Trump Peringatkan Iran Agar Tak Miliki Senjata Nuklir

EtIndonesia. Konflik antara Israel dan Iran terus meningkat. Pada Senin (16/6/2025) malam, Presiden AS Donald Trump meninggalkan KTT G7 di Kanada lebih awal dan segera kembali ke Gedung Putih untuk menangani situasi darurat di Timur Tengah. Dalam pernyataannya di KTT, Trump kembali memperingatkan Iran untuk menandatangani perjanjian nuklir sebelum terlambat.

“Presiden Trump awalnya dijadwalkan untuk tetap menghadiri KTT G7 di Kanada pada hari Selasa, termasuk bertemu dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky. Namun, pada Senin malam, Gedung Putih tiba-tiba mengumumkan bahwa Trump akan kembali lebih awal untuk menangani krisis di Timur Tengah. Trump menyebut situasinya sangat penting dan ia harus segera kembali,” demikian reporter NTD, Tao Ming. 

Presiden AS Donald Trump mengatakan: “Saya harus kembali, ini sangat penting. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Anda (Perdana Menteri Kanada Carney), Anda telah menjadi tuan rumah yang sangat baik. Terima kasih kepada Kanada. Tapi kalian mungkin juga melihat apa yang saya lihat—saya harus segera kembali.”

Presiden Prancis Emmanuel Macron, setelah kepergian Trump dari KTT, mengatakan kepada media bahwa Trump kembali karena Israel dan Iran telah mengusulkan untuk memulai dialog, bahkan sudah membahas syarat-syarat gencatan senjata.

Namun, Trump segera membantah pernyataan Macron melalui postingan dari pesawat kepresidenan Air Force One, dengan mengatakan: “Macron sama sekali tidak tahu mengapa saya kembali ke Washington, dan ini jelas tidak ada hubungannya dengan gencatan senjata. Ini jauh lebih besar dari itu.”

Reporter Tao Ming: “Jadi, apakah ini berarti konflik akan meningkat dan itulah alasan Trump buru-buru pulang? Atau apakah ada kemajuan baru dalam perundingan nuklir dengan Iran? Saat ini masih belum jelas.”

Sekitar pukul 01:30 waktu AS Timur pada  Selasa, Israel mengumumkan bahwa Iran telah meluncurkan gelombang baru serangan rudal ke wilayah Israel. Israel menyatakan tengah mencegat ancaman tersebut, menandakan eskalasi konflik semakin nyata.

Sementara itu, selama KTT G7 pada  Senin, Trump memposting peringatan agar semua orang segera meninggalkan ibu kota Iran, Teheran.

Selain itu, dalam pernyataan bersama terakhir G7 terkait konflik Iran-Israel, bagian yang sebelumnya dilaporkan media—yang menyerukan kedua pihak untuk “menunjukkan sikap menahan diri”—telah dihapus.

Pernyataan akhir dari G7 justru menekankan dukungan terhadap hak Israel untuk membela diri, dan menyebut Iran sebagai “sumber ketidakstabilan regional dan terorisme”, serta menegaskan kembali bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

Dalam KTT hari Senin itu, Trump memperingatkan Iran agar segera menandatangani perjanjian nuklir sebelum terlambat.

Presiden Trump menyatakan: “Iran tidak akan memenangkan perang ini. Mereka harus melakukan dialog. Segera berdialog, sebelum semuanya terlambat.”

Namun, pada saat yang sama, Trump juga menyatakan bahwa tujuannya kembali ke AS adalah untuk melanjutkan negosiasi terkait nuklir dengan Iran.

Reporter Tao Ming: “Pada hari Senin, Departemen Pertahanan AS (Pentagon) mengumumkan bahwa Amerika akan meningkatkan kehadiran militer di Eropa dan Timur Tengah. Namun, para pejabat pertahanan juga menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak mengubah postur pertahanannya, yang berarti belum ada keputusan untuk ikut terlibat langsung dalam perang.” (Hui/asr)

Laporan oleh Tao Ming, dari Calgary, Kanada, untuk NTD Television.

Ditinggal Sendiri! Iran Diserang Israel, Rusia Pilih Cari Untung?

EtIndonesia. Di tengah memanasnya konflik antara Israel dan Iran yang memasuki babak baru serangan udara, perhatian dunia kini tertuju pada sikap Rusia. Berbeda dari ekspektasi banyak pihak, Rusia memilih bersikap pasif dan belum menunjukkan niat membantu Iran menghadapi gempuran Israel. Bahkan, sejumlah analis menilai Moskow cenderung mengambil posisi yang menguntungkan bagi kepentingan nasionalnya sendiri di tengah kekacauan ini.

Rusia Belum Siap Beri Bantuan, Tak Ada yang Bisa Hentikan Israel

Mengutip laporan Bloomberg tanggal 17 Juni, seorang narasumber yang sangat dekat dengan lingkaran Kremlin menyatakan secara tegas bahwa hingga saat ini Iran sama sekali belum mengajukan permintaan bantuan militer atau pertahanan kepada Rusia. Lebih jauh lagi, Moskow sendiri juga tidak berencana menawarkan dukungan atau intervensi untuk membantu Teheran.

Narasumber tersebut mengungkapkan realitas pahit bagi Iran, bahwa tak satu pun negara, bahkan Rusia, mampu menghentikan ambisi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu untuk melanjutkan operasi militernya terhadap Iran. 

“Jika tujuan Israel memang ingin melakukan perubahan rezim di Iran, maka posisi Rusia tidak akan mampu menjadi penengah, apalagi menghentikan konflik yang kian memanas ini,” ujar sumber itu.

Pernyataan Resmi Kremlin: Situasi Bergerak Menuju Eskalasi Besar

Senada dengan narasumber tersebut, Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov pada 17 Juni menegaskan dalam pernyataan resminya bahwa perkembangan situasi saat ini berlangsung sangat cepat dan berpotensi menimbulkan eskalasi besar, terutama dari pihak Israel. 

“Israel sama sekali tidak menginginkan adanya mediator ataupun proses negosiasi damai,” ungkap Peskov, menandakan bahwa jalan menuju resolusi damai kian tertutup rapat.

Hubungan Rusia-Iran di Tengah Perubahan Drastis

Sejak Presiden Vladimir Putin memerintahkan invasi militer ke Ukraina pada 2022, hubungan strategis antara Rusia dan Iran memang semakin erat. Iran diketahui telah memasok ratusan drone tempur kepada Rusia yang digunakan dalam pertempuran di Ukraina, menurut data intelijen Gedung Putih. Selain itu, sepanjang tahun lalu, Amerika Serikat dan Eropa menuding Iran juga telah mengirimkan rudal balistik ke Moskow.

Namun, dalam situasi genting kali ini, Rusia tidak menunjukkan keinginan untuk turun tangan membela Iran, bahkan cenderung mengambil sikap menunggu dan memantau perkembangan demi kepentingan nasional mereka.

“Hadiah Geopolitik” di Tengah Krisis

Pakar pertahanan Rusia, Ruslan Pukhov, menilai bahwa serangan besar-besaran Israel terhadap Iran justru berpotensi menjadi dua “hadiah geopolitik” bagi Rusia. Pertama, serangan ini dapat melemahkan kritik moral Barat terhadap invasi Rusia ke Ukraina. Sorotan dunia yang beralih ke konflik baru akan mengurangi tekanan internasional terhadap Moskow. Kedua, perang di Timur Tengah diyakini akan memicu lonjakan harga minyak dunia—dan ini menjadi keuntungan besar bagi Rusia, yang sangat bergantung pada pendapatan minyak untuk membiayai operasi militernya.

Lebih lanjut, Pukhov menambahkan, terbukanya front konflik baru di Timur Tengah otomatis akan mengalihkan perhatian Amerika Serikat dan negara-negara Barat. Bantuan militer yang sebelumnya diarahkan untuk Ukraina dikhawatirkan akan dialihkan ke Israel, sehingga posisi Rusia di medan perang Ukraina menjadi lebih leluasa.

Kerjasama Strategis Terancam Gagal

Nikolai Smagin, pakar masalah Iran dari Dewan Urusan Internasional Rusia, menyampaikan kekhawatiran atas nasib kerjasama strategis Rusia-Iran di masa mendatang. Salah satu proyek vital yang saat ini berjalan adalah Koridor Transportasi Utara-Selatan, yang menjadi jalur penting untuk meminimalisir tekanan sanksi internasional terhadap kedua negara. Jika krisis di Iran makin parah dan rezim di Teheran jatuh, Smagin memperingatkan bahwa seluruh proyek ini bisa gagal total. Lebih jauh, Smagin menyebut potensi terulangnya skenario “Suriah kedua”—yakni kekacauan berkepanjangan seperti yang menimpa rezim Bashar al-Assad di Suriah.

Ancaman Gagal Total: Ketakutan Terbesar Rusia di Timur Tengah

Andrei Kortunov, analis politik senior Rusia, dalam tulisannya di harian Kommersant tanggal 16 Juni, mengakui bahwa pada awal konflik, sejumlah media Rusia memang menyoroti peluang Moskow untuk mendapatkan keuntungan finansial dari lonjakan harga minyak. Namun, dia mengingatkan, semakin dalam operasi militer Israel di Iran, kekhawatiran terbesar justru terletak pada ancaman hilangnya pengaruh Rusia di Timur Tengah.

Sebagai catatan, pada Desember tahun lalu, Moskow telah kehilangan salah satu sekutu utama di kawasan, yakni rezim Bashar al-Assad di Suriah yang terguling akibat dinamika politik dan tekanan internasional. Kini, jika Iran—yang selama ini menjadi mitra strategis terpenting Rusia di Timur Tengah—ikut tumbang, maka tatanan geopolitik yang selama ini dibangun oleh Moskow akan ambruk satu demi satu.

Dunia di Ambang Pergeseran Geopolitik Global

Krisis beruntun di Timur Tengah menandakan perubahan besar dalam tatanan geopolitik dunia. Banyak pengamat kini bertanya-tanya: Setelah kehilangan Suriah dan kemungkinan Iran, masihkah Rusia bisa mempertahankan mitra-mitra strategis berikutnya? Ataukah Moskow benar-benar harus menata ulang strategi globalnya di tengah pergeseran kekuatan besar-besaran ini?

Badai Perang di Timur Tengah: Khamenei Terancam ‘Dilenyapkan’ Seperti Saddam?

EtIndonesia. Serangan udara Israel terhadap Iran kini telah memasuki hari keenam, namun intensitas dan dampaknya sudah mengguncang tatanan geopolitik kawasan, bahkan dunia. Di tengah berkecamuknya konflik, pesimisme global terhadap nasib Iran semakin terasa nyata, seiring dengan peringatan keras dari Israel dan alarm bahaya yang disuarakan oleh Rusia.

Israel Bandingkan Khamenei dengan Saddam Hussein

Dalam sebuah pernyataan yang mengundang kehebohan, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada 17 Juni menegaskan bahwa Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, bisa saja mengakhiri hidupnya dengan nasib serupa mantan Presiden Irak, Saddam Hussein.

“Saya memperingatkan Khamenei—jangan ulangi kejahatan perang, dan jangan pernah berani meluncurkan rudal ke arah warga sipil Israel. Jika terus memaksakan kehendak, dia bisa saja mengalami akhir yang sama seperti Saddam Hussein,” tegas Katz, seperti dikutip dari laporan Economic Times.

Pernyataan ini bukan sekadar ancaman retorik. Katz secara gamblang mengingatkan bahwa Israel tidak akan segan menggunakan seluruh kekuatan militernya untuk memastikan keamanannya tetap terjaga. 

“Setiap tindakan agresif terhadap Israel, terutama yang mengancam nyawa warga sipil, akan mendapat respons yang lebih besar dari sebelumnya,” tambahnya.

Pelajaran dari Nasib Saddam Hussein

Saddam Hussein, mantan penguasa Irak, menjadi contoh nyata betapa kekuasaan otoriter di kawasan Timur Tengah bisa berakhir tragis. Pada 2003, Amerika Serikat dan sekutunya melancarkan invasi ke Irak, menuduh Saddam mengembangkan senjata pemusnah massal. Rezim Saddam tumbang hanya dalam hitungan minggu. Saddam sendiri sempat melarikan diri dan bersembunyi selama delapan bulan sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi menyedihkan di sebuah lubang persembunyian dekat Tikrit. Dia kemudian diadili, dinyatakan bersalah atas kejahatan kemanusiaan, dan dihukum gantung pada 30 Desember 2006.

Dengan mengungkit kisah Saddam, Israel secara tegas mengirim pesan kepada Khamenei: kekuasaan yang dibangun dengan tangan besi, pelanggaran HAM, dan teror terhadap negara tetangga bisa berujung pada kehancuran total dan akhir hidup yang memilukan.

Rusia: “Iran Bisa Jadi Suriah Berikutnya”

Tak hanya dari pihak Israel, kekhawatiran juga datang dari sekutu utama Iran sendiri. Pemerintah Rusia, melalui pernyataan yang dirilis pada hari yang sama, memperingatkan bahwa Iran kini berada di jalur yang berbahaya dan bisa saja bernasib serupa dengan Suriah—sebuah negara yang hancur akibat perang sipil berkepanjangan dan intervensi asing.

Seorang analis politik Rusia, yang dikutip berbagai media internasional, menegaskan: “Iran harus sangat berhati-hati. Situasinya kini sangat mirip dengan Suriah pada awal-awal konflik. Jika terus memaksakan kekerasan dan gagal membangun dialog, kehancuran nasional dan kekacauan berkepanjangan bukanlah hal mustahil.”

Suriah sendiri adalah contoh nyata bagaimana konflik internal dan tekanan eksternal bisa mengubah negara yang dulunya relatif stabil menjadi zona perang tanpa akhir. Sejak 2011, Suriah terjebak dalam perang saudara, jutaan orang mengungsi, ratusan ribu tewas, dan struktur kenegaraan nyaris runtuh total. Banyak pihak kini menilai, peringatan Rusia terhadap Iran bukan sekadar basa-basi diplomatik, melainkan refleksi nyata kekhawatiran bahwa perang bisa melebar dan membawa kehancuran serupa.

Kondisi Iran: Di Persimpangan Jalan

Belum diketahui secara pasti bagaimana respons Ayatollah Khamenei terhadap peringatan keras yang datang bertubi-tubi dari Israel dan Rusia. Namun, tekanan yang dihadapi Iran kini semakin berat. Tidak hanya menghadapi serangan militer yang intensif dari Israel, Iran juga harus memperhitungkan potensi isolasi politik dan ekonomi di tingkat internasional, serta kemungkinan pecahnya krisis kemanusiaan jika konflik terus membesar.

Selain itu, opini publik internasional pun semakin mengarah pada desakan agar Iran menahan diri dan menghindari langkah-langkah provokatif. Banyak negara menyerukan agar konflik ini diselesaikan lewat jalur diplomasi, namun hingga kini belum ada tanda-tanda penurunan eskalasi.

Dampak pada Kawasan dan Dunia

Krisis antara Israel dan Iran tidak hanya menjadi masalah dua negara, tetapi juga mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah secara keseluruhan. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan negara-negara Eropa terus memantau perkembangan, sembari bersiap mengambil langkah jika situasi makin memburuk. Analis geopolitik memperingatkan, jika Iran benar-benar jatuh ke jurang kekacauan seperti Suriah, gelombang pengungsi, radikalisasi, dan krisis kemanusiaan bisa mengguncang dunia.

Kesimpulan: Masa Depan Iran di Ujung Tanduk

Dengan tekanan militer dari Israel, peringatan dari Rusia, dan sorotan dunia internasional, Iran kini berada di persimpangan jalan yang sangat menentukan. Akankah Khamenei memilih bertahan dengan garis keras, atau mulai membuka ruang dialog demi mencegah kehancuran lebih besar?

Jawabannya akan sangat menentukan tidak hanya masa depan Iran, tetapi juga peta politik Timur Tengah dan bahkan stabilitas dunia.

Waspadai Gejala Edema : Bisa Jadi Tanda Penyakit Serius

EtIndonesia.Beberapa orang saat bangun tidur mendapati kelopak mata mereka tampak bengkak. Ini adalah fenomena yang cukup umum karena saat tidur, aktivitas kelopak mata menurun, aliran darah melambat, dan tekanan pada pembuluh kapiler meningkat, menyebabkan cairan keluar dari pembuluh dan menumpuk di jaringan longgar sekitar mata.

Namun, jika setelah beraktivitas seperti bekerja atau bersekolah bengkak itu tidak kunjung reda, bahkan disertai rasa kantuk berlebihan, Anda perlu waspada.

Pemeriksaan Awal untuk Penderita Edema

Pemeriksaan dasar bagi penderita edema meliputi:

·        Tes urine, untuk melihat apakah ada proteinuria (protein dalam urin).

·        Tes darah, guna memeriksa fungsi ginjal dan kadar protein darah.

·        USG perut, untuk melihat apakah permukaan hati kasar atau ada cairan di rongga perut.

·        Foto rontgen dada, untuk mengetahui apakah ada pembesaran jantung atau cairan di paru-paru.

Empat Jenis Edema yang Sering Terjadi:

1. Penyakit Ginjal:

Kehilangan protein melalui urin menyebabkan kadar protein dalam darah turun, menurunkan tekanan osmotik, dan membuat cairan keluar dari pembuluh ke jaringan. Disertai gangguan fungsi ginjal yang menyebabkan tubuh sulit membuang kelebihan cairan. Biasanya muncul sebagai pembengkakan di wajah dan seluruh tubuh.

2. Sirosis Hati:

Biasanya terlihat sebagai pembengkakan di kaki, terutama pada sore hari, kadang disertai cairan di perut (ascites), pembuluh darah menonjol di perut, telapak tangan kemerahan, dan pada pria, pembesaran payudara (ginekomastia).

3. Gagal Jantung:

Muncul sebagai pembengkakan di kaki dan punggung kaki, terutama setelah beraktivitas atau sore hari, dan sering disertai sesak napas. Bisa terjadi pada pasien dengan penyakit jantung bawaan, miokarditis, perikarditis, atau penyakit paru kronis.

4. Hipotiroidisme:

Terjadi pembengkakan pada jaringan kulit (myxedema) yang tidak mudah membentuk cekungan saat ditekan, berbeda dari edema biasa.

Pandangan Pengobatan Tradisional Tiongkok (PTT) tentang Edema

Dalam PTT, edema dibedakan menjadi dua jenis: “Yang Shui” (edema panas) dan “Yin Shui” (edema dingin).

·        Yang Shui: Timbul secara cepat, pembengkakan biasanya berawal dari bagian atas tubuh, disertai demam, rasa haus, urin sedikit dan berwarna kuning, sembelit, dan sering dialami oleh orang berusia muda.

·        Yin Shui: Berkembang perlahan, dari bawah ke atas, terjadi akibat kelelahan atau penyakit kronis, disertai badan dingin, tidak haus, urin tidak banyak namun tidak keruh, tinja cenderung lembek, dan makin memburuk bila kelelahan.

Empat Pola Edema Menurut PTT dan Pengobatannya

1. Angin dan Air Berlebihan (Feng Shui Fan Lan)

Gejala: Bengkak bermula dari wajah, menyebar ke seluruh tubuh, disertai demam dan menggigil.

Terapi: Mengusir angin dan melancarkan pengeluaran air, dapat digunakan ramuan Yue Bi Jia Zhu Tang.

2. Kelebihan Lembap dan Panas (Shi Re Yong Sheng)

Gejala: Bengkak di seluruh tubuh, haus, gelisah, sembelit, urin sedikit dan berwarna gelap.

Terapi: Menghilangkan panas dan lembap, gunakan kombinasi Wu Pi Yin dan Liu Yi San.

3. Lemahnya Energi Limpa (Pi Yang Bu Zhen)

Gejala: Pembengkakan terutama di kaki, disertai nafsu makan menurun dan diare.

Terapi: Menguatkan limpa dan mengeluarkan air, gunakan ramuan Shi Pi Yin.

4. Kekurangan Energi Ginjal (Shen Yang Kui Xu)

Gejala: Bengkak dari pinggang ke bawah, disertai pinggang dan lutut lemas, tangan dan kaki dingin, mudah diare.

Terapi: Menghangatkan ginjal dan melancarkan air, gunakan ramuan Zhen Wu Tang.

Kesimpulan: Edema Adalah Tanda Peringatan Tubuh

Edema bukan hanya soal penampilan atau rasa tidak nyaman, tetapi bisa meningkatkan risiko infeksi kulit dan memperlambat penyembuhan luka. Lebih dari itu, edema bisa menjadi sinyal penting adanya gangguan serius pada organ dalam, seperti jantung, ginjal, hati, atau sistem endokrin.

Maka dari itu, penting untuk segera memeriksakan diri ke dokter bila mengalami pembengkakan yang tak kunjung hilang, agar kondisi ringan tidak berkembang menjadi penyakit berat yang mengancam jiwa. (jhn/yn)

Trump Bubarkan Tim Penekan Rusia, Zelenskyy: Diplomasi dalam Krisis!

EtIndonesia. Reuters melaporkan secara eksklusif bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump diam-diam membubarkan satuan tugas lintas lembaga yang sebelumnya dibentuk khusus untuk merancang strategi menekan Rusia dan mendorong tercapainya perdamaian antara Moskow dan Kyiv. Keputusan ini datang di tengah situasi yang semakin mengkhawatirkan di medan perang dan berpotensi melemahkan posisi Ukraina di kancah diplomasi internasional.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, dalam pertemuan KTT G7 yang digelar di Kanada, memberikan peringatan keras kepada para pemimpin dunia. Dia menegaskan bahwa Ukraina tengah berada dalam kondisi sangat sulit, dan secara lugas menyatakan: “Diplomasi kami sedang mengalami krisis.”

Trump sendiri meninggalkan KTT G7 lebih awal, dengan alasan menangani krisis di Timur Tengah. Keputusan ini membuat KTT gagal menghasilkan pernyataan bersama terkait perang di Ukraina. 

Zelenskyy pun mengungkapkan kekecewaannya dan berkata: “Kita harus terus mendesak Trump untuk benar-benar menggunakan pengaruhnya agar memaksa Rusia menghentikan perang ini.”

Zelenskyy: Kami Kehilangan Momen Tekan Amerika

Perdana Menteri Kanada, Mark Carney memang telah berkomitmen memberikan bantuan militer senilai 2 miliar dolar Kanada kepada Ukraina serta memberlakukan sanksi ekonomi baru terhadap Rusia. Namun, keluarnya Trump dari forum secara tiba-tiba mengganggu dinamika KTT dan memperlihatkan ketidaktegasan Amerika terhadap perang Rusia-Ukraina.

Zelenskyy mengakui bahwa meskipun ada bantuan baru dan sanksi lanjutan, yang lebih penting saat ini adalah kesiapan para mitra internasional untuk berperan dalam rekonstruksi Ukraina setelah perang. 

Zelenskyy berkata dengan getir: “Kami kehilangan satu momen penting untuk menekan AS. Diplomasi kami terjebak dalam krisis.”

Serangan Terbesar Rusia: 440 Drone, 32 Rudal, 15 Tewas

Pernyataan Zelenskyy bertepatan dengan serangan udara terbesar Rusia sepanjang tahun ini. Pada malam hari, Rusia meluncurkan lebih dari 440 drone dan 32 rudal ke berbagai wilayah Ukraina. Serangan itu menyebabkan 15 orang tewas dan 156 lainnya luka-luka. Di ibu kota Kyiv, sebuah apartemen 9 lantai dihantam dari atap hingga ruang bawah tanah—serangan paling mematikan sejak perang dimulai.

Kepala Administrasi Militer Kota Kyiv, Tymur Tkachenko, menyebutkan bahwa serangan berlangsung hampir 9 jam penuh, dengan suara ledakan menggema di seluruh penjuru kota. Wali Kota Kyiv, Vitalii Klitschko, menetapkan hari berkabung nasional untuk mengenang para korban.

Trump: “Baru Terjadi ya?”

Yang mengejutkan, menurut Kyiv Independent, ketika ditanya soal serangan mematikan tersebut saat berada di Air Force One, Trump terlihat tidak mengetahui insiden itu. 

Dia bahkan balik bertanya: “Kapan itu terjadi? Baru saja? Saat saya datang ke sini?” dan hanya menambahkan: “Kedengarannya begitu. Saya harus cari tahu.”

Komentar ini mengundang kritik tajam karena dianggap mencerminkan sikap abai terhadap tragedi besar di Ukraina.

Korban Sipil Tembus 12.000 Jiwa, Serangan Rusia Masih Berlanjut

PBB memperkirakan bahwa sejak perang dimulai, lebih dari 12.000 warga sipil Ukraina telah tewas, sebagian besar akibat serangan rudal dan drone Rusia terhadap wilayah non-militer. Walaupun Rusia bersikukuh bahwa target mereka adalah instalasi militer, kenyataan di lapangan menunjukkan tingginya jumlah korban sipil.

Di medan perang, tekanan Rusia terus meningkat di front timur dan timur laut, sementara Ukraina kekurangan personel dan persenjataan. Ketidakpastian sikap Amerika membuat banyak pihak meragukan kelanjutan dukungan global bagi Kyiv.

Inggris dan Kanada Jatuhkan Sanksi Baru, Tapi Dunia Ragu

Meski Inggris dan Kanada mengumumkan gelombang baru sanksi terhadap Rusia, dengan menargetkan pendapatan energi dan industri militer Moskow, Kementerian Luar Negeri Ukraina mengkritik bahwa serangan besar Rusia selama KTT G7 justru mencerminkan penghinaan Putin terhadap masyarakat internasional. 

Pernyataan resminya menyebutkan: “Moskow bicara soal damai, tapi justru menghujani Kyiv dengan rudal.”

Trump Resmi Bubarkan Satuan Tugas Anti-Rusia

Dalam laporan Reuters yang dirilis pada 18 Juni, tiga pejabat AS mengungkapkan bahwa Trump telah membubarkan satuan tugas khusus yang sebelumnya dibentuk pada musim semi untuk merumuskan strategi tekanan terhadap Rusia dan negosiasi damai. Namun sejak Mei, tim tersebut semakin kehilangan arah dan motivasi.

Sumber menyebutkan bahwa Trump semakin enggan mengambil sikap tegas terhadap Moskow, membuat para pejabat yang terlibat dalam satuan tugas itu mulai tidak lagi aktif. Padahal, selama kampanye, Trump berjanji akan “mengakhiri perang di hari pertama dia menjabat.” Namun belakangan, dia mulai mengungkapkan kekecewaan terhadap stagnasi perdamaian, bahkan menyiratkan bahwa Amerika sebaiknya mundur dari peran mediasi.

Salah satu pejabat berkata tegas :  “Alasan tim ini dibubarkan adalah karena presiden sudah tidak lagi terlibat. Bukan karena ingin melakukan lebih banyak, melainkan karena dia ingin melakukan lebih sedikit.” (jhn/yn)

Kabar “Menyingkirkan Xi” dari Zhongnanhai Kembali Mencuat, Kondisi Kesehatan Xi Jinping Picu Spekulasi

Belakangan ini, beredar rumor bahwa kekuasaan besar Xi Jinping mulai tergeser, bersamaan dengan meningkatnya perhatian publik terhadap kondisi kesehatannya. Yuan Hongbing, seorang akademisi Tiongkok yang tinggal di Australia, baru-baru ini membocorkan bahwa keluarga elit “generasi kedua merah” Partai Komunis Tiongkok (PKT) sedang menggalang petisi ke Komite Sentral PKT untuk menuntut pengunduran diri Xi.

EtIndonesia. Pada 16 Juni 2025, Xi Jinping mengunjungi Kazakhstan untuk menghadiri KTT Tiongkok–Asia Tengah ke-2. Siang hari, Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev menyambutnya di bandara, dan pada sore harinya mereka mengadakan pertemuan di Istana Kepresidenan.

Menurut laporan Kantor Berita Internasional Kazakhstan, Tokayev secara khusus menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada Xi, sembari menyatakan harapan agar Xi sehat, bahagia dalam keluarga, dan sukses dalam memimpin negara.

Zhou Xiaohui, seorang komentator politik, menulis dalam artikel Epoch Times pada 17 Juni bahwa ucapan selamat ini tidak biasa. Ucapan seperti “semoga sehat selalu” yang ditujukan kepada Xi tidak ditampilkan di media resmi Partai Komunis Tiongkok (PKT), yang justru mengindikasikan dua hal: Pertama, kesehatan Xi memang bermasalah; kedua, pihak Kazakhstan tampaknya mengetahui rahasia yang disembunyikan PKT soal kesehatan Xi dan kemungkinan hilangnya kekuasaannya.

Selama bertahun-tahun, isu kesehatan Xi terus menjadi sorotan. Sebelum naik jabatan pada 2012, beredar kabar bahwa Xi menderita tumor hati dan telah menjalani operasi. Kemudian muncul lagi rumor bahwa dia mengidap kanker pankreas. Pada Juli 2024, muncul kabar bahwa Xi pingsan karena stroke dalam Sidang Paripurna Ketiga (Pleno Ketiga) dan dilarikan ke rumah sakit.

Zhou menyatakan bahwa sejak kabar stroke tahun lalu, kondisi kesehatan Xi menjadi rahasia besar yang coba ditutup-tutupi oleh PKT. Namun “tembok pun bisa bocor angin”—muncul banyak tanda mencurigakan, seperti penundaan publikasi foto/video Xi, atau kejanggalan dalam laporan media pemerintah. Semua itu menunjukkan bahwa kesehatan Xi memang memburuk.

Masyarakat juga memperhatikan jumlah cangkir di meja Xi Jinping selama Kongres Rakyat Nasional (dua sesi tahunan). Umumnya pejabat tinggi hanya memiliki satu cangkir, namun pada tahun 2019, 2021, 2023, dan 2024, meja Xi selalu memiliki dua cangkir.

Publik berspekulasi, satu berisi air, satunya lagi berisi obat.

Setelah kunjungan kerja Xi ke Luoyang, Henan pada 20 Mei, Xi menghilang dari publik hingga 3 Juni, atau selama 14 hari. Ia baru muncul pada 4 Juni pagi ketika media pemerintah menyebutkan bahwa Xi bertemu dengan Presiden Belarus Lukashenko di Zhongnanhai. Bahkan rapat Politbiro bulan Mei tak pernah diberitakan, memicu banyak dugaan.

Pasca “menghilang”, kembali beredar rumor bahwa Xi jatuh sakit. Akun Telegram Rusia terkenal, “General SVR”, mengklaim bahwa pada 25–26 Mei malam, Xi terkena serangan jantung, dan pada minggu pertama Juni kembali mengalami dua kali serangan jantung.

Pada 17 Juni, pengamat politik luar negeri bernama “Xiaoshuojia” dalam program terbarunya menganalisis kondisi Xi Jinping. Ia mengatakan, berdasarkan video saat Xi turun dari pesawat di Kazakhstan, langkah Xi tampak stabil dan tidak perlu bantuan orang lain—ini menandakan Xi tidak sakit parah.

Menurutnya, rumor Xi menjalani dua kali operasi jantung dan sekarat, bahkan disebut didukung oleh “intelijen Rusia”, kemungkinan disebar oleh kubu Xi sendiri sebagai persiapan pengunduran diri secara “terhormat”.

Ia menilai, karena Xi sebelumnya terlalu diagungkan, maka jika ia mundur begitu saja karena “kesalahan sendiri” akan terlihat buruk. Maka dari itu, narasi “sakit berat” menjadi alasan yang cocok agar Xi bisa turun dengan wajah tetap terjaga, dan PKT juga tidak kehilangan muka.

Sejak 2023, berbagai fenomena aneh muncul di kalangan elite PKT. Banyak orang kepercayaan Xi ditunjuknya langsung telah diturunkan, termasuk Menlu Qin Gang, dua Menteri Pertahanan Wei Fenghe dan Li Shangfu, serta banyak jenderal dan pimpinan industri militer.

Jenderal Miao Hua, kepala urusan personel militer Xi, turun jabatan pada November 2024. Wakil Ketua Komisi Militer Pusat, He Weidong, menghilang sejak Maret 2025. Pada 2 Juni, mantan wakil ketua CMC, Xu Qiliang, meninggal dunia secara mendadak.

Menurut sumber terpercaya Epoch Times, sejak April tahun lalu, kekuasaan Xi mulai runtuh. Meski secara lahiriah masih berkuasa, nyatanya sudah tidak memegang kendali, dan kini tokoh-tokoh seperti Wen Jiabao dan Zhang Youxia menjadi penentu arah politik Tiongkok. Xi hanya “berperan” dan menjalankan instruksi.

“Xiaoshuojia” mengutip sumber internal di Tiongkok bahwa Zhang Youxia kini sepenuhnya menguasai kekuatan militer, dan para jenderal tinggi yang belum jatuh pun sudah berpihak ke Zhang.

Yuan Hongbing juga menyebut bahwa keluarga elit ‘merah’ PKT kini berkumpul dan menggalang kekuatan, mereka menandatangani petisi ke Komite Sentral, menuntut Xi untuk mundur, serta menuduh Xi menggunakan kampanye anti-korupsi untuk menyingkirkan lawan dan memperkuat kediktatorannya.

Namun, banyak pakar Tiongkok menyatakan bahwa satu-satunya jalan keluar bagi Tiongkok adalah runtuhnya PKT itu sendiri. Jenderal AU AS yang telah pensiun, Blaine D. Holt, dalam artikel untuk Newsweek, juga menyebut bahwa PKT sedang berada di ambang kehancuran, dan Xi kemungkinan besar akan menjadi pemimpin terakhirnya. (Hui/asr)

Laporan gabungan oleh Tang Zheng – NTDTV.com

Zhongnanhai : Kantor Pusat Partai Komunis Tiongkok

Bus Tabrak Beruntun di Depan Universitas Shenyang, Tiongkok, 18 Orang Tewas atau Terluka 

Etindonesia. Sebuah bus umum di depan gerbang Universitas Shenyang, Provinsi Liaoning, Tiongkok menabrak sejumlah mobil dan pejalan kaki secara beruntun pada  17 Juni 2025 malam. Insiden tesebut menyebabkan korban tewas dan luka-luka dalam jumlah besar, serta kerusakan kendaraan. Pihak berwenang Partai Komunis Tiongkok (PKT) menyebut insiden ini akibat “kesalahan pengemudi”, namun banyak warganet mencurigai ini adalah serangan tabrak sengaja.

Malam itu, beredar banyak video di internet yang menunjukkan kejadian di luar gerbang selatan Universitas Shenyang. Dalam video tampak sebuah bus menabrak deretan mobil dan pejalan kaki. Beberapa taksi dan mobil pribadi rusak parah, pecahan mobil berserakan di jalan, dan banyak orang tergeletak tak bergerak di tengah jalan.

Seorang pria yang merekam sambil berbicara mengatakan:  “Orang ini di bawah sudah meninggal dunia, yang itu juga. Di bawah mobil ini masih ada satu orang lagi.”

Satu unit bus jalur 126 bahkan naik hingga ke tangga sebuah gedung, kaca jendela pecah, dan bagian depan bus hampir masuk ke dalam toko.

Rekaman dari kamera dashboard mobil memperlihatkan saat sejumlah kendaraan sedang antri untuk berbelok ke kiri, tiba-tiba bus dari sebelah kanan menerobos lampu merah dan langsung menabrak arus kendaraan yang berbelok.

Video-video tersebut juga memperlihatkan bahwa bus sudah melaju dan menabrak dalam jarak yang cukup jauh. Dilihat dari kerusakan parah pada mobil-mobil dan kondisi korban, dapat diperkirakan bahwa kecepatan tabrakan sangat tinggi.

Beberapa warganet menduga bahwa insiden ini mirip “Insiden Xianzhong”, yakni kasus pembunuhan acak menggunakan kendaraan.

Malam itu, polisi lalu lintas Shenyang mengeluarkan pernyataan bahwa insiden terjadi pada pukul 19:55 di dekat nomor 15 Jalan Lianhe, Distrik Dadong. Disebutkan bahwa sebuah bus bertabrakan dengan beberapa kendaraan lain, menyebabkan 2 orang tewas dan 16 luka-luka. Pengemudi bus, Wang XX (pria, 52 tahun), telah diamankan. Polisi menyatakan telah menyingkirkan kemungkinan mabuk atau penggunaan narkoba, dan menyebut penyebabnya adalah “kesalahan mengemudi saat menghindari pejalan kaki”.

Namun, kebenaran laporan resmi PKT sering diragukan. Banyak warganet yang telah melihat video kejadian tidak percaya pada pernyataan polisi lalu lintas. Beberapa meragukan penyebab kejadian, sementara lainnya mencurigai jumlah korban tewas dan terluka telah dikurangi. Warga sekitar bahkan mencibir laporan resmi sebagai kebohongan. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com 

Israel Peringatkan Iran: “Akan Ada Kejutan di Akhir Pekan” — Lebih Mengerikan dari Ledakan Alat Komunikasi Hizbullah

EtIndonesia. Sejak 13 Juni, Israel meluncurkan operasi militer besar-besaran bertajuk “Rising Lion” (Kebangkitan Sang Singa) terhadap Iran. Dalam waktu singkat, berbagai fasilitas militer, pabrik senjata, hingga pusat pengembangan senjata nuklir di Iran, termasuk yang berada di ibu kota Teheran, telah menjadi target serangan udara Israel.

Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat, Yechiel Leiter, memperingatkan bahwa akan ada “kejutan besar” dalam waktu dekat. Dia menegaskan, Israel sangat serius dalam mencegah Iran membangun kekuatan militer, dan aksi mereka tidak akan terbatas hanya di Gaza atau Lebanon selatan.

Dubes Israel: “Kejutan Besar Akan Terjadi Kamis atau Jumat”

Dalam wawancara eksklusif dengan Merit TV pada 16 Juni, Leiter menyatakan: “Akan ada kejutan pada akhir pekan ini. Dunia akan menyaksikan seberapa serius kami dalam menghentikan Iran.”

Meski tak membeberkan rincian operasi, dia mengisyaratkan bahwa skala serangan tersebut bisa lebih besar dari insiden pada September tahun lalu yang melibatkan ledakan massal alat komunikasi milik Hizbullah.

Sebagai konteks, pada September 2024, badan intelijen luar negeri Israel, Mossad, berhasil menyusup ke dalam rantai pasokan alat komunikasi Hizbullah dan menanam bahan peledak di dalam baterai lithium alat pemanggil (pager). Ledakan serentak yang terjadi menewaskan setidaknya 42 orang dan melukai lebih dari 3.500 lainnya. Karena metode yang sangat canggih, bahan peledak dalam baterai tersebut tidak terdeteksi sebelumnya.

Leiter menyiratkan bahwa Israel masih memiliki banyak kejutan yang belum diungkap ke publik, dan menambahkan : “Tunggu saja sampai debu mereda—pada Kamis malam atau Jumat, Anda akan melihat sesuatu yang mengejutkan.”

Trump: Dua Hari ke Depan Akan Jadi Penentu

Presiden AS Donald Trump juga memberikan pernyataan bahwa situasi akan tetap tidak menentu setidaknya dalam dua hari ke depan. Dia memperkirakan Israel tidak akan menghentikan ofensif militernya, dan bahkan mengimbau warga untuk segera meninggalkan Teheran.

Dalam penerbangan di atas pesawat kepresidenan Air Force One pada pagi hari 17 Juni, Trump menegaskan: “Kita akan segera tahu—tidak ada yang memperlambat serangan. Jika Iran menyentuh warga kami, balasannya akan sangat keras. Iran harus sepenuhnya meninggalkan ambisi nuklirnya.”

Trump juga menyebut bahwa dia tengah mempertimbangkan untuk mengirim Wakil Presiden JD Vance serta utusan Timur Tengah, Steve Witkoff, untuk menjalin komunikasi dengan Iran. Namun, dia menekankan bahwa yang diinginkan adalah “penyelesaian total terhadap persoalan Iran”, bukan hanya gencatan senjata semata.

Menanggapi pertanyaan soal kemungkinan penggunaan bom penghancur bunker (bunker buster) oleh militer AS terhadap fasilitas nuklir Iran, Trump menjawab dengan nada tajam.

“Saya harap kita tidak perlu sampai sejauh itu—semoga program nuklir mereka sudah dihancurkan sebelum itu diperlukan,” katanya.

Inti Kepemimpinan Iran Lumpuh, Risiko Salah Langkah Meningkat

Pada hari yang sama, seorang pejabat Israel mengatakan kepada Al Arabiya TV bahwa Israel telah melancarkan serangan udara semalaman terhadap puluhan target yang terkait dengan program nuklir dan rudal balistik Iran, memaksa banyak pemimpin militer Iran melarikan diri.

Meski fasilitas bawah tanah di Fordow belum menjadi sasaran langsung, pejabat tersebut menyatakan bahwa serangan ke sana tetap sangat mungkin terjadi. Dia juga menegaskan bahwa Israel telah menyiapkan langkah pencegahan untuk menghindari terjadinya bencana nuklir.

Sementara itu, Reuters melaporkan berdasarkan keterangan lima narasumber bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang kini berusia 86 tahun, semakin terisolasi. Beberapa penasihat militer dan keamanan utama di lingkaran dalamnya telah tewas dalam serangan Israel, meninggalkan kekosongan strategis yang sangat berisiko.

Lingkaran dalam Khamenei—sekitar 15–20 orang—terdiri atas komandan Garda Revolusi, ulama senior, dan tokoh politik, biasanya hanya berkumpul untuk membahas keputusan besar. Namun, kesetiaan mereka terhadap Khamenei sangat tinggi dan menjadi penopang utama stabilitas internal rezim.

Sayangnya, sejak dimulainya operasi pada 13 Juni, sejumlah tokoh penting telah tewas:

·        Hossein Salami – Komandan Garda Revolusi (IRGC)

·        Mohammad Kazemi – Kepala Intelijen IRGC

·        Amir Ali Hajizadeh – Kepala program rudal Iran

Hilangnya mereka tidak hanya melemahkan kemampuan operasional Iran, tetapi juga meningkatkan risiko kesalahan strategis dalam pengambilan keputusan, termasuk kemungkinan salah perhitungan yang bisa memicu eskalasi lebih luas.(jhn/yn)

Iran Sudah Tembakkan 700 Rudal ke Israel! Siapa Menang? Semua Tergantung “Angka Ini”…

EtIndonesia. Konflik militer antara Iran dan Israel terus meningkat tajam, dan kini Iran secara resmi menyatakan telah melancarkan “serangan balasan besar-besaran”. Namun perhatian komunitas internasional kini tertuju pada satu angka krusial—berapa jumlah rudal balistik jarak menengah (MRBM) yang masih dimiliki Iran? Angka ini diperkirakan akan menentukan arah dan hasil akhir dari perang ini.

Menurut laporan CNN, merujuk pada keterangan militer Israel (IDF) dan sejumlah analis, Iran telah menembakkan sekitar 700 rudal balistik jarak menengah ke arah Israel dalam 14 bulan terakhir. Saat ini, diperkirakan masih ada sekitar 300 hingga 1.300 rudal yang siap digunakan. Mantan Komandan CENTCOM AS, Jenderal Kenneth McKenzie, juga sempat menyatakan pada 2023 bahwa Iran memiliki lebih dari 3.000 rudal berbagai jenis, dengan sekitar 1.000–2.000 di antaranya merupakan rudal balistik jarak menengah.

Rincian Serangan Iran: 700 Rudal dalam Dua Tahun

Dalam dua tahun terakhir:

·        13 April tahun lalu, Iran menembakkan 120 rudal MRBM ke Israel.

·        1 Oktober lalu, Iran kembali meluncurkan 200 rudal.

·        Sementara dalam lima hari pertama bulan ini, Iran sudah melepaskan 380 rudal, menjadikan total keseluruhan yang ditembakkan mencapai 700 rudal.

Sebagai balasan, Israel melancarkan serangan udara besar-besaran, menargetkan fasilitas militer Iran dan menyatakan telah menghancurkan sepertiga peluncur rudal darat-ke-darat milik Iran.

Iran Masih Punya 1.300 Rudal? Jumlah Bisa Jadi Penentu

Menurut Behnam Ben Taleblu, peneliti senior dari Foundation for Defense of Democracies (FDD), Iran kemungkinan masih memiliki sekitar 1.300 rudal MRBM. Dia menekankan bahwa bagi Iran, kuantitas adalah kunci strategi. Meski akurasi rudal mereka tidak setinggi Israel, volume tembakan yang konsisten sudah cukup untuk memberikan efek psikologis dan strategis kepada lawan.

Namun, Eyal Pinko, peneliti senior dari BESA Center dan mantan perwira intelijen Angkatan Laut Israel, mengemukakan pandangan yang lebih konservatif. Dia memperkirakan bahwa sekitar 400–500 rudal telah ditembakkan hanya dalam empat hari terakhir, dan dengan kerusakan akibat serangan Israel, Iran mungkin kini hanya punya 700–800 rudal yang benar-benar siap pakai.

Israel Hampir Lumpuhkan Produksi Rudal Iran

Menurut Kepala Staf Pertahanan Inggris, Tony Radakin, pada 26 Oktober 2024, Israel melancarkan operasi udara skala besar yang melibatkan sekitar 100 jet tempur dan jumlah rudal yang sama, yang disebut hampir melumpuhkan seluruh sistem pertahanan udara Iran dan mematikan kapasitas produksi rudal Iran selama satu tahun penuh.

Pinko menambahkan bahwa dalam operasi militer bertajuk “Kebangkitan Singa” (Rise of the Lion) tersebut, Israel juga berhasil menghancurkan fasilitas utama pembuat mesin rudal Iran, serta merusak rantai pasok produksi rudal secara signifikan.

Benarkah Iran Bisa Produksi 2.000 Rudal per Tahun?

Meski dilanda kerusakan besar, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, baru-baru ini mengklaim bahwa Iran masih mampu mempercepat produksi rudalnya hingga 300 unit per bulan. Jika kecepatan produksi ini berlanjut, Iran berpotensi memiliki 20.000 rudal balistik dalam enam tahun ke depan.

Namun, klaim ini belum dikonfirmasi secara resmi oleh Iran, dan tidak ada bukti langsung yang menunjukkan data internal produksi mereka.

Ancaman Teknologi dari Tiongkok?

Dalam laporan yang sama, beberapa pakar juga mengkhawatirkan bahwa jika dalam beberapa bulan ke depan Tiongkok mulai menyediakan dukungan teknologi dan peralatan penting, maka kemampuan produksi rudal Iran bisa pulih jauh lebih cepat dari perkiraan.

Harga Diri Iran Dipertaruhkan

Para analis menilai bahwa Iran kini terdesak secara militer, namun tetap berambisi untuk membalas secara simbolis demi menjaga harga diri sebagai kekuatan utama di Timur Tengah. Serangan rudal yang terus diluncurkan, meski sebagian berhasil dicegat, dinilai sebagai bentuk penolakan Iran untuk tunduk dalam konflik regional ini.

Kesimpulan: Siapa Menang? Tergantung Angka Kritis Ini

Dalam perang rudal yang berlangsung saat ini, jumlah rudal yang masih dimiliki Iran menjadi indikator utama: apakah Iran masih bisa menahan tekanan Israel dan terus melakukan serangan balik, atau justru mulai kehabisan amunisi dan terpaksa menghentikan perlawanan.

Dengan estimasi berkisar 700 hingga 1.300 rudal yang tersisa, masa depan konflik akan sangat ditentukan oleh seberapa cepat Iran bisa memproduksi ulang persenjataannya, dan apakah dukungan luar negeri, seperti dari Tiongkok, benar-benar akan mengalir.(jhn/yn)

Anggota Kongres AS Peringatkan Iran: Menyerang Pasukan AS akan Menyebabkan Runtuhnya Rezim

EtIndonesia. Setelah saling balas serangan antara Iran dan Israel, sejumlah anggota Kongres Amerika Serikat menyatakan dukungan terhadap upaya Presiden Donald Trump untuk menyelesaikan konflik lewat jalur diplomatik, serta mendukung pertahanan Israel dari serangan Iran. Mereka juga memperingatkan bahwa jika Iran menyerang militer AS atau aset-aset Amerika di Timur Tengah, hal itu bisa menyebabkan berakhirnya rezim Iran. Sebelumnya, Trump mengatakan bahwa penghentian program nuklir Iran adalah syarat utama untuk gencatan senjata.

Anggota DPR AS Adam Smith menyatakan:  “Jika ada tentara Amerika yang terluka atau terbunuh di wilayah tersebut, kita akan berada dalam tekanan besar untuk turun tangan melindungi mereka dari serangan Iran. Tapi kita harus segera meredakan ketegangan. Saya mendukung upaya pemerintahan Trump untuk mencapai hasil lewat negosiasi.”

Senator AS Richard Blumenthal menambahkan:  “Masalah nuklir Iran sudah muncul, dan saat ini mereka memiliki hampir 10 bom nuklir. Namun, masih ada kemungkinan untuk menyelesaikannya lewat jalur diplomatik. Amerika harus menyediakan sarana pertahanan bagi Israel terhadap balasan Iran.”

Reporter NTDTV, Luis Martinez melaporkan bahwa anggota Partai Republik memperingatkan Iran agar tidak menyerang personel maupun aset Amerika di kawasan tersebut.

Anggota DPR AS Mike Lawler mengatakan:  “Saya rasa Presiden benar dalam mencoba menyelesaikan masalah ini lewat diplomasi. Tentu saja, diplomasi harus selalu menjadi pilihan utama, tetapi kenyataannya adalah Iran bertekad untuk menghancurkan dan melenyapkan Israel.”

Senator Lindsey Graham menyatakan:  “Pergantian rezim di Iran bukan kebijakan resmi Amerika Serikat, dan itu juga bukan tujuan dari serangan saat ini. Namun, jika Iran menyerang warga Amerika di wilayah manapun di Timur Tengah, maka pergantian rezim akan menjadi kenyataan.”

Pada  Selasa, 17 Juni, Israel melanjutkan serangan udara ke target-target militer utama Iran, menyebabkan ledakan dahsyat di Teheran.

Sementara itu, Uni Eropa memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat turut campur dalam serangan Israel terhadap Iran, maka kawasan tersebut akan terseret ke dalam konflik yang lebih luas.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyatakan:  “Jika Amerika Serikat ikut campur, itu jelas akan menyeret kawasan ini ke dalam konflik lintas batas, yang tidak menguntungkan siapa pun. Saya sudah berbicara dengan Menteri Luar Negeri (AS) Rubio, dan ia menekankan bahwa terlibat dalam konflik ini juga bukan untuk kepentingan mereka.” (Hui/asr)

Laporan gabungan dari reporter NTDTV Luis Martinez, Yu Liang, dan Tian Yuan dari Washington dan New York.

Dua Jenis Perlengkapan Tidur “Paling Kotor” yang Sering Dipakai Setiap Hari tapi Jarang Dicuci

EtIndonesia. Setiap malam kita tidur di atasnya, tapi dua benda ini justru paling mudah menjadi sarang kotoran dan bakteri: bantal dan kasur. Meski terlihat bersih dari luar, keduanya sering kali menyimpan banyak ancaman tak kasat mata yang berdampak langsung pada kesehatan.

Bantal: Menyangga Kepala Kita, Tapi Dia Menyerap Kotoran Kita

Setiap malam, minyak di wajah, keringat, ketombe, kulit mati, bahkan helaian rambut akan terserap masuk ke dalam isi bantal. Lama-kelamaan, bantal menjadi tempat berkembang biak ideal bagi bakteri dan tungau.

Terlebih di musim panas saat produksi keringat dan minyak meningkat, bantal jadi makin cepat kotor. Jika tidak dicuci atau diganti dalam waktu lama, bisa menyebabkan gatal-gatal, jerawatan, bahkan hidung tersumbat, batuk, hingga memicu asma.

Jenis-jenis bantal seperti:

·        Bantal dari serat sintetis (fiber) mudah menyerap kotoran karena tidak punya sirkulasi udara yang baik.

·        Bantal lateks memang lebih tahan terhadap bakteri dan tungau, tapi tetap perlu dijemur dan dibersihkan berkala.

Saran: Cuci isi bantal setidaknya setiap 6 bulan sekali. Kalau sulit dicuci, lebih baik diganti yang baru.

Kasur: Lebih “Kotoar” dari Dudukan Toilet

Jangan kira hanya karena ditutup seprai, kasur jadi bersih. Faktanya, kasur yang tertutup dan digunakan bertahun-tahun akan penuh dengan keringat malam, kulit mati, minyak tubuh, dan itu semua membuatnya menjadi surga bagi tungau debu.

Penelitian menunjukkan, kasur yang sudah dipakai selama 3 tahun bisa dihuni oleh jutaan tungau, bahkan lebih banyak dari dudukan toilet. Jika Anda sering mengalami kulit gatal, hidung tersumbat, atau sakit punggung saat bangun tidur, bisa jadi kasur Anda terlalu kotor.

Saran: Bersihkan kasur secara menyeluruh setidaknya setahun sekali. Jika memungkinkan, gunakan mesin uap panas untuk sterilisasi.

Kenapa Banyak Orang Mengabaikannya?

·        Bantal dianggap repot untuk dibongkar dan dicuci, apalagi kasur yang berat dan sulit dipindah.

·        Banyak yang tidak menyadari betapa kotornya isi di dalamnya.

·        Ada juga kesalahpahaman umum: mengira menjemur bantal di bawah sinar matahari sudah cukup. Padahal, sinar matahari hanya membunuh sebagian bakteri, sementara tungau hanya bersembunyi dan akan kembali aktif saat Anda berbaring di atasnya.

Ada pula yang berpikir: “Saya sudah pakai bantal lateks anti-bakteri” atau “kasur pegas independen saya pasti bersih.” Perlu diketahui, bahan anti-bakteri hanya menunda kotoran, bukan mencegah kotoran selamanya.

Lalu, Bagaimana Membersihkannya dengan Benar?

1. Cara Mencuci Bantal:

·        Bantal fiber sintetis: Bisa dicuci dengan tangan atau mesin, tetapi gunakan kantong cuci untuk mencegah bentuknya rusak.

·        Bantal lateks: Tidak boleh diperas atau dijemur di bawah sinar matahari langsung. Cuci dengan tangan dan keringkan di tempat teduh.

·        Bantal bulu angsa: Cuci dengan air dingin secara perlahan. Hindari penggumpalan bahan isi.

2. Cara Membersihkan Kasur:

·        Setidaknya sedot debu dua kali setahun, khususnya di bagian tepi dan celah.

·        Taburkan baking soda di permukaan kasur, diamkan beberapa jam, lalu sedot bersih. Ini membantu menghilangkan bau dan noda.

·        Gunakan jasa pembersih profesional dengan uap panas jika tersedia.

·        Gunakan pelindung kasur (protektor) yang bisa dicuci, agar kotoran tidak langsung menyerap ke dalam.

3. Tips Perawatan Harian:

·        Jemur bantal setidaknya sebulan sekali, tapi jangan terlalu lama di bawah terik matahari agar bahan tidak cepat rusak.

·        Letakkan kantong pengering atau penyerap kelembaban di dalam bantal.

·        Jika memungkinkan, sediakan 2–3 bantal cadangan untuk rotasi pemakaian, agar satu bantal tidak terus dipakai dalam waktu lama.

Kesimpulan:

Kebersihan bukan cuma soal penampilan, tapi soal kesehatan. Bantal dan kasur adalah bagian penting dari rutinitas tidur kita, dan membersihkannya dengan benar adalah bentuk perawatan diri yang sesungguhnya. (jhn/yn)

Pertarungan Politik Lebih Mematikan daripada Medan Perang: Hampir 100 Jenderal Partai Komunis Tiongkok Tumbang

Baru-baru ini, upacara pelepasan mantan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC), Xu Qiliang, menunjukkan tanda-tanda bahwa He Weidong, Wakil Ketua CMC saat ini, sedang mengalami pembersihan. Jika He Weidong benar-benar disingkirkan, maka sejak Kongres Nasional ke-18 Partai Komunis Tiongkok (PKT), total sudah ada 94 perwira militer dan polisi bersenjata setingkat wakil jenderal atau lebih tinggi yang tersandung kasus. Media Jepang menyoroti bahwa bagi para jenderal tinggi di militer PKT, pertarungan politik jauh lebih berbahaya dibandingkan perang yang sesungguhnya.

EtIndonesia. Pekan lalu, upacara pelepasan Xu Qiliang secara tidak langsung mengkonfirmasi bahwa He Weidong, yang telah menghilang selama tiga bulan, telah diberhentikan. Dalam laporan media partai, selain Presiden Xi Jinping dan anggota Politbiro PKT lainnya yang hadir serta mengirim karangan bunga, hanya tidak ada karangan bunga dari He Weidong.

Kazutaka Nakazawa, penulis senior Nikkei Asia, menulis bahwa siaran CCTV secara terang-terangan memperlihatkan ketidakhadiran He Weidong. Segala tanda menunjukkan bahwa He sudah tidak lagi dianggap sebagai anggota Politbiro, dan tindakannya telah dibatasi.

Jika He Weidong dihitung, maka selama pemerintahan Xi Jinping, sudah ada tiga Wakil Ketua CMC yang tumbang akibat pertarungan politik sengit. Dua lainnya adalah Xu Caihou dan Guo Boxiong: Xu meninggal saat ditahan, dan Guo dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Ini menunjukkan bahwa bahkan posisi tinggi seperti jenderal pun tidak lepas dari risiko politik besar.

Sejak Kongres Nasional ke-18 PKT, tercatat 93 perwira militer dan polisi bersenjata dengan pangkat setingkat wakil jenderal atau lebih tinggi telah ditangkap atau diberhentikan secara resmi.

Nakazawa menyatakan bahwa bahaya terbesar bagi jenderal PKT bukanlah peluru di medan perang, melainkan pertarungan kekuasaan dalam partai. Banyak dari mereka yang akhirnya kehilangan segalanya dan menghabiskan sisa hidup di penjara — beberapa bahkan memilih bunuh diri.

Shen Mingshi, peneliti di Institut Riset Keamanan Nasional Taiwan, menyatakan:
“Dalam tubuh PKT sendiri, perebutan kekuasaan dan persaingan antar faksi adalah faktor paling berbahaya yang mengancam para jenderal. He Weidong dan Miao Hua naik karena dukungan Xi Jinping, tetapi karena Xi terlalu keras terhadap faksi-faksi lawan, muncullah aksi balasan, dan para pelaksana pembersihan itu sendiri akhirnya menjadi target.”

Pada awal masa kekuasaannya, Xi Jinping membersihkan Guo Boxiong dan Xu Caihou — yang merupakan orang kepercayaan Jiang Zemin. Sementara Zhang Yang dan Fang Fenghui, yang disingkirkan kemudian, adalah orang-orang yang dipromosikan oleh Hu Jintao. 

Kini, jenderal-jenderal yang justru diangkat langsung oleh Xi seperti dua mantan Menteri Pertahanan Wei Fenghe dan Li Shangfu, serta Miao Hua yang dikenal sebagai simbol politik Xi di militer, juga ikut tersingkir.

 “Berdasarkan informasi resmi, seharusnya Miao Hua hadir dalam suatu acara, tetapi yang menggantikannya adalah Zhang Shengmin, Sekretaris Komisi Disiplin Militer CMC. Zhang dikenal sebagai loyalis Zhang Youxia,” ujar Tang Jingyuan, komentator politik di AS, mengungkapkan. 

“Ini menunjukkan bahwa setelah para loyalis Xi disingkirkan, posisi mereka digantikan oleh orang-orang dari faksi Zhang Youxia. Bukan hanya jabatan direktur politik militer, tapi juga Wakil Panglima Polisi Bersenjata, Fu Wenhua, yang juga merupakan bawahan lama Zhang Youxia,” tambahnya. 

Pengamat politik Chen Pokong menambahkan:  “Dilihat dari arah perkembangan saat ini, rencana Xi Jinping sebelum Rapat Pleno Ketiga Juli tahun lalu adalah untuk menyingkirkan Zhang Youxia dan menggantinya dengan Miao Hua sebagai Wakil Ketua Pertama CMC. Tujuannya: sepenuhnya menguasai militer secara internal dan menyerang Taiwan secara eksternal. Tapi rencana itu berubah total karena Xi dilaporkan jatuh sakit mendadak (stroke) sebelum rapat. Zhang Youxia bukan hanya tidak mundur, tetapi malah mengokohkan posisinya. Artinya, Xi telah kehilangan kendali atas militer.”

Chen Pokong juga menilai bahwa konflik internal dalam militer hingga pada titik ini merupakan konsekuensi sistemik.

“Situasi di militer saat ini — banyak jenderal yang ‘menghilang’, orang-orang Xi sendiri yang tumbang, dan korupsi besar-besaran — semua ini tidak bisa diatasi karena sudah menjadi bagian dari sistem. Ini juga hasil dari ambisi Xi untuk memerintah seumur hidup. Ia telah melanggar prinsip dasar ilmu politik, yaitu semakin ia memusatkan kekuasaan, semakin besar kegagalannya. Selama 13 tahun kepemimpinannya, Xi justru secara objektif telah meruntuhkan Partai Komunis Tiongkok.”

Para pengamat menegaskan, jika pemimpin partai kehilangan kendali atas militer, maka fondasi kekuasaannya sebenarnya sudah runtuh. Oleh karena itu, Rapat Pleno Keempat mendatang patut diawasi secara ketat. (Hui/asr)

Penyunting: Shang Yan | Reporter: Luo Ya/ NTDTV.com 

Kabar Kudeta di Zhongnanhai, Zeng Qinghong Dikabarkan Dijadikan Tahanan Rumah

Baru-baru ini, muncul berbagai kabar bahwa telah terjadi perubahan besar di Zhongnanhai (pusat kekuasaan Partai Komunis Tiongkok). Menurut informasi terbaru dari dalam Partai Komunis Tiongkok (PKT), para keturunan elit partai (generasi kedua merah atau red princelings) tengah menggalang dukungan untuk meminta pemimpin partai saat ini agar mundur. Sementara itu, mantan Wakil Presiden PKT, Zeng Qinghong, juga terseret dalam rumor tidak menyenangkan yang menarik perhatian luas.

EtIndonesia. Acara peringatan 120 tahun kelahiran tokoh senior PKT, Chen Yun, baru saja digelar di Beijing. Banyak anak cucu dari tokoh-tokoh senior PKT yang hadir dalam acara tersebut. Namun, tidak satu pun anggota keluarga mendiang mantan pemimpin PKT Jiang Zemin maupun keluarga Zeng Qinghong yang terlihat hadir.

 “Kenapa tidak hadir? Ada dua alasan. Pertama, Jiang Zemin dianggap sebagai ‘palsu ganda’ (二奸二假), dia bukan keturunan asli revolusioner merah. PKT menutup-nutupi hal ini dari publik, tetapi di kalangan elit merah, semua orang tahu. Di dalam hati mereka, mereka meremehkan keluarga Jiang,” kata Li Dayu, pembawa acara program Dayu: Kejutan Besar.

Wang He, kolumnis dari The Epoch Times, menyatakan:  “Saat ini, situasi politik di dalam PKT sedang berada dalam masa yang sangat sensitif dan penuh perubahan besar. Ketidakhadiran keluarga Jiang dan Zeng menunjukkan sinyal politik: bahwa kedua keluarga besar ini, atau fraksi Jiang-Zeng, secara politik nyaris sudah tidak ada lagi.”

Pada 14 Juni, komentator independen Cai Shenkun dalam program medianya mengutip informasi dari Beijing yang menyatakan bahwa Zeng Qinghong telah dijadikan tahanan rumah.

Selain itu, kekuatan politik dari “faksi Jiangxi” — yang merupakan basis kekuasaan lama Zeng Qinghong — juga sedang dibersihkan secara intensif. Sejumlah pejabat yang memiliki hubungan tersembunyi dengan Zeng di wilayah Guangxi turut tumbang, termasuk mantan Wakil Ketua CPPCC Guangxi, Peng Xiaochun.

Wang He menambahkan:  “Bisa dipastikan bahwa keluarga dan faksi politik Zeng Qinghong sudah tersingkir dari lingkaran pengambil keputusan utama dalam politik Tiongkok saat ini.”

Selain itu, meski pemimpin PKT Xi Jinping sempat memberikan pidato tertulis dalam acara peringatan Chen Yun, namun tidak terdengar lagi pernyataan seperti sepuluh tahun lalu, saat ia menyerukan “seluruh partai harus mendukung otoritas pusat dan bertindak serempak”.

Akademisi diaspora di Australia, Yuan Hongbing, mengutip sumber dari dalam sistem PKT bahwa aksi berkumpulnya para keturunan merah kali ini menyimpan dinamika politik besar di belakang layar. Mereka dikabarkan sedang menyusun petisi bersama kepada Komite Sentral PKT agar Xi Jinping mengundurkan diri. Yuan juga mengungkapkan bahwa Xi menggunakan kampanye anti-korupsi untuk memusatkan kekuasaan diktator dan melakukan pembersihan terhadap faksi-faksi lawan politiknya.


“Keluarga Chen Yun, keluarga Deng Xiaoping, keluarga Liu Shaoqi, dan keluarga penting lainnya sedang merancang sebuah surat usulan kepada Komite Sentral menjelang Kongres Nasional ke-21 PKT. Mereka sedang mencoba mencapai konsensus dan menyusun dokumen tersebut. Inti dari usulan ini adalah mengkritik kesalahan besar dalam kebijakan domestik dan luar negeri sejak Xi memerintah, dan menyimpulkan bahwa Xi Jinping sebaiknya mundur dari jabatan tertinggi partai,” ujar Yuan Hongbing. 

Namun, beberapa pakar masalah Tiongkok menunjukkan bahwa satu-satunya solusi mendasar bagi krisis dalam dan luar negeri yang dihadapi Tiongkok adalah pembubaran PKT. Blaine Holt, pensiunan jenderal angkatan udara AS, dalam tulisannya di Newsweek sebelumnya juga menyatakan bahwa PKT tengah berada di ambang kehancuran, dan kemungkinan besar Xi akan menjadi pemimpin terakhir partai tersebut. (Hui/asr)

Laporan oleh wartawan Tang Rui dan kontributor Luo Ya dari NTD Television.

Bank Iran Dibobol Hacker: Seluruh Data Dihapus, Saldo Nasabah “Langsung Jadi Nol”, Kartu Tak Lagi Berguna

EtIndonesia.Konflik antara Israel dan Iran terus berlanjut, dan kini merambah ke ranah dunia maya. Pada 17 Juni, sebuah kelompok peretas yang diduga terkait dengan Israel bernama Predatory Sparrow (juga dikenal dengan nama Persia Gonjeshke Darande) mengumumkan melalui media sosial bahwa mereka telah berhasil melancarkan serangan siber terhadap bank milik negara Iran, Sepah Bank, dan menghancurkan seluruh data internal bank tersebut.

Jika klaim ini benar, maka saldo rekening para nasabah otomatis menjadi nol. Bahkan mereka yang masih memiliki kartu bank pun tidak bisa mengakses atau menggunakan dananya.

Menurut pernyataan resmi yang diunggah oleh kelompok peretas di platform X (dulu Twitter), Bank Sepah menjadi target serangan karena dianggap sebagai milik Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Bank ini juga dituduh digunakan untuk menghindari sanksi internasional serta menyalurkan dana rakyat Iran ke program terorisme, pengembangan rudal balistik, dan proyek senjata nuklir.

Situs Bank Lumpuh, Jaringan Internet Iran Ambruk

Pasca serangan tersebut, situs resmi Bank Sepah tidak bisa diakses. Beberapa kantor cabangnya pun terpaksa menghentikan operasional sementara. Perusahaan pemantau jaringan global seperti Kentinc dan Netblocks mencatat bahwa sekitar pukul 17:30 waktu setempat, konektivitas internet di Iran turun drastis. Hal ini diperkuat oleh data dari perusahaan penyedia layanan Cloudflare yang menunjukkan bahwa dua operator jaringan seluler terbesar di Iran telah terputus dari jaringan global, menandakan negara tersebut masuk ke dalam status “isolasi internet” atau internet lockdown.

Kartu Kosar dan Ansar Tak Bisa Dipakai

Menurut laporan dari televisi Iran International, sejumlah pengguna mengeluhkan tidak bisa login ke akun perbankan mereka, dan efeknya juga dirasakan pada kartu-kartu finansial yang diterbitkan oleh lembaga keuangan Kosar dan Ansar—yang diketahui memiliki kaitan dengan militer Iran. Kedua jenis kartu tersebut tidak dapat digunakan setelah serangan terjadi.

Beredar pula kabar yang menyebut sebagian data nasabah hilang sepenuhnya, membuat beberapa rekening benar-benar kosong, meskipun hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Iran.

Serangan Terkoordinasi, Bukan Pertama Kalinya

Predatory Sparrow bukanlah nama asing dalam dunia serangan siber terhadap Iran. Pada Juni 2022, kelompok ini pernah meretas Khuzestan Steel Company, salah satu perusahaan baja terbesar di Iran, dan menyebabkan kebakaran besar di pabrik tersebut. Sebelumnya, pada Oktober 2021, mereka juga diduga sebagai dalang di balik lumpuhnya seluruh jaringan SPBU di Iran, yang kala itu menyebabkan kemacetan panjang dan kekacauan nasional.

Para pakar keamanan siber meyakini bahwa tingkat kecanggihan serangan yang dilakukan kelompok ini jauh melampaui kapasitas kelompok hacker biasa. Besar kemungkinan mereka mendapat dukungan dari pasukan siber negara—menandakan bahwa ini merupakan bagian dari perang siber antarnegara.

Dunia Memperhatikan: Serangan Siber Jadi Senjata Strategis

Insiden ini menjadi pukulan besar bagi stabilitas sistem keuangan Iran, sekaligus memicu perhatian internasional yang sangat tinggi. Sebab kasus ini tidak hanya menyangkut soal keamanan data dan transaksi finansial, tetapi juga menjadi contoh nyata dari pertemuan antara dunia siber dan geopolitik global.

Di tengah meningkatnya ketegangan internasional, serangan semacam ini memperlihatkan bahwa perang masa kini tidak lagi hanya di medan tempur, melainkan telah bergeser ke ruang digital yang tidak kalah mematikan.

Ke depan, respons Iran terhadap insiden ini akan menjadi tolok ukur penting. Sementara itu, negara-negara lain di dunia juga dihadapkan pada pertanyaan besar: siapa target berikutnya, dan apakah mereka cukup siap menghadapi perang dunia maya?(jhn/yn)