Trump Teken RUU Akhiri Shutdown Pemerintahan AS Terlama dalam Sejarah

Penetapan RUU ini menandai berakhirnya Shutdown pemerintahan Amerika Serikat selama 43 hari

Oleh Joseph Lord & Nathan Worcester

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 12 November 2025 menandatangani RUU yang telah disetujui oleh kedua kamar Kongres AS untuk mendanai pemerintahan hingga Januari. Ini secara resmi mengakhiri Shutdown pemerintahan terlama dalam sejarah Amerika Serikat.

 “Hari ini, kami mengirim pesan yang jelas bahwa kami tidak akan pernah menyerah pada pemerasan,” kata Trump dari Kantor Oval beberapa saat sebelum menandatangani RUU tersebut, mengacu pada tuntutan Partai Demokrat yang memicu kebuntuan sebelumnya.

Trump juga kembali menyerukan diakhirinya filibuster, aturan 60 suara di Senat AS yang memungkinkan terjadinya penutupan pemerintahan.

Presiden menandatangani RUU itu sekitar pukul 22.25 waktu setempat, sekitar dua jam setelah DPR AS meloloskannya melalui pemungutan suara bipartisan.

Tindakan ini secara resmi mengakhiri penutupan pemerintahan pada hari ke-43, kurang dari satu jam sebelum penutupan itu mencapai hari ke-43—sebuah rekor terlama dalam sejarah Amerika Serikat.

Presiden Donald Trump menandatangani paket RUU untuk membuka kembali pemerintahan federal di Kantor Oval, Gedung Putih, pada 12 November 2025 (Tangkapan layar NTD)

Dengan tanda tangan Trump, pembayaran gaji tertunggak bagi pegawai federal yang belum menerima gaji selama lebih dari sebulan akan segera diproses, sementara pegawai federal yang dirumahkan akan kembali bekerja.

RUU ini juga memastikan pendanaan bagi Program Bantuan Gizi Tambahan (SNAP) dan program bantuan pangan lainnya yang sempat tertunda akibat penutupan, untuk satu tahun penuh.

Langkah ini juga akan memungkinkan kembalinya kondisi normal secara bertahap pada penerbangan di Amerika Serikat, yang terdampak parah akibat penutupan, ketika para pengatur lalu lintas udara tidak masuk kerja dan lepas landas dibatasi oleh FAA karena alasan keselamatan.

Dalam pemungutan suara 222–209, DPR AS meloloskan RUU tersebut sekitar pukul 20.20 waktu setempat.

Enam anggota DPR dari partai Demokrat—Jared Golden (Maine), Adam Gray (California), Don Davis (Carolina Utara), Henry Cuellar (Texas), Tom Suozzi (New York), dan Marie Gluesenkamp-Perez (Washington)—mendukung paket itu.
Dua anggota DPR dari Partai Republik, Thomas Massie (Kentucky) dan Greg Steube (Florida), menentang RUU tersebut.

DPR AS menyetujui RUU itu setelah Senat AS meloloskannya pada Senin (10/11) dengan dukungan delapan anggota dari kubu Demokrat di Senat.

 “(Partai Demokrat) sama sekali tidak mendapatkan apa pun dari hal ini,” kata Ketua DPR Mike Johnson (Republik-Louisiana) kepada wartawan dalam konferensi pers di Capitol Hill segera setelah pemungutan suara di DPR.

Selain memperpanjang pendanaan pemerintahan hingga 30 Januari 2026 dan mengakhiri penutupan selama 43 hari, RUU ini juga sepenuhnya mendanai tiga sektor pemerintahan, yaitu Departemen Pertanian, Departemen Urusan Veteran, dan Cabang Legislatif, hingga 30 September 2026.

RUU tersebut juga mencakup pendanaan setahun penuh bagi Program Bantuan Gizi Tambahan (SNAP) serta Program Perempuan, Bayi, dan Anak (WIC), yang sempat tertunda akibat penutupan.


Kontroversi Pembayaran di Senat

Sebelum pemungutan suara, banyak anggota Republik bergabung dengan Demokrat untuk mengecam ketentuan kontroversial dalam RUU tersebut yang memungkinkan senator menggugat pemerintah jika catatan telepon mereka diakses tanpa sepengetahuan mereka.

Ketentuan itu, yang dimasukkan ke dalam bagian pendanaan cabang legislatif, mengizinkan senator menuntut pemerintah setidaknya sebesar 500.000 dolar AS jika penegak hukum federal mencari catatan telepon mereka tanpa pemberitahuan, termasuk dalam kasus yang disetujui oleh hakim.

Setelah munculnya ketidakpuasan terhadap ketentuan itu, Johnson berjanji kepada anggota DPR AS bahwa mereka akan segera mempercepat undang-undang terpisah untuk membatalkan ketentuan Senat tersebut.

Ketentuan itu berkaitan dengan surat panggilan pengadilan (subpoena) yang dikeluarkan di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden, terkait penyelidikan atas upaya menantang pengesahan kemenangan Biden dalam pemilu 2020 oleh Kongres.

Anggota Republik seperti Morgan Griffith (Virginia) mengkritik bagian tersebut dalam sidang Komite Aturan DPR AS, dengan mengatakan bahwa ia sependapat dengan keraguan Partai Demokrat terhadap ketentuan itu.

Anggota DPR AS John Rose (Tennessee) juga menentangnya di sidang DPR AS, meskipun ia mengakui bahwa Departemen Kehakiman (DOJ) di bawah Biden telah bertindak berlebihan dalam penyelidikan pemilu 2020 dan kerusuhan di Capitol pada 6 Januari 2021.

“Tidak ada pejabat terpilih yang seharusnya mendapat keuntungan dari perhitungan politik birokrat dan hakim sayap kiri,” kata Rose, menambahkan bahwa “memalukan” jika pembayar pajak Amerika harus membiayai ketentuan tersebut.

Berbicara kepada wartawan pada Rabu, Johnson mengatakan bahwa ia “terkejut” dengan ketentuan dalam RUU Senat itu dan mencatat bahwa banyak anggota DPR “memiliki pendapat kuat tentang hal itu.”

Sebelum pemungutan suara, Steube mengumumkan bahwa ia akan menolak RUU tersebut, dengan menyatakan keraguannya bahwa Senat akan mempertimbangkan usulan undang-undang terpisah dari Johnson.

 “Senat tidak akan pernah membahas RUU ‘terpisah’ Anda. Inilah alasan mengapa Anda tidak boleh membiarkan Senat memaksa DPR,” tulis Steube di platform X.

Serangkaian pemungutan suara pada Rabu ini menandai pertama kalinya DPR bersidang penuh di Capitol Hill untuk urusan resmi dalam delapan minggu terakhir.  Sidang ini merupakan pemungutan suara pertama bagi anggota baru Adelita Grijalva (Demokrat-Arizona), yang dilantik lebih dari tujuh minggu setelah memenangkan pemilihan khusus menggantikan ayahnya, mendiang Raúl Grijalva.

Konfirmasi Grijalva yang tertunda menarik perhatian karena komitmennya untuk memberikan tanda tangan terakhir pada petisi pemakzulan yang menuntut DOJ memublikasikan berkas kasus pelaku kejahatan seksual miliarder Jeffrey Epstein.

Johnson menutup sidang setelah DPR meloloskan RUU pendanaan sementara—langkah yang dituduh Demokrat sebagai upaya untuk menekan Senat.


Kemungkinan Penutupan pada Januari: DeLauro

Isu utama yang menyebabkan dan memperpanjang penutupan pemerintahan adalah layanan kesehatan. Menurut Ketua Komite Alokasi DPR AS, Rosa DeLauro (Demokrat-Connecticut), isu yang sama dapat memicu penutupan baru pada Januari.

“Saya khawatir,” kata DeLauro kepada The Epoch Times ketika ditanya tentang kemungkinan itu. “Pada 30 Januari, kita bisa saja menghadapi situasi yang sama. Ingat, kita masih punya sembilan alokasi anggaran lagi.”

Partai Demokrat menyerukan perpanjangan subsidi pajak selama satu tahun untuk polis Affordable Care Act (ACA) yang akan berakhir pada akhir tahun ini.
Beberapa ahli memperingatkan bahwa berakhirnya subsidi ini dapat menyebabkan kenaikan drastis premi polis ACA.

Sejumlah anggota Demokrat melaporkan bahwa konstituen mereka menghadapi kenaikan premi hingga beberapa ribu dolar tahun depan.

Pemimpin Fraksi Minoritas DPR, Hakeem Jeffries (Demokrat-New York), pada Selasa malam mengusulkan amandemen untuk memperpanjang subsidi ACA selama tiga tahun, tetapi usulan itu gagal—demikian pula dengan upaya Demokrat lainnya untuk melampirkan perpanjangan subsidi tersebut ke paket RUU.

Partai Republik mengajukan berbagai alternatif untuk menggantikan subsidi ACA.

Salah satunya adalah memberikan pembayaran langsung atau cek pengembalian dana sebagai pengganti subsidi, sebuah gagasan yang diajukan oleh Trump.

Senator AS Bill Cassidy (Republik-Louisiana) mengusulkan agar dana subsidi ACA dialihkan ke Akun Tabungan Kesehatan (HSA) dan Akun Pengeluaran Fleksibel (FSA). Sementara itu, Senator Lindsey Graham (Republik-Carolina Selatan) mengusulkan agar dana tersebut dialokasikan dalam bentuk hibah blok ke negara bagian untuk tujuan kesehatan.

Saat ini belum jelas apakah usulan-usulan tersebut akan memperoleh dukungan yang cukup di kalangan Partai Republik.

Senat AS meloloskan RUU pendanaan ini pada 10 November, dengan tujuh anggota Demokrat dan satu independen bergabung dengan semua anggota Republik kecuali satu. Mereka adalah: Jacky Rosen, Catherine Cortez Masto, Tim Kaine, John Fetterman, Maggie Hassan, Jeanne Shaheen, Dick Durbin, dan Angus King (independen dari Maine).

Dalam konferensi pers pada Minggu malam setelah memberikan suaranya mendukung RUU itu, Shaheen menyatakan bahwa Partai Demokrat mungkin mempertimbangkan untuk menutup pemerintahan kembali pada Januari jika perpanjangan kredit pajak ACA tidak disetujui.

Dalam konferensi pers setelah DPR AS meloloskan RUU tersebut pada Rabu, Johnson menolak berkomitmen untuk mengadakan pemungutan suara guna memperpanjang subsidi ACA.

Jackson Richman turut berkontribusi dalam laporan ini

Sumber : Theepochtimes.com

Memaknai dan Memanfaatkan Hidup dengan Baik


EtIndonesia. Hidup ini singkat, waktu melaju cepat, dan setiap hari yang kita jalani seharusnya memiliki pertanggungjawabannya sendiri. Jangan sampai kita menghabiskan waktu berharga untuk permainan yang tidak bermakna, tujuan yang bodoh, atau mengejar kesenangan sesaat. Semua itu tidak menghasilkan apa-apa.

Gunakan hidup untuk melakukan hal-hal yang bermakna. Isi setiap menit dengan tindakan dan pikiran yang bernilai. Biarkan hidupmu mencerminkan keyakinanmu. Biarkan setiap ucapan dan tindakanmu menjadi bukti siapa dirimu: seseorang yang maju, adil, dan tulus.

Setiap orang pada akhirnya harus mempertanggungjawabkan hidupnya—hanya saja kita tidak tahu kapan hari itu akan tiba. Karena itu, jangan menunda-nunda. Lepaskan diri dari hal-hal yang sia-sia dan urusan kecil yang tak berguna. Gunakan setiap hari yang diberikan Tuhan untuk perbuatan yang bernilai.

Sejauh apa pun perjalanan hidupmu, sebesar apa pun pencapaian kariermu, jika suatu hari kamu menjauh dari empat nilai ini, maka kamu belum bisa disebut benar-benar menghargai hidupmu:

— Ketulusan
— Keadilan
— Kejujuran
— Kemajuan diri

Singkatnya, dalam perjalanan hidup, kita akan selalu berhadapan dengan masa-masa sulit. Ketika kesulitan datang, satu-satunya cara adalah melembutkan hati dan menerimanya dengan tenang.

Ada pepatah kuno yang berkata: “Setelah kelelahan yang luar biasa, barulah muncul rasa ringan.” 

Artinya, jika kita sanggup bertahan dalam hal-hal yang paling sulit—menahan rasa tak nyaman, menanggung situasi yang hampir tak tertahankan—maka dari penderitaan itulah akan muncul kekuatan.

Saat kita dipaksa menjalani masa-masa panas, berat, dan sulit, ingatlah: “Seribu sungai memantulkan seribu bulan; langit tanpa awan terbentang seribu kilometer.”

Selama kamu berani menghadapi semuanya, setelah perjuangan itu berlalu, kamu akan merasakan kelegaan yang luar biasa. Kesusahan akan berakhir, dan manisnya kehidupan akan pelan-pelan mengalir di hati.(jhn/yn)

Jepang Kutuk Ancaman Pemenggalan Perdana Menteri Jepang yang Disampaikan oleh Diplomat Partai Komunis Tiongkok

Perdana Menteri Jepang mengatakan bahwa serangan militer Tiongkok terhadap Taiwan kemungkinan akan dianggap sebagai “situasi yang mengancam kelangsungan hidup” bagi Jepang.

EtIndonesia. Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara pada 10 November menyatakan bahwa pemerintah Jepang telah melayangkan protes keras kepada Beijing atas pernyataan bernada ancaman yang disampaikan oleh seorang diplomat senior partai komunis Tiongkok yang ditujukan kepada Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi.

Kihara mengatakan kepada wartawan bahwa Kementerian Luar Negeri Jepang dan Kedutaan Besar Jepang di Tiongkok telah meminta agar diplomat tersebut segera menarik kembali pernyataannya.

Ia menambahkan bahwa meskipun maksud pernyataan itu tidak sepenuhnya jelas, “sangat tidak pantas” bagi kepala misi diplomatik luar negeri Tiongkok menyampaikan pernyataan seperti itu. Pemerintah Jepang juga menuntut “penjelasan yang jelas” dari pihak Tiongkok.

Pernyataan Kihara tersebut menanggapi unggahan di platform X oleh Xue Jian, Konsul Jenderal Tiongkok di Osaka, kota terbesar di Jepang bagian barat.

 “Kepala kotor yang nekat mencampuri urusan ini harus dipenggal tanpa ragu sedikit pun,” tulis Xue pada 8 November, menurut laporan The Asahi Shimbun, salah satu surat kabar utama Jepang. Unggahan tersebut sudah tidak dapat diakses sejak 9 November.

Meskipun diplomat Tiongkok itu tidak menyebut nama perdana menteri secara langsung, ia mengutip laporan The Asahi Shimbun tentang pernyataan terbaru Takaichi di Parlemen mengenai Taiwan, menurut tangkapan layar unggahan tersebut yang dibagikan oleh George Glass, Duta Besar Amerika Serikat untuk Jepang.

Glass mengatakan bahwa pernyataan diplomat Tiongkok itu merupakan ancaman terhadap perdana menteri dan rakyat Jepang.

 “Topengnya terbuka—lagi,” tulis Glass di X pada 10 November.
“Sudah saatnya Beijing bertindak seperti ‘tetangga baik’ yang selalu mereka ucapkan, namun gagal diwujudkan berulang kali.”


‘Situasi yang Mengancam Kelangsungan Hidup’

Menurut The Asahi Shimbun, dalam sidang parlemen pada 8 November, Takaichi menyatakan bahwa serangan militer Tiongkok terhadap Taiwan kemungkinan akan dianggap sebagai ‘situasi yang mengancam kelangsungan hidup’ bagi Jepang.

Pernyataan ini penting karena, menurut undang-undang Jepang, negara tersebut berkewajiban mengerahkan Pasukan Bela Diri (Self-Defense Forces) untuk membantu negara sahabat apabila serangan militer terhadap negara itu dianggap mengancam kelangsungan hidup Jepang.

Takaichi, yang menjabat sebagai perdana menteri sejak Oktober, digambarkan oleh media lokal sebagai perdana menteri Jepang pertama yang secara terbuka menyatakan sikap ini.

Ia membela pernyataannya pada 10 November, dengan mengatakan bahwa pandangannya didasarkan pada skenario terburuk.

 “Itu sejalan dengan pandangan resmi pemerintah,” katanya di hadapan parlemen, seraya menambahkan bahwa ia tidak akan menarik ucapannya, namun akan menghindari membuat pernyataan serupa di sidang berikutnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, mengulangi klaim teritorial rezim komunis atas Taiwan ketika ditanya mengenai komentar diplomatnya dalam jumpa pers rutin pada 10 November.

Lin mengatakan bahwa unggahan Xue merupakan tanggapan atas pernyataan Takaichi tentang Taiwan, dan mendesak Tokyo untuk “melihat secara serius tanggung jawab sejarahnya.”

Partai Komunis Tiongkok (PKT) menganggap Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri sebagai provinsi yang memisahkan diri, dan tidak pernah menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk mengambil alih pulau itu.

Taiwan juga menanggapi pada 10 November. Seorang juru bicara kantor kepresidenan mengatakan bahwa pemerintah menanggapi dengan sangat serius ancaman yang dilontarkan pejabat Tiongkok terhadap Jepang.

 “Perilaku seperti itu jelas melampaui etika diplomatik,” kata juru bicara tersebut, menurut Kantor Berita Sentral Taiwan (CNA).

Reuters berkontribusi dalam laporan ini.

Lelang Setetes Air Mata

EtIndonesia. Sebuah acara lelang di negara bagian New York, Amerika Serikat, menarik perhatian para kolektor dan peserta lelang dari seluruh dunia. Di antara barang-barang bernilai tinggi yang dipamerkan, ada seorang gadis kecil bernama Alice yang akan melelang setetes air mata.

Satu tetes air mata—apa mungkin memiliki nilai?  Semua orang merasa heran. Bahkan ada yang mencemooh, menuduh bahwa hal seperti itu tak pantas berada di acara lelang bergengsi.

Pukul delapan pagi, para kolektor dan pembeli dari berbagai negara mulai memasuki ruangan. Di bagian belakang kerumunan, seorang anak perempuan berusia 8 tahun berjalan perlahan sambil memeluk sebuah kotak kristal hitam.

Ketika palu lelang berdentum, satu demi satu karya seni mahal terjual dengan harga tinggi.

  • Sebuah cermin perunggu dari Yuanmingyuan laku 200.000 dolar.
  • Sebuah lukisan tentang Long March karya seniman Tiongkok terjual 1 juta dolar.
  • Yang paling mencuri perhatian, sebuah pedang perunggu Yunani kuno, terjual dengan harga mengejutkan: 5 juta dolar.

Namun acara puncak hari itu adalah giliran Alice.

Dia membuka kotak kecil itu perlahan. Dengan bantuan proyektor, tampaklah setetes air mata bening, bergulir memantulkan cahaya.

Seketika terdengar teriakan dari kerumunan: “Gila! Setetes air mata mau dilelang? Ini penipu! Keluar dari sini!”

Alice menarik napas, berusaha menenangkan diri.

Dia berkata dengan suara sedikit bergetar namun tegas: “Tolong beri saya satu menit saja.
Dengarlah kisah di balik tetes air mata ini—saya yakin Anda akan mengerti.”

Alice menekan tombol.

 Di layar muncul gambar seekor Burung Perkici Spix—parrot biru kecil yang sangat langka.

“Ini adalah satu dari delapan Burung Perkici Spix terakhir di dunia,” ujar Alice dengan suara berat.

 “Mereka hidup di timur laut Brasil. Saya dan kakek sudah mengikuti mereka selama tiga tahun.”

Suasana mulai hening.

“Namun setengah bulan lalu, sekelompok pemburu masuk ke sana. Burung-burung yang tak bersalah itu ditembak mati satu per satu. Ketika saya dan kakek mencoba menghentikan mereka, kakek terluka parah.”

Alice menahan tangis.

“Tetes air mata ini… adalah air mata terakhir seekor Perkici Spix yang sedang sekarat.”

Kerumunan menjadi sunyi.

“Sebelum meninggal, kakek berkata: ‘Alice, kamu tahu tidak? Setiap Perkici Spix adalah malaikat kecil. Jika kamu menjaganya, kamu akan mendapatkan kebahagiaan dan mimpi.’”

Mimpi yang Tersisa

Alice kembali menekan tombol. Kini layar menampilkan hutan hijau, burung-burung terbang, suara alam yang damai.

Alice berkata dengan penuh perasaan: “Ini adalah mimpi saya dan kakek. Sekarang dia sudah pergi… Saya berharap seseorang bisa membantu saya mewujudkan mimpi itu. Kakek selalu bilang, melindungi bumi berarti melindungi diri kita sendiri.”

Ruangan lelang mendadak begitu hening—seolah semua suara menghilang.

Lalu tiba-tiba, seseorang berdiri dan berkata lantang: “Saya tawar 1 juta dolar untuk setetes air mata itu. Alice benar—jika bumi hanya menyisakan manusia, itu adalah akhir dunia.”

Tak lama setelah itu, seorang CEO perusahaan multinasional menawar 2 juta dolar dan memenangkan lelang tersebut.

Dia berjanji:

— akan membangun taman konservasi Spix’s Macaw,
— dan menggunakan teknologi kloning modern untuk menghidupkan kembali populasi burung langka tersebut.

Satu Tetes Air Mata yang Mengubah Dunia

Majalah terkenal TIME menulis laporan panjang tentang acara lelang itu, dan memberikan pujian: “Dengan setetes air mata seekor Spix’s Macaw, Alice telah menyelamatkan seluruh umat manusia.”

Karena melindungi satu spesies berarti melindungi keseimbangan ekosistem, dan pada akhirnya—melindungi masa depan manusia sendiri.(jhn/yn)

“Berapa Banyak Istri?” Tanya Trump kepada Presiden Suriah Al-Sharaa di Gedung Putih

EtIndonesia. Dalam sebuah langkah diplomatik yang belum pernah terjadi sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump menjamu Presiden Suriah, Ahmed al-Sharaa di Gedung Putih pada hari Senin, sebuah pertemuan yang dulunya tampak tak terbayangkan.

Al-Sharaa, mantan komandan Al-Qaeda yang pernah dicap teroris oleh Washington dan diberi hadiah 10 juta dolar oleh AS, berdiri di samping Trump dalam kunjungan resmi pertama seorang pemimpin Suriah ke Gedung Putih sejak Suriah merdeka dari Prancis pada tahun 1946.

Kunjungan ini dilakukan di saat AS memperpanjang masa penangguhan sanksi terhadap Suriah selama 180 hari.

Sebuah video dari pertemuan tersebut, yang kini beredar luas di dunia maya, merekam percakapan ringan antara kedua pemimpin tersebut. Trump terlihat memberikan sebotol parfum kepada Al-Sharaa, menyemprotkannya ke tubuhnya, dan berkata: “Ini wewangian terbaik… Dan yang satunya lagi untuk istrimu.” Dengan nada bercanda, Trump kemudian bertanya: “Berapa banyak istri?”

Ketika Al-Sharaa menjawab: “satu,” tawa pun menyusul. Trump membalas: “Kita tak pernah tahu!”

Dalam kunjungan tersebut, Al-Sharaa mengatakan dia telah memberikan Trump hadiah simbolis, replika artefak kuno Suriah, termasuk apa yang dia gambarkan sebagai “alfabet pertama dalam sejarah, perangko pertama dalam sejarah, not musik pertama, dan tarif bea cukai pertama.”

Mengakui sejarah Al-Sharaa yang bergejolak, Trump berkomentar: “Kita semua punya masa lalu yang kelam, tapi dia juga punya masa lalu yang kelam. Dan saya pikir, sejujurnya, jika Anda tidak punya masa lalu yang kelam, Anda tak akan punya kesempatan.”

Al-Sharaa, 43, merebut kekuasaan tahun lalu setelah pasukan Islamisnya dengan cepat menggulingkan mantan presiden Bashar al-Assad dalam serangan kilat yang berpuncak pada 8 Desember.

Dia datang ke pertemuan itu dengan prioritasnya sendiri. Dia menginginkan pencabutan permanen sanksi yang menghukum Suriah atas tuduhan pelanggaran hak asasi manusia yang meluas oleh pemerintah dan pasukan keamanan Assad. Meskipun sanksi Undang-Undang Caesar saat ini diabaikan oleh Trump, pencabutan permanen akan mengharuskan Kongres untuk bertindak.(yn)

Video : Mengapa Jembatan Hongqi di Tiongkok Runtuh Sebelum Dibuka

Seorang insinyur mengatakan bahwa lokasi jembatan, bukan desainnya adalah cacat sebenarnya

EtIndonesia. Sebuah jembatan besar di Provinsi Sichuan, Tiongkok, runtuh pada 11 November, hanya 10 bulan setelah selesai dibangun dan sebelum sempat dibuka untuk lalu lintas.

Jembatan Hongqi memiliki panjang 820 meter dengan bentang utama 220 meter dan pilar tengah setinggi 172 meter. Pihak berwenang sebelumnya menyebutnya sebagai tonggak penting infrastruktur regional.

Media yang dikendalikan negara di Tiongkok menyalahkan tanah longsor sebagai penyebab runtuhnya jembatan tersebut.

Video yang beredar di internet menunjukkan lereng tanah yang ambruk dan bagian jalan pendekat (approach span) yang hancur, sementara bagian utama jembatan sebagian besar masih utuh.

Pada 11 November 2025 sore, Jembatan Hongqi di Prefektur Aba, Sichuan, tiba-tiba runtuh. Struktur jembatan itu jatuh ke sungai, menimbulkan debu tebal yang membumbung tinggi — pemandangannya sangat mengerikan. (Gabungan tangkapan layar dari video)

Ahli: Lokasi yang Jadi Masalah

Zhu Xueye, seorang insinyur jembatan asal Tiongkok yang kini berbasis di New York, mengatakan bahwa tanah longsorlah yang memicu kegagalan struktur tersebut.

“Kecelakaan ini dimulai dari ambruknya lereng tanah, yang kemudian menyeret bagian jalan pendekat hingga runtuh,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa bagian utama jembatan tampak masih kokoh secara struktural, namun mengkritik pemilihan lokasinya. Menurut Zhu, dari rekaman visual terlihat jelas bahwa lereng tempat jembatan dibangun memiliki riwayat tanah longsor. Karena itu, membangun jalan pendekat yang melintasi area tersebut sangat diragukan dari sudut pandang rekayasa teknik.

Membangun di medan seperti itu memerlukan studi geologi yang sangat mendetail. Zhu menjelaskan bahwa proses pengeboran, pengambilan sampel, serta analisis mekanika tanah dan batuan sangat penting untuk memastikan kestabilan. Belum jelas apakah Jembatan Hongqi telah menjalani penelitian geoteknik yang memadai.

Menurut analisis Zhu, jembatan itu dibangun di atas lereng curam dengan kemiringan antara 45–60 derajat. Bahkan batuan dasar yang stabil pun tidak dapat sepenuhnya mencegah lapisan tanah dan bebatuan di atasnya meluncur, terutama saat hujan atau perubahan musim.

Bagian jalan pendekat dibangun langsung di atas lereng yang tidak stabil itu. Zhu mengatakan cara yang lebih aman adalah meratakan bukit atau memperkuat lereng terlebih dahulu sebelum pembangunan. Namun, yang dilakukan justru mendirikan tiang-tiang di atas lereng, membuatnya rentan terhadap longsor.


Ketika Pertimbangan Politik Lebih Diutamakan

Proyek infrastruktur besar di Tiongkok sering kali sarat dengan pertimbangan politik dan ekonomi. Menurut Zhu, keputusan pejabat setempat kerap memprioritaskan kecepatan, biaya, atau prestise daerah di atas keselamatan.

“Ini sebenarnya bukan masalah teknis atau rekayasa,” ujarnya. “Ada pertimbangan politik di baliknya.”

Zhu menduga bahwa tenggat waktu, batas anggaran, atau kepentingan lokal mungkin mendorong pembangunan di area yang berisiko tinggi.

Sementara beberapa warganet Tiongkok mempertanyakan apakah kontraktor telah dibayar penuh atau apakah penghematan biaya memengaruhi kualitas, Zhu menilai dalam kasus ini tanah longsor adalah faktor penentu utama, bukan bahan bangunan atau pengerjaan yang buruk.


Risiko Serupa pada Jembatan Lain di Tiongkok

Tiongkok telah membangun ribuan jembatan di wilayah pegunungan selama beberapa dekade terakhir. Meski para insinyurnya berpengalaman, kasus seperti Jembatan Hongqi menunjukkan adanya kerentanan sistemik, menurut Zhu.

Ia memperingatkan bahwa risiko serupa juga mengancam jembatan-jembatan lain di daerah pegunungan, dan keruntuhan ini mencerminkan ketegangan antara pembangunan infrastruktur yang cepat dan standar keselamatan teknik.

Tanah longsor di daerah pegunungan sebenarnya sering dapat diprediksi, kata Zhu. Mengabaikannya dapat berakibat fatal.

Jembatan Hongqi kini menjadi pelajaran penting bagi Tiongkok. Meskipun memiliki insinyur terampil dan desain modern, pertimbangan politik, proyek yang terburu-buru, dan risiko lingkungan dapat menyebabkan konsekuensi yang menghancurkan, ujarnya.

“Proyek-proyek besar seperti ini sebenarnya tidak pernah murni masalah teknis—mereka adalah masalah politik,” kata Zhu.

“Jadi, untuk jembatan ini, saya rasa pilihan lokasinya sangat bermakna. Jika orang menelitinya nanti, mereka mungkin akan menemukan sesuatu yang penting tentang mengapa jembatan itu dibangun di sana, dan mengapa harus melintasi bukit kecil itu.”

Yi Ru berkontribusi dalam laporan ini

Sumber : Theepochtimes.com

Kisah Tiga Kehidupan Anak Penjual Kue

EtIndonesia. Alkisah pada dahulu kala, hiduplah seorang biksu tua yang ingin membangun sebuah kuil. Untuk itu, dia berkeliling mencari dana. Hari demi hari dia duduk di sudut pasar sambil melantunkan sutra. Tiga bulan berlalu, namun tidak ada seorang pun yang menghiraukannya.

Suatu hari, seorang anak laki-laki penjual kue melihat keadaan itu. Dia merasa iba dan berkata dalam hati: “Biksu tua itu sangat kasihan. Aku akan memberikan seluruh uang hasil jualanku kepadanya.”

Keesokan harinya, dia benar-benar menyerahkan seluruh uang yang dia dapat kepada sang biksu tua. Ketika warga kota mendengar hal itu, mereka merasa sangat malu. Banyak yang berkata dalam hati: “Bahkan seorang anak kecil saja tahu tergerak untuk berbuat baik dan menabur kebajikan. Masa kita tidak bisa?”

Akhirnya, seluruh warga ikut menyumbang, dan tak lama kemudian terkumpullah dana yang cukup untuk membangun kuil tersebut.

Biksu tua itu sangat berterima kasih kepada si anak. Dengan penuh kasih dia berkata: “Nak, hari ini kamu telah melakukan suatu kebajikan besar. Jika suatu hari kamu menghadapi kesulitan, datanglah ke kuil dan carilah aku.”

Anak itu mengangguk dengan gembira, lalu pulang.

Namun setibanya di tempat kerjanya, dia pulang dengan tangan kosong. Pemilik toko memarahinya habis-habisan dan mengusirnya. Sejak itu dia hidup sebagai gelandangan, mengemis untuk makan, sering kelaparan. Dia kemudian terserang penyakit kulit kuning yang sangat menyiksa, bahkan akhirnya kehilangan penglihatannya. Hidupnya benar-benar jatuh ke dalam penderitaan.

Pada puncak keputusasaannya, dia teringat kepada biksu tua itu. Dengan susah payah dia pergi menuju kuil. Saat itu, sang biksu telah mencapai tingkat pencerahan dan memiliki kemampuan batin. 

Dia sudah mengetahui bahwa anak itu akan datang. Maka dia pun memerintahkan para biksu: “Besok akan datang seorang *pelindung besar* bagi kuil ini. Kalian harus menyambutnya dengan penuh hormat. Jangan sampai ada yang bersikap lalai.”

Keesokan harinya semua biksu bersiap menyambut dengan megah. Namun sampai malam tiba, tak ada tanda-tanda kedatangan pelindung besar tersebut. 

Salah satu biksu pun bertanya: “Guru, mengapa pelindung besar tidak datang?”

Sang biksu tua balik bertanya dengan serius : “Apakah benar tidak ada seorang pun yang datang hari ini?”

Para biksu menjawab: “Ada seorang pengemis kecil datang, tetapi takut dia mengacaukan acara penyambutan, jadi kami hanya memberinya beberapa roti kukus lalu mengusirnya.”

Mendengar itu, sang biksu tua terbelalak, : “Dialah pelindung besar yang kumaksud! Cepat kejar dia!”

Anak itu yang buta berjalan sangat pelan. Tak lama kemudian para biksu berhasil menyusulnya dan membawa pulang ke kuil. Mereka mempersiapkan tempat tidur dan makanan untuk merawatnya. Namun di luar dugaan, malam itu saat dia pergi ke tempat pembuangan, dia terpeleset dan jatuh ke kolam kotoran lalu meninggal.

Semua orang terkejut dan marah: “Anak itu sudah berbuat baik, tetapi justru mati dengan cara seperti itu. Mana mungkin ada hukum karma?!”

Keesokan harinya, biksu tua mengumpulkan para umat dan menjelaskan hukum karma tiga kehidupan.

Dia berkata:

“Dalam kehidupan lampaunya, anak itu telah melakukan banyak perbuatan buruk. Dia harus menerima tiga kali akibat buruk untuk menebusnya: kehidupan pertama menderita penyakit kulit kuning yang sangat menyakitkan; kehidupan kedua kehilangan penglihatan; kehidupan ketiga mengalami kematian yang tragis. Tetapi karena pada kehidupan pertamanya dia tergerak berbuat baik—memberi sedekah dan menabur kebajikan—maka langit mengizinkan tiga karma buruk itu dibayar dalam satu kehidupan saja. Dua kehidupan berikutnya dia tidak perlu lagi menderita. Sekarang dia telah terlahir kembali di sebuah keluarga kaya raya. Itulah kebenaran karma. Dia nyata dan tidak keliru.”

Seorang yang bersungguh-sungguh menapaki jalan kebajikan, memupuk pahala, tetapi tetap mengalami banyak penderitaan, bukan berarti perbuatannya sia-sia. Itu karena hutang karma masa lalu belum lunas, sehingga ia harus menyelesaikan semua beban itu sebelum menikmati buah kebaikan.

Sebaliknya, ada orang yang berbuat jahat namun hidup mulia dan bergelimang kemewahan. Itu karena ia masih menikmati pahala besar dari kehidupan sebelumnya. Setelah pahala itu habis, barulah dia harus menanggung akibat perbuatan buruk di kehidupan ini.

**Kebaikan dan kejahatan selalu membawa akibat. Karma itu nyata.**

Maka kita harus menjaga niat yang baik, melakukan perbuatan yang baik, dan menjauhi pikiran serta perbuatan buruk—agar kita bisa menciptakan masa depan yang lebih terang bagi diri sendiri. (jhn/yn)

Iran Hampir Memiliki Senjata Nuklir? Badan Pengawas PBB Tidak Dapat Memverifikasi Stok Sejak Juni

EtIndonesia. Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) pada hari Rabu (12 November) mendesak Iran untuk mengizinkannya memverifikasi inventaris uranium yang diperkaya tinggi. Menyebutnya sebagai masalah serius, badan tersebut mengungkapkan bahwa mereka belum dapat memverifikasi kondisi pasti stok uranium Iran yang hampir setara dengan senjata nuklir sejak serangan Israel terhadap fasilitas nuklir negara itu selama perang 12 hari pada bulan Juni, menurut laporan rahasia badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa yang diedarkan kepada negara-negara anggota.

Ketegangan antara Iran dan Badan Pengawas Nuklir telah memburuk dalam beberapa tahun terakhir, dengan hubungan yang semakin memburuk setelah perang 12 hari pada bulan Juni, ketika Israel dan Amerika Serikat menargetkan situs nuklir Iran.

Dalam laporan terbarunya, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mengatakan “telah kehilangan kontinuitas informasi terkait inventaris bahan nuklir yang sebelumnya dinyatakan di Iran di fasilitas yang terdampak”, termasuk stok uraniumnya yang hampir setara dengan senjata nuklir.

Menurut IAEA, per 13 Juni, Iran diperkirakan memiliki 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen, hanya selangkah lagi dari tingkat senjata 90 persen. Lebih lanjut, IAEA menyatakan bahwa Iran adalah satu-satunya negara tanpa senjata nuklir yang mampu memperkaya uranium hingga 60 persen.

Stok uranium tersebut memungkinkan Iran untuk memproduksi hingga 10 bom nuklir. Namun, Iran telah lama bersikeras bahwa programnya bersifat damai, tetapi IAEA dan negara-negara Barat mengatakan Teheran memiliki program senjata nuklir yang terorganisir hingga tahun 2003.

Perundingan nuklir antara Iran dan negara-negara adidaya saat ini terhenti. Kesepakatan nuklir 2015 yang kini telah dibatalkan mengekang program nuklir Teheran dengan imbalan keringanan sanksi.

Pada Mei 2018, selama masa jabatan pertamanya, Presiden Donald Trump secara sepihak menarik Amerika Serikat dari JCPOA (Rencana Aksi Komprehensif Bersama), yang umumnya dikenal sebagai kesepakatan nuklir Iran. Perjanjian ini awalnya ditandatangani pada tahun 2015 antara Iran dan enam kekuatan dunia (AS, Inggris, Prancis, Rusia, Tiongkok, dan Jerman), yang bertujuan untuk membatasi program nuklir Iran dengan imbalan pencabutan sanksi internasional. (yn)

Jangan Anggap Bantuan sebagai Sesuatu yang “Sudah Sepantasnya”: Tidak Ada yang Didapat Tanpa Usaha, Setiap Bantuan Hadir karena Hubungan yang Terbangun

EtIndonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, kedekatan sering menimbulkan sikap meremehkan. Justru karena itu, kita perlu terus mengingatkan diri sendiri bahwa dalam memperlakukan keluarga, sahabat, atau pasangan, batasan relasi tetap harus dijaga dengan baik.

Ambil contoh soal “membantu dengan semampunya”. Di banyak hubungan dekat—entah dalam keluarga atau relasi romantis—“sekedar membantu” lama-kelamaan berubah menjadi sesuatu yang dianggap wajar.

Padahal, tidak ada di dunia ini yang betul-betul “tanpa usaha”. Setiap bantuan kecil pun terjadi berkat hubungan yang telah kalian bangun. Kalau bukan karena hubungan itu, orang tidak akan bersusah payah melakukan hal itu untukmu. Menganggap bantuan sebagai sesuatu yang wajib diberikan—bahkan bersikap buruk pada orang yang membantu—akan membuat mereka semakin enggan membantu lagi. Lambat laun, hubungan pun rusak.

Tentu saja, ini bukan berarti kita harus mengucapkan terima kasih secara formal seperti kepada orang asing. Namun sikap saling membantu dan sopan santun yang sewajarnya tetap perlu ditunjukkan pada waktu yang tepat.

Barulah dengan begitu, hubungan tidak mudah retak, dan kedekatan bisa terus terjaga.

Hubungan Itu Dinamis: Saling Memberi agar Tidak Timpang

Dalam psikologi, ada konsep yang disebut “reciprocity” atau prinsip timbal balik. Konsep ini menggambarkan kenyataan bahwa keseimbangan dalam hubungan selalu bergerak dan berubah—kedua pihak perlu saling memberi agar hubungan tidak menjadi timpang.

Banyak hubungan bermasalah muncul karena prinsip timbal balik ini tidak dikelola dengan baik. Misalnya dalam hubungan romansa, ketika satu pihak selalu memberi lebih banyak dari pihak lain, rasa lelah dan kehilangan diri sendiri mudah sekali muncul. Lama-kelamaan, orang yang terlalu banyak memberi bisa mencapai titik di mana ia tidak mau lagi berkorban.

Untuk mencegah hal ini, dalam setiap hubungan yang ingin kita jaga dalam jangka panjang, kita perlu sesekali memeriksa:
— Apakah hubungan ini seimbang?
— Apakah hanya dia yang terus berbuat banyak untukku?
— Bagaimana aku membalas pemberian dan perhatian darinya?

Jika perlu, cobalah membuka diri dan mengajak pasangan atau orang terdekat berbicara dengan jujur:
“Apakah kamu merasa terlalu banyak berkorban di hubungan ini sampai merasa lelah?”
“Apa ada hal yang perlu aku perbaiki? Bilang saja, tidak apa-apa.”

Kalau Merasa Terlalu Banyak Memberi, Bicarakanlah

Ingatlah, membuka diri berarti benar-benar membuka diri. Apa pun keluhan atau unek-unek yang keluar dari mulutnya adalah emosi yang valid. Itu bukan berarti kamu salah—hanya saja hubungan kalian butuh komunikasi agar keseimbangannya bisa kembali.

Sebaliknya, jika kamu adalah pihak yang selalu memberi lebih banyak, ada dua saran yang bisa dicoba:

1. Ajak orang itu melakukan sesuatu untukmu juga.

Contohnya:

  • Di kantor, jika kali ini kamu yang memesan minuman untuk semua orang, lain kali kamu bisa meminta rekan kerja yang membeli makan siang untuk sekalian membelikanmu satu porsi.
  • Dalam pertemanan, jika kamu yang pergi lebih dulu ke bioskop untuk membeli tiket, kamu bisa meminta temanmu membawakan minuman untukmu di perjalanan.

Ini cara sederhana menjaga prinsip timbal balik.

2. Jika hubungan cukup dekat, carilah waktu untuk membicarakan keseimbangan relasi.

Ungkapkan dengan tenang bahwa kamu ingin hubungan yang lebih seimbang. Namun, jika orang tersebut tetap mengabaikanmu dan tidak mau mendengar, mungkin kamu perlu mempertimbangkan kembali apakah hubungan ini benar-benar layak dilanjutkan. (jhn/yn)

Lapor Media : Ukraina Akan Memasang Dinding Pertahanan Drone Unik untuk Menghancurkan Drone Shahed

EtIndonesia. Ukraina akan segera memasang dinding pertahanan drone pertama di dunia, yang dirancang untuk menghancurkan drone serang Rusia, menurut Business Insider.

Pendiri perusahaan Barat, Atreyd, mengatakan kepada media tersebut bahwa sistem ini terdiri dari puluhan drone kecil yang membentuk “ladang ranjau drone terbang”.

Menurutnya, dinding pertahanan drone tersebut telah dikirim ke Ukraina dan diperkirakan akan segera beroperasi.

Business Insider mencatat bahwa pemasangan dinding pertahanan drone ini akan menjadi penggunaan pertama teknologi pertahanan semacam itu dalam pertempuran nyata, yang akan memberikan Ukraina tingkat perlindungan baru terhadap serangan Rusia.

Sistem ini awalnya diharapkan akan digunakan untuk melindungi kota dan infrastruktur penting, tetapi nantinya dapat dipasang lebih dekat ke garis depan — untuk mempertahankan diri dari bom udara berpemandu Rusia.

Cara Kerja Dinding Pertahanan Drone

Sebelumnya, NATO mengadakan kompetisi di Ukraina bagi perusahaan pertahanan Ukraina dan Barat untuk menemukan solusi melawan bom udara Rusia. Konsep dinding pertahanan drone Atreyd termasuk di antara para finalis.

Sistem ini terdiri dari sekelompok drone yang dikendalikan FPV yang diluncurkan dari platform ketika radar mendeteksi ancaman.

Setiap drone bertenaga baterai dan membawa bahan peledak kecil. Drone dapat diposisikan pada ketinggian yang berbeda.

Setelah lepas landas, drone membentuk “tirai” di langit yang dirancang untuk meredam serangan — drone meledak di dekat amunisi yang datang dan menetralisir ancaman.

“Kami menganggap diri kami sebagai lapisan pertahanan terakhir,” kata pendiri Atreyd.

Sistem ini menggunakan kecerdasan buatan yang memungkinkan konfigurasi “dinding” berubah secara real-time tergantung pada lintasan target yang terdeteksi. Sistem ini juga dianggap hemat biaya: satu intersepsi hanya membutuhkan biaya beberapa ribu dolar, dan drone yang tidak meledak dapat kembali ke platform mereka dan digunakan kembali.

Atreyd mengatakan sistem ini dapat beroperasi bahkan jika GPS terganggu, karena memiliki peta 3D yang telah dimuat sebelumnya dari wilayah tanggung jawabnya. Fitur ini sangat penting mengingat peperangan elektronik aktif yang umum terjadi di garis depan Ukraina.

Drone-drone ini dapat terbang hingga beberapa ribu meter dan dilengkapi dengan sistem identifikasi untuk mencegah “tembakan kawan”. Meskipun memiliki tingkat otonomi yang tinggi, operator dapat melakukan intervensi kapan saja dan secara manual memicu penghentian darurat.

Satu personel militer dapat mengendalikan sekitar seratus drone, dan mereka tidak memerlukan pelatihan khusus atau pengalaman menerbangkan drone — pelatihan dasar sistem ini sudah cukup.

Menurut Atreyd, selama pengujian, dinding drone menunjukkan efektivitas 100%, tetapi penggunaannya di Ukraina akan menjadi pengerahan pertama sistem ini dalam kondisi pertempuran sesungguhnya.

Pendiri perusahaan tidak mengungkapkan di mana di Ukraina sistem ini akan dikerahkan. Dia juga mengatakan sistemnya akan mampu melawan bahkan drone bertenaga jet Rusia.

Perusahaan telah menandatangani kontrak dengan setidaknya satu negara anggota NATO, yang memesan platform peluncur dan drone.

Intersepsi KAB (bom udara berpemandu)

Kebetulan, pada 15 Oktober, perwakilan nasional Ukraina untuk JATEC dan direktur implementasi program di Pusat Gabungan NATO–Ukraina, Kolonel Valerii Vyshnivskyi, berbicara tentang uji coba pencegat bom udara berpemandu.

Menurutnya, para pemenang kompetisi Tantangan Inovasi NATO mengusulkan teknologi baru untuk menghancurkan KAB. (yn)

Seorang Anak Memukuli Ibunya yang Berusia 93 Tahun dengan Brutal, Aksinya Memicu Kemarahan Daring di Daratan Tiongkok 

Belakang ini, sebuah video yang memperlihatkan seorang pria paruh baya di Jiangsu memukuli ibu kandungnya yang berusia 93 tahun menjadi viral dan memicu kemarahan luas netizen. 

EtIndonesia. Video yang beredar menunjukkan sekitar pukul 18.00 pada 10 November 2025, pria tersebut dengan nada keras menanyai wanita tua itu, lalu berulang kali menampar, menarik rambut, dan memukulinya. Sang lansia meraung kesakitan, namun pelaku terus memukulinya.

Setelah itu sang lansia lari ke dapur untuk berlindung, pria itu mengejarnya, menarik rambutnya, mendorongnya hingga terjatuh ke lantai, lalu melanjutkan pemukulan. Usai memukuli, pria itu kembali ke ruang tamu seolah tak terjadi apa-apa—melanjutkan main komputer dan makan—sementara masih mengumpat.

Media daratan melaporkan kejadian ini terjadi di Distrik Wujin, Kota Changzhou, Provinsi Jiangsu. Pada 11 November, pejabat setempat menyatakan bahwa pihak berwenang sedang menyelidiki; pihak-pihak dalam video memang terkonfirmasi memiliki hubungan ibu-anak, dan sebuah pengumuman resmi segera akan dikeluarkan.

Pelaku adalah anak kandung korban. Seorang saudara perempuan (putri) mengatakan sang ibu telah lama dipukuli oleh anak itu dan bahwa pihak keluarga telah melapor ke polisi. Sang putri mengatakan ini bukan pertama kali kakaknya memukul ibu; upaya untuk menasihatinya berkali-kali tak pernah berhasil, sehingga ia akhirnya mengunggah video itu ke internet.

Pada 11 November, pemerintah kota Jiaze, Kecamatan Wujin, merilis pernyataan resmi bahwa pada 10 November pukul 18:16 polisi menerima informasi bahwa Yang (nama keluarga) terlibat cekcok dengan ibunya, Chen (nama keluarga), terkait hal sepele dan kemudian melakukan penganiayaan. Saat ini, Yang telah ditangkap.

Pada 12 November, Kepolisian Cabang Wujin, Kepolisian Kota Changzhou, menerbitkan pemberitahuan bahwa Yang (55 tahun) telah ditahan secara pidana, dan sang ibu kini diambil kembali perawatannya oleh kerabat garis lurus yang lain.

Setelah video tersebar, amarah netizen meledak. Ada yang mengusulkan bergabung untuk menghajar Yang, ada yang menyerukan agar pelaku dijatuhi hukuman berat.

Komentar netizen antara lain:

  • “Berani menyerang ibu sendiri tanpa belas kasihan, menampar bertubi-tubi, menarik rambut sampai menjatuhkan—lebih hina dari binatang! Sama sekali tak berperikemanusiaan!”
  • “Di dunia ternyata ada anak seperti ini—ibu 93 tahun dipukul oleh anak kandung sendiri. Ini masih manusia? Tak ada rasa kemanusiaan! Ibu itu hampir mengorbankan nyawanya untuk melahirkan anak, tapi berakhir seperti ini—sungguh gila.”
  • “Di akhir video dia berkata ‘orang tua itu tak layak hidup’ (bunyi hinaan).” “Sungguh mengerikan! Tak bisa ditolerir — pelaku harus dihukum mati!” “93 tahun, diperlakukan seperti ini, pasti bukan kali pertama—ini keterlaluan!”
  • “Berapa banyak lansia lain yang menderita hal serupa tanpa diketahui? Memelihara anak belum tentu dapat melindungi hari tua. Ini tak bisa dimaafkan, harus dihukum berat.”

“Harus dihukum berat! Anak durhaka seperti ini adalah ibarat setan, layak dipenjara seumur hidup!”  tulisan serupa juga memenuhi kolom komentar. (Hui)

Li Enzhen/NTDTV.com

Anak Perempuan 8 Tahun di Xi’an, Tiongkok Berkeliaran di Musim Dingin dengan Sandal Jepit, Memungut Makanan karena Lapar 

Di bawah rezim Partai Komunis Tiongkok (PKT), kasus pelanggaran hak asasi manusia terus bermunculan. Baru-baru ini, kisah seorang gadis berusia 8 tahun di Xi’an yang berkeliaran di tengah musim dingin hanya dengan sandal jepit menarik perhatian luas. Netizen ramai-ramai menyatakan simpati dan mempertanyakan: “Semua dinas sosial ke mana saja?”

EtIndonesia. Pada 11 November, seorang blogger Tiongkok bernama “Qi Anna” mengunggah video yang menunjukkan seorang gadis kecil berkeliaran di Distrik Weiyang, Kota Xi’an, Provinsi Shaanxi. “Musim dingin begini dia masih pakai sandal jepit. Umurnya 8 tahun dan belum pernah sekolah. Kalau lapar, dia memungut makanan,” tulis sang blogger.

Video yang beredar menunjukkan gadis kecil itu mengenakan jaket hijau tebal dan celana yang robek dan kotor. Kakinya telanjang hanya bersandal plastik biru. Saat ditanya, gadis itu berkata ia ingin punya mainan. Ketika ditanya dimana keluarganya, dia menjawab: “Ibu sudah meninggal, ayah ada di rumah tapi tidak peduli padaku.”

Blogger itu mengatakan bahwa saat sedang mengajak anaknya bermain, ia melihat gadis kecil yang kotor itu. “Sudah delapan tahun tapi belum sekolah, kalau lapar mencari makanan sisa,” katanya. Ia mengaku sangat sedih setelah mengetahui keadaan anak tersebut dan berencana mencarinya lagi untuk memahami situasi keluarganya dan memberikan bantuan.

Media daratan kemudian melaporkan bahwa peristiwa itu terjadi di Jalan Hancheng, Distrik Weiyang, Kota Xi’an. Seorang pejabat desa tempat gadis itu tinggal membenarkan bahwa ibunya memang telah meninggal karena sakit. Di rumah masih ada seorang kakak laki-laki dan seorang adik perempuan, namun ayah mereka jarang mengurus anak-anak. Biasanya, si gadis diasuh oleh seorang kakek atau nenek di rumah.

Tentang mengapa anak itu bisa berkeliaran di musim dingin hanya memakai sandal jepit, pejabat itu menjelaskan: “Dia suka jalan-jalan keluar. Sebelumnya pernah sekolah setengah tahun, tapi berhenti dan kabur pulang.”

Netizen berkomentar penuh iba:

  • “Kasihan sekali anak ini.”
  • “Begitu banyak lembaga sosial, apa yang mereka lakukan?”
  • “Bagaimana anak ini hidup? Siapa yang menjaganya?”

Banyak juga yang mengutuk pemerintahan Tiongkok :

“Ada uang untuk memberikan beasiswa bagi mahasiswa asing, tapi anak yatim piatu dibiarkan seperti rumput liar!”
“Kalau tidak diviralkan, tidak akan ada yang peduli!”

Ada pula yang menyindir media pemerintah dengan membandingkan kasus ini dengan insiden “anak liar Yunnan”:

“Anak ini masih pakai jaket, hanya kakinya bersandal jepit, sudah langsung diberitakan. Tapi anak di Yunnan yang telanjang dan makan makanan anjing malah tidak berani disentuh.”

 “Lihat bagaimana Yunnan melaporkannya — tinggal dibilang perbedaan pendidikan, terlalu memanjakan anak, biarkan saja katanya. Begitu caranya menghindar dari tanggung jawab.”

Li Li / Zheng Yu – NTDTV.com

Bagaimana Membangun Masyarakat yang Harmonis dan Tanpa Pertikaian



EtIndonesia.
Seiring meningkatnya pendidikan dan budaya manusia, orang modern semakin memperhatikan kualitas hidup. Semua berharap dapat hidup dengan harmonis, bahagia, dan penuh kedamaian. Namun manusia hidup dalam kelompok sosial—dan di dalamnya selalu ada hak dan kewajiban, menerima dan memberi. Bila seseorang hanya memikirkan kepentingannya sendiri, maka masalah hidupnya akan terus bertambah tanpa batas.

Sumber masalah dalam hidup sangat banyak. Di dalam keluarga, suami dan istri mungkin memiliki karakter yang berbeda—bagaimana mereka bisa saling memahami?

Di masyarakat, pekerja dan pengusaha, petani dan buruh industri, semuanya memiliki posisi dan kepentingan yang tidak sama—bagaimana caranya agar bisa hidup berdampingan dan saling menguatkan?

Dalam dunia politik, partai-partai memiliki kepentingan berbeda—bagaimana mereka tetap bisa mengutamakan rakyat dan negara?

Karena setiap orang memiliki posisi dan keuntungan yang berbeda, jika kita tidak pernah mencoba melihat dari sudut pandang orang lain, maka “masyarakat harmonis dan tanpa pertikaian” hanya akan menjadi slogan kosong.

Lalu, bagaimana menciptakan masyarakat yang benar-benar harmonis?

1. Melepaskan keserakahan, kemarahan, dan kebodohan batin

Mayoritas orang mudah timbul sifat serakah ketika melihat keuntungan. Ketika sesuatu tidak sesuai keinginan, amarah pun muncul.

Jika setiap orang hanya menuntut hak pribadinya, maka perselisihan dalam keluarga, lingkungan, dan masyarakat akan semakin banyak dan sulit diselesaikan. Karena itu, langkah pertama untuk membangun masyarakat tanpa pertikaian adalah melepaskan keserakahan, kemarahan, dan ketidaktahuan.

2. Belajar mengembangkan sikap welas asih, sukacita, dan kemurahan hati

Kaya atau miskin adalah bagian dari perjalanan masing-masing orang. Namun ketika melihat mereka yang kekurangan, kita harus menolong. Ketika melihat mereka yang terkena bencana, kita perlu membantu mereka bangkit.

Dengan membantu orang melepaskan penderitaannya dan meraih kembali kebahagiaan, barulah masyarakat bisa menjadi lebih hangat dan harmonis.

3. Selalu memiliki hati yang penuh rasa syukur

 Bersyukur kepada orangtua yang telah membesarkan kita.
Bersyukur kepada guru yang membimbing kita.
Bersyukur kepada sahabat yang mendukung kita.
Bersyukur kepada negara yang melindungi hak-hak rakyat.
Bersyukur kepada semua profesi yang bekerja keras sehingga kita bisa menikmati makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, dan hiburan.

Karena hati yang penuh rasa syukur tidak mudah memperhitungkan, tidak mudah menuntut, dan lebih mudah memberi. Dari rasa syukur, muncullah kehidupan tanpa pertikaian.

Akhirnya, semua pilihan kembali kepada kita

Segala hal di dunia memiliki dua sisi:
— sisi gelap berupa kekhawatiran dan masalah,
— dan sisi terang berupa kedamaian dan kebahagiaan.

Jika kita hanya fokus pada sisi gelap—pada masalah dan keuntungan pribadi—kita tidak akan pernah melihat cahaya.

Untuk melepaskan kegelisahan, kita harus melepaskan keserakahan, kemarahan, dan kebodohan. Untuk mendapatkan kedamaian, kita harus belajar penuh welas asih, penuh sukacita, dan murah hati.

Hanya dengan dasar welas asih dan kemurahan hati, barulah masyarakat yang lembut, baik, dan penuh rasa syukur bisa lahir.

Dan hanya ketika orang hidup dengan rasa syukur dan tanpa mementingkan diri sendiri, dunia tanpa pertikaian—yang penuh keharmonisan—benar-benar dapat terwujud. (jhn/yn)

Pantai Inggris Geger: “Monster Laut Raksasa” Muncul, Panjangnya Capai 2,75 Meter

EtIndonesia. Baru-baru ini, warga di kota pesisir Worthing, di wilayah West Sussex, Inggris, dikejutkan oleh kemunculan seekor “monster laut raksasa” di pantai. Penemuan ini memicu rasa penasaran dan spekulasi di kalangan penduduk setempat.

Menurut laporan The Sun pada 5 November, kejadian itu terjadi pada 2 November, ketika Katalina Delaney, seorang pengasuh hewan peliharaan berusia 43 tahun, sedang berjalan-jalan di pantai bersama anjing kliennya. Ia tiba-tiba menemukan bangkai ikan besar berbentuk panjang yang terdampar di tepi laut.

“Saya belum pernah melihat makhluk seperti ini sebelumnya,” kata Delaney. Ia mengaku terkejut dengan pemandangan itu — makhluk tersebut tampak seperti belut raksasa, tergeletak diam di atas pasir.

Delaney kemudian mengunggah foto makhluk itu ke media sosial, yang segera memicu gelombang komentar dan rasa ingin tahu dari para netizen.

Menanggapi hal ini, Sussex Wildlife Trust (Yayasan Konservasi Satwa Liar Sussex) mengirim tim ahli ke lokasi dan mengonfirmasi bahwa “monster laut” itu sebenarnya adalah seekor belut laut jenis conger (conger eel).

Belut conger adalah ikan tanpa sisik yang biasanya berwarna abu-abu kebiruan dengan perut berkilau keemasan. Ukurannya memang sangat besar — bisa tumbuh hingga 2,75 meter panjangnya — dan dikenal karena sifatnya yang misterius serta sulit ditangkap.
Para ahli menjelaskan bahwa belut ini umumnya aktif di malam hari untuk mencari makan, sementara pada siang hari mereka bersembunyi di celah batu atau lubang pasir di dasar laut.

Seorang juru bicara lembaga tersebut menambahkan bahwa sirip punggung, ekor, dan sirip anus belut conger menyatu membentuk garis tubuh yang utuh, ciri khas spesies ini.

Belut laut jenis conger memang lebih umum ditemukan di wilayah barat Inggris, namun catatan sebelumnya juga menunjukkan bahwa banyak populasi conger eel hidup di perairan bawah dermaga West Pier, Brighton, di kawasan East Sussex.

Meski demikian, warga setempat tetap merasa takjub dengan kemunculan “monster laut” ini.

Seorang penduduk berkata: “Saya sudah tinggal di sini seumur hidup, dan tak pernah terpikir bahwa makhluk sebesar ini bisa ada begitu dekat dari pantai.”

Seorang netizen juga menulis,  “Ini seperti sesuatu yang hanya ada di film — sulit dipercaya makhluk seperti ini benar-benar hidup di laut kita!” (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Gadis Kecil yang Membuka Pintu


EtIndonesia. Saat pertama kali membaca kisah ini, mataku pun berkaca-kaca. Jujur saja, banyak orang yang saat menolong sesama tidak pernah berharap imbalan apa pun. Namun kehidupan sering kali membuktikan: kebaikan akan selalu kembali, entah cepat atau lambat.

Ada seorang pemuda miskin yang sedang berjuang mencari uang untuk biaya kuliahnya. Dia pergi ke kota lain dan berjalan dari rumah ke rumah, berjualan barang. Karena hidupnya pas-pasan, dia jarang makan dengan layak. Hingga suatu hari, rasa lapar membuat perutnya benar-benar tak tahan lagi.

Dengan sedikit ragu, dia memutuskan untuk mengetuk pintu salah satu rumah, berniat meminta sedikit makanan.

Pintu itu dibuka oleh seorang gadis kecil. Melihat wajah mungil yang polos itu, pemuda itu tiba-tiba kehilangan keberaniannya. Dia merasa malu—bagaimana mungkin seorang pria muda meminta makan pada seorang anak kecil?

Akhirnya dia hanya berkata pelan : “Bisakah aku minta segelas air putih saja?”

Gadis kecil itu memperhatikannya sejenak. Dia bisa melihat dengan jelas bahwa pemuda di hadapannya sangat lapar.

Tanpa banyak bicara, dia kembali ke dalam rumah, lalu keluar sambil membawa segelas air hangat dan beberapa potong roti.

Pemuda itu tertegun sejenak, lalu segera menerimanya dan memakannya dengan lahap. Gadis kecil itu berdiri di samping sambil tersenyum, melihat caranya makan dengan rasa iba yang bercampur geli.

Selesai makan, pemuda itu berkata dengan tulus: “Terima kasih banyak… aku harus membayarmu berapa untuk ini?”

Gadis kecil itu tersenyum : “Tidak perlu. Di rumah kami masih banyak roti seperti ini.”

Pemuda itu terdiam, menatap wajah polos gadis kecil itu. Hatinya hangat—karena di kota asing, di tengah kesulitan, dia masih bisa merasakan kebaikan seorang manusia.

Bertahun-tahun telah berlalu. Gadis kecil itu tumbuh menjadi seorang wanita muda. Namun suatu hari, dia jatuh sakit parah, menderita penyakit langka yang tak seorang pun dokter di daerahnya bisa sembuhkan.

Keluarganya putus asa, hingga mendengar kabar tentang seorang dokter terkenal di rumah sakit besar. Mereka segera membawanya ke sana, berharap masih ada harapan.

Sang dokter bekerja keras, memberikan perawatan intensif selama berbulan-bulan. Perlahan, kondisi wanita muda itu membaik, hingga akhirnya dia sembuh total.

Hari kepulangan pun tiba. Perawat menyerahkan tagihan biaya pengobatan kepadanya. Dia menatap amplop itu lama sekali, tangan gemetar. Dia tahu jumlahnya pasti sangat besar—mungkin butuh seumur hidup bekerja keras untuk melunasinya.

Akhirnya, dengan napas berat, dia memberanikan diri untuk membuka amplop itu. Namun saat matanya sampai di bagian bawah kertas, dia tertegun. 

Di kolom tanda tangan dokter, tertulis sebuah kalimat pendek: “Satu gelas air dan beberapa potong roti sudah cukup untuk membayar semuanya.”

Air matanya pun mengalir. Dia akhirnya sadar—dokter yang menolongnya selama ini adalah pemuda yang dulu pernah dia beri makan.

Makna Kehidupan:

Kebaikan tak pernah hilang di tengah jalan. Dia mungkin tersesat sebentar, tapi suatu hari akan menemukanmu kembali—dalam bentuk yang lebih indah, lebih besar, dan lebih hangat.

Jangan pernah meremehkan satu tindakan kecil yang tulus, karena bagi seseorang di luar sana, itu bisa menjadi cahaya yang menyelamatkan hidup. 

Dan mungkin, suatu hari nanti, kebaikan itu akan datang lagi mengetuk pintumu—dengan senyuman yang sama hangatnya. (jhn/yn)