Perekonomian Tiongkok yang terus melemah membuat harga rumah terus turun. Banyak pemilik rumah tak sanggup lagi membayar cicilan, bahkan di kota besar seperti Guangzhou, muncul fenomena pemilik rumah yang rela memberikan rumahnya secara cuma-cuma, sehingga memicu perbincangan hangat.
EtIndonesia. Pada 1 September, seorang pemilik rumah di Guangzhou menulis di media sosial bahwa karena tekanan hidup yang berat, ia ingin memberikan rumah pernikahannya secara gratis. Ia menyebutkan bahwa pada 2019 ia membeli sebuah rumah seluas 30 meter persegi di Jalan Changshou Timur No. 247, Liwan, Guangzhou dengan harga 900 ribu yuan.
Ia sudah membayar uang muka, lalu setiap bulan mencicil 2.800 yuan. Hingga tahun ini, ia sudah melunasi cicilan selama 6 tahun, hampir 400 ribu yuan, tetapi masih tersisa 550 ribu yuan.
Ia menjelaskan, rumah tersebut awalnya dibeli untuk persiapan menikah. Namun pada Mei tahun ini, pacarnya memutuskan hubungan dengannya. Ditambah lagi pekerjaannya makin sulit, penghasilannya turun drastis.
Ia mengaku sudah tidak sanggup membayar cicilan, sehingga berniat memberikan rumah tersebut kepada siapa pun yang bersedia melanjutkan cicilannya.
Untuk menunjukkan kesungguhan, pemilik rumah itu juga mengunggah foto sertifikat properti dan bukti pembelian rumah.
Seorang warganet Guangzhou menjelaskan bahwa rumah tersebut berada di pusat kota Guangzhou, dekat Liwan Plaza dan Stasiun Hualinsi Jalur 8 MRT. Lokasinya juga berdekatan dengan kawasan pejalan kaki, sehingga sangat mudah untuk transportasi dan kehidupan sehari-hari.
Ada warganet yang bertanya mengapa ia tidak menjual saja rumahnya. Ia menjawab, “Tidak laku, agen properti sangat sedikit, rumah terlalu banyak, ditambah lagi harus bayar biaya promosi yang mahal, biaya listing, dan uang ‘amplop’ agar agen mau bantu menjual.”
Ada pula yang menyarankan agar rumah itu direnovasi lalu disewakan, minimal bisa menghasilkan 2.000 yuan per bulan. Namun ia menjawab bahwa kondisi keuangannya saat ini tidak memungkinkan.
Fenomena pemilik rumah di Guangzhou memberikan rumah secara gratis ini bukan yang pertama kalinya. Misalnya, pada April tahun ini, seorang pemilik rumah di Nansha, Guangzhou, juga pernah menulis di internet untuk memberikan rumahnya secara cuma-cuma.
EtIndonesia. Beberapa orang sedang memancing di tepi pantai, sementara beberapa wisatawan lain menikmati pemandangan laut.
Tiba-tiba, salah satu pemancing mengangkat jorannya dan berhasil mendapatkan seekor ikan besar—panjangnya hampir satu meter. Begitu ikan itu dilempar ke daratan, dia masih meloncat-loncat dengan kuat. Namun, pemancing itu hanya menahannya dengan kakinya, melepaskan kail dari mulutnya, lalu dengan santai melemparkan ikan besar itu kembali ke laut.
Orang-orang yang melihat sontak terkejut.
“Ikan sebesar ini saja tidak memuaskannya? Betapa besarnya ambisi orang ini,” pikir mereka.
Tak lama kemudian, pemancing itu kembali mengangkat jorannya. Kali ini, seekor ikan berukuran sekitar 60 cm berhasil dia tangkap. Namun, sama seperti sebelumnya, tanpa melihat lama-lama, dia segera melemparkan ikan itu ke laut.
Untuk ketiga kalinya, jorannya bergetar. Seekor ikan kecil, panjangnya tak sampai 30 cm, berhasil dia tarik ke darat.
Penonton berpikir: “Ah, ikan sekecil ini pasti akan ia buang juga.”
Tetapi di luar dugaan, pemancing itu dengan hati-hati melepaskan kail, lalu menaruh ikan kecil itu ke dalam keranjangnya.
Wisatawan yang penasaran bertanya: “Kenapa kamu membuang ikan yang besar, tapi malah menyimpan yang kecil?”
Pemancing itu tersenyum dan menjawab: “Karena piring terbesar di rumahku panjangnya hanya 30 cm. Kalau ikan terlalu besar, tetap saja tak bisa kumakan, sebab tak muat di piring.”
Pelajaran: Dalam perjalanan hidup, menemukan tujuan yang sesuai untuk diri sendiri sangatlah penting. Jika tidak, kita hanya akan terus terombang-ambing dalam rasa tidak puas, meski sudah meraih sesuatu yang tampak “besar”.(jhn/yn)
EtIndonesia. Dunia diguncang oleh peristiwa langka yang terjadi tepat di tengah parade militer besar di Beijing. Presiden Tiongkok, Xi Jinping dan Presiden Rusia, Vladimir Putin secara terbuka membicarakan transplantasi organ serta ambisi hidup hingga usia 150 tahun. Obrolan itu, yang terekam kamera resmi CCTV, langsung menyulut kehebohan global.
Pada hari yang sama, Senator Republik AS, John Cornyn resmi bergabung sebagai pengusul bersama Rancangan Undang-Undang Perlindungan Falun Gong (S817). Dengan demikian, hingga kini tujuh senator AS tercatat mendukung regulasi tersebut, yang ditujukan untuk menghentikan persekusi sistematis Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap praktisi Falun Gong sekaligus memutus praktik pengambilan organ paksa.
Sorotan Media Global dan Langkah Panik Beijing
Topik ini segera meledak di media internasional. Dari BBC dan Reuters di Eropa, hingga Bloomberg, Fox News, dan AP di Amerika Serikat, seluruh pemberitaan menyorot serius kaitan antara obrolan Xi–Putin dengan isu transplantasi organ di Tiongkok.
Namun, dua hari kemudian, PKT mengambil langkah mengejutkan. Pada 5 September 2025, Reuters mengonfirmasi bahwa mereka menerima surat hukum dari Pemerintah Tiongkok yang mendesak penghapusan rekaman video tersebut. Rekaman pun ditarik mundur dan lebih dari seribu klien media internasional diminta menghapusnya.
Pertanyaannya muncul: Mengapa Beijing baru panik dua hari setelah video itu beredar? Analis menilai, bukan semata karena takut “rahasia bisnis organ” bocor ke luar negeri, melainkan lebih karena kekhawatiran rakyat Tiongkok sendiri mengetahui kenyataan pahit: bahwa mereka selama ini dianggap sebagai “gudang suku cadang hidup” untuk memperpanjang usia elite partai.
Proyek 981: Kesehatan Elit, Nyawa Rakyat Jadi Taruhan
Berdasarkan laporan World Organization to Investigate the Persecution of Falun Gong (WOIPFG) pada Juni 2024, terdapat proyek rahasia bernama “Kesehatan 981” yang sudah berjalan sejak awal 2000-an. Targetnya jelas: memperpanjang usia pejabat tinggi PKT hingga 150 tahun melalui regenerasi organ.
Sebuah iklan lama dari Rumah Sakit 301 Beijing bahkan terang-terangan mempromosikan “perpaduan kebijaksanaan kesehatan tradisional Tiongkok dengan teknologi medis Barat modern.”
Proyek ini dibagi ke dalam tiga fase:
Fase Pertama: Program promosi kesehatan.
Fase Kedua: Program “kembali muda.”
Fase Ketiga: Proyek umur panjang 150 tahun.
Statistik mencurigakan pun muncul. Jika pada tahun 2000 usia rata-rata pejabat PKT hanya sedikit lebih tinggi dari pejabat AS, maka pada 2010 angka itu melonjak hingga 10 tahun lebih panjang dibanding pejabat Amerika.
Laporan WOIPFG menyimpulkan: rahasia lonjakan itu terletak pada pasokan organ, yang bersumber dari eksekusi mati dan kemudian—secara sistematis—dari praktisi Falun Gong serta tahanan hati nurani lainnya.
Bukti Internasional yang Menguatkan
Praktik kelam ini bukan sekadar tuduhan, melainkan sudah tercatat dalam berbagai laporan dan pengadilan internasional:
Komite PBB Menentang Penyiksaan (2008): Melaporkan lonjakan transplantasi organ di Tiongkok yang bertepatan dengan dimulainya persekusi terhadap Falun Gong.
China Tribunal (2019): Menyatakan PKT bersalah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan lewat praktik pengambilan organ hidup-hidup. Diperkirakan terjadi 60.000–100.000 transplantasi per tahun tanpa sumber donor yang jelas.
Bahkan pejabat PKT sendiri terkadang tidak bisa menutupi kenyataan. Sebelum wafat pada 2022, mantan sekretaris Partai di Federasi Sastra Nasional Tiongkok, Gao Zhanxiang, pernah mengakui: “Banyak organ di tubuhku sudah bukan milikku sendiri.”
Dampak Politik dan Kemanusiaan
Isu transplantasi organ ini bukan hanya membuka luka lama persekusi Falun Gong, tetapi juga memicu kecaman baru terhadap rezim Xi. Sorotan publik global yang dipicu oleh obrolan Xi–Putin, diikuti dengan langkah hukum AS melalui RUU S817, menambah tekanan politik internasional terhadap Beijing.
Pertanyaan besar kini menggantung di udara: apakah PKT bisa terus menutup praktik yang selama ini disangkal, ataukah obrolan di podium parade justru menjadi awal terbongkarnya rahasia terbesar abad ini?
EtIndonesia. Lebih dari setengah abad lalu, tepatnya pada musim semi tahun 1945, di Amerika ada seorang tukang kayu keturunan Tionghoa yang bekerja dengan tekun dan penuh tanggung jawab.
Suatu hari, dia sedang terburu-buru membuat sejumlah peti kayu untuk sebuah gereja setempat. Peti-peti itu akan digunakan untuk mengirim pakaian ke Tiongkok, guna membantu anak-anak yatim di sana.
Selesai bekerja, dalam perjalanan pulang, sang tukang kayu merogoh saku kemejanya untuk mengambil kacamatanya. Tiba-tiba dia tersadar—kacamatanya hilang!
Dia langsung panik, keringat dingin bercucuran. Dia mencoba mengingat kembali seluruh kegiatannya hari itu, hingga akhirnya sadar: kacamatanya pasti telah terjatuh dari saku dan masuk ke salah satu peti kayu yang sedang dia paku. Dia gusar, kesal, sekaligus tak berdaya.
Saat itu, Amerika masih dalam masa sulit pasca-Depresi Besar. Dia harus menghidupi enam orang anak, kehidupan amat berat. Sementara kacamata yang hilang itu baru saja dia beli pagi tadi seharga 20 dolar—jumlah yang sangat besar pada masa itu.
Dengan hati hancur, dia berjalan pulang sambil terus bergumam: “Ini tidak adil… tidak adil sama sekali.”
Enam bulan kemudian, perang melawan Jepang telah usai. Seorang misionaris Amerika yang memimpin panti asuhan di Tiongkok kembali ke Amerika untuk beristirahat, sekaligus berkunjung ke gereja kecil di Chicago tempat tukang kayu itu biasa beribadah.
Dalam pidato syukurnya, sang misionaris dengan penuh semangat berterima kasih kepada semua jemaat yang pernah membantu anak-anak yatim di Tiongkok.
Dan sebelum menutup kata-katanya, dia menambahkan dengan suara yang lebih tegas: “Saya harus memberi ucapan terima kasih yang paling mendalam atas kacamata yang kalian kirimkan tahun lalu. Saat Jepang menyerang panti asuhan, semua harta benda kami hancur—termasuk kacamata saya. Saat itu saya hampir putus asa. Meski punya uang, di kondisi waktu itu saya tidak mungkin membuat kacamata baru. Tanpa kacamata, penglihatan saya kabur, kepala saya sakit setiap hari. Saya dan rekan-rekan hanya bisa berdoa agar mujizat datang.
“Lalu, ketika peti bantuan dari kalian tiba, dan dibuka oleh rekan saya, di antara tumpukan pakaian… ada sebuah kacamata! Ketika saya memakainya, sungguh, kacamata itu terasa seperti dibuat khusus untuk saya. Seketika dunia saya kembali jelas, kepala saya tidak sakit lagi. Terima kasih… kalian telah menyelamatkan saya!”
Semua orang yang mendengarnya terharu, bersukacita mendengar kisah ajaib itu. Namun, dalam hati mereka bertanya-tanya: sejak kapan kita mengirim kacamata? Dalam daftar bantuan yang dikirim ke Tiongkok, tidak pernah ada item itu.
Hanya ada satu orang yang tahu kebenarannya. Dia berdiri di barisan belakang, dengan air mata mengalir di wajahnya.
Dialah sang tukang kayu itu.
Dia berbisik dalam hati: “Ternyata… Tuhan meminjam kacamataku, lalu memberikannya kepada orang yang lebih membutuhkan.”
Dengan tangan berlipat doa, dia menunduk, air mata membasahi jemarinya. Dia sadar, kehilangan kecilnya telah menjadi jawaban doa orang lain—sebuah mukjizat yang hanya bisa terjadi lewat cara Tuhan yang ajaib. (jhn/yn)
Etindonesia. Konflik Rusia–Ukraina kini memasuki babak paling krusial sejak pecah pada Februari 2022. Setelah berbulan-bulan terjadi kebuntuan, tanda-tanda pergeseran menuju terobosan strategis mulai terlihat. Pertarungan bukan hanya di medan tempur, melainkan juga dalam arena diplomasi, politik, dan teknologi global.
Pertukaran Pernyataan Panas Putin dan Zelenskyy
Pada 3 September 2025, Presiden Rusia Vladimir Putin dalam konferensi pers menyampaikan undangan provokatif: “Jika Zelenskyy sudah siap, datanglah ke Moskow untuk bernegosiasi.”
Namun, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy langsung menolak keras.
Dalam wawancara eksklusif dengan media AS, dia menegaskan: “Kalau begitu, Putin yang harus datang ke Kyiv. Saya tidak bisa ke Moskow. Bagaimana mungkin saya datang ke ibu kota negara teroris yang setiap hari menembakkan rudal ke tanah air saya?”
Zelenskyy menyatakan syarat perundingan hanya mungkin terjadi bila Rusia menarik pasukan dan mengembalikan wilayah Ukraina. Sebaliknya, Putin tetap bersikeras agar Ukraina mengakui Donetsk dan Luhansk (Donbas) sebagai wilayah resmi Rusia.
Prediksi Barat: Rusia Bisa Ambruk
Media militer Barat memuat laporan mengejutkan: “Serangan balasan Ukraina berikutnya berpotensi berakhir dengan runtuhnya Rusia.”
Pandangan ini jarang muncul sebelumnya, sebab negara-negara Barat biasanya berhati-hati dalam menilai.
Juru bicara Asosiasi Pertahanan Ukraina, Serhiy Bratchuk, bahkan menambahkan:
Pesawat tempur Ukraina akan segera melintas di langit Krimea.
Sistem pertahanan udara Rusia di wilayah itu menjadi target utama operasi Kyiv.
Suara Keras dari Dalam Rusia: Kritik Tajam Girkin
Tak hanya dari luar, suara pesimis juga muncul dari tokoh Rusia sendiri. Igor “Strelkov” Girkin, mantan perwira Rusia dan eks Menteri Pertahanan “Republik Rakyat Donetsk” – yang pernah divonis penjara seumur hidup (in absentia) oleh Belanda terkait tragedi MH17 – mengirim surat dari balik penjara Rusia.
Dalam surat itu, Girkin menulis:
Operasi militer khusus Putin sudah buntu.
Rusia tidak mungkin meraih kemenangan militer maupun politik.
Saat ini Rusia hanya mencatat “kemenangan kecil” taktis, dengan pengorbanan besar, tanpa arti strategis.
Dia menilai Rusia hanya punya dua pilihan pahit: menyerah atau terjadi kudeta politik di dalam negeri.
Girkin menambahkan, Putin hanya mengulur waktu sambil berharap pada “bantuan ajaib” dari Tiongkok. Jika dibiarkan, Rusia akan menuju bencana nasional.
Situasi Terkini di Medan Perang
Donetsk, 6 September 2025: Rusia menyerang Mirnograd dengan lima kendaraan lapis baja. Ukraina berhasil mendeteksi dini, menghancurkan empat kendaraan dan merusak satu lainnya.
Ukraina melancarkan serangan balik besar-besaran, memburu infanteri Rusia di area hutan.
Pasukan khusus Ukraina menggunakan drone tempur untuk melumpuhkan artileri Rusia sebelum menyerbu ke darat.
Banyak bertanya, mengapa tidak terlihat pertempuran besar seperti Perang Dunia II? Jawabannya: era sudah berubah. Konvoi besar justru menjadi sasaran empuk rudal HIMARS dan drone.
Contoh nyata: di Zaporizhzhia, Rusia mengerahkan 20 kendaraan lapis baja, namun 17 di antaranya hancur oleh drone dan artileri Ukraina hanya dalam hitungan menit.
Kolaborasi Ukraina–Taiwan: Teknologi Drone Jadi Senjata Global
Konflik ini turut memengaruhi Asia. Ukraina kini secara resmi menjalin kerja sama dengan Taiwan dalam pengembangan drone tempur.
Perusahaan teknologi Ukraina menandatangani MoU dengan industri pertahanan Taiwan.
Polandia menyumbang pengalaman lapangan.
Perusahaan gabungan AS–Jerman membagikan perangkat lunak drone yang sudah terbukti di medan perang.
Sinergi ini dipandang sebagai upaya memperkuat pertahanan Taiwan menghadapi ancaman invasi Tiongkok.
Kejutan dari Washington: Trump Hidupkan “Departemen Perang”
Pada 5 September 2025, Presiden AS, Donald Trump mengeluarkan Perintah Eksekutif ke-200, mengembalikan nama Departemen Pertahanan (Pentagon) menjadi Departemen Perang – nama historis yang dipakai sejak 1789 hingga 1947.
Menteri Pertahanan kini resmi disebut Menteri Perang. Menteri Pete Hegseth bahkan langsung mengganti papan nama kantornya.
Trump menegaskan: “Kita bertarung untuk menang, bukan sekadar bertahan. Kita harus menyerang, bukan hanya bertahan. Kita harus memaksimalkan daya hancur, bukan terjebak pada politik yang benar.”
Banyak analis menilai, langkah ini menjadi sinyal terang bahwa AS bersiap menghadapi konflik besar berikutnya—terutama dengan Tiongkok.
Penutup
Rangkaian peristiwa terbaru menegaskan dinamika global semakin panas:
Zelenskyy menantang balik Putin, menolak negosiasi di Moskow.
Barat dan tokoh Rusia sendiri memperingatkan potensi keruntuhan Rusia.
Ukraina menguasai medan perang dengan taktik modern berbasis drone.
Trump menghidupkan kembali “Departemen Perang”, membuka spekulasi strategi baru AS.
Situasi ini menjadikan perang Rusia–Ukraina bukan lagi sekadar konflik regional, melainkan bagian dari peta pertarungan geopolitik global yang akan menentukan arah dunia ke depan.
EtIndonesia. Jumlah penderita diabetes semakin meningkat. Menurut data yang dipublikasikan di jurnal The Lancet tahun lalu, pada 2022 jumlah orang dewasa penderita diabetes di dunia sudah melampaui 800 juta orang. Jika gula darah meningkat, bagaimana cara meredakan dan mengendalikannya? Dokter pengobatan Tiongkok terkenal, Hu Naiwen, baru-baru ini merilis sebuah video yang menjelaskan lima poin penting.
1. Trump minum 12 kaleng cola, tapi gula darah tetap normal
Menurut Dr. Hu, meskipun Presiden AS Donald Trump sehari bisa minum 12 kaleng cola dan suka makan McDonald’s, ia minum cola tanpa gula, sehingga tidak menyebabkan kenaikan gula darah.
Namun Dr. Hu mengingatkan, meski cola tanpa gula tidak langsung menaikkan gula darah karena menggunakan pemanis buatan tanpa kalori, bila diminum setiap hari dapat mengganggu regulasi gula darah.
Selain itu, pemanis buatan bisa merangsang nafsu makan sehingga seseorang makan lebih banyak tanpa sadar, dan akhirnya gula darah kembali meningkat.
2. Gula darah melonjak, apa yang harus dilakukan? Tekan 2 titik akupresur
Dr. Hu menyarankan menekan dua titik akupresur ketika gula darah naik:
Zusanli (ST36): membantu menurunkan gula darah, memperkuat limpa dan lambung, melancarkan pencernaan, serta menyeimbangkan endokrin.
Shaohai (HT3): cocok untuk orang yang gula darahnya cepat melonjak saat tegang. Menekan titik ini dapat membantu menstabilkan gula darah agar tidak lepas kendali.
3. Satu jenis olahraga yang sangat efektif: Gula darah turun 22%
Ada pepatah: “Berjalan seratus langkah setelah makan, umur panjang sampai 99 tahun.” Dr. Hu menyarankan berjalan cepat 10 menit setelah makan. Penelitian dari Universitas Otago, Selandia Baru, menunjukkan bahwa penderita diabetes tipe 2 yang berjalan cepat 10 menit setelah makan—terutama setelah makan malam—dapat menurunkan gula darah hingga 22%.
4. “Insulin alami” membantu! Minum satu teh untuk menstabilkan gula darah
Dr. Hu merekomendasikan minum teh pare hutan (Momordica charantia) setelah makan. Caranya, gunakan 2–3 potong pare hutan kering yang dijemur matahari, seduh dengan air panas, diamkan 10 menit, lalu minum. Teh pare hutan dapat menstabilkan gula darah sekaligus membantu mengurangi lemak. Pare mengandung senyawa charantin yang bekerja mirip insulin alami, merangsang sel β pankreas untuk menghasilkan insulin sehingga gula darah perlahan menurun.
Namun, Dr. Hu menekankan bahwa teh pare hanya berfungsi sebagai pendukung, bukan pengganti obat. Untuk benar-benar mengendalikan gula darah, diperlukan pola makan seimbang, olahraga, serta mengikuti arahan dokter. Karena pare bersifat “dingin”, orang dengan tubuh lemah atau masalah pada limpa-lambung sebaiknya tidak meminumnya setiap hari.
5. Kurang tidur tingkatkan risiko diabetes 2 kali lipat
Tidur merupakan faktor penting dalam mengendalikan gula darah bagi penderita diabetes. Kurang tidur tidak hanya merusak ginjal dan hati, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit serius.
Menurut penelitian yang dipublikasikan di jurnal American Heart Association, seorang psikolog AS melacak lebih dari 1.600 orang selama hampir 30 tahun. Hasilnya: penderita hipertensi atau diabetes yang tidur kurang dari 6 jam per hari memiliki risiko meninggal akibat penyakit jantung atau stroke 2 kali lebih tinggi. Jika mereka juga menderita kanker, angka kematian bisa melonjak 3 kali lipat.
Kurang tidur membuat tubuh menghasilkan lebih banyak hormon stres kortisol. Jika kadar kortisol tinggi, fungsi insulin terhambat sehingga gula darah sulit diserap oleh sel, dan akhirnya gula darah semakin meningkat.
Dr. Hu menekankan, bahkan pada orang sehat, tidur kurang dari 6 jam dalam jangka panjang, sering terbangun 2–3 kali di malam hari, dan tetap merasa lelah di pagi hari, akan membuat risiko terkena diabetes tipe 2 meningkat lebih dari 1 kali lipat.
Dr. Hu juga menjelaskan, penyebab gula darah tinggi bukan hanya masalah insulin. Masalah pada tiroid, kelenjar adrenal, rasa dingin, stres, maupun faktor emosional lain juga dapat menyebabkan gula darah naik. Hanya dengan menemukan akar penyebabnya, gula darah bisa dikendalikan dengan baik.
Baru-baru ini, seorang lansia berusia lebih dari 70 tahun yang tinggal sendirian di Chongqing meninggal dunia mendadak di rumahnya. Anjing peliharaannya tidak makan maupun minum selama seminggu penuh sambil menjaga jasad majikannya. Saat akhirnya diselamatkan dan dibawa pergi, anjing itu terlihat meneteskan air mata.
EtIndonesia. Di sebuah kompleks tua di Desa Fukang, Distrik Jiangbei, Chongqing, tinggal seorang lansia yang hidup menyendiri karena mengalami hambatan sosial dan jarang berinteraksi dengan tetangga. Ia sehari-hari bertahan hidup dengan mengumpulkan barang bekas, dan memelihara dua ekor anjing sebagai teman hidup.
Beberapa waktu lalu, lansia itu meninggal dunia secara tiba-tiba di rumah. Selama lebih dari satu minggu, tidak ada yang mengetahui hingga bau busuk menyebar.
Selama waktu itu, kedua anjingnya tetap setia di samping, tidak makan dan tidak minum. Saat ditemukan, satu ekor anjing sudah mati kelaparan, sementara yang satunya lagi kurus kering tinggal tulang.
Pada 4 September, tim “Wangwang Jiayuan Rescue” di Chongqing menerima laporan dari warga setempat bahwa anjing itu ditinggalkan sendirian karena pemiliknya meninggal, sementara pihak RT maupun keluarga tidak mengurusinya.
Setelah jenazah lansia dibawa pergi, anjing itu masih mondar-mandir di depan pintu menjaga rumah. Bahkan ia menggigit hingga besi pintu rusak untuk masuk kembali ke dalam. Beberapa orang baik hati mencoba membawanya pergi, tapi ia terus bersembunyi di sudut rumah, enggan meninggalkan tempat majikannya.
Video yang dirilis pusat penyelamatan menunjukkan kondisi rumah berantakan dengan barang-barang berserakan. Saat kakek Chen, relawan penyelamat, masuk dan melihat anjing itu, ia memanggil lembut: “Nak, jangan takut.”
Anjing itu seakan takut diusir lagi, lalu melompat ke tempat tidur majikannya. Kakek Chen mencoba memberinya sosis sebagai umpan, tapi ia tetap tidak mau pergi.
Kakek Chen pun berkata: “Saya datang untuk menyelamatkanmu, jangan takut, ikut kakek ya. Majikanmu sudah pergi ke surga, dia sakit dan tidak bisa lagi menjagamu, bukan karena tidak sayang padamu. Ikut kakek pulang, kakek akan merawatmu.”
Seolah mengerti perkataan itu, anjing tersebut menatap lama ke depan dengan mata berkaca-kaca. Perlahan ia menurunkan kewaspadaan, mulai mau makan sosis dari tangan kakek Chen, membiarkan dirinya dielus lembut, dan bahkan pasrah saat dipakaikan kalung.
Akhirnya, anjing itu mengikuti kakek Chen meninggalkan rumah lamanya. Namun ketika berjalan terseok-seok menuruni tangga, tiba-tiba ia berhenti di tikungan, lalu dua garis air mata jatuh dari matanya—seakan menyadari bahwa kepergiannya kali ini berarti tak akan kembali lagi.
Anjing itu kemudian dibawa ke rumah sakit hewan untuk diperiksa. Hasilnya, kondisinya sangat lemah, mengalami anemia parah dan kerusakan hati akibat kelaparan berkepanjangan. Saat ini ia sedang dalam masa pemulihan. Banyak netizen berhati baik menyumbangkan makanan dan perlengkapan untuknya melalui kakek Chen.
“Sakit hati lihatnya, kurus sekali, bahkan menangis.”
“Ya Tuhan, sampai keluar air mata, bikin terharu banget.”
“Ini adegan paling menyedihkan sekaligus paling hangat yang pernah saya lihat.”
“Anjing yang begitu mengerti perasaan manusia, sungguh penuh rasa syukur.”
“Sudah sekurus itu, syukurlah akhirnya diselamatkan. Saat lihat air matanya jatuh, saya juga ikut menangis.”
“Anjing menangis karena ia paham segalanya, hanya saja tidak bisa berbicara bahasa manusia.”
“Saya percaya anjing bisa menangis. Pernah ketika saya dan suami pergi liburan setengah bulan dan menitipkan anjing ke teman, saat kami menjemputnya, ia menangis dengan air mata besar-besar jatuh. Sejak itu ke mana pun kami pergi, pasti kami bawa.”
EtIndonesia. Polisi Inggris dalam beberapa pekan terakhir telah menahan ratusan pendukung kelompok Palestine Action berdasarkan undang-undang anti-terorisme. Pada Sabtu (6/9/2025), dalam sebuah aksi demonstrasi untuk mendukung organisasi tersebut, polisi kembali menangkap sekitar 425 orang.
“Palestine Action” sebelumnya dimasukkan dalam daftar terlarang oleh otoritas Inggris pada Juli lalu dengan dasar undang-undang anti-terorisme, karena sebagian anggotanya menerobos markas Angkatan Udara Kerajaan Inggris (Royal Air Force) dan merusak pesawat militer. Kelompok ini juga menargetkan perusahaan pertahanan Inggris yang memiliki hubungan dengan Israel.
Dalam beberapa pekan terakhir, polisi telah menahan ratusan pendukung Palestine Action. Bulan lalu, dalam satu hari saja, lebih dari 500 orang ditangkap, banyak di antaranya berusia di atas 60 tahun.
Pada 6 September 2025, ratusan demonstran berkumpul di sekitar Gedung Parlemen di pusat kota London untuk memprotes larangan pemerintah terhadap kelompok tersebut.
Kepolisian Metropolitan London (Met) sebelumnya sudah memperingatkan bahwa siapa pun yang secara terbuka menyatakan dukungan kepada organisasi yang telah dilarang ini akan langsung ditangkap tanpa ragu.
Dalam pernyataan yang dirilis pada malam hari tanggal 6, polisi menyebutkan telah menangkap “lebih dari 425 orang” terkait aksi demonstrasi tersebut, dan menambahkan bahwa “sebagian besar penangkapan dilakukan karena mendukung organisasi yang dilarang.”
Keluarga Kekaisaran Jepang menyambut momen penting. Pangeran Hisahito, putra Pangeran Akishino Fumihito, pada Sabtu (6/9/2025) melaksanakan upacara Kakan no Gi (upacara pemakaian mahkota), menandai resminya kedewasaan. Ini merupakan pertama kalinya dalam 40 tahun seorang anggota pria keluarga kekaisaran menjalani upacara kedewasaan.
EtIndonesia. Pangeran Hisahito memasuki aula untuk menghadiri upacara kedewasaan yang digelar di kediaman kekaisaran. Setelah duduk, petugas istana mengenakan hiasan kepala yang melambangkan kedewasaan kepadanya.
Kaisar Naruhito dan Permaisuri Masako, bersama Putra Mahkota Akishino Fumihito serta Putri Kiko, hadir di barisan depan dengan wajah khidmat.
Pangeran Hisahito menyampaikan: “Hari ini, dalam kesempatan upacara kedewasaan ini, saya dengan penuh rasa syukur menerima mahkota. Saya tulus berterima kasih kepada Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri atas kehadiran mereka dalam upacara ini.”
Upacara ini bertepatan dengan ulang tahun Pangeran Hisahito yang ke-19. Kaisar Naruhito, Permaisuri Masako, Putra Mahkota Akishino, dan Putri Kiko bersama anggota keluarga kekaisaran lainnya turut hadir.
Dalam pidatonya, Pangeran Hisahito menyatakan rasa terima kasih yang mendalam atas terselenggaranya upacara kedewasaan, serta menegaskan tekadnya untuk secara sadar menjalankan tanggung jawab dan kewajiban sebagai anggota keluarga kekaisaran yang telah dewasa.
Menurut survei terbaru Kyodo News, sembilan dari sepuluh warga Jepang mendukung perempuan mewarisi takhta.
Namun, berdasarkan Imperial Household Law yang berlaku sejak 1947, Putri Aiko yang berusia 23 tahun—putri tunggal Kaisar Naruhito—tidak dapat naik takhta karena alasan gender. Komite terkait di PBB pernah mengkritik aturan ini.
Perdebatan mengenai suksesi takhta Jepang telah berlangsung selama beberapa dekade. Pada 2005, komite pemerintah sempat merekomendasikan agar warisan takhta tidak dibatasi gender, melainkan diberikan kepada anak sulung, baik laki-laki maupun perempuan, seolah membuka jalan bagi Putri Aiko. Namun, pada tahun berikutnya lahirlah Pangeran Hisahito, sehingga diskusi tersebut untuk sementara dihentikan.
EtIndonesia. Pada 7 September malam hingga 8 September 2025 dini hari, langit menampilkan fenomena langka berupa gerhana bulan total, yang dikenal juga sebagai “bulan darah”. Saat itu, seluruh kawasan Asia, bagian barat Australia, dan sebagian wilayah timur Afrika dapat menyaksikannya.
Seorang ahli fengshui mengatakan, dengan munculnya gerhana bulan ini, pergerakan bintang pada September sangat kental dengan nuansa “politik”, melambangkan bahwa dunia akan berada dalam bayang-bayang konflik politik, guncangan ekonomi, dan bencana alam.
Pada 6–8 September, dalam kurun waktu kurang dari 48 jam, berturut-turut hadir momen penting: Hari Zhongyuan (Festival Hantu), gerhana bulan total, dan peralihan musim Bailu (embun putih). Pada 7 September malam hingga 8 September dini hari, gerhana bulan akan terlihat di langit dan saat itu akan muncul “bulan merah”.
Saat gerhana bulan terjadi, sebagian atau seluruh permukaan bulan tertutup bayangan bumi, menampakkan bentuk sabit atau purnama dengan warna oranye kemerahan, tembaga, hingga merah gelap, menciptakan fenomena menakjubkan yang disebut “bulan darah” (blood moon).
Munculnya Blood Moon atau Bulan darah selalu membawa perasaan was-was bagi banyak orang, dianggap sebagai pertanda buruk atau peringatan akan peristiwa besar yang akan tiba. (Sumber gambar: Adobe Stock)
Sejak dahulu, kemunculan bulan darah sering dikaitkan dengan pertanda luar biasa, baik di Timur maupun Barat. Peramal Dinasti Tang, Li Chunfeng, menulis dalam Yisi Zhan: “Bulan merah seperti darah, pertanda perang dan kelaparan.” Dalam Sejarah Dinasti Qi Selatan, Bab Astronomi juga tercatat: “Bulan berwarna darah, pertanda perang.”
Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama dan Baru, bulan darah kerap dianggap sebagai pertanda kiamat. Dalam Kitab Yoel disebutkan: “Sebelum datangnya hari Tuhan yang besar dan dahsyat itu, matahari akan menjadi gelap, dan bulan akan berubah menjadi darah.”
Warna merah tua bulan darah dikaitkan dengan elemen api dalam teori lima unsur. Dalam tahun Yisi yang berunsur kayu melahirkan api, mudah memicu konflik, gejolak keuangan, dan fenomena “api mengalahkan logam”. Ditambah lagi, saat ini bertepatan dengan musim Bailu yang berenergi logam (keras dan tegas), bertemu dengan api bulan darah, sehingga membentuk situasi “pertempuran api dan logam” yang berisiko.
Pada 3 September, ahli fengshui Taiwan, Li Jingwei, menulis di Facebook bahwa September akan dihiasi rangkaian fenomena astronomi kuat, termasuk bulan darah, gerhana matahari sebagian, bulan menutupi Venus, serta oposisi Saturnus. Semua ini melambangkan dunia berada dalam bayangan konflik politik, guncangan ekonomi, dan bencana alam.
Li Jingwei menyebut, September adalah bulan dengan nuansa politik yang sangat kental, saat konflik antara pemimpin negara dan rakyat bawah semakin tajam. Setelah berakhirnya konfigurasi “ular karma”, umat manusia akan menghadapi semacam “pembersihan besar” akibat karma masa lalu.
Ia menambahkan, sejak 31 Agustus, saat Merkurius memasuki Leo dan berkonjungsi dengan Matahari serta Ketu, para pemimpin dunia lebih rentan mengalami masalah, salah ucap, kehilangan fokus, bahkan bisa memicu konflik diplomatik.
Li menekankan, saat gerhana bulan total pada 7 September, Bulan di Aquarius yang melambangkan kemanusiaan akan berhadapan langsung dengan Matahari dan Merkurius di Leo yang melambangkan otoritas. Ini bisa membuat situasi dunia sangat tegang, baik berupa gempa bumi, protes politik, bahkan krisis keuangan, yang sewaktu-waktu bisa terpicu.
Ia mengingatkan, pada 11 September dini hari, “Matahari dan Ketu” sepenuhnya berkonjungsi di Leo. Konstelasi ini menandakan perlunya kewaspadaan terhadap kondisi kesehatan maupun kejadian tak terduga yang menimpa pemimpin negara. Bahkan kekuasaan mereka mungkin menghadapi tantangan serius. Karena itu, kemungkinan terjadinya bencana besar “sekali dalam seratus tahun” di beberapa negara tetap tidak bisa diabaikan.
Gerhana matahari sebagian pada 21 September melambangkan berakhirnya era lama dan datangnya energi baru. Li Jingwei menilai, ini bukan hanya momen perpisahan dengan masa lalu, tetapi juga pertanda bahwa umat manusia akan memasuki zaman baru.
Pada 5 September, Li kembali menulis bahwa pada 6 September Uranus di Taurus bersiap untuk retrograde. Sebelum retrograde, planet akan berada dalam kondisi “stasioner” yang dianggap sebagai momen paling kuat. Ditambah lagi, pada 7 September bulan darah di Aquarius beroposisi dengan Matahari di Leo.
Menariknya, gerhana matahari sebagian pada 21 September juga akan terjadi di Virgo berkonjungsi dengan Merkurius. Artinya, baik gerhana matahari maupun gerhana bulan pada September ini sangat terkait dengan para pemimpin negara dan dinamika politik yang penuh arus bawah.
Li juga menyinggung bahwa Uranus saat ini sedang dalam kondisi stasioner. Dari semua planet luar, Uranus dikenal paling dingin sekaligus paling “tidak terduga”. Dampaknya bisa berupa cuaca ekstrem, gelombang panas, kebakaran hutan, pencairan cepat gunung es, gempa besar, pemadaman listrik, hingga putusnya jaringan internet, semuanya bisa terjadi secara tiba-tiba.
*Penjelasan ini berasal dari kepercayaan tradisional, hanya untuk referensi, bukan pandangan resmi media ini*
Serangan siber yang dilancarkan oleh pemerintahan Partai Komunis Tiongkok (PKT) setidaknya telah menyasar lebih dari 80 negara, memengaruhi lebih dari 200 lembaga di Amerika Serikat, hingga membuat hampir seluruh data pribadi warga Amerika dicuri
EtIndonesia. Baru-baru ini, Aliansi Lima Mata (Five Eyes) bersama sejumlah lembaga penegak hukum dan intelijen Eropa merilis sebuah laporan yang mengungkap: kelompok peretas PKT bernama “Salt Typhoon” (Badai Garam) telah menyerang lebih dari 80 negara. Target mereka mencakup sektor telekomunikasi, pemerintahan, transportasi, perhotelan, dan infrastruktur militer. Sekitar 600 perusahaan menjadi korban, termasuk 200 lembaga Amerika yang sudah berhasil ditembus, sehingga hampir semua data pribadi warga AS bocor.
“Aksi serangan siber PKT semakin beragam, dengan frekuensi yang terus meningkat. Dengan serangan berulang ini, mereka berusaha menguras energi lawan, khususnya lembaga pemerintah, menciptakan kekacauan internal, menumbuhkan ketidakpercayaan pada pemerintah, serta memecah belah masyarakat di negara demokratis,” ujar Asisten peneliti di Institute for Political, Military and Operational Concepts Studies, Fang Congyan.
Blogger kanal Mark Time, Mark, berpendapat: “PKT selalu ingin mendapatkan catatan komunikasi pribadi pejabat Barat, untuk memahami karakter dan kelemahan mereka. Tujuannya adalah mengidentifikasi apakah seseorang bisa direkrut menjadi mata-mata. Menurut saya, ini adalah jalan pintas bagi PKT untuk mengendalikan Amerika Serikat atau mencuri intelijen dari AS di masa depan.”
Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat menyatakan bahwa saat ini mereka sudah berhasil mengendalikan sebagian besar serangan, dan berbagai negara juga semakin mampu melacak aktivitas hacker PKT. Namun, ancaman siber dari Tiongkok masih terus berlanjut.
Fang Congyan menekankan: “Kita menghadapi musuh bersama (adversary), sehingga perlu adanya kerja sama antarnegara dan antar lembaga terkait. Melalui pertukaran informasi dan pengalaman secara intensif, barulah kita bisa menghadapi ancaman ini.”
EtIndonesia. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, baru-baru ini menyatakan bahwa pemerintahan Trump sedang membatasi pemberian visa bagi sejumlah warga negara Amerika Tengah. Alasannya, mereka “sengaja bertindak mewakili Partai Komunis Tiongkok (PKT)” dan merusak supremasi hukum di kawasan tersebut.
“Amerika Serikat berkomitmen untuk memerangi pengaruh korup PKT di Amerika Tengah dan mencegah upaya mereka merusak supremasi hukum,” demikian dalam pernyataannya di Departemen Luar Negeri AS.
Pernyataan resmi itu menegaskan bahwa bagi warga Amerika Tengah yang secara sadar bekerja untuk PKT, termasuk yang memberi perintah, otorisasi, pendanaan, atau dukungan dalam merusak supremasi hukum di kawasan, AS tidak akan mengeluarkan visa. Mereka juga akan dimintai pertanggungjawaban atas upaya menggoyahkan stabilitas di belahan barat bumi.
Penulis kolom Epoch Times, Wang He, menilai: “Sebagian besar investasi luar negeri Tiongkok diarahkan ke Amerika Latin. Banyak negara di kawasan ini sudah bergabung dalam proyek Belt and Road Initiative (BRI). Karena itu, penetrasi PKT ke dalam aspek ekonomi, politik, dan sosial di Amerika Latin sangat serius.”
Jurnalis senior, Tang Hao, menjelaskan: “PKT mengekspor apa yang disebut ‘korupsi geopolitik’ di Amerika Latin. Mereka tampaknya berinvestasi di infrastruktur, tetapi dalam praktiknya menggunakan suap, komisi gelap, dan gratifikasi kepada pejabat untuk mengendalikan politik lokal. Hal ini merusak supremasi hukum, sekaligus memberi PKT keuntungan strategis, misalnya mempengaruhi hak navigasi di Terusan Panama, sehingga bisa memanfaatkan Amerika Latin untuk menantang AS.”
Wang He menambahkan: “Pernyataan AS kali ini memang tidak menyebutkan nama atau contoh spesifik. Justru cara seperti inilah yang paling efektif untuk menciptakan efek gentar. Dengan membatasi visa secara langsung terhadap individu yang bertindak untuk PKT, langkah ini menjadi serangan yang tepat sasaran. Hal ini memaksa setiap individu menanggung tanggung jawab pribadi, sekaligus menempatkan infiltrasi PKT dan aktivitas agen-agennya di Amerika Tengah di bawah kendali AS.”
Tang Hao juga mengingatkan: “Amerika Latin setiap tahun mengekspor narkoba dalam jumlah besar ke AS, termasuk kokain yang dicampur fentanil. Proses produksi dan distribusi narkoba itu sendiri terkait dengan ekspor korupsi dan manipulasi ilegal PKT di negara-negara Amerika Tengah.”
Rubio menegaskan bahwa AS akan terus menggunakan segala cara untuk menjaga stabilitas kawasan dan keamanan nasional. Sebelumnya, AS juga telah mencabut visa mahasiswa Tiongkok, termasuk mereka yang memiliki hubungan dengan Partai Komunis Tiongkok.
Resep pasta ayam lemon yang mudah ini terasa segar, ringan, dan penuh rasa
Lauren Allen
Pasta Ayam Lemon adalah Masakan untuk Makan Malam
Resep ini menggunakan zucchini dan labu segar, keju parmesan, dan lemon segar. Yang terbaik, resep ini MUDAH dan CEPAT, cocok untuk musim panas. Penulis suka bagaimana resep pasta ayam lemon ini tidak berat karena saus, sehingga rasanya ringan dan segar.
Tips Penting:
Gunakan bahan segar! Jangan gunakan keju parmesan bubuk atau kemasan.
Gunakan lemon segar, bukan jus lemon botolan—perbedaan rasanya besar!
Gunakan peterseli segar, bukan daun kering, karena rasa segar tidak bisa digantikan oleh yang kering. Semua ini membuat masakan lebih enak jika dibuat dari awal!
Untuk malam yang sibuk, simpan ide masakan 30 menit seperti Burrata Pizza, Lemon Chicken Piccata, Mexican Pizza, Thai Basil Chicken, atau Patty Melt.
Lauren Allen
Cara Membuat Pasta Ayam Lemon
Masak Ayam: Bumbui ayam dengan garam, merica, kulit lemon, bubuk bawang putih, bubuk bawang, dan bumbu Italia. Masak ayam hingga matang.
Masak Sayuran: Tambahkan zucchini dan labu, beri garam, merica, bubuk bawang putih, dan bumbu Italia. Masak hingga layu.
Selesaikan Masakan: Tambahkan pasta panas, mentega, dan jus lemon. Aduk hingga mentega meleleh. Taburi dengan parmesan segar dan aduk. Tambahkan ayam yang telah dipotong-potong, hiasi dengan peterseli dan keju parmesan tambahan. Sajikan dengan roti.
Bahan (Untuk 5 Porsi)
454 g pasta mini farfalle atau pasta ukuran kecil favorit
2–3 dada ayam tanpa tulang dan kulit
Garam dan merica secukupnya
1 sdt kulit lemon
1 sdt bubuk bawang putih (dibagi)
1 sdt bumbu Italia (dibagi)
1/2 sdt bubuk bawang
3 sdm minyak zaitun (dibagi)
1 zucchini, cincang
1 labu kuning, cincang
3 siung bawang putih, cincang
57 g mentega (4 sdm)
60 g jus lemon segar (1/4 cangkir)
95 g keju parmesan parut segar (1 cangkir)
15 g peterseli segar cincang (1/4 cangkir)
Cara Memasak
Masak pasta sesuai petunjuk kemasan.
Bumbui ayam di kedua sisi dengan garam, merica, kulit lemon, 1/2 sdt masing-masing bubuk bawang putih, bumbu Italia, dan bubuk bawang. Panaskan 2 sdm minyak zaitun di wajan besar dengan api sedang-tinggi. Masak ayam 3–5 menit per sisi hingga matang. Angkat dan tutup dengan aluminium foil agar tetap hangat.
Masak sayuran: Tambahkan 1 sdm minyak zaitun ke wajan, masukkan zucchini dan labu kuning. Bumbui dengan garam, merica, 1/2 sdt bubuk bawang putih, dan 1/2 sdt bumbu Italia. Masak 2 menit, lalu tambahkan bawang putih cincang dan masak 30 detik.
Tambahkan pasta panas, mentega, dan jus lemon. Aduk hingga mentega meleleh. Taburi parmesan dan aduk. Masukkan ayam yang telah dipotong.
Sajikan dengan peterseli segar dan keju parmesan tambahan sesuai selera.
Catatan
Keju Parmesan: Keju parmesan segar parut memberikan rasa dan tekstur terbaik, serta meleleh lebih baik dibanding keju bubuk atau kemasan.
Jus Lemon: Lemon segar membuat rasa jauh lebih segar dan tajam.
Peterseli: Peterseli segar memberikan rasa tambahan yang tidak bisa digantikan peterseli kering.
Sayuran: Bisa diganti dengan brokoli, asparagus, bayam, atau sayuran favorit lainnya.
Pasta: Gunakan pasta kecil favorit Anda.
Nutrisi Per Porsi
Kalori: 650 kkal
Karbohidrat: 75 g
Protein: 29 g
Lemak: 26 g (jenuh: 11 g, tak jenuh ganda: 2 g, tak jenuh tunggal: 10 g, trans: 0,4 g)
Kolesterol: 70 mg
Natrium: 487 mg
Kalium: 665 mg
Serat: 4 g
Gula: 5 g
Vitamin A: 884 IU
Vitamin C: 24 mg
Kalsium: 229 mg
Zat Besi: 2 mg
Resep ini pertama kali diterbitkan di tastesbetterfromscratch.com.
EtIndonesia. Pasukan Israel terus meningkatkan serangan ke Gaza, membersihkan para Hamas yang masih bertahan di Kota Gaza. Pada Jumat (5/9/2025), Hamas merilis video dua sandera Israel, dengan maksud menjadikan mereka sebagai perisai manusia untuk menghalangi serangan militer Israel ke markas terakhir Hamas di Kota Gaza.
Israel pada hari yang sama melancarkan serangan udara terhadap gedung Mushtaha setinggi 14 lantai di Kota Gaza, yang kemudian runtuh. Militer Israel menyatakan gedung itu merupakan basis militer Hamas, dan sebelum serangan pihaknya telah memperingatkan warga sipil untuk mengungsi.
Menurut otoritas kesehatan Gaza, 30 orang tewas dalam serangan udara Israel padai Jumat, termasuk 20 orang di Kota Gaza.
Pada hari itu juga, sayap militer Hamas merilis sebuah video yang menampilkan dua sandera Israel yang ditahan di Kota Gaza.
Sandera Guy Gilboa-Daral berkata dalam video: “Inilah yang kami harapkan. Kami ingin semua ini berakhir. Kami ingin kembali kepada keluarga kami. Tolong bawa kami pulang.”
Daral, yang ditahan oleh sayap militer Hamas Brigade al-Qassam, mengatakan video itu direkam pada 28 Agustus. Ia bersama sejumlah sandera lain masih ditahan di Kota Gaza.
Sandera lain yang juga muncul dalam video adalah Alon Oher, yang juga ditahan oleh Hamas di Gaza.
Pada 7 Oktober 2023, Hamas melancarkan serangan teroris ke Israel, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menculik 251 sandera. Hingga kini, masih ada 48 sandera yang ditahan Hamas di Gaza. Diyakini sekitar 20 orang di antaranya masih hidup. Pengamat menilai, rilis video sandera ini adalah upaya Hamas menggunakan sandera sebagai perisai manusia untuk menahan serangan terakhir Israel ke Kota Gaza.
Militer Lebanon Usulkan Pelucutan Senjata Hizbullah, Dibahas di Kabinet
Sementara itu di Lebanon, pada Jumat kabinet menggelar rapat membahas usulan militer agar Hizbullah dilucuti dan semua persenjataan berada di bawah kendali negara.
Sejak gencatan senjata Israel-Lebanon pada November tahun lalu yang dimediasi Amerika Serikat, tuntutan agar Hizbullah dilucuti semakin kuat di dalam negeri.
Namun pihak Hizbullah menegaskan, mereka tidak akan menyerahkan senjata yang tersisa sebelum Israel sepenuhnya menarik diri dari wilayah Lebanon.
Militer Israel menyatakan akan terus menyerang target militer Hizbullah untuk mencegah kelompok itu mempersenjatai diri kembali, demi melindungi warga di perbatasan utara Israel.