Home Blog Page 1942

Dapatkah Mengonsumsi Sayuran dan Buah-buahan Memperbaiki Kondisi Sembelit?

0

An Qi

“Setelah banyak mengonsumsi sayuran dan buah-buahan, mengapa masih mengalami masalah sembelit yang serius?” Ini merupakan pertanyaan dalam benak masyarakat. Pengertian masyarakat modern terhadap sembelit dan hubungannya dengan diet/pola makan kebanyakan hanya setengah-setengah saja, berikut ini adalah hasil wawancara dengan dokter keluarga Lin Xuhua tentang 6 mitos yang sering dijumpai:

Mitos 1, tidak buang air besar setiap hari adalah sembelit

Ada yang mengatakan, tidak setiap hari buang air besar (BAB) adalah sembelit. Ada pula yang beranggapan, sekalipun terasa akan buang air besar, namun perlu mengerahkan tenaga dalam BAB, juga terhitung sembelit. Bagaimana kriteria sembelit?

Pada umumnya, BAB kurang dari 3 x dalam seminggu disebut sembelit. Meskipun dikatakan demikian, namun jika sehari beberapa kali mengbuang “tinja rembesan” (yakni BAB dengan ngedan/mengerahkan tenaga besar, namun setiap kali hanya keluar sedikit sekali dan terasa masih belum tuntas). Mungkin juga adalah sembelit.

Jika Anda ingin mengetahui apakah telah BAB dengan normal, lebih baik melihat bentuk dan warna tinja, bukan menghitung berapa kali seringnya.

Tinja yang normal adalah berwarna kuning tanah, jika mengkonsumsi banyak sayuran akan nampak kehijauan; bentuknya seperti “pisang”, memanjang namun tidak lunak juga tidak keras, berdiameter 2 – 3 cm, panjangnya 15 cm, ini adalah normal, sebaliknya adalah sembelit.

Mitos 2, banyak mengonsumsi sayuran dan buah-buahan dapat memperbaiki kondisi sembelit

Terlalu sedikit mengonsumsi sayuran dan buah-buahan mudah menyebabkan sembelit, pernyataan ini secara prinsip memang benar. Namun ada juga beberapa orang yang sering mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan juga banyak minum air, namun masih mengalami sembelit serius.

Jika ingin BAB dengan lancar, hanya mengandalkan banyak mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan tidaklah cukup, perlu juga mempertimbangkan empat aspek utama:

  1. Pemilihan konten diet yang tepat

Serat makanan, kadar air dan lemak semuanya harus lengkap. Meskipun asupan serat makanan memang penting, namun kadar air dan jumlah minyak yang tepat dapat melumasi saluran usus, sebab itu juga tidak boleh sampai kurang.

  1. Menguasai waktu emas dalam BAB

Dianjurkan untuk tidak melewatkan dua “waktu emas” buang air besar:

“Refleksi berdiri” pada saat bangun pagi: setelah bangun di pagi hari, seseorang bergeser posisinya dari berbaring menjadi berdiri tegak, pada usus besar terjadi refleksi berdiri tegak, mendorong tinja turun ke arah dubur, menyebabkan refleksi BAB.

Oleh karena itu, setelah bangun tidur sebaiknya dibiasakan pergi ke toilet berjongkok selama 5 menit.

“Refleksi lambung – usus besar” setelah sarapan pagi, juga merupakan waktu yang baik untuk BAB.

  1. Setiap hari cukup berolah raga

Setelah bangun di pagi hari, tidak ada salahnya berjalan-jalan, jogging, senam pagi dll, itu dapat membantu geliat saluran usus.

  1. Memperhatikan manajemen emosi

Rasa cemas dan tegang mudah menyebabkan gangguan pada syaraf otonomi yang dapat mengakibatkan gejala buang air besar menjadi abnormal, yang paling sering ditemukan adalah sindrom iritasi usus.

Studi telah menemukan bahwa hal mana terkait dengan stress, ketika stress, usus mulai ngambek, menyebabkan gangguan syaraf otonomi yang berakibat sindrom iritasi usus.

Dalam keadaan seperti ini, Anda dapat mulai dengan peredaan stress dalam rangka pembenahan syaraf otonomi untuk memperbaiki kondisi sembelit. (PUR/WHS/asr)

Perdana Menteri Haiti Mengundurkan Diri Akibat Demo Harga BBM

0

EpochTimsId – Perdana Menteri Haiti, Jack Guy Lafontant mengundurkan diri pada 14 Juli 2018. Guy Lafontant mundur ketika menghadapi pemungutan suara mosi tidak percaya di parlemen, setelah sebuah langkah untuk menurunkan subsidi bahan bakar mendorong unjuk rasa rusuh selama ber-hari-hari di negara Karibia yang miskin itu.

Dalam pidato di ‘Lower Chamber’ yang disiarkan langsung di televisi, Lafontant membela jabatannya. Namun, dia mengatakan bahwa Presiden Haiti Jovenel Moise telah menerima pengunduran dirinya.

“Seperti yang saya katakan, saya melayani Republik,” kata Lafontant.

Awal bulan ini, pemerintah Haiti mengumumkan pengurangan subsidi bahan bakar minyak sebagai bagian dari kesepakatan dengan Dana Moneter Internasional (IMF).

Langkah ini diterjemahkan menjadi kenaikan hingga 38 persen harga bensin dan kenaikan harga 47 persen untuk solar. Kenaikan harga memicu protes di mana para demonstran membarikade jalan, menjarah toko dan membakar mobil di ibukota, Port-au-Prince.

Kerusuhan menyebabkan kedutaan besar di negara tersebut ditutup. Maskapai penerbangan juga menangguhkan jadwal penerbangan ke Haiti selama berhari-hari.

Lafontant mengumumkan pembatalan kebijakan sementara sebagai upaya untuk memadamkan demonstrasi, tetapi protes terus berlanjut. Sebuah sidang mosi tidak percaya di parlemen dalam kepemimpinannya kemudian digelar pada 14 Juli 2018 waktu setempat, menurut Miami Herald.

IMF mengatakan pada 12 Juli bahwa mereka mengharapkan Haiti dapat membuat rencana reformasi yang direvisi. Sehingga akan termasuk pengurangan subsidi bahan bakar secara bertahap.

Lafontant adalah seorang dokter dan politisi pemula. Dia menjadi perdana menteri sejak Maret 2017, dengan rencana ambisius untuk meningkatkan produksi pertanian, meningkatkan infrastruktur dan memperluas akses pada air bersih. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

https://youtu.be/0x2fRjqhmTA

Perbedaan Reaksi Pasar Tiongkok dengan Pasar Amerika Dalam Perang Dagang

0

ANALISIS BERITA

Sejak eskalasi perang perdagangan AS-Tiongkok, pasar saham AS dan Tiongkok sebagian besar bergerak ke arah yang berlawanan.

Dinamika yang tidak biasa ini menggarisbawahi opini investor di dalam pasar Amerika dan Tiongkok, serta kekuatan ekonomi dan keuangan milik mereka masing-masing.

Sementara volatilitas telah meningkat, saham AS sebagian besar meningkat tajam sejak perang dagang tersebut meningkat. Indeks S&P 500 naik sekitar 3,2 persen sejak akhir Februari, dan naik sekitar 3,6 persen sejak akhir Mei.

Ada beberapa faktor utama yang menggembirakan di AS. Alasan utama adalah fundamental yang mendasari tetap positif di kalangan para penerbit saham AS dan para analis mengharapkan musim laba yang kuat kuartal kedua.

“Dalam pandangan kami, bahkan tindakan-tindakan keras seharusnya tidak terlalu mengimbangi fundamental perusahaan AS yang telah kuat,” kata analis JPMorgan mengenai laba kuartal kedua, menurut laporan CNBC.

Faktor lain bisa jadi sebagian besar investor mengharapkan AS memenangkan perang dagang yang sedang berlangsung tersebut. AS mengimpor barang jauh lebih banyak daripada impor Tiongkok dari AS. Dan neraca yang lebih kuat dari para importir AS yang besar dapat memungkinkan perusahaan-perusahaan Amerika untuk menahan dampak-dampak dari pertempuran tarif berkepanjangan tanpa berkorban banyak dalam penjualan-penjualan.

Data ekonomi AS terus menunjukkan kekuatan. Perekonomian menambahkan 213.000 pekerjaan pada bulan Juni, yang lebih tinggi dari yang telah diperkirakan. Federal Reserve memberikan pembaruan positif pada keadaan ekonomi AS, dalam “Laporan Kebijakan Moneter” untuk Kongres yang dirilis 13 Juli. “Sistem keuangan AS tetap jauh lebih tangguh daripada selama dekade sebelum krisis keuangan,” laporan tersebut mencatat.

Pasar Tiongkok Dibawah Tekanan

Gambaran di Samudra Pasifik jauh lebih suram.

Perang dagang yang sedang berlangsung telah menorpedo saham Tiongkok. Hingga Jumat lalu, pasar saham Tiongkok di pasar saham, Indeks Saham Gabungan Shanghai, telah turun 20,5 persen mulai tahun ini sejak titik tertinggi yang dicapai pada 24 Januari.

Pekan lalu, Kantor Perwakilan Dagang AS mengusulkan tambahan tarif 10 persen untuk sekitar $200 miliar impor Tiongkok, yang memberikan pukulan lebih lanjut terhadap prospek-prospek para eksportir Tiongkok.

Sentimen negatif berlaku di kalangan investor. “Kami terus percaya bahwa ketegangan perdagangan AS-Tiongkok tidak mungkin segera diselesaikan dan ketidakpastian dapat menyebabkan tekanan penurunan lebih lanjut pada valuasi,” analis Morgan Stanley Hong Kong Laura Wang menulis 11 Juli dalam pembaruan untuk klien.

Hal ini juga tercermin di pasar-pasar mata uang, karena dolar AS terhadap nilai tukar yuan Tiongkok (CNY) saat ini ditutup pada 6,69 pada 13 Juli, diperdagangkan di atas suku bunga People’s Bank of China yang telah ditetapkan sebelumnya sebesar 6,67.

Menambahkan Bahan Bakar ke Dalam Api

Pada tingkat makro, pengaturan waktu perang perdagangan dapat menjadi lebih buruk. Ia telah berfungsi sebagai tambahan air yang memancar di laut yang sudah bergejolak bagi para investor Tiongkok.

Pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping telah meningkatkan kekuatannya dalam beberapa tahun terakhir. Dan dalam kekuatan ini adalah mandat untuk mereformasi ekonomi domestik Tiongkok, termasuk memberlakukan langkah-langkah tidak disukai yang dirancang untuk mengendalikan kelebihan kredit dan pengambilan risiko keuangan. Tindakan-tindakan ini termasuk mengawasi perbankan bayangan (shadow banking), mengurangi nafsu pengambilan risiko di antara sektor-sektor manajemen kekayaan dan asuransi, serta membatasi utang pemerintah daerah.

Namun tindakan deleveraging seperti itu telah memperlambat pertumbuhan ekonomi Tiongkok dan meningkatkan gagal bayar utang.

Pertumbuhan investasi aset tetap Tiongkok, penggerak utama ekspansi ekonomi, meliputi real estat, konstruksi, dan investasi industri, telah melambat menjadi 6,1 persen ukuran kinerja dalam satu tahun dibandingkan dengan tahun sebelumnya pada Mei 2018, menurut Trading Economics. Metrik ini termasuk yang terendah dalam catatan, karena Tiongkok rata-rata tumbuh 20,3 persen sejak tahun 1996, dengan tertinggi 53 persen pada Februari 2004.

Kegagalan-kegagalan obligasi berada pada kecepatan untuk mencapai rekor tahun ini, yang merupakan sesuatu yang diharapkan oleh PKT dan dikelola dengan hati-hati. Namun perang dagang baru-baru ini dengan AS telah memberikan tekanan tambahan pada obligasi korporasi Tiongkok yang berdenominasi dolar. Bloomberg melaporkan pada 12 Juli bahwa hasil rata-rata junk bonds (obligasi berperingkat noninvestasi atau obligasi sampah) dolar Tiongkok telah mencapai tingkat tertinggi sejak 2015 (imbal hasil obligasi kebalikan dari harga).

“Tiongkok memiliki jumlah kredit macet terbesar di antara perusahaan-perusahaan ini yang telah dipertahankan oleh pemerintah secara mendasar,” JPMorgan Asset Management Fixed Income Strategist Oksana Aronov mengatakan pada Bloomberg TV pada 13 Juli. “Jadi Tiongkok memiliki masalah pinjaman dan kredit buruk yang signifikan. … Dan masalah tarif tidak membantu di sana.”

Di tengah latar belakang ini, perselisihan tarif dengan AS menjadi masalah serius bagi para investor Tiongkok. PKT secara historis bergantung pada pasar, dan dengan perluasan, kekayaan, merupakan penghargaan untuk memenuhi tuntutan warga negara Tiongkok.

Namun karena sentimen investor Tiongkok menurun dan lebih banyak kemerosotan yang menyakitkan termanifestasi, PKT akan menemukan keadaan yang sulit baik secara internal maupun di luar negeri. (ran)

ErabaruNews

Puluhan Remaja Bersepeda Ribuan Kilometer Serukan Kebebasan Lima Anak di Tiongkok

0

EpochTimesId – Puluhan remaja dari seluruh dunia berkumpul di Amerika Serikat. Mereka menggelar aksi ‘Ride to Freedom’ (bersepeda untuk kebebasan). Dalam aksi ini mereka akan bersepeda sejauh 3.000 mil atau sekitar 4.828 kilometer.

Kelompok remaja ini bersepeda maraton dari Los Angeles ke Washington DC. Mereka tiba di Palisades Park, pada 31 Mei 2015.

“Perjalanan sejauh 3,000 mil ini digelar untuk menyelamatkan lima anak yatim piatu di Tiongkok yang orang tua mereka dianiaya hingga meninggal karena kepercayaan mereka,” ujar Kristine Feng, remaja putri berusia 15 tahun dari Amerika Serikat.

Saat ini banyak anak-anak sedang menderita dan dipaksa menjadi yatim piatu di Tiongkok. Hal itu adalah akibat dari penganiayaan oleh Partai komunis Tiongkok (PKT) terhadap Falun Gong, yang merupakan latihan kultivasi spiritual tradisional Tiongkok.

“Ratusan anak-anak Tiongkok diambil dari rumah mereka. Mereka ditangkap tanpa dasar alasan hukum, dihukum dengan perlakuan kasar, dan bahkan disiksa sampai meninggal,” sambung Kristine.

Banyak yang terpaksa meninggalkan rumah mereka, menjadi tunawisma dan yatim piatu. Terutama setelah orang tua mereka menghadapi nasib tragis, karena berlatih Falun Gong atau Falun Dafa yang berprinsip “Sejati, Baik, dan Sabar”.

Ride to Freedom memiliki misi untuk menyelamatkan anak-anak tersebut. Selain itu, mereka juga ingin menginformasikan tentang fakta adanya penganiayaan sejak 1999 hingga saat ini di Tiongkok.

Melalui kesadaran akan penindasan dan genocida komunis di dunia, mereka berharap penganiayaan yang telah berlangsung selama 19 tahun bisa dihentikan.

Laporan terkait Hak Asasi Manusia di Tiongkok (HRIC) sudah menyatakan, “Menganiaya anak-anak atas dasar keyakinan mereka atau orang tua mereka adalah pelanggaran mendasar terhadap hak anak di bawah hukum internasional.”

Aksi Ride to Freedom. (Foto : http://www.ride2freedom.org)

Sementara itu, Falun Dafa atau Falun Gong sendiri adalah sebuah latihan jiwa dan raga dengan empat perangkat gerakan (senam) yang lembut dan sebuah perangkat meditasi. Metode tersebut diperkenalkan oleh pendirinya, Li Hongzhi pada 1992.

Pada tahun 1999, peserta latihan itu diperkirakan mencapai 100 juta orang di dalam negeri Tiongkok. Walau data jumlah pasti tidak akurat, karena ketiadaan pendaftaran dan iuran keanggotaan.

Pemimpin Partai komunis Tiongkok (PKT) kemudian melancarkan penganiayaan atas inisiatif Jiang Zemin yang keras kepala. Penindasan kemudian mengakibatkan setidaknya ribuan orang meninggal. PKT juga melakukan sensor media dan menyebarkan berbagai berita bohong (hoax) untuk membenarkan tindakan kekerasan. (Lintas Tiongkok News/wid/waa)

Lebih jauh tentang apa yang terjadi bisa dibaca pada link berikut :
https://epochtimes.id/2018/04/22/mengenang-19-tahun-permohonan-damai-peristiwa-25-april-1999-praktisi-falun-gong-di-beijing/

Simak Juga :

https://youtu.be/0x2fRjqhmTA

Tiongkok Dipaksa ‘Injak Pedal Rem’ dalam Mengejar Ambisi Ekspansi Global

0

EpochTimesId – Tiongkok telah menginvestasikan ratusan miliar dolar AS dalam proyek OBOR (jalur sutra/one belt one road). Mereka mencoba untuk meningkatkan pengaruh globalnya dengan membiayai proyek-proyek besar di Asia, Eropa Timur dan Afrika.

Tapi sekarang, Tiongkok terpaksa ‘menginjak pedal rem’ memperlambat laju program OBOR.

Dalam lima tahun terakhir, pemerintah Tiongkok berusaha membagi negara-negara yang berpartisipasi ke dalam wilayah kekuasaannya. Tapi di satu sisi Tiongkok harus menghadapi perang dagang dengan AS, sekaligus berjuang untuk mengatasi utang dalam negeri.

Tiongkok di sisi lain, menemui semakin sadarnya negara-negara miskin bahwa pembangunan infrastruktur besar proyek OBOR hanya akan membuat mereka membayar dengan harga yang sangat mahal. Dengan demikian, pemerintah Tiongkok terpaksa ‘injak pedal rem’ dalam mengejar ambisinya.

Pemerintah Tiongkok memperlambat progres proyek OBOR
Menurut data terakhir yang terkumpul dan dilaporkan oleh New York Times, jumlah kontrak proyek OBOR yang ditandatangani oleh perusahaan Tiongkok bersama pihak ketiga telah menurun dari tahun lalu. Para pejabat Tiongkok juga mengingatkan kepada perbankan di Tiongkok agar berhati-hati dalam melepas pinjaman yang terkait proyek OBOR, perbankan harus bisa memastikan apakah debitur asing mampu membayar kembali.

“Situasi internasional saat ini sangat tidak pasti. Banyak risiko ekonomi yang muncul, suku bunga pasar negara berkembang bergerak labil,” kata Hu Xiaolian, Direktur The Export-Import Bank of China (CEXIM) pada bulan Juni dalam sebuah forum.

Xiaolian menambahkan, “Perusahaan dan negara kita yang terlibat dalam kegiatan proyek OBOR akan menghadapi kesulitan keuangan.”

‘South China Morning Post’ melaporkan bahwa dalam sebuah forum yang diadakan di Guangzhou pada 12 April lalu, mantan ketua dewan CEXIM Li Ruogu mengatakan bahwa kebanyakan negara sepanjang jalur OBOR tidak memiliki kemampuan untuk membayar proyek yang mereka ikuti.

“Rasio utang rata-rata dan rasio utang negara-negara ini masing-masing mencapai 35 persen hingga 126 persen. Itu telah melampaui garis peringatan yang diakui secara global yakni sebesar 20 persen dan 100 persen,” ujar Ruogu.

The New York Times mengutip ucapan sumber yang mengetahui masalah itu, memberitakan bahwa pemerintah Tiongkok sekarang mulai memeriksa berapa banyak transaksi yang telah dicapai oleh perusahaan Tiongkok peserta proyek OBOR? Apa saja persyaratan pembiayaannya ? Dan negara mana saja yang terlibat?

Para pejabat AS dan Eropa sudah lama khawatir bahwa OBOR mewakili Tiongkok untuk berebut kekuasaan dalam diplomasi dan ekonomi dengan negara-negara Barat. Untuk melayani tujuan jangka panjang Tiongkok.

Di bawah rencana OBOR, bank-bank yang dikendalikan pemerintah Tiongkok memberikan pinjaman dalam jumlah besar kepada negara-negara lain untuk proyek-proyek infrastruktur raksasa. Termasuk proyek kereta api berkecepatan tinggi, jalur kereta api dan pembangkit listrik.

Dana (pinjaman) ini sering disertai dengan syarat, “Perusahaan Tiongkok harus terlibat dalam perencanaan dan pengkonstruksian proyek. Oleh karena itu, perusahaan Tiongkok akan memperoleh banyak bisnis.”

Namun sekarang, ekonomi Tiongkok mulai menunjukkan tanda-tanda melambat, dan di bawah kesuraman perang dagang dengan AS, otoritas Beijing juga berjuang untuk mengatasi tumpukan hutang macet di dalam negeri. Pada saat seperti ini, memberikan pinjaman kepada negara lain adalah tidak tepat.

Banyaknya proyek luar negeri memiliki potensi untuk menciptakan aset ‘gajah putih besar’ (suatu aset berbeban mahal tetapi gagal dalam memenuhi harapan keuntungan) yang berdampak memperlemah kemampuan perusahaan Tiongkok beserta mitra lokal mereka.

Tahun ini, beberapa pejabat Tiongkok mulai muncul kekhawatiran terhadap pembayaran kembali pinjaman para debitur proyek OBOR. Yi Gang, Gubernur Bank Sentral Tiongkok mengingatkan pada bulan April, “Tidak kalah penting untuk memastikan keberlanjutan (sustainability) dari pinjaman yang diberikan.”

Menurut data resmi bahwa proyek baru OBOR mengalami penurunan. Dalam lima bulan pertama tahun 2018, kontrak yang ditandatangani perusahaan Tiongkok adalah sebesar 36,2 miliar dolar AS, menurun 6 persen dari periode yang sama tahun lalu.

“Saya merasakan bahwa antusias Tiongkok tahun ini pada proyek OBOR menurun dibandingkan dengan tahun lalu,” kata Eswar Prasad, Ekonom Cornell University dan mantan kepala IMF devisi Tiongkok kepada New York Times.

Ketidakpastian dalam prospek ekonomi global, perang dagang AS-Tiongkok dapat menggoyahkan kepercayaan dan menghambat pertumbuhan ekonomi. AS telah menaikkan suku bunga jangka pendek yang membuat pinjaman lebih mahal.

Proyek OBOR kian menimbulkan kecurigaan dari lembaga-lembaga internasional. Mereka memperingatkan bahwa negara berkembang jangan sampai dibebani dengan utang yang berlebihan.

Ketua Dana Moneter Internasional, Christine Madeleine Odette Lagarde pada bulan April tahun ini mengatakan, “Inisiatif Satu Sabuk Satu Jalur (OBOR) seharusnya diterapkan pada negara yang benar-benar membutuhkannya.”

Tiongkok sedang mencoba untuk membentuk kembali tatanan ekonomi global
Dokumen Strategi Keamanan Nasional yang dikeluarkan oleh pemerintahan Trump pada bulan Desember tahun lalu mengungkapkan bahwa Tiongkok komunis sedang berupaya menggunakan investasi infrastruktur dan strategi perdagangan untuk mencapai tujuan geopolitiknya.

Laporan ‘New York Times’ menyebutkan, Tiongkok telah memperoleh peningkatan pengaruh melalui proyek OBOR mereka dengan membangun rel kereta api dan pelabuhan di Afrika, Asia dan Eropa. Tiongkok menginvestasikan 1 triliun dolar AS dalam proyek infrastruktur di 60 negara, dengan maksud untuk membentuk kembali tatanan ekonomi global dan menempatkan negara-negara yang berpartisipasi ke dalam lingkup pengaruhnya.

Amerika Serikat dan sekutunya di Asia dan Eropa telah bersikap lebih berhati-hati terhadap inisiatif Tiongkok termaksud, mereka juga khawatir jatuh ke dalam perangkap Tiongkok. Australia adalah salah satu negara yang menolak bergabung dengan program ini.

Pada bulan Desember tahun lalu, hanya dalam beberapa minggu, Pakistan, Nepal, dan Myanmar mengkonfirmasikan bahwa mereka membatalan kontrak kerjasama proyek pembangkit listrik tenaga air utama dengan perusahaan-perusahaan Tiongkok yang terkait proyek OBOR.

Ketiga negara tersebut memiliki alasan politik atau ekonomi yang berbeda di balik pembatalan proyek itu. Namun, faktor umumnya adalah bahwa negara-negara miskin semakin sadar bahwa pembangun proyek-proyek infrastruktur besar yang dilaksanakan Tiongkok hanya akan membuat mereka membayar harga yang sangat tinggi.

Ketika utang tidak dapat dibayar, negara debitur akan menghadapi dilema penyerahan aset kepada pemerintah Tiongkok. Pada bulan Desember tahun lalu, Sri Lanka secara resmi menyerahkan pelabuhan strategis Hambanthota kepada Tiongkok karena tidak mampu membayar utang yang berat kepada negara komunis tersebut.

Media asing berkomentar bahwa inilah target yang akan dicapai Tiongkok komunis melalui menabur uang ke luar negeri. Yakni mengimplimentasikan imperialisme. (Qin Yufei/EW/Sinatra/waa)

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

https://youtu.be/0x2fRjqhmTA

Pemerintah Mendorong Industri Nasional Perlu Optimalkan Manfaat GSP dari Amerika Serikat

0

Epochtimes.id- Pemerintah mendorong industri nasional yang belum memanfaatkan skema generalized system of preferences (GSP) yang ditetapkan Amerika Serikat, agar dapat mengoptimalkannya.

GSP merupakan kebijakan untuk memberikan keringanan bea masuk terhadap impor barang-barang tertentu dari negara-negara berkembang.

“Jadi, produk-produk yang GSP-nya belum termanfaatkan, perlu kita sosialisasikan dan dorong supaya dimanfaatkan secara maksimal,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Kamis (12/7/2018).

Komoditas nasional yang memiliki keunggulan untuk masuk ke pasar AS, antara lain sayuran, bahan mentah agrikultur, perkayuan, stainless steel, karet, alas kaki, tekstil dan pakaian, serta barang konsumen.

Saat ini, Presiden AS Donald Trump tengah mengkaji kebijakan GSP tersebut karena dinilai membuat neraca perdagangan Negeri Paman Sam itu defisit. Program ini telah berlangsung sejak 1976, tetapi sempat dihentikan pada 2013 dan kembali diberlakukan pada Juni 2015.

Menurut Airlangga, pemerintah AS selalu meninjau ulang skema GSP secara periodik dalam kurun tiga tahun sekali. Tahun ini, Trump akan mengevaluasi sekitar 124 produk ekspor asal Indonesia, termasuk tekstil, plywood, kapas, serta beberapa hasil perikanan seperti udang dan kepiting.

Evaluasi itu dilakukan guna menentukan produk apa saja yang masih layak menerima GSP.

Apabila hasil dari evaluasi tersebut merekomendasikan Indonesia tidak lagi berhak atas fasilitas GSP, maka manfaat program tersebut yang sudah diterima Indonesia akan dihapuskan segera setelah rekomendasinya ditandatangani Trump sekitar November 2018 sampai awal tahun 2019.

Tahun 2011, Indonesia adalah satu dari lima negara yang menikmati manfaat terbesar dari GSP AS, selain India, Thailand, Brasil, dan Afrika Selatan. Namun, sejak April lalu, AS mempertimbangkan ulang pemberian fasilitas itu untuk Indonesia dan India, terutama dari sudut pandang akses produk mereka di dua negara tersebut.

Menperin pun meminta agar pelaku industri di dalam negeri tidak perlu khawatir dengan kondisi tersebut.

“Komunikasi kami terus berjalan dengan Pemerintah AS. Pemerintah Indonesia juga akan melakukan sosialisasi terhadap eksportir kita yang produknya masuk ke dalam lingkup GSP,” paparnya.

Lebih lanjut, Airlangga menegaskan, pemerintah fokus memperkuat perekonomian nasional dengan menjaga kestabilan politik, pendidikan dan keamanan. “Kami akan memberi ketentraman kepada pelaku industri nasional agar iklim investasi bisa terus terjaga. Selain itu, berupaya untuk meningkatkan ekspor dan mengembangkan substitusi impor supaya perekonomian kita semakin kuat,” tuturnya.

Di tempat terpisah, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Shinta Widjaja Kamdani menjelaskan, negara yang memiliki program GSP memiliki diskresi untuk menentukan negara mana dan produk apa yang akan memperoleh manfaat GSP dari negaranya.

“Saat ini, Indonesia memperoleh manfaat GSP dari beberapa negara seperti AS, Uni Eropa dan Australia,” terangnya.

Untuk GSP dari AS, pemotongan tarif bea masuk ini diberikan kepada 5.000 produk dari total 13.000 jenis produk yang dikenal oleh pemerintah AS. GSP AS ini memiliki tiga kategori manfaat, yakni kategori A, kategori A* dan kategori A+.

Adapun, Indonesia masih memperoleh manfaat GSP AS dalam kategori A yang memberikan pemotongan tarif bea masuk di AS untuk 3.500 produk, termasuk sebagian produk agrikultur, tekstil, garmen dan perkayuan. “Namun tidak semua produk ekspor Indonesia memperoleh manfaat GSP AS,” ungkapnya.

Shinta memaparkan, berdasarkan laporan GSP AS tahun 2017, Indonesia hanya memperoleh manfaat GSP sebanyak USD1,8 miliar dari total ekspor Indonesia ke AS pada tahun 2016 sebesar USD20 miliar. Itu artinya sebagian besar produk ekspor unggulan Indonesia tidak memperoleh manfaat GSP.

Lebih lanjut, tidak semua produk asal Indonesia yang mendapat manfaat GSP dari AS diekspor ke negara tersebut. Manfaat GSP AS untuk Indonesia akan diberikan hingga Indonesia tidak lagi menjadi penerima GSP AS, dengan kriteria sudah melampaui ambang batas Competitive Need Limitation (CNL) yang ditentukan atau hingga periode program GSP berakhir pada 31 Desember 2020.

Proses evaluasi ini dijadwalkan akan berlangsung hingga akhir tahun 2018. Apabila Indonesia tidak lagi menjadi penerima GSP, produk ekspor Indonesia ke AS yang saat ini menerima GSP akan dikenakan bea masuk normal (MFN) oleh AS seperti sebagian besar produk ekspor Indonesia ke AS.

Menurut Shinta, jika Indonesia tidak mendapatkan perpanjangan insentif tersebut dari AS, kinerja ekspor ke Negeri Paman Sam akan terpengaruh kendati selama ini surplus neraca perdagangan bilateral diraup oleh RI. Salah satu penyebab surplus neraca perdagangan Indonesia terhadap AS senilai USD130 miliar pada 2017 adalah berkat kebijakan GSP berupa pemotongan tarif bea masuk hingga 0 persen. (asr)

Kalah Penguasaan Bola Prancis Juara Piala Dunia 2018

0

EpochTimesId – Tim Nasional Prancis berhasil mengukuhkan diri sebagai tim nasional terbaik di dunia. Prancis keluar sebagai juara Piala Dunia 2018 setelah mengalahkan timnas Kroasia di babak Final, Minggu (15/7/2018) malam.

Hugo Lloris CS berhasil menang 4-2 atas skuad asal Eropa timur di Luzhniki Stadium, Moskow, Rusia. Prancis pun berhasil menjadi juara untuk yang kedua kalinya sepanjang keikutsertaannya di turnamen sepakbola paling bergengsi di dunia itu.

Prancis sendiri sesungguhnya bermain tertekan dan kalah dalam penguasaan bola sepanjang jalannya laga. Kroasia menguasai 66 persen penguasaan bola, sementara Prancis hanya 34 persen.

Bahkan, Mandzukic CS seringkali memberi tekanan maksimal, sehingga kerap kehilangan bola. Mereka memiliki catatan 83 persen passing akurat, sementara Prancis hanya 68 passing yang akurat.

Namun, negara Balkan itu kesulitan menembus rapatnya pertahanan negara Eropa barat itu. Mereka juga kalah dalam memanfaatkan momentum dan peluang mencetak gol yang diperoleh.

Gol pertama dalam laga ini tercipta berkat aksi bunuh diri Mario Mandzukic pada menit ke-18. Mandzukic salah menyundul bola tendangan bebas Antoine Griezmann, karena terlalu tipis. Alhasil, bola menghujam gawang sendiri.

Kroasia menyamakan kedudukan pada menit ke-29. Ivan Perisic mencetak gol indah dari luar kotak penalti dengan kaki kiri, setelah beberapa peluang membentur tiang gawang dan barisan pertahanan lawan.

Prancis mendapat hadiah penalti pada menit ke-37. Ivan Perisic dinilai menyentuh bola dengan tangan yang bergerak aktif, setelah wasit melihat video siaran ulang VAR (Video Assistant Referee). Griezmann berhasil menjalankan tugas dengan baik.

Memasuki babak ke-dua, Kroasia semakin kalap menggempur Prancis. Sayangnya mereka melupakan kemampuan Prancis melakukan serangan balik.

Melalui skema serangan balik, Paul Pogba menggandangan keunggulan pada menit ke-59. Dan kemudian Kylian Mbappe pada menit ke-65. Skor 4-1 untuk anak asuh Didier Deschamps.

Kroasia berhasil memperkecil ketertinggalan menjadi 2-4 pada menit ke-69. Mario Mandzukic memanfaatkan kecerobohan kiper Prancis, Hugo Lloris.

Susunan Pemain :
Prancis : 1-Hugo Lloris, 2-Benjamin Pavard, 4-Raphael Varane, 5-Samuel Umtiti, 21- Lucas Hernandez; 13-N’Golo Kante, 6-Paul Pogba; 10 Kylian Mbappe, 7-Antoine Griezmann, 14-Blaise Matuidi; 9-Olivier Giroud.
Pelatih: Didier Deschamps.

Kroasia : 23-Danijel Subasic; 2-Sime Vrsaljko, 6-Dejan Lovren, 21-Domagoj Vida, 3-Ivan Strinic; 11-Marcelo Brozovic, 7-Ivan Rakitic; 18-Ante Rebic, 10-Luka Modric, 4-Ivan Perisic; 17-Mario Mandzukic.
Pelatih: Zlatko Dalic.

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

https://youtu.be/0x2fRjqhmTA

Kim Jong-Un Berulah – Denuklirisasi Tak Menentu – Bagaimana Reaksi Balasan Trump?

Tang Hao

Kemenlu AS Mike Pompeo baru-baru ini berkunjung ke Korut, untuk membicarakan detil pelaksanaan denuklirisasi sesuai kesepakatan denuklirisasi, namun hasilnya sungguh mencengangkan.

Terhadap pihak asing sebelumnya Pompeo menyatakan perundingan selama dua hari itu “sangat produktif”; namun setelah itu Korut menyampaikan pernyataan terhadap pihak luar yang menyebutkan keseluruhan proses rapat itu “sangat disesalkan”, dan menuding pihak AS “secara sepihak dan menuntut (Korut) secara paksa untuk melakukan denuklirisasi”, membuat hubungan kedua negara dalam kondisi “bahaya” dan “menggoyahkan niat kami untuk denuklirisasi”.

Kesampingkan dulu penolakan yang kerap digunakan partai komunis dari mulut Korut yang “bertolak belakang” dan “memutarbalikkan fakta”, informasi sebenarnya yang terlontar dari pernyataan pejabat Korut tersebut adalah, apakah Kim Jong-Un tidak berniat denuklirisasi?

Selain itu, sejak awal sampai berakhirnya kunjungan Pompeo, Kim Jong-Un sama sekali tidak menemuinya, ini menunjukkan Korut mungkin berniat memotong kesepakatan pada pertemuan Trump-Kim — atau, lebih jelasnya, Korut sepertinya mulai ingkar janji.

Beberapa hari berturut-turut masyarakat internasional terus mendapati pihak Korut masih terus mengembangkan senjata nuklir dan memproduksi bahan bakar senjata nuklir. Anggota kongres Korsel bahkan mengungkapkan, di Hamgyeongnam-do kota Sinpo Korut tengah membangun kapal selam yang bisa mengangkut rudal nuklir, ancaman terhadap masyarakat internasional semakin meningkat.

Berbagai fenomena menunjukkan, Kim Jong-Un tidak menerima niat baik Trump pada pertemuan Trump-Kim lalu, dan sepertinya bertindak berlawanan. Akan tetapi, akhir seperti ini sudah diduga sebelumnya, dan juga sudah diperhitungkan oleh Trump.

Seperti penulis jelaskan pada artikel sebelumnya, Trump sangat memahami antara PKT dan Korut saling memanfaatkan, yang selama ini memanfaatkan masalah nuklir Korut untuk membohongi dan memeras negara lain, namun Trump tetap berharap memberi kesempatan bagi Kim Jong-Un yang masih muda, sehingga setuju untuk menggelar pertemuan Trump-Kim, untuk menjajaki sendiri sikap Kim Jong-Un secara tatap muka langsung.

Tapi kini, sepertinya bisa dipastikan, “koor” konspirasi RRT dan Korut pada dasarnya tidak berubah, Korut sepertinya tidak berniat denuklirisasi, hanya memanfaatkan “denuklirisasi” ini untuk mempersiapkan diri, dan bermain tarik ulur dengan pemerintah Trump.

Di satu sisi mengulur waktu sambil terus mengembangkan senjata nuklir; dan di sisi lain, Korut bersekutu dengan Beijing, berusaha meringankan sanksi ekonomi terhadap Korut, dan membuat AS mengalah dalam Perang Dagang dengan PKT.

Konspirasi licik dan tidak bisa dipercayanya PKT dan Korut itu, tidak hanya membuat masyarakat dunia kembali menyaksikan kejahatan dan sifat tak tahu malu para rezim komunis, juga membuat dunia berpikir: bagaimana AS akan bertindak, untuk meng-counter kedua komunis bersaudara yang berbahaya ini?

Berikut ini ada beberapa kemungkinan:

  1. Meningkatkan Sanksi Secara Menyeluruh, Beri Tekanan Ekstrim

Sebelum dan sesudah pertemuan Trump-Kim, beberapa kali Trump meluruskan, sebelum tercapai kesepekatan denuklirisasi CVID (denuklirisasi yang komprehensif, dapat diverifikasi, dan tidak dapat diputar-balik) dengan Korut, sanksi ekonomi terhadap Korut tidak akan dilonggarkan.

Sebaliknya, jika Korut tidak berniat denuklirisasi, pemerintah Trump telah mempersiapkan ratusan sanksi ekonomi baru untuk mengimbangi permainannya. Oleh karena itu, meningkatkan sanksi ekonomi secara menyeluruh, memberi tekanan ekstrim bagi Korut, sepertinya akan menjadi reaksi balasan pertama dari pemerintah Trump.

Tapi karena Beijing dan Rusia saat ini diam-diam masih memasok minyak bumi dan komoditi untuk membantu Korut, maka apakah sanksi ekonomi yang baru bisa ditingkatkan dan diterapkan atau tidak, mungkin RRT akan berusaha menghalanginya.

  1. Akhiri Perang Dagang Dengan PKT, Bersekutu Blokade Korut

Jika pihak AS beranggapan, Korut yang bermain api dengan senjata nuklir itu berpotensi “bahaya yang bersifat jelas dan segera” (clear and present danger), mungkin akan memilih untuk meredakan perang dagang dengan PKT, mengakhiri perang dagang, untuk mengumpulkan kekuatan PKT dalam menghadapi Korut.

Akan tetapi pilihan ini justru akan terjerumus dalam jebakan “perangkap ganda” yang sengaja dirancang oleh PKT dan Korut — memanfaatkan pemikiran AS “memilih yang teringan dari dua akibat terburuk”, memaksanya berdamai dengan salah satu antara RRT dan Korut, lalu bersekutu melawan pihak lain, tapi justru karena itu akan menjadi sasaran pemerasan dan sandera bagi pihak RRT dan Korut yang bersekutu.

Trump yang berlatar belakang pengusaha berpengalaman, sudah sangat memahami taktik perang psikologis seperti ini, jadi tidak mungkin akan memilih opsi ini. Apalagi pihak RRT juga menghalangi Korut mendekati AS, sehingga PKT tidak mungkin akan bekerjasama sepenuhnya dengan AS dalam aksi pemberian sanksinya.

Walaupun secara verbal setuju, tetap dikhawatirkan tindakannya tidak sesuai dengan ucapan, dan diam-diam terus memberikan berbagai bantuan ekonomi, militer, dan komoditi bagi Korut.

  1. Akui Korut Memiliki Senjata Nuklir, Lebih Fokus Perang Dagang AS-RRT

Sebagian pakar Barat berpendapat, secara jangka panjang, ancaman RRT lebih berpotensi merusak dibandingkan Korut, oleh karena itu mereka berpendapat pihak AS akan mentolerir Korut memiliki senjata nuklir dan mengakui Korut sebagai “negara nuklir”.

Tapi opsi ini kembali akan menjerat AS ke dalam “perangkap ganda” RRT-Korut. Walaupun menjadikan Korut sebagai anggota negara pemilik senjata nuklir secara sah, tapi selama konspirasi RRT-Korut tidak bisa dipecahkan, maka Korut akan tetap mencari alasan berbuat onar dan menjerat AS, untuk meredakan krisis yang mengancam sang kakak PKT, menetralisir tekanan terhadap PKT, membuat AS terpaksa terlibat dalam perang dua arah, menguras stamina AS yang akan kelelahan, hingga akhirnya tak berdaya dan terpaksa berkompromi atau terjebak ke dalam konflik tak berujung.

Mungkin ada yang berpendapat, bisa membuat kesepakatan lagi dengan Korut, membatasi skala dan jumlah senjata nuklirnya, atau bahkan menetapkan aturan dan syarat pengawasan senjata nuklir, dengan demikian bisa mencegah Korut mengembangkan senjata nuklir secara tak terbatas, atau menyalah-gunakan senjata nuklir untuk mengancam dunia.

Tapi menilik pelajaran sejarah selama puluhan tahun ini, membuat kesepakatan apa pun dengan rezim komunis, akhirnya selalu hampa. Karena rezim komunis selalu mengandalkan kebohongan, konflik dan kekerasan, tidak ada ketulusan di dalam tulang sumsumnya, dan bagi Trump, kepercayaan adalah pondasi untuk membicarakan segala transaksi.

Tanpa saling percaya, semuanya percuma. Apalagi, mengakui Korut sebagai “negara nuklir” ibarat mengakui dedengkot mafia sebagai perwira militer yang sah, maka dalam hal ini tidak hanya Amerika yang akan dicurigai di dalam maupun luar negeri sehingga berdampak pada pamor negaranya, tapi juga akan sangat merugikan pemerintahan Trump dalam kelanjutan menindak masalah senjata nuklir Iran.

Akibatnya mungkin akan membuat Korut dan Iran terus memperluas ancamannya terhadap wilayah Asia Timur dan Timur Tengah, serta diam-diam akan melibatkan RRT, sehingga semakin tidak menguntungkan bagi keamanan AS maupun dunia internasional.

  1. Gunakan Opsi Militer, Musnahkan Senjata Nuklir Korut

Menggunakan kekuatan militer AS yang besar untuk memusnahkan kekuatan militer Korut secara total mungkin paling tuntas. Namun unit intelijen AS memperkirakan, Korut mungkin memiliki 65 buah hulu ledak nuklir, dan zona penyebaran senjata nuklirnya sangat tidak transparan, tidak mudah untuk dimusnahkan semuanya dalam waktu singkat.

Apalagi, begitu Korut berkesempatan melawan dengan senjata nuklirnya, sangat mungkin yang jadi korban adalah warga sipil dari Jepang, Korsel dan sebagaian wilayah timur laut RRT, dengan cakupan wilayah mencapai puluhan juta jiwa, ini juga menjadi pertimbangan dan kekhawatiran utama Trump sebelum memilih opsi militer.

Apalagi, Korut belum bersikap menyerang, juga belum menunjukkan tanda-tanda akan melakukan serangan, jika pasukan AS bertindak lebih dulu, tidak hanya akan memicu kritik, bahkan PKT pun akan mendapat peluang untuk kembali mengirim pasukan membantu Korut berperang, ini justru akan membuat skala perang semakin meluas, situasi akan semakin rumit.

Oleh sebab itu, jika bukan kondisi darurat atau sangat khusus, Trump yang berwajah keras berjiwa pemaaf itu tidak akan semudah itu melakukan agresi militer.

  1. Kerahkan Serangan Militer Akurat, Putus Jalur Logistik Korut

Kenyataannya, untuk melepaskan diri dari perangkap ganda RRT-Korut, harus melakukan tekanan perlawanan secara bersamaan, tidak bisa kompromi bekerjasama dengan salah satu dari kedua penipu ini.

Oleh sebab itu AS bisa terus menekan PKT dengan perang dagang, melakukan perang jangka panjang, menekan habis ekonomi PKT yang rapuh, lalu menggoyahkan sosial, politik dan keuangannya, memaksa PKT tertekan dari luar dan dalam, sehingga terpecah kekuatannya.

Di sisi lain, bersama dengan masyarakat internasional AS bisa meningkatkan sanksi ekonomi terhadap Korut, dan mengerahkan kekuatan militer terbatas untuk menyerang Korut secara akurat, menghancurkan semua jalur pasokan logistik RRT ke Korut atau Rusia ke Korut (seperti jembatan, jalan raya, terowongan tersembunyi dan lain sebagainya), korban tewas dan cedera bisa ditekan seminim mungkin; di saat yang sama mengirim AL ke wilayah perairan Korut untuk memblokade semua penyelundupan dari RRT dan Rusia atau negara lain ke Korut. Opsi ini, berisiko paling minim bagi Amerika, juga memenuhi prinsip proporsional, juga berkontroversi paling minim, dan juga bisa meminimalisir jumlah korban tewas dan cedera sampai paling rendah.

Setelah semua jalur pasokan RRT dan Rusia ke Korea Utara diputus, maka Korut akan semakin terkucilkan, yang dapat berakibat tekanan yang lebih serius terhadap Kim Jong-Un.

Jika Kim Jong-Un tidak tahan terhadap tekanan ini dan melakukan serangan militer, maka AS akan bisa balas menyerang dengan alasan yang kuat, dalam waktu paling singkat dapat melumpuhkan kekuatan militer dan juga rezim Kim Jong-Un, bahkan bisa langsung melakukan aksi “eksekusi” terhadap Kim Jong-Un.

Aksi militer ini tidak hanya akan sah di seluruh dunia, juga mungkin akan membuat PKT tidak sempat memberi bantuan bagi Korut bila aksi militer AS cukup cepat, menghindari perang berkepanjangan, yang berpotensi berubah menjadi “Perang Korea Jilid II”.

  1. Serangan Tak Terduga yang Melumpuhkan, Kartu As HAM Dapat Ubah RRT

Dalam buku “Kitab Perang Sun Tzu” disebutkan: “Bagi pihak yang menyerang, menggunakan pasukan reguler bertempur frontal, namun memenangkan pertempuran dengan serangan tak terduga oleh pasukan khusus. Maka bagi yang mahir menyerang tak terduga, peluangnya seluas langit dan bumi, tak terbendung ibarat samudera.”

Trump juga pernah mengatakan, “Saya tidak ingin orang lain tahu apa yang saya perbuat, atau apa yang saya pikirkan. Saya suka membuat orang merasa saya sulit ditebak, karena itu akan membuat mereka kehilangan keseimbangan.”

Menilik kembali karir Trump puluhan tahun di bidang bisnis dan karir politik Trump yang hanya setahun setengah, tidak sulit untuk melihat gaya dirinya yang “sulit ditebak”, dan “menang secara tiba-tiba”.

Ditambah lagi pengalaman negosiasi jangka panjang Trump yang memiliki karakter pemikiran yang cepat, reaksi yang sigap, dan penuh inovasi, maka dalam hal mengatasi masalah Korut dan RRT-Korut, Trump mungkin masih memiliki jurus simpanan yang sulit diprediksi pihak luar.

Setidaknya, di tangan Trump masih ada satu kartu As “kelas nuklir”. Jika kartu ini dikeluarkan, tidak hanya akan menekan PKT sampai tak berkutik, mungkin juga akan membantu Partai Republik memenangkan pemilu jangka menengah pada akhir tahun ini.

Kartu as ini, disebut HAM.

Tanggal 6 Februari 2012, di Tiongkok terjadi “Peristiwa Wang Lijun” yang menggemparkan kalangan birokrat, mantan Kepala Biro Keamanan kota Chongqing Wang Lijun melarikan diri ke Konjend AS di Chengdu, mengungkap rahasia rencana kudeta oleh kubu Jiang Zemin, perampasan organ tubuh Falun Gong dan lain-lain kepada Amerika.

Di tahun yang sama tanggal 26 April Kemenlu AS diam-diam melaporkan peristiwa Wang Lijun pada Kongres. Dengan kata lain, pemerintah AS telah mengetahui kejahatan anti-kemanusiaan PKT berupa perampasan organ tubuh hidup-hidup itu, hanya saja, pemerintahan sebelumnya tetap bungkam terhadap penindasan HAM yang tak berperikemanusiaan ini.

Jika pemerintah Trump mempertimbangkan strategi “menaklukkan pasukan lawan tanpa berperang”, dan berniat menekan RRT dengan cara non-militer, bahkan memaksa PKT runtuh dan bertransformasi, maka mengungkap kejahatan PKT merampas organ tubuh adalah pedang keadilan yang paling kuat, paling damai, paling sesuai kehendak Ilahi dan umat manusia.

Apalagi baru-baru ini, di dunia kedokteran internasional, Beijing masih bebas menyusup, berupaya mendapat dukungan dari kalangan kedokteran, dengan menutupi kejahatan perampasan organ tubuh yang dilakukan.

Jika pemerintah Trump mengumumkan fakta perampasan organ yang ada di tangan AS, menghimbau seluruh dunia melindungi HAM dan menghentikan penindasan tersebut, maka tidak hanya dengan mudah memenangkan dukungan dan simpati dunia terhadap nilai universal Trump, sekaligus juga membuat milyaran rakyat Tiongkok melihat jelas kedok partai komunis yang selama puluhan tahun ini telah membodohi mereka dengan dusta, yang kemudian akan mendorong rezim PKT ke ambang kehancuran, sehingga ada harapan terbentuk situasi baru di Tiongkok.

Di saat yang sama, warga AS juga akan meragukan, mengapa pemerintahan sebelumnya bungkam terhadap penindasan kejam itu? Masyarakat internasional juga akan meragukan PBB mengapa diam saja? Banyak fakta di balik layar akan terungkap satu persatu.

Dan lebih lanjut, siapa yang berani tampil maju mengungkap kejahatan HAM PKT merampas organ tubuh dan menghentikan penindasan serta menegakkan keadilan, maka dialah yang akan meraih kehormatan yang belum pernah ada sebelumnya, bahkan akan meraih kekuasaan untuk membentuk kembali ketertiban internasional.

Kartu As super ini, apakah akan dikeluarkan oleh Trump? Saat ini belum bisa diketahui. Tapi menghadapi konspirasi rezim komunis PKT dan Korut, Trump harus mengeluarkan jurus mendadak/tak terduga untuk meraih kemenangan, agar dapat mendobrak jebakan ganda RRT-Korut, dan menetralisir krisis nuklir Korut, sehingga dapat mengikis habis ancaman bahaya yang diakibatkan rezim komunis terhadap umat manusia. (SUD/WHS/asr)

Huang Yan Aktivis HAM Tiongkok Mendapat Suaka di Taiwan

0

Aktivis hak asasi manusia Chinese Christian, Huang Yan, telah diberikan suaka oleh pemerintah Taiwan untuk tinggal tiga bulan, setelah ia berhasil melarikan diri dari pelecehan agen-agen Tiongkok di Thailand.

Kebebasannya di Taiwan telah membuat rezim Tiongkok khawatir. Suaminya, Wu Guisheng, dibawa pergi oleh polisi di kotaGuangzhou Tiongkok selatan, dan baru dibebaskan setelah lebih dari 10 jam interogasi, melaporkan Radio Free Asia (RFA) pada 18 Juni.

Huang percaya penangkapan suaminya adalah upaya pemerintah Tiongkok untuk mengancamnya agar tidak berbicara secara terbuka saat berada di Taiwan, karena dia sangat vokal dalam kritiknya terhadap rezim Tiongkok.

Huang dilahirkan dalam keluarga Kristen di Provinsi Hubei Tiongkok utara. Dia menjadi target rezim Tiongkok pada tahun 2005 ketika dia mendukung Cai Zhuohua, seorang menteri Beijing dalam gerakan gereja rumah Tiongkok yang dijatuhi hukuman tiga tahun penjara pada bulan November 2005. Orang-orang Kristen gereja-gereja rumah telah menjadi subyek penganiayaan sistematis oleh otoritas Tiongkok, termasuk penangkapan, penahanan, dan penutupan paksa tempat ibadah mereka.

Sejak itu, ia menjadi seorang aktivis, melemparkan dukungannya di balik sejumlah pengacara hak asasi manusia Tiongkok, termasuk Gao Zhisheng, yang dianiaya oleh rezim Tiongkok. Perannya sebagai aktivis hak asasi manusia mengakibatkan dia berulang kali diculik, dipenjara, dan dijebloskan ke penjara oleh pihak berwenang Tiongkok. Selama satu hukuman penjara, dia dipukuli dengan sangat parah hingga dia mengalami keguguran.

Huang menjelaskan bagaimana dia menghindari polisi Tiongkok agar berhasil melarikan diri ke Taiwan, dalam wawancara dengan The Epoch Times.

Huang awalnya terbang ke Beijing dari Thailand, tetapi ia tidak melanjutkan penerbangannya selama transit di Bandara Internasional Taoyuan di Taiwan pada 29 Mei. Sebaliknya, Huang, yang telah diberikan status pengungsi oleh PBB, meminta suaka politik di Taiwan.

Para pengungsi yang diakui PBB tidak dapat memasuki Taiwan secara hukum karena negara kepulauan tersebut bukan anggota PBB dan tidak memiliki undang-undang pengungsi di tempat. Meskipun demikian, pemerintah Taiwan memberikan izin kepada Huang untuk tinggal setelah Taiwan Association for China Human Rights, sebuah LSM hak asasi manusia di Taiwan, membantu mempresentasikan permintaan Huang kepada instansi pemerintah terkait di Taiwan. China Aid, nirlaba HAM Kristen yang berbasis di Amerika Serikat, juga menghubungi United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) dan pemerintah Taiwan.

Chiu Chui-cheng, wakil menteri Dewan Urusan Daratan Republik Tiongkok, lembaga pemerintah utama Taiwan yang bertanggung jawab atas kebijakan Tiongkok, mengatakan izin tinggal diberikan kepada Huang setelah mempertimbangkan bahwa Huang mungkin akan dianiaya jika dia dipulangkan ke Tiongkok.

“Saya ingin berterima kasih kepada pemerintah Taiwan karena berhasil tiba ke Taiwan. Saya tidak pernah diperlakukan lebih baik dalam sepuluh tahun terakhir,” kata Huang. Dia mengucapkan terima kasih kepada para pejabat imigrasi Taiwan atas kebaikannya dalam memperlakukan dia di bandara.

Huang memutuskan untuk pergi ke Thailand setelah dia ditahan oleh polisi di Provinsi Guangdong Tiongkok selatan pada November 2015. Polisi menuduhnya dengan “sengaja menyebarluaskan informasi teroris” dan sebulan kemudian, secara resmi menempatkannya di pusat penahanan untuk “menghalangi tugas-tugas resmi.” Tanpa pengadilan, dia ditahan hingga September 2016, menurut Pembela Hak Asasi Manusia Tiongkok (CHRD), sebuah organisasi non-pemerintah.

Dia pertama kali melarikan diri ke Hong Kong dengan bantuan legislator pro-demokrasi di kota tersebut, yang memiliki sistem hukum dan politik yang terpisah dari Tiongkok daratan. Dari sana, Huang pergi ke Thailand.

Di Thailand, “[Agen-agen Tiongkok] menyerang saya, mengganggu saya, dan mencari saya tanpa henti,” kata Huang. Selama sekitar satu setengah tahun, dia menunggu pemindahan PBB di negara ketiga tidak berhasil. Visa Thailand-nya akan berakhir, dan setelah itu terjadi, dia menjelaskan bahwa agen-agen Tiongkok akan mengejar dan menahannya. Saat itulah dia memutuskan untuk mencoba melarikan diri ke Taiwan dengan menaiki pesawatnya ke Beijing. Karena tampaknya dia akan kembali ke Tiongkok sendiri, penerbangannya tidak membuat khawatir polisi.

Otoritas Thailand telah memulangkan para pembangkang Tiongkok ke Tiongkok di masa lalu, sekalipun mereka dengan status pengungsi yang telah diberikan oleh PBB. Thailand menuai kecaman internasional pada 2015, menurut Reuters, karena mendeportasi para pembangkang Tiongkok Jiang Yefei dan Dong Guangping.

Pelariannya dari Thailand bukan tanpa kesulitan, kata Huang, menjelaskan bahwa agen-agen Tiongkok ditempatkan di beberapa bandara yang berusaha untuk menghentikannya naik pesawat. Kali ini, mereka mengizinkannya naik karena dia telah membeli tiket Tiongkok sebagai tujuan akhirnya. (ran)

ErabaruNews

Kunjungan Singkat Padat Donald Trump ke Inggris

0

EpochTimesId – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menggelar kunjungan kenegaraan ‘angin puyuh’, atau singkat dan padat, di Inggris. Donald Trump, mendarat di Inggris pada 12 Juli 2018, ini adalah kunjungan pertamanya sebagai Presiden AS ke negara itu.

Dia mengakhiri perjalanan di Inggris dengan mengunjungi lapangan golf Turnberry course miliknya pada hari Minggu, 15 Juli 2018, sebelum berangkat untuk bertemu Presiden Rusia, Vladimir Putin di Helsinki.

Selama perjalanannya ke Inggris, dia minum teh bersama Ratu Elishabet II, mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri Inggris Theresa May, dan melayani wawancara khusus tabloid Inggris, The Sun.

Kesepakatan pasca-Brexit
Pada konferensi pers dengan May di kediaman negaranya, Chequers, Trump mengatakan dia menantikan penyelesaikan kesepakatan perdagangan bebas dengan Inggris.

“Setelah proses Brexit disimpulkan dan mungkin Inggris telah meninggalkan Uni Eropa, saya tidak tahu apa yang akan mereka lakukan. Tetapi apa pun yang Anda lakukan adalah OK bagi saya, itu adalah keputusan Anda,” kata Trump. “Apa pun yang Anda lakukan adalah baik-baik saja dengan kami, pastikan saja kita dapat berdagang bersama, itu yang terpenting.”

Dia juga menggambarkan hubungan antara Inggris dan AS sebagai hubungan tingkat tertinggi yang spesial.

Wawancara dengan Majalah The Sun
Wawancara eksklusif Trump dilakukan oleh editor politik The Sun, Tom Newton Dunn, di mana Trump mengkritik strategi Brexit May. Dia juga mengatakan bahwa Boris Johnson akan menjadi perdana menteri yang hebat.

Pada konferensi pers, bagaimanapun, Trump menyebutnya ‘berita palsu’, mengatakan bahwa laporan itu menghilangkan hal-hal positif yang dia katakan tentang May.

May menyikapi komentar kritis Trump dalam laporan itu sebagai bukan masalah besar. “Jangan khawatir, itu hanya (kebiasaan) pers,” ujar May kepada Trump.

Makan malam di Blenheim Palace
Presiden Trump dan Ibu Negara AS disambut di Blenheim Palace oleh marching band yang terdiri dari orang-orang Skotlandia, Irlandia, dan Wales. Mereka adalah suku-suku bangsa sejak awal berdirinya Kerajaan Inggris.

Dia juga hadir di pameran Winston Churchill, yang lahir di Blenheim Palace. Hari berikutnya, di Chequers, Trump berfoto di kursi milik mantan pemimpin masa perang itu.

Presiden dan Ibu Negara bergabung dengan 150 tamu undangan dan pemimpin bisnis khusus untuk makan malam dasi hitam di Blenheim Palace. Dia menikmati salmon Skotlandia asap sebagai permulaan, fillet daging sapi Hereford dengan kentang untuk hidangan utama, dan puding stroberi dengan krim bergumpal.

Menyambut presiden di tengah protes
Trump dan Melania kemudian berkeliling Inggris dengan helikopter. Mereka melewati lalu lintas, dan melihat aksi protes atas kunjungan keduanya ke Inggris.

Protes terhadap Trump, terutama yang diselenggarakan oleh organisasi sayap kiri, berlangsung di London. Sementara itu, ada pula aksi lain yang ingin memberikan sambutan hangat kepada Trump di Inggris.

Pada hari ketika Trump mendarat di negara itu, Anggota Parlemen Inggris Daniel Kawczynski menyelenggarakan acara penyambutan di parlemen Inggris.

“Ada banyak manifestasi terhadap kunjungan presiden,” kata Kawczynski. “Kami ingin memberikan interpretasi yang berbeda dari kunjungan, baik mengunjungi Amerika tetapi juga ke media kami sendiri.”

Dan sebuah pub di London barat, bernama The Jameson, telah menamai ulang dirinya dengan “The Trump Arms” untuk merayakan kunjungan presiden Amerika.

Seorang pria memegang poster menyambut Presiden AS Donald Trump ketika demonstran lain memprotes kunjungannya di London tengah, Inggris, 13 Juli 2018. (Yves Herman/Reuters/The Epoch Times)

Ada juga unjuk rasa pada hari Sabtu (14/7/2018) di London oleh pendukung Trump dan aktivis sayap kanan yang ingin menunjukkan dukungan mereka terhadap Trump.

Sarah B. Elliot, Ketua Partai Republik di Luar Negeri Inggris mengatakan banyak pendukung Trump Inggris malu mengekspresikan diri.

“Saya mendapat pesan sepanjang waktu dari orang-orang yang mendukung presiden, mendukung Presiden Trump, tetapi mereka tidak merasa dapat mengatakannya secara terbuka terutama di lingkungan perkotaan atau kota besar,” katanya.

Presiden AS Donald Trump dan Ratu Elizabeth II Inggris menginspeksi Penjaga Kehormatan, yang dibentuk oleh Pengawal Coldstream di Kastil Windsor pada 13 Juli 2018 di Windsor, Inggris. (Richard Pohle/WPA Pool/Getty Images)

Minum teh bersama Ratu
Trump dan Ibu Negara AS minum teh dengan ratu Inggris pada hari Jumat di Kastil Windsor. Sang Ratu, sekarang 92 tahun, telah bertemu 11 presiden AS sebelum bertemu Trump. (The Epoch Times/waa)

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

https://youtu.be/0x2fRjqhmTA

Jelang Asiang Games ke-18, Presiden Jokowi Resmikan 5 Venues di Jakabaring Palembang

Epochtimes.id-  Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) didampingi Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, dan Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin meresmikan 5 venues dari 14 venues Asian Games ke-18 di Jakabaring Sport City (JSC) Palembang, Sabtu (14/7/2018).

Kelima venue yang diresmikan adalah arena menembak (shooting range), dayung (Jakabaring Rowing dan Canoeing Regatta Course), skatepark, voli pantai, dan bowling center.

Dalam sambutannya, Presiden Jokowi mengatakan Indonesia siap menyambut penyelenggaran Asian Games 2018.

“Saya ucapkan selamat datang di Indonesia kepada sekitar 16 ribu atlet dan official dari 45 negara,” kata Presiden Jokowi.

Progres pembangunan dan renovasi 14 venue dan fasilitas pendukung Asian Games 2018 di JSC sudah 99 persen rampung dan tengah penyelesaian akhir (finishing).

Dari lima venues yang diresmikan, tiga venue diantaranya yakni arena menembak, dayung dan skateboard dibangun oleh Kementerian PUPR. Secara keseluruhan anggaran Kementerian PUPR yang dikeluarkan untuk pembangunan, renovasi, dan penataan kawasan JSC adalah Rp. 623,66 Milyar.

Selain meresmikan venues, Presiden Jokowi juga membuka Kejuaraan Nasional Perahu Naga Piala Presiden 2018. Kejurnas diselenggarakan oleh Pengurus Besar Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PB PODSI) menjadi salah satu test event di venue dayung menyambut Asian Games ke-18.

Kejurnas ini diikuti oleh 619 peserta yang berasal dari 17 provinsi dan 4 kontingen TNI/Polri. Nomor lomba yang akan dipertandingkan adalah 500 m dan 200 m untuk putera dan puteri. “ Untuk kedua nomor lomba tersebut kami targetkan untuk meraih 2 emas saat AG-18 yang akan datang,” kata Menteri Basuki

Sebelum acara peresmian, Presiden Jokowi bersama Menteri Basuki mencoba mendayung bersama beberapa atlet dayung perahu naga sejauh lebih kurang 300 meter.

Tampak pula hadir dalam acara peresmian Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Bapak Muhaemin Iskandar.

Wisma Atlet Jakabaring Sudah Dilengkapi Mebeuler

Selain itu sesuai penugasan yang diberikan oleh Presiden Jokowi, Kementerian PUPR pun telah menyelesaikan penataan kawasan berupa plaza, pedestrian dan ruang terbuka hijau, serta pembangunan 5 tower Wisma Atlet berikut lansekap, lift dan meubelair untuk menampung tambahan 1000 atlet dan ofisial (melengkapi 3 tower Wisma Atlit yang sudah berfungsi untuk lebih kurang 1000 atlet dan official).

Total anggaran untuk perbaikan dan penggantian meubeler Wisma Atlit Jakabaring sebesar Rp 185 miliar terdiri dari pembangunan 3 tower tahun 2015 senilai Rp 65 miliar dan 2 tower tahun 2016 senilai Rp 49 miliar.

Pembuatan Landscape Rusunami Rp 30 miliar, Meubeler untuk 5 tower rusunawa baru Rp 15 miliar, Meubeler 3 tower rusunawa lama Rp 20 miliar dan penyediaan water heater senilai Rp 7 miliar. (asr)

Berpose dengan Hiu Jinak Seorang Bloger Digigit Hingga Luka Robek

EpochTimesId – Katarina Zarutskie mengunjungi pacarnya di Bahama bulan lalu. Ketika itu, dia memutuskan untuk mengambil foto dengan kawanan hiu jenis perawat atau hidung barbel.

Zarutskie baru saja menyelesaikan makan siang keluarga di Staniel Cay, ketika melihat orang-orang melakukan snorkeling dengan hiu di dekatnya. Dia pun memutuskan untuk bergabung untuk berfoto bersama mereka.

Zarutskie adalah seorang mahasiswi Universitas Miami yang mengelola blog gaya hidup Vogue and Vegetables. Dia berasal dari Laguna Beach di California.

“Dari pengetahuan saya sebelumnya dari surfing dan scuba diving, saya tahu hiu perawat biasanya sangat aman,” katanya kepada BBC. “Saya telah melihat foto orang yang tak terhitung jumlahnya bersama mereka di Instagram.”

Setelah beberapa menit di dalam air, dia mengatakan bahwa dia diberitahu oleh seseorang di dermaga untuk mengapung di atas air, dengan punggungnya. Jadi dia melakukannya, dengan tangan terulur.

Luka gigitan hiu. (WSVN/Katarina Zarutskie)

“Pada titik ini orang mulai mengambil foto, dan tepat ketika saya berbaring, setelah beberapa detik, saya ditarik ke bawah,” sambungnya, masih kepada BBC.

Ayah pacarnya sedang memotret pemandangan dan tanpa disadari menangkap momen itu.

“[Hiu] menggigit pergelangan tangan saya di mulutnya dan saya bisa merasakan giginya terbenam di tanganku,” katanya kepada NBC News. “Saya tertarik di bawah air selama beberapa detik, dan kemudian berhasil menarik pergelangan tangan saya keluar dari mulut hiu secepat yang saya bisa.”

Dalam foto-foto itu, Zarutskie terlihat mengangkat tangannya yang tergigit di atas kepalanya dan menutupi lukanya saat dia naik dari perairan.

“Saya tetap sangat tenang,” katanya kepada BBC.

Dia mengatakan awalnya dia tidak berencana untuk mengunggah gambar luka itu ke media sosial. Namun, beberapa wartawan bertanya kepadanya tentang pengalamannya awal pekan ini.

Zarutskie menerima jahitan pada luka di tangannya. Dia juga mendapat obat antibiotik setelah insiden itu.

“Saya sangat beruntung karena saya masih memiliki lengan dan hidup saya,” katanya kepada NBC.

Pemilik Staniel Cay marina menulis dalam email kepada NBC, “Hewan-hewan ini dianggap cukup jinak tetapi dapat saja menggigit pada suatu kesempatan. Biasanya ketika mereka salah mengira tangan atau jari manusia sebagai sepotong makanan.” (NTD.tv/waa)

Video Rekomendasi :

Ekonomi Tiongkok Akan Mundur 40 Tahun Karena Perang Dagang

0

EpochTimesId – Setelah Amerika Serikat memberlakukan tarif hukuman terhadap komoditas impor dari Tiongkok, pihak berwenang Beijing juga melakukan hal yang sama terhadap AS sebagai upaya pembalasan. Perang dagang Tiongkok-AS dianggap sedang berlangsung.

Para ahli percaya bahwa dalam jangka panjang, ekonomi Tiongkok akan kehilangan sumber daya keuangan Amerika untuk bertahan hidup, sehingga mengalami kemunduran 40 tahun. Apakah kenyataannya akan demikian? Mari kita ikuti ulasan para ahli.

Pada 6 Juli, otoritas Washington mulai memberlakukan tarif tambahan sebesar 25 persen atas 800 macam komoditas import dari Tiongkok senilai 34 miliar dolar AS. Pada hari yang sama, Beijing juga memberlakukan tarif baru terhadap 545 macam komoditas AS termasuk produk pertanian, mobil dan produk akuatik sebagai pembalasan.

Perang dagang akhirnya terjadi juga setelah perwakilan perdagangan AS berulang kali mengunjungi Beijing untuk dialog dalam upaya mencegah perang, dengan menyelesaikan masalah pencurian kekayaan intelektual dan perdagangan tidak adil mengalami jalan buntu.

Presiden AS menyebut hal ini baru sebuah langkah awal. Dikemudian hari jika diperlukan, Trump dapat mengenakan tarif atas barang-barang Tiongkok lainnya bernilai ratusan miliar dolar yang khusus diberlakukan untuk komoditas Tiongkok.

Gong Shengli, peneliti wadah pemikir keuangan Tiongkok mengatakan, “Jika Trump meneruskan perang dagang, maka Tiongkok sangat mungkin akan terpukul hingga kembali pada posisi 40 tahun silam. 1 Januari tahun ini adalah tahun ke 40 Amerika Serikat secara terus menerus memberikan aliran devisa dolar AS kepada RRT, sehingga memungkinkan ekonomi Tiongkok mengalami kemajuan pesat. Tanpa dolar AS itu ekonomi Tiongkok tidak mungkin bisa bangkit. Jadi ini adalah masalah yang sangat serius.”

Sarjana keuangan daratan Tiongkok He Junqiao mengatakan, “Perang dagang ini menjadi tantang terbesar sejak reformasi Deng Xiaoping, juga krisis nasional yang paling signifikan dialami Tiongkok. Tantangannya melebih sanksi yang diberlakukan negara Barat kepada Tiongkok sejak tahun 1989.”

Pasar saham yang digunakan sebagai barometer ekonomi menghadapi dampak dari perang dagang. Kinerja mereka di AS dan di Tiongkok bagaikan langit dan bumi. Bursa saham AS masih bergerak naik sesuai tren hari-hari sebelumnya, bahkan mencapai titik tertinggi. Namun sebaliknya, harga saham di bursa Tiongkok anjlok yang dibarengi pula oleh mata uangnya.

‘Wall Street Journal menggambarkan, situasi yang terjadi saat itu mengingatkan ketika crash pasar saham di musim panas pada tahun 2015. Namun situasi sekarang tampaknya lebih buruk lagi, karena penurunan harga didorong oleh saham-saham blue-chip yang dijual secara besar-besaran oleh investor institusi.

Lebih dramatis lagi, kedelai AS yang dianggap Tiongkok sebagai rudal paling ampuh untuk menyerang AS, tidak terpengaruh oleh perang dagang. Bahkan ekspor kedalai AS bulan Mei mencapai 2 kali lipat dari waktu sebelumnya, justru membantu menurunkan angka defisit perdagangan AS.

He Junqiao mengatakan, “Ekonomi Amerika Serikat berkembang begitu bagus, sangat ajaib, merupakan keuntungan dari tatanan politik dan militer pemerintah AS. Namun keajaiban ekonomi Tiongkok muncul dari gelembung ilusi belaka. Keajaiban ekonomi AS didasarkan pada pertumbuhan teknologi tinggi yang nyata. Karena itu kesenjangan antar kedua negara tersebut sangat besar.”

Gao Shanwen, ekonom Essence Securities Co.,Ltd. dalam sebuah tulisannya menyebutkan bahwa ada 3 alasan yang menunjukkan mengapa masyarakat dan partai yang berkuasa di AS berkonsensus menentang Tiongkok komunis;

Pertama karena ideologi Tiongkok bertolak belakang dengan Amerika Serikat. Dan Amerika Serikat telah menyadari terjadi kesalahan dalam menerapkan kebijakan Tiongkok di masa lalu.

Kedua karena sejak Tiongkok bergabung dengan WTO, AS kehilangan banyak lapangan kerja sehingga tingkat pengangguran naik tajam. Dan, ketiga karena persaingan tidak adil dalam dunia perdagangan sehingga mengikis kepentingan AS.

He Junqiao mengatakan, dalam kondisi seperti ini, dimana ekonomi riil sedang mengalami resesi, teknologi tinggi tidak mampu berdikari. Masalah pengangguran tidak terpecahkan, devaluasi mata uang masih terjadi, pasar saham sedang anjlok, gelembung perumahan menghadapi ancaman meletus.

Jika saja pemerintah Tiongkok komunis masih bersikeras untuk berperang dagang dengan AS, maka yang akan ditemui adalah malapetaka.

“Dalam masa 1 hingga 2 tahun ke depan ekonomi Tiongkok hanya akan memburuk ketimbang membaik. Karena itu di satu sisi rakyat Tiongkok harus siap mental untuk mengencangkan ikat pinggang, di sisi lain, merupakan ujian berat bagi pemerintah Tiongkok komunis. Bila mereka bersedia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menerapkan jalan demokrasi konstitusional, supremasi hukum dan perlindungan hak asasi manusia, dan secara menyeluruh terintegrasi ke dalam sistem ekonomi bebas dunia, maka Tiongkok masih bisa mendapatkan kehidupan baru.”

“Jika Anda mengandalkan strategis back to back Rusia, mengandalkan sembilan negara Asia Tengah untuk membentuk zona ekonomi lokal tertutup, maka saya percaya bahwa ekonomi Tiongkok tidak akan bertahan lama,” demikian kata He Junqiao.

Setelah ditolak oleh Uni Eropa, saat ini pemerintah Tiongkok masih berharap untuk melawan AS dengan menggandeng negara anggota WTO. Tetapi dunia usaha berpendapat bahwa, situasi saat ini terjadi akibat Tiongkok komunis sendiri yang melanggar komitmennya terhadap WTO. Rupanya ancaman keluar dari WTO yang dilontarkan Trump juga membuat Tiongkok komunis menapak di lorong buntu. (ET/Sinatra/waa)

SImak Juga :

https://youtu.be/fTKcu82AtsA

128 Orang Tewas dalam Serangan Bom Bunuh Diri di Pakistan

oleh Lin Nan

Hari Jumat (13/07/2018) terjadi serangan bom bunuh diri di bagian barat daya Pakistan saat masyarakat berkerumun dalam acara kampanye pemilihan umum, menyebabkan 128 orang tewas.

Ledakan itu adalah serangan paling mematikan di Pakistan selama lebih dari tiga tahun dan merupakan kekerasan kedua terkait pemilu yang terjadi pada hari itu.

Baluchistan Home Minister Agha Omer Bangulzai memberitahu Reuters bahwa serangan menyebabkan 128 orang tewas dan lebih dari 150 orang lainnya terluka.

Qaim Lashari, pejabat polisi senior Pakistan sebelumnya pernah mengatakan bahwa ada lebih dari 1.000 orang warga Mastung, Baluchistan, kota yang penuh kekerasan ikut menghadiri kampanye tersebut.

Militan yang terkait dengan Taliban, Al Qaeda dan daesh aktif melakukan kegiatan  di provinsi ini yang berbatasan dengan Iran dan Afghanistan. Di wilayah itu tinggal etnis Baluch yang memberontak terhadap pemerintah pusat.

Islamic State (IS) atau Daesh mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu, tetapi tidak memberikan rincian atau bukti lebih lanjut.

Di antara sejumlah orang yang tewas dalam serangan hari Jumat itu, terdapat Siraj Raisani, kandidat anggota dewan propinsi Baluchistan dan saudaranya Nawab Aslam Raisani yang pernah menjabat sebagai menteri utama provinsi tersebut sejak tahun 2008 hingga 2013.

“Saudara kami Siraj Raisani telah meninggal dunia” Kata Haji Lashkari Raisani, saudara Siraj yang juga seorang anggota Majelis Nasional Baluchistan.

Siraj Raisani adalah kandidat kedua yang dibunuh minggu ini dalam kekerasan sebelum pemilihan.

Polisi sebelumnya pernah mengatakan bahwa serangan itu ditujukan kepada tim Resani, tetapi kemudian mengubah pernyataan mereka, karena klip video adegan ledakan telah menyebar.

Hari Jumat sebelum kejadian ini, serangan bom juga terjadi di kota bagian utara, Bannu, serangan ini ditujukan kepada sekutu partai Muttahida Majlis-e-Amal (MMA).

Pada hari Selasa, seorang pembom bunuh diri menewaskan 20 orang di sebuah pesta anti-Taliban di Peshawar, ibukota provinsi Khyber Pakhtunkhwa di Pakistan utara.

Para korban termasuk Haroon Bilour, seorang kandidat yang ingin merebut kursi di majelis provinsi pada bulan Juli ini. Organisasi Taliban Pakistan mengaku bertanggung jawab atas insiden tersebut. (Sin/asr)

Hotel Tiongkok Kenakan Tarif Diskriminatif Bagi Warga Amerika di Tengah Perang Dagang

0

SHENZHEN, Tiongkok – Di tengah perang perdagangan yang meningkat antara Washington dan Beijing, sebuah hotel di kota Shenzhen, Tiongkok selatan, telah memberlakukan kebijakan diskriminatif yang membebani para tamu biaya tambahan sebesar 25 persen, setara dengan 25 persen tarif balas-membalas yang dimainkan oleh kedua negara tersebut.

Tiga anggota staf di Modern Classic Hotel Group, yang menolak untuk diidentifikasi, mengatakan kepada Reuters bahwa kebijakan tersebut telah diposting di hotel pada 12 Juli tetapi sejak itu telah dihapus.

Global Times, tabloid yang diterbitkan oleh Partai Komunis Tiongkok yang berkuasa, mengatakan dalam sebuah laporan tertanggal 12 Juli bahwa Modern Classic Hotel Group telah memasang pemberitahuan di hotelnya yang menginformasikan kepada para tamu tentang biaya tambahan tersebut.

Mengutip seorang juru bicara hotel, yang bernama Yang, mengatakan bahwa hotel tersebut telah memposting pemberitahuan minggu lalu pada tanggal 6 Juli, ketika tarif-tarif tersebut mulai berlaku.

Namun pada 13 Juli, hotel membantah laporan tersebut. “Kami tidak tahu dari mana berita ini berasal. Ponsel saya telah berdering sepanjang hari ini,” kata Bai Lulu, seorang manajer front office, kepada Reuters di hotel.

“Kami memperlakukan semua tamu kami sama rata. Kami tidak akan membebani satu jenis tamu lebih banyak dari jenis tamu lain,” kata Bai, sambil menambahkan bahwa hotel tersebut saat ini tidak memiliki tamu-tamu Amerika.

Namun, anggota staf lainnya, yang menolak diidentifikasi, mengatakan memang ada pemberitahuan yang mengatakan bahwa orang-orang Amerika akan dikenakan biaya tambahan.

“Ada iklan di restoran kemarin yang menyatakan bahwa orang Amerika akan dikenakan biaya tambahan 25 persen. Kami memotretnya.”

Global Times mengutip seorang juru bicara hotel tersebut yang bernama Yang telah mengatakan bahwa bos mereka “benar-benar marah dengan tarif tak berkesudahan yang AS rencanakan untuk diberlakukan di Tiongkok.”

Ada sedikit bukti publik hingga saat ini tentang kegiatan anti-Amerika di Tiongkok ketika sengketa perdagangan telah tumbuh semakin pahit.

Amerika Serikat dan Tiongkok masing-masing memberlakukan tarif 25 persen untuk barang-barang milik negara satu sama lain senilai $34 miliar. Minggu ini, Washington menerbitkan satu set tarif baru yang diusulkan mengenai tambahan senilai $200 miliar untuk barang-barang dari Tiongkok, yang kemudian meningkatkan konflik tersebut. Tiongkok berjanji akan membalas.

Beberapa sumber mengatakan kepada Reuters bahwa Tiongkok mengeluarkan panduan ketat untuk medianya, melarang serangan-serangan pribadi terhadap Presiden AS Donald Trump dan membatasi komentar terbuka dalam upaya nyata untuk menghindari eskalasi yang tidak disengaja.

Pihak-pihak berwenang juga menyensor postingan-postingan yang berpotensi sensitif di media sosial seperti Weibo, layanan mirip Twitter milik Tiongkok, di mana hal-hal yang berkaitan dengan perdagangan sebagian besar dijauhkan dari daftar topik-topik yang sedang hangat tersebut. (ran)

ErabaruNews