Review Film “Sound of Freedom : Kabar ini untuk Disebarluaskan!

MARK JACKSON

Gema untuk “Sound of Freedom” terus berlanjut sejak kesuksesannya yang menggetarkan di box office pada 4 Juli lalu, di mana film ini dengan cepat menggulingkan “Indiana Jones” terbaru pada hari pembukaannya.

Sebuah film yang sangat mempolarisasi, “Freedom” berfungsi sebagai semacam termometer moral, mengukur suhu Amerika. Ini juga adalah panggilan untuk terbangun, dan ini adalah masalah yang disuarakan secara terbuka. Perdagangan seks anak dan pornografi anak melanda planet ini.

Sudah lima tahun berlalu, Mark Salling yang berusia 35 tahun, seorang aktor dalam musikal-komedi populer “Glee,” meninggal karena bunuh diri beberapa minggu setelah mengaku bersalah telah melakukan pornografi anak. Hidup di penjara seumur hidup akan menjadi neraka baginya.

Melihat pornografi anak masih dalam kategori yang sama dengan perdagangan seks anak, karena budak seks anak, seperti korban “snuff film”, digunakan untuk membuat film-film tersebut. Siapa pun yang berada dalam radius dampak akan bersalah, dan walau “hanya” menjadi voyeur (seorang penonton) akan tetap membuat Anda dijatuhi hukuman mati di penjara.

Pada dasarnya semua itu adalah kecanduan pornografi yang merajalela pada umumnya.

Kisah

“Sound of Freedom,” dari perusahaan produksi berbasis “iman/ kepercayaan”, Angel Studios, menceritakan kehidupan kisah nyata agen Tim Ballard (diperankan oleh Jim Caviezel), sebelumnya bekerja di Departemen Keamanan Dalam Negeri, yang telah mendedikasikan hidupnya untuk menyelamatkan anak-anak dari para pelaku perdagangan seks anak dan perbudakan seks. Ia mendirikan Operasi Kereta Api Bawah Tanah pada 2013, berdasarkan nama misi pembebasan budak mantan tahanan perkebunan, Harriet Tubman.

Film ini langsung membenam- kan kita dalam mimpi buruk. Setelah direkrut dan dibujuk oleh seorang agen bakat lokal (Yessica Borroto Perryman) untuk mengikuti audisi model melalui sesi pemotretan, Roberto (José Zúñiga) mengantarkan putrinya yang cantik berusia 11 tahun, Rocio (Cristal Aparicio), dan adik laki-lakinya yang lucu Miguel (Lucás Ávila) di sebuah kamar hotel di Honduras yang diatur agar terlihat seperti studio fotografi profesional.

Ayahnya diberi tahu dengan kata manis bahwa sang ayah tidak diizinkan ikut di panggung, lalu dia menyerahkan kendali dan pergi minum kopi. Tentu saja, saat kembali ke kamar—semua orang menghilang. Anak-anaknya telah tersedot ke dalam pusaran mimpi buruk manusia yang paling menakutkan di dunia, dan dia tidak berdaya.

Merubah Deskripsi Pekerjaannya

Kembali di Amerika Serikat, Ballard menangkap seorang pedofil (pelaku pelecehan seksual terhadap anak) yang mencari mangsanya melalui Internet. Ballard adalah seorang ahli di bidang ini, telah menghentikan 300 pelaku kejahatan pedofilia.

Namun, yang akhirnya mengganjal hatinya adalah kenyataan bahwa meskipun dia berhasil menangkap predator, dan ada kepuasan dalam hal itu, tugas ini sangatlah sulit. Perdagangan seks anak adalah industri senilai 150 miliar dolar AS per tahun di seluruh dunia, dengan operasi kotor yang mencapai dari pemukiman terendah yang paling berbahaya, hingga udara segar di puncak tertinggi masyarakat—dunia benar-benar tenggelam di dalamnya. Dan ini terlalu menjijikkan bagi kebanyakan orang bahkan untuk dibicarakan. Seperti yang dikatakan dalam pepatah, ini adalah “terlalu buruk untuk percakapan sopan.”

Dan oleh karena itu, Ballard mengumpulkan tingkat keberanian yang jarang terlihat, dan berjalan lurus ke rahang maut—tempat-tempat di mana pepatah mengatakan “para malaikat takut melangkah,” dan mengubah ulang deskripsi pekerjaannya. Sekarang dia akan menyelamatkan para korban. Hanya ada satu hal yang bisa dikatakan—Tuhan memberkatinya.

Misi barunya membawa Ballard ke Amerika Selatan, di mana seorang pria yang, beberapa tahun sebelumnya, terlambat menyadari bahwa hubungan seks yang dia bayar adalah dengan seorang gadis berusia 14 tahun dan sedang mencari penebusan (Bill Camp), membantunya menyusun operasi perangkap yang rumit.

Pada akhirnya, hal ini membawanya ke dalam ruang terdalam hutan hujan tiga lapis di Kolombia yang dikendalikan oleh pemberontak, dia beroperasi dengan menyamar sebagai seorang dokter dengan misi palsu untuk memberikan vaksin kepada masyarakat suku terhadap gelombang penyakit terbaru, melacak anak yang hilang dan telah bersumpah untuk menyatukan kembali dengan keluarganya.

Ballard

Tim Ballard secara pribadi meminta Jim Caviezel untuk memerankannya dalam film tersebut. Caviezel, terkenal karena memainkan peran utama dalam “The Passion of the Christ” karya Mel Gibson, adalah aktor andalan akhir-akhir ini untuk penggambaran orang-orang saleh, dan   yang   misi   hidupnya—penggunaan platform profil tingginya sebagai mercusuar harapan dan pemulihan yang bersinar.

Caviezel dengan sempurna menggambarkan dengan penuh nuansa penderitaan seorang pria yang pekerjaannya adalah terus-menerus melihat segala sesuatu yang mengakibatkan orang-orang kebanyakan menghadapi kasus PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) yang instan dan berbahaya. Dia harus mengumpulkan keberanian untuk tetap tidak keras dan penuh belas kasih agar dapat terus menyelamatkan mereka yang paling rentan dan tak bersalah dalam masyarakat dari kehidupan yang menderita akibat penyalahgunaan dan eksploitasi oleh keserakah- an yang bejat. Sebuah tugas yang benar-benar heroik.

Sound of Freedom,” meskipun memiliki rating PG-13, bisa menjadi tontonan yang sulit. Anak-anak ditunjukkan diculik, diangkut dalam kontainer pengiriman, dan kemudian dijual kepada orang-orang cabul. Karena merupakan film berbasis iman, SOF (Sound of Freedom) tidak menggambarkan serangan dan penyalahgunaan eksploitatif. Bah- kan imajinasi, dalam hal ini, terlalu mengganggu.

“Sound of Freedom” mendapatkan 5 bintang untuk menyoroti, seperti film “Spotlight,” (tentang imam pedofil dalam gereja Katolik) masalah penting namun sering diabaikan.

Melihat ke Depan

Saya berharap “Sound of Freedom” membuka pintu bagi lebih banyak film seperti ini, dan “menyebarluaskan kabar.” Sebagai contoh, saya ingin melihat film tentang The Human Exploitation Rescue Operative, atau HERO, Child-Rescue Corps. “Program HERO Child-Rescue Corps dirancang untuk anggota layanan dan veteran yang berpindah karir yang terluka, cedera, dan sakit akibat menerima pelatihan dalam forensik komputer berbasis teknologi tinggi dan keterampilan penegakan hukum untuk membantu agen federal dalam perang melawan eksploitasi seksual anak secara daring.”

Menyebarluaskan Kabar

Saat menulis ulasan ini, secara “kebetulan” saya menerima video wawancara Candace Owens (seorang penulis, komentator, dan aktivis politik konservatif AS) di Instagram. Dua puluh menit kemudian, nama Tim Ballard muncul. Owens mewawancarai Ballard, dan yang menonjol di atas semua hal lainnya, adalah bahwa Amerika Serikat adalah konsumen nomor satu pornografi anak—yang juga disebutkan dalam hampir setiap video dengan Caviezel dan Ballard yang mempromosikan film.

Mengapa? Seperti yang disebutkan pada awal, semuanya berpusat pada kecanduan pornografi. Ini mematikan, dan seperti kecanduan apa pun, menimbulkan kehancuran dan semakin intensif, menuntut situasi yang semakin tercela untuk mendapatkan dosis kecanduan. Ini- lah yang menyebabkan kemerosotan moral pria di seluruh dunia (terutama di Amerika) ke dalam pornografi anak dan perdagangan anak.

Inilah kata yang perlu disebarluaskan: Kami para pria perlu untuk berhenti menunjuk jari ke luar dan berupaya untuk mencari ke dalam pada diri kita—menghentikan para pelaku dan pecandu pornografi, dan dengan lebih tegas, memboikot semua bentuk pornografi, maka para pedagang manusia akan terpaksa keluar dari bisnis ini. Ini dimulai dari setiap individu untuk memahami bahwa “anak-anak Tuhan tidak untuk dijual”. (sun)