Sebagai Anak, Sudahkah Kamu Melakukan “Lima Tidak Mengeluh” Ini kepada Orangtuamu?

EtIndonesia. Orangtua memberi kita hidup dan cinta kasih tanpa syarat. Namun sebagai anak, apakah kita sudah benar-benar mengerti cara mencintai mereka kembali?

1. Jangan Mengeluh Karena Orangtua Tidak Mapan atau Tidak Sukses

Orangtua telah memberikan kita kehidupan dan dengan segala pengorbanan serta kerja keras membesarkan kita hingga dewasa. Itu sudah sangat luar biasa dan layak untuk kita syukuri.

Tidak ada manusia yang sempurna, tidak ada yang serba bisa.
 

Jangan pernah mengeluh:  “Ayah seharusnya begini,” atau “Ibu seharusnya begitu.”

Sebaliknya, belajarlah untuk berkata dengan tulus: “Aku menerima kalian sebagaimana adanya. Aku memilih untuk dilahirkan oleh kalian. Dan aku bersyukur atas semua yang telah kalian berikan padaku.”

2. Jangan Mengeluh Karena Orangtua Sering Cerewet

Hanya orang yang benar-benar mencintaimu yang akan cerewet padamu. Orangtua tidak akan peduli atau mencampuri hidup seseorang yang tidak berarti bagi mereka.

Mereka datang ke dunia ini lebih dulu, belajar lebih dulu, dan akhirnya menghabiskan sisa hidupnya untuk menjaga dan membesarkan kita.

Mereka menyuruh kita memakai jaket, mengingatkan kita makan, memohon kita agar hati-hati di luar. Semua itu adalah bentuk cinta paling tulus.

Cerewet mereka bukan gangguan, tapi bukti bahwa mereka mencintaimu dengan segenap jiwa.

3. Jangan Mengeluh Saat Orangtua Mengeluh pada Kita

Ketika orangtua mengeluh atau menegur kita, bukan karena mereka benci, tapi karena mereka ingin kita menjadi lebih baik dari mereka.

Mungkin hidup mereka penuh kesulitan, mungkin pekerjaan mereka penuh tekanan. Tapi mereka tetap berharap kita bisa hidup lebih baik, lebih tinggi, dan lebih kuat dari apa yang pernah mereka capai.

Mereka tak ingin kita mengulang kegagalan mereka. Bahkan jika mereka tidak mengatakan, mereka selalu berharap kita bersinar.

4. Jangan Mengeluh Karena Orangtua Menjadi Lamban

Seiring waktu, tubuh mereka menua, langkah mereka tak lagi cepat. Tapi jangan pernah mencela atau meremehkan gerakan mereka yang lamban.

Cobalah ingat: saat kita masih bayi, mereka dengan penuh kesabaran mengajari kita berjalan, meskipun kita jatuh berulang kali. Dulu, mereka mungkin penuh semangat dan bertenaga, bahkan lebih hebat dari kita saat ini. Tapi demi kita, punggung mereka membungkuk, tangan mereka menjadi kasar.

Ingat baik-baik:  Melihat orangtuamu hari ini, adalah melihat dirimu di masa depan. Maka, berbaktilah sebelum semuanya terlambat.

5. Jangan Mengeluh Saat Orangtua Sakit

Saat kita sakit, tidak peduli siang atau malam, hujan atau badai, orangtua langsung meninggalkan semua kesibukan demi mengantar kita berobat, berjaga sepanjang malam, dan menangis dalam diam.

Tapi saat mereka sakit, apakah kita bisa melakukan hal yang sama?

Benarkah pepatah lama: “Anak berbakti jarang terlihat di sisi ranjang orangtua yang lama sakit”?

Berita tentang anak-anak yang menelantarkan orangtuanya semakin sering terdengar.

Maka mari kita bertanya pada diri sendiri: “Bisakah aku menjadi anak yang bertanggung jawab, yang benar-benar merawat orang tuaku saat mereka membutuhkan?”

Hidup Ini Terlalu Singkat untuk Dihabiskan dengan Mengeluh

Kita perlahan tumbuh dewasa, Orangtua perlahan menua, Sampai suatu hari mereka meninggalkan kita…

Tanpa orangtua, tidak akan ada kita. Jadi daripada mengeluh, lebih baik belajarlah untuk memahami dan mencintai mereka.

Jika orang tua sendiri tidak bisa kau terima, bagaimana mungkin kau bisa menerima dunia?

 “Dari Semua Kebajikan, Berbakti pada Orangtua Adalah yang Utama”

Rumah yang paling dalam melekat di hati manusia, adalah tempat di mana kita dilahirkan dan dibesarkan. Kasih yang paling tak tergantikan di dunia ini adalah kasih ibu dan ayah.

Selama ibu masih ada, rumah itu tetap ada.

“Selama masih punya ibu, seberapa sibuk pun dirimu, sempatkanlah pulang. Karena Ibu—aku akan selalu mencintaimu.”

Tatapan orangtua padamu adalah hitungan mundur— satu tatapan hari ini, bisa jadi tak ada lagi besok.

Pepatah berkata: “Pohon ingin diam, tapi angin tak berhenti; anak ingin berbakti, tapi orangtua sudah tiada.”

Maka, jangan tunggu semuanya terlambat.

  • Berhentilah mengeluh.
  • Mulailah bersyukur.
  • Mulailah berbakti. 

Mulailah dari sekarang.(jhn/yn)

Kisah Nyata yang Menggugah Dunia: Cinta Ibu yang Tak Pernah Luntur

EtIndonesia. Cinta seorang ibu adalah cinta yang paling agung di dunia ini. Setelah membaca kisah nyata ini, semoga kita semua bisa lebih menghargai dan berbakti kepada orang tua kita.

Saat berusia 18 tahun, dia dijatuhi hukuman 6 tahun penjara karena melakukan penganiayaan. Pada musim dingin di tahun pertama dia mendekam di balik jeruji, dia menerima sebuah sweater rajut wol, buatan tangan ibunya. Di bagian bawah sweater itu, terpahat bordiran bunga plum—bunga yang dikenal tahan terhadap dingin. Diselipkan di atasnya sebuah kertas kecil bertuliskan: “Berusahalah dengan sungguh-sungguh. Ibu menggantungkan harapan agar kamu kelak bisa membahagiakan ibu di masa tua.”

Melihat tulisan itu, air matanya langsung jatuh, meskipun dia selama ini dikenal sebagai anak yang kuat dan keras kepala. Dia tahu, setiap jahitan benang pada sweter itu adalah cinta, cinta dari seorang ibu yang selalu ia kenali. Ibunya pernah berkata, “Menjadi manusia itu harus seperti bunga plum yang tumbuh di musim dingin—semakin keras cobaan hidup, semakin harus mekar indah.”

Sejak saat itu, setiap musim dingin, ibunya selalu mengirimkan sweater rajutan, dan setiap sweater selalu disertai dengan kertas kecil harapan yang sama.

Demi bisa bebas lebih cepat dan pulang menemui ibunya, dia bersungguh-sungguh berperilaku baik dalam penjara untuk mendapatkan pengurangan masa tahanan. Benar saja, di tahun ke-5, dia dibebaskan lebih awal.

Dia pulang dengan membawa sebuah ransel sederhana, berisi semua miliknya—lima helai sweater rajutan ibu.

Saat tiba di rumah, dia tertegun. Pintu rumah tergembok, dan gemboknya sudah berkarat. Di atap rumah, rumput liar tumbuh menjulang hingga setinggi lutut. 

Ia mulai bingung, dan bertanya dalam hati:  “Ke mana ibuku pergi?”

Dia pun mencari tetangga. Tetangga itu terkejut, dan bertanya padanya : “Bukankah kamu baru pulang tahun depan?” 

Dia menggeleng, dan segera bertanya: “Ibuku ke mana?”

Tetangga itu menundukkan kepala dan menjawab pelan : “Ibumu… sudah pergi.”

Seolah petir menyambar di siang bolong, dia berdiri mematung, “Tidak mungkin! Ibu baru empat puluhan! Musim dingin kemarin aku masih menerima sweater dan pesan darinya!”

Di depan makam ibunya, dia menangis sejadi-jadinya, menyesal, dan menghujat diri sendiri: “Ini semua salahku! Akulah penyebab ibu pergi begitu cepat! Aku anak yang tak tahu balas budi! Aku pantas masuk neraka!”

Keesokan harinya, dia menjual rumah tua peninggalan ibunya. Dia pergi merantau dengan sebuah ransel berisi enam sweater rajutan ibu.

Empat tahun berlalu. Di kota rantauan, dia membuka warung makan sederhana dan menikahi seorang gadis baik hati. Usaha mereka berkembang pesat. Dia dan istrinya bekerja keras setiap hari. Dia bangun jam 3–4 pagi untuk belanja ke pasar, lalu membawa semua bahan segar ke warung. Mereka tak punya karyawan. Dua tangan untuk dua orang, bekerja seperti baling-baling.

Seringkali karena kelelahan dan kurang tidur, matanya memerah.

Suatu hari, datanglah seorang nenek tua dengan mendorong gerobak tiga roda. Dia bongkok, pincang, dan tidak bisa bicara (bisu). Dia menawarkan diri untuk mengantar sayur dan daging segar dengan harga lebih murah.

Istrinya tidak setuju : “Orang itu kelihatan kotor dan menyeramkan.”

Tapi entah mengapa, dia justru merasa nenek itu mengingatkannya pada ibunya.

Dia pun menerima tawaran sang nenek. Dan benar saja, setiap pagi pukul enam, sayur dan daging segar selalu datang tepat waktu. Dia kadang memberi nenek itu semangkuk mie. Sang nenek makan perlahan dan tampak sangat menikmati.

Di hatinya, ada rasa hangat bercampur pedih, setiap melihat nenek itu, dia selalu teringat pada almarhum ibunya.

Dua tahun berlalu. Warung kecilnya berubah menjadi restoran besar, dia membeli rumah. Tapi nenek itu masih tetap yang mengantarkan sayuran setiap hari.

Namun suatu pagi, nenek itu tak datang. Dia menunggu sangat lama. Karena tak tahu alamat atau nomor kontak sang nenek, dia akhirnya menyuruh karyawannya belanja sendiri.

Namun dia sadar—sayuran yang dibeli orang lain tak sebaik milik nenek. Sayur dari nenek selalu bersih, segar, tanpa daun layu.

Nenek itu tak pernah muncul lagi. Menjelang Tahun Baru, dia tiba-tiba berkata kepada istrinya, : “Aku ingin mencari nenek itu. Aku ingin memberinya semangkuk pangsit hangat.”

Istrinya setuju.

Setelah berkeliling bertanya, dia akhirnya menemukan alamat sang nenek di sebuah gang sempit, dua blok dari restorannya.

Dia mengetuk lama. Tak ada jawaban. Pintu tak terkunci, dan dia mendorong masuk.

Ruangan itu kecil dan remang, sang nenek terbaring lemah di atas tempat tidur. Tubuhnya kurus kering seperti tulang hidup.

Nenek itu memandanginya kaget, mencoba duduk tapi gagal.

Dia meletakkan mangkuk pangsit di sisi ranjang dan bertanya: “Apakah nenek sakit?”

Sang nenek membuka mulut, seperti hendak bicara, tapi tak bisa mengeluarkan suara. 

Dia melihat sekeliling, dan tiba-tiba terkejut luar biasa: di dinding tergantung foto-foto dirinya bersama ibunya—saat dia berusia 5, 10, 17 tahun…

Di sudut ruangan, ada sebuah bungkusan kain lama bersulam bunga plum. 

Dia menatap nenek itu, terguncang, dan bertanya dengan suara gemetar: “Siapa nenek sebenarnya?”

Nenek itu memandangnya, lalu dengan suara parau, berucap perlahan: “Anakku…”

Dia terpaku. Nenek ini bukan bisu. Ia… adalah ibunya sendiri!

Nenek yang selama dua tahun mengantarkan sayur untuknya, yang selalu dia bayarkan murah, yang diam-diam tinggal hanya dua blok dari restorannya—adalah ibu kandungnya.

Dia langsung menggendong ibunya, membawa semua barang milik sang ibu dan pulang ke rumah.

Ibunya tinggal di rumahnya selama tiga hari.

Selama tiga hari itu, ibunya banyak bercerita. Dia berkata, saat anaknya masuk penjara dulu, dia hampir ingin menyusul ayahnya ke alam baka. Tapi kemudian berpikir: “Anakku belum bebas. Aku tidak bisa pergi.” 

Setelah anaknya keluar, dia kembali berpikir: “Anakku belum menikah. Aku masih belum bisa pergi.” 

Setelah anaknya menikah, ia berkata: “Aku belum melihat cucuku. Aku harus tetap bertahan.”

Dia mengucapkan semua itu dengan senyum tenang di wajah.

Dia pun menceritakan kepada ibunya, namun tidak mengungkapkan satu hal: alasan dia dipenjara adalah karena dia membunuh orang yang menghina ibunya dengan kata-kata paling keji.

“Dunia ini boleh menghina dan menyakitiku. Tapi tidak ada satu pun yang boleh menghina ibuku!”

Tiga hari kemudian, ibunya menghembuskan napas terakhir. Dokter berkata dengan lembut, “Kanker tulangnya sudah berlangsung lebih dari sepuluh tahun. Bisa bertahan sampai sekarang, itu sudah merupakan keajaiban. Jadi, kamu tidak perlu terlalu menyalahkan diri.”

Dia terguncang.

Ketika membuka bungkusan kain, dia menemukan sweater rajutan baru, rapi tersusun, ada untuk cucunya yang belum lahir, untuk istrinya, dan untuk dirinya. Semua dengan sulaman bunga plum merah terang.

Di dasar bungkusan, ada selembar surat diagnosis: kanker tulang, tertanggal tahun kedua dia dipenjara.

Tangannya gemetar. Dadanya terasa ditusuk ribuan jarum.

Cinta orangtua itu abadi.  Maka, bakti anak juga harus abadi. 

“Dari semua kebajikan, berbakti pada orangtua adalah yang utama.”

Semoga kisah ini menyentuh hatimu, dan mengingatkan kita semua untuk tidak pernah menunda membalas cinta orang tua. Karena waktu tidak pernah menunggu.(jhn/yn)

Stasiun TV Porak-poranda, Druze Memberontak, Israel Menghantam! Suriah dalam Pusaran Krisis Baru”

EtIndonesia. Ketegangan di Timur Tengah kembali membara setelah rangkaian peristiwa dramatis mengguncang Suriah dan Israel. Dalam perkembangan terbaru yang mengejutkan dunia internasional, pemimpin agama Druze di Suriah, Syaikh Hikmat al‑Hijri, ditemukan tewas akibat aksi pembunuhan yang hingga kini pelakunya masih misterius. Kejadian ini memicu gelombang kekerasan baru di Provinsi Sweida, wilayah di selatan Suriah yang didominasi oleh komunitas Druze.

Tidak lama berselang, militer Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke jantung pertahanan Suriah di ibu kota Damaskus, menghantam langsung gedung Kementerian Pertahanan dan sedikitnya 160 target pemerintah di wilayah selatan. Video amatir yang beredar di media sosial memperlihatkan detik-detik saat rudal-rudal Israel mengenai markas militer Suriah, disusul ledakan dahsyat dan kepulan asap tebal yang membumbung tinggi dari kompleks Kementerian Pertahanan. Serangan ini juga menyebabkan kepanikan luar biasa di stasiun siaran berita nasional Suriah, bahkan memaksa para presenter dievakuasi secara mendadak demi alasan keamanan.

Kerusuhan Sektarian Mematikan

Sementara itu, Provinsi Sweida dilanda kerusuhan sektarian parah sejak kematian Syaikh Hikmat al‑Hijri. Lebih dari 300 orang dilaporkan tewas dalam bentrokan yang terjadi antara kelompok Druze dengan aparat Pemerintah Suriah serta kmilisi Badui pro-pemerinah. Suasana di kota-kota utama di Sweida pun sangat mencekam—bendera Israel bahkan dikibarkan secara terbuka oleh sebagian warga Druze sebagai bentuk protes dan simbol perlawanan terhadap pemerintahan yang baru. Fenomena langka ini menandakan perubahan sikap politik komunitas Druze yang selama ini cenderung menjaga jarak dari Israel.

Pernyataan Tegas Israel dan Suriah

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam konferensi persnya menegaskan bahwa tindakan militer Israel adalah upaya untuk melindungi “saudara-saudara Druze” yang menurutnya telah menjadi korban kekejaman Pemerintah Suriah. Netanyahu menyebut operasi militer ini sekaligus sebagai langkah tegas memberantas geng-geng bersenjata yang diduga berafiliasi dengan pemerintah Suriah di wilayah selatan.

Sebaliknya, Kementerian Luar Negeri Suriah secara resmi mengutuk keras aksi militer Israel, menyebutnya sebagai bentuk agresi brutal dan pengkhianatan terhadap kedaulatan Suriah. Pemerintah Suriah menuding Israel sengaja memperkeruh situasi demi kepentingan politik regional.

Respons Internasional dan Kekhawatiran Amerika Serikat

Amerika Serikat melalui pernyataan resmi Departemen Luar Negeri mengaku sangat prihatin terhadap meningkatnya kekerasan di selatan Suriah. Menteri Luar Negeri AS, Rubio, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi intensif dengan berbagai negara terkait, dan optimis situasi akan mereda dalam waktu dekat. 

“Kami telah mencapai kesepakatan bersama untuk segera mengambil langkah-langkah deeskalasi dan mendorong proses penyelesaian damai atas krisis Suriah,” ujar Rubio di Washington DC.

Di sisi lain, sejumlah pengamat politik menilai Israel sebenarnya tidak menginginkan konflik berkepanjangan di wilayah Suriah. Namun, tekanan politik domestik dan kebutuhan untuk menunjukkan solidaritas terhadap komunitas Druze telah mendorong Israel mengambil tindakan militer yang sangat berani.

Kesimpulan

Rangkaian peristiwa ini menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas di kawasan Timur Tengah. Pembunuhan terhadap tokoh agama, aksi militer lintas batas, serta kerusuhan sektarian yang menelan ratusan korban jiwa, semakin memperumit upaya perdamaian yang sudah rapuh. Dunia internasional kini menyoroti setiap langkah yang diambil oleh para aktor utama, sebab satu kesalahan saja bisa memicu eskalasi konflik yang jauh lebih besar.

Cerita Pendek Mengharukan: Pemungut Barang Bekas

EtIndonesia. Ibunya Lin Hai sudah meninggal sejak dia masih kecil. Sejak itu, hanya ayahnya yang membesarkannya seorang diri hingga dewasa. Ayahnya adalah seorang pemungut barang bekas. Musim berganti dari semi ke panas, gugur ke dingin, dan begitu terus, suara lantangnya memanggil “Pemungut barang bekas, ooo!” senantiasa mengiringi perjalanan hidup Lin Hai dari kecil sampai besar.

Waktu berlalu, Lin Hai pun tumbuh dewasa, lulus ujian masuk perguruan tinggi, kemudian bekerja. Sementara itu, sang ayah semakin menua dari hari ke hari. Tubuhnya membungkuk seperti udang, tampak rapuh, seolah tertiup angin saja bisa jatuh. Tapi dia tetap memungut barang bekas. Lin Hai sudah berulang kali membujuk agar ayahnya beristirahat, namun ayahnya bersikeras tetap bekerja. Dia ingin meringankan beban anaknya meski hanya sedikit, bahkan berusaha membantu menabungkan uang untuk membeli rumah Lin Hai.

Sekejap kemudian, Lin Hai pun menikah dan membangun keluarga kecilnya. Hidupnya sudah mulai stabil. Dia pun tak ingin lagi membiarkan sang ayah menderita, dan berencana membawanya tinggal di kota agar bisa menikmati hidup. Namun siapa sangka, tepat saat itu ayahnya tiba-tiba jatuh. Dokter mengatakan dia meninggal karena serangan jantung mendadak yang disebabkan oleh kelelahan kronis selama bertahun-tahun.

Kepala Lin Hai terasa kosong, hatinya penuh dengan penyesalan dan kebencian. Tapi dia tidak membenci orang lain—dia hanya membenci dirinya sendiri: Mengapa aku tidak memaksa ayah berhenti memungut barang bekas? Kenapa aku tidak lebih cepat membawanya ke kota untuk menikmati hidup? Mengapa? Kenapa?

Di kampung halaman, ayah Lin Hai terbaring diam di atas selembar pintu kayu yang dijadikan usungan. Hingga detik itu, tubuhnya yang membungkuk seperti busur belum juga bisa diluruskan. Lin Hai memandanginya dalam diam. Dia menatap lama tanpa berkata apa pun, mencoba mengukir jelas wajah ayahnya yang terakhir kali itu ke dalam benaknya.

Saat itulah, paman tua yang memimpin upacara pemakaman mengingatkan: “Hai Zi, sudah waktunya jenazah ayahmu dimasukkan ke dalam peti. Sesuai adat di kampung, sebagai anak yang berbakti, kamu harus menangis keras dulu.”

Lin Hai membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Semua orang menunggu, berharap. Tapi Lin Hai tak bersuara. Bahkan sepatah pun tidak.

Pamannya mendorong lagi, orang-orang pun mulai menyemangati. Salah satu bibi bahkan maju, meneteskan air mata sambil membujuk: “Hai Zi, ayahmu itu seumur hidup nyaris menduda. Di dunia ini tak ada yang lebih menderita darinya…”

Lin Hai teringat semua kesusahan yang dialami ayahnya. Dadanya terasa bergemuruh, gelisah luar biasa. Tapi tetap saja, dia tidak bisa menangis. Mungkin, semakin dalam rasa sedih, justru air mata makin sulit keluar.

Paman yang memimpin upacara pun mulai kesal. Wajahnya berubah gelap, dan dengan nada keras dia berkata: “Nak, kamu harus menangis hari ini, tak bisa tidak. Kalau tidak, nanti arwah ayahmu akan menderita di alam baka. Kasihan dia, semasa hidup belum pernah menikmati kasih sayang anak, masa setelah mati pun harus menderita juga?”

Semua orang langsung mengerti maksud paman itu—dia tengah menegur Lin Hai yang tak segera menunjukkan bakti pada orangtuanya.

Seseorang menenangkan: “Paman, waktunya sudah hampir tiba. Sepertinya Hai Zi memang tak sanggup menangis. Bagaimana kalau kita langsung mulai proses penguburan saja?”

Orang lain juga ikut membujuk. Akhirnya, sang paman pun luluh. Dia menarik napas panjang, lalu mengangkat tangan dan berseru: “Baiklah, mulai pemakaman!”

Begitu kata itu keluar, musik duka langsung menggema dari kelompok pengiring upacara. Beberapa orang segera maju, dan dengan hati-hati mengangkat tubuh ayah Lin Hai, lalu meletakkannya ke dalam peti mati.

Pamannya berkata: “Hai Zi, cepat lihat terakhir kalinya. Setelah tutup peti ini ditutup, kamu tak akan bisa melihatnya lagi…”

Hati Lin Hai terasa seolah disayat. Dia memegangi pinggiran peti mati erat-erat dan terus menatap wajah ayahnya. Dada Lin Hai naik turun dengan cepat. Semua orang mengira, akhirnya dia akan menangis.

Tapi tiba-tiba, Lin Hai malah berkata: “Paman… bolehkah aku berteriak satu kali saja?”

Pamannya tertegun, begitu juga semua orang yang hadir. Dengan ragu-ragu, sang paman menjawab: “Kau mau berteriak? Berteriak apa? Ya sudah, teriak saja…”

Lin Hai menatap wajah ayahnya, bibirnya bergetar hebat. Dan tiba-tiba, dengan suara menggelegar, dia berteriak sekuat tenaga:  “PEMUNGUT BARANG BEKAAAAS…!”

Nada suara, intonasi, bahkan seretan panjang di akhir kata, persis seperti suara ayahnya dulu.

Semua orang tercengang. Dalam sekejap, emosi Lin Hai pun meledak seperti banjir bandang yang menerjang bendungan. Dia meraung sejadi-jadinya, memukul tanah dan menangis dengan suara parau dan memilukan…

Cerita ini menjadi potret nyata tentang kasih sayang seorang ayah, pengorbanan tanpa pamrih, dan penyesalan seorang anak yang datang terlambat. Terkadang, air mata bukan satu-satunya bentuk kesedihan. Tapi satu kalimat sederhana yang menyimpan seluruh kenangan—bisa menjadi jeritan paling memilukan yang pernah terdengar. (jhn/yn)

Amerika Serikat Menyerukan kepada Partai Komunis Tiongkok untuk Mengakhiri Kampanye Pemusnahan Falun Gong

Penganiayaan terhadap kelompok kepercayaan ini memasuki tahun ke-26 saat rezim Tiongkok memperluas penindasan lintas negara 

EtIndonesia. Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat menyerukan kepada Beijing untuk mengakhiri kampanye pemusnahan terhadap Falun Gong menjelang  20 Juli, hari yang menandai dimulainya penindasan pada tahun 1999.

 “Selama lebih dari 26 tahun, Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah melancarkan kampanye penindasan terhadap praktisi Falun Gong dan keluarga mereka,” kata seorang juru bicara Kemenlu AS kepada The Epoch Times.

 “Kami kembali menyerukan kepada PKT untuk mengakhiri kampanye pemusnahan Falun Gong.”

Diperkirakan antara 70 juta hingga 100 juta orang mempraktikkan Falun Gong di Tiongkok pada akhir 1990-an, dengan banyak dari mereka yang meyakini bahwa nilai-nilai dan latihan meditasi dalam ajaran tersebut membantu mereka menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih sehat.

Awalnya, rezim menyambut baik praktik tersebut, namun kemudian melihat popularitasnya sebagai ancaman terhadap kekuasaan. Pada 20 Juli 1999, PKT meluncurkan persekusi secara nasional, menggunakan kerja paksa, penyiksaan, dan berbagai bentuk kekerasan lainnya untuk memaksa para praktisi meninggalkan keyakinan mereka.

Hingga saat ini, Minghui.org — pusat informasi tentang penindasan Falun Gong —  memverifikasi ribuan kematian berdasarkan informasi langsung. Jumlah korban sebenarnya sulit diverifikasi dan kemungkinan jauh lebih tinggi mengingat kurangnya transparansi di Tiongkok.

Selain itu, sejumlah orang yang tidak diketahui jumlah pastinya diyakini telah dibunuh demi diambil organnya untuk mendukung industri transplantasi organ yang sangat menguntungkan milik rezim, menurut penyelidikan independen.

Sebuah pengadilan independen di London pada tahun 2019 menemukan bahwa para praktisi Falun Gong adalah sumber utama organ untuk transplantasi.

Dewan Perwakilan Rakyat AS telah mengesahkan dua rancangan undang-undang tahun ini untuk mendorong diakhirinya pelanggaran tersebut: Undang-Undang Perlindungan Falun Gong dan Undang-Undang Penghentian Pengambilan Organ Secara Paksa. Lima negara bagian AS telah mengesahkan undang-undang untuk mencegah warga mereka melakukan transplantasi organ di Tiongkok.

 Kedua RUU federal tersebut kini menunggu tindakan lebih lanjut di Senat.

“RUU ini perlu segera diajukan untuk pemungutan suara,” kata Senator AS, Rick Scott  kepada media saudara The Epoch Times, NTD.

 Ia mengatakan bahwa praktik pengambilan organ secara paksa ini adalah sesuatu yang “menjijikkan.”

Scott menyoroti kematian misterius seorang mahasiswa kedokteran asal Tiongkok yang telah mengumpulkan banyak dokumen untuk mendukung tuduhan bahwa praktik pengambilan organ terjadi di rumah sakit tempat ia bekerja.

“Kita harus memberi tahu pemerintah Tiongkok bahwa kita tidak akan diam terhadap ini,” ujar Scott.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat saat ini, Marco Rubio, yang vokal menentang pelanggaran rezim terhadap Falun Gong, adalah pengusul utama RUU Perlindungan Falun Gong saat masih menjadi senator di Kongres sebelumnya.

 “Tiongkok Komunis telah leluasa melakukan kampanye kejahatan yang meluas,” kata Rubio pada 2024. “AS tidak akan mentolerir praktik-praktik seperti ini.”

Pada Mei, Rubio mengatakan Departemen Luar Negeri akan membantu “dengan segala cara yang bisa kami lakukan” untuk mendorong pengesahan undang-undang anti-pengambilan organ paksa itu dalam rapat dengar pendapat Komite Urusan Luar Negeri DPR.

Anggota DPR AS dari Partai Republik,  Brian Babin  menggambarkan pengambilan organ paksa sebagai sesuatu yang “di luar batas nalar manusia.”

 “Ini lebih buruk dari apa pun yang pernah saya dengar,” katanya kepada The Epoch Times pada 15 Juli.

 “Menahan orang di penjara—para pembangkang, tahanan hati nurani, tahanan politik—dan rezim ini memiliki data golongan darah serta jaringan tubuh mereka, lalu ketika seseorang memesan organ, mereka datang dan memaksa orang itu menyerahkan organnya, hingga kehilangan nyawa.

Ini di luar apa pun yang bisa saya bayangkan. Dan ini adalah bisnis bernilai miliaran dolar.”


Penindasan di Tanah Amerika

Penindasan terhadap praktisi Falun Gong di luar negeri, terutama di Amerika Serikat, meningkat dalam beberapa waktu terakhir, didorong oleh instruksi dari pemimpin rezim Tiongkok Xi Jinping pada tahun 2022, menurut para pembocor informasi.

Strategi baru ini dipimpin oleh Kementerian Keamanan Negara Tiongkok—lembaga intelijen dan operasi subversif luar negeri rezim—dengan taktik utama berupa penyebaran disinformasi tentang Falun Gong melalui media sosial dan outlet media Barat.

Taktik lainnya termasuk menggunakan sistem hukum sebagai senjata untuk melawan Falun Gong dan entitas terkait di AS serta mendorong pemerintah AS agar melakukan penyelidikan terhadap mereka.

Dalam salah satu kasus yang mencuat, dua agen Tiongkok dijatuhi hukuman karena mencoba menyuap pejabat IRS atau lembaga pajak AS, agar mencabut status bebas pajak dari Shen Yun Performing Arts, sebuah kelompok seni tari dan musik klasik Tiongkok yang didirikan oleh para praktisi Falun Gong untuk menampilkan “Tiongkok sebelum komunisme.”

Plot tersebut berhasil digagalkan oleh agen FBI yang menyamar.

Komunitas Falun Gong secara umum juga telah menjadi target lebih dari 140 ancaman sejak 2024, termasuk ancaman kekerasan fisik, pengeboman, dan bentuk teror lainnya yang bertujuan mengganggu kegiatan yang mengungkap persekusi oleh rezim.

Awal tahun ini, sebuah ancaman bom memaksa evakuasi John F. Kennedy Center for the Performing Arts di Washington pada hari pembukaan pertunjukan Shen Yun, yang kemudian mendapat kecaman dari Gedung Putih.

Anggota DPR AS dari Partai Republik,  Michael McCaul, mantan ketua Komite Urusan Luar Negeri DPR, mengatakan bahwa agresi seperti itu adalah bagian dari sifat alami rezim.

“Mereka membenci Falun Gong. Mereka membenci orang-orang yang berbicara tentang seperti apa Tiongkok sebelum pemerintahan komunis,” katanya kepada NTD.

Upaya rezim untuk mengekspor penindasan membuat pentingnya pemahaman di dunia Barat tentang isu Falun Gong semakin besar, kata Levi Browde, direktur eksekutif Falun Dafa Information Center.

 “Isu Falun Gong bukan lagi semata-mata soal menghentikan pelanggaran HAM berat di Tiongkok. Ini juga menjadi ujian bagi bagaimana negara-negara demokrasi Barat dapat mempertahankan kedaulatan dan keamanan nasional mereka dalam menghadapi penindasan transnasional PKT yang semakin gencar dan canggih,” ujarnya dalam sebuah pernyataan.

Menjelang aksi Falun Gong di Washington pada 17 Juli, Anggota DPR AS dari Partai Demokrat, Johnny Olszewski  menyampaikan terima kasih kepada siapa pun yang “meluangkan waktu untuk menyuarakan dan dengan damai menentang” pelanggaran yang dilakukan rezim tersebut.

 “Itu adalah hal yang benar untuk dilakukan dari sisi hak asasi manusia,” katanya kepada NTD, “dan juga demi kepentingan jangka panjang Amerika.”

Para legislator semakin melihat perdagangan sebagai senjata potensial untuk menanggapi pelanggaran HAM oleh Beijing.

 “Segalanya seharusnya berlandaskan pada hak asasi manusia,” kata Senator AS, Tommy Tuberville kepada NTD.

Senada dengan Anggota DPR AS, Chris Smith, ia menyebut perdagangan sebagai “senjata terbesar yang kita miliki terhadap ekonomi ekspor seperti Tiongkok.”

 “Jika, karena alasan hak asasi manusia, ekspor Tiongkok tidak menemukan pasar di Amerika Serikat, maka rezim akan dipaksa untuk berubah,” kata Smith kepada The Epoch Times. (asr)

Wanita Argentina Ciptakan Helm Es, Berhasil Cegah Rambut Rontok Saat Kemoterapi

EtIndonesia. Seorang wanita asal Argentina yang pernah menderita kanker payudara berhasil membalikkan nasib yang biasanya dialami pasien kanker saat menjalani kemoterapi—yaitu rambut rontok. Dia menciptakan sebuah helm berisi kantong es yang menjaga kulit kepala tetap dingin, sehingga mencegah obat kemoterapi masuk ke folikel rambut. Hasilnya: rambut panjangnya tetap utuh.

Kini, helm penemuan ini telah membantu lebih dari 60.000 pasien kanker di seluruh dunia.

Dari Kulkas ke Harapan

Di rumahnya, Esther Estrada, seorang desainer grafis asal Argentina, membuka kulkas dan mengambil kantong-kantong es. Dia bukan sedang mengompres luka—melainkan sedang merakit helm es rakitannya sendiri.

Helm ini dirancang khusus agar kulit kepala tetap dingin, yang bertujuan mencegah kerontokan rambut akibat kemoterapi.

Berjuang Melawan Kanker, Menyelamatkan Rambut

Tahun 2009, pada usia 41 tahun, Estrada didiagnosis menderita kanker payudara. Dia bertekad kuat untuk mengalahkan penyakit tersebut—tanpa harus kehilangan rambut panjang pirangnya.

Maka, lahirlah helm yang dia sebut sebagai “helm anti-rontok”.

“Setelah saya sembuh dari kanker, saya sangat gembira,” tutur Estrada. “Saya bilang ke dokter: saya tidak akan menyimpan helm ini hanya untuk diri sendiri. Saya ingin semua orang punya kesempatan untuk mempertahankan rambut mereka—seperti saya.”

Dari Ide Pribadi Menjadi Harapan Global

Lebih dari 10 tahun berlalu, helm buatan Estrada kini telah menjadi alat bantu nyata bagi lebih dari 60.000 pasien kanker di berbagai negara: Argentina, Chili, Meksiko, Spanyol, hingga Amerika Serikat.

Seorang pasien kanker, Vanina Pelliccia, menjelaskan: “(Memakai helmnya) sangat nyaman. Sama sekali tidak merepotkan. Rasanya memang dingin di awal, saat pertama dipakai. Tapi bagi saya, rasa dinginnya masih bisa ditoleransi. Bukan dingin yang menyiksa atau membuatmu tidak sanggup menghadapinya.”

Dapat Persetujuan Resmi dan Diadopsi Rumah Sakit

Tahun 2017, helm ciptaan Estrada mendapatkan persetujuan resmi dari Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat. Sejak saat itu, semakin banyak rumah sakit besar di Argentina mulai menggunakan metode ini dalam prosedur kemoterapi.

Dr. Gonzalo Recondo, dokter spesialis onkologi, menjelaskan prinsip kerjanya: “Efek helm ini didasarkan pada suhu rendah yang menyebabkan pembuluh darah menyempit. Dengan menyempitnya pembuluh darah, obat kemoterapi tidak bisa masuk ke folikel rambut, sehingga rambut tidak rontok.”

Helm Es Harus Digunakan Sejak Sesi Kemoterapi Pertama

Agar efektif, helm ini harus digunakan sejak sesi kemoterapi pertama, dengan suhu yang dijaga tetap pada -20°C dan diganti setiap 30 menit sekali.

Pasien kanker lain, Mariangeles Fernandez, menambahkan: “Kita harus memasukkan helm ini ke dalam kulkas dua hari sebelumnya. Saya tahu menyatukan kantong-kantong es ini butuh usaha. Tapi semua itu sangat layak dilakukan, karena helm ini membuatmu melawan penyakit dengan cara yang berbeda.”

Dari Pasien Menjadi Pembicara dan Penulis Inspiratif

Kini, Esther Estrada telah bertransformasi menjadi seorang pembicara motivasi. Dia juga sedang menulis buku untuk membagikan kisah hidup dan semangatnya melawan kanker, sekaligus untuk menginspirasi sesama pejuang kanker di seluruh dunia.

Setiap hari, dia meluangkan waktu beberapa jam untuk menjawab pesan-pesan dari pasien kanker yang bertanya tentang penggunaan helm ciptaannya.

Kesimpulan: Inovasi yang Lahir dari Harapan

Helm dingin ini bukan sekadar alat medis, tapi lambang harapan dan kekuatan pribadi. Dari keputusasaan menghadapi kanker, Esther Estrada tidak hanya menyelamatkan rambutnya sendiri, tapi juga menyentuh puluhan ribu nyawa di berbagai belahan dunia.

Dan semuanya, berawal dari sebuah lemari es dan keberanian seorang perempuan.(jhn/yn)

Gempa Magnitudo 7,3 Guncang Lepas Pantai Alaska; Peringatan Tsunami Dikeluarkan

Gempa terjadi sekitar 80 kilometer di selatan Sand Point, di Semenanjung Alaska

EtIndonesia. Gempa bumi bermagnitudo 7,3 mengguncang lepas pantai selatan Alaska pada Rabu (16/7/2025) sore, mendorong pejabat federal untuk mengeluarkan peringatan tsunami.

Peta dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menunjukkan bahwa gempa terjadi di Teluk Alaska, hanya beberapa mil di selatan wilayah terpencil di Semenanjung Alaska, sekitar 54 mil (±87 km) di selatan kota Sand Point, Alaska.

Sand Point berada di Pulau Popof, tepat di lepas pantai Semenanjung Alaska, yang juga dikenal sebagai Semenanjung Aleutian. Wilayah ini berjarak sekitar 600 mil (±965 km) di selatan-barat daya Anchorage, kota terbesar di negara bagian tersebut.

Pusat Peringatan Tsunami Nasional AS mengeluarkan peringatan setelah gempa terjadi. Wilayah yang termasuk dalam peringatan mencakup sebagian besar Semenanjung Alaska, bagian dari Kepulauan Aleutian, dan wilayah lain di sekitar Teluk Alaska.

Secara spesifik, Pusat Tsunami menyatakan bahwa peringatan tersebut berlaku dari sekitar 40 mil (±64 km) barat daya Homer hingga Unimak Pass, dengan jarak total sekitar 700 mil (±1.125 km). Salah satu komunitas terbesar di wilayah tersebut adalah Kodiak, dengan jumlah penduduk sekitar 5.200 jiwa.

Departemen Kepolisian Homer mengunggah peringatan di akun Facebook-nya, menyatakan bahwa warga dari wilayah Kennedy Entrance (jalur air antara Pulau Kodiak dan Semenanjung Kenai) hingga Unimak Pass harus segera mengungsi ke daerah yang lebih tinggi.

Pejabat di Anchorage mengumumkan melalui media sosial mereka bahwa tidak ada bahaya langsung yang mengancam kota itu, baik dari gempa maupun tsunami.

Di Unalaska, sebuah komunitas nelayan dengan sekitar 4.100 penduduk, pejabat daerah juga meminta warga untuk berpindah setidaknya  ±15 meter di atas permukaan laut, atau ±1,6 km  ke arah darat.

Sementara di King Cove, kota dengan sekitar 870 penduduk di sisi selatan Semenanjung Alaska, pejabat daerah mengirimkan peringatan agar warga di wilayah pesisir segera mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

Divisi Manajemen Darurat Negara Bagian Washington mengatakan di platform X (dahulu Twitter) bahwa mereka masih mengevaluasi apa arti peringatan tsunami ini bagi wilayah pesisir negara bagian Washington, dan bahwa mereka terus berkoordinasi dengan Pusat Peringatan Tsunami Nasional.

Menurut laporan USGS, gempa terjadi pada sekitar pukul 12:37 siang waktu setempat, dengan kedalaman sekitar ±19 km. Data USGS menunjukkan bahwa warga di sekitar Semenanjung Alaska melaporkan merasakan gempa tersebut.

Awalnya, gempa dilaporkan bermagnitudo 7,2, tetapi kemudian diperbarui menjadi 7,3 oleh USGS.

Menurut situs resmi Michigan Technological University, gempa dengan magnitudo 7,0 hingga 7,9 tergolong sebagai “gempa besar”. Sekitar 10 hingga 15 gempa besar seperti ini terjadi setiap tahun.

Sementara itu, “gempa dahsyat” adalah gempa yang lebih jarang terjadi, dengan magnitudo 8,0 atau lebih, yang menurut universitas tersebut, rata-rata terjadi satu kali setiap satu hingga dua tahun.

Seluruh Pantai Pasifik Amerika Utara, termasuk Alaska dan Pantai Barat AS bagian kontinental, berada di atas “Cincin Api”, yaitu sabuk tektonik yang membentang di sebagian besar Samudra Pasifik.

Menurut USGS, wilayah ini menampung sebagian besar gunung berapi di dunia dan mencatat 90 persen dari seluruh gempa bumi global.

Alaska sendiri memiliki sejarah panjang terkait gempa bumi dahsyat.

Sebuah gempa bermagnitudo 7,1 terjadi di dekat Anchorage pada November 2018, menyebabkan lebih dari 100 orang terluka dan kerusakan puluhan juta dolar.

Secara khusus, sebuah gempa dengan magnitudo 9,2–9,3 mengguncang dekat Anchorage pada tahun 1964, menewaskan sekitar 130 orang. Gempa ini dianggap sebagai gempa terbesar kedua yang pernah tercatat di dunia, dan yang paling kuat dalam sejarah Amerika Utara.

Pada Desember 2024, terjadi serangkaian gempa dengan kekuatan sedang hingga kuat di wilayah Kepulauan Aleutian bagian barat Alaska dan wilayah lepas pantainya, yang oleh para ilmuwan disebut sebagai “swarm” atau kawanan gempa.

Menurut Pusat Gempa Alaska, sebanyak sembilan gempa dengan magnitudo minimal 5,0 tercatat di atau dekat kepulauan tersebut dan di gugusan bawah laut di bagian selatannya pada l 8 Desember. (asr)

Laporan ini turut disumbangkan oleh Associated Press

Sumber : Theepochtimes.com

Kebakaran Hutan atau Aktivitas UFO? Asap Hitam Pekat di Dekat Area 51 Memicu Teori Konspirasi

EtIndonesia. Kebakaran hutan yang dipicu petir di dekat pangkalan militer Area 51 yang sangat rahasia di Nevada telah memicu kembali spekulasi publik dan teori konspirasi di dunia maya.
Kebakaran ini telah dipastikan sebagai bagian dari Kebakaran Gothic, yang telah berkobar di Nevada utara sejak 4 Juli. Menurut para pejabat, kebakaran tersebut disebabkan oleh petir, dan merupakan salah satu dari banyak kebakaran yang sedang terjadi di negara bagian tersebut.

Meskipun ada penjelasan resmi, teori konspirasi terus beredar. Pengguna media sosial berspekulasi bahwa kebakaran tersebut mungkin menyembunyikan “pesawat eksperimental yang jatuh” atau bahwa itu adalah “bukti yang dihancurkan.”

Seorang pengguna merujuk tren viral tahun 2019 dengan “serbu Area 51,” yang menyiratkan, “mungkin seseorang akhirnya melakukannya.”

Kebakaran tersebut berkobar sekitar 24 kilometer dari Area 51, dekat Situs Uji Nevada, tempat AS pernah melakukan uji coba nuklir di atas tanah. Wilayah ini berjarak sekitar 105 kilometer di barat laut Las Vegas.

Karena Departemen Pertahanan AS memiliki lahan di mana Area 51 dan sekitarnya berada, respons kebakaran berada di bawah yurisdiksi mereka.

Kebakaran Gothic kini telah menyebar hingga 366.000 hektar. Saat ini, kebakaran tersebut belum terkendali sepenuhnya, dan belum ada tenggat waktu untuk pengendalian penuh. Suhu tinggi, kelembapan rendah, dan banyaknya kayu kering serta rumput memicu kebakaran. Namun, belum ada perintah evakuasi dan tidak ada bangunan yang terancam, demikian konfirmasi para pejabat.

Apa itu Area 51?

Area 51 adalah fasilitas Angkatan Udara AS yang terpencil dan terletak di Nevada Test and Training Range. Baru diakui secara resmi oleh Pemerintah AS pada tahun 2013, lokasi ini telah menjadi pusat spekulasi selama beberapa dekade karena sifat operasinya yang sangat rahasia.
Awalnya dikembangkan selama Perang Dingin, Area 51 digunakan untuk menguji pesawat militer mutakhir, termasuk pesawat mata-mata U-2, SR-71 Blackbird, dan pesawat tempur siluman F-117 Nighthawk. Pesawat-pesawat ini seringkali terbang pada ketinggian dan kecepatan yang jauh melampaui apa yang diketahui publik pada saat itu, sehingga menyebabkan warga sipil melaporkan penampakan benda terbang tak dikenal (UFO) di langit.

Kerahasiaannya, wilayah udara yang terbatas, dan kurangnya akses publik telah memicu berbagai teori yang menyatakan bahwa pangkalan tersebut telah menangkap pesawat luar angkasa alien, kehidupan ekstraterestrial, atau teknologi canggih yang direkayasa ulang dari sumber alien.

Pada tahun 2019, pangkalan tersebut menarik perhatian viral ketika lebih dari 500.000 orang mengonfirmasi kehadiran mereka di acara Facebook bertajuk “Storm Area 51: They Can’t Stop All of Us.” Meskipun dimaksudkan sebagai lelucon, acara tersebut menarik ribuan orang yang penasaran untuk datang ke kota-kota terdekat, sehingga memaksa pihak berwenang untuk meningkatkan keamanan di sekitar pangkalan.

Meskipun tidak ada bukti konkret aktivitas alien yang pernah ditunjukkan, Area 51 tetap menjadi simbol kerahasiaan pemerintah—dan bagi banyak orang, menjadi titik fokus untuk segala hal yang tidak diketahui publik tentang UFO dan fenomena udara yang tidak dapat dijelaskan. (yn)

Yang Melelahkan Seseorang Bukanlah Gunung di Kejauhan, Tapi Butiran Pasir di Dalam Sepatu

EtIndonesia. Saya pernah menonton sebuah cerita dalam sebuah seminar motivasi.

01. Cerita dari Sebuah Gelas Air

Seorang profesor dari Universitas Harvard mengangkat segelas air dan bertanya kepada para peserta: “Coba tebak, seberapa berat gelas ini?”

Berbagai jawaban bermunculan: “50 gram”, “100 gram”, “125 gram”…

Profesor tersenyum dan berkata: “Saya juga tidak tahu berapa berat pastinya. Tapi satu hal yang pasti: mengangkatnya selama beberapa detik, tangan saya tidak akan merasa lelah.”

Kemudian dia melanjutkan: “Pertanyaannya sekarang, kalau saya memegangnya seperti ini selama beberapa menit, apa yang akan terjadi?”

“Sepertinya tidak akan terjadi apa-apa,” jawab para peserta.

“Lalu bagaimana jika saya memegangnya selama satu jam?”

“Saya rasa lengan Anda akan mulai pegal,” jawab salah satu peserta.

“Tepat sekali,” kata sang profesor. “Sekarang, kalau saya terus memegangnya sepanjang hari, apa yang akan terjadi?”

“Lengan Anda akan mati rasa, ototnya bisa saja kejang, bahkan mungkin Anda harus ke rumah sakit,” jawab peserta lain sambil tertawa.

Profesor lalu bertanya lagi: “Selama saya memegang gelas ini, apakah berat gelasnya berubah?”

“Tidak.”

“Lalu mengapa lengan saya bisa terasa pegal? Kenapa otot bisa kejang?”

Setelah diam sejenak, sang profesor menyimpulkan: “Jika saya tidak ingin lengan saya pegal dan otot saya kejang, apa yang harus saya lakukan?”

Seorang peserta menjawab:”Gampang, letakkan saja gelas itu.”

“Tepat sekali,” kata sang profesor.  “Begitulah kehidupan. Terkadang rasa sakit, kekhawatiran, dan tekanan hidup kita, tak ubahnya seperti gelas ini. Jika kamu memikirkannya sebentar, tidak masalah. Tapi jika kamu terus memikirkannya sepanjang waktu, kamu akan kelelahan. Kalau kamu tidak tahu cara meletakkannya, maka itu bisa menghancurkanmu perlahan-lahan.”

02. Bukan Masalahnya, Tapi Cara Kita Menyikapinya

Entah kamu pernah menjumpai orang seperti ini atau tidak — orang-orang yang selalu murung, merasa seperti dunia menindasnya setiap hari.

Padahal, kalau ditelusuri lebih dalam, hal-hal yang membuat mereka gelisah, sakit hati, atau frustrasi bukanlah tragedi besar. Justru, sering kali hanyalah perkara sepele — hal-hal kecil yang tak seharusnya terlalu dibesar-besarkan.

Ada satu ungkapan bijak:“Dalam hidup ini, selain kelahiran dan kematian, tak ada yang benar-benar besar.”

Banyak orang mengerti makna kalimat ini, tapi tak banyak yang benar-benar bisa menjalankannya.

Kenapa kita sering terjebak dalam satu orang, satu masalah, satu situasi? Karena kita masih kekurangan satu hal penting: kebijaksanaan.

Setiap orang dewasa, dalam hidupnya pasti akan menemui berbagai macam ketidaknyamanan – Dari hal besar seperti masalah kesehatan, pekerjaan anak, atau kondisi orangtua; hingga hal remeh seperti harga sayur, urusan dapur, dan tagihan bulanan.

Yang membuat seseorang runtuh bukanlah hasil buruk yang tak bisa dihindari, melainkan karena mereka tak bisa melepaskan diri dari emosi negatif yang terus dipelihara.

Orang yang optimis bukan berarti tak pernah mengalami kepahitan hidup. Tapi meskipun hidup sedang tidak berpihak, mereka tahu bagaimana bersikap:

  • Apa yang bisa ditanggung, mereka tanggung.
    –  Apa yang bisa ditoleransi, mereka sabar.
    – Yang tak bisa diubah, mereka lepaskan.
    – Dan bila masih ada celah, mereka akan terus berusaha.

Namun, cara berpikir seperti ini tidak bisa dimiliki dalam semalam. Dia tumbuh dari pengalaman panjang, dari membaca banyak buku, dari menjelajahi dunia, dan dari melihat berbagai karakter manusia.

Dari sana, seseorang akan perlahan tumbuh menjadi pribadi yang lebih bijak, lebih tenang, dan lebih utuh.

Seperti yang pernah dikatakan Voltaire: “Yang melelahkan bukanlah gunung di kejauhan, melainkan butiran pasir di dalam sepatu.”

Biasanya, orang yang bisa marah hanya karena kehilangan uang receh; yang bisa bad mood hanya karena salah turun satu stasiun;  yang merasa sial hanya karena lidahnya tergigit saat makan —  bukan benar-benar karena hal itu penting, tapi karena mereka terlalu emosional, berlalu mudah memperumit masalah kecil.

03. Belajar Melepaskan Adalah Kunci Kedewasaan

Dalam hidup, kita pasti akan dihadapkan pada banyak hal yang tidak sesuai dengan keinginan.

Namun justru pengalaman-pengalaman itulah yang mengajarkan kita bagaimana menjadi lebih bijak, lebih matang, dan lebih kuat.

Hal-hal yang telah berlalu tidak bisa diubah, masa depan belum bisa dipastikan, yang bisa kita lakukan hanyalah — hidup di saat ini.

Jika kamu benar-benar memahami ini, kamu akan menyadari bahwa:

  • Tidak ada orang yang tak bisa dilupakan,
    –  Tidak ada masalah yang tak bisa dilewati.
    – Jika sudah berlalu, maka biarkan berlalu.
    – Jika sudah salah, maka akui dan belajar.
    – Peganglah saat ini, karena kini adalah kekekalan.

Belajar melepaskan berarti kita tidak terus menerus menyesali masa lalu, dan juga tidak ketakutan akan masa depan.

Belajar melepaskan berarti memaafkan orang lain, sekaligus berdamai dengan diri sendiri.

Belajar melepaskan juga berarti berani menerima kenyataan, dan mulai lagi dari awal — dengan keberanian baru.

Terkadang, saat kita memilih untuk tidak mempermasalahkan sesuatu, bukan karena kita tidak peduli, tapi karena kita tahu: jalan di depan masih panjang.

Kalau kita terlalu lama terjebak di rawa-rawa perasaan, lama-lama kita akan tenggelam dan tidak bisa keluar.

Hidup ini terlalu berharga untuk dihabiskan dalam perang batin dengan diri sendiri. Kita hidup untuk menemui orang-orang yang layak dicintai, mengerjakan hal-hal yang layak diperjuangkan, menyaksikan pemandangan yang indah — bukan untuk terjebak dalam semak berduri dan berkelahi dengan bayangan kita sendiri.

Hidup ini, jangan terlalu banyak menuntut. Jika hati damai, pikiran tenang, tahu bersyukur, dan tahu kapan harus melepaskan—  Maka itu sudah cukup untuk bahagia. (jhn/yn)

Apa yang Terjadi di Sweida, Suriah yang Mayoritas Berpenduduk Druze?

EtIndonesia. Pemerintah Suriah mengerahkan pasukannya di Kota Sweida, Suriah yang mayoritas penduduknya Druze, dalam upaya otoritas Islam untuk memperluas kekuasaan mereka ke wilayah yang dikuasai kelompok bersenjata lokal.

Mengapa pihak berwenang mengambil langkah besar ini, dan apa yang mungkin terjadi selanjutnya?

Bagaimana Ini Bermula?

Bentrokan dimulai pada hari Minggu (12/7) antara faksi-faksi dari minoritas agama Druze dan suku Badui, yang beragama Islam Sunni, menewaskan lebih dari 100 orang.

Kedua belah pihak telah lama berseteru di Sweida.

Pasukan Pemerintah Suriah mengirimkan bala bantuan ke wilayah tersebut, di selatan negara itu, dengan alasan mereka ingin memulihkan keamanan.

Namun, menurut para saksi mata, kelompok bersenjata Druze dan Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, pasukan pemerintah dan kelompok sekutu termasuk Badui mengambil alih kendali pada hari Senin atas beberapa desa di dekat Sweida yang sebelumnya dikuasai oleh para pejuang Druze.

Pada hari Selasa, menyusul kontak antara otoritas Damaskus dan tokoh-tokoh penting dari Sweida, Kementerian Pertahanan Suriah mengumumkan gencatan senjata setelah pasukan pemerintah memasuki kota tersebut.

Sebelumnya, Sweida, yang berpenduduk sekitar 150.000 orang, dikuasai oleh berbagai faksi Druze.

Tiga pemimpin spiritual utama Druze Suriah, yang terkadang memiliki pandangan berbeda tentang isu-isu politik, pada hari Selasa menyerukan para pejuang lokal untuk meletakkan senjata mereka.

Namun, Hikmat al-Hijri, salah satu pemimpin, kemudian menuduh Damaskus gagal memenuhi komitmennya untuk memasuki Sweida secara damai dan menyerukan untuk “melawan kampanye brutal ini dengan segala cara yang tersedia”.

Penduduk Sweida yang ketakutan telah melaporkan berbagai pelanggaran sejak masuknya pasukan pemerintah dan sekutu mereka, termasuk eksekusi, penjarahan, dan pembakaran rumah.

Apa Masa Depan yang Menanti Faksi-faksi Druze?

Penguasa Islamis baru, yang merebut kekuasaan setelah menggulingkan penguasa lama Bashar al-Assad pada bulan Desember, menuntut pembubaran semua kelompok bersenjata dan integrasi mereka ke dalam pasukan Kementerian Pertahanan.

Selama perang saudara Suriah yang berlangsung selama 14 tahun, yang dimulai setelah penindasan brutal Assad terhadap protes damai pada tahun 2011, kaum Druze membentuk kelompok bersenjata mereka sendiri untuk melindungi wilayah inti mereka di Sweida dari pertempuran besar.

Pada bulan Januari, dua kelompok terbesar, gerakan Men of Dignity dan Brigade Gunung, menyatakan siap bergabung dengan tentara nasional yang baru.

“Negara telah menunda implementasi perjanjian ini,” kata juru bicara Men of Dignity, Bassem Fakhr, kepada AFP.

Selain Druze, suku Kurdi, yang menguasai wilayah luas di timur laut negara itu, memiliki sayap bersenjata yang kuat, Pasukan Demokratik Suriah (SDF), dan sedang bernegosiasi dengan Damaskus untuk integrasi mereka ke dalam angkatan bersenjata.

Sebelum perang, jumlah penganut Druze di Suriah sekitar 700.000 jiwa, atau tiga persen dari populasi.

Penganut Druze adalah penganut agama esoteris yang memisahkan diri dari Islam Syiah, dan sebagian besar ditemukan di Suriah, Lebanon, dan Israel.

Mengapa Israel Melakukan Intervensi?

Sejak jatuhnya Assad, Israel memperluas pendekatannya kepada Druze Suriah melalui tokoh-tokoh terkemuka Israel.

Israel mengirimkan paket-paket kemanusiaan dan mengizinkan delegasi tokoh agama untuk berziarah ke Israel, meskipun secara resmi Suriah sedang berperang.

Pada bulan Maret, Israel menyatakan niatnya untuk membela Druze setelah pertempuran kecil di pinggiran Kota Damaskus, tetapi pernyataan ini langsung ditolak oleh para tokoh Druze, yang menegaskan kembali komitmen mereka terhadap persatuan Suriah.

Israel telah mengebom beberapa posisi militer Suriah di Sweida sejak Senin.

“Kami tidak akan membiarkan Druze di Suriah dirugikan,” ujar Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, seraya menambahkan bahwa negaranya “tidak akan tinggal diam”.

Pada hari Selasa, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu bersama Katz mengatakan bahwa mereka “bertindak untuk mencegah rezim Suriah merugikan mereka dan untuk memastikan demiliterisasi wilayah yang berbatasan dengan Suriah”. (yn)

Seorang Mahasiswi Tiongkok di Malaysia Disayat di Tenggorokan oleh Pacarnya di Kampus, Ia Pernah Ditahan Sebelumnya

Pada 14 Juli 2025, terjadi insiden berdarah di kampus Subang Jaya Universitas Taylor, Malaysia. Seorang mahasiswa pria asal Tiongkok menyayat leher mahasiswi asal Tiongkok dengan pisau. Sebelumnya, pelaku diketahui pernah menyekap korban.

EtIndonesia. Laporan media lokal dan unggahan di media sosial Xiaohongshu, menyebutkan, pelaku penyayatan di sebuah kampus di Malaysia, adalah mahasiswa pria asal Tiongkok berusia 21 tahun. Sedangkan korban adalah mahasiswi asal Tiongkok berusia 20 tahun. Keduanya sebelumnya memiliki hubungan sebagai pasangan kekasih.

Video yang beredar di internet menunjukkan, seorang pria dan wanita terlibat pertengkaran hebat. Tak lama kemudian, pria tersebut kehilangan kendali emosinya, mengeluarkan pisau buah, lalu menyayat leher sang wanita. Korban langsung bersimbah darah dan terjatuh ke tanah dalam keadaan sekarat. 

Lalu, beberapa mahasiswa pria segera melumpuhkan pelaku, sementara mahasiswi lainnya berupaya menekan luka korban dengan tisu dan mencari bantuan dari petugas keamanan kampus.

Video juga memperlihatkan bahwa setelah melakukan penyerangan, pelaku masih menyeret dan menarik rambut korban. Para saksi dan petugas keamanan kampus akhirnya berhasil melumpuhkan pelaku dan merebut pisau dari tangannya.

Menurut laporan, arteri leher kiri korban terluka parah dan dia segera dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani perawatan darurat.

Berdasarkan informasi yang beredar di internet, pelaku merupakan mantan pacar korban. Karena korban ingin putus, pelaku pernah datang bersama sekelompok pria untuk mengancam korban, memaksanya telanjang di rumah, dan menguncinya di dalam rumah tanpa diizinkan keluar.

Setelah berhasil melarikan diri, korban kembali ke kampus untuk mengikuti kelas, lalu mengalami penyerangan di lingkungan kampus.

Tangkapan layar percakapan yang diduga berasal dari ibu korban menyebutkan bahwa pelaku sebelumnya juga pernah membunuh seekor anak kucing dan mengancam korban agar tidak memutuskan hubungan.

Pada 15 Juli pagi, sekitar pukul 10.00 waktu setempat, pelaku yang mengenakan jaket hitam tiba di pengadilan di bawah pengawalan polisi. Dia meninggalkan pengadilan sekitar pukul 11.50. Pelaku terlihat tenang, tidak panik, dan tidak menghindari kamera.

Kepala Kepolisian Subang Jaya, Asisten Komisaris Wong Azlan, menyatakan bahwa pada Selasa (15 Juli), polisi mendapat persetujuan untuk menahan pelaku selama 4 hari, dari l 15 hingga 18 Juli, guna membantu penyelidikan kasus ini.

Kasus ini memicu perhatian luas dari netizen Tiongkok. Banyak komentar menyayangkan insiden ini:
“Sekarang mungkin semua universitas di Malaysia tak mau terima mahasiswa asal Tiongkok lagi. Ini mencoreng nama baik bangsa.”
“Memalukan sampai ke luar negeri.”

(Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Suhu Panas di Henan, Tiongkok Tembus 44℃, Peternak Mengeluh Angsa Mati Kepanasan di Kolam

Beberapa hari terakhir, Provinsi Henan, Tiongkok  dilanda gelombang panas yang sangat ekstrem. Di banyak wilayah, suhu melonjak hingga menembus 44℃, memecahkan rekor cuaca setempat.

EtIndonesia. Badan Meteorologi Kota Zhengzhou pada Selasa (15/7/2025) melaporkan bahwa suhu di 94 stasiun cuaca di kota Zhengzhou semuanya telah melampaui 40℃. Di antaranya, dua stasiun bahkan mencatat suhu lebih dari 44℃. Daerah terpanas adalah di Gunung Fenghuang, Kota Gongyi, yang mencapai 44,2℃. Disusul oleh Zhangzhuang di Kota Xingyang dengan suhu 44,1℃, lalu di bagian utara Xingyang (Shangjie) tercatat 43,4℃.

Akibat suhu ekstrem ini, berbagai kejadian aneh terjadi di rumah warga. Media daratan Tiongkok melaporkan, seorang warga Zhengzhou bermarga Tian mengeluhkan bahwa kaca dalam kamar mandinya tiba-tiba retak seperti sarang laba-laba. Meskipun ruangan ber-AC, jendela tetap pecah karena panasnya sinar matahari.

Kejadian serupa terjadi di rumah Nyonya Li di Kota Sanmenxia. Sebuah jendela yang menghadap barat daya juga pecah karena suhu tinggi.

Selain berdampak pada kehidupan warga, cuaca panas juga memberikan pukulan berat pada sektor pertanian dan peternakan.

Seorang peternak bernama Zhang dari Xinxiang, Henan, mengatakan pada 14 Juli bahwa lima ekor angsa yang ia pelihara selama lebih dari sepuluh tahun mati kepanasan di dalam kolam. Bahkan, jarum termometer suhu dan kelembaban di kandang pun sampai melengkung karena panasnya.

Zhang mengatakan bahwa angsa umumnya cukup tahan terhadap panas maupun dingin, tetapi tahun ini sungguh di luar batas kewajaran. Saat ini, dia hanya bisa terus-menerus menyedot air dari sumur dan menyemprotkannya ke angsa-angsa yang tersisa untuk membantu mendinginkan tubuh mereka agar tetap bertahan.

Sebenarnya, bukan hanya Henan yang terdampak gelombang panas ekstrem ini. Di Turpan, Xinjiang, suhu tertinggi tercatat 42,6℃, sementara di Zhouzhi, Provinsi Shaanxi, mencapai 41,4℃. Yang lebih mengejutkan lagi, suhu permukaan tanah di Kabupaten Wugong, Shaanxi, mencapai 72,9℃.

Menurut prakiraan cuaca terbaru, suhu tinggi di Henan masih akan berlanjut selama beberapa hari ke depan. Di beberapa wilayah, suhu terasa diperkirakan akan melebihi 45℃. Dinas meteorologi setempat mengimbau masyarakat untuk mengambil tindakan pencegahan terhadap panas, guna menghindari serangan panas atau insiden lainnya. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Stasiun Kereta Bawah Tanah Berubah Menjadi Panggung Opera: Wanita Tunawisma Ini Jadi Bintang Internet dalam Semalam

EtIndonesia. Seorang seniman yang merantau dari Rusia ke Amerika demi mengejar mimpi, mengalami nasib buruk bertahun-tahun lalu. Kehidupannya tiba-tiba terpuruk hingga akhirnya dia menjadi tunawisma. Namun, dari semua yang hilang, satu hal yang tersisa — kemampuannya bernyanyi — justru menjadi titik balik dalam hidupnya.

Di sebuah stasiun kereta bawah tanah di Los Angeles, wanita ini mulai menyanyikan lagu klasik Italia. Suaranya yang indah memikat hati para penumpang yang lewat. Tak disangka, suara emasnya direkam oleh seorang petugas polisi, dan video itu diunggah ke Twitter.

Hanya dalam tujuh hari, video tersebut ditonton lebih dari 1 juta kali.

Suara yang Menghentikan Keramaian Kota

Stasiun metro di kawasan Koreatown, Los Angeles, hari itu seperti berubah menjadi panggung konser. Suara wanita itu melantunkan lagu klasik berjudul “O Mio Babbino Caro” — karya dari maestro opera Italia, Giacomo Puccini, yang ditulis tahun 1918.

Saking memukaunya suara soprano yang dia lantunkan, video yang diunggah oleh petugas dari Departemen Kepolisian Los Angeles (LAPD) langsung viral.

Emily Zamourka: Si Penyanyi Jalanan yang Kini Mendunia

Nama wanita itu adalah Emily Zamourka, seorang musisi dan penyanyi berusia 52 tahun.

“Aku benar-benar tidak percaya ini semua terjadi,” kata Emily.  “Awalnya aku tidak tahu sama sekali. Ponselku sangat sederhana dan tidak ada koneksi internet. Lalu orang-orang mulai menelpon dan berkata, ‘Hei, kamu masuk TV!’”

Meski mendadak terkenal, kenyataannya hidup Emily sedang berada di titik paling sulit. Dia hidup di jalanan, membawa barang-barangnya dalam kantong plastik besar ke mana-mana.

Emily menguasai biola dan vokal klasik sejak kecil. Dia tumbuh di Rusia, lalu pindah ke Los Angeles pada tahun 1992, berharap bisa menjadi penyanyi dan performer profesional. Selama bertahun-tahun, dia mencari nafkah dengan mengajar piano, menyanyi, dan bermain biola di tempat umum.

Namun, tiga tahun lalu, hidupnya berubah drastis —  Biola kesayangannya yang bernilai lebih dari 10.000 dolar AS dirampas paksa di jalanan. Tak lama kemudian, dia jatuh sakit parah dan harus menjalani perawatan medis yang menguras seluruh tabungannya. Dia terlilit utang dan akhirnya kehilangan tempat tinggal.

“Saat itu aku masih muda, punya mimpi dan rencana hidupku sendiri,” ujar Emily.  “Tapi kemudian musibah besar terjadi. Aku menderita sakit berat.”

Emily sempat dirawat intensif di Cedars-Sinai Medical Center, Los Angeles. Dia harus menggunakan beberapa selang makan dan akhirnya dipasang alat pacemaker (pengatur irama jantung) untuk menyelamatkan nyawanya.

Dunia Turut Menolong Sang Penyanyi

Setelah videonya viral, banyak orang merasa tergerak untuk membantu.

Para netizen membuat halaman penggalangan dana di GoFundMe untuk membantu Emily keluar dari lilitan utang dan kembali ke kehidupan normal. Hanya dalam waktu 6 hari, lebih dari 2.000 orang telah berdonasi, mengumpulkan dana lebih dari 67.000 dolar AS — atau sekitar Rp 2,08 miliar.

Tak hanya itu, Emily juga diundang tampil dalam acara pembukaan kawasan bersejarah “Little Italy” di distrik San Pedro, Los Angeles.

Penampilan itu menandai awal dari babak baru dalam hidupnya — Dari seorang wanita yang kehilangan segalanya dan hidup di jalanan, menjadi sosok inspiratif yang kembali disambut dunia dengan tangan terbuka.

Penutup: Suara yang Menghidupkan Harapan

Kisah Emily Zamourka menyentuh hati siapa saja yang mendengarnya. Bahwa di balik setiap wajah lelah di jalanan, bisa saja tersembunyi bakat yang luar biasa — dan masa lalu yang penuh impian.

Sebuah suara dari sudut stasiun, mengingatkan kita:

Kadang dunia hanya butuh satu momen kecil, satu orang yang percaya, untuk mengubah hidup seseorang sepenuhnya.

Emily tak hanya menyanyi untuk bertahan hidup — Dia menyanyi untuk memulai hidup baru.(jhn/yn)

Gelombang Panas Landa Banyak Wilayah di Tiongkok – Suhu Permukaan Capai 70℃, Suhu Terasa Lebih dari 45℃

Saat ini, hampir 20 provinsi di daratan Tiongkok sedang dilanda gelombang panas hebat secara luas dan terus-menerus. Sinar matahari yang menyengat membakar daratan. Kini, suhu udara di beberapa wilayah mencapai lebih dari 40℃ dan suhu permukaan tanah di banyak tempat melampaui 70℃. Warganet Tiongkok ramai-ramai berseloroh, “Tanahnya panas sampai bisa goreng telur,” dan “Rasanya seperti dibakar dalam tungku.”

EtIndonesia. Laporan dari China Weather Network menyebutkan dalam tiga hari ke depan lebih dari 20 provinsi dan kota akan menghadapi “uji bakar” gelombang panas. Pada 15 dan 16 Juli adalah periode dengan cakupan dan intensitas panas tertinggi. Suhu maksimum di Cekungan Sichuan, bagian barat Hubei, utara Hunan, dan Guanzhong di Shaanxi bisa melampaui 40℃, dan banyak daerah diprediksi akan mencetak rekor baru.

Pada 14 Juli, lima stasiun cuaca di Shaanxi dan Gansu mencatat suhu tertinggi baru untuk pertengahan Juli, yaitu di Xingping, Chang’an, Zhouzhi, Qindu (Xianyang), dan Xiahe. Xingping dan Zhouzhi bahkan mencetak rekor suhu tertinggi sepanjang bulan Juli.

Tanggal 15 Juli, suhu maksimum di beberapa bagian tenggara Henan, serta bagian tengah dan timur Hubei dan timur Hunan, diperkirakan akan melampaui 40℃. Suhu permukaan tanah meningkat drastis, dan suhu terasa (heat index) bisa melebihi 45℃. Di selatan Hebei, tengah dan barat Huanghuai, Jianghuai, serta Jianghan, suhu maksimum akan mencapai lebih dari 35℃, dengan suhu terasa antara 40–45℃.

Antara pukul 13.00 hingga 14.00 pada  15 Juli, banyak tempat mencatat suhu permukaan tanah yang “membakar kaki” — lebih dari 60℃, bahkan beberapa tempat lebih dari 70℃. Misalnya: Gaoling di Shaanxi 70,3℃, Xianyang 70,1℃, Yangxian 70,2℃ — suhu seperti ini jarang terjadi. Wugong di Shaanxi mencetak rekor suhu permukaan tanah tertinggi pertengahan Juli, yaitu 72,9℃, dan Lintong menyamai rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan 72,1℃.

Jarum termometer melengkung karena panas. (Gambar dari internet)

Di Zhengzhou, Henan, suhu permukaan tanah juga menembus 72℃. Seorang reporter media daratan melakukan uji coba dengan menaruh penggorengan di aspal, lalu memecahkan telur, meletakkan beberapa udang dan daging babi di atasnya. Setelah dijemur selama satu jam, termometer menunjukkan suhu lebih dari 50℃. Telur mulai mengeras, udang berubah merah, dan daging terlihat setengah matang.

Pada 16 Juli, gelombang panas skala besar masih akan berlanjut. Wilayah dengan suhu terasa lebih dari 45℃ akan mencapai puncaknya — mencakup wilayah timur dan selatan Henan, utara Anhui, utara Jiangsu, tengah Jiangxi, utara Hunan, serta tengah dan timur Hubei. Di Jiangnan dan sebagian besar wilayah selatan, panas akan semakin meningkat. Di wilayah barat dan timur Guangdong serta selatan Zhejiang, suhu terasa bisa mencapai 40–45℃. Panasnya digambarkan seperti berada di dalam sauna — lembab dan menyiksa.

Pada 17 Juli, suhu tinggi di wilayah barat laut dan Huanghuai diperkirakan mulai menurun. Namun, seiring dengan meningkatnya suhu tinggi di wilayah selatan, daerah “panas menyiksa” akan bergeser ke Cekungan Sichuan, Chongqing, timur Guizhou, dan barat Guangdong.

Warganet Tiongkok berkomentar:  “Henan sekarang jadi provinsi tungku, setiap hari panasnya luar biasa.”
“Saya di Henan, rasanya sudah seperti sate yang dipanggang.”
“Ya ampun, para pekerja lapangan harus bagaimana menghadapi panas begini?”
“Panasnya luar biasa!”
“Kalau ramalan cuaca bilang 40 derajat, artinya suhu sebenarnya bisa lebih tinggi lagi.”

(Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com