Gempa M 8,7 Melanda Rusia, BMKG Terbitkan Peringatan Potensi Tsunami di Gorontalo, Talaud, Halmahera Utara dan Papua
EtIndonesia. Gempa Magnitudo 8,7 melanda Rusia pada Rabu (30/7/2025). Gempa ini terjadi di wilayah pesisir timur Kamchatka, Rusia. BMKG peringatan Tsunami di sejumlah wilayah Indonesia.
Dikutip dari siaran pers BMKG, berdasarkan laporan PTWC gempabumi ini berpotensi tsunami di wilayah Rusia, Jepang, Alaska, Filipina, Hawaii, dan Guam.

Hasil analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut berpotensi menimbulkan tsunami di wilayah Indonesia dengan status Waspada (ketinggian Tsunami kurang dari 0.5m), di wilayah:
- Talaud (ETA 14:52:24 WITA)
- Kota Gorontalo (ETA 16:39:54 WITA)
- Halmahera Utara (ETA 16:04:24 WIT)
- Manokwari (ETA 16:08:54 WIT)
- Rajaampat (ETA 16:18:54 WIT)
- Biaknumfor (ETA 16:21:54 WIT)
- Supiori (ETA 16:21:54 WIT)
- Sorong bagian Utara (ETA 16:24:54 WIT)
- Jayapura (ETA 16:30:24 WIT)
- Sarmi (ETA 16:30:24 WIT)
“Oleh karena itu, kepada masyarakat pesisir di wilayah tersebut untuk tetap tenang dan menjauhi pantai,” demikian BMKG.

Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan sebagai dampak gempabumi tersebut. (asr)
Profira Clinic Hadirkan Proligio, Teknologi Lifting Non-Bedah dari Korea yang Bikin Kulit Kencang Seketika
Surabaya – Di dalam dunia kecantikan menjadi cantik dengan kulit halus dan kencang adalah dambaan setiap wanita dan kini untuk menjaga penampilan kaum adam pun tak mau kalah. Dan keinginan untuk menjadi cantik dengan kulit kencang dan halus, ingin didapatkan seketika juga tanpa rasa sakit. Kecantikan tanpa rasa sakit kini bukan sekadar impian.
Profira Clinic secara resmi meluncurkan Proligio, pada Senin 28 Juli 2025, bertempat di Profira Clinic cabang Manyar, merupakan terobosan terbaru dalam perawatan kulit yang mengusung teknologi Oligio asal Korea. Perawatan ini menjanjikan efek lifting instan tanpa pisau bedah, downtime, atau rasa nyeri bahkan pasien tidak diberikan anastesi yang biasa dilakukan pada perawatan lainnya namun pasien tetap merasa nyaman selama dilakukan proses perawatan. Ini menjadi solusi efektif bagi kulit yang lebih kencang, sehat, dan tampak awet muda.
Oligio merupakan perawatan skin lifting No. 1 yang sedang menjadi tren di Korea, dikenal dengan hasilnya yang instan dan tahan lama tanpa perlu tindakan bedah. Menggunakan teknologi Monopolar Radiofrekuensi (RF) non-invasif, Oligio bekerja secara efektif untuk mengencangkan kulit, mengurangi kerutan, memperbaiki kontur wajah, serta merangsang produksi kolagen dan elastin alami.
“Kami bangga dapat memperkenalkan Proligio kepada masyarakat Surabaya sebagai bagian dari komitmen kami untuk terus menghadirkan teknologi perawatan kulit terdepan yang aman dan memberikan hasil nyata,” Dr. Fifin Marini M. Biomed AAM, Profira Clinic dalam acara peluncuran.
Mengapa harus Proligio? Mari kita mengenalnya.
Apa Itu Oligio?
Oligio adalah perawatan skin lifting nomor satu di Korea yang menggunakan teknologi Monopolar Radiofrekuensi (RF) non-invasif. Alat ini bekerja dengan memancarkan frekuensi rendah oligodinamik untuk:
– Mengencangkan kulit yang kendur di area wajah dan mata, leher, dan lengan.
– Merangsang produksi kolagen dan elastin alami, sehingga kulit tampak lebih muda.
– Memperbaiki kontur wajah (agar lebih tirus atau ramping) dengan hasil natural.
“Proligio adalah jawaban bagi mereka yang ingin tampil awet muda tanpa melalui prosedur invasif. Teknologi Oligio ini sudah terbukti aman bahkan untuk area sekitar mata dan populer di Korea, kami sendiri di klinik juga telah membuktikannya sendiri sebelum di launching ke publik,” ujar Dr. Fifin.
Keunggulan Proligio: No Pain, No Downtime!
1. Tanpa Rasa Sakit
- Memberikan kenyamanan selama perawatan, terutama untuk area sensitif atau nyeri.
- Handpiece (unit tangan) bergetar secara lembut untuk mengurangi rasa tidak nyaman selama penggunaan.
- Kombinasi frekuensi dan vibrasi membantu relaksasi otot/saraf.
- Dilengkapi sistem pendingin berbasis gas cryogenik, perawatan ini nyaman bahkan untuk kulit sensitif.
- “Banyak pasien kami meski merasa puas dengan suatu perawatan tertentu namun kadang ada trauma untuk mengulang perawatan tersebut karena ada rasa sakit pada saat proses atau setelahnya, dan untuk itu kami perkenalkan Proligio, dengan perawatan tanpa rasa sakit,” Jelas dr. Fifin.
2. Efek Instan dan Tahan Lama
Hasil pengencangan kulit terlihat setelah 1 sesi (20–30 menit setelahnya), dengan optimalisasi dalam 4–6 kali treatment.
3. Aman dan Teruji
- Meminimalisir risiko efek samping dengan teknologi pemantauan real-time.
- Sistem pemantau suhu kulit: Mencegah overheating atau iritasi.
- Pressure sensing system: Mendeteksi tekanan aplikasi alat untuk menghindari penggunaan berlebihan.
- Sudah mendapat sertifikasi K-FDA (Korea Food & Drug Administration) dan bisa dilakukan rutin setiap 6 bulan.
4. Teknologi Canggih
Memastikan perawatan presisi dan personalisasi untuk setiap pasien. Teknologi ini dilengkapi dengan,
– Impedance Check: Memeriksa resistansi kulit sebelum setiap penggunaan (setiap shot) untuk menyesuaikan frekuensi dan meningkatkan akurasi dan keamanan perawatan. Sesi awal ini harus dilalui sebelum dilakukan proses perawatan dan alat tidak difungsikan tanpa melalui sesi ini.
– Customizing Cooling Channel: Saluran pendingin yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien, menjaga kenyamanan kulit selama perawatan.
Transformasi Kulit dalam Hitungan Menit
Dalam acara peluncuran, tamu undangan dan media menyaksikan langsung demo Proligio pada model. Hasilnya:
– Kulit lebih kencang dan lebih terangkat di area pipi.
– Kerutan halus berkurang tanpa efek kemerahan signifikan.
– Tekstur kulit lebih halus berkat stimulasi kolagen.
“Saya tidak merasa sakit sama sekali, dan hasilnya langsung terlihat. Ini seperti facelift tanpa operasi!” kata Ibu Novetra pelanggan Profira Clinic Surabaya yang telah merasakan langsung hasil perawatan Proligio. Wanita usia 50 tahun ini telah menjadi pelanggan Profira Clinic selama 2 tahun dan sangat senang dengan perawatan ini karena tidak merasa sakit selama proses perawatan.
“Sebagai klinik yang selalu mengutamakan inovasi, kehadiran Proligio memperkuat komitmen kami menghadirkan solusi kecantikan terkini dengan standar global,” pungkas Dr. Fifin.
Undang-Undang Baru Tiongkok Legalkan Pencurian Kekayaan Intelektual Asing
Beijing bisa mencuri sebanyak mungkin teknologi dan kekayaan intelektual asing saat sejumlah perusahaan asing angkat kaki dari negara itu.
oleh: James Gorrie
Tampaknya Partai Komunis Tiongkok (PKT) menyadari bahwa masa kejayaan Tiongkok sebagai pusat manufaktur dunia akan segera berakhir. Hal ini mungkin menjelaskan kebijakan barunya yang secara terang-terangan memungkinkan dan mendorong pencurian kekayaan intelektual (IP) dari mitra-mitra asingnya.
Isi Undang-Undang Baru
Pada Maret, Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Sanksi Anti-Asing memberikan wewenang luas kepada Tiongkok untuk menyita dan mengambil alih kepemilikan aset-aset milik asing, termasuk hak kekayaan intelektual.
Landasan hukum yang digunakan PKT dijabarkan dalam Pasal 7 undang-undang tersebut, yang memungkinkan penyitaan properti yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan yang menurut Beijing terlibat atau membantu dalam merancang sanksi terhadap Tiongkok.
Undang-undang baru ini merupakan pembaruan dari Undang-Undang Sanksi Anti-Asing (AFSL) yang diberlakukan pada Juni 2021. Undang-undang tersebut memungkinkan Beijing membalas tindakan orang atau perusahaan yang terbukti secara langsung atau tidak langsung terlibat dalam upaya negara asing untuk menargetkan Tiongkok dengan tindakan pembatasan.
Tindakan balasan yang disetujui termasuk larangan visa perjalanan bagi individu, pembatasan usaha, atau bahkan pembekuan aset pihak yang dicurigai.
Dalam versi undang-undang yang disempurnakan tahun 2025 ini, istilah “aset” dijelaskan lebih lanjut—jika tidak diperluas secara besar-besaran. Istilah ini mencakup properti seperti “uang tunai, surat berharga, simpanan bank, sekuritas, saham dana, ekuitas, hak kekayaan intelektual, piutang, dan properti lainnya.”
Singkatnya, Pasal 7 memberi otoritas Tiongkok hak untuk menyita atau membekukan kekayaan intelektual asing dari hampir semua jenis. Daftar tersebut mencakup paten, hak cipta, merek dagang, dan rahasia dagang yang dimiliki di Tiongkok.
Lebih dari itu, undang-undang ini secara signifikan menurunkan standar pembuktian bagi otoritas Tiongkok sehingga keterlibatan sekecil atau tidak langsung sekalipun—yang merupakan istilah samar—dalam perancangan atau penerapan sanksi asing sudah cukup untuk membuat uang, akun saham, portofolio properti, ekuitas korporasi, dan bahkan kekayaan intelektual Anda disita oleh PKT.
Seperti disebutkan sebelumnya, perilaku semacam ini tentu bukan hal yang diharapkan dari sebuah negara yang ingin mempertahankan atau menarik perusahaan asing untuk beroperasi di wilayahnya.
Makna Sesungguhnya dari Undang-Undang Baru Ini
Dengan kata lain, undang-undang ini dimaksudkan sebagai hukuman bagi perusahaan mana pun yang berusaha mengekang praktik-praktik dumping ilegal rezim Tiongkok di berbagai industri—termasuk tenaga surya dan angin—pencurian kekayaan intelektualnya yang legendaris (yang nilainya mencapai hingga $600 miliar per tahun dari Amerika Serikat saja), dan taktik dagang bermusuhan lainnya yang bertujuan menghancurkan kompetisi demi keuntungan rezim. Lebih jauh lagi, individu, perusahaan, atau organisasi asing tidak memiliki hak untuk mengajukan banding. Semua keputusan bersifat final.
Undang-undang ini berlaku untuk berbagai sektor industri, termasuk perangkat lunak, bioteknologi, barang konsumsi, dan hiburan. Dampaknya terhadap perusahaan yang dicurigai bisa bersifat fatal.
Perusahaan atau individu mana yang dapat bertahan secara finansial jika semua rahasia dagang, keunggulan pasar, serta aset keuangan, properti, dan peralatan modalnya tiba-tiba dibekukan atau disita, membuat mereka tidak memiliki apa-apa?
Akhirnya, undang-undang ini juga memungkinkan—kalau tidak mendorong—perusahaan Tiongkok dan bahkan individu untuk mengajukan tuntutan hukum terhadap entitas asing yang dianggap terlibat dalam sanksi atau tindakan pembatasan lainnya terhadap Tiongkok, meskipun secara tidak langsung dan sulit dibuktikan.
Penggugat Tiongkok dapat menerima kompensasi dari perusahaan atau individu yang dinyatakan bersalah. Aspek ini memberikan peluang besar bagi warga Tiongkok untuk menuntut dan memperoleh ganti rugi dari perusahaan asing, yang dapat memicu gelombang gugatan hukum, terutama di tengah memburuknya kondisi ekonomi.
Era Baru: Legalisasi Pencurian IP dan Transfer Teknologi Paksa
Undang-undang baru ini seharusnya tidak mengejutkan siapa pun yang akrab dengan dunia usaha di Tiongkok. Seperti yang disebutkan, pencurian IP dan teknologi telah berlangsung di Tiongkok selama puluhan tahun. Sebagian besar perusahaan menganggapnya sebagai biaya tak terelakkan demi meraup keuntungan besar.
Namun, dengan menjadikannya kebijakan eksplisit, undang-undang ini kini menjadi bagian dari gambaran geopolitik yang jauh lebih besar. Persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan Tiongkok di bidang seperti kecerdasan buatan, robotika, rekayasa bio, dan teknologi baru lainnya sangat ketat. Hal yang sama berlaku untuk Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara kapitalis maju lainnya.
Ditambah lagi, mengingat bahwa perusahaan teknologi terbesar dunia—seperti Tesla, Apple, dan Microsoft—telah banyak berinvestasi di Tiongkok dan sangat bergantung pada rantai pasok yang berbasis di Tiongkok, mereka menghadapi risiko nyata menjadi target dan kehilangan seluruh operasionalnya. Ini mencakup segalanya, mulai dari kekayaan intelektual, fasilitas manufaktur, hingga toko ritel, yang semuanya dapat disita oleh otoritas Tiongkok.
Dengan kata lain, undang-undang baru ini memungkinkan PKT melakukan transfer paksa teknologi dan kepemilikan secara massal dengan cepat dan tidak dapat dibatalkan. Ini melampaui kekhawatiran individual atau perusahaan, dan menyentuh persoalan strategis dalam bidang ekonomi dan geopolitik.
Tanggapan terhadap Kebijakan Perdagangan dan Pengaruh AS
Ancaman penyitaan terhadap sejumlah aset bisnis milik Amerika Serikat dan perusahaan asing lainnya yang bernilai triliunan dolar tidak bisa diabaikan.
PKT menjadikan berbagai perusahaan tersebut sebagai pion dalam perjuangan ekonomi dan geopolitiknya yang lebih besar dengan pemerintahan Trump. Dengan kata lain, mereka kini menjadi alat tawar dalam negosiasi Beijing untuk melonggarkan sanksi dan tarif yang diberlakukan AS.
Bagaimana Beijing akan menggunakan ancaman penyitaan massal terhadap kekayaan intelektual dan aset Barat yang berbasis di Tiongkok?
Itu masih harus dilihat. Namun, perusahaan Tiongkok seperti Huawei dan Xiaomi telah melindungi diri mereka dari gugatan pencurian IP di luar Tiongkok dengan mengacu pada putusan pengadilan Tiongkok, yang cenderung menganggap gugatan IP asing sebagai upaya untuk menahan perkembangan Tiongkok.
Perhitungan Risiko Beijing
Undang-undang baru ini menjadi satu alasan kuat lagi bagi perusahaan asing untuk mendiversifikasi rantai pasok mereka dan memindahkan kekayaan intelektual serta aset mereka keluar dari Tiongkok. Jelas bahwa PKT sudah mengantisipasi respons ini, jadi mengapa memberlakukan undang-undang seperti ini?
Bisa disimpulkan bahwa PKT melihat bahwa baik kebijakan baru AS maupun tren jangka panjang perusahaan yang keluar dari Tiongkok tidak akan berubah dalam waktu dekat, dan karena itu mereka memutuskan untuk melawan pemerintahan Trump dengan cara yang mereka punya.
Para pejabat Tiongkok juga pasti tahu bahwa seiring berjalannya waktu dan semakin banyak perusahaan yang hengkang dari Tiongkok, kemampuan mereka untuk menyita IP dan aset akan semakin berkurang—namun mereka tetap menganggap bahwa risikonya layak diambil.
Pertanyaannya kini: Berapa lama lagi sebelum PKT mengambil langkah besar pertama dan menyita aset Tesla atau Apple?
Pernyataan dalam artikel ini adalah pendapat penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan The Epoch Times.
Merencanakan Perjalanan ke Tiongkok? Sebaiknya Perlu Dipertimbangkan Ulang
Dua larangan keluar terbaru terhadap warga Amerika Serikat yang dikenal luas menjadi indikator bahwa tak ada seorang pun yang aman di Tiongkok
oleh : Anders Corr
Beijing baru-baru ini memberlakukan larangan keluar terhadap dua warga negara Amerika Serikat lagi, menunjukkan bahaya yang terus berlanjut jika bepergian ke negara otoriter tanpa supremasi hukum.
Rezím di Tiongkok memberlakukan larangan keluar terhadap seorang pejabat Departemen Perdagangan AS pada pertengahan April, dengan alasan bahwa ia tidak mencantumkan dalam aplikasi visanya bahwa ia bekerja untuk pemerintah AS. Ia adalah warga AS yang sebelumnya pernah bekerja untuk Angkatan Darat AS. Ia dilaporkan telah diinterogasi dan berbicara dengan dinas intelijen Tiongkok terkait pekerjaannya dalam pemeliharaan helikopter Black Hawk. Pria tersebut berada di Tiongkok untuk mengunjungi keluarganya di Chengdu, dan namanya belum diumumkan ke publik.
Beijing juga memberlakukan larangan keluar terhadap Mao Chenyue, seorang direktur pelaksana Wells Fargo yang berbasis di Atlanta. Mao dilaporkan adalah warga negara AS yang tumbuh di Tiongkok. Ia berada di Tiongkok untuk urusan bisnis, namun menghadapi larangan keluar yang diumumkan pada 18 Juli.
Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengklaim bahwa ia ditahan karena “terlibat dalam kasus pidana,” namun rezim tidak merilis rincian apa pun. Biasanya tidak ada proses yang transparan untuk menyelesaikan larangan keluar, dan Wells Fargo pun merespons dengan membatalkan semua perjalanan ke Tiongkok.
Salah satu kasus larangan keluar yang paling mencolok adalah yang menimpa istri dan putra berusia 7 tahun dari Gao Zhen, seorang seniman New York yang dituduh oleh rezim “menghina pahlawan dan martir Tiongkok.” Ia ditahan di Tiongkok, dan larangan keluar diberlakukan terhadap keluarganya. Ini merupakan bentuk “keadilan kolektif” yang dianggap sangat tidak adil oleh sebagian besar dunia.
Lebih dari 200 warga AS menghadapi tindakan koersif di Tiongkok, termasuk penahanan, larangan keluar, penegakan hukum setempat yang sewenang-wenang, dan tindakan lainnya. Jumlah ini terlalu banyak, mengingat bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang berkuasa tidak memiliki mandat demokratis atau legitimasi pemerintahan.
Puluhan ribu warga Tiongkok juga kemungkinan terdampak oleh larangan keluar seperti itu, yang bisa dijadikan sebagai alat tekanan terhadap orang lain untuk memaksa mereka bekerja sama dengan dinas intelijen rezim—bahkan ketika mereka bekerja di perusahaan asing.
Pengendalian modal dan kesulitan mendapatkan visa keluar untuk seluruh keluarga juga merupakan bentuk larangan keluar, yang bertujuan untuk mencegah warga Tiongkok beremigrasi secara permanen dari negara represif tersebut.
Risiko larangan keluar masih diremehkan dan kurang ditekankan dalam komunitas bisnis internasional. Sebuah survei tahun 2024 terhadap perusahaan-perusahaan Eropa menemukan bahwa hanya 9 persen yang melaporkan kesulitan dalam menarik karyawan asing untuk bekerja di Tiongkok; dan hanya 4 persen yang melaporkan kesulitan dalam perjalanan bisnis ke kantor pusat karena larangan keluar.
PKT sering menahan karyawan asing sebagai upaya untuk memaksa perusahaan atau negara asing terkait hal-hal yang tidak berhubungan langsung. Ini setara dengan penyanderaan demi tujuan diplomatik atau komersial. Orang asing yang terkena larangan keluar umumnya adalah keturunan Tionghoa dan baru mengetahui situasi tersebut ketika mereka hendak pulang di bandara.
Fokus PKT terhadap mereka yang berdarah Tionghoa sebagian disebabkan oleh kegagalannya mengakui kewarganegaraan ganda. Namun bahkan warga Tionghoa-Amerika yang lahir di Amerika Serikat bisa dianggap sebagai pengkhianat ras oleh nasionalis Tiongkok jika mereka mengkritik rezim di Tiongkok. Jika tidak ada tindakan lebih tegas terhadap PKT, bukan tidak mungkin suatu hari nanti rezim itu mengklaim bahwa setiap orang berdarah Tionghoa, tak peduli kewarganegaraannya, adalah warga negara Tiongkok.
Namun, orang non-Tionghoa juga bisa menjadi sasaran. Dalam salah satu kasus paling terkenal, dua warga Kanada—Michael Spavor dan Michael Kovrig—ditahan selama tiga tahun hingga 2021 demi mendapatkan pembebasan seorang eksekutif Huawei yang didakwa melakukan penipuan perbankan dan kawat.
Sebuah studi terhadap 128 larangan keluar yang diberlakukan terhadap orang asing antara tahun 1995 dan 2019 menemukan bahwa ada 44 warga Kanada dan 29 warga AS yang mengalami larangan keluar. Ini menunjukkan bahwa posisi Kanada yang kurang kuat dibandingkan Beijing menjadikan warga Kanada lebih mudah menjadi sasaran. Sepertiga kasus dalam studi tersebut berkaitan dengan sengketa bisnis.
Dua larangan keluar terbaru terhadap warga negara AS berprofil tinggi—termasuk yang pertama terhadap seorang pegawai pemerintah AS—adalah indikator lain bahwa tak ada yang aman di Tiongkok.
PKT hampir tidak memiliki rasa hormat terhadap kebebasan individu atau supremasi hukum, sehingga praktik-praktik di negara itu terasa asing bagi warga Barat yang terbiasa dengan pemerintah yang menghormati hak warganya, bahkan juga hak wisatawan atau pelaku bisnis asing.
Karena itu, banyak warga AS yang bepergian ke Tiongkok tanpa menyadari risiko yang mereka hadapi. Mengumpulkan informasi bisnis di Tiongkok, misalnya, bisa dianggap sebagai spionase dan menyebabkan larangan keluar. Di Barat, hal ini adalah praktik bisnis yang biasa.
Penyanderaan diplomatik oleh Beijing merupakan taktik koersif, bukan bentuk supremasi hukum seperti yang ingin mereka tunjukkan. Ini menurunkan minat investasi bisnis di Tiongkok, yang sudah mengalami krisis sektor properti, penurunan konsumsi, deflasi, pengangguran, hambatan regulasi, dan kelebihan produksi akibat subsidi negara.
Departemen Luar Negeri AS terakhir kali memperbarui peringatan perjalanannya ke Tiongkok pada November 2024, dengan menyatakan: “Tingkatkan kewaspadaan saat bepergian ke Tiongkok daratan karena penegakan hukum setempat yang sewenang-wenang, termasuk terkait larangan keluar.”
Saat itu, peringatan diturunkan dari Level 3 “Pertimbangkan Kembali Perjalanan” menjadi level yang lebih ringan. Pendekatan yang dilonggarkan ini kini tampaknya merupakan sebuah kesalahan. Saatnya Departemen Luar Negeri menaikkan kembali peringatan tersebut ke Level 3.
Selain itu, Amerika Serikat juga seharusnya secara bertahap meningkatkan sanksi dan tarif terhadap Tiongkok sampai, paling tidak, semua warga AS yang ditahan secara tidak sah atau dikenai larangan keluar dibebaskan.
Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah pendapat penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan The Epoch Times.
Tentang Penulis:
Anders Corr memiliki gelar sarjana dan magister ilmu politik dari Universitas Yale (2001) dan doktor dalam bidang pemerintahan dari Universitas Harvard (2008). Ia adalah pimpinan Corr Analytics Inc. dan penerbit Journal of Political Risk, serta telah melakukan penelitian luas di Amerika Utara, Eropa, dan Asia. Buku terbarunya adalah “The Concentration of Power: Institutionalization, Hierarchy, and Hegemony” (2021) dan “Great Powers, Grand Strategies: the New Game in the South China Sea” (2018).
Gempa Dahsyat M 8,7 yang Melanda Rusia Menimbulkan Terjangan Tsunami 4 Meter, Picu Peringatan Tsunami di Jepang, AS dan Pasifik
Peringatan tsunami telah dikeluarkan untuk Alaska, Hawaii, dan sejumlah pulau di Pasifik, sementara pantai barat AS berada dalam status siaga tsunami.
EtIndonesia. Sebuah gempa bumi besar berkekuatan 8,7 magnitudo mengguncang lepas pantai timur Rusia pada Rabu (29/7/2025) pagi pukul 08:25 waktu setempat, memicu tsunami setinggi hingga 4 meter.
Saat ini, peringatan tsunami telah dikeluarkan di berbagai wilayah Pasifik, dan perintah evakuasi telah diberlakukan di beberapa daerah di Jepang dan Hawaii.
Menurut USGS (Survei Geologi Amerika Serikat), pusat gempa berada di sisi timur Semenanjung Kamchatka, Rusia Timur Jauh, dengan kedalaman sekitar 19,3 km (sekitar 12 mil).
Awalnya, kekuatan gempa tercatat sebagai 8,0, namun kemudian diperbarui menjadi 8,7. USGS menyatakan bahwa ini adalah gempa bumi terkuat kedelapan yang pernah tercatat dalam sejarah.
Badan Meteorologi Jepang melaporkan bahwa gempa terjadi pukul 08:25 waktu setempat, sekitar 160 mil dari Hokkaido.
Menurut laporan media Rusia, gempa tersebut menyebabkan kerusakan bangunan di beberapa lokasi di Semenanjung Kamchatka, termasuk sebuah taman kanak-kanak di kota Petropavlovsk-Kamchatsky.
Kantor berita TASS mengutip Menteri Kesehatan Daerah Oleg Melnikov yang mengatakan bahwa beberapa orang mengalami luka-luka saat mencoba menyelamatkan diri, termasuk seorang wanita yang terluka di terminal bandara dan seorang warga yang melompat keluar jendela untuk melarikan diri. Semua korban luka saat ini dilaporkan dalam kondisi stabil dan tidak ada laporan luka berat.
Kementerian Situasi Darurat Rusia menyatakan bahwa di beberapa garis pantai teramati gelombang tsunami setinggi 3 hingga 4 meter . Otoritas setempat mengimbau masyarakat untuk menjauhi wilayah pesisir. Di kota kecil Severo-Kurilsk di bagian selatan Semenanjung Kamchatka, juga telah dikeluarkan perintah evakuasi karena ancaman tsunami.
Badan Meteorologi Jepang meningkatkan peringatan tsunami. Lembaga memprediksi gelombang setinggi hingga 3 meter akan mulai tiba di beberapa daerah pesisir.
Menurut NHK (Japan Broadcasting Corporation), perintah evakuasi telah dikeluarkan di beberapa wilayah, dan warga di Hokkaido dan wilayah lain telah mengungsi ke daerah tinggi di dekat pantai. Hawaii juga memerintahkan evakuasi di beberapa wilayah pesisir. Badan Manajemen Darurat Honolulu menyerukan melalui media sosial X agar masyarakat segera mencari tempat aman.
Gempa kuat ini juga memicu berbagai peringatan tsunami di Amerika Serikat.
Menurut Pusat Peringatan Tsunami Pasifik (PTWC):
- Hawaii dan beberapa wilayah di Alaska telah berada dalam status Peringatan Tsunami (Tsunami Warning).
- Seluruh wilayah pantai barat AS dan provinsi British Columbia di Kanada masuk dalam status Pemantauan Tsunami (Tsunami Watch).
- Kepulauan Aleutian di Alaska berada dalam Peringatan Dini Tsunami (Tsunami Advisory).
PTWC mengingatkan bahwa gempa bumi dengan skala sebesar ini dapat memicu gelombang besar yang merusak di wilayah jauh dari pusat gempa.
Pusat tersebut juga menyebutkan bahwa gelombang di wilayah barat laut Hawaii dan beberapa bagian pesisir Rusia bisa melebihi sekitar 2,7 meter, sementara gelombang sekitar 1 hingga 3 meter mungkin akan melanda pantai di Hawaii, Jepang, dan Guam.
Gelombang tsunami diperkirakan akan tiba secara bertahap di berbagai wilayah, dan masyarakat diminta untuk segera melakukan persiapan menghadapi bencana.
Perkiraan waktu kedatangan tsunami:
- Kepulauan Hawaii: pukul 19:17 waktu Hawaii (01:17 waktu ET, 30 Juli)
- Pantai barat AS:
- Negara bagian Washington dan Oregon: pukul 23:40 malam
- San Francisco: 00:40
- Los Angeles: 01:05
(Semua waktu dalam zona waktu Pasifik)
- Negara bagian Washington dan Oregon: pukul 23:40 malam
- Pulau Shemya dan Adak di Alaska: masing-masing pukul 16:46 dan 17:46 waktu musim panas Alaska
Pemerintah Jepang telah membentuk satuan tugas darurat untuk pengumpulan informasi dan penanganan bencana. Menurut Shinichi Sakai, seorang ahli seismologi dari Universitas Tokyo kepada NHK, gempa dangkal, bahkan yang terjadi di jarak jauh, tetap bisa menimbulkan ancaman tsunami signifikan terhadap Jepang.
Kedutaan Besar AS di Tokyo juga mengeluarkan peringatan melalui platform X, menyatakan:
“Pantai Pasifik Hokkaido, wilayah Tohoku, Kanto, Kepulauan Izu dan Ogasawara, wilayah Tokai, dan Prefektur Wakayama saat ini berada dalam status peringatan tsunami. Gelombang tsunami bisa tiba kapan saja, mohon segera evakuasi ke tempat yang lebih tinggi.”
Gempa 8,7 ini menyamai kekuatan gempa terkuat kedelapan dalam sejarah.
Menurut CBS, pada 4 November 1952, pernah terjadi gempa berkekuatan 9,0 di Semenanjung Kamchatka. Meskipun tidak menimbulkan korban jiwa, gempa tersebut menyebabkan gelombang setinggi 9,1 meter di Hawaii. (asr)
Rusia Tewaskan 21 Warga Sipil di Ukraina, Kremlin Tetap Bersikap Menentang Ancaman Trump
EtIndonesia. Bom luncur dan rudal Rusia menghantam sebuah penjara dan fasilitas medis di Ukraina semalam, menewaskan sedikitnya 21 orang, kata para pejabat pada hari Selasa (29/7), sementara Rusia terus membombardir wilayah sipil meskipun Presiden AS, Donald Trump mengancam akan segera menghukum Rusia dengan sanksi dan tarif kecuali Rusia berhenti.
Serangan udara Rusia terhadap sebuah penjara di wilayah Zaporizhzhia, tenggara Ukraina, menewaskan sedikitnya 17 narapidana dan melukai lebih dari 80 lainnya, kata para pejabat.
Di wilayah Dnipro, pihak berwenang melaporkan sedikitnya empat orang tewas dan delapan lainnya luka-luka.
Trump mengatakan pada hari Senin (38/7) bahwa dia memberi Presiden Rusia, Vladimir Putin 10 hingga 12 hari untuk menghentikan pembunuhan di Ukraina setelah tiga tahun perang, memajukan tenggat waktu 50 hari yang diberikannya kepada pemimpin Rusia itu dua minggu lalu. Langkah ini berarti Trump ingin upaya perdamaian mencapai kemajuan pada 7-9 Agustus.
Trump telah berulang kali menegur Putin karena berbicara tentang mengakhiri perang tetapi terus membombardir warga sipil Ukraina. Namun Kremlin belum mengubah taktiknya.
“Saya kecewa dengan Presiden Putin,” kata Trump saat berkunjung ke Skotlandia.
Namun, Kremlin membalas dengan memperingatkan Trump agar tidak “memainkan permainan ultimatum dengan Rusia.”
“Rusia bukanlah Israel atau bahkan Iran,” tulis mantan presiden Dmitry Medvedev, yang merupakan wakil kepala Dewan Keamanan negara itu, di platform sosial X.
“Setiap ultimatum baru merupakan ancaman dan langkah menuju perang. Bukan antara Rusia dan Ukraina, tetapi dengan negaranya sendiri,” kata Medvedev.
Sejak invasi besar-besaran Rusia ke negara tetangganya, Kremlin telah memperingatkan para pendukung Barat Kyiv bahwa keterlibatan mereka dapat memperluas perang ke negara-negara NATO.
“Para pejabat Kremlin terus membingkai Rusia sebagai pihak yang terlibat dalam konfrontasi geopolitik langsung dengan Barat untuk mendapatkan dukungan domestik bagi perang di Ukraina dan agresi Rusia di masa depan terhadap NATO,” kata Institute for the Study of War, sebuah lembaga pemikir di Washington, Senin malam.
Angkatan Udara Ukraina mengatakan Rusia meluncurkan dua rudal balistik Iskander-M beserta 37 drone serang tipe Shahed dan umpan ke Ukraina semalam. Mereka mengatakan 32 drone Shahed dicegat atau dinetralisir oleh pertahanan udara Ukraina.
Serangan Rusia menjelang tengah malam pada hari Senin menghantam Lembaga Pemasyarakatan Bilenkivska dengan empat bom udara berpemandu, menurut Badan Eksekutif Kriminal Negara Ukraina.
Setidaknya 42 narapidana dirawat di rumah sakit dengan luka serius, sementara 40 orang lainnya, termasuk seorang staf, mengalami berbagai luka.
Serangan itu menghancurkan ruang makan penjara, merusak gedung administrasi dan karantina, tetapi pagar pembatas tetap kokoh dan tidak ada laporan pelarian, kata pihak berwenang.
Para pejabat Ukraina mengutuk serangan itu, dengan mengatakan bahwa menargetkan infrastruktur sipil, seperti penjara, merupakan kejahatan perang berdasarkan konvensi internasional.
Di Dnipro, rudal menghantam Kota Kamianske, menghancurkan sebagian bangunan tiga lantai dan merusak fasilitas medis di dekatnya termasuk rumah sakit bersalin dan bangsal rumah sakit kota. Dua orang tewas dan lima orang luka-luka, termasuk seorang perempuan hamil yang kini berada dalam kondisi kritis, menurut kepala daerah Serhii Lysak.
Serangan Rusia selanjutnya menghantam masyarakat di distrik Synelnykivskyi dengan drone FPV dan bom udara, menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai dua lainnya.
Menurut Lysak, pasukan Rusia juga menargetkan masyarakat Velykomykhailivska, menewaskan seorang perempuan berusia 75 tahun dan melukai seorang pria berusia 68 tahun.(yn)



