Tiga Tewas Ditabrak Kereta Api di London

EpochTimesId – Tiga orang tewas setelah ditabrak kereta api di London selatan, Inggris Raya, Senin (18/6/2018) waktu setempat. Polisi mengatakan para korban kemungkinan besar adalah seniman grafiti atau mural.

Polisi Transportasi Inggris (BTP) mengatakan seorang pengemudi kereta api melapor, kalau setelah melihat beberapa mayat di area lintasan kereta pada senin pagi waktu setempat. Polisi mengatakan bahwa luka yang diderita para korban konsisten dan identik dengan luka akibat tertabrak kereta api.

BBC melaporkan bahwa kaleng cat semprot ditemukan di dekat mayat pria, yang diyakini berusia diatas 20-an tahun. Lokasi kejadian adalah jalur kereta yang sangat sibuk di dekat stasiun Loughborough Junction, sebelah selatan London.

Polisi mengatakan menganggap kematian para korban sebagai ‘tidak dapat dijelaskan’. Superintenden Matthew Allingham mengkonfirmasi bahwa para pria itu bukan pegawai kereta api. Dia menambahkan, para petugas sedang menyelidiki kemungkinan bahwa mereka mungkin seniman grafiti atau mural.

Gambar yang diambil di tempat kejadian menunjukkan polisi mengeluarkan tas bukti yang berisi pakaian dan kaleng semprot.

“Kami menyadari bahwa ada sejumlah komentar spekulatif tentang ini di media sosial, tetapi terlalu dini bagi kita untuk mengomentari alasan mereka berada di jalur kereta,” kata BTP dalam sebuah pernyataan.

Identitas salah satu dari korban tewas telah ditetapkan. Namun, dua korban lainnya belum berhasil diidentifikasi.

Korban tewas relatif jarang terjadi di jaringan kereta api Inggris. Dalam dua insiden terakhir yang berjauhan waktunya, tujuh orang tewas ketika sebuah mobil berhenti ke sebuah persimpangan rel pada tahun 2004 di Berkshire, Inggris selatan. Tujuh korban meninggal lainnya, ketika sebuah trem jatuh di Croydon, London Selatan, pada tahun 2016. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

https://youtu.be/fTKcu82AtsA

Sembilan Orang Tewas dalam Insiden Penembakan Terpisah di Amerika Serikat

EpochTimesId – Sebanyak sembilan orang tewas tertembak dalam beberapa insiden terpisah di Chicago, Amerika Serikat, pada akhir pekan kemarin. Sedikitnya 46 orang juga mengalami luka tembak, dalam sejumlah aksi kekerasan yang melibatkan senjata api terbaru.

Media lokal, The Chicago Tribune, menghitung jumlah korban penembakan dan kematian tersebut terjadi antara Jumat (15/6/2018) hingga Senin (18/6/2018) dini hari, waktu setempat.

Dalam insiden terakhir, satu orang tewas dan lima lainnya terluka dalam penembakan di daerah Universitas Village, Chicago, menurut laporan media setempat. Penembakan itu terjadi tepat sebelum pukul 5 dinihari waktu setempat. Kawasan pemukiman itu terletak di sisi barat Kota Chicago, seperti dikutip dari WGN-TV.

Orang-orang menghadiri pesta ketika tembakan terdengar. Seorang wanita berusia 20-an tahun, ditemukan tewas di tempat kejadian, kata polisi kepada WGN-TV.

Penembakan itu juga membuat seorang pria 17 tahun dalam kondisi kritis. Polisi mengatakan, korban kritis tertembak di kepala.

Pada Minggu malam di kawasan Little Village, seorang pria berusia 21 tahun, seorang pria berusia 20 tahun, serta seorang pria 30 tahun, dan seorang wanita 34 tahun diberondong tembakan ketika berdiri di pinggir jalan. Seorang pria bersenjata api mendekati para korban dengan berjalan kaki dan mulai menembak, menurut polisi kepada Chicago Tribune.

Seorang saksi menyesalkan penembakan itu. Dia mencatat ada dua anak kecil melihat peristiwa penembakan. “Anda lihat, ada anak-anak berlarian,” kata Annette Hernandez kepada Tribune. “Setiap malam, itu hal yang sama.”

Sekitar 20 orang, atau separuh korban penembakan mengalami mimpi buruk itu pada Minggu malam hingga Senin dinihari.

Pada tahun 2018, setidaknya 1.238 menjadi korban penembakan di Chicago. Itu termasuk 230 kasus pembunuhan, yang secara substansial lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Namun, angka tersebut mewakili penurunan seluruh kawasan Ibukota Negara Bagian, dalam dua tahun terakhir. (The Epoch Times/waa)

Video pilihan :

https://youtu.be/fTKcu82AtsA

Amerika Bentuk Pasukan Antariksa Sebagai Angkatan Militer Keenam

0

EpochTimesId – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memerintahkan Pentagon untuk membentuk pasukan Antariksa independen, Senin (18/6/2018). Pembentukan Angkatan Antariksa itu akan dijadikan kekuatan baru bagi militer Amerika Serikat.

“Kami memiliki Angkatan Udara, dan kami juga akan memiliki pasukan antariksa, mereka terpisah (departemen) memiliki kedudukan yang sejajar,” Kata Trump saat pertemuan Dewan Antariksa Nasional (National Space Council) di Gedung Putih.

“Ini akan menjadi sangat penting,” sambung Trump, sambil meminta Jendral Joseph Francis Dunford, Jr. selaku Ketua Kepala Staf Gabungan untuk menindaklanjuti.

Amerika Serikat kini memiliki 5 kekuatan militer. Angkatan tersebut yaitu angkatan laut, darat, dan udara, serta angkatan marinir, dan penjaga pantai. Jika angkatan antariksa jadi dibentuk, maka AS akan memiliki kekuatan militer keenam.

Trump tidak mengungkap lebih jauh mengenai angkatan antariksa. Akan tetapi, dia secara tegas memasukkan kekuatan militer ini sebagai bagian dari sistem pertahanan keamanan nasional. Trump juga mengatakan, bahwa Dia tidak menghendaki Rusia maupun Tiongkok mendahului AS.

“Misi kami di luar Bumi bukan hanya masalah identitas nasional tetapi juga masalah keamanan nasional. Ini sangat penting bagi tentara dan rakyat kami,” kata Trump. “Berbicara tentang membela kepentingan Amerika Serikat, itu tidak cukup hanya memiliki pasukan antariksa, tetapi kami harus memiliki posisi terkemuka di ruang angkasa.”

Presiden Trump juga berharap melalui penjelajahan kembali ke bulan dan penjelajahan planet Mars atau inisiatif lainnya untuk memulihkan program luar angkasa Amerika yang belum terlaksana sebelumnya.

Kepala Komisi Ruang Angkasa Nasional, Wakil Presiden Pence, Direktur NASA Jim Bridenstine, mantan astronot Buzz Aldrin dan Trump menghadiri pertemuan tersebut. Dua orang anggota subkomite dari Unit Strategi Militer DPR, ketua subkomite Mo Brooks dan anggota Kongres Mike Rogers mendukung instruksi Trump.

Mike Rogers dalam sebuah pernyataannya mengatakan, “Saya sangat senang bahwa Presiden Trump terus mendukung misi penting ini untuk membantu memperkuat keamanan nasional kita. Saya berharap dapat bekerja dengan Presiden untuk membuat langkah ini menjadi kenyataan.”

Ini bukan proposal pertama Trump untuk membentuk sebuah pasukan antariksa. Presiden Trump telah menyebutkan ide ini dalam upacara pengangkatan para ‘Ksatria Hitam’ lulusan Akademi Militer West Point yang digelar di halaman Gedung Putih pada bulan Mei lalu.

Ketika membahas Undang-undang Kebijakan Pertahanan untuk tahun fiskal 2018, Kongres mengusulkan untuk membentuk pasukan antariksa di dalam Angkatan Udara, seperti Korps Marinir. Namun, langkah ini gagal untuk diajukan karena anggota Majelis Nasional meminta Pentagon untuk mempelajari bagaimana Departemen Pertahanan harus mengatur pasukan antariksa.

Saat ini, penelitian untuk hal tersebut sedang berlangsung dan keputusan akan dilaporkan kepada Kongres sebelum akhir tahun ini.

Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional (NDAA) versi Kongres mengusulkan pembentukan pasukan antariksa sebagai bagian dari operasional Komando Strategis AS. Saat ini belum jelas apakah rencana ini akan tetap dalam diskusi dengan Senat dan akhirnya terbentuk berdasar undang-undang.

Selain membentuk pasukan antariksa, Trump juga menandatangani instruksi untuk mengelola transportasi ruang angkasa untuk memberikan dukungan dan manajemen bagi industri perjalanan ruang angkasa komersial yang sedang berkembang.

Dengan peningkatan lalu lintas satelit, instruksi bersifat arahan yang mengharuskan Amerika Serikat menyediakan lingkungan yang aman dan andal di orbit luar angkasa. Instruksi juga menetapkan pedoman baru bagi desain dan operasi satelit untuk menghindari tabrakan. (Xia Yu/ET/Sinatra/waa)

Video Pilihan :

https://youtu.be/fTKcu82AtsA

Sepuluh Fakta Kunci Perdagangan Amerika

EpochTimesId – Defisit perdagangan Amerika Serikat dengan Tiongkok yang terus memburuk pada tahun 2017 telah mencapai 337 miliar dolar AS. Pemerintah Tiongkok membantu perusahaan mereka dengan cara melakukan spionase cyber, dumping dan kecurangan lainnya. Itu adalah perbuatan yang melanggar kontrak.

Amerika Serikat telah mengeluarkan biaya ekstra sangat besar selama bertahun-tahun. Hal itu karena tindakan curang oleh Tiongkok komunis tersebut. Trump kini mendapat angin tak terduga; kredibilitas, yang telah membuat kemajuan besar dalam hal mengatasi isu perdagangan.

Presiden Trump saat kampanye pemilihan presiden menyatakan bahwa Tiongkok komunis sedang menjarah Amerika Serikat. Sekarang, ia menepati janjinya untuk menghukum Tiongkok dengan menaikkan tarif impor pada produk baja dan aluminium mereka, serta produk-produk Tiongkok lainnya. Walau kemudian, banyak pihak mengkhawatirkan akan memicu perang dagang antar kedua negara besar itu.

Profesor Farok J. Contractor dari Rutgers Business School di University of New Jersey mempresentasikan makalah analisisnya melalui media Yale Global. Makalah itu mengenai 10 fakta tentang hubungan perdagangan, menyoroti tantangan yang dihadapi oleh Tiongkok dan Amerika Serikat.

Sepuluh fakta hubungan perdagangan AS-Tiongkok, Yaitu;

1. Defisit perdagangan AS dengan China yang terus memburuk pada tahun 2017, total telah mencapai 337 miliar dolar AS. Karena Amerika memiliki surplus dalam perdagangan jasa, jadi jika ditilik dari perdagangan barang saja maka defisitnya akan lebih besar dari angka tersebut.

2. Amerika Serikat memberlakukan tarif rata-rata tertimbang sebesar 1,6 persen pada produk impor. Alasan mengapa Amerika Serikat menjadi importir terbesar dunia hingga saat ini, sebagian disebabkan oleh hal ini. Menurut data Bank Dunia, tarif rata-rata di kebanyakan negara maju adalah kurang dari 5 persen.

3. Selama beberapa dekade, Amerika Serikat mengalami defisit perdagangan dengan negara-negara lain di dunia yang besarnya mencapai 566 miliar dolar AS.

Dalam hal perdagangan barang, defisit yang berkembang adalah 796 miliar dolar AS. Tetapi pada perdagangan jasa, AS mengalami surplus yang besarnya mencapai 230 miliar dolar AS. Impor dari semua negara berjumlah hampir 2,9 triliun dolar AS, dimana Tiongkok menghasilkan 524 miliar dolar AS, kira-kira 18 persen dari total impor AS.

4. Amerika Serikat memiliki surplus perdagangan dengan beberapa negara yang kebanyakan dari mereka adalah negara-negara kecil. Sebanyak 15 negara yang menghasilkan surplus perdagangan sekitar 124 miliar dolar bagi AS antara lain Belanda, Inggris, dan Guatemala.

5. Amerika Serikat adalah pengekspor jasa utama di dunia. Jasa yang diekspor AS telah melampaui impornya dari bagian lain dunia, yang menghasilkan surplus sebesar 230 miliar dolar AS. Amerika Serikat adalah negara yang inovatif dengan budaya perintis.

6. Tiongkok memainkan peran utama dalam defisit perdagangan barang AS. Dengan memperhitungkan jumlah perdagangan barang dan jasa, maka secara keseluruhan Tiongkok menyumbang 59 persen dari total defisit perdagangan AS (59 persen dari total defisit AS (566 miliar) adalah 337 miliar).

Foxconn, perusahaan OEM (Produsen Peralatan Asli) Taiwan yang berada di daratan Tiongkok merakit ponsel untuk Apple. Setiap kali merakit sebuah ponsel, Apple membayar sekitar 10 dolar AS, dengan berbagai komponen yang berasal dari banyak negara.
Foxconn akan mengirim iPhone yang dirakit ke Amerika Serikat dengan nilai sekitar 220 dolar AS, termasuk 210 dolar untuk biaya komponen dan 10 dolar untuk biaya perakitan.

Catatan pabean menunjukkan bahwa perakitan Tiongkok hanya akan meningkatkan nilai perdagangan 10 dolar. Sedangkan harga ritel iPhone 649 dikurangi 220 dolar, setara dengan laba kotor Apple adalah 429 dolar AS. Angka tersebut tidak muncul dalam data perdagangan. Jumlah total nilai tambah Tiongkok sebesar 10 dolar adalah 150 juta dolar AS, yaitu 4,5 persen dari 15 juta iPhone senilai 3,3 miliar dolar.

7. Seluruh dunia, termasuk Tiongkok ikut membayar defisit perdagangan AS. Anggaran belanja pemerintah AS lebih besar daripada penghasilan dari pajak domestik. Selama 35 tahun terakhir, pemerintah AS kebanyakan waktunya mengalami defisit perdagangan.

8. Semua kebijakan akan menciptakan pemenang dan pecundang, tetapi akan keluar lebih banyak pemenang daripada pecundang dalam perdagangan internasional. Secara umum, kebanyakan orang Amerika saat ini memiliki pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan prospek yang lebih baik daripada generasi ayah mereka.

Tingkat pengangguran mencapai rekor terendah, dan daya beli setelah pajak rakyat Amerika sekarang merupakan yang tertinggi di dunia.

9. Dalam hampir semua kasus, perusahaan yang dituduh melakukan dumping oleh pemerintah AS tidak mengalami kerugian. Dumping terjadi ketika importir yang tidak jujur menjual produk dengan harga di bawah harga dan melukai produsen lokal dalam persaingan.

Dumping telah memaksa produsen lokal untuk menurunkan harga, sesekali juga menimbulkan adanya PHK karyawan bahkan menutup bisnis. Perusahaan Trump menuduh perusahaan-perusahaan baja dan aluminium Tiongkok melakukan dumping.

10. Perusahaan-perusahaan Tiongkok menginginkan teknologi Barat dan rahasia perusahaan, dan pemerintah Tiongkok berniat untuk membantu; Peraturan Tiongkok mencegah perusahaan asing berinvestasi dan melakukan bisnis di Tiongkok, kecuali mereka bersedia bermitra dengan perusahaan lokal, pemerintah Tiongkok tidak menyembunyikan bantuannya. Mereka terang-terangan melakukan kegiatan spionase cyber demi perusahaan dalam negeri mereka.

Dalam 40 tahun terakhir, defisit perdagangan AS terkait dengan defisit pemerintah. Selama 3 kondisi berikut terus bertahan, pola ini akan berlanjut;

1. Investor asing dan investor domestik tetap percaya bahwa dolar AS adalah aset untuk menghindari risiko, baik untuk berinvestasi dalam obligasi Treasury AS.

2. Upah pekerja asing masih lebih rendah dari 5 dolar AS per jam.

3. Pengangguran tetap berada pada tingkat yang dapat diterima.

Kesenjangan kepercayaan
Christopher Balding, seorang profesor di HSBC School of Commerce di Peking University, menulis dalam Nikkei Asian Review bahwa seiring terjadinya sengketa perdagangan antara AS dengan Tiongkok, Presiden Trump justru mendapatkan keuntungan yang tak terduga, yaitu kredibilitas.

Dalam hal perdagangan, Trump telah membuat kemajuan besar. Seperti yang ia janjikan, AS telah mundur dari Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) dan mencapai kesepakatan perdagangan dengan Kanada, Meksiko, dan Korea Selatan melalui negosiasi ulang dan penetapan tarif atas berbagai komoditas.

Sebaliknya, komitmen untuk perdagangan yang tak berujung dari Tiongkok komunis telah berulang kali mengikis kredibilitas terhadap mereka. Selama bertahun-tahun, Beijing telah bersumpah untuk mematuhi norma-norma internasional dan menyediakan lingkungan persaingan yang adil bagi perusahaan asing, tetapi itu tidak pernah terwujud.

Tiongkok juga berjanji untuk membuka pasar sepenuhnya bagi investor asing, tetapi masih tetap menjadi salah satu negara dengan ekonomi yang paling tertutup dan dilindungi (pemerintahnya) di dunia. Kamar Dagang Uni Eropa Tiongkok baru-baru ini menggunakan istilah promise fatigue (bosan dengan janji-janji) untuk menggambarkan bagaimana perusahaan asing menilai Tiongkok.

Menanggapi tingkat perlindungan perdagangan di berbagai bidang yang dilakukan pemerintah Tiongkok, Trump memutuskan bahwa ini adalah masalah nyata. Komitmen Tiongkok untuk membuka pasar adalah hal yang tidak perlu dipercaya, sehingga Amerika Serikat memiliki keuntungan yang menentukan dalam negosiasi.

Pada bulan April tahun ini, Departemen Kehakiman AS melarang perusahaan AS mengekspor layanan teknis ke ZTE Corporation. Ini bukan semata-mata karena pelanggaran sanksi perdagangan dengan Iran dan Korea Utara, tetapi lebih karena pernyataan palsu yang dibuat selama negosiasi penyelesaian (dan) selama periode observasi.

Dengan kata lain, pemerintah AS menemukan bahwa ZTE tidak memiliki kredibilitas untuk mematuhi undang-undang AS dan komitmennya sendiri dan dengan demikian perlu diberikan hukuman yang sangat berat.

Kesenjangan kepercayaan tidak sampai di situ. Perusahaan asing tidak percaya apakah mereka dapat diperlakukan dengan adil di Tiongkok. Pada saat yang sama, Washington percaya bahwa akibat perilaku dan pelanggaran kepercayaannya Tiongkok selama bertahun-tahun telah menyebabkan Amerika Serikat menanggung biaya yang sangat besar. (Li Qingyi/EpochWeekly/Sinatra/waa)

Video Pilihan :

https://youtu.be/fTKcu82AtsA

Trump Berikan Nomor Telepon Pada Kim Jong-un

0

EpochTimesId – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengaku sudah memberikan nomor telepon kepada pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un. Sehingga Kim, bisa langsung menelpon dirinya.

Trump mengaku hal itu mempermudah pembicaraan langsung kedua Presiden. Ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat dan Korea Utara sedang menjalin hubungan baru, yang lebih intens.

Presiden Trump, dikutip dari wawancara khusus Fox News di Gedung Putih, mengatakan bahwa ingin menelepon Korea Utara. Namun, Trump tidak secara eksplisit mengatakan dengan siapa dia ingin berbicara.

“Yah, saya ingin berbicara dengan orang Korea Utara. Saya ingin berbicara dengan orang-orang yang ada di Korea Utara,” ujar Trump.

Trump kemudian mengungkapkan sudah memberikan sebuah nomor telepon kepada Kim Jong-un.

“Saya sekarang bisa menelepon dia. Saya sekarang dapat mengatakan: Yah, kita ada masalah’. Saya memberinya nomor telepon langsung agar Dia (Kim Jong-un) pun bisa menelepon saya jika Dia menemui kesulitan,” sambung Trump.

Pada 17 Juni 2018, Trump mengirim pesan yang berbunyi, “Kami telah memperoleh banyak hal positif dalam upaya menuju perdamaian dunia, dan masih akan memperolehnya lagi pada saat final nanti.”

Trump juga menyebutkan bahwa perjanjian denuklirisasi Korea Utara yang dicapai bersama, telah memperoleh pujian dari seluruh Asia.

“Mereka senang! Namun, di negara kita (Amerika Serikat), beberapa orang malahan lebih suka melihat perjanjian bersejarah ini gagal, juga tidak ingin melihat Trump menang, meskipun hal itu akan menyelamatkan jutaan nyawa manusia,” sambung pemilik Trump Tower itu.

Hari itu, Trump tidak menyinggung apakah berbicara langsung lewat sambungan telepon dengan Kim Jong-un.

KTT di Singapura pada 12 Juni lalu menghasilkan kesepakatan untuk membangun hubungan diplomatik baru antara AS-DPRK. Kedua presiden juga sepakat membangun mekanisme perdamaian jangka panjang yang stabil di semenanjung.

Kim Jong-un juga berkomitmen untuk menghentikan secara penuh program pengembangan senjata nuklir. Kim selanjutnya juga akan membantu Amerika Serikat memcari jenasah para tawanan perang AS di Korea Utara, untuk dipulangkan ke Amerika.

Trump merasa puas dengan hasil yang dicapai dalam KTT. Pada 13 Juni, setelah tiba kembali di Washington DC, Trump mengirim pesan melalui Twitter.

“Tidak ada lagi ancaman serangan nuklir dari Korea Utara. Malam ini dunia dapat tidur nyenyak,” kicau pengusaha puluhan lapangan golf itu.

Dunia luar memiliki pandangan yang berbeda tentang hasil KTT. Ada pandangan yang menyebutkan bahwa kesepakatan yang didapat KTT tidak memiliki rincian yang spesifik, minim dalam substansi, masih bersikap skeptis terhadap ketulusan denuklirisasi Korea Utara.

Namun ada pula suara yang mengatakan bahwa, Trump bisa membuat Korea Utara duduk di meja negosiasi sudah merupakan awal yang baik.

Mengingat gaya kepemimpinan Trump, beberapa analis percaya bahwa Donald Trump tidak mungkin melepaskan niat baik terhadap Kim Jong-un, tanpa menerima komitmen sungguh-sungguh dari Korea Utara. Mereka beranggapan bahwa mungkin saja antara Amerika Serikat dengan Korea Utara memiliki perjanjian khusus yang belum dipublikasikan.

Menanggapi pandangan skeptis, Trump mengatakan, “Saya tidak ingin melihat senjata nuklir menghancurkan Anda dan keluarga Anda. Saya ingin hubungan yang baik dengan Korea Utara.”

Tang Hao, seorang pengamat politik beberapa hari yang lalu menulis, “Trump menanggapi Korea Utara dengan strategi penanggulangan yang luar biasa, menggunakan kebajikan untuk mengalahkan kejahatan, memanfaatkan kelenturan untuk mengalahkan kekakuan.”

Trump tidak lagi menunjukkan sikap permusuhan terhadap Kim, bahkan bersikap ramah dan bersahabat. Dia kini menggunakan ketrampilan sosialnya, dan kelebihannya dalam bernegosiasi untuk membangun hubungan awal dan kepercayaan yang akan sangat menunjang negosiasi lanjutan dan pelucutan senjata nuklir secara damai.

“Di masa mendatang, jika AS benar-benar mampu mengimplementasikan denuklirisasi Korea Utara, bahkan membantu pembubaran rezim komunis Korea Utara secara damai, serta melaksanakan transformasi pemerintahan dengan tanpa butuh senjata dan biaya, itu akan memberikan rakyat dunia perdamaian dan stabilitas jangka panjang. Bahkan, juga akan membawa perubahan besar pada situasi politik di Asia Timur dan lanskap politik internasional, bahkan semakin mempengaruhi perubahan besar di Tiongkok,” tulis Tang Hao.

Menghadapi berbagai tanggapan kurang positif, Trump mengambil langkah sabar dengan menjelaskan pertemuan ini akan mencapai sejumlah prestasi di kemudian hari. Dia mengaku merasakan ketulusan Kim Jong-un untuk menghapus senjata nuklir, tapi juga membutuhkan kesabaran semua pihak internasional guna memahami bahwa proses denuklirisasi DPRK tidak akan selesai dalam semalam.

Tang Hao beranggapan bahwa bagi Trump, hanya dengan denuklirisasi dan berhasil mencapai transformasi damai di Korea Utara, baru dapat menjamin kepentingan jangka panjang dan keamanan rakyat Amerika Serikat. Dengan denuklirisasi penuh, baru mampu menjamin kepentingan dan keamanan rakyat Semenanjung Korea dan Asia Timur.

“Ini adalah solusi pamungkas untuk isu nuklir DPRK, juga merupakan transaksi dengan biaya terendah yang benar-benar menyelesaikan ancaman nuklir DPRK. Selanjutnya, tinggal kita lihat apa yang akan dipilih Kim Jong-un, apakah Dia ingin memilih menang bersama Trump dan mencatatkan nama harum dalam sejarah, atau ingin kalah dengan tetap mengikuti sistem komunis?” Tao Hang menambahkan. (Luo Tingting/NTDTV/Sinatra/waa)

Video Pilihan :

https://youtu.be/fTKcu82AtsA

Wang Qishan Sikapi 2 Isu Inti PKT Ungkap Garis Bawah Zhongnanhai

Wakil Kepala Negara Tiongkok Wang Qishan melakukan kunjungan kenegaraan ke Rusia sehari setelah Presiden Trump mengumumkan penarikan dirinya dari KTT dengan Kim Jong-un (24 Mei).

Di Rusia, Wang menyikapi soal isu perang perdagangan dengan Amerika Serikat dan denuklirisasi Korea Utara. Ia juga menyinggung soal hal terburuk yang akan dihadapi Tiongkok dan garis bawah sebagai pegangan Zhongnanhai, kata-kata yang mengandung sejumlah sinyal  tersembunyi.

oleh Sima Jing – EpochWeekly

Pada saat Tiongkok dan Amerika Serikat sedang bergelut dan bernegosiasi tentang perang dagang, Kim Jong-un tiba-tiba mengubah sikap menjadi tangguh terhadap AS dan mengancam hanya ingin membongkar fasilitas nuklir bertahap setelah ia 2 kali menemui Xi Jinping dalam waktu kurang dari 40 hari.

Presiden AS kemudian secara terbuka menuduh pihak Tiongkok sebagai faktor utama yang  mempengaruhi Kim Jong-un. Oleh karena itu Trump mengumumkan pengunduran dirinya dari KTT di Singapura dan mengeluarkan peringatan militer kepada Korea Utara pada waktu yang sama.

Setelah itu Kim Jong-un melemah dan berinisiatif untuk meminta bertemu lagi dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in. Sementara itu Wang Qishan yang berada di Rusia menyikapi isu perang dagang dengan AS dan denuklirisasi Korea Utara.

Tiongkok sudah siap menghadapi hal terburuk yang akan terjadi

Wang Qishan berada di Rusia dari 25 – 29 Mei, ini adalah kunjungan kenegaraan pertamanya sejak ia menjabat Wakil Kepala Negara Tiongkok.

Kantor berita Rusia Sputnik melaporkan bahwa, ketika menghadiri forum internasional ekonomi ke-22 di kota St. Peterburg pada 25 Mei, Wang Qishan dalam membahas isu perang dagang yang belakangan ini menjadi perhatian dunia, ia mengatakan bahwa kedua belah pihak masih sedang gencar melakukan negosiasi untuk menghindari terjadinya perang dagang.

Pihak Tiongkok telah belajar banyak dari pihak AS. Dan, memandang perlu untuk bekerjasama. Wang Qishan kemudian menambahkan bahwa pihak Tiongkok juga sudah siap untuk menghadapi situasi terburuk.

Wang juga mengatakan bahwa Semenanjung Korea memiliki hubungan kepentingan dengan Tiongkok, karena itu Tiongkok mengharapkan semenanjung berada dalam situasi damai dan stabil. Tiongkok tidak ingin melihat keributan atau peperangan terjadi di semenanjung. Ini  merupakan garis bawah Tiongkok. “Untuk mencapai semenanjung yang damai dan stabil, maka denuklirisasi Semenanjung Korea adalah suatu keharusan” tegas Wang Qishan.

Menurut Wang bahwa pembatalan KTT antara AS dengan Korut hanyalah sebuah ‘selingan’. “Dari berita TV yang saya saksikan, baik pembicaraan presiden AS atau Korea Utara, masing-masing masih meninggalkan ruang untuk berjaga-jaga. KTT itu penting, sekarang bertambah lagi dengan ‘selingan’, Saya selalu berpikir bahwa sesuatu yang baik itu akan muncul banyak liku-likunya, tetapi kita harus memiliki keyakinan.”

Wang Qishan adalah sekutu politik paling penting bagi Xi Jinping. Sejak akhir tahun lalu meninggalkan Komite Tetap Politbiro, kemudian diangkat sebagai Wakil Kepala Negara melalui keputusan Dwi Konperensi. Wang Qishan sudah bekerja selama 70 hari (sejak 17 Maret hingga 25 Mei). Dalam masa itu, Wang telah 18 kali menghadiri acara-acara publik yang hampir semuanya adalah urusan luar negeri.

Di Rusia, Wang Qishan menyikapi isu perang dagang dengan AS dan isu nuklir Korea Utara. Menyinggung soal Tiongkok sudah siap untuk menghadapi situasi terburuk, garis bawah dan lain sebagainya yang mengandung sinyal  tersembunyi.

Pertama, kedua inti utama yang disampaikan oleh Wang tersebut seharusnya mewakili apa yang menjadi kekhawatiran Xi Jinping dan perwakilan lainnya dari Zhongnanhai.

Kedua, keberanian Wang mengungkapkan kedua isu termaksud telah menunjukkan bahwa ia terlibat langsungnya dan pengambilan keputusan terhadap isu-isu itu, termasuk juga menyoroti hubungan dekatnya dengan Xi Jinping.

Ketiga, tentang Tiongkok sudah siap menghadapi situasi terburuk seperti yang disampaikan Wang memberikan sinyal bahwa Xi Jinping telah sepenuhnya menyadari konsekuensi serius dari sikap keras pemerintah AS yang kemudian memicu perang dagang. Hal ini juga menjelaskan mengapa Tiongkok selama ini berusaha mengalah dalam suasana perang dagang terus meningkat.

Keempat, sebagaimana yang dikatakan Wang Qishan “Untuk mencapai semenanjung yang damai dan stabil, maka denuklirisasi Semenanjung Korea adalah suatu keharusan”. Hal ini dapat diartikan bahwa Tiongkok memiliki pandangan yang sama dengan pemerintahan Trump. Juga sebagai komitmen atas jaminan keamanan rezim kepada Kim Jong-un.

Wang dalam penyampaian sikapnya juga menyebutkan bahwa KTT AS – DPRK itu memiliki arti yang sangat penting. Sementara terjadinya pembatalan itu merupakan ‘selingan’ belaka.

Isu Nuklir Korut dan perang dagang merupakan stimulator

Dengan menggabungan antara pernyataan sikap yang disampaikan oleh Wang Qishan dengan  kinerja abnormal rezim Kim Jong-un sebelum dan sedang terjadinya proses negosiasi untuk menghindari perang dagang Tiongkok – AS serta munculnya pembatalan KTT, tidak sulit untuk menemukan bahwa, di satu sisi, pihak Tiongkok memanipulasi rezim Kim Jong-un untuk mengganggu KTT demi menaikkan daya tawar menawar Tiongkok dalam negosiasi perdagangan dengan AS, dan masalah nuklir Korea Utara. Di sisi lain, Tiongkok sebenarnya sangat takut jika KTT gagal dilaksanakan, Intinya adalah untuk memberi tekanan kepada Kim Jong-un agar mencapai penyelesaian negosiasi masalah nuklir Korut lewat KTT. Karena situasi inilah yang paling bermanfaat bagi Tiongkok.

Karena jika saja KTT tidak terlaksana, maka isu nuklir Korea Utara dan perang dagang 2 unsur tersebut akan menjadi stimulator. Tidak saja militer AS telah berada dalam posisi, Amerika Serikat juga akan meningkatkan tekanan melalui sanksi terhadap Tiongkok. Tiongkok akan menghadapi konfrontasi dengan Amerika Serikat baik di tingkat perdagangan maupun tingkat  militer. Ini akan menjadi bencana bagi rezim Tiongkok komunis yang sedang mengalami kesulitan internal dan eksternal.

Sejak Trump berkuasa, ia tetap bersikap keras dalam menghadapi masalah krisis nuklir Korea Utara dan isu-isu perdagangan dengan Tiongkok. Ia berada di atas angin, karena dilatar-belakangi oleh situasi internasional untuk menyapu bersih komunisme dari dunia sedang terbentuk.

Senjata nuklir rezim Kim Korea Utara selama ini dikendalikan oleh Tiongkok dan digunakan sebagai sarana untuk melakukan intimidasi nuklir dan pemerasan terhadap masyarakat Barat. Dengan denuklirisasi Korea Utara setara dengan rezim Tiongkok komunis ‘menanggalkan sendiri senjata’. Namun perang dagang dengan AS yang merupakan faktor menghambat pertumbuhan ekonomi Tiongkok masih menjadi ancaman.

Isu baik perang dagang maupun isu nuklir Korea Utara dapat dikatakan saat ini masih berjalan menurut ‘skenario’ pemerintahan Trump, efek pukulan knock-on masih dirasakan Tiongkok. Dalam pengertian lain bahwa reaksi berantai yang mengarah pada pembubaran PKT sedang bergerak.

Xi Jinping, Wang Qishan yang terlibat dalam permainan ini, pasti lebih memahami keseriusan krisis. Apa saja bottom-line yang mereka tetapkan untuk menanggulangi masalah, pilihan apa saja yang akan dibuat, mari kita tunggu perkembangannya lebih lanjut. (Sin/asr)

Puluhan Warga Terluka dalam Baku Tembak di New Jersey

0

EpochTimesId – Setidaknya 20 mengalami luka tembak dalam sebuah acara di Trenton, New Jersey. Seorang anak laki-laki diantaranya, berada dalam kondisi kritis.

Seorang pria bersenjata, yang diduga salah satu pelaku, ditembak mati oleh polisi dalam insiden itu. Sementara seorang tersangka kedua ditangkap dengan luka tembak di kaki ketika tembakan meletus pada pukul 3 dinihari.

“Penyelidikan awal menunjukkan bahwa banyak orang yang menghadiri acara Art All Night, ketika seseorang menembaki tempat tersebut. Beberapa senjata telah ditemukan,” ujar Angelo Onofri, jaksa Mercer County, seperti dikutip dari Reuters.

Onofri mengatakan bahwa lebih dari 1.000 orang diyakini berada di festival itu ketika penembakan terjadi. “Ini benar-benar bisa lebih buruk, mengingat ruang terbatas dan banyaknya jumlah tembakan yang dileps,” kata Onofri.

Panitia membatalkan sisa acara setelah penembakan itu. “Kami masih memproses banyak hal terkait kasus ini dan kami tidak memiliki banyak jawaban saat ini, tetapi harap diketahui bahwa staf kami, relawan kami, artis dan musisi kami semua tampaknya sehat dan berhasil diamankan,” tulis penyelenggara kegiatan di Facebook, Minggu (17/6/2018) waktu setempat.

“Simpati tulus dari kami untuk mereka, para korban yang terluka,” sambung pernyataan panitia acara.

Seorang saksi mata, Ernie Rivas, mengatakan kepada The Associated Press bahwa dia berada di sekitar lokasi kejadian ketika penembakan terjadi.

“Saya tidak pernah melihat ini terjadi. Itu buruk, saya merasa buruk, terutama pada Hari Ayah,” tutur pemilik toko di dekat lokasi kejadian itu.

“Simpati saya untuk para korban dan keluarga mereka,” kata Walikota Trenton, Eric Jackson pada konferensi pers, beberapa jam usai kejadian.

“Semua penembakan merupakan krisis. Ini bukan hanya tindakan kekerasan secara acak, ini adalah masalah kesehatan masyarakat,” sambung walikota.

Para pejabat belum menjelaskan motif apa pun untuk insiden penembakan itu.

Seorang saksi mengatakan kepada media lokal The Trentonian bahwa mereka melihat perkelahian terjadi sebelum penembakan. Sehingga, insiden itu dinilai lebih kepada baku tembak, daripada penembakan massal.

“Saya melihat dua pukulan dan kemudian mendengar beberapa suara tembakan,” kata Franco Roberts.

“Semua orang berlari menuju pintu keluar. Dan orang-orang yang bertempur dan menembak bercampur dengan kerumunan yang sedang berlari, dan mereka keluar dari pintu untuk kembali menembak,” tutur Franco.

Saksi lainnya, Angelo Nicolo mengatakan kepada WPVI bahwa dia dan saudaranya berada di acara itu, ketika mereka mendengar suara keras sebelum orang mulai berlarian.

“Dan tiba-tiba, saudara saya pergi ke arah saya, ‘Anda mendengar suara tembakan itu?’ mari pergi, ‘Kedengarannya seperti kembang api.’ Dia berkata, ‘Tidak, itu tembakan.’ Hal berikutnya yang Anda tahu, kami berbalik dan semua orang berlari di jalan. Semua kekacauan pun terjadi,” tutur Nicolo.

“Saya melihat dua petugas polisi mengawal seorang pria yang tertembak di kaki; mereka membalutnya dan membawanya pergi sebelum ambulans datang ke sini. Orang itu berusaha memberontak,” tambahnya kepada WPVI. (Jack Phillips/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

https://youtu.be/fTKcu82AtsA

Arkeolog Temukan Seni Cadas Mesir Kuno Berusia Ribuan Tahun

Epochtimes.id- Otoritas Mesir mengumumkan arkeolog telah menemukan seni cadas atau rock art berusia diperkirakan berusia 3.500 tahun yang menggambarkan benteng, keledai dan domba di Gurun Timur, Mesir.

Kementerian Purbakala Mesir Rabu (13/06/2018) seperti dilansir Arabnews mengatakan arkeolog menemukannya di Wadi Umm Tineidba.

Tim yang menemukan ini terdiri ilmuwan Mesir-Amerika dari Universitas Yale, termasuk setidaknya tiga ahli dari seni cadas.

Kepala misi tim ini, John Coleman Darnielen mengatakan penemuan ini memberikan bukti terhadap kelangsungan dan interaksi gaya artistik Gurun Timur dan Lembah Nil.

Menurut John Coleman, tim telah menemukan setidaknya tiga konsentrasi seni cadas di Wadi Umm Tineidba. Seni cadas di situs-situs ini mengungkap tablo penting dari Naqada II dan Naqada III (sekitar 3500-3100 SM).

Salah satu gambar yang sangat mengesankan (mungkin dari sekitar 3300 SM) termasuk penggambaran besar-besaran binatang, termasuk banteng, jerapah,  domba dan keledai.

Melansir dari Facebook Kementerian Purbakala Mesir, Kepala Sektor Kuno Kepurbakalaan Mesir di Kementerian Purbakala Mesir, Dr. Ayman Ashmawy menjelaskan misi ini menemukan kekayaan material arkeologi dan epigrafi: area kerja batu yang mengungkap aktivitas beberapa periode.

Menurut dia, temuan ini ikut mengungkapkan berbagai konsentrasi seni cadas Mesir Kuno, terutama dari tanggal Predynastic dan Protodynastic; penguburan tumuli dari Periode Protodinamik; dan zaman Roma Akhir yang “enigmatic” lainnya yang tidak tercatat.

Ayman mengatakan temuan ini menunjukkan bahwa pentingnya situs ini yang dikenal sebagai “Oasis” yang hilang dari aktivitas Kuno di Gurun Timur dan situs kuno yang baru diakui di Bir Umm Tineidba.

Dia menambahkan, Situs “oasis” ini sesungguhnya di Gurun Timur disebutkan mewakili  situs arkeologi penting dan epigrafi di area Gurun Timur yang dulunya diyakini tidak memiliki sisa-sisa purba.

Pada saat sebelum penemuan naskah hieroglif, seni cadas seperti ini memberikan petunjuk penting bagi agama dan komunikasi simbolis dari bangsa Mesir Kuno.

Hieroglif adalah seni yang digunakan masyarakat Mesir kuno. Adapaun Hieroglif Mesir merupakan salah satu sistem penulisan paling tua yang dikenal manusia.

Atas temuan ini, Mesir berharap akan mendorong pariwisata karena terus berjuang untuk menghidupkan kembali ekonominya setelah bertahun-tahun dilanda kekisruhan. (asr)

Maskapai Penerbangan Amerika Tolak Ganti Nama Negara Taiwan

0

EpochTimesId – Beberapa maskapai penerbangan asing termasuk dari Amerika Serikat menolak permintaan Partai komunis Tiongkok (PKT) untuk mengganti nama Negara Taiwan (Republik of China). Para maskapai menyampaikan penolakan dengan dukungan kuat dari pemerintah AS.

Pada 25 April 2018 lalu, PKT mengeluarkan surat tertulis yang ditujukan kepada 36 maskapai penerbangan asing. Isi surat itu meminta kepada maskapai untuk mengubah nama Taiwan baik dalam situs internet dan peta dalam waktu 30 hari. Jika tidak, maka maskapai bersangkutan akan menghadapi hukuman berat.

Gedung Putih pada bulan Mei secara terbuka menuduh PKT, menyatakan bahwa tindakan itu tidak ada bedanya dengan omong kosong ala Orwellian. Senator bipartisan juga mendesak perusahaan penerbangan untuk memboikot permintaan PKT yang mengandung intimidasi. Senator mengistruksikan perusahaan untuk memberitahu PKT bahwa yang berhak menangani isu tersebut adalah urusan pemerintah Amerika Serikat bersama Pemerintah Tiongkok.

Wall Street Journal dalam laporannya menyebutkan bahwa, walau PKT mengklaim bahwa Taiwan adalah bagiannya dari wilayah RRT. Namun, Taiwan memiliki pemerintahan sendiri yang dipilih oleh rakyatnya.

Partai Komunis Tiongkok baru-baru ini memperpanjang batas waktu bagi maskapai penerbangan untuk mengubah nama pada situs dan peta mereka sampai pada 24 Juni 2018 mendatang.

Tiga maskapai besar Amerika Serikat sejauh ini belum bersedia mengganti nama Taiwan. Juru bicara United Airlines mengatakan pada hari Rabu (13/6/2018), “Kami telah menyerahkan masalah ini kepada pemerintah AS karena hal ini menyangkut masalah diplomatik dan perlu diselesaikan antar pemerintah.”

Juru bicara Delta Airlines menjelaskan, perusahaan sedang berkonsultasi erat dengan pemerintah AS mengenai masalah ini. Seorang juru bicara American Airlines menolak memberikan komentar lebih lanjut.

Hingga hari Kamis (14/6/2018) maskapai penerbangan dari Prancis, Jerman, Inggris, Kanada, maskapai penerbangan yang berada di Timur Tengah, dan di Asia seperti Malaysia, Filipina, Thailand dan Turki telah mengubah konten sebagaimana yang diminta PKT.

Akan tetapi, dua maskapai penerbangan Hongkong (Cathy Pacific dan Hongkong Airlines), 3 maskapai AS (United Airlines, American Airlines, Delta Airlines), 2 maskapai Jepang (All Nippon Airways, Japan Airlines), 2 maskapai Korea Selatan (Korean Air, Korean Air Asia) dan Air India, Vietnam Airlines semua belum melakukan perubahan nama Taiwan.

China Daily melaporkan bahwa negara-negara di mana maskapai penerbangan ini berada memiliki alasan historis atau politis untuk memungkinkan mereka beralasan untuk memboikot tuntutan PKT.

“Ini adalah satu lagi bukti bahwa PKT ingin memanfaatkan kekuatan dari pertumbuhan output mereka untuk mengekspor pandangan sendiri (komunis) kepada dunia. Dengan niat untuk mengatur perilaku organisasi, negara dan perusahaan di seluruh dunia,” ujar Ken Jarrett, Ketua KADIN AS untuk Shanghai.

Pemerintah Tiongkok sedang ‘mengekspor’ pandangan globalnya. Tahun ini saja, setidaknya selusin perusahaan Barat, termasuk Marriott International, Zara Garment dan Mercedes-Benz, telah diperintahkan oleh pemerintah Tiongkok untuk mengubah konten situs mereka. Sebagian besar perusahaan memilih untuk tunduk pada PKT karena takut jika kepentingan ekonomi mereka di Tiongkok terganggu dan bahkan terputus.

Tapi permintaan PKT tampaknya telah ditolak oleh pemerintahan Trump serta tentangan keras dari anggota senat lintas partai. Pemerintah Amerika Serikat menentang pemerintah Tiongkok untuk ikut campur dalam urusan perusahaan AS.

Tuntutan ini justru terjadi pada saat hubungan Tiongkok-AS sedang tegang gara-gara urusan perdagangan. Dan, hubungan AS-Taiwan sedang membaik. Gedung American Institute in Taiwan (AIT) di Neihu, Taiwan telah diresmikan pada 12 Juni. Ini mungkin telah menimbulkan ketidakpuasan PKT.

Dunia luar percaya bahwa upaya PKT untuk mengekspor pandangan mereka ke dunia dan memaksa perusahaan asing mengikuti apa yang PKT mau akan menyebabkan lebih banyak kebencian dan resistensi dari masyarakat Barat. (Lin Yan/ET/Sinatra/waa)

Video Pilihan :

https://youtu.be/fTKcu82AtsA

Hakim Amerika Penjarakan Mantan Kepala Tim Kampanye Trump

0

EpochTimesId – Seorang hakim federal Amerika Serikat mengirim mantan ketua kampanye Presiden Donald Trump, Paul Manafort, ke penjara, Jumat (15/6/2018) waktu setempat. Penyidik Khusus Robert Mueller men-tersangka-kan Manafort dengan ‘kasus gangguan saksi’.

Ini adalah episode terbaru musim gugur Manafort, seorang operator politik dan mantan pengusaha yang dituduh oleh Mueller melakukan kejahatan yang tidak terkait dengan pemilihan presiden 2016. Beberapa tuduhan terhadap Manafort termasuk kasus lebih dari satu dekade yang lalu. Kasus yang berhubungan dengan pekerjaan yang dia lakukan di Ukraina.

Hakim Distrik AS, Amy Berman Jackson di Washington mencabut pembebasan dengan jaminan Manafort. Hal itu mengirimnya ke penjara.

“Saya tidak punya nafsu untuk ini. Tetapi pada akhirnya, saya tidak bisa menutup mata,” kata Hakim tersebut. “Anda telah menyalahgunakan kepercayaan yang ditempatkan pada Anda.”

Manafort telah didakwa oleh Mueller di Washington dan Virginia atas beberapa tuduhan, termasuk konspirasi melawan Amerika Serikat. Persidangannya dalam kasus Washington dijadwalkan pada bulan September 2018. Sebelumnya dia menjalani tahanan rumah di Alexandria, Virginia, dan diminta untuk memakai perangkat pemantau elektronik.

‘Hukuman percobaan’ Manafort tentang tuduhan terkait di Virginia diputuskan pada 25 Juli 2018. Dia mengaku tidak bersalah atas semua tuduhan.

Mueller ditugaskan untuk menyelidiki dugaan kolusi antara tim kampanye Trump dan Rusia. Penyidik khusus belum mengeluarkan tuduhan atau bukti terkait kolusi, setelah diinvestigasi lebih dari setahun. Trump telah menyebut penyelidikan Mueller sebagai ‘permainan sulap’ dan membantah melakukan kesalahan.

Jackson sebelumnya menolak permintaan Manafort yang berulang-ulang, untuk mengakhiri tahanan rumahnya dengan imbalan real estate seharga 10 juta dolar AS.

Dakwaan 8 Juni dituduhkan terhadap Manafort dan Konstantin Kilimnik, seorang pembantu Manafort dan konsultan politik, dengan merusak saksi tentang lobi masa lalu mereka untuk pemerintah Ukraina.

Dakwaan itu menuduh Manafort dan Kilimnik berusaha menelepon, mengirim pesan, dan mengirim pesan terenkripsi pada bulan Februari 2018 kepada dua orang saksi dari sebuah kelompok diskusi politik, yang disebut Hapsburg Group, bahwa Manafort bekerja sama untuk mempromosikan kepentingan Ukraina dalam upaya untuk mempengaruhi kesaksian mereka.

Tim Mueller bulan ini meminta hakim untuk mencabut jaminan Manafort. Mereka mengatakan tindakan ‘obstruktif’ Manafort tidak memberi keyakinan bahwa tidak dilakukan penahanan akan mengurangi kepatuhan Manafort terhadap perintah pengadilan. Penahanan terdakwa juga akan mencegahnya melakukan kejahatan lebih lanjut.

Tuduhan terhadap Manafort di Washington termasuk konspirasi untuk mencuci uang, konspirasi untuk menipu Amerika Serikat, dan gagal mendaftar sebagai agen asing dari pemerintah Ukraina di bawah mantan Presiden Viktor Yanukovych.

Tidak satu pun dari tuduhan terhadap Manafort mengacu pada dugaan campur tangan Rusia dalam pemilihan atau tuduhan kolusi antara Moskow dan tim kampanye Trump. Kremlin membantah ikut campur dalam pemilihan presiden AS. (The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

https://youtu.be/fTKcu82AtsA

Serangan Drone Amerika Tewaskan Pemimpin Taliban Pakistan

0

EpochTimesId – Seorang pejabat Afghanistan mengatakan Amerika Serikat melancarkan serangan pesawat tanpa awak atau Drone di di perbatasan Afghanistan dan Pakistan. Serangan itu menewaskan seorang pemimpin Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP).

Mullah Fazlullah Khorasani adalah seorang militan terkenal di Pakistan. Dia adalah salah satu komandan senior yang memimpin angkatan bersenjata Taliban di Pakistan. Dia terpilih sebagai pemimpin TTP pada tahun 2013.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Afghanistan, Mohammad Radmanish mengatakan kepada NBC News bahwa Fazrullah tewas oleh serangan udara drone AS di Marawera, sebuah tempat yang terletak di perbatasan Kunar. Dia mengungkapkan bahwa serangan udara terjadi sekitar pukul 9 pagi, Kamis (14/6/2018).

Sebelumnya, Kolonel Martin O’Donnell, seorang juru bicara pasukan AS di Afghanistan menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa militer AS melakukan serangan udara di Kunar pada hari Kamis. “Ini adalah serangan yang diarahkan kepada pemimpin senior organisasi teroris,” ujarnya.

Mohammad Radmanish dalam wawancara dengan Associated Press mengatakan bahwa drone militer AS bergegas terbang menuju kendaraan yang membawa Fazrullah. Ia bersama lima orang militan lainnya tewas dalam serangan itu.

Bulan Maret tahun ini, Amerika Serikat menyediakan uang sebesar 5 juta dolar AS sebagai hadiah untuk menangkap Fazrullah.
Setelah Fazrullah mengambil alih organisasi TTP pada tahun 2013, Dia mengabaikan kesepakatan damai yang telah dicapai melalui pembicaraan dengan pemerintah Pakistan. Taliban sering melancarkan serangan berdarah, termasuk melakukan pembantaian di sebuah sekolah pada tahun 2014, sehingga menewaskan 132 murid.

Sebelum menjadi pemimpin TPP, Fazrullah juga terlibat dalam penembakan terhadap mahasiswi bernama Malala Yousafzai pada tahun 2012. Pada bulan Mei 2014, sebuah kelompok bersenjata di bawah TTP pernah menculik seorang turis asl Tiongkok bernama Hong Xudong. Pada bulan Agustus tahun yang sama, Hong Xudong berhasil diselamatkan.

Sebelum Departemen Pertahanan Afghanistan mengungkapkan bahwa Fazrullah telah terbunuh, beberapa anggota Taliban Pakistan mengatakan kepada NBC News bahwa mereka tidak dapat menghubungi Fazrullah dan para pemimpin senior lainnya. Khususnya sejak tersiar kabar ada serangan udara oleh drone militer AS. Mereka mengatakan, keempat orang pemimpin lainnya mungkin juga terbunuh bersama Fazrullah.

TTP mungkin juga memiliki hubungan erat dengan ISIS. Pada bulan Mei 2017, tiga warga Tiongkok diculik di Balochistan, Pakistan. Dua orang di antaranya tewas. Meskipun IS mengklaim bertanggung jawab atas penculikan itu, kegiatannya di Pakistan terutama tergantung pada Laskar-e-Jhangvi.

Laskar tersebut selalu dianggap sebagai cabang TTP yang paling penting. Dalam beberapa tahun terakhir mereka telah menyatakan kesetiaannya kepada ISIS.

Pakistan dianggap sebagai lokasi kunci untuk mencari para pemimpin Taliban Afghanistan. Amerika Serikat meyakini bahwa para pemimpin teroris ini telah diberikan suaka oleh Pakistan. (Xia Yu/ET/Sinatra/waa)

Video Rekomendasi :

https://youtu.be/fTKcu82AtsA

Uni Eropa Resmi Hapus Larangan Terbang Seluruh Maskapai Asal RI

Epochtimes.id- Kabar baik, kini seluruh maskapai penerbangan asal Indonesia bisa terbang bebas melanglang ke benua Eropa. Larangan atas penerbangan tersebut resmi dihapus oleh otoritas Uni Eropa.

Tepat Kamis (14/06/2018) melalui situs resminya,  Komisi Eropa menerbitkan Daftar Keselamatan Penerbangan Uni Eropa terbaru, yaitu daftar tentang maskapai penerbangan yang tidak memenuhi standar keselamatan internasional, dan oleh karenanya tunduk pada larangan beroperasi atau pembatasan operasional di dalam wilayah udara Uni Eropa.

Menurut Uni Eropa,  terbitnya pembaruan ini, semua maskapai penerbangan yang tersertifikasi di Indonesia telah lepas dari daftar larangan, sehubungan dengan adanya perbaikan lebih lanjut terhadap rantai-rantai terlemah dari aspek keselamatan penerbangan Indonesia.

Komisioner Uni Eropa urusan Transportasi Violeta Bulc mengatakan Daftar Keselamatan Penerbangan Uni Eropa adalah salah satu instrumen utama pihaknya untuk warga Eropa bahwa keselamatan penerbangan terus dijaga pada tingkat standar tertinggi.

“Saya sangat bersyukur bahwa setelah adanya kerja keras bertahun-tahun, hari ini kami dapat menghapus semua maskapai penerbangan Indonesia dari daftar larangan tersebut. Ini menunjukkan bahwa kerja keras dan kerja sama yang erat membawa keberhasilan,” ujarnya dalam rilis Uni Eropa.

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Guérend mengucappkan selamat kepada mitra-mitra di Indonesia, terutama Kementerian Perhubungan dan maskapai-maskapai penerbangan Indonesia, atas upaya luar biasa yang telah mereka lakukan untuk mengatasi berbagai aspek masalah keselamatan penerbangan.

Semua maskapai penerbangan Indonesia dimasukkan dalam Daftar Keselamatan Penerbangan Uni Eropa pada tahun 2007 karena berbagai kekurangan dalam pemenuhan aturan keselamatan penerbangan.

Dalam beberapa tahun kemudian, maskapai utama (Garuda Indonesia, Airfast Indonesia, Ekspres Transportasi Antarbenua, Indonesia Air Asia, Citilink, Lion Air dan Batik Air) telah dihapuskan dari daftar larangan tersebut, tetapi maskapai penerbangan Indonesia lainnya tetap dalam daftar larangan hingga hari ini.

Daftar Keselamatan Penerbangan Uni Eropa bertujuan untuk memastikan tingkat keselamatan penerbangan tertinggi bagi warga Eropa, hal mana merupakan prioritas utama dari Strategi Penerbangan Uni Eropa.

Daftar Keselamatan Penerbangan Uni Eropa ini tidak saja membantu menjaga tingkat keselamatan yang tinggi di kawasan Uni Eropa, tetapi juga membantu negara-negara yang terkena dampak untuk meningkatkan tingkat keselamatan penerbangan mereka, sehingga dapat lepas dari daftar larangan tersebut.

Selain itu, Daftar Keselamatan Penerbangan Uni Eropa telah menjadi alat pencegahan utama, karena memotivasi negara-negara yang menghadapi masalah keselamatan penerbangan untuk mengambil tindakan sebelum larangan diterbitkan melalui Daftar Keselamatan Penerbangan Uni Eropa.

Sedangkan sejumlah maskapai asing lainnya tetap dilarang untuk terbang ke Benua Eropa. Sejumlah maskapai-maskapai tersebut diantaranya berasal dari Iran, Iraq, Venezuela, Korea Utara, Suriname, Zimbabwe, Angola, Afghanistan, Kongo, Libya, Zibouti, Sudan, Gabon, Komoro, Nepal, Eritrea, Liberia dan Kyrgyz Republik. (asr)

Tiongkok akan Gunakan Chip di Kaca Depan Mobil Sebagai Alat Pemantau

0

EpochTimesId – Sistem identifikasi elektronik akan segera digunakan di Tiongkok. Sistem itu akan digunakan untuk melacak kendaraan roda empat yang berada di jalanan di seluruh negeri. Indikasi ini menunjukkan bahwa semakin banyak alat pemantauan digunakan oleh otoritas Tiongkok untuk mengawasi aktivitas warganya.

Wall Street Journal melaporkan bahwa rencana yang akan diluncurkan otoritas pada 1 Juli 2018 adalah meminta kepada pemilik kendaraan roda empat untuk memasang chip identifikasi frekuensi radio (radio frequency identification chip/RFID) pada mobil mereka. Dilaporkan bahwa persyaratan kepatuhan ini bersifat sukarela dalam tahun ini, tetapi mulai awal tahun 2019, persyaratan tersebut akan diberlakukan untuk semua mobil baru.

Pihak berwenang menggambarkan rencana ini sebagai sarana untuk meningkatkan keselamatan publik dan membantu meringankan kemacetan lalu lintas.

Namun, para ahli berpendapat bahwa kendaraan terjual setiap tahun di Tiongkok mencapai hampir 30 juta unit. Jadi sistem yang diterapkan di pasar otomotif terbesar di dunia ini akan memperluas kemampuan pemerintah komunis dalam memantau aktivitas warganya. Jaringan pengawasan PKT itu mencakup penggunaan kamera keamanan, teknologi pengenalan wajah, dan pengawasan internet.

“Ini semua terjadi dalam konteks pemerintahan otoriter,” kata Ben Green, Peneliti Berkman Klein Center for Internet & Society di Harvard University.

Dia kini sedang mempelajari penggunaan data dan teknologi pemerintah kota. “Sangat sulit membayangkan bahwa jika itu tidak digunakan untuk pengawasan penegakan hukum, tetapi untuk kontrol sosial dalam bentuk-bentuk lain,” ujarnya.

Laporan mengutip sumber yang mengatakan bahwa sistem akan mencatat informasi seperti nomor plat dan warna mobil.

Untuk mengimplementasikan jaringan, chip RFID dipasang pada kaca depan mobil. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa pembaca chip yang dipasang di jalan raya akan mengidentifikasi mobil dan mengirimkan data ke Kementerian Keamanan Publik. Tidak seperti sistem pelacakan GPS, sistem ini tidak dibuat khusus untuk menunjukkan keberadaan mobil seperti GPS.

Di AS dan negara lain, RFID banyak digunakan dalam sistem pembayaran tol elektronik otomotif. Mereka juga dipasang di beberapa armada komersial, seperti truk di pelabuhan, untuk melacak lokasi mereka dan barang-barang yang mereka bawa.

Akhir tahun lalu, pihak berwenang Beijing mengumumkan beberapa rincian program pelacakan mobil yang dapat dilihat secara online melalui Sistem Standar Nasional. Meskipun mereka tidak menjelaskan mengapa pemantauan sampai dapat dilakukan secara nasional. tetapi dokumen sebelumnya memiliki petunjuk yang dapat ditelusuri.

Pada akhir tahun 2014, ketika Lembaga Penelitian Manajemen Lalu Lintas merilis draf standar untuk mencari komentar atau masukan dari publik, mereka menyatakan bahwa sistem baru diperlukan untuk mengatasi masalah yang semakin serius seperti kemacetan lalu lintas dan serangan teroris melalui kendaraan. Disebutkan bahwa masalah ini telah menyebabkan tantangan serius dan ancaman terhadap kehidupan sosial dan ekonomi, terutama keselamatan publik.

Namun, para ahli percaya bahwa data identifikasi pribadi seperti itu tidak diperlukan untuk mengelola kota secara efektif. Misalnya, kemacetan lalu lintas dapat dipantau dengan cara menghitung jumlah kendaraan.

“Ini sepertinya sebuah alat lain yang berada dalam suatu toolbox pengawasan besar,” kata Maya Wang, seorang peneliti observasi hak asasi manusia yang mempelajari cara-cara pemerintah Tiongkok melakukan pengawasan warganya.

“Untuk dapat melacak kendaraan, mereka pasti akan menambahkan banyak rincian posisi ke rantai titik data mereka yang ada,” kata Maya Wang.

Laporan juga mengungkapkan bahwa diharapkan rencana ini juga akan mempromosikan pengembangan industri chip RFID dalam negeri Tiongkok. Institute of Traffic Management menyatakan bahwa hanya chip yang diproduksi oleh perusahaan Tiongkok sendiri yang dapat digunakan untuk program ini. (ET/Sinatra/waa)

Video Pilihan :

https://youtu.be/fTKcu82AtsA

Pompeo Temui Xi Jinping Jelaskan Hasil KTT Trump-Kim

0

EpochTimesId – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo tiba di Beijing menemui Presiden Tiongkok Xi Jinping, pada 14 Juni 2018. Pompeo datang untuk memberitakan hasil pertemuan tingkat tinggi AS-DPRK sekaligus membahas isu konflik perdagangan Tiongkok-AS, militerisasi Tiongkok di Laut Selatan dan isu lainnya.

Usai menghadiri KTT di Singapura, Pompeo langsung terbang ke Seoul untuk bertemu dengan pejabat senior Korea Selatan dan Jepang. Setelah menjelaskan rincian pertemuan di Singapura, Pompeo terbang ke Beijing untuk hal yang sama.

Departemen Luar Negeri AS dalam pernyataannya menyebutkan, tujuan Pompeo menemui Xi Jinping adalah untuk menjelaskan bahwa Amerika Serikat bertekad untuk mencapai denuklirisasi yang komprehensif, dapat diverifikasi dan tidak dapat diubah di Semenanjung Korea. AS juga ingin membantu membangun mekanisme perdamaian yang langgeng dan stabil.

Pada saat yang sama, Pompeo juga menekankan pentingnya menerapkan sepenuhnya semua resolusi Dewan Keamanan PBB yang relevan dan resolusi yang terkait terhadap Korea Utara. Ia menegaskan kembali bahwa jika Pyongyang dapat dengan cepat menghapus nuklir, negara tersebut akan menghadapi masa depan yang cerah.

Media resmi Tiongkok melaporkan bahwa Xi Jinping mengucapkan selamat kepada AS melalui Pompeo atas terselenggaranya pertemuan bersejarah antara pemimpin AS dan DPRK dan mencapai hasil positif.

Xi mengatakan bahwa masalah yang terjadi di semenanjung Korea cukup kompleks. Oleh karena itu butuh upaya keras untuk bertahan dalam pemecahannya. Sementara Dia juga menyatakan bahwa, untuk membantu proses denuklirisasi Korea Utara, “Tiongkok bersedia memainkan peran aktif dan konstruktif.”

Media resmi menyebutkan bahwa Xi Jinping juga mengharap kepada AS untuk lebih berhati-hati dalam menangani isu Taiwan yang termasuk friksi perdagangan antara Tiongkok dengan AS. “Untuk mencegah gangguan besar hubungan Tiongkok-AS,” sambungnya.

Central News Agency dalam laporannya mengatakan bahwa Xi Jinping dalam pertemuan dengan Pompeo mengatakan bahwa antara dirinya dengan Presiden Trump sampai sekarang masih menjalin hubungan kerja yang baik serta hubungan pribadi yang erat. Mereka telah berulang kali saling bertukar pandangan tentang hubungan Tiongkok-AS, juga membahas isu-isu regional dan internasional yang dianggap penting.

Xi mengatakan, Tiongkok akan memanfaatkan sepenuhnya mekanisme dialog yang telah dibangun antara kedua negara. Xi juga berharap kepada Pompeo untuk memainkan peran penting dalam mempromosikan pengembangan hubungan Tiongkok-AS di masa datang.

Menurut Suara Amerika, ketika bertemu dengan Xi Jinping, Pompeo menegaskan bahwa Amerika Serikat akan berusaha untuk memastikan perdagangan dan investasi antara kedua negara berjalan dalam koridor yang berkeadilan dan berkeseimbangan.

Sebelum bertemu dengan Presiden Xi Jinping di Balai Kota Beijing, Pompeo sempat bertemu dengan Yang Jiechi, anggota Biro Politik PKT merangkap direktur Kantor Urusan Luar Negeri Pusat. Dalam pertemuan berikutnya dengan media, Pompeo mengatakan, “Saya datang ke sini hari ini untuk mendiskusikan pentingnya posisi Tiongkok sebagai peserta yang konstruktif dalam langkah berikutnya.”

Pada hari yang sama, Pompeo juga bertemu dengan Penasihat Negara dan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi, keduanya juga mengadakan konferensi pers bersama.

Dalam konperensi pers Pompeo menekankan bahwa sanksi ekonomi Korea Utara tidak akan berkurang atau dicabut sampai negara tersebut mencapai denuklirisasi sebagaimana yang diharapkan AS. Wang Yi juga menegaskan kembali bahwa Tiongkok akan memenuhi kewajiban internasionalnya dan terus menerapkan resolusi sanksi PBB.

Dalam masalah hubungan AS-Tiongkok, Pompeo mengatakan bahwa dirinya dan Wang Yi juga menggunakan kesempatan untuk membahas masalah-masalah seperti perselisihan perdagangan antara kedua negara, sengketa kedaulatan di Laut Tiongkok Selatan, hak asasi manusia dan kebebasan beragama. (He Yating/NTDTV/Sinatra/waa)

Video Pilihan :

https://youtu.be/fTKcu82AtsA

Sekutu Tetap Terapkan Sanksi Maksimal Hingga Korea Utara Denuklirisasi Penuh

0

EpochTimesId – Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo mengatakan bahwa Amerika Serikat, bersama sekutunya Korea Selatan, Jepang, dan Tiongkok sepakat bahwa sanksi keras terhadap Korea Utara harus tetap berlaku. Setidaknya sampai pemimpinnya, Kim Jong Un, dapat diferifikasi benar-benar meninggalkan senjata nuklir.

Pompeo membuat pernyataan pada 14 Juni 2018 di Beijing, Tiongkok. Mantan Direktur CIA itu berbicara setelah melakukan sejumlah pertemuan dengan para pejabat senior dari tiga negara, pertama di Korea Selatan dan kemudian di Tiongkok.

“Masing-masing dari ketiga negara juga telah mengakui bahwa penting bahwa rezim sanksi yang ada saat ini tetap berlaku sampai waktu seperti denuklirisasi itu, pada kenyataannya, lengkap,” kata Pompeo dalam konferensi pers setelah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi.

“Telah ada kebulatan suara dalam serangkaian tujuan itu, dan saya berbesar hati dengan itu,” lanjut Pompeo.

Beberapa jam sebelumnya, Pompeo bertemu dengan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in dan para menteri luar negeri Jepang dan Korea Selatan di Seoul. Pompeo juga bertemu dengan Presiden China Xi Jinping pada pukul 9 malam waktu setempat untuk menyelesaikan pertemuan kilat. Dia menyampaikan hasil detail pertemuan bersejarah Presiden AS, Donald Trump dengan Kim Jong-un.

Pompeo mengatakan kepada wartawan di Tiongkok, “Bahwa empat negara telah membuat situasi sangat jelas, dimana sanksi, dan bantuan ekonomi yang akan diterima Korea Utara, hanya akan terjadi setelah denuklirisasi penuh, denuklirisasi lengkap, oleh Korea Utara.”

Pejabat Amerika berulang kali menegaskan bahwa sanksi akan tetap berlaku sampai denuklirisasi tercapai. Pernyataan Pompeo di puncak konferensi adalah tanggapan terhadap laporan media Korea Utara bahwa Trump menyatakan niat untuk mencabut sanksi sebagai bagian dari proses perlucutan senjata secara bertahap.

Trump dan Pompeo telah bersikukuh selama berminggu-minggu bahwa tujuan mereka adalah mencapai denuklirisasi Korea Utara yang lengkap, tidak dapat diubah, dan dapat diverifikasi.

Sementara para pemimpin dunia menghujani Trump dan Kim dengan pujian karena mengadakan pertemuan itu. Media di Amerika Serikat menangkap fakta bahwa pernyataan bersama yang ditandatangani oleh kedua pemimpin itu memiliki ruang lingkup yang luas tetapi menawarkan sedikit detail. Pompeo membahas masalah ini dengan wartawan di Seoul pada 13 Juni 2018.

“Banyak yang telah dibuat dari fakta bahwa kata ‘dapat diverifikasi’ tidak muncul dalam perjanjian,” kata Pompeo. “Izinkan saya meyakinkan Anda bahwa ‘lengkap’ mencakup (kata) yang dapat diverifikasi dalam pikiran semua orang yang terkait. Seseorang tidak dapat denuklirisasi sepenuhnya tanpa memvalidasi, mengautentikasi — Anda memilih kata.”

Pada KTT pertama, Trump dan Kim menandatangani pernyataan bersama setuju untuk bekerja menuju perdamaian di Semenanjung Korea. Trump menawarkan jaminan keamanan untuk Kim, sementara Kim berkomitmen untuk meninggalkan senjata nuklir. Pernyataan bersama itu juga memasukkan janji dari Kim untuk mengizinkan pemulangan sisa-sisa tahanan perang Amerika dan tentara yang hilang dalam aksi.

Trump membuat janji lisan bahwa Amerika Serikat akan menangguhkan latihan militer, sementara Kim berjanji untuk menghancurkan tempat pengujian mesin rudal balistik.

Pompeo pada 13 Juni 2018 mengatakan bahwa Trump bertujuan untuk mencapai denuklirisasi lengkap Korea Utara sebelum akhir masa jabatan pertamanya dalam dua setengah tahun mendatang.

“Kami memiliki tim besar yang siap untuk pergi,” kata Pompeo. “Kami telah bekerja selama berbulan-bulan untuk memiliki semua pihak yang relevan dari lab kami, orang-orang terpandai – dengan cara, bukan hanya orang Amerika, tetapi mitra di seluruh dunia. Kami siap untuk mengeksekusi ini setelah kami berada dalam posisi yang benar-benar dapat kami dapatkan di tempat di mana kami dapat melakukannya. Ya, jadi pasti dalam masa jabatan pertama presiden.”

Media Korea Utara mengubah gambaran mereka tentang Trump setelah KTT itu. Media yang dikelola negara biasa menyebutnya hanya sebagai “Trump,” tetapi sejak itu memanggilnya “Presiden Amerika Serikat” dan bahkan “pemimpin tertinggi.”

Kembali di Washington, Trump memuji kemajuan yang dibuat dengan Korea Utara dan ekonomi Amerika yang gemuruh dengan membantu mengamankan kemenangan oleh kandidat Partai Republik dalam pemilihan utama.

“Partai Republik mulai menunjukkan angka yang sangat besar. Orang-orang mulai melihat apa yang sedang dilakukan,” tulis Trump di Twitter pada 14 Juni. “Hasilnya berbicara dengan suara keras. Korea Utara dan ekonomi terbesar kami memimpin jalan!” (Ivan Pentchoukov/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

https://youtu.be/fTKcu82AtsA