Dapatkah Mengonsumsi Sayuran dan Buah-buahan Memperbaiki Kondisi Sembelit?

An Qi

“Setelah banyak mengonsumsi sayuran dan buah-buahan, mengapa masih mengalami masalah sembelit yang serius?” Ini merupakan pertanyaan dalam benak masyarakat. Pengertian masyarakat modern terhadap sembelit dan hubungannya dengan diet/pola makan kebanyakan hanya setengah-setengah saja, berikut ini adalah hasil wawancara dengan dokter keluarga Lin Xuhua tentang 6 mitos yang sering dijumpai:

Mitos 1, tidak buang air besar setiap hari adalah sembelit

Ada yang mengatakan, tidak setiap hari buang air besar (BAB) adalah sembelit. Ada pula yang beranggapan, sekalipun terasa akan buang air besar, namun perlu mengerahkan tenaga dalam BAB, juga terhitung sembelit. Bagaimana kriteria sembelit?

Pada umumnya, BAB kurang dari 3 x dalam seminggu disebut sembelit. Meskipun dikatakan demikian, namun jika sehari beberapa kali mengbuang “tinja rembesan” (yakni BAB dengan ngedan/mengerahkan tenaga besar, namun setiap kali hanya keluar sedikit sekali dan terasa masih belum tuntas). Mungkin juga adalah sembelit.

Jika Anda ingin mengetahui apakah telah BAB dengan normal, lebih baik melihat bentuk dan warna tinja, bukan menghitung berapa kali seringnya.

Tinja yang normal adalah berwarna kuning tanah, jika mengkonsumsi banyak sayuran akan nampak kehijauan; bentuknya seperti “pisang”, memanjang namun tidak lunak juga tidak keras, berdiameter 2 – 3 cm, panjangnya 15 cm, ini adalah normal, sebaliknya adalah sembelit.

Mitos 2, banyak mengonsumsi sayuran dan buah-buahan dapat memperbaiki kondisi sembelit

Terlalu sedikit mengonsumsi sayuran dan buah-buahan mudah menyebabkan sembelit, pernyataan ini secara prinsip memang benar. Namun ada juga beberapa orang yang sering mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan juga banyak minum air, namun masih mengalami sembelit serius.

Jika ingin BAB dengan lancar, hanya mengandalkan banyak mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan tidaklah cukup, perlu juga mempertimbangkan empat aspek utama:

  1. Pemilihan konten diet yang tepat

Serat makanan, kadar air dan lemak semuanya harus lengkap. Meskipun asupan serat makanan memang penting, namun kadar air dan jumlah minyak yang tepat dapat melumasi saluran usus, sebab itu juga tidak boleh sampai kurang.

  1. Menguasai waktu emas dalam BAB

Dianjurkan untuk tidak melewatkan dua “waktu emas” buang air besar:

“Refleksi berdiri” pada saat bangun pagi: setelah bangun di pagi hari, seseorang bergeser posisinya dari berbaring menjadi berdiri tegak, pada usus besar terjadi refleksi berdiri tegak, mendorong tinja turun ke arah dubur, menyebabkan refleksi BAB.

Oleh karena itu, setelah bangun tidur sebaiknya dibiasakan pergi ke toilet berjongkok selama 5 menit.

“Refleksi lambung – usus besar” setelah sarapan pagi, juga merupakan waktu yang baik untuk BAB.

  1. Setiap hari cukup berolah raga

Setelah bangun di pagi hari, tidak ada salahnya berjalan-jalan, jogging, senam pagi dll, itu dapat membantu geliat saluran usus.

  1. Memperhatikan manajemen emosi

Rasa cemas dan tegang mudah menyebabkan gangguan pada syaraf otonomi yang dapat mengakibatkan gejala buang air besar menjadi abnormal, yang paling sering ditemukan adalah sindrom iritasi usus.

Studi telah menemukan bahwa hal mana terkait dengan stress, ketika stress, usus mulai ngambek, menyebabkan gangguan syaraf otonomi yang berakibat sindrom iritasi usus.

Dalam keadaan seperti ini, Anda dapat mulai dengan peredaan stress dalam rangka pembenahan syaraf otonomi untuk memperbaiki kondisi sembelit. (PUR/WHS/asr)

Perdana Menteri Haiti Mengundurkan Diri Akibat Demo Harga BBM

0

EpochTimsId – Perdana Menteri Haiti, Jack Guy Lafontant mengundurkan diri pada 14 Juli 2018. Guy Lafontant mundur ketika menghadapi pemungutan suara mosi tidak percaya di parlemen, setelah sebuah langkah untuk menurunkan subsidi bahan bakar mendorong unjuk rasa rusuh selama ber-hari-hari di negara Karibia yang miskin itu.

Dalam pidato di ‘Lower Chamber’ yang disiarkan langsung di televisi, Lafontant membela jabatannya. Namun, dia mengatakan bahwa Presiden Haiti Jovenel Moise telah menerima pengunduran dirinya.

“Seperti yang saya katakan, saya melayani Republik,” kata Lafontant.

Awal bulan ini, pemerintah Haiti mengumumkan pengurangan subsidi bahan bakar minyak sebagai bagian dari kesepakatan dengan Dana Moneter Internasional (IMF).

Langkah ini diterjemahkan menjadi kenaikan hingga 38 persen harga bensin dan kenaikan harga 47 persen untuk solar. Kenaikan harga memicu protes di mana para demonstran membarikade jalan, menjarah toko dan membakar mobil di ibukota, Port-au-Prince.

Kerusuhan menyebabkan kedutaan besar di negara tersebut ditutup. Maskapai penerbangan juga menangguhkan jadwal penerbangan ke Haiti selama berhari-hari.

Lafontant mengumumkan pembatalan kebijakan sementara sebagai upaya untuk memadamkan demonstrasi, tetapi protes terus berlanjut. Sebuah sidang mosi tidak percaya di parlemen dalam kepemimpinannya kemudian digelar pada 14 Juli 2018 waktu setempat, menurut Miami Herald.

IMF mengatakan pada 12 Juli bahwa mereka mengharapkan Haiti dapat membuat rencana reformasi yang direvisi. Sehingga akan termasuk pengurangan subsidi bahan bakar secara bertahap.

Lafontant adalah seorang dokter dan politisi pemula. Dia menjadi perdana menteri sejak Maret 2017, dengan rencana ambisius untuk meningkatkan produksi pertanian, meningkatkan infrastruktur dan memperluas akses pada air bersih. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

https://youtu.be/0x2fRjqhmTA

Tiongkok Dipaksa ‘Injak Pedal Rem’ dalam Mengejar Ambisi Ekspansi Global

0

EpochTimesId – Tiongkok telah menginvestasikan ratusan miliar dolar AS dalam proyek OBOR (jalur sutra/one belt one road). Mereka mencoba untuk meningkatkan pengaruh globalnya dengan membiayai proyek-proyek besar di Asia, Eropa Timur dan Afrika.

Tapi sekarang, Tiongkok terpaksa ‘menginjak pedal rem’ memperlambat laju program OBOR.

Dalam lima tahun terakhir, pemerintah Tiongkok berusaha membagi negara-negara yang berpartisipasi ke dalam wilayah kekuasaannya. Tapi di satu sisi Tiongkok harus menghadapi perang dagang dengan AS, sekaligus berjuang untuk mengatasi utang dalam negeri.

Tiongkok di sisi lain, menemui semakin sadarnya negara-negara miskin bahwa pembangunan infrastruktur besar proyek OBOR hanya akan membuat mereka membayar dengan harga yang sangat mahal. Dengan demikian, pemerintah Tiongkok terpaksa ‘injak pedal rem’ dalam mengejar ambisinya.

Pemerintah Tiongkok memperlambat progres proyek OBOR
Menurut data terakhir yang terkumpul dan dilaporkan oleh New York Times, jumlah kontrak proyek OBOR yang ditandatangani oleh perusahaan Tiongkok bersama pihak ketiga telah menurun dari tahun lalu. Para pejabat Tiongkok juga mengingatkan kepada perbankan di Tiongkok agar berhati-hati dalam melepas pinjaman yang terkait proyek OBOR, perbankan harus bisa memastikan apakah debitur asing mampu membayar kembali.

“Situasi internasional saat ini sangat tidak pasti. Banyak risiko ekonomi yang muncul, suku bunga pasar negara berkembang bergerak labil,” kata Hu Xiaolian, Direktur The Export-Import Bank of China (CEXIM) pada bulan Juni dalam sebuah forum.

Xiaolian menambahkan, “Perusahaan dan negara kita yang terlibat dalam kegiatan proyek OBOR akan menghadapi kesulitan keuangan.”

‘South China Morning Post’ melaporkan bahwa dalam sebuah forum yang diadakan di Guangzhou pada 12 April lalu, mantan ketua dewan CEXIM Li Ruogu mengatakan bahwa kebanyakan negara sepanjang jalur OBOR tidak memiliki kemampuan untuk membayar proyek yang mereka ikuti.

“Rasio utang rata-rata dan rasio utang negara-negara ini masing-masing mencapai 35 persen hingga 126 persen. Itu telah melampaui garis peringatan yang diakui secara global yakni sebesar 20 persen dan 100 persen,” ujar Ruogu.

The New York Times mengutip ucapan sumber yang mengetahui masalah itu, memberitakan bahwa pemerintah Tiongkok sekarang mulai memeriksa berapa banyak transaksi yang telah dicapai oleh perusahaan Tiongkok peserta proyek OBOR? Apa saja persyaratan pembiayaannya ? Dan negara mana saja yang terlibat?

Para pejabat AS dan Eropa sudah lama khawatir bahwa OBOR mewakili Tiongkok untuk berebut kekuasaan dalam diplomasi dan ekonomi dengan negara-negara Barat. Untuk melayani tujuan jangka panjang Tiongkok.

Di bawah rencana OBOR, bank-bank yang dikendalikan pemerintah Tiongkok memberikan pinjaman dalam jumlah besar kepada negara-negara lain untuk proyek-proyek infrastruktur raksasa. Termasuk proyek kereta api berkecepatan tinggi, jalur kereta api dan pembangkit listrik.

Dana (pinjaman) ini sering disertai dengan syarat, “Perusahaan Tiongkok harus terlibat dalam perencanaan dan pengkonstruksian proyek. Oleh karena itu, perusahaan Tiongkok akan memperoleh banyak bisnis.”

Namun sekarang, ekonomi Tiongkok mulai menunjukkan tanda-tanda melambat, dan di bawah kesuraman perang dagang dengan AS, otoritas Beijing juga berjuang untuk mengatasi tumpukan hutang macet di dalam negeri. Pada saat seperti ini, memberikan pinjaman kepada negara lain adalah tidak tepat.

Banyaknya proyek luar negeri memiliki potensi untuk menciptakan aset ‘gajah putih besar’ (suatu aset berbeban mahal tetapi gagal dalam memenuhi harapan keuntungan) yang berdampak memperlemah kemampuan perusahaan Tiongkok beserta mitra lokal mereka.

Tahun ini, beberapa pejabat Tiongkok mulai muncul kekhawatiran terhadap pembayaran kembali pinjaman para debitur proyek OBOR. Yi Gang, Gubernur Bank Sentral Tiongkok mengingatkan pada bulan April, “Tidak kalah penting untuk memastikan keberlanjutan (sustainability) dari pinjaman yang diberikan.”

Menurut data resmi bahwa proyek baru OBOR mengalami penurunan. Dalam lima bulan pertama tahun 2018, kontrak yang ditandatangani perusahaan Tiongkok adalah sebesar 36,2 miliar dolar AS, menurun 6 persen dari periode yang sama tahun lalu.

“Saya merasakan bahwa antusias Tiongkok tahun ini pada proyek OBOR menurun dibandingkan dengan tahun lalu,” kata Eswar Prasad, Ekonom Cornell University dan mantan kepala IMF devisi Tiongkok kepada New York Times.

Ketidakpastian dalam prospek ekonomi global, perang dagang AS-Tiongkok dapat menggoyahkan kepercayaan dan menghambat pertumbuhan ekonomi. AS telah menaikkan suku bunga jangka pendek yang membuat pinjaman lebih mahal.

Proyek OBOR kian menimbulkan kecurigaan dari lembaga-lembaga internasional. Mereka memperingatkan bahwa negara berkembang jangan sampai dibebani dengan utang yang berlebihan.

Ketua Dana Moneter Internasional, Christine Madeleine Odette Lagarde pada bulan April tahun ini mengatakan, “Inisiatif Satu Sabuk Satu Jalur (OBOR) seharusnya diterapkan pada negara yang benar-benar membutuhkannya.”

Tiongkok sedang mencoba untuk membentuk kembali tatanan ekonomi global
Dokumen Strategi Keamanan Nasional yang dikeluarkan oleh pemerintahan Trump pada bulan Desember tahun lalu mengungkapkan bahwa Tiongkok komunis sedang berupaya menggunakan investasi infrastruktur dan strategi perdagangan untuk mencapai tujuan geopolitiknya.

Laporan ‘New York Times’ menyebutkan, Tiongkok telah memperoleh peningkatan pengaruh melalui proyek OBOR mereka dengan membangun rel kereta api dan pelabuhan di Afrika, Asia dan Eropa. Tiongkok menginvestasikan 1 triliun dolar AS dalam proyek infrastruktur di 60 negara, dengan maksud untuk membentuk kembali tatanan ekonomi global dan menempatkan negara-negara yang berpartisipasi ke dalam lingkup pengaruhnya.

Amerika Serikat dan sekutunya di Asia dan Eropa telah bersikap lebih berhati-hati terhadap inisiatif Tiongkok termaksud, mereka juga khawatir jatuh ke dalam perangkap Tiongkok. Australia adalah salah satu negara yang menolak bergabung dengan program ini.

Pada bulan Desember tahun lalu, hanya dalam beberapa minggu, Pakistan, Nepal, dan Myanmar mengkonfirmasikan bahwa mereka membatalan kontrak kerjasama proyek pembangkit listrik tenaga air utama dengan perusahaan-perusahaan Tiongkok yang terkait proyek OBOR.

Ketiga negara tersebut memiliki alasan politik atau ekonomi yang berbeda di balik pembatalan proyek itu. Namun, faktor umumnya adalah bahwa negara-negara miskin semakin sadar bahwa pembangun proyek-proyek infrastruktur besar yang dilaksanakan Tiongkok hanya akan membuat mereka membayar harga yang sangat tinggi.

Ketika utang tidak dapat dibayar, negara debitur akan menghadapi dilema penyerahan aset kepada pemerintah Tiongkok. Pada bulan Desember tahun lalu, Sri Lanka secara resmi menyerahkan pelabuhan strategis Hambanthota kepada Tiongkok karena tidak mampu membayar utang yang berat kepada negara komunis tersebut.

Media asing berkomentar bahwa inilah target yang akan dicapai Tiongkok komunis melalui menabur uang ke luar negeri. Yakni mengimplimentasikan imperialisme. (Qin Yufei/EW/Sinatra/waa)

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

https://youtu.be/0x2fRjqhmTA

Pemerintah Mendorong Industri Nasional Perlu Optimalkan Manfaat GSP dari Amerika Serikat

Epochtimes.id- Pemerintah mendorong industri nasional yang belum memanfaatkan skema generalized system of preferences (GSP) yang ditetapkan Amerika Serikat, agar dapat mengoptimalkannya.

GSP merupakan kebijakan untuk memberikan keringanan bea masuk terhadap impor barang-barang tertentu dari negara-negara berkembang.

“Jadi, produk-produk yang GSP-nya belum termanfaatkan, perlu kita sosialisasikan dan dorong supaya dimanfaatkan secara maksimal,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Kamis (12/7/2018).

Komoditas nasional yang memiliki keunggulan untuk masuk ke pasar AS, antara lain sayuran, bahan mentah agrikultur, perkayuan, stainless steel, karet, alas kaki, tekstil dan pakaian, serta barang konsumen.

Saat ini, Presiden AS Donald Trump tengah mengkaji kebijakan GSP tersebut karena dinilai membuat neraca perdagangan Negeri Paman Sam itu defisit. Program ini telah berlangsung sejak 1976, tetapi sempat dihentikan pada 2013 dan kembali diberlakukan pada Juni 2015.

Menurut Airlangga, pemerintah AS selalu meninjau ulang skema GSP secara periodik dalam kurun tiga tahun sekali. Tahun ini, Trump akan mengevaluasi sekitar 124 produk ekspor asal Indonesia, termasuk tekstil, plywood, kapas, serta beberapa hasil perikanan seperti udang dan kepiting.

Evaluasi itu dilakukan guna menentukan produk apa saja yang masih layak menerima GSP.

Apabila hasil dari evaluasi tersebut merekomendasikan Indonesia tidak lagi berhak atas fasilitas GSP, maka manfaat program tersebut yang sudah diterima Indonesia akan dihapuskan segera setelah rekomendasinya ditandatangani Trump sekitar November 2018 sampai awal tahun 2019.

Tahun 2011, Indonesia adalah satu dari lima negara yang menikmati manfaat terbesar dari GSP AS, selain India, Thailand, Brasil, dan Afrika Selatan. Namun, sejak April lalu, AS mempertimbangkan ulang pemberian fasilitas itu untuk Indonesia dan India, terutama dari sudut pandang akses produk mereka di dua negara tersebut.

Menperin pun meminta agar pelaku industri di dalam negeri tidak perlu khawatir dengan kondisi tersebut.

“Komunikasi kami terus berjalan dengan Pemerintah AS. Pemerintah Indonesia juga akan melakukan sosialisasi terhadap eksportir kita yang produknya masuk ke dalam lingkup GSP,” paparnya.

Lebih lanjut, Airlangga menegaskan, pemerintah fokus memperkuat perekonomian nasional dengan menjaga kestabilan politik, pendidikan dan keamanan. “Kami akan memberi ketentraman kepada pelaku industri nasional agar iklim investasi bisa terus terjaga. Selain itu, berupaya untuk meningkatkan ekspor dan mengembangkan substitusi impor supaya perekonomian kita semakin kuat,” tuturnya.

Di tempat terpisah, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Shinta Widjaja Kamdani menjelaskan, negara yang memiliki program GSP memiliki diskresi untuk menentukan negara mana dan produk apa yang akan memperoleh manfaat GSP dari negaranya.

“Saat ini, Indonesia memperoleh manfaat GSP dari beberapa negara seperti AS, Uni Eropa dan Australia,” terangnya.

Untuk GSP dari AS, pemotongan tarif bea masuk ini diberikan kepada 5.000 produk dari total 13.000 jenis produk yang dikenal oleh pemerintah AS. GSP AS ini memiliki tiga kategori manfaat, yakni kategori A, kategori A* dan kategori A+.

Adapun, Indonesia masih memperoleh manfaat GSP AS dalam kategori A yang memberikan pemotongan tarif bea masuk di AS untuk 3.500 produk, termasuk sebagian produk agrikultur, tekstil, garmen dan perkayuan. “Namun tidak semua produk ekspor Indonesia memperoleh manfaat GSP AS,” ungkapnya.

Shinta memaparkan, berdasarkan laporan GSP AS tahun 2017, Indonesia hanya memperoleh manfaat GSP sebanyak USD1,8 miliar dari total ekspor Indonesia ke AS pada tahun 2016 sebesar USD20 miliar. Itu artinya sebagian besar produk ekspor unggulan Indonesia tidak memperoleh manfaat GSP.

Lebih lanjut, tidak semua produk asal Indonesia yang mendapat manfaat GSP dari AS diekspor ke negara tersebut. Manfaat GSP AS untuk Indonesia akan diberikan hingga Indonesia tidak lagi menjadi penerima GSP AS, dengan kriteria sudah melampaui ambang batas Competitive Need Limitation (CNL) yang ditentukan atau hingga periode program GSP berakhir pada 31 Desember 2020.

Proses evaluasi ini dijadwalkan akan berlangsung hingga akhir tahun 2018. Apabila Indonesia tidak lagi menjadi penerima GSP, produk ekspor Indonesia ke AS yang saat ini menerima GSP akan dikenakan bea masuk normal (MFN) oleh AS seperti sebagian besar produk ekspor Indonesia ke AS.

Menurut Shinta, jika Indonesia tidak mendapatkan perpanjangan insentif tersebut dari AS, kinerja ekspor ke Negeri Paman Sam akan terpengaruh kendati selama ini surplus neraca perdagangan bilateral diraup oleh RI. Salah satu penyebab surplus neraca perdagangan Indonesia terhadap AS senilai USD130 miliar pada 2017 adalah berkat kebijakan GSP berupa pemotongan tarif bea masuk hingga 0 persen. (asr)

Kalah Penguasaan Bola Prancis Juara Piala Dunia 2018

EpochTimesId – Tim Nasional Prancis berhasil mengukuhkan diri sebagai tim nasional terbaik di dunia. Prancis keluar sebagai juara Piala Dunia 2018 setelah mengalahkan timnas Kroasia di babak Final, Minggu (15/7/2018) malam.

Hugo Lloris CS berhasil menang 4-2 atas skuad asal Eropa timur di Luzhniki Stadium, Moskow, Rusia. Prancis pun berhasil menjadi juara untuk yang kedua kalinya sepanjang keikutsertaannya di turnamen sepakbola paling bergengsi di dunia itu.

Prancis sendiri sesungguhnya bermain tertekan dan kalah dalam penguasaan bola sepanjang jalannya laga. Kroasia menguasai 66 persen penguasaan bola, sementara Prancis hanya 34 persen.

Bahkan, Mandzukic CS seringkali memberi tekanan maksimal, sehingga kerap kehilangan bola. Mereka memiliki catatan 83 persen passing akurat, sementara Prancis hanya 68 passing yang akurat.

Namun, negara Balkan itu kesulitan menembus rapatnya pertahanan negara Eropa barat itu. Mereka juga kalah dalam memanfaatkan momentum dan peluang mencetak gol yang diperoleh.

Gol pertama dalam laga ini tercipta berkat aksi bunuh diri Mario Mandzukic pada menit ke-18. Mandzukic salah menyundul bola tendangan bebas Antoine Griezmann, karena terlalu tipis. Alhasil, bola menghujam gawang sendiri.

Kroasia menyamakan kedudukan pada menit ke-29. Ivan Perisic mencetak gol indah dari luar kotak penalti dengan kaki kiri, setelah beberapa peluang membentur tiang gawang dan barisan pertahanan lawan.

Prancis mendapat hadiah penalti pada menit ke-37. Ivan Perisic dinilai menyentuh bola dengan tangan yang bergerak aktif, setelah wasit melihat video siaran ulang VAR (Video Assistant Referee). Griezmann berhasil menjalankan tugas dengan baik.

Memasuki babak ke-dua, Kroasia semakin kalap menggempur Prancis. Sayangnya mereka melupakan kemampuan Prancis melakukan serangan balik.

Melalui skema serangan balik, Paul Pogba menggandangan keunggulan pada menit ke-59. Dan kemudian Kylian Mbappe pada menit ke-65. Skor 4-1 untuk anak asuh Didier Deschamps.

Kroasia berhasil memperkecil ketertinggalan menjadi 2-4 pada menit ke-69. Mario Mandzukic memanfaatkan kecerobohan kiper Prancis, Hugo Lloris.

Susunan Pemain :
Prancis : 1-Hugo Lloris, 2-Benjamin Pavard, 4-Raphael Varane, 5-Samuel Umtiti, 21- Lucas Hernandez; 13-N’Golo Kante, 6-Paul Pogba; 10 Kylian Mbappe, 7-Antoine Griezmann, 14-Blaise Matuidi; 9-Olivier Giroud.
Pelatih: Didier Deschamps.

Kroasia : 23-Danijel Subasic; 2-Sime Vrsaljko, 6-Dejan Lovren, 21-Domagoj Vida, 3-Ivan Strinic; 11-Marcelo Brozovic, 7-Ivan Rakitic; 18-Ante Rebic, 10-Luka Modric, 4-Ivan Perisic; 17-Mario Mandzukic.
Pelatih: Zlatko Dalic.

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

https://youtu.be/0x2fRjqhmTA

Kim Jong-Un Berulah – Denuklirisasi Tak Menentu – Bagaimana Reaksi Balasan Trump?

Tang Hao

Kemenlu AS Mike Pompeo baru-baru ini berkunjung ke Korut, untuk membicarakan detil pelaksanaan denuklirisasi sesuai kesepakatan denuklirisasi, namun hasilnya sungguh mencengangkan.

Terhadap pihak asing sebelumnya Pompeo menyatakan perundingan selama dua hari itu “sangat produktif”; namun setelah itu Korut menyampaikan pernyataan terhadap pihak luar yang menyebutkan keseluruhan proses rapat itu “sangat disesalkan”, dan menuding pihak AS “secara sepihak dan menuntut (Korut) secara paksa untuk melakukan denuklirisasi”, membuat hubungan kedua negara dalam kondisi “bahaya” dan “menggoyahkan niat kami untuk denuklirisasi”.

Kesampingkan dulu penolakan yang kerap digunakan partai komunis dari mulut Korut yang “bertolak belakang” dan “memutarbalikkan fakta”, informasi sebenarnya yang terlontar dari pernyataan pejabat Korut tersebut adalah, apakah Kim Jong-Un tidak berniat denuklirisasi?

Selain itu, sejak awal sampai berakhirnya kunjungan Pompeo, Kim Jong-Un sama sekali tidak menemuinya, ini menunjukkan Korut mungkin berniat memotong kesepakatan pada pertemuan Trump-Kim — atau, lebih jelasnya, Korut sepertinya mulai ingkar janji.

Beberapa hari berturut-turut masyarakat internasional terus mendapati pihak Korut masih terus mengembangkan senjata nuklir dan memproduksi bahan bakar senjata nuklir. Anggota kongres Korsel bahkan mengungkapkan, di Hamgyeongnam-do kota Sinpo Korut tengah membangun kapal selam yang bisa mengangkut rudal nuklir, ancaman terhadap masyarakat internasional semakin meningkat.

Berbagai fenomena menunjukkan, Kim Jong-Un tidak menerima niat baik Trump pada pertemuan Trump-Kim lalu, dan sepertinya bertindak berlawanan. Akan tetapi, akhir seperti ini sudah diduga sebelumnya, dan juga sudah diperhitungkan oleh Trump.

Seperti penulis jelaskan pada artikel sebelumnya, Trump sangat memahami antara PKT dan Korut saling memanfaatkan, yang selama ini memanfaatkan masalah nuklir Korut untuk membohongi dan memeras negara lain, namun Trump tetap berharap memberi kesempatan bagi Kim Jong-Un yang masih muda, sehingga setuju untuk menggelar pertemuan Trump-Kim, untuk menjajaki sendiri sikap Kim Jong-Un secara tatap muka langsung.

Tapi kini, sepertinya bisa dipastikan, “koor” konspirasi RRT dan Korut pada dasarnya tidak berubah, Korut sepertinya tidak berniat denuklirisasi, hanya memanfaatkan “denuklirisasi” ini untuk mempersiapkan diri, dan bermain tarik ulur dengan pemerintah Trump.

Di satu sisi mengulur waktu sambil terus mengembangkan senjata nuklir; dan di sisi lain, Korut bersekutu dengan Beijing, berusaha meringankan sanksi ekonomi terhadap Korut, dan membuat AS mengalah dalam Perang Dagang dengan PKT.

Konspirasi licik dan tidak bisa dipercayanya PKT dan Korut itu, tidak hanya membuat masyarakat dunia kembali menyaksikan kejahatan dan sifat tak tahu malu para rezim komunis, juga membuat dunia berpikir: bagaimana AS akan bertindak, untuk meng-counter kedua komunis bersaudara yang berbahaya ini?

Berikut ini ada beberapa kemungkinan:

  1. Meningkatkan Sanksi Secara Menyeluruh, Beri Tekanan Ekstrim

Sebelum dan sesudah pertemuan Trump-Kim, beberapa kali Trump meluruskan, sebelum tercapai kesepekatan denuklirisasi CVID (denuklirisasi yang komprehensif, dapat diverifikasi, dan tidak dapat diputar-balik) dengan Korut, sanksi ekonomi terhadap Korut tidak akan dilonggarkan.

Sebaliknya, jika Korut tidak berniat denuklirisasi, pemerintah Trump telah mempersiapkan ratusan sanksi ekonomi baru untuk mengimbangi permainannya. Oleh karena itu, meningkatkan sanksi ekonomi secara menyeluruh, memberi tekanan ekstrim bagi Korut, sepertinya akan menjadi reaksi balasan pertama dari pemerintah Trump.

Tapi karena Beijing dan Rusia saat ini diam-diam masih memasok minyak bumi dan komoditi untuk membantu Korut, maka apakah sanksi ekonomi yang baru bisa ditingkatkan dan diterapkan atau tidak, mungkin RRT akan berusaha menghalanginya.

  1. Akhiri Perang Dagang Dengan PKT, Bersekutu Blokade Korut

Jika pihak AS beranggapan, Korut yang bermain api dengan senjata nuklir itu berpotensi “bahaya yang bersifat jelas dan segera” (clear and present danger), mungkin akan memilih untuk meredakan perang dagang dengan PKT, mengakhiri perang dagang, untuk mengumpulkan kekuatan PKT dalam menghadapi Korut.

Akan tetapi pilihan ini justru akan terjerumus dalam jebakan “perangkap ganda” yang sengaja dirancang oleh PKT dan Korut — memanfaatkan pemikiran AS “memilih yang teringan dari dua akibat terburuk”, memaksanya berdamai dengan salah satu antara RRT dan Korut, lalu bersekutu melawan pihak lain, tapi justru karena itu akan menjadi sasaran pemerasan dan sandera bagi pihak RRT dan Korut yang bersekutu.

Trump yang berlatar belakang pengusaha berpengalaman, sudah sangat memahami taktik perang psikologis seperti ini, jadi tidak mungkin akan memilih opsi ini. Apalagi pihak RRT juga menghalangi Korut mendekati AS, sehingga PKT tidak mungkin akan bekerjasama sepenuhnya dengan AS dalam aksi pemberian sanksinya.

Walaupun secara verbal setuju, tetap dikhawatirkan tindakannya tidak sesuai dengan ucapan, dan diam-diam terus memberikan berbagai bantuan ekonomi, militer, dan komoditi bagi Korut.

  1. Akui Korut Memiliki Senjata Nuklir, Lebih Fokus Perang Dagang AS-RRT

Sebagian pakar Barat berpendapat, secara jangka panjang, ancaman RRT lebih berpotensi merusak dibandingkan Korut, oleh karena itu mereka berpendapat pihak AS akan mentolerir Korut memiliki senjata nuklir dan mengakui Korut sebagai “negara nuklir”.

Tapi opsi ini kembali akan menjerat AS ke dalam “perangkap ganda” RRT-Korut. Walaupun menjadikan Korut sebagai anggota negara pemilik senjata nuklir secara sah, tapi selama konspirasi RRT-Korut tidak bisa dipecahkan, maka Korut akan tetap mencari alasan berbuat onar dan menjerat AS, untuk meredakan krisis yang mengancam sang kakak PKT, menetralisir tekanan terhadap PKT, membuat AS terpaksa terlibat dalam perang dua arah, menguras stamina AS yang akan kelelahan, hingga akhirnya tak berdaya dan terpaksa berkompromi atau terjebak ke dalam konflik tak berujung.

Mungkin ada yang berpendapat, bisa membuat kesepakatan lagi dengan Korut, membatasi skala dan jumlah senjata nuklirnya, atau bahkan menetapkan aturan dan syarat pengawasan senjata nuklir, dengan demikian bisa mencegah Korut mengembangkan senjata nuklir secara tak terbatas, atau menyalah-gunakan senjata nuklir untuk mengancam dunia.

Tapi menilik pelajaran sejarah selama puluhan tahun ini, membuat kesepakatan apa pun dengan rezim komunis, akhirnya selalu hampa. Karena rezim komunis selalu mengandalkan kebohongan, konflik dan kekerasan, tidak ada ketulusan di dalam tulang sumsumnya, dan bagi Trump, kepercayaan adalah pondasi untuk membicarakan segala transaksi.

Tanpa saling percaya, semuanya percuma. Apalagi, mengakui Korut sebagai “negara nuklir” ibarat mengakui dedengkot mafia sebagai perwira militer yang sah, maka dalam hal ini tidak hanya Amerika yang akan dicurigai di dalam maupun luar negeri sehingga berdampak pada pamor negaranya, tapi juga akan sangat merugikan pemerintahan Trump dalam kelanjutan menindak masalah senjata nuklir Iran.

Akibatnya mungkin akan membuat Korut dan Iran terus memperluas ancamannya terhadap wilayah Asia Timur dan Timur Tengah, serta diam-diam akan melibatkan RRT, sehingga semakin tidak menguntungkan bagi keamanan AS maupun dunia internasional.

  1. Gunakan Opsi Militer, Musnahkan Senjata Nuklir Korut

Menggunakan kekuatan militer AS yang besar untuk memusnahkan kekuatan militer Korut secara total mungkin paling tuntas. Namun unit intelijen AS memperkirakan, Korut mungkin memiliki 65 buah hulu ledak nuklir, dan zona penyebaran senjata nuklirnya sangat tidak transparan, tidak mudah untuk dimusnahkan semuanya dalam waktu singkat.

Apalagi, begitu Korut berkesempatan melawan dengan senjata nuklirnya, sangat mungkin yang jadi korban adalah warga sipil dari Jepang, Korsel dan sebagaian wilayah timur laut RRT, dengan cakupan wilayah mencapai puluhan juta jiwa, ini juga menjadi pertimbangan dan kekhawatiran utama Trump sebelum memilih opsi militer.

Apalagi, Korut belum bersikap menyerang, juga belum menunjukkan tanda-tanda akan melakukan serangan, jika pasukan AS bertindak lebih dulu, tidak hanya akan memicu kritik, bahkan PKT pun akan mendapat peluang untuk kembali mengirim pasukan membantu Korut berperang, ini justru akan membuat skala perang semakin meluas, situasi akan semakin rumit.

Oleh sebab itu, jika bukan kondisi darurat atau sangat khusus, Trump yang berwajah keras berjiwa pemaaf itu tidak akan semudah itu melakukan agresi militer.

  1. Kerahkan Serangan Militer Akurat, Putus Jalur Logistik Korut

Kenyataannya, untuk melepaskan diri dari perangkap ganda RRT-Korut, harus melakukan tekanan perlawanan secara bersamaan, tidak bisa kompromi bekerjasama dengan salah satu dari kedua penipu ini.

Oleh sebab itu AS bisa terus menekan PKT dengan perang dagang, melakukan perang jangka panjang, menekan habis ekonomi PKT yang rapuh, lalu menggoyahkan sosial, politik dan keuangannya, memaksa PKT tertekan dari luar dan dalam, sehingga terpecah kekuatannya.

Di sisi lain, bersama dengan masyarakat internasional AS bisa meningkatkan sanksi ekonomi terhadap Korut, dan mengerahkan kekuatan militer terbatas untuk menyerang Korut secara akurat, menghancurkan semua jalur pasokan logistik RRT ke Korut atau Rusia ke Korut (seperti jembatan, jalan raya, terowongan tersembunyi dan lain sebagainya), korban tewas dan cedera bisa ditekan seminim mungkin; di saat yang sama mengirim AL ke wilayah perairan Korut untuk memblokade semua penyelundupan dari RRT dan Rusia atau negara lain ke Korut. Opsi ini, berisiko paling minim bagi Amerika, juga memenuhi prinsip proporsional, juga berkontroversi paling minim, dan juga bisa meminimalisir jumlah korban tewas dan cedera sampai paling rendah.

Setelah semua jalur pasokan RRT dan Rusia ke Korea Utara diputus, maka Korut akan semakin terkucilkan, yang dapat berakibat tekanan yang lebih serius terhadap Kim Jong-Un.

Jika Kim Jong-Un tidak tahan terhadap tekanan ini dan melakukan serangan militer, maka AS akan bisa balas menyerang dengan alasan yang kuat, dalam waktu paling singkat dapat melumpuhkan kekuatan militer dan juga rezim Kim Jong-Un, bahkan bisa langsung melakukan aksi “eksekusi” terhadap Kim Jong-Un.

Aksi militer ini tidak hanya akan sah di seluruh dunia, juga mungkin akan membuat PKT tidak sempat memberi bantuan bagi Korut bila aksi militer AS cukup cepat, menghindari perang berkepanjangan, yang berpotensi berubah menjadi “Perang Korea Jilid II”.

  1. Serangan Tak Terduga yang Melumpuhkan, Kartu As HAM Dapat Ubah RRT

Dalam buku “Kitab Perang Sun Tzu” disebutkan: “Bagi pihak yang menyerang, menggunakan pasukan reguler bertempur frontal, namun memenangkan pertempuran dengan serangan tak terduga oleh pasukan khusus. Maka bagi yang mahir menyerang tak terduga, peluangnya seluas langit dan bumi, tak terbendung ibarat samudera.”

Trump juga pernah mengatakan, “Saya tidak ingin orang lain tahu apa yang saya perbuat, atau apa yang saya pikirkan. Saya suka membuat orang merasa saya sulit ditebak, karena itu akan membuat mereka kehilangan keseimbangan.”

Menilik kembali karir Trump puluhan tahun di bidang bisnis dan karir politik Trump yang hanya setahun setengah, tidak sulit untuk melihat gaya dirinya yang “sulit ditebak”, dan “menang secara tiba-tiba”.

Ditambah lagi pengalaman negosiasi jangka panjang Trump yang memiliki karakter pemikiran yang cepat, reaksi yang sigap, dan penuh inovasi, maka dalam hal mengatasi masalah Korut dan RRT-Korut, Trump mungkin masih memiliki jurus simpanan yang sulit diprediksi pihak luar.

Setidaknya, di tangan Trump masih ada satu kartu As “kelas nuklir”. Jika kartu ini dikeluarkan, tidak hanya akan menekan PKT sampai tak berkutik, mungkin juga akan membantu Partai Republik memenangkan pemilu jangka menengah pada akhir tahun ini.

Kartu as ini, disebut HAM.

Tanggal 6 Februari 2012, di Tiongkok terjadi “Peristiwa Wang Lijun” yang menggemparkan kalangan birokrat, mantan Kepala Biro Keamanan kota Chongqing Wang Lijun melarikan diri ke Konjend AS di Chengdu, mengungkap rahasia rencana kudeta oleh kubu Jiang Zemin, perampasan organ tubuh Falun Gong dan lain-lain kepada Amerika.

Di tahun yang sama tanggal 26 April Kemenlu AS diam-diam melaporkan peristiwa Wang Lijun pada Kongres. Dengan kata lain, pemerintah AS telah mengetahui kejahatan anti-kemanusiaan PKT berupa perampasan organ tubuh hidup-hidup itu, hanya saja, pemerintahan sebelumnya tetap bungkam terhadap penindasan HAM yang tak berperikemanusiaan ini.

Jika pemerintah Trump mempertimbangkan strategi “menaklukkan pasukan lawan tanpa berperang”, dan berniat menekan RRT dengan cara non-militer, bahkan memaksa PKT runtuh dan bertransformasi, maka mengungkap kejahatan PKT merampas organ tubuh adalah pedang keadilan yang paling kuat, paling damai, paling sesuai kehendak Ilahi dan umat manusia.

Apalagi baru-baru ini, di dunia kedokteran internasional, Beijing masih bebas menyusup, berupaya mendapat dukungan dari kalangan kedokteran, dengan menutupi kejahatan perampasan organ tubuh yang dilakukan.

Jika pemerintah Trump mengumumkan fakta perampasan organ yang ada di tangan AS, menghimbau seluruh dunia melindungi HAM dan menghentikan penindasan tersebut, maka tidak hanya dengan mudah memenangkan dukungan dan simpati dunia terhadap nilai universal Trump, sekaligus juga membuat milyaran rakyat Tiongkok melihat jelas kedok partai komunis yang selama puluhan tahun ini telah membodohi mereka dengan dusta, yang kemudian akan mendorong rezim PKT ke ambang kehancuran, sehingga ada harapan terbentuk situasi baru di Tiongkok.

Di saat yang sama, warga AS juga akan meragukan, mengapa pemerintahan sebelumnya bungkam terhadap penindasan kejam itu? Masyarakat internasional juga akan meragukan PBB mengapa diam saja? Banyak fakta di balik layar akan terungkap satu persatu.

Dan lebih lanjut, siapa yang berani tampil maju mengungkap kejahatan HAM PKT merampas organ tubuh dan menghentikan penindasan serta menegakkan keadilan, maka dialah yang akan meraih kehormatan yang belum pernah ada sebelumnya, bahkan akan meraih kekuasaan untuk membentuk kembali ketertiban internasional.

Kartu As super ini, apakah akan dikeluarkan oleh Trump? Saat ini belum bisa diketahui. Tapi menghadapi konspirasi rezim komunis PKT dan Korut, Trump harus mengeluarkan jurus mendadak/tak terduga untuk meraih kemenangan, agar dapat mendobrak jebakan ganda RRT-Korut, dan menetralisir krisis nuklir Korut, sehingga dapat mengikis habis ancaman bahaya yang diakibatkan rezim komunis terhadap umat manusia. (SUD/WHS/asr)

Jelang Asiang Games ke-18, Presiden Jokowi Resmikan 5 Venues di Jakabaring Palembang

Epochtimes.id-  Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) didampingi Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, dan Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin meresmikan 5 venues dari 14 venues Asian Games ke-18 di Jakabaring Sport City (JSC) Palembang, Sabtu (14/7/2018).

Kelima venue yang diresmikan adalah arena menembak (shooting range), dayung (Jakabaring Rowing dan Canoeing Regatta Course), skatepark, voli pantai, dan bowling center.

Dalam sambutannya, Presiden Jokowi mengatakan Indonesia siap menyambut penyelenggaran Asian Games 2018.

“Saya ucapkan selamat datang di Indonesia kepada sekitar 16 ribu atlet dan official dari 45 negara,” kata Presiden Jokowi.

Progres pembangunan dan renovasi 14 venue dan fasilitas pendukung Asian Games 2018 di JSC sudah 99 persen rampung dan tengah penyelesaian akhir (finishing).

Dari lima venues yang diresmikan, tiga venue diantaranya yakni arena menembak, dayung dan skateboard dibangun oleh Kementerian PUPR. Secara keseluruhan anggaran Kementerian PUPR yang dikeluarkan untuk pembangunan, renovasi, dan penataan kawasan JSC adalah Rp. 623,66 Milyar.

Selain meresmikan venues, Presiden Jokowi juga membuka Kejuaraan Nasional Perahu Naga Piala Presiden 2018. Kejurnas diselenggarakan oleh Pengurus Besar Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PB PODSI) menjadi salah satu test event di venue dayung menyambut Asian Games ke-18.

Kejurnas ini diikuti oleh 619 peserta yang berasal dari 17 provinsi dan 4 kontingen TNI/Polri. Nomor lomba yang akan dipertandingkan adalah 500 m dan 200 m untuk putera dan puteri. “ Untuk kedua nomor lomba tersebut kami targetkan untuk meraih 2 emas saat AG-18 yang akan datang,” kata Menteri Basuki

Sebelum acara peresmian, Presiden Jokowi bersama Menteri Basuki mencoba mendayung bersama beberapa atlet dayung perahu naga sejauh lebih kurang 300 meter.

Tampak pula hadir dalam acara peresmian Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Bapak Muhaemin Iskandar.

Wisma Atlet Jakabaring Sudah Dilengkapi Mebeuler

Selain itu sesuai penugasan yang diberikan oleh Presiden Jokowi, Kementerian PUPR pun telah menyelesaikan penataan kawasan berupa plaza, pedestrian dan ruang terbuka hijau, serta pembangunan 5 tower Wisma Atlet berikut lansekap, lift dan meubelair untuk menampung tambahan 1000 atlet dan ofisial (melengkapi 3 tower Wisma Atlit yang sudah berfungsi untuk lebih kurang 1000 atlet dan official).

Total anggaran untuk perbaikan dan penggantian meubeler Wisma Atlit Jakabaring sebesar Rp 185 miliar terdiri dari pembangunan 3 tower tahun 2015 senilai Rp 65 miliar dan 2 tower tahun 2016 senilai Rp 49 miliar.

Pembuatan Landscape Rusunami Rp 30 miliar, Meubeler untuk 5 tower rusunawa baru Rp 15 miliar, Meubeler 3 tower rusunawa lama Rp 20 miliar dan penyediaan water heater senilai Rp 7 miliar. (asr)

Ekonomi Tiongkok Akan Mundur 40 Tahun Karena Perang Dagang

EpochTimesId – Setelah Amerika Serikat memberlakukan tarif hukuman terhadap komoditas impor dari Tiongkok, pihak berwenang Beijing juga melakukan hal yang sama terhadap AS sebagai upaya pembalasan. Perang dagang Tiongkok-AS dianggap sedang berlangsung.

Para ahli percaya bahwa dalam jangka panjang, ekonomi Tiongkok akan kehilangan sumber daya keuangan Amerika untuk bertahan hidup, sehingga mengalami kemunduran 40 tahun. Apakah kenyataannya akan demikian? Mari kita ikuti ulasan para ahli.

Pada 6 Juli, otoritas Washington mulai memberlakukan tarif tambahan sebesar 25 persen atas 800 macam komoditas import dari Tiongkok senilai 34 miliar dolar AS. Pada hari yang sama, Beijing juga memberlakukan tarif baru terhadap 545 macam komoditas AS termasuk produk pertanian, mobil dan produk akuatik sebagai pembalasan.

Perang dagang akhirnya terjadi juga setelah perwakilan perdagangan AS berulang kali mengunjungi Beijing untuk dialog dalam upaya mencegah perang, dengan menyelesaikan masalah pencurian kekayaan intelektual dan perdagangan tidak adil mengalami jalan buntu.

Presiden AS menyebut hal ini baru sebuah langkah awal. Dikemudian hari jika diperlukan, Trump dapat mengenakan tarif atas barang-barang Tiongkok lainnya bernilai ratusan miliar dolar yang khusus diberlakukan untuk komoditas Tiongkok.

Gong Shengli, peneliti wadah pemikir keuangan Tiongkok mengatakan, “Jika Trump meneruskan perang dagang, maka Tiongkok sangat mungkin akan terpukul hingga kembali pada posisi 40 tahun silam. 1 Januari tahun ini adalah tahun ke 40 Amerika Serikat secara terus menerus memberikan aliran devisa dolar AS kepada RRT, sehingga memungkinkan ekonomi Tiongkok mengalami kemajuan pesat. Tanpa dolar AS itu ekonomi Tiongkok tidak mungkin bisa bangkit. Jadi ini adalah masalah yang sangat serius.”

Sarjana keuangan daratan Tiongkok He Junqiao mengatakan, “Perang dagang ini menjadi tantang terbesar sejak reformasi Deng Xiaoping, juga krisis nasional yang paling signifikan dialami Tiongkok. Tantangannya melebih sanksi yang diberlakukan negara Barat kepada Tiongkok sejak tahun 1989.”

Pasar saham yang digunakan sebagai barometer ekonomi menghadapi dampak dari perang dagang. Kinerja mereka di AS dan di Tiongkok bagaikan langit dan bumi. Bursa saham AS masih bergerak naik sesuai tren hari-hari sebelumnya, bahkan mencapai titik tertinggi. Namun sebaliknya, harga saham di bursa Tiongkok anjlok yang dibarengi pula oleh mata uangnya.

‘Wall Street Journal menggambarkan, situasi yang terjadi saat itu mengingatkan ketika crash pasar saham di musim panas pada tahun 2015. Namun situasi sekarang tampaknya lebih buruk lagi, karena penurunan harga didorong oleh saham-saham blue-chip yang dijual secara besar-besaran oleh investor institusi.

Lebih dramatis lagi, kedelai AS yang dianggap Tiongkok sebagai rudal paling ampuh untuk menyerang AS, tidak terpengaruh oleh perang dagang. Bahkan ekspor kedalai AS bulan Mei mencapai 2 kali lipat dari waktu sebelumnya, justru membantu menurunkan angka defisit perdagangan AS.

He Junqiao mengatakan, “Ekonomi Amerika Serikat berkembang begitu bagus, sangat ajaib, merupakan keuntungan dari tatanan politik dan militer pemerintah AS. Namun keajaiban ekonomi Tiongkok muncul dari gelembung ilusi belaka. Keajaiban ekonomi AS didasarkan pada pertumbuhan teknologi tinggi yang nyata. Karena itu kesenjangan antar kedua negara tersebut sangat besar.”

Gao Shanwen, ekonom Essence Securities Co.,Ltd. dalam sebuah tulisannya menyebutkan bahwa ada 3 alasan yang menunjukkan mengapa masyarakat dan partai yang berkuasa di AS berkonsensus menentang Tiongkok komunis;

Pertama karena ideologi Tiongkok bertolak belakang dengan Amerika Serikat. Dan Amerika Serikat telah menyadari terjadi kesalahan dalam menerapkan kebijakan Tiongkok di masa lalu.

Kedua karena sejak Tiongkok bergabung dengan WTO, AS kehilangan banyak lapangan kerja sehingga tingkat pengangguran naik tajam. Dan, ketiga karena persaingan tidak adil dalam dunia perdagangan sehingga mengikis kepentingan AS.

He Junqiao mengatakan, dalam kondisi seperti ini, dimana ekonomi riil sedang mengalami resesi, teknologi tinggi tidak mampu berdikari. Masalah pengangguran tidak terpecahkan, devaluasi mata uang masih terjadi, pasar saham sedang anjlok, gelembung perumahan menghadapi ancaman meletus.

Jika saja pemerintah Tiongkok komunis masih bersikeras untuk berperang dagang dengan AS, maka yang akan ditemui adalah malapetaka.

“Dalam masa 1 hingga 2 tahun ke depan ekonomi Tiongkok hanya akan memburuk ketimbang membaik. Karena itu di satu sisi rakyat Tiongkok harus siap mental untuk mengencangkan ikat pinggang, di sisi lain, merupakan ujian berat bagi pemerintah Tiongkok komunis. Bila mereka bersedia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menerapkan jalan demokrasi konstitusional, supremasi hukum dan perlindungan hak asasi manusia, dan secara menyeluruh terintegrasi ke dalam sistem ekonomi bebas dunia, maka Tiongkok masih bisa mendapatkan kehidupan baru.”

“Jika Anda mengandalkan strategis back to back Rusia, mengandalkan sembilan negara Asia Tengah untuk membentuk zona ekonomi lokal tertutup, maka saya percaya bahwa ekonomi Tiongkok tidak akan bertahan lama,” demikian kata He Junqiao.

Setelah ditolak oleh Uni Eropa, saat ini pemerintah Tiongkok masih berharap untuk melawan AS dengan menggandeng negara anggota WTO. Tetapi dunia usaha berpendapat bahwa, situasi saat ini terjadi akibat Tiongkok komunis sendiri yang melanggar komitmennya terhadap WTO. Rupanya ancaman keluar dari WTO yang dilontarkan Trump juga membuat Tiongkok komunis menapak di lorong buntu. (ET/Sinatra/waa)

SImak Juga :

https://youtu.be/fTKcu82AtsA

128 Orang Tewas dalam Serangan Bom Bunuh Diri di Pakistan

oleh Lin Nan

Hari Jumat (13/07/2018) terjadi serangan bom bunuh diri di bagian barat daya Pakistan saat masyarakat berkerumun dalam acara kampanye pemilihan umum, menyebabkan 128 orang tewas.

Ledakan itu adalah serangan paling mematikan di Pakistan selama lebih dari tiga tahun dan merupakan kekerasan kedua terkait pemilu yang terjadi pada hari itu.

Baluchistan Home Minister Agha Omer Bangulzai memberitahu Reuters bahwa serangan menyebabkan 128 orang tewas dan lebih dari 150 orang lainnya terluka.

Qaim Lashari, pejabat polisi senior Pakistan sebelumnya pernah mengatakan bahwa ada lebih dari 1.000 orang warga Mastung, Baluchistan, kota yang penuh kekerasan ikut menghadiri kampanye tersebut.

Militan yang terkait dengan Taliban, Al Qaeda dan daesh aktif melakukan kegiatan  di provinsi ini yang berbatasan dengan Iran dan Afghanistan. Di wilayah itu tinggal etnis Baluch yang memberontak terhadap pemerintah pusat.

Islamic State (IS) atau Daesh mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu, tetapi tidak memberikan rincian atau bukti lebih lanjut.

Di antara sejumlah orang yang tewas dalam serangan hari Jumat itu, terdapat Siraj Raisani, kandidat anggota dewan propinsi Baluchistan dan saudaranya Nawab Aslam Raisani yang pernah menjabat sebagai menteri utama provinsi tersebut sejak tahun 2008 hingga 2013.

“Saudara kami Siraj Raisani telah meninggal dunia” Kata Haji Lashkari Raisani, saudara Siraj yang juga seorang anggota Majelis Nasional Baluchistan.

Siraj Raisani adalah kandidat kedua yang dibunuh minggu ini dalam kekerasan sebelum pemilihan.

Polisi sebelumnya pernah mengatakan bahwa serangan itu ditujukan kepada tim Resani, tetapi kemudian mengubah pernyataan mereka, karena klip video adegan ledakan telah menyebar.

Hari Jumat sebelum kejadian ini, serangan bom juga terjadi di kota bagian utara, Bannu, serangan ini ditujukan kepada sekutu partai Muttahida Majlis-e-Amal (MMA).

Pada hari Selasa, seorang pembom bunuh diri menewaskan 20 orang di sebuah pesta anti-Taliban di Peshawar, ibukota provinsi Khyber Pakhtunkhwa di Pakistan utara.

Para korban termasuk Haroon Bilour, seorang kandidat yang ingin merebut kursi di majelis provinsi pada bulan Juli ini. Organisasi Taliban Pakistan mengaku bertanggung jawab atas insiden tersebut. (Sin/asr)

Korban Meninggal Dunia Akibat Banjir di Jepang Mendekati 200 Orang

Epochtimes.id- Suhu panas dan kekurangan air menimbulkan kekhawatiran terjadinya wabah penyakit pasca Jepang barat dilanda banjir. Korban tewas dari bencana cuaca terburuk selama 36 tahun terakhir mendekati 200 jiwa.

Lebih dari 200.000 rumah tangga tidak memiliki pasokan air selama seminggu setelah hujan lebat menyebabkan banjir dan membuat tanah longsor di Jepang barat. Banjir menyebabkan korban jiwa dan kehancuran rumah-rumah yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Jumlah korban tewas meningkat menjadi 195, dengan belasan orang lainnya masih hilang seperti dilaporkan otoritas Jepang pada Kamis (12/07/2018).

Tayangan televisi menunjukkan seorang wanita tua mencoba tidur berlutut dengan tubuh bagian atasnya di kursi kursi lipat, lengan diletakkan atas matanya untuk menghindari cahaya.

Sejumlah warga di pusat-pusat evakuasi, banyak yang selamat mencoba mendinginkan diri mereka sendiri dengan kipas kertas.

Pasokan air yang terbatas berarti menunjukkan banyak orang-orang tidak mendapatkan cukup cairan dan terancam bahaya menderita heatstroke. Orang-orang juga enggan menggunakan air yang mereka miliki untuk mencuci tangan mereka, menimbulkan kekhawatiran epidemi.

“Tanpa air, kita tidak bisa benar-benar membersihkan apa pun. Kami tidak bisa mencuci apa pun, ”kata seorang pria kepada televisi NHK.

Pemerintah telah mengirim truk air ke daerah bencana, tetapi persediaan masih terbatas.

Lebih dari 70.000 aparat militer, polisi, dan petugas pemadam kebakaran bekerja keras melalui puing-puing dalam pencarian bagi warga yang hilang.

Beberapa tim menyekop lumpur ke dalam karung dan menumpuk karung-karung ke dalam truk. Lainnya menggunakan penggali dan gergaji melalui tanah longsor dan bangunan yang rusak.

Banyak wilayah yang terkubur dalam lumpur berbau seperti limbah dan mulai mengeras, membuat pencarian menjadi lebih sulit.

Bencana yang disebabkan oleh hujan lebat telah menjadi lebih sering di Jepang, mungkin dikarenakan pemanasan global. Puluhan orang tewas setelah hujan yang sama menyebabkan banjir yang sama tahun lalu.

“Ini adalah fakta yang tidak dapat disangkal bahwa bencana semacam ini karena hujan deras, belum pernah terjadi sebelumnya menjadi lebih sering dalam beberapa tahun terakhir,” kata Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga pada konferensi pers di Tokyo.

“Melestarikan kehidupan dan eksistensi ketentraman warga negara kami adalah tugas terbesar pemerintah. Kami menyadari bahwa ada kebutuhan untuk melihat langkah-langkah yang dapat kami ambil untuk mengurangi kerusakan dari bencana seperti ini bahkan sedikit,” tambahnya. (asr)

Oleh Kiyoshi Takenaka dan Issei Kato-Reuters via The Epochtimes

Uni Eropa dan Jepang Dukung Perhitungan Akhir Dagang AS dengan Tiongkok di WTO

oleh Xu Jian

Ketika perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok semakin berkembang, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menggelar pertemu di Jenewa pada Rabu (11/07/2018) untuk meninjau kebijakan perdagangan Tiongkok dan menilai apakah dan bagaimana Tiongkok mempertahankan aturan perdagangan multilateral.

Pada hari Rabu, Presiden Trump menerima pernyataan dukungan dari negara sekutu Barat atas kebijakan perdagangan yang ia terapkan kepada Tiongkok. Dalam pertemuan Organisasi Perdagangan Dunia di Jenewa, perwakilan Amerika Serikat mengusulkan untuk melakukan perhitungan terhadap praktik perdagangan tidak adil Tiongkok.

Usulan tersebut langsung didukung oleh Uni Eropa dan Jepang. Tiongkok sekarang berada di bawah tekanan internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Amerika Serikat: “Melakukan perhitungan akhir dengan PKT tidak dapat ditunda lagi”

Organisasi Perdagangan Dunia sedang melakukan peninjauan rutin setiap dua tahunan terhadap kebijakan perdagangan Tiongkok, Ini adalah peninjauan yang ketujuh kalinya sejak Tiongkok bergabung dengan WTO.

Dennis Shea, Wakil Perwakilan Perdagangan Amerika Serikat dan Kepala Misi Jenewa menuduh Tiongkok gagal menerapkan prinsip perdagangan bebas dan menyebabkan “kerugian serius” bagi mitra dagang dunia.

“Mengingat perdagangan internasional sangat terpengaruh oleh kebijakan perdagangan Tiongkok dan itu terus berkembang, serta metode pendekatan perdagangan dan investasi  merkantilis yang dipimpin oleh negara dan PKT telah merugikan para mitra dagang, sehingga dipandang perlu untuk segera membersihkan perilaku tersebut,” kata Dennis.

Dennis Shea mengkritik pemerintah Tiongkok yang memanipulasi ekonomi Tiongkok dan menciptakan hambatan bagi pelaku bisnis di Tiongkok atau perusahaan asing yang bersaing. Beijing menggunakan berbagai cara untuk mendistorsi lingkungan yang kompetitif.

Dennis juga menunjukkan bahwa WTO memiliki keterbatasan, sistem penyelesaian sengketa WTO hanya berfokus pada kebijakan tertentu, dan tidak bisa berbuat banyak jika kebijakan dipimpin pemerintah. Jadi di bawah struktur WTO, butuh waktu lama untuk mengatasi masalah tersebut. “WTO hingga kini belum memberikan solusi untuk mengatasi situasi ini” kata Dennis Shea.

Uni Eropa, Jepang, Australia dan lainnya mengkritik PKT

Laporan Bloomberg menyebutkan bahwa ketika perwakilan AS menuduh PKT mencuri  kekayaan intelektual dan melakukan perdagangan yang tidak adil, UE, Jepang dan negara lainnya menyatakan dukungan.

Dennis Shea mengatakan : “Tiongkok memandfaatkan keanggotaan WTO untuk menjadi salah satu pedagang terbesar di dunia”, “Ini merugikan kepentingan AS dan anggota WTO lainnya”

Duta Besar Uni Eropa untuk WTO, Marc Vanheukelen mengatakan : “Bisnis Uni Eropa terus menghadapi berbagai tindakan tidak adil dari Tiongkok, termasuk menghadapi perampasan hak kekayaan intelektual”

Ia juga menambahkan bahwa masalah hak kekayaan intelektual ini perlu ditekankan, “Karena dengan meningkatnya perhatian Beijing terhadap inovasi dan produksi teknologi tinggi, maka kaitan masalahnya semakin erat”

“Uni Eropa khawatir kalau langkah-langkah ini luas cakupannya, yang mungkin memiliki dampak diskriminatif terhadap perusahaan asing di Tiongkok” kata Marc Vanheukelen.

Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa juga menyatakan bahwa peraturan keamanan cyber Tiongkok mengandung unsur diskriminasi terhadap perusahaan asing.

“Transmisi data lintas batas merupakan kondisi penting untuk melakukan bisnis global. Jepang sangat khawatir tentang tanggung jawab pelokalan data dan penilaian keamanan di bawah peraturan keamanan cyber dari pemerintah Tiongkok, karena dapat menyebabkan hambatan pada aliran data yang bebas,” kata pihak Jepang.

Perwakilan Australia menyatakan bahwa pelanggaran hak kekayaan intelektual, terutama menyangkut produk palsu di Tiongkok sampai sekarang masih terus terjadi. (Sin/asr)

Importir Berpeluang Membeli Kedelai AS dengan Harga Rendah Akibat Tiongkok Menolak

oleh Qing Yufei

Epochtimes.id- Tiongkok menaikkan tarif impor terhadap kedelai AS sebagai pembalasan, menekan harganya yang memberikan peluang kepada importir negara lain untuk membelinya dengan harga lebih murah.

Reuters melaporkan bahwa pembeli kedelai Tiongkok sejauh ini hanya menyita 17% dari total pembelian kedelai AS di musim gugur, dibandingkan dengan rata-rata 60% selama dekade terakhir.

Pembeli Tiongkok beralih ke kedelai Brasil, yang sekarang harganya adalah USD. 1,50 per bushel, sementara harga kedelai berjangka AS telah jatuh dalam enam minggu terakhir.

Menurut data Departemen Pertanian AS, kesenjangan harga ini memicu importir dari negara-negara seperti Meksiko, Pakistan, dan Thailand untuk berebut membeli.

Meskipun pembeli Tiongkok memilih mundur, tetapi hingga bulan Juni, jumlah importir asing yang membeli kedelai AS melonjak 27% dibandingkan tahun lalu pembelian mencapai 8 juta metrik ton.

Perubahan dalam pola pembelian kedelai terjadi sejak perang dagang antara AS dengan Tiongkok. Pekan lalu, pemerintah Tiongkok memberlakukan tarif baru yang naik terhadap komoditas AS senilai USD. 34 miliar, komiditasnya termasuk kedelai, kapas, mobil dan lainnya sebagai pembalasan atas kenaikan tarif yang diterapkan oleh Amerika Serikat.

Menurut asosiasi eksportir Anec, eksportir kedelai nomor satu dunia Brazil juga sedang mempersiapkan untuk membeli kedelai dari AS untuk memasok perusahaan pengolah kedelai dalam negeri karena Brasil mengekspor kedelainya ke Tiongkok dengan harga murah. Brasil diperkirakan dapat mengimpor 1 juta ton kedelai dari Amerika Serikat.

Perusahaan pengolah kedelai Brazil mengolah kacang kedelai menjadi minyak nabati dan pakan ternak, biasanya tanpa perlu membeli kedelai AS. Tapi dengan segera, mereka mungkin menemukan bahwa harga kedelai impor dari Amerika Serikat Tengah Barat masih jauh lebih murah daripada membeli kedelai lokal.

“Tampaknya ini tidak masuk akal, tetapi jika harga kedelai berjangka Chicago mendekati level USD. 8,- maka (membeli kedelai dari AS) adalah mungkin,” kata Alessandro Reis, kepala bidang logistik perusahaan CJ Selecta, sebuah perusahaan pengolahan dan perdagangan kedelai Brasil.

Jim Sutter, kepala eksekutif Asosiasi Ekspor Kedelai AS mengatakan bahwa perwakilan dari asosiasi telah bertemu pembeli Asia dan Eropa untuk mendorong mereka membeli kedelai AS.

Sejak awal musim semi tahun ini, Asosiasi Ekspor telah melakukan upaya untuk meningkatkan permintaan kedelai AS di negara-negara seperti Indonesia. Di masa lalu, negara-negara ini biasanya membeli kedelai dari Brasil.

Tiongkok dulu membeli dua pertiga dari ekspor kedelai global dan membeli setengah dari ekspor kedelai AS.

Asosiasi Ekspor Kedelai AS mengundang lebih banyak pembeli dari Eropa, Timur Tengah dan Afrika Utara untuk berpartisipasi dalam konferensi impor dan ekspor tahunan bulan depan.

Harga kedelai Brazil yang melonjak telah mendorong importir Eropa untuk membeli lebih banyak kedelai AS.

Seorang pedagang kedelai Jerman mengatakan bahwa kedelai AS yang dikirim ke Eropa Utara pada bulan Juli dihargai sekitar 372-378 dolar AS per ton, jauh lebih rendah dari harga kedelai Brasil yang 405 dolar AS per ton.

“Cukup besar permintaan kedelai AS secara global. Saya pikir tren ini masih akan berlanjut pada sisa waktu tahun 2018 ini,” katanya. (Sin/asr)

Tiongkok Gunakan Jalur Sutra Digital Sebagai Alat Pantau Negara OBOR

0

EpochTimesId – Bagian utama dari inisiatif Satu Sabuk Satu Jalan (One Belt One Road/OBOR) Tiongkok tidak memiliki hubungan dengan jalan, pelabuhan, dan pembangkit listrik. Tujuan Jalur Sutra Digital (Digital Silk Road) adalah membangun jaringan komunikasi antar negara berkembang.

Banyak pihak khawatir bahwa Partai komunis Tiongkok dapat menggunakan fasilitas ini untuk melakukan pengawasan elektronik. CNBC melaporkan bahwa Tiongkok komunis berharap untuk membangun kabel serat optik, jalur kereta internasional, struktur seluler dan koneksi e-commerce di negara-negara peserta OBOR.

Teknologi ini dirancang untuk melengkapi infrastruktur fisik OBOR sambil memperkenalkan standar teknis umum ke negara-negara yang berpartisipasi. Sebagian besar negara peserta adalah negara berkembang yang tidak memiliki fasilitas Internet dasar.

Pemerintah Tiongkok mengklaim bahwa Jalur Sutra Digital dapat mempromosikan pertukaran informasi antar negara dan membawa keuntungan bersama. Namun, jika pemerintah asing mengizinkan perusahaan teknologi Tiongkok (yang terkait erat dengan pemerintah Tiongkok) untuk memasang sistem komunikasi data yang rumit, mereka akan memiliki dampak geopolitik.

Para peneliti di Asosiasi Hubungan Luar Negeri Amerika merilis laporan pekan lalu mengatakan bahwa kekhawatiran besar yang timbul sekarang adalah, perusahaan Tiongkok akan memasang ‘mekanisme pintu belakang’.

Ini mungkin dapat meningkatkan tindakan intelijen dan propaganda terhadap negara-negara mitra Tiongkok di proyek OBOR.

China Mobile yang merupakan BUMN Tiongkok saat ini sedang membangun kabel serat optik yang menghubungkan Beijing, Myanmar, Nepal dan Kazakhstan. Pada saat yang sama, perusahaan swasta Huawei sudah menandatangani perjanjian untuk membangun sistem kabel yang menghubungkan Pakistan, Djibouti, dan Kenya pada setahun yang lalu. China Telecom juga mempertimbangkan untuk membangun kabel serat optik di Lingkaran Arktik.

Serat optik mampu memuat data pribadi, pemerintah, dan keuangan dalam jumlah besar, tetapi dikendalikan oleh perusahaan telekomunikasi. Oleh karena itu, dalam masalah penegakan keamanan, di sana terdapat wilayah abu-abu untuk pemantauan.

Menurut American Association of Foreign Relations, kabel serat optik dapat digunakan untuk membantu Tiongkok memperoleh informasi. Misalnya, teknisi dapat membengkokkan atau menjepit serat yang memungkinkan data bocor atau memotong enkripsi.

Laporan itu mengatakan, “Tindakan yang diambil oleh pemerintah Tiongkok di masa lalu, seperti pemasangan pintu belakang dalam teknologi enkripsi, menyiratkan kepada kita bahwa Tiongkok bisa saja mengambil tindakan serupa ketika membantu negara lain memasang kabel serat optik.”

Unit Intelijen ‘Economist’ dalam laporan baru-baru ini mengatakan bahwa proyek Jalur Sutra Digital memang dapat memberikan keuntungan bagi negara berkembang yang jadi peserta. Namun, negara peserta juga khawatir jika Tiongkok dapat menggunakan jaringan ini untuk menekan negara mereka, atau melakukan pengawasan elektronik.

Laporan tersebut juga menyampaikan saran kepada negara-negara di sepanjang jalur OBOR agar meningkatkan standar peraturan untuk proyek, mengurangi risiko keuangan dan ketergantungan politik pada Tiongkok.

Di bawah bendera Jalur Sutra Digital, perusahaan Tiongkok seperti Huawei juga terlibat dalam penggelaran teknologi seluler 5G di seluruh dunia. Tetapi masyarakat khawatir bahwa perusahaan-perusahaan Tiongkok itu dapat menggunakan pengaruh mereka untuk mempromosikan standar yang ditentukan oleh Tiongkok.

“Mengenai masalah 5G, bisnis dan geopolitik Tiongkok sangat terintegrasi,” ungkap Elsa Karnia, Pakar Kebijakan Strategis Australia.

PKT memandang standar teknologi yang muncul untuk teknologi baru sebagai peluang emas yang dapat digunakan oleh perusahaan raksasa Tiongkok. Inti masalahnya adalah masyarakat sangat ragu terhadap pembagian data antara perusahaan Tiongkok dan pemerintah Tiongkok.

Elsa Kania mengatakan, perusahaan Tiongkok mungkin dipaksa secara hukum untuk berpartisipasi dan mendukung kinerja intelijen PKT. Ini yang membuat banyak orang khawatir bahwa proyek OBOR akan meningkatkan kemampuan spionase PKT di masa depan dan juga dapat membantu Tiongkok komunis mencapai tujuan tertentu dengan cara paksa.

Pada tahun 2012, para eksekutif intelijen AS menggolongkan produk Huawei dan ZTE sebagai produk yang berisiko mengancam keamanan nasional. Mereka mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut bekerja sama dengan pemerintah Tiongkok untuk melakukan spionase, mencuri rahasia dagang, dan melakukan serangan cyber. (Qin Yufei/ET/Sinatra/waa)

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

https://youtu.be/0x2fRjqhmTA

Cuaca Ekstrim Sebabkan Kekeringan Parah di Eropa Tenggara

Stockholm – Kawasan Skandinavia di sebelah tenggara Eropa dilanda kekeringan ekstrim bersejarah. Gelombang panas menjadi pemecah rekor yang masih belum menunjukkan tanda-tanda akan menyerah.

Situasi ini sangat berat bagi petani, karena tanaman gagal panen dan makanan nabati sangat langka. Sehingga sebagian petani dipaksa untuk menyembelih hewan-hewan mereka untuk dimakan.

Skandinavia yang makmur selama puluhan tahun tidak pernah terancam bahaya kelaparan, seperti yang terjadi seabad yang lalu. Akan tetapi, kekeringan kini telah secara konsisten menjadi berita utama. Itu adalah pengingat serius tentang cuaca ekstrem yang dapat mengancam produksi pangan.

Setelah musim dingin yang panjang disertai banyak salju dan air, gelombang panas yang belum pernah terjadi sebelumnya datang pada bulan Mei. Cuaca yang sangat kering terjadi di musim panas yang membuat orang-orang menggaruk-garuk kepala.

Suhu rata-rata pada bulan Mei memecahkan rekor di seluruh Swedia. Terkadang kembali ke abad ke-18 atau 19 ketika pengukuran dimulai, menurut Lembaga Meteorologi dan Hidrologi Swedia.

Irigasi dan pembakaran terbuka dilarang di seluruh Skandinavia, dengan beberapa jaringan toko Swedia bahkan menyingkirkan panggangan barbekyu sekali pakai dari rak selama puncak musim.

Tetapi panas yang tidak biasa dan kurangnya hujan, akan membawa masalah yang jauh lebih buruk daripada rumput kering dan membatalkan barbekyu. Kekeringan saat ini telah dianggap yang terburuk dalam beberapa dekade.

Bahwa kekeringan datang begitu cepat juga membuat keadaan semakin buruk, terutama untuk panen gandum. Situs cuaca Norwegia, Yr.no melaporkan bahwa kekeringan terakhir sebesar ini melanda Norwegia pada tahun 1947, tetapi itu terjadi pada bulan Juli dan Agustus.

Masalah Jangka Panjang
Di Swedia, Federasi Petani Swedia (LRF) memperkirakan bahwa sekitar 40 persen panen gandum telah hilang. Para petani mulai panen sebulan lebih awal dari biasanya, Aftonbladet melaporkan. Bahkan jika Juli dan Agustus membawa hujan, kerusakan sudah terjadi.

Menyembelih hewan karena kekurangan makanan, masalah yang sekarang dihadapi petani di seluruh Skandinavia, juga membawa masalah dalam jangka panjang.

“Jika Anda memiliki beberapa ratus sapi, dan Anda harus membantai setengah dari mereka, itu membutuhkan waktu untuk pulih,” kata Lennart Nilsson dari LRF. “Sangat serius jika kita berakhir dalam situasi itu.”

Denmark, negara paling selatan Skandinavia, juga menghadapi cuaca kering yang luar biasa. The Danish Meteorological Institute (DMI) mengatakan bahwa kekeringan pada bulan Juni adalah yang terburuk untuk bulan itu dalam satu dekade. Martin Merrild di DMI mengatakan kepada Dr.dk bahwa ini adalah krisis terburuk bagi industri pertanian Denmark dalam satu abad.

“Ini situasi yang sangat ekstrim,” katanya.

Lahannya sangat kering sehingga mereka berisiko terbakar selama pengirikan, seperti yang terjadi di Denmark minggu ini, TV2.dk melaporkan.

Menteri Urusan Pedesaan Swedia, Sven-Erik Bucht mengatakan pada konferensi pers pada 9 Juli bahwa Swedia kini tengah terlibat dalam dialog dengan Komisi Eropa agar mendapatkan dukungan krisis dari Uni Eropa untuk petani Swedia.

Banyak orang, termasuk politisi, cepat menghubungkan kekeringan dengan perubahan iklim global, tetapi Markku Rummukainen, profesor klimatologi di Universitas Lund, mengatakan terlalu dini untuk mengatakannya.

“Butuh waktu untuk memastikan bahwa cuaca ekstrem yang langka, seperti kekeringan di Swedia, adalah perubahan abadi,” katanya kepada kantor berita TT. (Aron Lamm/Epoch Times/waa)

Video Rekomendasi :

Pabrik Bahan Kimia Meledak di Mesir, Belasan Orang Terluka

Epochtimes.id- Petugas pemadam kebakaran Mesir berjibaku memadamkan api setelah ledakan di sebuah pabrik bahan kimia di Bandara Luar Kota utama, Kairo, Mesir pada Kamis (12/07/2018) waktu setempat.

Akibat ledakan ini belasan orang dilaporkan terluka. Seorang juru bicara Militer Mesir menyebutkan ledakan disebabkan oleh suhu tinggi.

Kantor berita negara Mesir, MENA mengutip sumber keamanan mengatakan bahwa 12 orang dibawa ke rumah sakit setelah ledakan yang terjadi di fasilitas penyimpanan milik perusahaan petrokimia di luar bandara di bagian utara ibukota.

Menteri penerbangan sipil, Younis al-Masri, mengatakan lalu lintas udara di bandara itu tidak terpengaruh oleh ledakan. Meski ledakan bisa didengar di seluruh area.

“Karena suhu tinggi, ledakan terjadi pada penyimpanan petrokimia milik Heliopolis untuk Industri Kimia,” kata Kolonel Tamer al-Rifai, juru bicara militer, dalam sebuah posting di media sosial.

“Kenderaan pertahanan sipil dikerahkan untuk mengendalikan api,” tambahnya.

Rifai tidak mengatakan siapa yang memiliki pabrik itu, tetapi sumber-sumber keamanan dan beberapa unggahan di internet menyatakan pabrik tersebut milik angkatan bersenjata.

Para saksi mengatakan ambulans dan mobil pemadam kebakaran langsung ke tempat kejadian saat awan asap hitam mengepul di atas area tersebut.

Televisi pemerintah mengatakan petugas pemadam kebakaran berhasil mengendalikan api.

Mesir sedang memerangi kelompok teroris ISIS yang telah melakukan sejumlah serangan, terutama di Semenanjung Sinai. Pada arena ini di mana tentara telah melakukan operasi keamanan sejak Februari lalu.

Kekerasan tampaknya telah mereda dalam beberapa bulan terakhir, tanpa terjadi insiden yang dilaporkan dari luar Sinai. (asr)