Mengharukan! Bocah 3 Tahun di Hunan, Tiongkok  Mengayuh Sepeda Menuju Guangzhou yang Berjarak Sekitar 520 Kilometer Demi Mencari Ibunya 

Pada 21 Juli, seorang netizen dari Shaoyang, Provinsi Hunan, Tiongkok mengunggah sebuah video yang menyentuh hati. Dalam video tersebut, seorang bocah laki-laki berusia tiga tahun yang merupakan anak “tinggal berjauhan” (ditinggal merantau oleh orang tua) mencoba mengayuh sepeda anak menuju Guangzhou untuk mencari ibunya karena sangat merindukannya. Sepatunya bahkan sampai rusak parah. Beruntung, ia ditemukan oleh sang pengunggah video dan diantar pulang ke rumah dengan selamat. Jarak antar kota di Tiongkok bagian selatan ini diperkirakan sekitar 520 kilometer.

Keterangan dalam video menyebutkan: “Bocah 3 tahun mengayuh sepeda ke Guangzhou cari ibu, dari Maping sampai ke Dingshan. Sepatunya sampai terbelah.”

EtIndonesia. Sebuah video terlihat seorang anak kecil mengayuh sepeda anak di sepanjang jalan raya di Tiongkok. Sang pengunggah video yang mengemudi mobil berkata, “Ini anak siapa ya? Masih kecil begini, naik sepeda sendiri di jalan raya.”

Ia kemudian turun dari mobil dan bertanya pada si anak, “Adik kecil, rumahmu di mana?” Anak itu menunjuk ke arah belakang. Wanita tersebut pun berkata, “Wah, jauh banget ya?”

Akhirnya, wanita itu mengantar si anak pulang menggunakan mobil. Dalam rekaman terlihat bahwa sol sepatu anak tersebut sudah bolong, hingga jari kakinya terlihat keluar.

Di akhir video, seseorang yang tampaknya adalah kerabat si anak memeluknya sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada perekam video. Namun wajah si bocah masih tampak sedih dan penuh rindu.

Netizen ramai-ramai berkomentar, “Bikin mewek.” dan “Kasihan banget anak ini! Sepertinya benar-benar kangen ibunya.”

Anak tinggal berjauhan (留守兒童) adalah sebutan bagi anak-anak yang ditinggal di kampung halaman karena orang tua mereka merantau ke kota besar demi mencari nafkah. Fenomena ini merupakan dampak dari sistem registrasi penduduk (hukou) dan ketidaksetaraan pendidikan di Tiongkok.

Menurut laporan penelitian terbuka, pada tahun 2020 ada lebih dari 100 juta anak-anak di Tiongkok yang hidup terpisah dari orang tuanya. Dari jumlah tersebut, sekitar 90 juta merupakan anak yang ditinggal orang tuanya merantau, hampir 30% dari total populasi anak di Tiongkok.

Karena orang tua hanya bisa pulang menjenguk dalam waktu terbatas, mereka tidak dapat memberikan cukup perhatian dan kasih sayang. Anak-anak yang justru sedang berada dalam masa pertumbuhan yang sangat membutuhkan perhatian emosional ini, harus tumbuh tanpa kehadiran orang tua di sisi, sehingga berpotensi mengalami gangguan tumbuh kembang dan trauma psikologis mendalam. Masalah ini juga berkontribusi terhadap berbagai persoalan sosial yang lebih luas.

Sumber : Li Li |- NTDTV.com

Keajaiban! Petani Tua di Tiongkok Timur Laut Hidup dengan Besi Menancap di Kepala Selama 3,5 Tahun 

Sebuah video yang beredar di media sosial Tiongkok menunjukkan seorang petani tua di timur laut Tiongkok yang hidup dengan sebatang besi besar menancap di kepalanya selama lebih dari tiga setengah tahun. Diduga, ia tidak mampu menjalani pengobatan karena alasan finansial. Netizen menyebutnya sebagai keajaiban, namun juga mengecam sistem rezim Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang dinilai tidak berperikemanusiaan.

EtIndonesia. Baru-baru ini, video tersebut beredar luas di media sosial Tiongkok. Diduga direkam di sebuah daerah pedesaan di Tiongkok timur laut, karena para penutur dalam video menggunakan logat khas wilayah tersebut.

Dalam video, perekam memperlihatkan seorang pria lanjut usia yang tampak mengerikan, duduk di sebuah warung makan kecil. Di kepalanya tertancap sebatang besi besar berbentuk seperti pentungan, dengan sekitar 20 cm bagian besi yang masih terlihat di luar. Besi tersebut masuk dari bagian belakang pelipis kanan dan menembus otak, hingga ke sisi kiri belakang kepala. Meski ujung besi tidak sampai menembus keluar, tetapi terlihat jelas adanya benjolan besar di kulit kepala tempat besi itu berhenti.

Perekam video terdengar sangat terkejut dan bertanya kepada pria tua itu: “Begini saja? Tidak diobati?” Pria itu menjawab, “Sudah tiga setengah tahun.” Ketika ditanya mengapa tidak mencabut besi tersebut, ia menjawab dengan bingung, “Kalau dicabut masih bisa hidup?” Lalu berkata lagi, “Kalau dicabut bisa jadi idiot.” Ia juga menyebutkan, “(Pengobatan) butuh lebih dari 200 ribu yuan.”

Dari pernyataannya, terlihat bahwa ia khawatir pencabutan besi tersebut bisa berisiko tinggi dan tidak mampu membayar biaya pengobatan yang mahal. Sebagian netizen menduga bahwa alasan “risiko pencabutan” hanyalah dalih—masalah utama sebenarnya adalah ketidakmampuan keluarganya membayar biaya rumah sakit sebesar 200.000 yuan.

Banyak blogger Tiongkok membagikan ulang video tersebut. Di satu sisi mereka takjub dengan nasib sang pria yang begitu “kuat”, namun di sisi lain secara halus mengkritik ketidakadilan dalam sistem pemerintahan PKT. Ada yang mempertanyakan, “Uang asuransi kesehatan yang jumlahnya sangat besar itu ke mana perginya?” dan ada pula yang menyindir, “Sumbangan amal selama ini sebenarnya buat apa?”

Beberapa komentar lainnya menyebutkan, membiarkan seorang pria tua hidup dengan besi menancap di kepalanya begitu saja adalah sesuatu yang mustahil terjadi di negara normal. Mereka mengatakan, “Rakyat jelata di Tiongkok memang seperti rumput di pinggir jalan—tak ada nilainya.”

Seorang netizen menulis, “Bukan dia yang kejam, tapi masyarakat ini yang terlalu kejam padanya.”

Netizen lain mengingatkan kisah tragis serupa: dulu pernah dilaporkan seorang pria di Hebei yang karena tak mampu membayar biaya rumah sakit, menggigit handuk dan melakukan amputasi sendiri menggunakan gergaji, tanpa obat bius. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

“Hidup Tanpa Penyesalan Itu Tidaklah Sempurna” — Belajar Menerima dan Memahami Arti Sebuah Penyesalan

EtIndonesia. “Hidup tanpa penyesalan itu tidaklah sempurna.” Seperti yang disampaikan dalam film About Time, saat kita mau merangkul segala penyesalan dalam hidup, justru dari sanalah kita akan belajar lebih banyak.

Apakah dalam hidup ini ada penyesalan? Hampir bisa dipastikan 99% orang akan menjawab: “Ada.” 

Meskipun dunia terus mengajarkan kita untuk “melupakan masa lalu, jangan dipikirkan lagi,” atau “menyesal tidak ada gunanya, lebih baik fokus pada masa kini,” kenyataannya, kenangan akan hal-hal yang kita sesali tetap saja muncul sesekali di benak kita. 

Mungkin kita akan berpikir: “Andai dulu aku lebih giat belajar, mungkin aku bisa masuk universitas impian,” atau, “Seandainya aku tidak melepaskan peluang kerja itu,” bahkan, “Kalau bisa kembali ke masa itu, aku tidak akan mengambil keputusan tersebut.”

Justru karena perasaan menyesal itu menyakitkan, kita sering enggan mengakuinya. Namun Kathryn Schulz, pembicara terkenal di TED dan juga seorang perfeksionis, punya pandangan berbeda. 

Dalam pidatonya yang berjudul Don’t Regret Regret, dia mengatakan:  “Kalau kamu ingin menjadi pribadi yang utuh, belajarlah untuk hidup bersama penyesalan, bukan lari darinya.”

Orang yang Tidak Punya Penyesalan Itu Justru Tidak Tahu Apa-apa

Todd B. Kashdan, seorang psikolog klinis dari Universitas George Mason, menjelaskan bahwa penyesalan hampir tidak ditemukan pada anak-anak. Sebelum usia 7 tahun, anak-anak belum bisa membandingkan plus-minus dari dua pilihan. Semua keputusan mereka murni didasarkan pada perasaan. Mungkin inilah yang dimaksud dengan “ketidaktahuan itu adalah kebahagiaan.”

Keputusan yang dibuat secara spontan biasanya tidak menimbulkan penyesalan yang besar. Misalnya, kamu asal pilih restoran dan ternyata makanannya mahal dan tidak enak, kamu tidak akan terlalu menyesal, hanya menganggap itu sebagai nasib sial saja. Tapi beda ceritanya kalau kamu sudah mempertimbangkan dengan matang untuk memilih restoran A, tapi kemudian tahu bahwa restoran B ternyata jauh lebih bagus—penyesalannya bisa jauh lebih dalam.

Ada juga jenis penyesalan lain: saat kamu baru sadar bahwa sesuatu itu penting, tetapi kamu sudah melewatkannya. Tapi justru dari momen seperti itulah kamu tumbuh dan memperoleh pemahaman yang baru. 

Karena itulah, Kashdan berkata:  “Jangan takut mengakui bahwa kamu menyesal. Hidup yang penuh penyesalan justru adalah hidup yang penuh pemikiran dan pertumbuhan.”

Penyesalan Itu Tak Terelakkan—Dan Sebenarnya Berguna!

Masih menurut Kashdan, banyak orang yang suka ragu saat mengambil keputusan, karena tidak bisa menerima risiko melakukan kesalahan. Mereka ingin hidup yang bebas penyesalan. Namun, justru pemikiran seperti inilah yang menimbulkan kecemasan dan rasa bersalah yang berlebihan.

Dalam film The Fault in Our Stars, tokohnya pernah berkata:  “Kalau kamu ingin melihat pelangi, kamu harus rela basah oleh hujan.”

Kesalahan dan penyesalan masa lalu adalah bagian dari proses pertumbuhan kita hari ini.

Penyesalan tidak bisa dihindari. Setiap pilihan yang kita ambil punya harga dan risiko. Memilih satu berarti melepaskan yang lain. Tidak pernah ada keputusan yang “paling sempurna”. 

Dalam film About Time, tokohnya berkata:  “Cobalah jalani setiap hari seolah kamu sudah pernah menjalaninya, dan nikmati setiap momen seakan itu hari terakhir dari kehidupanmu yang luar biasa tapi sederhana.”

Ketika kita bisa menerima penyesalan sebagai bagian dari hidup, kita justru bisa belajar lebih banyak. Karena sejatinya, hidup tanpa penyesalan itu tidak ada. Setiap penyesalan menyimpan nilai, dan lewat pengalaman-pengalaman itulah kita terus membenahi langkah hidup kita.

Penutup: Cintai Penyesalanmu, Maafkan Dirimu Sendiri

“Hidup tanpa penyesalan itu tidak lengkap. Kita harus belajar mencintai hal-hal yang tidak sempurna dan cacat yang kita ciptakan, serta belajar memaafkan diri sendiri yang telah menciptakannya. Penyesalan bukan pengingat bahwa kita buruk, tapi bahwa kita bisa menjadi lebih baik.” – Kathryn Schulz- (jhn/yn)

Situasi Memanas: Iran Ancam Bangun Nuklir Lebih Canggih, AS Siap Serang Lagi!

EtIndonesia. Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, untuk pertama kalinya secara terbuka mengakui bahwa fasilitas nuklir utama milik negaranya mengalami kerusakan parah akibat serangan udara Amerika Serikat. Dalam wawancara eksklusif dengan FOX TV pada 21 Juli 2025, Araghchi mengungkapkan bahwa serangan tersebut telah membuat Iran kehilangan kemampuan untuk memperkaya uranium—langkah penting dalam proses produksi bahan bakar nuklir.

Menurut Araghchi, serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat pada 22 Juni 2025 lalu benar-benar melumpuhkan infrastruktur nuklir Iran. Dia menegaskan, saat ini fasilitas tersebut tidak dapat lagi digunakan untuk memperkaya uranium, yang selama ini menjadi isu utama dalam perundingan internasional terkait program nuklir Iran.

Namun, Araghchi menyatakan bahwa Iran tidak akan menyerah begitu saja.

“Kami tidak akan berhenti di sini. Iran akan membangun kembali fasilitas nuklir kami, bahkan dengan standar yang lebih tinggi. Kami tidak akan membiarkan pihak manapun menghalangi hak kami untuk mengembangkan energi nuklir demi kepentingan nasional,” tegasnya.

Selain persoalan nuklir, Araghchi juga menanggapi tuntutan Amerika Serikat yang meminta Iran menghentikan program rudal balistik serta dukungan terhadap kelompok-kelompok militan di kawasan, seperti Hamas di Palestina, Hizbullah di Lebanon, dan kelompok Houthi di Yaman. Araghchi dengan tegas menolak semua tuntutan tersebut, dan menyebutnya sebagai bentuk intervensi asing terhadap urusan dalam negeri Iran.

Merespons sikap keras Iran, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, langsung memberikan pernyataan balasan melalui media sosial. Dalam cuitannya, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan ragu untuk mengambil tindakan militer tambahan jika diperlukan. 

“Jika Iran kembali mengancam stabilitas kawasan dan kepentingan Amerika, kami siap melakukan serangan lagi. Jangan coba-coba bermain api,” tulis Trump.

Situasi ini membuat para analis internasional semakin khawatir terhadap potensi eskalasi konflik di kawasan Teluk. Banyak pihak memperingatkan bahwa serangan balasan atau pembangunan ulang fasilitas nuklir Iran bisa memicu rangkaian aksi militer baru, yang berdampak luas bagi stabilitas politik dan keamanan global.

Sementara itu, komunitas internasional terus mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri dan mencari solusi diplomatik guna mencegah krisis yang lebih besar. Namun hingga kini, belum ada tanda-tanda kompromi, baik dari pihak Iran maupun Amerika Serikat.

Kesimpulan:

Dengan Iran yang bertekad membangun kembali kekuatan nuklirnya dan Amerika Serikat yang bersikap siap menyerang kapan saja, ketegangan di Timur Tengah tampaknya masih jauh dari kata reda. Dunia kini menanti langkah selanjutnya dari kedua negara, yang bisa saja menentukan arah masa depan keamanan kawasan dan dunia.

Pertarungan Internal Zhongnanhai Meningkat? Kepala Biro Pengawal Pusat Diganti Menjelang Pertemuan Beidaihe

Menjelang pertemuan rahasia Beidaihe, pertarungan kekuasaan di kalangan elit Partai Komunis Tiongkok (PKT) kian memanas. Baru-baru ini, Direktur Departemen Politik Kementerian Keamanan Publik PKT, Ling Zhifeng, diangkat sebagai Wakil Menteri Keamanan Publik.

EtIndonesia. Pengumuman Kementerian Sumber Daya Manusia dan Jaminan Sosial PKT pada 21 Juli, Dewan Negara PKT mengangkat dan memberhentikan sejumlah pejabat, termasuk penunjukan Ling Zhifeng sebagai Wakil Menteri Keamanan Publik.

Situs resmi Kementerian Keamanan Publik menyebutkan bahwa Ling Zhifeng kini menjabat sebagai anggota Komite Partai, Wakil Menteri, Direktur Departemen Politik, serta Sekretaris Komite Partai dan Kepala Biro Khusus Keamanan dengan pangkat Wakil Komisaris Umum.

Menurut data publik, Ling Zhifeng (56 tahun) sebelumnya lama menjabat di provinsi Zhejiang, antara lain sebagai Sekretaris Komite Partai Kabupaten Chun’an, Anggota Komite Partai Kota Shaoxing sekaligus Kepala Kepolisian, lalu menjadi Wakil Sekretaris Komite Kota dan Sekretaris Komite Politik-Hukum Shaoxing, serta menjabat sebagai Sekretaris dan Kepala Dinas Manajemen Darurat Provinsi Zhejiang. Ia kemudian menjadi Sekretaris Partai Kota Jinhua.

Pada Juli 2022, Ling pertama kali dipindah lintas provinsi untuk menjabat sebagai Wakil Gubernur Daerah Otonomi Guangxi sekaligus Sekretaris Partai dan Kepala Departemen Kepolisian Daerah. Pada Maret 2023, ia ditarik ke pusat dan menjabat sebagai Direktur Departemen Politik Kementerian Keamanan Publik.

Biro Khusus Keamanan dulunya adalah Biro Pengamanan Kementerian Keamanan Publik, dan merupakan salah satu unit setingkat departemen dalam struktur internal kementerian. Kepala pertama Biro Khusus Keamanan adalah Wang Xiaohong; pada tahun 2023 digantikan oleh Wang Zhizhong; dan pada Juli 2025, digantikan oleh Ling Zhifeng sebagai kepala ketiga.

Biro ini bertanggung jawab atas keamanan para pejabat setingkat wakil kepala negara, tamu asing yang berkunjung ke Tiongkok, serta pengamanan kegiatan-kegiatan penting.

Sejak awal 2025, telah terjadi serangkaian pergantian besar di jajaran atas Kementerian Keamanan Publik. Pada April, Wang Zhizhong, mantan kepala Biro Khusus Keamanan, diangkat menjadi Kepala Administrasi Imigrasi Nasional dan kini merangkap jabatan sebagai Wakil Menteri serta Sekretaris Partai dan Kepala Badan Imigrasi, dengan pangkat Wakil Komisaris Umum.

Pada 9 Juli, Yang Weilin diangkat sebagai Wakil Menteri Keamanan Publik, menggantikan Chen Siyuan dan Sun Maoli. Yang sebelumnya adalah Wakil Gubernur Guangxi dan Kepala Departemen Kepolisian Daerah.

Chen Siyuan dan Sun Maoli dikenal sebagai loyalis Wang Xiaohong, dan mendapat promosi cepat saat Wang menjabat sebagai Menteri Keamanan Publik.

Pada Mei, Hu Binchen, orang kepercayaan Wang Xiaohong sekaligus Asisten Menteri dan Kepala Kantor Kementerian. Ia dipindahkan keluar Beijing dan beberapa hari kemudian diumumkan menjabat sebagai Wakil Gubernur dan Kepala Kepolisian Provinsi Jiangsu.

Menurut pengamat politik Tiongkok, Yue Shan, dalam wawancaranya dengan NTD, Ling Zhifeng termasuk dalam kelompok “Zhejiang clique”, dan hubungannya dengan Wang Xiaohong tidak dekat. Karena Biro Khusus Keamanan juga berfungsi untuk mengawasi para pemimpin tingkat tinggi, maka kekuasaan Wang Xiaohong kemungkinan telah berkurang. 

Kondisi ini, kata Yue,  kontras dengan masa setelah 2018 saat Wang mulai menguasai penuh kementerian, dan kini kekuatan faksi lain tampaknya mulai menyusup ke dalam struktur. Perubahan personel yang sensitif ini, apalagi menjelang pertemuan Beidaihe, mencerminkan meningkatnya konflik internal di tubuh partai.

Pada 22 Juli, komentator independen Cai Shenkun menyatakan dalam siaran medianya bahwa saat Ling menjabat di Zhejiang, ia naik jabatan dengan sangat cepat, berkat dukungan Cai Qi — Ling adalah anak buah lama Cai Qi. Kenaikannya selanjutnya juga erat kaitannya dengan perlindungan politik dari Cai Qi. Dengan kata lain, Ling adalah kader yang dibina secara khusus oleh Cai.

Cai Shenkun menambahkan bahwa dari segi usia, Ling memiliki keunggulan: ia sekitar 10 tahun lebih muda daripada Wang Xiaohong. 

Posisi Kepala Biro Khusus Keamanan sangat strategis, dan kini telah kembali ke tangan orang kepercayaan Cai Qi. Ini menunjukkan bahwa Ling adalah “bidak” yang ditempatkan Cai Qi di Kementerian Keamanan Publik. Konflik internal elit PKT berikutnya kemungkinan akan lebih terfokus di antara sesama loyalis Xi Jinping — terutama antara Wang Xiaohong dan Cai Qi.

Rumor: Wang Xiaohong Bersekutu dengan Ding Xuexiang untuk Menjatuhkan Cai Qi

Kementerian Keamanan Publik dikenal sebagai “pisau tajam” stabilitas domestik rezim PKT. Setelah Wang Xiaohong diangkat menjadi Menteri, seluruh jajaran Wakil Menteri dan Asisten Menteri telah diganti dengan orang-orang pilihannya.

Cai Shenkun sebelumnya menyatakan bahwa perseteruan antara Cai Qi dan Wang Xiaohong akan mencapai titik panas — bisa terjadi tahun ini atau paling lambat sebelum Kongres Nasional ke-21 PKT, dan akan terbuka ke publik.

Menurut bocoran dari Cai, Ding Xuexiang pernah bersekongkol dengan Wang Xiaohong untuk menyingkirkan Cai Qi. Alasannya: karena Cai Qi melaporkan mereka kepada Xi Jinping, yang menyebabkan karier politik Ding dan Wang tersendat menjelang Kongres ke-20 PKT.

Sebelum Kongres ke-20, Wang Xiaohong dipromosikan cepat dari Wakil Menteri menjadi Menteri Keamanan Publik. Saat itu muncul spekulasi bahwa Xi Jinping akan mengangkatnya sebagai Sekretaris Komite Politik dan Hukum Pusat serta anggota Politbiro — namun semuanya gagal terwujud. Sementara itu, Ding Xuexiang yang saat itu menjabat Kepala Kantor Umum Komite Pusat memang masuk Politbiro Tetap, tapi posisi Kepala Kantor Umum yang strategis justru dipegang oleh Cai Qi.

Cai Shenkun pada 27 Mei mengatakan, hubungan antara Cai Qi dan Wang Xiaohong kini sangat rumit. Meski keduanya sama-sama loyalis Xi dan pernah bekerja di Fujian, namun Wang Xiaohong masih memiliki ambisi politik yang lebih besar. Persaingan mereka, khususnya dalam mengendalikan kekuasaan pengawasan terhadap para pemimpin partai, telah memicu pertarungan sengit.

Cai juga menambahkan bahwa setelah Wang mengambil alih Kementerian Keamanan Publik, ia membersihkan orang-orang lama secara menyeluruh dan menaikkan status Biro Pengamanan menjadi Biro Khusus Keamanan — sebuah unit yang pada tingkat tertentu menggantikan peran Biro Pengawal Pusat.

Kini, setelah Wang melepaskan jabatan sebagai Kepala dan Sekretaris Partai Biro Khusus Keamanan, dan digantikan oleh orang baru, berarti kekuasaannya di biro tersebut telah berkurang. Sebagian besar kekuasaan pengamanan dan pengawasan terhadap para pemimpin partai dan negara pun kini kembali ke tangan Cai Qi. (Hui/asr)

Laporan gabungan oleh jurnalis NTD Tang Zheng/Fan Ming

  • Zhongnanhai adalah kantor pusat dan komplek Partai Komunis Tiongkok di Beijing
  • Beidaihe adalah sebuah kawasan pesisir yang terletak di kota Qinhuangdao, provinsi Hebei, Tiongkok utara. Daerah dikenal sebagai resor pantai dan tempat peristirahatan yang populer, terutama bagi pejabat tinggi Partai Komunis Tiongkok (PKT). 

Tentang Cinta dan Moralitas: Jangan Main-main dengan Perasaan Orang

EtIndonesia. Seseorang yang dengan sengaja mempermainkan perasaan orang lain tanpa batas moral, tidak akan pernah dihormati. Bahkan ketika di kemudian hari dia ingin serius, dia tak akan lagi menemukan orang yang mau bersikap serius terhadapnya.

Dalam hal perasaan, selalu ada hukum sebab-akibat. Apa yang kamu lakukan pada orang lain, suatu saat akan kembali padamu. Ketika kamu kehilangan seseorang yang mencintaimu sepenuh hati, bisa jadi kamu akan dipertemukan dengan orang yang memperlakukanmu seperti tak berarti. Mereka yang bermain dengan api, akan terbakar sendiri. Mereka yang bermain dengan pisau, suatu saat akan terluka olehnya.

Orang yang terlalu terobsesi pada sesuatu, mati-matian ingin memilikinya, justru sering kali berakhir tidak mendapatkannya.

Karena itu, jangan terlalu terikat. Belajarlah melepaskan. Biarkan segala sesuatu berjalan apa adanya. Jangan menjemput masa depan yang belum tiba, jangan mencemaskan masa kini dengan pikiran yang bercabang, dan jangan menyesali masa lalu yang sudah berlalu.

Jadilah pribadi yang rendah hati, lembut, dan bersinar seperti batu giok.”

Filsafat Hidup: Kata-Kata Bijak untuk Membimbing Jalan Kita

      Kendalikan nafsumu, sebelum nafsu itu berbalik mengendalikanmu.

·        Jangan menuntut kenyataan sesuai dengan keinginanmu—sebaliknya, bentuklah keinginanmu agar selaras dengan kenyataan.

·        Sebelum berbicara, pahami dulu apa yang ingin kamu katakan.

·        Orang bijak tidak bersedih atas apa yang tidak dia miliki, melainkan bersyukur atas apa yang telah dimilikinya.

·        Jika kamu ingin berkembang, jangan pedulikan anggapan orang bahwa kamu bodoh.

·        Seseorang yang merasa tahu segalanya tidak akan pernah benar-benar memulai belajar.

·        Yang penting bukan apa yang menimpamu, tapi bagaimana kamu meresponsnya.

·        Lakukan yang terbaik dalam segala hal, tanpa terlalu memusingkan hasilnya.

·        Jika seseorang tidak bisa mengendalikan dirinya, maka tak ada yang bisa disebut kebebasan.

·        Hanya orang yang berpendidikanlah yang benar-benar bebas.

·        Yang sering menyiksa batin manusia bukanlah peristiwa itu sendiri, melainkan cara pandangnya terhadap peristiwa tersebut.

·        Bergaullah dengan orang-orang yang lebih baik darimu—mereka akan mendorongmu menjadi versi terbaik dari dirimu.

·        Kaya bukan berarti memiliki banyak harta, melainkan memiliki sedikit kebutuhan.

·        Jika kamu belum bisa menyelesaikan suatu masalah, maka menyelidikinya adalah langkah pertama menuju penyelesaian.

·        Cinta yang dalam tak perlu banyak kata; kehadiran yang setia lebih berarti daripada perasaan yang menggebu-gebu tapi cepat hilang. (jhn/yn)

Diduga Mencuri Rahasia Teknologi Deteksi Peluncuran Nuklir, Insinyur AS Keturunan Tiongkok Terancam 10 Tahun Penjara

Departemen Kehakiman Amerika Serikat pada Senin (21 Juli) menyatakan bahwa seorang peneliti kelahiran Tiongkok yang menjadi warga negara AS mengaku bersalah atas pencurian rahasia dagang, termasuk teknologi yang digunakan untuk mendeteksi peluncuran senjata nuklir. Pengadilan akan menjatuhkan vonis pada 29 September mendatang, dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara.

EtIndonesia. Kantor berita AFP menyebutkan seorang pria berusia 59 tahun bernama Chenguang Gong, yang tinggal di San Jose, California, didakwa telah mentransfer lebih dari 3.600 berkas dari perusahaan riset tempat ia pernah bekerja ke perangkat penyimpanan pribadinya.

Pada 21 Juli, Chenguang Gong mengaku bersalah di Pengadilan Distrik California Tengah atas satu dakwaan pencurian rahasia dagang, yang dapat dihukum hingga 10 tahun penjara.

Departemen Kehakiman AS menyebutkan bahwa Chenguang Gong menjadi warga negara AS pada tahun 2011, kemudian pada tahun 2023 ia sempat bekerja sebentar sebagai insinyur di sebuah perusahaan riset di wilayah Los Angeles. Nama perusahaan tersebut tidak diungkapkan oleh pihak berwenang.

Departemen Kehakiman AS mengungkapkan bahwa berkas-berkas yang diunduh Gong mencakup sejumlah cetak biru (blueprint), termasuk sensor inframerah untuk sistem luar angkasa yang digunakan dalam mendeteksi peluncuran senjata nuklir, melacak rudal balistik dan rudal hipersonik.

Selain itu, ia juga mencuri cetak biru sensor yang memungkinkan pesawat militer AS mendeteksi rudal pencari panas (heat-seeking missiles) dan melakukan tindakan balasan.

Departemen Kehakiman AS juga menyatakan bahwa selama periode antara tahun 2014 hingga 2022, saat Gong bekerja di berbagai perusahaan teknologi besar di AS, ia beberapa kali mengajukan permohonan untuk bergabung dalam apa yang disebut sebagai “program bakat” yang diluncurkan oleh pemerintahan Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Menurut Departemen Kehakiman AS, program-program ini bertujuan merekrut individu yang memiliki “keahlian profesional, kemampuan, dan pengetahuan teknologi canggih” untuk mendukung perkembangan ekonomi dan militer PKT. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Dari Nol di Usia 73 Hingga Jadi Miliarder di Usia 85: Legenda Chu Shijian Wafat di Usia 91 Tahun

  

EtIndonesia. Chu Shijian, pendiri brand “Chu Cheng” (Jeruk Chu), pernah menjalani kehidupan yang ekstrem dan penuh kontroversi: dipenjara di usia 71, memulai usaha baru di usia 74, dan menjadi miliarder di usia 85. Dia dianggap salah satu tokoh bisnis paling ikonik dan kontroversial dalam sejarah modern Tiongkok.

Pada 5 Maret 2019, tak lama setelah ulang tahunnya yang ke-91, Chu Shijian meninggal dunia di Yuxi, Yunnan. Sebuah legenda bisnis pun resmi berakhir.

Dia menciptakan dua mahakarya bisnis: perusahaan rokok Hongta dan jeruk “Chu Cheng”. 

Ungkapan yang paling tepat menggambarkan hidupnya adalah: “Ukuran keberhasilan seseorang bukan diukur dari seberapa tinggi dia pernah berdiri, tapi seberapa kuat dia bisa bangkit setelah jatuh ke titik terendah.”

Dari “Raja Tembakau” ke Tahanan Negara

Chu Shijian lahir pada 1928 dari keluarga petani di Yuxi, Yunnan. Dia pernah menjabat sebagai Direktur Utama Pabrik Rokok Yuxi pada tahun 1979—saat usianya 51 tahun dan perusahaan itu nyaris bangkrut.

Dengan visi reformasi dan modernisasi, dia berani:

·        Mengimpor mesin produksi rokok terbaik dari luar negeri

·        Mempelajari teknologi pertanian modern untuk budidaya tembakau

·        Mengajarkan petani lokal teknik menanam yang lebih baik

Di bawah kepemimpinannya, rokok Hongta laris manis di seluruh Tiongkok dan dikenal hingga ke mancanegara. Pada usia 62 tahun, dia dinobatkan sebagai salah satu dari “10 Pengusaha Top Tiongkok”. Di usia 66, dia masuk daftar “10 Tokoh Reformasi Terbaik”.

Namun puncak kejayaan itu runtuh pada 1995 saat Chu dituduh korupsi. Pada 9 Januari 1999, dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena penggelapan dan kepemilikan kekayaan tidak sah. Saat itu, dia berusia 71 tahun.

Dari “Raja Tembakau” Menjadi “Raja Jeruk”

Pada 2002, Chu Shijian mendapat pengurangan hukuman dan bebas bersyarat karena alasan kesehatan. Di usia 73, bersama istrinya, dia menyewa sebidang tanah pegunungan gersang dan memulai usaha menanam jeruk.

Siapa sangka, lebih dari satu dekade kemudian, jeruk “Chu Cheng” menjadi buah premium yang laris manis di seluruh Tiongkok. Produksinya mencapai 10.000 ton per tahun, dengan keuntungan bersih lebih dari 60 juta yuan!

Tahun 2012, jeruk Chu mulai dijual di platform e-commerce. Di tahun berikutnya, penjualan mencapai lebih dari 1 juta kilogram dengan omzet lebih dari 100 juta yuan. Jeruk ini bukan hanya lezat, tapi juga dikenal sebagai “jeruk penuh semangat juang”.

Meski bermula tanpa modal, dia dibantu oleh komunitas Tionghoa dari Singapura. Chu menerapkan pendekatan bisnis berbasis teknologi dan ketat dalam pengendalian mutu:

·        Jumlah buah per pohon harus diatur

·        Irigasi saat kemarau harus tepat

·        Petani diberi pelatihan langsung dan sistem insentif berdasarkan kualitas panen

Petani di daerah Xinping yang semula tergolong miskin berhasil keluar dari kemiskinan. Banyak yang penghasilannya tembus 100 ribu yuan per tahun.

Chu Shijian percaya bahwa pertanian modern dan internet adalah masa depan. Dia membuktikannya—“Chu Cheng” menjadi contoh sukses dari kolaborasi “Internet + Pertanian Khas Dataran Tinggi”. (jhn/yn)

Pemandangan Mengerikan di Alam Semesta: “Lubang Hitam Pengembara” Menelan Sebuah Bintang

Baru-baru ini, para ilmuwan untuk pertama kalinya berhasil “menangkap secara langsung” momen saat sebuah lubang hitam pengembara menelan sebuah bintang! Peristiwa menakjubkan di alam semesta ini tidak hanya memecahkan rekor, tetapi juga membantu kita menemukan lebih banyak “lubang hitam pengembara” yang tersembunyi di pinggiran galaksi. Mari kita lihat keajaiban “perburuan luar angkasa” yang terjadi 600 juta tahun cahaya dari Bumi ini.

EtIndonesia. Momen luar biasa dari sudut jauh alam semesta ini ditangkap oleh tim peneliti yang dipimpin oleh Universitas California, Berkeley (UC Berkeley). Mereka menemukan sebuah “lubang hitam pengembara” raksasa di wilayah pinggiran galaksi, jauh dari pusat galaksi, yang sedang menelan sebuah bintang yang mendekatinya.

Ini bukan peristiwa lubang hitam biasa, melainkan untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, sebuah “peristiwa tidal disruption (robekan pasang surut)” yang terjadi jauh dari pusat galaksi berhasil dibuktikan melalui pengamatan optik. 

Dengan temuan ini, para ilmuwan berhasil mengidentifikasi lubang hitam pengembara yang tersembunyi di luar inti galaksi. Hasil penelitian ini telah diterbitkan di The Astrophysical Journal Letters.

Lalu, apa itu “peristiwa tidal disruption” (TDE)?

Lubang hitam itu sendiri tidak terlihat karena tidak memancarkan cahaya. Namun, jika ada bintang yang secara tidak sengaja terlalu dekat dengannya, gaya gravitasi yang sangat kuat dari lubang hitam akan menarik, meregangkan, dan menghancurkan bintang tersebut menjadi aliran materi yang sangat tipis — proses ini sering disebut secara jenaka sebagai “spaghettifikasi”.

Sisa-sisa bintang yang hancur ini akan membentuk cakram akresi (accretion disk) yang berputar dengan sangat cepat mengelilingi lubang hitam, dan memancarkan cahaya yang sangat terang. Fenomena inilah yang disebut sebagai “peristiwa tidal disruption” (TDE).

Peristiwa TDE ini diberi nama AT2024tvd, terjadi sekitar 2.600 tahun cahaya dari pusat galaksi. Lubang hitam yang melakukan “perburuan” ini memiliki massa sekitar 1 juta kali massa Matahari — dan merupakan lubang hitam pengembara!

Tentang lubang hitam jenis “pengembara” ini, para ilmuwan menduga bahwa mereka adalah “anak yatim kosmis” yang terlempar keluar dari galaksi asalnya saat dua galaksi bergabung. Mereka mungkin telah mengembara di ruang antar galaksi selama miliaran tahun. Pengamatan optik kali ini tidak hanya menguatkan teori ini, tetapi juga membuka cara baru untuk menemukan lubang hitam jenis ini di masa depan.

Perburuan luar angkasa dari jarak 600 juta tahun cahaya ini tidak hanya menyuguhkan pemandangan yang menggetarkan, tetapi juga mengungkap jejak misterius tentang bagaimana lubang hitam mengembara di alam semesta, berburu mangsa,  bahkan mempengaruhi evolusi galaksi. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Lebih dari 20 Negara Keluarkan Pernyataan Bersama, Desak Gencatan Senjata Segera di Gaza

Etindonesia. Israel melancarkan serangan darat dan udara ke wilayah selatan dan timur Gaza untuk membersihkan basis dan fasilitas militer Hamas  pada  Senin (21/7/2025). Di saat yang sama, lebih dari 20 negara, termasuk Inggris dan Kanada, mengeluarkan pernyataan bersama yang menyerukan gencatan senjata segera antara Israel dan Hamas. Sementara itu, perundingan nuklir antara Iran dan tiga negara Eropa dijadwalkan dimulai kembali minggu ini.

Pada hari yang sama, pasukan Israel terlihat di dataran Tinggi Golan dekat perbatasan Suriah, memantau aktivitas militer di wilayah tersebut.

Setelah pemerintah Suriah meminta kelompok bersenjata klan Arab Badui untuk mundur dari wilayah Sweida, konflik antara klan Badui dan kelompok etnis Druze mulai mereda.

Menteri Dalam Negeri Suriah, Anas Khattab, pada Minggu menyatakan bahwa pasukan keamanan telah berhasil menenangkan situasi dan mencapai gencatan senjata, membuka jalan bagi pertukaran tawanan dan pemulihan stabilitas secara bertahap di seluruh provinsi Sweida.

Pada  Senin, Israel melancarkan serangan darat dan udara ke bagian selatan dan timur Gaza. Militer Israel meyakini bahwa beberapa sandera yang tersisa kemungkinan masih ditahan oleh Hamas di wilayah Deir al-Balah. Sehari sebelumnya, militer Israel telah mengeluarkan perintah evakuasi kepada warga di daerah tersebut.

Militer Israel menyatakan bahwa mereka sedang melakukan operasi besar-besaran untuk menghancurkan kemampuan militer Hamas dan infrastruktur teroris di wilayah tersebut.

Pejabat kesehatan Gaza menyebutkan bahwa sedikitnya tiga warga Palestina tewas akibat serangan artileri Israel.

Pada  Senin (21/7), 25 negara termasuk Inggris, Kanada, Australia, dan sejumlah negara Eropa lainnya mengeluarkan pernyataan bersama yang menyerukan diakhirinya perang di Gaza sesegera mungkin.

Menteri Luar Negeri Inggris, David Lammy, menyatakan:  “Hamas dan Israel harus segera berkomitmen pada gencatan senjata. Gencatan senjata berikutnya harus menjadi yang terakhir.”

Namun, Amerika Serikat dan Jerman tidak ikut menandatangani pernyataan tersebut.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebelumnya telah beberapa kali menyatakan bahwa eskalasi militer Israel di Gaza bertujuan untuk memberikan tekanan terhadap Hamas agar menyetujui kesepakatan gencatan senjata.

Selain itu, kantor Netanyahu pada  Minggu (20/7) menyampaikan bahwa ia baru saja pulih dari enteritis (radang usus) akibat keracunan makanan dan akan beristirahat di rumah selama tiga hari ke depan.

Sementara dari pihak Iran, juru bicara Kementerian Luar Negeri pada  Senin dalam konferensi pers mengumumkan bahwa pada Jumat minggu ini, Iran akan kembali mengadakan perundingan dengan Inggris, Prancis, dan Jerman mengenai program nuklirnya.

“Pertemuan ini (antara Iran dan tiga negara Eropa) akan diadakan di luar Eropa, yaitu di Istanbul, dan akan berada di tingkat wakil menteri luar negeri,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei.

Ini akan menjadi pertemuan pertama antara Eropa dan Iran sejak berakhirnya “Perang 12 Hari” antara Israel dan Iran.

Inggris, Prancis, dan Jerman memperingatkan bahwa jika Iran gagal melanjutkan perundingan nuklir dengan Amerika Serikat atau tidak menunjukkan hasil yang nyata, mereka akan mengaktifkan “mekanisme pemulihan sanksi” sebelum akhir Agustus untuk memberlakukan kembali sanksi penuh PBB terhadap Iran. (Hui/asr)

Laporan gabungan oleh Zhao Fenghua, reporter NTD

Asal-Usul Bulan

EtIndonesia. Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa Suku Zhuang, hiduplah seorang gadis cantik bernama Yue Mei. Di depan rumahnya tumbuh tiga pohon jeruk bali. Setiap kali musim panen tiba, Yue Mei selalu memetik jeruk-jeruk itu dan membaginya kepada semua orang.

Dia bukan hanya baik hati, tapi juga sangat terampil. Dia pandai membuat lentera—bulat seperti bola, pipih seperti batu giling. Lentera burung yang bisa terbang, lentera naga yang bisa menari. Dia juga mahir membuat sandal dari jerami—berwarna merah di bagian atas, hijau di telinga sandal, ringan dan kuat.

Namun, meski semuanya terasa baik saat itu, ada satu hal yang hilang dari dunia: di langit belum ada Bulan, belum ada bintang. Begitu Matahari tenggelam, langit menjadi gelap gulita, Bumi pun sama gelapnya. Tanpa cahaya lampu, tidak ada satu pun yang terlihat. Hidup terasa seperti terkurung dalam wajan besi raksasa—sungguh menyiksa!

Yue Mei punya ide aneh tapi indah. 

Dia berpikir: “Bagaimana kalau bisa menggantung satu lentera besar di langit? Begitu malam tiba, lentera itu akan menyala dan menerangi dunia. Betapa indahnya!”

Namun, bagaimana caranya menggantung lentera di langit? Di mana jalan menuju langit? Dia bertanya pada kakek berjanggut putih, nenek berambut perak, tapi semua hanya menggeleng tak tahu.

Tapi Yue Mei tidak menyerah. Dia percaya, kalau langit dan Bumi terhubung, pasti ada jalannya. Saat itu, dia baru berusia 17 atau 18 tahun—usia bunga mekar paling indah. Banyak pemuda yang jatuh hati padanya, setiap malam mereka membawa lentera dan berkeliling di dekat rumahnya, menyanyi dan mencoba merayunya. Tapi Yue Mei tak tergoda—hatinya hanya ingin satu hal: menggantung lentera di langit.

Dia pun memutuskan: dia akan mencari jalan menuju langit.

Sebelum berangkat, seluruh warga desa datang melepas kepergiannya. 

Yue Mei berkata : “Kalau suatu hari kalian lihat ada lentera tergantung di langit, itu artinya aku sudah berhasil. Saat itu, datanglah ke rumahku dan petiklah jeruk sesukamu. Para pemuda boleh menebang kayu dan mengambil air, para gadis bisa membuat kue manis. Mari kita hidup rukun, hangat, dan damai bersama-sama.”

Yue Mei Membawa Tiga Perbekalan:

1. Sebuah lentera besar – untuk digantung di langit

2. Satu busur sandal jerami – untuk membuat sandal selama perjalanan

3. Sebesar karung biji wijen harum – untuk menghitung hari, satu hari satu biji

Dia pun mulai berjalan mencari jalan ke langit. Melewati gunung, menyeberangi sungai. Terik matahari, hujan badai, angin kencang, salju tebal—semua dilewati. Setiap hari dia menjatuhkan satu biji wijen. Setiap sandal rusak, dia membuat yang baru.

Tak ada yang tahu berapa jauh dia berjalan, berapa lama waktu berlalu. Busur pembuat sandalnya tinggal selebar jari, biji wijennya tersisa separuh, rambutnya memutih semua—namun semangatnya tak pernah padam. Dia bersumpah akan membawa terang ke dunia malam.

Suatu hari, dia tiba di tempat yang aneh—hamparan laut luas membentang di hadapannya, tak terlihat ujung, tak terdengar suara, tak ada satu pun makhluk. Di sana, tak ada jalan, kecuali… satu batu bundar putih, seperti piring besar.

Karena lelah, Yue Mei duduk di atas batu itu dan mulai membuat sandal lagi. Tiba-tiba, angin sejuk bertiup, batu bundar itu perlahan bergerak, berputar, dan… mengapung ke tengah laut, lalu naik menembus awan.

Yue Mei terus membuat sandalnya, seolah tak menyadari bahwa dia sedang naik ke langit.

Begitu sandal selesai, dia mendongak dan… terkejut:

Di atasnya langit kosong. Di sekelilingnya pun kosong. Saat menunduk, dia melihat pegunungan, sungai, rumah-rumah, sawah.

 Yue Mei berguman: “Aku sudah sampai ke langit!”

Penuh sukacita, dia langsung menyalakan lentera. Lalu, dia menyebarkan semua biji wijen ke seluruh penjuru langit.

Sejak saat itu, batu bundar tempat dia duduk memantulkan cahaya lentera, menjadi bulat, putih perak, dan tampak sangat indah dari Bumi—itulah yang kini kita sebut Bulan.

Biji wijen yang bertebaran memantulkan cahaya bulan, berkilauan seperti titik-titik cahaya kecil—itulah bintang-bintang.

Malam Pertama Bulan Bersinar

Saat warga desa melihat lentera besar tergantung di langit, dikelilingi titik-titik cahaya kecil, mereka sadar.

“Itu Yue Mei! Dia berhasil menggantung lentera ke langit!” Teriak penduduk desa.

Hari itu adalah tanggal 15 bulan 8 menurut kalender tradisional Tiongkok, dan sejak saat itu, hari itu pun dianggap sebagai hari lahirnya Bulan.

Jika kamu memperhatikan Bulan dengan saksama pada malam itu, katanya, kamu masih bisa melihat siluet seorang gadis sedang membuat sandal.

Namun sekarang, orang-orang tidak lagi memanggilnya “Yue Mei”, tapi “Nenek Bulan”.

Tradisi Turun Temurun Suku Zhuang

Mengikuti pesan Yue Mei, warga desa pun berbagi jeruk satu sama lain setiap musim panen. Namun, selalu ada orang yang pelit dan tak mau berbagi.

Maka lahirlah satu aturan unik:

Pada tanggal 15 bulan 8, siapa pun boleh “mencuri” jeruk dari orang kaya untuk dibagikan kepada semua orang. Itu tidak dianggap salah—justru dipuji! Siapa yang paling berani “mencuri” untuk rakyat, dianggap paling hebat.

Cerita ini bukan hanya legenda asal-usul Bulan, tapi juga ajaran tentang ketekunan, pengorbanan, dan keindahan berbagi. (jhn/yn)

Departemen Pertanian AS Pecat Peneliti Asal Tiongkok, Bersihkan Pengaruh Beracun Partai Komunis Tiongkok

Atas kekhawatiran terhadap keamanan pertanian dan keamanan nasional, Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) baru-baru ini memecat lebih dari 70 peneliti asing kontrak, yang sebagian besar adalah warga negara Tiongkok. Para pakar dengan tajam menunjukkan bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) adalah biang keladi di balik peristiwa ini.

EtIndonesia. Kementerian Pertanian Amerika Serikat (USDA) mengumumkan bahwa setelah dilakukan penyelidikan menyeluruh, lebih dari 70 peneliti asing kontrak dan peneliti tamu telah diberhentikan. Mereka berasal dari Tiongkok, Rusia, Korea Utara, dan Iran. Namun, menurut informasi dari orang dalam, sebagian besar dari mereka yang diberhentikan adalah warga negara Tiongkok yang menandatangani kontrak dua tahun dengan Biro Penelitian Pertanian.

Pemecatan ini merupakan bagian dari rencana keamanan pertanian yang lebih luas yang digagas oleh Presiden Trump. Selain mengakhiri perjanjian penelitian, USDA juga melarang warga dari keempat negara tersebut—Tiongkok, Rusia, Iran, dan Korea Utara—untuk membeli lahan pertanian di Amerika Serikat.

Menteri Pertanian AS, Brooke Rollins, mengeluarkan pernyataan yang menjelaskan alasan di balik keputusan ini. Dalam unggahannya ia juga menyertakan gambar animasi (GIF) Presiden Trump dengan tulisan “You’re Fired” (Kau Dipecat), yang bernada sarkastik.

“Selama puluhan tahun, musuh-musuh asing telah memanfaatkan keterbukaan masyarakat kita untuk merekrut mata-mata dan agen guna mencuri kekayaan intelektual dan teknologi kita. Baru-baru ini, mereka bahkan menyelundupkan bahan biologis berbahaya, yang mengancam sistem pangan dan rantai pasokan kita,” katanya. 

Para analis menilai bahwa keputusan pemerintah AS kali ini sangat luar biasa dan patut mendapat perhatian khusus.

Komentator Heng He dari Heng He Review mengatakan: “Karena ini dilakukan tanpa tuduhan spesifik. Mereka tidak menuduh bahwa Anda terkait dengan ‘Thousand Talents Plan’ (Program Seribu Bakat), atau bahwa Anda mencuri rahasia tertentu. Tidak ada tuduhan apa pun, hanya kekhawatiran terhadap keamanan pertanian, dan semua kontrak langsung diakhiri sekaligus.”

Ia menambahkan: “Ini juga bukan sekadar menyangkut bidang tertentu atau masalah pekerjaan bagi peneliti asal Tiongkok. Ini bahkan menyangkut seluruh pelajar asal Tiongkok. Bagi mereka yang sedang belajar di AS, ke depan harus mempertimbangkan pilihan jurusan mereka—bidang mana yang kemungkinan besar tidak akan memberi mereka peluang kerja, atau akan sangat sulit mendapatkannya.”

Para pakar menegaskan bahwa PKT-lah yang membuat para peneliti berlatar belakang Tiongkok ikut terkena imbas.

Heng He menambahkan: “Karena hanya PKT yang tanpa rasa malu memanfaatkan warga Tionghoa di Amerika Serikat atau negara lain untuk mencuri teknologi bagi mereka. Hanya PKT yang menggunakan kekuatan negara untuk secara sistematis dan menyeluruh mengumpulkan intelijen ekonomi dan kekayaan intelektual. Ini membuat Amerika tidak bisa bertahan. Jadi, pada akhirnya, biang keladinya adalah PKT.” (Hui/asr)

Laporan gabungan oleh Yi Jing, reporter NTD