Tindak Tegas Imigran Ilegal dan Penjahat, Menteri Keamanan Dalam Negeri AS: 300.000 Orang Telah Ditangkap

EtIndonesia. Sejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menduduki Gedung Putih, pemerintah meningkatkan upaya untuk menjaga keamanan nasional dan perbatasan. Pada  Jumat (18 Juli), Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Kristi Noem mengumumkan di Negara Bagian Tennessee bahwa pihak penegak hukum telah menangkap sejumlah pelaku kejahatan imigran ilegal paling berbahaya di daerah tersebut. Sementara itu, Departemen Kesehatan AS akan memberikan wewenang kepada Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) untuk mengakses data pribadi para peserta asuransi kesehatan.

 “Sejak Presiden Trump menjabat, kami telah menangkap hampir 300 ribu, bahkan lebih, pelaku kejahatan dan imigran ilegal di AS, menegakkan hukum terhadap mereka, dan mendeportasi mereka. Sekitar 70% dari mereka telah divonis bersalah atau sedang menghadapi dakwaan pidana,” katanya. 

Kristi Noem berbicara di Burlingame, California, pada 18 Mei 2024. John Fredricks / The Epoch Times

“Semua pelaku kejahatan ini adalah orang-orang jahat. Mereka adalah manusia yang mengerikan. Mereka adalah yang terburuk dari yang terburuk. Amerika menjadi lebih aman karena mereka telah disingkirkan dari jalanan kita—berkat kerja keras orang-orang di belakang saya dan seluruh agen serta petugas di HSI dan ICE.”

Departemen Keamanan Dalam Negeri baru-baru ini mengumumkan bahwa dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024, jumlah serangan terhadap petugas ICE dari 21 Januari hingga 14 Juli tahun ini meningkat sebesar 830%.

Pada  Selasa (15 Juli), seorang prajurit cadangan Marinir AS keturunan Asia bernama Benjamin Hanil Song (nama terjemahan), yang dicari selama seminggu atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadap petugas federal, berhasil ditangkap di Texas. Uang jaminannya ditetapkan sebesar 15 juta dolar AS.

Menurut dokumen pengadilan, pada  4 Juli malam, Song bersama beberapa orang lainnya menyerang petugas di Pusat Penahanan Prairieland. Berdasarkan dakwaan federal, Song didakwa dengan tiga tuduhan percobaan pembunuhan terhadap agen federal dan tiga tuduhan kejahatan senjata yang terkait dengan kekerasan.

Dalam kasus ini, 13 orang lainnya juga telah ditangkap. Selain dakwaan percobaan pembunuhan, mereka juga menghadapi dakwaan menghalangi proses peradilan serta konspirasi. Jika terbukti bersalah, sebagian besar terdakwa terancam hukuman penjara minimal 10 tahun hingga seumur hidup.

Sementara itu, pada 7 Juli, seorang pria ditembak mati setelah melepaskan tembakan di luar pos patroli perbatasan di Texas. Insiden tersebut melukai tiga petugas polisi.

Di sisi lain, untuk memperluas penegakan hukum, Departemen Kesehatan AS menyatakan bahwa mereka akan memberikan wewenang kepada ICE untuk mengakses informasi pribadi sekitar 79 juta peserta program Medicaid, termasuk alamat dan data identitas, guna membantu pelacakan kemungkinan imigran ilegal. Kebijakan ini juga bertujuan membantu mengidentifikasi serta memberantas praktik pemborosan, penipuan, dan penyalahgunaan sistem.

Pada hari yang sama (17 Juli), Departemen Kehakiman AS meminta sheriff dari wilayah seperti Los Angeles County dan San Francisco County di California untuk memberikan data tahanan imigran ilegal yang saat ini ditahan, termasuk catatan kriminal dan tanggal perkiraan pembebasan, guna membantu otoritas federal mempercepat proses deportasi imigran ilegal yang melakukan kejahatan setelah masuk ke AS.

Saat ini, ICE telah menangkap ratusan orang di wilayah Los Angeles berdasarkan kebijakan deportasi tersebut. Departemen Kehakiman juga telah menggugat kebijakan suaka pemerintah kota Los Angeles. (Hui/asr)

Laporan oleh Guo Yuexi, New Tang Dynasty Television – Amerika Serikat

Kebakaran Hebat di Sebuah Pabrik di Hangzhou, Tiongkok, Asap Tebal Membumbung, Bau Menyengat Menyebar 

EtIndonesia. Terjadi kebakaran besar di sebuah pabrik di Kota Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok, pada 19 Juli pagi. Asap tebal membumbung tinggi ke langit dan bau menyengat menyebar ke sekeliling. Saat ini, belum diketahui apakah ada korban jiwa.

Beberapa foto dan video yang beredar di media sosial Weibo menunjukkan asap hitam pekat mengepul dari lokasi kebakaran dan membubung ke langit, hampir menutupi seluruh area di sekitarnya. Banyak warga terlihat berhenti untuk menyaksikan dan merekam video, sementara sejumlah lainnya menelepon polisi untuk melapor.

Menurut keterangan saksi mata, pabrik yang terbakar kemungkinan menyimpan bahan-bahan mudah terbakar seperti kayu dan furniture, yang menyebabkan api membesar dengan cepat. Selain itu, kawasan tersebut dikenal sebagai area logistik yang memiliki banyak gudang yang saling terhubung, sehingga jika terjadi kebakaran, api mudah menyebar dengan cepat.

Warga di lokasi mengatakan bahwa karena api sangat besar dan asap sangat tebal, udara di sekitar terasa menyengat dan penuh bau tidak sedap.

Pihak pemadam kebakaran setempat menyatakan menerima laporan pada pukul 07.50 pagi bahwa terjadi kebakaran di sebuah pabrik di Jalan Desheng Timur, Distrik Qiantang. Petugas pemadam tiba di lokasi pada pukul 08.10 dan hingga kini masih terus melakukan upaya pemadaman. Pihak berwenang menyebut sejauh ini belum ditemukan adanya korban jiwa.

Beberapa hari terakhir, berbagai wilayah di Tiongkok dilanda cuaca panas ekstrem. Di Hangzhou, suhu yang dirasakan bahkan mencapai hampir 50°C. Ditambah lagi, di sekitar lokasi kebakaran terdapat pusat onderdil mobil dan sejumlah pabrik yang menyimpan bahan mudah terbakar seperti karet dan plastik, sehingga kebakaran menjadi lebih sering terjadi.

Banyak netizen berkomentar:
“Kenapa Hangzhou beberapa hari ini terus-terusan trending?”
“Sekali kejadian langsung menimbulkan kerugian yang tak sedikit.”
“Hangzhou selama ini terlalu sering dipuji-puji, sekarang masalah yang sebenarnya mulai terungkap.”’

(Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Virus Menyebar di Tiongkok, Kematian Mendadak di Kalangan Anak Muda Meningkat, Guangdong Dilanda Wabah Baru

Wabah penyakit di Tiongkok belum mereda. Kasus infeksi virus COVID-19 tetap tinggi, dan jumlah kematian mendadak di kalangan anak muda terus meningkat. Baru-baru ini, provinsi Guangdong kembali dilanda wabah baru “Demam Chikungunya”, sebuah penyakit yang menyebar sangat cepat dan hingga kini belum ada vaksin maupun obat khususnya, sehingga memicu kekhawatiran publik.


EtIndonesia. Wabah Demam Chikungunya merebak di Kota Foshan, Provinsi Guangdong. Berdasarkan data yang dirilis oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Guangdong, sejak kasus pertama ditemukan pada 8 Juli, dalam waktu satu minggu sudah terkonfirmasi 481 kasus. Namun, banyak pihak meyakini jumlah sebenarnya jauh lebih tinggi.

 “Jika terinfeksi demam Chikungunya, kesehatan manusia dapat terganggu dalam banyak aspek. Pada fase akut, gejalanya meliputi demam tinggi sekitar 39 hingga 40°C, nyeri sendi yang hebat dan bengkak, serta gejala lain seperti mual, mata merah, dan berair. Jika muncul gejala jangka panjang, biasanya berupa radang sendi kronis dan bisa disertai komplikasi serius lainnya,” ujar Dr. Lin Xiaoxu, pakar virologi asal Amerika Serikat. 

Penyakit ini sangat cepat menyebar dan belum memiliki vaksin maupun obat khusus. Hingga 17 Juli, CDC di Wuhan dan Chongqing telah mengeluarkan peringatan terkait wabah demam Chikungunya, menambah keresahan masyarakat.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), demam Chikungunya dan demam berdarah sama-sama ditularkan melalui nyamuk, dengan gejala yang mirip dan dapat berujung pada kematian dalam kasus parah.

Dr. Lin Xiaoxu menambahkan:  “Meskipun ini terlihat seperti penyakit yang ditularkan lewat gigitan nyamuk, dampaknya terhadap manusia sangat jelas dan harus diwaspadai dengan serius.”

Selain itu, berbagai virus lain juga masih beredar secara bersamaan di Tiongkok. Data terbaru dari CDC Tiongkok menunjukkan bahwa COVID-19 menempati urutan pertama dalam lima penyakit dengan jumlah kasus tertinggi secara nasional.

Sejak pandemi merebak lima tahun lalu, virus corona terus bermutasi di Tiongkok, dan pemerintah PKT dituduh terus menyembunyikan fakta sebenarnya. Seorang dokter sekaligus blogger di daratan Tiongkok baru-baru ini mengungkapkan bahwa jumlah kasus kematian mendadak terus meningkat di seluruh negeri.

Seorang blogger Tiongkok memperingatkan:  “Teman-teman di wilayah selatan harap waspada, demam Chikungunya sedang menyebar tanpa ada vaksin atau obat khusus.”

Dokter blogger tersebut menyatakan:  “Mengapa sekarang begitu banyak kasus serangan jantung dan stroke, dan penderitanya semakin muda?”

Blogger lain mengatakan:  “Jumlah kematian mendadak juga tidak sedikit. Banyak orang usia 40-an, tetapi kondisi pembuluh darahnya seperti orang usia 70 tahun.”

Contoh kasus:

  • 13 Juli, influencer terkenal asal Baoji, Provinsi Shaanxi, Guo Jianfeng, meninggal mendadak di usia 41 tahun.
  • 7 Juli, penulis terkenal Fu Guoyong, meninggal dunia karena serangan jantung di rumahnya di Hangzhou, pada usia 59 tahun.
  • 4 Juli, petugas polisi senior Tian Yu dari Lembaga Pemasyarakatan Lanzhou meninggal mendadak saat bertugas, di usia 45 tahun.
  • 18 Juni, pelawak terkenal Wu Di meninggal mendadak di usia 51 tahun.

Pada Agustus 2023, Master Li Hongzhi, pendiri Falun Gong, pernah memperingatkan bahwa wabah COVID-19 terutama ditujukan kepada Partai Komunis Tiongkok (PKT), serta orang-orang yang mendukung, membela, atau bekerja untuk kepentingan PKT. Saat itu dikatakan bahwa banyak orang, termasuk yang muda, telah meninggal dunia.

Dalam artikelnya berjudul “Rasional”, Guru Li mengungkapkan cara menghindari bencana:
“Jauhi Partai Komunis Tiongkok yang jahat, jangan berpihak pada mereka, karena di baliknya ada setan merah. Tindakannya seperti preman, dan mereka telah melakukan kejahatan tanpa batas. Tuhan sedang mulai melenyapkan mereka. Siapa pun yang berpihak pada mereka akan disingkirkan.” (Hui/asr)

Laporan oleh Tang Rui, New Tang Dynasty Television

Malam Nyala Lilin di Washington Menuntut Partai Komunis Tiongkok Menghentikan Penganiayaan Terhadap Falun Gong

EtIndonesia — Cahaya lembut dari lilin berkelap-kelip dihembus angin malam di National Mall pada Kamis (17/7/2025) malam dalam rangka mengenang para praktisi Falun Gong yang terbunuh di daratan Tiongkok.

Tahun ini, para peserta juga menyerukan penghentian ekspor penindasan partai Komunis Tiongkok  ke luar negeri. 

Falun Gong, yang juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah suatu sistem kepercayaan yang berlandaskan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar, serta melibatkan serangkaian latihan meditasi.

Sebelum Partai Komunis Tiongkok (PKT) mulai menangkap para praktisi Falun Gong di seluruh Tiongkok pada 20 Juli 1999, pihak berwenang memuji latihan ini karena manfaat kesehatannya yang positif dan kontribusinya dalam meningkatkan moral masyarakat dengan membimbing praktisinya menjadi orang yang lebih baik.

Pada 17 Juli 2025 malam, sekitar 1.500 praktisi Falun Gong mengadakan acara nyala lilin di National Mall di Washington, DC, ibu kota Amerika Serikat, untuk mengenang para praktisi Falun Gong yang telah meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok sejak penganiayaan dimulai pada 20 Juli 1999. Sebuah latihan berskala besar diadakan sebelum acara tersebut. (Dai Bing/Epoch Times)

Sejak diperkenalkan pada awal 1990-an, latihan ini berkembang pesat di Tiongkok, dengan perkiraan 70 hingga 100 juta orang telah mempelajarinya pada tahun 1999. Namun, popularitas ini dianggap sebagai ancaman oleh Partai, yang kemudian meluncurkan kampanye besar-besaran untuk memberantas kelompok keyakinan ini—penganiayaan yang masih berlangsung hingga kini.

Renungan malam dengan cahaya lilin pertama kali digelar di Washington di depan Kedutaan Besar Tiongkok pada Oktober 1999, tak lama setelah kabar kematian pertama akibat penganiayaan tersebut dikonfirmasi di Amerika Serikat. Namanya Cheng Ying, seorang pelajar di Tiongkok timur laut. Ia berusia 17 tahun ketika tewas dalam tahanan polisi pada Agustus 1999, menurut Minghui.org, sebuah situs yang didedikasikan untuk memantau penganiayaan terhadap Falun Gong di Tiongkok.

Dai Zhizhen pada acara peringatan dengan menyalakan lilin untuk mengenang praktisi Falun Gong yang dianiaya hingga meninggal oleh Partai Komunis Tiongkok di Washington pada 17 Juli 2025. Samira Bouaou/The Epoch Times

Chen Chengyong, suami dari Dai Zhizhen, adalah korban lain dari penganiayaan tersebut yang meninggal dunia pada 2001. Tanggal pasti kematiannya masih belum diketahui. Jenazahnya ditemukan di sebuah gubuk di pinggiran kota Guangzhou, Tiongkok selatan, pada  Juli dan sudah mulai membusuk.

Berkat bantuan pemerintah Australia, Dai, yang merupakan warga negara Australia, akhirnya mendapatkan abu jenazah suaminya kembali di Sydney pada Maret 2002, delapan bulan kemudian.

Dai, yang kini berusia 62 tahun, tersedak menahan emosi saat mengenang kematian suaminya. Ia mengatakan bahwa suaminya adalah salah satu dari banyak orang yang dianiaya secara brutal.

“Setiap tahun dalam doa malam ini, kami menyerukan hati nurani dan kebaikan yang tertanam di lubuk hati setiap manusia,” kata Dai kepada The Epoch Times. “Kebaikan yang tertanam sejak manusia diciptakan.”

Dengan semangat yang sama, antara tahun 2002 hingga 2005, Dai melakukan perjalanan ke 46 negara untuk menceritakan kisah Chen dan para praktisi lainnya guna meningkatkan kesadaran akan penganiayaan di Tiongkok.

Ketika Chen meninggal, putri mereka, Chen Fadu, baru berusia 15 bulan. Kini, ia bekerja di Feitian Academy of the Arts setelah pensiun sebagai penari dari Shen Yun Performing Arts, sebuah kelompok seni pertunjukan yang didirikan oleh para praktisi Falun Gong pada 2006 untuk menampilkan kebudayaan Tiongkok tradisional sebelum komunisme menguasai negara tersebut.

Dai sangat prihatin bahwa PKT sedang mendorong gelombang baru penganiayaan terhadap Falun Gong di Amerika Serikat.

Dalam laporan eksklusif tahun lalu, The Epoch Times mengungkap bahwa pada Oktober 2022, pemimpin partai komunis Tiongkok Xi Jinping secara pribadi memerintahkan operasi keamanan, spionase, dan pengaruh Tiongkok untuk menargetkan para praktisi Falun Gong di Amerika Serikat melalui perang hukum dan opini publik.

Penindasan transnasional oleh rezim Tiongkok pun meningkat. Selama setahun terakhir, berbagai media Barat, yang dipelopori oleh The New York Times, menerbitkan sejumlah besar artikel yang menyerang para praktisi Falun Gong. Shen Yun juga menerima beberapa ancaman bom sebelum pertunjukannya di berbagai penjuru dunia selama musim tur terbarunya.

Sebagai ibu dari mantan penari Shen Yun, Dai ingin membagikan kisah putrinya untuk membantu membela reputasi Shen Yun.

Praktisi Falun Gong berpartisipasi dalam acara menyalakan lilin untuk mengenang praktisi Falun Gong yang dianiaya hingga meninggal oleh Partai Komunis Tiongkok di Washington pada 17 Juli 2025. Madalina Kilroy/The Epoch Times

“Kami tidak punya pilihan selain melawan penganiayaan,” katanya, merujuk pada penindasan yang menyeluruh di seluruh lapisan masyarakat di Tiongkok.

Meskipun Fadu kehilangan ayahnya karena ketidakadilan dan dibesarkan hanya oleh ibunya, Dai mengatakan bahwa Fadu tidak membiarkan hal itu memengaruhi pikirannya. Sebaliknya, gadis kecil itu tumbuh menjadi “pribadi yang dewasa, rasional, dan penuh kasih.” Yang lebih penting lagi, menurut sang ibu dengan bangga, Fadu menjadi lebih berempati terhadap orang lain melalui penderitaan yang dialaminya sendiri.

Praktisi Falun Gong berlatih gerakan sebelum acara menyalakan lilin untuk mengenang praktisi Falun Gong yang dianiaya hingga meninggal oleh Partai Komunis Tiongkok di Washington pada 17 Juli 2025. Samira Bouaou/The Epoch Times

Titik Balik

Wen Ying, seorang praktisi Falun Gong berusia 62 tahun, dibebaskan dari penjara setelah tujuh tahun dipenjara di Tiongkok pada tahun 2023. Ia juga hadir dalam acara doa malam di Washington.

Wen menggambarkan 20 Juli 1999 sebagai hari yang “gelap” dan “titik balik” dalam hidupnya. Ia tahu risiko yang dihadapinya: kehilangan pekerjaan di perusahaan milik negara di Tiongkok timur laut bahkan kemungkinan ditahan dan dipenjara.

Wen Ying pada acara peringatan dengan menyalakan lilin untuk mengenang praktisi Falun Gong yang dianiaya hingga meninggal oleh Partai Komunis Tiongkok di Washington pada 17 Juli 2025. Samira Bouaou/The Epoch Times

“Sejati, Baik, dan Sabar adalah keyakinanku. Aku merasa harus hidup dengan martabat dan terus berjalan di jalan menjadi orang baik, apa pun kebijakan rezim Tiongkok saat itu,” kata Wen kepada The Epoch Times.

“Guru saya mengajarkan saya untuk menjadi orang baik. Saya juga ingin menjadi orang baik. Maka, ketika beliau difitnah, bagaimana mungkin saya tidak membelanya?” katanya, merujuk pada pendiri latihan spiritual ini, Master Li Hongzhi.

Praktisi Falun Gong menjelang acara peringatan dengan menyalakan lilin untuk mengenang praktisi Falun Gong yang dianiaya hingga meninggal oleh Partai Komunis Tiongkok di Washington pada 17 Juli 2025. Madalina Kilroy/The Epoch Times

Begitu banyak nyawa di Tiongkok yang telah hilang akibat penganiayaan rezim Tiongkok, ujar Wen. Selain itu, penindasan ini tidak hanya menargetkan individu dan keluarga, tetapi juga seluruh masyarakat.

Menurutnya, menganiaya nilai-nilai Sejati, Baik, dan Sabar sama saja dengan menghancurkan fondasi moral umat manusia.

“Peradaban kita akan punah jika kita kehilangan dasar moralitas kita,” katanya.

Pada 17 Juli 2025 malam, sekitar 1.500 praktisi Falun Gong mengadakan acara nyala lilin di National Mall di Washington, DC, ibu kota Amerika Serikat, untuk mengenang praktisi Falun Gong yang telah meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok sejak penganiayaan dimulai pada 20 Juli 1999. (Dai Bing/Epoch Times)

Wen menyerukan kepada semua orang yang berhati baik untuk mengakhiri penganiayaan di Tiongkok dan penindasan transnasional rezim tersebut di Amerika Serikat.

“Saya percaya bahwa kebaikan akan menang.” (asr)

Sumber ; Theepochtimes.com

Semakin Banyak Anak yang Menderita Penyakit Hati Kosong, Efeknya Lebih Serius daripada Depresi, Namun Orangtua Tidak Menyadarinya

EtIndonesia. Sebagai informasi singkat, empty heart disease atau penyakit hati kosong. Meskipun melibatkan istilah heart atau hati atau jantung, penyakit ini rupanya tidak ada kaitannya dengan organ tubuh. Penyakit ini merupakan penyakit yang menyerang mental penderitanya. Empty heart disease adalah kondisi yang cenderung muncul pada anak muda yang sangat menuntut diri sendiri. Tekanan akademik dan pekerjaan, ditambah dengan kurangnya perasaan eksistensial membawa mereka ke situasi penderitaan dan kesedihan yang luar biasa.

Empty heart disease dipicu oleh tekanan yang tinggi, baik dari diri mereka sendiri maupun lingkungan, kurangnya makna esensial, perasaan putus asa, serta masih banyak lagi. Usia penderita penyakit ini tergolong muda belia, berusia antara 17 dan 24 tahun.

Empty Heart Disease: Ketika Anak Terlihat Bahagia, Tapi Jiwanya Kosong

Di tengah kemajuan zaman dan tuntutan hidup yang makin tinggi, muncul fenomena psikologis baru yang diam-diam menggerogoti jiwa banyak remaja dan mahasiswa: penyakit hati kosong, atau dalam istilah psikologi modern disebut Empty Heart Disease.

Meskipun namanya menyebut “hati” atau “jantung”, penyakit ini bukan gangguan fisik, melainkan penyakit mental yang menyerang banyak anak muda usia 17–24 tahun—mereka yang tampak baik-baik saja, namun di dalamnya hampa dan kehilangan makna hidup.

Apa Itu Empty Heart Disease?

Fenomena ini pertama kali dikemukakan oleh Xu Kaiwen, pakar kesehatan mental dari Universitas Peking. Dia menyebut bahwa Empty Heart Disease muncul karena kekosongan nilai hidup dan pendidikan yang hanya mengejar prestasi, bukan makna.

Penderitanya sering kali:

·        Terlihat bahagia, padahal batinnya menangis.

·        Terlihat aktif dan sibuk, padahal merasa hidupnya tak berarti.

·        Tampak kuat di luar, tapi rapuh di dalam.

·        Punya prestasi akademik, tapi hilang arah dan tidak tahu untuk apa ia hidup.

Yang membuatnya berbahaya adalah karena gejalanya sangat tersembunyi. Bahkan lebih licin daripada depresi, karena para penderitanya sering menutupi rasa sakit mereka dengan senyum atau aktivitas yang padat.

Kisah Nyata: Ketika Prestasi Tidak Bisa Menyelamatkan Jiwa

Yingzi, seorang mahasiswi di universitas top Tiongkok, pertama kali mengenal istilah empty heart disease saat duduk di bangku kuliah. Dia langsung tersentak: semua gejala itu cocok dengannya.

Selama SMP dan SMA, Yingzi adalah murid teladan. Rangking 10 besar? Sudah biasa. Ikut ujian mandiri sekolah unggulan? Lewat semua. Tapi di balik semua itu, setiap malam dia menangis diam-diam di bawah selimut, merasa sesak seperti dihimpit batu besar di dada.

“Untuk apa aku hidup?” pertanyaan itu menghantuinya berkali-kali.

Setelah diterima di universitas impian, anehnya dia justru kehilangan motivasi. Targetnya tercapai, tapi jiwanya kosong. Dia mulai meragukan eksistensinya sendiri.

Untungnya, melalui kegiatan kampus, membaca buku filsafat eksistensial seperti Camus dan Sartre, dan berinteraksi dengan orang-orang baru yang menyenangkan, Yingzi perlahan menemukan kembali secercah makna hidup.

Dia menyadari: yang dia alami bukan depresi, tapi empty heart disease.

Apa Bedanya dengan Depresi?

DepresiEmpty Heart Disease
– Gangguan suasana hati (mood disorder)Kekosongan eksistensial dan nilai hidup
Bisa diobati dengan obat dan terapiTidak bisa disembuhkan dengan obat
Terlihat murung, putus asaTerlihat ceria dan baik-baik saja
Lebih mudah terdeteksiSangat tersembunyi dan sulit dikenali

Banyak orangtua tidak sadar bahwa anak mereka sedang sakit secara mental—karena dari luar semuanya tampak sempurna: nilainya bagus, tidak membangkang, tidak berulah.

Namun justru anak-anak yang “terlalu penurut” inilah yang paling rentan terhadap penyakit ini.

Gejala yang Perlu Diwaspadai:

·        Sering merasa hampa meski punya banyak aktivitas.

·        Merasa hidup tidak bermakna, semua terasa sia-sia.

·        Tidak tahu apa yang benar-benar diinginkan dalam hidup.

·        Tidak punya motivasi, tapi tetap berusaha “tampak baik”.

·        Terlintas pikiran mengakhiri hidup, meski tidak menunjukkannya.

Apa yang Bisa Dilakukan Orangtua?

1. Perhatikan kesehatan mental anak, bukan hanya nilainya

Kalimat seperti “Tugas kamu hanya belajar!” atau “Sudah enak hidup, masih ngeluh?” justru mematikan ekspresi emosi anak. Anak jadi merasa hanya berguna jika berprestasi.

Padahal, anak juga butuh didengarkan:  “Bagaimana perasaanmu hari ini?” lebih penting daripada “Dapat nilai berapa hari ini?”

2. Kurangi tekanan dan ekspektasi yang berlebihan

Banyak orangtua secara tidak sadar menitipkan ambisi pribadi pada anak—mereka ingin anak melanjutkan mimpi yang dulu gagal mereka wujudkan.

Namun anak bukanlah alat pelampiasan harapan. Dia adalah pribadi utuh yang juga ingin hidup atas pilihannya sendiri.

3. Bantu anak menemukan tujuan hidupnya sendiri

Orangtua adalah fasilitator, bukan penentu arah hidup anak. Biarkan mereka mencari, mencoba, gagal, lalu bangkit. Dorong anak membuat rencana kecil dan rayakan setiap keberhasilannya, sekecil apa pun.

Tujuan yang dibangun sendiri jauh lebih bermakna daripada yang dipaksakan.

Penutup: Jangan Tunggu Terlambat

Empty Heart Disease adalah alarm keras bagi dunia pendidikan dan parenting hari ini.

Anak-anak bukan “generasi lemah” seperti yang sering dituduhkan. Mereka hanya lelah menjadi sempurna, tapi tak berani bilang lelah. Mereka hanya ingin dicintai sebagai manusia—bukan sebagai mesin pencetak nilai.

Saat orangtua mau membuka hati dan mendengar dengan empati, saat itulah jiwa-jiwa kosong mulai terisi kembali. (jhn/yn)

Resep Mendidik Anak: Mulailah dengan Gula, Lalu Tambahkan Garam, Kemudian Kalsium!

EtIndonesia. Apa resep terbaik untuk membesarkan anak yang kuat, mandiri, dan berhati hangat?

Kepala Sekolah SD Tsinghua, Dou Guimei, punya jawaban yang sederhana tapi mengena: “Pertumbuhan seorang anak butuh tiga hal: gula, garam, dan kalsium.”

·        Gula adalah cinta dan pujian.

·        Garam adalah rasa pahit kehidupan dan kemampuan menghadapi kenyataan.

·        Kalsium adalah kekuatan untuk berdiri sendiri, menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri.

Jika pendidikan keluarga adalah seperti sup yang direbus lama di atas api, maka gula, garam, dan kalsium inilah bumbunya—dan tidak ada satu pun yang boleh absen.

Langkah Pertama: Berikan Gula — Cinta yang Manis Membentuk Hati Anak

Dalam psikologi, “gula” adalah perlambang cinta dan dukungan emosional.

Setiap anak lahir dengan naluri mencari kehangatan. Mereka tidak hanya butuh makanan, tetapi juga dipuji, disayang, dan diapresiasi. Bahkan sedikit kata-kata manis bisa menjadi energi besar bagi hati kecil yang sedang bertumbuh.

Ada sebuah kisah nyata yang begitu menyentuh:

Seorang ibu menghadiri rapat orangtua murid TK untuk pertama kalinya. 

Sang guru berkata: “Anak ibu hiperaktif, duduk tiga menit saja tidak bisa.”

Tapi pulang ke rumah, sang ibu berkata pada anaknya: “Guru memuji kamu loh! Katanya dulu kamu tak bisa duduk satu menit, sekarang sudah bisa tiga menit! Hebat!

Malam itu, anaknya makan dua piring nasi. Untuk pertama kalinya—tanpa disuapi.

Dari TK sampai SMA, setiap kali rapat orangtua diwarnai kritik guru, ibu itu selalu memutar ulang narasi dengan penuh cinta dan harapan.

Dan akhirnya, anak itu lulus dan diterima di Universitas Tsinghua. 

Saat itu dia menangis dan berkata: “Mama, aku tahu aku tidak pintar… tapi hanya mama yang bisa melihatku dengan mata yang penuh cinta.”

Komentar:  Anak tidak butuh orangtua yang sempurna. Mereka hanya butuh orangtua yang percaya pada mereka, bahkan ketika dunia tidak percaya.

Langkah Kedua: Tambahkan Garam — Ajar Anak Hadapi Hidup yang Tak Selalu Manis

Tidak ada kehidupan yang sepenuhnya manis. Maka pendidikan pun harus mengandung “rasa asin”—pahitnya perjuangan, dinginnya malam, kerasnya kenyataan.

Kisah ini pernah viral:

Di tengah dinginnya malam musim dingin di Qingdao, seorang anak kecil menunduk di atas tong sampah, serius mengerjakan PR.

Dia membantu ibunya berjualan ubi bakar. Sementara ibunya melayani pelanggan, dia belajar di pinggir jalan—tanpa meja, tanpa kenyamanan.

Anak ini lahir dari keluarga sederhana. Tapi kesulitan justru membuatnya matang dan bersinar.

Psikolog asal Amerika, Land Newman, pernah mengatakan: “Mereka yang masa kecilnya terlalu bahagia, seringkali kesulitan menjalani masa dewasa.”

Dan data di Tiongkok menyebutkan, sekitar 25 juta remaja mengalami tekanan psikologis berat, dan ratusan ribu menyerah karena tak mampu menanggung luka batin.

Artinya: Jika kita terlalu mensterilkan anak dari rasa sakit, kita justru sedang melemahkannya. Lebih baik anak belajar jatuh dari sepeda saat kecil, daripada terjatuh di kehidupan orang dewasa tanpa tahu bagaimana bangkit.

Langkah Ketiga: Tambahkan Kalsium — Agar Anak Bisa Berdiri Tegak Sendiri

Ada satu prinsip emas dalam pendidikan anak: “Cinta sejati dari orangtua adalah melepaskan anak sejak dini sebagai pribadi yang mandiri.”

Tanpa “kalsium”, tulang tidak kuat. Tanpa latihan hidup mandiri, anak akan tumbuh besar secara usia—tapi tetap bayi dalam jiwanya.

Contohnya? Seorang pria 29 tahun, lulus kuliah tapi tak pernah bekerja, hidup dari uang orangtua, bahkan bawa pacar tinggal di rumah.
 

Saat ditegur, dia berkata: “Orangtua wajib menafkahi saya, sampai kapan pun.”

Kasus ini bahkan sampai ke meja pengadilan—karena orangtua ingin secara hukum mengusir anaknya.

Rupanya sejak kecil, setiap masalah anak itu selalu diselesaikan orangtua:

  •  Tak mau jadi ketua kelas, ibunya bicara ke guru.
    –  Tak mau tinggal di asrama, ibunya suruh pulang.
    – Lelah bekerja, ayahnya bantu urus resign.

Akhirnya, lahirlah “anak besar yang tidak pernah tumbuh”.

Bandingkan dengan seorang gadis kecil 10 tahun asal Zhejiang: Setiap hari pulang sekolah sendiri, belanja di pasar, masak untuk orangtuanya. Tubuhnya kecil, tapi keterampilannya besar—karena dilatih dan dipercaya.

Kalimat favoritnya?

“Biar aku coba. Aku pasti bisa.”

Kemandirian bukan datang tiba-tiba, tapi dibentuk oleh orang tua yang bersedia mundur satu langkah, dan membiarkan anak “berusaha sendiri di bawah pengawasan penuh kasih.”

Kesimpulan: Didiklah Anak Seperti Merebus Sup—Gula, Garam, dan Kalsium Harus Seimbang

·        Gula membuat anak hangat dan penuh percaya diri.

·        Garam membuat anak tahan banting dan tak mudah hancur saat gagal.

·        Kalsium membuat anak berdiri tegak tanpa bergantung.

Jika kita sebagai orang tua mampu menyeimbangkan ketiganya, maka anak-anak kita akan tumbuh menjadi pribadi yang utuh: Punya hati yang lembut, nyali yang kuat, dan tulang punggung yang kokoh. (jhn/yn)

Tingkat Kelahiran di Shanghai Mencapai Titik Rerendah,  Tren Tidak Menikah dan Memiliki Anak Menyebabkan “Krisis Generasi”

Jumlah kelahiran di Tiongkok terus menurun selama beberapa tahun berturut-turut. Tingkat kelahiran di Shanghai kini anjlok menjadi salah satu yang terendah di dunia, sementara masalah penuaan penduduk semakin parah. Para ahli menilai, berbagai faktor yang saling bertumpuk telah meningkatkan risiko krisis “putus generasi” di kota tersebut.

EtIndonesia. Pada  2023 saja, angka fertilitas total di Shanghai hanya 0,6, menjadikannya salah satu yang terendah secara global. Ini berarti tingkat kelahiran di Shanghai bahkan tidak mencapai sepertiga dari tingkat minimum yang dibutuhkan untuk mempertahankan regenerasi populasi.

Meskipun pada tahun 2024 sedikit meningkat menjadi 0,72, angka ini tetap jauh di bawah ambang batas internasional 2,1 yang dianggap perlu untuk mempertahankan tingkat populasi. Dengan demikian, Shanghai tetap berada di level terendah secara global.

Para ahli menyebut bahwa tingkat kelahiran di Shanghai telah memasuki tahap krisis generasi.

: “Pendorong utama dari rendahnya tingkat kelahiran di Shanghai adalah tekanan ekonomi. Perubahan pandangan generasi muda terhadap pernikahan dan memiliki anak, ditambah dengan perubahan struktur sosial yang mendalam serta tingkat penuaan yang tinggi—semua faktor ini saling berpengaruh dan memperparah risiko krisis putus generasi,” ujar Sun Guoxiang, profesor di Departemen Urusan Internasional dan Bisnis Universitas Nanhua, Taiwan. 

Kondisi kependudukan di Shanghai hanyalah cerminan dari situasi yang lebih luas di Tiongkok. Sejak tahun 2020, tingkat kelahiran nasional terus berada di bawah ambang batas waspada internasional 1,5, dan diperkirakan telah jatuh ke dalam perangkap fertilitas rendah.

 “Singkatnya, tingkat kelahiran yang rendah dalam jangka panjang di Tiongkok akan mempercepat penuaan populasi, menyebabkan kekurangan tenaga kerja, memperlambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan tekanan sistem pensiun, mengecilkan pasar, serta menyebabkan perubahan mendalam pada struktur sosial dan budaya lokal,” tambah Sun Guoxiang. 

Menurut Statistik Tiongkok Tahun 2024, hingga akhir tahun 2023, jumlah penduduk berusia 65 tahun ke atas di Tiongkok telah melebihi 216 juta orang, atau 15,4% dari total populasi. Rasio ketergantungan lansia mencapai 22,5%, yang berarti setiap 4,4 pekerja harus menopang 1 lansia.

 “Menurut saya, salah satu faktor utama adalah kebijakan satu anak yang dijalankan secara represif oleh Partai Komunis Tiongkok selama lebih dari 30 tahun. Ini mempercepat penuaan penduduk, bahkan menyebabkan penuaan ekstrem,” ujar Ai Shicheng, mantan pendiri NPO di Shenzhen dan redaktur media.

“Bila proporsi lansia mencapai 40–50% atau lebih, siapa yang akan menanggung biaya pensiun? Terlebih lagi, dalam kondisi penuaan ekstrem, banyak lansia kehilangan kemampuan merawat diri dan tidak bisa bergerak. Siapa yang akan merawat mereka? Ini adalah masalah yang sangat serius,” pungkasnya. (Hui/asr)

Laporan oleh wartawan NTD, Li Yun dan Qiu Yue

Perang Harga Layanan Antar Makanan Picu Gelombang Kebangkrutan di Industri Kuliner Tiongkok

Pasar layanan antar makanan di Tiongkok saat ini tengah mengalami perang harga yang sangat sengit. Perusahaan-perusahaan besar seperti JD.com, Meituan, dan Taobao menggelontorkan dana besar untuk memberikan subsidi demi merebut trafik (jumlah pesanan). Namun, beban dari subsidi ini justru ditanggung oleh para pelaku usaha kecil-menengah di sektor kuliner. Banyak pelaku industri makanan dan minuman mengeluhkan, “Kami hampir tidak bisa bertahan.”

EtIndonesia. JD.com memulai bisnis layanan antar makanannya pada bulan Februari tahun ini, menawarkan “bebas komisi sepanjang tahun” guna menarik banyak restoran untuk bergabung. Kemudian, pada 11 April, mereka meluncurkan program subsidi senilai 10 miliar yuan untuk setahun, yang membuat pesanan meningkat tajam.

Menanggapi hal ini, Meituan dan Taobao Flash Sale milik Alibaba juga mengumumkan program subsidi sebesar 50 miliar yuan, dan hingga akhir pekan lalu, mereka bahkan meningkatkan promosi dengan tawaran seperti “belanja nol yuan” dan “gratis pembelian”, untuk merebut pangsa pasar.

Namun, para pelaku usaha kecil-menengah justru harus menanggung sebagian beban subsidi. Selain itu, karena harga layanan antar lebih murah dibanding makan di tempat, pelanggan lebih memilih memesan antar makanan, yang menyebabkan penurunan drastis pengunjung dine-in dan menekan margin keuntungan, bahkan hingga mengalami kerugian.

 Li, seorang pemilik perusahaan kuliner di Shenzhen, menyatakan bahwa tahun ini industri kuliner menghadapi kesulitan yang belum pernah terjadi sebelumnya: dimulai dari perlambatan ekonomi, penurunan daya beli konsumen, dan kewajiban membayar pajak tambahan—setiap toko dikenakan minimal 20.000 yuan. Mulai Juli, perusahaan juga harus menanggung tambahan biaya 200 yuan per karyawan untuk jaminan sosial. Beberapa restoran miliknya akhirnya tutup dan berhenti beroperasi.

 “Setelah perang layanan antar makanan dimulai, dine-in jadi mati total. Saya sudah berhenti jualan bubble tea dan makanan cepat saji. Tahun ini, tidak ada bisnis untuk makan di tempat, dan layanan antar pun tidak menghasilkan. Pemeriksaan pajak di Shenzhen menargetkan beberapa merek besar. Ditambah tekanan dari merek besar dan inspeksi, benar-benar bikin bangkrut, tidak tertahankan,” katanya. 

Bu Wang, pemilik usaha kuliner di Guangdong, menyebutkan bahwa bergabung dengan platform layanan antar justru meningkatkan biaya karena harus memberikan komisi kepada platform. Pajak pun tidak bisa dihindari, sehingga harga makanan pasti akan naik. Hal ini bisa menyebabkan gelombang kebangkrutan restoran.

 “Tahun ini banyak pengusaha kuliner yang gagal bayar utang dan gulung tikar. Setelah perang antar platform, banyak toko fisik bangkrut. Sekarang karena platform terkoneksi dengan otoritas pajak, pajak yang sebelumnya bisa dihindari, kini tidak bisa lagi. Harga makanan juga naik, satu nasi kotak bisa jadi 15 yuan. Semakin banyak orang yang tidak mampu makan,” ujarnya. 

Bu Huang, pemilik usaha kuliner di Shandong, mengungkapkan bahwa permainan modal memaksa pelaku usaha untuk ikut terlibat dalam perang layanan antar makanan.

Beberapa toko yang sukses di layanan antar bahkan tidak memiliki gerai fisik. Toko fisik harus membayar sewa tinggi, dan setelah bergabung ke platform, mereka masih harus membayar komisi 20%–25%, yang membuat usaha nyaris tidak menghasilkan keuntungan.

“JD.com bakar uang 10 miliar yuan dan hanya mengundang restoran yang memiliki toko fisik untuk bergabung. Jika tidak ikut, pelanggan akan beralih ke JD. Jadi, perusahaan besar lain pun harus ikut terjun. Setiap akhir pekan mereka habis-habisan memberi subsidi, orang tidak pergi ke restoran, semuanya pesan makanan lewat aplikasi,” kata Ba Huang. 

Selain itu, Meituan mengumumkan peluncuran “Kantin Rakun” (Raccoon Cafeteria), dengan rencana investasi dalam 3 tahun ke depan untuk membangun 1.200 gerai di seluruh negeri, mencakup seluruh rantai industri makanan. Sejak diluncurkan sebagai proyek percontohan pada Desember tahun lalu, kini sudah ada 10 gerai yang beroperasi di Beijing, Hangzhou, dan kota lainnya, dengan lebih dari 100 mitra restoran bergabung.

 “Sebagian besar toko yang membayar sewa tinggi sekarang beralih ke layanan antar. Meituan mendirikan Kantin Rakun, memanfaatkan gedung-gedung kosong. Mau tidak mau, restoran kecil harus sewa tempat di sana. Tapi ini akan menghancurkan banyak toko fisik,” kata Li. (Hui/asr)

Laporan oleh wartawan NTD, Xiong Bin dan Chen Jianming

Psikologi: Anak yang Tidak Cukup Diperhatikan Ibu Sejak Kecil, Saat Dewasa Rentan Alami Tiga Masalah Kepribadian

EtIndonesia. Orang yang beruntung akan mengandalkan masa kecilnya untuk menyembuhkan seluruh hidupnya. Sementara yang kurang beruntung, harus menghabiskan seluruh hidupnya untuk menyembuhkan masa kecilnya.

Bagi para psikolog yang mendalami pendekatan psikoanalitik, khususnya mereka yang percaya pada penyembuhan dengan cara “menelusuri akar masalah”, kutipan ini mengandung kebenaran yang mendalam.

Dalam pendekatan ini, proses terapi berfokus pada menelusuri asal-usul luka batin—yakni pada masa kecil dan lingkungan keluarga tempat seseorang tumbuh—untuk menemukan akar dari masalah psikologis yang dialami saat ini. Tujuannya bukan hanya memahami, tapi juga menemukan “obat” yang sesuai secara psikologis.

Tentu saja, lingkungan keluarga bukan satu-satunya penentu kepribadian seseorang. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa keluarga, terutama dalam tahap awal kehidupan, memberi fondasi yang sangat kuat—positif maupun negatif—bagi pola dasar kepribadian seseorang.

Dan di antara semua figur penting dalam keluarga, ibu memiliki pengaruh yang luar biasa besar terhadap pembentukan karakter anak.

Jika sejak kecil seorang anak tidak mendapatkan perhatian atau pengasuhan yang cukup dari ibu, maka besar kemungkinan dia akan mengalami tiga jenis masalah kepribadian berikut saat dewasa:

1. Cenderung Mengalami Disosiasi (Dissociation)

Dalam teori psikologi hubungan antarobjek (Object Relations Theory), kegagalan ibu sebagai “cermin pertama” bagi anak akan berdampak pada pembentukan struktur diri yang cacat.

Sederhananya, jika seorang anak tidak dirawat dengan baik atau sering diabaikan oleh ibunya, maka akan sulit baginya untuk membentuk struktur kepribadian yang sehat dan utuh.

Dalam psikologi, ada konsep yang disebut “topeng kepribadian” (personality mask)—istilah penting dalam psikologi Carl Jung. Ini merujuk pada peran-peran sosial yang kita kenakan di berbagai situasi untuk menyesuaikan diri, namun sesungguhnya hanya mencerminkan sebagian kecil dari kepribadian sejati kita.

Sebuah riset dari Tavistock Clinic di Inggris menunjukkan bahwa sekitar 68% pasien yang pernah mengalami pengabaian oleh ibu menunjukkan kecenderungan disosiasi:

·        Mereka merasa terputus dari lingkungan sosial

·        Sulit menyadari kebutuhan batin sendiri

·        Cenderung mengembangkan banyak “topeng kepribadian palsu” (pseudo self) untuk menyenangkan orang lain.

Akibatnya, orang seperti ini terlihat “normal” di permukaan, tapi sesungguhnya tidak merasakan koneksi yang nyata dengan kehidupan atau dirinya sendiri. Ia tidak tahu siapa dirinya sebenarnya, dan kepribadiannya pun terasa kosong dan terpecah.

2. Mengalami Kecemasan Sosial (Social Anxiety)

Bagi seorang bayi, ibu adalah sosok pertama yang dia kenali dan menjadi pusat dari keterikatan emosionalnya. Naluri ibu pun biasanya mendorongnya untuk melindungi anak secara total di tahap awal kehidupan.

Namun jika proses keterikatan ini terganggu—baik karena pengabaian atau justru overprotektif, dampaknya akan terasa saat anak mulai memasuki usia sosial.

Jika seorang ibu terlalu mencampuri urusan anak, ini akan menghambat proses penting bernama subject separation (pemisahan identitas).

Akibatnya bisa muncul dua pola ekstrem:

1. Anak menjadi terlalu bergantung pada ibu (over-dependence)

o   Dia tumbuh menjadi “bayi raksasa” yang tak siap bersosialisasi

o   Sulit mandiri, gampang merasa cemas dan canggung dalam interaksi

2. Anak menolak semua bentuk campur tangan (avoidance)

o   Dia merasa tertekan jika terlalu dekat dengan ibu

o   Akhirnya memilih mengurung diri dan menolak bersosialisasi

Studi remaja dari Korea Selatan menunjukkan bahwa 67% siswa yang mengalami kecemasan sosial menyebutkan penyebab utamanya adalah intervensi ibu yang berlebihan selama masa tumbuh kembang.

Baik itu terlalu dikekang atau terlalu diabaikan, keduanya bisa memicu kecemasan sosial—sebuah masalah kepribadian yang umum namun sering tidak disadari akar dalamnya.

3. Kurangnya Kemampuan Berempati (Low Empathy)

Penelitian dari Autism Research Centre di Universitas Cambridge menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami pengabaian emosional di masa kecil:

·        Tertinggal hingga 11 bulan dalam tugas kognitif dan perkembangan moral dibandingkan anak seusianya

·        Cenderung melakukan kesalahan dalam memahami situasi sosial dan sering tidak menyadari bahwa mereka menyakiti orang lain

Masalahnya bukan karena mereka jahat, melainkan karena sistem empatinya tak terbentuk sempurna.

Dalam sudut pandang neurosains, hal ini berkaitan dengan sistem neuron cermin (mirror neuron system) dalam otak yang tidak aktif secara optimal.

Misalnya, saat mereka melihat seseorang sedang sedih atau marah, aktivitas otaknya—terutama di bagian gyrus inferior frontal dan lobulus parietalis inferior—menunjukkan intensitas sinyal yang 29% lebih rendah dibandingkan otak orang normal.

Akibatnya:

·        Mereka tidak merasakan empati dengan cara yang alami

·        Kalaupun mereka belajar bahwa “berempati itu penting”, itu hanya menjadi alat sosial, bukan dorongan tulus

Saat dewasa, orang seperti ini cenderung dingin, defensif, dan sulit memahami perasaan orang lain secara emosional—mereka bisa tampak logis, tapi hampa dalam rasa.

Kesimpulan: Terluka oleh Masa Lalu, Bukan Alasan untuk Menyerah

Tentu saja, tidak semua masalah kepribadian bisa disalahkan pada keluarga asal. Namun tak bisa disangkal juga bahwa peran ibu dalam membentuk fondasi emosional dan sosial anak sangat besar.

Seorang ibu yang hadir dengan kasih sayang, pengertian, dan kemampuan untuk membimbing anak secara bijak bisa menjadi pelabuhan yang menyelamatkan anak dari gelombang luka batin yang berkepanjangan.

Dan bagi mereka yang tumbuh dalam luka—jangan berkecil hati. Kita selalu punya ruang untuk sembuh, perlahan namun pasti.

Yang terpenting:

Milikilah keberanian untuk mencintai diri sendiri. Terimalah ketidaksempurnaan. Karena penyembuhan sejati dimulai dari penerimaan, bukan penyangkalan. (jhn/yn)

Gedung Putih: Perekonomian AS Mulai Pulih, Tarif Menghasilkan Pendapatan yang Sangat Besar

EtIndonesia. Gedung Putih menyatakan  sejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjabat, inflasi inti di Amerika Serikat tetap terkendali pada tingkat 2,1%. Bahkan pada  Juni, pemerintah AS mencatat surplus anggaran untuk pertama kalinya dalam hampir satu dekade. Penegakan hukum di perbatasan juga berhasil mencatatkan nol pembebasan imigran ilegal selama dua bulan berturut-turut. Jubir Gedung Putih Karoline Levitt dengan gembira menyatakan bahwa Amerika sedang memasuki “era keemasan”.

 “Sejak Presiden Trump menjabat, tingkat inflasi inti tetap di angka 2,1%, dan setiap bulannya konsisten atau lebih rendah dari prediksi para ekonom. Upah meningkat dengan cepat, sementara harga kebutuhan pokok menurun. Bulan lalu, harga mobil baru, mobil bekas, dan tiket pesawat turun. Dibandingkan tahun lalu, harga bensin, minyak bakar, produk energi, hotel, transportasi umum, dan sayuran segar juga mengalami penurunan,” ujarnya. 

Levitt juga menyebutkan bahwa sejak Trump menjabat, pendapatan dari tarif bea masuk telah melebihi 113 miliar dolar AS, yang membantu pemerintah mencatat surplus anggaran pada bulan Juni—untuk pertama kalinya dalam hampir sepuluh tahun.

 “Dengan kebijakan perdagangan ‘America First’ yang mendorong pertumbuhan ini, kita benar-benar sedang melangkah menuju era keemasan,” ujarnya. 

Baru-baru ini, Presiden Trump telah mengirim surat pemberitahuan tarif ke 25 negara, termasuk Kanada, Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, Afrika Selatan, Malaysia, dan lainnya. Levitt mengatakan bahwa negosiasi dengan Uni Eropa dan Kanada masih berlangsung. Namun, Kanada disebutnya “selalu sulit diajak berunding” dalam isu perdagangan, sementara sikap Uni Eropa “sangat positif”.

Levitt juga menyoroti pencapaian pemerintahan Trump dalam menangani isu perbatasan. Data terbaru dari Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan menunjukkan bahwa pada bulan Juni hanya ada 6.072 kasus penyeberangan ilegal, turun 15% dibandingkan rekor tertinggi pada bulan Maret tahun ini. Sebagai perbandingan, pada masa pemerintahan Biden, jumlah penyeberangan ilegal bisa melebihi 10.000 orang dalam sehari.

Levitt menambahkan:  “Yang lebih penting lagi, pada bulan Juni tidak ada satu pun imigran ilegal yang dibebaskan ke dalam wilayah AS dari perbatasan selatan. Ini adalah bulan kedua berturut-turut dengan nol pembebasan. Presiden Trump telah berjanji untuk mengatasi invasi imigrasi ilegal, dan sekarang janji itu sedang diwujudkan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

Selain itu, Presiden Trump baru-baru ini didiagnosis menderita “insufisiensi vena kronis”, yang menyebabkan pembengkakan ringan di kedua kakinya. Namun, Levitt menegaskan bahwa kondisi kesehatan Presiden tetap sangat baik, dan ia akan membagikan memo medis resmi kepada para wartawan. (Hui/asr)

Laporan oleh Zhang Qin, New Tang Dynasty Television

Tokoh Tionghoa Pro-Komunis di California Selatan Diduga Terlibat Jual Beli Anak Lewat Ibu Pengganti 21 Anak

Baru-baru ini, kota Arcadia—kota terkaya yang dihuni warga Tionghoa di California Selatan—diguncang oleh kasus dugaan kekerasan terhadap anak yang penuh kejanggalan. Setelah dilakukan penyelidikan oleh pihak kepolisian, ditemukan bahwa sebuah rumah mewah dihuni oleh 21 anak yang semuanya lahir dari ibu pengganti (surrogate) yang berbeda. Hak asuh seluruh anak tersebut dimiliki oleh seorang tokoh komunitas Tionghoa pro-komunis bernama Xuan Guojun, yang memicu kehebohan di masyarakat.

EtIndonesia. Dari Florida, Texas, hingga California, banyak ibu pengganti yang mengira mereka membantu sepasang suami istri mandul mewujudkan impian memiliki anak. Namun kenyataannya, semua anak itu dilahirkan untuk pasangan Tionghoa yang sama.

Kasus ini mencuat di sebuah rumah mewah senilai sekitar 4 juta dolar AS di Arcadia. Setelah laporan dugaan kekerasan bayi oleh pengasuh muncul, polisi mendatangi lokasi pada 7 Mei dan menemukan bahwa selain sepasang “suami istri” keturunan Tionghoa, terdapat 15 anak dan beberapa pengasuh di rumah tersebut. Para anak terlihat memiliki penampilan dan cara berpakaian yang serupa.

Hasil penyelidikan menunjukkan, terdapat 21 anak yang semuanya lahir dari ibu pengganti yang berbeda, dengan usia bervariasi dari 2 bulan hingga 13 tahun. Hak asuh hukum seluruh anak dimiliki oleh Xuan Guojun, ketua umum Kamar Dagang Xinjiang di AS sekaligus tokoh komunitas pro-Tiongkok, dan seorang wanita bernama Zhang Siwei (nama Inggris: Silvia Zhang, 38 tahun). 

Meskipun keduanya mengaku sebagai suami istri, petugas polisi Arcadia Kollin Cieadlo menyatakan bahwa tidak ditemukan dokumen yang membuktikan pernikahan mereka sah secara hukum. Sementara itu, pelaku utama dugaan kekerasan, pengasuh bernama Li Chunmei (56 tahun), masih buron hingga saat berita ini diturunkan.

Saat ini, ke-21 anak telah berada di bawah pengawasan Departemen Pelayanan Anak dan Keluarga (DCFS).

Penyelidikan awal menunjukkan bahwa anak-anak ini berasal dari agen surrogasi bernama “Mark Surrogacy”, yang dijalankan oleh Zhang Siwei dan Xuan Guojun dan kini sudah ditutup. Beberapa pengacara menduga kuat bahwa pasangan ini menjadi perantara surrogasi bagi warga Tiongkok.


“Ini seperti peran ‘perantara tangan kedua’, membantu orang tua dari Tiongkok atau pihak-pihak lain yang membutuhkan untuk mengasuh anak-anak ini, dan ketika anak-anak dianggap cukup umur atau cocok, mereka akan dibawa ke Tiongkok. Kemungkinannya sangat besar,” ujar pengacara imigrasi, Chen Chuanchuang. 

“Ini benar-benar hal yang menyedihkan. Sangat mungkin para orang kaya di Tiongkok bersedia mempercayakan anak mereka kepada perusahaan surrogasi ini karena latar belakang pro-komunis pemiliknya. Namun masyarakat Amerika arus utama tidak menyadari bahwa tokoh-tokoh pro-komunis di AS sebenarnya telah menjadi ancaman bagi keamanan nasional,” katanya. 

“Jika tuduhan ini terbukti, maka ini bisa menunjukkan kepada warga Amerika bahwa isu ini bukan sekadar perbedaan pandangan politik—pro atau anti-komunis—melainkan berkaitan dengan kepentingan besar yang dapat membahayakan keamanan nasional. Jika kewarganegaraan AS dapat dibeli lewat cara seperti ini, itu jelas merugikan keamanan negara,” ujarnya. 

Ketika wartawan mengunjungi lokasi, beberapa tetangga menyatakan keterkejutannya karena sebelumnya tidak pernah melihat ada anak-anak di rumah tersebut. Lingkungan sekitar selalu terlihat tenang.

Warga sekitar, Nyonya Gu, mengatakan:  “Rasanya tidak bisa dipercaya. Harus ada rasa hormat terhadap kehidupan. Ketika Anda diberi kesempatan untuk memiliki anak dan diberi tanggung jawab untuk melindungi kehidupan baru, Anda seharusnya lebih menghargainya. Tidak bisa semena-mena hanya karena hukum memberi Anda hak. Itu tidak bermoral dan tidak manusiawi.”

Selain kasus kekerasan anak yang sedang diselidiki, kini juga beredar informasi bahwa FBI sedang mengarahkan penyelidikan ke dugaan perdagangan manusia lintas negara. (Hui/asr)

Laporan oleh Stasiun NTD Los Angeles

PBB: Pemotongan Dana Kemanusiaan Ancam 11 Juta Pengungsi

EtIndonesia. Pemotongan besar-besaran anggaran kemanusiaan berisiko membuat lebih dari 11 juta pengungsi kehilangan bantuan yang sangat dibutuhkan, PBB memperingatkan pada hari Jumat (18/7).

Angka tersebut setara dengan sepertiga dari jumlah yang dicapai tahun lalu oleh badan pengungsi PBB, UNHCR.

Dalam sebuah laporan baru, badan tersebut menyoroti serangkaian faktor mematikan yang menghantam jutaan pengungsi dan orang terlantar di seluruh dunia: “meningkatnya pengungsian, menyusutnya pendanaan, dan ketidakpedulian politik”.

“Saat ini kita menghadapi situasi yang sangat sulit,” kata kepala hubungan eksternal UNHCR, Dominique Hyde, kepada para wartawan di Jenewa.

“Kami sangat prihatin terhadap pengungsi dan populasi terlantar di seluruh dunia.”

Pemotongan bantuan yang dramatis oleh Amerika Serikat dan negara-negara lain telah membuat UNHCR dan organisasi bantuan lainnya menghadapi kekurangan dana yang sangat besar.

UNHCR menyatakan membutuhkan 10,6 miliar dolar untuk membantu pengungsi dunia tahun ini, tetapi sejauh ini baru menerima 23 persen dari jumlah tersebut.

Akibatnya, badan tersebut menyatakan bahwa program-program penting senilai 1,4 miliar dolar dipotong atau ditunda.

Dampaknya, Hyde memperingatkan, berisiko menyebabkan “hingga 11,6 juta pengungsi dan orang-orang yang terpaksa mengungsi kehilangan akses ke bantuan kemanusiaan yang disediakan oleh UNHCR”.

Badan tersebut mengatakan keluarga-keluarga terpaksa memilih antara memberi makan anak-anak mereka, membeli obat-obatan, dan membayar sewa.

Malnutrisi sangat parah bagi para pengungsi yang melarikan diri dari Sudan yang dilanda perang, di mana PBB terpaksa mengurangi jatah makanan dan pemeriksaan gizi, ujarnya, seraya mengecam “dampak yang menghancurkan bagi anak-anak yang telah mengungsi ke Chad”.

Pemotongan dana tersebut juga memaksa UNHCR untuk menghentikan pergerakan pendatang baru dari daerah perbatasan ke lokasi yang lebih aman di Chad dan Sudan Selatan, “meninggalkan ribuan orang terlantar di lokasi-lokasi terpencil”, kata badan tersebut.

Layanan kesehatan dan pendidikan bagi pengungsi juga sedang dikurangi di seluruh dunia.

Di kamp-kamp di Bangladesh yang menampung hampir satu juta pengungsi Rohingya dari Myanmar, program pendidikan untuk sekitar 230.000 anak berisiko dihentikan.

UNHCR juga mengatakan seluruh program kesehatannya di Lebanon berisiko dihentikan pada akhir tahun.

Pendanaan untuk program bantuan bukan satu-satunya masalah.

Bulan lalu, UNHCR mengumumkan perlu memangkas 3.500 staf—hampir sepertiga dari total tenaga kerjanya di seluruh dunia—di tengah kekurangan anggaran. (jhn/yn)

Penelitian Ilmuwan Israel Ungkap: Tumbuhan Bisa “Berbicara” dan Serangga Bisa Memahaminya

Etindonesia. Apakah Anda percaya bahwa tumbuhan bisa “berbicara”? penelitian terbaru dari Universitas Tel Aviv, Israel, menemukan bahwa tumbuhan memang bisa “berbicara”, hanya saja suara mereka tidak bisa didengar oleh manusia—tetapi bisa didengar dengan jelas oleh serangga. Mari kita simak bersama.

Di laboratorium Universitas Tel Aviv, para peneliti memperlihatkan bagaimana serangga seperti ngengat dapat “berkomunikasi” dengan tumbuhan.

Peneliti menggunakan dua tanaman tomat untuk penelitian perbandingan: satu tanaman disiram secara normal dan berada dalam kondisi sehat, sementara yang lainnya kekurangan air. Tanaman tomat yang kekurangan air ternyata mengeluarkan suara “minta tolong”.

 “Kami menemukan bahwa tanaman yang berada dalam kondisi stres mengeluarkan suara klik ultrasonik—itulah suara mereka,’ ujar Rya Seltzer, doktor dari Fakultas Zoologi Universitas Tel Aviv. 

Rya Seltzer menambahkan:  “Menariknya, tanaman yang sehat tidak mengeluarkan suara-suara tersebut.”

Kemudian, peneliti membiarkan ngengat memilih tempat untuk bertelur.

“Dalam eksperimen ini, kami menyediakan dua tanaman—satu yang tenang, dan satu lagi yang mengeluarkan suara stres. Hasilnya menunjukkan bahwa ngengat lebih cenderung bertelur pada tanaman yang tenang, yang berarti mereka dapat mengenali mana tanaman yang lebih sehat,” tambah Rya Seltzer.

Suara-suara ini berada di luar jangkauan pendengaran manusia, namun bisa dideteksi oleh banyak jenis serangga dan mamalia tertentu seperti kelelawar.

Penelitian ini berpotensi membuka arah baru dalam pemantauan ekologi pertanian, misalnya dengan memanfaatkan gelombang suara untuk memantau kesehatan tanaman, atau bahkan untuk mengganggu perilaku hama. Studi ini juga menunjukkan bahwa alam sebenarnya penuh dengan “bahasa suara” yang kaya dan tersembunyi. (Hui/asr)

Laporan oleh reporter magang Ning Xiu, New Tang Dynasty Television

Darah Warga Sipil Tumpah di Ukraina Timur! Serangan Udara Rusia Picu Kemarahan Internasional

  • Pada Rabu (16 Juli), Rusia melancarkan serangan udara ke kota Dobropillia, Ukraina. Sebuah bom menghantam langsung pusat perbelanjaan, menewaskan sedikitnya 4 orang dan melukai 27 lainnya. 
  • Gelombang kejut dari ledakan itu merusak bangunan-bangunan di sekitarnya. 
  • Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengecam keras aksi militer Rusia sebagai tindakan pembantaian yang sama sekali tidak memiliki logika militer. 
  • Pada hari yang sama, Inggris dan Jerman menandatangani perjanjian pertahanan bilateral untuk memperkuat dukungan terhadap Ukraina.

EtIndonesia. Puing-puing ledakan berserakan di seluruh permukaan jalan. Para petugas penyelamat bergegas mengangkat para korban luka ke dalam ambulans. Rabu sore, sebuah bom FAB-500 buatan Rusia menghantam pusat perbelanjaan di kota kecil Dobropillia, Ukraina timur, menewaskan setidaknya 4 orang dan melukai 27 lainnya. 

Ledakan besar tersebut menyebabkan puluhan bangunan di sekitarnya mengalami berbagai tingkat kerusakan.

 “Ini adalah serangan udara dengan daya ledak yang sangat besar. Lantai dua ambruk dan menimpa lantai dasar,” ujar Kepala Kepolisian Nasional wilayah Donetsk, Osypenko. 

Dobropillia terletak di barat laut kota strategis Pokrovsk. Daerah ini merupakan titik penting yang selama berbulan-bulan menjadi sasaran upaya perlahan Rusia untuk bergerak ke arah barat.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan dengan marah bahwa Ukraina akan memberikan respons atas serangan tersebut.

Zelenskyy berkata:  “Ini adalah aksi teror Rusia yang mengerikan dan bodoh. Serangan mereka tidak punya logika militer, hanya bertujuan untuk merenggut nyawa sebanyak mungkin. Kami akan memberikan respons.”

Sebelumnya, beberapa media melaporkan bahwa mantan Presiden AS Donald Trump pernah secara pribadi mendorong Zelenskyy untuk menyerang Moskow. Namun, Trump belakangan membantah laporan tersebut.

Wartawan bertanya: “Haruskah Zelenskyy mengambil tindakan yang lebih keras?”
Trump menjawab: “Tarif dan sanksi terhadap Rusia akan terus diberlakukan.”

Wartawan bertanya lagi: “Haruskah Zelenskyy menargetkan Moskow atau menyerang Rusia lebih dalam?”
Trump menjawab: “Tidak, dia tidak seharusnya menjadikan Moskow sebagai target.”

Zelenskyy berharap dapat segera meningkatkan proporsi senjata buatan dalam negeri dari 40% menjadi 50%. Di saat yang sama, ia terus mendorong kerja sama produksi militer bersama dengan sekutu Barat, khususnya di bidang produksi drone dan pembangunan sistem pertahanan udara.

Pada Kamis (17 Juli), Inggris dan Jerman menandatangani perjanjian bilateral bersejarah, dengan komitmen memperdalam hubungan pertahanan, termasuk pengembangan bersama senjata serang jarak jauh. Kanselir Jerman Merz menekankan pentingnya dukungan pertahanan udara dan kekuatan serangan jarak jauh bagi Ukraina.

Merz berkata:  “Ukraina akan segera menerima dukungan tambahan besar dalam bidang ini, termasuk melalui kemitraan industri yang kami bangun bersama Ukraina.”

Saat ini, Amerika Serikat berkomitmen untuk menyediakan senjata canggih bagi Ukraina, sementara pendanaan ditanggung oleh mitra Eropa. Kanselir Merz menyatakan bahwa Jerman berharap dapat memberikan kontribusi penting dalam hal ini. (Hui/asr)

Laporan oleh Yi Jing, New Tang Dynasty Television

Mengapa Kita Harus Menikah? Inilah Jawaban Terbaik yang Pernah Saya Dengar

EtIndonesia. Hidup ini lumayan panjang, dan jika ada seseorang yang benar-benar memahami dan mendampingi kita menapaki setiap langkah kehidupan, mungkin itulah makna sejati dari pernikahan.

Kenapa kita harus menikah?

Itu adalah pertanyaan yang pernah—atau bahkan masih—kita tanyakan kepada diri sendiri, baik kita sudah menikah atau belum.

Yang sudah menikah, memandang pernikahan yang penuh lika-liku dan bertanya-tanya: apakah ini layak diperjuangkan?

Yang belum menikah, takut dan ragu, mendengar kisah-kisah pernikahan yang gagal, menonton drama, film, video viral, bahkan kisah nyata seperti ibu muda yang mengurus tiga anak di kamar kontrakan kecil—semuanya membuat pernikahan tampak seperti film horor level tinggi.

Tak heran, ketakutan terhadap pernikahan (fear of marriage) sempat menjadi isu yang viral di media sosial.

Tapi… di tengah semua itu, kenapa orangtua kita tetap bersikeras menyuruh kita menikah?

Apa sebenarnya makna dari pernikahan?

Seseorang pernah memberikan jawaban sempurna:

“Pernikahan bukan tentang saling membebani, tapi tentang saling menguatkan. Saat masalah datang, ada tempat untuk berunding. Saat lelah, ada bahu untuk bersandar. Saat pulang kerja, ada yang menyambut di meja makan. Saat tersakiti di luar, ada pelukan hangat di rumah. Aku mengemudi, kamu duduk di kursi penumpang. Kita dengarkan lagu kesukaan, belanja bersama, pulang bawa kantong belanja dan senyuman. Hidup ini panjang, dan kalau ada seseorang yang bisa menemani sampai akhir, mungkin inilah alasan kenapa kita menikah.”

Pernikahan yang Baik: Tentang Kebersamaan yang Tulus

Saya tidak tahu bagaimana dengan kalian, tapi saya selalu merasa haru saat melihat pasangan lanjut usia—yang masih menggandeng tangan ke pasar, berjalan bersama di taman, tertawa satu sama lain meski rambut telah memutih.

Mungkin ada yang berkata: “Dulu pernikahan mereka itu karena dijodohkan, mana ada cinta?”

Tapi kenyataannya, banyak dari mereka justru saling menjaga hingga akhir hayat.  Bukan karena tradisi—tapi karena keterikatan batin yang dalam.

Pernah suatu kali saya menonton video TikTok:

Seorang cucu membawa nenek dan kakeknya—yang berusia 100 dan 98 tahun—untuk cek kesehatan. 

Saat akan diambil darah, sang kakek melihat jarum suntik dan berkata pelan : “Aku takut.”

Sang nenek langsung menoleh dan berkata ke perawat: “Tunggu sebentar ya. Suamiku takut jarum, dia belum pernah disuntik.”

Lalu dia menutup mata sang kakek dengan lembut agar tak melihat jarum.

Kalimat yang terlintas di benak saya adalah: “Jika sudah menjanjikan cinta, maka habiskan sisa hidup dengan kemurahan hati.”

Pernikahan yang baik bukan hanya untuk tertawa bersama, tapi juga untuk tetap saling menjaga di tengah kesunyian dan rutinitas. Dalam dunia yang besar dan tak pasti ini, semoga cinta dalam pernikahan tetap setia, tetap sederhana, tetap penuh makna.

Pernikahan yang Baik: Saling Meninggikan, Bukan Menjatuhkan

Aktris Tiongkok, Qi Wei, pernah berkata: “Menikah lebih menyenangkan daripada pacaran.”

Sebuah kalimat yang tidak semua orang bisa ucapkan. Banyak orang justru menganggap pernikahan sebagai akhir dari kebahagiaan, awal dari drama.

Namun bagi Qi Wei, pernikahan justru membuat hidup lebih kuat dan lebih damai.

Semua orang tahu bahwa sang suami, Li Chengxuan, pernah menjadi ayah rumah tangga selama beberapa tahun.

Dia rela mundur dari karier demi membantu merawat anak dan mendukung istrinya yang sibuk sebagai artis.

Dia mengerti betapa sulitnya karier sang istri, dan dia bersedia menjadi tiang penyangga keluarga.

Sebaliknya, Qi Wei juga sangat mengerti suaminya. Saat Li Chengxuan sibuk mengikuti program kompetisi dan tidak bisa menemani saat istrinya melahirkan anak kedua, Qi Wei justru berkata: “Fokus saja pada penampilanmu. Kalau tak sempat hadir saat aku melahirkan pun tak masalah.”

Inilah cinta yang saling memahami. Inilah pernikahan yang saling menumbuhkan, bukan menekan.  Inilah hubungan yang membuatmu lebih kuat, bukan lebih rapuh.

Jika pernikahan adalah tentang saling mendukung, saling merelakan, dan saling memahami—apa yang masih perlu ditakuti dari sebuah pernikahan?

Pernikahan yang Baik: Adalah Proses Penyembuhan Dua Jiwa

Dalam program reality show “Ayah di Rumah”, pasangan Kuang Sheng dan San San menunjukkan makna pernikahan yang mendalam.

Mereka memulai segalanya dari nol.  San San menikah segera setelah lulus kuliah dan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya.

Hidup rumah tangga jelas tidak selalu mudah, tapi yang membedakan mereka adalah: Kuang Sheng benar-benar menghargai setiap pengorbanan istrinya.

Dia ikut acara ini bukan hanya untuk menemani anak, tapi juga untuk lebih mengenal istrinya—dan memahami bagaimana San San mengurus keluarga dengan cinta dan tawa.

Kuang Sheng pernah berkata: “Aku memang tak sempat mengenal masa kecil San San. Tapi anak kami, San Xi, sangat mirip dengannya. Melihat anak kami bermain, marah, atau dimarahi… seolah aku ikut hadir dalam masa kecil istriku.”

Dia sendiri memiliki masa kecil yang kelam, yang dulu sempat membentuk luka batin. Tapi pernikahan—istri dan anak-anak—membantunya perlahan pulih dari luka itu.

San San adalah pribadi ceria. Dia menghidupkan rumah dengan optimisme dan hangatnya semangat.

Dia pernah gagal dalam hubungan sebelumnya, namun kini dia menemukan cinta yang membuatnya merasa aman dan sepenuhnya dihargai.

Mereka tumbuh bersama, saling mengenal lebih dalam, saling memberi dukungan emosional, dan menghadapi setiap ujian hidup bersama.

Jika semua pernikahan seperti ini, mungkin tak akan ada yang takut menikah.

Kesimpulan: Bukan Takut Pernikahan, Tapi Takut Disakiti

Banyak dari kita bukan takut menikah, tapi takut orang yang kita pilih untuk menemani hidup justru tak bisa bertahan menghadapi kesulitan bersama kita.

Padahal seharusnya…

Pernikahan adalah janji suci dari dua orang yang saling mencintai, bukan hasil paksaan atau kejaran omongan orang.

Saya sangat menyukai satu kutipan dari film “The Last Woman Standing”:

“Dia tak boleh menikah hanya karena desakan orangtua, atau karena terlalu banyak bisikan yang menakut-nakuti. Dia harus menikah karena ingin bersama seseorang yang dia cintai seumur hidup. Dia harus tampil dengan bangga, dengan keyakinan penuh, seolah telah memenangkan sesuatu yang paling berharga.”

Bayangkan suatu hari, dia datang membawa seseorang, menunjuk sambil berkata: ‘Ayah, aku sudah menemukannya. Dialah orangnya. Aku tak akan menikah selain dengannya.’

Dia menunjukkan tanda kemenangan dengan tangan, tersenyum bangga. Dan sebagai ayah, aku akan berdiri di sisinya. Karena dalam hidupnya, aku hanya ingin satu hal: ia harus bahagia—yang lain tak bisa diterima.”

Semoga Kita Semua Bertemu dengan Orang Itu

  • Orang yang akan menggandeng tangan kita di pasar saat rambut mulai memutih.
  • Orang yang akan bilang, “Aku takut”, dan kita menutup matanya dengan lembut.  
  • Orang yang tak hanya bersedia menikahi kita, tapi juga tumbuh, belajar, dan sembuh bersama kita.

Semoga kita semua hanya mengenal satu bentuk pernikahan:
–  Yang penuh cinta, ketulusan, dan saling menemani sampai akhir.
– Karena kita hanya menerima satu nasib dalam hubungan ini:
– Harus bahagia. Yang lain, tidak bisa.(jhn/yn)