Petugas Pemadam Kebakaran yang Menanggapi Laporan Kebakaran Diserang, Dua Petugas Tewas, Pria Bersenjata Masih Buron

EtIndonesia. Seorang tersangka melepaskan tembakan ke petugas pemadam kebakaran yang menanggapi kebakaran di dekat Gunung Canfield di Idaho Utara di AS pada hari Minggu (29/6), menewaskan dua orang dan memicu operasi polisi untuk melacak penembak, yang masih aktif di daerah tersebut hingga sore hari.

Pihak berwenang mengonfirmasi bahwa kru darurat telah tiba di lokasi kebakaran sekitar pukul 13:30 siang waktu setempat. Sekitar 30 menit kemudian, suara tembakan dilaporkan. Kantor Sheriff Kootenai County mengatakan polisi masih “menerima tembakan penembak jitu” beberapa jam kemudian.

Gubernur Idaho Brad Little menyebut tindakan itu sebagai “serangan langsung yang kejam terhadap petugas pemadam kebakaran kita yang pemberani”.

“Banyak petugas pemadam kebakaran yang heroik diserang hari ini saat menanggapi kebakaran di Idaho Utara. Ini adalah serangan langsung yang kejam terhadap petugas pemadam kebakaran kita yang pemberani. Saya meminta semua warga Idaho untuk berdoa bagi mereka dan keluarga mereka sambil menunggu untuk mengetahui lebih lanjut. Teresa dan saya patah hati,” kata Little.

“Kami sedang aktif menghadapi tembakan penembak jitu saat ini,” kata Sheriff Kootenai County Bob Norris dalam sebuah konferensi pers. “Ini adalah situasi yang aktif.”

Kantor Sheriff Kootenai mengatakan serangan itu terjadi di Gunung Canfield di luar Kota Coeur d’Alene di Kootenai County. Penembak masih bebas, dan api terus berkobar.

Pejabat di Shoshone County yang berdekatan menggambarkan peristiwa yang sedang berlangsung itu sebagai “situasi penembakan aktif di mana penembak masih bebas.” Warga didesak untuk menghindari Canfield Mountain Trailhead dan Nettleton Gulch Road di dekatnya, yang terletak sekitar empat mil di utara pusat kota Coeur d’Alene.

Kebakaran di lokasi pegunungan itu masih menyala. Coeur d’Alene adalah rumah bagi sekitar 55.000 orang dan terletak dekat dengan perbatasan negara bagian Washington.

Kantor Sheriff Kootenai County tidak menanggapi permintaan informasi lebih lanjut.

Petugas pemadam kebakaran telah dikirim untuk memadamkan api sekitar pukul 13:30 siang, kata kantor sheriff.

Pejabat meminta warga sipil untuk menjauh dari area tersebut sementara penegak hukum dan petugas pemadam kebakaran melakukan tugas mereka.(yn)

Rusia Mengamuk di Ukraina, Dunia Terjebak Perang Psikologis Putin—Benarkah Moskow Sudah Lemah?

EtIndonesia. Rusia kembali melancarkan serangan udara terbesar ke Ukraina sejak invasi skala penuh yang dimulai pada Februari 2022. Kepala Departemen Komunikasi Komando Angkatan Udara Ukraina, Yurii Ihnat, pada Minggu (29/6), mengungkapkan bahwa serangan terbaru ini menandai eskalasi paling signifikan sejak pecahnya perang Rusia-Ukraina lebih dari dua tahun lalu.

Rusia Hujani Ukraina dengan Ratusan Drone dan Rudal

Menurut Yurii Ihnat, total 537 unit senjata serangan udara dikerahkan dalam waktu singkat, terdiri dari 477 drone—termasuk drone tempur dan drone umpan—serta 60 rudal berbagai tipe. Angkatan Udara Ukraina melaporkan keberhasilan menembak jatuh 249 drone, sementara 226 lainnya diduga gagal mengenai target akibat gangguan elektronik. Namun, puluhan rudal tetap berhasil lolos dan menghantam sejumlah wilayah vital di Ukraina.

Laporan dari Associated Press menegaskan bahwa serangan ini tidak hanya terfokus di garis depan, tetapi juga menghantam wilayah Ukraina bagian barat yang selama ini relatif aman. Imbas serangan memicu kekhawatiran meluas hingga ke Polandia. Militer Polandia menyatakan telah menerbangkan pesawat tempur bersama sekutu NATO untuk memastikan keamanan wilayah udara mereka, sebagai respons atas kemungkinan drone atau rudal nyasar ke wilayah negara anggota NATO.

Korban Jiwa dan Kerusakan Infrastruktur

Serangan brutal tersebut menelan korban jiwa dan luka-luka di beberapa wilayah. Gubernur Kherson, Oleksandr Prokudin, melaporkan satu orang tewas akibat serangan drone di wilayahnya. Di Kharkiv, Gubernur Oleh Oleg Syniegubov juga mengonfirmasi satu korban meninggal dunia. Sementara itu, di wilayah Cherkasy, Gubernur Ihor Taburets mengungkapkan sedikitnya enam orang mengalami luka-luka, beberapa di antaranya dalam kondisi kritis.

Tragedi juga menimpa militer Ukraina. Angkatan Udara Ukraina menyebutkan sebuah jet tempur F-16 bantuan negara-negara Barat mengalami kerusakan dan jatuh saat melakukan misi penembakan terhadap target udara Rusia. Pilot pesawat tersebut dinyatakan gugur dalam insiden tersebut, menambah daftar panjang kerugian personel dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) Ukraina.

Rusia Klaim Kemajuan di Donetsk, Ukraina Hadapi Tekanan Berat

Di tengah gempuran udara, militer Rusia mengklaim telah menguasai Desa Novoukrainka di wilayah Donetsk yang kini diduduki Rusia. Pasukan Rusia terus berusaha menerobos pertahanan Ukraina di berbagai titik sepanjang lebih dari 1.200 kilometer garis depan.

Panglima Tertinggi Ukraina, Jenderal Oleksandr Syrskyi, memaparkan bahwa di satu sektor pertempuran saja, tercatat 111.000 tentara Rusia telah dikerahkan, terutama di sekitar Kota Pokrovsk yang menjadi pusat pertempuran di Donetsk. Sebagai perbandingan, pada Desember 2023 lalu, jumlah pasukan Rusia di kawasan ini masih sekitar 70.000 orang, menurut data Staf Umum Ukraina.

Tekanan besar ini mempertegas bahwa Rusia tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan perang, bahkan terus meningkatkan intensitas ofensifnya.

Putin Umumkan Pemotongan Anggaran Militer Mulai 2026, Dunia Meragukan Niat Damai Rusia

Dalam perkembangan mengejutkan di ranah geopolitik, Presiden Rusia, Vladimir Putin mengumumkan di Minsk, Belarus, pada 27 Juni, bahwa Rusia akan memangkas anggaran militernya mulai tahun 2026. Pernyataan ini muncul di tengah perhatian internasional yang sedang tertuju pada keputusan NATO menaikkan target belanja pertahanan kolektif hingga 5% Produk Domestik Bruto (PDB) untuk dekade mendatang.

Langkah Putin ini segera menuai beragam interpretasi. Banyak analis dan pengamat menilai, pernyataan Putin hanyalah “manuver pengalihan perhatian”. Mereka membandingkannya dengan taktik yang kerap digunakan Presiden AS, Donald Trump, seperti ketika mengumumkan rencana aksi militer ke Iran namun justru langsung menghancurkan program nuklir Iran dua hari kemudian.

Sejumlah pengamat menilai, pengumuman pemotongan anggaran militer Rusia ini sekadar strategi untuk menciptakan persepsi bahwa Moskow mulai lelah dan ingin mengakhiri perang. Di sisi lain, tak sedikit yang meyakini bahwa langkah ini merupakan upaya menipu Barat—terutama NATO—agar menurunkan kewaspadaan, sementara Rusia perlahan-lahan terus berupaya mencaplok wilayah Ukraina.

NATO Tingkatkan Anggaran Pertahanan, Putin Tuding NATO Agresif

Pada 25 Juni, NATO secara resmi mengumumkan bahwa seluruh negara anggota sepakat menaikkan target pengeluaran pertahanan hingga 5% PDB. Langkah ini diambil sebagai respons atas ancaman jangka panjang yang ditimbulkan Rusia terhadap keamanan kawasan Eropa dan dunia.

Menanggapi kebijakan ini, Presiden Putin menegaskan bahwa kenaikan anggaran NATO “tidak ada kaitannya dengan Rusia” dan menuding tuduhan “agresi Rusia” sebagai propaganda Barat. Dia juga mengklaim bahwa Rusia selama ini justru menjadi korban janji-janji palsu NATO, khususnya terkait komitmen agar aliansi tersebut tidak memperluas pengaruh ke arah timur. Putin menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa era kompromi sepihak dengan Barat sudah selesai.

Namun, respons publik internasional cenderung skeptis. Di media sosial X (Twitter), banyak komentar yang menyarankan agar setiap pernyataan Putin “dibaca terbalik”, merujuk pada reputasi Rusia dalam menjalankan strategi disinformasi dan pengelabuan di panggung global. Sebagian warganet juga menyoroti tekanan ekonomi di dalam negeri Rusia—tingginya inflasi, beban anggaran militer, serta krisis sosial yang terus memburuk.

Perang Belum Usai, Dunia Bersiap Hadapi Krisis Baru

Situasi di medan perang Ukraina dan di panggung diplomasi internasional menunjukkan bahwa konflik Rusia-Ukraina masih jauh dari kata selesai. Kenaikan drastis anggaran pertahanan NATO menandai babak baru perlombaan militer di Eropa, dan sekaligus mengirim sinyal bahwa Barat belum akan melepaskan Ukraina.

Di saat yang sama, dunia menunggu bagaimana Amerika Serikat, yang baru saja mengakhiri perang Israel-Iran, akan menentukan arah kebijakan berikutnya terhadap konflik Rusia-Ukraina. Dengan eskalasi yang terus meningkat dan manuver politik yang semakin rumit, situasi ini berpotensi memicu krisis global baru yang dampaknya meluas ke berbagai belahan dunia.

Serangan Mematikan Israel-AS: 34 Jenderal Iran Tewas, Ilmuwan Nuklir Dihabisi

EtIndonesia. Situasi geopolitik di Timur Tengah mengalami guncangan besar setelah serangkaian operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel menimbulkan kerugian sangat besar bagi Iran. Dampak operasi ini tidak hanya menghancurkan infrastruktur militer strategis, namun juga merenggut nyawa sejumlah tokoh penting negeri para mullah.

Baru-baru ini, media Iran secara resmi menerbitkan “daftar kehormatan korban perang”, yang tanpa disengaja mengonfirmasi skala kerugian militer dan teknologi nuklir yang dialami Iran. Analisis independen menyebutkan, publikasi tersebut secara tidak langsung menjadi pengakuan atas keberhasilan operasi Israel-AS yang selama ini dirahasiakan pemerintah Iran.

Kerugian Fatal di Pihak Iran: Data Mengerikan dari Medan Perang

Berdasarkan data yang dikutip dari berbagai sumber intelijen, termasuk laporan Israel, berikut adalah ringkasan kerugian besar yang dialami Iran pasca operasi militer gabungan tersebut:

  • Sebanyak 34 jenderal dan 22 ilmuwan nuklir Iran tewas dalam rangkaian serangan presisi. Mereka merupakan tulang punggung pengembangan militer dan teknologi nuklir Iran.
  • 80% sistem pertahanan udara Iran berhasil dilumpuhkan; jaringan radar dan rudal anti-serangan udara tak lagi mampu menghadang serangan berikutnya.
  • 65% rudal balistik strategis dihancurkan, sehingga kemampuan Iran untuk melakukan serangan balasan secara signifikan menurun.
  • 20.000 mesin sentrifugal uranium milik Iran hancur, mengakibatkan program pengayaan uranium Iran lumpuh total.
  • Lebih dari 50 kota, termasuk sejumlah markas militer utama, mengalami bombardir hebat. Fasilitas vital seperti markas Garda Revolusi dan pos kepolisian rata dengan tanah, menewaskan pula banyak staf sipil.
  • Dalam 12 hari perang, lebih dari 60 pesawat tempur utama Iran dihancurkan secara total di pangkalan-pangkalan udara utama.
  • Semua pesawat tempur Israel kembali dengan selamat, bahkan pasukan udara Israel dilaporkan berhasil mengeksekusi pejabat penting Hizbullah di Lebanon—menegaskan dominasi udara mutlak di kawasan.

Serangkaian kerugian ini membuat Iran mengalami “bencana strategis” yang akan sulit dipulihkan dalam waktu dekat. Banyak pengamat menilai, ini adalah salah satu pukulan terbesar terhadap kekuatan militer dan pertahanan Iran dalam satu dekade terakhir.

Upaya Iran Mendapatkan Bantuan: Menukar Minyak Demi Jet Tempur Tiongkok

Menghadapi situasi kritis ini, Menteri Pertahanan Iran Aziz Nasirzadeh diketahui menawarkan pasokan minyak mentah ke Tiongkok sebagai imbalan untuk memperoleh jet tempur J-10C. Langkah ini menunjukkan betapa putus asanya Teheran dalam memperbaiki postur militernya yang remuk. Namun, sejumlah pakar militer internasional menilai, sekalipun Iran mendapat tambahan puluhan unit jet tempur J-10C dari Tiongkok, posisi Iran tetap lemah dan tidak akan mampu mengubah peta kekuatan di kawasan.

Eropa Euforia, Rusia-Ukraina Masih Membara

Sementara kemenangan diplomasi dan militer AS disambut dengan euforia di kalangan sekutu Eropa—terutama setelah NATO di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump memaksa seluruh anggota menaikkan anggaran pertahanan hingga 5% dari GDP—di belahan dunia lain, perang Rusia-Ukraina masih terus memanas, meski kini mulai “dilupakan” publik internasional.

Insiden terbaru menimpa Lu Yuguang, reporter perang ternama dari Hong Kong yang bekerja untuk CCTV. Saat sedang melakukan peliputan di wilayah Kursk, Rusia, Lu terkena serangan drone Ukraina dan menderita luka serius di kepala serta gegar otak. Kini ia tengah menjalani perawatan intensif. Peristiwa ini mempertegas bahwa medan perang di Rusia-Ukraina masih sangat berbahaya dan belum ada tanda-tanda stabilitas, bahkan di wilayah yang diklaim telah sepenuhnya dikuasai pasukan Rusia.

Catatan menarik, sebelumnya Lu Yuguang sempat menjadi kontroversi publik setelah diketahui menggunakan rekaman video mobil modifikasi milik YouTuber Kanada, Clarence Carter, dan mengklaimnya sebagai bukti reruntuhan HIMARS Ukraina. Tindakannya itu sempat menjadi bahan olok-olok di media sosial internasional.

Tentara Bayaran Tiongkok di Rusia: Kisah Pilu dan Realita Perang Modern

Tak hanya kerugian negara-negara besar, konflik di Ukraina juga memperlihatkan nasib tragis para tentara bayaran asing, termasuk dari Tiongkok. Pada 28 Juni 2025, seorang anggota Resimen 102 Rusia asal Tiongkok, Wang Meng, tertangkap oleh pasukan Ukraina. Kisah hidup Wang membuka mata dunia tentang bagaimana tentara bayaran Tiongkok direkrut, dikirim ke garis depan, dan akhirnya menjadi korban sia-sia dalam konflik brutal.

Berdasarkan pengakuan Wang Meng (dalam parafrase media Ukraina):

  • Wang berangkat dari Tiongkok menuju Rusia, transit di Moskow, lalu melanjutkan perjalanan ke Ufa.
  • Di Ufa, Wang dan sejumlah calon tentara bayaran lainnya hanya menunggu selama sebulan lebih tanpa kejelasan, dengan kondisi hidup seadanya.
  • Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan, ia dipindahkan ke Rostov untuk menjalani pelatihan militer kilat, lalu dikirim langsung ke garis depan Ukraina.
  • Begitu memasuki Ukraina, seluruh alat komunikasi dan dokumen pribadi Wang disita. Ia tidak bisa lagi menghubungi keluarganya.
  • Wang mengaku niat awalnya hanya ingin bekerja di bidang logistik demi mengirim uang ke keluarga di kampung halaman. Namun, ia dipaksa bertugas di garis depan tanpa perlengkapan logistik yang memadai.
  • Kondisi di garis depan sangat buruk dan penuh ketidakpastian, hingga akhirnya Wang menyerah dan memutuskan menyerahkan diri ke pasukan Ukraina.
  • Wang juga menjadi saksi penderitaan rekan-rekan setimnya dari Tiongkok. Dua orang di antaranya mengalami luka parah: satu terkena pecahan peluru di bagian belakang tubuh, satu lagi kedua kakinya hancur akibat ledakan ranjau.

Kisah Wang Meng bukan sekadar anekdot tragis, melainkan cermin dari suramnya nasib tentara bayaran di tengah konflik besar dunia. Mereka yang berangkat dengan harapan mencari nafkah justru berakhir menjadi korban “permainan” geopolitik negara-negara adikuasa.

Kesimpulan:

Konflik dan dinamika geopolitik tahun 2025 telah membawa perubahan besar di berbagai kawasan dunia. Iran kini menghadapi fase terlemahnya dalam sejarah modern akibat pukulan telak dari operasi militer Israel-AS. 

Di sisi lain, medan tempur Rusia-Ukraina tetap menyimpan bahaya laten yang mengancam nyawa siapa saja—tak hanya tentara nasional, tapi juga para tentara bayaran dan jurnalis perang. Situasi global saat ini menuntut kewaspadaan ekstra, terutama di tengah perubahan konstelasi kekuatan yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. (***)

Trump Bongkar Lokasi Persembunyian Khamenei: Ancaman Balas Dendam Amerika di Tengah Damai Palsu!

EtIndonesia. Situasi politik di Timur Tengah kembali memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, untuk pertama kalinya muncul ke hadapan publik sejak tercapainya gencatan senjata antara Iran dan Israel. Dalam pidato televisi nasional pada Rabu malam, Khamenei dengan penuh percaya diri menyatakan bahwa “Iran telah mengalahkan Israel” serta “menampar Amerika Serikat”. Klaim ini segera memicu respons keras dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang saat ini masih memegang pengaruh besar di kancah politik global.

Pidato Kemenangan Khamenei dan Retorika Anti-AS

Khamenei, yang sejak awal konflik jarang tampil ke publik, muncul di tengah euforia masyarakat Iran. Ia menegaskan, “Israel sudah mengalami kekalahan besar. Amerika pun telah kita tampar di hadapan dunia.” Pidato tersebut disambut sorak-sorai para pendukung garis keras rezim, sementara para pejabat senior Iran menegaskan kemenangan ini sebagai “simbol kekuatan Islam”.

Namun, pernyataan Khamenei justru memancing reaksi keras dari Washington.

Trump: “Khamenei Berbohong dan Saya Bisa Saja Mengakhiri Hidupnya”

Donald Trump, melalui unggahan di jejaring sosial dan dalam wawancara singkat di Mar-a-Lago, mengecam pernyataan Khamenei. Ia menuding Pemimpin Tertinggi Iran itu “berbohong” dan “tidak tahu malu”. Trump bahkan secara eksplisit mengancam bahwa ia mengetahui lokasi persembunyian Khamenei dan “bisa saja meminta Israel atau militer AS mengakhiri hidupnya, namun justru telah menyelamatkannya”.

Trump mengungkapkan, dirinya sempat mempertimbangkan opsi pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran—langkah yang dinilai bisa memperbaiki kondisi ekonomi Iran pasca konflik. Namun, karena pidato provokatif dan sikap bermusuhan dari Khamenei, Trump memutuskan menghentikan seluruh upaya pencabutan sanksi.

“Iran harus memilih untuk kembali ke tatanan dunia yang beradab, atau bersiap menghadapi isolasi dan kehancuran ekonomi lebih parah,” tegas Trump. Ia menutup pesannya dengan kalimat bernada sindiran: “Saya harap para pemimpin Iran sadar, madu selalu lebih efektif daripada cuka.”

Gencatan Senjata Iran-Israel: Amerika Keluarkan Peringatan Evakuasi Darurat

Usai dua pekan konflik panas, Iran dan Israel akhirnya menyepakati gencatan senjata. Pemerintah Iran mulai membuka kembali sebagian wilayah udaranya untuk lalu lintas sipil, pertanda bahwa ketegangan perlahan menurun. Namun demikian, suasana tetap mencekam. Kedutaan Virtual Amerika Serikat di Iran secara mendadak merilis peringatan darurat: seluruh warga negara AS, terutama yang berkewarganegaraan ganda, diminta segera meninggalkan Iran.

Dalam pernyataannya, Kedutaan Virtual AS menegaskan bahwa meskipun beberapa bandara utama seperti di Teheran telah kembali beroperasi, jadwal penerbangan masih sangat tidak pasti akibat situasi keamanan yang belum stabil. Warga negara AS dianjurkan segera memantau informasi terbaru dari maskapai dan media lokal. Jika jalur penerbangan keluar Iran mendadak ditutup, opsi pelarian darat ke negara-negara tetangga seperti Azerbaijan, Armenia, Turki, atau Turkmenistan menjadi prioritas.

Tidak Ada Bantuan Konsuler, Siaga Mandiri Wajib Dilakukan

Sejak tahun 2009, Amerika Serikat tidak lagi memiliki kantor kedutaan atau konsulat di Iran. Seluruh komunikasi resmi hanya dilakukan melalui platform daring. Kedutaan Virtual AS mengingatkan bahwa pemerintah Amerika tidak dapat memberikan bantuan evakuasi langsung di lapangan. Warga AS diminta segera mendaftarkan diri dalam program daftar siaga Departemen Luar Negeri, menyiapkan rencana darurat, dan memastikan seluruh anggota keluarga mengetahui langkah evakuasi mandiri.

Warga Amerika di Iran juga diwajibkan menyiapkan cadangan makanan, air bersih, obat-obatan, dan menjaga alat komunikasi tetap aktif. Komunikasi secara berkala dengan keluarga di luar Iran sangat dianjurkan.

Jika situasi memburuk dan evakuasi fisik menjadi mustahil, warga diminta mencari tempat perlindungan yang aman dan menyusun rencana kontingensi untuk segala kemungkinan. Kedutaan juga menyoroti potensi pemerintah Iran memutus akses internet dan telepon tanpa pemberitahuan, sehingga setiap warga harus memiliki jalur komunikasi cadangan.

Risiko Ganda bagi Pemegang Dwi-Kewarganegaraan

Bagi warga AS yang juga memiliki kewarganegaraan Iran, risiko menjadi jauh lebih tinggi. Iran tidak mengakui status dwi-kewarganegaraan—mereka menganggap seluruh pemilik paspor Iran sebagai warga penuh dan sepenuhnya tunduk pada hukum Iran. Akibatnya, perlindungan dari Amerika tidak berlaku, bahkan mereka bisa sewaktu-waktu ditahan, diinterogasi, atau paspornya disita apabila terdeteksi memiliki hubungan dengan AS.

Kedutaan Virtual AS mengimbau agar dwi-warga hanya menggunakan paspor Iran saat keluar dari negara tersebut, lalu mengurus visa negara tujuan transit untuk mendapatkan kembali dokumen AS jika memang harus mengganti paspor di negara ketiga.

Penutup: Ketidakpastian dan Risiko Tinggi Masih Membayangi

Meskipun gencatan senjata antara Iran dan Israel telah diumumkan, situasi keamanan masih sangat rapuh. Retorika panas dari para pemimpin, ancaman balasan militer, hingga potensi kekacauan sosial membuat peringatan evakuasi dari Amerika Serikat terasa sangat serius. Ke depan, nasib warga asing di Iran akan sangat bergantung pada perkembangan politik yang dinamis dan tidak terduga, serta kebijakan pemerintah Iran yang sering berubah sewaktu-waktu. (***)

Badai Baru dari Teheran: Kerja Sama Nuklir Putus, Jet Tempur Tiongkok Didatangkan, Khamenei Menghilang!

EtIndonesia. Krisis geopolitik Iran memasuki babak baru. Dalam keputusan dramatis, parlemen Iran secara bulat mengesahkan undang-undang untuk menghentikan seluruh kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan memerintahkan pembongkaran seluruh kamera pengawas di fasilitas nuklirnya. Langkah ekstrem ini diambil sebagai respons atas kegagalan IAEA mengutuk serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap sejumlah fasilitas nuklir Iran, yang terjadi dalam dua pekan terakhir.

Latar Belakang Keputusan Parlemen

Pada pertengahan Juni hingga akhir Juni 2025, Iran berada dalam tekanan bertubi-tubi. Sejak 13 Juni, militer Israel melancarkan serangan udara bertubi-tubi ke fasilitas nuklir Iran. Puncaknya, Amerika Serikat pada 22 Juni 2025 meluncurkan operasi “Midnight Hammer” menggunakan pesawat pembom siluman B-2. Operasi tersebut dikonfirmasi menyebabkan kerusakan parah pada sejumlah infrastruktur vital, terutama di situs Fordow dan fasilitas sentrifugal utama Iran. Meskipun demikian, menurut Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi, insiden ini tidak menimbulkan kebocoran radioaktif berskala besar, namun merusak sistem kelistrikan dan memperlambat program nuklir Iran.

Iran menilai IAEA gagal bersikap tegas dan tidak melindungi hak-hak negara yang menjadi anggota.Ketua  parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, secara terbuka menuding IAEA abai menjalankan tugas dan menuntut penghentian kerja sama hingga “keamanan fasilitas nuklir Iran benar-benar terjamin.”

Langkah tegas Iran juga dimaksudkan untuk menutupi tingkat kerusakan fasilitas nuklir yang sebenarnya, sekaligus menjaga ketidakpastian strategis (strategic ambiguity) agar pihak musuh tidak bisa menebak kekuatan sesungguhnya Iran pasca-serangan.

Peringatan ke Eropa dan Polemik Internasional

Di saat bersamaan, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, lewat siaran televisi nasional, memperingatkan negara-negara Eropa untuk tidak mengaktifkan mekanisme “snapback”—sanksi otomatis yang diatur dalam Perjanjian Nuklir 2015 (JCPOA). Menurut Araghchi, jika Eropa nekat mengaktifkan sanksi ini, Iran akan mengambil langkah-langkah balasan yang lebih keras dan keluar sepenuhnya dari semua pembatasan nuklir.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa negaranya tetap berhak mengembangkan energi nuklir untuk tujuan damai di bawah perlindungan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), namun menolak bentuk pengawasan IAEA yang dinilai “bernuansa politis dan bias terhadap Barat.”

Analisis Para Pakar: “Permainan Diplomasi” dan Balas Dendam Iran

Langkah Iran memutus kerja sama dengan IAEA dinilai para pakar sebagai bagian dari strategi “permainan diplomasi”. Dr. Sina Azodi, Asisten Profesor Ilmu Politik Timur Tengah di George Washington University, menyebut keputusan Iran sebagai manuver untuk meningkatkan posisi tawar di meja perundingan internasional, sembari menyembunyikan skala kerusakan nyata akibat serangan-serangan udara.

Seyed Hossein Mousavian, mantan diplomat nuklir Iran, menyebut sikap tegas Iran ini sebagai respons yang sudah diperkirakan. Sementara itu, Audibert, mantan negosiator nuklir Prancis, menyoroti pola lama Iran yang kerap menghentikan sementara kerja sama dengan IAEA, lalu kembali membuka diri jika tekanan internasional meningkat.

Di media sosial X , publik dunia menyoroti langkah Iran sebagai “pembalikan total” yang dapat memicu dalih baru bagi AS dan Israel untuk melakukan tindakan lanjutan. Banyak yang menilai, langkah ini merupakan perjudian besar—antara memperkuat posisi tawar, atau justru semakin mengisolasi Iran.

Krisis Aviasi: Iran Beralih ke Jet Tempur Tiongkok

Di tengah memburuknya situasi keamanan, Iran juga bergerak cepat memperkuat pertahanan udara. Setelah gagal mendapatkan pengiriman jet tempur Su-35S Rusia akibat penundaan dan pengalihan pesanan ke Aljazair, Iran beralih ke Tiongkok dengan membeli puluhan jet tempur J-10C, pesawat tempur generasi 4.5 yang memiliki radar AESA mutakhir dan rudal PL-15 jarak jauh.

Menurut laporan National Interest, selama konflik 12 hari terakhir, Iran kehilangan sekitar 30% armada jet tempurnya akibat serangan udara—membuka kelemahan besar di sektor pertahanan udara Iran yang selama ini masih bergantung pada armada lawas. Harga J-10C relatif murah, hanya US$60–90 juta per unit, jauh di bawah Su-35S Rusia. Selain itu, pengiriman dari Tiongkok dinilai lebih pasti dan stabil.

Sumber dari pemerintah Iran mengungkapkan bahwa dana untuk pembelian J-10C berasal dari relaksasi sanksi perdagangan minyak yang diberikan AS kepada Tiongkok dan Iran. Dengan demikian, Iran mendapatkan dana segar di tengah krisis ekonomi domestik.

Analis militer Bulgaria, Ivan Boyko, menilai keputusan Iran untuk beralih ke J-10C bukan sekadar kebutuhan militer, namun juga simbol pergeseran geopolitik dari Rusia ke Tiongkok di kawasan Timur Tengah. Meski demikian, tantangan baru menanti, terutama dalam pelatihan pilot dan logistik, mengingat sistem persenjataan dan operasional J-10C sangat berbeda dengan arsenal Iran sebelumnya.

Pemakaman Nasional: Khamenei Menghilang, Spekulasi Memuncak

Pada 28 Juni 2025, Iran menggelar pemakaman nasional besar-besaran untuk 60 perwira militer dan ilmuwan nuklir yang tewas dalam serangan udara terbaru. Acara ini dihadiri oleh pejabat puncak seperti Komandan Garda Revolusi Hossein Salami dan Presiden terpilih Masoud Pezeshkian . Namun, absennya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam acara tersebut memicu spekulasi luas.

Khamenei, menurut berbagai laporan, tidak pernah muncul di depan publik sejak awal pecahnya konflik. Reuters melaporkan, ia diduga bersembunyi di bunker bawah tanah untuk menghindari kemungkinan serangan lanjutan. Sementara itu, putranya Sayyid Mojtaba Khamenei  mewakili keluarga dalam upacara pemakaman. Sumber diplomatik juga menyebut, Khamenei telah menunjuk tiga rohaniwan senior sebagai calon penerus, menandakan rezim tengah bersiap menghadapi kemungkinan “kekosongan kekuasaan” akibat kondisi fisik Khamenei yang terus menurun.

Respons Internasional: AS dan Israel Siap Bertindak, Iran Kian Terpojok

Krisis nuklir Iran saat ini kembali menjadi perhatian dunia. Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengklaim bahwa program nuklir Iran telah “dihancurkan total”. Langkah Iran membongkar pengawasan internasional dan membeli jet tempur J-10C dari Tiongkok dianggap sebagai upaya untuk mengatur ulang keseimbangan militer regional, sembari mempertahankan “strategi ketidakpastian” (nuclear ambiguity) sebagai kartu tawar dalam perundingan.

Namun, para pengamat menilai strategi Iran tidak akan berjalan mulus. Tekanan ekonomi dalam negeri, protes publik, dan isolasi politik internasional semakin mempersempit ruang gerak Teheran. Sementara, integrasi sistem persenjataan baru bersama Tiongkok juga memerlukan waktu yang tidak sebentar.

Kesimpulan: Iran di Titik Kritis

Dalam beberapa pekan ke depan, situasi Iran diprediksi akan semakin menegang. Langkah ekstrem memutus kerja sama dengan IAEA, pembelian senjata strategis dari Tiongkok, hingga absennya pemimpin tertinggi dalam acara nasional, merupakan tanda-tanda bahwa rezim di Teheran tengah menghadapi tekanan luar biasa, baik dari dalam maupun luar negeri.

Iran tampaknya akan mempertahankan strategi “ketidakpastian nuklir” dan mempercepat modernisasi militer bersama Tiongkok, meski belum jelas apakah langkah ini cukup untuk menghadapi tekanan gabungan AS dan Israel. Dunia kini menunggu: apakah Iran akan kembali ke meja perundingan, atau justru melangkah semakin jauh ke dalam jurang isolasi dan konflik terbuka. (***)

Edisi Khusus : Satu Perjanjian, Seribu Malu: Bagaimana Trump Paksa Tiongkok Menyerah Total?”

EtIndonesia. Pada 26 Juni 2025, Washington DC, Presiden Amerika Serikat Donald Trump berdiri tegak di balik podium Gedung Putih, wajahnya berseri, senyumnya lebar. Di hadapan sorotan kamera dunia, Trump mengumumkan:  “Kami baru saja menandatangani perjanjian dengan Tiongkok. Mereka semua berlutut!”

Tepuk tangan membahana dari para pejabat dan jurnalis Amerika. Dalam hitungan menit, media besar Amerika berlomba memasang breaking news dengan tajuk kemenangan besar AS atas Tiongkok.

Namun, suasana di Beijing 180 derajat berbeda. Tidak ada pengumuman resmi dari pemerintahan partai komunis Tiongkok. Tidak ada siaran pers dari Xinhua News Agency. CCTV hanya menayangkan berita panen raya dan prestasi pelajar, seolah-olah dunia sedang dalam keadaan normal. Di internet, tak satu pun influencer atau buzzer pemerintah berani menyentuh topik perjanjian ini. Bahkan juru bicara Kementerian Luar Negeri partai komunis Tiongkok (PKT), yang biasanya lantang berbicara , kali ini seolah kehilangan suara.

Keheningan Total

Banyak pengamat menilai, justru dalam diam inilah terkandung sinyal terpenting—Tiongkok telah menerima kekalahan telak dalam diplomasi, dan tidak sanggup mengemasnya sebagai kemenangan.

Mengapa Perjanjian Ini Begitu Sensitif?

Hanya dua bulan sebelumnya, tepat pada 24 April, juru bicara Kemenlu Tiongkok, Guo Jiakun, dengan lantang membantah segala kemungkinan negosiasi dengan Amerika Serikat.
“Tiongkok dan AS tidak pernah berunding soal tarif, apalagi mencapai kesepakatan.”
Ucapan itu keluar di depan puluhan media, dengan gestur percaya diri, nyaris menantang. Seolah-olah, Tiongkok tak pernah takut tekanan Amerika.

Tapi, realitas berbicara lain. Diam-diam, tanpa liputan media, pada akhir Juni perjanjian benar-benar ditandatangani di London. Bukan sekadar MoU atau kerangka kerja samar, melainkan dokumen resmi dengan rincian pasal-pasal yang jelas, termasuk sanksi dan tanggung jawab tegas.

Keesokan harinya, Presiden Trump langsung menggelar konferensi pers, membanggakan keberhasilannya di hadapan dunia.

Di sisi lain, Beijing benar-benar membisu.

Jika perjanjian ini menguntungkan Tiongkok atau sekadar “win-win cooperation” seperti jargon propaganda mereka, tentu pemerintah akan mengemasnya sebagai prestasi diplomatik. Faktanya, seluruh lini propaganda dipaksa diam seribu bahasa.

 Mengapa?

Karena pasal-pasal perjanjian ini adalah rangkaian kompromi dan penyerahan Tiongkok di hadapan tekanan Amerika.

Apa Saja Isi Perjanjian “Rahasia” Ini?

Laporan berbagai sumber diplomatik dan bocoran para analis mengungkap setidaknya lima poin utama dalam perjanjian:

1. Ekspor Logam Tanah Jarang: Senjata Strategis yang “Dilepas”

Tiongkok selama ini membanggakan rare earth sebagai “bom nuklir ekonomi”—jika mereka menghentikan ekspor, industri teknologi Barat lumpuh. Tapi perjanjian kali ini memaksa Tiongkok tidak hanya melanjutkan ekspor, tapi mempercepat proses dan memprioritaskan permintaan Amerika. Setiap pesanan dari AS harus langsung diproses tanpa hambatan, layaknya layanan ekspres.

Singkatnya, rare earth—dulu alat gertak politik—kini berubah menjadi komoditas dagang biasa. Tiongkok tak lagi punya daya tawar strategis, bahkan “mengantarkan” bahan mentah itu ke tangan pesaing utama mereka.

2. Pasokan Magnet: Membantu Lawan Bangun Senjata

Tak berhenti di bahan mentah, Tiongkok juga harus mengekspor produk turunannya: magnet khusus untuk pembuatan radar militer, rudal presisi, hingga chip kendaraan listrik Amerika.
Artinya, Tiongkok secara de facto mendukung pembangunan industri militer dan teknologi tinggi Amerika. Jika selama ini rantai pasok Asia membuat AS ketergantungan, kini Beijing sendiri yang “memberikan senjata ke musuh”.

3. Cabut Semua Balasan Non-Tarif: Menyabotase Diri Sendiri

Setiap kali Amerika menaikkan tarif, Tiongkok biasanya membalas lewat hambatan non-tarif—memperlambat izin impor, menahan kargo di pelabuhan, hingga membatasi transfer teknologi.
Perjanjian baru ini memaksa semua hambatan balasan dicabut tanpa sisa. Seluruh instrumen perang dagang “dilucuti” secara sepihak, bahkan dilakukan secara diam-diam tanpa pengumuman ke publik dalam negeri.

4. Larangan Ekspor Bahan Kimia Fentanyl: Pengakuan Dosa Internasional

Fentanyl, narkoba sintetik yang membunuh puluhan ribu orang Amerika setiap tahun, selama ini dianggap dipasok dari Tiongkok. Di bawah tekanan AS, Beijing akhirnya mengakui peran sebagai sumber bahan kimia utama, dan menandatangani larangan ekspor dua bahan baku penting.
Selama bertahun-tahun Tiongkok menyangkal tudingan ini. Sekarang, untuk pertama kalinya, mereka tunduk pada aturan Amerika—bukan sekadar pengakuan teknis, melainkan pengakuan kesalahan politik.

5. Visa Mahasiswa: Menyelinap Lewat “Lubang Tikus”

Sejak 2020, AS mencabut ribuan visa mahasiswa dan peneliti Tiongkok dengan alasan keamanan nasional, terutama di bidang AI dan teknologi tinggi. Beijing selalu mengutuk kebijakan ini sebagai diskriminasi.

Namun dalam perjanjian terbaru, Amerika bersedia melonggarkan seleksi dan “mengizinkan” mahasiswa Tiongkok kembali kuliah di AS—tentu saja, dengan syarat ketat dan pengecualian di bidang sensitif.
Secara politik, ini diakui sebagai kebutuhan Tiongkok, karena elite mereka masih sangat mengandalkan pendidikan Barat untuk anak-anaknya. Untuk “lubang kecil” inipun, pemerintah rela merangkak dan menerima tanpa perlawanan.

Mengapa Tiongkok Mau Menyerah?

Para pengamat menyoroti bahwa kelima poin di atas sebelumnya disebut “garis merah” oleh propaganda partai. Kini, semua dikorbankan.
Apa sebabnya?

Ada lima krisis utama yang menekan Xi Jinping hingga harus “tanda tangan”:

  1. Arus Modal Asing Kabur & Krisis Yuan
    Sepanjang 2025, arus modal keluar dari Tiongkok pecah rekor: Apple, Tesla, pabrikan otomotif Eropa, dan hedge fund Hong Kong hengkang massal. Cadangan devisa terkuras demi menahan yuan yang terus melemah. Pemerintah panik. Pilihan: tunduk atau ekonomi kolaps.
  2. Industri Chip & Teknologi Terancam Runtuh
    Embargo teknologi AS membuat industri chip Tiongkok lumpuh. Huawei tidak bisa produksi mandiri, mesin litografi canggih gagal dibeli, software dan bahan baku dikuasai AS-Jepang. Pabrik-pabrik raksasa mulai mencari lokasi di luar Tiongkok, ancaman pemutusan rantai pasok makin nyata.
  3. Geopolitik Gagal: Rusia & Iran Tak Lagi Bisa Diandalkan
    Perang Ukraina memaksa Rusia fokus ke dalam negeri, Iran sendiri dihajar Israel-AS dan kehilangan stabilitas. “Sekutu” yang diandalkan justru jadi beban—bukan penopang.
  4. Persaingan Internal & Sidang Pleno IV
    Pertarungan faksi di elite partai memanas jelang Sidang Pleno IV. Xi Jinping harus mengutamakan stabilitas, dan tidak bisa mempertaruhkan kehancuran ekonomi demi gengsi semu.
  5. Kegelisahan Sosial Memuncak
    Pengangguran remaja naik tajam, pasar properti ambruk, perusahaan besar bangkrut, dana pensiun makin terancam. Keresahan sosial membayangi setiap kebijakan pemerintah.
    Stabilitas dalam negeri kini jadi prioritas nomor satu.

Perjanjian “Masa Percobaan”, Bukan Perdamaian Abadi

Yang paling ironis: perjanjian ini hanya berlaku selama 90 hari. Gedung Putih terang-terangan menyebut, Amerika akan menilai kepatuhan Tiongkok hingga pertengahan Agustus. Jika gagal, sanksi bisa langsung diberlakukan kembali atau bahkan diperberat.

Dari sisi ekonomi pun timpang: Tarif rata-rata untuk ekspor Tiongkok ke AS 55%, sedangkan produk Amerika ke Tiongkok hanya 10%. Ini bukan win-win, melainkan skema pemenang dan pecundang.

“Berlutut dalam Diam”—Peta Baru Hubungan AS-Tiongkok

Maka, yang tersaji di depan mata dunia saat ini adalah sebuah “surat penyerahan diri” yang dibungkus senyap. Trump mengumumkan dengan bangga, media Barat membedah isi perjanjian, sementara Beijing membisu.

Banyak analis menilai, Xi Jinping bahkan bukan aktor utama dalam penandatanganan ini. Dokumen dirumuskan oleh “tim penanganan krisis” dalam pemerintahan—kelompok elit yang sadar hanya kompromi sementara bisa mencegah runtuhnya stabilitas nasional.

Inilah politik berlutut dalam diam. Suatu ketika partai berkoar, “tak akan pernah berunding!” Kini, mereka justru merangkak di lorong gelap, menandatangani perjanjian demi secercah harapan bertahan hidup.

Penutup: Pelajaran dari Perjanjian 26 Juni

Perjanjian ini bukan “kesepakatan bersejarah” seperti jargon propaganda, melainkan dokumen darurat—simbol krisis akut. Tidak ada perayaan kemenangan di Beijing, tak ada selebrasi nasional, bahkan tidak ada pidato motivasi dari elite partai.

Yang tersisa hanyalah senyum getir Trump, sunyi di Beijing, dan pelajaran pahit bahwa kadang, diam adalah bentuk kekalahan paling nyata. (***)

Apakah Iran Sudah Memindahkan Uranium yang Telah Diperkaya? Kesepakatan Nuklir AS-Iran Terungkap!

EtIndonesia. Baru-baru ini, Gedung Putih dan Pentagon menyatakan bahwa tidak ada intelijen yang menunjukkan Iran memindahkan uranium yang telah diperkaya sebelum serangan udara Amerika. Selain itu, sumber yang mengetahui masalah ini mengungkapkan bahwa isi dari kesepakatan nuklir yang sedang diupayakan oleh Amerika Serikat mungkin mencakup proyek energi nuklir sipil senilai 20 hingga 30 miliar dolar AS. Namun, belum jelas apakah perundingan nuklir antara AS dan Iran akan dapat dilanjutkan minggu depan.

 “Kalian bisa melihat fasilitas nuklir utama rezim Iran. Ini adalah fasilitas penting dalam rantai produksi senjata nuklir,” kata juru Bicara Militer Israel, Brigadir Jenderal Deferlin. 

Pada Jumat (27/6), militer Israel mengkonfirmasi bahwa fasilitas nuklir Fordow—yang dibangun puluhan meter di bawah tanah dan di dalam batuan keras—serta fasilitas pengayaan uranium terbesar Iran di Natanz, telah rusak parah akibat serangan udara militer AS.

Militer Israel menyatakan bahwa ini membuat rezim Iran tidak dapat lagi memperkaya uranium hingga tingkat militer. Selain itu, ribuan perangkat konversi di dekat Isfahan juga dihancurkan oleh militer AS.

 “Pasukan Pertahanan Israel telah mencapai, bahkan dalam beberapa aspek melebihi, target operasional mereka. Tapi kami tidak berilusi—musuh belum mengubah niat mereka,” tambah Deferlin. 

Namun, beberapa ahli memperingatkan bahwa Iran kemungkinan telah memindahkan sebagian uranium berkadar tinggi yang mendekati tingkat senjata sebelum serangan terjadi. Beberapa media juga mengutip evaluasi awal intelijen Eropa yang menyebutkan bahwa cadangan uranium berkadar tinggi milik Iran telah disebar ke berbagai lokasi dan masih utuh.

Menteri Pertahanan AS, Pete  Hegeseth, menanggapi hal ini: “Sejauh yang saya ketahui, tidak ada intelijen yang menunjukkan bahwa uranium tersebut dipindahkan dari tempatnya atau terjadi hal-hal yang tidak diharapkan.”

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, juga memberikan pernyataan yang tegas:

“Kami memantau dengan ketat, dan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan kepada AS bahwa ada uranium yang dipindahkan sebelum serangan terjadi.”

Wartawan bertanya:  “Dari lokasi mana pun?”

Leavitt menjawab:  “Ya, dari mana pun.”

Seorang anggota Kongres AS bahkan menyindir bahwa situasi ini bukan seperti dalam film Mission: Impossible.

Senator Republik Tom Cotton:  “Saya hanya ingin mengatakan bahwa menghancurkan semua uranium mereka, atau menyita uranium mereka, atau hal lainnya, bukanlah bagian dari misi. Sekali lagi, ini bukan film Mission: Impossible.”

Baru-baru ini, pemerintahan Trump sedang mendorong dimulainya kembali perundingan kesepakatan nuklir dengan Iran. Beberapa sumber yang mengetahui negosiasi ini mengatakan kepada CNN bahwa salah satu isi kesepakatan tersebut mencakup proyek uranium non-pengayaan untuk energi sipil senilai 20 hingga 30 miliar dolar AS. Namun, dana ini kemungkinan tidak berasal langsung dari AS, melainkan akan dibiayai oleh negara-negara mitra di Teluk.

Isi kesepakatan lainnya kemungkinan mencakup penghapusan sebagian sanksi terhadap Iran dan pembekuan dana Iran sebesar 6 miliar dolar AS di bank luar negeri.

Namun, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, baru-baru ini menyatakan bahwa belum ada kesepakatan dengan AS untuk melanjutkan perundingan minggu depan.

Pada  Jumat, Kanselir Jerman Friedrich Merz mendesak Iran untuk kembali ke meja perundingan terkait masalah nuklir.

 “Iran tidak boleh memperburuk konflik atas program nuklirnya. Iran harus kembali ke meja perundingan. Kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk menstabilkan situasi di kawasan ini,” ujarnya. (Hui/asr)

Laporan oleh Yi Jing, NTD News

Diduga Sebagai “Sekolah Partai Luar Negeri” PKT, Harvard Kennedy School Lakukan PHK

Di tengah tekanan besar dari pemerintahan Trump, Harvard Kennedy School—yang dijuluki sebagai “sekolah partai luar negeri” Partai Komunis Tiongkok (PKT)—mulai melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) demi menghadapi kesulitan keuangan.

EtIndonesia. Dekan Harvard Kennedy School, Jeremy M. Weinstein, pada Rabu (25/6/2025) mengumumkan melalui email kepada staf akademik dan administrasi bahwa universitas tersebut sedang memberlakukan penghentian perekrutan dan kenaikan gaji berbasis kinerja di seluruh kampus. Di samping itu, Kennedy School juga akan memangkas biaya operasional, termasuk melakukan PHK.

Dalam email tersebut disebutkan bahwa baik Harvard University maupun Kennedy School tengah menghadapi “tantangan keuangan yang belum pernah terjadi sebelumnya”. Oleh karena itu, sekolah ini terpaksa memangkas sejumlah staf dan merombak beberapa jabatan untuk menjaga keberlanjutan keuangan jangka panjang.

Manajemen sekolah telah memberitahukan staf yang terdampak PHK pada Rabu sore itu juga. Namun, juru bicara Harvard Kennedy School menolak mengungkapkan jumlah pasti staf yang diberhentikan.

Harvard University tengah berada di bawah tekanan besar dari pemerintahan Trump karena menolak untuk membatalkan program Diversity, Equity, and Inclusion (DEI, Keberagaman, Kesetaraan, dan Inklusi) dan juga karena melakukan penyaringan terhadap mahasiswa internasional.

Weinstein mengatakan bahwa Kennedy School sebenarnya sudah mulai merencanakan penghematan anggaran sejak Februari lalu, namun tindakan dari pemerintahan Trump baru-baru ini telah memberikan “hambatan baru yang luar biasa”.

Ia juga mengungkapkan bahwa Gedung Putih telah memangkas miliaran dolar dana riset untuk Harvard. Selain itu, dua ancaman besar lain terhadap anggaran adalah kemungkinan berkurangnya jumlah mahasiswa internasional dan wacana pemerintah untuk menaikkan pajak atas dana abadi (endowment) universitas secara signifikan.

Media Partai Komunis Tiongkok, Jiefang Daily (Surat Kabar Pembebasan), melalui situs Shangguan News pada tahun 2014 pernah menulis bahwa “jika harus memberi peringkat sekolah partai luar negeri terbaik PKT, maka Harvard Kennedy School jelas layak menjadi nomor satu.”

The Wall Street Journal juga pernah menurunkan artikel berjudul “Harvard Melatih Banyak Pejabat PKT, Mereka Menyebutnya ‘Sekolah Partai’”. Artikel itu mengungkap bahwa selama beberapa dekade terakhir, PKT telah mengirim ribuan pejabat tingkat menengah dan atas ke universitas-universitas Amerika untuk pelatihan, dengan Harvard menjadi tujuan utama. Beberapa orang Tiongkok bahkan menyebut Kennedy School sebagai “sekolah partai terbaik di luar negeri,” tempat pelatihan untuk kader-kader PKT yang menjanjikan.

Alumni Harvard mencakup sejumlah tokoh elite PKT, seperti mantan Wakil Presiden PKT dan anggota Politbiro Li Yuanchao; mantan Wakil Perdana Menteri Liu He; dan anggota Politbiro sekaligus Wakil Ketua Kongres Rakyat Nasional Li Hongzhong.

Selain itu, anak-anak pejabat tinggi PKT juga pernah belajar di Harvard. Misalnya, putri Xi Jinping, Xi Mingze, masuk Harvard pada awal 2010-an dengan nama samaran. Cucu mantan pemimpin PKT Jiang Zemin, Jiang Zhicheng, serta putra mantan anggota Politbiro Bo Xilai, Bo Guagua, juga termasuk alumni Harvard.

Sejak tahun 1990-an, PKT secara sistematis mengirim pejabat ke Amerika Serikat untuk “belajar” demi menyerap pengalaman kebijakan publik dan tata kelola dari negara-negara Barat. Selain Harvard, universitas-universitas terkenal lain di AS yang juga memberikan pelatihan kepada pejabat Tiongkok termasuk Syracuse University, Stanford University, dan University of Maryland. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Orang Terkaya Kedua Dunia Gelar “Pernikahan Abad Ini” di Venesia, Habiskan Lebih Rp 800 Miliar

Orang terkaya kedua di dunia sekaligus pendiri Amazon, Jeff Bezos, menggelar pernikahan mewah di kota air terkenal, Venesia, pekan ini. Acara tersebut dihadiri oleh banyak selebritas dunia dan berlangsung di sejumlah lokasi ikonik kota tersebut. Namun, pesta pernikahan ini juga memicu kemarahan sebagian warga lokal. Aktivis menuding kalangan kaya telah terlalu banyak menggunakan ruang publik dan merugikan hak-hak warga biasa.

EtIndonesia. Pada Kamis (26 Juni), Jeff Bezos dan jurnalis Amerika Lauren Sanchez memulai perayaan pernikahan mereka selama tiga hari yang sangat tertutup di Venesia, Italia.

Lebih dari 200 tamu undangan kelas dunia hadir di kota romantis ini untuk menghadiri acara yang disebut-sebut sebagai “Pernikahan Abad Ini.” Para tamu termasuk Oprah Winfrey, Bill Gates, Kim Kardashian, Ratu Yordania, hingga aktor Leonardo DiCaprio.

Putri sulung Presiden Trump, Ivanka Trump, dan suaminya Jared Kushner juga hadir secara khusus untuk memberi ucapan selamat kepada pasangan pengantin.

Menurut laporan Reuters, pesta pernikahan ini diperkirakan menelan biaya antara 46,5 juta hingga 55,6 juta dolar AS (sekitar Rp750–900 miliar), mencakup berbagai pesta mewah dan akomodasi kelas atas. Lokasi pernikahan termasuk Gereja Madonna dell’Orto, Pulau San Giorgio, dan galangan kapal bersejarah Arsenale.

Dikabarkan, pasangan ini kemungkinan sudah menikah secara hukum di Amerika Serikat, dan upacara di Venesia hanyalah seremoni simbolis tanpa kekuatan hukum.

Namun, pesta mewah ini menuai kontroversi karena dianggap terlalu memonopoli ruang publik. Para demonstran menggantung spanduk bertuliskan “Tak Ada Tempat untuk Bezos” di Lapangan San Marco sebagai bentuk protes. Meski begitu, tak sedikit warga yang menyambut acara ini karena dianggap membawa dampak ekonomi positif. Bezos pun menjanjikan akan melakukan donasi amal.

Yang menarik, seorang pria Jerman yang sangat mirip dengan Bezos juga muncul di Lapangan San Marco pada hari yang sama. Ia menarik perhatian banyak wisatawan yang berebut mengambil foto dan bahkan berswafoto bersamanya.

Cagdas Halicilar, wisatawan asal Jerman, berkata:  “Begitu saya turun dari kapal dan masuk ke dalam (area), mereka langsung bilang, ‘Jeff Bezos datang!’ Lalu langsung memanggil manajer. Mereka sama sekali tidak sadar bahwa saya bukan orang aslinya.” (Hui/asr)

Laporan dari Liu Jiajia, NTD TV, Amerika Serikat

AS-Tiongkok Capai Kerangka Kesepakatan Dagang, Percepat Pasokan Logam Tanah Jarang

EtIndonesia. Pada Jumat (27 Juni), Kementerian Perdagangan Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengkonfirmasi bahwa pihaknya telah mencapai kerangka kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat. Salah satu isu utama, yaitu ekspor logam tanah jarang dan magnet, juga telah dicapai kata sepakat. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa revisi terbaru ini memastikan PKT akan mempercepat pasokan logam tanah jarang.

 “Ya, kami baru saja menandatangani kesepakatan dengan Tiongkok kemarin, bukan?” ujar Presiden AS Donald Trump (26/6/2025). 

Pada  Kamis (26 Juni), Presiden Trump mengumumkan di Gedung Putih bahwa ia telah menandatangani kesepakatan dagang dengan Tiongkok pada Rabu (25 Juni).

 “Kami telah menandatangani kesepakatan dengan Tiongkok. Kami tidak akan menandatangani kesepakatan dengan semua negara. Beberapa negara hanya akan menerima surat dari kami yang berbunyi: ‘Selamat, Anda akan dikenai tarif 25%, 35%, atau 45%. Sesederhana itu,” ujar Trump. 

Pada  Mei lalu, AS dan Tiongkok telah mencapai kesepakatan awal terkait tarif di Jenewa, namun belum sepakat mengenai kecepatan pengiriman logam tanah jarang. Baru pada  Juni di London, kesepakatan lebih lanjut tercapai dan tinggal menunggu persetujuan pemimpin kedua negara.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengatakan bahwa bahan-bahan seperti magnet dari logam tanah jarang akan dipasok kepada perusahaan-perusahaan AS yang memiliki catatan pembelian stabil di masa lalu. Sementara itu, AS tengah berunding dengan 18 mitra dagang utama lainnya, dan menargetkan agar sejumlah kesepakatan dapat diselesaikan sebelum Hari Buruh pada 1 September.

Kementerian Perdagangan PKT menyatakan bahwa kedua pihak telah “mengkonfirmasi rincian kerangka kerja,” dan akan menyetujui ekspor produk yang dikendalikan sesuai hukum. Namun, tidak secara eksplisit menyebutkan ekspor logam tanah jarang.

Menurut kalangan industri, Tiongkok memberlakukan pembatasan penggunaan logam tanah jarang untuk kepentingan sipil dan militer. Saat ini, Tiongkok juga melakukan pemeriksaan ketat terhadap identitas pembeli, guna mencegah bahan-bahan tersebut jatuh ke tangan militer AS. Hal ini menyebabkan proses persetujuan ekspor menjadi lebih lambat.

Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, dalam wawancara dengan Bloomberg pada Kamis mengatakan bahwa AS hanya akan mencabut tindakan tarif balasan setelah Tiongkok mulai mengirimkan logam tanah jarang ke Amerika Serikat.

Sejak Trump menaikkan tarif hingga 145% terhadap barang-barang dari Tiongkok, volume kontainer dari Tiongkok ke AS terlihat menurun drastis. Sejak awal Juni, biaya pengiriman kontainer dari Tiongkok ke AS telah turun lebih dari separuh.

Konsumen AS untuk sementara belum merasakan dampak dari tarif tinggi ini karena para importir telah menimbun banyak barang sebelum tarif baru berlaku. Namun, raksasa ritel Walmart telah memperingatkan bahwa harga barang akan mulai naik pada bulan Mei dan Juni.

Seiring dengan berlakunya kebijakan tarif, banyak perusahaan pun mulai menyesuaikan diri dengan slogan “Made in America” dari pemerintahan Trump dan memindahkan produksi kembali ke dalam negeri. Pada  Kamis, General Electric Appliances mengumumkan akan memindahkan sebagian besar produksi mesin cuci dan pengering dari Tiongkok ke negara bagian Kentucky. Langkah ini diperkirakan akan menciptakan sedikitnya 800 lapangan kerja baru.

Wartawan:  “Presiden, seorang ekonom internasional papan atas baru-baru ini berbalik arah 180 derajat dan menyebut strategi tarif Anda sangat cerdas hingga membuat semua orang tercengang. Apa pendapat Anda?”

Trump:  “Saya senang. Itu pertanyaan yang luar biasa. Mungkin pertanyaan terbaik yang pernah saya dapatkan. Karena saya mempertahankan kebijakan tarif ini selama bertahun-tahun meski banyak serangan. Ini adalah persoalan bernilai ratusan miliar dolar dan juga akan menyelesaikan masalah inflasi.”

Wartawan:  “Tapi untuk mereka yang mengkritik tarif dan mengatakan itu akan menyebabkan resesi ekonomi, apa yang ingin Anda katakan kepada mereka?”

Trump:  “Saya pikir mereka sebaiknya kembali belajar ke sekolah bisnis. Ini jelas sekali, tak perlu diragukan. Karena kita akan menghasilkan ratusan miliar dolar dari Tiongkok dan negara-negara lainnya.”

Batas waktu terakhir untuk pengenaan tarif balasan oleh AS adalah 9 Juli. Apakah Trump akan menurunkan tarif ke level dasar 10% atau malah mengambil langkah yang lebih agresif masih menjadi perhatian publik. (Hui/asr)

Laporan dari: Wang Ziyi, NTD TV, Amerika Serikat

Sengatannya Berakibat Fatal : Jepang Menyita Kontainer Tiongkok yang Membawa Sejumlah Besar Semut Api Merah dan Telurnya

Sebuah kontainer yang berangkat dari Pelabuhan Xiamen, Tiongkok, dan tiba di Pelabuhan Oi, Tokyo, kemudian dibongkar pada 24 Juni di Pelabuhan Honmoku, Yokohama, ditemukan mengandung semut api merah yang sangat beracun. Pemeriksaan menemukan total sekitar 2.150 ekor semut api merah, termasuk telur, larva, dan kepompong. Ini merupakan jumlah temuan terbanyak sejak semut api merah pertama kali ditemukan di Pelabuhan Yokohama pada Juli 2017.

EtIndonesia. Laporan dari surat kabar Sankei Shimbun menyebutkan Kementerian Lingkungan Hidup Jepang dan Pemerintah Kota Yokohama pada 27 Juni mengumumkan bahwa semut api merah ditemukan dalam kontainer yang dikirim dari Tiongkok ke Pelabuhan Yokohama. Temuan tersebut terdiri atas sekitar 2.000 ekor semut pekerja, 100 ratu semut, dan sekitar 50 semut jantan, dengan total sekitar 2.150 ekor, serta 500 telur, larva, dan kepompong.

Dilaporkan bahwa kapal tersebut berangkat dari Pelabuhan Xiamen, Tiongkok, pada 18 Juni, masuk ke Pelabuhan Oi, Tokyo, dan pada 24 Juni membongkar muatan di Pelabuhan Honmoku, Yokohama. Kontainer sempat disimpan sementara, dan di hari yang sama dipindahkan ke area klasifikasi barang di Pelabuhan Yamashita.

Saat perusahaan membuka kontainer untuk membongkar muatan, mereka menemukan sejumlah besar semut di dalam kontainer, bahkan beberapa semut keluar dari kontainer. Serangga tersebut segera dimusnahkan di tempat, dan setelah diperiksa oleh Kementerian Lingkungan Hidup Jepang, dikonfirmasi bahwa itu adalah semut api merah.

Sejak semut api merah pertama kali ditemukan di Jepang pada Juni 2017, hingga kini serangga ini telah ditemukan di 18 prefektur dan wilayah, menjadikan ini kasus ke-142 secara keseluruhan.

Semut api merah merupakan spesies asing invasif yang berasal dari Amerika Selatan. Sengatan semut api merah dapat menyebabkan sensasi terbakar, kemerahan, gatal, nyeri, dan munculnya pustula berwarna putih. 

Pada beberapa orang, sengatannya dapat memicu reaksi alergi parah berupa syok anafilaksis yang mengancam jiwa, dengan gejala seperti sesak napas, jantung berdebar hebat, pusing, sakit perut, tekanan darah turun drastis hingga kehilangan kesadaran. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Rumor Kudeta di Zhongnanhai Kembali Mencuat, Kekuatan Militer Xi Jinping Dipangkas

Situasi politik Partai Komunis Tiongkok (PKT) semakin kacau dan misterius, serta rumor tentang perubahan kekuasaan di Beijing semakin sering terdengar. Para loyalis Xi Jinping yang sebelumnya diangkat ke posisi penting di partai, pemerintahan, dan militer, kini satu per satu sedang diselidiki. Rumor bahwa Xi kehilangan kendali atas militer terus mencuat. Sejumlah analis menilai bahwa kekuatan “pasukan Xi” sedang dilucuti dan kekuasaan militernya runtuh. Kini, segala tindakan Xi hanyalah sandiwara belaka

EtIndonesia. Sidang ke-16 Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional (KRN) ke-14 ditutup pada 27 Juni. Dalam sidang itu, Miao Hua dicopot dari jabatannya sebagai anggota Komisi Militer Pusat (CMC) Partai Komunis Tiongkok. Kemudian diumumkan bahwa delapan orang dicopot dari statusnya sebagai wakil rakyat nasional, termasuk Letnan Jenderal Li Hanjun, Kepala Staf Angkatan Laut, yang status keanggotaannya sebagai wakil resmi dihentikan.

Salah satu loyalis Xi lainnya, Wakil Ketua CMC He Weidong, belum muncul di depan publik sejak penutupan sidang KRN pada 11 Maret tahun ini. Keberadaannya masih tidak diketahui, bahkan dikabarkan telah meninggal dunia. Miao Hua dan He Weidong selama ini dianggap sebagai “tangan kanan dan kiri” Xi di tubuh militer.

Pada November tahun lalu, Miao Hua diberhentikan untuk penyelidikan. Pada April 2025, ia dicopot dari jabatan sebagai wakil rakyat nasional, dan pada Mei, KRN untuk pertama kalinya mengungkap bahwa Miao Hua terlibat dalam pelanggaran hukum.

Pengamat politik Zhou Xiaohui menulis di Epoch Times pada 27 Juni bahwa rumor tentang Li Hanjun yang terkena kasus sudah beredar sejak Miao Hua dinyatakan jatuh, dan Menteri Pertahanan Dong Jun dikabarkan sedang diselidiki. Kini rumor tersebut terbukti benar: Li Hanjun benar-benar tersandung masalah.

Zhou menilai karier Li Hanjun sangat terkait dengan Miao Hua. Miao yang berasal dari Angkatan Darat ke-31—kelompok militer yang merupakan basis kekuasaan Xi—memiliki hubungan dekat dengan Xi dan kariernya melonjak berkat dukungan Xi. Sejak beredar kabar bahwa Xi kehilangan kendali militer setelah rapat pleno ketiga tahun lalu, nasib Miao mulai berubah drastis. Penangkapannya yang cepat juga diduga terkait upaya Miao, atas restu Xi, untuk merebut kembali kekuasaan militer—namun gagal dan akhirnya menyeret dirinya sendiri.

Ahli hukum liberal yang kini tinggal di luar negeri, Profesor Yuan Hongbing, sebelumnya mengungkap bahwa setelah ditangkap, Miao Hua memberikan informasi tentang banyak perwira tinggi militer, yang menimbulkan kepanikan besar di tubuh Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).

Setelah pencopotan Miao Hua, komentator politik Chen Pokong yang berbasis di AS menyatakan dalam program medianya bahwa peristiwa ini mengindikasikan dua hal:

Pertama, akan terjadi perombakan besar di Komisi Militer Pusat pada sidang pleno keempat, karena dari tujuh anggota, tiga telah jatuh (Li Shangfu, Miao Hua, He Weidong).

Kedua, Miao Hua telah resmi diumumkan jatuh, maka nasib He Weidong kemungkinan akan segera menyusul.

Chen percaya bahwa He Weidong sempat membantu Xi Jinping dalam upaya kudeta balik, namun digagalkan oleh Zhang Youxia. Akibatnya, Xi kehilangan tangan kanannya di militer. Inilah alasan mengapa slogan “ketua komisi militer bertanggung jawab penuh” kini mulai ditinggalkan. Ini juga menjadi bukti berlanjut bahwa Xi benar-benar kehilangan kendali atas militer.

Artikel Zhou Xiaohui juga menyebut, berdasarkan berbagai informasi yang dirilis pihak militer dan pemerintah selama setahun terakhir, serta jatuhnya orang-orang penting Xi seperti Miao Hua dan He Weidong, juga jatuhnya sejumlah jenderal militer yang dipromosikan Xi, hingga absennya wajah Xi dari sampul majalah militer secara beruntun—semua menunjukkan bahwa hilangnya kekuasaan Xi di militer merupakan sesuatu yang sangat mungkin terjadi. Tidak ada penguasa yang dengan sukarela mencopot satu per satu tangan kanannya. Kini, semua tindakan Xi hanyalah bagian dari pertunjukan, dan publik sebaiknya tidak terlalu larut dalam drama tersebut.

Baru-baru ini, Epoch Times memperoleh informasi dari sumber kredibel bahwa Xi Jinping sebenarnya sudah mulai kehilangan kekuasaan sejak April 2024. Meski secara lahiriah masih berada di tampuk kekuasaan, kenyataannya pengaruhnya telah surut. Tokoh-tokoh seperti mantan Perdana Menteri Wen Jiabao dan Wakil Ketua Pertama CMC Zhang Youxia kini menjadi penentu utama arah politik Tiongkok. Meski Xi telah mencoba melakukan serangan balik, bahkan menggunakan kekerasan, semua berakhir dengan kegagalan. Kini, Xi hanya sekadar menjalankan skenario yang telah ditentukan.

Pada 26 Juni, pengamat independen Du Zheng menulis di media Taiwan Shang Bao, bahwa ia memperoleh dua informasi dari dua saluran berbeda:

Pertama, seorang tokoh politik senior anti-Xi di Beijing mengatakan, “Tunggu saja, perubahan akan datang di musim gugur, dan segalanya akan terlihat jelas pada Oktober.”

Kedua, seorang anak dari pejabat tinggi militer yang telah meninggal dunia mengatakan bahwa “kondisi politik di Beijing akhir-akhir ini sangat aneh,” namun ia tidak bisa berkata banyak.

Du menilai kedua pernyataan ini seperti sandi politik, dan selaras dengan berbagai rumor politik yang beredar belakangan ini.

Yuan Hongbing sebelumnya mengungkap bahwa kalangan “pangeran merah” (anak dan cucu elite PKT) telah mencapai kesepakatan: Xi Jinping tidak boleh melanjutkan masa jabatannya. Beberapa keluarga pangeran merah bahkan sedang menyusun sebuah surat rekomendasi, merinci kesalahan Xi selama menjabat—baik dalam maupun luar negeri—dan menuntut agar ia mundur secara sukarela.

Du Zheng dalam artikel sebelumnya juga menyebut, bahwa beberapa perwira tingkat bawah di zona militer tertentu tengah merencanakan kudeta dengan meniru “Pemberontakan Wuchang.” Walau belum pasti apakah rencana itu berubah, ia menilai bahwa selama rezim PKT masih berdiri, siapa pun yang naik tak akan membawa perubahan. Oleh karena itu, menurutnya, satu-satunya solusi adalah menggulingkan kekuasaan PKT.

Pembawa acara Da Yu Breaking News, Li Dayu, menyatakan bahwa semua ini menunjukkan bahwa menjatuhkan Xi sudah menjadi kesepakatan dan fakta bahwa mereka bisa mencapai kesepakatan ini menunjukkan bahwa kejatuhan Xi hanyalah soal waktu. Namun, menurutnya, Xi sendiri kini sudah tidak penting lagi—sejarah telah meninggalkannya. Yang paling krusial adalah masa depan Tiongkok. Mereka yang benar-benar peduli pada rakyat Tiongkok, inilah waktunya untuk meninggalkan Partai Komunis. Saatnya sudah tiba. (Hui/asr).

Zhongnanhai : Komplek dan kantor pusat partai komunis Tiongkok di Beijing

Rwanda dan Republik Demokratik Kongo Menandatangani Perjanjian Damai, Trump Menyebutnya Sebagai Hari yang Indah

EtIndonesia. Rwanda dan Republik Demokratik Kongo (selanjutnya disebut Kongo) pada  Jumat (27/6/2025) menandatangani perjanjian damai di Washington, D.C., dengan disaksikan oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. Presiden AS Donald Trump kemudian menerima kedua menteri luar negeri di Kantor Oval Gedung Putih dan menyebut peristiwa ini sebagai “hari yang indah.”

Sebelum penandatanganan perjanjian, Amerika Serikat, Rwanda, dan Kongo merilis pernyataan bersama yang menyatakan bahwa isi perjanjian mencakup “penghormatan terhadap integritas wilayah dan larangan tindakan perang,” serta pelucutan senjata terhadap semua “kelompok bersenjata non-negara.”

 “Mereka telah berkonflik selama bertahun-tahun, bahkan dengan kekerasan senjata. Ini adalah salah satu situasi terburuk dan salah satu perang paling brutal yang pernah disaksikan. Dan saya kebetulan menemukan orang-orang yang bisa menyelesaikan masalah ini,” ujar Trump pada  Jumat menjelang penandatanganan:

 “Sebagai bagian dari kesepakatan, Amerika Serikat akan mendapatkan banyak konsesi pertambangan dari Kongo. Mereka sangat senang datang. Mereka tidak pernah menyangka akan ke sini,” tambahnya. 

Saat menyambut kedua menteri luar negeri di Gedung Putih, Trump mengatakan:  “Kekerasan dan kehancuran telah berakhir hari ini (27 Juni), dan seluruh kawasan memulai babak baru penuh harapan dan peluang … ini benar-benar hari yang indah.”

Menteri Luar Negeri Rwanda, Olivier Nduhungirehe, menyebut perjanjian ini sebagai titik balik. Sementara Menteri Luar Negeri Kongo Therese Kayikwamba Wagner, mengatakan bahwa selanjutnya mereka harus keluar dari konflik bersenjata.

Trump juga meminta mereka menyampaikan undangan kepada para presiden kedua negara untuk datang ke Washington guna menandatangani serangkaian kesepakatan, yang oleh penasihat senior urusan Afrika pemerintahan Trump, Massad Boulos, disebut sebagai “Washington Accord” (Kesepakatan Washington).

Nduhungirehe pun mengingatkan Trump bahwa perjanjian-perjanjian terdahulu belum pernah benar-benar dilaksanakan, dan mendesak Trump untuk terus memperhatikan dan terlibat.

Trump memperingatkan bahwa pelanggaran terhadap perjanjian akan dikenakan “hukuman yang sangat keras, termasuk sanksi keuangan dan lainnya.”

Penandatanganan perjanjian ini menandai terobosan dalam negosiasi yang dimediasi oleh pemerintahan Trump, yang bertujuan mengakhiri konflik di wilayah timur Kongo yang telah menewaskan ribuan orang. Kesepakatan ini juga bertujuan menarik investasi miliaran dolar dari negara-negara Barat ke kawasan kaya sumber daya seperti tantalum, emas, kobalt, tembaga, dan lithium.

Menurut salinan dokumen yang diperoleh Reuters, kedua negara Afrika tersebut berkomitmen untuk melaksanakan perjanjian yang telah disepakati tahun lalu. Pasukan Rwanda akan menarik diri dari wilayah timur Kongo dalam waktu 90 hari,  dalam jangka waktu yang sama, kerangka kerja integrasi ekonomi kawasan akan diluncurkan.

Laporan mengutip sejumlah analis dan diplomat menyebutkan bahwa sebelumnya Rwanda telah mengirimkan sedikitnya 7.000 tentara ke wilayah timur Kongo untuk mendukung kelompok pemberontak M23. Pemerintah Kongo telah lama menuduh Rwanda mendukung M23, dan Washington juga mendukung tuduhan ini.

Namun Rwanda membantah memberikan dukungan langsung kepada M23 dan menuntut diakhirinya aktivitas kelompok bersenjata lain, yaitu Democratic Forces for the Liberation of Rwanda (FDLR). Kelompok ini didirikan oleh etnis Hutu yang terlibat dalam genosida Tutsi pada tahun 1994 di Rwanda.

Awal tahun ini, M23 kembali melancarkan serangan dan menguasai dua kota besar di wilayah timur Kongo yang kaya mineral, termasuk kota strategis Goma, memicu kekhawatiran bahwa konflik dapat menyebar ke negara-negara tetangga.

Pada  Maret, Belgia dan Rwanda saling menuduh atas peran masing-masing dalam konflik di timur Kongo, yang berujung pada pemutusan hubungan diplomatik dan pengusiran diplomat dari kedua negara. (Hui)

PCOS—Kondisi yang Semakin Meningkat dan Mempengaruhi 1 dari 5 Perempuan, Serta Komponen yang Hilang Dalam Penanganannya

Tidak ada pengobatan yang cocok untuk semua orang dengan PCOS—terutama jika kesehatan mental diabaikan

Zena le Roux

Tingkat Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau sindrom ovarium polikistik  secara global terus meningkat dari tahun ke tahun, dengan hingga 21 persen perempuan yang terpengaruh. Kenaikan ini disertai dengan komplikasi jangka panjang yang serius seiring bertambahnya usia, termasuk infertilitas, diabetes, penyakit jantung, dan tantangan kesehatan mental.

Namun saat PCOS disebutkan, sering kali hanya dianggap sebatas jerawat, haid tidak teratur, atau kenaikan berat badan. Pandangan yang sempit ini bisa menyebabkan keterlambatan dalam penanganan. PCOS jauh lebih kompleks dari sekadar hormon dan siklus menstruasi—ini adalah kondisi yang memengaruhi seluruh tubuh dan memerlukan penanganan menyeluruh.


Hubungan Dengan Suasana Hati

PCOS dikaitkan dengan risiko lebih tinggi terhadap gangguan kesehatan mental dan kognitif, termasuk gejala yang mirip dengan ADHD (attention-deficit/hyperactivity disorder).

Sebuah meta-analisis yang melibatkan sekitar 31.000 perempuan mengonfirmasi bahwa PCOS berkaitan dengan depresi, kecemasan, dan penurunan kualitas hidup.

“Tingginya prevalensi gangguan kesehatan mental pada perempuan dengan PCOS sebagian dapat dijelaskan oleh ketidakseimbangan hormon,” ujar Mpho Tshukudu, seorang ahli gizi integratif dan fungsional, kepada The Epoch Times.

Perempuan dengan PCOS sering kali memiliki kadar androgen (hormon pria seperti testosteron) yang lebih tinggi, yang dapat memengaruhi fungsi otak. Mereka juga dapat mengalami gangguan dalam memproses triptofan, nutrisi yang dibutuhkan untuk menghasilkan serotonin, zat kimia otak yang membuat perasaan senang. Alih-alih menghasilkan cukup serotonin, kelebihan triptofan justru meningkatkan peradangan dan risiko depresi.

Resistensi insulin—ciri umum pada PCOS—dapat mengganggu kerja neurotransmiter seperti dopamin, serotonin, dan GABA (asam gamma-aminobutirat). Gangguan pada zat kimia otak ini dapat mengganggu pengaturan suasana hati dan mengurangi energi otak, yang turut berkontribusi terhadap kecemasan dan depresi, kata Tshukudu.


Citra Tubuh yang Terganggu

Masalah citra tubuh dan perilaku makan yang terganggu juga umum terjadi pada penderita PCOS. Kadar androgen yang tinggi bisa meningkatkan nafsu makan dan emosi yang tidak stabil, sementara resistensi insulin menyebabkan lonjakan dan penurunan gula darah yang memicu hasrat berlebihan terhadap karbohidrat. Ketika faktor biologis ini dipadukan dengan tekanan sosial untuk bertubuh kurus dan stigma terkait berat badan, dapat memicu pola makan berlebihan atau siklus membatasi dan makan berlebihan.

“Saya telah bekerja dengan banyak perempuan usia 20–30-an yang didiagnosis dengan PCOS,” kata Yasi Ansari, ahli gizi terdaftar yang fokus pada gangguan makan.

“Mereka sering diberi tahu untuk mengubah pola makan secara drastis atau menurunkan berat badan, yang bisa terasa membingungkan dan membuat stres. Fokus berlebihan pada berat badan bisa memicu gangguan makan dan merusak hubungan mereka dengan makanan dan tubuh mereka,” tambahnya.

Fluktuasi hormon juga bisa menyebabkan jerawat dan pertumbuhan rambut berlebih seperti pola laki-laki, yang dapat memengaruhi rasa percaya diri.


Menangani Seluruh Aspek Individu

Ansari menekankan bahwa penanganan harus individual dan menyeluruh, dengan rencana yang mencakup kebutuhan fisik dan mental secara lengkap.

Ada banyak peluang untuk meningkatkan perawatan, tambah Dr. Licy Yanes Cardozo, ilmuwan sekaligus ahli endokrin di University of Mississippi Medical Center. Pendekatan komprehensif dan multidisipliner sangat penting untuk menangani PCOS secara efektif dalam jangka panjang.

“Menangani kesehatan mental harus menjadi prioritas dalam perawatan perempuan dengan PCOS,” ujar Cardozo.

Tshukudu mencatat bahwa kesehatan mental sering kali diabaikan atau tidak ditangani secara memadai dalam rencana pengobatan PCOS saat ini.

Meski pedoman merekomendasikan melibatkan profesional kesehatan mental, seperti psikolog atau psikiater, mereka sering tidak menjadi bagian dari tim perawatan. Ansari mengatakan fokus lebih banyak pada kesehatan hormonal—berat badan, kesuburan, resistensi insulin, dan siklus menstruasi—yang biasanya ditangani oleh ginekolog, ahli endokrin, dan ahli gizi.

Penelitian menunjukkan bahwa menangani kesehatan mental secara langsung dapat memberikan dampak nyata. Misalnya, dalam sebuah studi di Iran, program pengurangan stres berbasis mindfulness membantu perempuan dengan PCOS mengurangi rasa cemas dan kekhawatiran. Mereka mengikuti delapan sesi berdurasi 90 menit dua kali seminggu untuk berfokus pada pengelolaan stres. Hasil menunjukkan bahwa kelompok yang mengikuti program ini mengalami penurunan kecemasan secara signifikan, bahkan satu bulan setelah program berakhir.

Tinjauan sistematis lainnya juga menunjukkan peningkatan gejala kecemasan dan depresi pada perempuan dengan PCOS yang rutin berolahraga.


Ubah Pola Makan

“Ketika saya memberikan panduan nutrisi, saya fokus pada praktik yang mendukung energi, asupan gizi, dan kesejahteraan—tanpa memusatkan semuanya pada berat badan. Tujuannya adalah agar klien tidak merasa bersalah atau tertekan untuk membatasi jenis makanan tertentu,” ujar Ansari.

Tanpa memandang usia atau berat badan, perbaikan pola makan dan aktivitas fisik teratur merupakan garis depan penanganan PCOS.

Meski tidak ada diet tunggal untuk PCOS, pola makan seperti diet Mediterania dan DASH menunjukkan hasil menjanjikan:

  • Diet Mediterania menekankan konsumsi buah-buahan, sayuran, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, minyak zaitun, serta ikan dan unggas dalam jumlah sedang. Diet ini terkenal akan manfaatnya bagi jantung dan efek antiinflamasi.
  • Diet DASH fokus pada buah, sayur, biji-bijian utuh, protein tanpa lemak, dan susu rendah lemak, sambil membatasi garam, gula, dan lemak jenuh.

Pola makan yang kaya buah dan sayur rendah glikemik, produk susu rendah lemak dalam jumlah kecil, ikan kaya omega-3, daging tanpa lemak, lemak sehat, kacang-kacangan, biji-bijian, dan alkohol dalam jumlah sedang tampaknya membantu memperbaiki gejala PCOS.

Sementara itu, metode khusus seperti puasa intermiten dan pengganti makanan masih belum banyak diteliti, namun data awal menunjukkan potensi manfaat tambahan bagi kesehatan metabolik perempuan dengan PCOS.

Untuk mengurangi peradangan, menstabilkan gula darah, dan mendukung kesehatan mental, Tshukudu merekomendasikan strategi berikut:

  • Konsumsi berbagai buah, sayuran, biji-bijian utuh, kacang mentah, biji-bijian, produk fermentasi, daging tanpa lemak, rempah-rempah—kaya serat, prebiotik, dan fitonutrien yang mendukung kesehatan usus dan pengaturan gula darah.
  • Pilih karbohidrat rendah glikemik serta lemak dan protein berkualitas tinggi, untuk meningkatkan rasa kenyang, menstabilkan gula darah, dan mengurangi peradangan.
  • Sertakan omega-3 dari ikan berlemak (salmon, makarel, sarden, herring) serta sumber nabati seperti biji chia, biji rami, kenari, spirulina, dan chlorella.
  • Minum cukup cairan seperti air putih, teh herbal tanpa pemanis, dan teh buah untuk mendukung pencernaan dan hidrasi.
  • Minimalkan makanan ultra-proses dan tinggi gula, yang biasanya tinggi kalori tetapi rendah serat, vitamin, dan mineral—mudah menyebabkan makan berlebihan dan mengganggu keseimbangan gula darah dan hormon.

Variasikan Intervensi Gaya Hidup

Karena PCOS memengaruhi banyak aspek kesehatan—dari hormon, metabolisme, hingga suasana hati dan kognisi—maka perawatannya harus luas dan multidisipliner.

Selain nutrisi yang baik, Tshukudu menekankan pentingnya faktor gaya hidup lainnya.

Masalah tidur umum terjadi pada penderita PCOS. Banyak yang mengalami kualitas tidur buruk dan rasa kantuk di siang hari. Remaja sering mengalami perubahan ritme sirkadian, seperti waktu tidur yang lebih larut dan pelepasan melatonin yang lebih lama di malam hari.

Kegiatan seperti pernapasan dalam, yoga, waktu di alam terbuka, dan hobi kreatif seperti merajut atau melukis dapat membantu mengurangi stres dan mendukung regulasi emosi, menurut Tshukudu.

Terakhir, gabungkan latihan aerobik, latihan kekuatan, dan olahraga ringan seperti Pilates. Aktivitas fisik membantu meningkatkan sensitivitas insulin, menyeimbangkan hormon, menurunkan peradangan, dan dapat mengurangi gejala kecemasan dan depresi. (asr)