama dari IBM yang pernah membantu misi pendaratan manusia ke bulan 40 tahun lalu.

Sementara itu, di area pameran “Lulus Ujian Kekaisaran” hasil kolaborasi antara perusahaan teknologi SenseTime dan Museum Istana (Forbidden City), cukup dengan melakukan gestur salam tradisional, kamu bisa “menyelinap” ke masa lalu dan berinteraksi serta berfoto dengan Confucius. Teknologi pengenalan wajah bahkan bisa “mengubahmu” menjadi calon sarjana zaman kuno yang sedang mengikuti ujian kekaisaran di Beijing.

Lalu ada karya seni interaktif berjudul “Migrasi Gaya Jalan Nanjing Barat” oleh seniman muda Li Yuansu yang menggunakan teknologi AI. Kamera akan menangkap gambar pengunjung, kemudian memprosesnya melalui teknologi deteksi tubuh, pemisahan latar, dan interaksi manusia-mesin. Dengan menggabungkan pembelajaran terhadap gaya lukisan Li sebelumnya, komputer menghasilkan karya seni secara real-time. Hasilnya: tubuh pengunjung secara langsung berubah menjadi bagian dari karya bergaya artistik di layar.

2. Interaksi Mengundang Reaksi: Seniman Kini Melukis “Objek Cerdas”

Sejak memasuki era AI, kolaborasi antara kreativitas manusia dan algoritma komputer menjadi tren baru. Beberapa contoh menarik:

·        2017: Google meluncurkan AutoDraw, alat menggambar yang secara otomatis menyempurnakan sketsa sederhana menjadi gambar utuh dengan bantuan AI.

·        2018: Studio digital OUCHHH menggelar pameran PoeticAI di Paris. AI menganalisis teks-teks dari ilmuwan besar sepanjang sejarah, mengubahnya jadi gambar dan cahaya lalu memproyeksikannya melalui 136 proyektor di ruang seluas 3300 m².

·        Di tahun yang sama, lukisan AI Potret Edmond de Belamy terjual dalam lelang Christie’s seharga USD 432.500 (sekitar 3 miliar rupiah).

Li Yuansu mengamati tren baru: seniman yang dulunya gemar menggambar manusia, bunga, atau pemandangan, kini mulai menggambarkan benda-benda cerdas.

 “Jika dulu seniman melukis permukaan air yang berkilau, sekarang mereka justru tertarik menggambar layar kalkulasi komputer atau LED yang berkelap-kelip,” ujarnya. 

Ini menjadi inspirasi terbalik: AI justru memberi manusia ide baru untuk berkarya.

3. AI Terus Berevolusi: Dari Menulis Puisi, Bernyanyi, Kini Melukis

Pada Mei 2014, Microsoft (Asia) meluncurkan chatbot AI bernama Xiaoice—karakter gadis remaja yang berfokus pada hubungan emosional dengan pengguna. Dalam 5 tahun, Xiaoice terus mengembangkan kemampuan: menerbitkan kumpulan puisi, bernyanyi, menjadi pembawa acara, dan bahkan belajar melukis sebagai “mahasiswi tak resmi” Central Academy of Fine Arts (CAFA) di Tiongkok.

Pada Mei 2019, menggunakan nama samaran “Xia Yubing”, Xiaoice memamerkan karya lukisnya dalam pameran wisuda CAFA. Lalu, dari 15 Juni hingga 15 Juli, pameran solo bertajuk Xiaoice, Lukisan yang Dinanti digelar di Hangzhou. Di pameran ini, dia juga berkolaborasi dalam karya VR dengan seniman multimedia Zhou Linwei. Selanjutnya, pameran tunggal bertema “Dunia Kemungkinan” diadakan di Museum CAFA.

Kini, siapa pun bisa mengakses situs Xiaoice, mengetikkan kata-kata sederhana, dan meminta dia melukis. Dalam tiga menit, setelah melalui proses imajinasi tema, komposisi, sketsa, pewarnaan, pendalaman detail, dan penyempurnaan—lukisan pun jadi.

Menurut tim Microsoft Xiaoice, dia mempelajari karya 236 pelukis besar selama 22 bulan. Setiap lukisan 100% orisinal: mulai dari komposisi, warna, hingga detailnya. Bukan hasil manipulasi filter atau pencarian gambar. Proyek ini disebut sebagai AI model ketiga setelah teks dan suara—dan proyek ini paling sulit dan memakan waktu.

Kepala Fakultas Seni Eksperimental CAFA, Qiu Zhijie, memberikan penilaian tinggi terhadap karya Xiaoice: “Gayanya beragam, tekniknya mumpuni, dan produksinya banyak. Bila diberi aturan estetika tertentu dan diminta tidak mengulang, AI justru bisa lebih kreatif dibanding manusia.”

Xiaoice juga semakin menyerupai manusia. Tahun 2017, dia menerbitkan buku puisi “Matahari Kehilangan Jendela Kaca”(transliterasi-red), kumpulan puisi pertama di dunia yang sepenuhnya ditulis oleh AI. Tahun ini, terbit pula antologi puisi hasil kolaborasi dengan penyair manusia berjudul “Bunga Adalah Kesunyian Air Hijau”—dipilih dari 6.000 kiriman puisi hasil kerja sama manusia dan mesin.

Namun tetap saja, baik puisi maupun lukisan Xiaoice masih menunjukkan ciri khas AI—misalnya: puisi yang terasa kurang padu, transisi ide yang lemah, logika imajinatif yang kurang matang, serta ilustrasi datar yang tak punya kedalaman seperti lukisan minyak manusia.

4. AI Belum Bisa Menggantikan Manusia: Tanpa Emosi, Sulit Menyentuh Hati

Pada malam 29 Agustus, saat suara penyanyi virtual Luo Tianyi menggema di Shanghai Mercedes-Benz Arena, lagu tradisional “Bunga Melati” terdengar tak lagi familiar. Meski Luo Tianyi telah tiga tahun menggelar konser hologram berkapasitas ribuan penonton, bahkan tampil live di acara TV besar, sesuatu tetap terasa “kurang”.

Lalu naik panggung robot pianis asal Italia, Teo. Dengan 53 jari yang menari lincah di atas tuts, dia menyanyikan lagu Perfect dari Ed Sheeran sambil bermain piano. Penonton terkagum-kagum dengan bentuk kepalanya yang unik dan suara digital yang khas.

Konser ini adalah pengalaman imersif pertama yang menggabungkan AI dan seni di Tiongkok—dengan teknologi seperti interaksi manusia-mesin, penangkapan gerakan, realitas virtual, hologram, dan visualisasi 3D dipadukan dengan seni musik, tari, dan teater untuk menciptakan dunia ilusi cahaya dan bayangan.

Namun, saat didengarkan lebih seksama, suara Luo Tianyi dan Teo tetap terasa kurang alami. AI memang bisa mengatur tinggi rendah nada, tapi tidak bisa meniru ekspresi emosional dan nuansa suara manusia. Inilah kelemahan fundamental: AI tidak punya emosi.

Kecerdasan buatan telah memperluas batas seni, membuat mesin terlihat lebih “hidup”. Tapi, angka nol dan satu tidak bisa mengajarkan mesin cara merasa. Tanpa emosi, karya seni akan kesulitan menjangkau hati penontonnya. Dan justru di sanalah letak keunggulan suara manusia—yang tak tergantikan.

Di platform Zhihu, seseorang bertanya: “Apa gunanya mengembangkan AI yang bisa berkarya seni?”

Penulis novel fiksi ilmiah AI Odyssey, Xiao Yao, menjawab: “Seniman tidak akan punah. AI hanya akan menyingkirkan mereka yang tak punya inovasi. Yang benar-benar berbakat justru akan semakin menonjol. Kalau AI bisa membuatmu kehilangan semangat berkarya, maka memang kamu pantas digantikan. Sama seperti kehadiran mobil yang mematikan pekerjaan kusir delman, tapi sebagian kusir belajar menyetir dan jadi sopir taksi.” (jhn/yn)