Program Sejuta Kader Partai Komunis Tiongkok ‘Homestay’ Bersama Keluarga Uighur di Xinjiang

Bayangkan jika pejabat pemerintah dikirim untuk tinggal bersama Anda di rumah Anda sehingga mereka dapat mengamati Anda, dan mengajukan pertanyaan tentang kehidupan dan pandangan politik Anda. Meskipun mungkin terdengar seperti sesuatu dari cerita Orwellian, namun saat ini menjadi kenyataan bagi keluarga di wilayah Xinjiang, Tiongkok barat laut.

Menjelang akhir tahun lalu, otoritas Xinjiang memobilisasi lebih dari satu juta kader untuk menghabiskan satu minggu tinggal di rumah-rumah keluarga yang mayoritas Muslim, dilaporkan Human Rights Watch (HRW). Mayoritas keluarga tersebut tinggal di pedesaan.

“Para kader tersebut secara teliti mendokumentasikan kegiatan-kegiatan mereka, termasuk dengan mengirimkan laporan-laporan tentang rumah tinggal tersebut dengan disertai foto yang dilampirkan,” kata HRW dalam rilis media.

“Beberapa dari foto-foto dan video ini dapat ditemukan di akun WeChat dan Weibo dari agensi-agensi yang berpartisipasi, yang menunjukkan adegan para kader yang tinggal dengan keluarga-keluarga minoritas, termasuk dalam aspek kehidupan rumah tangga yang paling intim, seperti para kader dengan anggota keluarga yang membuat tempat tidur dan tidur bersama, berbagi makanan, dan memberi makan dan mengajar anak-anak mereka,” kata kelompok hak asasi tersebut

“Tidak satupun dari video atau foto ini yang dipostingkan oleh keluarga yang dikunjungi, dan tidak ada indikasi bahwa mereka setuju untuk mempublikasikannya secara online.”

Awal tahun ini, otoritas Xianjiang memperpanjang program “homestay” tersebut dan sekarang para kader menghabiskan setidaknya lima hari setiap dua bulan di rumah-rumah keluarga tersebut. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa keluarga dapat menolak kunjungan seperti itu, kata HRW.

Sebagian dari waktu mereka bersama para keluarga tersebut, para kader melakukan indoktrinasi politik dan menjelaskan kebijakan Partai Komunis Tiongkok terhadap Xinjiang. Sementara itu, keluarga berkewajiban memberi tahu para kader tersebut tentang kehidupan dan pandangan politik mereka.

HRW mengatakan bahwa kunjungan rumah tinggal ini adalah bagian dari kampanye “Serangan Tajam” dari pemerintah yang semakin menyerbu di wilayah tersebut, yang merupakan rumah bagi 11 juta warga Uighur dan minoritas Muslim Turki lainnya.

Berita tentang kunjungan rumah datang di tengah peningkatan kebijakan represif di wilayah itu yang mencakup penahanan tanpa batas lebih dari puluhan ribu di pusat “pendidikan politik” yang melanggar hukum dan pengaturan pengumpulan biometrik DNA dan suara secara massal dari orang-orang antara usia 12 dan 65 tahun.

Alasan mengapa tindakan-tindakan tersebut diberlakukan adalah untuk “menjaga stabilitas sosial” dan untuk “memerangi terorisme.” Dalam beberapa tahun terakhir, media pemerintah telah melaporkan serangan bom dan pisau sporadis oleh teroris di provinsi dan tempat lain di Tiongkok.

Meskipun ada beberapa laporan tentang bergabungnya kelompok radikal Uighur di luar negeri, seperti ISIS, para kritikus mengatakan pemerintah Tiongkok sedang melebih-lebihkan ancaman dari Uighur.

Dalam beberapa dekade terakhir, ada tingkat imigrasi yang tinggi dari mayoritas Han ke provinsi ini. Han kini mencapai hampir 40 persen dari 19 juta populasi provinsi tersebut. (ran)

ErabaruNews