Pelepasan Air Mendadak di Fujian, Tiongkok Tanpa Peringatan, Rumah Warga Terendam dan Roboh Satu per Satu

EtIndonesia.com Laporan media daratan Tiongkok, pada 4 September menyebutkan topan Saudel yang kembali mendarat membawa curah hujan ekstrem ke seluruh Fujian. Banjir di Putian, Fuding, Fu’an, dan Zhangzhou sangat parah. Wilayah perkotaan maupun pedesaan terendam dalam skala luas. Banyak rumah roboh, sementara harta benda dan barang-barang terseret arus. Banyak orang dilaporkan hilang.

Menurut keterangan warga setempat, sejumlah waduk di Putian dan Fu’an melakukan pelepasan air tanpa peringatan. Warga disebut tidak menerima pemberitahuan sebelumnya. Pada tengah malam, air bah merendam desa-desa dan rumah-rumah terus roboh. Sejumlah warga terjebak di tengah banjir.

Seorang pengguna Weibo menulis:

“Banjir di Fujian kali ini sangat parah. Beberapa hari terakhir hujan deras turun terus-menerus, seolah-olah langit bocor. Desa tempat kakak perempuan saya tinggal di Putian mengalami pelepasan air waduk pada tengah malam tadi. Dia mengatakan tidak menerima peringatan maupun pemberitahuan.”

“Ketika bangun pagi, air sudah mencapai satu lantai rumah. Mobil-mobil terendam. Saat dia menelepon saya, rumah-rumah disekitarnya roboh satu demi satu. Dia bahkan memperdengarkan kepada saya suara rumah yang runtuh.”

Tulisan tersebut juga mengatakan:

“Rumah kakak saya dibangun cukup tinggi sehingga masih ada tempat untuk mengungsi. Namun, warga desa lainnya tidak memiliki tempat untuk pergi. Keluarga kakak saya mengalami kerugian ekonomi yang tidak sedikit. Tetapi kita harus mengakui bahwa dalam menghadapi bencana alam, kondisi setiap orang sangat tidak setara.”

Seorang warga Fu’an, Fujian, mengatakan bahwa pelepasan air di wilayah mereka juga tidak disertai pemberitahuan.

“Situasi bencana di Fu’an dan Fuding juga sangat mengkhawatirkan. Di Fuding, ada waduk yang menghadapi risiko jebol. Waduk di Fu’an melepaskan air tanpa pemberitahuan yang efektif, bahkan bisa dikatakan tanpa pemberitahuan sama sekali. Toko-toko di sepanjang jalan terendam, dan desa-desa serta kota-kota kecil berubah menjadi lautan air berwarna kuning.” 

“Perhatian publik terhadap situasi ini sangat kecil, mungkin karena Fujian dianggap sebagai wilayah yang berpengalaman dalam menghadapi topan. Namun, kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan pengalaman masa lalu. Masih banyak sekali tempat dan kelompok masyarakat yang terabaikan. Mohon perhatikan bencana di Fujian.”

Wilayah Minhou di Fuzhou juga dilaporkan mengalami banjir di banyak tempat. Banyak orang hilang, terjebak, atau terseret arus setelah hujan deras yang berlangsung selama berhari-hari. Sejumlah pekerja juga terjebak di dalam pabrik tanpa persediaan kebutuhan pokok. Banyak warga meminta pertolongan melalui internet, tetapi tidak kunjung mendapatkan bantuan.

Video yang beredar di internet memperlihatkan rumah-rumah roboh satu demi satu, jalan-jalan terendam, arus banjir mengalir deras, kendaraan terseret arus, dan sejumlah orang terjebak di tengah banjir.

Menurut laporan media daratan Tiongkok, hujan deras mulai turun tanpa henti sejak 1 September. Hingga 3 September, permukaan air naik dengan sangat cepat. Pada pagi hari itu, banyak toko di Kawasan Pengembangan Ekonomi Hualin, Kota Putian, Fujian, mulai terendam. Video menunjukkan lantai pertama toko-toko dan bangunan di sekitar kawasan tersebut telah terendam.

Seorang pemilik toko mengatakan: “Saya sudah membuka toko di sini selama 20 tahun, tetapi belum pernah mengalami banjir sebesar ini.”

Rekaman udara juga menunjukkan seluruh Kota Putian seolah-olah terendam banjir.

Meskipun banjir di Fujian sangat parah, perhatian di media sosial daratan Tiongkok justru dilaporkan relatif kecil. 

Banyak warganet Fujian menyerukan secara daring agar masyarakat “memperhatikan” dan “memberikan perhatian lebih” terhadap bencana tersebut. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa pihak berwenang sengaja menutupi informasi mengenai kondisi bencana.

(Reporter: Li Li; disusun berdasarkan berbagai laporan / Editor: Xia He

700 Ton Peledak Mengguncang Lebanon! Israel Klaim Rebut Benteng Bawah Tanah Hizbullah

EtIndonesia.com  Pada malam 3 September 2026, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu merilis sebuah video yang langsung menarik perhatian di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Dalam pengumuman tersebut, Israel menyatakan bahwa Divisi ke-36 Pasukan Pertahanan Israel atau IDF telah menguasai kawasan Pegunungan Ali Taher di Lebanon selatan. Penguasaan itu diklaim tidak hanya mencakup wilayah di permukaan, tetapi juga jaringan fasilitas bawah tanah yang selama bertahun-tahun disebut digunakan Hizbullah sebagai salah satu pusat pertahanannya.

Waktu pengumuman tersebut menjadi perhatian karena hanya beberapa jam sebelumnya muncul laporan bahwa Iran, melalui Oman, telah menyampaikan peringatan mengenai kemungkinan serangan Israel terhadap kawasan tersebut.

Menurut laporan yang beredar, Teheran memperingatkan bahwa serangan besar terhadap posisi strategis itu dapat memicu pembalasan Iran.

Namun Israel justru mengumumkan bahwa pasukannya telah berhasil menguasai kawasan itu. 

Posisi Strategis di Lebanon Selatan

Pegunungan Ali Taher memiliki nilai militer yang sangat penting karena terletak di Lebanon selatan, relatif dekat dengan perbatasan Israel.

Kawasan pegunungan dengan ketinggian sekitar 600 meter itu dilaporkan berada sekitar 15 kilometer dari wilayah Israel. Dari posisi tinggi tersebut, pasukan yang menguasainya memiliki keuntungan besar dalam melakukan pengamatan terhadap sejumlah kawasan di Israel utara.

Selain itu, beberapa jalur yang menghubungkan kawasan pesisir Lebanon dengan Lembah Bekaa juga dapat dipantau dari wilayah tersebut.

Karena alasan inilah kawasan Ali Taher selama bertahun-tahun disebut menjadi salah satu posisi penting Hizbullah.

Menurut sejumlah laporan Israel, selama hampir dua dekade Iran membantu mendanai pembangunan infrastruktur militer Hizbullah di wilayah tersebut.

Di dalam gunung disebut terdapat jaringan terowongan, pusat komando, gudang persenjataan, ruang logistik, serta fasilitas yang memungkinkan personel bertahan dalam waktu lama tanpa harus sering muncul ke permukaan.

Kompleks tersebut juga disebut berkaitan dengan Pasukan Badr Hizbullah, salah satu formasi yang beroperasi di Lebanon selatan.

Bagi Israel, keberadaan jaringan bawah tanah semacam itu merupakan ancaman serius karena dapat digunakan untuk menyimpan persenjataan, memindahkan personel secara tersembunyi, serta mempersiapkan operasi terhadap wilayah Israel utara.

Ledakan Besar pada 31 Juli

Operasi untuk merebut kawasan tersebut dilaporkan telah berlangsung lebih dari satu bulan.

Menurut narasi yang beredar mengenai operasi tersebut, fase penting dimulai pada 31 Juli 2026, ketika militer Israel menggunakan bahan peledak dalam jumlah sangat besar untuk menghancurkan bagian utama jaringan terowongan.

Jumlah bahan peledak yang digunakan diklaim mencapai sekitar 700 ton.

Ledakan besar tersebut disebut menghancurkan sejumlah bagian fasilitas bawah tanah sekaligus memutus jaringan listrik yang digunakan di dalam kompleks.

Setelah penghancuran tersebut, pasukan Israel dikabarkan tidak langsung memasuki seluruh jaringan terowongan.

Sebaliknya, kawasan itu terlebih dahulu dikepung dan diisolasi selama lebih dari satu bulan. Langkah tersebut diduga bertujuan memutus jalur pasokan serta membatasi pergerakan kelompok bersenjata yang masih berada di dalam kompleks.

Pasukan Israel kemudian bergerak masuk untuk melakukan penyisiran terhadap terowongan, gudang senjata, pusat komando dan berbagai fasilitas lainnya.

Pada 3 September 2026, Israel akhirnya mengumumkan bahwa operasi tersebut telah mencapai tahap ketika kawasan strategis itu berada di bawah kendalinya.

Muncul Klaim Personel IRGC Terjebak

Di tengah operasi tersebut, muncul pula laporan yang menyebut sejumlah anggota Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC berada di dalam fasilitas bawah tanah.

Beberapa sumber bahkan mengklaim lebih dari sepuluh personel Iran terjebak di kompleks tersebut, termasuk sedikitnya dua perwira berpangkat tinggi.

Namun informasi itu masih diperdebatkan.

Militer Israel sendiri dilaporkan membantah klaim mengenai keberadaan personel IRGC tersebut, sehingga informasi tentang keterlibatan langsung perwira Iran di dalam kompleks Ali Taher belum dapat dipastikan secara independen.

Terlepas dari kontroversi tersebut, keberhasilan merebut kawasan ini memiliki nilai simbolis dan strategis bagi Israel.

Kawasan tersebut disebut sebagai salah satu posisi yang pernah berada dalam pengaruh militer Israel sebelum penarikan pasukannya dari sebagian besar Lebanon selatan pada Mei 2000.

Dengan demikian, perkembangan terbaru ini dipandang sebagai perubahan penting dalam konfigurasi militer di sepanjang perbatasan Israel-Lebanon.

Pergerakan Pesawat Militer Amerika Menjadi Sorotan

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana Iran akan merespons perkembangan tersebut.

Perhatian kemudian tertuju pada aktivitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia.

Data pelacakan penerbangan yang dikutip sejumlah pengamat disebut menunjukkan aktivitas beberapa pesawat tanker KC-135 Stratotanker Angkatan Udara Amerika Serikat, bersamaan dengan keberadaan pesawat nirawak pengintai maritim MQ-4C Triton.

Aktivitas semacam ini menjadi perhatian karena pesawat tanker KC-135 memiliki fungsi penting dalam operasi udara jarak jauh. Pesawat tersebut memungkinkan jet tempur dan pesawat militer lainnya mengisi bahan bakar di udara sehingga dapat beroperasi lebih lama tanpa harus kembali ke pangkalan.

Menurut laporan yang beredar, pola penerbangan tersebut dianggap memiliki kemiripan dengan aktivitas yang terlihat menjelang operasi militer Amerika Serikat terhadap sasaran-sasaran di Iran pada 1 September 2026.

Dalam perkembangan sebelumnya, militer AS dilaporkan melancarkan gelombang serangan terhadap sekitar 100 sasaran, termasuk fasilitas yang berkaitan dengan kemampuan pertahanan udara, radar, komunikasi dan infrastruktur maritim Iran.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya juga telah memperingatkan Teheran bahwa Washington dapat meningkatkan skala serangan apabila Iran melakukan pembalasan lebih lanjut.

Karena itu, kemunculan pesawat tanker dan platform pengintaian Amerika di kawasan Teluk dipandang sebagian pengamat sebagai sinyal bahwa Washington mempertahankan kesiapan militernya.

Namun, aktivitas pesawat tanker dan pengintaian saja tidak dapat dijadikan bukti bahwa serangan baru terhadap Iran pasti akan dilakukan.

Timur Tengah Memasuki Fase yang Semakin Berbahaya

Situasi tersebut memperlihatkan betapa kompleksnya perkembangan keamanan di Timur Tengah pada awal September 2026.

Israel berusaha memperlemah infrastruktur militer Hizbullah di Lebanon selatan, sementara Iran menghadapi tekanan langsung dari Amerika Serikat setelah meningkatnya konfrontasi di kawasan Teluk Persia.

Bagi Israel, penguasaan kawasan strategis di Lebanon selatan dapat memperbesar zona keamanan di sepanjang perbatasannya sekaligus mengurangi kemampuan Hizbullah untuk mengancam kota-kota di wilayah utara.

Bagi Iran, kehilangan salah satu posisi penting sekutunya di Lebanon dapat menjadi pukulan terhadap jaringan pengaruh regional yang selama bertahun-tahun dibangun melalui dukungan kepada Hizbullah.

Namun risiko terbesar justru terletak pada kemungkinan salah perhitungan.

Satu serangan terhadap fasilitas strategis, satu pembalasan terhadap pasukan Amerika, atau satu operasi lintas batas dapat dengan cepat memicu rangkaian respons yang jauh lebih besar.

Karena itulah perkembangan di Lebanon selatan, Iran dan Teluk Persia pada awal September 2026 kini tidak lagi dapat dilihat sebagai peristiwa yang berdiri sendiri.

Ketiganya telah menjadi bagian dari satu rangkaian ketegangan regional yang saling berkaitan—dan setiap perubahan di satu medan dapat menentukan apa yang terjadi di medan lainnya. (***)

Ekspor Murah Memicu Kekhawatiran Global, PKT Menghambat Pernyataan Bersama G20

Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara G20 berakhir pada 1 September di Asheville, North Carolina, Amerika Serikat. Karena penolakan Partai Komunis Tiongkok (PKT), pertemuan tersebut tidak berhasil mengeluarkan komunike bersama. Hal-hal yang ditentang PKT mencakup ketidakseimbangan ekonomi global, kebebasan navigasi di Selat Hormuz, serta restrukturisasi utang, dan sejumlah isu lainnya.

EtIndonesia.com  Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 yang berlangsung selama dua hari berakhir pada 1 September. 

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan setelah pertemuan bahwa 19 negara anggota lainnya mendukung penyelesaian masalah “ekspor murah” yang menyebabkan ketidakseimbangan ekonomi global, sementara hanya Tiongkok yang menyatakan ketidaksetujuan.

“Kami menilai bahwa perekonomian non pasar yang terus-menerus mengekspor barang murah dalam jumlah besar ke luar negeri tidaklah berkelanjutan,” katanya. 

“Jelas bahwa Tiongkok, yang memiliki surplus transaksi berjalan terbesar di dunia dan berada pada tingkat yang sulit dipertahankan, adalah pihak yang menyatakan keberatan,” jelasnya. 

Penolakan Tiongkok menyebabkan pertemuan tersebut tidak dapat mengeluarkan komunike bersama yang disepakati seluruh anggota seperti biasanya. Sebagai gantinya, Amerika Serikat selaku negara ketua menerbitkan “Pernyataan Ketua” (Chair’s Statement), yang secara khusus mencatat bahwa Tiongkok menentang paragraf 4, 10, 11, dan 13.

Salah satu bagian yang paling kontroversial terdapat dalam paragraf 10, yang menyatakan:

“Negara-negara yang memiliki surplus eksternal yang berlebihan dan berkelanjutan harus menghapus faktor-faktor distorsi yang menekan konsumsi domestik dan menyebabkan pertumbuhan ekonomi terlalu bergantung pada ekspor.”

Meskipun tidak menyebut Tiongkok secara langsung, pernyataan tersebut dinilai ditujukan kepada Tiongkok. Pemerintah Tiongkok tidak bersedia dikategorikan sebagai negara dengan “ekspor yang terdistorsi” dan ekonomi “non pasar”. Beijing menyatakan bahwa ketidakseimbangan perdagangan membutuhkan reformasi bersama dari semua negara dan menuding Amerika Serikat seharusnya mengurangi defisit fiskalnya.

Pakar ekonomi Taiwan Huang Shicong menganalisis bahwa kepentingan PKT telah tersentuh sehingga pihak tersebut tidak bersedia menghadapi kritik dari negara-negara lain.


“Mereka menuding Tiongkok mengalami kelebihan kapasitas produksi dan kemudian memasarkan produk-produk tersebut ke seluruh dunia. Surplus perdagangan merupakan sumber penting bagi perekonomian Tiongkok, karena mereka bergantung pada apa yang disebut sebagai ekspor. Jika saya tidak diperbolehkan mengekspor, tentu perekonomian Tiongkok akan terkena dampak yang sangat besar,” ujarnya. 

“Sejauh ini, semua pihak ingin mendorong Tiongkok untuk menerima sebagian aturan permainan internasional. Dalam berbagai keputusan internasional, Tiongkok selalu berada dalam posisi menentang,” katanya. 

Selain itu, paragraf 11 meminta Dana Moneter Internasional (IMF) dan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memperbaiki data dan memperkuat analisis mengenai seberapa besar kebijakan non pasar tersebut berkontribusi terhadap ketidakseimbangan ekonomi global. Hal ini juga ditentang oleh Tiongkok.

Profesor Xie Tian dari Aiken Business School, University of South Carolina, mengatakan bahwa PKT tidak ingin persoalan yang bersifat sistemik dinilai dan diukur secara kuantitatif oleh lembaga internasional.

“PKT menggunakan kekuatan negara untuk mendorong kelebihan kapasitas produksi, kemudian membuang produknya ke seluruh dunia. Ketidakseimbangan ini disebabkan oleh kebijakan nasional PKT,” ujarnya. 

“Jika negara-negara di seluruh dunia mulai mengambil tindakan balasan terhadap kebijakan PKT yang menciptakan ketidakseimbangan ini, PKT tidak akan mampu mempertahankan surplus perdagangan seperti sekarang. Hal tersebut juga akan menjadi pukulan besar bagi perekonomian Tiongkok,” katanya. 

Paragraf 4 menekankan pentingnya memastikan rantai pasok berbagai komoditas penting, seperti energi, pangan, pupuk, dan mineral kritis, dapat beroperasi dengan lancar, serta menjamin kebebasan navigasi di wilayah seperti Selat Hormuz.

Menurut para pejabat, pemerintah Tiongkok menentang penyebutan “mineral kritis” dan khawatir bahwa penggunaan kata-kata tertentu dapat berdampak terhadap situasi di Selat Taiwan dan Laut Tiongkok Selatan.

Tiongkok juga menentang isi paragraf 13 mengenai restrukturisasi utang negara dan isu-isu terkait. Beijing tidak ingin pinjaman bilateralnya sepenuhnya dimasukkan ke dalam mekanisme koordinasi utang yang dipimpin negara-negara Barat.


“PKT menentang keempat bagian tersebut. Sebenarnya, semua persoalan ini berkaitan dengan masalah yang secara khusus dimiliki PKT. Jadi, jika G20 mengeluarkan pernyataan seperti itu, pada dasarnya PKT akan berada dalam posisi yang sangat sulit,” ujar Xie Tian. 

Meskipun PKT berhasil menghalangi penerbitan komunike bersama dengan posisi 1 melawan 19, hal tersebut tidak mengurangi risiko meningkatnya ketegangan perdagangan.

“Dengan menggunakan kekuatan pemerintah untuk mengalahkan perusahaan swasta kita, tentu saja negara-negara lain akan menganggap hal ini sebagai persaingan yang tidak adil. Mereka harus mengambil sejumlah langkah untuk membatasi kebijakan Tiongkok saat ini. Jika tidak, banyak industri di negara mereka pada akhirnya bisa terseret hingga mengalami kehancuran,” ujar Huang Shicong. 

“Saya kira, selanjutnya masing-masing kawasan akan terlebih dahulu menerapkan strategi terkait. Kemudian, secara alami, akan terbentuk aliansi untuk melawan Tiongkok,” katanya. 

Bessent menunjukkan bahwa surplus perdagangan Tiongkok pada 2025 mencapai rekor sekitar US$1,2 triliun, yang menurutnya menghambat pertumbuhan ekonomi global.

Ia mendesak sejumlah mitra G20 untuk meniru pendekatan pemerintahan Donald Trump, termasuk menggunakan tarif dan langkah-langkah lainnya untuk mengatasi ketidakseimbangan perdagangan.

Editor Shang Yan/ Wawancara: Chang Chun

Dikabarkan Bendungan di Wenzhou, Tiongkok  Jebol Tengah Malam, Banjir Mencapai Lantai Dua Kediaman Warga

EtIndonesia.com Topan “Saudel”, yang sebelumnya telah melemah dan kehilangan statusnya, kembali menguat secara tiba-tiba dan “berbalik menyerang”. Sejumlah wilayah di Fujian dan Zhejiang dilaporkan melakukan pelepasan air dari waduk tanpa peringatan yang memadai, sehingga menyebabkan banjir meluas.

Beredar informasi di internet bahwa sebuah bendungan di Kabupaten Pingyang, Wenzhou, Zhejiang, jebol, menyebabkan wilayah hilir terendam pada tengah malam. Hingga kini, belum diketahui jumlah korban jiwa maupun korban luka.

Baru-baru ini, sebuah video yang beredar di internet memperlihatkan sebuah jalan dilanda banjir pada malam hari. Arus air deras mengalir menuruni lereng, sementara sejumlah warga terdengar berteriak ketakutan.

Menurut pengunggah video, lokasi tersebut adalah Desa Shangzhou di Kota Mabu, Kabupaten Pingyang. Jebolnya bendungan di bagian hulu disebut menyebabkan banjir besar, sehingga seluruh warga desa harus melarikan diri dengan tergesa-gesa pada tengah malam.

Kondisi di Desa Xiafan, yang juga berada di kota yang sama, disebut lebih parah. “Air sudah mencapai lantai dua rumah-rumah lama,” demikian keterangan yang beredar. Banyak warga dilaporkan terjebak dan membutuhkan pertolongan.

Bendungan Longtan Pernah Dinyatakan Bermasalah

Menurut data publik, terdapat Bendungan Longtan di Desa Shunxin, Kota Mabu. Bendungan tersebut tergolong bendungan kecil dengan kapasitas total 207.000 meter kubik.

Bendungan itu dibangun pada 1974. Bendungannya telah mengalami sejumlah masalah dan pada 2023 ditetapkan sebagai bendungan yang mengalami kerusakan dan memiliki risiko keselamatan.

Pada 2024, bendungan tersebut baru saja menyelesaikan proyek yang disebut sebagai proyek “penguatan dan perbaikan untuk menghilangkan risiko keselamatan”.

Topan Saudel Kembali Menguat

Topan “Saudel”, yang sebelumnya telah berhenti diberi nomor, tiba-tiba “hidup kembali” di perairan bagian barat Laut Tiongkok Selatan pada  Selasa (1 September) dini hari.

Topan tersebut kembali menguat menjadi badai dan kemudian bergerak ke arah utara.

Sejumlah wilayah di Fujian dan Zhejiang kemudian dilanda banjir serius, menciptakan pemandangan yang digambarkan seperti bencana besar.

Pada 1 September, dua waduk utama di Kabupaten Cangnan, Wenzhou—Waduk Qiaodun dan Waduk Wujia Yuan—membuka pintu air untuk melepaskan air.

Sejumlah wilayah perkotaan di pusat kabupaten, serta Kota Lingxi, Kota Zaoxi, dan daerah-daerah rendah di sepanjang sungai, kemudian terendam.

Banyak toko, kendaraan, dan lahan pertanian terendam air, menyebabkan kerugian besar.

Selain itu, banjir juga dilaporkan terjadi di Putian dan Quanzhou di Provinsi Fujian, Kota Ningde-Fuding, serta Kota Ruian di Wenzhou.

Karena pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama ini dianggap kerap menutupi informasi mengenai bencana, jumlah korban jiwa dan besarnya kerugian materi hingga kini belum diketahui secara jelas. (***)

Tiga Kekuatan Utama Militer AS Menghancurkan Iran, Trump Bantah Rumor tentang “Kekurangan Amunisi”

Pada 3 September, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa militer AS memiliki amunisi yang nyaris tidak terbatas, serta sedang memproduksi dan menimbun persediaan dalam jumlah besar. Pernyataan itu sekaligus membantah laporan yang dianggap tidak benar. 

Selain itu, muncul kabar terbaru bahwa Amerika Serikat kembali meningkatkan imbalan menjadi US$10 juta bagi informasi mengenai keberadaan seorang pejabat senior bernama Ariyarab, yang disebut terkait Komando Siber Korps Garda Revolusi Iran.

EtIndonesia.com Presiden AS Donald Trump sebelumnya berturut-turut mengunggah pernyataan yang menegaskan bahwa Amerika Serikat sedang menimbun amunisi dalam jumlah besar. Ia mengecam laporan media berita palsu yang menyebut persediaan amunisi militer AS telah terkuras secara serius.

Dalam unggahannya di Truth Social, Trump mengatakan, “Kepada para pengkhianat yang menolak memberitakan secara jujur operasi militer kami di Iran, kami memiliki amunisi tingkat menengah hingga tinggi yang nyaris tidak terbatas,” dan jumlah tersebut jauh melebihi amunisi yang telah digunakan.

Presiden Trump juga menambahkan bahwa Amerika Serikat kini memproduksi dan menimbun amunisi pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, sebagai persiapan menghadapi berbagai kemungkinan keadaan darurat.

Dalam operasi militer AS sebelumnya, Amerika Serikat mengerahkan kekuatan dan sumber daya udara, laut, serta antariksa untuk mengawal sekitar 40 kapal dagang yang keluar-masuk Selat Hormuz.

“Kami mengerahkan banyak kapal setiap hari untuk mengangkut jutaan barel minyak. Dalam sebagian besar kasus, semuanya berjalan dengan sangat baik. Sesekali mereka meluncurkan drone, tetapi semuanya kami tembak jatuh. Kami memegang kendali,” kata Donald Trump 2 September 2026. 

“Setiap gerakan mereka berada di bawah pengawasan kami. Mereka tidak bisa bergerak. Bahkan ketika mereka pergi ke toilet, mereka tidak dapat luput dari pengawasan kami,” jelasnya. 

Trump juga mengatakan bahwa setelah Iran melancarkan “serangan kecil yang bersifat uji coba”, Amerika Serikat telah bersiap menghadapi serangan lebih lanjut.

“Kami menghancurkan semua peralatan baru yang mereka coba bangun di sepanjang Selat Hormuz, baik yang bersifat defensif maupun ofensif. Mereka berusaha memantau kapal-kapal karena mereka sama sekali tidak dapat melihatnya. Mereka tidak dapat melihat karena mereka tidak memiliki radar. Kami menghancurkan radar mereka,” ujarnya.

Sebelumnya, The Wall Street Journal, mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa Presiden Trump sedang berdiskusi dengan para penasihat senior mengenai apakah akan mengumumkan berakhirnya perang Iran.

Menurut sumber tersebut, Trump tampaknya cenderung menyetujui langkah itu. Ia diyakini berpendapat bahwa mempertahankan tekanan ekonomi pada akhirnya akan memaksa rezim Iran membongkar program nuklirnya atau menuju keruntuhan.

Kementerian Pertahanan Kuwait mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udaranya pada Kamis (3 September) berhasil mencegat rudal dan drone yang diluncurkan Iran sebagai pembalasan atas serangan militer AS.

Menanggapi hal tersebut, negara-negara di kawasan, yaitu Yordania dan Qatar, secara terbuka menyatakan dukungan kepada Kuwait serta mengecam serangkaian serangan Iran.

Selain itu, menurut laporan eksklusif Iran International, media yang beroposisi terhadap pemerintah Iran, dengan mengutip pejabat AS, serangan tersebut tidak mengenai personel maupun aset di pangkalan militer AS.

Media garis keras Iran melaporkan bahwa dua pilot Angkatan Laut Iran dan seorang pilot Angkatan Udara Iran juga tewas dalam operasi militer AS pada Selasa (1 September). Kondisi sebenarnya masih menunggu verifikasi.

Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick sebelumnya dalam sebuah wawancara diduga salah bicara ketika mengatakan bahwa tidak ada personel militer AS yang tewas dalam perang Iran. Pernyataan tersebut kemudian memicu perdebatan.

Lutnick kemudian mengunggah permintaan maaf. Ia menulis: “Saya salah bicara. Kami telah kehilangan 18 personel militer. Hati saya hancur untuk keluarga-keluarga tersebut, dan saya sangat menyesalkan kehilangan mereka.”

Ia menjelaskan bahwa ketika membuat pernyataan tersebut, yang ada dalam pikirannya adalah operasi militer AS di Venezuela, yang menurutnya tidak menimbulkan korban jiwa di pihak militer AS.

Tak lama sebelum Lutnick menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, Presiden Trump juga mengoreksi pernyataan tersebut sekaligus membelanya. Trump menulis: “Ketika Menteri Lutnick mengatakan tidak ada yang tewas, yang ada dalam pikirannya adalah Venezuela. Di Iran, ada 18 orang yang gugur!”

Hingga saat ini, pemerintah AS secara resmi melaporkan bahwa 18 personel militer AS telah tewas, sementara lebih dari 750 orang lainnya mengalami luka-luka.

Laporan gabungan oleh Wang Ziyi, NTD Television.

G20 Memanas! AS Disebut Bentuk ‘19 Lawan 1’, Tiongkok Terpojok Sendirian?

EtIndonesia.com  Pertemuan para menteri keuangan negara-negara G20 yang disebut berlangsung di Amerika Serikat pada akhir Agustus hingga awal September 2026 menjadi sorotan setelah muncul laporan mengenai perbedaan tajam antara Washington dan Beijing. Pertemuan tersebut diklaim bukan hanya membahas persoalan ekonomi global, tetapi juga berkembang menjadi arena pertarungan kepentingan strategis antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Dalam berbagai laporan yang beredar, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent digambarkan memainkan peran penting dalam menentukan arah pembicaraan. Washington disebut berusaha membawa G20 menuju pendekatan baru: tidak lagi semata-mata berfokus pada upaya mengisolasi Rusia akibat perang di Ukraina, tetapi juga memberikan perhatian lebih besar terhadap kebijakan perdagangan dan kapasitas industri Tiongkok.

Perubahan arah tersebut menjadi menarik karena berlangsung ketika hubungan ekonomi antara Amerika Serikat dan Tiongkok masih menghadapi tekanan besar.

Rusia Kembali Dilibatkan

Salah satu langkah yang paling menarik perhatian adalah laporan mengenai keterlibatan kembali perwakilan Rusia dalam pertemuan tingkat tinggi tersebut.

Sejak Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina pada 24 Februari 2022, hubungan Moskow dengan Amerika Serikat dan sebagian besar negara Eropa mengalami kemerosotan drastis. Rusia menghadapi berbagai sanksi ekonomi, pembatasan finansial, serta tekanan diplomatik.

Karena itu, apabila benar Washington membuka kembali ruang yang lebih besar bagi Rusia dalam forum ekonomi tersebut, keputusan itu akan mempunyai arti politik yang cukup penting.

Sejumlah negara Eropa disebut menyampaikan keberatan. Namun, menurut narasi yang berkembang, pemerintahan Amerika Serikat tetap mempertahankan pendekatannya.

Strateginya dapat dibaca dari dua sisi.

Di satu sisi, Amerika Serikat masih mempunyai kepentingan dalam perang Rusia-Ukraina dan masa depan keamanan Eropa. Di sisi lain, Washington juga berkepentingan membuka jalur diplomatik yang dapat membantu mendorong terciptanya penyelesaian konflik.

Dalam konteks yang lebih luas, Amerika Serikat pada saat bersamaan memandang persaingan dengan Tiongkok sebagai persoalan strategis jangka panjang yang jauh melampaui satu konflik regional.

Persaingan tersebut mencakup perdagangan, teknologi, semikonduktor, rantai pasokan, energi, kecerdasan buatan, hingga pengaruh geopolitik.

Dengan latar belakang itulah muncul penilaian bahwa Washington sedang berusaha mengubah prioritas pembicaraan di G20.

Tiga Persoalan Memicu Perdebatan

Ketegangan kemudian disebut semakin meningkat ketika sejumlah isu sensitif dimasukkan ke dalam pembahasan.

Setidaknya terdapat tiga persoalan yang diklaim menjadi sumber perbedaan besar.

Pertama adalah keamanan dan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.

Persoalan Hormuz menjadi sangat sensitif karena jalur tersebut merupakan salah satu koridor energi terpenting dunia. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan itu dapat memengaruhi pasokan minyak, biaya pengiriman, premi asuransi kapal, hingga harga energi internasional.

Isu kedua adalah ketidakseimbangan perdagangan global.

Washington sejak lama menyoroti besarnya surplus perdagangan Tiongkok dan menilai struktur perdagangan semacam itu dapat menciptakan tekanan terhadap industri negara lain.

Isu ketiga adalah persoalan kelebihan kapasitas produksi atau overcapacity.

Amerika Serikat berpendapat bahwa kemampuan produksi Tiongkok yang sangat besar dalam sejumlah sektor dapat menghasilkan barang dalam jumlah jauh melampaui kebutuhan domestiknya. Barang tersebut kemudian memasuki pasar internasional dengan harga yang sangat kompetitif.

Dari sudut pandang Beijing, kemampuan menghasilkan barang dengan harga rendah dapat dilihat sebagai hasil efisiensi industri dan daya saing manufaktur.

Namun bagi Washington dan sejumlah negara lain, masuknya produk murah dalam jumlah sangat besar dapat memberikan tekanan serius terhadap industri domestik mereka.

Pertemuan Disebut Gagal Menghasilkan Komunike

Perbedaan mengenai sejumlah persoalan tersebut diklaim akhirnya membuat para peserta tidak mencapai kesepakatan untuk menerbitkan komunike bersama.

Dalam forum internasional seperti G20, komunike bersama mempunyai arti penting karena menunjukkan adanya titik temu di antara para peserta.

Ketika konsensus tidak tercapai, biasanya pertemuan berakhir dengan pernyataan yang lebih terbatas.

Namun kali ini, menurut informasi dalam bahan yang beredar, Amerika Serikat mengambil langkah berbeda.

Bessent disebut menerbitkan sebuah “Pernyataan Ketua” atau Chair’s Statement.

Yang membuat dokumen tersebut menjadi kontroversial adalah klaim bahwa sebanyak 19 anggota lainnya mendukung substansi pernyataan tersebut, sementara Tiongkok berada pada posisi berbeda.

Apabila klaim tersebut benar, gambaran politik yang muncul tentu sangat kuat: Beijing seolah ditempatkan sendirian menghadapi anggota lainnya.

Namun, klaim mengenai konfigurasi “19 melawan 1” tersebut perlu diperlakukan secara hati-hati karena belum dapat diverifikasi melalui sumber resmi dan laporan media internasional tepercaya yang tersedia.

Bessent Disebut Soroti Surplus Perdagangan Tiongkok

Ketegangan diklaim tidak berhenti setelah pertemuan selesai.

Bessent disebut menyampaikan kritik keras terhadap model ekonomi Tiongkok dan memperingatkan mengenai dampak membanjirnya produk murah ke pasar internasional.

Ia dikutip mengatakan bahwa ekonomi nonpasar yang terus membanjiri dunia dengan barang ekspor murah tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Bessent juga disebut menyinggung surplus perdagangan Tiongkok yang mencapai sekitar 1,2 triliun dolar AS.

Pesan utama Washington dalam narasi tersebut cukup jelas: persoalan perdagangan dengan Tiongkok tidak lagi ingin diperlakukan semata-mata sebagai konflik bilateral antara Washington dan Beijing.

Amerika Serikat justru ingin negara-negara lain melihat persoalan tersebut sebagai tantangan bersama.

Hal ini menjadi semakin penting setelah Washington memperketat hambatan perdagangan terhadap produk Tiongkok.

Apabila barang-barang tersebut semakin sulit memasuki pasar Amerika Serikat, produsen Tiongkok secara logis akan mencari pasar alternatif.

Eropa, Asia Tenggara, Amerika Latin, Afrika dan berbagai negara berkembang dapat menjadi tujuan berikutnya.

Di sinilah kekhawatiran mengenai pengalihan perdagangan atau trade diversion muncul.

Washington disebut memperingatkan bahwa negara-negara lain dapat menghadapi lonjakan produk Tiongkok apabila tidak mengambil tindakan perlindungan terhadap industri masing-masing.

Strategi AS Memasuki Babak Baru?

Jika laporan mengenai strategi tersebut benar, maka terdapat perubahan penting dalam pendekatan Amerika Serikat.

Pada tahap sebelumnya, tarif dan pembatasan perdagangan sering digunakan sebagai alat untuk menekan Beijing agar memberikan konsesi.

Namun pendekatan yang digambarkan dalam pertemuan kali ini tampaknya berbeda.

Washington seolah mulai mempersiapkan kemungkinan bahwa Tiongkok tidak akan memberikan konsesi besar.

Karena itu, sasaran berikutnya bukan sekadar memaksa Beijing mengubah kebijakannya, melainkan membangun kesamaan kepentingan dengan negara-negara lain.

Dengan kata lain, pembatasan terhadap produk Tiongkok berusaha diubah dari kebijakan unilateral Amerika Serikat menjadi pendekatan yang lebih luas.

Apabila strategi tersebut berhasil, dampaknya bagi Beijing bisa jauh lebih serius dibandingkan perang tarif bilateral.

Tiongkok mempunyai basis manufaktur yang sangat besar. Ketika konsumsi domestik tidak mampu menyerap seluruh kapasitas tersebut, pasar ekspor memainkan peranan penting dalam menjaga aktivitas industri.

Selama masih tersedia banyak pasar internasional yang terbuka, tekanan dari tarif Amerika Serikat masih dapat diredam dengan mengalihkan sebagian ekspor ke negara lain.

Tetapi situasinya akan berubah apabila semakin banyak negara secara bersamaan menaikkan tarif, menerapkan kebijakan antidumping, memperketat aturan asal barang, atau membatasi produk tertentu.

Tiongkok kemudian berpotensi menghadapi semakin sedikit pasar yang mampu menyerap kelebihan produksinya.

Inilah yang membuat perkembangan di G20 tersebut—jika laporan mengenai pertemuan itu terkonfirmasi—lebih penting daripada sekadar perselisihan diplomatik.

Pertarungan sesungguhnya bukan hanya mengenai siapa yang memenangkan perdebatan di ruang pertemuan.

Persoalan yang jauh lebih besar adalah apakah Amerika Serikat mampu meyakinkan negara-negara lain bahwa kelebihan kapasitas industri Tiongkok merupakan masalah global yang membutuhkan respons bersama.

Jika Washington berhasil, tekanan terhadap Beijing dapat berkembang dari perang dagang antara dua negara menjadi persoalan perdagangan multilateral.

Namun apabila negara-negara lain memilih mempertahankan akses terhadap barang murah dan hubungan ekonomi dengan Tiongkok, upaya membangun front perdagangan bersama akan jauh lebih sulit.

Karena itu, pertarungan berikutnya kemungkinan tidak hanya berlangsung antara Washington dan Beijing.

Arena sesungguhnya justru berada di negara-negara lain yang kini harus menentukan kepentingannya masing-masing: mempertahankan akses terhadap produk Tiongkok yang kompetitif, atau memperketat perlindungan terhadap industri domestik.

Dan keputusan negara-negara tersebut pada akhirnya dapat menentukan apakah tekanan perdagangan terhadap Tiongkok hanya menjadi babak baru perang dagang Amerika Serikat–Tiongkok, atau berubah menjadi pergeseran besar dalam struktur perdagangan dunia. (***)

Bank-Bank di Daratan Tiongkok Berturut-turut Bermasalah! Bos Ditolak Saat Menarik Uang, Marah Lalu Membakar Bank di Henan

Belakangan ini beredar informasi di internet bahwa seorang pengusaha datang ke sebuah cabang Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) di Zhengzhou, Provinsi Henan, untuk menarik uang guna membayar gaji karyawannya. Namun, pihak bank berulang kali memberikan berbagai alasan untuk menunda pencairan dan tidak mengizinkannya menarik uang.

Pada akhirnya, pengusaha tersebut dilaporkan sangat marah dan membakar bank tersebut. Peristiwa ini dengan cepat memicu perbincangan luas di internet.

EtIndonesia.com Pada 2 September 2026, seorang pengguna platform X meneruskan kiriman dari seorang netizen yang menyebutkan bahwa baru-baru ini terjadi kebakaran di sebuah cabang ICBC di Zhengzhou, Henan.

Menurut informasi yang beredar, seorang pengusaha datang ke cabang ICBC tersebut untuk menarik uang guna membayar gaji 500 karyawannya. Namun, dengan alasan kekurangan dana, pihak bank disebut-sebut memberikan berbagai alasan dan terus menunda pencairan sehingga pengusaha tersebut tidak dapat menarik uangnya.

Pengusaha itu akhirnya dilaporkan marah dan membakar bank tersebut.

Peristiwa ini segera memicu perdebatan di internet.

Sejumlah netizen berkomentar:

“Ini benar-benar seperti ‘rakyat dipaksa oleh pejabat hingga akhirnya memberontak’. Kalau uang simpanan rakyat dibekukan begitu saja, aneh kalau tidak sampai terjadi sesuatu yang besar.”

Ada pula yang mengatakan:

“PKT sama sekali tidak menghormati hukum. Mereka terang-terangan merampas uang dan mendorong orang sampai ke jalan buntu!”

Sebelumnya, beredar kabar bahwa Ctrip mengalami masalah keuangan dan 170 juta nasabah tidak dapat menarik uang, dengan dana yang disebut mencapai 320 miliar yuan dan melibatkan 11 bank. Dalam dua bulan ke depan, masalah tersebut bahkan diklaim berpotensi menyebar ke 40 bank dan lebih dari 10.000 kantor cabang.

Selain itu, Bank of Jiangsu juga dilaporkan mengalami pembatasan penarikan dana. Sebuah tangkapan layar yang beredar di internet menunjukkan bahwa Bank of Jiangsu memberi tahu nasabah bahwa layanan pinjaman yang dijalankan melalui kerja sama dengan Ctrip telah dihentikan. Penarikan dalam jumlah besar dibatasi, sementara penarikan dalam jumlah kecil dibatasi maksimal 500 yuan per hari dan paling banyak empat kali dalam sebulan.

Seorang perempuan juga mengunggah video yang mengeluhkan bahwa 29 juta yuan yang disimpannya di rekening pengawasan Bank of Jiangsu tiba-tiba hilang. Pihak bank disebut saling melempar tanggung jawab dan menolak memberikan tanggapan.

Perempuan tersebut mengatakan bahwa video yang dia unggah untuk memperjuangkan haknya juga beberapa kali dihapus dari internet.

Serangkaian informasi yang beredar ini membuat sejumlah masyarakat Tiongkok mulai khawatir: apakah uang yang mereka simpan di bank masih aman?

Sebagian netizen juga menilai bahwa berbagai masalah yang terus muncul di sektor perbankan, ditambah dengan meningkatnya jumlah perusahaan yang bangkrut dan tekanan pengangguran, menunjukkan bahwa perekonomian Tiongkok sedang mengalami keruntuhan.

Data resmi menunjukkan bahwa bank-bank kecil dan menengah di Tiongkok memang sedang mengalami percepatan konsolidasi.

Hingga 20 April lalu, sebanyak 72 bank desa (rural commercial/village banks) telah menyelesaikan proses keluar dari sistem dan pencabutan izin. Pada periode yang sama tahun lalu, jumlahnya hanya 27 bank.

Sepanjang 2025, sebanyak 226 bank desa telah menyelesaikan proses pencabutan izin dan keluar dari sistem perbankan.

Tekanan yang saat ini dihadapi sektor perbankan Tiongkok kembali menjadi perhatian publik.

Laporan gabungan Liu Jiajia, NTD Television.

Skandal Baru Universitas Wuhan: Dosen Perempuan Diduga Naik Jadi Profesor Hanya 3 Tahun Usai Doktor Lewat “Transaksi Kekuasaan dan Seks”

EtIndonesia.com  Skandal terus bermunculan di Universitas Wuhan. Pada 3 September, seorang dosen perempuan Universitas Wuhan dilaporkan karena diduga menggunakan “transaksi kekuasaan dan seks” untuk menjadi profesor hanya tiga tahun setelah memperoleh gelar doktor. Ia juga dituduh terlibat dalam pemalsuan akademik dan merusak keluarga pembimbingnya.

Pelapor mengaku sebagai putri dari pembimbing tersebut dan meminta agar dosen perempuan itu dijatuhi sanksi tegas.

Menurut informasi yang beredar di internet, dua perempuan yang mengaku sebagai putri seorang profesor dari salah satu universitas berstatus 985 di Wuhan—masing-masing berusia 20 dan 15 tahun—menerbitkan dokumen PDF sepanjang 86 halaman untuk melaporkan secara terbuka dan mencantumkan nama Zeng Mengqi (曾夢琪), seorang profesor di Fakultas Kimia dan Ilmu Molekuler Universitas Wuhan.

Mereka menuduh bahwa sejak 2016, ketika masih menempuh pendidikan doktoral, Zeng Mengqi secara aktif mencampuri rumah tangga pembimbingnya yang telah menikah, Fu Lei (付磊).

Menurut tuduhan tersebut, Zeng menggunakan foto profil pasangan, mengubah siaran pers universitas dengan menyisipkan foto dirinya bersama Fu Lei, serta menghadiri kegiatan penerimaan tamu resmi sebagai “istri” Fu Lei. Tindakan tersebut pada akhirnya disebut menyebabkan keluarga Fu Lei retak.

Tuduhan Pelanggaran Akademik

Dalam bidang akademik, laporan tersebut menuduh bahwa bahan pengajuan Zeng Mengqi untuk program rekrutmen talenta ditulis oleh pembimbingnya.

Setelah menjadi profesor, ia juga dituduh mengambil alih hasil penelitian mahasiswa, termasuk hasil yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah internasional bergengsi seperti Nature dan Journal of the American Chemical Society (JACS).

Dalam aspek keuangan, pelapor menuduh Zeng Mengqi menyalahgunakan dana penelitian, membangun saluran pendanaan yang melanggar aturan untuk menahan atau memotong pembayaran tenaga kerja mahasiswa, serta menggunakan uang publik untuk makan, minum, dan hiburan.

Pelapor meminta Universitas Wuhan untuk:

  • memberhentikan Zeng Mengqi dari jabatan;
  • mencabut kualifikasi mengajarnya dan gelar doktornya;
  • mencabut status atau gelar kehormatan sebagai talenta;
  • menarik kembali berbagai fasilitas dan tunjangan yang telah diterimanya;
  • mengeluarkannya dari Partai Komunis Tiongkok;
  • melakukan audit terhadap dana penelitian;
  • serta melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap dugaan pelanggaran integritas akademik.

Setelah isu tersebut menjadi perhatian publik, pada malam hari yang sama Universitas Wuhan mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya telah memulai penyelidikan.

Rekam Jejak Zeng Mengqi

Menurut informasi yang tersedia untuk publik, Zeng Mengqi saat ini merupakan profesor di Fakultas Kimia dan Ilmu Molekuler Universitas Wuhan.

Ia disebut menempuh pendidikan di jurusan kimia fisik fakultas tersebut dari 2013 hingga 2018 dan memperoleh gelar doktor.

Pada 2018–2020, ia menjabat sebagai peneliti madya khusus di fakultas tersebut. Pada 2020–2021 ia menjadi profesor madya, kemudian mulai 2021 menjabat sebagai profesor.

Ia juga tercatat sebagai salah satu “Talenta Muda Unggulan” dari Departemen Organisasi Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok.

Siapa Fu Lei?

Fu Lei disebut menjabat sebagai anggota Komite Tetap Partai Universitas Anhui sekaligus wakil rektor Universitas Anhui, serta profesor di Fakultas Kimia dan Ilmu Molekuler Universitas Wuhan.

Sebelumnya, ia merupakan profesor dan pembimbing doktoral di Fakultas Kimia dan Ilmu Molekuler Universitas Wuhan, sekaligus pernah menjabat sebagai kepala Departemen Sumber Daya Manusia Universitas Wuhan dan direktur Kantor Urusan Talenta dan Pakar.

Setelah laporan tersebut beredar luas, sejumlah netizen berkomentar:

“Dari lulus doktor sampai menjadi profesor hanya membutuhkan tiga tahun. Rekam jejak ini benar-benar luar biasa. Prosedur penilaian jabatan akademik Universitas Wuhan benar-benar seperti mukjizat.”

Komentar lainnya berbunyi:

“Lingkungan ini sudah benar-benar rusak. Berbagai penghargaan dan penilaian jabatan akademik semuanya bergantung pada koneksi.”

Ada pula yang mengatakan:

“Ini mungkin hanya puncak gunung es.”

(Laporan gabungan reporter Li Li / Editor: Lin Qing)

[Obrolan Medis di Luar Klinik]  Kurangi Konsumsi Makanan Dingin untuk Menyehatkan Yang Qi

Leon Xie (Praktisi Pengobatan Tradisional Tiongkok)

Makanan beku yang tidak sepenuhnya beku biasanya akan cepat mencair setelah dikeluarkan; namun, jika beku sepenuhnya, akan sulit untuk mencairkannya meskipun dibiarkan selama setengah hari. Akibatnya, orang-orang secara bertahap belajar bahwa jika mereka ingin memakannya keesokan harinya, mereka harus mengeluarkannya untuk dicairkan semalaman sebelumnya.

Proses pencairan mengonsumsi energi Yang, juga dikenal sebagai energi penghangat. Semakin hangat cuaca, semakin cepat proses pencairannya. Saya ingat menjual es loli saat masih kecil, masing-masing hanya seharga sepuluh sen. Saat itu, tidak ada keluarga yang memiliki kulkas, jadi para penjual akan membawa es loli dalam kotak styrofoam dan mengendarai sepeda di sepanjang jalan, sambil meneriakkan dagangan mereka. Mereka harus menjualnya dengan cepat, jika tidak, es loli di bagian bawah akan meleleh menjadi air, dan mereka harus menanggung kerugiannya sendiri——banyak orang mungkin masih mengingat pemandangan ini.

Dengan adanya lemari es saat ini, banyak anak tidak hanya sering makan es krim, tetapi juga minuman dingin dan buah-buahan, serta susu dan yoghurt. Makanan yang mudah basi seringkali hanya dimasukkan ke dalam lemari es dan langsung dimakan. Inilah salah satu alasan mengapa semakin banyak orang menderita sakit perut dan nafsu makan yang buruk ——- energi Yang dalam tubuh telah terkuras tanpa disadari.

Bayangkan jika tidak ada matahari di langit, tanah akan lembap dan suram; jika menemui hujan, akan lebih sulit untuk berjalan. Saat ini, jalan beton lebih baik, tetapi di masa lalu, semuanya adalah jalan berlumpur, licin di setiap langkah, yang membuat orang lebih menghargai kehangatan matahari.

“Matahari” dalam tubuh manusia mengacu pada ginjal Yang (juga dikenal sebagai gerbang kehidupan) dan jantung Yang. Pepatah mengatakan “Ketika matahari bersinar terang, halimun akan sirna dengan sendirinya”, persis seperti matahari bersinar, kegelapan akan sirna secara alami, menggambarkan pentingnya energi Yang. Jika jantung Yang tidak mencukupi, itu seperti langit tanpa matahari, membuat tubuh terasa stagnan.

Mengamati orang yang mengalami pencernaan lambat seringkali kekurangan energi Yang, baik karena Yang ginjal yang lemah, Yang jantung yang lemah, atau Yang limpa yang tidak mencukupi. Penyebab utama penipisan energi Yang pada manusia saat ini adalah konsumsi berlebihan minuman beku, buah dan sayuran mentah dan dingin, serta produk susu.

Ketika zat-zat dingin dan Yin ini masuk ke dalam tubuh, dibutuhkan lebih banyak energi Yang untuk mencerna dan mengubahnya, mirip dengan proses pemanasan. Namun, energi Yang dalam tubuh tidaklah tak terbatas; konsumsi yang berlebihan menyebabkan penipisannya secara bertahap.

Ketika energi Yang tidak mencukupi, seseorang akan mengalami pencernaan yang lambat, kelelahan, dan tidak tahan dingin. Hal ini mungkin tidak mudah disadari ketika seseorang masih muda karena energi Yang masih berlimpah; tetapi lihatlah mereka yang memiliki limpa dan lambung yang lemah, mengapa mereka mengalami diare setelah minum sedikit air dingin, tidak berani menyentuh buah, dan mengalami asam lambung atau sakit perut setelah memakannya? Akar penyebabnya justru adalah kekurangan energi Yang.

Sebagai contoh, dalam kasus di mana mengonsumsi makanan dingin menyebabkan sakit perut, nyeri perut, atau diare, mengapa pengobatan Barat seringkali sulit untuk menyembuhkan kondisi tersebut? Pengobatan Barat seringkali mengaitkannya dengan “spasme gastrointestinal,” sementara Pengobatan Tradisional Tiongkok segera mengidentifikasinya sebagai tanda kedinginan ——- dingin menyebabkan kontraksi, artinya ketika patogen dingin menyerang tubuh, hal itu menyebabkan penutupan pori-pori kulit (kontraksi pori), kontraksi Qi (energi vital), dan kontraksi serta spasme meridian dan otot. Pengobatan hanya melibatkan pemberian obat penghangat dan menasihati pasien untuk menghindari makanan dingin di masa mendatang.

Apa itu obat penghangat? Obat-obatan ini hanyalah zat yang menambah energi Yang, seperti menambahkan kayu bakar ke anglo. Oleh karena itu, seseorang tidak boleh selalu mengonsumsi makanan dingin dan lembap, terutama orang yang energi Yang-nya sudah kurang. Konsumsi berlebihan hanya akan menyebabkan stagnasi Qi dan darah, yang mengakibatkan lebih banyak masalah.

Memelihara energi Yang berarti memelihara sumber kehangatan kehidupan; menghindari makanan dingin dan mentah juga merupakan naluri untuk menyayangi tubuh. Mengetahui kapan harus mengonsumsi makanan hangat atau dingin memastikan kesehatan yang baik. (lin)

Cerobong Pabrik Yatsushiro Runtuh akibat Gempa Kumamoto, Jepang, Terbakar Saat Pembongkaran Berlangsung

EtIndonesia.com Gempa bumi besar melanda Prefektur Kumamoto, Jepang, pada Juli lalu. Di Kota Yatsushiro, cerobong asap Pabrik Yatsushiro milik Nippon Paper Industries runtuh dan menyebabkan 9 orang meninggal dunia.

Saat ini pekerjaan pembongkaran sedang dilakukan. Namun, sebelum pukul 18.00 pada 3 September, cerobong yang sedang dibongkar tersebut tiba-tiba terbakar. Beruntung, tidak ada korban luka dalam kejadian itu.

Pihak terkait dari pabrik menjelaskan bahwa api muncul dari cerobong yang rusak akibat gempa dan saat ini sedang dalam proses pembongkaran.

Rekaman kamera NHK di lokasi menunjukkan sejumlah besar asap hitam membumbung dari Pabrik Yatsushiro milik Nippon Paper. Api terlihat menyembur di dekat struktur menara. Dalam rekaman tersebut juga terlihat beberapa orang berlari menjauh dari area pabrik dan menjauhi kepulan asap.

Pada 28 Juli lalu, tiga cerobong asap setinggi 110 meter di Pabrik Yatsushiro milik Nippon Paper mengalami kerusakan akibat gempa. Bagian atas cerobong patah tetapi masih tersangkut pada struktur rangka di sekitarnya.

Salah satu dari tiga cerobong tersebut kemudian runtuh dan menyebabkan 9 orang meninggal dunia, sementara dua cerobong lainnya juga mengalami kerusakan parah.

Nippon Paper sebelumnya berharap dapat menyelesaikan pembongkaran cerobong yang rusak pada pertengahan September ini. Namun, setelah insiden kebakaran tersebut, masih sulit dipastikan kapan pabrik akan dapat kembali beroperasi.

Sumber : NTDTV.com

Korea Selatan Akan Kirim Pasukan ke Selat Hormuz? Kantor Kepresidenan Beri Klarifikasi Darurat 

EtIndonesia.com Media Korea Selatan melaporkan pada larut malam Kamis (3 September) waktu setempat bahwa pemerintah Korea Selatan sedang mempersiapkan prosedur terkait dan berencana mengerahkan aset militer ke Selat Hormuz sebelum akhir tahun ini untuk mendukung kebebasan navigasi.

Menurut sumber pemerintah dan militer yang dikutip dalam laporan tersebut, pemerintah Korea Selatan diperkirakan akan membahas rencana tersebut dalam rapat kabinet bulan ini, kemudian mengajukan permintaan persetujuan pengiriman pasukan kepada parlemen.

Opsi yang sedang dipertimbangkan antara lain mengirim pesawat patroli maritim, kapal pendukung logistik, serta pasukan untuk mendeteksi dan membersihkan ranjau laut.

Pihak Korea Selatan juga terus berdiskusi dengan Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis mengenai skala serta bentuk dukungan yang mungkin diberikan.

Namun, Kantor Kepresidenan Korea Selatan (Blue House) segera memberikan klarifikasi. Pemerintah Korea Selatan memang sedang membahas cara memberikan bantuan nyata untuk menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz, tetapi menegaskan bahwa laporan yang menyebut pemerintah telah memutuskan untuk mengerahkan kekuatan militer “tidak sesuai dengan fakta.”

Perlu diperhatikan bahwa Agustus lalu, Presiden AS Donald Trump pernah mengatakan bahwa salah satu alasan Amerika Serikat mengurangi sebagian latihan militer gabungan AS-Korea Selatan adalah karena Korea Selatan menolak membantu Amerika Serikat dalam perang melawan Iran. (***)

Waspada Pengganti Gula! Studi Temukan Kaitannya dengan Risiko Serangan Jantung dan Stroke yang Lebih Tinggi

Xylitol merupakan pemanis yang umum digunakan dalam berbagai produk, termasuk permen karet, produk perawatan mulut, minuman, dan makanan

Jack Phillips

Sebuah studi observasional menemukan bahwa kadar xylitol yang tinggi dalam darah berkaitan dengan risiko kejadian kardiovaskular yang lebih tinggi dibandingkan kadar yang lebih rendah dari pengganti gula yang banyak digunakan tersebut.

Dalam penelitian yang dipresentasikan pada konferensi European Society of Cardiology pada akhir Agustus, para peneliti menemukan bahwa individu dengan kadar xylitol tinggi dikaitkan dengan risiko lebih besar mengalami masalah kardiovaskular serius, seperti serangan jantung, stroke, atau kematian, dibandingkan mereka yang memiliki kadar lebih rendah.

Menurut siaran pers pada 26 Agustus dari organisasi kardiologi tersebut, para peneliti menganalisis data 17.710 peserta dari dua studi jangka panjang berskala besar, yakni European Prospective Investigation into Cancer (EPIC)-Norfolk dan Canadian Longitudinal Study on Aging (CLSA).

Dalam kelompok CLSA, peserta dengan kadar xylitol tertinggi memiliki risiko 57 persen lebih tinggi mengalami kejadian kardiovaskular serius selama periode pemantauan enam tahun dibandingkan peserta dalam kelompok dengan kadar terendah. Sementara itu, dalam kelompok EPIC, peserta dengan kadar xylitol tertinggi memiliki risiko 18 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang berada dalam kelompok kadar terendah.

Siaran pers tersebut menyatakan bahwa hubungan antara pemanis ini dan kejadian kardiovaskular tetap terlihat setelah memperhitungkan faktor-faktor lain seperti indeks massa tubuh (BMI), tekanan darah tinggi, diabetes, dan kadar lipid, yang dapat membuat seseorang cenderung memilih produk rendah kalori.

Namun, para peneliti menekankan dalam siaran pers 26 Agustus bahwa penelitian tersebut merupakan studi observasional. Artinya, penelitian ini belum dapat memastikan hubungan sebab-akibat antara xylitol dan peningkatan risiko serangan jantung atau stroke. Mereka menegaskan bahwa penelitian lebih lanjut masih diperlukan.

“Pemanis buatan dikonsumsi oleh orang-orang yang menganggapnya lebih sehat daripada gula dan umumnya dianggap aman oleh badan regulator.”

Demikian dikatakan Dr. Marco Witkowski dari Charité University Hospital di Berlin dalam pernyataan 26 Agustus.

“Temuan jangka panjang kami pada populasi umum menunjukkan betapa sedikitnya pengetahuan kita mengenai keamanan xylitol terhadap kesehatan kardiovaskular dan menunjukkan perlunya penelitian lebih lanjut, terutama karena jumlah xylitol dalam berbagai produk terus meningkat,” ujar Witkowski, yang turut terlibat dalam penelitian tersebut.

Xylitol sebenarnya apa?

Xylitol memiliki tingkat kemanisan yang hampir sama dengan gula biasa. Zat ini merupakan alkohol gula yang secara alami terdapat dalam sejumlah sayuran, buah-buahan, dan jenis pohon tertentu.

Xylitol juga dijual di berbagai toko dalam bentuk bubuk putih menyerupai kristal, menurut Harvard Medical School.

Selain potensi masalah kardiovaskular yang disoroti dalam studi terbaru tersebut, sejumlah peneliti kesehatan secara terpisah menyatakan bahwa xylitol dapat menyebabkan gangguan pencernaan, termasuk diare, produksi gas berlebih, dan perut kembung. Temuan tersebut telah dipublikasikan melalui situs National Institutes of Health (NIH).

Xylitol Berbahaya bagi Anjing

Pihak berwenang juga telah lama memperingatkan bahwa anjing tidak boleh mengonsumsi xylitol. Zat ini dapat menyebabkan gagal hati, penurunan kadar gula darah yang berbahaya, bahkan kematian pada anjing.

“Jika Anda menduga anjing Anda mungkin telah memakan produk yang mengandung xylitol, segera hubungi dokter hewan, klinik darurat, atau pusat pengendalian keracunan hewan,” demikian peringatan Food and Drug Administration (FDA) di situs resminya.

Produk Bebas Gula Belum Tentu Mengandung Xylitol

Produk yang mencantumkan klaim “nol gram gula” atau “bebas gula” tidak selalu berarti mengandung xylitol.

Menurut Johns Hopkins University, terdapat berbagai alternatif gula lainnya, termasuk stevia, erythritol, sorbitol, maltitol, sucralose, dan aspartame.

Sebagian pemanis tersebut berasal dari sumber alami, sementara pemanis lainnya—seperti aspartame, sakarin, dan sucralose—merupakan pemanis buatan.

PKT Sedang “Xinjianisasi” Tiongkok Lewat Kontrol Ketat Perjalanan Warganya Keluar Negeri

 oleh Zhang Jing

Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah mengesahkan peraturan baru tentang pengelolaan keluar-masuk warganya, yang meskipun akan resmi diberlakukan pada 15 September 2026, tetapi beberapa sumber daring mengonfirmasi bahwa PKT telah mulai secara ketat mengontrol warga negaranya yang mau ke luar negari. Peraturan baru ini juga melegalkan pemeriksaan perangkat elektronik dan data elektronik yang dibawa oleh warga yang keluar border.

Pada 12 Agustus, pengguna media sosial X bernama Chen Tong memposting pesan yang berbunyi: dirinya melihat sendiri ketika berada di bandara Tiongkok, “warga mendapat periksaan yang lebih ketat dari petugas bea cukai,” dan “banyak warga sipil Tiongkok yang diminta pulang,” alias dipersulit keluar dari bandara. “Pergi ke luar negeri saja seperti menghadapi musuh tangguh,” tulisnya.

Pada 15 Agustus, sebuah video yang memperlihatkan seorang mahasiswi paspornya dicabut oleh petugas imigrasi saat berada di Bandara Nanning di Guangxi, dan bersiap berangkat ke luar negeri. Alasannya adalah karena ada seorang mahasiswi asal Tiongkok yang studi di universitas yang sama di Spanyol ini tidak kembali ke Tiongkok setelah melampaui masa berlaku maspornya, sehingga semua mahasiswi yang hendak pergi studi ke universitas tersebut dilarang berangkat.  

Pada 19 Agustus, seorang pelapor yang namanya tidak ingin disebutkan mengklaim bahwa saat melakukan check-in di Bandara Internasional Shanghai Pudong untuk penerbangannya ke Seattle, AS ia diminta untuk mengisi formulir informasi keberangkatan, yang isinya terkait informasi pribadi yang sangat sensitif. Ia menyatakan bahwa hal ini menyebabkan banyak penumpang yang menggunakan penerbangan yang sama “geleng-geleng kepala,” sementara ia sendiri “berpura-pura tetap tenang.”

Tanpa ia duga, ponselnya juga diperiksa oleh petugas bea cukai bandara. Petugas pertama menanyakan soal formulir isian itu, apakah sudah diisi sesuai kenyataan, kemudian ponselnya, dan ponsel 20 orang penumpang lainnya diminta untuk membuka kuncinya lalu dibawa ke sebuah ruangan kecil untuk pemeriksaan manual dan mesin otomatis. Seorang di depannya bahkan dibawa pergi oleh polisi bandara karena dicurigai menggunakan ponsel cadangan untuk lolos pemeriksaan petugas yang menemukan bahwa aplikasi tersebut baru saja diinstal.

Ia mengklaim bahwa setelah boarding, ia mendapati setengah dari kursi dalam pesawat kosong, yang menunjukkan bahwa setengah dari penumpang di penerbangannya gagal dalam pemeriksaan dan ditahan atau dipulangkan.

Baru-baru ini, seorang wanita yang telah lama bekerja di luar negeri dan pulang ke Tiongkok untuk mengunjungi kerabatnya, juga mengunggah uneg-unegnya secara online. Ia menyebutkan bahwa ponselnya telah menjadi sasaran pemeriksaan kantor polisi PKT.

Sejak berada di Tiongkok, ia tidak cuma sering diinterogasi oleh polisi tentang pekerjaannya di luar negeri dan statusnya keluar/masuk negara, tetapi juga diminta untuk pergi ke kantor polisi untuk menjalani penyelidikan tepat sebelum kepulangannya ke luar negeri. Ia membawa berbagai bahan ke kantor polisi untuk pembuktian, tetapi petugas hanya memintanya untuk mengeluarkan ponselnya dan membuka kuncinya. Kemudian, polisi menggunakan kabel data untuk menghubungkan ponselnya ke perangkat khusus untuk mengambil data-data dalam ponsel selama 2 jam. Album foto ponselnya, riwayat obrolan WeChat, dan kata kunci yang dia cari di Taobao Search semuanya secara otomatis dikemas dan diunggah ke dalam perangkat khusus kepolisian.

Ia ditolak sebelum naik pesawat, paspornya dibatalkan tanpa alasan, ponsel diperiksa secara sewenang-wenang, dan informasi ponsel dikumpulkan—tanda-tanda yang sering dialami warga sipil Tiongkok biasa saat menghadapi kontrol perbatasan menunjukkan bahwa PKT sedang mengisolasi rakyatnya, hal ini menunjukkan tanda-tanda seluruh Tiongkok sedang mengalami “Xinjiangisasi.”

Pada tahun 2019, sebuah organisasi hak asasi manusia internasional merilis laporan yang menyebutkan bahwa sejak tahun 2016, Partai Komunis Tiongkok telah melakukan pemantauan terhadap 13 juta orang warga etnis Uighur dan minoritas lainnya melalui “Platform Operasi Gabungan Terintegrasi,” yang mengakibatkan hingga 1 juta orang dari etnis tersebut ditahan di “kamp pendidikan ulang” yang banyak didirikan di Provinsi Xinjiang.

“Platform Operasi Gabungan Terintegrasi” di Xinjiang menghubungkan informasi identitas setiap orang dengan berbagai data pengawasan. Sistem ini dapat mengumpulkan lintasan dinamis individu dengan memantau lokasi ponsel dan kendaraan mereka. Jika seseorang mengalami penggunaan listrik rumah tangga yang tidak normal, meninggalkan alamat terdaftar tanpa izin, atau menghubungi seseorang yang memiliki kerabat atau teman di luar negeri, sistem secara otomatis akan memberi tahu pihak kepolisian untuk keperluan interogasi.

“Platform Operasi Gabungan Terintegrasi” ini juga menetapkan “tingkat ancaman” kepada setiap individu berdasarkan data yang dipantau, menggunakan ini sebagai dasar untuk memberlakukan berbagai tingkat pembatasan terhadap kebebasan bergerak mereka. Pembatasan ini termasuk tahanan rumah, larangan meninggalkan alamat terdaftar, memasuki tempat umum, atau meninggalkan Tiongkok. Bahkan langsung ditahan dalam komplek yang disebut “kamp pendidikan ulang.”

Di Xinjiang, pengawasan terhadap gerak gerik seseorang lewat ponsel oleh PKT telah lama berlangsung. Perangkat lunak untuk pengawasan yang umum digunakan, termasuk aplikasi “Jingwang Weishi,” “Fengcai,” “National Anti-Fraud Center,” dan lainnya. Di pos pemeriksaan dan bahkan persimpangan lalu lintas, polisi dapat kapan saja memeriksa ponsel penduduk. Mereka menggunakan cara teknis untuk memindai kontak ponsel, file audio dan video, daftar aplikasi yang digunakan, dan melacak ponsel melalui program perangkat lunak khusus untuk memantau perjalanan harian dan perilaku sosial.

Pada tahun 2019, investigasi oleh beberapa media asing mengungkapkan bahwa wisatawan yang memasuki Xinjiang melalui jalur darat dari Kyrgyzstan diwajibkan membuka kunci ponsel mereka dan menyerahkannya untuk diperiksa. Untuk iPhone, ponsel akan terhubung ke komputer polisi untuk memindai data yang ada dalam ponsel, sementara untuk ponsel Android milik wisatawan ini, diharuskan untuk mendownload aplikasi “Fengcai”. Aplikasi ini secara diam-diam akan mengumpulkan informasi privasi pribadi dari ponsel wisatawan, termasuk email, file audio dan video, pesan teks, kontak, dan model ponsel, selesai me-retrive data, app tersebut secara otomatis terhapus.

Buku karya penulis Kanada Darren Byler berjudul “In the Camps: China’s High-Tech Penal Colony” (Di Dalam Kamp: Koloni Hukuman Berteknologi Tinggi Tiongkok) merinci keadaan terkini dari pengawasan berteknologi tinggi di Provinsi Xinjiang yang mengerikan.

Selain jaringan kamera yang padat terpasang seperti “skynet” untuk memantau pergerakan setiap orang, pos pemeriksaan berdiri di setiap jarak 200 meter. Orang-orang harus memindai kartu identitas mereka atau menjalani pengenalan wajah untuk melewati pos pemeriksaan ini. Pada saat yang bersamaan, layar monitor petugas pos pemeriksaan menampilkan informasi dasar dari orang tersebut, beserta kotak berwarna hijau atau kuning. Kotak hijau menunjukkan orang tersebut “bukan masalah”, kotak kuning menunjukkan orang tersebut “perlu dipantau.” Polisi dapat meminta ponsel orang tersebut kapan saja untuk diperiksa catatan kontak yang mungkin “mencurigakan” dan bahkan dapat memaksa orang tersebut untuk memasang aplikasi pengawasan resmi.

Penulis menyebutkan bahwa pada tahun 2011, banyak anak muda di Xinjiang mulai menggunakan ponsel Huawei, tetapi dengan cepat menjadi “bencana ponsel.” Pada tahun 2014, PKT mulai memantau ponsel orang. Perangkat lunak yang disediakan oleh perusahaan teknologi tinggi dapat melacak lokasi keberadaan seorang individu, secara otomatis merekam dan menerjemahkan setiap kata yang diucapkan orang Uighur di WeChat, dan mengidentifikasi orang Uighur melalui pengenalan wajah.

Di antara perangkat lunak tersebut, polisi juga menggunakan perangkat lunak yang, setelah dipasang di ponsel, dapat secara otomatis memeriksa puluhan ribu jenis perilaku yang berbeda untuk memperkirakan tingkat “kepercayaan” pengguna. Lampu hijau menandakan “dapat dipercaya,” sementara lampu merah menandakan “sangat mencurigakan,” yang berarti orang tersebut berpotensi untuk ditangkap lalu dijebloskan ke dalam “kamp pendidikan ulang” yang sesungguhnya adalah penjara.

Hal yang menakutkan adalah bahwa PKT tidak hanya melacak apa yang dilakukan oleh warga etnis ini “sekarang,” tetapi juga menggunakannya untuk melacak tindakan “di waktu lalu” bahkan memprediksi perbuatan “masa depan” mereka. Misalnya, menemukan penggunaan VPN, pemasangan aplikasi WhatsApp, atau penyimpanan file elektronik keagamaan di ponsel dapat dianggap “bersiap untuk melakukan kejahatan,” yang menyebabkan orang bersangkutan ditahan atau dikirim ke “kamp pendidikan ulang.”

Dalam buku Darren Byler yang mencatat sebuah wawancara dengan seorang siswa Xinjiang yang bernama Kaisar, ia menceritakan sebuah insiden di mana sekolah tiba-tiba mengumpulkan semua siswa di lapangan olah raga dan mulai memeriksa ponsel semua orang. Kaisar sendiri pernah membagikan sebuah artikel berita tentang seorang intelektual Uighur yang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup lewat WeChat. “Saya berpura-pura tenang, kendati jantung saya berdebar kencang. Untungnya, guru yang memeriksa WeChat saya teledor,” ujar Kaisar.

Sayangnya, salah satu teman sekelasnya dibawa pergi dan ditahan selama 9 bulan di pusat penahanan karena ia tidak menghapus video protes tahun 2009 yang dikirimkan kepadanya oleh orang lain. Polisi memukulinya dan memaksanya untuk mengakui semua tuduhan yang mereka sebutkan. Ia kemudian diyakini telah ditahan di kamp pendidikan ulang.

Kaisar mengatakan bahwa setelah tahun 2016, pemerintah Xinjiang memperketat pemeriksaan telepon seluler. Ia lebih memilih tidak membawa serta ponsel keluar rumah untuk menghindari pemeriksaan petugas di pos keamanan, polisi akan memerintahkan semua orang untuk keluar dari kendaraan mereka, mereka yang memiliki izin tinggal Xinjiang akan berbaris untuk pemindaian wajah, dan kemudian polisi akan meminta telepon mereka diserahkan dan dimasukkan ke dalam alat pemindai.

Kemudian, setelah Kaisar berhasil melarikan diri dari Tiongkok, kebijakan di Xinjiang semakin ketat. Semua warga etnis Uighur dipaksa untuk menyerahkan paspor mereka kepada pemerintah PKT untuk “disimpan,” dan perjalanan membutuhkan persetujuan dari kantor polisi setempat. Banyak kerabatnya ditahan dengan tuduhan “berpotensi menjadi teroris.”

Pemeriksaan telepon seluler yang terus-menerus dan kapan saja mencerminkan keinginan rezim PKT untuk mengendalikan pikiran setiap warganya dan merupakan pola pikir memperlakukan setiap orang sebagai “calon penjahat.” Ini adalah cerminan nyata dari rasa tidak aman yang ekstrem dari rezim ini. Ekonomi Tiongkok lesu, pengangguran melonjak, kaum muda memilih Tang Ping, dan ketidakpuasan sosial terus meningkat. PKT sendiri sangat terpecah secara internal, dan penerapan kontrol yang kuat dan bertekanan tinggi ini mengungkapkan kelemahannya sendiri.

PKT mengadopsi strategi mengendalikan warga Xinjiang untuk membatasi akses pergerakan seluruh rakyat Tiongkok. Dengan sikap “lebih baik menaruh kecurigaan” dan “tidak membiarkan siapa pun bebas dicurigai,” mereka memperlakukan semua orang sebagai penjahat.

Bagi warga sipil yang berada di Tiongkok harus menyerahkan semua privasi dan melewati sensor digital PKT sebelum diizinkan untuk meninggalkan negara. Bagi mereka yang kembali dari luar negeri dapat dibatasi untuk meninggalkan negara selama 6 bulan hingga 3 tahun jika mereka terbukti terlibat dalam perbuatan apa pun yang bertentangan dengan kepentingan PKT. Metode kontrol perjalanan keluar negeri warga sipil Tiongkok yang menyimpang ini sebenarnya lebih seperti eksperimen “Xinjianisasi” seluruh Tiongkok. (***)

Topan Saudel Mendarat untuk Ketiga Kalinya di Tiongkok, Hujan Lebat dan Banjir Parah Melanda Fujian dan Zhejiang

EtIndonesia.com Baru-baru ini, Topan Saudel, yang sebelumnya telah melemah menjadi depresi tropis, kembali menguat ke level topan dan untuk ketiga kalinya mendarat di Tiongkok. Dikutip pada 4 September 2026, dalam beberapa hari terakhir, Zhejiang, Fujian, dan sejumlah provinsi lainnya dilanda hujan deras. Sejumlah waduk melakukan pelepasan air tanpa peringatan, sementara warga di daerah terdampak mengalami kerugian besar.

Sebelumnya, banjir bandang melanda Kota Longhua, Kabupaten Xianyou, Putian, Provinsi Fujian. Video yang beredar di internet memperlihatkan banjir bandang yang mengamuk di tengah hujan deras. 

Fondasi sebuah rumah tiga lantai dengan cepat terkikis oleh air. Hanya dalam waktu beberapa puluh detik, seluruh bangunan tiba-tiba runtuh. Dinding dan lantai bangunan langsung tersapu arus banjir. Pemandangan tersebut sangat mengerikan.

Warga desa mengatakan rumah tersebut baru direnovasi tahun lalu. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Warganet Tiongkok daratan berkomentar, “Seluruh hasil jerih payah seseorang seumur hidup lenyap dalam sekejap karena banjir.”

Di Quanzhou, hujan deras juga menyebabkan sebagian area Pemakaman Taibaifeng di Distrik Quangang longsor. Banyak batu nisan tersapu dan hancur, bahkan sejumlah guci abu jenazah juga terbawa arus banjir. Banyak warga mendatangi lokasi di tengah hujan untuk mencari batu nisan dan guci abu milik anggota keluarga mereka yang telah meninggal.

Seorang warganet Tiongkok berkomentar dengan nada sinis, “Begitu banyak orang datang mencari leluhur mereka. Hujan deras, terjadi longsor, sampai leluhur pun berenang ke sungai.”

Daerah lain yang mengalami kondisi parah adalah Wenzhou, Zhejiang.

Seorang warga terdampak di Wenzhou berteriak, “Oh, mobilnya akan terseret!”

Dalam beberapa hari terakhir, curah hujan kumulatif di sejumlah wilayah Rui’an, Wenzhou, telah melampaui 400 milimeter. Sejumlah pabrik sepatu terendam banjir. Banyak kotak sepatu dan produk jadi berserakan dan hanyut di jalan-jalan, menyebabkan kerugian besar bagi para pemilik usaha. 

Bahkan, ada pemilik usaha yang melakukan siaran langsung dari tengah genangan air dan menjual produk dengan harga 29,9 yuan untuk menghabiskan stok sebagai upaya menyelamatkan usahanya.

Warga terdampak di Rui’an, Wenzhou, mengatakan, “Lihat, semuanya hanyut. Semua sepatu hanyut.”

Menurut laporan, Waduk Nanxi dan Waduk Sangyuan di Kota Fuding, Fujian, melakukan pelepasan air secara bersamaan, tetapi warga setempat tidak menerima pemberitahuan dari pihak berwenang Tiongkok. Belakangan ini, kejadian serupa disebut terus bermunculan, sehingga menimbulkan tudingan bahwa pemerintah Partai Komunis Tiongkok sengaja menutupi keadaan sebenarnya, yang pada akhirnya menyebabkan kerugian besar terhadap keselamatan jiwa dan harta benda masyarakat.

Rekaman yang beredar di internet memperlihatkan banjir bandang mengalir deras seperti kuda liar, menghancurkan bangunan di sepanjang jalurnya serta menyeret kendaraan dan berbagai benda lainnya. Banjir menyebabkan jalan-jalan di seluruh kota terendam, dengan ketinggian air dilaporkan mencapai 3 meter di titik tertinggi. Banyak mobil terseret arus, sementara warga terdampak berjuang berjalan menerobos banjir.

Karena pemerintah Tiongkok disebut memiliki kebiasaan menutupi informasi, kondisi sebenarnya mengenai jumlah korban jiwa dan kerugian masih belum diketahui.

Seorang warga terdampak di Kota Diantou, Fujian, mengatakan: “Seluruh pasar, termasuk mobil-mobil dan toko teh, semuanya terendam air. Semuanya terendam. Belum pernah dalam sejarah kita melihat kejadian seperti ini. Sepeda listrik ini juga akan terseret air.”

Menurut informasi yang diungkapkan warganet di platform X, hujan deras yang terus berlangsung menyebabkan tanah longsor di Sekolah Menengah No. 6 Rui’an. Warganet menyebut bahwa bahkan panggung utama sekolah ikut runtuh. Sekolah tersebut baru memasuki hari pertama tahun ajaran, tetapi disebut sudah mengalami kerusakan parah. Saat ini, kegiatan belajar mengajar di seluruh kota telah dihentikan.

Badan meteorologi memperkirakan bahwa dalam tiga hari ke depan, sejumlah wilayah di bagian tenggara Jiangnan dan Tiongkok Selatan masih akan mengalami hujan deras. Di beberapa daerah bahkan berpotensi terjadi hujan yang sangat ekstrem. Risiko banjir masih terus meningkat.

Laporan gabungan oleh Xiao Chang, NTD Television.

Sebelum Bencana 26 Agustus Nepal-Tibet, Satelit Menangkap Tanda-Tanda Pergeseran Gletser dan Retakan Batu 

EtIndonesia.com Bencana longsor besar melanda perbatasan Nepal dan Tibet pada 26 Agustus. Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa beberapa hari, bahkan beberapa minggu sebelum bencana, telah muncul berbagai tanda perubahan pada gletser dan bebatuan. Namun, karena mekanisme peringatan dini tidak berfungsi secara efektif, bencana ini akhirnya menjadi salah satu bencana paling parah yang terjadi di kawasan tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Berbagai indikasi menunjukkan bahwa bencana tersebut dipicu oleh runtuhnya gletser dan longsoran es-batu (ice-rock avalanche), yang menyebabkan sejumlah besar es, salju, lumpur, pasir, dan bebatuan masuk ke Sungai Bhotekoshi dan meluncur dengan kecepatan sangat tinggi ke wilayah hilir. 

Banjir dan material longsoran menghancurkan banyak desa, jembatan, serta infrastruktur di sepanjang jalurnya, menyebabkan lebih dari seribu orang tewas dan ribuan lainnya hilang.

Namun, menurut laporan media Australia, lembaga penelitian HiRISK, yang mengumpulkan dan menganalisis data risiko bencana lingkungan pegunungan, menyatakan bahwa citra satelit telah menangkap tanda-tanda fisik yang jelas bahwa gletser di lokasi tersebut mulai kehilangan kestabilan strukturnya beberapa minggu sebelum bencana.

Gambar sebelum dan sesudah banjir bandang di perlintasan perbatasan Tiongkok-Nepal di Tibet. (Tangkapan layar dari internet)

Para pakar mengatakan bahwa sinyal-sinyal tersebut sebenarnya berpotensi menyelamatkan banyak nyawa.

Catatan pemantauan permukaan menunjukkan bahwa kecepatan pergerakan bagian atas gletser semakin meningkat. Hal ini mengindikasikan bahwa massa es secara bertahap kehilangan daya lekatnya terhadap batuan dasar.

Dua hari sebelum gletser runtuh, aliran air yang keluar dari gletser juga berubah menjadi cokelat gelap dengan kandungan sedimen yang sangat tinggi. Kondisi ini merupakan tanda bahwa erosi bawah permukaan sedang berlangsung di bawah gletser.

Pada saat yang sama, citra beresolusi tinggi menunjukkan munculnya retakan-retakan baru yang semakin meluas di dinding batu di sekitar kawasan tersebut.

Namun, tidak satu pun perubahan tersebut berhasil memicu sistem peringatan dini yang efektif. Padahal, setahun sebelumnya, longsor juga pernah terjadi di daerah aliran sungai yang sama dan menewaskan lebih dari 10 orang.

Menurut laporan Reuters, tiga bulan sebelum banjir besar tersebut, tepatnya pada 27 Mei, belasan pejabat dari Nepal dan Tiongkok berkumpul di Kathmandu untuk bersama-sama menghadapi meningkatnya ancaman bencana di kawasan Himalaya.

Tujuannya adalah berbagi data, membangun jaringan peringatan dini, meningkatkan pemantauan terhadap cuaca berbahaya dan pencairan gletser, serta menyusun rencana tanggap darurat.

Namun, dua pejabat Nepal mengatakan kepada Reuters bahwa setelah pertemuan tersebut, tingkat berbagi data dari pihak Tiongkok mengenai risiko gletser dan data hidrologi jauh di bawah harapan.

“Kami sebenarnya berharap mendapatkan—dan hingga sekarang masih berharap mendapatkan—informasi dari mereka. Jika terdapat aktivitas gletser awal atau perubahan yang terjadi di sekitar kawasan tersebut, kami berharap dapat mengetahuinya lebih awal,” kata Sauhardra Joshi, ahli hidrologi dari badan prakiraan Nepal yang menghadiri pertemuan pada Mei tersebut.

Menurut laporan cepat mengenai bencana yang diterbitkan HiRISK dua hari setelah tragedi, sistem peringatan dini (Early Warning System/EWS) baru saja dibangun di kawasan tersebut dan terutama ditujukan untuk memantau beberapa danau gletser di wilayah Tiongkok.

Namun, belum terdapat sistem peringatan dini yang dapat beroperasi secara efektif untuk menghadapi bencana yang berkaitan langsung dengan gletser.

Karena di sekitar Langtang Lirung tidak dipasang perangkat pemantauan apa pun, pihak berwenang akhirnya tidak mengetahui bahwa keruntuhan besar pada lereng gunung di ketinggian 7.234 meter tersebut akan segera terjadi.

Selain itu, meskipun para pakar sepakat bahwa kecepatan longsoran awal sangat tinggi sehingga hampir tidak memberikan waktu untuk mengeluarkan peringatan kepada pos pemeriksaan Rasuwagadhi di perbatasan Nepal–Tibet, yang merupakan lokasi Pelabuhan Gyirong, penduduk yang tinggal lebih jauh di hilir sebenarnya masih memiliki peluang untuk diselamatkan.

Sebagaimana ditunjukkan oleh para peneliti HiRISK, “Jika tersedia waktu peringatan 10 menit atau lebih, sistem yang matang dan memiliki kemampuan respons yang memadai sebenarnya dapat menyelamatkan banyak nyawa.”

Setelah bencana, politisi Nepal dan para pakar lingkungan menyerukan pembentukan mekanisme pemantauan ilmiah dan sistem peringatan dini secara real-time yang melibatkan Nepal, Tiongkok, dan India, bukan hanya melalui kerja sama bilateral.

Mereka menyerukan agar kesepakatan politik diterjemahkan menjadi sistem peringatan otomatis yang benar-benar mampu memberikan peringatan dalam hitungan menit sehingga dapat menyelamatkan nyawa.

Sebenarnya Ada Tanda Peringatan pada Hari Bencana

Menurut wawancara media daratan Tiongkok yang dilakukan sebelumnya, sebenarnya sudah terdapat tanda peringatan pada hari terjadinya bencana.

Berdasarkan data pemantauan US Geological Survey (USGS), gempa yang dipicu oleh runtuhnya es dan batu terjadi pada pukul 10:52.

Sementara itu, rekaman kamera pengawas (CCTV) menunjukkan bahwa longsoran es, batu, dan lumpur menghantam Pelabuhan Gyirong di Tibet pada pukul 10:59:53.

Sekitar setengah jam sebelum kejadian, seorang pemandu wisata dan para wisatawan juga telah mendengar suara gemuruh yang sangat keras di kawasan perbatasan Nepal–Tibet. Mereka mengira suara tersebut berasal dari longsoran salju.

Mereka sebenarnya berencana berangkat lebih awal menuju Pelabuhan Gyirong. Namun, pada menit-menit terakhir mereka mengubah rencana dan terlebih dahulu membawa para wisatawan menuju Anjungan Pengamatan Asia No. 1.

Perubahan rencana tersebut secara tidak sengaja membuat mereka terhindar dari bencana. (***)