Perang Rusia-Ukraina Makin Memanas Hingga AS Tingkatkan Bantuan ke Ukraina

EtIndonesia. Perang antara Rusia dan Ukraina terus meningkat. Amerika Serikat mengumumkan bahwa mereka akan terus memberikan bantuan militer kepada Ukraina, dan melalui NATO, kemungkinan juga akan mengirim sistem rudal Patriot. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengunjungi Gedung Putih pekan ini untuk membahas kesepakatan gencatan senjata di Gaza, dan secara pribadi menyerahkan surat nominasi Hadiah Nobel Perdamaian untuk Donald Trump — yang membuat Trump sangat tersentuh.

Warga Kyiv, Zakharchenko:  “Ledakan terjadi satu demi satu, datang dari berbagai arah.”

Warga Kyiv yang ketakutan dan putus asa kembali harus menghadapi serangan bertubi-tubi dari Rusia. Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin tidak berniat untuk menghentikan perang. 

Minggu ini, jumlah drone yang dikerahkan Rusia dalam satu serangan meningkat dari ratusan menjadi lebih dari 700, ditambah serangan rudal. 

Target serangan meliputi rumah warga, kereta api, sekolah, rumah sakit, bahkan gudang barang bantuan dari luar negeri yang dikirim ke Ukraina juga diserang oleh agen kelompok Wagner. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebutnya sebagai “terorisme murni”.

Kerugian ekonomi Ukraina akibat perang diperkirakan telah mencapai 500 miliar euro.

PM Italia, Giorgia Meloni:  “Dalam pertemuan hari ini, kami bersama-sama menyepakati komitmen senilai lebih dari 10 miliar euro.”

Pada 10 Juli, negara-negara utama Eropa mengadakan Konferensi Rekonstruksi Ukraina di Roma. Selain berkomitmen membantu pembangunan kembali Ukraina, mereka juga akan membeli sistem rudal pertahanan udara Patriot dari AS untuk mendukung pertahanan Ukraina.

 “Jerman siap membiayai dua sistem Patriot, saya telah mencapai kesepakatan dengan mereka. Norwegia bersedia membiayai satu sistem, dan saya juga telah mencapai kesepakatan bilateral dengan Perdana Menteri Norwegia,” kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.

Pekan ini, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menghadiri pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN, dan menyampaikan pesan Presiden Trump kepada Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.

 “Presiden menyampaikan dengan jelas bahwa ia kecewa dan frustasi karena Rusia tidak menunjukkan fleksibilitas untuk mengakhiri konflik ini. Kami berharap situasi ini bisa berubah, dan kami akan terus mengambil langkah-langkah yang menurut kami bisa mengubah arah konflik,” katanya. 

Presiden AS Donald Trump:  “Putin mengatakan banyak omong kosong kepada kami, jika kalian ingin tahu kenyataannya. Ia selalu bersikap ramah, tapi semua yang ia katakan tidak ada artinya, terbukti hanya omong kosong.”

Trump: “Karena dia (Putin) telah membunuh banyak orang — sebagian besar adalah tentaranya sendiri. Saat ini, setiap minggu ada sekitar 7.000 orang tewas. Saya sangat tidak puas dengan Putin.”

Baru-baru ini, sikap Trump terhadap kedua belah pihak dalam konflik berubah drastis. Ia untuk pertama kalinya menggunakan hak diskresi presiden untuk mengalokasikan bantuan senilai 300 juta dolar AS berupa senjata ke Ukraina. Senin depan, ia dijadwalkan menyampaikan pernyataan besar mengenai Rusia.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov:  “Kami sedang menunggu pernyataan tersebut, untuk mengetahui maksud Presiden Trump. Kami akan mencatat dengan cermat semua detail dari komentar pemimpin AS.”

Pekan lalu, Trump dan Zelenskyy membahas kerjasama teknologi dan pengadaan bersama. Minggu ini, Trump juga menyatakan akan mempertimbangkan serius proposal sanksi ekonomi dari Senator Richard Blumenthal dan Lindsey Graham.

Senator AS Richard Blumenthal:  “Juli akan menjadi momen krusial. Kami akan menjatuhkan sanksi keras terhadap Putin. Ia harus bersiap, karena ekonomi Rusia sudah goyah, dan sanksi ini akan menghantam kekuasaannya.”

Senator Lindsey Graham:  “Kita harus mengubah cara kita menghadapi Putin. Dia sama sekali tidak merespons dengan positif. RUU ini akan memberikan AS alat tekanan penting terhadap Tiongkok dan India, dua negara yang menjadi pendukung utama mesin perang Putin.”

Pekan lalu, Ukraina menemukan komponen buatan Tiongkok dalam drone milik Rusia. Minggu ini, dua warga negara Tiongkok kembali dituduh melakukan spionase, karena secara diam-diam mengumpulkan dokumen rahasia tentang sistem rudal anti-kapal “Neptune” Ukraina untuk kepentingan Partai Komunis Tiongkok.

Sementara itu, menurut Reuters, setelah menghadiri pertemuan ASEAN, Menlu Rusia Lavrov melakukan kunjungan ke kota industri militer Wonsan di Korea Utara. Rusia dan Korea Utara diketahui memiliki perjanjian pertahanan bersama. Badan intelijen Korea Selatan melaporkan bahwa Korea Utara akan mengirim lebih banyak tentara ke Rusia bulan depan.

Koalisi antara Partai Komunis Tiongkok, Korea Utara, dan Rusia membuat situasi perang Rusia-Ukraina semakin kompleks.

Di sisi lain, pekan ini Perdana Menteri Israel Netanyahu mengunjungi Gedung Putih. Selain membahas gencatan senjata di Gaza dan pertukaran sandera, ia juga menyerahkan sebuah surat kepada Presiden Trump.

Donald Trump:  “Terima kasih banyak! Terutama atas surat yang Anda berikan, itu sangat berarti. Terima kasih.”

Surat tersebut adalah nominasi resmi Hadiah Nobel Perdamaian dari Netanyahu kepada Trump, sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi Trump terhadap perdamaian di Timur Tengah.

Netanyahu menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Iran kemungkinan besar akan segera tercapai. Ia juga mengatakan bahwa warga Gaza akan diberi pilihan untuk tetap tinggal atau meninggalkan wilayah tersebut. Saat ini, Israel dan AS sedang mencari negara-negara yang bersedia menerima para pengungsi Gaza. (Hui/asr)

oleh: Lin Chao dan Yu Wei untuk New Tang Dynasty News Weekly

Balita AS Tertelan Baterai, Asuransi Bayar Ganti Rugi 40 Juta Dolar – Warganet Tiongkok : Kasus Keracunan Timbal di Gansu Dapat Berapa?

Kasus keracunan timbal massal di taman kanak-kanak Tianshui, Gansu, Tiongkok memicu kemarahan publik, terlebih karena pemerintah berusaha bungkam dan “menjaga stabilitas.” Pada saat yang sama, terungkap bahwa sebuah perusahaan Tiongkok harus membayar ganti rugi hampir 300 juta yuan kepada seorang balita di Amerika Serikat yang tertelan baterai remote AC buatan Tiongkok. Ini semakin memicu ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah Tiongkok (PKT).

EtIndonesia. Pada 7 Juli, Zurich Insurance mengeluarkan pengumuman klaim besar, mengungkap bahwa nasabah perusahaan manufaktur Tiongkok mereka harus membayar ganti rugi atas kasus hukum di AS yang melibatkan seorang anak kecil. Namun, pengumuman itu tidak menyebutkan nama pabrikan remote kontrol tersebut.

Zurich menerima laporan dari nasabahnya pada April 2023, menyatakan bahwa perusahaan tersebut mengekspor remote AC ke AS. Pada Juli 2022, seorang bocah laki-laki berusia 6 tahun di AS tertelan baterai remote tersebut di rumah, yang menyebabkan kerusakan permanen pada saluran pencernaannya. Orang tua bocah tersebut menganggap desain produk cacat sehingga menyebabkan anak mereka bisa tertelan baterai, dan mereka mengajukan gugatan ganti rugi sebesar USD 125,2 juta (sekitar 900 juta yuan).

Setelah berdiskusi dengan pihak tergugat dan pengacara, Zurich menyarankan penyelesaian damai. Akhirnya, kedua pihak sepakat menyelesaikan kasus ini dengan pembayaran USD 40 juta (sekitar 287 juta yuan). 

Zurich telah membayar setengah dari jumlah tersebut, yaitu 141,28 juta yuan (sekitar USD 20 juta) pada 18 Juni 2025, dan menyatakan batas pertanggungan polis telah tercapai. Kasus pun resmi ditutup.

Pengumuman ini segera viral di internet Tiongkok, dan dijadikan bahan kritik terhadap pemerintah oleh warganet yang tengah marah atas kasus keracunan timbal anak-anak di Gansu. Komentar seperti:

  • “Baru kali ini saya sadar betapa pentingnya punya kewarganegaraan asing.”
  • “Kalau kejadian ini terjadi di Tiongkok dan orang tua menggugat, pasti dituduh ‘pemerasan.’”

Selain itu, pada 10 Juli, pemerintah PKT mencoba “mengalihkan isu Gansu” dengan mempromosikan berita lama tentang kasus darah anak-anak AS yang terpapar timbal ke trending topic di Weibo. Berita lama itu merujuk pada insiden 2014 di Flint, Michigan, di mana perubahan sumber air minum menyebabkan ribuan anak mengalami paparan timbal dalam darah, dan pada 2021, para korban menerima ganti rugi lebih dari USD 626 juta.

Namun, langkah ini justru memperburuk kemarahan publik. Warganet dengan sinis bertanya:
“Gansu dapat kompensasi berapa?”

Pada 1 Juli, terungkap bahwa di Taman Kanak-Kanak Hexi Peixin di Distrik Maiji, Tianshui, Gansu, ratusan guru dan murid menunjukkan kadar timbal dalam darah yang sangat tinggi, dengan banyak anak dirawat di rumah sakit karena keracunan timbal. 

Pakar medis menyatakan bahwa keracunan timbal dapat menyebabkan kerusakan kecerdasan permanen. Namun, orang tua korban justru mengalami tekanan dan kesulitan dalam mengakses pemeriksaan dan perawatan medis, bahkan dihalangi oleh pihak berwenang.

Pemerintah kota Tianshui diketahui memerintahkan rumah sakit memalsukan hasil tes darah, sehingga banyak orang tua harus membawa anak-anak mereka ke provinsi lain untuk diperiksa dan dirawat. 

Pemerintah Provinsi Gansu bahkan mengirim pejabat untuk “menjaga stabilitas” di luar provinsi, mengawasi dan menekan orang tua yang membawa anak-anak mereka berobat ke Xi’an. Guru TK yang sakit juga dilarang dirawat, dan orang tua diancam harus membawa anak kembali ke Tianshui jika ingin biaya pengobatan ditanggung.

Informasi dari sumber di Shanghai menyebutkan bahwa pemerintah Shanghai juga menekan rumah sakit agar tidak menerima pasien dari Gansu, dan melarang dokter diwawancarai soal kasus ini. Warganet marah besar, menulis:  “PKT benar-benar busuk!”

Setelah kejadian itu, pemerintah setempat mengklaim bahwa sumber keracunan timbal berasal dari bahan pewarna di dapur TK, yang jelas tidak masuk akal dan membuat publik semakin mengecam dan mengejek.

Beberapa warganet menyelidiki lebih lanjut dan menemukan bahwa di sebelah TK terdapat stasiun transfer tambang timbal-seng milik BUMD, sehingga menimbulkan kecurigaan bahwa pemerintah sengaja menyembunyikan pencemaran lingkungan dan menghindari tanggung jawab. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com 

Saat Militer Myanmar Bombardir Biara Hingga Tewaskan 22 Warga Sipil – Jenazah Korban Hancur Berkeping-keping

Sebuah biara di desa Lin Ta Lu di wilayah tengah Myanmar dibombardir oleh militer pada Jumat  (11 Juli) dini hari, menewaskan 22 warga sipil, termasuk 3 anak-anak. Seorang warga yang tidak mau disebutkan namanya berkata, “Banyak jenazah hancur berkeping-keping akibat ledakan. Sangat menyayat hati melihatnya.”

EtIndonesia. Seorang pejuang anti-junta militer Myanmar yang meminta identitasnya dirahasiakan demi alasan keamanan mengatakan kepada AFP bahwa serangan udara terjadi sekitar pukul 01.00 dini hari. Di dalam aula biara yang menjadi sasaran, terdapat warga Myanmar yang mengungsi dan tinggal sementara.

Ia menyebutkan, total terdapat 22 korban tewas, termasuk 3 anak-anak, dan 2 orang lainnya terluka parah dan telah dibawa ke rumah sakit. 

“Para pengungsi mengira tinggal di biara Buddha akan aman, namun mereka tetap menjadi sasaran bom,” ujarnya.

Seorang warga setempat mengkonfirmasi bahwa aula biara yang diserang “hancur total.” Jenazah para korban dimuat ke sebuah mobil untuk dibawa ke pemakaman. Saat ia datang ke lokasi untuk membantu mengidentifikasi korban dan memotret tempat kejadian, ia menghitung total 22 jasad.

Warga tersebut, yang juga meminta anonimitas, menyampaikan, “Banyak jenazah mengalami luka parah di bagian kepala, atau hancur berkeping-keping akibat ledakan. Sungguh memilukan melihatnya.”

Sejak militer menggulingkan pemerintahan sipil pada 2021, Myanmar dilanda perang saudara yang berkepanjangan. Provinsi Sagaing, tempat desa Lin Ta Lu berada, menjadi salah satu wilayah yang paling parah terdampak. Militer junta kerap melancarkan serangan udara intensif ke desa-desa untuk menyerang kelompok-kelompok bersenjata.

Gempa Besar Disusul Serangan Udara

Pada 28 Maret 2025, Myanmar diguncang dua gempa kuat berkekuatan magnitudo 7,7 dan 6,4. Episentrum berada di sekitar desa-desa di dekat Provinsi Sagaing. Hampir 80% bangunan di wilayah itu hancur total, menyebabkan banyak korban jiwa dan luka-luka.

Di saat tim penyelamat bekerja keras dengan tangan kosong untuk mencari korban selamat, hanya berselang kurang dari 3 jam setelah gempa terjadi, militer junta melanjutkan serangan udaranya. \

Menurut laporan BBC, pada 28 Maret sore — hari yang sama dengan gempa besar — militer Myanmar melancarkan serangan udara terhadap pasukan pemberontak di Naungcho, wilayah utara Negara Bagian Shan. Sedikitnya 7 orang dilaporkan tewas. Insiden ini memicu keprihatinan dan kecaman dari masyarakat internasional. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Polantas di Tiongkok  Diserang di Jalanan oleh Pria yang Membawa Pisau Dapur 

Pemeriksaan kendaraan di jalan raya oleh polisi lalu lintas di bawah pemerintah Komunis Tiongkok (PKT) telah menjadi praktik umum untuk “menghasilkan pendapatan” dan kerap memicu kemarahan publik. 

Beredar kabar bahwa seorang pria di Weifang, Shandong, diduga disetop oleh polisi lalu lintas, lalu ia menyerang mereka dengan pisau dapur di tengah jalan sambil berteriak marah, “Aku salah apa?!”

EtIndonesia. Pada 10 Juli 2025, muncul beberapa video dari kota Weifang yang menunjukkan seorang pria menyerang polisi lalu lintas di jalanan.

Video menunjukkan seorang pria bertubuh besar mengenakan pakaian hitam dan celana pendek, memegang pisau dapur di tangan kiri, mengejar dan menebas seorang polisi lalu lintas. 

Ketika polisi mencoba menghindar, dia terhalang oleh sebuah becak motor (tiga roda) yang berhenti di tengah jalan, sehingga terkena sabetan di lengan kanan dan terjatuh, bersandar di roda kendaraan. Pria itu mencoba mengitari kendaraan untuk melanjutkan serangan, namun polisi segera bangkit dan melarikan diri.

Dalam video lanjutan, terlihat polisi tidak sempat lari jauh sebelum kembali dijatuhkan oleh pelaku. Polisi tersebut duduk di tengah jalan, lengan kanannya penuh darah, dan topinya terjatuh ke tanah.

Sambil mengamuk, pria bersenjata itu terus berteriak:
“Aku salah apa?! Aku salah apa?!”

Sementara itu, polisi mencoba menenangkan situasi dengan mengangkat tangan kiri dan membuat gestur menghentikan perlawanan.

Dalam video lain, terlihat tiga orang polisi lalu lintas datang ke lokasi dan berusaha mengepung pria bersenjata tersebut. Namun karena mereka tidak membawa senjata, mereka hanya bisa menggunakan kerucut pembatas jalan untuk mempertahankan diri.

Tidak ada pernyataan resmi dari pemerintah daerah terkait insiden ini, dan kelanjutan kasus belum diketahui.

Di Tiongkok, departemen polisi lalu lintas telah lama menjadi sumber “pemasukan” bagi pemerintah daerah. Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi keuangan pemerintah lokal semakin sulit. Praktik polisi lalu lintas yang menyetop kendaraan secara sewenang-wenang, memberikan denda, dan menyita serta menjual kendaraan menjadi semakin umum.

Di sisi lain, tekanan hidup yang berat di kalangan masyarakat bawah membuat kasus perlawanan kekerasan terhadap otoritas semakin sering terjadi. 

Di media sosial sering beredar video pengemudi yang menyerang polisi dengan senjata tajam, atau truk besar yang menabrak pos pemeriksaan polisi.

Pada Mei lalu, sempat viral sebuah video yang menunjukkan sebuah truk besar menabrak pos pemeriksaan di Jalan Nasional G205 di Tiongkok, yang dikabarkan menewaskan 3 polisi dan melukai 15 lainnya. Namun, informasi ini segera disensor oleh pemerintah PKT, sehingga kebenarannya sulit diverifikasi. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

AS Kenakan Tarif Sebesar 30% terhadap Meksiko dan Uni Eropa, Begini Tanggapan Uni Eropa dan Meksiko

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump  mengumumkan bahwa mulai 1 Agustus, pemerintah AS akan mengenakan tarif impor sebesar 30% terhadap barang-barang dari Meksiko dan Uni Eropa. Uni Eropa segera memberikan tanggapan. 

Keputusan pengenaan tarif ini diumumkan oleh Trump melalui media sosialnya, “Truth Social”, dalam bentuk dua surat terbuka yang masing-masing ditujukan kepada Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum, yang secara resmi menyatakan akan menerapkan tarif baru tersebut.

Trump menyatakan bahwa meskipun Meksiko telah bekerja sama dalam penegakan hukum perbatasan dengan AS, namun tetap gagal menghentikan penyelundupan narkoba secara efektif. Ia bahkan menggambarkan Amerika Utara sebagai “surga bagi para penyelundup narkoba”. Karena itu, ia memutuskan untuk memberlakukan tarif 30% atas barang impor dari Meksiko.

Meksiko saat ini merupakan mitra dagang terbesar AS,  bahkan telah melampaui Tiongkok pada tahun 2023 sebagai sumber impor utama AS. Para analis memperkirakan bahwa tarif baru ini pasti akan berdampak besar pada rantai pasokan dan ekonomi kedua negara.

Trump juga menyasar Uni Eropa, dengan menyebut bahwa meskipun telah dilakukan beberapa putaran negosiasi, kedua pihak gagal mencapai kesepakatan perdagangan menyeluruh. Oleh karena itu, ia juga memutuskan untuk mengenakan tarif 30% terhadap barang-barang dari Uni Eropa.

Menanggapi hal ini, Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan di platform X, bahwa tarif tersebut akan “merugikan perusahaan, konsumen, dan pasien di kedua sisi Atlantik”. Ia menambahkan bahwa Uni Eropa masih berkomitmen untuk terus berunding dengan AS hingga batas waktu 1 Agustus demi mencapai kesepakatan.

Sementara itu, Presiden Dewan Eropa António Costa menegaskan bahwa “Uni Eropa akan tetap bersatu dan siap membela kepentingannya”, serta memperingatkan bahwa kebijakan tarif ini bisa menyebabkan inflasi dan merusak stabilitas ekonomi.

Selain Meksiko dan Uni Eropa, pemerintahan Trump pekan ini juga mengirim pemberitahuan kepada 23 mitra dagang lainnya, termasuk Kanada, Jepang, dan Brasil, bahwa mereka akan dikenai tarif berkisar antara 20% hingga 50% untuk berbagai produk impor. Tarif untuk tembaga bahkan mencapai 50%. (Hui/asr)

Laporan oleh wartawan NTDTV Yi Xin dan Liu Fei 

8 Mahasiswa Tiongkok Dituntut Atas Penipuan Terhadap Lansia di 19 Negara Bagian Senilai Lebih dari US$ 10 juta 

EtIndonesia. Kantor Kejaksaan Federal Distrik Tengah Pennsylvania, Amerika Serikat, pada Jumat (11 Juli) mengumumkan bahwa delapan warga negara Tiongkok pemegang visa pelajar F-1 telah didakwa. Mereka diduga terlibat dalam penipuan lintas negara bagian terhadap lansia Amerika, dengan total kerugian mencapai 10 juta dolar AS.

Berdasarkan surat dakwaan dari Kejaksaan Federal Distrik Tengah Pennsylvania, para terdakwa melakukan penipuan antara Agustus 2023 hingga Februari 2024 dengan menggunakan metode seperti “pop-up peringatan” di komputer. 

Dalam peringatan palsu itu, disebutkan bahwa komputer atau akun bank korban telah diretas, sehingga korban diarahkan untuk menghubungi dukungan teknis palsu atau lembaga pemerintah palsu.

Setelah korban terhubung, para terdakwa datang langsung ke rumah korban, mengaku akan membantu “melindungi aset”, namun kenyataannya langsung mengambil uang tunai dalam jumlah besar dari korban.

Lebih dari 50 orang menjadi korban, tersebar di 19 negara bagian di seluruh Amerika Serikat.

Badan Investigasi Keamanan Dalam Negeri (Homeland Security Investigations/HSI) menegaskan bahwa jenis penipuan seperti ini telah menyebabkan kerugian mental dan finansial yang sangat besar bagi para korban lansia di seluruh negeri, dan mereka berkomitmen untuk mengadili para pelaku dengan tegas, serta mengembalikan keadilan bagi para korban. (Hui/asr)

Laporan oleh wartawan NTDTV Tang Li dan Liu Fang Visa

Sistem Saluran Distribusi Konsumen Lumpuh, Kartu Kredit Tiongkok, Zhongxin Terhenti Hingga Lebih dari 1,5 Juta Pengguna Kesulitan Menarik Dana

Baru-baru ini Kartu prabayar Zhongxin (Zhongxin Card) di Tiongkok  secara tiba-tiba mengumumkan penghentian seluruh operasional, memicu kekhawatiran besar di kalangan pengguna. 

Saat ini, semua saluran konsumsi online dan offline telah lumpuh total, tanpa kepastian kapan akan pulih. Dana prabayar yang sudah dimasukkan oleh pemegang kartu terancam dibekukan, dan proses pengembalian dana sangat tidak pasti, bahkan kartu harus diserahkan jika ingin melakukan klaim pengembalian. 

Di internet, publik ramai-ramai menyuarakan kekhawatiran: apakah perusahaan penerbit kartu mengalami krisis likuiditas besar-besaran, atau petinggi perusahaan kabur membawa dana?

EtIndonesia. Zhongxin Card, platform pembayaran pihak ketiga milik Zhongxin Antai Group, tiba-tiba mengumumkan bahwa semua kerja sama dengan mitra toko dihentikan dengan dalih “penyesuaian bisnis.” Di akun resminya, mereka menggunakan frasa seperti “peningkatan layanan” dan “menantikan tampilan baru” untuk menenangkan para pemegang kartu.

Tak lama setelah itu, seluruh daftar merchant di situs resmi Zhongxin Card dihapus, saluran penukaran online ditutup, dan semua jalur konsumsi tidak lagi bisa digunakan. Pengguna yang telah memasukkan dana ke kartu tidak bisa menggunakan kartu untuk belanja, maupun menarik kembali dana mereka.

Dua bulan sebelumnya, sejumlah merchant mitra sudah mulai berhenti menerima Zhongxin Card tanpa penjelasan yang jelas. 

Pada Mei 2025, Zhongxin Card sempat menghentikan sementara operasional dan menyalahkan “calo” yang disebut menyebarkan rumor, membeli kartu dengan harga murah, melakukan pembelian massal di luar jam operasional. Bahkan, melakukan arbitrase ilegal, dan lain sebagainya.

Karena kondisi mencurigakan ini, banyak pemegang kartu menduga bahwa penghentian operasional kali ini, bukanlah sekadar penyesuaian bisnis atau peningkatan layanan, melainkan indikasi bahwa perusahaan tengah mengalami kebangkrutan (istilah populer: “meledak”), bahkan mungkin pihak internal sudah membawa kabur uang pengguna.

Menurut laporan media Tiongkok, seorang staf dari kantor layanan Zhongxin Card di distrik Dongcheng, Beijing, menyatakan bahwa “pihak berwenang telah turun tangan menyelidiki kasus ini.”

Staf tersebut menjelaskan bahwa tidak ada kepastian kapan layanan Zhongxin Card akan kembali normal, dan saat ini pemegang kartu hanya punya dua pilihan:

  1. Mendaftar ke dalam “daftar putih”, dengan mengunggah data pribadi seperti KTP dan nomor telepon, dan menunggu hingga layanan kembali normal untuk dapat menggunakan kartu lagi;
  2. Mengajukan pengembalian dana, tapi tidak bisa langsung mendapatkan uangnya kembali. Proses pengembalian diperkirakan membutuhkan waktu minimal enam bulan, tanpa batas waktu maksimum. Jika memilih opsi ini, pengguna harus menyerahkan bukti pembelian, informasi rekening bank, dan menyerahkan kartu fisik sebagai syarat klaim.

Sebuah pengumuman yang ditempel di kantor layanan Zhongxin Card di distrik Dongcheng, Beijing menyatakan bahwa pengajuan pengembalian dana untuk kartu yang dibeli pada Maret dan April 2025 akan tertunda. Diumumkan juga proses pengembalian akan memakan waktu minimal enam bulan.

Berdasarkan informasi publik, Zhongxin Group didirikan pada tahun 1999, merupakan perusahaan swasta komprehensif yang berfokus pada pengembangan properti, serta mencakup konstruksi, investasi dan perdagangan, pengelolaan kota baru, infrastruktur, manajemen properti, dan layanan keuangan.

 Zhongxin Card adalah platform pembayaran pihak ketiga di bawah Zhongxin Antai Group, yang pada tahun 2011 memperoleh lisensi dari Bank Sentral Tiongkok untuk menerbitkan dan menerima kartu prabayar. Saat ini, mereka mengklaim memiliki lebih dari 2.000 cabang dan lebih dari 1,5 juta pengguna kartu.

Di bawah laporan media tersebut, netizen Tiongkok ramai-ramai menyuarakan keraguan, menuding sistem kartu prabayar ini sebagai bentuk baru dari penipuan finansial:

  • “Modus lama, trik lama, bau yang sudah tidak asing lagi.”
  • “Cuma versi baru dari skema ‘pemotongan babi’ (penipuan kepercayaan).”
  • “Kalau rantai dana terus putus, pasti kabur juga. Tinggal tunggu dananya mencapai miliaran.”
  • “Sedikit iming-iming, pancing dengan janji besar. Tapi tetap saja yang tamak jadi korban.”

(Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Operasi Siluman: Israel Culik Pasukan Elit Iran di Suriah Tanpa Sepercik Darah

EtIndonesia. Media Israel mengungkapkan detail operasi militer dramatis yang berhasil dijalankan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) pada awal Juni lalu. Dalam sebuah misi rahasia yang disebut-sebut nyaris sempurna, pasukan cadangan Israel mampu menyusup sejauh 10 kilometer ke wilayah Suriah tanpa melepaskan satu pun tembakan. Target utama mereka adalah penangkapan anggota penting dari Pasukan Quds, unit elite Garda Revolusi Iran, yang diyakini sedang merencanakan serangan terhadap Israel.

Misi Tanpa Terdeteksi: Sukses Total di Balik Lini Musuh

Laporan eksklusif dari The Jerusalem Post menyebutkan bahwa operasi ini berlangsung pada dini hari, 2 Juni 2025, dipimpin oleh Letkol Y—komandan Batalion Cadangan Alexandroni 7012. Berbeda dari misi-misi sebelumnya yang biasanya mengandalkan pasukan khusus, kali ini seluruh personel berasal dari jajaran cadangan IDF, memperlihatkan kesiapan tempur dan profesionalisme tinggi dari militer Israel.

Dalam wawancara khusus dengan Ynet, Letkol Y mengungkapkan bahwa operasi ini berhasil dilaksanakan berkat informasi intelijen akurat yang dikumpulkan selama berminggu-minggu. Sumber utama intelijen berasal dari Unit 8200 (divisi intelijen sinyal IDF) dan berbagai satuan pendukung lainnya. Mereka menemukan adanya kelompok ekstremis yang didukung Iran tengah merancang serangan ke posisi Israel di wilayah zona buffer perbatasan Suriah-Israel.

Letkol Y menegaskan, “Kami merasa bertanggung jawab untuk menggagalkan setiap rencana teror Iran di utara. Operasi ini adalah bentuk komitmen kami untuk menghentikan perluasan pengaruh Iran, khususnya di kawasan Suriah Selatan yang strategis.”

Detik-detik Operasi: Tanpa Suara, Tanpa Perlawanan

Lokasi operasi berada di sekitar desa Tel Kudne, Suriah Selatan. Pada hari H, ratusan prajurit Israel bergerak serempak tepat pukul 02:50 dini hari, menyusuri medan yang gelap dan basah menyeberangi Sungai Lukad. Setiap regu telah membagi peran, mulai dari regu pendobrak yang mengamankan pintu masuk, hingga satuan pengintai dan pendukung yang menyisir lingkungan sekitar. Bahkan anjing militer pun dilatih untuk bergerak senyap, nyaris tak mengeluarkan suara selama penyergapan.

“Begitu kami mendapat aba-aba, semua regu bergerak. Pendobrak masuk lebih dulu, lalu pasukan cadangan mengunci perimeter, unit intelijen memastikan posisi musuh, dan proses penangkapan berjalan tanpa hambatan,” jelas Letkol Y.

Salah satu prajurit yang terlibat mengatakan, “Kami menyusup dalam diam, hanya suara air di kaki. Tidak ada suara tembakan, tidak ada keributan. Bahkan anjing-anjing di desa sekitar tidak menggonggong.”

Penangkapan, Interogasi, dan Evakuasi Kilat

Setibanya di lokasi, prajurit Israel segera menggerebek bangunan-bangunan yang telah diidentifikasi, menangkap para tersangka utama—semuanya anggota jaringan komando Iran. Operasi berlangsung sangat cepat. Para target terkejut, tidak sempat melakukan perlawanan, dan dalam hitungan menit sudah dibawa keluar dari lokasi. Seluruh proses berjalan tanpa adanya letusan senjata maupun kontak langsung dengan warga sipil.

Pasukan Israel kemudian menyita senjata, dokumen, dan berbagai alat komunikasi milik kelompok tersebut. Para tersangka langsung diinterogasi di tempat sebelum akhirnya dibawa kembali ke wilayah Israel. Seorang anggota pasukan menuturkan, “Para agen Iran itu benar-benar tidak percaya. Mereka terbangun dari tidur, ditutup matanya, dan tahu-tahu sudah di Israel.”

Menurut pejabat militer, saat ini para tersangka tengah menjalani proses penyidikan mendalam oleh unit intelijen Israel. Informasi yang didapatkan diharapkan dapat membuka jaringan teror Iran yang selama ini beroperasi lintas negara—mulai dari Lebanon, Suriah, hingga Yordania.

Dampak Strategis: Iran Tertahan, Israel Tingkatkan Kesiagaan

Letkol Y dan para komandan IDF lainnya menilai, keberhasilan operasi ini tidak hanya menyelamatkan banyak nyawa, tapi juga membuktikan kegagalan strategi Iran dalam upaya memperluas pengaruh militernya di perbatasan Israel. 

“Kami bangga karena operasi berjalan presisi dan sunyi, serta menjadi pesan tegas kepada Teheran bahwa setiap upaya mereka selalu dalam pantauan kami,” ujarnya.

Militer Israel sendiri telah meningkatkan patroli dan kehadiran di sepanjang perbatasan utara sejak serangan ini, membuat Iran dan kelompok-kelompok proksi mereka semakin kesulitan bergerak.

Netanyahu Tegaskan Komitmen Lindungi Warga Sipil

Di hari yang sama, dalam wawancara dengan Fox News, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan kembali komitmennya untuk melindungi sandera dan warga sipil dari ancaman perang, khususnya jika terjadi eskalasi dengan Iran. Ia menyampaikan kekhawatiran atas upaya Iran mempercepat pengembangan senjata nuklir dan potensi ancaman langsung bagi Israel.

“Kita sudah melihat bagaimana mereka (Iran) bergerak agresif. Jika mereka memiliki bom nuklir, ancaman itu bukan isapan jempol—mereka sungguh-sungguh akan menggunakannya dan mengancam memusnahkan Israel,” tegas Netanyahu. Ia menambahkan bahwa Israel akan melakukan segala upaya untuk menghindari korban sipil dalam setiap operasi militer yang dijalankan.

Kesimpulan:

Operasi senyap IDF di Suriah tidak hanya menandai babak baru dalam peperangan intelijen dan kontra-teror Israel-Iran, tapi juga menjadi bukti nyata keunggulan militer Israel dalam operasi lintas batas tanpa korban sipil dan tanpa letusan senjata. 

Di tengah ancaman nuklir dan ketegangan regional, keberhasilan misi ini dipandang sebagai kemenangan strategis dan psikologis bagi Israel—serta peringatan keras bagi Teheran dan sekutunya di Timur Tengah. (***)

AS Ancam Sanksi 500% untuk Tiongkok dan India, Trump Siap ‘Bom Beijing’ Jika Taiwan Diserang

EtIndonesia. Kongres Amerika Serikat kembali menunjukkan sikap tegas terhadap negara-negara yang masih menjalin hubungan dagang energi dengan Rusia. Dalam sidang terbaru pada 11 Juli 2025, dua senator dari partai berbeda—Lindsey Graham (Republik) dan Richard Blumenthal (Demokrat)—secara resmi mengajukan usulan sanksi ekonomi baru berupa pemberlakuan bea impor hingga 500% untuk seluruh produk minyak, gas, dan batubara yang berasal dari negara-negara yang masih membeli komoditas energi Rusia, terutama Tiongkok dan India.

Langkah keras ini dilatarbelakangi fakta bahwa Tiongkok dan India kini menguasai sekitar 70% dari total ekspor energi Rusia. Jika aliran perdagangan ini terganggu, maka sumber pendanaan utama Kremlin untuk mendanai operasi militernya di Ukraina akan sangat terpukul. Sanksi ini juga diarahkan untuk memberikan tekanan maksimal kepada Beijing dan New Delhi agar tidak lagi mencari keuntungan dari konflik Rusia-Ukraina, sekaligus memutus rantai ekonomi yang menopang ambisi geopolitik Moskow.

AS Tak Lagi Main-main: Targetkan Pendukung Inti Putin

Senator Lindsey Graham dalam pernyataannya menegaskan bahwa Amerika Serikat tak lagi akan menerapkan sanksi “setengah-setengah” yang selama ini dinilai kurang efektif. 

“Kami langsung menyasar para pendukung utama Putin, bukan hanya Rusia sebagai negara, tapi juga para mitra dagangnya. Dunia harus tahu, mendukung Putin sama saja dengan mendanai perang dan kekejaman di Ukraina,” ujar Graham.

Langkah ini disambut positif oleh para sekutu Amerika di Eropa yang selama ini menanggung dampak perang, baik secara ekonomi maupun keamanan. 

Senator Richard Blumenthal menambahkan bahwa sanksi super-tinggi ini merupakan “game changer”—bukan hanya untuk Rusia, tetapi juga sebagai pesan keras kepada Beijing bahwa setiap upaya memperpanjang perang akan membawa konsekuensi ekonomi yang sangat mahal.

 “Dengan kebijakan ini, kita berharap Tiongkok dan India akan lebih bijak menilai untung-rugi hubungan mereka dengan Moskow. Dunia sedang berubah. Tidak ada tempat untuk negara yang menutup mata terhadap agresi,” tambah Blumenthal.

Trump Ancam Akan Bom Beijing jika Taiwan Diserang

Di tengah memanasnya wacana sanksi dan tekanan internasional, mantan Presiden AS, Donald Trump, kembali menjadi sorotan dunia setelah rekaman pernyataannya dalam sebuah wawancara eksklusif dengan NBC bocor ke publik. Dalam pernyataan yang viral tersebut, Trump secara terbuka mengaku kecewa pada Rusia dan akan segera menyampaikan pernyataan penting terkait sikapnya terhadap Moskow pada tanggal 14 bulan ini. Namun, bukan itu yang membuat dunia geger.

Trump secara gamblang mengeluarkan ancaman keras:  “Jika Partai Komunis Tiongkok (PKT) menyerang Taiwan, saya akan bom Beijing.” 

Pernyataan ini segera menyebar luas dan menjadi bahan perdebatan global, terutama di tengah meningkatnya tensi militer di kawasan Asia Pasifik.

Reaksi Panik Tiongkok dan Rusia: Sensor Ketat & Klarifikasi Kilat

Pemerintah dan media di Tiongkok langsung bergerak cepat dengan memblokir seluruh pemberitaan dan diskusi di internet terkait rekaman ancaman Trump tersebut. Semua platform media sosial dan situs berita di Tiongkok dipantau ketat, dan tidak ada satu pun media besar yang berani mengutip secara utuh ucapan Trump—bahkan media pro-pemerintah seperti Xin Jing Bao dan Guancha hanya menampilkan potongan video CNN, dengan sengaja menghentikan tayangan sebelum Trump menyebut nama Presiden Xi Jinping, apalagi menyinggung soal ancaman bom ke Beijing.

Namun, secara mengejutkan, bagian rekaman yang berisi “ancaman bom Moskow” justru viral di platform Weibo, bahkan mencapai 24 juta tayangan hanya dalam sehari pada  9 Juli. Fenomena ini mengindikasikan adanya ketegangan dan keresahan publik di Tiongkok atas arah kebijakan luar negeri mereka.

Di sisi lain, Pemerintah Rusia juga bertindak cepat. Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, melalui kantor berita Sputnik dan media sosial X (Twitter), segera mengeluarkan klarifikasi resmi. Peskov membantah klaim ancaman Trump terhadap Moskow pada tahun 2024 dan menyatakan bahwa pernyataan tersebut “tidak pernah terjadi”. Dia menegaskan bahwa saat itu Trump bahkan belum menjabat sebagai Presiden AS, dan menyebut berita tersebut sebagai bagian dari gelombang informasi palsu (hoaks) yang marak di era digital saat ini.

Analisis: Beijing dan Moskow Ketar-ketir Hadapi Tekanan AS

Menurut pengamat hubungan internasional, reaksi cepat Tiongkok yang langsung membungkam isu tersebut dan langkah Rusia yang buru-buru menyangkal, memperlihatkan betapa kedua negara kini berada dalam posisi yang sangat defensif dan berhati-hati menghadapi gaya diplomasi tekanan tinggi ala Trump. 

Fenomena ini semakin terasa setelah Amerika Serikat berani melakukan serangan udara ke fasilitas nuklir Iran baru-baru ini, yang membuktikan bahwa ancaman AS bukan sekadar retorika.

Analis menilai, dengan kebijakan sanksi super berat yang kini digulirkan, ditambah dengan diplomasi gertak Trump yang “tanpa filter”, AS berupaya mencegah terbentuknya blok kekuatan anti-Barat baru yang bisa mengancam stabilitas global. (***)

(Edisi Khusus): “Panggung Kudeta Disiapkan: Skenario Penggulingan Xi Jinping Dimulai dari Beidaihe?”

EtIndonesia. Menjelang musim liburan di Beidaihe, suasana politik Tiongkok mendadak tegang. Beijing belum masuk masa “sarang kosong”, namun pemandangan tak biasa telah tampak di jantung ibu kota: kendaraan lapis baja milik Grup Tentara ke-82 kerap melintas di sepanjang Jalan Chang’an—jalur paling vital di Tiongkok. 

Bandara Shanhaiguan, titik utama penerbangan pejabat tinggi ke Beidaihe, telah dikosongkan, beralih ke status siaga perang. Bahkan para pekerja teladan, yang biasanya “dihadiahi” rekreasi ke tepi pantai, justru ditahan di Beijing dan diwajibkan mengikuti konsolidasi serta mobilisasi pemikiran.

Setiap langkah yang dilakukan bukan sekadar prosedur pengamanan, melainkan operasi berirama, penempatan strategis serempak, dengan satu tujuan yang sangat jelas: memblokir jalur, mensterilkan informasi, dan menutup semua ruang kompromi sebelum perhelatan besar Beidaihe dimulai. Rapat belum resmi dibuka, tapi “pertempuran” sebenarnya sudah berlangsung diam-diam.

Untuk diketahui, Beidaihe adalah sebuah kawasan pesisir yang terletak di kota Qinhuangdao, provinsi Hebei, Tiongkok utara. Daerah dikenal sebagai resor pantai dan tempat peristirahatan yang populer, terutama bagi pejabat tinggi Partai Komunis Tiongkok (PKT). 

 Babak Pembuka: “Bukan Rapat, Tapi Konfrontasi”

Banyak yang mengira, dinamika ini hanya “ritual” menjelang pertemuan rutin para elite Partai Komunis Tiongkok (PKT). Namun, kenyataannya jauh lebih dalam dan menegangkan. Tahun ini, Beidaihe bukan sekadar agenda internal tahunan—melainkan “rapat akhir zaman”, di mana tak ada ruang untuk tawar-menawar. Semua tahu, yang dipertaruhkan hanyalah “utang kekuasaan” Xi Jinping dan masa depan sistem politik negeri Tirai Bambu.

Dulu, Beidaihe dikenal sebagai arena negosiasi—tempat para petinggi partai “menyulam konsensus”. Kini, Beidaihe telah menjelma menjadi ruang konfrontasi, tempat kartu-kartu terakhir dikeluarkan sebelum jatuhnya “tokoh utama”.

 Peta Kekuatan: Siapa Mengatur Langkah, Siapa Tersingkir?

Gerak cepat Grup Tentara ke-82 ke Beijing terjadi di bawah instruksi jaringan komando Wilayah Tengah—bukan atas perintah langsung Xi Jinping. Meski posisi panglima wilayah ini masih kosong, pengendali sesungguhnya adalah Komisaris Politik Xu Deqin, loyalis Zhang Youxia. Zhang sendiri merupakan tokoh berpengaruh dalam kelompok militer inti, dikenal sebagai “Grup 13”.

Di sisi lain, kepercayaan Zhang lainnya juga menempati posisi strategis: Huang Ming di Komando Wilayah Utara dan Wu Yanan di Selatan. Sebaliknya, Xi Jinping kini hanya “menggenggam” Komando Wilayah Timur—terisolasi di selatan Sungai Yangtze, diapit tekanan dari armada Amerika Serikat di luar dan tiga komando wilayah dalam negeri yang dikuasai kubu lawan.

Jalur pergerakan pasukan ke utara sudah diputus. Jika terjadi eskalasi, jalan evakuasi pun telah tertutup—Xi Jinping benar-benar dalam posisi terjepit.

 Siapa yang Menggerakkan Pasukan?

Hanya satu nama yang muncul konsisten: Zhang Youxia. Saat susunan kepemimpinan lima komando wilayah masih belum sepenuhnya terisi dan berbagai perubahan personel terus terjadi, hanya Zhang yang mampu mengeluarkan perintah efektif. Inilah yang membuat Beidaihe tahun ini digelar lebih awal, bukan karena perubahan jadwal, melainkan karena “skenario” sudah bocor dan waktu tak bisa lagi ditunda.

Yang dipertontonkan di balik layar bukan musyawarah elite, tapi operasi potong jalur oleh kubu Zhang—bukan lagi ruang rapat, melainkan “kursi pengadilan politik”.

Misteri Grup Tentara ke-82: Mengapa Selalu Mereka?

Pilihan mengerahkan Grup 82 sangat logis secara strategis. Markas mereka di Baoding, hanya 140 km dari pusat Beijing—dengan kekuatan penuh, bisa masuk kota dalam dua jam. Mereka adalah satuan reaksi tercepat, perangkat tempur terkuat, dan unit yang punya sejarah “tangan besi” dalam penindakan politik—dari Divisi ke-38 yang menumpas aksi Tiananmen 1989, hingga kini dimodernisasi menjadi Grup 82.

Pasukan lain seperti Grup 83 di Henan terlalu jauh, sedangkan Grup 81 di Zhangjiakou hanya bersifat pengamanan, tak punya kekuatan penindakan seperti Grup 82. Sejarah mencatat, begitu Divisi 38 bergerak, “pusat kekuasaan berguncang”—ungkapan yang bukan isapan jempol.

Sistem persenjataan Grup 82 kini dilengkapi tank berat, artileri swagerak, drone tempur, dan sistem penindasan elektronik. Jika ada gejolak di Beijing, hanya mereka yang mampu mengunci dan mengendalikan situasi dengan presisi tinggi—dalam hitungan jam, seluruh “urat nadi” ibu kota bisa diambil alih.

Dua Peristiwa Kunci: “Pembersihan Lapangan”

1. Pekerja Teladan, Dari Liburan ke Karantina Politik

Biasanya, pekerja teladan dari seluruh negeri diundang ke Beidaihe sebagai bagian dari tradisi “kedekatan” partai dengan rakyat bawah. Mereka tak hanya liburan, tapi juga menyampaikan aspirasi dari akar rumput. Tahun ini, semua berubah. Wang Dongming, pejabat tinggi PKT, langsung menemui mereka di Beijing, bukan untuk melepas keberangkatan, melainkan menahan dan mengonsolidasikan mereka secara kolektif.

Secara resmi disebut “pemulihan”, namun sejatinya adalah karantina politik: kontrol ketat atas informasi, memastikan tak ada narasi liar atau rumor tentang kondisi rapat yang sampai ke telinga birokrasi bawah. Satu cerita kecil yang menyebar bisa memicu spekulasi, memicu instabilitas di bawah permukaan.

Maka, liburan tahun ini berubah menjadi “sensor pemikiran”, pekerja teladan hanya boleh pulang dengan satu pesan: “Segalanya stabil dan normal.”

2. Bandara Shanhaiguan, Titik Masuk yang Disterilkan

Bandara kecil yang selama ini digunakan untuk latihan, kini berubah menjadi pusat pengamanan super ketat. Sejak awal Juli, bandara disterilkan total, semua latihan dibatalkan, hanya menerima penerbangan khusus, seluruh akses udara dikendalikan militer. Sistem anti-pesawat disiagakan, jalur penerbangan dimonitor secara ketat, siap menembak jatuh setiap pesawat tak berizin.

Tujuannya jelas: menjamin keamanan masuk-keluar para “tokoh penting” secara diam-diam, meminimalisir risiko pengintaian dari udara maupun gangguan eksternal. Di darat, konvoi Grup 82 langsung menyusup ke inti kota melalui jalur-jalur utama, mengamankan simpul-simpul strategis dan menutup akses komunikasi “orang dalam”.

Operasi Senyap: Mengganti “Motherboard” Kekuasaan

Apa yang terjadi di Beijing bukan sekadar pengamanan. Ini adalah operasi pembongkaran dan rekoneksi ulang seluruh “jalur kekuasaan” ibu kota. Seluruh pusat komunikasi, hukum, dan logistik dikendalikan pasukan yang loyal pada kubu Zhang. Jalur darat, udara, hingga sistem komunikasi sudah “direset”—siapa yang punya akses, dialah yang berkuasa. Setiap keputusan diambil di luar ruang rapat, di balik layar, lewat kontrol fisik dan isolasi total.

Beidaihe: Barometer Kekuasaan di Tepi Pantai

Sejarah membuktikan, Beidaihe selalu menjadi penentu arah politik Tiongkok:

  • 1962: Penyingkiran Peng Dehuai, cikal bakal pembersihan massal setelah kritik terhadap Lompatan Jauh ke Depan.
  • 1962: Pertentangan Liu Shaoqi-Deng Xiaoping dengan Mao, lahir dari pembahasan ekonomi di Beidaihe.
  • 1973: Pergantian tokoh Revolusi Kebudayaan, pewarisan kekuasaan, dan eksperimen kepemimpinan terjadi di sini.
  • 1988: Reformasi ekonomi Zhao Ziyang dan bibit krisis Tiananmen 1989 bermula di Beidaihe.
  • 2001: Jiang Zemin menegaskan supremasi “stabilitas”, memperpanjang kendali kekuasaannya.
  • 2012: Kasus Bo Xilai, perubahan jumlah anggota Politbiro Standing Committee, penetapan Xi Jinping sebagai penerus.
  • 2022—sekarang: Rapat tanpa pengumuman resmi, tapi penutupan akses, mobilisasi pasukan, dan manuver elite menandakan “Beidaihe baru” terus berlanjut, makin rahasia, makin mematikan.

Beidaihe adalah barometer politik PKT paling akurat—apa pun yang diputuskan di sana, efeknya langsung terasa di Beijing. Orang luar hanya melihat villa, pantai, dan angin laut, namun para pengamat politik tahu: setiap lampu yang menyala di villa elite, setiap mobil yang melintas diam-diam, adalah sinyal perubahan besar.

Penutup: “Siapa Menguasai Panggung, Dia Bertahan”

Tahun ini, Beidaihe datang lebih cepat, pengamanannya lebih brutal, dan pertaruhannya lebih tinggi. Bukan lagi soal apa yang Anda katakan, tapi apakah Anda masih punya kontrol di tangan. 

Dalam politik PKT, “siapa yang menguasai panggung, dialah bagian dari panggung”—Beidaihe bukan forum kompromi, melainkan arena pertarungan kekuasaan yang sesungguhnya.

Badai Beidaihe sedang menuju puncaknya. Siapakah yang akan bertahan? Siapa yang akan tersingkir? Jawabannya akan segera terungkap—bukan di ruang rapat, tapi di garis depan perebutan kekuasaan yang sunyi namun mematikan. (***)

Bocor! Rekaman Trump Ancam Hancurkan Beijing: Jika Tiongkok Serang Taiwan, Perang Dunia Dimulai?

EtIndonesia. Dunia internasional dikejutkan oleh bocornya rekaman audio terbaru yang mengungkap pernyataan keras Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kepada pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT), Xi Jinping. 

Dalam rekaman tersebut, Trump secara blak-blakan memperingatkan Xi Jinping bahwa jika Tiongkok menyerang Taiwan, dia tidak akan ragu memerintahkan pemboman terhadap Beijing. Pengungkapan ini sontak memicu perdebatan global, dinilai sebagai sinyal deterrence yang sangat kuat, serta menimbulkan kekhawatiran tersendiri di kalangan elite Beijing.

Isi Rekaman dan Respons Xi Jinping: “Saya Akan Bombardir Beijing Sampai Hancur”

Rekaman eksklusif ini diperoleh oleh jaringan berita CNN dari sebuah acara penggalangan dana pribadi pada tahun 2024. Di dalamnya, Trump menceritakan bahwa dirinya pernah secara pribadi memperingatkan Presiden Rusia Vladimir Putin: jika Rusia menginvasi Ukraina, dia akan menghancurkan Moskow. Peringatan serupa juga dia sampaikan kepada Xi Jinping.

Dalam kutipan rekaman, Trump berkata tegas:

“Jika Anda masuk ke Taiwan, saya akan membombardir Beijing sampai hancur.”

Respons Xi Jinping, menurut pengakuan Trump, adalah keterkejutan:“Beijing? Anda akan membom Beijing?”

Trump menegaskan kembali: “Saya tidak punya pilihan lain.”

Trump juga menambahkan, baik Xi Jinping maupun Putin, menurutnya, tidak sepenuhnya percaya dengan ancaman tersebut.

“Mungkin mereka hanya mempercayai sepuluh persen. Bahkan kalau hanya lima persen juga tidak apa-apa,” ujarnya, menekankan bahwa ketidakpastian itulah yang menciptakan efek psikologis deterensi.

Analisis Para Pengamat: Deterrence atau Bluff?

Pengamat politik Tiongkok di Amerika Serikat, Xing Tianxing yang dikutip oleh Sound of hope, menilai bahwa gaya komunikasi Trump yang lugas dan seringkali tanpa basa-basi justru memperkuat persepsi lawan terhadap keseriusan ancamannya.

“Trump adalah tipe orang yang menepati janjinya. Dari kebijakan tarif hingga diplomasi internasional, semuanya menunjukkan konsistensi karakter. Jadi, saat Trump berbicara tegas kepada Putin atau Xi, pihak lawan harus mempertimbangkan segala kemungkinan, bahkan kemungkinan terburuk,” ujar Xing.

Menurutnya, ancaman Trump bukan sekadar “pamer nyali”, melainkan strategi deterrence (strategi penangkalan)  yang terukur. Bukan berarti Amerika benar-benar akan membom Beijing, namun ucapan Trump cukup untuk membuat Beijing berpikir dua kali sebelum mengambil langkah militer terhadap Taiwan.

Manuver  Partai Komunis Tiongkok di Selat Taiwan: Eskalasi yang Tak Bisa Diabaikan

Pada 6 Juli 2025, Tiongkok secara sepihak menambah satu jalur penerbangan baru di rute M503, yang melintasi Selat Taiwan dari barat ke timur. Langkah ini disebut-sebut mengubah status quo di wilayah sensitif dan langsung mendapat perhatian tajam dari Amerika Serikat dan sekutunya.

Xing Tianxing menegaskan: “Secara militer, Tiongkok tetap memiliki potensi untuk melakukan serangan mendadak ke Taiwan, walaupun sampai sekarang AS tidak secara terbuka mengancam dengan intervensi militer. Di tengah situasi seperti ini, munculnya laporan CNN soal ancaman Trump menjadi momen strategis. Bisa jadi ini sinyal dari Trump, atau justru tekanan dari CNN agar Trump lebih keras. Apapun itu, pesan yang dikirim ke Beijing sangat jelas.”

Pihak tim kampanye Trump sendiri memilih untuk tidak memberikan komentar, namun tidak ada bantahan maupun klarifikasi resmi, yang menurut pengamat menandakan adanya pembenaran implisit atas rekaman tersebut.

Serangan Udara AS ke Iran: Sinyal Tegas untuk Beijing

Pada 21 Juni, militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara yang menghancurkan fasilitas nuklir Iran. Aksi tersebut secara luas dipandang sebagai “peringatan keras” bukan hanya kepada Teheran, tetapi juga kepada Beijing.

Xing Tianxing menjelaskan : “Tiba-tiba Trump mengerahkan kekuatan militer hingga membuat dunia tercengang. Setelah Iran dibombardir, publik internasional langsung teringat akan peringatan Trump: ‘Jika berani bergerak ke Taiwan, konsekuensinya akan fatal.’ Dampak psikologis inilah yang menjadi inti dari strategi deterrence Trump.”

Bahkan di media sosial sempat ramai pernyataan: “Hari ini Iran, besok giliran Tiongkok.”

Dampak Strategi Trump di Mata Aktivis dan Pakar

Jiang Fuzhen, Sekjen Komite Luar Negeri Partai Demokrat Tiongkok, menilai: “Dulu banyak orang menilai Trump hanya pandai beretorika, tapi setelah peristiwa Iran, orang baru sadar bahwa Trump bertindak sesuai kata-katanya. Kalau Trump bisa membom Iran, maka kalau PKT menyerang Taiwan, Trump pasti akan membom Beijing.”

Para pakar menegaskan, strategi besar Trump memang memusatkan perhatian ke Beijing sebagai tantangan utama Amerika Serikat di kancah global.

Analisis Militer dan Ancaman Nuklir: Beijing Ada di Garis Api

Su Tzu-yun, Kepala Institut Strategi Pertahanan dan Sumber Daya Taiwan, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap potensi konflik besar.

“Tiongkok kini sudah memiliki hampir 1.000 hulu ledak nuklir, serta sistem pertahanan udara kelas dunia. Setiap tahun, jumlah ini terus bertambah—ini bukan sekadar upaya pencegahan, tapi sudah mengarah pada upaya pemaksaan politik global (‘nuclear coercion’),” ujar Su.

Data lembaga think tank Swedia pada Juni 2025 mencatat, Tiongkok menambah sekitar 100 hulu ledak nuklir setiap tahunnya.

Su Tzu-yun menekankan: “Yang paling ditakuti Tiongkok adalah kekuatan militer Amerika Serikat. Dalam skenario perang terbuka, keamanan ibu kota Tiongkok (Jing-Jin: Tianjin–Beijing) sangat mungkin terancam oleh serangan dari pesawat tempur AS yang bermarkas di Korea Selatan, Jepang, atau bahkan bomber siluman dari Alaska. Wilayah Jing-Jin, Laut Kuning, dan komando pertahanan udara utara adalah garis pertahanan vital PKT.”

Meningkatnya kekuatan militer Tiongkok memang signifikan, namun para pakar menegaskan Tiongkok tetap menghadapi keterbatasan jika harus berhadapan langsung dengan AS dan sekutunya.

Situasi Geopolitik Global: Beijing Terancam Pengepungan Strategis

Lebih jauh, Su Tzu-yun menambahkan : “Trump menjalankan strategi besar: mempercepat penyelesaian perang Rusia-Ukraina di Eropa, menarik negara-negara Arab Timur Tengah lebih dekat ke blok Barat, menjadikan Israel sebagai mitra strategis utama, serta menjaga agar Iran tak lagi berpihak ke Beijing. Dengan begitu, Beijing saat ini benar-benar menghadapi situasi pengepungan strategis baru yang harus mereka waspadai secara sangat serius.”

Kesimpulan

 Bocornya rekaman ancaman Trump terhadap Xi Jinping bukan hanya membuktikan bahwa politik internasional tengah memasuki babak baru yang penuh ketegangan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana satu pernyataan keras mampu mengguncang peta diplomasi dan militer global. 

Dengan semakin intensifnya manuver Tiongkok di sekitar Taiwan dan respons keras dari Amerika Serikat, dunia kini berada di tengah ketidakpastian yang hanya dapat diatasi melalui diplomasi tingkat tinggi, namun tetap dibayangi kemungkinan konflik besar jika komunikasi politik gagal meredakan tensi kedua kekuatan raksasa dunia. (***)

Presiden Filipina Akan Kunjungi AS, Bahas Masalah Tarif dengan Trump

EtIndonesia. Pemerintah Filipina mengumumkan bahwa Presiden Ferdinand “Bongbong” Marcos Jr akan melakukan kunjungan ke Amerika Serikat pada 20 hingga 22 Juli, untuk membahas tarif perdagangan dengan Presiden AS Donald Trump, serta membicarakan situasi di Laut Tiongkok Selatan dan kerja sama keamanan kawasan.

 “Masalah tarif adalah salah satu isu yang akan dibahas, bersama dengan isu-isu lainnya. Karena ini sangat penting bagi kami, satu bulan yang lalu kami sudah mengirim delegasi perunding,” kata Menteri Luar Negeri Filipina, Enrique Manalo.

Presiden AS Donald Trump pada Rabu secara resmi mengirim surat yang menyatakan bahwa mulai 1 Agustus, Amerika Serikat akan memberlakukan tarif sebesar 20% atas produk impor dari Filipina—angka ini adalah yang paling rendah di antara negara-negara anggota ASEAN. Pihak AS menyatakan bahwa langkah ini bertujuan untuk menyeimbangkan defisit perdagangan.

Amerika Serikat merupakan salah satu pasar ekspor utama bagi Filipina. Pada tahun 2024, nilai perdagangan bilateral antara Filipina dan AS mencapai 23,5 miliar dolar AS. Ekspor Filipina ke AS tumbuh hampir 7%, dengan surplus perdagangan meningkat menjadi 4,9 miliar dolar AS.

Selain isu perdagangan, kedua presiden juga akan membahas situasi di Laut Tiongkok Selatan dan kerja sama keamanan regional. 

Sebagai sekutu utama AS di kawasan Indo-Pasifik, Filipina memainkan peran penting dalam menghalangi ekspansi PKT. Baru-baru ini, Filipina juga telah menerima penempatan sistem rudal “Typhoon” dari AS guna memperkuat pertahanan bersama. (Hui/asr)

Laporan oleh wartawan Tang Li dan Yu Wei, NTDTV

Kasus Keracunan Timbal Anak di Tianshui, Gansu, Tiongkok, Rumah Sakit di Xi’an dan Shanghai Ditekan oleh Otoritas

Kasus keracunan timbal pada anak-anak di Tianshui, Provinsi Gansu, Tiongkok yang terungkap pada 1 Juli 2025, kembali mendapat sorotan. Belakangan terungkap bahwa rumah sakit di Xi’an, Shanghai, dan kota-kota lain mendapat tekanan dari pihak berwenang agar tidak menerima pasien anak dari kasus tersebut. Suara para orang tua korban juga disensor di internet.

EtIndonesia. Kasus keracunan timbal pada anak-anak di Tianshui, Provinsi Gansu, Tiongkok meledak. Para orang tua menyebut bahwa hasil tes darah timbal di rumah sakit lokal Tianshui sangat berbeda jauh dibandingkan hasil tes di rumah sakit luar kota, seperti di Xi’an—selisihnya bisa 20 hingga 30 kali lipat. Karena itu, banyak orang tua membawa anak-anak mereka ke rumah sakit di Xi’an, Shanghai, Tianjin, Beijing, dan kota-kota besar lainnya untuk pemeriksaan dan pengobatan.

Pada 11 Juli, seorang dokter dari Shanghai diduga menulis di internet bahwa mereka telah menerima “peringatan” dari otoritas kesehatan masyarakat Shanghai:

  • Rumah sakit dilarang membuat pernyataan apapun terkait kasus keracunan timbal di Tianshui.
  • Rumah sakit tidak boleh menerima pasien dari taman kanak-kanak di Tianshui.

Dokter tersebut juga menyebutkan bahwa sudah ada rumah sakit di Shanghai yang telah dipanggil dan ditegur karena menerima pasien dari kasus ini.

Salah satu akun pengguna internet bernama “Xiaomi Mami” dari Shanghai memposting bahwa hingga 10 Juli, beberapa anak dari Tianshui telah tiba di Shanghai (RS Anak Shanghai Xinhua) dan Beijing (RS Chaoyang Beijing). Di RS Xinhua Shanghai, tercatat ada tiga anak yang datang:

  • Anak pertama telah menyelesaikan tahap pertama pengobatan dan bersiap keluar rumah sakit.
  • Dua anak lainnya belum mendapat tempat tidur dan disarankan untuk pulang.
  • Rumah sakit meminta Profesor Yan Chonghuai untuk membuat laporan pengobatan kepada Dinas Kesehatan Shanghai.

Sehari sebelumnya, akun yang sama menulis:  “Untuk saat ini, mohon para orang tua dari Tianshui tidak datang ke Shanghai. RS Xinhua Shanghai telah memberikan tekanan kepada Profesor Yan, dan tidak dapat menyediakan tempat tidur untuk pengobatan anak-anak.”
 

Komentar warganet:  “Kalau sampai bisa tekan Shanghai juga, itu kekuasaan luar biasa besar.”
“Sudah tidak masuk akal.”

Mantan jurnalis investigatif di Tiongkok, Deng Fei, pada 11 Juli mengkritik lewat media sosial:  “Dalam kasus keracunan timbal TK Tianshui, awalnya rumah sakit di sana tidak bisa mendeteksi apa pun. Para orang tua pergi ke Xi’an dan baru di sana ditemukan kadar timbal yang sangat tinggi. Setelah itu, pihak berwenang Tianshui bahkan mengirim orang ke rumah sakit di Xi’an untuk menghalangi pemeriksaan. Setelah terbongkar, mereka tetap bungkam. Akhirnya, para orang tua harus pergi ke Shanghai dan Tianjin.” 

“RS Xinhua Shanghai mengatakan bahwa anak-anak sudah mengalami keracunan lebih dari tiga bulan. Anehnya, entah bagaimana caranya, Tianshui bisa membuat RS Xinhua di Shanghai berada dalam tekanan besar. Para dokter pun tidak berani menerima pasien dari TK Tianshui dengan alasan resmi: tidak ada tempat tidur.”

(Tangkapan layar dari Internet)

Sementara itu, seorang staf dari RS Pusat Kota Xi’an mengunggah video dan mengatakan bahwa rumah sakit mereka juga mendapat tekanan, tetapi berhasil menahan tekanan tersebut dan tetap mengungkap kebenaran.

“Laporan hasil pemeriksaan dikawal petugas keamanan saat diserahkan kepada orang tua.”
 

Sebelumnya ada keluhan bahwa rumah sakit tersebut tidak memberikan hasil laporan kepada keluarga karena tekanan dari atas.

Tak hanya rumah sakit yang mendapat tekanan, para orang tua anak korban yang mencoba menyuarakan kebenaran juga mendapat represi.

Salah satu orang tua mengeluh:

 “Video tidak bisa diunggah.”
“Sudah kejadian begini pun tetap tidak boleh bicara.”
“Kami punya dua anak yang keracunan, tapi internet melarang kami bicara.”

Banyak orang tua memposting bukti hasil tes anak mereka di kolom komentar video laporan CCTV (media pemerintah) tentang kasus tersebut.

Ada yang menyertakan hasil lab, ada juga yang meminta wartawan menghubungi mereka. Namun semua komentar itu disensor.

Seorang warganet menulis: “Sangat memalukan, tidak bisa diposting lagi.”

Komentar lain:

“Haha, lihat komentar-komentar di CCTV. Mereka sudah tidak tahu malu. Masih pantaskah bicara soal kepercayaan rakyat?”

Kasus ini bermula dari laporan pada 1 Juli 2025 tentang anak-anak di TK Hexi Peixin, Tianshui, yang mengalami keracunan timbal, dan langsung viral di internet. Di bawah tekanan opini publik, pihak lokal membentuk “tim investigasi” dan mengeluarkan kesimpulan bahwa:

  • Staf dapur TK tersebut membeli cat warna dari internet dan mengencerkannya untuk digunakan dalam pembuatan makanan.

Namun, laporan tersebut dengan cepat dianggap tidak kredibel oleh publik.
Warganet menyatakan bahwa pewarna makanan justru lebih murah daripada cat warna.
Sementara itu, perusahaan produsen cat menyatakan bahwa produk mereka tidak mengandung logam berat.

(Tangkapan layar dari Internet)

Orang tua tidak percaya hasil tes dari rumah sakit di Tianshui dan memilih pergi ke kota lain untuk pemeriksaan.

Seorang orang tua berkata:  “Kami punya dua anak yang hasil darahnya menunjukkan keracunan timbal. Di RS Tianshui hasilnya 8 μg/L, tapi di Tianjin hasilnya lebih dari 300 μg/L. Itu 40 kali lipat! Kami hanya ingin hasil tes yang jujur dan pengobatan yang tepat waktu. Kenapa ini begitu sulit?”

Tangkapan layar dari Internet)

Orang tua lainnya menambahkan:  “Anak saya tidak menunjukkan gejala apa pun, tapi hasil tes darah menunjukkan 503 μg/L. Di daerah kami hanya disebutkan 61 μg/L. Perbedaan yang sangat besar. Saya tidak berani kembali ke sana untuk berobat.”

Komentar warganet:  “Sudah tidak ada kredibilitas lagi. Selain membungkam suara rakyat, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.” (Hui/asr)

Laporan wartawan Li Li / Editor penanggung jawab: Xu Gengwen

PM Israel Ultimatum Terakhir untuk Hamas, Uranium Diperkaya Iran Tidak Dipindahkan

Sebelum mengakhiri kunjungan empat harinya ke Washington, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendesak Hamas untuk melucuti senjata dan membebaskan setengah dari sisa sandera guna mencapai gencatan senjata 60 hari di Gaza. Sementara itu, menurut pejabat senior Israel, uranium yang telah diperkaya milik Iran tidak sempat dipindahkan sebelum lokasi penyimpanannya dibombardir.

EtIndonesia. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyelesaikan kunjungan empat hari ke Washington. Pada  Kamis (10 Juli), ia memberikan pernyataan di sana, kembali menegaskan syarat minimum untuk mewujudkan gencatan senjata 60 hari di Gaza.

 “Hamas harus meletakkan senjata, Gaza harus didemiliterisasi, dan Hamas tidak boleh memiliki kemampuan pemerintahan atau kekuatan militer apa pun. Itu adalah syarat dasar kami. Jika hal ini dapat dicapai melalui negosiasi, itu lebih baik. Namun jika tidak bisa tercapai dalam 60 hari, kami akan mencapainya melalui cara lain—yaitu dengan kekuatan militer,” kata Benjamin Netanyahu. 

Netanyahu menjelaskan bahwa Israel sedang melakukan negosiasi melalui perantara dengan Hamas untuk mencapai gencatan senjata sementara selama 60 hari, yang bertujuan menyelamatkan separuh dari para sandera yang masih ditahan, baik yang masih hidup maupun yang telah gugur. Jika gencatan senjata sementara berhasil dicapai, Israel bersedia membuka negosiasi untuk mengakhiri perang secara permanen.

Pada hari yang sama, Netanyahu dalam wawancara dengan media AS mengatakan bahwa Israel kemungkinan akan mencapai kesepakatan gencatan senjata sementara di Gaza dalam beberapa hari mendatang, dan membawa pulang separuh dari sisa sandera.

Ia menyebut bahwa dari total 255 sandera yang pernah ditahan oleh Hamas, saat ini masih ada 50 orang yang ditahan di Gaza, dan diperkirakan 20 orang di antaranya masih hidup.

Sementara itu, operasi militer Israel di Gaza masih terus berlangsung. Pada Jumat  (11 Juli) pagi, terdengar ledakan besar berturut-turut di wilayah utara Gaza, dengan asap tebal membumbung di udara.

Di hari yang sama, militer Israel merilis video yang menunjukkan Brigade Lapis Baja ke-188 sedang menjalankan misi di Jalur Gaza.

Di kota Khan Younis di Gaza bagian selatan, militer Israel menghancurkan sebuah terowongan bawah tanah milik Hamas.

Terkait Iran, menurut seorang pejabat senior Israel pada Rabu (9 Juli), serangan udara AS bulan lalu terhadap tiga fasilitas nuklir Iran—Isfahan, Fordow, dan Natanz—menyebabkan kerusakan besar. Uranium yang diperkaya Iran disimpan di tiga lokasi tersebut dan tidak sempat dipindahkan sebelum serangan terjadi.

Pejabat tersebut menambahkan bahwa hanya uranium yang disimpan di fasilitas nuklir Isfahan yang mungkin masih tersisa, karena lokasi tersebut berada sangat dalam di bawah tanah, namun pengambilan ulang material itu akan sangat sulit dilakukan.

Selain itu, setelah serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran tersebut, Iran melakukan serangan balasan ke pangkalan militer AS di Al-Udeid, Qatar.

Citra satelit menunjukkan bahwa Iran kemungkinan menargetkan sistem kubah besar yang digunakan militer AS untuk komunikasi aman. Pihak militer AS kemudian menyatakan bahwa serangan Iran tidak menimbulkan korban jiwa. (Hui/asr)

Laporan oleh Zhao Fenghua, reporter NTDTV