Mantan Aparat Keamanan Publik Komunis Tiongkok Mengungkapkan Pengambilan Organ Masih Terjadi di Daratan Tiongkok

Kejahatan Komunis Tiongkok terkait mengambil organ manusia terus menerus terungkap. Di daratan Tiongkok, polisi terus mengumpulkan sampel darah dan DNA orang secara ilegal. 

Hal demikian diungkapkan oleh Seorang Mantan Petugas Polisi Zhengzhou, Provinsi Henan, Bob.

“Sebenarnya, pengambilan organ dari terpidana mati adalah rahasia umum. Semua orang di dalam pemerintah mengetahuinya,” katanya kepada NTD.

Bob, sekarang tinggal di Amerika Serikat. Ia adalah seorang perwira polisi di Zhengzhou, Provinsi Henan. Dia baru-baru ini mengungkapkan kepada The Epoch Times bahwa, dia telah berkali-kali menegakkan hukum dan ketertiban di tempat eksekusi dan melihat organ diambil dari tahanan yang dieksekusi.

“(Saya) dapat masuk sekitar lima atau enam meter dari tempat eksekusi. Saya melihat sekelompok terpidana mati ditembak mati. Setelah penembakan, mereka dibawa ke mobil yang sejenis ambulans putih yang telah disiapkan di sebelah lokasi eksekusi. Dalam kendaraan ini, mereka melakukan pengambilan organ,” ujar Bob. 

Bob mengatakan bahwa dari perspektif operasi tranplantasi di tempat, kemahiran, dan kerja sama yang erat, operasi pengambilan organ ini telah membentuk rantai industri yang lengkap.

Seorang Mantan Petugas Polisi Zhengzhou, Provinsi Henan, Bob

Faktanya, pengambilan paksa organ manusia oleh Komunis Tiongkok telah terungkap selama lebih dari 20 tahun.

Dr. Torsten Trey, Direktur Doctors Against Forced Organ Harvesting  (DAFOH) mengatakan, sejak 1999, Komunis Tiongkok melanjutkan kampanyenya untuk memberantas Falun Gong, mempercayakan eksekusi praktisi Falun Gong yang tidak bersalah oleh pengadilan ke rumah sakit dan mempersenjatai profesional transplantasi Tiongkok. Menjadi algojo atas nama transplantasi.”

Pada pertengahan September lalu, digelar The World Summit on Combating and Preventing Forced Organ Harvesting atau Konferensi Tingkat Tinggi Dunia tentang ‘Memerangi dan Mencegah Pengambilan Organ Secara Paksa’.

Para ahli dari berbagai bidang profesional dari 19 negara di Eropa, Amerika dan Asia menandatangani Universal Declaration on Combating and Preventing Forced Organ Harvesting (UDCPFOH)  atau “Deklarasi Universal mengenai Memerangi dan Mencegah Panen Organ Secara Paksa.”

Sejumlah LSM turut menandatanginya yakni Doctors Against Forced Organ Harvesting  (DAFOH), the Taiwan Association for International Care of Organ Transplants (TAICOT), Korea Association for Ethical Organ Transplants (KAEOT), Transplant Tourism Research Association (TTRA) dari Jepang dan CAP Freedom of Conscience dari Prancis.  

Kegiatan ilegal terkait dengan kejahatan pengambilan organ hidup-hidup, hingga kini terus terjadi di daratan Tiongkok.

Menurut statistik  Minghui.org, 9.470 praktisi Falun Gong diketahui telah diculik dan ditindas oleh otoritas Komunis Tiongkok pada paruh pertama tahun 2021. Di antara mereka, setidaknya 129 telah diambil sampel darah dan DNA secara ilegal, 32 di antaranya di 18 provinsi, daerah otonom, dan kotamadya di daratan Tiongkok.

Pada 15 Juli 2021, Bai Xingwen, seorang praktisi Falun Gong dari Ladang Minyak Shengli di Kota Dongying, Provinsi Shandong, diculik oleh anggota Brigade Keamanan Nasional Cabang Tepi Laut Gudao. Dia kemudian dipaksa untuk diambil sampel darah, rambut, dan tes urin di Kantor Polisi Chaoyang cabang Haibin. Bai Xingwen hampir berusia 70 tahun.

Pada 24 April lalu, Tian Yuping yang berusia 55 tahun dari Shengli Yuntien di Shandong diculik ke Biro Keamanan Umum Binbei, di mana sampel darah dan DNAnya juga diambil.

Pada 15 Maret, He Xiang Gu yang berusia 60 tahun, seorang perawat di ruang operasi rawat jalan Rumah Sakit Bersalin dan Kesehatan Anak Hunan, diculik oleh polisi Komunis Tiongkok. Kemudian diambil sampel darah dan DNAnya di Kantor Polisi Sifangping dan Pusat Penahanan Kota Changsha.

Mantan Perwira Polisi Zhengzhou di Provinsi Henan itu mengungkapkan, semua lembaga keamanan publik, kejaksaan, dan hukum semuanya berada di bawah kepemimpinan Komite Politik dan Hukum.

“Baru-baru ini, Komunis Tiongkok meluncurkan penempatan baru dalam sistem politik dan hukum dan sejumlah besar hakim, jaksa, dan kepala polisi. Orang-orang ini dulunya adalah algojo dari Komunis Tiongkok yang menganiaya rakyat, pembalasan akan segera menimpa pada mereka,” pungkasnya. (hui/asr)