Satu Kalimat yang Membuat Anggota Penipu Minta Maaf: Kisah Ibu Hebat yang Menyentuh Hati

EtIndonesia. Telepon penipuan sudah bukan hal yang asing. Modusnya beragam dan tak jarang mengandalkan emosi korban, seperti rasa takut, cemas, dan panik agar korban mudah tertipu. Salah satu skenario klasik adalah anak kecil menangis memanggil “Mama” di ujung telepon, berpura-pura sebagai anak korban yang sedang dalam bahaya.

Namun siapa sangka, ketika modus seperti ini dijalankan kepada seorang ibu luar biasa asal Kaohsiung, Taiwan, bernama “Ibu Xiao Bi”, justru membalikkan keadaan. Satu kalimat jujur darinya membuat anggota sindikat penipuan tersadar, mengucapkan permintaan maaf, dan bahkan mendoakan dirinya.

 “Kalau anak saya bisa panggil ‘Mama’, saya akan sangat berterima kasih pada Anda.”

Dalam unggahan yang dia bagikan di sebuah grup Facebook, Ibu Xiao Bi menceritakan saat menerima telepon dari penipu yang berbicara dengan logat Tiongkok daratan. Di seberang telepon, terdengar suara seorang anak laki-laki menangis memanggil “Mama”. 

Tapi bukannya panik, dia justru dengan tenang menjawab: “Kalau anak saya benar-benar bisa memanggil ‘Mama’, saya akan sangat berterima kasih pada Anda.”

Lawannya di seberang telepon terdiam, lalu dengan suara penasaran bertanya: “Kenapa?”

Dengan ketulusan yang menyentuh, Ibu Xiao Bi menjawab: “Karena anak saya mengalami cerebral palsy (kelumpuhan otak). Dia tidak bisa berjalan, tidak bisa makan sendiri, bahkan tidak bisa bicara. Selama 18 tahun saya merawatnya sendirian.”

Mendengar pengakuan tersebut, anggota sindikat penipuan itu terdiam cukup lama. Akhirnya, dia berkata lirih: “Maaf telah mengganggu Anda… Semoga Tuhan memberkati Anda.”

Setelah itu, dia menutup telepon begitu saja.

 “Saya belum sempat tanya, kalian masih buka lowongan atau tidak!”

Dengan gaya khasnya yang penuh humor, Ibu Xiao Bi menambahkan dalam unggahannya: “Saya bahkan belum sempat tanya, kalian masih butuh orang nggak? Kenapa buru-buru ditutup sih? Sakit hati banget, loh!”

Unggahan tentang peristiwa tersebut dalam waktu kurang dari satu hari mendapat puluhan ribu tanda suka dari warganet. Banyak yang tersentuh dan kagum akan ketegaran Ibu Xiao Bi, serta tak lupa memberikan dukungan dan doa untuk dirinya dan sang anak.

Perjuangan Seorang Ibu: Sendiri, Tapi Tak Pernah Menyerah

Di balik senyum cerah dan candaan Ibu Xiao Bi, tersimpan cerita yang penuh perjuangan dan luka.

Menurut laporan media Taiwan, nama asli Ibu Xiao Bi adalah Chen Jialing. Dia melahirkan anaknya, yang akrab dipanggil “Xiao Bi”, 18 tahun lalu. Saat usia enam bulan, setelah mendapatkan imunisasi, Xiao Bi mengalami reaksi buruk yang memicu kejang hebat dan akhirnya berujung pada cerebral palsy berat (kelumpuhan otak parah).

Ayah biologis Xiao Bi memilih meninggalkan mereka, tak sanggup menghadapi kenyataan bahwa anaknya tak bisa bicara dan tak bisa bergerak. Sejak saat itu, Chen Jialing memikul seluruh beban hidup dan merawat Xiao Bi seorang diri.

Biaya pengobatan, operasi, terapi, serta kebutuhan sehari-hari yang luar biasa berat membuat Chen Jialing jatuh dalam depresi. Saat Xiao Bi berusia 10 tahun, dia sempat mencoba bunuh diri dengan menelan obat.

Namun, takdir berkata lain. Dia selamat, hanya mengalami kerusakan ringan pada pita suara.

“Kalau Tuhan belum mau saya pergi, berarti saya harus tetap hidup untuk merawat anak saya,” ujarnya.

Sejak itu, dia bangkit kembali. Apa pun kesulitan yang datang, dia hadapi. Dia tak pernah lagi lari dari kenyataan.

“Karena ini adalah pelajaran yang Tuhan berikan untuk saya. Tidak ada orang lain yang bisa mengerjakannya selain saya,” katanya.

Menemukan Harapan Lewat Lari

Dua tahun lalu, seorang teman mengajaknya ikut acara lari bersama (charity run). Awalnya hanya untuk hiburan, tapi kegiatan itu justru menjadi titik balik hidupnya. Saat berlari, beban hidup terasa lebih ringan. Dia bisa melepaskan tekanan yang begitu menyesakkan dada.

Lebih dari itu, kegiatan ini memberinya kesempatan untuk mengajak Xiao Bi keluar rumah dan melihat dunia. Dunia yang selama ini hanya bisa dilihat Xiao Bi dari balik jendela kamar.

 “Anak ini bukan beban, tapi malaikat,” ujarnya lirih.

Banyak orang yang mencibir, mengatakan bahwa Xiao Bi adalah beban. Tapi Ibu Xiao Bi menanggapi dengan cara yang lembut dan penuh cinta: “Anak ini adalah malaikat. Meski saya mengorbankan banyak hal, cinta saya sebagai ibu mengatakan: tidak bisa hanya karena dia sakit lalu saya menganggapnya sebagai beban.”

Dia tidak pernah menyesal telah melahirkan Xiao Bi. Meskipun jalannya penuh air mata dan peluh, namun setiap sedikit kemajuan yang ditunjukkan anaknya adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupnya.

Menjadi Cahaya untuk Orang Lain

Kini, setelah melewati badai kehidupan yang begitu panjang, Ibu Xiao Bi tampil dengan senyum cerah seperti mentari pagi. Dia berharap dapat menjadi cahaya dan inspirasi bagi siapa pun yang sedang berada dalam masa-masa sulit.

Dia juga berharap, masyarakat tidak memandang anak-anak dengan keterlambatan tumbuh kembang (anak “malaikat”) dengan tatapan aneh, melainkan dengan kasih dan pengertian.

Dan bagi para orang tua yang memiliki anak “malaikat”, dia berpesan: “Ajak mereka keluar rumah. Biarkan mereka melihat dunia. Dan percayalah, mereka juga membawa cahaya dalam hidup kita.” (jhn/yn)

Mengapa Seseorang Akan Melihat “Lentera Berputar” Sebelum Ajal?

EtIndonesia. “Lentera berputar” adalah sejenis lentera hias yang dinyalakan dengan lilin di dalamnya. Panas dari nyala lilin menciptakan aliran udara yang menyebabkan poros lentera berputar. Potongan kertas siluet yang ditempatkan pada poros ini kemudian memantulkan bayangan bergerak ke dinding sekeliling, menciptakan kesan gambar yang terus berputar seperti film.

Dalam konteks kehidupan, istilah ini digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan fenomena saat seseorang berada di ambang kematian, di mana pikiran mereka dengan sangat cepat memutar kembali seluruh kenangan hidup—seolah-olah sedang menonton film kehidupan mereka sendiri.

Dalam buku Seeing Life karya Bruce Greyson, dijelaskan bahwa sekitar 25% orang yang pernah mengalami pengalaman mendekati kematian (near-death experience) menyatakan bahwa mereka sempat mengalami kilas balik kehidupannya. Beberapa merasakannya secara kronologis dari awal hingga akhir, sementara lainnya justru mengalaminya secara terbalik. Bagi mereka, semuanya tampak seperti menonton film yang diputar kilat di depan mata.

1. Mengapa Menjelang Kematian Manusia Melihat “Lentera Kehidupan” Berputar?

Fenomena munculnya “film kehidupan” sebelum kematian bukanlah sekadar cerita mistik. Penelitian terbaru bahkan membuktikan bahwa ini adalah kejadian nyata dan teramati secara ilmiah.

Pada 22 Februari 2022, sekelompok ilmuwan dari Amerika Serikat mempublikasikan hasil studi mereka di jurnal Frontiers in Aging Neuroscience. Mereka mengungkapkan bahwa gelombang otak manusia sesaat sebelum meninggal menunjukkan pola yang sangat mirip dengan kondisi ketika seseorang sedang bermimpi, mengingat kenangan, atau bermeditasi. Temuan ini memberikan dasar ilmiah bagi teori tentang “film kehidupan yang berputar” menjelang ajal.

Tim peneliti dari Universitas Michigan yang dipimpin oleh Jimo Borjigin juga mempublikasikan studi dalam jurnal PNAS yang menganalisis gelombang otak dari empat pasien sekarat. Mereka menemukan bahwa saat ventilator dihentikan, aktivitas gelombang gamma di otak melonjak hingga 391 kali lipat dan berlangsung hingga fase awal kematian. Ledakan aktivitas ini menunjukkan munculnya apa yang disebut sebagai kesadaran laten (covert consciousness).

Dari sisi neurosains, hal ini diduga terkait dengan nukleus locus coeruleus—sebuah pusat pengatur di otak yang mengontrol reaksi terhadap stres dan mengaktifkan sistem memori. Ketika seseorang menjelang kematian, area ini kemungkinan besar terstimulasi kuat, sehingga seluruh sistem memori aktif, menayangkan kembali seluruh peristiwa hidup bak lentera berputar.

2. Mengapa Menjelang Kematian Terjadi Fenomena “Cahaya Terakhir” atau ‘Kesadaran Sekilas’?

Selain fenomena lentera kehidupan, ada pula yang disebut cahaya yang bersinar sesaat sebelum padam. Dalam budaya medis, ini sering disebut sebagai fenomena “kesadaran terakhir”—di mana seseorang yang sebelumnya tampak sekarat mendadak terlihat sadar, berbicara normal, atau bahkan tampak membaik sesaat sebelum meninggal.

Kematian secara medis umumnya melalui tiga tahap:

1. Tahap sekarat (near-death) – organ-organ vital mulai gagal, tetapi masih bisa diselamatkan jika ditangani segera.

2. Kematian klinis – napas dan detak jantung berhenti, tekanan darah dan nadi hilang. Dalam kondisi tertentu masih bisa dihidupkan kembali.

3. Kematian biologis – seluruh aktivitas otak dan batang otak berhenti secara permanen. Inilah titik tidak bisa kembali.

Fenomena “kesadaran terakhir” biasanya terjadi di antara tahap pertama dan kedua. Saat itu, tubuh mengaktifkan mekanisme darurat yang dikendalikan oleh sumbu HPA (hipotalamus-pituitari-adrenal) dan sistem saraf simpatis-adrenal, yang melepaskan hormon dalam jumlah besar—terutama adrenalin dan kortisol. Hormon ini membuat tubuh tampak “segar” sejenak.

Selain itu, sel-sel manusia menyimpan ATP (Adenosin Trifosfat) sebagai sumber energi utama. Saat menghadapi stres ekstrem, ATP akan cepat diubah menjadi ADP (Adenosin Difosfat), melepaskan energi besar untuk memberikan tenaga tambahan terakhir. Inilah yang membuat orang yang sedang sekarat tiba-tiba terlihat pulih, walau hanya sesaat.

3. Mengapa Banyak Orang Mengaku Melihat Kerabat yang Sudah Meninggal?

Menjelang ajal, banyak orang melaporkan “melihat” arwah atau sosok orang terkasih yang telah tiada—entah itu orangtua, pasangan, anak, atau teman dekat. Fenomena ini tidak hanya dijumpai dalam kisah fiksi atau kepercayaan tradisional, tapi juga di berbagai budaya, agama, dan zaman—dan secara mengejutkan memiliki pola yang serupa.

Fenomena ini telah tercatat dalam sejarah manusia selama ribuan tahun. Namun, baru pada abad ke-20 para ilmuwan mulai menelitinya secara serius.

Pada tahun 1926, Sir William Barrett, profesor fisika dari Royal College of Science di Dublin, mempublikasikan penelitian yang mengungkapkan bahwa sangat umum bagi orang yang sedang sekarat untuk “melihat” kerabat atau teman yang sudah meninggal.

Kemudian pada 1960–1970-an, dr. Karlis Osis, dari American Society for Psychical Research, melakukan studi lebih luas dan menemukan bahwa fenomena ini terjadi lintas budaya:

·        Sebagian orang melihat malaikat atau figur keagamaan,

·        Sebagian lain melihat tokoh mitologis,

·        Namun, yang paling umum adalah melihat orang terdekat yang telah tiada.

Yang menarik, banyak dari mereka merasakan ketenangan dan kebahagiaan, tidak seperti orang yang sehat yang justru ketakutan saat melihat “hantu”. Para pasien yang mengalami fenomena ini bahkan tetap sadar penuh akan kondisi mereka dan lingkungan sekitarnya, sehingga tampaknya bukan akibat delusi atau gangguan kesadaran.

Penutup: Maut sebagai Kepastian, Misteri, dan Pelajaran

Kematian adalah satu-satunya kepastian dalam hidup manusia. Namun, saat dia datang mendekat, manusia tetap diliputi rasa takut, bingung, dan rasa ingin tahu.

Dengan mengenali fenomena-fenomena seperti lentera kehidupan, kesadaran sesaat, dan penglihatan akan orang yang telah tiada, kita semakin menyadari betapa kompleksnya proses menuju akhir kehidupan.

Memahami dan menghargai kematian, justru menjadi cara terbaik untuk menjalani hidup ini dengan lebih bermakna dan penuh martabat.(jhn/yn)

Kisah Mengharukan Santa Claus: “Ayah Miskin dan Tiga Putri”

Etindonesia. Setiap tanggal 25 Desember, orang-orang dari berbagai belahan dunia merayakan Natal, sebuah hari yang sarat makna bagi umat Kristen, namun kini juga menjadi momen penuh sukacita bagi banyak orang, seperti halnya Tahun Baru Imlek bagi masyarakat Tionghoa — sebuah hari berkumpulnya keluarga dan pengharapan akan harapan baru.

Asal-usul dan Makna Natal

Natal atau Hari Kelahiran Yesus Kristus berasal dari ajaran Kristen, dan dirayakan untuk memperingati kelahiran Yesus, yang diyakini sebagai sang penyelamat umat manusia.

Dikisahkan bahwa Allah mengutus Yesus ke dunia, demi menyelamatkan jiwa-jiwa yang terjebak dalam penderitaan. Sebagai bentuk penghormatan dan cinta kasih kepada-Nya, umat Kristen menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran-Nya.

Malam sebelum Natal disebut “Malam Kudus” atau “Malam Damai” (Christmas Eve), dan bahkan di beberapa negara, perayaannya lebih meriah daripada hari Natal itu sendiri. Konon pada malam kelahiran Yesus, para gembala di padang mendengar suara malaikat dari langit, yang mengabarkan bahwa Juru Selamat telah lahir. Berita ini mereka sebarkan, dan inilah yang kemudian berkembang menjadi tradisi “menyanyikan lagu Natal dari rumah ke rumah” (caroling) dan perayaan khas malam Natal lainnya.

Santa Claus: Sosok Pemberi Hadiah Penuh Kasih

Gambaran Santa Claus yang kita kenal sekarang — pria tua berjubah merah, bertopi merah, tertawa lebar dan mengendarai kereta salju — sebenarnya adalah hasil rekaan dari karya sastra dan pemasaran selama seratus tahun terakhir.

Namun di balik imajinasi itu, ada kisah nyata yang menyentuh: Santa Claus berasal dari seorang nyata bernama Nikolas (St. Nicholas), seorang dermawan Kristen yang lahir di Patara, sebuah kota kecil di pesisir barat daya Turki.

Nikolas berasal dari keluarga kaya dan setelah mewarisi harta orangtuanya, dia menggunakannya untuk membantu masyarakat miskin di sekitarnya. Kisahnya yang paling terkenal adalah tentang “Seorang Ayah Miskin dan Tiga Putri”:

Kisah Ayah Miskin dan Tiga Putri

Dahulu, hiduplah seorang pria miskin dengan tiga orang anak perempuan. Ketika putri-putrinya tumbuh dewasa dan waktunya menikah tiba, sang ayah merasa gundah — dia tak memiliki cukup uang untuk memberikan mahar.

Karena tanpa mahar tak seorang pun bersedia menikahi putri-putrinya, nasib pernikahan mereka pun buntu.

Mengetahui hal ini, Nikolas diam-diam membantu.

Pada malam yang dingin, dia memanjat atap rumah keluarga miskin itu dan menjatuhkan sekantung emas melalui cerobong asap.

Kebetulan, di dekat perapian tergantung kaus kaki yang sedang dikeringkan, dan emas itu jatuh ke dalamnya.

Inilah asal mula legenda Santa yang turun dari cerobong dan hadiah dalam kaus kaki yang kini kita kenal sekarang ini.

Dengan bantuan itu, putri pertama berhasil menikah. Hal yang sama terjadi untuk putri kedua dan ketiga

Sang ayah yang penuh rasa syukur bersembunyi di dekat cerobong untuk mencari tahu siapa dermawan misterius ini, hingga suatu malam dia akhirnya memergoki Nikolas.

Sejak saat itu, nama Nikolas dikenal luas, dan siapa pun yang mendapat bantuan diam-diam akan mengaitkannya dengan sosoknya.

Setelah dia wafat, orang-orang menghormatinya sebagai seorang “Santo”, dan menetapkan hari kematiannya sebagai Hari Santo Nikolas (St. Nicholas Day).

Dari sinilah, citra Santa Claus mulai menyebar luas ke seluruh Eropa, membawa warisan kebaikan, kemurahan hati, dan cinta kasih yang tulus.

Tradisi Natal yang Unik dari Berbagai Negara

Spanyol: Empat Hidangan Natal dan Tradisi Makan Anggur

Spanyol merayakan Natal dengan empat kali perjamuan besar, mulai dari malam Natal (24 Desember), hari Natal (25 Desember), malam tahun baru (31 Desember) hingga Hari Tiga Raja (6 Januari).

Yang paling unik: saat hitung mundur pergantian tahun, setiap detik terakhir dari 12 detik sebelum tengah malam, mereka memakan 12 butir anggur, satu per detik, sebagai simbol keberuntungan sepanjang tahun mendatang.

Jepang: Natal = KFC

Di Jepang, Natal identik dengan… makan ayam goreng KFC!

Tradisi ini berawal dari tahun 1970-an, ketika sekelompok orang asing merindukan hidangan ayam kalkun khas Natal. Seorang manajer restoran KFC saat itu menginisiasi paket “Natal Ayam Goreng”, dan siapa sangka, menjadi tren nasional.

Kini, saat malam Natal, antrean di KFC Jepang bisa mencapai berjam-jam lamanya — semua demi seember ayam goreng.

Ukraina: Pohon Natal Dihias Jaring Laba-laba

Di saat negara lain menghias pohon Natal dengan bintang dan bola-bola warna-warni, orang Ukraina menggantung hiasan berbentuk jaring laba-laba.

Legenda setempat menyebut, seorang ibu tunggal miskin tak mampu membeli dekorasi untuk pohon Natal. Anak-anaknya menangis kecewa.

Melihat kesedihan itu, laba-laba turun dari langit, menenun jaring yang berkilau indah di pohon tersebut — dan sejak itu, jaring laba-laba jadi simbol harapan dan mukjizat dalam tradisi Natal Ukraina.

Natal: Hari Sukacita, Cinta, dan Kebaikan

Dari cerobong asap di Turki, hingga ember ayam goreng di Tokyo, dari jaring laba-laba ajaib di Ukraina hingga anggur keberuntungan di Spanyol…

Semua ini adalah simbol bahwa Natal bukan hanya tentang hadiah dan perayaan, tetapi tentang cinta yang tulus, hati yang peduli, dan harapan yang menyala di tengah dingin.(jhn/yn)

Tiongkok Peringatkan Banjir Lebih Parah Setelah Dilanda Hujan Deras

Peringatan merah, yang pertama tahun ini, dikeluarkan pada Kamis (19/6/2025) malam untuk provinsi Anhui, Henan, Hubei, Hunan, Guizhou, dan wilayah Guangxi.

EtIndonesia. Tiongkok bagian tengah dan selatan berada dalam siaga tinggi dilanda banjir bandang pada Jumat (20/6/2025) seiring meningkatnya intensitas monsun Asia Timur tahunan dan curah hujan ekstrem yang mengancam mengganggu ekonomi terbesar kedua di dunia.

Peringatan merah — yang pertama untuk tahun ini — dikeluarkan pada Kamis malam untuk provinsi Anhui, Henan, Hubei, Hunan, Guizhou, serta wilayah Guangxi, menurut laporan kantor berita resmi Xinhua yang mengutip kementerian sumber daya air dan badan prakiraan cuaca nasional.

Musim hujan do Tiongkok, yang tahun ini datang lebih awal dari biasanya pada awal Juni, umumnya diikuti oleh gelombang panas ekstrem yang membakar tanaman yang bertahan di tanah tergenang air, menguras cadangan air di waduk, serta merusak jalan dan infrastruktur lainnya.

Kerugian ekonomi akibat bencana alam melebihi 10 miliar dolar AS pada  Juli tahun lalu, saat curah hujan biasanya mencapai puncaknya.

Kerusakan tiga kali lipat dari jumlah itu terjadi pada tahun 2020, ketika Tiongkok mengalami salah satu musim hujan terpanjang dalam beberapa dekade, diguyur hujan selama lebih dari 60 hari, atau sekitar tiga minggu lebih lama dari biasanya.

Pada  Kamis, hujan deras di Hunan selatan memicu banjir terbesar sejak tahun 1998 di hulu dan hilir Sungai Lishui setelah permukaan airnya melampaui batas aman lebih dari dua meter.

Video yang diunggah ke Douyin, versi TikTok di Tiongkok, memperlihatkan air sungai meluap ke jalanan utama dan membawa puing-puing ke hilir.

Di kota berbukit Chongqing di barat daya, blok-blok apartemen terendam air berlumpur dan beberapa kendaraan terseret arus banjir yang mengalir deras di jalan-jalan, menurut media pemerintah pada Kamis. Dalam beberapa kasus, ketinggian air hampir mencapai kabel listrik.

Di sebuah daerah pegunungan di Chongqing, akumulasi curah hujan harian mencapai 304 milimeter, dengan setidaknya satu sungai lokal meluap hingga 19 meter  akibat pertemuan aliran hujan dari pegunungan, lapor CCTV, stasiun televisi nasional.

Pada Rabu, pasokan listrik terganggu di Kota Zhaoqing, Provinsi Guangdong bagian selatan, karena air banjir naik lebih dari lima meter  di atas tingkat peringatan, memecahkan rekor sejarah, menurut laporan media lokal. (asr)

Sumber : Reuters

Apakah Seseorang Layak Dijadikan Teman Dekat? Tubuhmu Akan Memberitahu Jawabannya

EtIndonesia. Mendengarkan intuisi saat memilih seseorang atau hal yang cocok dalam hidup, adalah bentuk cinta dan nutrisi terhadap diri sendiri.

1. Rasa Tak Nyaman yang Sulit Dijelaskan

Pernahkah kamu merasa begini…

Dalam suatu hubungan, meski orang itu baik, kamu tetap merasa tak nyaman tanpa alasan pasti.

Tubuhmu jadi tegang, sulit tidur, napas terasa berat, lalu perlahan kamu mulai meragukan dirimu sendiri, bahkan mulai tak menyukai dirimu.

Kamu ingin menjauh, tapi tak tahu pasti apa yang salah, lalu kamu berpikir: “Sudahlah, tahan saja, mungkin nanti membaik.”

Tapi rasa aneh itu tetap menghantuimu, menggantung tanpa bentuk, namun jelas terasa dalam hati dan tubuhmu.

Kisah teman kerjaku, Xiao Ding, menjadi contoh nyata.

Dia sedang menjalani kelas privat yoga pasca melahirkan.

Awalnya sang pelatih sangat perhatian dan terlihat profesional, bahkan membuatkan rencana latihan khusus untuknya.

Namun makin lama, rasa tak nyaman mulai muncul.Pelatihnya melarang dia ikut kelas kelompok, katanya bisa merusak hasil pelatihan pribadi.

Meski tak paham banyak soal yoga, Xiao Ding memutuskan percaya. Namun saat dia lelah dan ingin menurunkan intensitas, sang pelatih menolaknya.

Pelatih bilang masalahnya bukan pada metode, melainkan pada Xiao Ding yang “kurang latihan”, dan meminta tambah kelas jadi dua kali seminggu.

Secara logika, Xiao Ding tahu pelatih itu ahli, tapi hatinya merasa makin terbebani — secara fisik dan keuangan.

Setiap malam sebelum jadwal kelas, dia sulit tidur, melihat senyum pelatih pun terasa hambar dan penuh tekanan.

Meski tubuhnya makin langsing, yang dia rasakan hanya beban psikologis yang makin menekan.

Akhirnya, dia bertanya padaku: “Apakah pola latihan ini masuk akal? Apa ini semacam manipulasi emosional?”

Aku tak paham banyak soal yoga, tapi aku bilang padanya: Tak perlu menganalisis terlalu dalam — jika tubuh dan hatimu menolak, itu sudah cukup jadi alasan untuk pergi.

2. Menilai Hubungan dengan Intuisi

Xiao Ding akhirnya memilih percaya pada perasaannya,dia berhenti ikut kelas pelatih itu dan mengikuti kelas lain yang lebih nyaman.

Tidurnya membaik, suasana hatinya jadi ringan, tubuhnya pun tetap membaik — tanpa tekanan, tanpa takut.

Ternyata keputusan “asal ikut rasa” itu justru benar, kadang, intuisi tahu lebih dulu sebelum logika menyadarinya.

Tapi banyak orang, saat merasa ingin menjauh dari seseorang, malah memaksa diri untuk tetap tinggal, berpikir: “Mungkin aku yang terlalu sensitif.”

Padahal dalam realita, kita tak selalu bisa menganalisis segalanya dengan rinci, tak semua orang, tak semua hubungan bisa kita pahami sepenuhnya.

Di sinilah intuisi punya peran penting sebagai penuntun.

Dalam psikologi, intuisi bisa dilihat dari dua hal utama:

1. Reaksi tubuh

     Perhatikan perubahan tubuhmu saat bersama seseorang.

     Kalau kamu jadi tegang, sulit tertawa, dan sering cemas — bisa jadi hubungan itu tak baik bagimu.

2. Perasaan terhadap diri sendiri
Dengan siapa kamu merasa percaya diri, bahagia, jadi versi terbaik dari dirimu?

     Dan dengan siapa kamu merasa ragu, tidak cukup, bahkan benci diri sendiri?

Intuisi tidak berarti tanpa dasar. Justru dia adalah hasil simpulan dari semua pengalaman hidupmu selama ini.

3. Intuisi Lebih Cepat dari Logika

Contohnya seperti yang dialami seorang klienku, Hanhan, seorang pengusaha muda yang sedang membangun bisnisnya dari nol.

Seorang investor bernama D menghubunginya, mengaku punya banyak koneksi dan ingin menjadi mitra.

Hanhan tentu senang, dan mereka segera bertemu, D banyak bicara soal kesuksesannya dan rencana indah ke depan.

Tapi malamnya, Hanhan tak bisa tidur, dia merasa gelisah tanpa tahu alasannya — hanya ada kecemasan yang aneh.

Dia ingin menolak D, tapi takut salah langkah. Maka dia datang padaku untuk mencari pandangan kedua.

Aku bertanya: “Pernahkah kamu merasa begini sebelumnya?” Dia berpikir lama… dan mengingat kisah cinta masa lalu.

Pacarnya dulu juga seperti D — Banyak janji manis, banyak rencana kosong, tapi selalu lari dari tanggung jawab.

Saat Hanhan menuntut kejelasan, pacarnya menyalahkan dia, membuatnya lelah dan terus merasa dirinya tak cukup baik.

Tiba-tiba Hanhan sadar, D punya pola yang sama. Banyak janji besar, tapi menghindari detail, bahkan menyuruh Hanhan menyelesaikannya sendiri.

Saat obrolan itu terjadi, otaknya belum sadar. Tapi tubuhnya mengingat trauma lama, dan memberi sinyal bahwa D tak bisa dipercaya.

Seperti yang dikatakan ilmuwan Leonard dalam bukunya The Unconscious Mind: Tubuh manusia mengirim 11 juta bit informasi per detik ke otak, sementara otak hanya bisa olah sekitar 50 bit.

Intuisi adalah reaksi cepat berbasis pengalaman, kadang logikamu belum paham, tapi tubuhmu sudah lebih dulu tahu jawabannya.

4. Latih dan Percaya Intuisimu

Apakah artinya kita harus sepenuhnya mengandalkan intuisi dan menyingkirkan logika?

Tentu tidak. Tapi saat logika buntu dan waktu mendesak, dengarkan intuisi bisa jadi solusi yang menyelamatkan.

Mulailah dari hal sederhana — setiap kali bertemu orang baru, cobalah kenali kesan awalmu: Apakah kamu merasa lebih baik atau lebih buruk setelah bertemu mereka?

Bukan soal kepintaran, status, atau citra luar, tapi tentang bagaimana perasaanmu tentang diri sendiri saat bersama mereka.

Lalu, lanjutkan interaksi dengan rasa penasaran, amati apakah kesan awal itu sesuai dengan realita.

Semakin kamu terbuka dan sadar, semakin tajam intuisi dan instingmu berkembang sebagai alat pelindung diri.

Pada akhirnya, intuisi membantumu mengambil kembali kendali hubungan, bukan menilai orang dari siapa mereka, tapi dari apa yang kamu rasakan saat bersamanya.

Jadikan dirimu pusat dari keputusan, bukan orang lain.

Dan melalui intuisi, kamu akan menemukan hubungan, peluang, dan jalan hidup yang benar-benar sepadan untukmu. (jhn/yn)

Ketika COVID-19 Terus Menyebar di Tiongkok, Dokter Prediksi Puncak Besar Kasus pada Juli Mendatang

Tenaga medis di rumah sakit Tiongkok terus melaporkan kasus ‘paru-paru putih’ dan kematian mendadak dalam gelombang penyakit terbaru.

EtIndonesia. Para dokter di Tiongkok memprediksi akan terjadi puncak besar kasus COVID-19 pada  Juli mendatang, seiring dengan data terbaru yang dirilis oleh otoritas kesehatan Tiongkok yang menunjukkan bahwa varian NB 1.8.1 masih menjadi patogen utama penyebab lonjakan cepat infeksi COVID-19 di negara tersebut.

Para dokter dan profesional kesehatan di seluruh Tiongkok terus melaporkan kepada The Epoch Times bahwa infeksi, termasuk gejala “paru-paru putih”, dan kematian meningkat dalam gelombang terbaru COVID-19 ini, menggambarkan situasi yang jauh lebih parah dibandingkan pengakuan resmi pemerintah.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok  pada 12 Juni merilis data infeksi saluran pernapasan akut untuk minggu epidemiologis ke-23 (2 Juni hingga 8 Juni). Patogen utama yang ditemukan dalam sampel pernapasan dari kasus seperti influenza di unit rawat jalan dan IGD rumah sakit sentinel di Tiongkok adalah SARS-CoV-2 (penyebab COVID-19), rhinovirus (penyebab flu biasa), dan enterovirus (penyebab penyakit saluran napas dan pencernaan).

Patogen yang terdeteksi dalam sampel pernapasan dari pasien rawat inap dengan infeksi saluran pernapasan akut berat terutama adalah SARS-CoV-2, rhinovirus, dan respiratory syncytial virus (RSV).

Data resmi rezim Tiongkok juga menunjukkan bahwa dalam empat minggu dari minggu ke-19 (5–11 Mei) hingga minggu ke-22 (26 Mei–1 Juni), tingkat positif COVID-19 dalam kasus mirip flu meningkat, masing-masing mencapai 18,3%, 20,2%, 23,8%, dan 22,8%.

CDC Tiongkok juga sebelumnya melaporkan pada awal Juni bahwa kasus COVID-19 di negara tersebut melonjak 160 persen dari April ke Mei.

Zhong Nanshan, penasihat kesehatan utama rezim Tiongkok dan seorang epidemiolog, mengatakan kepada media lokal pada 10 Juni bahwa NB 1.8.1 saat ini sangat menular namun memiliki tingkat patogenisitas yang jauh lebih rendah dibandingkan varian-varian sebelumnya.
Namun, mengingat sejarah Partai Komunis Tiongkok (PKT) dalam menutup-nutupi informasi dan mempublikasikan data yang tidak dapat dipercaya—termasuk meremehkan infeksi COVID-19 dan kematian terkait sejak awal 2020—laporan dari dokter dan tenaga medis lokal dapat memberikan informasi berharga untuk memahami situasi sebenarnya di negara totaliter tersebut.

Dokter: Puncak Besar pada Juli

Dr. Liu Kun (menggunakan nama samaran demi alasan keamanan), pemilik klinik pengobatan swasta di Kota Hohhot, Mongolia Dalam, Tiongkok utara, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa dalam beberapa bulan terakhir, jumlah pasien COVID-19, baik dewasa maupun anak-anak, telah meningkat secara signifikan.

 Ia mengatakan jumlah pasien di kliniknya yang mencari pengobatan tradisional Tiongkok untuk penyakit ini juga meningkat.  Gejala utama adalah batuk dan dahak, “dan biasanya berlangsung lama, dengan beberapa pasien tidak sembuh selama berbulan-bulan,” ujarnya.

Mayoritas pasien kritis adalah lansia, “namun kematian mendadak di kalangan orang muda dan setengah baya usia 30–50-an lebih sering terjadi,” katanya.

Berdasarkan tren saat ini dan tingkat penularan tinggi dari varian dominan, ia memperkirakan bahwa “wabah COVID-19 kali ini akan sangat parah pada bulan Juli,” bahkan “pertumbuhan eksplosif mungkin saja terjadi.”

Sun Xiansheng, seorang petugas pencegahan epidemi di Tiongkok selatan (juga menggunakan nama samaran karena alasan keamanan), mengatakan kepada The Epoch Times bahwa dalam beberapa hari terakhir, “menurut informasi internal dari departemen pemerintah terkait, wabah COVID-19 dipastikan akan mencapai tingkat pandemi, dan berdasarkan kecepatannya saat ini, bisa dimulai bulan ini.”

Tn. Wang, seorang staf rumah sakit di Kota Hefei, Provinsi Anhui, yang hanya memberikan nama belakangnya demi keselamatan, mengatakan kepada NTD, media afiliasi The Epoch Times, bahwa “banyak anak sekolah terinfeksi secara berkelompok,” dan banyak dari mereka didiagnosis parah dengan “paru-paru putih,” gejala yang umumnya dikaitkan dengan infeksi COVID-19 berat.

“Beberapa orang di sekitar saya mengalami paru-paru putih,” kata Wang. “Ada yang sudah keluar dari rumah sakit, ada yang belum. Mereka mencakup anak muda, pelajar, dan orang berusia 60–70 tahun.”

 Ia menambahkan bahwa jumlah kasus paru-paru putih, “terutama jumlah nodul paru, meningkat berkali-kali lipat dari sebelumnya.” Wang menyebut hal ini sebelumnya tidak ditemukan pada pelajar. “Tapi sekarang, ditemukan pada banyak pelajar,” ujarnya.
“Nodul paru lama-lama akan berkembang menjadi pneumonia dan kanker paru-paru.”

Seorang blogger kesehatan di Tiongkok, yang juga seorang epidemiolog dan memahami isu tersebut, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa menurut laporan riset internal dari tim Cao Yunlong di Universitas Peking—yang belum dipublikasikan—varian NB.1.8.1 dan XFG menyebar dengan cepat.

 Laporan tersebut menyatakan bahwa NB.1.8.1 telah mencapai keseimbangan antara kemampuan menghindari sistem imun dan afinitas terhadap reseptor ACE2.

Penulis laporan memperkirakan bahwa NB.1.8.1 mungkin menjadi varian dominan global berikutnya, dengan gejala seperti sakit tenggorokan tajam, demam, pilek, muntah, dan diare.

NB1.8.1 telah menjadi varian dominan di banyak wilayah Asia, termasuk Asia Tenggara.

Meskipun tingkat patogenisitasnya tidak meningkat secara signifikan, efek jangka panjang dari varian ini patut diperhatikan, kata Dr. Jonathan Liu, profesor di Canada Public College dan direktur Liu’s Wisdom Healing Centre, kepada The Epoch Times pada 14 Juni.

 “Infeksi yang disebabkannya baru-baru ini mirip dengan flu biasa, tetapi sering berlangsung lama. Utamanya mengganggu fungsi kekebalan tubuh manusia dan menyebabkan berbagai gejala aneh,” ujarnya.

Seiring berlanjutnya gelombang infeksi di Tiongkok, banyak negara termasuk Amerika Serikat juga melaporkan peningkatan kasus NB1.8.1.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengklasifikasikan NB1.8.1 sebagai “varian dalam pemantauan.” (asr)

Laporan ini turut disusun oleh Luo Ya, Fang Xiao, dan Xiong Bin.

26 Tahun Lalu Duduk di Kursi yang Sama dan Selamat? Keajaiban Kursi “11A”

EtIndonesia. Dalam tragedi kecelakaan pesawat baru-baru ini yang melibatkan penerbangan 171 maskapai Air India Express, hanya satu orang selamat — Viswash Kumar Ramesh. Dia lolos dari maut dengan hanya luka ringan, dan bahkan mampu berjalan sendiri ke ambulans.

Menurut laporan Reuters tanggal 13 Juni, meski fisiknya hanya mengalami lecet dan memar, luka psikologisnya jauh lebih mendalam. Dia kehilangan saudara kandung tercintanya dalam insiden tersebut. Yang menarik perhatian publik, Ramesh duduk di kursi 11A, yang terletak di bagian depan pesawat, dekat pintu darurat — posisi yang kini dianggap sebagai “kursi emas” penyelamat nyawa.

Viswash Kumar Ramesh, seorang pria India-Inggris berusia 40 tahun, adalah satu-satunya yang selamat dari kecelakaan Boeing 787 Dreamliner milik Air India. Foto: diambil dari X NEXTA

Lebih mengejutkan lagi, menurut Daily Telegraph India, seorang pria asal Thailand, Ruangsak Loychusak, yang juga selamat dari kecelakaan pesawat Thai Airways TG261 pada Februari 1998, mengaku bahwa saat itu dia juga duduk di kursi 11A. Pesawat tersebut jatuh ke rawa saat dalam perjalanan dari Bangkok ke Surat Thani, menyebabkan 101 orang tewas, namun Ruangsak termasuk sedikit yang selamat.

Pria Thailand bernama Ruangsak Loychusak ini, adalah salah satu dari segelintir penumpang  yang selamat dari kecelakaan pesawat Thai Airways TG261 pada bulan Februari 1998.

Saat mendengar berita tentang Ramesh, Ruangsak terperanjat dan berkata: “Bulu kuduk saya langsung berdiri… Saat itu saya juga duduk di 11A.”

Ella Atkins, kepala departemen Teknik Dirgantara dan Kelautan di Virginia Tech AS, menjelaskan bahwa posisi duduk memang bisa memengaruhi peluang bertahan hidup, namun dia juga menekankan bahwa: “Jenis kecelakaan terlalu beragam, tidak ada kursi yang dijamin aman.”

Contohnya, jika pesawat menghantam bagian depan lebih dulu, penumpang di belakang punya peluang lebih besar. Jika ekor pesawat yang lebih dulu terbentur, maka bagian depan justru lebih aman. Bagian tengah adalah yang paling berisiko karena dekat dengan tangki bahan bakar.

Yang memilukan, saudara Ramesh duduk hanya beberapa kursi darinya, di 11J, namun tidak selamat. Ini menjadi bukti pahit bahwa dalam kecelakaan udara, kadang nyawa hanya terpaut beberapa langkah saja.

Soal apakah kursi 11A adalah “kursi keajaiban”, Ella Atkins mengatakan: “Saya tidak akan sengaja memilih duduk di 11A. Tapi saya pasti akan menghindari kelas satu, karena itu biasanya di bagian depan — wilayah yang lebih berisiko.”

Fakta Tambahan:

·        Viswash Kumar Ramesh (40 tahun), pria keturunan India berkewarganegaraan Inggris, adalah satu-satunya penyintas kecelakaan pesawat Boeing 787 Dreamliner milik Air India Express.

·        Ruangsak Loychusak adalah penyintas tragedi Thai Airways TG261 tahun 1998, yang menewaskan lebih dari 100 orang.(jhn/yn)

Seorang Pria Berlama-lama Main Ponsel di Toilet,  Tiba-Tiba Keluar Ususnya Sepanjang 13 CM

Baru-baru ini di Zhengzhou, Provinsi Henan, Tiongkok seorang pria berusia 33 tahun mengalami kejadian mengerikan saat di toilet rumahnya. Ketika sedang buang air besar, ia tiba-tiba merasakan sakit luar biasa, lalu ususnya keluar sepanjang 13 cm. Ia didiagnosis menderita prolapsus rektum tingkat 3, tingkat paling parah. Diketahui bahwa pria tersebut sering duduk di toilet sambil bermain ponsel, bahkan hingga 2 jam

EtIndonesia. Menurut laporan media Tiongkok pada 18 Juni, rumah sakit di Zhengzhou menerima pasien pria yang mengalami pendarahan dan nyeri hebat saat buang air besar. Usus bagian rektumnya keluar hingga sepanjang 13 cm.

Penyebabnya adalah kebiasaannya duduk terlalu lama di toilet sambil menonton video di ponsel. Waktu terlama ia berada di toilet bisa mencapai lebih dari dua jam.

Dokter mendiagnosisnya dengan prolapsus rektum tingkat 3, yaitu kondisi di mana bagian dalam rektum keluar dari anus. Jika tidak segera ditangani, bahkan aktivitas sederhana seperti batuk bisa menyebabkan usus keluar kembali.

Dokter memperingatkan bahwa bermain ponsel di toilet ibarat “menanam bom waktu” bagi kesehatan. Disarankan untuk membatasi waktu buang air hanya 5–10 menit. Lebih dari 10 menit akan secara signifikan meningkatkan risiko masalah kesehatan.

Laporan menyebutkan bahwa terlalu lama duduk di toilet dapat menekan rektum dan melemahkan jaringan penghubung antara lapisan mukosa dan otot. 

Otot sfingter anus yang bertugas menutup anus akan terus berada dalam posisi rileks saat duduk lama, menyebabkan fungsinya melemah. Data menunjukkan bahwa duduk di toilet lebih dari 15 menit bisa menurunkan sensitivitas otot sfingter hingga 30%, meningkatkan risiko prolapsus rektum. Selain itu, duduk terlalu lama bisa mengganggu aliran darah balik di pembuluh vena anus, menyebabkan pembengkakan dan peradangan mukosa.

Di era modern ini, banyak orang gemar membawa ponsel ke toilet untuk bermain atau menonton video. Kejadian ini pun memicu beragam komentar netizen:

  • “Ponsel memang berbahaya!”
  • “Bayarannya sepadan dengan ‘hancurnya usus’.”
  • “Ngeri, ususnya pasti sudah menyesal.”
  • “Sama kayak paman saya, dia sampai harus mendorong ususnya kembali ke dalam.”
  • “Ini sungguh menyeramkan, saya kapok main ponsel di toilet.”

Komentar lain menyindir:

  • “Dua jam di toilet? Gila juga, saya saja 10 menit sudah kesemutan.”
  • “Keponakan saya bisa duduk satu jam.”
  • “Terlalu lama di toilet bisa bikin ambeien.”
  • “Dulu saya suka duduk lama di toilet, sekarang tidak berani lagi.”
  • “Lama di toilet itu tergantung bawa ponsel atau tidak.”

(Hui/asr)

Warga Tiongkok di Israel: “Di Sini Aman” Malah Dibully Netizen 

Baru-baru ini, seorang pria Tiongkok yang bekerja di Israel mengunggah video yang menyatakan bahwa “di sini sangat aman” dan ia tidak berniat untuk dievakuasi. Namun, pernyataan tersebut justru membuatnya diserang secara daring oleh banyak netizen dari Tiongkok, membuatnya bingung dan heran.

EtIndonesia. Pada 18 Juni, seorang pengguna media sosial Tiongkok bernama “Chen Xiang” yang tinggal di Israel mengunggah video untuk memberi kabar kepada keluarga dan teman-temannya bahwa ia baik-baik saja. Ia mengatakan bahwa hari itu adalah hari kedua dirinya kembali bekerja, meskipun Kementerian Luar Negeri PKT telah mengeluarkan pemberitahuan pada 17 Juni agar warganya dievakuasi dari Israel.

“Di sini benar-benar aman. Bukan berarti saya hanya melaporkan kabar baik dan menyembunyikan yang buruk, saya bicara jujur. Yang penting adalah tetap waspada, jika ada sirene, segera berlindung. Di lokasi kerja pun cukup jaga keselamatan,” ujarnya.

Yang mengejutkan, pernyataan Chen malah memicu serangan verbal dari banyak netizen Tiongkok. Kolom komentar di video tersebut dipenuhi komentar jahat dan penuh hinaan.

Pada 19 Juni, Chen kembali mengunggah video dan mengatakan bahwa ia sangat heran mengapa banyak sesama warga Tiongkok membenci seseorang yang bahkan belum pernah mereka temui.

Dalam video, ia menyebutkan bahwa ia tinggal di kota Ashkelon, Israel bagian selatan, dan berkata: “Saya unggah video kemarin, banyak sekali komentar menghina. Saya benar-benar tidak habis pikir, mengapa orang-orang ini bisa sangat toleran dan bahkan mendukung Iran atau Hamas, tapi justru sangat kejam kepada sesama warga negaranya sendiri.”

Ia juga menambahkan: “Kelompok ini, tiap hari teriak ingin perangi Amerika, Jepang, Israel. Tapi dalam kenyataan, ketika menghadapi ketidakadilan, mereka bahkan tidak berani bersuara. Di jalan ketemu pencopet pun mungkin tidak berani tegur. Ya, saya sedang bicara tentang orang-orang seperti itu, para pembenci di kolom komentar.”

Namun, di kolom komentar juga ada netizen Tiongkok yang membelanya: “Bro, aku percaya kamu. Bursa saham Israel aja naik, artinya kondisinya nggak terlalu parah.”

Chen Xiang sendiri telah tinggal dan bekerja di Israel selama bertahun-tahun. Dalam video sebelumnya, ia pernah menyatakan: “Sebuah tempat yang tidak menunggak gaji, tidak menunggak pembayaran proyek, menghormati pekerja, menjunjung tinggi kejujuran, dan tidak menindas orang yang bekerja keras—itulah tempat yang beradab dan adil.”

Belakangan ini, konflik antara Israel dan Iran semakin memanas. Israel menghancurkan fasilitas nuklir dan target militer di wilayah Iran serta menewaskan puluhan komandan militer Iran.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa serangan ke Iran dilakukan karena rezim tersebut hampir memproduksi senjata nuklir yang mengancam langsung keamanan nasional Israel.

Di tengah konflik tersebut, pemerintah PKT secara terbuka mendukung “teman lama”-nya Iran, bahkan menggambarkan bahwa Israel akan menerima pembalasan dahsyat berupa serangan nuklir dari Iran.

Namun, di dunia maya Tiongkok muncul perpecahan opini. Sebagian netizen sejalan dengan narasi pemerintah, tetapi tidak sedikit pula yang mengetahui kebenaran dan memuji Israel atas tindakannya melawan kediktatoran Iran.

Presiden AS Donald Trump baru-baru ini menyatakan dukungan penuh kepada Israel, mengirim tiga gugus tempur kapal induk ke kawasan Timur Tengah. Ia juga menyerukan kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, untuk “menyerah tanpa syarat,” serta menyatakan bahwa pemerintahan Iran saat ini kemungkinan besar akan runtuh. (Hui/asr)

Laporan oleh Luo Tingting – NTDTV.com

PM Israel: Setengah Peluncur Rudal Iran Berhasil Dihancurkan

EtIndonesia. Konflik bersenjata antara Iran dan Israel yang telah memasuki hari kedelapan. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam wawancara langka berbahasa Ibrani menyatakan bahwa operasi militer kali ini telah “mencapai target lebih awal.” Ia menegaskan bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dapat menyerang fasilitas nuklir Iran di komplek Fordow tanpa bantuan Amerika Serikat.

Netanyahu juga mengatakan bahwa karena Hamas bergantung pada Iran, maka serangan ini sekaligus akan membantu proses pembebasan sandera.

Ketika ditanya apakah sistem pertahanan udara Israel akan kehabisan rudal, ia menjawab bahwa Amerika Serikat sedang melakukan pengisian ulang, dan menegaskan bahwa Israel saat ini sedang menyerang peluncur-peluncur rudal milik Iran. Ia mengklaim bahwa setengah dari peluncur rudal Iran telah berhasil dihancurkan.

“Saya pernah mengatakan bahwa kami sedang mengubah wajah Timur Tengah. Sekarang saya ingin mengatakan: kami sedang mengubah wajah dunia,” kata Netanyahu dalam wawancara dengan stasiun penyiaran publik Israel. 

Ia juga menyatakan bahwa Israel “memiliki kemampuan untuk menyerang seluruh fasilitas nuklir Iran”, namun tetap “menyambut segala bentuk bantuan.”

Netanyahu turut menyebut Presiden AS Donald Trump dengan mengatakan: “Trump akan melakukan apa yang menguntungkan bagi Amerika, dan saya akan melakukan apa yang menguntungkan bagi Israel.” (Hui/asr)

Laporan oleh NTD Asia Pasifik 

Trump Disebut Menyetujui Rencana Serangan ke Iran, Hanya Menunggu Perintah Akhir

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada  Rabu (18/6/2025) menyatakan bahwa ia telah memberikan “ultimatum terakhir” kepada Iran, dan kini Iran “tidak memiliki kemampuan pertahanan.” 

Mengenai apakah Amerika Serikat akan melakukan intervensi militer dalam konflik antara Israel dan Iran, Trump menyatakan dalam pernyataan terbarunya:

“Saya sudah punya beberapa gagasan, tapi belum mengambil keputusan akhir. Saya suka membuat keputusan akhir pada saat-saat terakhir, karena segalanya bisa berubah — terutama dalam perang — situasinya bisa beralih dari satu ekstrem ke ekstrem lainnya.”

Sementara itu, The Wall Street Journal mengutip tiga sumber yang mengetahui situasi, melaporkan secara eksklusif bahwa pada Selasa malam, Presiden Trump telah memberitahukan para pembantunya bahwa ia telah menyetujui rencana serangan terhadap Iran, namun belum mengeluarkan perintah akhir. Tujuannya adalah untuk menunggu dan melihat apakah Teheran bersedia meninggalkan program nuklirnya.

Ketika Trump ditanya oleh wartawan di Gedung Putih pada Rabu, “Apakah Anda pikir rezim Iran akan runtuh?”

Trump menjawab: “Tentu saja. Apa pun bisa terjadi, bukan?”

Pernyataan ini menimbulkan spekulasi: apakah perubahan rezim di Iran sudah memasuki hitungan mundur? (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com 

Israel Bombardir Fasilitas Nuklir, Berencana Singkirkan Pemimpin Tertinggi Iran

EtIndonesia. Konflik bersenjata antara Israel dan Iran telah memasuki hari ketujuh. Israel menyerang reaktor air berat milik Iran yang mampu menghasilkan bahan baku senjata nuklir. Sebaliknya, Iran meluncurkan serangan udara ke beberapa wilayah sipil di Israel, termasuk sebuah rumah sakit di bagian selatan negara itu. Presiden AS Donald Trump pada Rabu (18/6/2025) kembali menggelar rapat darurat militer untuk kedua kalinya. Kabarnya, pemerintah Trump kemungkinan akan memutuskan untuk menyerang Iran secepatnya pada akhir pekan ini. Trump menyatakan bahwa ia suka mengambil keputusan pada saat-saat terakhir.

Presiden AS Donald Trump: “Saya tahu apa yang harus dilakukan, tetapi saya belum membuat keputusan akhir.”

Reporter NTD Jack Bradley melaporkan: “Karena situasi di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda, Presiden Trump sedang menimbang langkah-langkah yang akan diambil Amerika. Ketika ditanya apakah militer AS akan menyerang sasaran di dalam wilayah Iran, terutama fasilitas nuklirnya, Trump menjawab:

Trump: ‘Mungkin ya, mungkin tidak.’”

Seorang wartawan bertanya, “Apa yang akan terjadi jika rezim Iran runtuh?” Trump menjawab bahwa Amerika sudah memiliki rencana untuk semua kemungkinan. 

Pada hari yang sama, Trump juga bertemu dengan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Asim Munir, yang memicu spekulasi bahwa Trump sedang berusaha menarik dukungan Pakistan dalam konflik ini.

Trump berkata: “Mereka (Pakistan) sedang mengamati perkembangan. Ia (Munir) setuju dengan pandangan saya.”

Kelompok tempur kapal induk AS USS Gerald R. Ford diperkirakan akan dikerahkan ke wilayah Eropa dekat Timur Tengah minggu depan, menjadikannya kapal induk ketiga AS yang berada di sekitar zona konflik Israel-Iran.

Kremlin memperingatkan bahwa campur tangan AS dalam konflik ini dapat menyebabkan “eskalasi yang mengerikan”.

Sementara itu, Israel menyatakan bahwa mereka merasa perlu untuk melakukan serangan menyeluruh terhadap para pemimpin militer tertinggi Iran, ilmuwan nuklir, fasilitas pengayaan uranium, dan peluncur rudal balistik.

Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, pada Kamis menegaskan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang menyerukan kehancuran Israel, adalah diktator modern seperti Hitler dan harus disingkirkan.

“Kami telah menetapkan tujuan dari perang ini, yaitu menghilangkan ancaman nuklir dan mengakhiri ancaman rudal. Angkatan Bersenjata Israel telah menerima instruksi, dan mereka sangat paham bahwa untuk mencapai semua tujuan itu, orang ini (Khamenei) tidak boleh dibiarkan terus hidup,” ujarnya. 

Pada Kamis, militer Israel menilai bahwa mereka telah menghancurkan dua pertiga dari peluncur rudal balistik milik Iran dan kembali melakukan serangan udara terhadap fasilitas pengayaan uranium Natanz di Iran.

Selain itu, Israel juga mengeluarkan peringatan evakuasi kepada warga desa Arak dan Khondab di Iran.

Rekaman video yang dirilis militer Israel menunjukkan ledakan besar di reaktor air berat Arak akibat serangan udara. Air berat digunakan Iran untuk mendinginkan reaktor nuklirnya dan menghasilkan produk sampingan bernama plutonium, yang—seperti uranium—dapat digunakan sebagai bahan bakar senjata nuklir.

Di sisi lain, pada 19 Juni, Iran kembali melancarkan serangan ke berbagai wilayah di Israel, semuanya merupakan kawasan pemukiman padat penduduk, termasuk Rumah Sakit Soroka di Beersheba, selatan Israel. Diketahui setidaknya 25 orang mengalami luka ringan hingga berat. (Hui/asr)

Laporan gabungan dari wartawan NTD Jack Bradley, Yu Liang, dan Tian Yuan dari Washington dan New York.

Tiga Pesawat Kargo Boeing Tiongkok Mengirim Apa “Diam-diam” ke Iran?

Seiring memanasnya konflik antara Israel dan Iran, perhatian internasional pun tertuju pada mitra strategis Iran — Partai Komunis Tiongkok (PKT). Baru-baru ini, tiga pesawat kargo Boeing 747 milik Tiongkok berturut-turut lepas landas dari berbagai lokasi di Tiongkok, namun secara misterius “menghilang” saat mendekati wilayah udara Iran. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa PKT tengah menyelundupkan barang-barang militer untuk diam-diam membantu Iran.

EtIndonesia. Laporan The Daily Telegraph Inggris, sehari setelah Israel meluncurkan operasi “Kebangkitan Singa” terhadap Iran (14 Juni), Tiongkok mengirim satu pesawat kargo Boeing 747 per hari selama tiga hari berturut-turut. Ketiga pesawat tersebut terbang dari wilayah utara Tiongkok ke barat, memasuki Kazakhstan, kemudian ke selatan melewati Uzbekistan dan Turkmenistan. Namun, ketika mendekati wilayah udara Iran, pesawat-pesawat itu tiba-tiba menghilang dari radar. Anehnya, meskipun ketiga pesawat itu tercatat memiliki tujuan ke Luksemburg, namun tidak ada satupun yang melintasi langit Eropa.

Pesawat Boeing 747 memang sering digunakan untuk membawa penumpang atau kargo, tetapi juga umum digunakan untuk pengiriman peralatan militer atau kontrak pemerintah.

Menurut data Flightradar24, pada 15 Juni, pesawat kargo CV9736 milik Cargolux Airlines dari Luksemburg lepas landas dari Zhengzhou, Provinsi Henan, Tiongkok. Meskipun dijadwalkan terbang ke Luksemburg, data pelacakan menunjukkan bahwa pesawat itu mematikan transpondernya saat berada di atas Turkmenistan dan berbelok menuju wilayah udara Iran sebelum menghilang dari radar publik.

Pihak Cargolux membantah bahwa pesawat mereka memasuki wilayah udara Iran, namun publik tetap curiga bahwa PKT tengah menyelundupkan perlengkapan militer untuk membantu Iran secara rahasia.

“Kita tidak bisa mengesampingkan kemungkinan bahwa pesawat-pesawat ini dikirim ke Iran untuk mendukung operasi balasan atau kebutuhan perang, misalnya bahan baku pembuatan bahan bakar rudal,” ujar peneliti dari Institut Riset Keamanan dan Pertahanan Nasional Taiwan, Shen Mingshi. 

“Belakangan ini, Iran meluncurkan banyak rudal balistik dalam serangan balasannya terhadap Israel, jadi sangat mungkin mereka membutuhkan pasokan mendesak, dan mengangkutnya melalui pesawat-pesawat ini. Saya pikir kejadian serupa bisa terjadi lagi di masa depan,” tambahnya. 

Pada 2014, perusahaan investasi penerbangan sipil Henan (HNCA) membeli 35% saham Cargolux Airlines dari Luksemburg.

Shen Mingshi juga menekankan bahwa Iran sangat penting bagi PKT, dan PKT pasti akan memberikan dukungan diam-diam.

“Sumber utama energi Tiongkok, yakni minyak, berasal dari Rusia dan Iran. Secara geopolitik, Tiongkok, Rusia, Iran, dan Korea Utara bisa disebut sebagai poros kekuatan baru yang jahat. Saat ini, satu-satunya pihak yang bisa sepenuhnya mendukung Tiongkok adalah Iran,” ujarnya. 

Pada tahun 2016, PKT dan Iran membentuk “Kemitraan Strategis Komprehensif.”

Lalu pada 2021, kedua negara menandatangani “Rencana Kerja Sama Komprehensif Tiongkok-Iran” selama 25 tahun.

Kini, saat rezim Iran tertekan hebat oleh serangan Israel, PKT — sebagai sekutu terbesar Iran — menghadapi risiko kehilangan pasokan energi serta terdepak dari Timur Tengah.

Wakil Profesor Hubungan Internasional Universitas Tamkang Taiwan, Cheng Chin-mo, mengatakan: “PKT sebelumnya mencoba memperluas pengaruhnya di Timur Tengah melalui Iran, bahkan berusaha menarik negara-negara Sunni di sekitarnya ke dalam inisiatif Sabuk dan Jalan. Tujuannya adalah menjadikan Timur Tengah sebagai garis depan dalam konfrontasi antara Tiongkok dan Barat. Namun, sampai saat ini, rencana itu bisa dikatakan telah benar-benar gagal. Baik Rusia maupun PKT tampaknya telah kehilangan pijakan geopolitik mereka di kawasan ini.”

Setelah konflik Israel-Iran pecah, perwakilan tetap PKT di Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Li Song, menyatakan bahwa Tiongkok menentang serangan bersenjata terhadap fasilitas nuklir sipil dan mendukung pembentukan zona bebas senjata nuklir di Timur Tengah.

Menteri Luar Negeri PKT, Wang Yi, juga mengadakan pembicaraan dengan Menlu Mesir pada 18 Juni dan menyatakan keprihatinan mendalam atas kemungkinan eskalasi konflik, serta menyatakan kesiapan untuk “sepenuhnya mendorong dialog damai.”

Namun menurut Shen Mingshi, posisi PKT dalam konflik ini sangat sulit. Di satu sisi berpihak pada Iran, tapi di sisi lain tidak berani memusuhi Amerika Serikat dan Israel.

“Pertama, mereka tidak ingin terlalu ikut campur, tapi juga ingin menjaga hubungan diplomatik dan kesan harmonis dengan berbagai negara. Kedua, dengan berbagai masalah internal dan eksternal yang dihadapi PKT saat ini, mereka tidak sanggup terlibat langsung atau memberikan bantuan nyata kepada Iran,” jelas. 

“Jika PKT secara terbuka mendukung Iran, maka mereka akan dicap sebagai musuh oleh AS, Israel, dan bahkan sekutu-sekutu AS lainnya. Jadi jelas, PKT tidak mungkin secara terbuka mendukung pengembangan senjata nuklir oleh Iran,” tambahnya. 

Presiden AS Donald Trump baru-baru ini menyatakan keyakinannya bahwa Iran “sangat dekat” untuk membuat senjata nuklir.

Sementara itu, Israel mengatakan bahwa operasi militer mereka bertujuan “menghentikan ancaman eksistensial dari Iran terhadap Israel.”

Media pemerintah Iran pada 18 Juni merilis video berdurasi 17 detik yang menunjukkan seseorang menyentuh bom nuklir, yang kembali meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah. (Hui/asr)

Wang Ziqi | Reporter: Yi Ru, Luo Ya – NTDTV.com

Rangkaian Skandal Organ di Tiongkok Meledak, Warganet Fokus Soroti Isu Ini

Kematian misterius Luo Shuaiyu, seorang dokter magang di Rumah Sakit Xiangya Kedua, di Hunan, Tiongkok  yang membongkar skandal transplantasi organ, kembali memicu perhatian besar. Sejak itu, semakin banyak orang di internet membongkar kasus-kasus serupa dari berbagai wilayah, memicu pertanyaan publik: Berapa banyak organ warga tak bersalah yang telah dicuri oleh sistem medis Tiongkok selama bertahun-tahun?

EtIndonesia. Pada 16 Juni, ayah Luo Shuaiyu kembali merilis rekaman berdurasi 13 menit 34 detik, yang mengungkap berbagai transaksi gelap di Rumah Sakit Xiangya Kedua di Hunan, Tiongkok.  Isinya menyebutkan, antara lain, seorang profesor dengan saldo rekening bank bernilai delapan digit, seorang pejabat bermarga Jiang yang memelihara selingkuhan, dan dugaan perdagangan organ ilegal di rumah sakit tersebut.

Isi rekaman menyatakan: “Eh, jadi bagaimana, perlu hati atau tidak? Kalau tidak, ya dua ginjal saja? Ada keluarga pasien? Tidak perlu hati? Kalau begitu, bagaimana bisa dialokasikan ke sana? Sebenarnya organ ini bisa untuk transplantasi hati, kamu mau tidak? Kali ini untung besar, hehe.”

Luo Shuaiyu adalah dokter magang di Departemen Transplantasi Rumah Sakit Xiangya Kedua. Pada Mei tahun lalu, ia meninggal dunia secara misterius karena jatuh dari gedung. Sebelum kematiannya, ia telah melaporkan dugaan praktik pengambilan dan perdagangan organ hidup oleh direktur rumah sakit dan sejumlah staf. Meskipun pada 13 Juni 2025 pihak berwenang mengumumkan hasil investigasi bahwa kematian Luo adalah “bunuh diri”, keluarganya terus bersuara dan menyerahkan banyak bukti yang menunjukkan adanya korupsi medis, operasi ilegal, dan bahkan transaksi organ manusia di rumah sakit tersebut.

Hal ini menyebabkan topik skandal transplantasi organ menjadi sangat sensitif dan menyedot perhatian publik. Pada 11 Juni, Rumah Sakit Chaoyang di Beijing menggelar siaran langsung khusus memperingati “Hari Donor Organ Nasional Tiongkok” untuk mensosialisasikan pengetahuan tentang donor organ. Namun siaran itu segera dibanjiri komentar warganet yang mengecam.

“Siaran langsung tentang donor organ oleh Rumah Sakit Chaoyang di Beijing justru menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengecam tindakan tidak bermoral para dokter yang mencuri organ demi keuntungan,” kata Mantan peneliti virus di Institut Riset Angkatan Darat AS, Lin Xiaoxu. 

“Banyak warga mengatakan bahwa hanya karena pergi ke rumah sakit karena cedera ringan saja, mereka bisa kehilangan organ. Ini menunjukkan bahwa masyarakat mengetahui kebenaran, dan bahwa kejahatan semacam ini sudah sangat merajalela. Rakyat benar-benar muak dan ingin mengungkap kedok ini,” katanya. 

Pada 12 Juni, seorang warganet mengangkat kembali sebuah kasus lama terkait organ. Pada 2012, Gao Jing, seorang petugas tol di Kota Yan’an, Provinsi Shaanxi, menemukan bahwa ginjal kirinya hilang saat menjalani pemeriksaan medis. 

Sepanjang hidupnya, ia hanya menjalani satu operasi besar, yaitu pengangkatan limpa delapan tahun sebelumnya setelah kecelakaan lalu lintas di Rumah Sakit Kabupaten Ganquan. Sebelum operasi itu, kedua ginjalnya normal. Keluarganya menuduh rumah sakit telah mencuri ginjal Gao Jing. Meskipun mereka menerima kompensasi sebesar RMB.260.000 , mereka tidak pernah mendapatkan kebenaran.

Selain itu, pada 16 Juni, seorang influencer Douyin bernama “Wan Ruo Qing Feng” memposting bahwa Rumah Sakit Junkang di Distrik Pudong, Shanghai, terlibat dalam perdagangan organ manusia.

Isi video menyatakan: “Rumah Sakit Junkang di Distrik Pudong, Shanghai, memperdagangkan organ tubuh manusia secara ilegal. Saya berhasil kabur, tapi saya akan segera menjadi korban. Nama saya Yu Yang, saya dari Kota Chaoyang, Provinsi Liaoning…”

Walaupun video tersebut segera dihapus, kemarahan publik terus memuncak, mempertanyakan berapa banyak organ warga biasa yang telah dicuri oleh sistem medis selama bertahun-tahun.

Lin Xiaoxu menambahkan: “Ledakan informasi tentang pengambilan organ secara hidup-hidup di berbagai rumah sakit mencerminkan betapa merajalelanya praktik ini di daratan Tiongkok. Tuntutan masyarakat untuk mengetahui kebenaran pun semakin tinggi, karena mereka merasa risiko ini semakin dekat dengan kehidupan mereka sendiri.”

Pengamat isu Tiongkok yang berbasis di AS, Tang Jingyuan, menjelaskan: “Masyarakat awam kini mulai menyadari bahwa di balik sistem transplantasi organ ala Partai Komunis Tiongkok, ada skandal yang sangat mengerikan. Korbannya kini bukan hanya praktisi Falun Gong atau warga Uighur yang ditahan di kamp-kamp interniran, tetapi telah meluas hingga ke masyarakat umum, bahkan anak-anak. Fakta ini telah memicu kewaspadaan tinggi di seluruh masyarakat.” 

Tiongkok mengklaim sebagai negara dengan jumlah transplantasi organ terbesar. Pemerintah menyebutkan sekitar 10.000 kasus transplantasi dilakukan setiap tahun. Namun, menurut investigasi luar negeri, jumlah sebenarnya bisa mencapai hampir 100.000 per tahun. Waktu tunggu organ pun sangat singkat, yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan jumlah tahanan hukuman mati atau donor sukarela.

Lin Xiaoxu menegaskan: “Ini sebenarnya merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. Ini adalah bentuk pembantaian terhadap rakyat Tiongkok, dilakukan dengan kedok menyelamatkan nyawa. Ini sangat jahat.”

Saat ini, masih banyak warganet yang terus mengungkap dugaan pengambilan organ secara paksa di berbagai daerah. (Hui/asr)

Sumber :  NTDTV.com 

Keputusan Nasib Iran dalam Dua Pekan, Militer AS Kerahkan Kekuatan Terkuat ke Timur Tengah

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (19 Juni), menyatakan bahwa keputusan apakah akan mengambil tindakan militer terhadap Iran akan ditentukan dalam dua minggu ke depan. Ia menegaskan bahwa jalur diplomatik tetap menjadi pilihan utama, namun apabila Iran terus melanjutkan program nuklirnya, maka akan menghadapi konsekuensi serius. Sementara itu, militer Amerika Serikat tengah mempercepat pengerahan kekuatan di kawasan Timur Tengah. Kapal induk USS Gerald R. Ford akan segera memasuki kawasan operasi Eropa, dan Duta Besar AS untuk Israel juga telah memulai rencana evakuasi warga negaranya.

“Saya kutip langsung dari Presiden: Berdasarkan kemungkinan besar adanya negosiasi dengan Iran dalam waktu dekat (terlepas apakah itu terjadi atau tidak), saya akan membuat keputusan dalam dua minggu ke depan apakah akan mengambil tindakan militer terhadap Iran,” kata juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt. 

Pada Kamis, Levitt juga menegaskan bahwa Trump ingin menyelesaikan masalah Iran melalui diplomasi, tetapi setiap perjanjian harus mencakup larangan pengayaan uranium oleh Teheran dan menghapus kemampuan Iran untuk membuat senjata nuklir. Jika tidak, Iran akan menghadapi konsekuensi berat.

Presiden Donald Trump mengatakan: “Saya sudah punya gambaran di kepala, tapi belum membuat keputusan akhir. Saya ingin membuat keputusan pada detik terakhir sebelum tenggat, karena situasi bisa berubah. Terutama dalam perang, segala sesuatu bisa berubah dari satu ekstrem ke ekstrem lain.”

Sehari sebelumnya, Trump juga mengisyaratkan kemungkinan intervensi militer, termasuk membantu Israel menyerang pusat pengayaan uranium Fordow di pegunungan dekat Teheran, yang saat ini menjadi sorotan dunia.

Trump menambahkan: “Hanya kami satu-satunya negara yang memiliki kemampuan melakukan itu, tapi itu tidak berarti saya akan melakukannya. Semua orang menanyakan hal ini kepada saya, tetapi saya belum mengambil keputusan.”

Seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa Pentagon telah memberitahukan kepada Trump bahwa militer AS yakin dapat menghancurkan fasilitas Fordow dengan bom penghancur bunker. Namun, Trump masih mempertimbangkan apakah langkah itu benar-benar dapat menghentikan program nuklir Iran, tanpa menyeret AS ke dalam perang jangka panjang di Timur Tengah.

Di sisi lain, pengerahan kekuatan militer AS terus berlanjut. Kapal induk USS Gerald R. Ford dijadwalkan menuju Eropa minggu depan untuk bergabung dengan Armada Keenam. Ini berarti, selain USS Carl Vinson dan USS Nimitz, AS akan memiliki tiga kelompok tempur kapal induk di perairan sekitar Timur Tengah.

Dengan meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran, Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, pada Rabu malam mengumumkan secara resmi dimulainya rencana evakuasi dari Israel.

Saat ini, sebuah kapal pesiar telah tiba di Siprus membawa warga yang dievakuasi.

Salah satu warga evakuasi dari New York, Ali, mengatakan: “Kami sudah naik kapal, jadi kami sangat berterima kasih atas kapal dan pesawat penyelamat yang disediakan pemerintah AS.”

Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya sempat menelepon Trump dan menyatakan bersedia menjadi mediator dalam konflik antara Israel dan Iran. Namun, Trump menolak tawaran itu dan mengatakan bahwa Putin sebaiknya fokus menyelesaikan perang Rusia-Ukraina terlebih dahulu. (Hui/asr)

Laporan disusun oleh reporter NTD, Yi Jing.